Anda di halaman 1dari 8

MANAJEMEN PEMELIHARAAN LARVA UNTUK MENINGKATKAN

PRODUKTIVITAS HASIL

Disa Nirmala

Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran
Korespondensi : disanirmala6495@gmail.com

ABSTRAK
Larva adalah tahapan kritis pada fase hidup ikan, karena pada fase ini larva sangat
rentan mengalami kematian akibat pengaruh lingkungan. Larva juga hanya menggunakan
nutrisi yang terdapat pada tubuhnya sendiri berupa yolk egg (kuning telur). Pemeliharaan
larva sangat berpengaruh penting terhadap produktivitas yang dihasilkan, karena pada fase ini
mortalitas mudah sekali meningkat. Beberapa manajamen pemeliharaan larva dapat
dilakukan untuk pertumbuhan, mempertahankan kelangsungan hidup, peningkatan
produktivitas dan kelulushidupan larva. Manajemen pemeliharaan larva tersebut dilakukan
dengan teknik pengelolaan kualitas air, perbedaan jenis pakan, perbedaan ukuran bak yang
berbeda dan perbaikan kualitas pakan. Teknik-teknik tersebut mampu memperbaiki
produktivitas larva ikan khususnya pada ikan gurami, ikan lele sangkuriang, ikan kerapu
cantang dan ikan kerapu pasir.

Kata Kunci : larva, pakan, kualitas air, kelulushidupan, pemeliharaan larva.


PENDAHULUAN Menurur Effendie (1997),
Larva ikan adalah salah satu mengatakan bahwa perkembangan larva
tahapan perkembangan pada ikan dimana terdiri dari dua tahap yaitu prolarva dan
pada tahap tersebut masih sangat kritis. post larva. Prolarva adalah larva yang
Tahap ini masih kritis dikarenakan masih mempunyai kuning telur dan tubuh
bentuknya yang masih belum definitif dan transparan. Post larva adalah larva yang
sangat rentan mengalami kematian akibat kuning telurnya telah habis dan organ-
pengaruh lingkungan. Selain itu pada fase organ tubuhnya telah terbentuk sampai
ini larva ikan juga hanya mendapat nutrisi larva tersebut memiliki bentuk menyerupai
dari yolk egg (kantung kuning telur) yang ikan dewasa.
terbawa sejak lahir. Menurut Effendie Dengan adanya tingkat mortalitas
(1997), mortalitas terjadi pada fase awal yang tinggi pada fase larva, maka perlu
kehidupan yaitu fase larva. Mortalitas dilakukan usaha untuk meningkatkan
alami larva dapat disebabkan oleh produktivitas pada fase larva. Dengan
ketersediaan sumber energi, predator, tujuan meningkatkan laju pertumbuhan,
penyakit dan lingkungan biotik yang meningkatkan kelulushidupan larva dan
berhubungan dengan larva. menghasilkan larva yang berkualitas. Studi
literature dapat dilakukan untuk dijadikan
referensi para pembudidaya dalam dapat diatasi dengan pemberian pakan
manajemen pemeliharaan larva. berkualitas dalam jumlah yang cukup
(Ricky 2008).
METODOLOGI Kendala lain yang sering dihadapi
Berdasarkan studi literatur yang dalam industrialisasi komoditi gurami
dilakukan pada beberapa jurnal, berikut ini adalah tingginya tingkat kematian pada
adalah metode-metode yang dilakukan tahap larva dan benih yaitu hingga 50-70
pada jurnal tersebut: % serta laju pertumbuhannya yang lambat
a. Metode Eksperimental, yaitu metode (Khairuman dan Amri, 2005). Upaya
dengan melakukan beberapa perlakuan pembenihan gurami khususnya pada fase
dengan membandingkan hasil sehingga larva diperlukan ketelitian. Masa kritis
didapatkan hasil perlakuan terbaik. larva, yaitu saat kuning telur mulai habis
b. Metode Wawancara, diajukan beberapa
dan larva mulai mengambil makanan dari
pertanyaan mengenai pemeliharaan larva
luar. Hal itu ditandai dengan larva yang
di BBAP Situbondo.
c. Metode Survey, dilakukan survey dan sudah mulai berenang. Jika 50 % larva

pengamatan secara langsung mengenai sudah mulai berenang, kondisi ini

pemeliharaan larva di BBAP Situbondo. merupakan saat yang tepat bagi larva

HASIL DAN PEMBAHASAN untuk mulai diberi pakan (Khairuman dan

Pengaruh Pemberian Jenis Pakan pada Amri 2003). Berdasarkan kendala tersebut

Fase Pemeliharaan Larva terhadap maka dilakukan penelitian berupa

pada Kelangsungan Hidup dan pengaruh perbedaan pemberian pakan

Pertumbuhan Gurami pada larva gurami agar terhadap

Ikan gurami merupakan ikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup

budidaya yang banyak sekali diminati oleh larva gurami (Osphronemus gouramy)

masyarakat karena ikan ini memiliki gizi dengan pemberian beberapa jenis pakan.

dan rasa daging yang gurih. Ikan ini mulai Adapun jenis-jenis pakan yang diberikan

banyak dikembangkan oleh para petani di yaitu cacing tubifex, artemia, larutan

Indonesia karena permintaan pasar yang kuning telur yang sudah direbus dan pellet

cukup tinggi. Sehingga para petani FF-999.

berlomba untuk meningkatkan produksi Pada penelitian ini dilakukan

ikan gurami. Namun salah satu jenis ikan pemeliharaan larva selama 30 hari. Ketika

yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini telur menetas menjadi larva, jumlah larva

memiliki pertumbuhan yang lambat tetapi dihitung. Dalam setiap wadah akuarium,
jumlah larva yang ditebar adalah 100 ekor
larva. Sehingga untuk 12 akuarium Pemeliharaan Larva Ikan Kerapu Pasir
terdapat 1200 ekor larva. Tepat pada hari (Epinephelus corallicola) dengan
yang ke-14, perlakuan percobaan Ukuran Bak yang Berbeda
dilaksanakan yaitu pemberian 4 jenis Berdasarkan hasil pengamatan
pakan yang berbeda. Pakan yang diberikan sampai umur 50 hari (D - 50) nilai
adalah ; Cacing Tubifex (A1, A2, A3), kelangsungan hidup yang diperoleh
Artemia (B1, B2, B3), Larutan kuning dengan ukuran bak yang berbeda
telur ayam yang sudah direbus (C1, C2, menghasilkan panjang total larva ikan
C3) dan Pellet FF-999 yang sudah digiling pada bak 6 m3 lebih panjang (2,65 0,196
halus (D1, D2, D3). cm) daripada 9 m3 (2,57 0.082 cm)
Frekuensi pemberian pakan 2 kali dengan memperhatikan faktor lingkungan
dalam sehari, yaitu pada pagi hari pukul dan manajemen pakan. Untuk faktor
09.00 WITA, dan sore hari pukul 15.00 lingkungan, di dalamnya termasuk ukuran
WITA. Pemberian pakan secara ad libitum bak yang digunakan sebagai media ikan,
(pemberian pakan sampai kenyang). sehingga akan mempengaruhi
Adapun indikator kenyang pada larva ikan kelangsungan hidupnya, yang dipengaruhi
adalah larva ikan tidak merespon lagi juga oleh padat tebar, ukuran ikan, volume
pakan yang diberikan. air maupun manajemen pakan jenis, mutu,
Hasil perhitungan data rataan ukuran, jumlah dan frekwensi pemberian
panjang mutlak larva gurami menunjukan pakan.
bahwa pemberian pakan yang berbeda Ukuran bak berkaitan erat dengan
menyebabkan perbedaan pertumbuhan padat tebar larva mengingat akan
bagi larva gurami. Panjang mutlak yang mempengaruhi laju gerak ikan dan
tertinggi terdapat pada perlakuan A persaingan memangsa makanan, semakin
(pemberian pakan cacing Tubifex sp.) tinggi padat tebar akan semakin sempit
dengan rataan 1,34 cm. Sedangkan medianya sehingga akan mempengaruhi
persentase pertumbuhan panjang nisbi laju geraknya dan kecenderungan
yang tertinggi terdapat pada perlakuan A timbulnya kanibal di antara mereka.
(pemberian pakan Tubifex sp.) yang Menurut Yunus et al. (1994) bahwa padat
mencapai 148,8. Sementara persentase penebaran yang semakin meningkat,
kelangsungan hidup larva gurami yang tekanan terhadap lingkungan media
tertinggi adalah terdapat pada perlakuan A pemeliharaan menjadi semakin berat
(pemberian pakan Tubifex sp.), dengan karena semakin Semakin meningkatnya
nilai rata-rata 34 %. persaingan ruang gerak, kebutuhan
makanan dan pengaruh sisa metabolisme mungkin. Namun demikian kapasitas
dari larva sehingga pada gilirannya kondisi lambung juga turut menentukan banyak
ini dapat menurunkan kelangsungan hidup sedikitnya jumlah pakan yang dikonsumsi
larva. Pengamatan mengenai tahapan (Kohno and Nose,1971 dalam Melianawati
pertumbuhan dan perkembangan pada dan Suwirya, 2005). Tampak bahwa pakan
larva ikan kerapu pasir sangat dibutuhkan buatan sangat mendukung dalam
sebagai data awal untuk kegiatan kelangsungan hidup dan pertumbuhannya
pemeliharaan larva karena berkaitan dimana penggunaan pakan buatan sebagai
dengan masa kritis larva pada fase awal substitusi sebagian atau keseluruhan untuk
dan waktu yang tepat untuk pemberian menambah, mengganti, atau melengkapi
pakan dari luar tubuhnya, sehingga nutrisi pakan alami pada saat dibutuhkan
kebutuhan pakannya dapat diberikan oleh larva. Menurut Giri et al., (1993),
dengan tepat baik jumlah, jenis maupun pakan buatan harus diberikan tepat waktu
ukuran dalam memenuhi kebutuhan larva. agar pakan dapat dicerna dan diserap oleh
Dari pengamatan, selama larva secara efisien sesuai dengan
pertumbuhan larva mengalami beberapa perkembangannya. Menurut Kawahara et
perubahan yang cukup mendasar, yaitu al., (2000), bahwa pemberian pakan
pada saat larva umur 1 - 3 hari (D1 - D3) buatan yang terlambat (lebih dari D25)
kuning telur dan butir minyak akan bisa berakibat tingkat kematian tinggi yang
berkurang yang akhirnya terserap habis disebabkan kurangnya kandungan nutrisi
dalam tubuhnya yang kemudian terbentuk pada pakan alami untuk memenuhi
mulut dan saluran anus. Dari hasil ini kebutuhan hidup larva.
dapat diasumsikan bahwa kemampuan Selain faktor pakan, kondisi
daya cerna pada larva cukup terbatas lingkungan air merupakan salah satu
dalam masa awal larva mengingat pada komponen penting dalam usaha
kelompok ikan karnivora ini, larva ikan pembenihan ikan. Untuk itu diperlukan
kerapu pasir memiliki usus yang baru analisa kualitas air yaitu fisika dan kimia
terbentuk dan pendek sehingga usus air yang dapat mendukung kehidupan ikan.
berfungsi sebagai pencerna makanan Sifat kimia fisika air tersebut antara lain
dalam jumlah yang relatif kecil dan waktu suhu, oksigen terlarut, derajat keasaman
yang relatif tidak lama (Effendie, 1997). (pH), salinitas, amoniak dan nitrat. Secara
Untuk itu supaya usus terus dalam kondisi umum menunjukkan bahwa kualitas air
terisi disarankan frekuensi pemberian selama penelitian masih dalam kisaran
pakan buatan maupun alami sesering
yang baik untuk mendukung kehidupan kapasitas 12 ton. Volume awal pengisian
larva ikan kerapu pasir. air laut ke dalam bak pemeliharaan larva
Untuk nilai pH yang sesuai untuk adalah sebanyak 8 ton (8.000 ltr). Bak dan
pertumbuhan ikan adalah 6.5 - 9.5 (Boyd, peralatan yang akan digunakan dalam
1982), sedangkan nilai yang baik untuk kegiatan pemeliharaan larva harus
oksigen yang terlarut dalam air untuk disterilisasi terlebih dahulu. Sterilisasi
menunjang kehidupan organisma di dalam dilakukan dengan cara dinding dan dasar
air yaitu minimal 2 ppm dan nilai amoniak bak, selang aerasi, batu aerasi, serta pipa
yang tidak berbahaya untuk kelangsungan saringan outlet dicuci dan disikat sehingga
hidup ikan yaitu tidak melebihi dari 1 ppm lumut yang menempel hilang, kemudian
(Pescod, 1973). Jadi kualitas air selama bak dibilas hingga bersih. Setelah itu bak
penelitian tersebut masih berada dalam dan peralatan yang sudah dicuci disiram
batas toleransi untuk pertumbuhan larva dengan clorin sebanyak 50 ppm dan
ikan kerapu pasir. dibiarkan selama 1 hari kemudiaan setelah
itu bak dan peralatan dicuci dengan
Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu
deterjen dan dibilas lagi dengan air tawar
Cantang (Epinephelus Fuscoguttatus
sehingga bau clori hilang dan dikeringkan.
Lanceolatus)
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan
Pada penelitian ini dilakukan
oleh (Subyakto dan Cahyaningsih (2002).
observasi langsung di Balai Budidaya Air
Bak yang sudah siap kemudian
Payau (BBAP) Situbondo, Jawa Timur
diisi air. Air yang dialirkan kedalam bak
mengenai kegiatan pemeliharan larva ikan
pemeliharaan larva adalah air yang sudah
kerapu cantang meliputi, persiapan bak,
ditritment menggunakan hi-clone 70
penebaran dan penetasan telur,
sebanyak 10 ppm salama 5 jam dan sudah
pemeliharan larva, pemberian pakan serta
dinetralisir menggunakan tio sulfat
pemanenan.
sebanyak 5 ppm selama 15-30 menit.
Adapun beberapa teknik
Pengisian air kedalam bak dilakukan
pemeliharaan larva dimulai dari persiapan
dengan cara disaring menggunakan filter
bak, penebaran telur, pengelolaan kualitas
bag, adapun tujuannya adalah untuk
air, pencegahan dari hama dan penyakit
mencegah masuknya organisme lain
hingga pemanenan. Bak yang digunakan
kedalam bak pemeliharaan larva. Hal ini
untuk pemeliharaan larva terbuat dari
sesuai dengan yang dikemukakan oleh
beton yang berbentuk persegi panjang
Subyakto dan Cahyaningsih.(2002), air
berukuran 2m x 5m x 1,25m dengan
yang masuk kedalam bak disaring dengan
filter bag untuk menghindari masuknya Dilakukan pula pengendalian hama
organisme renik laut. dan penyakit pada larva ikan tersebut,
Telur kerapu cantang yang ditebar naun selama pemeliharaan tidak
terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi ditemukan ikan terserang penyakit infeksi
terlebih dahulu selama 15 menit dengan tapi diindikasikan ikan terkenak penyakit
cara memasukkan kantong yang berisikan non infeksi yang tak lain disebabkan
telur ke dalam bak. Kemudian ditebar meningkatnya kadar amonia yang terdapat
dengan kepadatan 150.000 pada setiap pada bak pemeliharaan larva dan
bak, telur akan menetas dalam jangka meningkatnya suhu air. Untuk
waktu 19 jam setelah pembuahan dengan pencegahannya adalah dengan melakukan
suhu 29o s/d 30oC. sirkulasi secara terus menerus dan dengan
Selama pemeliharaan larva melakukan pengelolaan kualitas air.
dilakukan pengelolaan kualitas air seacara Analisis Pertumbuhan dan
terus menerus dengan cara penyiponan, Kelulushidupan Larva Lele (Clarias
penggantian air dan pengukuran kualitas geriepenus) yang Diberi Pakan Daphnia
air. Penyiponan dilakukan untuk menjaga sp Hasil Kultur Massal Menggunakan
air tetap bersih dari sisa pakan dan kotoran Pupuk Organik Difermentasi
ikan. Sementara itu penggantian air Peningkatan produksi ikan lele
dilakukan dengan cara mengalirkan air berakibat pada penyediaan larva yang
mengunakan selang aerasi sebanyak dua cukup dan berkualitas pada budidaya
buah melalui pipa outlet dan kemudian di pembenihan, adapun larva yang
stel sesuai kebutuahn berapa yang akan berkualitas sangat ditentukan oleh pakan
disirkulasi. Setelah itu pengukuran kualitas yang diberikan untuk pertumbuhan dan
air untuk mengantisipasi agar tidak terjadi meningkatkan kelulushidupannya
perubahan secara mendadak. Selama masa (Herawati. et. al 2012). Penurunan jumlah
pemeliharaan dilakukan cek kualitas air produktivitas larva dikarenakan pakan
yang meliputi beberapa parameter kualitas yang diberikan tidak dapat memenuhi
air yaitu salinitas, suhu, dan pH. kebutuhan jumlah dan nutrisinya, sehingga
berdampak pada pertumbuhan yang tidak
optimal dan rendahnya kelulushidupan.
Dengan demikian diperlukan adanya
Gambar 1. Pengukuran Kualitas Air Kerapu
pakan yang dapat memenuhi nutrisi untuk
Cantang
pertumbuhan dan mengoptimalkan
kelulushidupan larva ikan lele. Penelitian
ini dilakukan untuk menganalisis Kelulushidupan tertinggi
pertumbuhan dan kelulushidupan larva didapatkan pada perlakuan D (media
ikan lele dengan pemberian pakan kultur kotoran ayam 1,2 g/l, 0,9 g/l bekatul
Daphnia sp. yang dikultur massal dengan dan 0,3 g/l bungkil kelapa) dan E (media
menggunakan pupuk organic yang kultur kotoran ayam 1,2 g/l, 0,6 g/l bekatul
difermentasi. dan 0,6 g/l bungkil kelapa) hal ini
Hasil laju pertumbuhan relative dikarenakan mempunyai kandungan lemak
tertinggi terdapat pada perlakuan B (mdia yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan
kultur kotoran ayam 1,2 g/l, 1,2 g/l bungkil B dan kandungan protein lebih tinggi
kelapa dan tanpa bekatul ) yaitu dibandingkan perlakuan A dan C. Ikan
18.390,05%. hal ini dikarenakan yang dapat tumbuh dengan optimal
kandungan nutrisi terutama protein berpengaruh terhadap tingkat
tertinggi pada Daphnia sp. yang dikultur kelulushidupan yang maksimal. Lemak
massal dengan menggunakan pupuk berfungsi sebagai sumber energi,
organic difermentasi yaitu 73,90%. mempertinggi penyerapan vitamin yang
Berdasarkan analisa ragam perbedaan larut dalam lemak. Hal ini sesuai dengan
perlakuan pemberian pakan Daphnia sp. penelitian Gao et al, (1991) bahwa lemak
yang dikultur dengan pupuk organic berfungsi sebagai sumber energi,
difermentasi berpengaruh nyata (p > 0,05) mempertinggi penyerapan vitamin yang
terhadap pertumbuhan relative larva ikan larut dalam lemak, memberi aroma pada
lele (Clarias gariepenus). Hasil uji ganda pakan dan sebagai daya apung dalam
Duncan memberikan hasil bahwa pakan. Energi yang dihasilkan oleh lemak
perlakuan B merupakan perlakuan terbaik. digunakan untuk mencari makan dan
Hal ini dikarenakan kandungan nutrisi pertumbuhan (Pratiwi, 2009).
terutama protein dalam Daphnia sp. pada KESIMPULAN
perlakuan B sebesar 73,90%. Kebutuhan Berdasarkan hasil studi literatur
protein dan lemak sangat dibutuhkan oleh yang dilakukan, manajemen pemeliharaan
larva khususnya pada stadia awal, hal ini larva yang baik pada beberapa jenis ikan
karena protein sangat berfungsi untuk dapat dilakukan untuk meningkatkan
memperbaiki dan mempertahankan produktivitas hasil budidaya. Diantaranya
jaringan sel-selnya. Pernyataan tersebut adalah dengan pengelolaan kualitas air,
diperkuat dalam penelitian Agustono et. al pemberian pakan yang tepat dan
(2009) yaitu, laju pertumbuhan berkualitas serta ukuran bak yang berbeda-
beda terhadap padat penebaran yang Budidaya Perairan. Vol. 3 No. 2:
19 28. FPIK UNSRAT Manado.
berbeda pula.
DAFTAR PUSTAKA Prayogo, I. Isfanji, W. 2014. Teknik
Pemeliharaan Larva Kerapu
Herawati. Agus, M. 2014. Analisis
Cantang (Epinephelus
Pertumbuhan dan Kelulushidupan
fuscoguttatus lanceolatus)
Larva Lele (Clarias geriepenus)
Samakia: Jurnal Ilmu Perikanan.
yang Diberi Pakan Daphnia sp
Vol. 5 No. 1.
Hasil Kultur Massal Menggunakan
Pupuk Organik Difermentasi.
Setyadi, I. 2007. Produksi Masal Larva
Jurnal Oerikanan dan Ilmu
Ikan Kerapu Pasir (Epinephelus
Kelautan. FPIK UNDIP.
Corallicola) dengan Ukuran Bak
Berbeda. Balai Besar Riset
Lucas, Weismann G. F. 2015.
Perikanan Budidaya Laut Gondol.
Pertumbuhan dan kelangsungan
Vol. 14, No. 1.
hidup larva gurami (Osphronemus
gouramy) dengan pemberian
beberapa jenis pakan. Jurnal