Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan

Pada praktikum kali ini kami melakukan penetapan kadar Kafein dalam sampel tablet
kombinasi Parasetamol dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-vis kurva turunan
pertama (Derivatif), dimana pada metode ini kadar Parasetamol dan Kafein dapat ditentukan
dengan membaca larutan sampel pada panjang gelombang zero crossing. Kadar larutan
campuran dua zat dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri tanpa harus dipisahkan lebih
dahulu.Digunakan metode spektrofotometri derivatif karena serapan maksimum dari Parasetamol
dan Kafein berapa pada panjang gelombang yang berdekatan.Spektrum yang tumpang tindih
menyebabkan kesulitan dalam penetapan kadar Kafein karena terganggu oleh serapan
Parasetamol. Metode spektrofotometr iderivatif ini digunakan untuk meningkatkan pemecahan
puncak yang saling tumpang tindih tersebut sehingga Kafein dapat ditetapkan kadarnya tanpa
terganggu olehserapan Parasetamol.

Praktikum ini diawalkan dengan membuat larutan baku Kafein 500 ppm dan larutan baku
Parasetamol 500 ppm masing masing sebanyak 10 ml dalam etanol. Dilakukan proses
pengenceran Kafein dengan konsentrasi 10 ppm, 12 ppm, 14 ppm, 16 ppm dan
18ppm dengan pelarut etanol sebanyak 10 mL. Kemudian masing-masing larutan standar
tersebut dibaca absorbansinya pada rentang panjang gelombang 249nm dan 274 nm karena
panjang gelombang maksimum Kafein dan Parasetamol terletak pada panjang gelombang
tersebut. Berdasarkan pustaka, absorbansi maksimum Kafein terletak pada panjang gelombang
274 nm dalam pelarut etanol 70% sedangkan absorbansi maksimum Parasetamol terletak pada
panjang gelombang 233nm dalam pelarut etanol 70%.

Dari spektra larutan baku Kafein dan Parasetamol diturunkan spectrum derivatif dari
kurva normal Kafein dan Parasetamol. Ditentukan derivat pertama untuk absorbansi Kafein dan
Parasetamol. Kemudian didapat derivat yang bernilai nol dari masing-masing baku. Pada Kafein
di dapat derivat nol pada panjang gelombang 249 nm dan 274 nm dan pada Parasetamol di dapat
derivate nol pada panjang gelombang 233 nm dan 249 nm. Dalam menentukan zero crossing
Kafein , berdasarkan nilai derivat yang maksimum pada panjang gelombang maksimum
Parasetamol. Pada praktikum ini didapatkan absorbansi maksimum Kafein yaitu 1,0713 terletak
pada panjang gelombang 245 nm dan 0,5188 terletak pada panjang gelombang 274 nm.
Absorbansi maksimum Parasetamol yaitu 0,7359 terletak pada panjang gelombang 233 nm dan
1,1464 terletak pada panjang gelombang 249 nm.

Diukur absorbansi dari kelima larutan baku Kafein tersebut


pada panjang gelombang yang menghasilkan panjang gelombang zero crossing yaitu
pada panjang gelombang 233 - 249 nm dan Parasetamol pada panjang gelombang 245 - 274 nm.

Selanjutnya menentukan konsentrasi larutan sampel, mula-mula


menghitung berat jenis sampel tablet kombinasi Kafein dan Parasetamol. Kemudian menimbang
sampel sebanyak 250 mg dengan menggunakan beaker glass di
timbangan analitik. Sampel tersebut ditambahkan etanol secukupnya kemudian dipindahkan ke
labu takar 10 ml, bilas beaker glass sebanyak 2 kali. Hal ini supaya sampel yang menempel
dinding beaker bisa ikut tercampur di labu takar. Menambahkan etanol pada labu takar sampai
volume 10 mL. Penggunaan pelarut etanol ini dimaksudkan dapat melarutkan Kafein dan
Parasetamol di dalam sampel, karena kelarutan Kafein dalam etanol sebesar 1 : 130 sedangkan
kelarutan Parasetamol dalam etanol sebanyak 1 : 75. Dengan etanol ini diharapkan zat tambahan
pada sampel tablet tersebut tidak larut sehingga tidak mempengaruhi absorbansi. Setelah
ditambah etanol, pastikan zat larutan sampel yang tidak larut tidak mempengaruhi absorbansi
pengamatan. Dipipet sebanyak 1 mL dan ditambahkan etanol sebanyak 10 mL pada labu takar
untuk mengencerkan larutan Kafein 500ppm ke 50ppm. Untuk membuat larutan 10 ppm,
diambilkan 1ml dari larutan Kafein 50ppm dengan memasukkan 1 ml Parasetamol 5ppm dan
ditambahkan etanol sebanyak 10 mL. Untuk membuat larutan 12 ppm, diambilkan 2ml dari
larutan Kafein 10ppm dengan memasukkan 1 ml Parasetamol 5ppm dan ditambahkan etanol
sebanyak 10 mL. Untuk membuat larutan 14 ppm, diambilkan 1ml dari larutan Kafein 12 ppm
dengan memasukkan 1 ml Parasetamol 5ppm dan ditambahkan etanol sebanyak 10 mL.