Anda di halaman 1dari 99

TUGAS SARJANA

SISTEM PERPIPAAN

PERANCANGAN DISTRIBUSI ALIRAN PADA SETIAP


PIPA AIR BERSIH UNTUK KOTA LUBUKPAKAM
DARI SISTEM DISTRIBUSI PDAM TIRTANADI
CABANG DELI SERDANG

O LE H :

PARADE BOHAL IMAN SITUMORANG N I M : 0 3 0401 007

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E DAN
2008
Parade Bohal Iman Situmorang : Sistem Perpipaan Perancangan Distribusi Aliran Pada Setiap Pipa Air Bersih..., 2008
USU Repository 2009
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa air
manusia tidak dapat melaksanakan aktivitas mereka sehari-hari. Dalam usaha
memenuhi kebutuhan akan air bersih maka diperlukan tata cara pendistribusian air
bersih tersebut agar sampai ke pelanggan. Untuk itu diperlukan sistem perpipaan.
Pada dasarnya fungsi dari perpipaan ini adalah untuk mendistribusikan air
bersih ke tempat-tempat yang dikehendaki dengan tekanan yang cukup, dan yang
kedua, membuang air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemarkan bagian
penting lainnya.
Umumnya bagian perpipaan dan detailnya merupakan standard dari unit,
seperti ukuran diameter, jenis katup yang akan dipasang, baut dan gasket pipa,
penyangga pipa, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian akan terdapat keseragaman
ukuran antara satu dengan lainnya. Sedangkan di pasaran telah terdapat berbagai jenis
pipa dengan ukuran dan bahan-bahan tertentu sesuai dengan kebutuhan seperti dari
bahan Cast Iron, PVC (Polyvinil Chloride), New Steel, dan lain-lain.
Pemasangan pipa dapat dilakukan pada bengkel-bengkel di lapangan atau
pada suatu tempat khusus dan kemudian dibawa ke lapangan untuk dipasang, dengan
demikian akan menguntungkan dari segi waktu, ongkos kerja dan memudahkan
pemasangan di lapangan, namun pemasangan dengan cara ini memerlukan
perhitungan teknis dan ekonomis yang lebih cermat sehingga tidak terjadi kesalahan
dalam pemasangan di lapangan.
Untuk menjadi seorang yang ahli dalam bidang perpipaan tentu bukanlah
suatu hal yang mudah, selain harus memiliki dasar ilmu kesarjanaan teknik seperti
peralatan mekanik, korosi, mekanika fluida, pemilihan material, seni merancang jalur
pipa dan banyak disiplin ilmu lain yang harus dikuasai serta yang terpenting dari
semua itu adalah pengalaman di lapangan.
Dalam merancang suatu jalur pipa yang tersusun dari beberapa buah pipa yang
disusun secara seri maupun paralel maka persoalan yang dihadapi belumlah begitu
rumit, namun banyak juga jalur pipa yang ada bukanlah suatu rangkaian yang
sederhana melainkan suatu jaringan pipa yang sangat kompleks, sehingga
memerlukan penyelesaian yang lebih teliti. Dalam perencanaan itu hal-hal yang perlu
diperhitungkan diantaranya besarnya kapasitas dan kecepatan aliran dari fluida yang
melalui jalur pipa dan hal-hal lain yang diperlukan dalam hal perencanaan.
Oleh karena sistem pendistribusian air bersih kepada pelanggan merupakan
hal yang penting, dan kita sebagai manusia tidak lepas dari kebutuhan akan air bersih,
maka penulis mengambil bidang Sistem Perpipaan ini sebagai Tugas Sarjana untuk
memperoleh gelar Sarjana Teknik.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan khusus dari perancangan ini adalah untuk memenuhi syarat
memperoleh gelar Strata 1 pada Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara. Sedangkan tujuan umum dari perancangan ini adalah :
Untuk lebih mengetahui dan memahami aplikasi ilmu yang diperoleh
di bangku kuliah terutama mata kuliah Sistem Perpipaan dan Mekanika
Fluida.
Untuk mendesain suatu jaringan pipa yang digunakan untuk
mendistribusikan air bersih pada pelanggan yang ada di Kota
Lubukpakam (Kecamatan Lubukpakam I, II, III dan Pekan),
Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

1.3 Batasan Masalah


Untuk mendapatkan suatu hasil perencanaan yang baik, maka dalam hal ini
akan dibuat suatu batasan masalah karena semakin spesifik suatu perencanaan maka
hasilnya juga akan lebih baik. Pada perancangan ini akan dibahas mengenai
perancangan jaringan perpipaan dan analisa pendistribusian air bersih ke pelanggan
pada suatu jaringan perpipaan di Kota Lubukpakam, Kabupaten Deli Serdang,
Sumatera Utara.
Adapun permasalahan dibatasi dalam menganalisa distribusi aliran pada tiap
pipa antara lain kapasitas aliran fluida, kerugian head yang terjadi pada tiap pipa,
ukuran pipa yang digunakan dan tekanan yang terjadi pada ujung pipa terjauh. Pada
perencanaan ini juga ditentukan pemilihan spesifikasi pompa dan volume reservoir
yang akan digunakan pada perancangan ini, agar setiap masyarakat dapat memperoleh
air bersih secukupnya.
1.4 Sistematika Penulisan
Tugas Sarjana ini terdiri dari 5 bab. Bab 1 memuat latar belakang, tujuan
penulisan, batasan masalah dan sistematika penulisan tugas sarjana ini. Pada bab 2
memuat pembahasan materi mengenai kecepatan dan kapasitas aliran fluida, jenis
aliran, persamaan empiris di dalam pipa dan sistem jaringan pipa.
Pada bab 3 meliputi perencanaan pipa pada sistem jaringan pipa yaitu jumlah
kapasitas pemakaian air, analisa aliran fluida meliputi kapasitas dan head losses. Pada
bab 4 meliputi pemilihan pompa dan tekanan pada ujung pipa terjauh.. Kesimpulan
mengenai hasil perancangan yang diperoleh dimuat pada Bab 5.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kecepatan dan Kapasitas Aliran Fluida


Penentuan kecepatan di sejumlah titik pada suatu penampang memungkinkan
untuk membantu dalam menentukan besarnya kapasitas aliran sehingga pengukuran
kecepatan merupakan fase yang sangat penting dalam menganalisa suatu aliran fluida.
Kecepatan dapat diperoleh dengan melakukan pengukuran terhadap waktu yang
dibutuhkan suatu partikel yang dikenali untuk bergerak sepanjang jarak yang telah
ditentukan.
Besarnya kecepatan aliran fluida pada suatu pipa mendekati nol pada dinding
pipa dan mencapai maksimum pada tengah-tengah pipa. Kecepatan biasanya sudah
cukup untuk menempatkan kekeliruan yang tidak serius dalam masalah aliran fluida
sehingga penggunaan kecepatan sesungguhnya adalah pada penampang aliran. Bentuk
kecepatan yang digunakan pada aliran fluida umumnya menunjukkan kecepatan yang
sebenarnya jika tidak ada keterangan lain yang disebutkan.

Gambar 2.1 Profil Kecepatan pada saluran tertutup

Gambar 2.2 Profil Kecepatan pada saluran terbuka

Besarnya kecepatan akan mempengaruhi besarnya fluida yang mengalir dalam


suatu pipa. Jumlah dari aliran fluida mungkin dinyatakan sebagai volume, berat atau
massa fluida dengan masing-masing laju aliran ditunjukkan sebagai laju aliran volume
3
(m /s), laju aliran berat (N/s) dan laju aliran massa (kg/s).
Kapasitas aliran (Q) untuk fluida yang inkompressible menurut [1], yaitu :
Q = A. v
3
dimana : Q = laju aliran volume (m /s)
2
A = Luas penampang aliran (m )
v = Kecepatan aliran fluida (m/s)
Laju aliran berat fluida (W) menurut [2] dirumuskan sebagai :
W = . A. v
dimana : W = laju aliran berat fluida (N/s)
3
= berat jenis fluida (N/m )

Laju aliran massa (M) menurut [3] dinyatakan sebagai :


M = .A. v
dimana : M = Laju aliran massa fluida (kg/s)
3
= massa jenis fluida (kg/m )

2.2 Energi dan Head


Energi biasanya didefenisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja.
Kerja merupakan hasil pemanfaatan tenaga yang dimiliki secara langsung pada suatu
jarak tertentu. Energi dan kerja dinyatakan dalam satuan N.m (Joule). Setiap fluida
yang sedang bergerak selalu mempunyai energi. Dalam menganalisa masalah aliran
fluida yang harus dipertimbangkan adalah mengenai energi potensial, energi kinetik
dan energi tekanan.
Energi potensial menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu aliran fluida
karena adanya perbedaan ketinggian yang dimiliki fluida dengan tempat jatuhnya.
Energi potensial (Ep) menurut [4] dirumuskan sebagai :
Ep = W . z
dimana : W = Berat fluida (N)
z = beda ketinggian (m)
Energi kinetik menunjukkan energi yang dimiliki oleh fluida karena pengaruh
kecepatan yang dimilikinya. Energi kinetik menurut [5] dirumuskan sebagai :
1 2
Ek m.v
2
dimana : m = massa fluida (kg)
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
Energi tekanan, disebut juga dengan energi aliran adalah jumlah kerja yang
dibutuhkan untuk memaksa elemen fluida bergerak menyilang pada jarak tertentu
dan berlawanan dengan tekanan fluida.
Besarnya energi tekanan (Ef) menurut [6] dirumuskan sebagai :
Ef = p . A . L
2
dimana : p = tekanan yang dialami oleh fluida (N/m )
2
A = Luas penampang aliran (m )
L = panjang pipa (m)
Besarnya energi tekanan menurut [7] dapat juga dirumuskan sebagai berikut :
pW
Ef

3
dimana : = Berat jenis fluida (N/m )
Total energi yang terjadi merupakan penjumlahan dari ketiga macam energi
diatas, menurut [8] dirumuskan sebagai :

E Wz 2
1 Wv pW
.
2 g
Persamaan ini dapat dimodifikasi untuk menyatakan total energi dengan head (H)
dengan membagi masing-masing variabel di sebelah kanan persamaan dengan W
(berat fluida), menurut [9] dirumuskan sebagai :
v2 p
H z
2g

2.3 Persamaan Energi


Hukum Kekekalan Energi menyatakan energi tidak dapat diciptakan dan tidak
dapat dimusnahkan namun dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk lain. Energi yang
ditunjukkan dari persamaan energi total di atas, atau dikenal sebagai head pada suatu
titik dalam aliran steady adalah sama dengan total energi pada titik lain sepanjang
aliran fluida tersebut. Hal ini berlaku selama tidak ada energi yang ditambahkan ke
fluida atau yang diambil dari fluida .
Konsep ini dinyatakan ke dalam bentuk persamaan yang menurut [10] disebut
dengan persamaan Bernoulli, yaitu :
p1 v12 p v 2
z 2 2
1 z2
2g 2g
dimana : p1 dan p2 = tekanan pada titik 1 dan 2
v1 dan v2 = kecepatan aliran pada titik 1 dan 2
z1 dan z2 = perbedaan ketinggian antara titik 1 dan 2
= berat jenis fluida
2
g = percepatan gravitasi = 9,8 m/s .
Persamaan di atas digunakan jika diasumsikan tidak ada kehilangan energi
antara dua titik yang terdapat dalam aliran fluida, namun biasanya beberapa head
losses terjadi diantara dua titik. Jika head losses ini tidak diperhitungkan maka akan
menjadi masalah dalam penerapannya di lapangan. Jika head losses dinotasikan
dengan hl maka persamaan Bernoulli di atas dapat ditulis menjadi persamaan baru,
dimana menurut [11] dirumuskan sebagai :
p1 v12 p v
z 2 2 2 z hl
1 2
2g 2g

Persamaan di atas dapat digunakan untuk menyelesaikan banyak permasalahan


tipe aliran, biasanya untuk fluida inkompressible tanpa adanya penambahan panas
atau energi yang diambil dari fluida. Namun, persamaan ini tidak dapat digunakan
untuk menyelesaikan aliran fluida yang mengalami penambahan energi untuk
menggerakkan fluida oleh peralatan mekanik, misalnya pompa, turbin dan peralatan
lainnya.

h2 Head Loses
2
v1 2
v2
2g 2g

P1
Total Energi P2
Total Energi

At Point 1 At Point 2

Z1
Z2

Reference Datum Direction Of Flow


Gambar 2.3
Illustrasi
persamaan
Bernoulli
2.4 Aliran Laminar dan Turbulen
Aliran fluida yang mengalir di dalam pipa dapat diklasifikasikan kedalam dua
tipe aliran yaitu laminar dan turbulen. Aliran dikatakan laminar jika partikel-
partikel fluida yang bergerak mengikuti garis lurus yang sejajar pipa dan bergerak
dengan kecepatan sama. Aliran disebut turbulen jika tiap partikel fluida bergerak
mengikuti lintasan sembarang di sepanjang pipa dan hanya gerakan rata-ratanya saja
yang mengikuti sumbu pipa.
Dari hasil eksperimen diperoleh bahwa koefisien gesekan untuk pipa silindris
merupakan fungsi dari bilangan Reynold (Re). Dalam menganalisa aliran di dalam
saluran tertutup, sangatlah penting untuk mengetahui type aliran yang mengalir dalam
pipa tersebut. Untuk itu harus dihitung besarnya bilangan Reynold dengan
mengetahui parameter-parameter yang diketahui besarnya. Bilangan Reynold (Re)
menurut [12] dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

dv
Re
3
dimana : = massa jenis fluida (kg/m )
d = diameter pipa (m)
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
= viskositas dinamik fluida (Pa.s)
Karena viskositas dinamik dibagi dengan massa jenis fluida merupakan
viskositas kinematik () maka bilangan Reynold menurut [13] dapat juga dinyatakan :

sehingga Re dv

Menurut [14], Aliran akan laminar jika bilangan Reynold kurang dari 2000
dan akan turbulen jika bilangan Reynold lebih besar dari 4000. Jika bilangan Reynold
terletak antara 2000 4000 maka disebut aliran transisi.

2.5 Kerugian Head (Head Losses)


A. Kerugian Head Mayor
Aliran fluida yang melalui pipa akan selalu mengalami kerugian head . Hal ini
disebabkan oleh gesekan yang terjadi antara fluida dengan dinding pipa atau
perubahan kecepatan yang dialami oleh aliran fluida (kerugian kecil).
Kerugian head akibat gesekan dapat dihitung dengan menggunakan salah satu
dari dua rumus berikut , yaitu :
1. Persamaan Darcy - Weisbach, menurut [15] yaitu :
2
L v
hf f
d 2g

dimana : hf = kerugian head karena gesekan (m)


f = faktor gesekan (diperoleh dari diagram Moody)
d = diameter pipa (m)
L = panjang pipa (m)
v = kecepatan aliran fluida dalam pipa (m/s)
g = percepatan gravitasi.

Tabel 2.1 Nilai kekasaran dinding untuk berbagai pipa komersil

Kekasaran
Bahan
ft m

Riveted Steel 0,003-0,03 0,0009-0,009


Concrete 0,001-0,001 0,0003-0,003
Wood Stave 0,0006- 0,003 0,0002-0,0009
Cast iron 0,00085 0,00026
Galvanized Iron 0,0005 0,00015
Asphalted Cast Iron 0,0004 0,0001
Commercial steel or wrought iron 0,00015 0,000046
Drawn brass or copper tubing 0,000005 0,0000015
Glass and plastic smooth smooth

(Sumber : Jack B. Evett, Cheng Liu. Fundamentals of Fluids Mechanics. McGraw Hill, New York.
1987, hal. 100.)

2. Persamaan Hazen Williams.


Rumus ini pada umumnya dipakai untuk menghitung kerugian head dalam
pipa yang relatif sangat panjang seperti jalur pipa penyalur air minum.
Bentuk umum persamaan Hazen Williams menurut [16], yaitu :
1,85
10,666 L
hf
Q

C 1,85 d 4,85
dimana : hf = kerugian gesekan dalam pipa (m)
3
Q = laju aliran dalam pipa (m /s)
L = panjang pipa (m)
C = koefisien kekasaran pipa Hazen-Williams
(diperoleh dari Tabel 2.2)
d = diameter pipa (m)

Diagram Moody telah digunakan untuk menyelesaikan permasalahan aliran


fluida di dalam pipa dengan menggunakan faktor gesekan pipa (f) dari rumus Darcy -
Weisbach. Untuk aliran laminar dimana bilangan Reynold kurang dari 2000, faktor
gesekan dihubungkan dengan bilangan Reynold, menurut [17] dinyatakan dengan
rumus :

64
f Re

Untuk aliran turbulen dimana bilangan Reynold lebih besar dari 4000, maka
hubungan antara bilangan Reynold, faktor gesekan dan kekasaran relatif menjadi
lebih kompleks. Faktor gesekan untuk aliran turbulen dalam pipa didapatkan dari
hasil eksperimen, antara lain :
1. Untuk daerah complete roughness, rough pipes menurut [18], yaitu :
1
2,0 log 3,7

f /d
2. Untuk pipa sangat halus seperti glass dan plastik, hubungan antara bilangan
Reynold dan faktor gesekan menurut [19] dirumuskan sebagai :

a. Blasius : 0,316
f untuk Re = 3000 100.000
0,25
Re
1 Ref
2,0 log 2,51
b. Von Karman : f
f
2,0 log 0,8
Re
6
untuk Re sampai dengan 3.10 .
3. Untuk pipa kasar, menurut [20], yaitu :
1 d 1,74
2 log
Von Karman : f

dimana harga f tidak tergantung pada bilangan Reynold.


4. Untuk pipa antara kasar dan halus atau dikenal dengan daerah transisi,
menurut [21], yaitu :
1 / d 2,51
Corelbrook - White : f 2,0 log
Ref


3,7

B. Kerugian Head Minor


Selain kerugian yang disebabkan oleh gesekan, pada suatu jalur pipa juga
terjadi kerugian karena kelengkapan pipa seperti belokan, siku, sambungan, katup dan
sebagainya yang disebut dengan kerugian kecil (minor losses).
Besarnya kerugian minor akibat adanya kelengkapan pipa menurut [22] dirumuskan
sebagai :
v2
hm n. k.
2g
dimana : n = jumlah kelengkapan pipa
k = koefisien kerugian (dari lampiran koefisien minor losses
peralatan pipa)
v = kecepatan aliran fluida dalam pipa.
Menurut [23],minor losses dapat diabaikan tanpa kesalahan yang cukup berarti
bila, secara rata rata terdapat pipa yang panjang (L/d >>> 1000) pada jaringan pipa.

2.6 Persamaan Empiris untuk aliran di dalam pipa


Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa permasalahan aliran fluida
dalam pipa dapat diselesaikan dengan menggunakan persamaan Bernoulli, persamaan
Darcy dan diagram Moody. Penggunaan rumus empiris juga dapat digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan aliran. Dalam hal ini digunakan dua model rumus yaitu
persamaan Hazen-Williams dan persamaan Manning.
1. Persamaan Hazen-Williams dengan menggunakan satuan Internasional menurut [24],
yaitu ;
0,63 0,54
= 0,8492 C R s
dimana = kecepatan aliran (m/s)
C = korfisien kekasaran pipa Hazen-Williams
R = jari jari hidrolik
d
= untuk pipa bundar
4

s = slope dari gradient energi (head losses/panjang pipa)

=
h
l
l

Tabel 2.2 Koefisien kekasaran pipa Hazen-Williams

Extremely smooth and straight pipes 140


New Steel or Cast Iron 130
Wood; Concrete 120
New Riveted Steel; vitrified 110
Old Cast Iron 100
Very Old and corroded cast iron 80

(Sumber : Jack B. Evett, Cheng Liu. Fundamentals of Fluids Mechanics. McGraw Hill, New York.
1987, hal. 161.)

2. Persamaan Manning dengan satuan Internasional, menurut [25] yaitu :


1,0 2 / 3 1 / 2
R s
n
dimana : n = koefisien kekasaran pipa Manning
Menurut [26], Persamaan Hazen Williams umumnya digunakan untuk
menghitung head loss yang terjadi akibat gesekan (Amerika Serikat). Persamaan ini
tidak dapat digunakan untuk liquid lain selain air dan digunakan khusus untuk aliran
yang bersifat turbulen. Persamaan Darcy Weisbach secara teoritis tepat digunakan
untuk semua rezim aliran dan semua jenis liquid. Persamaan Manning biasanya
digunakan untuk aliran saluran terbuka (open channel flow).
2.7 Pipa yang dihubungkan Seri
Pipa yang dihubungkan secara sejajar dimana laju aliran yang mengalir
didalamnya sama-sama dialiri aleh aliran yang sama dapat dikatakan pipa yang
dihubungkan secara seri dimana keuntungan dari sambungan pipa model ini adalah
fluida yang dialirkan debitnya relatif konstan seperti tertera pada gambar 2.4 berikut:

Gambar 2.4 Pipa yang dihubungkan seri

Jika dua buah pipa atau lebih dihubungkan secara seri maka semua pipa akan
dialiri oleh aliran yang sama. Total kerugian head pada seluruh sistem adalah jumlah
kerugian pada setiap pipa dan perlengkapan pipa, menurut [27] dirumuskan sebagai :

Q0 = Q1 = Q2 = Q3
Q0 = A1V1 = A2V2 = A3V3
hl = hl1 + hl2 + hl3

Persoalan aliran yang menyangkut pipa seri sering dapat diselesaikan dengan
mudah dengan menggunakan pipa ekuivalen, yaitu dengan menggantikan pipa seri
dengan diameter yang berbeda-beda dengan satu pipa ekuivalen tunggal. Dalam hal
ini, pipa tunggal tersebut memiliki kerugian head yang sama dengan sistem yang
digantikannya untuk laju aliran yang spesifik.
2.8 Pipa yang dihubungkan Paralel
Pipa yang dihubungkan secara bercabang dimana laju aliran masuk sama
dengan total laju aliran pipa dihubungkan tersebut dapat dikatakan pipa yang
memiliki sambungan paralel seperti tertera pada gambar 2.5 berikut:
1

A 2 B

Gambar 2.5 Pipa yang dihubungkan secara paralel

Jika dua buah pipa atau lebih dihubungkan secara paralel, total laju aliran sama
dengan jumlah laju aliran yang melalui setiap cabang dan rugi head pada sebuah
cabang sama dengan pada yang lain,menurut [28] dirumuskan sebagai :
Q0 = Q1 + Q2 + Q3
Q0 = A1V1 + A2V2 + A3V3
hl1 = hl2 = hl3
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa persentase aliran yang melalui setiap
cabang adalah sama tanpa memperhitungkan kerugian head pada cabang tersebut.
Kerugian head pada setiap cabang boleh dianggap sepenuhnya terjadi akibat
gesekan atau akibat katup dan perlengkapan pipa, diekspresikan menurut panjang pipa
atau koefisien losses kali head kecepatan dalam pipa. Menurut [29] dirumuskan
sebagai :
L1 v
2
L2 v
2
v2
L
KL 2 3 K L3
3 3
.....
f1 d

1 d3
1
KL1 f2 2 f 2g
2g d2 2g

diperoleh hubungan kecepatan :

V2 ( f1L1 / d1)
kL1
( f2L2 / d2 )
kL2
V1
2.9 Sistem Jaringan Pipa
Pada loop dibawah ini dimana laju aliran massa yang masuk sama dengan
total laju aliran massa yang keluar . Dapat diasumsikan seperti gambar dibawah ini

QF QD
F Q3 E Q8 D

3 8

Loop I
Loop II
Q1 1 Q10
Q4 4 10

2 B Q7 C
QC
A Q2 7
QA 9
Q5 5
Loop III Q9
6
QG
G H
Q6 QH

Gambar 2.6 Jaringan Pipa

Jaringan pipa pengangkut air yang kompleks dapat dianalisis dengan cepat
menggunakan persamaan Hazen-Williams atau rumus gesekan lain yang sesuai.
Perhitungan distribusi aliran pada suatu jaringan biasanya rumit karena harus
memecahkan serangkaian persamaan hambatan yang tidak linear melalui prosedur
yang iteratif. Kesulitan lainnya adalah adanya kenyataan bahwa kebanyakan jaringan,
arah aliran pipa tidak diketahui sehingga losses antara dua titik menjadi sukar untuk
ditentukan. Dalam perancangan sebuah jaringan, aliran dan tekanan di berbagai titik
menjadi persyaratan utama untuk menentukan ukuran pipa, sehingga harus
diselesaikan dengan cara berurutan dan iterasi.
Sebuah jaringan yang terdiri dari sejumlah pipa mungkin membentuk sebuah
loop, dimana pipa yang sama dipakai oleh dua loop yang berbeda, seperti terlihat pada
gambar di atas. Ada dua syarat yang harus diperhatikan agar aliran dalam jaringan
tersebut setimbang, yaitu :
1.Aliran netto ke sebuah titik harus sama dengan nol. Ini berarti bahwa laju
aliran ke sebuah titik pertemuan harus sama dengan laju aliran dari titik
pertemuan yang sama.
2. Head losses netto di seputar sebuah loop harus sama dengan nol. Jika sebuah
loop ditelusuri ke arah manapun, sambil mengamati perubahan head akibat
gesekan atau losses yang lain, kita harus mendapatkan aliran yang setimbang
ketika kembali ke kondisi semula (head dan tekanan) pada kondisi awal.
Prosedur untuk menentukan distribusi aliran dalam suatu jaringan meliputi
penentuan aliran pada setiap pipa sehingga kontinuitas pada setipa pertemuan
terpenuhi (syarat 1). Selanjutnya head losses dari setiap loop dihitung dan jika tidak
sama dengan nol maka aliran yang telah ditetapkan harus dikoreksi kembali dengan
perkiraan dan metode iterasi yang disebut metode Hardy Cross.
Untuk sebuah loop tertentu dalam sebuah jaringan misalkan Q adalah laju
aliran sesungguhnya atau laju aliran setimbang dan Qo adalah laju aliran yang
X
diandaikan sehingga Q = Qo + Q. Dari persamaan Hazen-Williams hl = nQ , maka
fungsi Q dapat dikembangkan dalam deret Taylor sebagai :

f (Q Q) df (Q)
f (Q) Q ....
dQ

jika hanya orde pertama yang digunakan, kemudian Q dihitung dengan f(Q) = hl,

nQox hl
maka : Q
hl
x
dhl / nQo 1,85 hl / Qo
1
dQ

Harga x adalah eksponen dalam persamaan Hazen-Williams apabila digunakan untuk


1 dan n menyatakan suku-suku yang
menghitung hl dan besarnya adalah
1,85
0,54

terdapat dalam persamaan yang menggunakan satuan British, yaitu : n


4,73L
1,85
.
C d 4,87
Cara lain yang dapat digunakan ialah dengan persamaan Darcy-Weisbach
. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa faktor
8 fl
dengan x = 2 dan n 2
g d
5

gesekan selalu berubah untuk setiap iterasi.


Prosedur pengerjaannya adalah sebagai berikut :
1. Andaikan distribusi aliran yang paling wajar, baik besar maupun arahnya
dalam setiap pipa sehingga total aliran ke setiap titik pertemuan
mempunyai jumlah aljabar nol. Ini harus ditunjukkan dari diagram
jaringan pipa yang bersangkutan.
2. Buat sebuah tabel untuk menganalisa setiap loop tertutup dalam jaringan
yang semi-independent.
3. Hitung head losses pada setiap pipa.
4. Untuk tiap loop, anggap bahwa laju aliran Qo dan head losses (hl) positif
untuk aliran yang searah dengan jarum jam dan negatif untuk aliran yang
berlawanan arah jarum jam.
5. Hitung jumlah aljabar head losses (hl) dalam setiap loop.
hl
6. Hitung total head losses persatuan laju aliran untuk tiap pipa.
Qo

hl 0,85
Tentukan jumlah besaran nxQo . Dari defenisi tentang
head
Qo
losses dan arah aliran, setiap suku dalam penjumlahan ini harus bernilai
positif.
7. Tentukan koreksi aliran dari tiap loop, menurut [30] dirumuskan sebagai
berikut :

Q hl
n hl / Qo

dimaana : Q = koreksi laju aliran untuk loop


hl = jumlah aljabar kerugian head untuk semua pipa dalam
loop.
n = harga yang bergantung pada persamaan yang digunakan
untuk menghitung laju aliran.
n = 1,85 bila digunakan persamaan Hazen-Williams.
n =2 bila digunakan persamaan Darcy dan Manning.
Koreksi diberikan untuk setiap pipa dalam loop. Sesuai dengan
kesepakatan, jika Q bernilai positif ditambahkan ke aliran yang searah
jarum jam dan dikurangkan jika berlawanan arah jarum jam. Untuk pipa
yang dugunakan secara bersama dengan loop lain, maka koreksi aliran
untuk pipa tersebut adalah harga netto dari koreksi untuk kedua loop.
8. Tuliskan aliran yang telah dikoreksi pada diagram jaringan pipa seperti
pada langkah 1. Untuk memeriksa koreksi pada langkah 7 perhatikan
kontinuitas pada setiap pertemuan pipa.
9. Ulangi langkah 1 sampai 8 sampai koreksi aliran = 0.
Prosedur di atas dapat digambarkan pada sebuah tabel berikut :

1 2 3 4 5 6 7
No. pipa Panjang Diameter Laju Unit head Head hl
pipa (L) pipa (d) aliran losses (hf) Losses Qo
(Qo) (hl)
3 2
m m m /s m s/m
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Diagram hf1 x L
pipa
1
2
hl hl
Q
o

2.10 Pipa yang dipasang pada Pompa dan Turbin


Pipa-pipa yang dipasang dengan pompa atau turbin tentunya akan ada energi
yang bertambah dan berkurang. Bila pipa dipasangkan dengan pompa maka akan ada
penambahan energi sebesar Hp dan bila dipasangkan dengan turbin akan ada
pengurangan energi sebesar HT . Untuk menyelesaikan persoalan di atas digunakan
persamaan Bernoulli.

1. Pipa yang dipasang dengan pompa.


Pompa termasuk ke dalam kelompok mesin kerja yaitu mesin fluida yang
berfungsi untuk mengubah energi mekanik menjadi energi fluida. Head pompa adalah
energi yang harus ditambahkan pompa ke dalam fluida untuk memindahkan fluida
tersebut dari tempat yang memiliki head rendah ke tempat dengan head yang tinggi.
Head yang dibutuhkan tersebut, menurut [29] dirumuskan sebagai :

P1 V
2
V
2

1 Z1 Hp P2 2 Z2 H L
2g 2g

P P V V
2 2

atau : Hp 2 1
2 1 (Z2 Z1) H L
2g

P2
dimana :
P1

adalah h ead tekanan
perbedaan
2 V2
V2 1
adalah perbedaan head
kecepatan 2g
Z2 - Z1 adalah perbedaan head statis
HL adalah head losses total
Untuk menghitung besarnya daya yang dibutuhkan pompa, menurut [29] adalah
sebagai berikut : P = . Q . Hp
dimana : P = daya pompa (Watt)
3
= Berat jenis fluida (N/m )
3
Q = Laju aliran fluida (m /s)
Hp = Head pompa (m)

2. Pipa yang dipasang dengan turbin.


Turbin merupakan salah satu mesin tenaga yaitu mesin fluida yang berfungsi
untuk mengubah energi fluida menjadi energi mekanik poros. Head turbin adalah
energi yang dipindahkan fluida untuk menghasilkan energi mekanik poros turbin.
Head yang dibutuhkan tersebut, menurut [30] dirumuskan sebagai :

P1 V
2
P2 V
2

1 Z1 H T 2 Z2 H L
2g 2g
P P 2
V V
2

atau : HT 1 2
1 2 (Z1 Z2 ) HL
2g

P1 adalah perbedaan head tekanan


dimana :
P2

12 V2 2 adalah perbedaan head kecepatan


V
2g
Z1 - Z2 adalah perbedaan head statis
HL adalah head losses total
Untuk menghitung besarnya daya yang dibutuhkan turbin, menurut [31] adalah
sebagai berikut : P = . Q . HT
dimana : P = daya turbin (Watt)
3
= Berat jenis fluida (N/m )
3
Q = Laju aliran fluida (m /s)
HT = Head turbin (m)
BAB III
PERENCANAAN PIPA PADA SISTEM JARINGAN PIPA

3.1 Jumlah Pemakaian Air


Dalam merencanakan suatu sistem jaringan pipa yang dipergunakan untuk
mendistribusikan air bersih pada perumahan, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu kebutuhan air secara keseluruhan yang meliputi kebutuhan
perumahan itu sendiri dan fasilitas lainnya. Dalam hal ini perumahan yang
direncanakan terdiri dari 1983 kepala keluarga dan fasilitas penunjang lainnya.

3.1.1 Kebutuhan air bersih pada perumahan


Adapun jumlah anggota keluarga setiap rumah berkisar antara 4 8 orang.
Dalam perencanaan ini diasumsikan setiap rumah berjumlah 6 orang yang terdiri dari
1 ayah, 1 ibu dan 4 anak. Dari hasil survey diperoleh jumlah rumah yang terdapat
pada Kota Lubukpakam = 1983 rumah sehingga jumlah penduduk yang terdapat pada
perumahan adalah 1983 x 6 orang = 11898 orang.

Tabel 3.1 Pemakaian air rata-rata untuk rumah tangga.

No Jenis gedung Pemakaian air Jangka waktu Perbanding Keterangan


rata-rata pemakaian air an luas
sehari rata-rata sehari lantai
(liter) (liter) efektif/total

1 Perumahan 250 8 - 10 42 - 45 Setiap


mewah penghuni

2 Rumah biasa 160 -250 8 - 10 50 - 53 Setiap


penghuni

Sumber : Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plumbing, Sofyan Noerbambang.


Pradnya Paramitha, Jakarta 1996.
Dengan standard kebutuhan air penduduk rata-rata sebesar 250 liter/hari.orang
(untuk keperluan rumah tangga) maka kebutuhan air penduduk dapat dihitung dengan
cara :
Kebutuhan air penduduk = Jumlah penduduk x Kebutuhan air rata-rata
= 11898 orang x 250 liter/hari.orang
= 2974500 liter/hari.
3
= 2974,5 m /hari

3.1.2 Kebutuhan air bersih untuk sekolah.


Pada perumahan ini tersedia 17 buah sekolah yang terdiri dari :

1 buah sekolah TK
9 buah SD
3 buah SMP
4 buah SMA.
Dari data survey diperoleh jumlah siswa dan kebutuhan air untuk ketiga sekolah
tersebut, yaitu :
1. Sekolah TK
Jumlah siswa dan guru = 60 orang
Jumlah sekolah = 1 buah
Kebutuhan air rata-rata per hari = 40 liter/hari.orang
Kebutuhan air = 60 orang x 40 liter/hari.orang
= 2400 liter/hari.
3
= 2.4 m /hari

2. Sekolah SD
Jumlah siswa dan guru = 400 orang
Jumlah sekolah = 9 buah
Kebutuhan air rata-rata per hari = 40 liter/hari.orang
Kebutuhan air = 400 orang x 9 x 40 liter/hari.orang
= 144000 liter/hari.
3
= 144 m /hari
3. Sekolah SMP
Jumlah siswa dan guru = 500 orang
Kebutuhan air rata-rata per hari = 50 liter/hari.orang
Kebutuhan air = 500 orang x 3 x 50 liter/hari.orang
= 75000 liter/hari.
3
= 75 m /hari
4. Sekolah SMA
Jumlah siswa dan guru = 500 orang
Kebutuhan air rata-rata per hari = 50 liter/hari.orang
Kebutuhan air = 500 orang x 4 x 50 liter/hari.orang
= 100000 liter/hari.
3
= 100 m /hari

Diperoleh jumlah kebutuhan air total untuk seluruh sekolah tersebut adalah
3
346,4 m /hari.

3.1.3 Kebutuhan air bersih untuk rumah ibadah


1. Mesjid
Jumlah rata-rata jemaat per hari = 500 orang
Jumlah gedung = 7 buah
Kebutuhan air perhari = 500 orang x 7 x 10 liter/hari.orang
= 35000 liter/hari
3
= 35 m /hari
2. Gereja
Jumlah rata-rata umat = 500 orang
Jumlah gedung = 6 buah
Kebutuhan air per hari = 500 orang x 6 x 10 liter/hari.orang
= 30000 liter/hari
3
= 30 m /hari
Dengan kebiasaan umum ibadah di gereja dilakukan pada hari Minggu maka
kapasitas penggunaan air untuk gereja diasumsikan dapat ditutupi oleh besarnya
kapasitas yang tidak dipergunakan oleh sektor sekolah yang libur pada hari tersebut.
Sehingga, diperoleh keperluan air untuk rumah ibadah = 30.000 liter/hari.
3.1.4 Kebutuhan air bersih untuk Balai Kesehatan (PUSKESMAS)
Sebagai tempat pertolongan pertama dan sarana informasi kesehatan
khususnya untuk pasien yang berobat jalan pada perumahan, dibangun sebuah balai
kesehatan. Pemakaian air bersih diambil rata-rata 500 liter/hari.

3.1.5 Kebutuhan air bersih untuk Rumah Sakit Umum


Sebagai tempat perawatan inap bagi pasien dan sarana informasi kesehatan.Di
lingkungan ini terdapat 2 RSU dengan pemakaian air bersih diambil rata-rata 4000
liter/hari.RSU. Jadi, total pemakaian air bersih untuk kedua RSU adalah
8000liter/hari. RSU.

3.1.6 Kebutuhan air bersih untuk Perkantoran.


Pada kawasan kota ini terdapat 16 kantor swasta dan pemerintah dengan
perhitungan kebutuhan air :
Jumlah pegawai = 12 orang.
Pemakaian air rata-rata per hari = 100 liter/hari.orang
Kebutuhan air per hari = 12 orang x 16 x 100 liter/hari.orang
= 19200 liter/hari.
3
= 19,2 m /hari.

3.1.7 Kebutuhan air bersih untuk Department Store dan Pusat Pasar
Pada kota ini terdapat 1 pusat perbelanjaan dan pusat pasar yang lokasinya
berdekatan. Dari data survey jumlah pengunjung setiap harinya 500 orang dengan
pemakaian air bersih 20 lt/hari.orang.
Kebutuhan air bersih = 500 orang x 20 lt/hari.orang
= 10000 lt/hari.
3
= 10 m /hari.

3.1.8 Kebutuhan air bersih untuk fasilitas lainnya.


a. Kebutuhan air bersih untuk Taman Bermain
Di lokasi ini terdapat 1 taman umum.Dari data survey pemakaian air bersih
setiap harinya adalah 600 lt.
3
Kebutuhan air per hari = 600 liter/hari = = 0.6 m /hari
b. Kebutuhan air bersih untuk Lapangan Olah Raga.
Di lokasi ini terdapat 1 lapangan olah raga. Dari data survey pengunjung
diperkirakan setiap harinya 40 orang dan pemakaian air bersih per hari nya setiap
orang 20 lt.
Kebutuhan air per hari = 40 orang x 20 lt/hari
= 800 liter/hari
3
= 0,8 m /hari
c. Kebutuhan air untuk Wisma Adat
Di lokasi ini terdapat 2 wisma adat. Dari data survey wisma ini mampu
menampung pengunjung 500 orang dan pemakaian air bersih per orang 20 lt.
Kebutuhan air per hari = 500 orang x 2 x 20 lt/hari.
3
= 20000 lt/hari = 20 m /hari

Sehingga total keperluan air bersih pada Kota Lubukpakam adalah :

Q 3 3 3 3 3
total = 2974,5 m /hari + 2,4 m /hari + 144 m /hari + 75 m /hari + 100 m /hari
3 3 3 3 3
+ 35 m /hari + 30 m /hari + 0,5 m /hari + 8 m /hari + 19,2 m /hari + 10
3 3 3 3
m /hari + 0.6 m /hari + 0.8 m /hari + 20 m /hari
3
= 3420 m /hari
3.2 Kapasitas Aliran Fluida Keluar Jaringan Pipa
Kapasitas aliran fluida yang keluar dari jaringan pipa yaitu berdasarkan jumlah
pelanggan yang akan dilayani guna memenuhi kebutuhan air bersih. Untuk
mempermudah dalam penganalisaan selanjutnya, maka pipa yang digunakan untuk
mengalirkan air ke masing- masing pelanggan di buat menjadi satu. Akan tetapi
kapasitas aliran air yang keluar adalah penjumlahan dari kebutuhan air per pelanggan.
Gambar susunan dan jumlah perumahan terlampir.
QA QA

Q1

Q2

Q3

Q1 +Q2 + Q3

QB QB

Gambar 3.1. Kapasitas aliran keluar dari Jaringan pipa

Besar kapasitas aliran keluar dari jaringan pipa adalah :


= ( Jumlah rumah yang dilayani x kebutuhan air bersih setiap rumah )
+ Fasilitas umum yang dilayani.
Besar kapasitas aliran keluar dari jaringan pipa setelah dilebihkan 10% adalah:
= Besar kapasitas aliran keluar dari jaringan pipa + (10% x Besar kapasitas
aliran keluar dari jaringan pipa)
Dari hasil survey, diperoleh bahwa untuk kapasitas total aktual , maka
kapasitas total tersebut harus ditambahkan sebesar 10 - 20%, hal ini dilakukan untuk
mengatasi losses yang terjadi selama pendistribusian air.
Dalam perencanaan ini diambil faktor koreksi sebesar 10% sehingga kapasitas total
air bersih yang masuk Kota Lubukpakam sebesar :
3 3
= 10% (3420 m /hari) + 3420 m /hari
3 3
= 342m /hari + 3420 m /hari
3
= 3762 m /hari
3 3
= 0,043541667 m /s = 156,75 m /jam.
Hasil analisa besar kapasitas aliran yang keluar dari jaringan pipa adalah
sebagai berikut :

JUMLAH
YANG PEMAKAIAN DILEBIHKAN
DILAYANI NORMAL 10 %
RUMAH FASILITAS m3/hari m3/hari m3/sekon
BLOK A 78 GEREJA = 1 122 134.2 0.001553241
BLOK B 89 GEREJA = 1 138.5 152.35 0.001763310
BLOK C 126 MESJID = 1 194 213.4 0.002469907
GEREJA = 1 5 5.5 0.000063657
KANTOR = 3 3.6 3.96 0.000045833
RSU =1 4 4.4 0.000050926
BLOK D 46 69 75.9 0.000878472
BLOK E 94 GEREJA = 1 146 160.6 0.001858796
BLOK F 52 MESJID = 1 83 91.3 0.001056713
SD =1 16 17.6 0.000203704
TK =1 2.4 2.64 0.000030556
BLOK G 98 KANTOR = 2 149.4 164.34 0.001902083
WISMA = 1 10 11 0.000127315
SMA = 1 25 27.5 0.000318287
SMP =1 25 27.5 0.000318287
SD =1 16 17.6 0.000203704
BLOK H SMP =1 25 27.5 0.000318287
SD =4 64 70.4 0.000814815
BLOK I 126 MESJID = 1 194 213.4 0.002469907
BLOK J 97 145.5 160.05 0.001852431
BLOK K 58 GEREJA = 1 92 101.2 0.001171296
KANTOR = 1 1.2 1.32 0.000015278
BLOK L 96 144 158.4 0.001833333
BLOK M LAP.OLAH RAGA=1 0.8 0.88 0.000010185
TAMAN =1 0.6 0.66 0.000007639
MESJID = 1 5 5.5 0.000063657
BLOK N 58 87 95.7 0.001107639
BLOK O 49 73.5 80.85 0.000935764
BLOK P 105 157.5 173.25 0.002005208
BLOK Q 135 MESJID = 1 207.5 228.25 0.002641782
RSU =1 4 4.4 0.000050926
KANTOR = 2 2.4 2.64 0.000030556
BLOK R 89 WISMA = 1 143.5 157.85 0.001826968
KANTOR = 2 2.4 2.64 0.000030556
BLOK S 19 28.5 31.35 0.000362847
BLOK T DEPT.STORE = 1 5 5.5 0.000063657
PSR.TRADISIONAL=1 5 5.5 0.000063657
BLOK U 18 27 29.7 0.000343750
BLOK V 21 31.5 34.65 0.000401042
BLOK W 75 KANTOR = 2 114.9 126.39 0.001462847
BLOK X 71 KANTOR = 1 107.7 118.47 0.001371181
BLOK Y 24 36 39.6 0.000458333
BLOK Z 58 87 95.7 0.001107639
BLOK
AA 15 22.5 24.75 0.000286458
BLOK
BB 17 SMA =1 50.5 55.55 0.000642940
SMP =1 25 27.5 0.000318287
SD =1 16 17.6 0.000203704
BLOK
CC 48 MESJID = 1 77 84.7 0.000980324
BLOK
DD 82 MESJID = 1 128 140.8 0.001629630
PUSKESMAS =1 0.5 0.55 0.000006366
KANTOR = 3 3.6 3.96 0.000045833
SD =2 32 35.2 0.000407407
BLOK
EE 12 18 19.8 0.000229167
BLOK FF 58 87 95.7 0.001107639
BLOK
GG 18 27 29.7 0.000343750
BLOK
HH 17 GEREJA = 1 30.5 33.55 0.000388310
SMA = 1 25 27.5 0.000318287
BLOK II 24 36 39.6 0.000458333
BLOK JJ 10 SMA =1 40 44 0.000509259
TOTAL 1983 3420 3762 0.043541667

Tabel 3.2 Pemakaian air pada tiap-tiap blok kota.

3
Dengan jumlah kapasitas sebesar 156.75 m /jam , akan di distribusikan
melalui suatu sistem jaringan pipa. Dalam merencanakan suatu jaringan pipa untuk
penditribusian air bersih hal yang penting dilakukan terlebih dahulu adalah
menentukan besarnya kapasitas aliran fluida yang mengalir pada masing-masing pipa
dan besarnya kapasitas aliran fluida yang keluar dari jaringan pipa tersebut dengan
cara menaksir. Metode ini dikenal dengan nama metode Hardy-Cross. Adapun
pendistribusian aliran dapat dilihat pada gambar berikut :
Dari gambar 3.3 di atas dapat diketahui bahwa besarnya kapasitas
fluida yang masuk ke dalam jaringan pipa sama dengan jumlah kapasitas fluida yang
keluar dari jaringan pipa tersebut.

3.3 Pemilihan Jenis Pipa


Pemakaian pipa pada instalasi plumbing ada dua macam, yaitu pipa yang
terbuat dari logam dan pipa yang terbuat dari PVC. Bahan PVC untuk pipa plumbing
merupakan terobosan inovatif yang hebat dan sangat efisien dari segi biaya.
Adapun keunggulan yang dimiliki pipa PVC dibandingkan pipa jenis lain ialah
1. Kelenturan yang tinggi (kekuatan tarik 22 MPa dan kelenturan 400%).
Memiliki kemampuan untuk menahan beban kejut (impact strenght) yang
tinggi.
Tahan terhadap temperatur yang rendah.
3
2. Ringan (mengapung di air), dengan massa jenis (density) 0,94 kg/m sehingga
mudah untuk handling dan transportasi.
Mudah dan cepat pada penyambungan dan pemasangan.
Tahan karat serta tahan abrasive
3. Permukaannya halus sehingga pengaruh kehilangan tekanannya sangat kecil
Tidak mengandung zat-zat beracun sehingga direkomendasikan sangat aman
untuk sistem distribusi air minum (environmental technology)
Usia pipa (life time) dapat mencapai 50 tahun.
Satu-satunya kelemahan pipa PVC ialah rawan bocor apabila sistem
pengelemannya kurang rapi. Meski demikian, pipa PVC merupakan alternatif yang
paling banyak dipakai masyarakat luas saat ini. Soal harga tergantung pada ketebalan
pipa yang jadi pilihan.
Ukuran pipa yang digunakan pada perencanaan ini adalah pipa PVC dengan
diameter 2 inci, 3 inci, 4 inci dan 6 inci. Penentuan diameter pipa diperoleh dari data
hasil survey.

3.4 Analisa Kapasitas Aliran Fluida


Setelah menentukan besarnya kapasitas aliran fluida yang mengalir di dalam
pipa-pipa pada suatu jaringan pipa dengan cara menaksirnya, maka persoalan di atas
belum dapat dianggap selesai dengan begitu saja. Langkah selanjutnya ialah dengan
mencari harga kerugian head perpanjang pipa untuk memperoleh kesetimbangan
aliran fluida pada setiap pipa.
Head losses (kerugian head) yang terjadi sepanjang pipa dapat ditentukan
dengan 2 cara, yaitu :
1. Dengan rumus empiris.
1,85
L
Menurut [16], yaitu : hf
10,666Q

C 1,85 d 4,85
Untuk pipa no. 1 pada loop I, diperoleh :
Q = laju aliran (ditaksir)
3
= 0,013996412 m /s.
C = Koefisien kekasaran pipa Hazen Williams
= 140 (untuk pipa PVC)
d = diameter pipa
= 0,1524 m (6 in)
L = panjang pipa
= 45 m (dari data site plan hasil survey)
Sehingga diperoleh :

10,666 x (0,013996412 m 3/ s) 1,85 x 45 m


hf 1,85 4,85
(140) x (0,1524)

= 0,17519252 m

2. Dengan menggunakan Diagram Pipa.


Diagram pipa Hazen-Williams juga dapat digunakan untuk menentukan
besarnya kerugian head sepanjang pipa. Pada literatur hanya terdapat diagram pipa
untuk nilai C = 100, 110, 120, dan 130. Sehingga, nilai kapasitas pada aliran harus
dikonversi terlebih dahulu karena untuk pipa PVC nilai C = 140.
Q C = 140 C C = 140
Q C = 120 C C = 120
Q C 140 CC C C 120
C C 140
Q C 120
140
CC
Q C 120
120
x Q C 140
120
140 x 0,013996412
0,011996693 m3
s

0,1
Log 0,1 = -1

160
Log 160 = 2.2041
Discgarge (m3/s)

Diameter
(mm)
1
0,01199669 4
3 0
Log 0,011996693 Log 140 = 2.1461
= -1,920938455

152.4
Log 152.4 = 2.18298
0,01
Log 0,01 = -2
0,001

0
21 ,
Log 0,001 = -3 ,5 0
3 1
6 Log 0,01 = -2
Unit head loss
(m/m)

Gambar 3.4 Perhitungan Head Losses dengan Diagram Pipa

36 x 1 (1,920938455)
36 0 2,2041 2,18239 5
12)( y
36 x 2,2041 5 0
360,920938455
2,1461
x 36 5 y 1,82
33,15378437 y 3,189
mm y 3,2
x 2,8 mm
x
36 21,5 2 log hf
36 0 2 (3)
2 log hf 0,402778
hf inv log 2,4027778
0,003955689
Sehingga head loss sepanjang pipa No. 1 Loop 1 adalah :
hl = hf x L
= 0,003955689 x 45 m = 0,178006038 m

Dari perhitungan secara rumus empiris dan grafik di atas dapat dilihat bahwa
kedua nilainya tidak jauh berbeda. Penentuan head loss sepanjang pipa dengan
metode grafik harus dikoreksi lebih lanjut dikarenakan penggunaan dan pembacaan
alat ukur. Sehingga untuk memudahkan penentuan losses sepajang pipa dilakukan
dengan rumus empiris.
Perhitungan besar kapasitas dengan menggunakan metode Hardy Cross, meliputi
perhitungan koreksi kapasitas untuk masing-masing loop, seperti diuraikan pada
perhitungan berikut.

Tabel 3.3 Iterasi perhitungan untuk mencari koreksi kapasitas dan kapasitas
sebenarnya.

Iterasi 1

Gambar 3.5 Loop 1 Iterasi 1

Loop 1 ( BLOK A )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
1 45 0.1524 0.013996142 0.003893167 0.175192523 12.517201001
2 91 0.1524 -0.027992284 -0.014034875 -1.277173612 45.625916468
3 93 0.1524 0.003549254 0.000307568 0.028603829 8.059110125
4 46 0.1524 -0.008742991 -0.001630267 -0.074992272 8.577416159
-1.148369532 74.779643754
Gambar 3.6 Loop 2 Iterasi 1

Loop 2 ( BLOK B )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
4 137 0.1524 0.008742991 0.001630267 0.223346550 25.545782908
5 167 0.1016 0.005216725 0.004481428 0.748398479 143.461363071
6
59 0.1524 -0.017485983 -0.005877115 -0.346749809 19.830158207
7 79 0.1524 -0.004951886 -0.000569526 -0.044992528 9.085937749
0.580002692 197.923241936

Gambar 3.7 Loop 3

Loop 3 ( BLOK C )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
7 46 0.1524 0.004951886 0.000569526 0.026198181 5.290546031
8 180 0.1524 -0.009903773 -0.002053141 -0.369565466 37.315623655
9 40 0.1524 -0.009903773 -0.002053141 -0.082125659 8.292360812
10 113 0.1524 0.002219410 0.000129041 0.014581611 6.570039409
11 115 0.1524 0.004438819 0.000465192 0.053497098 12.052101613
-0.357414236 69.520671520
Gambar 3.8 Loop 4
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) Loop 4 ( BLOK
(m3/s) D ) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
3 93 0.1524 -0.003549254 -0.000307568 -0.028603829 8.059110125
23 44 0.1016 -0.005216725 -0.004481428 -0.197182833 37.798203444
24 100 0.1016 0.003549254 0.002197778 0.219777803 61.922252815
-0.006008858 107.779566384

Gambar 3.9 Loop 5

Loop 5 ( BLOK E )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
5 85 0.1016 -0.005216725 -0.004481428 -0.380921382 73.019256653
12 38 0.1016 -0.004438819 -0.003324107 -0.126316064 28.457133239
22 82 0.1016 0.003456774 0.002093011 0.171626920 49.649447606
23 44 0.1016 0.005216725 0.004481428 0.197182833 37.798203444
-0.138427693 188.924040942
Gambar 3.10 Loop 6

Loop 6 ( BLOK F )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
11 115 0.1524 -0.004438819 -0.000465192 -0.053497098 12.052101613
12 38 0.1016 0.004438819 0.003324107 0.126316064 28.457133239
13 20 0.1016 -0.002219410 -0.000922082 -0.018441646 8.309255882
15
18 0.1016 0.001677255 0.000549210 0.009885783 5.894024894
16 45 0.1016 0.000544153 0.000068441 0.003079829 5.659859068
21 22 0.1016 0.003354510 0.001979904 0.043557879 12.984870953
0.110900812 73.357245649

Gambar 3.11 Loop 7


Loop 7 ( BLOK H )

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
15 18 0.1016 -0.001677255 -0.000549210 -0.009885783 5.894024894
16 45 0.1016 -0.000544153 -0.000068441 -0.003079829 5.659859068
17 15 0.1016 -0.002763563 -0.001383403 -0.020751038 7.508798549
18 18 0.1016 -0.002763563 -0.001383403 -0.024901245 9.010558258
19 32 0.1016 -0.006473650 -0.006681228 -0.213799289 33.026080963
20 29 0.1016 0.001677255 0.000549210 0.015927094 9.495928996
-0.256490090 70.595250728
Gambar 3.12 Loop 8

Loop 8 ( BLOK G )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
10 113 0.1524 -0.002219410 -0.000129041 -0.014581611 6.570039409
13 20 0.1016 0.002219410 0.000922082 0.018441646 8.309255882
14 39 0.1524 -0.009253507 -0.001810733 -0.070618582 7.631547902
17 15 0.1016 0.002763563 0.001383403 0.020751038 7.508798549
18 18 0.1016 0.002763563 0.001383403 0.024901245 9.010558258
29 92 0.1016 -0.003710087 -0.002385563 -0.219471752 59.155419273
-0.240578016 98.185619273

Gambar 3. 13 Loop 9

Loop 9 ( BLOK I )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
24 100 0.1016 -0.003549254 -0.002197778 -0.219777803 61.922252815
25 111 0.1524 0.003549254 0.000307568 0.034140054 9.618937891
26 34 0.1016 -0.003456774 -0.002093011 -0.071162381 20.586356324
34 24 0.1016 -0.001174568 -0.000284122 -0.006818928 5.805477036
38 103 0.1016 -0.000587284 -0.000078813 -0.008117767 13.822557277
-0.271736825 111.755581344
Gambar 3.14 Loop 10

Loop 10 ( BLOK J )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
22 82 0.1016 -0.003456774 -0.002093011 -0.171626920 49.649447606
26 34 0.1016 0.003456774 0.002093011 0.071162381 20.586356324
27 34 0.1016 -0.003354510 -0.001979904 -0.067316723 20.067527837
33 78 0.1016 0.001174568 0.000284122 0.022161515 18.867800367
-0.145619747 109.171132134

Gambar 3.15 Loop 11

Loop 11 ( BLOK K )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
20 29 0.1016 -0.001677255 -0.000549210 -0.015927094 9.495928996
21 22 0.1016 -0.003354510 -0.001979904 -0.043557879 12.984870953
27 34 0.1016 0.003354510 0.001979904 0.067316723 20.067527837
28 34 0.0508 -0.008150905 -0.295091362 -10.033106307 1230.919303707
32 101 0.0508 0.001796657 0.017988141 1.816802229 1011.212618351
-8.208472329 2284.680249844
Gambar 3. 16 Loop 12

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Loop 12 ( BLOK L ) Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
19 32 0.1016 0.006473650 0.006681228 0.213799289 33.026080963
28 34 0.1016 0.008150905 0.010232011 0.347888390 42.680952562
29 92 0.1016 0.003710087 0.002385563 0.219471752 59.155419273
30 36 0.1524 -0.003710087 -0.000333848 -0.012018512 3.239415112
31 121 0.1016 0.004973781 0.004102991 0.496461893 99.815792728
1.265602812 237.917660638

Gambar 3.17 Loop 13

Loop 13 ( BLOK N )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
33 78 0.1016 -0.001174568 -0.000284122 -0.022161515 18.867800367
34 24 0.1016 0.001174568 0.000284122 0.006818928 5.805477036
35 24 0.1016 -0.001796657 -0.000623722 -0.014969319 8.331762261
39 77 0.0762 0.000587284 0.000318092 0.024493054 41.705638186
-0.005818852 74.710677850
Gambar 3.18 Loop 14

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Loop 14 ( BLOK O ) Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
32 101 0.1016 -0.001796657 -0.000623722 -0.062995884 35.062832847
35 24 0.1016 0.001796657 0.000623722 0.014969319 8.331762261
36 24 0.1016 -0.004973781 -0.004102991 -0.098471781 19.798173764
41
23 0.1016 0.001010547 0.000215110 0.004947521 4.895883842
43 27 0.1016 -0.002486891 -0.001138139 -0.030729747 12.356692293
-0.172280572 80.445345007

Gambar 3.19 Loop 15

Loop 15 ( BLOK P )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
31 121 0.1016 -0.004973781 -0.004102991 -0.496461893 99.815792728
36 24 0.1016 0.004973781 0.004102991 0.098471781 19.798173764
37 24 0.1524 -0.006678660 -0.000990519 -0.023772460 3.559465596
44 37 0.1016 0.002486891 0.001138139 0.042111135 16.933244994
46 40 0.1016 0.001071570 0.000239755 0.009590213 8.949683677
48 40 0.1016 -0.001577763 -0.000490464 -0.019618576 12.434425461
-0.389679803 161.490786221
Gambar 3.20 Loop 16

Loop 16 ( BLOK CC )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
67 30 0.0762 0.002045233 0.003199317 0.095979508 46.928398100
68 60 0.0762 -0.002045233 -0.003199317 -0.191959017 93.856796200
69 60 0.0762 -0.001064909 -0.000956558 -0.057393469 53.895186061
70
30 0.0762 -0.002045233 -0.003199317 -0.095979508 46.928398100
-0.249352486 241.608778460

Gambar 3.21 Loop 17

Loop 17 ( BLOK R )

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
38 103 0.1016 0.000587284 0.000078813 0.008117767 13.822557277
39 77 0.0762 -0.000587284 -0.000318092 -0.024493054 41.705638186
40 21 0.0762 -0.001010547 -0.000868186 -0.018231901 18.041616068
61 180 0.0762 -0.000653188 -0.000387261 -0.069706981 106.718097751
62 19 0.1016 0.002279015 0.000968417 0.018399928 8.073631752
-0.085914241 188.361541032
Gambar 3.22 Loop 18

Loop 18 ( BLOK S )

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
40 21 0.0762 0.001010547 0.000868186 0.018231901 18.041616068
41 23 0.1016 -0.001010547 -0.000215110 -0.004947521 4.895883842
42 20 0.0762 -0.003370123 -0.008059865 -0.161197291 47.831278224
59 25 0.0762 -0.000754161 -0.000505233 -0.012630823 16.748178098
-0.160543733 87.516956232

Gambar 3.23 Loop 19

Loop 19 ( BLOK T )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
42 20 0.0762 0.003370123 0.008059865 0.161197291 47.831278224
43 27 0.1016 0.002486891 0.001138139 0.030729747 12.356692293
44 37 0.1016 -0.002486891 -0.001138139 -0.042111135 16.933244994
45 22 0.1016 -0.001071570 -0.000239755 -0.005274617 4.922326022
57 111 0.1016 0.000754161 0.000125181 0.013895102 18.424583029
0.158436388 100.468124563
Gambar 3.24 Loop 20

Loop 20 (BLOK U)

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
45 22 0.1016 0.001071570 0.000239755 0.005274617 4.922326022
46 40 0.1016 -0.001071570 -0.000239755 -0.009590213 8.949683677
47 22 0.1016 -0.002649333 -0.001279478 -0.028148517 10.624756298
55 40 0.0762 -0.001136642 -0.001079163 -0.043166510 37.977225937
-0.075630623 62.473991934

Gambar 3.25 Loop 21

Loop 21
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
47 22 0.1016 0.002649333 0.001279478 0.028148517 10.624756298
48 40 0.1016 0.001577763 0.000490464 0.019618576 12.434425461
49 22 0.1016 -0.001577763 -0.000490464 -0.010790217 6.838934004
53 39 0.1016 -0.000788882 -0.000136051 -0.005305999 6.725972335
0.031670878 36.624088097
Gambar 3.26 Loop 22

Loop 22 ( BLOK W )

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no
(m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
49 22 0.1016 0.001577763 0.000490464 0.010790217 6.838934004
50 69 0.1016 -0.001577763 -0.000490464 -0.033842044 21.449383920
51 47 0.0762 -0.001577763 -0.001979522 -0.093037542 58.968008722
52 19 0.1016 0.000788882 0.000136051 0.002584974 3.276755753
79 55 0.0762 0.000441670 0.000187765 0.010327065 23.381857419
-0.103177331 113.914939818

Gambar 3.27 Loop 23

Loop 23 ( BLOK X )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
60 21 0.0762 -0.000653188 -0.000387261 -0.008132481 12.450444738
61 180 0.0762 0.000653188 0.000387261 0.069706981 106.718097751
63 19 0.1016 0.001561022 0.000480880 0.009136724 5.853040119
64 180 0.0762 -0.000141340 -0.000022813 -0.004106256 29.052327511
0.066604968 154.073910118
Gambar 3.28 Loop 24
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) Loop(m)
24 ( BLOK Y )(m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
58 18 0.0762 -0.000754161 -0.000505233 -0.009094192 12.058688230
59
25 0.0762 0.000754161 0.000505233 0.012630823 16.748178098
60 21 0.0762 0.000653188 0.000387261 0.008132481 12.450444738
88 28 0.0762 0.000141340 0.000022813 0.000638751 4.519250946
0.012307862 45.776562012

Gambar 3.29 Loop 25

Loop 25 ( BLOK Z )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
56 19 0.0762 -0.002675915 -0.005260256 -0.099944865 37.349790506
57 111 0.1016 -0.000754161 -0.000125181 -0.013895102 18.424583029
58 18 0.0762 0.000754161 0.000505233 0.009094192 12.058688230
73 108 0.0762 -0.000777388 -0.000534396 -0.057714754 74.241889330
-0.162460528 142.074951096
Gambar 3.30 Loop 26

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Loop 26 ( BLOK AA ) Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
54 19 0.1016 -0.001136642 -0.000267383 -0.005080280 4.469551805
55 40 0.0762 0.001136642 0.001079163 0.043166510 37.977225937
56 19 0.0762 0.002675915 0.005260256 0.099944865 37.349790506
75 40 0.0762 0.000777388 0.000534396 0.021375835 27.496996048
0.159406929 107.293564297

Gambar 3.31 Loop 27

Loop 27 ( BLOK BB )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
52 19 0.1016 -0.000788882 -0.000136051 -0.002584974 3.276755753
53 39 0.1016 0.000788882 0.000136051 0.005305999 6.725972335
54 19 0.1016 0.001136642 0.000267383 0.005080280 4.469551805
77 39 0.0762 0.000603717 0.000334753 0.013055380 21.624999388
0.020856685 36.097279281
Gambar 3.32 Loop 28

Loop 28 ( BLOK JJ )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
78 15 0.0508 0.000441670 0.001341704 0.020125565 45.566973459
79 55 0.0762 -0.000441670 -0.000187765 -0.010327065 23.381857419
80 19 0.0762 -0.002019433 -0.003125054 -0.059376034 29.402329135
86 45 0.0508 -0.002019433 -0.022330590 -1.004876530 497.603302578
-1.054454064 595.954462592

Gambar 3.33 Loop 29

Loop 29 ( BLOK HH )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
76 16 0.0762 0.000603717 0.000334753 0.005356053 8.871794621
77 39 0.0762 -0.000603717 -0.000334753 -0.013055380 21.624999388
78 15 0.0508 -0.000441670 -0.001341704 -0.020125565 45.566973459
85 43 0.0508 -0.002461103 -0.032197031 -1.384472314 562.541394820
-1.412297206 638.605162289
Gambar 3.34 Loop 30

Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Loop 30 ( BLOK GG ) Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
74 16 0.0762 0.000777388 0.000534396 0.008550334 10.998798419
75 40 0.0762 -0.000777388 -0.000534396 -0.021375835 27.496996048
76 16 0.0762 -0.000603717 -0.000334753 -0.005356053 8.871794621
84 40 0.0762 -0.003064820 -0.006761333 -0.270453306 88.244433772
-0.288634860 135.612022860

Gambar 3.35 Loop 31

Loop 31 ( BLOK FF )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
73 108 0.0762 0.000777388 0.000534396 0.057714754 74.241889330
74 16 0.0762 -0.000777388 -0.000534396 -0.008550334 10.998798419
82 35 0.0508 -0.001921104 -0.020360800 -0.712627987 370.947115159
87 19 0.0508 -0.003842208 -0.073400720 -1.394613686 362.971938497
89 16 0.0762 0.000565250 0.000296366 0.004741854 8.388949313
-2.053335399 827.548690719
Gambar 3.36 Loop 32
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) Loop
(m) 32 ( BLOK(m3/s)
EE ) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
65 15 0.0762 0.000141340 0.000022813 0.000342188 2.421027293
71 25 0.0762 -0.002486354 -0.004591711 -0.114792785 46.169123420
88 28 0.0762 -0.000141340 -0.000022813 -0.000638751 4.519250946
89 16 0.0762 -0.000565250 -0.000296366 -0.004741854 8.388949313
-0.119831201 61.498350972

Gambar 3.37 Loop 33

Loop 33 ( BLOK II )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
71 25 0.0762 0.002486354 0.004591711 0.114792785 46.169123420
72 15 0.0762 0.002169361 0.003567771 0.053516567 24.669276657
81 60 0.0762 -0.001921104 -0.002849392 -0.170963529 88.992334082
82 35 0.0508 0.001921104 0.020360800 0.712627987 370.947115159
83 15 0.0508 -0.001921104 -0.020360800 -0.305411994 158.977335068
0.404561815 689.755184386
Gambar 3.38 Loop 34

Loop 34 ( BLOK DD )
Pipa Panjang (L) Diameter(d) Laju aliran (Qo) Unit head loss Head Loss(hl) hl / Q
no (m) (m) (m3/s) hf (m)
Rumus
Ditentukan Diketahui Diketahui Ditaksir Empiris hf x L
64 180 0.0762 0.000141340 0.000022813 0.004106256 29.052327511
65 15 0.0762 -0.000141340 -0.000022813 -0.000342188 2.421027293
66 180 0.0762 -0.000105594 -0.000013302 -0.002394338 22.675022246
67 30 0.0762 -0.002045233 -0.003199317 -0.095979508 46.928398100
72 15 0.0762 -0.002169361 -0.003567771 -0.053516567 24.669276657
-0.148126345 125.746051806

Dari perhitungan iterasi I di atas, diperoleh koreksi kapasitas untuk tiap loop :
hl
Q hl
n
Q

Loop hl hl/Q Q
1 -1.148369532 74.779643754 0.008300926
2 0.580002692 197.923241936 -0.001584023
3 -0.357414236 69.520671520 0.002778985
4 -0.006008858 107.779566384 0.000030136
5 -0.138427693 188.924040942 0.000396063
6 0.110900812 73.357245649 -0.000817184
7 -0.256490090 70.595250728 0.001963918
8 -0.240578016 98.185619273 0.001324452
9 -0.271736825 111.755581344 0.001314339
10 -0.145619747 109.171132134 0.000721009
11 -8.208472329 2284.680249844 0.001942071
12 1.265602812 237.917660638 -0.002875405

13 -0.005818852 74.710677850 0.000042100


14 -0.172280572 80.445345007 0.001157614
15 -0.389679803 161.490786221 0.001304333
16 -0.249352486 241.608778460 0.000557865

17 -0.085914241 188.361541032 0.000246548


18 -0.160543733 87.516956232 0.000991584
19 0.158436388 100.468124563 -0.000852423
20 -0.075630623 62.473991934 0.000654375
21 0.031670878 36.624088097 -0.000467435
22 -0.103177331 113.914939818 0.000489589
23 0.066604968 154.073910118 -0.000233672
24 0.012307862 45.776562012 -0.000145334
25 -0.162460528 142.074951096 0.000618100
26 0.159406929 107.293564297 -0.000803086
27 0.020856685 36.097279281 -0.000312319
28 -1.054454064 595.954462592 0.000956407
29 -1.412297206 638.605162289 0.001195424
30 -0.288634860 135.612022860 0.001150479
31 -2.053335399 827.548690719 0.001341203
32 -0.119831201 61.498350972 0.001053258
33 0.404561815 689.755184386 -0.000317043
34 -0.148126345 125.746051806 0.000636746

Untuk menghitung laju aliran tiap pipa dilakukan dengan menjumlahkan


kapsitas tiap pipa dengan koreksi kapasitas tiap loop.

Loop 1
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
1 0.013996142 0.008300926 0.022297068
2 -0.027992284 0.008300926 -0.019691358
3 0.003549254 0.008270790 0.011820044
4 -0.008742991 0.009884949 0.001141958

Loop 2
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
4 0.008742991 -0.009884949 -0.001141958
5 0.005216725 -0.001980086 0.003236639
6 -0.017485983 -0.001584023 -0.019070006
7 -0.004951886 -0.004363008 -0.009314894

Loop 3
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
7 0.004951886 0.004363008 0.009314894
8 -0.009903773 0.002778985 -0.007124788
9 -0.009903773 0.002778985 -0.007124788
10 0.002219410 0.001454532 0.003673942
11 0.004438819 0.003596169 0.008034988
Loop 4
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
3 -0.003549254 -0.008270790 -0.011820044
23 -0.005216725 -0.000365927 -0.005582652
24 0.003549254 -0.001284204 0.002265050

Loop 5
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
5 -0.005216725 0.001980086 -0.003236639
12 -0.004438819 0.001213247 -0.003225572
22 0.003456774 -0.000324946 0.003131828
23 0.005216725 0.000365927 0.005582652

Loop 6 Koreksi Kapasitas


Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
11 -0.004438819 -0.003596169 -0.008034988
12 0.004438819 -0.001213247 0.003225572
13 -0.002219410 -0.002141637 -0.004361047
15 0.001677255 -0.002781102 -0.001103847
16 0.000544153 -0.002781102 -0.002236949
21 0.003354510 -0.002759256 0.000595254

Loop 7
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
15 -0.001677255 0.002781102 0.001103847
16 -0.000544153 0.002781102 0.002236949
17 -0.002763563 0.000639466 -0.002124097
18 -0.002763563 0.000639466 -0.002124097
19 -0.006473650 0.004839323 -0.001634327
20 0.001677255 -0.001886742 -0.000209487

Loop 8
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
10 -0.002219410 -0.001454532 -0.003673942
13 0.002219410 0.002141637 0.004361047
14 -0.009253507 0.001324452 -0.007929055
17 0.002763563 -0.000639466 0.002124097
18 0.002763563 -0.000639466 0.002124097
29 -0.003710087 0.004199857 0.000489770
Loop 9
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
24 -0.003549254 0.001284204 -0.002265050
25 0.003549254 0.001314339 0.004863593
26 -0.003456774 0.000593330 -0.002863444
34 -0.001174568 0.001272239 0.000097671
38 -0.000587284 0.001067792 0.000480508

Loop 10
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
22 -0.003456774 0.000324946 -0.003131828
26 0.003456774 -0.000593330 0.002863444
27 -0.003354510 -0.001221062 -0.004575572
33 0.001174568 0.000678909 0.001853477

LoopKoreksi
11 Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
20 -0.001677255 -0.000021847 -0.001699102
21 -0.003354510 0.002759256 -0.000595254
27 0.003354510 0.001221062 0.004575572
28 -0.008150905 0.004817476 -0.003333429
32 0.001796657 0.000784458 0.002581115

Loop 12
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
19 0.006473650 -0.004839323 0.001634327
28 0.008150905 -0.004817476 0.003333429
29 0.003710087 -0.004199857 -0.000489770
30 -0.003710087 -0.002875405 -0.006585492
31 0.004973781 -0.004179738 0.000794043

Loop 13
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
33 -0.001174568 -0.000678909 -0.001853477
34 0.001174568 -0.001272239 -0.000097671
35 -0.001796657 -0.001115514 -0.002912171
39 0.000587284 -0.000204448 0.000382836
Loop 14
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
32 -0.001796657 -0.000784458 -0.002581115
35 0.001796657 0.001115514 0.002912171
36 -0.004973781 -0.000146719 -0.005120500
41 0.001010547 0.000166030 0.001176577
43 -0.002486891 0.002010036 -0.000476855

Loop 15
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
31 -0.004973781 0.004179738 -0.000794043
36 0.004973781 0.000146719 0.005120500
37 -0.006678660 0.001304333 -0.005374327
44 0.002486891 0.002156755 0.004643646
46 0.001071570 0.000649958 0.001721528
48 -0.001577763 0.001771768 0.000194005

Loop 16 Koreksi Kapasitas


Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
67 0.002045233 -0.000078881 0.001966352
68 -0.002045233 0.000557865 -0.001487368
69 -0.001064909 0.000557865 -0.000507044
70 -0.002045233 0.000557865 -0.001487368

Loop 17 Koreksi Kapasitas


Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
38 0.000587284 -0.001067792 -0.000480508
39 -0.000587284 0.000204448 -0.000382836
40 -0.001010547 -0.000745036 -0.001755583
61 -0.000653188 0.000480219 -0.000172969
62 0.002279015 0.000246548 0.002525563

Loop 18
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
40 0.001010547 0.000745036 0.001755583
41 -0.001010547 -0.000166030 -0.001176577
42 -0.003370123 0.001844006 -0.001526117
59 -0.000754161 0.001136918 0.000382757
Loop 19
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
42 0.003370123 -0.001844006 0.001526117
43 0.002486891 -0.002010036 0.000476855
44 -0.002486891 -0.002156755 -0.004643646
45 -0.001071570 -0.001506798 -0.002578368
57 0.000754161 -0.001470522 -0.000716361

Loop 20
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
45 0.001071570 0.001506798 0.002578368
46 -0.001071570 -0.000649958 -0.001721528
47 -0.002649333 0.001121810 -0.001527523
55 -0.001136642 0.001457461 0.000320819

LoopKoreksi
21 Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
47 0.002649333 -0.001121810 0.001527523
48 0.001577763 -0.001771768 -0.000194005
49 -0.001577763 -0.000957025 -0.002534788
53 -0.000788882 -0.000155116 -0.000943998

LoopKoreksi
22 Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
49 0.001577763 0.000957025 0.002534788
50 -0.001577763 0.000489589 -0.001088174
51 -0.001577763 0.000489589 -0.001088174
52 0.000788882 0.000801909 0.001590791
79 0.000441670 -0.000466818 -0.000025148

Loop 23
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
60 -0.000653188 -0.000088337 -0.000741525
61 0.000653188 -0.000480219 0.000172969
63 0.001561022 -0.000233672 0.001327350
64 -0.000141340 -0.000870418 -0.001011758
Loop 24
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
58 -0.000754161 -0.000763434 -0.001517595
59 0.000754161 -0.001136918 -0.000382757
60 0.000653188 0.000088337 0.000741525
88 0.000141340 -0.001198592 -0.001057252

Loop 25
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
56 -0.002675915 0.001421185 -0.001254730
57 -0.000754161 0.001470522 0.000716361
58 0.000754161 0.000763434 0.001517595
73 -0.000777388 -0.000723103 -0.001500491

Loop 26
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
54 -0.001136642 -0.000490766 -0.001627408
55 0.001136642 -0.001457461 -0.000320819
56 0.002675915 -0.001421185 0.001254730
75 0.000777388 -0.001953565 -0.001176177

Loop 27

Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
52 -0.000788882 -0.000801909 -0.001590791
53 0.000788882 0.000155116 0.000943998
54 0.001136642 0.000490766 0.001627408
77 0.000603717 -0.001507743 -0.000904026

Loop 28

Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
78 0.000441670 -0.000239017 0.000202653
79 -0.000441670 0.000466818 0.000025148
80 -0.002019433 0.000956407 -0.001063026
86 -0.002019433 0.000956407 -0.001063026

Loop 29
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
76 0.000603717 0.000044945 0.000648662
77 -0.000603717 0.001507743 0.000904026
78 -0.000441670 0.000239017 -0.000202653
85 -0.002461103 0.001195424 -0.001265679
Loop 30

Laju aliran (Q) m3/s


Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s akhir
(Q)
no mula - mula m3/s akhir
74 0.000777388 -0.000190724 0.000586664
75 -0.000777388 0.001953565 0.001176177
76 -0.000603717 -0.000044945 -0.000648662
84 -0.003064820 0.001150479 -0.001914341

Loop 31
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
73 0.000777388 0.000723103 0.001500491
74 -0.000777388 0.000190724 -0.000586664
82 -0.001921104 0.001658246 -0.000262858
87 -0.003842208 0.001341203 -0.002501005
89 0.000565250 0.000287945 0.000853195

Loop
Koreksi 32
Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
65 0.000141340 0.000416512 0.000557852
71 -0.002486354 0.001370301 -0.001116053
88 -0.000141340 0.001198592 0.001057252
89 -0.000565250 -0.000287945 -0.000853195

Loop 33
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
71 0.002486354 -0.001370301 0.001116053
72 0.002169361 -0.000953789 0.001215572
81 -0.001921104 -0.000317043 -0.002238147
82 0.001921104 -0.001658246 0.000262858
83 -0.001921104 -0.000317043 -0.002238147

Loop 34
Koreksi Kapasitas
Pipa Laju aliran (Qo) m3/s (Q) Laju aliran (Q) m3/s
no mula - mula m3/s akhir
64 0.000141340 0.000870418 0.001011758
65 -0.000141340 -0.000416512 -0.000557852
66 -0.000105594 0.000636746 0.000531152
67 -0.002045233 0.000078881 -0.001966352
72 -0.002169361 0.000953789 -0.001215572

Dikarenakan nilai Q iterasi pertama belum mendekati nol, maka diteruskan


ke iterasi kedua. Untuk lebih lengkapnya, perhitungan iterasi kedua sampai iterasi
nilai Q mendekati nol , dapat dilihat pada lampiran.
BAB IV

PEMILIHAN POMPA

Dalam pemilihan suatu pompa, yang perlu diperhatikan adalah mengetahui


fungsi dan instalasi pompa, jenis fluida yang akan dipompakan, kapasitas aliran, serta
head yang diperlukan untuk mengalirkan fluida tersebut. Selain itu, agar pompa dapat
bekerja tanpa mengalami kavitasi, perlu diperkirakan tekanan minimum yang tersedia
pada sisi hisap pompa.

4.1 ANALISA FUNGSI DAN INSTALASI POMPA


Pompa digunakan untuk memompakan air bersih dari reservoir Booster Pump
PDAM Tirtanadi ke kota Lubukpakam. Pompa direncanakan akan beroperasi pada
kapasitas konstan (fluktuasi kapasitas dapat diabaikan). Instalasi pompa secara
sederhana diperlihatkan pada gambar 4.1.

3 4 1000
7 8
2 5 8000 m ke Wilayah distribusi
m

Keterangan Gambar :
1. Sumber Air Baku (Sungai Ular)
2. Pipa hisap air baku
3. Pompa hisap air baku
4. Pipa tekan air baku
5. Water Treatment (Pengolahan Air baku)
6. Reservoir
7. Pompa tekan air bersih
8. Pipa transmisi ( sejauh 8000 m )

Gambar 4.1. Instalasi Pipa


4.2 PENENTUAN KAPASITAS DAN JUMLAH POMPA
Dalam menentukan jumlah pompa dan kapasitasnya, perlu diperhatikan
beberapa hal berikut :
- Kapasitas maksimum pompa yang dapat diproduksi saat ini.
- Bila kebutuhan air berubah-ubah, sebaiknya dipakai beberapa unit pompa yaitu
sebesar konsumsi minimum. Atau dapat juga digunakan beberapa unit pompa
dengan kapasitas berbeda.
- Usahakan pompa bekerja pada titik operasi yang menghasilkan efisiensi terbaik.
- Bila kapasitas yang akan dipompakan besar, sebaiknya digunakan pompa
dengan kapasitas besar. Karena untuk kapasitas besar, umumnya efisiensi
pompa menjadi lebih tinggi. Jadi penggunaan daya lebih ekonomis.
- Sebaiknya pompa-pompa yang digunakan sama, agar penyediaan suku cadang
lebih mudah.
Laju aliran yang menentukan besarnya kapasitas pompa, ditentukan
berdasarkan pemakaian air. Kebutuhan pemakaian air ini berbeda di setiap daerah. Hal
ini bergantung pada pola penggunaan air, jumlah penduduk, serta ciri-ciri masalah
lingkungan hidup di daerah tersebut.
Dari hasil perhitungan pada Bab III diperoleh bahwa pemakaian air total untuk Kota
3 3
Lubukpakam = 0.043541667 m /s(156.75 m /jam).
Pompa penyalur biasanya bekerja tanpa fluktuasi aliran yang cukup berarti.
Adapun jumlah pompa yang diperlukan untuk memenuhi jumlah air yang dibutuhkan
dapat ditentukan berdasarkan tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Penentuan jumlah pompa
Debit yang
Jumlah pompa Jumlah pompa Jumlah pompa
direncanakan
3
utama cadangan keseluruhan
(m /jam)
Sampai 125 2 1 3
Besar 1 Besar 2
120 450 1
Kecil 1 Kecil 1
Besar : 3 5 Besar : 1 Besar : 4 6
Lebih dari 400 atau lebih atau lebih atau lebih
Kecil : 1 Kecil : 1 Kecil : 2
Sumber : Sularso, Haruo Tahara. Pompa dan Kompresor, Pemilihan, Pemakaian dan
Pemeliharaan . PT Pradnya paramitha. Jakarta. 2000. hal. 16.
Menurut tabel 4.1 di atas dan atas pertimbangan keterbatasan lahan yang
tersedia, maka direncanakan digunakan pompa sebanyak 3 unit dengan spesifikasi
yang sama. Ketiga pompa dihubungkan secara paralel, dimana secara bergantian 2
unit pompa bekerja selama 100 jam dan 1 unit pompa sebagai cadangan.
Kapasitas pompa yang direncanakan adalah :

kapasitas total
Qp =
jumlah pompa beroperasi
3
0.043541667 m / s
= 2
3
Qp = 0,02177 m /s = 21,77 liter/detik.
3
Sehingga dipilih pompa dengan kapasitas 21,77 liter/detik atau Qp = 0,02177 m /s.

4.3 INSTALASI POMPA DAN PERPIPAAN


Setelah kapasitas dan jumlah pompa ditentukan, maka selanjutnya dapat
digambarkan instalasi perpipaan pada pusat pemompaan tersebut. Jumlah pompa yang
digunakan dalam instalasi adalah 3 unit pompa yang dihubungkan secara paralel.
Gambar 4.2 menunjukkan sistem perpipaan pada pusat pemompaan (pumping
station).
4.4 PENENTUAN UKURAN PIPA
Ukuran pipa ditentukan berdasarkan laju aliran maksimum. Di samping itu,
ada tambahan pertimbangan-pertimbangan lain yang didasarkan pada pengalaman
perancang atau kontraktor pelaksana atas penanganan kasus serupa.
Dalam menentukan ukuran pipa beberapa hal perlu dipertimbangkan antara
lain batas kerugian gesek yang akan digunakan dan batas kecepatan tertinggi yang
disarankan.
4.4.1 Diameter pipa hisap (Suction pipe)
Menurut [32], diameter pipa hisap biasanya ditentukan sedemikian sehingga
kecepatan aliran air antara 2 sampai 3 m/s. Dalam perancangan ini diambil kecepatan
V = 2,5 m/s, sehingga diameternya :
Qp = Vs . As
= 0,1053 m
Ds = 4 . Qp 4 x 0,02177
=
. Vs x 2,5
Dari hasil perhitungan di atas, dipilih pipa berdiameter 4 in schedule 40. Pipa
yang digunakan terbuat dari Baja. Dari Lampiran Data Komersil Pipa Baja, diperoleh
diameter dalam pipa sebesar 102,2604 mm. Dengan demikian kecepatan aliran air
sebenarnya pada pipa hisap adalah :

4 .Qp
V = . Ds 2
3
m /s
4 x 0,02177
=
x (0,10226042 ) m2
V = 2,65 m/s
Menurut [33], kecepatan aliran dalam pipa tidak boleh melebihi dari 6 m/s
karena akan mengakibatkan terjadinya penggerusakan pipa, sehingga kecepatan aliran
di atas masih dalam batas mengizinkan.

4.4.2 Diameter pipa tekan (Discharge pipe)


Pada perancangan ini dipilih diameter dan jenis pipa yang sama untuk pipa
hisap dan pipa tekan sehingga kapasitas air masuk dan keluar pompa sama besar dan
pompa bekerja konstan.
Maka diameter pipa tekan sama dengan diameter pipa hisap, yaitu 4 in
schedule 40 dengan bahan baja. Dari lampiran yaitu Data Komersial Pipa Baja,
diperoleh diameter dalam pipa sebesar 102,2604 mm. Dengan demikian kecepatan
aliran air sebenarnya pada pipa tekan adalah sama dengan kecepatan aliran air pada
pipa hisap, yakni v = 2,65 m/s.

4.4.3 Diameter pipa transmisi


Menurut [34], pada umumnya kecepatan aliran pada pipa tidak lebih dari 3
m/s. Kapasitas aliran pada pipa transmisi ini adalah 3 x kapasitas pompa, yaitu
3
0,06531 m /s. Bila kecepatan aliran pipa yang digunakan 2 m/s, maka diameter pipa
transmisi dapat dihitung :
Qp = Vs . As
= 0,204 m
Ds = 4 . Qp 4 x 0,06531
=
. Vs x 2
Dari hasil perhitungan di atas, dipilih pipa berdiameter 8 inci schedule 40.
Pipa yang digunakan terbuat dari Baja. Dari Lampiran Data Komersial Pipa Baja,
diperoleh diameter dalam pipa sebesar 202,7174 mm. Dengan demikian kecepatan
aliran air sebenarnya pada pipa hisap adalah :

4 .Qp
V = . Ds 2
3
4 x 0,06531 m / s
=
x (0,20271742 ) m2
V = 2,024 m/s

4.5 TANKI DISTRIBUSI AIR BERSIH.


Tangki distribusi merupakan elemen yang sangat penting dalam sebuah sistem
penyaluran air untuk masyarakat. Ada beberapa fungsi tangki dalam sebuah sistem
penyaluran air, antara lain :
- Sebagai water storage transit (tempat penyimpanan air sementara).
- Water balance system (penyeimbang kebutuhan) untuk beban-beban pemakaian
peak-hour, average, dan minimum demand.
Jadi jelaslah bahwa volume tangki distribusi harus mempertimbangkan aspek-
aspek di atas.
4.5.1 Volume Tangki Distribusi Untuk Menutupi Kebutuhan Beban Puncak
Berdasarkan survey yang dilakukan, diperoleh keterangan bahwa peak-hour
s
(jam beban puncak) pada umumnya terjadi antara pukul 06.00 /d 11.00 dan pukul
s
16.00 /d 20.00 (selama 9 jam/hari).
Menurut [35], dengan mengambil faktor koefisien sebesar 1,3 untuk konsumsi
air tiap jam maksimum,maka kebutuhan air per hari :
= konsumsi air pada peak-hour + konsumsi air harian rata-rata
= (1,3 x kebutuhan max. x 9 jam) + (kebutuhan max. x 15 jam)
3 3
= (1,3 x 156,75 m /jam x 9 jam) + (156,75 m /jam x 15 jam)
3
= 4185,225 m .
3 3
Maka volume reservoir yang dirancang adalah 4185,225 m 4200 m .

4.6 HEAD POMPA


Head pompa adalah energi yang harus ditambahkan pompa ke dalam fluida
untuk memindahkan fluida tersebut dari tempat yang memiliki head rendah ke tempat
yang memiliki head tinggi.
Untuk keadaan seperti gambar 4.1 di atas, head yang diperlukan untuk
memindahkan air dari titik 1 ke titik 2 dapat ditentukan dengan rumus :

2 + Hp = 2 + HL
P1 + V + Z 1
1
P2 V2
+ + Z2

2g 2g

P2 V V
2 2
+ Z2 Z1 + HL
Maka : Hp P1 + 2 1
2g
=

Dimana : Hp = head pompa


P2 = head tekanan
P1

22 V1 2 = head kecepatan
V
2g
Z2 Z1 = head statis
HL = head losses
Untuk menghitung besarnya head pompa dilakukan dengan metode Trial and
Error. Hal ini dikarenakan tekanan fluida masuk ke perumahan tidak diketahui.
Menurut [36], daya yang dibutuhkan pompa adalah :
Np = Q Hp
Dimana : Np = Daya pompa (Watt)
0
= Berat jenis air pada suhu 25 C.
3 3
= 9,777 x 10 N/m .
3
Q = Kapasitas pompa = 0,02177 m /s
Hp = Head pompa
3 3 3
Sehingga Np = 9,777 x 10 N/m x 0,02177 m /s x Hp

= 212,84529 Hp
Untuk Np = 5 kW diperoleh Hp = 23,49 m, sehingga diperoleh tekanan fluida pada
pipa paling ujung :
2 + Hp = P V
2 + HL
P0 + V 0 + Z 0 77 77
+ + Z77
2g 2g
dimana : P0 = 0 (Tanki terbuka ke udara luar)
V0 = Kecepatan aliran pada ujung pipa tekan
= 2,65 m/s
Z0 Z69 = 2 m (Tinggi air permukaan minimum pada reservoir hisap
Booster Lubukpakam adalah 2 m dan tinggi permukaan pipa
keluar berada pada elevasi yang sama).
Hp = Head pompa = 23,49 m
V69 = kecepatan aliran pada pipa no. 69
3
Q69 0.000006012 m / s
= = 0,013 m/s.

A69 0.0762 m 2

4
hl = head loss sepanjang pipa (diambil pipa terpanjang dengan arah
aliran yang mungkin)
= 0.01 m
sehingga diperoleh :
3
P69 = 9,777 x 10 x (2,65 2 0,0132 )
+ 2 m + 23,49 m 0,01 m
2 x 9,81
= 252,617 kPa.

Gambar 4.3 Distribusi tekanan pada pipa terjauh.


Selanjutnya dihitung tekanan pada pipa no. 83, dan 87 sehingga diperoleh : P83 =
P87 = 252,714 kPa
Jika tekanan pada pipa terjauh, ditinjau dari pipa no. 64, maka :

P0 + V0 + Z + Hp = P114 V114 2 + HL
2

0 + 2g + Z114
2g

dimana : P0 = 0 (Tanki terbuka ke udara luar)


V0 = Kecepatan aliran pada ujung pipa tekan
= 2,65 m/s
Z0 Z64 = 2 m (Tinggi air permukaan minimum pada reservoir hisap
Booster Lubukpakam adalah 2 m dan tinggi permukaan pipa
keluar berada pada elevasi yang sama).
Hp = Head pompa = 23,49 m
V64 = kecepatan aliran pada pipa no. 64
3
Q64 0,000608344 m / s 3
= = 0,1334 m /s.

A64 0,0762m2
4
hl = head loss sepanjang pipa (diambil pipa terpanjang dengan arah
aliran yang mungkin)
= 0,06 m
sehingga diperoleh :
)
(2,65
2
P114 = 9,777 x 10 x
3 + 2 m + 23,49 m 0,06 m
2
0,1334
2 x 9,81
= 252,120 kPa.
Selanjutnya dihitung tekanan pada pipa no. 78,79 sehingga diperoleh :
P78 = 252,697 kPa
P79 = 252,713 kPa
Besarnya tekanan minimum yang terdapat pada pipa dapat ditentukan
berdasarkan table 4.3 berikut :

Tabel 4.3 Kondisi tekanan pada pipa

Condition Service Pressure Criteria (psi)


Maximum pressure 65 75
Minimum pressure during maximum day 30 40
Minimum pressure during peak hour 25 35
Minimum pressure during fire 20

*Note : psi x 6,985 = kPa


Sumber : Larry W. Mays. Water Distribution Sistem Handbook. McGraw Hill, New York. 1999.
Hal. 3.9

Dari tabel di atas, diperoleh bahwa tekanan minimal yang terdapat pada pipa selama
jam sibuk adalah 25 35 psi (172,375 241,35 kPa). Untuk besar daya pompa dan
head pompa dapat dilihat pada tabel berikut.

Daya Pompa Head Pompa Tekanan Pada pipa (Pa)


(kW) (m) Ditinjau dari pipa 69 Ditinjau dari pipa 64

83 87 78 79
5 23,49 252685 252714 252697 252713
3 14,09 160713.2 160781.2 160793.2 160809.2
3,5 16,44 183757.15 183786.15 183769.15 183785.15
Tabel 4.4 Penentuan Tekanan pada Pipa Terjauh
Dari hasil perhitungan di atas, dipilih pompa dengan daya 3,5 kW dan head
pompa 16,44 m (17 m).

4.7 PEMILIHAN JENIS POMPA


Pemilihan jenis pompa dilakukan berdasarkan kapasitas dan head pompa yang
3
akan direncanakan sebelumnya. Dengan harga kapasitas, Q = 0,02177 m /jam dan
head, Hp = 17 m maka dari gambar 4.5 dapat dilihat jenis pompa yang cocok
digunakan adalah pompa radial bertingkat satu, pompa saluran roda dan pompa
diagonal. Pada perancangan ini dipilih pompa radial bertingkat satu.

10
8
6
4

2
pompa radial bertingkat banyak
10
8
Tinggi kenaikan H

6
4

2
pompa radial bertingkat satu
10
8
6
4

2 Pompa
saluran
10 roda
8
6
4
Pompa aksial
2

1
1 2 4 6 8 10 2 4 6 8 10 2 4 6 8 10 2 4 6 8 10 2 4 6 8 10
Kapasitas V

Gambar 4.4 Daerah kerja beberapa jenis konstruksi pompa sentrifugal


4.8 PUTARAN MOTOR PENGGERAK POMPA
Penggerak pompa yang akan direncanakan di atas adalah motor listrik, dimana
pemilihan ini didasarkan atas beberapa kriteria, antara lain :
- Tersedianya sumber listrik pada tempat pengoperasian pompa.
- Motor listrik mudah untuk dikopel langsung dengan pompa sehingga tidak
memerlukan transmisi yang rumit.
- Dimensi dari motor listrik relatif kecil, konstruksinya sederhana serta ringan.
- Putaran yang dihasilkan konstan dan tidak menimbulkan getaran yang berlebihan.
- Tidak menimbulkan polusi udara dan polusi suara.
- Pemeliharaan dan pengaturannya mudah.
Di Indonesia, frekuensi listrik yang dihasilkan sistem pembangkit adalah 50
Hz. Maka putaran motor dipilih pada frekuensi 50 Hz. Putaran motor listrik dengan
frekuensi 50 Hz dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.5 Harga putaran dan kutubnya


Jumlah kutub Putaran (rpm)

2 3000

4 1500

6 1000

8 750

10 600

12 500

Sumber : Sularso. Pompa dan Kompresor. Hal. 50

Pada pemilihan kali ini dipilih motor listrik dengan 4 buah kutub dan putaran
1500 rpm.
o
Akibat adanya faktor slip, maka putaran motor harus diambil 1 2 /o lebih
kecil dari harga-harga dalam tabel 4.4 di atas. Dalam perencanaan ini diambil faktor
o
slip sebesar 2 /o , sehingga putaran motor sebenarnya adalah :
o
n = 1.500 (2 /o x 1500)
= 1.470 rpm
Motor listrik dikopel langsung dengan pompa sehingga putaran pompa sama

dengan putaran motor.

4.9 PUTARAN SPESIFIK DAN JENIS IMPELER


Jenis impeler pompa sentrifugal dapat ditentukan berdasarkan putaran spesifik
pompa tersebut. Menurut [37], Putaran spesifik pompa sentrifugal dengan satu tingkat
impeler dapat dihitung dengan persamaan berikut :

n . Q1/ 2
ns = 51,64
Hp 3 / 4

Dimana : n = Putaran Pompa (rpm)


= 1.470 rpm
3
Q = Kapasitas Pompa (m /s)
3
= 0,02177 m /s
Hp = Head Pompa (m)
= 17 m

Maka :
1470 x 0,02177
ns = 51,64 x 3/4
(17)

ns = 1337,82

Dari tabel 4.6, diketahui bahwa untuk putaran spesifik, ns = 1337,82 maka
jenis impeler yang sesuai adalah jenis Radial flow.

Tabel 4.6 Klasifikasi impeler menurut putaran spesifik

No. Jenis Impeler ns

1. Radial flow 500 3000

2. Francis 1500 4500

3. Aliran campur 4500 8000

4. Aliran axial 8000 ke atas


Sumber : Pompa dan Blower Sentrifugal, Austin H. Church.

4.10 DAYA MOTOR PENGGERAK


Untuk mengetahui daya motor penggerak, terlebih dahulu dihitung daya poros
pompa yang dipengaruhi oleh efisiensi pompa. Efisiensi pompa tergantung pada
kerugian mekanis dan kerugian gesekan. Harga efisiensi pompa dapat dilihat dari
gambar 4.5.

0 10 20 30 40 50
10

0.9 10,000 GPM


3,000
1,000
0.8 500
300
200
0.7 100
0.68
50

0.6 30

0.5

0.4 10 GPM
5 GPM
0.3

0.2

0.1

0 862.035 1,000 1,500 2,000 2,500 3000


500

Gambar 4.5 Grafik Efisiensi pompa vs putaran spesifik


Sumber : Pump Handbook, Igor C. Karasik
3
Untuk putaran spesifik (ns) = 1337,82 dan kapasitas (Q) = 0,02177 m /s =
o
345,063 gpm, dari gambar 4.5, maka diperoleh efisiensi pompa sebesar 78 /o .
Daya poros pompa, Np, merupakan daya yang dibutuhkan untuk
menggerakkan impeler. Besar daya yang dibutuhkan pompa adalah :
.Q . Hp
Np =
p
Dimana : Np = Daya pompa ( kW )
3
Q = Kapasitas pompa ( m /s )
3
= 0,02177 m /s
Hp = Head pompa (m)
= 17 m

= Berat jenis air pada temperatur 25 oC (N/m3)


3 3
= 9,777 . 10 N/m
o
p = Efesiensi Pompa ( /o)
o
= 78 /o
Maka :
3
9,777.10 x 0,02177 x 17
Np = = 4638,9358 watt 4,639 kW
0,78

Dalam perencanaan ini, motor listrik dikopel langsung dengan poros pompa.
Menurut [38] daya motor listrik sebagai motor penggerak poros pompa dapat dihitung
dengan rumus :

Nm = Np (1 )
t

Dimana : = faktor cadangan daya untuk motor induksi (0,1 0,2)

= 0,15 (direncanakan)

t = efisiensi transmisi

= 1,0 (untuk pengoperasian dengan kopel langsung)

Maka :
= 5334,776 watt
4638 ,9358 Watt (1 0,15
Nm = )
1

Nm 5,5 kW
Berdasarkan perhitungan di atas maka dipilih motor listrik dengan daya 5,5 kW.

4.11 SPESIFIKASI POMPA


Kapasitas pompa (Q) = 0,02177 m3/s
Head pompa (Hp) = 17 m
Putaran pompa (n) = 1.470 rpm
Jenis pompa = pompa sentrifugal bertingkat satu
Putaran spesifik pompa (ns) = 1337,82
Tipe impeler pompa = radial flow
Daya pompa (Np) = 4,639 kW
Penggerak pompa = motor listrik
Frekuensi motor penggerak = 50 Hz
Daya motor penggerak pompa (Nm) = 5,5
kW

BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil perancangan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :


1. Kapasitas total air bersih yang dipompakan untuk kebutuhan wilayah Kota
3
Lubukpakam adalah 0,043541667m /s. Kapasitas pompa rancangan sebesar
3 3
0,02177 m /s, dengan volume tanki distribusi sebesar 4200 m .
2. Analisa perhitungan distribusi air bersih dilakukan dengan menggunakan Hardy
Cross Method. Metode ini direkomendasikan untuk digunakan pada fluida
liquid terutama air .
3. Pompa yang digunakan untuk mensuplai air bersih dari Booster Lubukpakam ke
wilayah distribusi kota Lubukpakam adalah Pompa Sentrifugal Bertingkat Satu
dengan jumlah 3 unit, dimana 2 unit beroperasi secara secara bersamaan selama
100 jam dan 1 unit cadangan.
4. Pipa yang digunakan terdiri dari pipa PVC dan pipa Baja.
a. Pipa Hisap (Suction pipe)
- Diameter : 102 mm(4 inci)
- Bahan : Baja
b. Pipa Tekan (Discharge pipe)
- Diameter : 102 mm (4 inci)
- Bahan : Baja
c. Pipa Transmisi
- Diameter : 202 mm (8 inci)
- Bahan : Baja
d. Pipa Distribusi
- Diameter : 2 inchi, 3 inchi, 4 inchi dan 6 inchi
- Bahan : PVC
5. Data spesifikasi pompa rancangan :
Jumlah pompa = 3 buah ( 2 bekerja, 1 cadangan )
3
Kapasitas pompa (Q) = 0,02177 m /s

Head pompa (Hp) = 17 m


Putaran pompa (n) = 1.470 rpm
Jenis pompa = pompa sentrifugal bertingkat satu
Putaran spesifik pompa (ns) = 1337,82
Tipe impeler pompa = radial flow
Daya pompa (Np) = 4,639 kW
Penggerak pompa = motor listrik
Frekuensi motor penggerak = 50 Hz
Daya motor penggerak pompa (Nm) = 5,5
kW