Anda di halaman 1dari 11

6 Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia

Perkembangan agama Hindu di Indonesia berawal sekitar 1500 sebelum Masehi (SM)
seiring dengan kedatangan bangsa Yunan.
Bagaimana mereka sampai ke Indonesia?
Mereka masuk wilayah Nusantara dengan menaikki perahu layar. Kelompok ini datang dari
Kampuchea (Kamboja). Mereka akhirnya mendirikan rumah dan hidup berkelompok dalam
masyarakat desa dan selanjutnya menetap di Nusantara.
Pengaruh ajaran serta budaya Hindu terhadap budaya Indonesia begitu kuat. Bahkan,
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat utamanya dalam hal pemerintahan.
Hal ini terlihat dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Hindu.
1. Kerajaan Kutai
Kerajaan bercorak Hindu di Indonesia yang pertama adalah Kerajaan Kutai .Kerajaan ini
terletak di daerah Muara Kaman, di sekitar tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Kerajaan Kutai adalah kerajaan Hindu tertua yang pernah ada di Indonesia, didirikan oleh
Kudungga pada masa abad ke-4 M. Bukti berdirinya Kerajaan Kutai adalah dengan
ditemukannya yupa. Yupa merupakan tiang batu untuk mengikat hewan korban yang akan
dipersembahkan oleh para brahmana. Yupa ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa
Sanskerta.

Berdasarkan apa yang tertulis dalam yupa, raja Hindu pertama di Kerajaan Kutai bernama
Aswawarman. Ini bisa dibuktikan akan gelar yang dimilikinya, yaitu wangsakerta atau
pendiri keluarga kerajaan (dinasti).
Dari tulisan yang ada pada yupa tersebut dapat disimpulkan adanya 3 generasi. Sisilah
dimulai dari Kudungga yang memperanakkan anak bernama Aswawarman.
Aswawarman memiliki tiga anak, satu di antaranya bernama Mulawarman. Pada
saatpemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai berhasil berkembang menjadi sebuah
kerajaan besar. Hal ini terlihat dari prasasti yang ditemukan. Bukti kebesarann dapat
ditunjukkan sebagai berikut.
1. Raja menggelar upacara waprakeswara (sebidang tanah suci) setiap tahunnya.
2. Raja memberikan hadiah kepada para brahmana berwujud tanah, ternak, dan emas
dengan adil.
Mulawarman memerintah kerajaan Kutai dengan bijaksana. Pada masa pemerintahannya,
rakyat hidup makmur. Sebagai bentuk ucapan terima kasih, rakyat melakukan seperti
berikut.
1. Mengadakan kenduri keselamatan raja.
2. Membuat prasasti/ yupa yang berisi tulisan tentang raja mereka.
Para brahmana turut membangun sebuah batu bertulis. Hal ini sebagai bentuk ungkapan
terima kasih kepada Raja Mulawarman. Raja telah memberikan hadiah kepada mereka
seperti minyak kental, lampu, dan lembu sebanyak 20.000 ekor. Peninggalan sejarah dari
Kerajaan Kutai yang bercorak kerajaan Hindu antara lain:

1) Tujuh yupa yang diketemukan sekitar Muara Kaman pada 1879 dan 1940.
2) Kalung Cina erbuat dari emas.
3) Arca bulus.
4) Arca Buddha dari perunggu.
5) Arca batu.

2. Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan bercorak hindu berikutnya adalah Kerajaan Tarumanegara. Keberadaan kerajaan
Tarumanegara dapat dilacak dengan ditemukannya tujuh buah prasasti. Selain itu, dari
berbagai sumber berita dari luar negeri. Kerajaan Tarumanegara letaknya di Sungai
Citarum, Bogor, Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara berdiri pada masa abad ke-5 M.
Wilayah kerajaan ini meliputi Karawang, Jakarta, Banten , dan Bogor.
Raja yang terkenal adalah Purnawarman. Raja Purnawarman penganut agama Hindu
beraliran Wisnu. Mata pencaharian utama penduduk Tarumanegara adalah tani dan
berdagang. Namun, para petani sering mengalami gagal panen karena dilanda musibah
banjir.
Pada tahun ke-22 masa pemerintahan Purnawarman, dibangunlah saluran air. Tujuan dari
pembangunan saluran itu adalah untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Saluran itu
dikenal dengan Gomati dan Chandrabagha. Pembuatannya memakan waktu selama 21 hari.
Panjang saluran adalah 6.112 tombak (11 km).
Selesainya proses pembangunan saluran air ditandai penyerahan sejumlah 1.000 ekor
lembu kepada para brahmana. Raja Purnawarman dikenal sebagai raja yang gagah berani.
Ia tegas menghadapi berbagai masalah dan musuh. Kerajaan bercorak Hindu tertua di pulau
Jawa ini selalu mengadakan hubungan yang baik dengan bangsa lain.
Contohnya dengan Cina. Hal ini dibuktikan dalam catatan bangsa Cina dan Prasasti
Tarumanegara. Sumber lainnya, penuturan Fa Hsien, seorang musafir Buddha dari Cina
mengatakan bahwa di Tarumanegara terdapat lebih dari satu agama kepercayaan. Ajaran
Hindu yang berkembang di Tarumanegara diajarkan Rahib Gunawarman.
Kerajaan Tarumanegara memiliki banyak peninggalan sejarah. Semua peninggalan dapat
menunjukkan keberadaan dari kerajaan Tarumanegara.Peninggalan sejarah yang dimaksud
antara lain:

1. Prasasti Ciaruteun: Ditemukan di daerah Ciampea, Bogor. Pada prasasti ini terdapat
telapak kaki Raja Purnawarman dan lukisan berupa laba-laba. Raja Purnawarman
dianggap perwujudan Dewa Wisnu.
2. Prasasti Jambu: Ditemukan di daerah Bukit Koleangkak, 30 km barat daya Kota
Bogor, tertulis kata tarumayam (Tarumanegara).
3. Prasasti Lebak (Cidanghiang): Ditemukan di daerah Kampung Lebak, Pandeglang,
menyebutkan bahwa Raja Purnawarman merupakan raja yang agung, pemberani,
dan perwira.
4. Prasasti Kebon Kopi: Ditemukan di daerah Kampung Muara Hilir, Bogor, terdapat
lukisan telapak kaki Airawata (gajah kendaraan dari Dewa Wisnu).
5. Prasasti Tugu: Ditemukan di daerah Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, memiliki
tulisan terpanjang yang menceritakan pembuatan saluran air (Gomati dan
Chandrabhaga).
6. Prasasti Pasir Awi: Ditemukan di daerah Pasir Awi, Bogor, terdapat lukisan tapak
kakidan sampai sekarang belum bisa dibaca karena dalam bentuk huruf ikal.
7. Prasasti Muara Cianten: Ditemukan di daerah Muara Cianten, Bogor, prasasti ini juga
belum bisa terbaca.
Selain prasasti juga diketemukan arca-arca. Misalnya arca Rajarsi di Jakarta. Di Desa
Cibuaya ditemukan arca Wisnu Cibuaya I dan Wisnu Cibuaya II.

Latar Belakang Berdiri


Menurut naskah Wangsakerta, pada abad ke-4 M terdapat sejumlah pengungsi dari
India yang melarikan diri ke pulau dan beberapa wilayah Nusantara untuk mencari
perlindungan. Mereka mengungsi ke wilayah Nusantara karena terdapat perang besar di
India, yakni kerajaan Palawa dan Calankayana yang melawan Kerajaan Samudragupta.
Sebagian besar para pengungsi berasal dari kerajaan Palawa dan Calankayana,
pihak yang kalah dalam peperangan tersebut. Salah satu rombongan pengungsi
Calankayana dipimpin oleh Jayasingawarman yang tidak lain adalah Maharesi. Kemudian
Jayasingawarman membuka pemukiman baru di dekat Sungai Citarum yang diberi nama
Tarumadesya atau Desa Taruma. Menginjak sepuluh tahun, banyak penduduk berdatangan
ke Desa Taruma sehingga berkembang menjadi desa yang besar yang pada akhirnya
menjadi kota (Nagara). Semakin pesatnya berkembangan kota Taruma, Jayasingawarman
membentuk menjadi Kerajaan yang bernama Tarumanegara pada tahun 358.

Berakhirnya
Runtuhnya kerajaan Tarumanegara akibat adanya pengalihan kekuasaan, yakni dari
Raja ke-12 Linggawarman kepada menantunya, Tarusbawa. Pada pemerintahan Tarusbawa,
pusat Kerajaan Tarumanegara dialihkan ke kerajaannya sendiri, yakni Kerajaan Sunda
(bawahan Tarumanegara) yang pada akhirnya Kerajaan Tarumanegara diganti dengan nama
Kerajaan Sunda. Demikian tentang Sejarah Kerajaan Tarumanegara yang meliputi berdirinya
kerajaan, masa kejayaan dan keruntuhan, serta raja yang memerintah Kerajaan
Tarumanegara.
3. Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan bercorak Hindu berikutnya adalah Mataram Kuno. Kerajaan ini berdiri pada abad
ke-8 M, terletak di pedalaman Jawa Tengah. Bukti keberadaan dari kerajaan ini tertulis
dalam Prasasti Canggal dan Prasasti Balitung (Mantyasih). Berdasarkan prasasti tersebut,
kerajaan bermula sejak masa pemerintahan Raja Sanjaya yang diberi gelar Rakai Mataram
Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Canggal juga mengungkap pendirian lingga di Desa
Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Sebelum itu, Kerajaan Mataram Kuno dipimpin raja
bernama Sanna. Raja Sanna memerintah rakyat secara bijaksana. Kerajaan ini kaya padi
dan emas. Oleh sebab itu, Pulau Jawa mendapat julukan Jawadwipa.

Peninggalan sejarah dari Kerajaan Mataram Kuno sangat banyak, diantaranya Candi Gedong
Songo, kompleks candi Dieng, dan komplek Candi Prambanan. Kehidupan rakyat terbilang
cukup makmur, dibuktikan banyaknya candi-candi.

4. Kerajaan Kediri
Pada 1019 M terdapat Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga. Ia memiliki tiga
orang anak diantaranya Sanggramawijaya, Samarawijaya, dan Mapanji Garasakan. Pada
awalnya, Airlangga memberikan tahta kepada Sanggramawijaya. Tetapi, Sanggramawijaya
tidak bersedia. Ia lebih memilih jalan hidup sebagai pertapa. Sanggramawijaya dijulukiRaja
Sucian atau Dyah Kili Suci.

Namun, Airlangga masih mempunyai 2 anak lainnya, dan ia pun membagi kerajaan menjadi
dua bagian. Hal ini bertujuan untuk menghindari perang saudara.
Pada 1041 M, Mpu Bharada membagi Kerajaan Kahuripan sesuai perintah Airlangga.
Kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kediri yang beribu kota di Daha diserahkan kepada
Samarawijaya. Kerajaan Jenggala atau Kahuripan yang berpusat di Kahuripan diserahkan
kepada Mapanji Garasakan. Airlangga lalu mengasingkan diri menjadi pertapa dengan nama
Resi Gentayu. Tahun 1049, Airlangga wafat lalu dimakamkan di Candi Belahan.
Berikut ini beberapa raja yang pernah memerintah Kediri.
1. Bameswara /Kameswara I (tahun 11151130 M)
2. Jayabaya (11301160 M)
3. Sarweswara (11601170 M)
4. Aryyeswara
5. Gandra
6. Srungga
7. Kertajaya (12001222 M)

Kertajaya adalah raja terakhir Kerajaan Kediri. Ia dijuluki Dandhang Gendhis. Akhirnya,
Kertajaya terpaksa menyerahkan kerajaannya kepada Kerajaan Singasari (Ken Arok).
Peristiwa itu menandai akhir dari riwayat Kerajaan Kediri.
Menurut cerita rakyat yang ada, pembagian Kerajaan Kediri dilakukan oleh Mpu Bharada
dengan cara terbang di udara. Ia membawa kendi yang berisi air yang dituangkan ke
kawah. Air yang dituangkan tersebut mengalir menjadi Sungai Brantas.
Peninggalan Kerajaan Kediri berupa prasasti, antara lain:Prasasti Penumbangan (1120)
1. Prasasti Hantang (1135)
2. Prasasti Talan (1136)
3. Prasasti Jepun (1144)
4. Prasasti Weleri (1169)
5. Prasasti Angin (1161)
6. Prasasti Padlegan (1170)
7. Prasasti Jaring (1181)
8. Prasasti Semandhing (1182)
9. Prasasti Ceker (1185)

Peninggalan bidang kesusastraan di antaranya adalah:


Kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa
Kresnayana karya Mpu Triguna
Samanasantaka karyaMpu Managuna
Smaradahana karya Mpu Darmaja
Hariwangsa oleh Mpu Panuluh
Gathotkaca Sraya karya Mpu Panuluh
Bharatayuda karyaMpu Panuluh dan Mpu Sedah
Wrestasancaya dan kidung Lubdhaka karya Mpu Tanakung.
5. Kerajaan Singosari
Kerajaan bercorak Hindu berikutnya adalah Kerajaan Singasari. Kerajaan ini didirikan oleh
Ken Arok. Pada mulanya, Ken arok adalah Akuwu Tumapel, ia membantu para brahmana
Kediri melawan Raja Kertajaya. Setelah menang perang, Kerajaan Kediri dan Tumapel
akhirnya bergabung. Maka muncul kerajaan baru, Kerajaan Singasari.
Raja yang memerintah antara lain:
1) Ken Arok (12221227)
Kemenangan Ken Arok atas Kertajaya membuat dirinya terkenal dan harum. Raja pertama
Kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Ia diberi gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi.
Ken Arok membuat sebuah dinasti baru bernama Girindrawangsa. Ken Arok menganggap
bahwa dirinya adalah keturunan Dewa Syiwa.
Sebagai raja, masa lalu Ken Arok sangatlah buruk. Ia membunuh Mpu Gandring dan
Tunggul Ametung. Bahkan, ia juga memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Pada
masa itu, Ken Dedes sedang mengandung anak dari Tunggul Ametung. Janin tersebut
setelah lahir bernama Anusapati.
Perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes memiliki tiga anak. Ada Mahisa Wong Ateleng,
Panji Saprang, Panji Agnibaya, dan Dewi Rimbu. Perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang
memiliki empat anak. Masing-masing bernama Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji
Wrengola, dan Dewi Rambi.
Perlakuan Ken Arok terhadap Anusapati berbeda dengan anak yang lain. Anusapati menjadi
curiga. Anusapati bertanya kepada orang di sekitarnya. Anusapati mengetahui bahwa Ken
Arok yang membunuh ayah kandungnya. Lalu Anusapati membunuh Ken Arok dengan
menggunakan keris Mpu Gandring. Dengan tewasnya Ken Arok, berakhirlah kekuasaannya
di Singsari.

2) Anusapati (12271248)
Anusapati akhirnya menjadi raja Singasari menggantikan Ken Arok, namun tidak berhasil
membuat kemajuan Kerajaan Singasari. Anusapati mempunyai kegemaran mengadu ayam.
Ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan nasib rakyatnya. Anusapati juga dibunuh
dengan keris Mpu Gandring. Anusapati dibunuh oleh Tohjaya yang dendam atas
terbunuhnya Ken Arok.

3) Tohjaya (1248 M)
Tohjaya naik tahta kerajaan dan hanya bertahan satu tahun, ini diakibatkan serangan dari
Ranggawuni (anak dari Anusapati) yang dibantu Mahisa Cempaka.

4) Ranggawuni (12481268)
Ranggawuni naik tahta mengganti Tohjaya. Ia bergelar Sri jaya Wisnuwardhana. Dalam
memerintah, Ranggawuni didampingi oleh Mahisa Cempaka (anak dari Mahisa Wong
Ateleng). Sepeninggal Ranggawuni, kekuasaan digantikan oleh puteranya yang bernama
Kertanegara.

5) Kertanegara (12681292)
Kertanegara menduduki tahta kerajaan dengan bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara.
Pada masa pemerintahannya, Singasari mencapai puncak keemasan. Kertanegara seorang
raja arif dan bijaksana. Kertanegara bercita-cita mempersatukan seluruh Nusantara dan
menjadikan Singasari sebagai sebuah kerajaan besar. Cita-cita Kertanegara tersebut dikenal
Cakrawala Mandala. Semasa Kertanegara berkuasa, kekaisaran Cina giat memperluas
wilayah kekuasaan. Singasari termasuk wilayah yang ingin ditaklukkan. Kaisar Kubilai Khan
mengirim seorang utusan kepada Kertanegara. Tujuannya agar Singasari mau mengakui
kekuasaan Kubilai Khan. Kertanegara dengan tegas menolak permintaan itu. Akibatnya,
Kubilai Khan sangat marah dan mendatangkan pasukan dari Cina. T1292 M, pasukan
Singasari dikerahkan menghadapi kekuatan bangsa Cina. Secara bersamaan, datang
serangan dari Kediri dipimpin oleh Jayakatwang. Kertanegara membagi pasukannya.
Pasukan dipimpin oleh menantunya, yaitu Raden Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang).
Namun, pasukan Ardaraja justru berbalik membantu Jayakatwang (ayahnya) dan
menyerang Singasari, dan Singasari mengalami kekalahan. Jayakatwang berhasil
membunuh Kertanegara. Kertanegara dikubur di Candi Singasari. Lalu, bagaimana nasib
RRaden Wijaya bersama pengikutnya, yaitu Ranggalawe, Sora, dan Nambi menyelamatkan
diri ke Madura. Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan bangsa Cina dalam menyerang
Jayakatwang. Raden Wijaya menghasut para pasukan Cina. Ia mengatakan bahwa
Jayakatwang adalah Kertanegara yang mereka cari. Pasukan Cina menyerang Jayakatwang.
Terbunuhnya Jayakatwang mengakhiri riwayat Kerajaan Singasari.
Kerajaan Majapahit
Majapahit merupakan Kerajaan Hindu terakhir di Indonesia. Kerajaan Majapahit didirikan
Raden Wijaya. Kerajaan Majapahit terletak di daerah Kecamatan Trowulan, Mojokerto
sebelah barat Surabaya. Kerajaan Majapahit mempunyai hubungan dengan Kerajaan
Singasari. Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara.
1) Raden Wijaya (12931309)
Raden Wijaya raja pertama sekaligus pendiri Majapahit yang bergelar Sri Kertarajasa
Jayawardana. Beliau memerintah didampingi oleh empat putri Kertanegara sebagai
permaisurinya. Di antaranya Tribhuwaneswari, Narendradahita, Prajnaparamita, dan Gayatri.
Para pengikut Raden Wijaya yang turut berjasa diangkat menjadi menjadi pejabat tinggi
pemerintahan. Pada tahun 1309, Raden Wijaya meninggal. Akhirnya, Kerajaan Majapahit
diserahkan Jayanegara. Jayanegara adalah putra dari perkawinannya dengan permaisuri
Tribhuwaneswari.

2) Jayanegara (13091328)
Pada pemerintahan Jayanegara banyak pemberontakan. Pemberontakan pada dasarnya
kelanjutan dari pada Raden Wijaya. Ada pemberontakan Ranggalawe (1309), Sora (1311),
Nambi (1316), Rasemi (1318), dan Kuti (1319).
Pemberontakan yang terbesar adalah Kuti. Muncul seorang ksatria bernama Gajah Mada. Ia
berhasil menyelamatkan raja dari upaya pembunuhan. Ia berhasil menumpas
pemberontakan. Pada tahun 1328, Jayanegara meninggal. Jayanegara diracun oleh tabib
istana yang bernama Tancha.

3) Tribhuwanatunggadewi (13281350)
Jayanegara tidak memiliki anak. Oleh sebab itu, tahta selanjutnya diganti oleh
Tribhuwanatunggadewi. Ia merupakan adik tiri Jayanegara. Tribhuwanatunggadewi adalah
putri Raden Wijaya dengan Gayatri.

Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan di Sadeng (1331). Namun Gajah Mada
berhasil menumpasnya. Akhirnya Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Majapahit. Gajah
Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara. Sumpah itu disebut Sumpah Palapa.

4) Hayam Wuruk (13501389)


Hayam Wuruk anak Tribhuwanatunggadewi dengan Kertawardhana. Masa kejayaan
Majapahit terjadi pada pemerintahan Hayam Wuruk, dimana wilayah kekuasaannya meliputi
seluruh Indonesia. Bahkan, sampai ke negeri Siam, Birma, Kamboja, Amman, India, dan
Cina.
Peninggalan Kerajaan Majapahit berupa candi dan karya satra. Peninggalam berupa candi
antara lain
Candi Panataran,
Candi Sawentar,
Candi Bora,
Candi Sumberjati,
Candi Jabung,
Candi Bajang Ratu,
Candi Tikus, dan
Candi Sukuh.
Adapun peninggalan karya sastra antara lain
Negara Kertagama (sejarah Singasari dan Majapahit);
Sutasoma (cerita agama Buddha);
Kunjarakarna (cerita agama Buddha); serta
Pararaton (sejarah Singasari dan Majapahit/legenda).
Zaman keemasan Majapahit berakhir sepeninggal Hayam Wuruk dan Gajah Mada .Hayam
Wuruk wafat tahun 1389 dan Gajah Mada wafat tahun 1346.
5) Wikramawardhana (13891400)
Setelah Hayam Wuruk wafat, tahta diduduki oleh Wikramawardhana (menantu Hayam
Wuruk). Setelah 12 tahun memerintah, ia mengundurkan diri pada tahun 1400.

6) Putri Suhita
Putri Suhita anak dari Wikramawardhana. Pengangkatan Suhita tidak disetujui Bhre
Wirabhumi, yaitu anak Hayam Wuruk dari seorang selir. Perang saudara terjadi antara Ratu
Suhita dengan Bhre Wirabhumi. Perang ini dikenal dengan Perang Paregreg (14011406).
Jadi, runtuhnya Majapahit disebabkan oleh :
1. Tidak adanya tokoh yang kuat untuk menjaga kesatuan sehingga banyak daerah
jajahan yang melepaskan diri.
2. Terjadinya perang Paregreg (14011406),
3. berkembangn ajaran Islam di Pulau Jawa,
4. datangnya armada Cina yang dipimpin ChengHo.

Kerajaan Budha

Agama Buddha masuk dari India ke Indonesia hampir bersamaan dengan masuknya agama
Hindu. Agama Hindu berkembang setelah agama Buddha. namun persebaran agama Hindu
lebih cepat daripada persebaran agama Buddha. Hal ini terbukti dari lebih banyaknya
kerajaan Hindu daripada kerajaan Buddha di Indonesia. Sementara pusat-pusat kerajaan
Buddha hanya terdapat di Sumatera dan beberapa daerah di Jawa.
Berikut kerajaan Buddha di Indonesia.

1. Kerajaan Kalinga
Kerajaan Kalinggan berdiri sekitar aban 6 Masehi di jawa Tengah. Kerajaan ini
dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Shima. Peninggalan-peninggalan Kerajaan
Kalingga, antara lain Prasastin Tuk Mas yang ditemukan di desa Dakawu di Lereng Gunung
Merbabu, Jawa Tengah.

2. Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 dengan raja pertaman Sri Jayanegara dan
berpusat di Palembang, Sumatera Selatan ( Muara Sungai Musi). Sriwijaya mengalami
zaman kekemasan pada saat diperintah oleh Raja Balaputradewa, putra dari Samaratungga
dari Jawa pada abad ke-9. Wilayah Sriwijaya meliputi hampir seluruh Sumatera, Jawa Barat,
Kalimantan Barat, dan Semenanjung Melayu. Oleh karena itu, Sriwijaya disebut juga
Kerajaan Nusantara pertama.
Peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya sebagai berikut:
a. Candi

Candi Muara Takus


Biara Bakal
b. Prasasti
Prasati Kedukan Bukit ( 605 M)
Prasati talang Tuo ( 648 M)
Prasati Telaga Batu
Prasasti Kota Kapur ( 686 M)
Prasasti Karang Berahi ( 686)

Latar Belakang Berdiri


Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang
Sri Jayanasa Ia memimpin 20.000 tentara di Minanga Tamwan (Ibu Kota Kerajaan
Melayu) yang diliputi perasaan senang karena kemenangan menaklukkan Kerajaan
Malayu . Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, wilayah Kerajaan
Melayu, Jambi dan Bengkulu takluk di bawah Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa
kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa (dinasti) Sailendra mulai berkuasa di
Jawa Tengah. Ia merupakan keturunan langsung Sriwijaya.

Berakhir

1. Kerajaan Sriwijaya berulang kali diserang oleh Kerajaan Colamandala dari India
yang diperintah oleh Raja Rajendracoladewa.
2. Kerajaan taklukan Sriwijaya (Ligor, Tanah Genting Kra, Kelantan, Pahang, Jambi,
dan Sunda) banyak yang melepaskan diri dari Sriwijaya.
3. Terdesak oleh perkembangan kerajaan di Thailand yang meluaskan pengaruhnya
ke arah selatan (Semenanjung Malaya).
4. Kerajaan Sriwijaya terdesak dengan pengaruh Kerajaan Singasari yang menjalin
hubungan dengan Kerajaan Melayu (di Jambi).

5. Mundurnya perekonomian dan perdagangan Kerajaan Sriwijaya karena bandar-


bandar pentingnya sudah melepaskan diri dari Kerajaan Sriwijaya.
6. Adanya serangan dari Raja Dharmawangsa 990 M.
7. Pengiriman ekspedisi Pamalayu atas perintah Raja Kertanegara, 1275 1292.
8. Muncul dan berkembangnya kerajaan Islam Samudra Pasai.
9. Adanya serangan kerajaan Majapahit dipimpin Adityawarman atas perintah
Mahapatih Gajah Mada, 1477. Sehingga Sriwijaya menjadi taklukkan Majapahit.

3. Kerajaan Mataram Budha


Kerajaan Mataram Budha pada walanya merupakan kerajaan Hindu. Namus sejak
Dinasti Syailendra memerintah, Mataram berubah menjadi kerajaan Budha. Peninggalan
kerajaan Mataram Budha antara lain sebagai berikut:
a. Candi
Candi Borobudur di Jawa tengah, didirikan tahun 770 M oleh Raja Samaratungga
Candi Kalasan di Jawa Tengah , merupakan candi Budha tertua di Pulau Jawa yang
didirikan tahun 778 M
Candi Mendut di Jawa Tengah
Candi Sewu di Jawa Tengah
Candi Plaosan di Jawa Tengah
b. Prasasti
Prasasti Sojomerto, isinya menyebutkan seseorang bernama Syailendra, yang
beragama Budha.
Prasasti Sangkhara, isinya menerangkan Raja Hakai Panangkaran yang berpindah
agama dari Hindu ke Buddha.
Prasasti Kalasan ( 778 M), isinya seoarang raja dari Dinasti Sanjaya berhasil
membujuk Raja Rakai Panaangkaran dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu
untuk membangun sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah wihara untuk
para biksu di Kalasan.
Prasasti Kluraj (782 M), isinya tentang pembuatan arca Manjusri sebagai wujud dari
Buddha, Wisnu, dan Sanggha yang disamakan dengan Trimurti yaitu, Brahmana,
Wisnu dan Siwa.
Prasasti Ratu Boko ( 856 M), isinya kekalahan Balaputradewa dalam perang dengan
kakak iparnya, Rakai Pikatan.

Kerajaan Islam di Indonesia.


Kerajaan - kerajaan Hindu-Buddha surut, mulai berdiri kerajaan-kerajaan Islam di tanah air
kita. Agama Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13 M. Agama dan kebudayaan
Islam masuk Indonesia melalui para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat
(India), dan Cina. Agama Islam berkembang dengan pesat di tanah air. Hal ini dapat dilihat
dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Berikut ini beberapa contoh kerajaan Islam
yang pernah berdiri di Indonesia.

Berikut Ringkasan tentang Kerajaan - Kerajaan Islam yang pernah ada di


Indonesia.
Kerajaan Perlak.

Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Sumatra dan tanah air adalah Kerajaan Perlak
(Peureula). Kerajaan Perlak ini berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja pertamanya
bernama Alauddin Syah. Perlak pada saat itu merupakan kota dagang penyedia lada paling
terkenal. Pada akhir abad XII Kerajaan Perlak akhirnya mengalami kemunduran.

Kerajaan Samudera Pasai.

Kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir
timur laut Aceh Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara kini. Kemunculannya sebagai
kerajaan Islam diperkirakan awal atau pertengahan abad ke-13 M, pendiri dan raja
pertama kerajaan ini adalah Malik al-Saleh, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah
pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8 M, dan
seterusnya. Daerah yang diperkirakan masyarakatnya sudah banyak yang memeluk agama
Islam adalah Perlak, sepeti yang kita ketahui berita dari Marco Polo yang singgah di daerah
itu pada tahun 1292.

Bukti berdirinya kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 M, itu didukung dengan
adanya nisan yang terbuat dari granit asal Samudra Pasai. Dari nisan itu dapat diketahui
bahwa raja pertama itu meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan
bertepatan dengan tahun 1297 M.[3] Nisan kuburan itu didapatkan di Gampong Samudera
bekas kerajaan Samudera Pasai tersebut. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan dengan
sumber sejarah berupa penemuan batu nisan bertuliskan Sultan Malik as-Saleh dengan
angka tahun 1297 yang juga merupakan raja pertama. Menurut sumber sejarah, kerajaan
ini pernah didatangi seorang utusan dari Sultan Delhi di India bernama Ibnu Batutah.

Kerajaan Aceh Darussalam.

Kerajaan Aceh berdiri pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja
pertama kerajaan ini. Kerajaan Samudra Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada
tahun 1521 M kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama tiga tahun,
kemudian tahun 1524 M dianekasi oleh raja Aceh, Ali Mughayatsyah. Selanjutnya kerajaan
Samudera Pasai di bawah pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh
Darussalam.

Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarng dikenal dengan nama Kabupaten Aceh
Besar. Di sini pula terletak ibu kotanya. Dan belum diketahui pasti kapan kerajaan ini
berdiri. Anas Machmud berpendapat, kerajaan Aceh berdiri pada abad ke-15 M, di atas
puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Mujaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang membangun
kota Aceh Darussalm. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi pada masa pemerintahan
Sultan Iskandar Muda. Pada saat itu wilayah kekuasaan Aceh sangat luas. Kerajaan Aceh
juga telah menjalin hubungan dengan para pemimpin Islam di kawasan Arab sehingga
dikenal dengan sebutan Serambi Mekah. Puncak hubungan tersebut terjadi pada masa
kekhalifahan Usmaniyah.

Kerajaan Demak.

Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi Raja


Majapahit. Hal itu memberi peluang kepada pengusaha-pengusaha islam di pesisir untuk
membangun pusat kekuasaan yang independen. Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta,
wali songo bersepakat mengangkat Raaden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak,
kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman
Panembahan Palembang Sayidina Panatagama. Sebelumnya Demak yang masih bernama
Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Radeen
Patah.
Maka berdiri kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yaitu Kerajaan Demak. Kerajaan ini
didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Pada saat itu ulama memegang peranan yang
penting dalam pemerintahan misalnya dengan diangkatnya Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa
sebagai penasihat kerajaan. Kerajaan Demak mengalami masa keemasan pada masa
pemerintahan Sultan Trenggono. Pada tahun 1527 ketika armada Portugis datang untuk
mendirikan benteng di Sunda Kelapa, Kerajaan Demak berhasil memukul mundur. Pada
masa kekuasaan dipegang oleh Jaka Tingkir, pusat pemerintahannya dipindah dari Demak
menuju Pajang.

Kerajaan Pajang.

Pajang adalah pelanjut atau sebagai pewaris kerajaan Demak. Sultan pertama kerajaan ini
adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, di Lereng Gunung Merapi. Oleh raja Demak
ketiga Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang, setelah
dikawinkan dengan anak perempuannya. Setelah Raja Demak meniggal dunia Jaka Tingkir
memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang. Setelah menjadi
raja yang paling berpengaruh di Pulau Jawa ia bergelar Sultan Adiwijaya. Sultan Adiwijaya
menghadiakan kota gede Yogyakarta dan mengangkat Ki Ageng Pemanahan menjadi adipati
di situ. Saat Ki Ageng Pemanahan meninggal, jabatan adipati digantikan oleh anaknya,
Sutawijaya. Sementara itu adipati Demak diserahkan kepada Pangeran Aria Pangiri.
Sutawijaya yang menjadi adipati di Mataram (Yogyakarta) ingin menjadi raja dan berkuasa
atas seluruh pulau Jawa. Sebagai raja, Jaka Tingkir mendapat gelar Sultan Adiwijaya.
Setelah Sultan Adiwijaya wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Arya Pangiri. Selanjutnya,
dipimpin oleh Pangeran Benowo.

Kerajaan Mataram Islam.

Kerajaan Mataram didirikan oleh Sutawijaya yang memiliki gelar Panembahan Senopati Ing
Alaga Sayidin Panatagama. Setelah naik tahta kerajaan pada tahun 1586, Sutawijaya
bergelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Kerajaan Mataram mencapai
masa kejayaan pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang bergelar Sultan
Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah. Saat itu kekuasaan Mataram
sangat luas dan seluruhnya berhasil disatukan. Kerajaan yang dipimpin oleh Sutajaya ini
adalah kerajaan kedua yang kini bercorak Islam, sementara yang dulu bercorak Hindu.
Namun letak Mataram Islam berada di bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu. Sementara
itu, Pajang yang dulu menjadi pusat kerajaan, msuk menjadi wilayah kekuasaan Mataram
Islam, dan Pangeran Benowo sebagai adipati Pajang.

Kerajaan Cirebon.

Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di daerah Jawa Barat. Kerajaan ini
didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Ia diperkirakan lahir pada tahun 1448 M dan wafat pada
tahun 1568 M, dalam usia 120 tahun. Kedudukannya sebagai Wali Songo mendapatkan
penghormatan dari raja-raja di Jawa, seperti Demak dan Pajang. Setelah Cirebon resmi
berdiri sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, Sunan
Gunung Jati berusaha meruntuhkan Kerajaan Pajajaran yang belum menganut ajaran
Islam.
Dari Cirebon Sunan Gunung Jati, mengembnagkan ajaran Islam kedaerah-daerah lain
seperti Majalengka, Kuningan, Galuh, Sunda Kelapa dan Banten. Pada tahun 1525 M, ia
kembali ke Cirebon dan menyerahkan Bnten kepada anaknya yang bernama Sultan
Hasanuddin. Sultan inilah yang meruntuhkan raja-raja Banten.
Setelah Sunan Gunung Jati wafat, ia digantikan oleh cicitnya yang bergelar Pangeran Ratu
atau Panembahan Ratu. Panembahan wafat pada tahun 1650 M dan digantikan oleh
putranya yang bernama Panembahan Girilaya. Sepeninggalannya, Kesultanan Cirebon
dipecah menjadi dua pada tahun 1697 dan dipentahkan oleh dua orang putranya, yaitu
Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom.
Penembahan Sepuh memimpin Kesultanan Kasepuhan yang bergelar Syamsuddin,
semeentara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman yang bergelar Badruddin.

Kerajaan Banten.

Sunda Kelapa adalah pelabuhan yang pentig di Muara Sungai Ciliwung. Kedudukannya lebih
penting dari pada dua kota pelabuhan Pajajaran lainnya, yakni Banten dan Cirebon. Setelah
Fatahillah yang juga menantu Sunan Gunung Jati berhasil menaklukkan Portugis di Sunda
Kelapa, Banten dikembangkan sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat penyiaran
agama. Setelah Sunan Gunung Jati menaklukan Banten pada tahun 1525 M. Ia
menyerahkan kekuasaan kepada putranya yang bernama Sultan Hasanuddin. Sultan
Hasanuddin kemudian menikah dengan Putri Demak dan diresmikam menjadi Panembahan
Bnten pda tahun 1552 M. Ia meneruskan usaha ayahnya dalam meluaskan daerah Islam,
yaitu Kelampung dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1527 M, ia berhasil menaklukan Sunda
Kelapa. Banten juga berhasil merdeka dan melepaskan diri dari Kerajaan Demak. Kerajaan
Banten ini mengalami kemajuan yang sangat penting pada masa kekuasaan Ki Ageng
Tirtayasa.

Kerajaan Banjar.

Pada abad ke-16, di pedaleman Kalimantan terdapat Kerajaan Nagaradaha (Kerajaan Daha).
Banjarmasin merupakan slah satu wilayah kekuasaan kerajaan tersebut. Kerajaan Banjar
merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang beragama Hindu yang dipimpin oleh Raja
Sukarama. Adipai Banjarmasi yang bernama Raden Samudera berhasil menaklukan
kerajaan Nagaradaha dengan bantuan Kerajaan Demak. Akhirnya berdirilah Kerajaan Banjar
dengan Raden Samudera sebagai rajanya. Setelah masuk Islam ia bergelar Sultan
Suryanullah. Islam pertama kali masuk ke Banjarmasin pada abad XVI. Saat itu proses
islamisasinya sebagian besar dilakukan oleh Kerajaan Demak. Dalam waktu yang tidak
cukup lama, bahkan Islam banyak dianut masyarakat dari suku Bugis di sungai bagian timur
Kalimantan. Ulama yang sangat terkenal di kerajaan tersebut adalah Syeh Muhammad
Arsyad al-Banjari.

Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.

Menurut risalah Kutai, dua orang penyebar Islam tiba di Kutai pada masa pemerintahan
Raja Mahkota, yaitu Tuan di Bandang, yang dikenal dengan Dato Ri Bandang dari Makasar
dan yang satunya adalah Tuan Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu Dato Ri
Bandang kembali ke Makasar, sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di Kutai. Raja
Mahkota tunduk kepada keimanan Islam, setelah itu segera dibanun sebuah masjid dan
pengajaran agama Islam dapat dimulai. Yang pertama mengikuti pengajaran itu adalah Raja
Mahkota sendiri, kemudian pangeran, para mentri, panglima dan hulubalang dan akhirnya
rakyat biasa.
Sejak itu Raja Mahkota berusaha keras menyebarkan Islam dengan pedang. Proses
Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya diperkirakan terjadi pada tahun 1575. Penyabaran
lebih jauh daerah-daerah pedalaman dilakukan terutama pada waktu puteranya Aji di
Langgar, dan pengganti-penggantinya meneruskan perang ke daerah Muara Kaman.

Kerajaan Sukadana.
Pada tahun 1550 Islam telah diperkenalkan kepada Kerajaan Sukadana di wilayah barat
Pulau Kalimantan. Meskipun raja yang berkuasa pada saat itu belum sempat memeluk
agama Islam, penerus kerajaan tersebut selanjutnya memeluk agama Islam. Bahkan, pada
tahun 1600 Islam menjadi agama yang sangat populer di sepanjang pesisir pantai pulau
tersebut.

Kerajaan Ternate.

Kerajaan Ternate berdiri pada abad ke-13 di Maluku Utara, dengan ibu kotanya di Sampalu.
Rajanya bernama Sultan Zaenal Abidin, ia belajar agama Islam di Gegesik. Kerajaan Ternate
merupakan penghasil rempah-rempah yang besar di Nusantara. Pada abad ke-15, kerajaan
ternate menjadi kerajaan terpenting di Maluku. Kerajaan Ternate mencapai kejayaannya
pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Pada waktu itu wilayah kekuasaan Ternate
sampai ke Philipina Selatan. Untuk menjaga wilayah keamanannya, ia memiliki 100 kapal
kora-kora untuk menjaga wilayahnya. Pada masa itu Sultan Baabullah mendapat gelar
seabagai Yang Dipertuan di 72 pulau. Ia juga dikenal sebagai pahlawan yang gigih
menentang penjajahan Portugis. Dengan kegigiannya ia bersama rakyatnya nerhasil
mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1795.

Kerajaan Tidore.

Seperti halnya Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore pun merupakan penghasil cengkeh yang
besar. Berkat hasil cengkehnya itu kerajaan Tidore menjadi kerajaan yang maju. Raja yang
terkenal di Kerajaan Tidore adalah Sultan Nuku. Pada masanya, kekuasan Tidore meliputi
Halmahera, Seram, Kai, dan Irian Jaya. Pada mulanya kerajaan Ternate dengan Kerajaan
Tidore hidup damai berdampingan. Namun sejak kedatangan Portugis , kedua kerajaan ini
di adudombakan[25], setelah mengetahui bahwa Portugis ingin menguasai Maluku, akhirnya
dua kerajaan ini bersatu dan mengusir Bangsa Portugis dari Maluku.

Sulawesi (Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu).

Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan yang kembar yang saling berbatasan, biasanya disebut
kerajaan Makasar. Kerajaan ini terletak di Semenanjung Barat Daya Pulau Sulawesi. Gowa-
Tallo adalah kerajaan yang berpusat pemerintahan di Makasar (sekarang Ujung Padang),
yaitu di Simbaopu (Makasar). Selain itu pula terdapat kerajaan lain seperti Bone, Sopeng,
Wajo dan Luwu. Kerajaan Makasar merupakan kerajaan yang pertama di Sulawesi.
Sementara itu Bone, Waajo, dan Soppeng bersatu yang disebut Tellum Pottjo (Tiga
Kerajaan). Penguasa Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1605 masuk agama Islam. Raja Tallo
yaitu Kraeng Matoaya sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa (Makasar), ia bergelar Sultan
Abdullah. Sedangkan penguasa Gowa yaitu Daeng Manrabia sebagai raja Gowa bergelar
Sultan Alaudin (1605-1639). Mereka berdua giat menyebarkan agama Islam. Mereka
berdua berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Pada awalnya mereka mengajak Raja
Bone, Sopeng dan Wajo untuk memeluk agama Islam. Karena ditolak maka ketiga kerajaan
tersebut diperanginya dan akhirnya masuk Islam.

Sultan Alauudin, sangat menentang tindakan Belanda secara terang-terangan. Ia


meninggal pada tahun 1639, dan digantikan oleh anaknya yang bernama Sultan Muhammad
Said. Ia mengirimkan armada laut ke Maluku untuk melawan Belanda. Ia meninggal pada
tahun 1653. Perlawanan Makasar terhadap Belanda memuncak pada masa pemerintahan
Sultan Hasanuddin (1653-1669). Hasanuddin merupakan Raja Makasar yang paling berani
melawan Belanda, sehingga mendapat julukan Ayam Jantan dari Timur. Ia sering
melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Belanda, yang sangat merugikan VOC
(Belanda).