Anda di halaman 1dari 3

Sistem Politik Transportasi Kota Bogor

Oleh: Randy Bagus Pratama (13/350095/SP/25925)

Transportasi merupakan salah satu sarana kegiatan masyarakat untuk melakukan mobilitas dari
suatu tempat ke tempat lainnya. Transportasi dibagi menjadi dua yaitu tranportasi pribadi yang
digunakan oleh segelintir orang saja dan transportasi publik yang digunakan oleh khalayak
masyarakat umum. Transportasi publik. Transportasi juga mempunyai peran dalam menyokong
pembangunan dan perekonomian suatau daerah. Sehingga kondisi sistem transportasi yang aman
dan nyaman menjadi salah tujuan dari pembangunan yang bersifat regional maupun nasional.

Kebutuhan akan adanya transportasi publik yang baik ini terkadang belum dapat terpenuhi. Hal
ini dikarenakan kebijakan-kebijakan sistem transportasi pada suatu daerah belum tersusun secara
baik. Kondisi ini sama halnya dengan apa yang terjadi di Kota Bogor. Kota Bogor dicap
masyarakat sebagai kota seribu angkot. Hal itu disebabkan banyaknya jumlah angkot yang ada di
Kota Bogor tersebut. Bahkan pada tahun 2010 jumlah transportasi publik yang berupa angkot
berjumlah 3.425 unit (Seputar Bogor, 2010). Selain itu masalah tersebut juga tidak dibarengi
dengan perbaikan fasilitas transportasi seperti salah satunya perbaikan jalan maupun pelebaran
jalan.

Masalah yang terjadi dalam transportasi publik di Kota Bogor khususnya angkot tidak hanya
terjadi pada banyaknya jumlah angkot saja namun juga perilaku dari sopir angkot tersebut.
Menurut penelitian Anizza Dyah dkk (2011) mengemukakan bahwa perilaku sopir angkot yang
ada di Kota Bogor juga menjadi masalah yaitu seperti;

1. Sering melanggar rambu-rambu lalu lintas


2. Berhenti sembarangan untuk mengangkut dan menurunkan penumpang
3. Memotong jalan atau membelok tanpa memberi lampu isyarat
4. Sering berhenti mendadak
5. Menelantakan penumpang dan memotong trayek
6. Berhenti di sembarang tempat
7. Muatan Angkot melebihi kapasitas orang
8. Kurang mempedulikan kondisi mesin
9. Mengguakan handphone saat mengemudi
10. Merokok saat mengemudi
11. Tidak mengembalikan uang kembalian atau mengembalikan uang kembalian yang masih
kurang dari semestinya

Dari masalah tersebut tentunya diperlukan kebijakan-kebijakan yang tepat dalam mengatasi
masalah-masalah tersebut. Adanya pengaruh sistem politik dalam perumusan kebijakan tersebut
adalah untuk memecahkan masalah tentang transportasi publik tersebut secara tepat. Seperti apa
yang telah dikemukakan oleh Gabriel Almond tentang menjalakan fungsi input dalam sistem
politik yaitu dengan artikulasi kepentingan, penggabungan kepentingan dan komunikasi poltik
antar stakeholder. Setelah itu fungsi output akan mengikuti seperti pembuatan kebijakan,
penerapan kebijakan serta monitoring dan evaluasi kebijakan.

Apa yang dikemukakan tentang sistem politik dalam kebijakan tersebut dilakukan oleh Pemkot
Bogor. Pemkot Bogor juga mendengarkan keluhan warganya tentang maslah tersebut. Salah satu
kebijakan yang dilakukan Pemkot Bogor adalah dengan mengonversi sejumlah angkot dengan
bus1. Hal tersebut melihat dari berbagai permasalahan transportasi yang ada di Kota Bogor
tersebut. Dengan menjalankan fungsi input sistem politik menurut Giddens, yaitu dengan cara
mengartikulasikan kepentingan masyarakat, pengusaha modal transportasi dan pemerintah.
Nantinya kebijakan tersebut akan dijalankan dengan konsep 3-1 dan 3-2 artinya tiga angkot akan
dikonversi dengan 1 bus dan 3 angkot kecil akan dikonversi dengan 2 angkot berukuran sedang.
Hal tersebut juga telah dikomunikasikan dari Pemkot Bogor dengan Organda bahwa nantinya
jika kebijakan tersebut telah ada landasan hukumnya Organda berharap bahwa pengusaha lokal
daerah Bogor untuk mengelola hal tersebut. Sudah ada fungsi input yang dijalankan oleh pemkot
Bogor dan tinggal menunggu fungsi output untuk dijalankan bersama.

Selain itu dalam menerima keluhan masyarakat Kota Bogor, Pemkot Bogor bersama Badan
Informasi Geospasial melaunching peta rute trayek angkot di Kota Bogor 2. Hal tersebut
dilakukan agar memudahkan masyarakat dalam menggunakan transportasi publik yang berupa

1 Diakses dari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/08/02/obagur284-sejumlah-
angkot-bogor-akan-dikonversi-menjadi-bus

2 Diakses dari http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/big-dan-pemerintah-


kota-bogor-launching-rute-peta-angkot-bogor
angkot. Dalam hal ini apa yang dilakukan Pemkot Bogor juga menjalankan salah satu nfungsi
dari sistem poltik yaitu sosialisasi politik. Artinya masyarakat diajak bersama untuk membangun
pelayanan informasi dengan memberikan feedback terhadap apa yang terjadi di Kota Bogor.
Terlalu banyaknya keluhan masyarakat Bogor tentang permasalahan angkot memaksa
masyarakat untuk berpartisipasi dalam membangun trasnportasi publik yang baik dan masyarakat
Kota Bogor menjadi tidak apatis terhadap permaslahan yang ada di bidang transportasi..

Referensi

Dyah, Anizza, dkk. 2011. Problematika Angkot di Kota Seribu Angkot. Bogor: IPB.

Seputar Bogor. 2010. Jumlah Angkot Overloaded. Seputar Bogor, Sabtu 29 Februari 2010.

Republika. 2016. Sejumlah Angkot Bogor Akan Dikonversi Menjadi Bus. Diakses pada 7
Oktober 2016.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/08/02/obagur284-
sejumlah-angkot-bogor-akan-dikonversi-menjadi-bus.

Bakosurtanal. 2015. BIG dan Pemerintah Kota Bogor Launching Rute Peta Angkot Kota Bogor.
Diakses pada 7 Oktober 2016. http://www.bakosurtanal.go.id/berita-
surta/show/big-dan-pemerintah-kota-bogor-launching-rute-peta-angkot-bogor.