Anda di halaman 1dari 17

PRIVASI DALAM ARSITEKTUR DAN PERILAKU

A.PENGERTIAN PRIVASI
Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki
seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. tingkatan privasi yang diinginkan
itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk
berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya
sukar dicapai oleh orang lain. adapun definisi lain dari privasi yaitu sebagai suatu
kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan
pilihan atau kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang diinginkan. privasi
jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak
pihak lain dalam rangka menyepi saja.
B. FAKTOR FAKTOR PRIVASI
1. faktor personal
Ada perbedaan jenis kelamin dalam privasi, dalam suatu penelitian pria lebih
memilih ruangan yang terdapat tiga orang sedangkan wanita tidak
memeprmasalahkanisi dalam ruangan itu. Menurut Maeshall prbedaan dalam latar
belakang pribadi akan berhubungan dengan kebutuhan privasi.
2. faktor situasional
Kepuasan akan kebutuhan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar
lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk mandiri.
3.faktor budaya
Pada penelitian tiap-tiap budaya tidak ditemukan perbedaan dalam banyaknya
privasi yang diinginkan tetapi berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan
privasi. Misalnya rumah orang jawa tidak terdapat pagar dan menghadap ke jalan,
tinggal dirumah kecil dengan dindidng dari bamboo terdiri dari keluarga tunggal anak
ayah dan ibu.
C. PENGERTIAN RUANG PERSONAL
istilah personal space pertama kali digunakan oleh katz pada tahun 1973 dan bukan
merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karna istilah ini juga dipakai
dalam bidang biologi, antropologi dan arsitektur. beberapa definisi ruang personal
secara implist berdasarkan hasil hasill penelitian, antara lain : pertama, ruang
personalia dalah batas batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
kedua, ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri. ketiga,
pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita
keluar darinya sebagai perubahan situasi . keempat, ketika seseorang melanggar ruang
personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stres dan bahkan perkelahian.
dengan inti definisi ruang personal sebagai batas yang tak terlihat yang mengelilingi
kita, dimana orang lain tidak dapat melanggarnya.
Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian,
antara lain:
a. Ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang
lain.
b. Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
c. Pengaturan ruang personal mempakan proses dinamis yang memungkinkan diri
kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
d. Ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat
kecemasan, stres, dan bahkan perkelahian.
e. Ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar manusia,
walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, saling membelakangi,
dan searah.
D. PENGERTIAN TERITORIALITAS

Pembentukan kawasan teritorial adalah mekanisme prilaku lain untuk mencapai


privasi tertentu. kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas
kawasan yang menjadi pembatas antar dirinya dengan orang lain maka peda teritorial
batas batas tersebut nyata dengan tempat yang relatif tetap. Menurut holahan
teritorialitas adalah suatu pola prilaku yang ada hubungannya dengan kepemilikan
atau hak seseorang atau sekelompok orang atas sebuah lokasi geografis tertentu. pola
prilaku ini mencangkup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar.
Menurut Altman, teritorialitas itu individu yang tinggal di daerah tersebut dapat
mengontrol daerah tempat tinggalnya.

E. ELEMEN TERITORIALITAS

Ada empat elemen teritorialitas, yaitu :

1. Kepemilikan atau hak dari suatu tempat, misalnya surat-surat tanah menjadi bukti
hak untuk tinggal di atas tanah tersebut.

2. Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu, misalnya nomer yang
terdapat di setiap rumah menjadi suatu penandaan atau ciri tertentu.
3. Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar, misalnya KTP menjadi suatu
hak tanda bukti kita sebagai WNI.

4. Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis
sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan estetika. Misalnya kegiatan
gotong royong warga di suatu kecamatan sehingga menimbulkan lingkungan yang
asri dan sehat.

F. ALTMAN MEMBAGI TERITORIALITAS MENJADI TIGA, YAITU:

1. Teritorial Primer

Teritori ini dimiliki serta dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya.


Pelanggaran terhadap teritori utama ini akan mengakibatkan timbulnya
perlawanan dari pemiliknya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan teritori
utama ini akan mengakibatkan masalah yang serius terhadap aspek psikologis
pemiliknya, yaitu dalam hal harga diri dan identitasnya.

2. Teritori Sekunder

Jenis teritori ini lebih longgar pemakaiannya dan pengotrolan oleh perorangan,
dapat digunakan oleh orang lain yang masih di dalam kelompok atau pun orang
yang mempunyai kepentingan kepada kelompok itu.

3. Teritorial Umum

Teritori ini dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan
yang lazim di dalam masyarakat dimana teritorial umum itu berada dan digunakan
secara sementara dalam jangka waktu lama maupun singkat.

G. HUBUNGAN ANTARA PRIVASI, RUANG PERSONAL DAN TERITORIALITAS


dari ke 3 hal teresebut semua saling berhubungan semua ini adalah contoh yang ada
dalam setiap diri masing masing individu ke 3hal ini membentuk karakter individu
dan mempengaruhi prilaku seseorang yang menjadi ke arah positif maupun negatif
semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. antara privasi rung lingkup maupun
teritorialitas. hal ini juga dapat menggambarkan hubungan antara individu dengan
dunia luar, bagaimana cara dia berinteraksi dengan orang lain dan dapat menjalani
hubungan baik. dari 3 hal ini karakter setiap individu akan terlihat secara natural
karna secara tidak langsung mereka menceritakan hal apa saja yang di shared kepada
public dan yang tidak, bagaimana ruang gerak mereka dalam ruang personalnya,
maupun daerah kekuasaan teritorialitasnya. karna daerah itu tidak lebih kalah penting
nya dengan privasi.
DENSITY DALAM ARSITEKTUR DAN PERILAKU
A. KEPADATAN (DENSITY)

Pengertian
1. Menurut Sundstorm : Sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan.

2. Menurut - Sarwono : Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah
manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan luas ruangan.
Kategori Kepadatan:

Menurut Altman (dalam studi tahun 1920-an) : Variasi indikator kepadatan


berhubungan dengan tingkah laku sosial :

1. Jumlah individu dalam sebuah kota

2. Jumlah Individu pada daerah sensus

3. Jumlah individu pada unit tempat tinggal

4. Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal

5. Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar

Menurut Jain (1987) : Tingkat kepadatan penduduk dipengaruhi oleh unsur-unsur :

1. Jumlah individu pada setiap ruang

2. Jumlah ruang pada setiap unit rumah tinggal

3. Jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian

4. Jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman

B. Teori Kepadatan Menurut Halohan

1. Kepadatan Spasial (Spasial Density)

Terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit,
sedangkan jumlah individu tetap.
2. Kepadatan Sosial (Social Density)

Terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi penambahan luas ruang.

C. Teori Kepadatan Menurut Altman

1. Kepadatan Altman (Inside Density)

Jumlah individu dalam suatu ruangan atau tempat tinggal.

2. Kepadatan Luar (Outside Density)

Sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu

D. Akibat Kepadatan Yang Tinggi

1. Menurut Taylor :

a. Lingkungan sekitar merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi


sikap, perilaku dan keadaan internal individu di suatu tempat tinggal

b. Rumah dan lingkungan pemukiman yaitu yang nyaman member kepuasan


psikis

2. Menurut Schrr :

Kualitas pemukiman mempengaruhi persepsi diri, strss, kesehatan fisik.


Kualitas pemukiman mempengaruhi perilaku dan sikap individu.

3. Heimstra dan Mc. Farling, akibat kepadatan :

a. Akibat Fisik

b. Akibat Sosial
c. Akibat Psikis

Kepadatan memang merupakan syarat yang diperlukan untuk timbulnya persepsi


kesesakan, tetapi bukanlah syarat yang mutlak. Manusia membedakan kepadatan di
dalam rumahnya (Inside density) dan di luar rumahnya (Outside density).

Dari kombinasi 2 jenis kepadatan tersebut diperoleh 4 jenis kepadatan :

1. Kepadatan pedesaan. Kepadatan dalam rumah tinggi, tetapi kepadatan di luar rendah.

2. Kepadatan pinggiran kota (sub urban). Kepadatan di dalam dan di luar rendah.

3. Kepadatan pemukiman kumuh di kota. Kepadatan di dalam dan di luar tinggi.

4. Kepadatan pemukiman mewah di kota besar. Kepadatan di dalam rumah rendah tetapi di luar
tinggi.

Dampak kepadatan pada manusia Patologi Sosial Meningkatnya,

1. Kejahatan

2. Bunuh diri

3. Penyakit jiwa

4. Kenakalan remaja

Tingkah laku sosial

1. Agresi

2. Menarik diri dari lingkungan sosial

3. Berkurangnya tingkah laku menolong

4. Kecenderungan menjelekkan orang lain Kinerja

5. Hasil dan prestasi kerja menurun


6. Suasana hati (mood) cenderung lebih murung

PROKSIMITAS DALAM ARSITEKTUR DAN PERILAKU


A. Teori Proksimitas
Hall (1969) berpendapat, setiap hari manusia selalu mengalami pengalaman meruang.
Perasaan meruang adalah sebuah perpaduan penggunaan panca indera yakni penglihatan,
pendengaran, peraba, penciuman, dan perasa. Tidak hanya kelima indera tersebut, namun
sebuah pengalaman meruang terbentuk dan terpola dari sebuah budaya. Karena itu, orang
yang berbeda budaya, ketika menafsirkan perilaku masing-masing, dapat salah menafsirkan
hubungan, aktivitas, dan emosi. Hal ini menyebabkan keterasingan dalam pertemuan atau
komunikasiberinteraksi menjadi menyimpang. Studi budaya dalam teori proksimitas
mempelajari tentang seseorang dalam keadaan emosional yang berbeda selama kegiatan yang
berbeda, dalam hubungan yang berbeda, dan pada waktu yang berbeda serta konteks yang
berbeda pula untuk mengetahui persoalan kompleks, dan persoalan multidimensi. Tidak
peduli betapa sulitnya manusia mencoba, tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri dari
budaya sendiri, karena telah merambah ke akar sistem saraf dan menentukan bagaimana ia
melihat dunia. Sebagian besar budaya tersembunyi dan berada di luar kontrol, yang
membentuk eksistensi manusia. Bahkan ketika fragmen kecil dari budaya yang diangkat
dalam kesadaran, manusia sulit untuk berubah, bukan hanya karena orang begitu pribadi
berpengalaman tetapi karena orang tidak bisa bertindak atau berinteraksi sama sekali dengan
cara yang berarti kecuali melalui medium budaya.
Manusia dan ekstensinya merupakan sistem yang saling terkait. Itu adalah kesalahan
terbesar untuk bertindak seolah-olah manusia adalah satu hal dan rumahnya atau kotanya,
teknologinya atau bahasa itu adalah sesuatu yang lain. Karena adanya keterkaitan antara
manusia dan ekstensi, hal itu mendorong perhatian lebih pada jenis ekstensi yang
diciptakannya, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain. Hubungan manusia
untuk ekstensi itu hanyalah merupakan kelanjutan dan bentuk khusus dari hubungan
organisme secara umum untuk lingkungan manusia.
Keterkaitan manusia dan eksistensinya membutuhkan suatu wadah yang dapat
mempersatukan keduanya dengan manusia lain. Oleh karena itu, wadah tersebut harus
mendukung hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain, sehingga suasana yang
terjadi adalah suasana yang positif, tidak menimbulkan problem, namun menimbulkan
ketertarikan yang berbeda-beda dalam suatu wadah tersebut.
Proksimitas sebagai manifestasi dari mikrokultur memiliki tiga aspek: fixed feature,
semifixed-feature, dan informal space.
1.Fixed-feature Space Merupakan salah satu cara dasar pengorganisasian kegiatan
individu dan kelompok. Itu termasuk manifestasi material, desain tersembunyi
diinternalisasi untuk mengatur perilaku manusia bergerak di bumi ini. Bangunan
adalah salah satu ekspresi pola fixed-feature, tapi bangunan juga dikelompokkan
bersama dalam hal karakteristik serta sebagai internal yang dibagi sesuai dengan
desain kultural yang ditentukan. Misalnya, tata letak desa dan kota tidak sembarangan
tetapi mengikuti rencana yang berubah dengan waktu dan budaya. Pengamatan pada
hubungan fasad bahwa orang-orang hadir untuk dunia dan diri mereka bersembunyi di
balik itu. Penggunaan istilah fasad itu sendiri mengungkapkan. Itu menandakan
pengakuan tingkat untuk ditembus dan petunjuk pada fungsi yang dilakukan oleh
fitur-fitur arsitektur yang memberikan layar belakang untuk hari esok dari waktu ke
waktu. Arsitektur dapat dan tidak mengambil alih beban bagi orang, juga dapat
memberikan perlindungan di mana individu bisa menjadi dirinya sendiri. Hubungan
ruang fixed-featureuntuk kepribadian serta budaya adalah tempat lebih jelas.
2.Semifixed-feature Space Rumah sakit adalah salah satu yang pertama di mana
hubungan antara ruang semifixed-feature dan perilaku jelas ditunjukkan. Beberapa
ruang seperti ruang tunggu kereta api, cenderung membuat orang terpisah. Ini disebut
ruang sosiofugal. Lain halnya seperti stand di toko obat kuno atau meja di cafe
pinggir jalan, cenderung untuk membawa orang bersama-sama. Ini disebut ruang
sosiopetal. Kesimpulannya yaitu, ruang konduktif hanya untuk:
(a). percakapan jenis tertentu antara
(b). orang-orang dalam hubungan tertentu dan
(c). di setting budaya yang sangat terbatas.
3.Informal Space Kategori pengalaman spasial, yang mungkin paling signifikan bagi
individu karena mencakup jarak terjadi dalam pertemuan dengan orang lain. Jarak ini
adalah di luar kesadaran. Disebut ruang informal karena tidak tertulis, bukan karena
tidak memiliki bentuk atau tidak penting, namun pola spasial informal memiliki
batasan yang berbeda, dan bermakna dalam, tidak dapat diungkapkan, bahwa ruang
informal merupakan bagian yang penting dari budaya.
Manusia juga memiliki cara penanganan yang seragam jarak dari sesamanya.
Dengan sedikit pengecualian, jarak terbang dan jarak kritis telah dieliminasi dari
reaksi manusia. Jarak pribadi dan jarak sosial, jelas masih ada. Salah satu sumber
umum informasi tentang jarak yang memisahkan dua orang adalah kenyaringan dari
suara. Jarak diklasifikasikan menjadi 4, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial,
dan jarak publik (masing-masing erat hubungannya). Jarak tidak hanya menunjukkan
kontinuitas antara infrakultur dan budaya tetapi juga oleh keinginan untuk
memberikan petunjuk mengenai jenis kegiatan dan hubungan yang terkait dengan
setiap jarak, sehingga menghubungkan pikiran masyarakat dari hubungan dan
kegiatan. Pada titik ini orang merasa terhadap satu sama lain dan pada saat itu
merupakan faktor penentu dalam jarak yang digunakan.
1. Jarak Intim (0-0,45 m)
Jarak intim akan kehadiran orang lain adalah jelas karena apa yang ditangkap
sangat melangkah-naik ke sistem sensorik. Penglihatan (sering terdistorsi),
penciuman, panas dari tubuh orang lain, suara, bau, dan merasakan nafas,
semua tergabung untuk menangkap sinyal dari orang lain.
a. Jarak Intim-fase dekat (0-15 cm): perlindungan dan kasih sayang,
pandangan tidak tajam, suara tidak perlu.
b. Jarak Intim-fase jauh (15-45 cm): jarak sentuh, tidak layak dimuka umum,
pandangan terdistorsi, bau tercium, suara rendah berbisik.

2. Jarak Pribadi (0,45-1,2 m)


Jarak pribadi adalah istilah yang awalnya digunakan untuk menunjuk jarak
konsisten yang memisahkan diri dengan orang lain. Itu mungkin dianggap sebagai
pelindung kelompok untuk menjaga antara dirinya dan orang lain.
a. Jarak Pribadi-fase dekat (0,45-0,75 m): mempengaruhi perasaan, pandangan
terganggu, fokus lelah, tekstur jelas.
b. Jarak Pribadi-fase jauh (0,75-1,2 m): pembicaraan soal pribadi, pandangan
baik, suara jelas/ perlahan

3. Jarak Sosial (1,2-3,6 m)


Garis batas antara fase jauhjarak pribadi dan fase dekat tanda jarak sosial,
dalam kata-kata satu subjek, "batas dominasi" detail visual intim di wajah tidak
dirasakan, dan menyentuh orang atau berharap untuk menyentuh orang kecuali
ada beberapa upaya khusus. Ini adalah tingkat suara normal untuk orang Amerika.
Ada sedikit perubahan antara fase jauh dan dekat, dan percakapan dapat didengar
pada jarak hingga 6 m.
a. Jarak Sosial-fase dekat (1,2-2,1 m)
Pada jarak 1,2 m, pergeseran pandangannya bolak-balik dari mata ke mata
atau dari mata ke mulut, detail tekstur kulit dan rambut jelas dirasakan. Pada
sudut pandang 60 derajat, kepala, bahu, dan bagian atas terlihat pada jarak 1,2
m.
b. Jarak Sosial- fase jauh (2,1-3,6 m)
Ini adalah jarak di mana orang bergerak saat seseorang mengatakan, "berdiri
jauh sehingga saya dapat melihat Anda". Bisnis dan wacana sosial yang
dilakukan di ujung jarak sosial memiliki karakter yang lebih formal
dibandingkan jika terjadi di dalam fase dekat. Pada tahap jarak sosial-jauh,
detail terbaik dari wajah, menyedot sebagai kapiler di mata, hilang.
Sebaliknya, tekstur kulit, rambut, kondisi gigi, dan kondisi pakaian semuanya
mudah terlihat. Tidak ada panas atau bau dari tubuh orang lain yang terdeteksi
pada jarak ini. Sosok penuh dengan banyak ruang di sekitarnya-tercakup pada
pandangan 60 derajat. Mata dan mulut orang lain terlihat di daerah penglihatan
paling tajam, sehingga tidak perlu mengalihkan mata untuk mengamati seluruh
wajah. Selama percakapan adalah lebih penting untuk menjaga kontak visual
pada jarak jauh daripada pada jarak dekat.
di fase ini, tingkat suara terasa lebih keras daripada untuk fase dekat,
dan biasanya dapat didengar dengan mudah di ruang sebelah jika pintu
terbuka. Meninggikan suara atau berteriak dapat memiliki efek atau
mengurangi jarak sosial untuk jarak pribadi.
4. Jarak Publik ( > 3,6 m)
Beberapa perubahan sensorik penting terjadi dalam transisi dari jarak pribadi dan
sosial untuk menjauhkan diri di luar lingkaran keterlibatan.
a. Jarak Publikfase dekat (3,6-7,5 m)
Pada jarak ini, seseorang dapat mengambil tindakan mengelak atau defensif
jika terancam. Ahli bahasa telah mengamati bahwa pilihan kata-kata dan
kalimat kalimat serta sebagai pergeseran gramatikal atau sintaksis terjadi pada
jarak ini.

b. Jarak Publikfase jauh ( > 7,5 m)


Jarak ini adalah jarak yang secara otomatis ditetapkan tokoh masyarakat
penting. Jarak masyarakat biasa tidak terbatas pada tokoh masyarakat tapi
dapat digunakan oleh siapa saja pada kesempatan publik. Ada penyesuaian
tertentu yang harus dilakukan, namun pada jarak ini adalah detail dari ekspresi
wajah dan gerakan. Bukan hanya suara tetapi segala sesuatu harus dibesar-
besarkan atau diperkuat. Selain itu, tempo turun suara, kata-kata yang
diucapkan lebih jelas, dan ada perubahan gaya.
ANTROPOMETRI DALAM ARSITEKTUR DAN PERILAKU
A. Pengertian Antropometri
Menurut Sritomo (1989), salah satu bidang keilmuan ergonomis adalah istilah
anthropometri yang berasal dari anthro yang berarti manusia dan metron yang berarti
ukuran. Secara definitif anthropometri dinyatakan sebagai suatu studi yang menyangkut
pengukuran dimensi tubuh manusia dan aplikasi rancangan yang menyangkut geometri fisik,
massa, dan kekuatan tubuh. Pengertian anthropometri menurut Stevenson (1989) dan
Nurmianto (1991) adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan
karakteristik tubuh manusia berupa ukuran, bentuk dan kekuatan, serta penerapan dari data
tersebut untuk penanganan masalah desain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Antropometri :
a. Umur
Dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar seiring dengan
berkembangnya umur sejak awal kelahirannya sampai dengan umur sekitar 20 tahun
untuk pria dan 17 tahun untuk wanita.
b. Jenis Kelamin
Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya lebih besar dibandingkan dengan wanita,
kecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti lingkaran dada dan pinggul.
c. Suku/Ras
Setiap suku bangsa ataupun etnis akan memiliki karakteristik fisik yang akan
berbeda satu dengan lainnya.
d. Postur dan Posisi Tubuh
Ukuran tubuh akan berbeda dipengaruhi oleh posisi tubuh pada saat akan melakukan
aktivitas tertentu yaitu s t r u c t u r a l dan f u n c t i o n a l b o d y d i m e n s i o n s . Posisi
standar tubuh pada saat melakukan gerakan-gerakan dinamis dimana gerakan tersebut harus
dijadikan dasar pertimbangan pada saat data antropometri diimplementasikan.
e. Pakaian
Pakaian seperti model, jenis bahan, jumlah rangkapan, dan lain-lain yang melekat di
tubuh akan menambah dimensi ukuran tubuh manusia.
E. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan mewajibkan adanya persyaratan dalam menyeleksi dimensi tubuh manusia
seperti tinggi, berat badan, lingkar perut, dan lain-lain. Seperti untuk buruh dermaga atau
pelabuhan harus mempunyai postur tubuh yang relatif besar dibandingkan dengan pegawai
kantoran atau mahasiswa.

F. Cacat Tubuh Secara Fisik


Cacat tubuh secara fisik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi variabilitas data
antropometri. Seperti, orang normal dan orang yang memiliki keterbatasan fisik tidak
mempunyai lengan. Untuk dimensi tinggi siku, tinggi pinggul, tinggi tulang ruas, tinggi ujung
jari, dan lain-lain sangatlah berbeda antara orang normal dengan orang yang memiliki
keterbatasan fisik. Sehingga, data antropometri yang digunakan dalam merancang produk dan
stasiun kerja untuk orang yang cacat tubuh secara fisik berbeda dengan orang normal
G. Faktor Kehamilan Wanita
Faktor kehamila pada wanita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
variabilitas data antropometri yaitu terutama pada tebal perut dan tebal dada. Sehingga, data
antropometri yang digunakan dalam merancang produk dan stasiun kerja untuk wanita hamil
berbeda dengan data antropometri wanita lainnya.
H. Jangkauan, Jarak Ruangan dan Kesesuaian
Pemilihan antropometrik yang tepat didasarkan pada sifat dari masalah desain tertentu
yang sedang dipertimbangkan. Sebagai contoh ada data yang menunjukkan bahwa sebesar 5
persen populasi memiliki lengan pendek, sementara 95 persen dari populasi, memiliki lengan
panjang . Jika desain dibuat untuk mengakomodir pengguna dengan lengan pendek , jelas itu
akan berfungsi dengan pengguna dengan jangkauan yang lebih panjang juga. Dalam situasi
lain itu mungkin diinginkan untuk memberikan desain yang memiliki kemampuan
penyesuaian. Sebagai contoh beberapa jenis kursi , rak yang bisa disesuaikan , dan lain-lain.
Batasan penyesuaian harus didasarkan pada antropometri pengguna, keterbatasan fisik dan
mekanis terlibat .
Rentang ini harus memungkinkan desain untuk mengakomodasi setidaknya 90 persen dari
populasi pengguna atau lebih yang terlibat. Perlu dicatat bahwa semua contoh di atas
terutama digunakan untuk penggambaran dasar logis yang mendasari pemilihan dimensi
tubuh dari pengguna yang terlibat untuk diakomodasi. Antropometri dan Ergonomi
merupakan pedoman dalam proses perancangan pada industri berat maupun industri ringan,
bahkan dalam proses perancangan busana sekalipun. Dalam perancangan arsitektur dan
interior, antropometri dan ergonomic berperan penting dalam memberikan data-data dan
informasi, sebagai dasar pertimbangan atau acuan mengenai jangkauan, dan interaksi, serta
dinamika pergerakan dari variabilitas dan realibilitas (berdasar kelompok umur, jenis
kelamin, kelompok kegiatan, kelompok pekerjaan, suku bangsa, maupun
cacat tubuh ) dimensi dan fungsi tubuh manusia terhadap dimensi ruang (
perancangan area kerja/ruang dan bangunan ) beserta kelengkapan-
kelengkapan yang berada di dalamnya ( perancangan system dan alat-
alat kerja ).
Tujuan utama dari penggunaan antropometri dan ergonomi adalah untuk mengurangi
tingkat kelelahan bekerja, sehingga diharapkan akan meningkatkan perfomansi dan
efektifitas kerja, serta meminimasi akan potensi terjadinya kecelakaan dalam bekerja, dalam
hal ini sebuah system kerja atau dimensi kelengkapan kerja harus sesuai dengan
variabilitas/realibilitas dimensi, fungsi, dan kemampuan kontinuitas gerak tubuh manusia
dalam rentang waktu tertentu.