Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM LAB.

METALURGI I

MODUL I : PENGENALAN KOMINUSI

Praktikan :

Aris Nurdiansyah (123.14.010) Kelompok 1

Asisten :

M. Wildanil Fathoni, ST., MT.

Sabtu, 10 Desember 2016

PROGRAM STUDI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL

FAKULTAS TEKNIK DAN DESAIN

INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG

2016

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 1


A. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah :

1. Memahami mekanisme peremukan dan cara kerja alat remuk.


2. Memahami mekanisme penggerusan dan cara kerja alat gerus.
3. Memahami mekanisme pengayakan dan cara kerja alat ayak.

B. Pendahuluan / Dasar Teori

Kominusi merupakan salah satu tahapan pada pengolahan bijih, mineral, atau bahan
galian. Pada kominusi, bijih atau mineral dari tambang berukuran besar lebih dari 1 meter
dapat dikecilkan menjadi bijih berukuran kurang dari 100 mikron. Kominusi merupakan
tahap awal yang dilakukan dalam proses pengolahan bahan galian. Kominusi merupakan
proses mereduksi ukuran butir atau proses meliberasi bijih. Kominusi ini memiliki tujuan :

Membebaskan (me-liberasi) mineral berharga dari mineral pengotornya


Menghasilkan ukuran dan bentuk partikel yang sesuai dengan kebutuhan pada proses
berikutnya.
Memperluas permukaan partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain,
misalnya reagen flotasi.

Pada umumnya bijih, mineral, atau bahan galian dari tambang masih berukuran cukup
besar. Sehingga sangat tidak mungkin dapat secara langsung digunakan atau diolah lebih
lanjut. Bijih atau mineral dalam ukuran besar biasanya berkadar sangat rendah dan terikat
dengan mineral pengotornya. Liberasi mineral berharga masih rendah pada ukuran bijih yang
besar. Sehingga untuk dapat diolah untuk meningkatkan kadar mineral tertentu harus melalui
proses pengecilan ukuran terlebih dahulu. Secara umum, proses reduksi ukuran suatu bijih
(kominusi) terdiri dari dua proses yaitu proses peremukan (crushing) dan penggerusan
(grinding). Terdapat dua jenis alat yang digunakan untuk proses reduksi ukuran bijih
(kominusi) yaitu :

1. Crusher

Crusher merupakan mesin yang dirancang untuk mengurangi besar batu ke batu yang
lebih kecil seperti kerikil atau debu. Crusher dapat digunakan untuk mengurangi ukuran
atau mengubah bentuk bahan tambang sehingga dapat diolah lebih lanjut. Crusher

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 2


merupakan alat yang digunakan dalam proses crushing, crushing merupakan proses yang
bertujuan untuk meliberasi mineral yang diinginkan dari mineral pengotornya. Crushing
biasanya dilakukan dengan proses kering, dan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu Primary
crushing, secondary crushing, dan fine crushing.

Primary crushing merupakan peremukan tahap pertama, alat peremuk yang biasanya
digunakan pada tahap ini adalah Jaw Crusher dan Gyratory Crusher. Umpan yang
digunakan biasanya berasal dari hasil penambangan dengan ukuran sekitar 1500 mm,
dengan ukurang setting antara 30 mm sampai 100 mm. Ukuran terbesar dari produk
peremukan tahap pertama biasanya kurang dari 200 mm. Gambar proses primary
crushing menggunakan jaw crusher dapat dilihat pada gambar 1.1.

Gambar 1.1. Jaw Crusher

Secondary crushing merupakan peremukan tahap kedua, alat peremuk yang


digunakan adalah Jaw Crusher ukuran kecil, Gyratory Crusher ukuran kecil, Cone
Crusher, Hammer Mill dan Roll Crusher. Umpan yang digunakan sekitar 150 mm,
dengan ukuran antara 12,5 mm sampai 25,4 mm. Produk terbesar yang dihasilkan
adalah 75 mm. Gambar proses secondary crushing menggunakan roll crusher dapat
dilihat pada gambar 1.2.

Gambar 1.2. Roll Crusher

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 3


Fine crushing atau tertiary crushing merupakan peremukan tahap lanjut dari
secondary crushing, alat yang digunakan adalah rolls, dry ball mills, disc mills, dan
ring mills. Umpan yang biasanya digunakan kurang dari 25,4 mm.

Untuk memperkecil material hasil penambangan yang umumnya masih berukuran


bongkah digunakan alat peremuk. Material hasil peremukan kemudian dilakukan pengayakan
atau screening yang akan menghasilkan dua macam produk yaitu produk lolos ayakan yang
disebut undersize yang merupakan produk yang akan diolah lebih lanjut atau sebagai produk
akhir, dan material yang tidak lolos ayakan yang disebut oversize yang merupakan produk
yang harus dilakukan peremukan lagi.

2. Mill

Mill merupakan alat yang diguanakan dalam proses grinding yaitu tahap pengurangan
ukuran dalam batas ukuran halus yang diinginkan.

Tujuan Grinding :

Mengadakan liberisasi mineral berharga


Mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan industri
Mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan proses selanjutnya

Penggerusan dimulai dari ukuran kasar hasil peremukan dengan menggunakan Mill
dan media penggerus seperti bola atau batang baja, porselen atau bijih itu sendiri
(autogeneous grinding). Operasi penggerusan ini dapat dengan cara basah bila umpan
berupa bijih yang bercampur air atau cara kering bila umpan berupa bijih yang benar-
benar kering. Gambar proses grinding menggunakan ball mill dan diagram kerjanya
dapat dilihat pada gambar 1.3 dan gambar 1.4.

Gambar 1.3. Ball Mill

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 4


Gambar 1.4. Diagram kerja ball mill

C. Alat dan Bahan

Alat Bahan
- Jaw crusher - Batuan berukuran 4-5 cm
- Roll crusher - Butiran berukuran 0,5-1 cm
- Ball mill
- Tyler screen mesh (70 - 200 mesh)
Tabel 1.1. Alat dan Bahan

D. Prosedur Percobaan
Peremukan

Disiapkan kerikil Diukur open setting Jaw crusher yang


berukuran 4-5 cm dan close setting jaw kosong dijalankan dan
crusher diamati cara kerjanya

Disiapkan roll crusher Diamati hasil Dimasukkan umpan


dan diatur gape pada peremukan jaw secara perlahan dan
roll crusher crusher berupa ukuran ditampung hasilnya
dan bentuk bijih

Diamati hasil
Roll crusher Dimasukkan produk peremukan roll
dijalankan dan diamati jaw crusher sebagai
crusher berupa ukuran
cara kerjanya umpan roll crusher dan bentuk bijih

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 5


Penggerusan

Diisi silinder dengan


Dimasukkan umpan
bola gerus berukuran Ball mill dijalankan
hasil roll crusher
2,5 cm dan 2 cm selama 10 menit
(kira-kira berukuran 2
hingga 50% volume
mm)
silinder

Diamati produk hasil


penggerusan ball mill
berupa ukuran dan
bentuk bijih

Pengayakan

Dilakukan pengayakan
Dilakukan pengayakan Diamati hasil
pada produk hasil ball
pada produk hasil roll pengayakan pada
mill dengan vibrating
crusher kedua proses tersebut
screen

E. Data Percobaan

Hasil data praktikum crushing :

Ukuran bijih Hematite


Run-No Produk jaw crusher
Fe 2 O3 (inch)
1 4x5 1,65 x 2,65
2 4 x 4,5 3 x 3,65
3 4,5 x 4 2,65 x 2,5
4 3x5 1,65 x 2,5
5 3,5 x 5 1,4 x 3
Tabel 1.2. Hasil Data Praktikum Crushing

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 6


Hasil data praktikum grinding :

Massa (gram)
No Mesh 15 menit 25 menit
pengayakan pengayakan
1 +20 50 50
2 -20 +35 100 200
3 -35 +60 150 300
4 -60 +100 200 200
5 -100 +150 300 150
6 -150 200 100
Total 1000 1000
Tabel 1.3. Hasil Data Praktikum Pengayakan

F. Analisis Data / Pengolahan Data


Pengolahan data crushing :

Berdasarkan data yang telah diperoleh, maka dapat dihitung Reduction Ratio pada
proses crushing di percobaan ini. Persamaan yang digunakan untuk menghitung Reduction
Ratio adalah :

Feed Size
Reduction Ratio =
Product Size

Ukuran Bijih Hematite Fe 2 O3


Run - No Produk Jaw Crusher RR
(inch2 )
1 20 4,3275 4,57404231
2 18 10,95 1,643835616
3 18 6,625 2,716981132
4 15 4,125 3,636363636
5 17,5 4,2 4,166666667
Tabel 1.4. Hasil Data Praktikum Crushing

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 7


Pengolahan data pengayakan :

Setelah melewati proses crushing dengan jaw crusher dan roll crusher, untuk
mendapatkan umpan yang lebih halus dilakukan proses screening. Berikut data hasil
percobaan screening.

- 15 menit pengayakan

Tabel 1.5. Pengolahan Data 15 Menit Pengayakan

- 25 menit pengayakan

Tabel 1.6. Pengolahan Data 25 Menit Pengayakan

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 8


Data grafik percobaan :

- 15 menit pengayakan

Grafik 1.1. Grafik Sieve Analysis 15 Menit Ayak

- 25 menit pengayakan

Grafik 1.2. Grafik Sieve Analysis 25 Menit Ayak

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 9


G. Pembahasan / Diskusi

Pembahasan untuk percobaan praktikum modul pengenalan kominusi :

1. Tujuan utama dari proses kominusi ini adalah meliberasi mineral berharga dari
pengotor nya dengan cara mereduksi ukuran bijihnya untuk dapat diproses pada tahap
selanjutnya.
2. Cara kerja dari :
Jaw Crusher
Mereduksi ukuran dengan menggerakan salah satu jepit, sementara jepit yang
lain diam. Tenaga yang dihasilkan oleh bagian yang bergerak mampu
menghasilakn tenaga untuk menghancurkan batuan yang keras. Konstruksinya
mempunyai sepasang rahang yang satu diam dan yang satunya bergerak maju
mundur ( bolak-balik ).
Roll Crusher
Mereduksi ukuran dengan menjepitnya diantara satu roll, dua roll atau lebih,
dimana roll-roll akan berputar berlawanan dengan adanya berat tersendiri dan
gusuran dari batu, maka batu akan pecah. Adapun permukaan dari Roll
bermacam-macam ada yang rata, bergelombang, beralur dengan bermacam-
macam, gigi-gigi dan sebagainya, sesuai dengan jenis batu dan hasil pemecahan
yang diharapkan.
Ball Mill
Mereduksi ukuran dengan menggelindingkan bola penghancur di dalam
mesin. Didalam ball mill memiliki wadah dalam bentuk tabung dengan 2 bagian
tempat menyimpan material dalam bentuk horizontal. Mesin ini bekerja pada 2
roda yang ada di kedua sisinya.
3. Pada percobaan peremukan (crushing) didapat nilai Reduction Ratio yang berbeda
sesuai dengan ukuran umpan dan produk yang didapatkan. Reduction ratio adalah
rasio antara ukuran umpan dengan ukuran produk hasil dari crushing. Semakin besar
reduction ratio maka semakin kecil produk hasil dari crushing. RR tertinggi
didapatkan pada praktikum ini sebesai 4,57 dengan ukuran bijih 20 inch2 dan hasil
4,32 inch2 , sedangkan RR terendah sebesar 1,64 dengan ukuran bijih 18 inch2 dan
hasil 10,95 inch2 .

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 10


H. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan :

1. Mekanisme dari peremukan (crushing) adalah adanya gaya luar yang bekerja atau
diterapkan pada bijih dan gaya tersebut harus lebih besar dari kekuatan bijih yang
akan diremuk. Mekanisme peremukannya tergantung pada sifat bijihnya dan
bagaimana gaya diterapkan pada bijih tersebut. Setidaknya ada 4 gaya yang dapat
digunakan untuk meremukkan bijih, yaitu gaya tekan, gaya banting (impact), gaya
gesek (abrasion), dan pemotongan (shear).
2. Mekanisme dari penggerusan (grinding) sama seperti proses peremukan, namun untuk
ukuran bijih yang lebih halus. Gaya yang bekerja pada penggerusan ini pun sama
dengan gaya yang bekerja pada proses peremukan.
3. Mekanisme dari pengayakan (screening) adalah untuk memisahkan bijih berdasarkan
ukurannya dengan media ayak dengan ukuran lubang tertentu (yang kecil akan lolos
dan yang besar akan tertahan) untuk medapatkan distribusi ukuran bijih sesuai dengan
derajat liberasinya.

Saran :

1. Agar praktikan tidak sekedar dikenalkan dengan alatnya, tetapi juga belajar
mempraktekkannya untuk menambah pengalaman praktikan.

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 11


Daftar Pustaka

Koordinator Lab Metalurgi I. 2016. Modul Praktikum MM3141 Lab Metalurgi I.


Kota Deltamas : Program Studi Teknik Metalurgi dan Material ITSB
Aswin. 2012. Pengolahan Bahan Galian (Mineral Dressing).
http://aswin63.blogspot.co.id/2012/01/pengolahan-bahan-galian-mineral.html.
Diakses pada 23 Desember 2016 pukul 21.00.
Ardra. Pengertian Teori, Tujuan Proses Operasi Kominusi. https://ardra.biz/sain-
teknologi/mineral/pengolahan-mineral/kominusi-operasi-pengecilan-ukuran/. Diakses
pada 23 Desember 2016 pukul 21.00.

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 12


Lampiran

Gambar 1.5. Alat Jaw Crusher Gambar 1.6. Alat Roll Crusher

Gambar 1.7. Alat Grinding Gambar 1.8. Tabung dan Bola untuk Ball Mill

Laporan Praktikum MM 3141 Lab Metalurgi I 13