Anda di halaman 1dari 10

Dinamika Sistem Partikel

Sebuah metode umum yang dapat memecahkan masalah dari sejumlah partikel yang
dipengaruhi oleh gaya yang mengerakkan partikel-partikel tersebut sangat diharapkan saat
ini. Sayangnya belum ada metode umum yang seperti itu untuk mengkaji permasalahan
untuk sistem lebih dari dua partikel. Namun bukan berarti sistem dengan lebih dari dua
partikel tidak dapat diselesaikan. Misalnya perhitungan yang sangat akurat dari gerak planet
merupakan solusi dari masalah yang melibatkan interaksi gravitasi sejumlah besar benda
langit. Namun solusi tersebut bukan solusi umum dari gerak, seperti sistem orbit telah
ditemukan untuk sistem dua partikel/benda, tetapi solusi numerik dari kasus ini sangat rumit
untuk kondisi awal yang ditentukan dan mengondisikan dalam periode waktu tertentu.
Bahkan untuk masalah dengan sistem tiga partikel tidak mengikuti persamaan yang tereduksi
secara umum, maka dapat dikatakan untuk setiap kasus tertentu dikaji dengan persamaan
yang berbeda.

Namun, kita dapat memisahkan masalah gerak sistem partikel menjadi dua kajian,
yaitu: pertama, menemukan pusat massa, dan kedua, untuk menemukan gerak internal
sistem, yaitu gerak partikel relatif terhadap pusat massa (Symon, 1960).

1. Pusat Massa dan Momentum Linier

Gambar 1.

Suatu sistem umum partikel yaitu sebuah sistem yang terdiri dari lebih dari dua
partikel yakni n buah partikel yang memiliki massa masing-masing 1 , 2 , , , vektor

1
posisi dari masing-masing partikel secara berurutan adalah 1 , 2 , , . Kita dapat
mendefinisikan pusat massa sistem sebagai titik yang vektor posisinya:

1 1 + 2 2 + + (1)
= =
1 + 2 +
dengan = adalah massa total dari sistem. Dimensi untuk tiga komponen persamaan
(1) dapat dinyatakan dengan:

= = = (2)

Momentum linear p dari sistem dapat mendefinisikan sebagai jumlah vektor dari momentum
linear dari masing-masing partikel, yaitu sebagai berikut:

= = (3)

Dalam perhitungan = , berdasarkan persamaan (1) dan membandingkannya dengan


persamaan (3), maka diperoleh:
= . (4)
Berdasarkan persamaan (4) diketahui bahwa momentum linear dari sistem partikel sama
dengan kecepatan pusat massa dikalikan dengan total massa dari sistem (Fowles, 2005).

Misalkan sekarang bahwa ada gaya eksternal 1 , 2 , , , , bekerja pada


masing-masing partikel. Selain itu, mungkin ada gaya internal yakni interaksi antara dua
partikel dari sistem. Kita dapat menuliskan gaya internal sebagai , yang berarti gaya yang
bekerja pada partikel i oleh partikel j, dengan pengertian bahwa = 0. Persamaan gerak
partikel i kemudian dapat dituliskan sebagai berikut.

+ = . = (5)
=1

dengan menyatakan jumlah gaya luar (eksternal) yang bekerja pada partikel ke i. Suku
kedua persamaan (5) menyatakan jumlah vektor dari semua gaya internal yang dikerjakan
pada partikel ke i oleh semua partikel lainnya dalam sistem. Jika persamaan (5) dijumlahkan
untuk semua partikel dalam sistem maka diperoleh persamaan:

(6)
+ =
=1 =1 =1 =1

2
Dalam penjumlahan ganda dalam Persamaan (6) untuk setiap gaya juga ada gaya , dan
dua gaya ini adalah sama dan berlawanan arahnya.

ij =
(7)
dari hukum ketiga Newton tentang aksi dan reaksi. Akibatnya, gaya-gaya internal
membatalkan berpasangan, dan jumlah ganda bernilai nol. Kita dapat menulis Persamaan
(7) dengan cara berikut:

= = . (8)
=1

Persamaan (8) dapat didefinisikan sebagai berikut:

Percepatan pusat massa sistem partikel adalah sama dengan percepatan satu
partikel memiliki massa yang sama dengan massa total sistem dan dikenai gaya
sama dengan jumlah dari gaya eksternal (Fowles, 2005).

Sebagai contoh segenggam partikel bergerak dalam medan gravitasi serba sama,
karena = untuk masing-masing partikel maka:

= . = . (9)

Percepatan gravitasi g adalah tetap,

= (10)

persamaan ini menunjukkan besar percepatan yang dialami sistem partikel sama dengan
persamaan untuk sebuah tunggal partikel tunggal

Pada kasus khusus ketika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistem = 0
maka = 0 dan bersifat tetap, akibatnya momentum linier sistem adalah tetap

= = . = (11)

Ini adalah prinsip kekekalan momentum linear. Dalam mekanika Newton kekekalan dari
momentum linear dari sistem terisolasi adalah langsung berhubungan, dan pada
kenyataannya merupakan konsekuensi dari hukum ketiga. Tetapi bahkan dalam kasus-kasus
di mana gaya antara partikel tidak langsung mematuhi hukum aksi dan reaksi, seperti gaya

3
magnet yang memberikan gaya tolak, prinsip kekekalan momentum linear masih memegang
peranan karena diambil dari total momentum linear partikel.

2. Momentum Angular dan Energi Kinetik Sistem


Momentum anguler dari partikel tunggal didefinisikan sebagai cross prodct .
Momentum anguler dari sebuah sistem partikel banyak didefinisikan sebagai jumlah
vektor dari momentum anguler masing-masing partikel sistem yaitu:

= ( ) (12)
=1

Untuk menghitung turunan momentum anguler terhadap waktu, dapat diperoleh dengan
aturan diferensial dari perkalian vektor yaitu:


= ( ) + ( ) (13)

=1 =1

Suku pertama pada ruas kanan sama dengan nol, karena = 0, dan karena sama
dengan jumlah gaya yang bekerja pada partikel ke i, maka persamaan (12) dapat dinyatakan
dengan:


= [ ( + )]

=1 =1

atau


= + (14)

=1 =1 =1

Seperti yang sudah di bahas pada materi sebelumnya menunjukkan total gaya eksternal
yang bekerja pada partikel i, dan adalah gaya internal yang diberikan pada partikel i
partikel j lainnya. Penjumlahan ganda pada ruas kanan diberikan oleh:

( ) + ( ) (15)

Dengan menyatakan vektor perpindahan partikel j relatif terhadap partikel i adalah rij seperti
lukisan vektor pada gambar 2.

= (16)

4
Gambar 2.

Karena ij = , maka persamaan (14) dapat direduksi menjadi:

(17)

oleh karena itu penjumlahan dua kali pada persamaan (..) dapat dihilangkan. Sekarang untuk
cross product adalah momen eksternal dari gaya . Jumlah dari semua komponen
gaya eksternal merupakan total gaya eksternal yang bekerja pada sistem. Jika kita
menuliskan total torsi eksternal atau momen gaya dengan N, maka persamaan (..) dapat
ditulikan sebagai berikut:

(18)
=

Artinya, perubahan momentum anguler terhadap waktu sama dengan momen total yang
dihasilkan oleh semua gaya-gaya eksternal yang bekerja pada sistem.

Jika sistem terisolasi, nilai = 0 dan momentum anguler konstan baik besar dan
arahnya, maka:

= ( . ) = (19)
=1

Persamaan ini menyatakan prinsip kekekalan momentum anguler.

Kasus-kasus tertentu tidak sulit untuk mendefinisikan momentum sudut dari segi
gerak pada pusat massa partikel. Seperti ditunjukkan dalam Gambar 3

5
Gambar 3.
kita dapat menjabarkan setiap vektor posisi dalam bentuk sebagai berikut:
= + (20)
Di mana adalah posisi partikel i relatif terhadap pusat massanya. Turunan dari persamaan
20 terhadap waktu, maka diperoleh:

= + (21)
adalah
Pada persamaan (21) adalah kecepatan dari pusat massa partikel, dan
kecepatan partikel i relatif terhadap pusat massa partikel. Maka persamaan momentum
anguler dapat dituliskan sebagai berikut (Fowles, 2005):

= ( + ) ( +
)
=1

= ( ) + ( ) + ( ) + ( )

= ( ) + + ( ) + ( ) (22)

Berdasarkan persamaan (20) diperoleh:

( ) = ( ) = = 0 (23)

Dan berdasarkan persamaan (21) diperoleh:

( ) = = 0 (24)

6
Maka persamaan momentum anguler dapat dituliskan sebagai berikut:

= + .
(25)
=1

3. Energi Kinetik Sistem


Total energi kinetik T sistem partikel diberikan oleh jumlah energi kinetik dari
elemen-elemen partikel, yaitu:
1 1 (26)
= 2 = ( . )
2 2

Dengan menyatakan bahwa kecepatan relatif terhadap pusat massa partikel, maka diperoleh:

1
) ( +
= ( + )
2

1 1 1
2
= ) + 2
+ (
2 2 2

1 2 1 1
= + 2
+ (27)
2 2 2

Karena penjumlahan dua kali


dapat di hilangkan, maka persamaan energi kinetik
sistem dapat dituliskan sebagai berikut.

1 1
2
= + 2
2 2

Suku pertama pada persamaan (28) menyatakan energi kinetik translasi sistem, dan suku
kedua menyatakan energi kinetik gerak partikel relatif terhadap pusat massa partikel.

7
Soal
1. Sebuah sistem terdiri dari tiga partikel, masing-masing satuan massa, dengan posisi dan
kecepatan sebagai berikut :
r1 = i + j v1= 2i
r2 = j + k v2= j
r3= k v3= i + j + k
Tentukan posisi dan kecepatan pusat massa. Menemukan juga momentum linear dari
sistem diatas !
Penyelesaian

3
2
y
1
x

1
=

1
= (1 + 2 + 3 )
3
1
= ( + + + + )
3
1
= 3 ( + 2 + 2 )

=
1
= 3 (1 + 2 + 3 )
1
= 3 (2 + + + +
1
= 3 (3 + 2 + )
= 3 = 1 + 2 + 3
= 3 + 2 +

8
2. r1 = i + j v1= 2i
r2 = j + k v2= j
r3= k v3= i + j + k
Berdasarkan persamaan di atas carilah
a. Tentukan nilai dari 2 /2 !
b. Carilah momentum anguler dari persamaan di atas !
Penyelesaian
1
a. = 3 (3 + 2 + )
1 1 1
2 = 3 (32 + 22 + 12
2 2 9
1
=23

=
b.
= [( + ) 2 ] + [( + ) ] + [ ( + + )]

= (2) + () + ( )

= 2 + 2 )

9
DAFTAR PUSTAKA
Fowles, Grant R. dan Goerge L. Cassiday. 2005. Analitical Mechanics 7 Edition.
California: Cole.
Symon, R. Keith.1971. Mechanics Third Edition. California: Addison-Wesley Publishing
Company.

10