Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

KEJANG DEMAM

Oleh:
dr. Devi Shilvia

Dokter Pendamping:
dr. Hj. Titin Ning Prihartini MH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KABUPATEN INDRAMAYU
2017
PORTOFOLIO KASUS

NamaPeserta : dr.Devi Shilvia


NamaWahana : RSUD Indramayu
Topik: Kejang Demam
Tanggal (kasus) : 20 Maret 2017
Tanggal Presentasi : 18 Mei 2017 Pendamping : dr. Titin
Tempat Persentasi : RSUD Indramayu
Obyek presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan
pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Seorang Anak berusia 11 bulan datang dengan keluhan kejang demam
Tujuan:
1. Pendekatan diagnosis kejang demam
2. Mengatasi Kegawatdaruratan pada pasien kejang demam
3. Penatalaksanaan dan Edukasi pasien kejang demam
Bahan Bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas: Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
diskusi
Data Pasien: Nama: Anak A, perempuan, 11 bulan No.Registrasi: 400047
Nama klinik RSUD Indramayu
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Keterangan Umum
Nama : An. A
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal lahir : 07 Mei 2016
Umur : 11 bulan
Alamat : Ds Dukuh Tengah
Nomor MR : 400047
Orang Tua : Ayah : Tn.K, 38 th, Wiraswasta, SMP
Ibu : Ny.U, 36 th, IRT, SMP
Tanggal masuk RS : 19 Maret 2017

2. Gambaran Klinis
4 jam SMRS pasien kejang. Kejang seluruh tubuh, awalnya seluruh badan kaku,
lalu mata mendelik ke atas disertai dengan kedua lengan dan tungkai kaku kelojotan.
Kejang sebanyak 3 kali dalam 1 hari itu. Setiap kejang lamanya 5 menit. Selama kejang
penderita tidak sadar. Sebelum dan sesudah kejang penderita sadar. Pasien sudah
mendapat obat kejang lewat anus 1x.

Keluhan kejang didahului oleh panas badan sejak 1 hari sebelum kejang, mendadak
tinggi disertai dengan mencret sebanyak 5x dalam 1 hari. BAB berwarna kuning, encer,

1
masih ada ampas, tidak disertai disertai darah atau lendir. Keluhan tidak disertai dengan
muntah, rewel, atau tidak mau minum. Riwayat penurunan kesadaran disangkal. BAK
tidak ada kelainan.

Pasien pernah mengalami kejang disertai demam pada usia 8 bulan. Riwayat kejang
tanpa demam sebelumnya tidak ada. Riwayat kejang dengan atau tanpa deman dalam
keluarga tidak ada. Riwayat trauma kepala tidak ada. Pasien adalah anak ke 3, lahir
cukup bulan, BBL 3000 g dengan persalinan normal di bidan, saat lahir langsung
menangis, tidak ada kebiruan atau sesak nafas.
.
3. Riwayat pengobatan:
Karena keluhannya pasien dibawa ke dokter umum dan sudah mendapat obat kejang lewat
anus 1x.
4. Riwayat kesehatan/penyakit:
Pasien pernah mengalami kejang disertai demam pada usia 8 bulan
5. Kondisi lingkungan social dan fisik:
Pasien tinggal di rumah bersama dengan ibu dan ayahnya. Pembiayaan kesehatan pasien
menggunakan jaminan kesehatan BPJS
6. 7. Lain Lain
Pemeriksaan fisik dilakukan di Rawat inap RSUD Indramayu pada tanggal 20 Maret 2017
7. PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan umum
Kesadaran : Komposmentis
Kesan sakit : Sakit sedang
Status gizi : Baik
Berat badan : 11 kg
Panjang badan : 76 cm
BB/U : >1 (Normal)
PB/U : median (Normal)
BB/TB : median (Normal)
Tanda vital (IGD)
Respirasi : 52x /menit
Nadi : 140 x/ menit
Suhu : 38,5 0C

Status Generalis
Kepala

Ubun-ubun tidak menojol


Rambut : tidak ada kelainan
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
kelopak mata tidak cekung

2
Hidung : PCH (-), sekret (-)
Telinga: sekret (-)
Mulut : POC (-), Bibir agak kering, mukosa mulut dan lidah basah
Faring tidak hiperemis
Tonsil T1-T1 tenang
Leher : KGB tidak membesar
Retraksi suprasternal (-)
Toraks
Bentuk dan gerak simetris
Retraksi intercostal -/-
Pulmo : Sonor, VBS kiri = kanan, crackles -/- , wheezing -/-
Cor : bunyi jantung murni reguler
Abdomen
Datar, lembut, turgor kulit kembali cepat
Retraksi epigastrium ()
Hepar/lien tidak teraba
Bising usus + normal
Anogenital : tidak ada kelainan
Ekstremitas
Atas dan bawah tidak ada kelainan, akral hangat , capillary refill <2

Pemeriksaan neurologis
Rangsang meningeal :
Kaku kuduk :-
Brudzinski I/II/III : -/-/-
Laseq/Kernig :-
Saraf Otak :
N. II : pupil bulat isokor, ODS 3 mm, refleks cahaya +/+
N III, IV, VI : tidak ada kelainan
N VII : parese -
Motorik : 5 5
5 5
Sensorik : sulit dinilai
APR/KPR : +/+
Refleks patologis : -/-

DIAGNOSIS KERJA :
Kejang demam kompleks + diare akut

TERAPI :
Farmakologis :

3
IVFD RL 10tpm
Paracetamol 4x150 mg
Cefotaxime 3x500mg
Sibital loading 240mg, rumatan 2x40mg
Zink 1x20mg
Probiotik 1x1 sach

Non farmakologis :
Meyakinkan orangtua bahwa kejang demam umumya mempunyai prognosis baik.
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
Pemberian obat profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang memang efektif, tetapi
harus diingat adanya efek samping obat Memberitahukan cara penanganan kejang

PEMERIKSAAN PENUNJANG:

Darah
Rutin
Leukosit 12.800 /mm3 4000-10.000
Eritrosit Daftar4,3
Pustaka:Juta/u 4,4-6
L
Hemoglobin1. Nelson
9,2 Pediatric
g/dl 11-14,5
Hematokrit2. Rekomendasi
28 % 33-45 Kejang Demam, Ikatan Dokter Indonesia 2016
Penatalaksanaan
Trombosit 418.00 /mm3 150.000-
3. ILAE. Guidelines for epidemiologic studies on epilepsy. Epilepsia 1993;34:5926.
0 45.000
MCV 4. Freeman
66,7 JM. fL
Febrile seizures:
69-93 a consensus of their significance, evaluation, and treatment.
MCH 21,5 pg 24-30
Consensus development conference of febrile seizures. 1980. National Institute of Health.
MCH 32,2 g/dL 32-36
Hitung Jenis Pediatrics 1980;66:100912
5. American Academy of Pediatrics, Steering Committee on Quality Improvement and
Basofil 1 % 0-1
Eosinofil Management.
1 %Classifying
0-5 recommendations for clinical practice guidelines. Pediatrics.
Neutrofil 0 % 1-4
2004;
batang
Neutrofil 77 % 50-65
segmen
Limfosit 13 % 20-45
Monosit Hasil Pembelajaran
8 % 1-6
1 Diagnosis kejang demam
2 Mengetahui diagnosis banding pasien anak dengan keluhan kejang
3 Penatalaksanaan kejang demam
4 Edukasi mengenai penyakit kejang demam

4
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO:

SUBJEKTIF:
4 jam SMRS pasien kejang. Kejang seluruh tubuh, mata mendelik ke atas
disertai dengan kedua lengan dan tungkai kaku kelojotan. Kejang sebanyak 4 kali
dalam 1 hari itu. Setiap kejang lamanya 5 menit. Selama kejang penderita tidak
sadar. Sebelum dan sesudah kejang penderita sadar. Karena keluhannya pasien
dibawa ke dokter umum dan sudah mendapat obat kejang lewat anus 1x.

Keluhan kejang didahului oleh panas badan sejak 1 hari sebelum


kejang, mendadak tinggi disertai dengan mencret sebanyak 5x dalam 1 hari. BAB
berwarna kuning, encer, masih ada ampas, tidak disertai disertai darah atau
lendir. Keluhan tidak disertai dengan muntah, rewel, atau tidak mau minum.
Riwayat penurunan kesadaran disangkal. BAK tidak ada kelainan.
Pasien pernah mengalami kejang disertai demam pada usia 8 bulan. Riwayat
kejang dengan atau tanpa demam sebelumnya tidak ada. Riwayat kejang dengan
atau tanpa deman dalam keluarga tidak ada. Riwayat trauma kepala tidak ada.
Pasien adalah anak ke 3, lahir cukup bulan, BBL 3000 g dengan persalinan
normal di bidan, saat lahir langsung menangis, tidak ada kebiruan atau sesak
nafas.

OBJEKTIF:
Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium mendukung diagnosis
kejang demam. Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan :
- Keadaan umum : Tampak sakit berat
- Kesadaran : Compos Mentis
- Tekanandarah : 110/70
- Nadi : 104 x/menit, reguler, ekual, isi cukup
- Respirasi : 40 x/menit
- Suhu : 38.50C
- Pemeriksaan Fisik : pemeriksaan neurologis tidak ada keluhan

ASSESMENT

1. Apa dasar diagnosis pasien?

5
DEFINISI
ILAE
Kejang demam merupakan kejang pada anak >1 bulan, berhubungan dengan demam
yang tidak disebabkan oleh infeksi SSP, tanpa kejang neonatus sebelumnya, atau kejang
yang diprovokasi, dan tidak memenuhi kriteria untuk kejang simptomatik

AAP
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6 bulan sampai
5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (suhu di atas 38 C, dengan metode
pengukuran suhu apa pun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial.

NIH
kejang yang terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun yang berhubungan dengan
demam dan tidak ada bukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab kejang lain

Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa 4 komponen penting dalam
diagnosis kejang demam adalah (1) Usia, (2) Kejang, (3) Demam, (4) Tidak ada
penyebab intrakranial.

1. Usia
National Institute of Health (1980) menggunakan batasan lebih dari 3 bulan, sedangkan
American Association Pediatric menggunakan batasan lebih dari 6 bulan, dan Nelson
dan Ellenberg (1978), serta ILAE (1993) menggunakan batasan usia lebih dari 1 bulan.
Terdapat perbedaan pendapat batasan usia namun dapat disimpulkan bahwa kejang
demam
Paling sering terjadi pada usia 6 bln 3 th, dengan puncak 18 bln, dapat terjadi
pada usia 1-6 bulan namun angka kejadiannya jarang.
Bayi berusia kurang dari 1 bulan termasuk dalam kejang neonatus

Mengapa pada usia ini? Berdasarkan data yang ada karena pasa usia tersebut adalah
otak dalam proses maturitasi senitivitas terhadap demam. Walaupun peningkatan
sensitivitas masih belum jelas, namun penelitian pada hewan percobaaan menunjukan

6
adanya peningktan peningkatan neuronal excibitlity dalam proses maturasi otak.

2. Demam

Masih belum jelas batasan suhu tubuh minimal pada kejang demam, namun data yang
ada menunjukan bahwa suhu tubuh yang rendah Anak-anak dengan kejang demam
dengan demam yang relatif rendah (, 38,9C) cenderung mengalami kejang awal yang
bersifat fokal dan berulang. Data yang ada juga menunjukan bahwa antipiretik tidak
terbukti menurunkan risiko kejang demam menunjukan bahwa bukan hanya demam
yang dapat mengakibatkan kejang demam, namun penelitian yang telah dilakukan
menunjukan bahwa endogenous pirogen seperti IL-1 mempengaruhi rangsangan
neuronal dan dapat berhubungan dnegan kejang demam. Hal ini memberikan hipotesis
bahwa sitokin mungkin memiliki peran dalam patogenesis kejang demam, tapi bukti
patologis atau klinis ini masih belum jelas.

3. Kejang

Kejang pada kejang demam dibedakan menjadi kompleks dan sederhana

KOMPLEKS SEDERHANA
15 menit < 15 menit

Fokal/ kejang umum didahului fokal umum

Rekurensi dalam 24 jam Tidak ada

Gejala pascaiktal Tidak ada

Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh kejang demam. Sebagian
besar kejang demam sederhana berlangsung kurang dari 5 menit dan berhenti sendiri.

Bentuk kejang pada kejang demam paling banyak adalah generelized tonik-klonik,
hanya sekitar 30-35% kejang demam memiliki satu atau lebih karakteristik kejang
demam kompleks.

7
Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang
parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, dan di antara 2
bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16% anak yang mengalami
kejang demam.

4. Tidak ada penyebab intrakranial


Difenetial diganosis anak dengan kejang dan demam adalah adanya penyebab
intrakranial karena itu harus dilakukan pemeriksaan untuk menyngkirkan adanya
penyebab intrakranial.

Pendekatan diagnosis kejang demam

ANAMNESIS
Usia 11 bulan
Kejang 4 jam SMRS, 3x
Pasienmendelik
Kejang seluruh tubuh, mata An. A ke atas
disertai dengan kedua lengan dan tungkai kaku
lalu kelojotan
Selama kejang pasien tidak sadar. Sebelum dan
sesudah kejang penderita sadar.
Keluhan kejang didahului oleh panas badan sejak
1 hari sebelum kejang, disertai dengan mencret
>5x dalam 1 hari

PEMERIKSAAN FISIK
Suhu : 38.1 C
8
UUB tidak menonjol, Tanda Ransang meningeal - ,
defisit neurologi -
2. Perlukah pemeriksaan penunjang untuk pasien ?
LABOLATORIUM : tidak rutin, sesuai indikasi, untuk mencari penyebab demam
PUNGSI LUMBAL :
Rekomendasi sebelumnya : harus dilakukan pada usia <12 bl dan dianjurkan usia
12-18
Terdapat tanda & gejala rangsang meningeal
Terdapat kecurigaan adanya infeksi SSP berdasarkan anamnesis &
pemeriksaan klinis
Dipertimbangkan jika kejang disertai demam yang sebelumnya telah
mendapat antibiotik dapat mengaburkan tanda dan gejala meningitis.

EEG & NEUROIMAGING : tidak di perlukan, kecuali indikasi

3. Bagaimana prognosis pasien?

Faktor risiko berulangnya kejang demam


Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya
kejang demam adalah:
1. Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga
2. Usia kurang dari 12 bulan
3. Suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius saat kejang
4. Interval waktu yang singkat antara awitan demam dengan terjadinya kejang.
5. Apabila kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.
Bila seluruh faktor tersebut di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah
80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang
demam hanya 10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada

9
tahun pertama

Faktor risiko terjadinya epilepsi


Faktor risiko menjadi epilepsi di kemudian hari adalah:
1. Terdapat kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum
kejang demam pertama
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung
4. Kejang demam sederhana yang berulang 4 episode atau lebih dalam satu tahun.
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-
6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut akan meningkatkan kemungkinan epilepsi
menjadi 10-49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian
obat rumatan pada kejang demam.

Secara keseluruhan coutcome kejang demam

Kecacatan atau kelainan neurologis


Prognosis kejang demam secara umum sangat baik. Kejadian kecacatan sebagai
komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan
neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya normal. Kelainan
neurologis dapat terjadi pada kasus kejang lama atau kejang berulang, baik umum
maupun fokal. Suatu studi melaporkan terdapat gangguan recognition memory pada anak
yang mengalami kejang lama. Hal tersebut menegaskan pentingnya terminasi kejang
demam yang berpotensi menjadi kejang lama.

Kematian
Kematian langsung karena kejang demam tidak pernah dilaporkan. Angka kematian pada
kelompok anak yang mengalami kejang demam sederhana dengan perkembangan
normal dilaporkan sama dengan populasi umum.

4. Bagaimana penatalaksanaan pasien?


Tatalaksana saat kejang
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orangtua di rumah (prehospital)adalah
diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5

10
mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 12 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih
dari 12 kg.
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali
pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah
sakit dapat diberikan diazepam intravena. Jika kejang masih berlanjut, lihat algoritme
tatalaksana kejang demam

Management demam
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang
demam
Meskipun demikian, dokter neurologi anak di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat
diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan tiap 4-6 jam.
Dosis ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.

Pada kasus diare jadi diberikan


Zink 1x20mg

11
Probiotik 1x1 sach

Pemberian antikonvulsan intermittent


Yang dimaksud dengan obat antikonvulsan intermiten adalah obat antikonvulsan yang
diberikan hanya pada saat demam. Profilaksis intermiten diberikan pada kejang demam
dengan salah satu
faktor risiko di bawah ini:
Kelainan neurologis berat, misalnya palsi serebral
Berulang 4 kali atau lebih dalam setahun
Usia <6 bulan
Bila kejang terjadi pada suhu tubuh kurang dari 39 derajat Celsius
Apabila pada episode kejang demam sebelumnya, suhu tubuh meningkat dengan
cepat.
Obat yang digunakan adalah diazepam oral 0,3 mg/kg/kali per oral atau rektal 0,5
mg/kg/kali (5 mg untuk berat badan <12 kg dan 10 mg untuk berat badan >12 kg),
sebanyak 3 kali sehari, dengan dosis maksimum diazepam 7,5 mg/kali.

Diazepam intermiten diberikan selama 48 jampertama demam. Perlu diinformasikan


pada orangtua bahwa dosis tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabkan ataksia,
iritabilitas, serta sedasi.

Pemberian obat antikonvulsan rumatan


Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat
dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan, maka pengobatan rumat hanya
diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek

Indikasi pengobatan rumatan:


1. Kejang fokal
2. Kejang lama >15 menit
3. Terdapat kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya palsi
serebral, hidrosefalus, hemiparesis.

Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan
belajar pada 40-50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian

12
kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun, asam valproat dapat
menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg/hari dibagi
dalam 2 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis. Pengobatan diberikan
selama 1 tahun, penghentian pengobatan rumat untuk kejang demam tidak membutuhkan
tapering off, namun dilakukan pada saat anak tidak sedang demam.

Edukasi orang tua


Meyakinkan orangtua bahwa kejang demam umumya mempunyai prognosis baik.
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
Pemberian obat profilaksis untuk mencegah berulangnya kejang memang efektif, tetapi
harus diingat adanya efek samping obat
Memberitahukan cara penanganan kejang

13
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 28 April 2016 telah dipresentasikan portofolio oleh:

Nama Peserta : Muhammad Zulfikar Azhar,dr.


Dengan judul/topik : PPOK Eksaserbasi Akut
Nama Pendamping : Widiyana, dr.
Nama Wahana : RSUD Indramayu

No Nama Peserta Presentasi No Tanda Tangan


1 Muhammad Zulfikar Azhar 1
2 Yuleni 2
3 Nurma Fitri Apriani 3
4 Diana Vevy 4
5 Hidayatul Husna 5
6 Angie Erdita 6
7 Annisa Halimatussadiah 7
8 Muhammad Kautsar 8
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya

Pendamping

(Widiyana, dr.)

14