Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH

KERAJAAN ISLAM DI SUMATERA BARAT


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Sejarah

Disusun Oleh :
1. Deti S.
2. Euis R.
3. Samsudin
4. Egi Ferdiansyah
5. Luis Adriansyah

Kelas : X ELEKTRO

SMKN 1 CIPUNAGARA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara mengenai kapan dan siapa yang membawa islam di Sumatra selatan, bisa dikatakan
sebuah pertanyaan yang di anggap sacral. Why? Penulis berasumsi bahwasanya, sampai detik
ini belum ada bukti yang otentik akan masuknya islam di nusantara terkhusus di Sumatra-
selatan. Penulis berasumsi bahwa bukti-bukti dari sejarawan semisal, Hamka, Snowk, dan
lain-lain hanya meneliti berdasarkan bukti peninggalan saja dan kemudian di musawarohkan
atau diseminarkan oleh berbagai tokoh-tokoh sejarawan, semisal di medan pada tahun 1963
yang kemudian dari berbagai hasil seminar dipergunakan sebagai documenter hasil
penelitian.
Apakah para sejarawan itu salah dalam meneliti? Saya kira tidak. Sebab, masuk dan
berkembang islam di bumi nusantara ini tidak meninggalkan kitab, atau manuskrip-
manuskrip dan hanya meninggalkan Nisan, dan sebuah cultur. Sudah sangat bisa dipastikan
bahwasanya. Sejarawan pun lumayan kesulitan untuk menafsirkan atau meneliti secara
otentik. Bagitu pula dengan sebuah nisan, bagi penulis, Nisan pun perlu sekiranya mendapat
perhatian secara khusus. Alat yang mampu digunakan untuk meneliti barang kali di antaranya
metode dealektika dengan orang-orang terdahulu.

B. Rumusan Masalah
1. Sejarah masuknya islam di bumi Sumatra Barat ?
2. Bagaimana keadaan masyarakat sumatra sebelum masuknya islam ?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Masuknya Islam Di Sumatera Barat
2. Untuk Mengetahui Sejarah Kerajaan Islam Di Sumatera Barat

BAB II
PEMBAHASAN
Islam Di Sumatera Barat
Islam di Sumatera Barat adalah agama yang dipeluk oleh sekitar 98% penduduk Sumatera
Barat.[1] Persentase pemeluk Islam di Sumatera Barat akan meningkat menjadi 99,6% jika
kabupaten Kepulauan Mentawai tidak dimasukkan karena 1,4% dari 2% yang tidak menganut
Islam merupakan penghuni kabupaten tersebut.

Sejarah

Masuknya Islam

Agama Islam pertama kali memasuki Sumatera Barat pada abad ke-7, dimana pada tahun 674
telah didapati masyarakat Arab di pesisir timur pulau Sumatera. Selain berdagang, secara
perlahan mereka membawa masuk agama Islam ke dataran tinggi Minangkabau atau
Sumatera Barat sekarang melalui aliran sungai yang bermuara di timur pulau Sumatera,
seperti Batang Hari.

Perkembangan

Perkembangan agama Islam di Sumatera Barat menjadi sangat pesat setelah kesultanan Aceh
diperintah oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar, yang berhasil meluaskan wilayahnya
hampir ke seluruh pantai barat Sumatera. Sehingga pada abad ke-13, Islam mulai memasuki
Tiku, Pariaman, Air Bangis, dan daerah pesisir Sumatera Barat lainnya. Islam kemudian juga
masuk ke daerah pedalaman atau dataran tinggi Minangkabau yang disebut "darek". Di
kawasan daerak pada saat itu berdiri kerajaan Pagaruyung, dimana kerajaan tersebut mulai
mendapat pengaruh Islam sekitar abad ke-14. Sebelum Islam diterima secara luas,
masyarakat yang ada di sekitar pusat kerajaan dari beberapa bukti arkeologis menunjukan
pernah memeluk agama Buddha dan Hindu terutama sebelum memasuki abad ke-7.

Perang Padri
Sejak abad ke-16, agama Islam telah dianut oleh seluruh masyarakat Minangkabau baik yang
menetap di Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat. Jika ada masyarakatnya keluar
dari agama Islam atau murtad, secara langsung yang bersangkutan juga dianggap keluar dari
masyarakat Minangkabau. Namun hingga akhir abad ke-17, sebagian dari mereka terutama
yang ada di lingkungan kerajaan, belum sepenuhnya menjalankan syariat Islam dengan
sempurna dan bahkan masih melakukan perbuatan yang dilarang dalam Islam. Mengetahui
hal tersebut, ulama-ulama Minangkabau yang saat itu disebut Kaum Padri dalam suatu
perundingan mengajak masyarakat di sekitar kerajaan Pagaruyung terutama Raja Pagaruyung
untuk kembali ke ajaran Islam. Namun perundingan tersebut pada tahun 1803 berujung
kepada konflik yang dikenal sebagai Perang Padri.

Perang Padri melibatkan sesama masyarakat Minang, yaitu antara Kaum Padri dan Kaum
Adat. Setelah 20 tahun konflik belangsung, pada tahun 1833 terjadi penyesalan di Kaum
Adat[2] karena telah mengundang Belanda 12 tahun sebelumnya,[3] yang selain mengakibatkan
kerugian harta dan mengorbankan jiwa raga, juga meruntuhkan kekuasaan Pagaruyung. Saat
itu, Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol mulai merangkul Kaum Adat, dan
terjadilah suatu kesepakatan di antara kedua pihak untuk bersatu melawan Belanda. Tidak
hanya itu, Kaum Adat dan Kaum Padri juga mewujudkan konsesus bersama, yaitu "Adat
basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" (Adat berlandaskan ajaran Islam, ajaran Islam
berlandaskan Al-Qur'an).[4]

Kerajaan Pagaruyung disebut juga sebagai Kerajaan Minangkabau yang merupakan


salah satu Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang
dan daerah-daerah di sekitarnya. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh Adityawarman sejak
tahun 1347. Dan sekitar tahun 1600-an, kerajaan ini menjadi Kesultanan Islam.
Munculnya nama Pagaruyung sebagai sebuah kerajaan Melayu tidak dapat diketahui
dengan pasti. Namun dari beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman,
menunjukan bahwa Adityawarman memang pernah menjadi raja di negeri tersebut.
Pengaruh Islam di Pagaruyung berkembang kira-kira pada abad ke-16, yaitu melalui
para musafir dan guru agama yang singgah atau datang dari Aceh dan Malaka. Salah satu
murid ulama Aceh yang terkenal Syaikh Abdurrauf Singkil (Tengku Syiah Kuala), yaitu
Syaikh Burhanuddin Ulakan, adalah ulama yang dianggap pertama-tama menyebarkan agama
Islam di Pagaruyung. Pada abad ke-17, Kerajaan Pagaruyung akhirnya berubah menjadi
kesultanan Islam. Raja Islam yang pertama dalam tambo adat Minangkabau disebutkan
bernama Sultan Alif.
Dengan masuknya agama Islam, maka aturan adat yang bertentangan dengan ajaran
agama Islam mulai dihilangkan dan hal-hal yang pokok dalam adat diganti dengan aturan
agama Islam. Pepatah adat Minangkabau yang terkenal: "Adat basandi syarak, syarak basandi
Kitabullah", yang artinya adat Minangkabau bersendikan pada agama Islam, sedangkan
agama Islam bersendikan pada Al-Quran.
Pengaruh agama Islam membawa perubahan secara fundamental terhadap adat
Minangkabau. Tetapi sejak kapan pengaruh Islam memasuki tubuh adat Minangkabau secara
pasti, masih sukar dibuktikan.
Islam juga membawa pengaruh pada sistem pemerintahan kerajaaan Pagaruyung
dengan ditambahnya unsur pemerintahan seperti Tuan Kadi dan beberapa istilah lain yang
berhubungan dengan Islam. Penamaan nagari Sumpur Kudus yang mengandung kata kudus
yang berasal dari kata Quduus (suci) sebagai tempat kedudukan Rajo Ibadat dan Limo Kaum
yang mengandung kata qaum jelas merupakan pengaruh dari bahasa Arab atau Islam.
Selain itu dalam perangkat adat juga muncul istilah Imam, Katik (Khatib), Bila (Bilal),
Malin (Mu'alim) yang merupakan pengganti dari istilah-istilah yang berbau Hindu dan
Buddha yang dipakai sebelumnya.

Runtuhnya Pagaruyung
"Dari reruntuhan kota (Pagaruyung) ini menjadi bukti bahwa di sini pernah berdiri sebuah
peradaban Melayu yang luar biasa, menyaingi Jawa, situs dari banyak bangunan kini tidak
ada lagi, hancur karena perang yang masih berlangsung".
Pendapat dari Thomas Stamford Raffles.
Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat-saat menjelang perang Padri,
meskipun raja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke dalam pengaruh
Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi kerajaan merdeka meskipun
resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung.
Pada awal abad ke-19 pecah konflik antara Kaum Padri dan Kaum Adat. Dalam beberapa
perundingan tidak ada kata sepakat antara mereka. Seiring itu dibeberapa negeri dalam
kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan puncaknya Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku
Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815. Sultan Arifin Muningsyah terpaksa
menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan ke Lubuk Jambi.[30][31]
Karena terdesak oleh Kaum Padri, keluarga kerajaan Pagaruyung meminta bantuan kepada
Belanda, dan sebelumnya mereka telah melakukan diplomasi dengan Inggris sewaktu Raffles
mengunjungi Pagaruyung serta menjanjikan bantuan kepada mereka. [2] Pada tanggal 10
Februari 1821[4] Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah, yaitu kemenakan dari Sultan Arifin
Muningsyah yang berada di Padang,[21] beserta 19 orang pemuka adat lainnya
menandatangani perjanjian dengan Belanda untuk bekerja sama dalam melawan Kaum Padri.
Walaupun sebetulnya Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tidak berhak
membuat perjanjian dengan mengatasnamakan kerajaan Pagaruyung.[2] Akibat dari perjanjian
ini, Belanda menjadikannya sebagai tanda penyerahan kerajaan Pagaruyung kepada
pemerintah Belanda.[17] Kemudian setelah Belanda berhasil merebut Pagaruyung dari Kaum
Padri, pada tahun 1824 atas permintaan Letnan Kolonel Raaff, Yang Dipertuan Pagaruyung
Raja Alam Muningsyah kembali ke Pagaruyung, namun pada tahun 1825 Sultan Arifin
Muningsyah, raja terakhir di Minangkabau ini, wafat dan kemudian dimakamkan di
Pagaruyung.[21]

Pasukan Belanda dan Padri saling berhadapan di medan perang. Lukisan sekitar tahun 1900.
Sementara Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah pada sisi lain ingin diakui sebagai Raja
Pagaruyung, namun pemerintah Hindia Belanda dari awal telah membatasi kewenangannya
dan hanya mengangkatnya sebagai Regent Tanah Datar.[21] Kemungkinan karena kebijakan
tersebut menimbulkan dorongan pada Sultan Tangkal Alam Bagagar untuk mulai memikirkan
bagaimana mengusir Belanda dari negerinya.[2]
Setelah menyelesaikan Perang Diponegoro di Jawa, Belanda kemudian berusaha
menaklukkan Kaum Padri dengan kiriman tentara dari Jawa, Madura, Bugis dan Ambon.[32]
Namun ambisi kolonial Belanda tampaknya membuat kaum adat dan Kaum Padri berusaha
melupakan perbedaan mereka dan bersekutu secara rahasia untuk mengusir Belanda. Pada
tanggal 2 Mei 1833 Sultan Tangkal Alam Bagagar ditangkap oleh Letnan Kolonel Elout di
Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Ia dibuang ke Batavia (Jakarta sekarang) sampai
akhir hayatnya, dan dimakamkan di pekuburan Mangga Dua.[33]
Setelah kejatuhannya, pengaruh dan prestise kerajaan Pagaruyung tetap tinggi terutama pada
kalangan masyarakat Minangkabau yang berada di rantau. Salah satu ahli waris kerajaan
Pagaruyung diundang untuk menjadi penguasa di Kuantan. [34] Begitu juga sewaktu Raffles
masih bertugas di Semenanjung Malaya, dia berjumpa dengan kerabat Pagaruyung yang
berada di Negeri Sembilan, dan Raffles bermaksud mengangkat Yang Dipertuan Ali
Alamsyah yang dianggapnya masih keturunan langsung raja Minangkabau sebagai raja di
bawah perlindungan Inggris.[2] Sementara setelah berakhirnya Perang Padri, Tuan Gadang di
Batipuh meminta pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan kedudukan yang lebih tinggi
daripada sekadar Regent Tanah Datar yang dipegangnya setelah menggantikan Sultan
Tangkal Alam Bagagar, namun permintaan ini ditolak oleh Belanda, [35] hal ini nantinya
termasuk salah satu pendorong pecahnya pemberontakan tahun 1841 di Batipuh selain
masalah cultuurstelsel.[21]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah Penyebaran Islam di Sumatera Barat polanya sama seperti di wilayah-wilayah
Nusantara lainnya, yakni berawal dari pantai. Kota pelabuhan yang paling besar kala itu
adalah Nagari Ulakan, Pariaman. Kapan Islam masuk ke Sumbar? Berdasarkan hasil seminar
sejarah Islam yang diselenggarakan oleh sejarawan dan Ulama- Ulama besar nasional, pada
tanggal 23-27 Juli 1969 di Padang, bahwa Islam di ranah Minangkabau pada abad pertama
Hijriyah atau abad ke 7-8 Masehi. Dugaan terkuat Islam di bawa oleh para pedagang dari
Negeri Yaman dan Madagaskar, lalu masuk melalui bagian timur Minangkabau. Bermula dari
Minangkabu, kemudian Islam berkembang luas hingga mencapai semenanjung Malaya,
Serawak, Sabah, Brunei, Kalimantan selatan, bagian selatan Philipina, hingga wilayah
Selatan Sulawesi. Islam terus berkembang pesat hingga abad ke-16, sejalan dengan pesatnya
arus perdagangan barang antar negara kala itu. Tak bisa dipungkiri, bahwa semua ini terjadi
berkat peranan pedagang (sambil berdagang, mereka menyebarkan agama Islam) baik
pedagang lokal maupun dari belahan benua lainnya, seperti pedagang Madagaskar, Yaman,
Hadramaut. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa dua wilayah nusantara yang
paling terkemuka sebagai basis penyebaran Islam, yakni Minangkabau dan Aceh. Karena
kedua wilayah ini banyak mencetak ulama- ulama kelas dunia, yang terus disebarkan oleh
para murid-muridnya yang berasal dari Thailand, Malaka dan Philipina.

B. Saran
Kami selaku penulis menyarankan bahwa setelah membaca makalah ini diharapkan
agar pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang sejarah perkembangannya islam di
Sumatera Barat

Kata Pengantar
Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada
waktunya. Makalah ini membahas Tentang Kerajaan Islam Di Sumatera Barat
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan
akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang
setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Subang, 02 Mei 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

Bab I Pembahasan

Kerajaan Islam Di Sumatera Barat

Bab III Penutup

A. Kesimpulan

B. Saran

Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA

https://dimasivantrisetyo.blogspot.co.id/2017/01/makalah-kerajaan-islam-di-
sumatra.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung

https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Sumatera_Barat