Anda di halaman 1dari 9

Tugas Jurnal

Prevalence of a positive TORCH and parvovirus B19


screening in pregnancies complicated by polyhydramnios
L. Pasquini*, V. Seravalli, G. Sisti, C. Battaglini, F. Nepi, R. Pelagalli and M. Di Tommaso
Department of Health Sciences, University of Florence, Florence, Italy

Nama : Lalu Febryan Cipta Amali


NIM : H1A 011 037

Pembimbing
dr. I Made Putra Juliawan, SpOG (K)

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN/SMF KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/RSUP PROVINSI NTB
2017
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat perempuan dengan
polyhydramnios yang akhirnya dikatakan positif penyakit menular dengan test skrining
serum TORCH dan parvovirus B19.

Metode : Penelitian ini adalah pengamatan studi retrospektif pada kehamilan tunggal dengan
diagnosis polyhydramnios dan dilakukan pemeriksaan skrining serum TORCH dan
parvovirus B19. Pemeriksaan Pasien ditunjang dengan pemeriksaan serial ultrasound antara
tahun 2006 dan 2013. Karakteristik ibu, riwayat medis dan kebidanan. Parameter USG,
termasuk indeks cairan ketuban dan anomali janin, dan ditinjau hasil tes serologi.

Hasil : Dua ratus sembilan puluh pasien memenuhi kriteria inklusi. Dari jumlah tersebut, 56
(19%). Salah satu kondisi patologis terkait dengan polyhydramnios: diabetes (13% dari total
kasus), obstruktif lesi gastrointestinal (5%), isoimmunization Rhesus (0,3%), kelainan
kromosom atau sindrom genetik (1%). Di antara 234 pasien yang tersisa, hanya tiga memiliki
hasil tes positif untuk penyakit menular (1%, 95% Confidence Interval (CI) 0-4%): dua
wanita yang positif untuk parvovirus B19 dan satu untuk toxoplasmosis infeksi. Tidak satu
pun dari janin mereka yang terpengaruh, seperti yang dikonfirmasi oleh pengujian serum
setelah kelahiran dan setelah 3 tahun.
Kesimpulan : pemeriksaan penyakit menular tampaknya tidak bermanfaat pada kehamilan
dengan polyhidramion

PENDAHULUAN

Komplikasi Polyhydramnios pada kehamilan sebanyak 1-2% dikaitkan dengan


peningkatan risiko efek samping perinatal. didefinisikan sebagai indeks cairan ketuban lebih
dari 25 cm atau satu kantung cairan yang dalam setidaknya 8 cm. Etiologi dari
polyhydramnios, melibatkan gangguan ibu dan janin. Yang mendasari penyebab kelainan
struktural janin kongenital, janin infeksi, kehamilan kembar, isoimmunization, perdarahan
janin-ibu, tumor placenta dan ibu diabetes, tapi hingga 50% kasus adalah idiopathic. Infeksi
janin yang paling sering dikaitkan dengan polyhydramnios adalah cytomegalovirus (CMV),
toxoplasmosis, syphilis, rubella dan infeksi parvovirus B19, Namun, indikasi untuk
pemeriksaan penyakit menular bervariasi dalam literatur. Sementara beberapa penulis tidak
menyebutkan penyakit menular sebagai penyebab polyhydramnios, sumber lain menyatakan
kecuali terdapat kelainan pada janin atau ibu, pemeriksaan harus mencakup skrining ibu
untuk penyebab infeksi seperti rubella, CMV, toxoplasmosis dan parvovirus. Tingkat infeksi
toxoplasma, rubella, CMV, dan herpes simpleks (TORCH) dan parvovirus B19 di
polyhydramnios sangat berbeda dalam studi retrospektif , mulai dari 0.3 hingga 2,9% . Hal ini
menarik untuk dicatat bahwa oligohydramnios, bukan polyhydramnios, sebuah temuan yang
umum pada infeksi bawaan, sebagian besar pada infeksi CMV, Toxoplasma gondii dan
rubella. Insiden oligohydramnios dalam kasus ini dinyatakan akibat infeksi CMV sebanyak
25%, dan dapat dijelaskan oleh afinitas virus pada ginjal. Perlunya pemeriksaan TORCH
dalam kasus polyhydramnios saat ini banyak di perdebatkan. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengevaluasi tingkat penyakit menular yang dikatakan positif pada kelompok
wanita yang didiagnosis dengan polyhydramnios dalam suasana perawatan tersier.

METODE DAN MATERIAL


Ini adalah pengamatan studi retrospektif kehamilan tunggal dengan diagnosis
antepartum polyhydramnios, pada usia kehamilan 20 minggu, yang memiliki serum
skrining untuk infeksi TORCH dan parvovirus B19. diikuti dengan pemeriksaan serial
ultrasound antara 2006 dan 2013 di Careggi University Hospital di Florence, Italia, yang
merupakan pusat perawatan tersier. Karakteristik dan hasil kehamilan ditinjau menggunakan
database elektronik. Parameter USG, termasuk indeks cairan ketuban dan diagnosis kelainan
anomali, dan hasil tes serologi. Polyhydramnios didefinisikan sebagai indeks cairan ketuban
25 cm atau lebih, atau sebagai satu kantong yang dalam cairannya setidaknya 8 cm dan telah
dikategorikan sebagai ringan, sedang atau berat berdasarkan Indeks cairan ketuban 25.0
29,9 cm, 30.0-34,9 cm atau 35.0 cm atau lebih. Kasus dengan penyakit menular yang tidak di
uji atau dengan rujukan yang tidak jelas tidak diikut sertakan dalam penelitiian ini.
Sedangkan kasus dengan polyhydramnios selama kehamilan di masukkan dalam penelitian
ini. Skrining Rubella dan sifilis secara rutin dilakukan di semua kehamilan pada trimester
pertama, dan oleh karena itu pemeriksaan ini tidak diulang setelah terdiagnosis
polyhydramnios, kecuali ada kecurigaan klinis dari infeksi yang baru.
Konfirmasi utama pada kelainan kongenital dilakukan pada masa neonatus dan
langsung dilakukan oleh dokter anak. Dalam kasus infeksi pada ibu, pemeriksaan dilakukan
pada saat hamil dan di lanjutkan pada 12, 24 dan 36 bulan
TORCH dan parvovirus B19 di analisis di laboratorium kami yang terdiri dari antibodi IgG
dan IgM toxoplasma, CMV, Rubella (CLIA, DiaSorin), parvovirus B19 (CLIA, Siemens) dan
herpes simpleks (ELISA, Siemens). Diagnosis infeksi baru didasari berdasarkan hasil IgM
tertentu yang positif dengan konfirmasi IgG avidity tes Toxoplasma, rubella, dan CMV
Dalam kasus yang dinyatakan positif untuk infeksi toxoplasma, biasanya dilakukan
amniosentesis untuk menentukan patogen dalam cairan ketuban dengan amplifikasi DNA,
menggunakan reaksi berantai polimerase (PCR) setelah 18 minggu kehamilan dan sedikitnya
4 minggu setelah infeksi akut. Untuk CMV, PCR pada cairan ketuban dilakukan setelah 20 +
4 minggu usia kehamilan dan setelah setidaknya 6 minggu setelah infeksi akut. Dalam kasus
infeksi rubella, PCR pada cairan ketuban dan PCR + IgM pada darah janin tidak dilakukan
sebelum 21 minggu dan setidaknya 6 minggu setelah infeksi akut. Untuk parvovirus B19,
tidak dilakukan pemeriksaan PCR secara rutin pada cairan ketuban yang positif dari
pemeriksaan serologi. PCR pada cairan amniotik pada infeksi parvovirus B19 akan dilakukan
hanya jika amniosentesis dilakukan untuk indikasi yang lain.
HASIL
Tiga ratus empat puluh dua pasien yang didiagnosis dengan polyhydramnios selama
masa studi. Ini, sebanyak 35 yang tidak masuk kriteria karena tidak ada penyakit menular
dan 17 pasien dikeluarkan karena diagnosis yang tidak jelas. Sebanyak 290 pasien memenuhi
kriteria inklusi. Usia kehamilan 31 minggu. Berikut pembagian pasien terkait dengan kondisi
patologis polyhidramnions 56 (19%): diabetes (13% dari total kasus), obstruktif lesi
gastrointestinal (5%), isoimmunization Rhesus (0,3%), kelainan kromosom atau sindrom
genetik (1%) (Gambar 1). Sisa 234 pasien, tidak dapat diidentifikasikan. Empat puluh
sembilan kasus (20,9%) murni polyhydramnios, dan rata-rata usia kehamilan 36 minggu
(kisaran 30-41). Demografis dan karakteristik obstetric dari 234 kasus yang dilaporkan dalam
tabel 1. Hasil skrining TORCH dan parvovirus menunjukkan hasil tes positif hanya pada tiga
pasien
Gambar 1 penyebab polyhydramnios pada kelompok pasien

Tabel 1 demografis dan karakteristik kebidanan pasien dengan terisolasi polyhydramnios


N=234
Maternal age (y) 34.3 5.2
Nulliparity 170 (73%)

(28.5,
GA at diagnosis (weeks) 32 34.5)
Polyhydramnios severity 156 (66%)

Mild (AFI 2529.9 cm) 54 (23%)


Moderate (AFI 3034.9 cm) 24 (10%)

Severe (AFI >35 cm)


Positive test result for
infectious disease 3 (1%)

GA at delivery 39 (38, 40)


Preterm delivery 32 (14%)

(3000,
Birth weight (g) 3300 3640)
Birth weight <10th centile 12 (5.13%)

Birth weight >90th centile 23 (9.83%)

GA, gestational age; AFI, amniotic fluid index.


Data given as n (%), mean Standard Deviation (SD) or median (2575th percentiles).

(1% 95% CI 0-4%): dua wanita yang dinyatakan positif parvovirus B19 dan satu untuk
infeksi toxoplasma. dalam kasus infeksi toxoplasma, dilakukan test IgG avidity . Hasil
menunjukkan avidity yang rendah, dengan demikian menunjukkan lama infeksi. dalam tabel
2 semua kasus,
Tabel 2 karakteristik pasien dengan penyakit menular yang positif

Gestational age Maximum


Type of at diagnosis of amniotic Fetal/
infection polyhydramnios fluid index Neonatal
Patient (IgM +) (weeks) value (cm) infection

1 Parvovirus 35 29 No
2 Parvovirus 28 34.5 No

3 Toxoplasma 35 26 No

diagnosis dibuat pada trimester ketiga dan polyhydramnios bertahan selama kehamilan.
Dalam kasus infeksi toxoplasma, tes PCR DNA ketuban dilakukan, dan didapatkan hasil
negatif. Pasien dirawat dengan terapi oral spiramycin 9 000 000 IU per hari, dibagi menjadi
tiga dosis.
Prevalensi infeksi janin dengan polyhydramnios adalah 0% (0/234, 95% CI 0-2%), seperti
yang telah dikonfirmasi dari pemeriksaan serum setelah kelahiran. Tidak ditemukan gejala
klinis pada pemeriksaan dan setalah 3 tahun juga tidak ditemukan.
DISKUSI
Tujuan analisis retrospektif kami adalah untuk menentukan kejadian penyakit menular
menggunakan study kohort singleton pada kehamilan dengan diagnosis polyhydramnios
untuk memperjelas perlunya pengujian TORCH dan parvovirus, Kami menemukan
prevalensi yang sangat rendah terhadap infeksi ibu (1% dari kasus dengan terisolasi
polyhydramnios), dengan tidak ada kasus infeksi janin atau bayi, dengan demikian
menunjukkan bahwa pemeriksaan lengkap untuk penyakit menular yang gejalanya
polyhydramnios tidak diperlukan.
Penemuan polyhydramnios pada kehamilan penting untuk diidentifikasi terakit
peningkatan faktor risiko yang buruk, Namun, saat ini penegakan diagnostik dan terapeutik
membuat obstetrician dilema. pengelolaan polyhydramnios pada kehamilan dapat menantang
karena tidak ada pedoman yang dapat digunakan. Evaluasi komprehensif dilakukan untuk
menyingkirkan faktor ibu, dan dilakukan pengawasan janin .
Uji TORCH sebagai alat skrining telah diusulkan di seventies, penggunaan tes ini
untuk polyhydramnios yang idiopatik telah dimasukkan ke dalam praktek klinis meskipun
manfaatnya nyata tidak jelas.
Di Italia, vaksin rubella yang telah diinaktivasi diperkenalkan pada tahun 1972; dan di
rekmendasikan untuk semua bayi pada usia 12-15 bulan. Strategi vaksinasi ini telah
menyebabkan penurunan infeksi rubella dari 1800 kasus pada tahun 1997 menjadi 500 kasus
pada 2001. dalam jangka waktu 2005 2008 di Italia, sebanyak 30 laporan kasus infeksi
rubella saat hamil, dan hanya empat yang telah dikonfirmasi merupakan congenital rubella
syndrome.
Sebuah sudi multicentric di Italia mengungkapkan CMV sero-prevalensi
menggunakan sampel acak pada perempuan dari sekitar 80%, ke negara Eropa lainnya.
Setelah infeksi primer, reactivations dapat terjadi secara periodik, dan mengarah ke infeksi
sekunder, kasus terbanyak terjadi selama kehamilan diperkirakan sebanyak 1-2%. jika infeksi
ditransmisikan ke janin, hampir 90% dari bayi yang terinfeksi asimtomatik , dan dalam kasus
infeksi sekunder pada ibu, sebagian besar gejala tidak mengkhawatirkan.
Insidensi penyakit toxoplasmosis selama kehamilan sangat rendah: 3-16/10 000.
dalam study yang dilakukan di Italia pada 3.426 wanita hamil, dilaporkan prevalensi kurang
dari 1%. Pada penelitian ini ditemukan hanya satu ibu yang terinfeksi infeksi,dan tidak
ditemukan infeksi pada bayi.
Infeksi Parvovirus B19 selama kehamilan tidak dikaitkan dengan tinggi morbiditas
atau kematian pada bayi dan janin. pedoman merekomendasikan penyelidikan untuk infeksi
parvovirus B19 sebagai bagian untuk menentukan penyebab kematian janin dalam rahim
sedangkan komplikasi kehamilan lainnya seperti aborsi telah dikaitkan dengan parvovirus,
sementara hubungan yang jelas dengan polyhydramnios belum pernah dilaporkan, kami
mengamati dua kasus infeksi parvovirus B19 pada ibu namun, tidak diikuti oleh bayi dengan
hasil serologi positif.
Dari hasil studi kami , kami setuju dengan studi hasil studi yang dilakukan oleh
Fayyaz et al., yang menunjukkan bahwa tes TORCH ini tidak bermanfaat pada perempuan
dengan polyhydramnios yang ditemukan pada pemeriksaan USG, terutama ketika didiagnosis
pada trimester ketiga. Demikian pula, Abdel Fattah et al., setelah meninjau indikasi dan nilai
TORCH pengujian diminta untuk pemeriksaan janin selama 10 tahun, menemukan bahwa
tidak ada kasus infeksi janin atau ibu yang dikaitkan dengan polyhydramnios. Dalam seri
mereka, ada tidak ada kasus infeksi ibu atau janin oleh agen-agen apapun selain CMV.
Namun, perempuan tidak diuji parvovirus. Kelompok laboratorium yang sama kemudian
dievaluasi ulang untuk pemeriksaan TORCH dalam kasus polyhydramnios.
Melakukan tes laboratorium berguna untuk meningkatkan biaya keuangan yang
berhubungan dengan kesehatan, dan kita berspekulasi bahwa itu juga dapat meningkatkan
tingkat kecemasan ibu.
Tujuan dari penelitian kami adalah untuk menyediakan ' Clinician ' dengan informasi
mengenai kemungkinan penyakit menular pada pasien dengan cairan ketuban yang berlebih.
Kami menyimpulkan bahwa polyhydramnios pada pemeriksaan rutin ultrasonografi mungkin
tidak menjadi indikasi untuk pemutaran penyakit menular. Data kami dapat membantu dokter
konseling pasien dengan diagnosis polyhydramnios terisolasi.
Topik No Keterangan Halaman dan penjelasan
Judul dan 1 a Menjelaskan tujuan, Ya, pada abstrak jurnal
abstrak metode, hasil penelitian menjelaskan tujuan, metode, hasil
penelitian secara ringkas
b Memberikan ringkasan Dijelaskan di halaman awal secara
yang informatif dan lengkap serta memberikan
seimbang atas apa yang ringkasan yang sesuai dengan
dilakukan dan apa yang hasil yang didapatkan di penelitian
ditemukan
Introduksi
Latar 2 Menjelaskan latar belakang yang Ya, pada halaman awal di
belakang ilmiah dan rasional mengapa jelaskan angka kejadian etiologi
penelitian perlu dilakukan dan komplikasi yang di sebabkan
oleh polyhidramion dan
penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya oleh orang lain dan
tujuan penelitian telah dijabarkan
dengan jelas.
Tujuan 3 Menentukan tujuan spesifik Ya, pada halaman pertama pada
disampaikan bahwa bahwa
tujuan untuk mengevaluasi
tingkat penyakit menular yang
dikatakan positif pada kelompok
wanita yang didagnosis dengan
polyhidramion
Metodelogi penelitian
Subyek 4 Kriteria subyek penelitian Ya. Pada penelitian disampaikan
penelitian secara rinci mengenai kriteria
inklusi dari subyek penelitian.
Besar 5 Menjelaskan kriteria penentuan Tidak, tidak dijabarkan secara
sampel sampel minimal yang diperlukan jelas mengenai penentuan besar
untuk menghasilkan kekuatan sampel namun dijabarkan jumlah
penelitian total sampel yang digunakan
Prosedur 6 Menjelaskan secara rinci dan Ya. Pada penelitian dijabarkan
penelitian sistematik prosedur penelitian prosedur penelitian mulai seleksi
(teknik pengambilan data) studi hingga pengolahan data
Teknik 7 Teknik analisa data yang digunakan Ya. Analisa data pada penelitian
analisa untuk membandingkan hasil ini menggunakan menggunkan
data penelitian kategori ringan, sedang dan berat
Hasil
Alur 8 Menjelaskan waktu penelitian dan Ya. Pada penelitian dijabarkan
penelitian tempat penelitian waktu dan tempat penelitian
Outcome 9 Untuk outcome hasil penelitian Hasil penelitian hanya dijabarkan
dan secara deskriptif dalam bentuk
estimasi persentase dan dilampirkan
penelitian dalam bentuk tabel.

Kelebihan Penelitian
1 Judul dan abstrak memberikan ringkasan yang informatif dan seimbang atas apa yang
dilakukan dan apa yang ditemukan pada penelitian.
2 Latar belakang dan tujuan penelitian dijabarkan secara cukup jelas.
3 Penelitian ini menjelaskan teknik analisa data secara rinci.
Kekurangan Penelitian
1 Tidak menjelaskan kriteria sampel minimal untuk keakuratan studi
2 Ukuran sampel kecil
3 Pembaca kurang paham atas intisari dari artikel