Anda di halaman 1dari 3

Minyak Jelantah pun Bisa Dijadikan Sabun Mandi

SIAPA tak kenal minyak jelantah? Warna yang hitam pekat dan bau yang menusuk
menjadi ciri khas minyak bekas menggoreng berulang ini.

GUBERNUR Jabar Danny Setiawan dan Wali


Kota Bandung Dada Rosada mengamati sabun
dari minyak jelantah karya Science Club SMPN
13 Bandung "Launching Muatan Lokal (Mulok)
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)", di
Tegallega, Bandung, Kamis (11/1).*ANDRI
GURNITA/"PR"

Kecuali penampilannya yang tidak menarik, minyak ini pun menyimpan potensi bahaya
yang besar bagi kesehatan. Tak kurang dari penyakit mematikan seperti jantung bisa
muncul bilamana seseorang mengonsumsi minyak jelantah terlalu sering. Menurut para
ahli kesehatan, minyak goreng memang hanya boleh digunakan dua sampai empat kali
menggoreng.

Sayangnya, meskipun informasi tentang bahaya minyak jelantah sudah cukup banyak,
tetap saja banyak ibu rumah tangga yang masih menggunakannya untuk memasak.
"Sayang, harga minyak goreng kan, mahal," ujar Lilis (35), seorang ibu rumah tangga
yang ditemui "PR" di kediamannya, Sabtu (13/1).

Belakangan, minyak jelantah mulai disulap orang jadi produk yang lebih menyehatkan.
Yakni dijadikan sabun mandi dengan kualitas rendah dan sedang. Hal itu dimungkinkan
karena kandungan lemak minyak jelantah yang tinggi. Lemak merupakan salah satu
bahan dasar pembuatan sabun.

Namun, hingga saat ini tak banyak orang tahu bagaimana cara membuat sabun dari
minyak jelantah. Baru-baru ini, sekelompok siswa anggota Science Club SMPN 13
Bandung sempat mempresentasikan daur ulang tersebut pada "Launching muatan lokal
(mulok) Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)", di Tegallega, Bandung.

Dengan fasih, tim yang dimotori Amanda Nadhira, Hafizh Zakyan, dan Lindo Arif
Budiman itu membagi tips bagaimana menyulap minyak jelantah yang hitam pekat
menjadi alat pembersih yang aman.
"Bahan utama dari pembuatan sabun ini tentu saja minyak jelantah. Di sini, kita
membutuhkan 1.000 gr minyak jelantah. Selain itu, juga dibutuhkan 171 gr NaOH, dan
340 gr air," kata Amanda, siswi yang baru duduk di kelas 8.

Langkah pertama, tuangkan NaOH ke dalam air, lalu aduk hingga merata. Karena bahaya
dan bersifat korosif, NaOH ini harus diperlakukan dengan hati-hati. Jika terkena NaOH,
segera bilas dengan air yang banyak.

Larutan NaOH itu akan bersifat panas. Sementara, adonan akan diolah pada suhu 40
derajat Celcius. Karena itu, suhu larutan harus diturunkan. Caranya, dengan merendam
gelas kimia berisi larutan pada baskom berisi air.

Segera setelah mencapai suhu 40 derajat Celcius, larutan dituangkan ke dalam minyak
jelantah, yang juga harus bersuhu 40 derajat Celcius. Larutan kemudian diaduk cepat
selama 20 menit dan diaduk lambat 50 menit. Setelah mengental, bisa ditambahkan zat
aroma alami secukupnya.

"Pemilihan zat ini bisa disesuaikan dengan selera. Selain untuk aromaterapi, penggunaan
zat tambahan juga untuk menambah manfaat dari sabun. Zat tambahan bisa berasal dari
serbuk kunyit, jahe, kayu manis, aloe vera, ekstrak mawar, bahkan olive oil. Semua
dipilih berdasarkan manfaat yang ingin diambil," kata Amanda.

Jika ingin mendapatkan kehalusan kulit, serbuk kunyit menjadi pilihan yang tepat.
Serbuk jahe untuk menghangatkan badan, dan kayu manis untuk aromaterapi.

Segera, setelah mengental, adonan bisa dituangkan ke dalam cetakan. Adonan kemudian
disimpan selama semalam, dengan ditutup kain tipis.

Keesokan harinya, adonan yang telah mengeras bisa dikeluarkan dari cetakan, lalu
ditiriskan minimal selama satu bulan sebelum digunakan. "Penyimpanan selama satu
bulan ini dilakukan untuk menghilangkan sifat korosif NaOH. Semakin lama disimpan,
kandungan gliserinnya semakin banyak dan akan semakin bagus untuk kulit," tutur
Amanda.

Pengguna sabun juga tak perlu khawatir dengan bau menyengat dari minyak jelantah.
Bau amis minyak jelantah akan hilang dalam proses kimia. Yang tersisa tinggallah
bebauan dari zat tambahan yang digunakan.

Di SMPN 13 sendiri, pengolahan minyak jelantah menjadi sabun baru berlangsung


selama kurang lebih dua bulan. Praktiknya pun baru dijalankan dalam klub
ekstrakurikuler Science Club. Hasilnya telah diujicobakan untuk mencuci tangan siswa
seusai praktikum di laboratorium.

"Mungkin ke depannya kami akan mencoba mengembangkan percobaan ini untuk


membuat sabun cuci atau sabun lainnya," ujar Kepala Sekolah SMPN 13 Bandung,
Suyanto, S.Pd., M.M.
Ternyata, minyak jelantah juga bermanfaat jika diolah menjadi barang lain. Selain ramah
lingkungan, praktik seperti ini juga sangat baik untuk merangsang daya kreativitas siswa.
(Rika/"PR")***