Anda di halaman 1dari 4

Penukaran Uang Receh Tak Senilai Adalah Riba

03 Sep 2010 in Tsaqofah, Uncategorized Comments Of

Tanya :

Menjelang Idul Fitri biasanya banyak orang menukar uang besar dengan uang receh
di pinggir jalan, tapi dengan nilai yang tidak sama. Misal: satu lembar uang seratus
ribuan (Rp100.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh
sebanyak 95 lembar (Rp95.000), bukan 100 lembar. Atau satu lembar uang seratus
ribuan (Rp100.000) dan selembar uang lima ribuan (Rp5000) (total Rp105.000)
ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 100
lembar (Rp100.000). Apakah penukaran uang ini termasuk riba? (Haidar,
Semarang).

Jawab :

Benar, penukaran uang sejenis (seperti rupiah dengan rupiah) dengan nilai tak
sama seperti fakta di atas termasuk riba yang haram hukumnya. Hal itu
dikarenakan penukaran uang seperti itu tidak memenuhi syarat kesamaan nilai.

Perlu diketahui penukaran uang sejenis wajib memenuhi dua syarat. Jika terpenuhi
dua syaratnya, hukumnya mubah. Namun jika tak terpenuhi salah satu atau
keduanya, hukumnya haram karena kelebihan/tambahan yang ada adalah riba.

Dua syarat tersebut adalah : Pertama, harus ada kesamaan (at-tasawi) dalam
kuantitas (al-kamiyah) atau ukuran/kadar (al-miqdar).

Kedua, harus ada serah terima (at-taqabudh) di majelis akad, yakni maksudnya
harus kontan, tidak boleh ada penundaan pada salah satu dari apa yang
dipertukarkan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah al-Dustur, Juz II hal. 155; Ayid
Fadhl al-Syarawi, Al-Masharif al-Islamiyah, hal. 30).

Dua syarat di atas dalilnya antara lain hadits yang diriwayatkan dari Abu Said al-
Khudri RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum,
jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama
dengan sama (sama beratnya/takarannya), dan dari tangan ke tangan (kontan).
Maka barangsiapa menambah atau minta tambah, maka dia telah berbuat riba,
yang mengambil dan yang memberi dalam jual beli ini sama saja (dosanya). (HR
Muslim, no 1584).
Diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum,
jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus
semisal dengan semisal, sama dengan sama (sama beratnya/takarannya), dan dari
tangan ke tangan (kontan). Maka jika berbeda jenis-jenisnya, juallah sesuka kamu
asalkan dari tangan ke tangan (kontan). (HR Muslim no 1210; At-Tirmidzi III/532;
Abu Dawud III/248).

Dari dua hadits di atas dapat dipahami bahwa dalam penukaran barang-barang
ribawi (yaitu emas, perak, gandum, jewawut, kurma, dan garam) terdapat
ketentuan sebagai berikut.

Dari hadits Abu Said al-Khudri (hadits pertama), dapat dipahami jika barang yang
ditukarkan masih satu jenis (misal emas dengan emas), syaratnya ada dua;
Pertama, harus ada kesamaan (at-tasawi) dalam hal beratnya (al-wazan) atau
takarannya (al-kail). Hal ini didasarkan pada bunyi hadits mitslan bi mitslin, yakni
dalam penukaran barang-barang ribawi (al-ashnaf al-ribawiyah) tersebut harus
dilakukan dalam jumlah atau ukuran yang sama. Jadi diharamkan adanya tambahan
atau kelebihan (at-tafadhul).

Kedua, harus ada serah terima (taqabudh) di majelis akad, yakni dilakukan secara
kontan. Hal ini didasarkan pada bunyi hadits yadan bi yadin (dari tangan ke
tangan), yakni dalam penukaran barang-barang ribawi (al-ashnaf al-ribawiyah)
harus dilakukan secara kontan. Jadi diharamkan jika terjadi penundaan (al-ta`jil).

Dari hadits Ubadah bin Shamit (hadits kedua) dapat dipahami bahwa jika barang
yang ditukarkan tidak satu jenis (misal emas dengan perak), maka boleh ada
kelebihan atau tambahan, dan syaratnya hanya satu saja, yaitu harus dilakukan
secara kontan. Ini ditunjukkan oleh lafazh hadits idza kaana yadan biyadin (jika
hal itu dilakukan secara kontan). (Ayid Fadhl al-Syarawi, Al-Masharif al-Islamiyah,
hal. 30).

Dalil-dalil di atas berlaku pula untuk penukaran mata uang (al-sharf), sebagaimana
berlaku pada emas dan perak seperti terdapat dalam teks hadits. Ini bukan karena
Qiyas, melainkan karena sifat yang ada emas dan perak, yaitu sebagai mata uang,
juga terdapat pada uang (al-nuqud). (Taqiyuddin an-Nabhani, an-Nizham al-Iqtishadi
fi al-Islam, hal. 264)

Dengan demikian, untuk penukaran uang yang sejenis (misal rupiah dengan rupiah,
atau dolar AS dengan dolar AS), syaratnya ada dua. Yaitu pertama, harus sama
nilainya. Kedua, harus dilakukan secara kontan. Sedangkan untuk penukaran uang
yang tak sejenis (misal rupiah dengan dolar AS), syaratnya satu saja, yaitu harus
dilakukan secara kontan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah al-Dustur, Juz II hal.
155; Abul Ala al-Maududi, Ar-Riba, hal. 114; Said bin Ali al-Qahthani, Ar-Riba
Adhraruhu wa Atsaruhu, hal. 23).

Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya menukar uang seratus
ribuan (Rp100.000) dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh
sebanyak 95 lembar. Sebab nilainya tidak sama. Dalam hal ini si penjual uang receh
telah mendapat kelebihan Rp5000, yang tak diragukan lagi adalah riba yang haram
hukumnya.

Demikian pula haram hukumnya menukar satu lembar uang seratus ribuan
(Rp100.000) ditambah selembar uang lima ribuan (Rp5000) (total nilainya
Rp105.000) dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 100
lembar (Rp100.000). Sebab nilainya tidaklah sama. Dalam hal ini si penjual uang
receh juga mendapat kelebihan Rp5000, yang jelas merupakan riba yang haram
hukumnya.

Namun yang berdosa bukan hanya penjual receh, melainkan termasuk juga yang
menukarkan. Karena menurut hadits, baik pemberi maupun penerima sama-sama
telah melakukan transaksi riba. Perhatikanlah sabda Nabi SAW :

Barangsiapa menambah (yaitu dari pihak pemberi/pembeli) atau minta tambah


(yaitu dari pihak penerima/penjual), maka ia telah melakukan riba, yang mengambil
dan yang memberi dalam jual beli ini sama saja (dosanya). (HR Muslim, no 1584).

Ingatlah bahwa riba adalah dosa besar. Na`uzhu billah mindzalik. Sabda Nabi SAW:

Jauhilah olehmu tujuh perkara yang membinasakan. Para shahabat


bertanya,Wahai Rasulullah, apa itu? Rasulullah menjawab,Syirik, sihir,
membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk membunuhnya kecuali dengan alasan
yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang,
dan menuduh zina kepada perempuan mukmin yang baik-baik. (HR Bukhari no
2015, Muslim no 89)

Dari Abdullah bin Masud RA, Rasulullah SAW bersabda :

Riba memiliki 73 macam pintu (tingkatan dosa). Dosa riba yang paling ringan
adalah seperti seorang laki-laki yang berzina dengan ibu kandungnya sendiri. (HR
Al-Hakim dalam al-Mustadrak, II/37. Beliau berkata : Ini adalah hadits shahih
menurut syarat Bukhari dan Muslim meski keduanya tidak meriwayatkan hadits
tersebut, dan penilaian kesahihan hadits ini disetujui oleh Imam Dzahabi. Dinilai
shahih pula oleh Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, II/27).

Dari Abdullah bin Hanzhalah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang, padahal dia tahu, lebih besar
dosanya dari 36 kali berzina. (HR Ahmad dalam al-Musnad, V/225. Syaikh
Nashiruddin al-Albani berkata,Sanad hadits ini shahih menurut syarat Syaikhaini
(Bukhari dan Muslim). Lihat Silsilah Al-Ahadits al-Shahihah, II/29).

Maka dari itu, sudah seharusnya kita semua menghindarkan diri dari semua jenis
riba, termasuk riba dalam penukaran uang receh yang tidak senilai ini.

Sudah saatnya umat Islam menghapuskan riba yang berlumuran dosa ini dalam
segala bentuknya. Sebab jika tidak, Allah SWT melalui Nabi-Nya telah
memperingatkan dengan keras, bahwa suatu negeri yang bergelimang riba, akan
mendapat azab Allah. Sabda Rasulullah SAW :

Jika telah merajalela zina dan riba di suatu negeri, maka sungguh mereka telah
menghalalkan diri mereka untuk menerima azab Allah. (HR Al-Hakim dalam al-
Mustadrak, II/37. Dinilai shahih oleh Imam al-Hakim, dan penilaian ini disetujui oleh
Imam Dzahabi).

Sampai kapankah kita terus menerus menderita karena diazab oleh Allah, baik itu
dalam bentuk kemiskinan, kelaparan, kehinaan, gempa bumi, banjir, tanah longsor,
gunung meletus, maupun azab-azab Allah lainnya? Wallahu alam. (M. Shiddiq al-
Jawi).