Anda di halaman 1dari 8

Shalat

Shalat (bahasa Arab: ;;transliterasi: Sholat), merujuk kepada ritual ibadah


pemeluk agama Islam. Menurut syariat Islam, praktik shalat harus sesuai dengan
segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad, sebagai figur pengejawantah perintah
Allah.1[13] Umat muslim diperintahkan untuk mendirikan shalat, karena menurut Surah
Al-'Ankabut dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar:
Secara bahasa shalat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, doa.
Sedangkan, menurut istilah, shalat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau
tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.
Hukum Shalat
Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad telah memberikan peringatan keras
kepada orang yang suka meninggalkan shalat wajib, mereka akan dihukumi menjadi
kafir.2[14]dan mereka yang meninggalkan shalat maka pada hari kiamat akan
disandingkan bersama dengan orang-orang, seperti Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay
bin Khalaf.3[15]
Hukum shalat dapat dikategorisasikan sebagai berikut:

Fardu, Shalat fardhu ialah shalat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Shalat
fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu:

o Fardu ain adalah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf langsung


berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun
dilaksanakan oleh orang lain, seperti shalat lima waktu, dan shalat Jumat
(fardhu 'ain untuk pria).

o Fardu kifayah adalah kewajiban yang diwajibkan kepada mukallaf tidak


langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah

3
ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada
orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan
menjadi berdosa bila tidak dikerjakan, seperti shalat jenazah.

Shalat sunah (shalat nafilah) adalah shalat-shalat yang dianjurkan atau


disunnahkan akan tetapi tidak diwajibkan. Shalat nafilah terbagi lagi menjadi dua,
yaitu:

o Nafil muakkad adalah shalat sunah yang dianjurkan dengan penekanan


yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti shalat dua hari raya, shalat
sunah witir dan shalat sunah thawaf.

o Nafil ghairu muakkad adalah shalat sunah yang dianjurkan tanpa


penekanan yang kuat, seperti shalat sunah Rawatib dan shalat sunah
yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti shalat
kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).

o
Rukun Shalat

1. Berdiri bagi yang mampu.

2. Takbiratul ihram.

3. Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat.

4. Rukuk dan tumaninah.

5. Iktidal setelah rukuk dan tuma'ninah.

6. Sujud dua kali dengan tuma'ninah.

7. Duduk antara dua sujud dengan tuma'ninah.

8. Duduk dan membaca tasyahud akhir.


9. Membaca salawat nabi pada tasyahud akhir.

10. Membaca salam yang pertama.

11. Tertib melakukan rukun secara berurutan.

Shalat Berjamaah
Shalat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama (berjamaah). Pada
shalat berjamaah seseorang yang dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai
imam shalat, dan yang lain akan berlaku sebagai Makmum.

Shalat yang dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri antara lain:

o Shalat Fardu

o Shalat Tarawih

Shalat yang mesti dilakukan berjamaah antara lain:

o Shalat Jumat

o Shalat Hari Raya (Ied)

o Shalat Istisqa'

Shalat Dalam Kondisi Khusus


Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan shalat diberi keringanan
tertentu. Misalkan saat seseorang sakit dan saat berada dalam perjalanan (safar).
Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia dibolehkan
melakukan shalat dengan posisi duduk, sedangkan bila ia tidak mampu untuk duduk
maka ia diperbolehkan shalat dengan berbaring, bila dengan berbaring ia tidak mampu
melakukan gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat.
Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia diperkenankan
menggabungkan (jama) atau meringkas (qashar) shalatnya. Menjamak shalat berarti
menggabungkan dua shalat pada satu waktu yakni zuhur dengan asar atau maghrib
dengan isya. Mengqasar shalat berarti meringkas shalat yang tadinya 4 rakaat (zuhur,
asar, isya) menjadi 2 rakaat.

Shalat Dalam Al-Quran


Berikut ini adalah ayat-ayat yang membahas tentang shalat di dalam Alquran, kitab suci
agama Islam.

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka


mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada
mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat)
yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (Ibrahim 14:31).

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji (zina) dan


mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan (al-Ankabut 29:45).

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan


shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui
kesesatan (Maryam 19:59).

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia


ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat
kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap
mengerjakan shalatnya (al-Maarij 70:19-23).

C. Puasa
Puasa merupakan terjemah dari shoum (bahasa Arab) yang berarti menahan diri
dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari segala
sesuatu yang membatalkan puasa dimulai dari terbit fajar (subuh) sampai terbenam
matahari (maghrib).
Pengertian puasa ini telah diterangkan dalam firman Allah surat Al-Baqarah (2) ayat
187:
Artinya:
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri
kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.
Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah
mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka
dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga
terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah
puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang
kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu
mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia,
supaya mereka bertakwa. (Q.S Al-Baqarah [2]: 187)

Rukun Puasa
Puasa merupakan ibadah mahdhah yang pelaksanaannya harus sesuai dengan
apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Oleh karena itu, kita tidak boleh
semaunya sendiri dalam mengerjakan puasa agar ibadah puasa kita diterima oleh Allah
Swt.
Rukun puasa sendiri hanya ada 2, yakni niat dan imsak:
a. Niat
Niat puasa yaitu adanya suatu keinginan di dalam hati untk menjalankan puasa
semata-mata mengharap ridha Allah swt, karena menjalankan perintah-Nya. Semua
puasa, tanpa adanya niat maka tidak bisa dikatakan sebagai puasa.
Kapankah kita berniat berpuasa?
Untuk puasa wajib, maka kita harus berniat sebelum datang fajar, sebagaimana
disabdakan oleh Rasulullah saw: Barang siapa tidak berniat puasa sejak malam, maka
ia tidak mempunyai puasa.4[16]
4
b. Imsak
Kita sudah terlampau akrab dengan kata imsak, lebih-lebih ketika bulan
Ramadhan. Banyak orang memahami Imsak sebagai waktu menjelang fajar (subuh)
dimana seorang muslim yang akan berpuasa berhenti makan sahur. Padahal makna
dari imsak tidaklah sesempit itu. Imsak yaitu menahan diri dari hal-hal yang
membatalkan puasa seperti makan, minum, dan lain-lain dari mulai terbit fajar sampai
terbenam matahari. Jadi, waktu dimulainya puasa bukanlah pada saat sirine atau
pengumuman imsak disuarakan, tetapi dimulai ketika fajar (subuh). Tentang kenapa
diperlukan sirine dan jadwal waktu imsak itu supaya kita berhati-hati dan bersiap-siap
karena sebentar lagi (sekitar 5 menit lagi) fajar akan tiba.

Syarat wajib puasa


Syarat wajib puasa adalah segala sesuatu yang menyebabkan seseorang
diwajibkan melakukan puasa. Muslim yang belum memenuhi syarat wajib puasa maka
dia belum dikenai kewajiban untuk mengerjakan puasa wajib. Tetapi tetap mendapatkan
pahala apabila mau mengerjakan ibadah puasa. Syarat wajib puasa adalah sebagai
beriktu:
a. Beragama Islam
b. Berakal sehat
c. Baligh
d. Suci dari haid dan nifas (khusus bagi kaum wanita)
e. Bermukim (tidak sedang bepergian jauh)
f. Mampu (tidak sedang sakit)
4. Perbuatan yang disunnahkan ketika puasa
Puasa merupakan ibadah yang langsung untuk Allah swt. Oleh karena itu, sudah
semestinya kita mengisi waktu puasa kita dengan amalan-amalan tertentu agar upaya
kita mendengatkan diri kepada Allah dapat tercapai. Dalam sebuah hadist Qudsi
berikut:
Semua amal anak adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu
untuk-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Puasa itu ibarat perisai. Pada hari
kalian puasa, janganlah mengucapkan hata-kata kotor (tidak enak didengar) dan
jangan (pla) bertengkar. Jika seseorang encaimu atau mengajakmu bertengkar, maka
katakan kepadanya: aku sedang puasa (siyam). 5[17]
Adapun amalan sunnah saat berpuasa adalah sebagai berikut:
a. Menyegerakan Berbuka
b. Makan Sahur
c. Menggosok Pada Waktu pagi
d. Membaca dan Menghatamkan Al-Quran
e. Shalat lail
f. Memperbanyak doa
g. Memperbanyak sedekah
h. Itikaf
i. Umroh
j. Memperbanyak amal kebaikan

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa


a. Makan dan minum dengan sengaja. Apabila makan dan minumnya karena lupa atau
paksaan maka hal itu tidak membatalkan puasa.
b. Muntah dengan sengaja. Apabila muntahnya tidak sengaja maka hal itu tidak
membatalkan puasa.
c. Berniat berbuka puasa. Sekali berniat berbuka puasa meskipun buka puasa itu tidak
dilaksanakan, puasanya batal.
d. Megalami haid atu nifas.
e. Keluar air mani karena memeluk atau mencium isteri/suami atau bermasturbasi.
f. Bersenggama.
g. Hilang akal.
h. Merubah niat.

Perbuatan Makruh Ketika Berpuasa


Perbuatan makruh tidak membatalkan puasa, tetapi sepatutnya untuk dihindari, yaitu:
a. Mandi dengan mengguyur atau berendam. Kalau dalam mandi tersebut secara tidak
sengaja tertelan air, hal itu tidak membatalkan puasa.
b. Melakukan suntikan baik suntikan itu berupa obat atau makanan.
5
c. Bekam
d. Berkumur-kumur, sikat gigi setelah matahari tergelincir.
e. Memakai parfum