Anda di halaman 1dari 23

AKUNTANSI TRANSAKSI SALAM DAN ISTISHNA

AKUNTANSI TRANSAKSI SALAM DAN ISTISHNA

A. AKUNTANSI SALAM
1. Pengertian Salam
Pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari sementara pembayaran dilakukan di
muka atau Salam dalam akuntansi syariah adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih)
dengan pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan
oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan penangguhan pengiriman oleh
penjual dan pelunasannya dilakukan secara segera oleh pembelian sebelum barang pesanan
tersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika
bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan
barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam peralel.
Salam parallel dapat dilakukan dengan syarat:
1. Akad kedua antara bank dan pemasok terpisah dari akad pertama antara bank dan pembeli akhir,
dan
2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
Bank sebagai pembeli
Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dilihat kepada
penjual. Modal usaha salam dapat berupa kas dan aktiva non kas. Modal usaha salam dapat
berbentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal usaha salam dalam
bentuk aktiva non kas diukur sebesar nilai wajar (nilai yang disepakati antara bank dan nasabah).
Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut:
1. Jika barang pesanan sesuai dengan akad dilihat sesuai nilai yang disepakati
2. Jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka:
a. Barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan akad, jika nilai pasar (nilai wajar jika nilaii
pasar tidak tersedia) dari barang pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari nilai
barang pesanan yang tercantum didalam akad
b. Barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai pasar (nilai wajar jika nilai pasar tidak tersedia)
pada saat diterima dan selisihnya diakui sebagai kelebihan, jika nilai pasar dari barang pesanan
lebih rendah dari barang pesanan yang tercantum dalam akad
3. Jika bank tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada tanggal jatuh tempo
pengiriman, maka:
a. Jika tanggal pengiriman diperpanjang nilai tercatat piutang salam sebesar bagian yang belum
dipenuhi tetap sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad
b. Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam berubah menjadi
piutang yang harus dilunasi oleh nasabah sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi.
c. Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan bank mempunyai jaminan atas barang
pesanan serta hasil penjualan jaminan tersebut lebih kecil dari nilai tercatat piutang salam dan
hasil penjualan tersebut diakui sebagai piutang kepada nasabah yang telah jatuh tempo.
d. Bank dapat menggunakan denda kepada nasabah.
Bank sebagai penjual
Utang salam diakui pada saat bank menerima modal usaha salam yang diterima. Modal
usaha salam yang diterima dapat berupa kas dan aktiva non kas. Modal usaha salam dalam
bentuk aktiva non kas diukur sebesar nilai wajar.
2. Rukun Salam
a. Muslam (pembeli)
b. Muslam alaih atau penjual
c. Modal atau uang
d. Muslam fihi (barang)
e. Sighat (ucapan)
3. Contoh soal:
Pada tanggal 1 april 2008, seorang petani datang pada bank syariah untuk mendapatkan
pembiayaan salam.dia memiliki sawah 2 ha yang bisa ditanami.Dia mengajukan dana sebesar
Rp. 10.000.000. yg digunakan untuk memebeli bibit padi dan pemeliharaan. Perkiraan untuk 2 ha
sawah, bisa menghasilkan 6 ton beras sudah digiling, bila dijual per-kg nya Rp. 4000. dia akan
menyerahkan beras 3 bulan lagi.
Jawab:
Bank akan mendapatkan beras Rp. 10.000.000/4.000=Rp. 2500kg. beras tersebut dapat
dijual kembali pada pihak ke 3 dengan harga Rp/4.400/kg. jadi total pendapatan Rp. 4.400 x
2.500kg=Rp.11.000.000. Jadi keuntunganya: Rp. 11.000.000-Rp. 10.000.000= Rp. 1.000.000.
Dijurnal:
Saat bank membayarkan dana:
Piutang salam Rp. 10.000.000
Kas Nasabah Rp.10.000.000

Pada saat bank menerima beras 2500kg


Barang dagangan salam Rp.10.000.000
Piutang salam Rp. 10.000.000

Pada saat penjualan pada puhak ke 3


Kas Rp. 11.000.000
Barang dagangan salam Rp. 10.000.000
Keuntungan salam Rp. 1.000.000

B. AKUNTANSI ISTISHNA
1. Definisi Istishna
Bai istishna atau biasa disebut dengan istishna merupakan kontrak jual beli dalam bentuk
pemesanan pembuatan barang tertentu dengan criteria dan persyaratan tertentu yang disepakati
antara pemesan (pembeli/mustashni) dan penjual (penjual).
Dalam dunia perbankan syariah, transaksi istishna memiliki kemiripan dengan transaksi
salam, dalam hal barang yang dibeli belum ada pada saat transaksi, melainkan harus dilunasi
terlebih dahulu. Berbeda dengan transaksi salam yang barangnya adalah hasil pertanian, pada
transaksi istishna, barang yang diperjualbelikan biasanya adalah barang manufactur. Adapun
dalam hal pembayaran, transaksi istishna dapat dilakukan dimuka, melalui cicilan, atau
ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.
2. Hukum Istishna
Menurut mazhab hanafi, istishna hukumnya boleh karena hal itu telah dilakukan oleh
masyarakat muslim tanpa ada ulama yang mengingkarinya.
3. Antara Teori dan Realita
Penggunaan akad istishna oleh perbankan syariah relative masih minim.
4. Pengakuan & Pengukuran
Menurut PSAK 104, pada pihak penjual, biaya Istishna terdiri dari biaya langsung dan
biaya tidak langsung. Biaya pra akad diakui sebagai biaya ditangguhkan dan diperhitungkan
sebagai biaya istishna untuk akad yang ditandatangani, tetapi jika akad tidak jadi ditandatangani
maka biaya tersebut dibebankan pada periode berjalan. Biaya istishna yang terjadi selama
periode laporan keuangan, diakui sabagai aktiva istishna dalam penyelesaian pada saat
terjadinya.
Biaya stishna paralel terdiri dari biaya perolehan barang pesanan, biaya tidak langsung
dan (jika ada) semua biaya akibat sub-kontraktor tidak dapat memenuhi kewajibannya. Biaya
istishna paralel diakui sabagai aktiva istishna dalam penyelesaian pada saat diterimanya tagihan
dari subkontraktor sebesar jumlah tagihan. Tagihan setiap termin kepada pembeli akhir diakui
sebagai piutang istishna dan sebagai termin istishna (istishna billing) pada pos lawannya.
Jika pembeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan penjual
memberikan potongan, maka potongan tersebut sebagai pengurang pendapatan istishna.
Pengakuan Pendapatan dapat diakui dengan 2 metode:
1. Metode persentase penyelesaian
Sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan seiring dengan proses penyelesaian berdasarkan
akad istishna, nilai akad sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan diakui sebagai
pendapatan istishna pada periode yang bersangkutan.
2. Metode akad selesai
Sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan ketika proses pekerjaan telah diselesaikan.
Pendapatan diakui berdasarkan persentase akad yang telah diselesaikan, biasanya menggunakan
dasar persentase pengeluaran biaya dibandingkan dengan total biaya, kemudian persentase
tersebut dikalikan dengan nilai akad.
5. Akuntansi Istishna
Contoh kasus: untuk membangun sebuah bagunan
Transaksi istishna pertama: antara nasabah dengan bank
Harga bangunan: Rp. 150.000.000
Termin pembayaran: 5 termin sebesar @ 30.000.000

Transaksi istishna kedua: antara bank dengan pemasok (kontraktor)


Harga bangunan: Rp. 130.000.000
Termin pembayaran: 3 termin sebesar: 20%= 26.000.000 dan 30%= 39.000.000 dan 50%=
65.000.000
6. Neraca Awal Perbankan Syariah
Aktiva Passiva
Aset Utang
Kas 175 jt Tabungan wadiah 75 jt
Penempatan pada BI - Giro wadiah -
Giro pada bank lain - Hutang salam -
Piutang murabahah, salam & Hutang istisna -
istishna - Investasi tidak terikat
Pembiayaan mudharabah- Tabungan mudharabah 25 jt
musyarakah 25 jt Deposito mudharabah -
Persediaan - Tab. & deposit dari bank lain -
Asset tetap dan akm penyusutan Musyarakah -
- Modal
Modal disetor 100 jt
Laba ditahan -
Jumlah 200 jt Jumlah 200 jt

1. Untuk keperluan survey bank telah mengeluarkan sejumlah dana, hal yang demikian di kemudian
hari akan diakui sebagai biaya overhead ssebagai penambah jumlah harga perolehan barang
istishna
Beban praakad yang Rp. 2 jt
Kas Rp.2 jt
2. Saat penandatangan akad sebagai bentuk jadinya akad diteruskan
Biaya istishna Rp. 2 jt
Beban praakad yang ditangguhka Rp. 2 jt
3. Saat menerima barang dari pemasok, karena pemasok telah menyelesaikan 20% pembangunan,
dan diakui dengan hutang
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 26 juta
Utang Rp. 26 juta
4. Pembayaran barang kepada pemasok
Utang istishna Rp. 26 juta
Kas Rp. 26 juta
5. Pengakuan pendapatan istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 4 juta
Harga pokok istishna Rp. 26 juta
Pendapatan margin istishna Rp. 30 juta
6. Saat menerima barang dari pemasok, karena pemasok telah menyelesaikan 30% pembangunan,
dan diakui dengan hutang
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 39 juta
Utang istishna Rp. 39 juta
7. Pembayaran barang kepada pemasok
Utang istishna Rp. 39 juta
Kas Rp. 39 juta
8. Pengakuan pendapatan istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 6 juta
Harga pokok istishna Rp. 39 juta
Pendapatan margin istishna Rp. 45 juta
9. Saat menerima barang dari pemasok, karena pemasok telah menyelesaikan 50% pembangunan,
dan diakui dengan hutang
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 65 juta
Utang istishna Rp. 65 juta
10. Pembayaran barang kepada pemasok
Utang istishna Rp. 65 juta
Kas Rp. 65 juta
11. Pengakuan pendapatan istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 10 juta
Harga pokok istishna Rp. 65 juta
Pendapatan margin istishna Rp. 75 juta
12. Penagihan piutang istishna dan menerima pembayaran piutang istishna dari pembeli (nasabah)
selama 5 kali termin, maka sebenarnya jurnal ini dibut sebanyak 5 kali sesuai tanggal terminnya,
namun disini dilakukan penyingkatan menjadi Satu
Piutang istishna Rp. 30 juta
Termin istishna Rp. 30 juta
13. Menerima pembayaran termin istishna dari pembeli (5 kali jurnal sesuai termin)
Kas Rp. 30 juta
Piutang istishna Rp. 30 juta
Termin istishna Rp. 30 juta
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 30 juta
7. Buku Besar
Kas
No Debet Kredit
1 2 juta
3 26 juta
4 39 juta
5 65 juta
6 30 juta x 5
Jumlah 150.000.000 132.000.000
Kelebihan di debet 18.000.000

Beban pra akad yg ditangguhkan


No debet kredit
1 2 juta
2 2 juta
Balance

Biaya istishna
No Debet Kredit
2 2 juta
Kelebihan di debet 2 juta

Asset istishna dalam penyelesaian


No Debet kredit
3 26 juta
3 4 juta
4 39 juta
4 6 juta
5 65 juta
5 10 juta
6 30 juta x 5
Balance
Utang Istishna
No Debet Kredit
3 26 juta
3 26 juta
4 39 juta
4 39 juta
5 65 juta
5 65 juta
Balance

Harga pokok istishna


No Debet Kredit
3 26 juta
4 39 juta
5 65 juta
Kelebihan di debet 130.000.000

Pendapatan margin istishna


No Debet Kredit
3 30 juta
4 45 juta
5 75 juta
Kelebihan pada kredit 150.000.000

Piutang istishna
No Debet Kredit
6 30 juta x 5
6 30 juta x 5
Balance

Termin istishna
No Debet kredit
6 30 juta x 5
6 30 juta x 5
Balance

8. NERACA SALDO
Nama rekening Debet Kredit
Kas 18.000.000
Biaya istishna 2.000.000
HPP istishna 130.000.000
Pendapatan margin istishna 150.000.000
Saldo 150.000.000 150.000.000
balance

9. LAPORAN RUGI/LABA
Pendapatan margin istishna 150.000.000
HPP istishna (130.000.000)
Laba kotor 20.000.000
Biaya istishna (2.000.000)
Laba bersih 18.000.000

10. NERACA AKHIR PERBANKAN SYARIAH


Aktiva Passiva
Aset Utang
Kas 193 jt Tabungan wadiah 75 jt
Penempatan pada BI - Giro wadiah -
Giro pada bank lain - Hutang salam -
Piutang murabahah, salam & Hutang istisna -
istishna - Investasi tidak terikat
Pembiayaan mudharabah- Tabungan mudharabah 25 jt
musyarakah 25 jt Deposito mudharabah -
Persediaan - Tab. & deposit dari bank lain -
Asset tetap dan akm penyusutan Musyarakah -
- Modal
Modal disetor 100 jt
Laba ditahan 18 jt
Jumlah 218 jt Jumlah 218 jt

11. Istishna Dengan Pembayaran Tangguh


Apabila pembeli (nasabah) meminta agar pembayarannya dilakukan secara tangguh
(nyicil) selama 3 tahun, maka bank mengenakan kesepakatan dengan pembayaran selama 3
tahun tersebut sebesar 190.000.000, dan bukan lagi 150.000.000 sebagaimana kasus sebelumnya.
Maka jurnalnya adalah sebagai berikut:
1. Saat pengakuan pengeluaran untuk memperoleh istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 130 juta
Kas Rp. 130 juta
2. Jurnal saat pengakuan pendapatan
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 20 juta
Harga pokok istishna Rp. 130 juta
Pendapatan istishna Rp. 150 juta
3. Jurnal saat penagihan dan penyerahan asset istishna kepada pembeli
Piutang istishna Rp. 150 juta
Termin Istishna Rp. 150 juta
Piutang istishna Rp. 40 juta
Pendapatan istishna yang ditangguhkan Rp. 40 juta
Termin istishna Rp. 150 juta
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 150 juta
4. Pembayaran bulanan
190.00.0 3 tahun = 5.277.778 /bulan
190.01.0 Pendapatan /bulan = 40.000.000 : 3 tahun = 1.111.111
5. Jurnal saat pembayaran oleh pembeli
Kas Rp. 5.277.778
Piutang istishna Rp. 5.277.778
Pendapatan istishna yang ditangguhkan Rp. 1.111.111
Pendapatan istisna Rp. 1.111.111
6. Pemberian potongan saat pembeli melunasi lebih awal, saat sisa piutang berjumlah Rp.
63.333.333, yaitu dengan potongan sebesar 10.000.000
cara I :
kas Rp. 53.333.333
potongan istishna Rp. 10 juta
piutang istishna Rp. 63.333.333
cara II:
kas Rp. 63.333.333
piutang Istishna Rp. 63.333.333
pendapatan istishna tangguh Rp. 13 juta
kas Rp. 10 juta
pendapatan istishna Rp. 3.333.333

DAFTAR PUSTAKA
http://ekonomipolitikislam.blogspot.com/2010/08/akuntansi-istishna-paralel-perbankan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Salam_%28akuntansi%29
http://supriakuntansisy.blogspot.com/2011/07/akuntansi-salam.html
Senin, 07 Januari 2013
Salam dan Istishna'
Diposkan oleh Scar's Blog di 22.31
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bentuk-bentuk akad jual beli yang telah dibahas para ulama dalam fiqih muamalah

islamiah terbilang sangat banyak. Jumlahnya bisa mencapai belasan bahkan sampai puluhan.

Sungguhpun demikian, dari sekian banyak itu, ada tiga jenis jual beli yang telah dikembangkan

sebagai sandaran pokok dalam pembiayaan modal kerja dan investasi dalam perbankan syariah

yaitu murabahah, as-salam, dan al-istishna.

Kegiatan yang dilakukan perbankan syariah antara lain adalah penghimpunan dana,

penyaluran dana, membeli, menjual dan menjamin atas resiko serta kegiatan-kegiatan lainnya.

Pada perbankan syariah, prinsip jual beli dilakukan melalui perpindahan kepemilikan barang.

Tingkat keuntungan bank ditentukan di depan dan menjadi salah satu bagian harga atas barang

yang dijual. Transaksi jual beli dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu

penyerahan barang.
Pada makalah ini akan dibahas jenis pembiayaan salam dan istishna. Jual beli dengan

salam dan istishna ini, akadnya sangat jelas, barangnya jelas, dan keamanannya juga jelas. Maka

jual beli salam dan istishna wajar jika masih banyak diminati.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian as-salam dan al-istishna serta dasar hukumnya?

2. Apa rukun dan syarat dari as-salam dan al-istishna?

3. Bagaimana perbedaan as-salam dan al-istishna ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian as-salam dan al-istishna serta dasar hukumnya.

2. Untuk mengetahui rukun dan syarat as-salam dan al-istishna.

3. Untuk mengetahui perbedaan as-salam dan al-istishna?


BAB II

PEMBAHASAN

A. AS-SALAM

1. Pengertian As-Salam dan Dasar Hukumnya

Secara bahasa as-salam atau as-salaf berarti pesanan. Secara terminologis para ulama

mendefinisikannya dengan: Menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual

suatu (barang) yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan

barangnya diserahkan kemudian hari.[1]

Untuk hal ini para fuqaha (ahli hukum islam) menamainya dengan Al-Mahawiij yang

artinga barang mendesak, sebab dalam jual beli ini barang yang menjadi objek perjanjian jual

beli tidak ada ditempat, sementara itu kedua belah pihak telah sepakat untuk melakukan

pembayaran terlebih dahulu.

Dalam perjanjian As-Salam ini pihak pembeli barang disebut As-Salam (yang

menyerahkan), pihak penjual disebut Al-Muslamuilaihi (orang yang diserahi), dan barang yang

dijadikan objek disebut Al-Muslam Fiih (barang yang akan diserahkan), serta harga barang yang

diserahkan kepada penjual disebut Rasu Maalis Salam (modal As-Salam).[2]

Adapun yang menjadi dasar hukum pembolehan perjanjian jual beli dengan pembayaran

yang didahulukan ini disandarkan pada surat Al-Baqarah ayat 282:[3]


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu

yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara

kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana

Allah mengajarkannya

Disamping itu terdapat juga ketentuan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang

artinya berbunyi :

Siapa yang melakukan salaf, hendaklah melaksanakannya dengan takaran yang jelas

dan timbangan yang jelas pula, sampai dengan batas waktu tertentu.[4]

Dari ketentuan hukum diatas, jelas terlihat tentang pembolehan pembayaran yang

didahulukan.

Pembiayan salam diutamakan untuk pembelian dan penjualan hasil produksi pertanian,

perkebunan, dan peternakan. Petani dan peternak pada umumnya membutuhkan dana untuk

modal awal dalam melaksanakan aktivitasnya, sehingga bank syariah dapat memberikan dana

pada saat akad. Setelah hasil panen, maka nasabah akan membayar salam kembali. Dengan

melakukan transaksi salam, maka petani dan peternak dapat mengambil manfaat tersebut.

2. Rukun dan Syarat Jual Beli As-Salam

1) Muaqidain : Pembeli (muslam) dan penjual ( muslam ilaih)

a. Cakap bertindak hukum ( baligh dan berakal sehat).

b. Muhtar ( tidak dibawah tekanan/paksaan).

2) Obyek transaksi ( muslam fih):

a. Dinyatakan jelas jenisnya

b. Jelas sifat-sifatnya
c. Jelas ukurannya

d. Jelas batas waktunya

e. Tempat penyerahan dinyatakan secara jelas

3) Sighat ijab dan qabul

4) Alat tukar/harga

a. Jelas dan terukur

b. Disetujui kedua pihak

c. Diserahkan tunai/cash ketika akad berlangsung

3. Skema As-Salam

Menurut Fiqh :

Pesan, lalu bayar

Penyerahan barang sesuai


kesepakatan

Dalam praktek perbankan :


Pesan, lalu

bayar

Penyerahan barang sesuai

kesepakatan

Jual dengan harga

yang lebih tinggi

Contoh kasus :

Seorang petani memiliki 2 hektar sawah mengajukan pembiayaan ke bank sebesar Rp

5.000.000,00. Penghasilan yang didapat dari sawah biasanya berjumlah 4 ton dan beras dijual

dengan harga Rp 2.000,00 per kg. ia akan menyerahkan beras 3 bulan lagi. Bagaimana

perhitungannya?

Bank akan mendapatkan beras Rp 5juta dibagi Rp 2.000,00 per kg = 2.5 ton. Setelah melalui

negoisasi bank menjual kembali pada pihak ke 3 dengan harga Rp 2.400,00 per kg yang berarti

total dana yang kembali sebesar Rp 6juta. Sehingga bank mendapat keungtungan 20%.
B. AL-ISTISHNA

1. Pengertian Al-Istishna

Al-Istishna adalah akad jual beli pesanan antara pihak produsen / pengrajin / penerima

pesanan ( shani) dengan pemesan ( mustashni) untuk membuat suatu produk barang dengan

spesifikasi tertentu (mashnu) dimana bahan baku dan biaya produksi menjadi tanggungjawab

pihak produsen sedangkan sistem pembayaran bisa dilakukan di muka, tengah atau akhir.

Secara umum landasan syariah yang berlaku pada bai as-salam juga berlaku pada bai

al-istishna. Menurut Hanafi, bai al-istishna termasuk akad yang dilarang karena mereka

mendasarkan pada argumentasi bahwa pokok kontrak penjualan harus ada dan dimiliki oleh

penjual, sedangkan dalam istishna, pokok kontrak itu belum ada atau tidak dimiliki penjual.

Namun mazhab Hanafi menyutui kontrak istishna atas dasar istishan.[5]

Tujuan istishna umumnya diterapkan pada pembiayaan untuk pembangunan proyek

seperti pembangunan proyek perumahan, komunikasi, listrik, gedung sekolah, pertambangan,

dan sarana jalan. Pembiayaan yang sesuai adalah pembiyaan investasi.[6]

2. Rukun dan Syarat al-Istishna

Pada prinsipnya bai al-istishna adalah sama dengan bai as-salam. Maka rukun dan

syarat istishna mengikuti bai as-salam. Hanya saja pada bai al-istishna pembayaran tidak

dilakukan secara kontan dan tidak adanya penentuan waktu tertentu penyerahan barang, tetapi

tergantung selesainya barang pada umumnya. Misal : Memesan rumah, maka tidak bisa

dipastikan kapan bangunannya selesai.


3. Skema Al-Istishna

Pesan

Beli

Jual

Contoh kasus

Seuah perusahaan konveksi meminta pembiayaan untuk pembuatan kostum tim sepakbola

sebesar Rp 20juta. Produksi ini akan dibayar oleh pemesannya dua bulan yang akan datang.
Harga sepasang kostum biasanya Rp 4.000,00, sedangkan perusahaan itu bisa menjual pada bank

dengan harga Rp 38.000,00. Berapa keuntungan yang didapatkan bank?

Dalam kasus ini, produsen tidak ingin diketahui modal pokok pembuatan kostum. Ia hanya ingin

memberikan untung sebesar Rp 2.000,00 per kostum atau sekitar Rp 1juta (Rp 20juta/Rp

38.000,00 X Rp 2.000,00) atau 5% dari modal. Bank bisa menawar lebih lanjut agar kostum itu

lebih murah dan dijual kepada pembeli dengan harga pasar.

C. Perbandingan Antara as- Salam dan al-Istishna

Subyek Salam Istishna Keterangan


Pokok Muslam Mashnu Barang ditangguhkan dengan

Kontrak Fih spesifikasi


Harga Dibayar Bisa di awal, Cara penyelesaian pembayaran

tunai saat tangguh, dan merupakan perbedaan utama


kontrak akhir antara salam dan istishna
Sifat Mengikat Mengikat Salam mengikat semua pihak

Kontrak secara asli secara ikutan sejak semula, sedangkan

ishtisna menjadi pengikat untuk

melindungi produsen sehigga

tidak ditinggalkan begitu saja

oleh konsumen secara tidak

bertanggung jawab.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Salam adalah menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, pembayaran modal

lebih awal. Rukun dan syarat jual beli as-salam yaitu Muaqidain yang meliputi Pembeli dan

penjual, Obyek transaksi, Sighat ijab qabul, dan alat tukar.

Al-Istishna adalah akad jual beli pesanan dimana bahan baku dan biaya produksi

menjadi tanggungjawab pihak produsen sedangkan sistem pembayaran bisa dilakukan di muka,
tengah atau akhir. Rukun dan syarat istishna mengikuti bai as-salam. Hanya saja pada bai al-

istishna pembayaran tidak dilakukan secara kontan dan tidak adanya penentuan waktu tertentu

penyerahan barang, tetapi tergantung selesainya barang pada umumnya.

Perbedaan salam dan istishna adalah cara penyelesaian pembayaran salam dilakukan

diawal saat kontrak secara tunai dan cara pembayaran istishna tidak secara kontan bisa

dilakukan di awal, tengah atau akhir.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis

senantiasa dengan lapang dada menerima bimbingan dan arahan serta saran dan kritik yang

sifatnya membangun demi perbaikan makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Antonio, Muhammad SyafiI. 2001. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Jakarta : Gema Insani

DEPAG. 2002. Al-Quran dan Terjemahnya. Surabaya

Hadi, Abd. 2010. Dasar-Dasar Hukum Ekonomi Islam. Surabaya : Putra Media Nusantara

Ismail. 2011. Perbankan syariah. Jakarta : Kencana

Pasaribu, Chairuman; Suhrawardi K. Lubis, 1994. Hukum Perjanjian Dalam Islam. Jakarta : Sinar Grafika

Sabid, Sayid. 1998. Fikih Sunnah. Bandung : PT. Al Maarif

[1]
Abd. Hadi, Dasar-Dasar Hukum Ekonomi Islam, (Surabaya : Putra Media Nusantara,
2010), 100
[2]
Chairuman Pasaribu; Suhrawardi K. Lubis S.H, Hukum Perjanjian Dalam Islam,
(Jakarta : Sinar Grafika, 1994), hlm. 48
[3]
DEPAG, Al-Quran dan Terjemahnya, Surabaya, 2002
[4]
Sayid Sabid, Fikih Sunnah, (Bandung : PT. Al Maarif, 1998), hlm. 111
[5]
Muhammad SyafiI Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktik, (Jakarta : Gema
Insani, 2001), hlm. 114
[6] Ismail, Perbankan syariah, ( Jakarta : Kencana, 2011), hlm. 149-150