Anda di halaman 1dari 56

PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY PROGRAM BEASISWA

AKADEMIK/NON AKADEMIK PERIODE 2016/2017 TERHADAP CITRA KAMPUS


UNIVERSITAS BUDI LUHUR

Proposal penelitian

Oleh:

ISNI EKA SAFITRI

1571502689

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS BUDI LUHUR

JAKARTA

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian


Citra perusahaan menggambarkan nilai, kepercayaan dan produktivitas
perusahaan, sehingga menghasilkan reputasi positif di mata publik. Citra perusahaan
yang positif dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap perusahaan,
bertanggung jawab untuk meningkatkan penjualan dan bisnis bagi perusahaan.

Membangun citra perusahaan membutuhkan proses yang panjang, karena citra


merupakan semua persepsi yang dibentuk oleh konsumen, dengan cara memproses
informasi dari berbagai sumber sepanjang waktu. Citra perusahaan dapat dikatakan
sebagai persepsi masyarakat dari adanya pengalaman, kepercayaan, perasaan, dan
pengetahuan masyarakat itu sendiri, terhadap sebuah perusahaan. Citra perusahaan
dibentuk oleh masyarakat, dari upaya komunikasi dan keterbukaan perusahaan dalam
usaha membangun citra yang positif. Humas (Hubungan Masyarakat) atau yang biasa
disebut dengan PR (Public Relations), berperan besar akan hal ini.

Menurut Elvinaro Ardianto dalam buku nya yang berjudul Handbook Of


PR, Citra adalah tujuan pokok bagi suatu organisasi atau perusahaan. wujudnya
dapat dirasakan dari penilaian, baik semacam tanda respek dan rasa hormat dari
publik sekelilingnya atau masyarakat luas terhadap organisasi atau perusahaan
tersebut dilihat sebagai sebuah badan usaha yang dipercaya, professional, dan dapat
diandalkan dalam pembentukan pelayanan yang baik. Citra yang dimaksud disini
adalah kesan yang ingin diberikan oleh perusahaan kepada publik atau khalayaknya
agar timbul opini public yang positif tentang perusahaan tersebut. Kemampuan untuk
menampilkan citra positif bagi suatu perguruan tinggi merupakan suatu keharusan
yang tidak dapat ditawar-tawar, mengingat kondisi persai-ngan yang dihadapi dunia
pendidikan tinggi Indonesia saat ini sangat kompetitif, tidak saja bersifat lokal,
regional maupun global. Citra positif yang ditampilkan tentunya bukan sekedar citra
yang sifatnya semu, tetapi benar-benar merupakan suatu citra yang harus dimiliki oleh
institusi pendidikan tinggi sesuai dengan potensi sumber daya yang dimilikinya. Citra
positif merupakan faktor pendukung utama keberhasilan suatu institusi pendidikan
tinggi untuk mampu mempertahankan keberadaannya serta mengembangkan berbagai
programnya, sehingga dapat dipercaya oleh stakeholders, antara lain; mahasiswa,
orang tua, dunia kerja, pemerintah, dosen, tenaga penunjang, serta pihak-pihak lain
yang berkepentingan, sangatlah penting. Citra positif yang demikian ini, akan dapat
diwujudkan melalui sistem penjamian mutu internal. Sistem penjamian mutu internal
di dalam sebuah perguruan tinggi merupakan kegiatan mandiri yang bersifat internally
driven, sehingga sistem penjaminan mutu internal tersebut harus dibangun
berdasarkan kondisi dan budaya perguruan tinggi yang bersangkutan,
dengan harapan stakeholders memperoleh kepuasan. Indikator
kepuasaan stakeholders, khususnya mahasiswa dapat dinyatakan dengan senang,
betah kuliah di perguruan tinggi tersebut, ada harapan untuk lulus, dan nantinya
memperoleh rate of return yang memuaskan setelah mereka bekerja di masyarakat.
Isu mengenai tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia mulai mendapat
perhatian sejak sepuluh tahun belakangan. Umumnya kalangan pengusaha
menerjemahkan konsep CSR sebagai bentuk berbagi kepada masyarakat
sekitar/kalangan tertentu, atau sebagai bagian dari kedermawanan sosial. Sehingga tak
heran banyak yang mengartikan CSR hanya sekedar charity. Padahal setidaknya ada
tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha harus merespon CSR agar sejalan
dengan operasional usahanya.
Pertama, perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar
bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan mesti menyadari
bahwa mereka beroperasi dalam satu tatanan lingkungan masyarakat. Kegiatan sosial
ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya timbal balik atas penguasaan sumber
daya alam atau sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif
dan eksploratif, disamping sebagai kompensasi sosial karena timbul ketidaknyamanan
pada masyarakat.
Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang
bersifat saling menguntungkan. Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat wajar
bila perusahaan juga dituntut untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat,
sehingga bisa tercipta harmonisasi hubungan yang akan berpengaruh pada performa
perusahaan.
Ketiga, kegiatan CSR merupakan salah satu cara untuk meredam dan
menghindarkan konflik sosial. Potensi konflik itu bisa berasal akibat dari dampak
operasional perusahaan atau akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul
antara masyarakat dengan komponen perusahaan.
Definisi CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan atau
konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut)
sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana
perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggung jawab itu bermacam-macam, mulai
dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana
untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang
bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang
berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate Social Responsibility (CSR)
merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan
kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan
sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar
profitability.
Salah satu perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya yaitu
Yayasan Budi Luhur yaitu dibidang pendidikan Universitas Budi Luhur. Universitas
Budi Luhur (UBL) adalah sebuah universitas swasta yang merupakan penggabungan
dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK), Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi (STIE), Sekolah Tinggi Teknik (STT) dan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (STISIP), diresmikan pendiriannya pada tanggal 7 Juni 2002,
berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
114/D/O/2002. Universitas Budi Luhur yang merupakan suatu perwujudan karya
nyata Yayasan Pendidikan Budi Luhur bagi bangsa dan negara Republik Indonesia,
dirancang untuk ikut mencerdaskan anak bangsa dengan dilandasi budi pekerti yang
luhur.
Universitas Budi Luhur adalah sebuah perguruan tinggi swasta yang
mengemban misi dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur, dengan berlandaskan pada
motto Asah-Asih-Asuh. Universitas Budi Luhur menyelenggarakan pendidikan,
mengembangkan dan menyebarluaskan serta mengabdikan ilmu pengetahuan,
teknologi, kesenian dan ilmu kemanusiaan serta ilmu sosial untuk mengupayakan agar
bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan berbudi luhur.
Universitas Budi Luhur mempunyai beberapa program CSR, beberapa CSR
Universitas Budi Luhur diantaranya yaitu Program kunjungan sosial ke Panti Jompo
Wreda Siti Khadijah di daerah Sunyaragi Kesambi Cirebon, dan Yayasan Budhi Asih
menampung anak-anak yatim piatu, Sebelumnya Program CSR kampus Budi Luhur
diawali dengan pemberian Beasiswa Nusantara dari tahun 2004-2015, Rumah Cerdas
Berbudi Luhur 2012 -2015 di Klaten - Jogyakarta, Peresmian Bank Sampah, UBL
Journey Bikers Budi Luhur, Beasiswa Atlet Berprestasi, Beasiswa Yatim Piatu, on
campus job yang memberikan kesempatan mahasiswa untuk bekerja di kampus,
pembuatan Rumah Baduy di kampus, pembuatan Rumah Singgah untuk mahasiswa
peraih Beasiswa Nusantara, pembuatan Rumah Cerdas Berbudi Luhur untuk
masyarakat sekitar kampus, pembuatan 3 buah WC Umum untuk masyarakat sekitar
Rajeg Tangerang dan Mushola di daerah Rajeg Tangerang Banten, program Bakti
Sosial Bakti Budi Luhur di berbagai daerah dan program Iptek BagiMasyarakat
menuju Kampung Recycle.
Kampus Universitas Budi Luhur menyadari, pendidikan merupakan salah satu
upaya untuk ikut mencerdaskan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
bangsa dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. Oleh sebab itu Universitas
Budi Luhur melalui program Beasiswa, Universitas Budi Luhur memberikan berbagai
macam bentuk beasiswa untuk calon mahasiswa/i.
Para calon mahasiswa/i sebelum menjadi penerima beasiwa dari universitas
budi luhur, terlebih dahulu mereka diseleksi secara ketat dan harus memenuhi
persyaratan yang sudah ditentukan oleh Universitas Budi Luhur. Dalam program
beasiswa ini calon mahasiswa mendapatkan manfaat yang sangat membantu mereka
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan program
beasiswa calon mahasiwa mampu berkuliah jenjang Strata 1 di Universitas Budi
Luhur tanpa biaya yang mahal.
Setiap beasiswa mempunyai syarat masing-masing. Beasiswa Non akademik
atau atlet yang diperuntukan bagi calon mahasiswa yang memili prestasi dibidang
olahraga, dengan syarat; calon mahasiswa harus memiliki
sertifikat/piagam/penghargaan dalam bidang olahraga tingkat provinsi/nasional,
bersedia mengikuti test praktek dan test tertulis. Beasiswa Akademik yang
diperuntukan bagi calon mahasiswa yang memiliki nilai ujian nasional diatas rata-
rata, dengan syarat; calon mahasiswa harus mampu mendapatkan nilai ujian nasional
diatas 7.0, menyerahkan fotocopy SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional)
dan bersedia mengikuti test tertulis. Beasiswa nusantara diperuntukan bagi calon
mahasiswa daerah diwilayah Republik Indonesia yang memiliki potensi dibidang
akademik, dengan syarat; mengikuti test tertulis. Beasiswa IPK diperuntukan bagi
mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik dengan memiliki IPK sebesar
minimal 3.75 maka akan mendapatkan potongan biaya per semester.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti
adakah pengaruh Corporate Social Responsibility program beasiswa yang
dilakukan Universitas Budi Luhur dalam upaya meningkatkan citra kampus
dimata mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka peneliti merumuskan masalah
pokok dalam penelitian adalah:
1. Bagaimana CSR program beasiswa menurut mahasiswa FIKOM Universitas Budi
Luhur?
2. Bagaimana citra kampus Universitas Budi Luhur dimata mahasiswa FIKOM?
3. Adakah pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) Program Beasiswa
periode 2016/2017 terhadap citra kampus Universitas Budi Luhur?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana CSR program beasiswa menurut mahasiswa
FIKOM Universitas Budi Luhur.
2. Untuk mengetahui bagaimana citra kampus Universitas Budi Luhur di mata
mahasiswa FIKOM universitas Budi Luhur.
3. Untuk mengetahui adakah pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR)
terhadap citra kampua Universitas Budi Luhur.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Bagi Penulis
Bagi penulis penelitian ini dapat memacu minat dan keinginan untuk
memahami tentang Corporate Social Responsibility (CSR) dan mengetahui manfaat
dari pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR).

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pertimbangan dalam pembuatan


Kebijaksanaan perusahaan agar lebih meningkatkan tanggung jawab dan
kepeduliannya pada lingkungan sosial dan sebagai informasi kepada pihak Manajemen
perusahaan tentang pentingnya pertanggung jawaban sosial perusahaan yang dipercaya
dapat meningkatkan citra perusahaan.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Investor

Penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran untuk mempertimbangkan


aspek-aspek yang perlu diperhitungkan dalam investasi.

2. Bagi Penelitian

Diharapkan hal ini dapat di jadikan referensi yang bermanfaat bagi penelitian
yang sejenis serta untuk membuktikan teori-teori yang peneliti gunakan berhubungan
dengan kenyataan yang ada di lapangan (obyek penelitian).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Corporate Social Responsibility Sebagai Pembentuk Citra dan Pengaruhnya


Terhadap Loyalitas Pelanggan (Survei PT Fast Food Indonesia di Kota
Semarang)
Penelitian di tulis oleh Nurmaya Saputri, Universitas Diponegoro Semarang tahun
2009.Rumusan Masalah penelitian ini adalah bagaimana pengaruh profit (dalam
implementasi CSR) terhadap citra perusahaan, bagaimana pengaruh people (dalam
implementasi CSR) terhadap citra perusahaan dan bagaimana pengaruh planet (dalam
implementasi CSR) terhadap citra perusahaan. Tujuan Penelitian yaitu untuk
mengetahui pengaruh profit (dalam implementasi CSR) terhadap citra perusahaan,
mengetahui pengaruh people (dalam implementasi CSR) terhadap citra perusahaan,
mengetahui pengaruh planet (dalam implementasi CSR) terhadap citra perusahaan dan
mengetahui citra perusahaan terhadap loyalitas pelanggan. Teori Penelitian yang
digunakan adalah teori Corporate Social Responsibility (CSR). Hasil Penelitian
menunjukan bahwa variabel dependen dalam penelitian ini yakni profit, people dan
planet memang berpengaruh terhadap citra perusahaan KFC di Semarang.Hal ini
terlihat dari hasil regresi yang menerangkan bahwa ketika variabel tersebut
berpengaruh signifikan. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa hipotesis 1,2 dan
3 dapat di terima.
2.1.2 Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Kinerja Perusahaan
Dengan Kepemilikan Asing Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)
Penelitian ditulis oleh Budi Cahyono, Universitas Mercu Buana Tahun
2011.Rumusan Masalah penelitian ini adalah Apakah Corporate Social Resposibility
mempengaruhi kinerja perusahaan?dan Apakah kepemilikan asing berpengaruh
terhadap hubungan antara Corporate Social Responsibility dan kinerja perusahaan.
Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh Corporate Social Responsibility
terhadap kinerja perusahaan dan mengetahui pengaruh kepemilikan asing dalam
hubungan antara Corporate Social Responsibility dan kinerja perusahaan.Teori
Penelitian yang digunakan adalah teori Corporate Social Responsibility (CSR) dan
teori Stakeholders.Penelitian ini menggunakan metode purposive judgement
sampling, yaitu tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh
dengan menggunakan pertimbangan tertentu.Hasil Penelitian menunjukan bahwa
secara individual variable independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap variable dependen.Jika nilai signifikasi lebih kecil dari maka hipotesis
diterima (koefisien regresi signifikan), berarti secara individual variabel independen
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

2.1.3 Pengaruh Kualitas Program CSR Terhadap Citra Perusahaan dimata Mitra
Bianaan PT. Telekomunikasi Indonesia CDC DIY
Penelitian karya Ivone Oktaviana, Mahasiswi Universitas Atmajaya Yogyakarta dari
Program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Tahun 2013.
Rumusan Masalah penelitian ini adalah bagaimana pengaruh kualitas program CSR
terhadap citra perusahaan PT. Telkom Indonesia CDC DIY?. Tujuan Penelitian ini
adalah untuk mengetahui adanya pengaruh kualitas program CSR terhadap citra
perusaahaan PT. Telkom Indonesia CDC DIY. Teori Penelitian yang digunakan
adalah teori kepuasan pelanggan dan teori CSR.Hasil Penelitian ini membuktikan
kualitas program CSR memiliki hubungan yang signifikan dengan citra perusahaan
dan berpengaruh kuat terhadap penilaian citra baik perusahaan dimata para mitra PT.
Telkom CDC DIY, ndan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas program
CSR dengan kepuasan pelanggan, tetapi tidak terdapat pengaruh yang cukup kuat.

2.2 Kerangka Teoritis


2.2.1 Corporate Social Responsibilty (CSR)
Untuk menjelaskan kecenderungan pengungkapan CSR dapat menggunakan
pendekatan berlandaskan beberapa teori, yakni Teori Stakeholder, teori Legitimasi, Teori
Kontrak Sosial, dan Teori Ekonomi Politik.

1. Teori Stakeholder ( Stakeholder Theory). Stakeholder adalah semua pihak, internal


maupun eksternal, dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Stakeholder merupakan pihak internal
maupun eksternal, seperti : Pemerintah, perusahaan pesaing, masyarakat sekitar,
lingkungan internasional, lembaga di luar perusahaan (LSM dan sejenisnya),
lembaga pemerhati lingkungan, para pekerja perusahaan, kaum minoritas dan lain
sebagainya keberadaannya sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perusahaan.
Hal pertama mengenai teori stakeholder adalah bahwa stakeholder adalah sistem
secara eksplisit berbasis pada pandangan tentang suatu organisasi dan
lingkungannya, mengakui sifat saling mempengaruhi antara keduanya kompleks dan
dinamis. Hal ini berlaku untuk kedua varian teori stakeholder. Varian pertama
berhubungan langsung dengan model akuntabilitas. Stakeholder dan organisasi
saling mempengaruhi. Hal ini dapat dilihat dari hubungan sosial keduanya
berbentuk responsibilitas dan akuntabilitas. Oleh karena itu, organisasi memiliki
akuntabilitas terhadap stakeholdernya. Sifat dari akuntabilitas itu ditentukan dengan
hubungan antara stakeholder dan organisasi. Varian kedua teori stakeholder
berhubungan dengan pandangan mengenai empirical accountability. Teori
stakeholder mungkin digunakan dengan ketat dalam suatu organisasi arah terpusat
(centered-way organization). Diungkapkan bahwa lingkungan sosial perusahaan
merupakan sarana sukses bagi perusahaan untuk menegosiasikan hubungan dengan
stakeholdernya. Berdasarkan asumsi stakeholder theory, maka perusahaan tidak
dapat melepaskan diri dari lingkungan sosial. Perusahaan perlu menjaga legitimasi
stakeholder serta mendudukkannya dalam kerangka kebijakan dan pengambilan
keputusan, sehingga dapat mendukung pencapaian tujuan perusahaan, yaitu
stabilitas usaha dan jaminan going concern (Adam, dalam Nor Hadi, 2011).
2. Teori Legimitasi (Legitimacy Theory). Legitimasi masyarakat merupakan faktor
strategis bagi perusahaan dalam rangka mengembangkan perusahaan ke depan. Hal
itu dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengonstruksi strategi perusahaan,
terutama terkait dengan upaya memposisikan diri di tengah lingkungan masyarakat
semakin maju. Legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu diinginkan atau
dicari perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian, legitimasi merupakan manfaat
atau sumber daya potensial bagi perusahaan untuk bertahan hidup (going concern).
Definisi tersebut mengisyaratkan, bahwa legitimasi merupakan sistem pengelolaan
perusahaan berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat (society),
Pemerintah, individu, dan kelompok masyarakat. Untuk itu, sebagai suatu sistem
mengedepankan keberpihakan kepada society, operasi perusahaan harus kongruen
dengan harapan masyarakat. Suatu organisasi mungkin menerapkan empat strategi
legitimasi ketika menghadapi berbagai ancaman legitimasi. Oleh karena itu, untuk
menghadapi kegagalan kinerja perusahaan seperti kecelakaan serius atau skandal
keuangan organisasi mungkin: 1) Mencoba untuk mendidik stakeholder tentang
tujuan organisasi untuk meningkatkan kinerja. 2)Mencoba untuk merubah persepsi
stakeholder terhadap suatu kejadian (tetapi tidak merubah kinerja aktual organisasi).
3) Mengalihkan (memanipulasi) perhatian dari masalah menjadi perhatian
(mengkonsentrasikan terhadap beberapa aktivitas positif tidak berhubungan dengan
kegagalan). 4)Mencoba untuk merubah ekspektasi eksternal tentang kinerja. 5)Teori
legitimasi dalam bentuk umum memberikan pandangan penting terhadap praktek
pengungkapan sosial perusahaan. Kebanyakan inisiatif utama pengungkapan sosial
perusahaan bisa ditelusuri pada satu atau lebih strategi legitimasi. Sebagai misal,
kecenderungan umum bagi pengungkapan sosial perusahaan untuk menekankan
pada poin positif bagi perilaku organisasi dibandingkan dengan elemen negatif.
3. Teori Kontrak Sosial (Social Contract Theory). Teori ini muncul karena adanya
interelasi dalam kehidupan sosial masyarakat, agar terjadi keselarasan, keserasian,
dan keseimbangan, termasuk dalam lingkungan. Perusahaan merupakan kelompok
orang memiliki kesamaan tujuan dan berusaha mencapai tujuan secara bersama
adalah bagian dari masyarakat dalam lingkungan lebih besar. Keberadaannya sangat
ditentukan oleh masyarakat, di mana antara kedua saling pengaruh-mempengaruhi.
Untuk itu, agar terjadi keseimbangan (equality), maka perlu kontrak sosial baik
secara tersusun baik secara tersurat maupun tersirat, sehingga terjadi kesepakatan
saling melindungi kepentingan masing-masing. Social Contract dibangun dan
dikembangkan, salah satunya untuk menjelaskan hubungan antara perusahaan
terhadap masyarakat (society). Di sini, perusahaan atau organisasi memiliki
kewajiban pada masyarakat untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Interaksi
perusahaan dengan masyarakat akan selalu berusaha untuk memenuhi dan
mematuhi aturan dan norma-norma berlaku di masyarakat, sehingga kegiatan
perusahaan dapat dipandang legitimate. Dalam perspektif manajemen kontemporer,
teori kontrak sosial menjelaskan hak kebebasan individu dan kelompok, termasuk
masyarakat dibentuk berdasarkan kesepakatan saling menguntungkan anggota. Hal
ini sejalan dengan konsep legitimacy theory bahwa legitimasi dapat diperoleh
manakala terdapat kesesuaian antara keberadaan perusahaan tidak menganggu atau
sesuai (congruence) dengan eksitensi sistem nilai dalam masyarakat dan
lingkungan. Konsep kontrak sosial (social contract) bahwa untuk menjamin
kelangsungan hidup dan kebutuhan masyarakat, kontrak sosial didasarkan pada :
a) Hasil akhir (output) secara sosial dapat diberikan kepada msayarakat luas.
b)Distribusi manfaat ekonomis, sosial, atau pada politik kepada kelompok sesuai
dengan kekuatan dimiliki. Mengingat output perusahaan bermuara pada masyarakat,
serta tidak adanya power institusi bersifat permanen, maka perusahaan
membutuhkan legitimasi. Di situ, perusahaan harus melebarkan tanggungjawab
tidak hanya sekedar economic responsibility lebih diarahkan kepada shareholder
(pemilik perusahaan), namun perusahaan harus memastikan bahwa kegiatannya
tidak melanggar dan bertanggungjawab kepada Pemerintah dicerminkan dalam
peraturan dan perundang-undangan berlaku (legal responsibility). Di samping itu,
perusahaan juga tidak dapat mengesampingkan tanggungjawab kepada masyarakat,
dicerminkan lewat tanggung jawab dan keberpihakan pada berbagai persoalan sosial
dan lingkungan timbul (societal respobsibility).
4. Teori Ekonomi Politik. Dua varian teori ekonomi politik: klasik (biasanya sebagian
besar berhubungan dengan Marx) dan Bourgeois (biasanya sebagian besar
berhubungan dengan John Stuart Mill dan ahli ekonomi berikutnya). Perbedaan
penting antara keduanya terletak pada tingkat analisis pemecahan, yakni konflik
struktural dalam masyarakat. Ekonomi politik klasik meletakkan konflik struktural,
ketidakadilan dan peran negara pada analisis pokok. Sedangkan Ekonomi politik
Bourgeois cenderung menganggap hal-hal tersebut merupakan suatu given. Karena
itu, hal-hal tersebut tidak dimasukkan dalam analisis. Hasilnya, ekonomi politik
Bourgeois cenderung memperhatikan interaksi antar kelompok dalam suatu dunia
pluralistic (sebagai misal, negosiasi antara perusahaan dan kelompok penekan
masalah lingkungan, atau dengan pihak berwenang). Ekonomi politik Bourgeois
bisa digunakan dengan baik untuk menjelaskan tentang praktek pengungkapan
sosial. Sedangkan Ekonomi politik klasik hanya sedikit menjelaskan praktek
pengungkapan sosial perusahaan, mempertahankan bahwa pengungkapan sosial
perusahaan dihasilkan secara sukarela. Ekonomi politik klasik memiliki
pengetahuan tentang aturan pengungkapan wajib, dalam hal ini biasanya negara
telah memilih untuk menentukan beberapa pembatasan terhadap organisasi.
Ekonomi politik klasik akan menginterpretasikan hal ini sebagai bukti bahwa negara
bertindak "seakan-akan" atas kepentingan kelompok tidak diuntungkan (sebagai
misal, orang tidak mampu, ras minoritas) untuk menjaga legitimasi sistem kapitalis
secara keseluruhan.

2.2.2 Citra

Teori yang digunakan dalam variable ini adalah Teori Citra (Image
Theory) Citra adalah tujuan pokok bagi suatu organisasi atau perusahaan. Pengertian
citra itu sendiri abstrak atau intangible, tetapi wujudnya dapat dirasakan dari
penilaian, baik semacam tanda respek dan rasa hormat dari publik sekelilingnya atau
masyarakat luas terhadap organisasi atau perusahaan tersebut dilihat sebagai sebuah
badan usaha yang dipercaya, professional, dan dapat diandalkan dalam pembentukan
pelayanan yang baik. Tugas PR itu sendiri adalah menciptakan citra organisasi yang
diwakilinya sehingga tidak menimbulkan isu-isu yang merugikan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:667), citra adalah pemahaman


kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Sedangkan menurut
Linggar dalam Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasinya (2000:69), bahwa
citra humas yang ideal adalah kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan
pengalaman, pengetahuan serta pemahaman atas kenyataan yang sesungguhnya.
Dari pernyataan diatas menjelaskan bahwa citra adalah sesuatu yang ditonjolkan
secara nyata yang timbul berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada. Citra
yang dimaksud disini adalah kesan yang ingin diberikan oleh perusahaan kepada
publik atau khalayaknya agar timbul opini public yang positif tentang perusahaan
tersebut.
Hal lain menurut Ruslan dalam bukunya Manajemen Humas dan Manajemen
Komunikasi dan Aplikasi (1998:63) menyebutkan bahwa landasan citra berakar dari :
Nilai-nilai kepercayaan yang konkritnya diberikan secara individual dan merupakan
pandangan atau persuasi, serta terjadinya proses akumulasi dari individu-individu
tersebut akan mengalami suatu proses cepat atau lambat untuk membentuk suatu opini
publik yang lebih luas dan abstrak, yaitu sering dinamakan citra atau image.
Menurut Frank Jefkins dalam Public Relations (dalam Munandar, 1995:17-19)
mengemukakan bahwa ada beberapa jenis citra yang penting untuk diketahui oleh
seorang PR. Jenis-jenis citra tersebut adalah :
1. Citra Bayangan (Mirror Image).
adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar terhadap
organisasinya.
2. Citra Yang Berlaku (Current Image).
adalah suatu citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai suatu
organisasi atau perusahaan.
3. Citra Yang Diharapkan (Wish Image).
adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen. Biasanya citra yang
diharapkan lebih baik atau lebih menyenangkan daripada citra yang ada.
4. Citra Perusahaan (Corporate Image).
adalah citra dari suatu organisasi atau perusahaan secara keseluruhan. Jadi bukan citra
atas produk dan pelayanannya saja. Citra perusahaan ini terbentuk oleh banyak hal.
Hal positif yang dapat meningkatkan citra suatu perusahaan, antara lain sejarah atau
riwayat hidup perusahaan yang gemilang dan lain sebagainya.
5. Citra Majemuk (Multiple Image).
Citra ini dapat diterapkan pada semua jenis organisasi atau perusahaan yang memiliki
banyak unit dan pegawai (anggota). Masing-masing unit dan individu memiliki
perangai dan perilaku tersendiri sehingga secara sengaja atau tidak sengaja, mereka
pasti memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau
perusahaan secara keseluruhan.
Kelima jenis citra tersebut penting untuk diketahui oleh seorang PR, yakni
untuk mengetahui penilaian terhadap organisasi atau perusahaan tersebut yang tidak
hanya dilihat dari segi fisiknya saja tetapi juga yang tidak terlihat namun dirasakan
baik dan memuaskan.
Citra yang dipilih sesuai dengan penelitian ini adalah Citra Perusahaan
(corporate image) karena berdasar dengan kasus atau penelitian diatas, untuk
menciptakan atau membentuk citra perusahaan itu sendiri melalui kegiatan
community relations yang telah dilakukannya.
Adapun elemen-elemen pembentuknya adalah :
1. Eksklusif
Eksklusif dalam program CSR ini adalah para calon penerima beasiswa dari
Universitas Budi luhur mendapatkan fasilitas eksklusif.
2. Inovatif
Inovatif dalam program CSR ini adalah diharapkan para calon penerima beasiswa
ini mampu ber inovatif yaitu Kemampuan seseorang dalam mendayagunakan
kemampuan dan keahlian untuk menghasilkan karya baru atau pemilkiran
pemikiran yang baru.
3. Murah Meriah
Murah meriah dalam program CSR ini adalah penerima beasiswa mendapatkan
potongan harga dari setengah harga. Jika makin hari makin bagus prestasinya bisa
saja full beasiswa.

2.3 Definisi Variabel


2.3.1 Komunikasi
Komunikasi merupakan dasar manusia. Dengan berkomunikasi manusia dapat
berhubungan satu dengan yang lain, baik secara individu maupun kelompok dalam
kehidupan sehari-hari. Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan diri antar
manusia (Effendy, 2003:8). Komunikasi juga dapat diartikan sebagai bentuk interarksi
manusia yang saling berpengaruh mempengaruhi satu dengan yang lain, sengaja atau
tidak disengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal,
tetapi juga ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi. (Cangara, 2002:20).
Komunikasi merupakan unsur penting bagi kehidupan manusia. Hal ini sangat
diperlihatkan dalam rangka menjalin hubungan dengan sesama dengan sifat manusia
sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain. Komunikasi
digunakan sebagai jembatan yang menghubungkan manusia yang satu dengan yang
lainnya. (Effendy, 2003:270).
Secara etimologi istilah komunikasi dalam bahasa inggris yaitu
communication berasal dari bahasa latin communicatio, dan bersumber dari kata
communis yang berarti sama. Sama yang dimaksud adalah sama makna atau sama arti.
Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang
disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2003:30). Dari
hal tersebut, dapat diartikan jika terjadi kesamaan makna antara komunikator dan
komunikan, maka komunikasi tidak akan terjadi.
Lasswel menerangkan bahwa cara terbaik untuk menerangkan komunikasi
adalah dengan menjawab pertanyaan:Who Says What In Which Channel to Whom
With What Effect (Siapa Mengatakan Apa Melalui Saluran Apa Kepada Siapa Dengan
Efek Apa). Jawaban dari pertanyaan paradigmatic Lasswel merupakan unsur-unsur
proses komunikasi yang meliputi: komunikator, pesan, media, komunikan dan efek
(Effendy, 2003:254).

2.3.1.1 Jenis-Jenis komunikasi


1. Komunikasi lisan

Komunikasi lisan secara langsung adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih yang saling bertatap muka secara langsung dan tidak ada jarak atau
peralatan yang membatasi mereka. lisan ini terjadi pada saat dua orang atau lebih saling
berbicara/ berdialog, pada saat wawancara, rapat, berpidato.
Komunikasi lisan yang tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan dengan
perantara alat seperti telepon, handphone, VoIP, dan lain sebagainya karena adanya jarak
dengan si pembicara dengan lawan bicara

2. Komunikasi tulisan

Komunikasi tulisan adalah komunikasi yang di lakukan dengan perantaraan tulisan


tanpa adanya pembicaraan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang singkat,
jelas, dan dapat dimengerti oleh penerima. Komunikasi tulisan dapat berupa surat-
menyurat, sms, surat elektronik, dan lain sebagainya.

Komunikasi tulisan juga dapat melalui naskah-naskah yang menyampaikan


informasi untuk masyarakat umum dengan isi naskah yang kompleks dan lengkap seperti
surat kabar, majalah, buku-buku.dan foto pun dapat menyampaikan suatu komunikasi
secara lisan namun tanpa kata-kata. Begitu pula dengan spanduk, iklan, dan lain
sebagainya

2.3.1.2 Elemen Komunikasi

1. Source (Sumber): Shannon menyebut unsur ini sebagai "sumber informasi", yang
"menghasilkan pesan atau urutan pesan yang akan dikomunikasikan ke terminal
penerima."

2. Sender (Pengirim): Shannon menyebut unsur ini sebagai "pemancar/penyebar", yang


"beroperasi pada pesan dalam beberapa cara untuk menghasilkan sinyal yang cocok
untuk meneruskannya melalui saluran tersebut." Oleh Aristoteles, unsur ini disebut
"speaker" (orator).

3. Channel: Bagi Shannon, saluran tersebut adalah "hanya media yang digunakan untuk
mengirimkan sinyal dari pemancar ke penerima."

4. Receiver (Penerima): Untuk Shannon, penerima adalah "melakukan operasi kebalikan


dari yang dilakukan oleh pemancar, dengan merekonstruksi pesan dari sinyal."

5. Destination (Tujuan): Untuk Shannon, tujuan adalah "orang (atau suatu hal) kepada
siapa pesan ini ditujukan".
6. Message (Pesan): dari bahasa Latin mittere, "untuk mengirim". Pesannya berupa
sebuah konsep, informasi, komunikasi, atau pernyataan yang dikirim dalam bentuk,
ditulis, direkam, atau bentuk visual verbal kepada penerima.

7. Feedback (Tanggapan)

8. Elemen entropik, positif dan negatif.

2.3.1.3 Fungsi Komunikasi


1. Kendali: komunikasi bertindak untuk mengendalikan prilaku anggota
dalam beberapa cara, setiap organisasi mempunyai wewenang dan
garis panduan formal yang harus dipatuhi oleh karyawan.
2. Motivasi: komunikasi membantu perkembangan motivasi dengan
menjelaskan kepada para karyawan apa yang harus dilakukan
bagaimana mereka bekerja baik dan apa yang dapat dikerjakan
untuk memperbaiki kinerja jika itu di bawah standar.
3. Pengungkapan emosional: bagi banyak karyawan kelompok kerja
mereka merupakan sumber utama untuk interaksi sosial, komunikasi
yang terjadi di dalam kelompok itu merupakan mekanisme
fundamental dengan mana anggota-anggota menunjukkan
kekecewaan dan rasa puas mereka oleh karena itu komunikasi
menyiarkan ungkapan emosional dari perasaan dan pemenuhan
kebutuhan sosial.
4. Informasi: komunikasi memberikan informasi yang diperlukan
individu dan kelompok untuk mengambil keputusan dengan
meneruskan data guna mengenai dan menilai pilihan-pilihan
alternatif (Robbins, 2002 : 310-311).

2.3.1.4 Bentuk-Bentuk komunikasi


1. Komunikasi vertikal
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari
bawah ke atas atau komunikasi dari pimpinan ke bawahan dan dari
bawahan ke pimpinan secara timbal balik.
2. Komunikasi horizontal
Komunikasi horizontal adalah komunikasi secara mendatar, misalnya
komunikasi antara karyawan dengan karyawan dan komunikasi ini
sering kali berlangsung tidak formal yang berlainan dengan
komunikasi vertikal yang terjadi secara formal.
3. Komunikasi diagonal
Komunikasi diagonal yang sering juga dinamakan komunikasi silang
yaitu seseorang dengan orang lain yang satu dengan yang lainnya
berbeda dalam kedudukan dan bagian (Effendy, 2000 : 17).
Pendapat lainnya menyebutkan, komunikasi dapat mengalir secara
vertikal atau lateral (menyisi). Dimensi vertikal dapat dibagi menjadi
ke bawah dan ke atas.
a. Ke bawah : Komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam
suatu kelompok atau organisasi ke suatu tingkat yang lebih bawah.
Kegunaan dari pada komunikasi ini memberikan penetapan tujuan,
memberikan instruksi pekerjaan, menginformasikan kebijakan dan
prosedur pada bawahan, menunjukkan masalah yang memerlukan
perhatian dan mengemukakan umpan balik terhadap kinerja.
b. Ke atas : komunikasi yang mengalir ke suatu tingkat yang lebih
tinggi dalam kelompok atau organisasi digunakan untuk memberikan
umpan balik kepada atasan, menginformasikan mereka mengenai
kemajuan ke arah tujuan dan meneruskan masalah-masalah yang
ada.Sedangkan dimensi lateral, komunikasi yang terjadi di antara
kelompok kerja yang sama, diantara anggota kelompok-kelompok
kerja pada tingkat yang sama, diantara manajer-manajer pada
tingkat yang sama (Robbins, 2002 : 314-315).

2.3.1.5 Hambatan Komunikasi


1. Hambatan Teknis

Keterbatasan fasilitas dan peralatan komunikasi. Dari sisi teknologi, semakin


berkurang dengan adanya temuan baru dibidang kemajuan teknologi komunikasi dan
informasi, sehingga saluran komunikasi dapat diandalkan dan efesien sebagai media
komunikasi. Menurut dalam bukunya, 1976, Cruden dan Sherman Personel
Management jenis hambatan teknis dari komunikasi :
- Tidak adanya rencana atau prosedur kerja yang jelas
- Kurangnya informasi atau penjelasan
- Kurangnya ketrampilan membaca
- Pemilihan media [saluran] yang kurang tepat.
2. Hambatan Semantik
Gangguan semantik menjadi hambatan dalam proses penyampaian pengertian atau
secara secara efektif. Definisi semantik sebagai studi idea atas pengertian, yang
diungkapkan lewat bahasa. Kata-kata membantu proses pertukaran timbal balik arti
dan pengertian (komunikator dan komunikan), tetapi seringkali proses penafsirannya
keliru. Tidak adanya hubungan antara Simbol (kata) dan apa yang disimbolkan (arti
atau penafsiran), dapat mengakibatkan kata yang dipakai ditafsirkan sangat berbeda
dari apa yang dimaksudkan sebenarnya. Untuk menghindari mis komunikasi semacam
ini, seorang komunikator harus memilih kata-kata yang tepat sesuai dengan
karakteristik komunikannya, dan melihat kemungkinan penafsiran terhadap kata-kata
yang dipakainya.
3. Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi, kecakapan atau
ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat pancaindera seseorang,
dll.
Menurut Cruden dan Sherman :
a. Hambatan yang berasal dari perbedaan individual manusia.
Perbedaan persepsi, perbedaan umur, perbedaan keadaan emosi,
keterampilanmendengarkan, perbedaan status, pencairan informasi, penyaringan
informasi
b. Hambatan yang ditimbulkan oleh iklim psikologis dalam organisasi.
Suasana iklim kerja dapat mempengaruhi sikap dan perilaku staf dan efektifitas
komunikasi organisasi.

2.3.2 Komunikasi Organisasi


Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan
organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi
(Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh
organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa
cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus
dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan
surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui
secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya
secara individual.

2.3.2.1 Fungsi Komunikasi Organisasi


1. Fungsi perintah, berkenaan dengan angota-anggota organisasi mempunyai hak dan
kewajiban membicarakan, menerima, menafsirkan dan bertindak atas suatu perintah.
Tujuan dari fungsi perintah adalah koordinasi diantara sejumlah anggota yang
bergantung dalam organisasi tersebut.
2. Fungsi relasional, berkenaan dengan komunikasi memperbolehkan anggota-anggota
menciptakan dan mempertahankan bisnis produktif hubungan personal dengan anggota
organisasi lain. Hubungan dalam pekerjaan mempengaruhi kenirja pekerjaan (job
performance) dalam berbagai cara. Misal: kepuasan kerja; aliran komunikasi ke bawah
maupun ke atas dalam hirarkhi organisasional, dan tingkat pelaksanaan perintah.
Pentingnya dalam hubungan antarpersona yang baik lebih terasa dalam pekerjaan
ketika anda merasa bahwa banyak hubungan yang perlu dlakukan tidak anda pilih,
tetapi diharuskan oleh lingkungan organisasi, sehingga hubungan menjadi kurang
stabil, lebih memacu konflik, kurang ditaati, dsb.
3. Fungsi manajemen ambigu, berkenaan dengan pilihan dalam situasi organisasi sering
dibuat dalam keadaan yang sangat ambigu. Misal: motivasi berganda muncul karena
pilihan yang diambil akan mempengaruhi rekan kerja dan organisasi, demikian juga
diri sendiri; tujuan organisasi tidak jelas dan konteks yang mengharuskan adanya
pilihan tersebut adanya pilihan tersebut mungkin tidak jelas. Komunikasi adalah alat
untuk mengatasi dan mengurangi ketidakjelasan (ambiguity) yang melekat dalam
organisasi. Anggota berbicara satu dengan lainnya untuk membangun lingkungan dan
memahami situasi baru, yang membutuhkan perolehan informasi bersama.

2.3.2.2 Konsep kunci Komunikasi Organisasi


1. Proses
Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan
salin menukar pesan diantara anggotanya. Karena gejala menciptakan dan menukar
informasi ini berjalan terus menerus dan tidak ada henti-hentinya maka dikatakan
sebagai suatu proses.
2. Pesan
Yang dimaksud dengan pesan disini yaitu susunan symbol yang penuh arti tentang
orang, objek, kejadian yang dihasilkan oleh interaksi dengan orang. Pengklasifikasian
pesan menurut bahasa dapat pula dibedakan atas pesan verbal dan nonverbal.
Klasifikasi pesan menurut penerima yang diharapkan dapat pula dibedakan atas pesan
internal dan eksternal.Pesan internal khusus dipakai karyawan dalam
organisasi.Sedangkan pesan eksternal adalah untuk memenuhi kebutuhan organisasi
sebagai sistem terbuka yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat umum.
Pesan dapat pula diklafikasikan menurut bagaimana pesan itu disebarluaskan
atau metode diffusi. Kebanyakan komunikasi organisasi disebarluaskan dengan
menggunakan metode hardware untuk dapat berfungsi tergantung kepada alat-alat
elektronik dan power. Sedangkan pesan yang menggunakan metode software
tergantung kepada kemampuan dan skil dari individu terutama dalam berpikir menulis,
berbicara dan mendengar agar dapat berkomunikasi satu sama lain.
Klasifikasi pesan yang terakhir adalah berdasarkan tujuan dari pada pengiriman
dan penerimaan pesan. Redding (Goldhaber, 1986) menyarankan ada tiga alasan umum
bagi arus pesan dalam organisasi yaitu: berkenaan dengan tugas-tugas dalam
organisasi, pemeliharaaan organisasi, dan kemanusiaan.
Thayer mengemukakan empat fungsi khusus dari arus pesan dalam organisasi
yaitu: untuk memberi informasi, untuk mengatur, untuk membujuk dan untuk
mengintegrasikan. Goldhaber (1986) menggunakan tiga klasifikasi Redding ditambah
dengan klasifikasi baru yaitu inovasi ini misalnya rencana baru organisasi, kegiatan
baru organisasi, kegiatan baru, program baru atau pengarahan yang membangkitkan
pemecahan masalah.
3. Jaringan
Organisasi terdiri dari satu seri orang yang tiap-tiap darinya memiliki posisi
kedudukan atau peranan tertentu dalam organisasi. Pertukaran pesan dari sesamanya
orang-orang ini terjadi melewati satu set jalan kecil yang hal ini dinamakan jaringan
komunikasi. Hakikat dan luas dari jaringan ini dipengaruhi oleh banyak factor antara
lain : hubungan peranan, arah, dan arus pesan, hakikat seri dari arus pesan, dan isi dari
pesan.
Organisasi terdiri darisatu seri orang yang tiap-tiapnya menduduki posisi atau
peranan tertentu dalam organisasi. Ciptaan dan pertukaran pesan dari orang-orang ini
sesamanya terjadi melewati suatu set jalan kecil yang dinamakan jaringan komunikasi.
Peran tingkah laku dalam suatu organisasi menentukan siapa yang menduduki posisi
atau pekerjaan tertentu baik dinyatakan seacar formal maupun tidak formal.
Faktor kedua yang mempengaruhi hakekat dan luas jaringan komunikasi adalah
arah dari jaringan. Secara tradisional ada tiga klasifikasi arah jaringan komunikasi ini
yaiu: komunikasi kepada bawahan, kounikasi kepada atasan dan komunikasi
horizontal. Faktor terakhir yang mempengaruhi jaringan komunikasi adalah proses
serial dari pesan. Proses serial ini adalah suatu istilah komunikasi yang maksudnya
selangkah demi selangkah atau dari orang kepada orang lain.
4. Keadaan saling tergantung
Hal ini telah menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem
terbuka. Bila suatu bagian dalam organisasi mengalami gangguan maka akan
berpengaruh kepada bagian lainnya dan bahkan mungkin juga kepada seluruh sistem
organisasi. Begtu juga halnya dengan jaringan komunikasi dalam suatu organisasi
saling melengkapi.Implikasinya bila suatu pimpinan membuat keputusan dia harus
memperhitungkan implikasi keputusan itu terhadap organisasinya secara menyeluruh.
Keadaan yang saling tergantung satu bagian dengan bagian lainnya.Hal ini telah
menjadi sifat dari suatu organisasi yang merupakan suatu sistem terbuka. Bila suatu
bagian dan organisasi mengalami gangguan maka akan berpengaruh kepada bagian
lainnya dan mungkin juga kepada seluruh sistem organisasi. Begitu juga halnya dengan
jaringan komunikasi dalam suatu organisasi saling melengkapi.
5. Hubungan
Hubungan manusia dalam organisasi yang memfokuskan kepada tingkah laku
komunikasi dari orang yang terlibat dalam suatu hubungan perlu dipelajari.Hubungan
manusia dalam organisasi berkisar mulai dari yang sederhana yaitu hubungan diantara
dua orang (dyadic) sampai kepada hubungan yang kompleks, yaitu hubungan dalam
kelompok-kelompok kecil, maupun besar dalam organisasi.
Karena organisasi merupakaan suatu sistem terbuka, sistem kehidupan sosial
maka untuk berfungsinya bagian-bagian itu terletak pada tangan manusia.Oleh karena
itu hubungan manusia dalam organisasi dihubungkan oleh manusia.Oleh karena itu
hubungan manusia dalam organisasi yang memfokuskan kepada tingkah laku
komunikasi dari orang yang terlibat dalam suatu hubungan perlu dipelajari.
Hubunganmanusia dalam organisasi berkisar mulai dari yang sederhana yaitu:
hubungan diantara dua orang atau dyadic sampai kepada hubungan yang komplek,
yaitu hubungan dalam kelompok-kelompok kecil, maupun besar, dalam organisasi.
Thayer membedakan hubungan ini menjadi hubungan yang bersifat individual,
kelompok dan hubungan organisasi.Lain halnya dengan Pace dan Boren mereka
menggunakan istilah hubungan interpesonal terhadap komunikasi yang terjadi dalam
hubungan tatap muka. Dia membedakan empat macam komunikasi yaitu komunikasi
dyadic (antara 2 orang), komunikasi serial yaitu komunikasi dyadic yang diperluas
berupa satu seri, komunikasi kelompok kecil yaitu komunikasi antara 3-12 orang dan
komunikasi audiance atau komunikasi kelompok besar yang terdiri dari 13 orang
lebih.
6. Lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan disini yaitu semua totalitas secara fisik dan
factor sosial yang diperhitungkan dalam perbuatan keputusan mengenai individu dalam
suatu sistem.Lingkungan ini sendiri dapat dibedakan atasd lingkungan internal dan
lingkungan eksternal.
Lingkungan adalah semua totalitas secara fisik dan faktor sosial yang
diperhitungkan dalam pembuatan keputusan mengenai individu dalam suatu
sistem.Lingkungan ini dapat dibedakan atas lingkungan internal dan
eksternal.Komunikasi organisasi terutama berkenaan dengan transaksi yang terjadi
dalam lingkungan internal organisasi yang terdiri dari organisasi dan kulturnya, dan
antara organisasi itu dengan lingkungan eksternalnya. Yang dimaksud dengan kultur
organisasi adalah pola kepercayaan dan harapan dari anggota organisasi yang
menghasilkan norma-norma yang membentuk tingkah-laku individu dan kelompok
dalam organisasi.
Organisasi sebagai suatu sistem terbuka harus berinteraksi dengan lingkungan
eksternal.Karena lingkungan berubah-ubah, maka organisasi memerlukan informasi
baru.Informasi baru ini harus dapat mengatasi perubahan dalam lingkungan dengan
menciptakan dan pertukaran pesan baik secara internal dalam unit-unit yang relevan
maupun terhadap kepentingan umum secara eksternal.
7. Ketidak pastian
Yang dimaksud dengan ketidak pastian disini yaitu perbedaan informasi yang
tersedia dengan informasi yang diharapkan.Untuk mengurangi factor ketidakpastian ini
organisasi menciptakan dan menukar pesan diantara anggota, melakukan suatu
penelitian, pengembangan organisasi, dan menghadapi tugas-tugas yang kompleks
dengan integrasi yang tinggi.
Ketidak pastian adalah perbedaan informasi yang tersedia dengan informasi yang
diharapkan.Untuk mengurangi faktor ketidak pastian ini organisasi menciptakan dan
menukar pesan diantara anggota, melakukan suatu penelitian, pengembangan
organisasi, dan menghadapi tugas-tugas yang komplek dengan integrasi yang
tinggi.Ketidak pastian dalam suatu organisasi juga disebabkan oleh terlalu banyaknya
infomasi yang diterima dari pada sesungguhnya diperlukan untuk menghadapi
lingkungan mereka.Salah satu urusan utama dari komunikasi organisasi adalah
menentukan dengan tepat beberapa banyaknya informasi yang diperkukan untuk
mengurangi ketidak pastian tanpa informasi yang berlebi lebihan.Jadi ketidak pastian
dapat disebabkan oleh terlalu sedikit informasi yang diperlukan dan juga karena terlalu
banyak yang diterima.
2.3.2.3 Organisasi
Terdapat banyak para ilmuan yang memaknai akan pengertian organisasi itu
sendiri termasuk diantaranya ada yang mengartikan : Organisasi yaitu suatu kumpulan
atau sistem individual hierarki/jenjang dan pembagian kerja, berupaya mencapai
tujuan yang ditetapkan. Dalam buku lain juga dijelaskan tentang makna dari
organisasi itu sendiri yaitu : sebuah kelompok individu yang diorganisasikan untuk
mencapai tujuan tertentu. Dan ada juga yang mengartikan oraginasi yaitu : suatu
kumpulan (sistem) individu yang bersama-sama, melalui sistem hierarki pangkat dan
pembagian kerja, berusaha mencapai tujuan tertentu . Wright (1977), mengatakan
bahwa organisasi adalah suatu bentuk sistem terbuka dari aktivitas yang dikoordinasi
oleh dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Dari semua pengertian itu maka sebetulnya antara pengertian yang satu dengan yang
lain itu sama. Hanya saja ada penambahan atau pengurangan kata-kata saja dalam
proses memaknai pengertian organisasi itu sendiri. Pengertian organisasi adalah
perkumpulan atau wadah bagi sekelompok orang untuk bekerjasama, terkendali dan
terpimpin untuk tujuan tertentu. Organisasi biasanya memanfaatkan suatu sumber
daya tertentu misalnya lingkungan, cara atau metode, material, mesin, uang, dan
beberapa sumberdaya lain dalam rangka mencapai tujuan organisasi tersebut. Orang
orang yang terkumpul dalam sebuah organisasi sepakat untuk mencapai tujuan
tertentu melalui sumber daya secara sistematis dan rasional yang terkendali dan
adanya pemimpin organisasi yang akan memimpin operasional organisasi dengan
terencana.

2.3.2.4 Elemen Organisasi


1. Struktur sosial
Struktur sosial yaitu pola (aspek) aturan hubungan yang ada antara partisipan di dalam
suatu organisasi. Struktur sosial ini menurut Davis dipisahkan menjadi dua bagian
yaitu struktur normative dan struktur tingkah laku.
Struktur normative ini mencakup diantaranya adalah nilai, norma dan peranan yang
diharapkan. Sedangkan pengertian nilai itu sendiri yaitu kriteria yang digunakan
dalam dalam memilih tujuan tingkah laku. Dan pengertian norma yaitu aturan umum
mengenai tingkah laku yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menggapai
tujuan. Sedangkan perananlah yang diharapkan , digunakan sebagai standar penilaian
tingkah laku karyawan yang sesuai dengan posisinya.
Sedangkan struktur tingkah laku ini berfokus terhadap tingkah laku yang dikerjakan
dan bukan resep bertingkah laku. Gambaran tingkah laku ini dapat dilihat dengan
menggunakan sosiometri.
2. Partisipan
Partisipan organisasi yaitu individu-individu yang memberikan kontribusi kepada
organisasi. Tingkat keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki oleh partisipan ini
tentu saja tidak sama dalam artian berbeda-beda. Dan oleh karena itu susunan
struktural di dalam organisasi mestilah dirancang untuk disesuaikan dengan tingkat
keterampilan.
3. Tujuan
Tujuan dalam organisasi merupakan hal yang sangat penting dan sangat kontroversial
dalam mempelajari organisasi. Bakan kebanyakan analisis beranggapan bahwa tujuan
merupakan suatu titik sentral petunjuk dalam menganalisis organisasi.
4. Teknologi
Yang dimaksud teknologi dalam hal ini yaitu penggunaan mesin-mesin atau
perlengkapan mesin dan juga pengetahuan teknik dan keterampilan partisipan.
5. Lingkungan
Tidak ada organisasi yang sanggup mencukupi kepentingan dirinya sendiri. Semuanya
tergantung pada lingkungan sistim yang lebih besar untuk dapat terus hidup. Parson
telah memberikan perhatian terhadap pentingnya hubungan diantara tujuan organisasi
dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Suatu organisasi mungkin
mengharapkan dukungan sosial bagi kreativitasnya untuk merefleksikan nilai-nilai
masyarakat pada fungsinya.

2.3.3 Public Relations (PR)


Di era ini, banyak sekali sebuah perusahaan maupun organisasi yang
memahami akan pentingnya memberi perhatian yang cukup dalam membangun
sebuah citra perusahaan ataupun organisasi sehingga, mampu memberikan
keuntungan bagi perusahaan atau organisasi. Dalam hal ini, peneliti mengambil
beberapa definisi mengenai Public Relations (PR)menurut para ahli, diantaranya:
Menurut Frank Jefkins, Public Relations adalah semua bentuk komunikasi
yang terencana, baik itu ke dalam maupun keluar, antara satu organisasi
dengan khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang
berlandaskan pada saling pengertian. (Frank Jefkins revisi Daniel Yadin,
2002: 10).
Menurut Dr Rex Harlow, Public Relations adalah fungsi manajemen yang
khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara
organisasi dengan publiknya, menyangkut aktifitas komunikasi, pengertian
dan kerjasama. (Frank Jefkins revisi Daniel Yadin 2002 : 16).
Definisi diatas dapat diartikan bahwa Public Relations atau humas adalah
fungsi manajemen yang memiliki karakteristik terencana dan berkelanjutan, yang
mana organisasi atau perusahaan pemerintah maupun swasta secara terus - menerus
berusaha untuk memenangkan dan mempertahankan, pengertian, simpati, dan
dukungan dari pihak pihak terkait dengan melakukan evaluasi.

2.3.3.1 Fungsi, Tujuan dan Peran Public Relations


Menurut (Rachmadi, 1992:56) mengemukakan fungsi humas adalah sebagai
berikut:
PR merupakan fungsi manajemen yang membantu menciptakan dan saling
memelihara alur komunikasi, pengertian, dukungan, serta kerjasama suatu organisasi
dengan publiknya dan ikut terlibat dalam menangani isu isu manajemen.PR
membantu manajemen dalam penyampaian informasi dan tanggapan opini publik.PR
secara efektif membantu manajemen memantau berbagai perusahaan (Rachmadi,
1992:56).

Perkembangan profesionalisme PR yang berkaitan dengan organisasi atau


perusahaan, menurut (Ruslan, 2003:22), bahwa peran PR dibagi empat kategori dalam
suatu organisasi yaitu sebagai berikut:
a. Expert Prescriber
Membantu untuk mencari solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan
publiknya (Public Relationship).
b. Communication Fasilitator
Bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen
dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya
dari organisasi yang bersangkutan, sekaligus harus mampu menjelaskan kembali
keinginan organisasi kepada pihak publiknya.
c. Problem Solving Process Fasilitator
Untuk membantu pimpinan organisasi baik secara penasehat (adviser) hingga
mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisi
yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional.
d. Communication Technician
Dalam peranan Communication Technician sebagai jurnalist in resident yang
hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan methode of
communication in organizations dan sistem komunikasi dalam organisasi
tergantung dari masing masing bagian.
Peran humas ini diharapkan menjadi mata dan telinga serta corong bagi
top management dan organisasinya. Kegiatan inti humas adalah komunikasi yang
diterapkan adalah dua arah, artinya tidak hanya mengeluarkan pesan tetapi juga
sebaliknya.

2.3.4 Corporate Social Responsibility


2.3.4.1 Definisi Corporate Social Responsibility
Cutlip, Center, dan Broom (2006) menyatakan bahwa Public Relations adalah
fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik yang
bermanfaat antara organisasi dengan public yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan
organisasi tersebut.
Frazier Moore menjelaskan dalam buku nya bahwa public atau khalayak utama dari
suatu perusahaan adalah para pemegang saham, konsumen, masyarakat, atau komunitas,
distributor, pendidik dan pemerintah. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang humas
perusahaan atau organisasi adalah berhubungan baik dengan masyarakat. Salah satu cara
untuk dapat berhubungan baik dengan masyarakat adalah dengan melakukan kegiatan
Corporate Social Responsibility (CSR).
Pelaksanaan kegiatan CSR bertujuan membina hubungan baik dengan seluruh pihak
yang terkait dengan perusahaan sekaligus untuk meningkatkan citra perusahaan melalui
hubungan timbal balik dan meraih kepercayaan.

Hubungan ideal antara profit (keuntungan), people (masyarakat) dan planet


(lingkungan)adalahseimbangmustahilbisnistampaprofit;sungguhkejambisnisyangtidak
berprikemanusiaan;danironisapabilabisnismerusaklingkungan.Keseimbangantiga(3)P
inidikonsepsecaraapikolehJhon

Elkington(1998)dalambukuberjudulCannibalsWithForksTheTripleLinein21stCentury
Bisiness Elkington menegaskan bisnis yang baik adalah yang tidak hanya megejar
keuntungan (profit) belaka, namun juga memperhatikan lingkungan (planet) dan
kemakmuranmasyarakat(people)(PrastowodanHuda2011:26).

2.3.1.2KomponenCorporateSocialResponsibilty(CSR)

Carrol dalam Solihin (2009 : 21), menjelaskan komponenkomponen tanggung


jawabsosialperusahaankedalamempatkategoriyaitu:
1. Ekonomiresponsibilities
Tanggung jawab sosial utama perusahaan adalah tanggung jawab ekonomi karena
lembagabisnisterdiriatasaktivitasekonomiyangmengahasilkanbarangdanjasabagi
masyarakatsecaramenguntungkan.

2. Legalresponsibilities
Masyarakat berharap bisnis dijalankan dengan menaati hukum dan peraturan yang
berlakudimanahukumdanperaturantersebutpadahakikatnyadibuatolehmasyarakat
melaluilembagalegislatif.

3. Ethicalresponsibilities
Masyarakat berharap perusahaan menjalankan bisnis secara etis. Etika bisnis
menunjukkan refleksi moral yang dilakukan oleh pelaku bisnis secara perorangan
maupunsecarakelembagaan(organisasi)untukmenilaisebuahisudimanapenilaianini
merupakanpilhanterhadapnilaiyangberkembangdalamsuatumasyarakat.

4. Discretionaryresponsibilities
Masyarakat mengharapkan keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat bagi
mereka. Ekspektasi masyarakat tersebut dipenuhi oleh perusahaan melalui berbagai
programyangbersifatfilantropis.

2.3.1.3JenisjenisProgramCorporateSocialResponsibilty(CSR)

KotlerdanLeedalamSolihin(2009:131),menyebutkanenamkategoriprogram
Corporate Social Responsibilty (CSR). Pemilihan program alternatif Corporate Social
Responsibilty (CSR)yangakandilaksanakanolehperusahaan sangatbergantungkepada
keenamjenisprogramtersebutadalahsebagaiberikut:

1. CausePromotions
Dalam program ini, perusahaan menyediakan dana atau sumber daya lainnya yang
dimilikiperusahaanuntukmeningkatkankesadaranmasyarakatterhadapsuatumasalah
sosial atau untuk merndukung pengumpulan dana, partisipasi dari masyarakat, atau
perekrutantenagasukarelauntuksuatukegiatantertentu.

Berbagai benefit yang dapat diperoleh perusahaan dengan melaksanakan kegiatan


causepromotions,menurutKotlerdanLeeadalahsebagai:
a. PelaksanaanCausePromotionsolehperusahaanakanmemperkuatpositioning
merekperusahaan.
b. PelaksanaanCausePromotionsdapatturutmenciptakanjalanbagiekspresi
loyalitaskonsumenterhadapsuatumasalahsehinggabisameningkatkan
loyalitaskonsumenterhadapperusahaanpenyelenggarapromosi.
c. Memberikanpeluangkepadaparakaryawanperusahaanuntukterlibatdalam
suatukegiatansosialyangmenjadikepedulianmereka.
d. Dapatmenciptakankerjasamaantarperusahaandenganpihakpihaklain
(misalnyamedia),sehinggamemperbesardampakpelaksanaanpromosi.
e. Dapatmeningkatkancitraperusahaan,dimanacitraperusahaanyangbaikakan
memberikan berbagai pengaruh positif lainnya, misalnya meningkatkan
kepuasandanloyalitaskaryawanyangdapatmemberikankontribusipositifbagi
peningkatankinerjafinansialperusahaan.

2. CauseRelatedMarketing.
Dalamprogramini,perusahaanmemilikikomitmenuntukmenyumbangkanpresentase
tertentudaripenghasilannyauntuksuatukegiatansosialberdasarkanbesarnyapenjualan
produk.Kegiataninibiasanyadidasarkankepadapenjualanproduktertentu,untukjangka
waktutertentu,sertauntukaktivitasdermatertentu.Aktivitas CauseRelated Marketing
(CRM) yang biasanya dilakukan oleh perusahaanperusahaan yaitu menyumbangkan
sejumlahuangtertentuuntuksetiapprodukyangterjual.

3. CorporateSocialMarketing.
Dalam program ini, perusahaan mengembangkan dan melaksanakan kampanye
untuk mengubah perilaku masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan
keselamatan publik, menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Kampanye Corporate Social Marketing (CSM) lebih banyak
terfokus untuk mendorong perubahan perilaku yang berkaitan dengan beberapa isuisu
kesehatan, perlindungan terhadap kecelakaan/kerugian, lingkungan serta keterlibatan
masyarakat.

4. CorporatePhilanthropy
Dalam program ini, perusahaan memberikan sumbangan langsung dalam bentuk
derma untuk kalangan masyarakat tertentu. Sumbangan tersebut biasanya berbentuk
pemberianuangsecaratunai,paketbantuanataupelayanansecaracumacumaCorporate
Philanthropy biasanya berkaitan dengan berbagai kegiatan sosial yang dilaksanakan
perusahaan,antaralainsebagaiberikut:

a. Programdalambentuksumbangantunai.
b. Programdalambentukhibah.
c. Programdalambentukpenyediaanbeasiswa.
d. Programdalambentukpemberianproduk.
e. Programdalambentukpemberianlayanancumacuma.
f. Program dalam bentuk penyediaan keahlian teknis oleh karyawan perusahaan
secaraCumacuma.
g. Programmengizinkanpenggunaanfasilitasdansalurandistribusiyangdimiliki
perusahaanuntukdigunakanbagikegiatansosial.
h. Program yang dilakukan perusahaan dengan cara menawarkan penggunaan
peralatanyangdimilikiolehperusahaan.

5. CommunityVoluntering
Dalamprogramini,perusahaanmendukungsertamendorongparakaryawan,para
pemegangfranchiseataurekanpedagangeceranuntukmenyisihkanwaktumerekasecara
sukarelagunamembantuorganisasiorganisasimasyarakatlokalmaupunmasyarakatyang
menjadisasaranprogram.

6. SociallyResponsibleBusinessPractice(CommunityDevelopment)
Dalamprogramini,perusahaanmelaksanakanaktivitasbisnismelampauiaktivitas
bisnis yang diwajibkan oleh hukum serta melaksanakan investasi yang mendukung
kegiatan sosial dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan komunitas dan memelihara
lingkunganhidup.Komunitasdalamhalinimencakupkaryawanperusahaan,pemasok,
distributor, serta organisasiorganisasi nirlaba yang menjadi mitra perusahaan serta
masyarakatsecaraumum.Sedangkanyangdimaksuddengankesejahteraanmencakupdi
dalamnyaaspekaspekkesehatan,keselamatan,sertapemenuhankebutuhanpsikologisdan
emosional

2.3.1.4ManfaatCorporateSocialResponsibility(CSR)

MenurutSuhandaridalamUntung(2009:6)menyatakanbahwamanfaat

CorporateSocialResponsibility(CSR)bagiperusahaanantaralain:
a) Mempertahankandanmendongkrakreputasisertacitramerekperusahaan.
b) Mendapatkanlisensiuntukberoperasisecarasocial.
c) Mereduksiresikobisnisperusahaan.
d) Melebarkanaksessumberdayabagioperasionalusaha.
e) Membukapeluangpasaryanglebihluas.
f) Mereduksibiaya,misalnyaterkaitdampakpembuanganlimbah.
g) Memperbaikihubungandenganstakeholders.
h) Memperbaikihubungandenganregulator.
i) Meningkatkansemangatdanproduktivitaskaryawan.
j) Peluangmendapatkanpenghargaan.

2.3.1.5PrinsipPrinsipCorporateSocialResponsibility(CSR)

Menurut Crowther David dalam Hadi (2011 : 59) menguraikan prinsipprinsip


CorporateSocialResponsibilitymenjaditiga,yaitu:

1. Sustainability
Berkaitanbagaimanaperusahaandalammelakukanaktivitastetapmempertimbangkan
keberlanjutansumberdayadimasadepan.

2. Accountability
Merupakanupayaperusahaanterbukadanbertanggungjawabatasaktivitasyangtelah
dilakukan.Akuntabilitas dibutuhkan, ketikaaktivitas perusahaanmempengaruhi dan
dipengaruhilingkunganeksternal.

3. Transparency
Merupakan satu hal yang sangat penting bagi pihak eksternal, berperan untuk
mengurangi asimetri informasi, kesalahpahaman, khususnya informasi dan
tanggungjawabberbagaidampakdarilingkungan.

Alasan peneliti mengapa memilih CSR program beasiswa karena menurut


kami program beasiswa tersebut mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam dunia
pendidikan. Dan karena pengaruh itu dapat juga meningkatkan citra dari kampus yang
memberikan program beasiswa tersebut. Kampus universitas Budi Luhur merupakan salah
satu kampus yang menggunakan program beasiswa, untuk dapat meningkatkan citra
kampus dimata khalayak luas. Fakultas Ilmu Komunikasi angakatan 2015/2016
menunjukan adanya peningkatan mahasiswa yang memilih untuk berkuliah dengan jalur
beasiswa di Universitas Budi Luhur.Jadi kami pun memilih untuk meniliti seberapa besar
pengaruh yang dihasilkan oleh CSR program beasiswa kampus Universitas Budi Luhur
pada Fakultas Ilmu Komunikasi angkatan tahun 2015/2016.

2.3.1.6 Beasiswa Akademik/Non Akademik


Para calon mahasiswa/i sebelum menjadi penerima beasiwa dari universitas budi
luhur, terlebih dahulu mereka diseleksi secara ketat dan harus memenuhi persyaratan yang
sudah ditentukan oleh Universitas Budi Luhur. Dalam program beasiswa ini calon
mahasiswa mendapatkan manfaat yang sangat membantu mereka untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan program beasiswa calon mahasiwa
mampu berkuliah jenjang Strata 1 di Universitas Budi Luhur tanpa biaya yang mahal.
Setiap beasiswa mempunyai syarat masing-masing. Beasiswa Non akademik
atau atlet yang diperuntukan bagi calon mahasiswa yang memili prestasi dibidang
olahraga, dengan syarat; calon mahasiswa harus memiliki sertifikat/piagam/penghargaan
dalam bidang olahraga tingkat provinsi/nasional, bersedia mengikuti test praktek dan test
tertulis. Beasiswa Akademik yang diperuntukan bagi calon mahasiswa yang memiliki nilai
ujian nasional diatas rata-rata, dengan syarat; calon mahasiswa harus mampu mendapatkan
nilai ujian nasional diatas 7.0, menyerahkan fotocopy SKHUN (Surat Keterangan Hasil
Ujian Nasional) dan bersedia mengikuti test tertulis. Beasiswa nusantara diperuntukan bagi
calon mahasiswa daerah diwilayah Republik Indonesia yang memiliki potensi dibidang
akademik, dengan syarat; mengikuti test tertulis. Beasiswa IPK diperuntukan bagi
mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik dengan memiliki IPK sebesar
minimal 3.75 maka akan mendapatkan potongan biaya per semester.

2.3.2CitraPerusahaan

2.3.2.1 DefinisiCitraPerusahaan

Citraperusahaandimatapablikdapatdilihatdaripendapatataupolapikirkomunal
padasaatmempersepsikanrealitasyangterjadi.Satuhalyangharusdipahamisehubungan
denganterbentuknyasebuahcitraperusahaanadalahadanyapersepsiyangberkembangdi
benakpublicterhadaprealitas(Nova,2011:297).
Citra perusahaan merupakan suatu peruwujudan dari profesionalisme customer
service officer perusahaan itu sendiri. Citra perusahaan adalah imege yang terbentuk di
masyarakat(konsumen/pelanggan)tentangbaikdanburuknyaperusahaan.Olehkarenaitu,
perusahaanharusmampumenghayatisungguhsungguhtugaspertamabagiprodusenatau
perusahaan(Majid,2009:70).

Menurut Kotler dalam Nova (2011 : 298), mendefenisikan citra adalah persepsi
masyarakat terhadap perusahaan atau produknya. Citra dipengaruhi banyak faktor lain diluar
control perusahaan. KasalidalamRamadhani(2011:16),menyatakancitraadalahkesan
suatuobyekterhadapobyeklainyangterbentukdenganmemprosesinformasisetiapwaktu
dariberbagaisumberterpercaya.Terdapattiga(3)halpentingdalamcitra,yaitukesanobyek,
proses terbentuknya citra dan sumber terpercaya. Obyek tersebut dapat berupaindividu
maupun perusahaan yang terdiri dari sekelompok orang di dalamnya. Citra suatu obyek
terhadapobyeklaindapatberubahseiringinformasiyangterusberubahdariwaktukewaktu
dan ditentukan pula oleh faktor kepercayaan terhadap informasi tersebut. Citra menjadi
sangat penting bagi suatu perusahaan untuk kelangsungan hidup dan pengembangan
kreativitaspihakpihakdidalamperusahaanitusendiri.

2.3.2.2PeranCitraBagiPerusahaan

MenurutGroonroosdalamSetiadi(2003:186),menidentifikasikanparancitra
bagiperusahaan,yaitu:

a. Citramenceritakanharapan,bersamadengankampanyepemasaran
eksternal,sepertiperiklanan,penjualanpribadidankomunikasidarimulut
kemulut.
b. Citraadalahsebagaipenyaringyangmempengaruhipersepsikegiatan
perusahaan.
c. Citraadalahfungsidaripengalamandanharapankonsumen.
d. Citramempunyaipengaruhpentingpadamanajemen.

2.3.2.3FaktorFaktorYangMempengaruhiCitraPerusahaan

MenurutMajid(2009:73),terdapat2faktorutamayangmempengaruhipembentuk
citrasebuahperusahaan,yaitu:
Pertama, dari internal perusahaan, seperti kualitas SDM, budaya perusahan
(corporateculture),fasilitasdanperalatankerja,poladangayamanajemenyangditerapkan,
system dan informasi yang dipakai, kepemimpinan top management, jenis dan kualitas
produkyangdihasilkan,targetpasaryangdibidik,penjabarabvisidanmisiperusahaan,
tingkat kesejahteraan karyawan, dan lainlain, yang munculnya dari kondisi internal
perusahaan.

Kedua,dari kondisi eksternal perusahaan, seperti: lingkungan di mana perusahaan


tersebut beroperasi, kondisi budaya, ekonomi, dan kelas masyarakat yang menjadi
pelanggan, peraturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat, kondisi
persaingan antar perusahaan atau antar produk yang dihasilkan dan lainlain yang
munculnyadariluarperusahaan.

2.3.2.4ManfaatCitraBagiPerusahaan

Menurut Sutojo dalam Nova (2011 :304), citra yangbaik dan kuat mempunyai
manfaatmanfaat,yaitu:

a. Daya saing menengah dan jangka panjang yang mantap (Mid And Long Term
SustainableCompetitivePosition).
b. Menjadiperisaiselamamasakrisis(AnInssuranceforAdvertimes).
c. Menjadidayatarikeksekutifhandal(AttractionTheBestExcecutiveAvailable).
d. Meningkatkanefektivitasstrategipemasaran( IncreasingEffectivenessof Marketing
Instruments)
e. Penghematanbiayaoperasional(CostSeving)

2.3.5 Universitas Budi Luhur


2.3.5.1 Sejarah Budi Luhur
Berdirinya Universitas Budi Luhur diawali dengan pendirian Yayasan Pendidikan
Budi Luhur pada 1 April 1979. Kiprah Yayasan Pendidikan Budi Luhur dalam
pendidikan tinggi dimulai dengan didirikannya Akademi Ilmu Komputer (AIK) pada
tahun 1979, yang merupakan perguruan tinggi komputer swasta pertama di Indonesia.
Sejarah pendidikan tinggi Indonesia mencatat langkah demi langkah perkembangan
Akademi Ilmu Komputer sejak tahun 1979 yang layak disebut sebagai pelopor dalam
pendidikan tinggi dibidang komputer di Indonesia.
Universitas Budi Luhur (UBL) adalah sebuah universitas swasta yang merupakan
penggabungan dari Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK),
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Sekolah Tinggi Teknik (STT) dan Sekolah
Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP), diresmikan pendiriannya pada tanggal 7
Juni 2002, berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 114/D/O/2002. Universitas Budi Luhur yang merupakan suatu
perwujudan karya nyata Yayasan Pendidikan Budi Luhur bagi bangsa dan negara
Republik Indonesia, dirancang untuk ikut mencerdaskan anak bangsa dengan
dilandasi budi pekerti yang luhur.

Universitas Budi Luhur adalah sebuah perguruan tinggi swasta yang mengemban misi
dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur, dengan berlandaskan pada motto Asah-Asih-
Asuh. Universitas Budi Luhur menyelenggarakan pendidikan, mengembangkan dan
menyebarluaskan serta mengabdikan ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian dan ilmu
kemanusiaan serta ilmu sosial untuk mengupayakan agar bangsa Indonesia menjadi
bangsa yang cerdas dan berbudi luhur.

2.3.5.2 Fakultas dan Akademik

2.3.5.2.1 Fakultas Teknologi Informasi (FTI)

1. Sejarah
Akademi Ilmu Komputer Budi Luhur yang berdiri sejak 1979 merupakan cikal bakal
Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur, pionir dalam bidang pendidikan
informatika dan komputer. Mulai tahun 2000 yang merupakan tonggak masuknya
milenium III, Fakultas Teknologi Informasi Universitas Budi Luhur memiliki komitmen
untuk menghasilkan tenaga profesional di bidang informatika dan komputer, yang
berbudi luhur, inovatif dan ber-adaptasi terhadap teknologi agar mampu bersaing di
pasar global.

1. 1979 Berdiri Akademi Ilmu Komputer (AIK) di Jl. Budi Utomo No. 11 Jakarta

2. 1982 Berubah Menjadi Akademi Pengetahuan Komputer Budi Luhur

3. 1984 Pindah dari Jl. Budi Utomo Jl. Ciledug Raya 99


4. 1985 Berubah Menjadi AMIK Budi Luhur, Akademi Teknik Komputer (ATK) Budi
Luhur dan Akademi Akuntansi Komputer (AAK) Budi Luhur

5. 1986 Bergabung menjadi (Sekolah Tinggi Pengetahuan Komputer) Budi Luhur

6. 1987 Berubah menjadi STMIK Budi Luhur

7. 2002 Menjadi Fakultas Teknologi Informasi

2. Program Studi
PROGRAM SARJANA (S1)

1. Teknik Informatika (S1)

2. Sistem Informasi (S1)

3. Sistem Komputer (S1)

PROGRAM DIPLOMA 3 (D3)

1. Manajemen Informatika (D3)

2. Komputerisasi Akuntansi (D3)

PROGRAM PASCA SARJANA

1. Magister Akutansi (MA)

2. Magister Manejemen (MM)

3. Magister Ilmu Komputer (MI)

PROGRAM KHUSUS

1. International Program

2. Executive Class (Kelaa Karyawan)

3. Jakrta Broadcasting School (JBS)


4. Budi Luhur Learning Centre (BLLC)

3. Situs Resmi
http://www.budiluhur.ac.id/

4. Fasilitas

1. Tersediannya Hotspot Wifi Di Setiap Tempat - Tempat Seperti Kafe Depan,


Perpustakaan, Di Sekiar Ruangan FIKOM, Di Bagian Auditorium, Dan Tempat
Lainnya, Total Ada 14 Buah Titik Hotspot Yang Bisa Digunakan

2. Tersediannya Fasilitas Lab Komputer, Baik Untuk Belajar Ataupun Keperluan Lainya
(Tapi Untuk Situs - Situs Porno diblokir Untuk Menjaga Keamanan)

3. Tersedia Banyak Mobil Ambulance Untuk Mengantar Siswa Ke Rumah Sakit Apabila
Terjadi Musibah (Insiden)

4. Masjid

5. 2 Ruangan Auditorium Khusus Acara - Acara Di Universitas Budi Luhur Seperti,


Study Learrning,Pagelaran Musik, Meet And Greet Artis Band, Dll (Bahkan Bisa
Disewa Untuk Kepentingan Khusus Misalnya Acara Pernikahan Di Auditorium
Bawah).

6. Full Ac Di Setiap Ruangan

7. Fasilitas Bus Dan Minibus Untuk Keperluan Pariwisata

5. Organisasi Kemahasiswaan dan Himpunan Mahasiswa Jurusan di FTI (Fakultas


Teknologi Informasi)

1. BPM FTI (Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi)

2. BEM FTI (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi) (d/h Senat
Mahasiswa FTI)

3. HIMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika), Situs: himti.budiluhur.ac.id


4. HIMASI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi), Situs: himasi-ubl.org

5. HMSK (Himpunan Mahasiswa Sistem Komputer), Situs: hmsk-ubl.org atekbl.com

6. HIMKA (Himpunan Mahasiswa Komputerisasi Akuntansi)

6. Kelompok Studi Fakultas Teknologi Informasi

1. KSL (Kelompok Studi Linux) Universitas Budi Luhur. Situs: ksl-ubl.or.id

2. JUG (Java User Group) FTI Universitas Budi Luhur.

3. PHPUG (PHP User Group) FTI Universitas Budi Luhur.

2.3.5.2.2 Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM)


FIKOM memiliki 4 konsentrasi atau peminatan yaitu :

Public Relations (S1)

Broadcast Jurnalism (S1)

Visual Communications (S1)

Creative Advertising (S1)

FIKOM menerapkan kurikulum dengan berbasis IT (Cyber), mengingat


Universitas Budi Luhur merupakan kampus yang unggul sebelumnya dalam bidang IT.
FIKOM juga memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk mendapatkan
keahlian yang lebih mendalam dan bersertifikat, seperti keahlian bidang Penyiaran di
Jakarta Broadcasting School (JBS). Dosen-dosen FIKOM, minimal merupakan lulusan
S-2 dan sebagian besar adalah praktisi di bidang komunikasi. FIKOM juga selalu
memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal lebih jauh dengan dunia kerja.
FIKOM memiliki jadwal kunjungan observasi rutin, magang, dan riset di beberapa
stasiun TV (Metro TV, SCTV, RCTI, Trans TV, Trans 7, TPI, TV One).

1. Situs Resmi FIKOM


http://fikom.budiluhur.ac.id/
2. Prospek Lulusan FIKOM
Broadcast Journalism: Video Journalist, TV Reporter, News Editor, News Producer,
TV/Radio Consultant Public Relations: PR Consultant, Marketing PR, Event
Supervisor Visual Communication Design: Graphic Designer, Product Designer,
Consultant Creative Advertising: Copy Writer, Advertising Designer, Ad Producer

3. Organisasi Kemahasiswaan FIKOM


Organisasi mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa yang ada di lingkup Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta tercakup dalam satu wadah bernama
Keluarga Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KMIK Budi Luhur).

4. Organisasi Mahasiswa (Ormawa):

Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (BPM FIKOM)

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (BEM FIKOM)

Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM)

5. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM):

Radio Budi Luhur

Komunitas 2 Siang (K2S)

Public Relation Community (PRC)

Gradasi (komunitas mahasiswa komunikasi visual)

2.3.5.2.3 Fakultas Ekonomi (FE)

1. Manajemen Keuangan (S1)

2. Manajemen Pemasaran (S1)

3. Akuntansi (S1)
1. Situs

http://fe.budiluhur.ac.id

2.3.5.2.4 Fakultas Teknik (FT)

1. Arsitektur (S1)
2. Elektro (S1)

2.3.5.2.5 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)

1. Hubungan Internasional (S1)

2. Kriminologi (S1)

2.3.5.2.6 Akademi Sekretari (ASTRI)

3 ASTRI Kesekretarisan (D3) (http://astri.budiluhur.ac.id)


4 HIMASTRI (Himpunan Mahasiswa Jurusan/Program Stdi Sekretari)

Unit Kegiatan Mahasiswa dan Badan Otonom

1. MAKOPALA (Mahasiswa Komputer Pencinta Alam) Budi Luhur


(http://www.makopala.or.id)

2. Kelompok Studi Linux - Universitas Budi Luhur (KSL-UBL) (http://www.ksl-


ubl.or.id)

3. BLCC (Budi Luhur Chess Club)

4. Keluarga Mahasiswa Katolik Budi Luhur (KMK-BL) (http://kmk.budiluhur.ac.id)

5. Visual Fotografi

6. BLBC (Budi Luhur Badminton Club)


2.4 Kerangka Berpikir

JUDUL PENELITIAN

Pengaruh Corporate Social Responsibility program beasiswa terhadap citra kampus


Universitas Budi Luhur pada mahasiswa/i Fakultas Ilmu Komunikasi angkatan
2015/2016.
RUMUSAN MASALAH PENELITIAN

1. Bagaimana CSR program beasiswa menurut mahasiswa FIKOM Universitas Budi


Luhur?
2. Bagaimana citra kampus Universitas Budi Luhur dimata mahasiswa FIKOM?
3. Adakah pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) Program Beasiswa periode
2016/2017 terhadap citra kampus Universitas Budi Luhur?

VARIABEL Y
VARIABEL X
Citra
Corporate Social
1. Citra Bayangan (Mirror Responsibility
Image).
2. Citra Yang Berlaku 1. Mempertahankan dan
(Current Image). mendongkrak reputasi
3. Citra Yang Diharapkan dan image perusahaan.
(Wish Image). 2. Membentangkan akses
4. Citra Perusahaan menuju market.
(Corporate Image). 3. Meningkatkan
5. Citra Majemuk (Multiple semangat dan
Image). produktivitas
Menurut Frank Jefkins karyawan.
dalam Public Relations 4. Peluang mendapatkan
(dalam Munandar, penghargaan.
1995:17-19). (Wibisono. 2007:19).

X-----Y
Adakah pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) Program

Beasiswa periode 2016/2017 terhadap citra kampus Universitas Budi

Luhur?
2.5 Hipotesis

Ha: Terdapat Pengaruh Corporate Social Responsibility program beasiswa terhadap citra
kampus Universitas Budi Luhur pada mahasiswa/i Fakultas Ilmu Komunikasi angkatan
2014/2015.
H0: Tidak tedapat Pengaruh Corporate Social Responsibility program beasiswa terhadap
citra kampus Universitas Budi Luhur pada mahasiswa/i Fakultas Ilmu Komunikasi
angkatan 2014/2015.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian


Menurut sugiyono (2008:42) dalam penelitian kuantitatif/positivisme, yang
dilandasi pada suatu asumsi bahwa suatu gejala ini dapat diklarifikasikan, dan
hubungan gejala bersifat kausal ( sebab akibat ) maka penelitian dapat melakukan
dengan memfokuskan kepada variable yang akan diteliti tersebut selanjutnya disebut
sebagai paradigm penelitian.
Paradigma penelitian ini menggunakan positivistic yang diartikan sebagai pola
pikir yang menunjukan hubungan antara variable yang akan diteliti sekaligus
mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui
penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah
hipotesis dan teknik statistic yang akan digunakan. Dengan demikian penelitan ini
berusaha untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada.
Menurut Neuman (2007:35) pendekatan positivisme merupakan ilmu sosial
sebagai metode yang tersusun untuk mengkobinasikan logika dedukatif
dengan pengamatan empiris dari pelaku individual guna mengungkap dan
menguji sejumlah kemungkinan dari hukum sebab akibat yang dapat
digunakan untuk menarik generalisasi dari aktivitas manusia.Fokus dari
paradigma ini diletakan pada apa yang diamati dipermukaan. Jenis penelitian
yang dapat digunakan untuk mengamati fenomena sosial dalam penelitian ini
adalah kuantitatif yang didasarkan pada data konkret dan terukur.
Dari pengertian tersebut bahwa penelitian kuantitatif berdasar pada sumber
pengetahuan dan pengalaman yang nyata dialami manusia dalam kehidupan sehari
hari , kejadian dan peristiwa nyata yang dialami diterima manusia kemudian diolah
oleh nalar manusia,sehingga paradigm positivisme merupakan kerangka berfikir
berdasarkan nalar atau penglaman dan ilmu pasti.
3.2 Pendekatan Penelitian
Menurut Sugiono (2008:8) metode penelitian kuantitatif adalah pendekatan
lmiah yang memandang suatu realitas itu dapat diklasifikasikan, konkrit teramati dan
terukur , hubungan variabelnya bersifat sebab akibat dimana data penelitiannya
berupa angka angka dan analisisnya menggunakan statistic.
Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena
penelitian ini mengutamakan pada pengukuran variable dengan menggunakan
perhitungan angka angka dan uji statistic.hal ini sesuai dengan pendapat ( Arikunto
2006:12) yang mengemukakan penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian
yang banyak di tuntut menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data ,penafsiran
terhadap data tersebut, penampilan hasilnya.
Karakteristik dari pendekatan kuantitatif yaitu :
1. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini menguji hipotesis sebagai permulaannya.
2. Konsep berada dalam bentuk variable yang jelas.
3. Pengukuran diterapkan terlebih dahulu sebelum pengumpulan data dan memiliki
standarisasi.
4. Data berada dalam bentuk angka dari pengukuran sebelumnya.
5. Teori umumnya dedukatif
6. Analisis dilakukan dengan menggunakan statistic table atau grafik dan dijelaskan
bahwa semakin positif penilaian pengaruh Corporate Social Responbility Universitas
Budi Luhur maka semakin posotof citra perusahaan di mata khalayak.

3.3 Metode Penelitian

Metode yang digunakan ini adalah metode kausalitas yaitu untuk menyelidiki
kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen
tetapi dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi
penyebab, sebagai pembanding.
Menurut Creswell (2010:22) bahwa penelitian kuantitatif yakni penyelidikan
tentang masalah kemasyarakatan atau kemanusiaan yang didaasarkan pada
pengujian suatu teori yang tersusun atas variable-variabel, diukur dengan
bilangan-bilangan, dan dianalisis apakah generalisasi generalisasi predektif dari
teori tertentu yang diselidiki terbukti kebenarannya.
Menurut Kerlinger sebagaimana dikutip Emzir, menyatakan bahwa penelitian
kausal komparatif (causal comparative research) yang disebut juga penelitian ex
post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis di mana peneliti tidak
mengendalikan variabel bebas secara langsung karena keberadaan dari variabel
tersebut telah terjadi atau karena variabel tersebut pada dasarnya tidak dapat
dimanipulasi.
Berdasarkan hal-hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
sejauhmanakah implementasi progam Corporate Social Responsibility Beasiswa
Universitas Budi Luhur terhadap peningkatan citra positif kampus mahasiswa
Universitas Budi Luhur.Adapun cara yang digunakan adalah dengan mengambil
data dan melalui kuesioner yang disertakan kepada sejumlah responden.

3.4 Populasi dan Sampel

3.4.1 Populasi
Menurut Bungin (2006:99), penelitian merupakan keseluruhan (universum)
dari objek penelitian yang dapat berupa manusia hewan, tumbuh-tumbuhan, udara,
gejala, peristiwa, sikap hidup dan sebagainya. Sehingga obyek-obyek ini dapat
menjadi sumber data penelitian.
Penelitian ini menggunakan populasi finit, yang artinya jumlah individu
ditentukan (siregar, 2014:30). Yang menjadi populasi penelitian ini adalah mahasiswa
mahasiswi Universitas Budi Luhur angkatan tahun 2015-2016.
3.4.2 Sampel
Menurut Sugiyono (2010:2015), sampel adalah sebagian dari populasi itu.
Populasi itu misalnya penduduk diwilayah tertentu, jumlah guru dan murid disekolah
tertentu dan sebagainya.
Sudjana (2005:6) mengemukakan bahwa sampel adalah sebagian yang diambil
dari populasi. Berdasarkan beberapa pendapat Ahli tersebut dapat peneliti simpulkan
bawa sampel adalah sebagian bagian dari populasi yang diambil. Menurut Sugiyono
(2008:89) Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sample
sama dengan populasi.
Alasan mengambil total sampling karena menurut sugiyono jumlah populasi
yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian semuanya. Dalam
penelitian ini keseluruhan populasi menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 20
orang

3.5 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah Teknik
pengambilan sampel Simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel yang
dilakukan secara acak (random) sehingga setiap kasus atau elemen dalam populasi memiliki
kesempatan yang sama besar untuk dipilih sebagai sampel penelitian. Pada contoh
pemilihan 20 orang sampel dari populasi yang beranggotakan 100 orang, dengan teknik
simple random sampling maka setiap orang pada populasi tersebut memilki peluang yang
sama untuk menjadi satu dari 20 sampel yang dipilih.

Teknik ini memilki tingkat keacakan yang sangat tinggi, sehingga sangat efisien
digunakan untuk mengukur karakter populasi yang memiliki elemen dengan homoginitas
tinggi. Sedangkan untuk populasi yang memiliki elemen cukup hetergon, penggunaan
teknik ini justru dapat menimbulkan bias.

Syarat penggunaan teknik sampling ini adalah, bahwa setiap elemen dari populasi
harus dapat diidentifikasi. Elemen dari populasi tersebut kemudian disusun dalam
suatu sampling frame, yaitu suatu daftar yang dapat menggambarkan seluruh elemen dari
populasi. Keberadaan sampling frame ini sangat penting dalam teknik simple random
sampling ini, karena proses pemilihan sampel akan menjadi lebih sederhana, cepat dan
murah.

Prosedur penggunaan simple random sampling, diawali dari pembentukan sampling


frame oleh peneliti. Selanjutnya, dari sampling frame tersebut dipilih sampel yang
dilakukan secara acak hingga terpenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan. Proses pemilihan
sampel ini juga dapat memanfaatkan a table of random numbers.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian adalah metode
penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner. Menurut Nazir, kuesioner atau daftar
pertanyaan adalah sebuat set pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah
penelitian, dan tiap pertanyaan merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna
dalam menguji hipotesis. Daftar pertanyaan tersebut dibuat cukup terperinci dan lengkap.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, Kuesioner/angket adalah daftar pertanyaan yang
diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan

pengguna. Dengan demikian angket/kuesioner adalah daftar pertanyaan yang disiapkan


oleh peneliti dimana tiap pertanyaannya berkaitan dengan masalah penelitian. Angket
tersebut pada akhirnya diberikan kepada responden untuk dimintakan jawaban.

Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini dikategorikan sebagai berikut:

3.6.1 Data Primer

Data primer adalah data yang mengacu pada informasi yang diperoleh dari
tangan pertama oleh peneliti yang berkaitan dengan variabel minat untuk tujuan
spesifik studi. Sumber data primer adalah responden individu, kelompok fokus,
internet juga dapat menjadi sumber data primer jika koesioner disebarkan melalui
internet (Uma Sekaran, 2011). Pengertian data primer menurut Umi Narimawati
(2008;98) dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif: Teori
dan Aplikasi bahwa: Data primer ialah data yang berasal dari sumber asli
atau pertama. Data ini tidak tersedia dalam bentuk terkompilasi ataupun dalam
bentuk file-file. Data ini harus dicari melalui narasumber atau dalam istilah
teknisnya responden, yaitu orang yang kita jadikan objek penelitian atau orang
yang kita jadikan sebagai sarana mendapatkan informasi ataupun data.

3.6.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi


yang dikumpulkan dari sumber yang telah ada. Sumber data sekunder adalah
catatan atau dokumentasi perusahaan, publikasi pemerintah, analisis industri oleh
media, situs Web, internet dan seterusnya (Uma Sekaran, 2011). Data sekunder
adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data
(Sugiono : 2008 : 402). Data sekunder ini merupakan data yang sifatnya
mendukung keperluan data primer seperti buku-buku, literatur dan bacaan yang
berkaitan dengan pelaksanaan pengawasan kredit pada suatu bank.

3.7 Definisi Operasional Variabel


Operasional adalah petunjuk bagaimana sebuah variabel diukur. Cara mengukur suatu
variabel langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a. Menetapkan variabel (konsep) apa yang diukur

b. Membuat definisi konseptual (pengertian) variabel)

c. Menetapkan jenis dan jumlah indikator variabel tersebut, berdasarkan definisi


konseptual variabel yang telah dibuat sebelumnya.

d. Membuat kuisioner, berdasarkan indikator-indikator tersebut. (Hamidi, 2007:142)

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal
tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Secara teoritis variabel dapat didefinisikan
sebagai atribut seseorang, atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang
dengan orang yang lain atau objek dengan objek yang lain. (Sugiyono, 2012:38)

Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-
macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:

1. Variabel independen: variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor,
antecedent. Dalam bahasa indonesia sering disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah
variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel dependen (terikat)

2. Variabel dependen: sering disebut sebagai variabel output, kriteria atau konsekuen.
Dalam bahasa indonesi sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat
merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
(Sugiyono, 2012:38)

Definisi operasional variabel penelitian adalah suatu definisi yang diberikan


kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti, atau
menspesifikasikan kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan
untuk mengukur konstrak atau variabel tersebut. (Moh. Nazir; 2003:126).

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari

1. Variabel Bebas,: Corporate Social Responsibility


2. Variabel Terikat: Citra Perusahaan

Tabel Operasional Variabel bebas (X)

Variabel Dimensi Indikator Skala


Rektor merupakan juri yang
layak untuk melakukan
Implementasi penilaian dalam kegiatan
CSR beasiswa

Hasil penjurian di publikasi kan


1. Sustainability kepada pihak Universitas
2. Accountability
3. Transparency Kriteria penilaian pemenang
dengan jelas di sebutkan dalam
kegiatan beasiswa . Likert

Pihak universitas terlibat aktif


Pelibatan dalam mengembangkan
Stakeholder

KEMENDIKNAS merupakan
mentor yang layak dalam
bidang Pendidikan dan sesuai
untuk kegiatan beasiswa
Table Operasional Variabel (Y)

Variabel Dimensi Indikator Skala

Memiliki nama yang baik di mata


Perilaku
masyarakat
perusahaan
Logo perusahaan mampu
menampilkan identitasi
Citra Perusahaan
perusahaan Likert
Tidak ada bau tidak sedap di
Lingkungan
perusahaan
Perusahaan dan sekitar nya bersih
Gedung terawat

3.8 Validitas & Reliabilitas


3.8.1 Uji Validitas

Menurut Azwar (1986) Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti
sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya. Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas
yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan
hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes
yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan
tujuan pengukuran. Sedangkan menurut Sugiyono (2006) Uji validitas adalah suatu
langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen, dengan
tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian.

Koefisien Korelasi Sederhana disebut juga dengan Koefisien Korelasi Pearson


karena rumus perhitungan Koefisien korelasi sederhana ini dikemukakan oleh Karl
Pearson yaitu seorang ahli Matematika yang berasal dari Inggris.
Rumus yang dipergunakan untuk menghitung Koefisien Korelasi Sederhana adalah
sebagai berikut:

(Rumus ini disebut juga dengan Pearson Product Moment)

r= nxy (x) (y)


. {nx (x)} {ny2 (y)2}

Dimana :

n = Banyaknya Pasangan data X dan Y


x = Total Jumlah dari Variabel X
y = Total Jumlah dari Variabel Y
x2= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel X
y2= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel Y
xy= Hasil Perkalian dari Total Jumlah Variabel X dan Variabel Y

3.8.2 Uji Reliabilitas

Walizer (1987) menyebutkan pengertian Reliability (Reliabilitas) adalah keajegan


pengukuran.Menurut John M. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal
yang dapat dipercaya. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah "...the
degree of which test score are free from error measurement.

Menurut Masri Singarimbun, realibilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh


mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila suatu alat pengukur
dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh
relative konsisten, maka alat pengukur tersebut reliable. Dengan kata lain, realibitas
menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam pengukur gejala yang sama.

Uji konsistensi internal (reliabilitas) ditentukan dengan koefisien Cronbach Alpha.


Pengujian ini menetukan konsistensi jawaban responden atas suatu instrumen penelitian.
Nunnally (1969) mensyaratkan suatu instrumen yang reliabel jika memiliki
koefisien Cronbach Alpha di atas 0,60. Untuk menghitung reabilitas menggunakan
rumus alpha, sebagai berikut:

Dimana :
r11 = Nilai reliabilitas
Si = Jumlah varians skor tiap-tiap item
St = Varians total
k = Jumlah item

3.9 Analisis Data


Analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi
sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi
permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian. Atau definisi lain
dari analisis data yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menubah data hasil dari penelitian
menjadi informasi yang nantinya bisa dipergunakan dalam mengambil kesimpulan.
Menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang
merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide)
seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada
hipotesis. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan
pengorganisasian data sedangkan yang ke dua lebih menekankan maksud dan tujuan
analisis data. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan bahwa analisis data
merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan
satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja
seperti yang didasarkan oleh data.

3.9.1 Statistik Deskriptif

Statistika Deskriptif merupakan proses transformasi data penelitian dalam bentuk


tabulasi sehingga mudah dipahami dan diiterpretasikan. Deskriptif sifatnya
menggambarkan atau mendeskripsikan suatu kondisi. Statistik deskriptif berfungsi
mempelajari tata cara pengumpulan, pencatatan, penyusunan, dan penyajian data
penelitian dalam bentuk tabel frekuensi atau grafik, danselanjutnya diakukan pengukuran
nilai-nilai statistiknya seperti mean/rerata. Sedangkan menurut (Burhan Nurgiyantoro dkk,
2000;8), Statistika deskriptif adalah teknik statistik yang memberikan informasi hanya
mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud untuk menguji hipotesis dan kemudian
menarik inferensi yang digeneralisasikan untuk data yang lebih besar atau populasi.
Statistik deskriptif hanya dipergunakan untuk menyajikan dan menganalisis data agar
lebih bermakna dan komunikatif dan disertai perhitungan-perhitungan sederhana yang
bersifat lebih memperjelas keadaan dan atau karakteristik data yang bersangkutan.

3.9.2 Statistika inferensial

Statistika Inferensial adalah statistik yang berkaitan dengan analisis data (sampel) untuk
kemudian dilakukan penyimpulanpenyimpulan (inferensi) yang digeneralisasikan kepada seluruh
subyek tempat data diambil (populasi) (Burhan Nurgiyantoro dkk, 2000;12). Statistik Inferensial
atau Statistik Induktif: ilmu pengetahuan statistik yang bertugas mempelajari tata cara
penarikan kesimpulan mengenai keseluruhan populasi berdasakan data hasil penelitian
pada sampel (bagian dari populasi). Berdasarkan asumsi yang mendasarinya, statistik
induktif/inferensial dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Statistik Parametrik. Pendugan dan uji hipotesis dari parameter populasi berdasarkan
anggapan bahwa skor-skor yang dianalisa telah ditarik dari suatu populasi dengan
distribusi tertentu. Skala pengkuran yang digunakan adalah skala interval ataupn
rasio, seta harus berdisribusi normal.
2. Statistik Nonparametrik. Pendugan dan uji hipotesis dari parameter populasi
berdasarkan anggapan bahwa skor-skor yang dianalisa telah ditarik dari suatu
populasi dengan bebas sebaran (tidak mengikuti distribus tertentu). Skala pengkuran
yang digunakan adalah nminal dan ordinal, serta tidak harus berdistibusi normal.

Metode analisis statistik yang digunakan dalam statistik inferensial adalah T-test,
Anova, Anacova, Analisis regresi, Analisis jalur, Structural equation modelling (SEM) dan
metode analisis lain tergantung tujuan penelitian. Dalam statistik inferensial harus ada
pengujian hipotesis yang bertujuan untuk melihat apakah ukuran statistik yang digunakan
dapat ditarik menjadi kesimpulan yang lebih luas dalam populasinya. Ukuran-ukuran
statistik tersebut dibandingkan dengan pola distribusi populasi sebagai normanya. Oleh
sebab itu, mengetahui pola distribusi data sampel menjadi penting dalam statistik
inferensial.
Data yang terkumpul akan diolah dengan menggunakan data statistik yang sesuai,
yaitu menggunakan rumus statistik uji-t menurut Winarsunu (2004:88) adalah:
Daftar Pustaka

Ardianto, Elvinaro. 2011. Handbook Of Public Relations:


Pengantar Komprehensif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Jeffkins, Frank. 1998. Public Relations. Jakarta: Erlangga.

Soemirat, Ardianto. 2003. Dasar-Dasar Public Relations.


Bandung: Rosda.

Untung, Hendrik. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta:


Sinar Grafika

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Administrasi. Bandung.


Alfabeta.

Levin, R.I. dkk. 2002. Pengambilan Keputusaan Secara


Kuantitatif. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Nova, Firsan. 2011. Crisis Public Relations. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.
.