Anda di halaman 1dari 10

MOCHAMAD TOGA DWIHARTO SEPTIAN

SGD 9
LI LBM 4
MODUL PRIORITAS

Pelayanan kesehatan
1. Apa tujuan program menjaga mutu pelayanan kesehatan?

program menjaga mutu pelayanan kesehatan dengan tujuan antara lain


memberikan kepuasan kepada mayarakat (Muninjaya, 2004).
Pengguna jasa pelayanan kesehatan di Puskesmas menuntut pelayanan yang
berkualitas tidak hanya menyangkut kesembuhan dari penyakit secara fisik akan
tetapi juga menyangkut kepuasan terhadap sikap, pengetahuan dan ketrampilan
petugas dalam memberikan pelayanan serta tersedianya sarana dan prasarana
yang memadai dan dapat memberikan kenyamanan. Dengan semakain
meningkatnya kualitas pelayanan maka fungsi pelayanan di puskesmas perlu di
tingkatkan agar menjadi lebih efektif dan efisien serta memberikan kepuasan
terhadap pasien dan masyarakat. Fungsi Puskesmas yang sangat berat dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat dihadapkan pada beberapa tantangan
dalam hal sumberdaya manusia dan peralatan kesehatan yang semakin canggih,
namun harus tetap memberikan pelayanan yang terbaik (Khusnawati,2010).

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEPUASAN


PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS AENG TOWA KABUPATEN
TAKALAR
Oleh Rustam Efendi, Alwy Arifin1,Darmawansyah1

2. Bagaimana cara untuk menjaga mutu pelayanan kesehatan ?


3. Apa manfaat dari menjaga mutu pelayanan kesehatan?

Manfaat Program Menjaga mutu:


Dapat lebih meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan
Dapat lebih meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan
Dapat lebih meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
Dapat melindungi pelaksana pelayanan dari kemungkinan munculnya gugatan
hukum

PROGRAM MENJAGA MUTU OLEH :


Poppy Fransisca Amelia, S.SiT

4. Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan mutu kesehatan?


Faktor yang mempengaruhi mutu
Mutu produk dan jasa pelayanan secara
langsung dipengaruhi oleh 9 fundamental
pelayanan: Man, Money, Materials, Machines and mechanism,
Moderninformation, Method, Markets, Management, Motivation.

Meningkatnya mutu yang kompleks perlu kesadaran bagi pekerja yaitu:


Mounting productrequirement. Persyaratan produk ysng meningkat yang diminta
pelanggan perlu penyesuaian mutu terus menerus (Supriyanto dan Wulandari,
2011)
PENILAIAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP MUTU PELAYANAN
INSTALASI RAWAT JALAN RS H.S.
SAMSOERI MERTOJOSO SURABAYA oleh Ameilia Kurnia Sari dan Ratna
Dwi Wulandari

5. Bagaimana langkah-langkah peningkatan mutu pelayanankesehatan?


IMBALO S POGAN,JAMINAN MUTU PELAYANAN
KESEHATAN,2003,BEKASI
6. Bagaimana standar mutu pelayanan kesehatan ?
IMBALO S POGAN,JAMINAN MUTU PELAYANAN
KESEHATAN,2003,BEKASI

-Pengobatan rasional
7. Bagaimana kriteria pengobatan yang rasional?
Kriteria Kerasionalan Suatu pengobatan dikatakan rasional bila memenuhi beberapa kriteria
tertentu. Kriteria ini mungkin akan bervariasi tergantung interpretasi masing-masing, tetapi
paling tidak akan mencakup hal-hal berikut:
- ketepatan indikasi
- ketepatan pemilihan obat
- ketepatan cara pemakaian dan dosis obat
- ketepatan penilaian terhadap kondisi pasien/dan tindak lanjut efek pengobatan.
PERAWAT DAN PEMAKAIAN OBAT SECARA RASIONAL oleh Heri Hermansyah dan Asep Sufyan
Ramadhy

-Profesionalisme
8. Bagaimana cara menerapkan profesionalisme dalam dunia kedokteran?

Semua pasien berhak atas standar praktek dan perawatan


yang baik dari dokter. Elemen penting terkandung didalamnya
ialah kompetensi profesional, hubungan erat dengan pasien dan
sejawat serta kewajiban mengikuti kode etik kedokteran .
Standar praktek dan perawatan klinis yang baik,
1. Perawatan klinis, meliputi: a). penilaian adekuat kondisi pasien sesuai
keluhan/gejala, jika perlu, dilakukan pemeriksaan yang tepat, b). merencanakan
dan memberikan pemeriksaan atau penatalaksanaan jika diperlukan, c).
melakukan tindakan yang
sesuai / tepat jika perlu, d). merujuk pasien ke dokter lebih ahli sesuai indikasi
2. Dalam melakukan penanganan, dokter harus: a). bekerja dalam batas
kompetensi profesional, b). bersedia melakukan
konsultasi dengan sejawat, c). bekerja kompeten dalam menegakkan diagnosis,
memberikan dan merencanakan
penatalaksanaan, d). menjaga rekam medis pasien jelas, akurat, dan dapat dibaca
dalam melaporkan hasil pemeriksaan klinis,
keputusan yang diambil, informasi dan penatalaksanaan yang diberikan kepada
pasien, e). mengupayakan sejawat
mendapatkan informasi berkesinambungan saat melakukan rawat bersama, f).
melakukan tindakan untuk menekan rasa sakit atau
distress pasien bila terapi kuratif tidak memungkinkan, g). meresepkan obat dan
melakukan penatalaksanaan hanya bilamana
mengetahui keadaan dan kebutuhan pasien. Sebaiknya tidak merekomendasikan
pemeriksaan atau penatalaksanaan yang tidak
perlu kepada pasien dan tidak menunda penatalaksanaan yang tepat maupun
merujuk pasien, h). melaporkan reaksi obat yang
merugikan dan bekerjasama memenuhi permintaan informasi dan organisasi
yang memantau kesehatan masyarakat, i).
mendayagunakan fasilitas kedokteran yang tersedia seefisien mungkin.
3. Jika dokter memiliki alasan bahwa kemampuannya dalam
menangani pasien terganggu akibat peralatan atau fasilitas yang tidak adekuat,
maka harus diambil tindakan yang tepat. Dokter harus memperhatikan tanggung-
jawabnya dan mengambil langkah untuk memecahkan masalah tersebut
4. Pemeriksaan atau penatalaksanaan yang diberikan atau direncanakan oleh
dokter harus didasarkan atas penilalan klinis
akan kebutuhan pasien dan tingkat efektivitas penatalaksanaan. Dokter
hendaknya tidak mengikuti pandangan gaya hidup,
budaya, kepercayaan, suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, seksualitas,
kekurangan, usia, status ekonomi/sosial pasien dalam
menentukan penatalaksanaan yang direncanakan.
5. Jika dokter meyakini dapat mempengaruhi nasehat atau penatalaksanaan,
maka dokter sebaiknya menjelaskan permasalahannya kepada pasien dan
menyarankan bahwa pasien memiliki hak berobat ke dokter lain.
6. Dokter harus menekankan prioritas pemeriksaan dan penatalaksanaan pasien
berdasarkan kebutuhan klinis.
7. Dokter tidak boleh menolak memberikan tatalaksana kepada pasien yang
dinilai mendatangkan risiko bagi dokter. Jika keadaan pasien berisiko bagi
kesehatan atau keamanan dokter maka dokter harus mengambil tindakan untuk
melindungi diri sendiri sebelum melakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan
pasien.
8. Dalam keadaan gawat darurat, dimanapun terjadi, seorang dokter harus
mencari orang yang dapat membantunya dalam memberikan pertolongan sesuai
dengan standar proseduroperasional
ETIKA DAN KOMUNIKASI DOKTER PASIEN MAHASISWA OLEH
Dr.Drg. Rosihan Adhani, S.Sos, M.S

-CME
9. Mengapa dokter harus mengikuti CME ?

KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA DAN PEDOMAN


PELAKSANAAN KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA

10. Bagaimana pemberian obat yang sesuai standar?

prinsip enam tepat :

1. Tepat obat
a. Menegecek program terapi pengobatan dari dokter
b. Menanyakan ada tidaknya alergi obat
c. Menanyakan keluhan pasien sebelum dan setelah memberikan obat
d. Mengecek label obat 3 kali ( saat melihat kemasan, sebelum menuangkan, dan setelah
menuangkan obat) sebelum memberikan obat
e. Mengetahui interaksi obat
f. Mengetahui efek samping obat
g. Hanya memberikan obat yang disiapkan sendiri
2. Tepat dosis
a. Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b. Mengecek hasil hitungan dosis dengan perawat lain (double check)
c. Mencampur / mengoplos obat sesuai petunjuk panda label / kemasan obat
3. Tepat waktu
a. Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b. Mengecek tanggal kadaluarsa obat
c. Memberikan obat dalam rentang 30 menit sebelum sampai 30 menit setelah waktu yang
diprogramkan
4. Tepat pasien
a. Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b. Memanggil nama pasien yang akan diberikan obat
c. Mengecek identitas pasien pada papan / kardeks di tempat tidur pasien yang akan
diberikan obat
5. Tepat cara pemberian
a. Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b. Mengecek cara pemberian pada label / kemasan obat
c. Pemberian per oral : mengecek kemampuan menelan, menunggui pasien sampai meminum
obatnya
d. Pemberian melalui intramuskular : tidak memberikan obat > 5 cc pada satu lokasi suntikan
6. Tepat dokumentasi
a. Mengecek program terapi pengobatan dari dokter
b. Mencatat nama pasien , nama obat, dosis, cara dan waktu pemberian obat
c. Mencantumkan nama/ inisial dan paraf
d. Mencatat keluhan pasien
e. Mencatat penolakan pasien
f. Mencatat jumlah cairan yang digunakan untuk melarutkan obat ( pada pasien yang
memerlukan pembatasan cairan)
g. Mencatat segera setelah memberikan obat
PENGALAMAM PERAWAT DALAM MENERAPKAN PRINSIP ENAM BENAR DALAM PEMBERIAN
OBAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS OLEH Yustina Nanik
Lestari