Anda di halaman 1dari 23

2.

4 Pengertian terowongan

Terowongan adalah struktur bawah tanah yang mempunyai panjang lebih dari lebar
penampang galiannya, dan mempunyai gradien memanjang kurang dari 15%. Terowongan
umunya tertutup di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka pada lingkungan luar.
Terowongan umumnya dibuat melalui berbagai jenis lapisan tanah dan bebatuan sehingga
metode konstruksi pembuatan terowongan tergantung dari keadaan tanah. Metode konstruksi
yang lazim digunakan dalam pembuatan terowongan antara lain : Cut and Cover System, Pipe
Jacking System (Micro Tunneling), Tunneling Bor Machine (TBM), New Austrian Tunneling
Method (NATM), dan Immersed-Tube Tunneling System. Menurut Paulus P Raharjo (2004)
bahwa terowongan transportasi bawah kota merupakan grup tersendiri diantara terowongan lalu
lintas, dapat berupa terowongan kereta api maupun terowongan jalan raya. Dalam tahap
konstruksinya, terowongan memerlukan pengawasan yang lebih, karena adanya sedikit
kesalahan metode atau sequence of work dapat mengakibatkan keruntuhan tunnel. Pelaksanaan
galian terowongan dapat dikerjakan dengan bantuan alat-alat berat (excavator dengan
perlengkapan-perlengkapan clampshell, backhoe, shovel, dan juga crawler loader), sehingga
pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu relatif cepat dan memperkecil kemungkinan runtuh.

2.5 Klasifikasi Terowongan

Ditinjau berdasarkan kegunaan terowongan, Made Astawa Rai (1988) membagi terowongan
menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Terowongan lalu lintas ( traffic tunnel )

a. Terowongan kereta api

Adalah terowongan yang merupakan terowongan paling penting diantara terowongan lalu
lintas.

b. Terowongan jalan raya

Terowongan yang dibangun untuk kendaraan bermotor karena pesatnya pertambahan lalu lintas
jalan raya bersamaan dengan berkembangnya industri kendaraan bermotor.

c. Terowongan pejalan kaki

Terowongan ini termasuk dalam grup terowongan jalan (road tunnel) tetapi penampangnya lebih
kecil, jari jari belokannya pendek dan kemiringannya besar (lebih besar dari 10%).
Terowongan ini biasanya digunakan dibawah jalan raya yang ramai atau dibawah sungai dan
kanal sebagai tempat menyebrang bagi pejalan kaki.
d. Terowongan navigasi

Terowongan ini dibuat untuk kepentingan lalu-lintas air di kanal-kanal dan sungai-sungai yang
menghubungkan satu kanal atau sungai ke kanal lainnya. Disamping itu juga dibuat untuk
menembus daerah pegunungan untuk memperpendek jarak dan memperlancar lalu lintas air.

e. Terowongan transportasi dibawah kota

f. Terowongan transportasi ditambang bawah tanah

Terowongan ini dibuat sebagai jalan masuk kedalam tambang bawah tanah yang digunakan
untuk lalu lintas para pekerja tambang, mengangkut peralatan tambang, mengangkut batuan
dan bijih hasil penambangan.

2. Terowongan angkutan

a. Terowongan stasiun pembangkit listrik air

Air dialihkan atau dialirkan dari sungai atau reservoir untuk digunakan sebagai pembangkit
listrik disebuah stasiun pembangkit yang letaknya lebih rendah. Terowongan ini dapat
dikategorikan pada suatu grup utama berdasarkan kegunaannya.

b. Terowongan penyediaan air

Terowongan ini hampir sama dengan terowongan stasiun pembangkit listrik air, perbedaannya
hanya pada fungsi kedua terowongan tersebut. Fungsi dari terowongan penyediaan air adalah
menyalurkan air dari mata air ketempat penyimpanan air di dalam kota atau membelokkan air ke
tempat penyimpanan tersebut.

c. Terowongan untuk saluran air kotor

Terowongan ini dibuat untuk membuang air kotor dari kota atau pusat industri ke tempat
pembuangan yang sudah disediakan.

d. Terowongan yang digunakan untuk kepentingan umum

Terowongan ini biasanya dibuat di daerah perkotaan untuk menyalurkan kabel listrik dan
telepon, pipa gas dan air, dan juga pipa pipa lainnya yang penting, dibuat dibawah saluran air,
jalan raya, jalan kereta api, blok bangunan untuk memudahkan inspeksi secara kontinyu,
pemeliharaan dan perbaikan sewaktu waktu kalau ada kerusakan.
Berdasarkan lokasinya terowongan dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

a. Underwater Tunnels

Terowongan yang dibangun dibawah dasar muka air. Pada umunnya dibangun dibawah dasar dan
sungai atau laut. Perhitungannya lebih kompleks, selain ada tekanan tanah.juga terdapat tekanan
air yang besar.

b. Mountain Tunnels

Terowongan jenis ini adalah salah satu terowongan yang mempunyai peran penting ketika suatu
daerah memiliki topografi yang beragam, sehingga perlu adanya terowongan yang dibangun
menembus sebuah bukit maupun gunung.

c. Tunnels at Shallow Depth and Water City Streets

Jaringan transportasi di Negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang banyak yang
menerapkan tipe terowongan ini. Terowongan jenis ini sangat cocok untuk dibangun di
perkotaan. Baik itu untuk transportasi maupun saluran drainase kota.

Berdasarkan material yang dipakai, Paulus P Raharjo (2004) menjelaskan terdapat 3 jenis
terowongan, yaitu:

1. Terowongan Batuan (Rock Tunnels)

Terowongan batuan dibuat langsung pada batuan massif dengan cara pemboran atau peledakan.
Terowongan batuan umumnya lebih mudah dikonstruksikan daripada terowongan melalui tanah
lunak karena pada umumnya batuan dapat berdiri sendiri kecuali pada batuan yang mengalami
fracture.

2. Terowongan melalui tanah lunak (Soft Ground Tunnels)

Terowongan melalui tanah lunak dibuat melalui tanah lempung atau pasir atau batuan lunak (soft
rock) . Karena jenis material ini runtuh bila digali, maka dibutuhkan suatu dinding atau atap yang
kuat sebagai penahan bersamaan dengan proses penggalian. Umumnya digunakan shield
(pelindung) untk memproteksi galian tersebut agar tidak runtuh. Teknik yang umum digunakan
pada saat ini adalah shield tunneling Pada terowongan melalui tanah lunak ini, lining langsung
dipasang dibelakang shield bersamaan dengan pergerakan maju dari mesin pembor terowongan
(Tunnel Boring Machine).

3. Terowongan gali timbun (Cut and Cover Tunnel)

Terowongan ini dibuat dengan cara menggali sebuar trench pada tanah, kenudian dinding dan
atap terowongan dikonstruksikan di dalam galian. Sesudah itu galian ditimbun kembali dan
seluruh struktur berada dibawah timbunan tanah. (Sumber : Rai Made Astawa Rai : Teknik
Terowongan: 1988)

2.6 Metode Konstruksi Terowongan

Terowongan adalah struktur bawah tanah yang mempunyai panjang lebih dari lebar penampang
galiannya, dan mempunyai gradien memanjang kurang dari 15%. Terowongan umunya tertutup
di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka pada lingkungan luar. Beberapa ahli
teknik sipil mendefinisikan terowongan sebagai sebuah tembusan di bawah permukaan yang
memiliki panjang minimal 0.1 mil, dan yang lebih pendek dari itu dinamakan underpass.

2.6.1 Tinjauan Geoteknik

Dari sudut tinjauan geoteknik, konstruksi terowongan melibatkan dua disiplin ilmu :
Mekanika Tanah dan Mekanika Batuan. Jarang sekali terowongan melalui tanah saja, meskipun
pembuatan terowongan pada tanah umumnya merupakan masalah yang sulit. Pelaksanaan
konstruksi terowongan dapat mengakibatkan ketidakpastian. Dalam pembuatan terowongan,
situasi dapat muncul dalam kondisi ketidakpastian, sekalipun telah didahului dengan
penyelidikan pendahuluan tentang kondisi tanah dan batuan. Hal mana dapat menyebabkan
pembengkakan biaya, waktu dan tenaga kerja. Tentu saja semakin luas dan mendalam
penyelidikan geoteknik yang dilakukan, maka semakin kecil resikonya. Memang telah
dikembangkan solusi secara teoretis untuk menghitung tegangan dan regangan pada lining
terowongan pada kondisi yang ideal, tetapi seorang perancang perlu memperhatikan keadaan real
dan mengadopsi keadaan ini pada tingkat yang mendekati kenyataan. Pandangan geoteknik pada
umumnya mengkombinasikan penelaahan teoretis dan pengetahuan empirik yang diperoleh dari
observasi dan pengukuran pada terowongan yang sedang dilaksanakan.

2.6.2 Aspek Geologi Teknik

Geologi adalah faktor terpenting untuk mengetahui jenis, bentuk dan biaya terowongan.
Misalnya rute, desain dan konstruksi dari terowongan sangat bergantung kepada pertimbangan
geologi. Sebagai konsekuensinya, pelaksanaan terowongan sering mempunyai ketidakpastian
yang tinggi karena kondisi bawah tanah sepanjang rute terowongan tidak pernah lengkap, serinci
apapun penyelidikan geoteknik dilakukan. Sebelum konstruksi terowongan umumnya dilakukan
penyelidikan geologi teknik dan geoteknik menggunakan cara pemboran, in situ testing, adits
maupun pilot tunnel. Adits untuk eksplorasi sebelum penerowongan umumnya tidak dilakukan
kecuali salah satu bagian terowongan dipandang berbahaya atau suatu ketidakpastian telah
dipastikan. Pada pemboran, inti dari bor harus selalu disimpan untuk membantu interpretasi dari
masalah geoteknik pada saat pelaksanaan terowongan.
Pilot tunnel adalah cara terbaik untuk menyelidiki lokasi terowongan dan harus
digunakan apabila terowongan berukuran besar hendak dilaksanakan pada daerah yang memiliki
kondisi geologi yang kritis. Pilot tunnel juga merupakan cara untuk mengatasi masalah air. Bila
rembesan kedalam terowongan diperkirakan tinggi, maka batuan atau tanah dapat terlebih dahulu
diproteksi dengan cara grouting. Informasi yang dapat diandalkan pada muka terowongan
merupakan keadaan yang amat penting. Kondisi ini dapat dicapai misalnya dengan membor
horizontal antara dua buah shaft atau dengan pemboran langsung didepan muka terowongan pada
tiap interval tertentu. Pada kondisi tanah atau batuan yang amat jelek, pemboran dalam arah
miring kedepan dari muka terowongan kadang kadang dilakukan sejarak 10 30 m. Meskipun
cara ini sangat menghambat kemajuan penerowongan, tetapi kepastian penyelesaiannya lebih
terjamin. Pemboran keatas dan kesamping dari muka terowongan membantu memberikan
informasi akan adanya sesar, bagian lemah dari batuan ( weak seams) atau rongga.

2.6.3 Konsep Umum Teknologi Metode Konstruksi Terowongan

Cara pelaksanaan atau metode konstruksi terowongan memberikan kontribusi yang besar
terhadap tegangan yang bekerja dan prilaku dari massa tanah atau massa batuan yang digali
untuk terowongan. Khususnya masalah yang timbul pada konstruksi terowongan lebih
merupakan masalah lapangan daripada saat perancangan. Teknologi yang tersedia massa kini
telah membuat konstruksi terowongan cukup aman dan berhasil dengan baik sebagaimana
konstruksi sipil yang besar lainnya. Orang lebih percaya bahwa masalah pemilihan konstruksi
terowongan lebih merupakan masalah ekonomis dan ketersediaan alat dan tenaga daripada
masalah ketidakpastian. Telah ada solusi teoretis untuk menentukan tegangan dan regangan yang
akan bekerja. Tetapi karakteristik dari material tanah dan batuan tidaklah mudah seehingga
konsep teoretis tidaklah memuaskan. Dalam hal ini keterpaduan antara perbedaan teoretis dan
lapangan semakin diperlukan. Kondisi geologi merupakan faktor pengendali dalam pelaksanaan
konstruksi terowongan, dimana untuk suatu proyek dapat memberikan variasi yang cukup besar.
Identifikasi yang memadai untuk kondisi geologi ini umumnya sulit dan memerlukan biaya yang
besar sehingga modifikasi saat konstruksi harus diantisipasi.

Syarat utama untuk konstruksi terowongan adalah :

1. Dapat dilaksanakan dengan aman.

2. Pelaksanaan konstruksi tidak boleh mengakibatkan kerusakan pada bangunan sipil atau
instalasi penting lainnya.

3. Konstruksi terowongan harus dapat memiliki sistem pemeliharaan yang seminim mungkin.

4. Dalam jangka waktu yang lama harus dapat menahan beban yang bekerja, dalam hal ini yang
terutama adalah tekanan tanah dan tekanan air.
Unsur unsur utama dalam studi untuk konstruksi terowongan yang harus dipertimbangkan
adalah :

1. Penggalian

Yaitu metode untuk menggali material, pada umunya tergantung pada kekuatan dan kekerasan
material.

2. Penjagaan terhadap galian/ bukaan

Perlu tidaknya suatu proteksi terhadap kemungkinan longsor tanah atau batuan kedalam lubang
terowongan.Metode yang dapat diterapkan disini misalnya pembuatan dinding diafragma untuk
galian terbuka, penggunaan shortcrete dan penjangkaran bila perlu dan lain lain.

3. Perbaikan tanah/ batuan

Pada penggalian terowongan untuk tanah maupun batuan tidak kompeten, perbaikan tanah atau
batuan mungkin diperlukan. Diantara teknik perbaikan adalah dengan jet grouting atau dengan
dewatering.

4. Pengaruh konstruksi terowongan terhadap struktur disekitar terowongan.

Pengaruh dari konstruksi terowongan terhadap bangunan disekitarnya adalah keseimbangan baru
yang mengakibatkan penurunan permukaan tanah dan pergerakan lateral didekat lubang galian.

2.6.4 Kondisi Tanah dan Batuan

Kondisi tanah dapat menguntungkan yaitu bila penggalian terowongan tidak mengakibatkan
kesulitan yang berarti, tetapi dapat juga tidak menguntungkan karena dapat membahayakan para
pekerja, mengakibatkan kelambatan kerja dan penambahan biaya dan dapat pula mengakibatkan
penurunan tanah dipermukaan secara berlebihan. Kondisi yang tidak menguntungkan ini harus
memperoleh perhatian utama dan umumnya perlu dilakukan dengan perbaikan tanah terlebih
dahulu.

2.6.5 Terowongan pada Massa Batuan

Batuan kompeten adalah batuan intact yang keras yang tidak membutuhkan sokongan pada
penggalian terowongan, tetapi kekerasannya menjadi bahan pertimbangan untuk teknik
penggaliannya. Sedangkan batuan tidak kompeten memiliki sifat diskontinu yang dapat berupa
joints dan sesar. Batuan ini dapat bervariasi dari batuan lunak hingga keras tergantung kepada
jenis mineral dan pelapukannya.
2.6.6 Terowongan pada Tanah

Tanah yang kokoh dapat memberikan kondisi yang mengunutngkan karena atap terowongan
dapat dibiarkan tanpa sokongan untuk beberapa waktu. Sebaliknya kondisi tanah lembek tidak
menguntungkan karena mudah runtuh atau mengalir menutup rongga galian. Pada kondisi tanah
yang buruk, dapat terjadi squeezing atau penciutan lubang galian, ravelling yaitu tanah atau
batuan rontok secara bertahap, running yaitu keruntuhan massa tanah atau batuan, dan flowing
atau tanah mengalir ( karena muka air tanah yang tinggi dan air cenderung membawa material
tanah bersama - sama ke lubang galian. Sedangkan terowongan pada batuan dapat mengalami
tegangan residual yang besar, running, squeezing dan juga sweeling. Umumnya tanah dalam
teknologi terowongan termasuk dalam soft ground. Pada pelaksanaan terowongan terjadi
peralihan atau pergerakan. Disamping itu, lapisan tanah berubah karakterisiknya pada saat
terbuka ke udara. Tingkat kesulitan dan biaya untuk konstruksi terowongan pada tanah amat
ditentukan oleh stand-up time dan posisi dari muka air tanah. Diatas muka air tanah, stand-up
time ditentukan oleh kuat geser dan kuat tarik material, sedangkan dibawah muka air tanah,
stand-up time ditentukan oleh permeabilitasnya. Terzaghi membedakan tanah dengan firm
ground, ravelling ground, running ground, flowing ground, squeezing ground. Sistem klasifikasi
ini lebih mudah untuk pelaksanaan terowongan. Adanya boulder dalam tanah akan merupakan
suatu kesulitantersendiri karena shield tunnelling tidak dapat mengatasinya. Batu yang besar
dalam tanah juga akan menyebabkan kesulitan karena tidak dapat diatasi dengan ekskavator
sehingga harus dihancurkan dengan cara diledakkan.

Dalam penggalian terowongan ada beberapa metode yang umum digunakan,akan tetapi metode
penggalian terowongan yang akan dipilih disesuaikan oleh keadaaan alam sekitar dengan segala
pertimbangan dan analisis, Rai Made Astawa Rai (1988), membagi beberapa metode penggalian
terowongan yang biasa diterapkan dilapangan sebagai berikut :

2.6.7 Metode full face

Metode full face adalah suatu cara dimana seluruh penampang terowongan digali secara
bersamaan. Metode ini sangat cocok untuk terowongan yang mempunyai ukuran penampang
melintang kecil hingga terowongan dengan diameter 3 meter. Cara penggaliannya yaitu dimana
seluruh bidang muka setelah dibor untuk tempat detonator kemudian diledakkan seluruh bidang
muka. Ini umumnya dilakukan pada adit yang mempunyai diameter kecil yaitu kurang dari 10
feet.

a. Keuntungan :

1. Pekerjaan akan lebih cepat karena penampang permukaan terowongan digali secara
bersamaan,

2. Proses tunneling dapat dilakukan dengan kontinyu.


b. Kerugian :

1. Banyak membutuhkan alat alat mekanis

2. Metoda ini tidak dapat digunakan apabila kondisi tanah tidak stabil,

3. Hanya untuk terowongan dengan lintasan pendek.

2.6.8 Metode Heading and Bench

Metode Heading and Bench adalah cara penggalian dimana bagian atas penampang
terowongan digali terlebih dahulu sebelum bagian bawah penampangnya. Setelah penggalian
bagian atas mencapai panjang 3 3,5 meter (heading), penggalian bawah penampang dikerjakan
( bench cut) sampai membentuk penampang terowongan yang diinginkan. Ini diterapkan bila
bridging capacity rendah terutama pada ditch yang mempunyai diameter besar

Keuntungan :

1. Memungkinkan pekerjaan pengeboran dan pembuangan sisa peledakan dilakukan secara


simultan,

2. Metoda ini efektif untuk pekerjaan terowongan dengan penampang besar dan dengan lintasan
yang relative panjang

2.6.9 Metoda Drift

Metode drift adalah suatu metode yang menggali terlebih dahulu sebuah lubang bukaan
berukuran kecil sepanjang lintasan terowongan yang kemudian diperbesar sampai membentuk
penampang yang direncanakan. Metode ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu :

(a) Top Drift

Metode ini banyak digunakan pada penggalian endapan di tambang. Metode ini

tidak jauh berbeda dengan medode heading and bench.

(b) Centre Drift

Metode ini dimulai dengan penggalian lubang berukuran 2,5m x 2,5m 3m x 3m dari portal ke
portal. Perluasannya dimulai setelah penggalian center drift selesai.

a. Keuntungan :

1. Metoda ini menguntungkan karena memberikan sistem ventilasi yang baik,

2. Tidak memerlukan penyangga sementara yang rumit karena ukurannya cukup kecil,

3. Mucking dapat dilakukan bersamaan dengan penggalian.


b. Kerugian :

1. Pekerjaan perluasannya harus menunggu center drift selesai secara keseluruhan,

2. Alat bor harus dipasang dengan pola tertentu.

(c) Bottom drift

Pada metode ini, penggalian dimulai dengan membuka bagian bawah penampang. Pembuatan
lubang-lubang bahan peledak untuk membuka bagian atas penampang dilakukan dengan mem-
bor dari bottom drift vertikal ke atas.

(d) Side Drift

Pada metode ini dua drift digali sekaligus pada sisi-sisi penampang, sepanjang lintasan
terowongan. Proses selanjutnya adalah penggalian bagian arch yang diikuti dengan
pemasangan penyangga sementara.

a. Keuntungan :

1. Proses pekerjaan lining dapat dilakukan sebelum penggalian bagian tengah selesai

2. Cocok untuk penggalian terowongan besar dan dengan kondisi tanah yang buruk.

Pilot tunnel digali paralel pada jarak kurang lebih 25 meter dari sumbu terowongan yang akan
direncanakan dengan ukuran 2 x 2 m2 3 x 3 m2. Penggalian pada terowongan utama sendiri
dilakukan dengan metode drift. (Sumber : Rai Made Astawa Rai : Teknik Terowongan: 1988)
Pilot tunnel adalah cara terbaik untuk menyelidiki lokasi terowongan dan harus digunakan bila
terowongan berukuran besar akan dilaksanakan pada jalur yang mempunyai kondisi geologi
yang kritis. Degan membuat pilot tunnel maka berbagai masalah yang akan ditemui pada
pelaksanaan penggalian pada skala yang lebih besar dapat diantisipasi sedini mungkin.

Keuntungan :

1. Cocok untuk penggalian terowongan besar dengan medan yang/kondisi geologi ktiris.

2. Tingkat resiko pada kondisi geologi yang kritis dapat diminimalisir.

2.6.11 Metode Sumuran Vertical

Sumuran adalah suatu terowongan yang digali secara vertikal (yang menyerupai sumur besar),
dimana pada dinding atau dasar sumur tadi dapat digali lubang-lubang ke arah horizontal.
Metode ini dilaksanakan dengan membuat lubang vertikal tegak lurus sampai pada terowongan
yang akan digali. Dengan dibuatnya satu lubang yang memotong lintasan terowongan akan
didapatkan paling sedikit tiga buah heading face.

2.7 Metode Pelaksanaan Terowongan pada Tanah Lunak

Secara garis besar terdapat dua metode pelaksanaan terowongan pada tanah lunak, yaitu metode
gali timbun ( cut and cover ) dan metode shield tunelling. Pembangunan terowongan pada tanah
lunak awalnya menggunakan metode gali timbun, tetapi dalam situasi tertentu metode tersebut
tidak dapat dilaksanakan, yaitu jika diatas terowongan hendak dibangun terdapat struktur
bangunan atau struktur lain yang keberadaanya tidak dapat dihilangkan saat pelaksanaan
konstruksi. Disamping itu metode gali timbun hanya dapat dilaksanakan pada kedalaman yang
terbatas karena konstruksi penahan tanah akan terlalu mahal. Cara pelaksanaan metode gali
timbun yang demikian membutuhkan suatu sistem konstruksi penahan galian yang dalam,
misalnya dengan menggunakan soldier pile atau penggunaan diinding diafragma. Bila galian
amat dalam umumnya dibutuhkan penjangkaran. Ketebalan dinding diafragma disesuaikan
dengan rancangan terowongan. Tujuannya adalah untuk memikul beban vertikal, beban lateral
dan gempa dan untuk memotong lapisan aquifer guna mencegah aliran air tanah masuk kedalam
lubang galian. Untuk mengatasi masalah adanya bangunan diatas terowongan dan galian yang
amat dalam tersebut maka dikembangkanlah metode shield tunnelling agar pekerjaan dapat
dilaksanakan lebih mudah. Shield merupakan suatu struktur baja yang umumnya berbentuk
silindris, didalam mana penggalian tanah tersebut dilakukan dan lining dipasang. Shield tersebut
bergerak maju menggali tanah dengan pendorongan dengan dongkrak pada lining yang sudah
dipasang. Sesudah dongkrak mendorong shield kedepan hingga habis dongkrak ditarik kembali
ke posisi maju dan segmen segmen lining dipasang dibelakangnya. Penggalian tanah dilakukan
dengan cutter head. Metode manual dengan menggunakan shield juga dengan muka terbuka dan
penggalian dilakukan dengan tangan/ manual atau alat penggali mekanis. Metode ini cocok
dilakukan pada kondisi tanah yang baik atau bila dijumpai adanya gravel yang sukar digali
dengan metode shield tunnelling.

2.8 Metode Selubung Terowongan (Shield tunneling method)

Metode menggali terowongan dengan menggunakan selubung yang semula dilakukan secara
manual oleh para pekerja dalam suatu selubung, berkembang menjadi suatu proses mekanis
dengan telah dikembangkannya.metode penggalian terowongan dengan menggunakan selubung
baja dan rotary cutter disk yang dilengkapi dengan mata-mata pahat pemotong (cutter bits).

Pada peralatan dan mesin selubung terowongan ini didorong ke depan dengan menggunakan
dongkrak (jack), bagian depan terowongan digali dan segmen-segmen yang berupa ruas-ruas
dirakit menjadi cincin lapisan di belakang mesin pembuat terowongan. Proses tunneling ini
disebut "metode selubung terowongan."

Pada tahun 1980-an, metode selubung terowongan diadopsi di negara-negara Amerika, Jerman
dan Perancis. Pada tahun 1936, metode ini digunakan untuk pertama kalinya dalam
pembangunan terowongan kereta api Kanmon di Jepang. Pada tahun 1960, metode selubung
terowongan dengan menggunakan selubung tertutup diterapkan dalam penggunaan praktis, dan
metode ini digunakan di berbagai bidang, termasuk terowongan kereta bawah tanah (subway),
pekerjaan saluran air limbah, tenaga listrik, telekomunikasi, jalan, dan sungai bawah tanah. Saat
ini, metode ini telah menjadi salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk konstruksi
infrastruktur perkotaan. Pengunaan Shield Tunnelling adalah mahal, tetapi metode ini
menawarkan keuntungan dari segi kecepatan, mengatasi masalah air, mengurangi settlement
dipermukaan tanah dan lain lain. Metode ini sangat cocok digunakan pada tanah lunak. Awalnya
pembuatan terowongan pada tanah lunak menggunakan metode seperti halnya dilakukan pada
penambangan yaitu penggalian secara manual dan menggunakan penyokong dari kayu agar
tanah tidak runtuh. Tahun 1818 adalah awal dari perkembangan TBM dimana shield (pelindung)
berupa lapisan penyokong dari baja dapat bergerak maju dengan bantuan dongkrak. Pada bagian
muka dapat dilakukan penggalian.

Setelah penggalian selesai, shield dapat bergerak maju dan pada bagian yang telah digali dibuat
lapisan pelindung permanen/ lining. Perkembangan ini berlanjut hingga saat ini terdapat dua
jenis TBM untuk Shield Tunelling yaitu TBM dengan mesin slurry (slurry faced TBM) dan EPB
(Earth Pressure Balance)

2.8.1 Slurry Faced TBM

Mesin penggali terowongan dengan menggunakan bubur (slurry) yang disemprotkan sehingga
tanah yang digali dapat dicampur dan dibawa kepermukaan dengan pipa. Setelah proses
penggalian, lining dapat dipasang dibelakangnya.

2.8.2 Earth Pressure Balance ( EPB)

Dengan teknologi yang semakin canggih, Sato Kogyo dari Jepang berhasil mendesain TBM
dengan EPB pada tahun 1963 dengan prinsip bahwa bagian muka terowongan distabilisasi
dengan tekanan yang seimbang dengan tekanan di muka terowongan. Hasil galian dibawa
menggunakan ban berjalan ( belt conveyor ) dalam sebuah pipa dengan prinsip pemindahan
material dari daerah bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Sistem EPB yang
dipakai adalah untuk pembuatan terowongan dibawah tekanan air tanah.

2.9 Pengembangan Teknologi Selubung Terowongan (Shield Tunnel)

Pembangunan dan pelaksanaan pekerjaan konstruksi di atas permukaan tanah di kota-kota yang
padat seringkali sulit untuk dilaksanakan karena adanya sejumlah permasalahan yang timbul
seperti terbatasnya persediaan ruang yang ada dan kemacetan lalu lintas. Metode shied tunneling
ini, adalah metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi terowongan yang tidak memerlukan
pekerjaan "menggali dan mengurug", telah menjadi salah satu metode yang paling penting dari
pekerjaan konstruksi bawah tanah di daerah metropolitan di Jepang Teknologi selubung
terowongan ini telah membuat kemajuan (advances) secara dramatis dalam beberapa tahun
terakhir, sehingga memungkinkan mekanisasi dan otomatisasi penanganan lapisan segmen dan
penguatannya serta meningkatkan keselamatan konstruksi. Upaya-upaya untuk meningkatkan
metode-metode kerja dan proses-proses pelaksanaan agar lebih cepat waktunya dan konstruksi
yang lebih efisien telah dicapai kemajuan luar biasa yang bertujuan untuk melaksanakan
pekerjaan konstruksi secara lebih ekonomis dengan jangka waktu lebih singkat. Dalam rangka
memenuhi kebutuhan diversifikasi/ penganekaragaman untuk terowongan berdiameter lebih
besar dan lebih dalam, terowongan dengan penampang bukan lingkaran dan percabangan,
penggabungan dan perluasan terowongan, upaya-upaya sedang dilakukan untuk
mengembangkan berbagai variasi teknologi canggih untuk mengatasi berbagai tantangan teknis.

1. Lebih dalam dan lebih besar

a. Terowongan Jalan:

Untuk The Tokyo Bay Aqualine Express Way, yang mulai beroperasi pada Desember 1997,
metode selubung terowongan ini digunakan untuk pertama kalinya di Jepang untuk
pembangunan sebuah terowongan jalan raya cepat (expressway). Di Tokyo, saat ini
pembangunan jaringan jalan raya (expressway) sedang berlangsung. Rute sentral melingkar jalan
raya cepat metropolitan, satu bagian jalan tersebut yang terletak sekitar 8 km dari pusat kota
Tokyo adalah salah satu dari tiga rute jalan raya cepat melingkar yang saat ini sedang dibangun.
Metode selubung terowongan digunakan untuk sebagian besar konstruksi bagian pertemuan jalan
pada beberapa jalan raya cepat tersebut.

b. Terowongan pembuangan dan pengelak banjir (Flood discharge and flood

detention tunnel)

Sebagai sarana untuk menjamin keamanaan dari hujan lebat dan banjir lokal didaerah perkotaan,
banyak terowongan besar yang dirancang untuk mengatur atau mengendalikan banjir telah
dibangun di bawah permukaan tanah. Untuk menahan tekanan air internal dengan lapisan primer
saja, beberapa teknologi berkaitan dengan desain lapisan segmen secara rasional, kehalusan
permukaan internal, kekedapan air pada sambungan-sambungan segmen dan sejenisnya untuk
mengatasi kondisi yang sangat parah, seperti luasnya penampang terowongan, kedalaman bawah
tanah, dan tekanan air yang tinggi telah dikembangkan dan diimplementasikan.

2.10 Tunnel Boring Machine (TBM)

Tunnel boring machine (TBM) adalah alat penggali terowongan. Karena bentuk mesin yang
menyerupai silinder, permuka terowongan yang terbentuk jadi seperti lingkaran. TBM dapat
digunakan pada batuan lunak hingga batuan keras. Diamater alat ini bervariasi mulai dari
semeter hingga 19 meter.TBM dilengkapi dengan mata bor yang tersebar di permukaan kepala
bor. Kepala bor yang berbentuk silinder ini kemudian berputar dan menggerus batuan. TBM
digunakan sebagai alternatif metode drilling and blasting (D&B). Drilling and blasting
merupakan metode konvensional untuk membuat terowongan yang terdiri dari beberapa tahap
dengan drilling (membor) dan blasting (meledakkan) sebagai dua tahap paling utama. TBM
terutama digunakan untuk keperluan konstruksi sipil (terowongan kereta api, terowongan bawah
laut) dan tambang bawah tanah. Terowongan yang digali dengan TBM akan langsung memiliki
permukaan rata hingga tidak lagi diperlukan pekerjaan finishing. Kekurangan terbesar TBM ada
di biaya kapital (capital cost). Harga TBM ukuran besar jelas sangat mahal, belum lagi kendala
transportasi dan infrastruktur penunjang yang perlu pula disiapkan di lapangan. Sejarah TBM
bermula pada 1825, setelah versi awal mesin ini sukses menggali terowongan Thames di Inggris.
Tentu saja pada waktu itu mesin ini masih sederhana. Setelah terowongan digali, proses finishing
masih perlu dilakukan.Sedang TBM terbesar dibuat oleh Herrenknecht AG of Schwanau,
perusahaan asal Jerman. Mesin ini memiliki diameter 19 meter, digunakan untuk menggali
terowongan Gotthard Base sepanjang 57 km.

2.10.1 Komponen Pada TBM Modern

Sebuah TBM adalah suatu sistem yang tidak dapat berdiri sendiri. TBM yang lengkap dapat
mencapai panjang 300 yang terdiri alat pemotong, pengambil material, sistem pengemudi,
gripping, penggali, pembor, pengontrol dan penyokong tanah, pemasang lining, alat pemindah
material, sistem ventilasi dan sumber tenaga. Semua ini akan mempercepat proses pembuatan
terowongan, sedangkan pekerjaan rel, pembangkit tenaga dan saluran ventilasi dikerjakan pada
bagian belakang TBM sebagi pekerjaan lanjutan.

1. Penggali tanah

TBM menggali tanah dengan memutar kumpulan gigi dengan tekanan melawan tanah. Gigi
pengeruk tanah itu terbuat dari baja alloy yang dilapis wolfram, untuk menggeruk tanah dengan
cara merobek. Mesin yang digunakan pada tanah lunak mempunyai daya putar pada bagian
pemotong yang lebih besar dibanding mesin pada batuan. Mesin EPB memungkinkan daya putar
yang lebih besar lagi. Cutter Wheels secara sepintas memang mempunyai bentuk tidak beraturan,
Tetapi bila diteliti, terlihat bahwa pemutarnya disusun secara radial untuk memotong alur yang
terpisah dan diletakkan disepanjang keliling cutter head untuk memberikan gaya dorong yang
memberikan keseimbangan. Bentuk cutter head adalah desain bentuk yang penting karena beban
penyeimbang pada cutter dan power train adalah faktor utama untuk keawetan komponen.

2. Pembuang Hasil Galian

Saat proses penggalian, material langsung jatuh kedalam ember yang berputar, lalu masuk keluar
terowongan. Pada beberapa terowongan digunakan sistem ban berjalan untuk membuangnya jika
TBM didesain untuk tanah dibawah muka air tanah. Hal tersebut tidak dapat dilakukan karena
adanya perbedaan tekanan air tanah dengan bagian dalam terowongan.
2.11 Unsur Unsur Perancangan Terowongan

Konstruksi terowongan dapat melalui tanah atau batuan.Khususnya disini akan dibahas
terowongan melalui tanah. Pelaksanaan konsrtuksi terowongan pada tanah berlangsung dengan
penggalian dan pembuangan tanah dimuka terowongan dengan pemasangan lining
dibelakangnya untuk menahan atap, dinding terowongan dan lantai terowongan. Pada tanah
yang baik, konstruksi penyangga sementara dapat dilakukan, tetapi pada kondisi tanah yang
buruk, perbaikan tanah dilakukan misalnya dengan menggunakan tekanan udara, dewatering
ataugrouting tergantung jenis tanah dan kondisi air sekelilingnya. Dua kriteria yang menentukan
keberhasilan konstruksi terowongan pada tanah adalah kemampuan lining untuk menahan beban
dan deformasi serta penurunan tanah permukaan akibat penggalian. Penurunan tanah
dipermukaan adalah akibat deformasi yang terjadi disekitar galian dan tergantung pada cara
pelaksanaan, kecepatan penggalian dan tegangan awal pasa tanah (Peck,1969)

2.11.1 Tegangan Pada lining

Terowongan pada tanah umumnya ditahan dengan lining dari beton atau plat baja. Perilaku lining
merupakan masalah kompleks dari interaksi tanah struktur. Secara ideal, perilaku ini tergantung
kepada kekauan lining, jenis tanah dan sifat deformasinya karena faktor tersebut berpengaruh
terhadap tegangan tanah yang akan terjadi.

2.11.2 Lining yang Fleksibel

Pada lining yang berbentuk lingkaran yang fleksibel,dengan mengasumsi tidak ada gangguan
pada tanah, maka dalam kondisi ideal, distribusi tegangan vertikal dan tegangan horizontal
menyerupai ellips.

2.11.3 Lining yang Kaku

Bila lining adalah kaku, maka secara ideal tidak akan terjadi deformasi akibat penggalian
sehingga tidak terjadi perubahan tegangan atau redistribusi tegangan pada tanah. Perbedaan
antara tegangan verikal dan horizontal akan mengakibatkan momen lentur pada lining. Dalam
kenyataan, kekakuan relatif pada lining terletak pada kedua kondisi diatas. Kompleksitas
tegangan akan lebih besar lagi jika bentuk lubang galian menyerupai tapal kuda atau bentuk yang
lain. Untuk diskusi lebih mendalam mengenai hal ini, Peck (1969) dan Cording et al (1975)
memberikan suatu catatan yang cukup lengkap.

2.11.4 Konstruksi Lining

Beban yang dipikul oleh sistem penahan (support system) tergantung pada kondisi tanah saat
pemasangannya. Bila tanah telah mencapai keseimbangan, maka lining ini tidak akan mencapai
beban yang terlalu berarti, sebaliknya bila lining dipasang sebelum kondisi keseimbangan
tercapai, hal ini akan menjadi suatu kondisi batas yang baru terhadap keadaan tersebut atau
terhadap tegangan dan regangan mula mula. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa tegangan
yang bekerja pada lining bukanlah merupakan tegangan yang mula mula sebelum dilakukan
penggalian. Lining terowongan atau suatu sistem pendukung dapat bersifat sementara, dapat juga
bersifat permanen. Studi untuk konstruksi ini terdiri dari dua langkah : Pertama, studi ini
mengevaluasi apa yang diharapkan terjadi terhadap lining ini sepanjang perubahan kondisi yang
terjadi dalam massa pelaksanaan. Langkah kedua adalah penyelidikan untuk menentukan
bagaimana peristiwa tersebut akan terjadi. Suatu sistem dinding penahan dapat berfungsi berbeda
beda pada satu saat dan saat lain. Arah dan besarnya beban yang besar dapat berubah dari
waktu ke waktu. Persyaratan pokok pada lining permanen adalah kekuatan, stabilitas, ketahanan,
pengendalian rembesan dan deformasi sepanjang umur terowongan. Suatu lining harus
memenuhi syarat syarat : cukup kaku, dapat dipasang berdasarkan teknologi yang ada dan
memberikan kekedapan yang cukup. Dalam hal tertentu seperti lining yang dibuat dibawah air
laut, maka konstruksi lining harus dapat menahan korosi. Konstruksi lining dapat bersifat tidak
permanen seperti penggunaan shortcrete atau bersifat permanen seperti penggunaan busur plat
baja atau segmen beton. Dalam hal digunakan baja, kebocoran dapat diatasi dengan cara las
tetapi kerugian plat baja adalah karena korosif. Sedangkan aplikasi segmen beton untuk lining
dapat dicapai dengan sistem bolt dan seal bitumen.

2.12 Respon Tanah Pada Pelaksanaan Galian Konstruksi Terowongan

Respon umum dari tanah akibat penggalian terowongan adalah bahwa tanah akan cenderung
menutup bukaaan yang terjadi karena pada bukaan tanah itulah tanah mengalami pelepasan
tegangan (stress release). Lebih lanjut, bila tanah mempunyai permeabilitas tinggi dan
terowongan berada dibawah muka air tanah, maka air tanah akan mengalir masuk kedalam
terowongan. Berdasarkan konsep ini, respon tanah menjadi bergantung pada teknik pelaksanaan
terowongan.

2.12.1 PerubahanTegangan

Penggalian terowongan mengubah kondisi tegangan terhadap keadaan awal pada tanah dan
batuan yang semula berupa massa yang berada dalam keseimbangan dalam medan gravitasi.
Akibat dari galian yang terjadi pelepasan tegangan (stress release) yang menyebabkan
redistribusi tegangan mula mula sehingga terjadi regangan dan deformasi baru. Pembuatan
terowongan mengakibatkan perubahan secara kontinu atau bertahap sehingga mencapai
keseimbangan yang lain. Kondisi final beruoa suatu kondisi hidrolik yang baru dan deformasi
yang mengakibatkan perubahan tegangan awal. Pada penggalian terowongan umumnya timbul
suatu zona teganga yang berubah. Umumnya akan ada peningkatan dari tegangan vertikal
didepan galian yang bergerak maju pada proses penggalian. Perubahan keadaan tegangan yang
disebabkan oleh penggalian tidak dapat terjadi tanpa adanya deformasi pada massa tanah atau
batuan. Meskipun digunakan lining, deformasi tetap akan terjadi. Deformasi ini umumnya
berubah sebagai fungsi waktu dan merupakan kondisi yang amat kompleks. Terjadinya
deformasi disekitar lubang galian akan dapat mengakibatkan penurunan dari tanah permukaan.
Cara pelaksanaan, urutan pelaksanaan dan bentuk lubang galian memberikan pengaruh besar
kepada tegangan tegangan pada tanah.

2.12.2 Perubahan Hidrolik

Penggalian menyebabkan perubahan pada tekanan air pori disekitarnya. Karena terowongan juga
berada pada lingkungan bertekanan atmosfer, maka aliran air akan mengarah pada lubang galian.
Sebagai konsekuensinya tekanan air tanah akan merupakan variabel yang baru yang harus
dipertimbangkan.

2.12.3 Perubahan Sifat Material

Penggalian juga mengakibatkan perubahan pada material itu sendiri misalnya penggunaan
ledakan dan shield tunnelling dapat mengubah kuat geser tanah dan batuan. Kebanyakan
terowongan pada tanah harus ditopang pada beberapa tahap selama masa konstruksi. Seiring
penopangan ini diperlukan untuk kondisi permanen dan untuk meyakinkan bahwa penggalian
dapat dilanjutkan. Adalah tidak mungkin dan tidak dianjurkan untuk mencegah total pergerakan
yang akan terjadi. Dalam beberapa hal deformasi itu dibutuhkan untuk mencapai distribusi
tegangan tertentu yang diinginkan. Seorang perencana harus mementukan pergerakan minimum
untuk mencapai keseimbangan dan dapat ditolerir.

2.13 Penurunan dan Pergerakan Lateral Akibat Konstruksi Terowongan dengan Shield
Tunnelling

Prediksi dari penurunan dan pergerakan lateral akibat konstruksi terowongan pada tanah lunak
dengan Shield Tunnelling merupakan suatu pertimbangan penting pada desain terowongan.
Pertama, pada pergerakan maju TBM akan melalui tanah yang berbeda dan berubah ubah
kondisi dan jenisnya. Kedua, tanah akan dipengaruhi oleh kondisi geologi tetapi sekaligus
dipengaruhi oleh teknik pelaksanaan terowongan. Tuntutan terhadap desain bahwa besarnya
pergerakan tersebut harus dapat diperkirakan, oleh sebab itu agar desain memberikan suatu hasil
yang diinginkan, prediksi penurunan dan pergerakan lateral perlu dilakukan. Secara umum
terdapat lima tahapan deformasi akibat pengunaan shield tunnelling, yaitu :

1. Penurunan Awal

Terjadi pada lokasi yang jauh didepan mesin shield. Pada tanah pasir, penurunan tersebut
disebabkan oleh turunnya muka air tanah.

2. Deformasi tanah pada bagian muka galian

Penurunan ini berlangsung seketika karena ketidakseimbangan tegangan antara penyokong


terowongan dengan tanah atau air pada bagian muka terowongan. Deformasi pada bagian ini
dapat direduksi bila menggunakan metode compensation grouting.
3. Penurunan diatas posisi shield yang bekerja

Penurunan ini terjadi apabila rongga galian besar akibat problem kontrol alinyemen shield.

4. Penurunan setelah konstruks rongga terbentuk

5. Penurunan jangka panjang

Terjadi sebagai akibat peningkatan tekanan air pori sehubungan dengan gerakan shield
mendorong tanah. Hal ini akan menjadi lebih serius jika penggalian dilakukan pada lempung
lunak dengan tegangan air pori ekses terjadi dan berdissipasi untuk mencapai keseimbangan
jangka panjang. Akibat penggalian terowongan pergerakan lateral juga dapat terjadi. Hashimoto
et al (1999) mengamati konstruksi terowongan pada tanah lunak dan mendapatkan bahwa
sebelum face dari shield berada pada posisi tersebut, terjadilah pergerakan ke arah dalam. Pada
tanah yang teguh hal ini tidak terjadi. Tetapi pada saat shield menembus posisi tersebut,
pergerakan lateral kearah luar dan selanjutnya pada saat posisi shield melewatinya terjadi
kembali pergerakan kearah dalam akibat adanya tail void antara lining dan tanah yang digali.
Pada saat ini prediksi pergerakan lateral pada tanah belum banyak dilakukan kecuali jika
digunakan metode elemen hingga. Umumnya deformasi disekitar terowongan berupa suatu
depresi yang simetris. Pola penurunan tanah bergantung pada jenis tanah, diameter terowongan
serta kedalaman dibawah terowongan dan cara konstruksinya.

2.14.1 Beberapa masalah pada pelaksanaan terowongan

Beberapa masalah pada konstruksi terowongan diantaranya :

1. Penurunan dipermukaan tanah akibat galian terowongan

2. Masalah masuknya air kedalam terowongan

3. Keruntuhan dimuka terowongan

4. Pergerakan dari struktur dibawah tanah

5. Bocoran pada lining

Penurunan permukaan tanah pada terowongan didekat permukaan dapat

mengakibatkan kegagalan struktur diatasnya.

2.12.1 Perbaikan Tanah

Beberapa metode perbaikan tanah sering menyertai pekerjaan pembuatan terowongan.


Diantaranya yang dapat disebutkan disini adalah pengendalian air tanah (dewatering),
penggunaan udara bertekanan (compressed air) dan grouting.
1. Dewatering

Dewatering (pengendalian air tanah) adalah amat penting diperlukan dalam pelaksanaan
terowongan pada tanah lunak, karena adanya air dapat mengakibatkan keruntuhan tanah pada
lubang galian. Penggunaan pompa sangat ekonomis pada teknik dewatering. Selain itu juga,
dapat digunakan pada daerah galian yang besar. Pada tanah kepasiran, pompa dapat digunakan
untuk mengalirkan air dimuka terowongan. Cara sederhana dewatering misalnya dengan
menggunakan sistem well point yang dapat diterapkan pada tanah lanau berpasir atau pada
tanah kepasiran. Caranya adalah dengan menanam wellpoint pada dua sisi saluran yang hendak
digali atau dibuat terowongan. Efektivitas well-point bergantung pada lebar terowongan, karena
daya hisap alat ini untuk menurunkan air hanya berkisar 4,5 7,0 m saja sehingga hanya
digunakan untuk sistem gali timbun. Bila elevasi terowongan lebih dalam, maka dewatering
dengan sistem well-point harus dibuat secara bertahap. Untuk kedalaman yang lebih besar, maka
harus digunakan cara deep well. Deep well memiliki diameter lebih besar daripada well point.
Penanaman deep well ini dapat mencapai 30 m dan menurunkan air hingga kedalamannya.

2. Udara bertekanan ( Compressed Air)

Dengan adanya peralatan modern pada pembuatan terowongan pada tanah lunak, penggunaan
udara bertekanan tidak perlu diperhatikan, tetapi sesungguhnya teknik udara bertekanan
merupakan cara efektif untuk menstabilkan tanah dan mengontrol air tanah, terutama pada tanah
berpasir dibawah air tanah atau pada tanah lempung berkohesi tinggi. Pada tanah berbutir
(granuler) penggunaan udara bertekanan dapat mengimbangi air pada bagian depan
terowongan, sehingga dapat mencegah masuknya air.

3. Grouting

Tujuan grouting selain untuk perbaikan sifat teknis tanah adalah juga mengontrol air tanah.
Terdapat beberapa tipe grouting untuk perbaikan tanah ditempat dalam persiapan penggalian
terowongan. Kemampuan tanah untuk digrout tergantung kepada nilai permeabilitasnya. Cara
grouting adalah sangat efektif karena :

Meningkatkan kekuatan geser tanah lunak dan tanah lepas dan mencegah keruntuhan selama
pembuatan terowongan.

Menurunkan permeabilitas tanah

Memperkecil kebutuhan untuk dewatering

Stabilisasi pada tanah berpasir yang cenderung mengalami ravelling

dalam keadaan kering dan mengalami running pada kondisi dibawah

muka air.
2.15 Finite Element Method (FEM)

Finite Element Method (FEM) atau biasanya disebut Finite Element Analysis (FEA), adalah
prosedur numeris yang dapat dipakai untuk menyelsaikan masalah-masalah dalam bidang
rekayasa (engineering), seperti analisa tegangan pada struktur dan pada kasus kasus rekayasa
geoteknik. Metode ini digunakan pada masalah-masalah rekayasa dimana exact
solution/analytical solution tidak dapat menyelsaikannya. Inti dari FEM adalah membagi suatu
benda yang akan dianalisa, menjadi beberapa bagian dengan jumlah hingga (finite). Bagian-
bagian ini disebut elemen yang tiap elemen satu dengan elemen lainnya dihubungkan dengan
nodal (node). Kemudian dibangun persamaan matematika yang menjadi reprensentasi benda
tersebut.

Proses pembagian benda menjadi beberapa bagian disebut meshing. Untuk menggambarkan
dasar pendekatan FEM perhatikan gambar 1. Gambar 1 adalah gambar sebuah plate yang akan
dicari distribusi temperaturnya. Bentuk geometri plate di meshing menjadi bagian-bagian kecil
bentuk segitiga untuk mencari solusi yang berupa distribusi temperatur plate. Sebenarnya kasus
ini dapat diselsaikan dengan cara langsung yaitu dengan persamaan kesetimbangan panas (heat
balance equation). Namun untuk geomtri yang rumit seperti engine block diperlukan FEM untuk
mencari distribusi temperatur.

2.16 Langkah Dasar dalam Metode Elemen Hingga

Langkah-langkah dasar dalam finite element analysis adalah sebagai berikut:

Processing Phase

1. Membuat dan menentukan daerah yang akan diselesaikan menggunakan elemen hingga,
kemudian menguraikan masalah menjadi nodal-nodal dan elemen-elemen.

2. Mengasumsikan bentuk fungsi untuk menggambarkan sifat fisik dari sebuah elemen, yang
merupakan pendekatan fungsi kontinyu yang diasumsikan untuk menggambarkan solusi dari
sebuah elemen.

3. Menyelesaikan persamaan untuk sebuah elemen

4. Menyatukan elemen-elemen untuk menghadirkan keseluruhan masalah. Membentuk matrik


kekakuan global discretize.

5. Terapkan kondisi batas, kondisi awal dan pembebanan.

Solution Phase

Memecahkan satu set persamaan aljabar linier atau non linier secara cepat untuk mendapatkan
hasil nodal seperti nilai perpindahan pada nodal-nodal yang berbeda atau nilai temperatur pada
nodal-nodal yang berbeda dalam masalah perpindahan panas
Postprocesssing Phase

Pada sesi ini kita akan mendapatkan informasi penting lainnya. Seperti nilai tegangan (stress)
dalam analisa statik, distribusi kecepatan meknika fluida, distribusi temperatur dan lain-lain.

2.17 Program Plaxis

PLAXIS (Finite Element Code For Soil and Rock Analysis) adalah program elemen hingga
untuk aplikasi geoteknik dimana digunakan model model tanah untuk dilakukan simulasi
terhadap perilaku dari tanah. Program Plaxis merupakan paket program untuk dgunakan dalam
analisis deformasi dan stabilitas dua dimensi dalam rekayasa geoteknik. Aplikasi geoteknik
umumnya membutuhkan model konstitutif tingkat lanjut untuk memodelkan prilaku tanah
maupun batuan yang non linier, bergantung pada waktu serta anisotropis. Selain itu, karena tanah
adalah maerial multifase, maka diperlukan prosedur prosedur khusus untuk melakukan analisis
tehadap tekanan hidrostatis dan tekanan hidrostatis dalam tanah. Meskipun pemodelan dari
material tanah sendiri merupakan hal yang penting, namun banyak proyek terowongan yang juga
harus mengikutsertakan pemodelan struktur dan interaksi anatara struktur dan tanah. Plaxis
dilengkapi beberapa fitur untuk menghadapi berbagai aspek struktur dan geoteknik yang
kompleks. PLAXIS 2D menyediakan berbagai analisa teknik tentang deformasi/displacement,
tegangan-tegangan yang terjadi pada tanah, dan lain-lain. Program ini dirancang untuk dapat
melakukan pembuatan geometri yang akan dianalisa. Parameter tanah yang digunakan pada
Program PLAXIS diantaranya yaitu :

a) Berat Volume Tanah Kering / dry soil weight ( dry)

b) Berat Volume Tanah Basah / wet soil weight ( wet)

c) Permeabilitas Arah Horizontal / horizontal permeability (kx)

d) Permeabilitas Arah Vertikal / vertical permeability (ky)

e) Modulus Young / Youngs Modulus (E),

f) Poissons Ratio (v)

g) Kohesi / Cohesion (c)

h) Sudut Geser / Friction Angle ()

g) Sudut Dilatansi / Dilatancy Angle ()

Program komputer ini menggunakan elemen segitiga dengan pilihan 6 nodal atau 15 nodal. Pada
analisis ini digunakan elemen segitiga dengan 15 nodal agar dapat mencapai tingkat akurasi yang
maksimal. Pemodelan dilakukan pada mode plain strain. PLAXIS terdiri dari 4 program :
1. Input program

2. Calculation program

3. Output program

4. Curve program

2.18 Pemodelan Material Tanah pada Program Plaxis

Plaxis mendukung material berbagai model konstitutif untuk memodelkan prilaku dari material
tanah maupun material kontinum lainnya.

2.18.1 Model Linier Elastis

Model ini menyatakan Hukum Hooke tentang elastisitas linier isotropis. Model ini meliputi dua
buah parameter kekakuan, yaitu modulus Young (E), dan angka poisson (). Model linier elastis
sangat terbatas untuk pemodelan prilaku tanah. Model ini terutama digunakan pada struktur
struktur yang kaku dalam tanah.

2.18.2 Model Mohr Coulomb

Model yang sangat dikenal ini digunakan untuk pendekatan awal terhadap prilaku tanah secara
umum. Model mohr coulomb merupakan model elastisyang terdiri dari lima buah parameter
yaitu E dan v untuk memodelkan elastisitas tanah dan sebagai sudut dilatansi dan c untuk
memodelkan plastisitas tanah. Model ini merupakan suatu pendekatan ordo pertama dari prilaku
tanah dan batuan. Model ini disarankan untuk digunakan dalam analisis awal dari masalah yang
dihadapi. Setiap lapisan dimodelkan dengan sebuah nilai kekakuan rata rata yang konstan.
Karena kekakuan yang konstan maka perhitungan cenderung cepat dan dapat diperoleh perkiraan
awal dari bentuk deformasi model. Disamping kelima parameter dari model tersebut, kondisi
tegangan awal dari tanah memegag peranan yang penting dan hampir selu ruh deformasi tanah.
Tegangan horizontal awal tanah harus ditentukan terlebih dahulu dengan menggunakan nilai ko
yang tepat. Model ini membutuhkan total lima buah parameter yang umum digunakan oleh para
praktisi geoteknik dan dapat diperoleh dari uji uji dilaboratorium yang meliputi

1. Modulus Young (E)

2. Angka Poisson (v)

3. Sudut geser ()

4. Kohesi (c)

5. Sudut dilatansi ()

2.18.3 Model Soft Soil


Model ini merupakan model cam clay yang digunakan untuk memodelkan prilaku tanah lunak
seperti lempung terkonsolidasi norma dan gambut. Model ini paling baik digunakan untuk situasi
kompresi primer. Model soft soil adalah jens model tanah yang ditujukan khusus untuk analisis
kompresi primer dari tanah lempungan yang terkonsolidasi normal. Meskipun kemampuan dari
model tanah ini berada dibawah model hardening soil, namun model soft soil tetap dipertahankan
dalam versi Plaxis ini. Parameter model soft soil serupa dengan parameter dalam model soft soil
creep. Namun demikian karena model soft soil tidak melibatkan waktu maka indeks rangkak
termodifikasi * tidak diikutsertakan. Rentang rasio */ K* pada umumnya berkisar antara 3
dan 7.

2.18.4 Model Hardening Soil

Model ini merupakan model hiperbolik yang bersifat elastoplastis, yang diformulasikan dalam
lingkup plastisitas dari pengerasan akibat friksi (friction hardening plasticity). Model ini telah
mengikutsertakan kompresi hardening untuk memodelkan pemampatan tanah yang tidak dapat
kembali seperti semula (irreversible) saat menerima pembebanan yang bersifat kompresif. Model
ini dapat digunakan untuk memodelkan prilaku tanah pasiran, kerikil serta jenis tanah yang lebih
lunak seperti lanau dan lempung. Model hardening soil merupakan model tingkat lanjut untuk
memodelkan prilaku tingkat lanjut untuk memodelkan prilaku dari tanah. Seperti pada model
mohr coulomb, kondisi tegangan batas dideskripsikan oleh sudut geser , kohesi c dan sudut
dilatansi . Namun demikian, kekakuan tanah dideskripsikan lebih akurat dengan menggunakan
tiga kekakuan yang berbeda yaitu kekakuan pembebanan triaksial E 50, kekakuan pengurangan
beban (unloading) triaksial E ur dan kekakuan pembebanan satu arah E oed.

Untuk nilai tipikal dari berbagai jenis tanah dapat digunakan E ur = 3. E 50 dan E oed = E 50.
Berbeda dengan model mohr coulomb, model hardening soil mengikutsertakan modulus
kekakuan yang tergantung pada tegangan. Hal ini berarti bahwa kekakuan akan meningkat
terhadap tegangan. Ketiga kekakuan merupakan nilai yang berhubungan dengan sebuah tegangan
acuan yang umumnya diambil sebesar 100 Kpa. Beberapa parameter dasar dari model ini adalah

1. Kekakuan bergantung pada tegangan secara eksponensial (m)

2. Peregangan plastis akibat beban deviator utama (E reff 50)

3. Peregangan plastis akibat beban kompresi primer (E reff oed)

4. Pengurangan/ pemberian beban elastis (E reff ur, v ur)

5. Keruntuhan sesuai model mohr coulomb ( C,,)

Dalam kasus khusus pada tanah lunak, penggunaan m =1 adalah cukup realistis.
2.18.5 Model Soft Soil Creep

Model ini merupakan model yang diformulasikan dalam lingkup viskoplastisitas. Model ini
dapat digunakan untuk memodelkan prilaku tanah lunak yang tergantung pada waktu ( time
dependent ) Seperti lempung terkonsolidasi normal dan gambut. Model hardening soil diatas
dapat digunakan untuk semua jenis tanah tetapi model tersebut tidak mengikutsertakan efek
viskositas yaitu rangkak/creep dan relaksasi tegangan. Kenyataannya, semua jenis tanah
mengalami rangkak dan kompresi primer yang diikuti oleh kompresi sekunder. Kompresi
sekunder sangat dominan pada tanah tanah lunak yaitu lempung yang terkonsolidasi normal,
tanah lanau serta gambut sehingga model ini disebut model soft soil creep. Seperti pada model
mohr coulomb, kondisi awal tanah yang benar juga merupakann hal yang penting saat
menggunakan model soft soil creep. Untuk model hardening soil dan soft soil creep, penentuan
kondisi awal tanah juga melibatkan data masukkan berupa tekanan prakonsolidasi karena model
model ini mengikutsertakan efek dari konsolidasi yang berlebih. Seluruh jenis tanah akan
mengalami rangkak, dan kompresi primer yang selalu diikuti oleh kompresi sekunder tertentu.
Dengan mengambil asumsi bahwa kompresi sekunder (misalnya selama rentang waktu 10 atau
30 tahun ) sebesar presentase dari kompresi primer, jelas bahwa rangkak akan menjadi penting
pada permasalahan yang melibatkan kompresi primer yang besar. Hal ini merupakan situasi yang
sangat berbahaya karena kompresi sekunder yang cukup besar tidak didahului oleh peringatan
berupa kompresi primer yang besar. Karena hal ini maka perhitungan dengan model rangkak
ingin dilakukan.