Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

CA COLON ASCENDENS

Oleh:
dr. Devi Shilvia

Dokter Pendamping:
dr. Hj. Titin Ning Prihartini MH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KABUPATEN INDRAMAYU
2017
PORTOFOLIO KASUS

NamaPeserta : dr.Devi Shilvia


NamaWahana : RSUD Indramayu
Topik: Ca colon
Tanggal (kasus) : 10 April 2017
Tanggal Presentasi : - Pendamping : dr. Hj. Titin Ning Prihartini, MH
Tempat Persentasi : RSUD Indramayu
Obyek presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan
pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Seorang Laki-laki berusia 50 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan
bawah
Tujuan:
1. Pendekatan diagnosis ca colon
2. Staging ca colon
3. Penatalaksanaan dan Edukasi pasien ca colon
Bahan Bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas: Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
diskusi
Data Pasien: Nama: Tn H, Laki-laki, 50 tahun No.Registrasi: 311192
Nama klinik RSUD Indramayu
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Keterangan Umum
Nama : Tn H
Umur : 50 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Status : Menikah
Alamat : Karang Layung, Indramayu
Tanggal masuk RS : 10 April 2017

2. Gambaran Klinis
Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah
Anamnesis Khusus :
Sejak 3 bulan SMRS penderita mengeluh nyeri perut kanan bawah disertai
dengan BAB berwarna merah gelap. Nyeri dirasakan terus menerus seperti dipelintir, dan
nyeri semakin bertambah saat penderita tidur dengan posisi miring. Penderita mengakui
benjolan di perut kanan yang ikut bergerak sesuai posisi tidur. Penderita juga mengaku
buang air besar semakin sering, encer dan berwarna hitam. Nafsu makan berkurang, dan

1
berat badan menurun.
Jarang makan sayur-sayuran dan buah-buahan di akui. Riwayat hipertensi, DM,
dan asma disangkal. Riwayat penyakit yang sama pada keluarga disangkal. Riwayat alergi
makanan dan obat obatan disangkal.
Oleh karena keluhan tersebut, penderita berobat ke dokter umum namun tidak
membaik, pasien kemudian memutuskan sendiri untuk dilakukan USG. Dari hasil USG
dikatakan ada kangker usus. Pasien kemudian berobat ke poli bedah di RSUD Indramayu
.
3. Riwayat pengobatan:
Karena keluhannya pasien dibawa ke dokter umum namun keluhan tidak membaik
4. Riwayat kesehatan/penyakit:
Riwayat hipertensi, DM, dan asma disangkal. Riwayat penyakit yang sama pada keluarga
disangkal. Riwayat alergi makanan dan obat obatan disangkal.

5. Riwayat pekerjaan:
Pasien bekerja sebagai pegadang
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik:
Pasien tinggal di rumah bersama dengan istri, anak dan menantunya. Pembiayaan kesehatan
pasien menggunakan jaminan kesehatan BPJS
7. 7. Lain Lain
Pemeriksaan fisik dilakukan di Rawat inap RSUD Indramayu pada tanggal 20 Maret 2017
8. PEMERIKSAAN UMUM
a Status Generalis
Keadaan Umum : Komposmentis
Tekanan Darah : 110 / 70 mmHg
Nadi : 88x / menit
Suhu : 35 C
Kepala : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Leher : KGB tidak teraba
JVP tidak meninggi
Thoraks : Bentuk dan gerak simetris
Pulmo : VBS normal kiri = kanan
Cor : BJ murni reguler
Abdomen : Datar, lembut
Hepar dan lien tidak teraba
Bising usus : (+) Normal
Ekstremitas : Tidak ada kelainan

2
b Colok dubur
Spingter : kuat
Mucosa : licin, tidak teraba massa
Ampulla : tidak kolaps
Sarung tangan : feses +, darah +

PEMERIKSAAN PENUNJANG:
- Labolatorium

Darah Rutin Nilai batas normal

Leukosit 6.300 /mm3 4000-10.000


Eritrosit 4,3 Juta/uL 4,4-6
Hemoglobin 10,0 g/dl 11-14,5
Hematokrit 30 % 33-45
Trombosit 354.000 /mm3 150.000-45.000
MCV 69,7 fL 69-93
MCH 23,5 pg 24-30
MCH 33,2 g/dL 32-36

Hemostatsis
Waktu pembekuan /CT 700 menit 5-11
Waktu pendarahan/ BT 300 menit 1-5

Kimia Klinik
GDS 135 mg/dL 110-150
SGOT 9 U/l <37
SGPT 11 U/l <42
Ureum 32 mg/dL 10-50
Cratinin 1.6 mg/dL 0,7-1.3

- USG abdomen

3
Kesan :
o Massa hipoekhoik inhomogen dengan bagian hiperekhoik di abdomen kanan
bawah berukuran sekitar 103 x 99,8 x 54,1 mm sugestif massa colon
ascendens bagian proximal DD/ massa caecum
o USG hepatobillier, pankreas, limpa, ginjal kanan dan kiri, dan vesika urinaria
tak tampak kelainan.

- Colon in loop

4
Kesan : Masih mungkin suatu massa pada bagian colon ascendens

DIAGNOSIS KERJA :
Ca Colon Ascenden Dukes C

PENATALAKSANAAN :
Terapi non farmakologis :
- Operasi extended hemicoletomy
- Rujuk untuk kemoterapi
Terapi farmakologis
- IUFD RL 20 tpm
- Ceftriaxon 1x1 gr iv
- Ketorolak 3 x1 amp
Daftar Pustaka:
Blackborne, Lorne H. Surgical Recall, 3rd ed. Lippincots Williams & Wilkins:2002

Friedman LS. Liver, Biliary Tract, & Pancreas. In: Lawrence, McPhee SJ, Papadakis

MA, editors. Current Medical Diagnosis & Treatment. New York : Mc Graw Hill;

2001. p. 651-656.

Hadi S., 2002. Tumor di Kolon dan Rektum. Gastroenterologi. Edisi 7. Penerbit Alumni.

Bandung: 386- 401.

5
Jong W. D., Sjamsuhidayat R., 1996. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta: 658-663.

Hasil Pembelajaran
1 Diagnosis ca colon
2 Mengetahui diagnosis banding pasien nyeri perut kanan bawah
3 Penatalaksanaan ca colon
4 Edukasi mengenai ca colon

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO:

SUBJEKTIF:
Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah

Anamnesis Khusus :

Sejak 3 bulan SMRS penderita mengeluh nyeri perut kanan bawah disertai dengan
BAB berwarna merah gelap. Nyeri dirasakan terus menerus seperti dipelintir, dan nyeri semakin
bertambah saat penderita tidur dengan posisi miring. Penderita mengakui benjolan di perut
kanan yang ikut bergerak sesuai posisi tidur. Penderita juga mengaku buang air besar semakin
sering, encer dan berwarna hitam. Nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun.

Jarang makan sayur-sayuran dan buah-buahan di akui. Riwayat hipertensi, DM,


dan asma disangkal. Riwayat penyakit yang sama pada keluarga disangkal.Riwayat alergi
makanan dan obat obatan disangkal.

Oleh karena keluhan tersebut, penderita berobat ke dokter umum namun tidak
membaik, pasien kemudian memutuskan sendiri untuk dilakukan USG. Dari hasil USG
dikatakan ada kangker usus. Pasien kemudian berobat ke poli bedah di RSUD Indramayu.

OBJEKTIF:
Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium mendukung diagnosis kejang
demam. Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan :
Colok dubur :

- Spingter : kuat
- Mucosa : licin, tidak teraba massa
- Ampulla : tidak kolaps
- Sarung tangan : feses +, darah +

6
Pemeriksaan penunjang yang mendukung diagnosis
- USG abdomen
Kesan :
o Massa hipoekhoik inhomogen dengan bagian hiperekhoik di abdomen kanan bawah
berukuran sekitar 103 x 99,8 x 54,1 mm sugestif massa colon ascendens bagian
proximal DD/ massa caecum
o USG hepatobillier, pankreas, limpa, ginjal kanan dan kiri, dan vesika urinaria tak
tampak kelainan.

- Colon in loop
Kesan :
Masih mungkin suatu massa pada bagian colon ascendens

ASSESMENT
Karsinoma kolorektal merupakan penyebab kedua dari kematian akibat keganasan di
Amerika Serikat. Diperkirakan 5% dari penduduk Amerika Serikat menderita karsinoma
kolorektal dan 40 % nya akan meninggal akibat penyakit ini. Terdapat 134.000 kasus baru dan
55.000 kematian terjadi tiap tahunnya. Karsinoma kolorektal hampir seluruhnya adalah
adenokarsinoma, yang cenderung membentuk massa eksofitik yang besar, atau lesi yang
annular. Diperkirakan setengah dari kanker ini berlokasi pada regio rectosigmoid;
seperempatnya berlokasi di proximal caecum dan colon asenden. Kini diyakini bahwa
mayoritas karsinoma colorektal muncul dari transformasi malignan dari polip adenomatous.

Insidensi karsinoma kolon dan rektum cukup tinggi di Indonesia, demikian dengan angka
kematiannya. Insidens pada pria sebanding dengan wanita, dan lebih banyak pada orang muda.
Sekitar 75% diemukan di rektosigmoid. Di negara barat perbandingan lelaki : wanita = 3 : 1,
kurang dari 50% ditemukan di rektosigmoid dan merupakan penyakit orang usia lanjut.
Pemeriksaan colok dubur merupakan penentu karsinoma rektum.

7
Faktor Risiko

Beberapa faktor meningkatkan risiko perkembangan karsinoma kolorektal. Pengenalan


dari faktor faktor tersebut berdampak pada strategi screeningnya. Walaupun demikian, 75%
kasus baru terjadi pada orang-orang dimana faktor risikonya tidak diketahui. Faktor-faktor
tersebut antara lain :

1. Usia
Insidensi karsinoma kolorektal meningkat dengan tajam setelah usia 40 tahun, dan 90%
kasusnya terjadi diatas usia 50 tahun.

2. Riwayat Neoplasia
Adanya riwayat polip adenomatous ( khususnya bila multipel atau > 1 cm) akan
meningkatkan risiko subsequent adenoma dan karsinoma serta membutuhkan
pemeriksaan kolonoskopi periodik. Pasien dengan riwayat kanker kolon memiliki
risiko relatif 1.45 dalam perkembangannya menjadi karsinoma kolon sekunder.

3. Riwayat Keluarga
Riwayat karsinoma kolorektal pada keluarga terdapat pada 25% kasus. Risiko kanker
kolon sebanding dengan hubungan kekerabatan yang pertama. Orang yang mempunyai
hubungan kekerabatan yang kedua memiliki risiko terkena karsinoma kolon sebanyak
25% - 35%

4. Familial Polyposis Syndromes.


Kondisi autosomal dominan ini secara dramatis meningkatkan risiko perkembangan
karsinoma kolon. Namun, kejadian ini hanya terjadi pada 1% kasus karsinoma kolon.

5. Hereditary Non Polyposis Colorectal Cancer (HNPCC)


Ini merupakan kondisi autosomal dominan dimana secara nyata terdapat peningkatan

8
perkembangan karsinoma kolorektal juga beberapa karsinoma lainnya seperti
endometrium, ovarium, renal, pankreas, gaster dan usus halus. Ini terjadi pada sekitar
3% dari seluruh kanker kolorektal. Tidak seperti sindroma polyposis, pasien ini sedikit
atau tidak memiliki polip adenomatous yang dipercaya mengalami transformasi dengan
cepat menjadi kanker. Riwayat dari keluarga penting untuk mengidentifikasi anggota
yang terkena dan untuk memulai screening yang tepat.

6. Inflammatory Bowel Disease


Risiko adenokarsinoma kolon mulai muncul kira-kira 7 sampai 10 tahun setelah
terjadinya ulceratif kolitis dan crohns colitis. Risiko kumulatifnya mencapai 5%
sampai 10 % setelah 20 tahun dan 20% setelah 30 tahun.

7. Faktor Risiko Lain


Pasien yang pernah menderita kanker ginekologi atau Diabetes Mellitus memiliki
risiko yang sedang.

8. Faktor Proteksi
Faktor yang menurunkan risiko perkembangan karsinoma kolorektal adalah
penggunaan aspirin, NSAID, diet tinggi buah-buahan dan sayuran, asan folat, HMG-
CoA reduktase inhibitor, kalsium dan terapi pengganti hormon.

Etiologi

Beberapa kelainan di kolon dapat menyebabkan terjadinya karsinoma misalnya

a. Ada kemungkinan besar tumor jinak di kolon dapat mengalami degenerasi maligna,
terutama dari bentuk adenoma.
b. Familial polyposis, telah diketahui merupakan kondisi premaligna. Menurut catatan
Morgan 1955 70% dari poliposis akan mengalami degenerasi maligna.
c. Kolitis ulserativa, sering juga dapat menyebabkan karsinoma dari kolon dan yang
paling banyak terdapat di segmen proksimal dari kolon.
d. Virus, Mueller dkk. Pada pemeriksaan elektron mikroskop menemukan 3 tipe yang tak
biasanya yaitu, intracytoplasma particles. Satu atau lebih diantaranya mempunyai
subtansia aktif atau virus degeneratif.
e. Herediter, Macklin (1956) menemukan pada anak yang berasal dari orang tuanya yang
menderita karsinoma intestinal bahwa frekuensi 31/2 x lebih banyak daripada yang
orangtuanya sehat.

9
Kekurangan serat sayur-mayur hijau serta kelebihan lemak hewani dalam diet merupakan
faktor resiko karsinoma kolorektal.

Diagnosis
Anamnesis
Tidak ada gambaran khas dari karsinoma kolon. Gejalanya bermacam-macam
berlainan pada penderita satu dengan yang lainnya tergantung pada lokasinya.
Umumnya gejala pertama timbul karena penyulit, yaitu gangguan faal usus, obstruksi,
perdarahan atau akibat penyebaran.

Gejala klinis karsinoma pada kolon kiri berbeda dengan kolon yang kanan.

Karsinoma kiri sering bersifat skirotik sehingga lebih banyak menimbulkan stenosis
dan obtruksi, terlebih karena feces sudah menjadi padat. Pada karsinoma kolon kanan
jarang terjadi stenosis dan feces masih cair sehingga tidak ada faktor obstruksi.

Karsinoma kolon kiri dan rektum menyebabkan perubahan pola defekasi, seperti
konstipasi atau defekasi dengan tenesmi. Makin ke distal letak tumor, feces makin
menipis atau seperti kotoran kambing atau lebih cair disertai darah atau lendir.
Tenesmi merupakan gejala yang sering didapat pada karsinoma rektum. Perdarahan
akut jarang terjadi, demikian juga nyeri di daerah panggul berupa tanda penyakit
lanjut. Bila pada obstruksi, penderita flatus terasa lega di perut.

Gambaran klinis tumor sekum dan kolon asendens tidak khas. Dispepsia, kelemahan
umum, penurunan berat badan dan anemia merupakan gejala umum. Nyeri pada kolon
kiri lebih nyata pada kolon kanan. Tempat yang dirasakan sakit berbeda karena asal
embriogenik yang berlainan, yaitu dari usus tengah dan usus belakang. Nyeri dari
kolon kiri bermula di bawah umbilikus, sedangkan dari kolon kanan berasal dari
epigastrium.

Pemeriksaan tambahan ditujukan pada jalan kemih untuk kemungkinan tekanan ureter
kiri, atau infiltrasi ke kandung kemih, serta hati dan paru untuk metastasis.

Diagnosis banding untuk kelainan di rongga perut yang bergejala sama atau mirip
dengan karsinoma kolorektal adalah ulkus peptik, neoplasma lambung, kolesistitis,
abses hati, neoplasma hati, abses apendiks, massa apendikuler, amuboma, enteritis
regionalis, proktitis pascaradiasi dan polip rektum. Perforasi dan obstruksi merupakan

10
penyulit.

Pemeriksaan Fisik

Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba pada palpasi perut, bila teraba menunjukan
keadaan sudah lanjut. Massa di dalam sigmoid lebih jelas teraba daripada massa di bagian
lain kolon. Pemeriksaan colok dubur merupakan keharusan dan dapat disusul dengan
pemeriksaan rektosigmoidoskopi. Foto kolon dengan barium merupakan kelengkapan
dalam menegakan diagnosa. Biopsi dilakukan dengan endoskopi.

Pemeriksaan penunjang

Diagnosis karsinoma kolorektal ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,


colok dubur dan kolonoskopi atau foto kolon dengan kontras ganda. Kepastian
diagnosis berdasarkan hasil patologi anatomi.

Laboratorium :

LFT (liver function test) untuk evaluasi metastasis hepar pada post-op
CEA (Carcinomic Embryonic Antigen) harus diukur pada pasien dengan karsinoma
kolorektal biasanya kadarnya akan meningkat pada 70% pasien namun tidak
bekolerasi dengan stadium kanker. Setelah reseksi bedah yang lengkap, CEA
seharusnya akan normal. Namun CEA yang tetap meningkat menunjukkan
prognosis yang buruk. Peningkatan CEA setelah kadarnya normal menujukkan
adanya rekurensi. Walaupun demikian screening CEA setelah reseksi bedah bukan
merupakan sesuatu yang cost efektif

Kanker dapat dideteksi dengan barium enema atau kolonoskopi. Kolonoskopi


merupakan prosedur diagnostik yang seringkali dipilih oleh pasien yang klinisnya
menggambarkan karsinoma kolon. Kolonoskopi juga dapat digunakan untuk biopsi
sebagai konfirmasi patologi pada keganasan. Pada pasien dimana kolonoskopi tidak
dapat mencapai caecum (5% kasus) atau adanya obstruksi oleh tumor pada
kolonoskopi, pemeriksaan dengan barium enema dapat dilakukan.

Foto thorax digunakan untuk melihat adanya metastasis. Beberapa klinisi lebih memilih
untuk melakukan CT scan abdomen untuk membantu dalam staging preoperatif. Berbeda
dengan karsinoma rektal, MRI pelvis dan ultrasonografi endorektal menyediakan
informasi yang akurat dalam menentukan dalamnya penetrasi kanker pada dinding rektum

11
dan nodus limfatikus pararektal yang akan mempengaruhi manajemennya.

Diagnosis Banding

Gejala non spesifik dari karsinoma kolon dapat keliru dengan irritable bowel
syndrome, penyakit divertikular, iskhemik kolitis, inflammatory bowel disease, infectious
colitis dan hemorrhoid. Neoplasma harus disingkirkan pada pasien lebih dari 50 tahun yang
mengalami perubahan bowel habbit atau hematochezia atau yang mengalami anemia def. Fe
yang tidak jelas ataupun adanya darah samar pada faeces.

Staging

TNM (AJCC/UICC) staging system :


Tumor Primer (T)
- Tx : tumor primer belum dapat dipastikan
- T0 : belum ada bukti tumor primer
- T1 : terbatas pada mukosa/submukosa
- T2 : invasi ke tunika muskularis propia
- T3 : invasi ke viscera peritoneum

12
- T4 : invasi ke organ terdekat : prostate, vagina, sacrum
Regional Lymph Nodes (N) KGB regional
- Nx : KGB belum dapat dipastikan
- No : tidak terdapat metastase ke KGB
- N1 : metastase ke 1-3 KGB perikolik dan perirektal
- N2 : metastase ke 4 KGB perikolik dan perirektal
- N3 : metastase ke KGB manapun yang berada sepanjang pembuluh darah besar
Distant metastase (M) metastase jauh
- Mx : metastase belum dapat dipastikan
- M0 : tidak terdapat metastase
- M1 : metastase jauh

DUKES 1932
DukesA : Tumor primer pada dinding usus
DukesB : Penetrasi sampai lapisan serosa/ lemak
DukesC : C1 : keterlibatan nodul lokal
C2 : keterlibatan nodal regional
DukesD : Metastase jauh

Astler-coller modification :
Stage A : terbetas sampai mukosa
Stage B1 : mencapai ke muskularis propia tapi belum sampai penetrasi, nodul tidak
terlibat
Stage B2 : penetrasi muskularis propia, nodul tidak terlibat
Stage C1 : mencapai ke muskularis propia tapi belum sampai penetrasi, nodul terlibat
Stage C2 : penetrasi muskularis propia, nodul terlibat

13
Penatalaksanaan

STAGE 0
Eksisi polip
STAGE 1
Segmental colectomy
STAGES I DAN II : Localized Colon Carcinoma
Mayoritas pasien stage 1 dan 2 dapat sembuh dengan operasi. Beberapa pasien dengan
completely resected stage I mengalami rekurensi lokal atau jauh, anda adjuvant
chemotherapy tidak menambah survival pasien-pasien tersebut. 46 % pasien dengan
completely resected stage II meninggal. Karena itu adjuvant chemoterapy disarankan
pada dengan stage II (muda, histology tumor "high-risk"), data menunjukan
kontroversi apaah chemotherapy menambah survival pada pasien ini.
STAGE III : Lymph Node Metastasis
Pasien dengan keterlibatan lymph node sangat berisiko terjadi rekurensi baik lokal
ataupun jauh, dan adjuvant chemoterapy direkomendasikan pada pasien-pasien ini. 5-
FU based regimen (dengan levamisole atau leucovorin) meingurangi rekurensi dan
meningkatan survival
STAGE IV : Distant Metastasis
Walaupuan kemungkinan survital reate sangat kecil, angka survival meningkta
dengan reseksi. Metastases paling serting adalah liver, kedua paru-paru.
Sebagian pasien tidak dapat dilakukan reseksi, maka terapi paliatif adalah satu-satunya
pilihan
Semua pasien mebutuhkan adjuvant chemotherapy. Selain itu, rejimen
kemoterapi yang lebih baru telah memperbaiki respon dan penyusutan
tumor secara signifikan. Untuk alasan ini, beberapa ahli onkologi sekarang
menganjurkan kemoterapi tanpa reseksi tumor primer pada penyakit

14
stadium IV.

Peranan terapi ajuvan :


- Preoperative radiasi
- Menambah resektabilitas
- Menambah efek karena jaringan lebih vascularized dan oxygenated
- Menurunkan toksisitas karena usus halus mobile
- Teoritis : mengurangi implantasi sel-sel tumor selama manipulasi bedah

Terapi ajuvan :
- Kemoterapi dengan NIH (5 FU & levamisole) untuk stadium III
- Radioterapi : tidak terlalu berguna untuk kanker kolon
Reseksi carcinoma colon

- Ileocolic Resection :

resesksi terbatas terminal ileum, sekum dan appendix. Ileoceccal vessel diligasi. Usus
hasul di reseksi sepanjang penyakitnyaa. Anastomosis primer di buat diantara distal
usul halus dan asecnding colon.

- Right Colectomy :

digunakan untuk menghilangkan lesi atau penyakit di colon kanan dan secara onkologi
merupakan operasi paling cocok untuk reseksi proximal colon carsinoma. Ileoceccal
vessel, right colli vessel dan cabang kanan dari middle colic vessel diligasi. Sekitar 10
cm terminal ileum biasnya ikut di reseksi, anastomosis ileal transverse hampir selalu
dilakukan.

- Extended Right Colectomy :

digunakan untuk reseksi lesi yang berlokasi di hepatik flexure atau proximal transverse
colon. Extensi dari standar right colectomy mengikutsertakan ligasi dari middle collic
vessel pada dasarnya. Colon kanan dan proximal transverse colon di reseksi, dan
anastomosis primer dibuat diantara iostal ileum dan distal transeverse colon.
Anastomosis semacam itu bergantung pada arteri marjinal Drummond. Jika suplai
darah dipertanyakan, reseksi diperluas untuk mencakup lentur limpa dan anastomosis
ileum ke kolon desendens.

- Transverse Colectomy :

lesi di tengah dan di distal colon di reseksi dengan ligasi midlle colic vessel dan reseksi
transverse colon, diikuti dengan colocolonic anstomosis. Bagaimanapun Extended
Right Colectomy dengan anastomosis antara terminal ileum dan desending colon lebih
aman

15
- Left Colectomy :

digunakan untuk lesi di distal transverse colon, splenix plexure, atau desending colon

- Extended Left Colectomy :

untuk lesi di distal transeverse. Extensi dari left colectomy ke proximal


mengikutsertakan cabang kanan dari midlle colic vessel

- Sigmoid Colectomy :

Lesi pada kolon sigmoid memerlukan ligasi dan pembagian cabang sigmoid arteri
mesenterika inferior. Secara umum, seluruh kolon sigmoid harus direseksi ke tingkat
peritoneum dan anastomosis yang tercipta antara kolon desendens dan rektum atas.

- Total and Subtotal Colectomy dibutuhkan untuk fulminant colitis attnuates attenuated
FAP (AFAP), atau synchronous colon carcinomas

A. Cecal cancer.
B. Hepatic flexure
cancer.
C. Transverse colon
cancer.
D. Splenic flexure
cancer.
E. Descending colon
cancer.
F. Sigmoid colon
cancer.

16
Terminology
AC--- Ileocecectomy;
+ A + B D ---Ascending colectomy;
+ A + BF ---Right hemicolectomy;
+ A + BG--- Extended right
hemicolectomy;
+ E + FG + H ---Transverse colectomy;
GI---- Left hemicolectomy;
FI ---Extended left hemicolectomy;
J + K ---Sigmoid colectomy;
+ A + BJ--- Subtotal colectomy;
+ A + BK ---Total colectomy;
+ A + BL---- Total proctocolectomy

Edukasi pasien
Setelah dilakukan operasi pasien-pasien yang membutuhkan kemoterapi harus dijelaskan
bahwa pengobatan harus dilanjutkan dengan obat-obatan kemoterapi.
Pasien dengan stage III (Dukes C) pemberian kemoterapi menunjukan manfaat kelangsungan
hidup dan mnegurangi rekurensi.
Pasien dengan stage IV pemberian kemoterapi hanya bertujuan untuk meringankan penyakit.

17
LAPORAN KASUS

KEJANG DEMAM

Oleh:
dr. Devi Shilvia

18
Dokter Pendamping:
dr. Hj. Titin Ning Prihartini MH

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


KABUPATEN INDRAMAYU
2017

19
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal 30 Mei 2017 telah dipresentasikan portofolio oleh:

Nama Peserta : dr. Devi Shilvia


Dengan judul/topik : Kejang Demam Kompleks
Nama Pendamping : dr. Hj Titin Ning Prihartini MH
Nama Wahana : RSUD Indramayu

No Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan


1 Iin Farlina
2 Gisela Afriyani
3 Fortunata
4 Hanah Sajida
5 Addistyane puristasari
6 Devi Shilvia
7 Nurul Khotimah
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya

Pendamping

(dr. Hj Titin Ning Prihartini MH )

20