Anda di halaman 1dari 6

Di Balik Kericuhan Usai Aksi Damai 411 [I]

Riak-riak Kecil Sebelum Aksi Damai itu


Ternoda
Ahad, 6 November 2016 - 16:00 WIB
Oknum massa di bagian depan jalur barat tadi kembali melakukan pelemparan ke arah barikade polisi.
Botol berisi air, kayu, tiang bendera, bambu, dan batu pun terlontar bergantian.

BILAL TADZKIR/HIDAYATULLAH.COM
Sebuah botol (kanan agak tengah) melayang dari arah massa berbendera hijau-hitam ke arah
barikade polisi di sela-sela Aksi Damai 411 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (04/11/2016)
siang.

Terkait

GNPF-MUI Salurkan Dana Aksi Bela Islam Bantu Masjid yang Rusak di Aceh

Habib Rizieq: Kalau Presiden-Polisi Bohong, Mau Jadi Apa Negeri ini?

Kronologi Aksi Damai 411 Disusupi Provokator Versi GNPF MUI

Ingat! Aksi 4 November di bawah Koordinasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI

JUMAT siang itu, matahari tidak terlalu terik menyinari kawasan DKI Jakarta.
Ibukota Negara sebentar lagi menyaksikan sebuah hajatan besar yang populer
dengan sebutan Aksi Damai 411.
Aksi ini digelar di bawah koordinasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis
Ulama Indonesia (GNPF MUI). Gerakan ini menuntut pemerintah segera
memproses hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Sebelum waktu shalat Jumat, beberapa kelompok massa terlihat sudah
berkumpul di depan barikade polisi di Jl Medan Merdeka Barat. Sekitar 100
meter dari depan Istana Negara.
Sebenarnya, yang direncanakan GNPF MUI, massa baru akan bergerak ke sini
dari Masjid Istiqlal usai shalat Jumat. Tapi, sebelum Jumat sudah cukup banyak
massa di sini.
Seusai Jumatan, di jalur timur Jl Medan Merdeka Barat, satgas dari Majelis
Mujahidin tampak membentuk 3 lapis barikade. Mereka memang sudah berjaga
sejak sebelum aksi dimulai.
Agar daerah untuk para habib aman dan steril dari provokasi, ujar seorang
koordinator lapangan ormas itu kepada hidayatullah.com, Jumat (04/11/2016).
Matahari semakin meninggi, puluhan bahkan ratusan ribu massa dari berbagai
elemen berangsur-angsr semakin memenuhi jalan raya dari kawasan Patung
Kuda ke Istana.
Di jalur barat Jl Medan Merdeka Barat, yang awalnya direncanakan untuk massa
wanita, sudah terisi massa pria yang datang sebelum waktu Jumat tadi.
Saat itu mobil komando GNPF MUI belum datang, banyak kelompok massa yang
berorasi sendiri-sendiri. Ada juga yang membuat barikade-barikade untuk
organisasinya masing masing.
Sementara, di depan Istana, 3.000-an aparat keamanan dari TNI/Polri berjaga-
jaga dengan kesatuannya masing-masing. Riuh rendah suasana di depan Istana.

Aparat keamanan berjaga-jaga di balik pagar kawat berduri pada Aksi Damai 411
di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (04/11/2016) sore. [Foto: Bilal]
Sekitar pukul 14.30 WIB. Tahu-tahu sejumlah orang dari arah massa beratribut
organisasi mahasiswa hijau-hitam melempar botol ke arah barikade polisi. Lalu
terjadi saling dorong antara mereka dengan petugas keamanan itu. Beruntung
kedua pihak tidak terpancing lebih jauh.
Kelompok massa yang lain mencoba menenangkan situasi dengan berulang
ulang menyanyikan yel-yel Hati-hati, hati-hati provokasi!. Massa juga
menyenandungkan shalawat dan lagu Indonesia Raya. Situasi pun kembali
kondusif.
Pada waktu ashar, suasana terasa begitu damai ketika sebagian polisi
bersama sebagian massa mendirikan shalat berjamaah di jalan raya depan
Istana.
Ditenangkan Salam Yakusa!
Tak lama kemudian, rombongan mobil komando GNPF MUI tiba di Jl Medan
Merdeka Barat dari arah Patung Kuda melalui jalur timur. Sejumlah habib
berorasi di atas mobil itu.
Lalu bergantian pimpinan ormas menyampaikan orasinya. Di sela-sela itu,
Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya datang menjemput perwakilan GNPF
MUI untuk berunding dengan pemerintah di dalam Istana.
Terjadi perundingan di Istana. Sementara di luar, tampak beberapa orang dari
massa beratribut organisasi mahasiswa tadi kembali melempar botol ke arah
polisi.
Bahkan sempat sebuah batu melayang di atas kepala
awak hidayatullah.com dan sejumlah wartawan lain yang meliput dari belakang
barikade polisi.
Melihat situasi itu, tiga orang senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) naik ke
sebuah mobil sound pick up polisi. Dua orang naik ke atas kabin, seorang lagi
berdiri di bak belakang.
Ketiganya mencoba meredam aksi pelemparan dengan berteriak Salam
Yakusa! berulang-ulang. Situasi mereda.

Tiga senior HMI menenangkan massa pada Aksi Damai 411 di depan Istana
Merdeka, Jakarta, Jumat (04/11/2016) siang. [Foto: Bilal]
Sekitar 30 menit kemudian, terjadi lagi pelemparan botol dari arah
massa beratribut organisasi mahasiswa tadi ke barikade polisi yang
membelakangi Istana.
Melihat itu, seorang komandan Laskar FPI dari Jawa Barat maju dan mencoba
mengendalikan situasi. Massa yang beratribut organisasi mahasiswa tadi
mundur menjauhi barikade polisi. Posisi mereka kemudian diambil alih oleh
Laskar FPI.
PB HMI Tantang Polri Tegakkan Hukum dengan Penjarakan Ahok
Sementara itu, perundingan antara delegasi dengan pihak pemerintah di Istana
tampaknya berjalan alot. Sejumlah perwakilan GNPF MUI beberapa kali bolak-
balik dari Istana ke lokasi massa untuk bermusyawarah bersama para ulama
terkait perundingan.
Singkatnya, GNPF MUI setuju untuk bernegosiasi dengan Wakil Presiden Jusuf
Kalla. Sambil menunggu hasil negosiasi, orasi di depan Istana terus dilanjutkan.
Situasi tetap tenang. Beberapa tokoh bergantian berorasi, seperti Fadli Zon dan
Ahmad Dhani. Di sela itu, awak hidayatullah.com sempat sekitar 30 menit
mengalihkan fokus dari situasi di depan Istana.
Pelemparan Lagi
Sekitar pukul 18.30 WIB, awak media ini kembali fokus ke depan Istana.
Terdengar keributan kecil dari arah jalur barat Jl Medan Merdeka Barat, tepatnya
di sekitar lokasi yang tadi ditempati massa beratribut organisasi mahasiswa itu.
Saat dipantau, sudah tidak terlihat lagi Laskar FPI yang tadinya berjaga-jaga di
situ. Sementara suasana mulai mencekam bersama datangnya malam.
Awak media ini berada di belakang barikade polisi bersama wartawan lain. Di
depan petugas keamanan, sebagian orang tampak anarkistis. Terdengar
teriakan-teriakan Woi, woi, woi!!! oleh mereka..
Kronologi Aksi Damai 411 Disusupi Provokator Versi GNPF MUI

Dari arah massa itu, tampak berbagai jenis benda, seperti bambu, tiang bendera,
batu, botol plastik, dilemparkan ke arah barikade polisi dan para awak media
yang meliput di dekatnya.
Pelemparan itu berasal dari sebagian kecil massa yang berada di barisan
terdepan. Sementara, sebagian besar massa lainnya berupaya menenangkan
situasi.
Salah seorang petugas keamanan yang berada di mobil sound polisi terus
mengingatkan massa agar tidak anarki.
Saat itu yel-yel Hati-hati, hati-hati provokasi! sudah kurang terdengar. Sebagian
massa ada yang sudah mulai kembali meninggalkan lokasi depan Istana.
Sementara oknum massa di bagian depan jalur barat tadi kembali melakukan
pelemparan ke arah barikade polisi. Dari botol berisi air, sampai kayu, tiang
bendera, bambu, dan batu pun terlontar bergantian.
Seruan agar oknum massa tersebut tenang terus disampaikan oleh pihak
kepolisian melalui pengeras suara:
Saudara-saudara, agar tetap menjaga ketertiban. Tolong, saudara-saudara,
segera untuk bisa mengendalikan diri.
Tapi timpukan dari oknum massa ini semakin kencang dan intensif. Salah
seorang wartawan bahkan sempat terkena lemparan botol hingga berdarah
wajahnya. Lemparan itu berasal dari arah massa yang membawa bendera
sejumlah organisasi tertentu.

Potongan video kericuhan. Tampak sebuah benda seperti batu terbang dari arah
massa ke barikade polisi usai Aksi Damai 411, Jumat (04/11/2016) malam. [Dok:
Bilal]
Polisi lalu mengganti barikade depan tim bertameng kaca dengan barikade
lapis dua tim bertameng besi.
Seruan siap siaga sudah diteriakkan komandannya. Para wartawan disuruh
mundur. Saat kericuhan kecil ini menjadi-jadi, awak media ini dihubungi
koordinator peliputan (korlip) melalui sambungan telepon.
Korlip Kelompok Media Hidayatullah (KMH) yang bermarkas sementara tak jauh
dari Istiqlal melakukan perubahan posisi para wartawan.
Ya Allah, Berkahi Pak Polisi yang Menembak Kami!

Pemandangan Kontras
Menariknya, sejak siang, di depan Istana ini terhidang pemandangan kontras.
Ada dua jalur di Jl Raya Medan Merdeka Barat. Di jalur timur, massa tampak
tenang-tenang saja.
Para polisi yang menjaga di depan massa ini bahkan meletakkan tameng-
tameng mereka ke lantai. Barikadenya pun cuma sebaris. Antara massa dengan
petugas pun tampak saling berkomunikasi santai.
Kondisi sebaliknya di jalur barat. Massa terlihat nyaris tak terkendali. Para polisi
harus memasang 3 lapis barikade dengan alat pengamanan dalam posisi siaga.
Di daerah massa inilah beberapa kericuhan kecil terjadi.
Dalam perjalanan ke kawasan Juanda, saat berada di dekat gedung PPI (barat
Istana), awak media ini mendengar suara letusan dan sirine ambulans yang
meraung-raung. Malam itu, kericuhan usai Aksi Damai 411 pun pecah!
Besoknya, dalam jumpa pers, HMI membantah tuduhan menjadi provokator
kericuhan itu. Hal tersebut tidak benar, tegas Ketua Umum PB HMI, Mulyadi P
Tamsir.