Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSATAKA

A. Teori umum
Larutan standar biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses
penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap disebut titrasi dan zat akan
ditetapkan, dititrasi. Titik (saat) pada masa reaksi itu tepat lengkap disebut titik
ekuivalen (setara) atau titik akhir teoritis (atau titik akhir titrasi stoikiometri).
Lengkapnya titrasi, lazim harus terdeteksi oleh suatu perubahan yang dapat disalah
lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar itu sendiri (misalnya KMnO4)
atau lebih lazim lagi oleh penambahan suatu reagensia penambahan pembantu yang
dikenal sebagai indikator. Setelah reaksi antara zat dan larutan standar praktis
lengkap,indikator harus memberi perubahan visual yang jelas (entah suatu perubahan
warna dan pembentukan endapan) dalam larutan yang sedang dititrasi. Titik (saat)
pada mana ini terjadi disebut titik akhir titrasi. Pada titrasi yang ideal,titik akhir yang
terlihat akan terjadi berbarengan dengan titik akhir stoikiometri akan teoritis. Namun
dalam praktik biasanya akan terjadi perbedaan yang sangat sedikit ini merupakan
kesalahan (errot) titrasi. Indikator dan kondisi-kondisi eksperimen harus dipilih
sedemikian, sehingga perbedaan antara titik akhir terlihat dan titik ekivalen hanyalah
sekecil mungkin. (Besset. 1994; 159)
Reagensia dengan konsetrasi yang diketahui itu disebut titran dan zat yang
sedang dititrasi disebut titer. Untuk digunakan dalam analisis titrimetri. Suatu rekasi
harus memenuhi kondisi-kondisi berikut:
1. Harus ada suatu reaksi yang sederhana,yang dapat dinyatakan dalam suatu
penamaan kimia, zat yang akan ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan
reagensia dalam proporsi yang stoikiometri atau ekuivalen
2. Reaksi harus berlangsung dengan sekejap atau berjalan dengan sangat
cepat sekali (kebanyakan reaksi ionic memenuhi kondisi ini). Dalam
beberapa keadaan,penambahan suatu katalis akan menaikkan kecepatan
reaksi itu.
3. Harus ada perubahan yang mencolok dalam energi bebas, yang dapat
menimbulkan perubahan dalam beberapa sifat fisika atau kimia larutan
pada titik ekuivalen
4. Harus tersedia suatu indikator, yang oleh perubahan sifat-sifat fisika
(warna atau pembentukan endapan), harus dengan tajam menetapkan titik
akhir titrasi. Jika tak tersedia indikator yang dapat dilihat mata untuk
mendeteksi titik ekuivalen. Titik ekuivalen ini sering dapat ditetapkan
dengan mengikuti hal-hal berikut selama jalannya titrasi :
a. Potensial antara sebuah elektroda, indikator dan sebuah elektroda
pembanding (elektroda referensi) titrasi potensiometri
b. Perubahan dalam konduktivitas (daya hantar jenis) listrik larutan itu
atau disebut juga titrasi konduktometri
c. Arus listrik yang mengalir melalui sel titrasi antar sebuah elektroda
indikator (misalnya elektroda merkurium menetes).dan sebuah
elektroda pembanding yang telah dipolarisasi (misalnya elektroda
kalomel jenuh).
d. Perubahan absorbans larutan (titrasi spektrofotometri).
Titrasi bebas air (TBA) merupakan prosedur titrimetri yang paling umum
digunakan untuk uji-uji dalam farmkaope. Metode ini mempunyai dua keuntungan
yaitu :
1. Metode ini cocok untuk titrasi asam atau basa yang sangat lemah
2. Pelarutyang digunakan adalah pelarut organik yang juga mampu
melarutkan analit-analit organik.
Prosedur-prosedur yang paling digunakan untuk titrasi basa organik adalah
dengan menggunakan titrasi asam perklorat dalam asam asetat.
Titrasi beba air sangat singkat, yaitu sebagai berikut; air dapat bersifat asam
lemah atau basa lemah.Oleh karena itu, dalam lingkungan air, air yang dapat
berkompetensi dengan asam atau basa yang sangat lemah dalam hal menerima atau
memberi proton sebagaimana ditunjukkan dibawah ini :
H2O + H+ H3O+
Akan berkompetisi dengan RNH2 + H+ RNH3+
H2O + B OH- + BH+
Akan berkompetisi dengan ROH + B RO- + BH+
Kompetisi air dengan basa lemah dan asam lemah untuk memberi atau
menerima proton. (Jenkis; 1967)
Adanya prilaku kompetisi ini berakibat pada kecilnya titik infeksi pada kurva
titrasi asam sangat lemah dan basa sangat lemah sehingga mendekati batas pH 0 dan
14. Oleh karenaitu, deteksi titik akhir titrasi sangat sulit. Sebagai aturan umum : basa-
basa dengan pKa <7 atau asam-asam dengan pKa>7 tidak dapat ditentukan kadarnya
secara tepat pada media air. Berbagai macam pelarut organik dapat digunakan untuk
mengambil air karena pelarut-pelarut ini kurang berkompetisi secara efektif dengan
anlit dalam hal menerima atau memberi proton.
1. Titrasi bebas air basa-basa lemah
Asam asetat merupakan penerima proton yang sangat lemah sehingga
tidak berkompetisi secara efektif dengan basa-basa lemah dalam hal
menerima proton. Hanya asam yang sangat kuat yang mampu
memprotonasi asam asetat.
Asam perklorat dalam larutan asam asetat merupakan asam yang
paling kuat diantara asam-asam umum yang digunakan untuk titrasi basa
lemah dalam medium bebas air. Dalam titrasi bebas air biasanya
ditambahkan dengan asam asetat anhidrida dengan tujuan untuk
menghilangkan air yang ada dalam asetat perklorat. Adapun reaksi yang
terjadi yaitu :
H2O + (CH3CO)2O 2CH3COOH
Sebagai indicator dapat digunakan : Oraset biru, kuinaldin merah, dan
Kristal violet.
2. Titrasi bebas air asam-asam lemah
Untuk titrasi bebas air (TBA) asam lemah pelarut yang digunakan adalah
pelarut yang tidak berkompetisi secara kuat dengan asam lemah dalam hal
yang memberikan proton. Alcohol dan pelarut aprotik digunakan sebagai
pelarut. Pelarut aprotik merupakan pelarut yang dapat menurunkan ionisasi
asam dan basa.
(Gandjar. 2007; 141-144)
Titrasi bebas air relatif sederhana dan dapat dilakukan secara tepat dan teliti.
Asam hidroksi benzoate dan turunannya dapat ditetapkan secara titrasi bebas air.
Dalam pelarut basa, gugus hidroksil fenol dapat dititrasi sebagai asam sebaik gugus
karboksilat. Asam salisislat setelah dilarutkan dalam dimetil formamid dapat dititrasi
dengan dengan natrium metoksida dengan indicator ozo violet atau secara
potensiometri. Pada titrasi potensiometri, asam salisilat menunjukkan dua buah titik
akhir karena baik gugus hidroksil maupumn karboksil keduanya tertitrasi. Untuk asam
P hidroksil benzoat tidak dapat dititrasi dengan metode ini sebab membentuk endapan
yang menyebabkan titik akhir pucat. Asam salisilat dapat dititrasi sebagai asam
karboksilat dalam benzene-metanol dan dalam asetoniril dengan titran natrium metilat
dalam benzen methanol dengan indicator biru timol.
Amonium, litium, dan natrium salisilat dapat dititrasi dalam asam asetat
glasial dengan asam perklorat. Titik akhir dapat ditetapkan dengan indikator Kristal
violet atau secara potensiometri. (Sudjaji.2008; 17)
Pada tablet asetofenidin dapat juga dianalisis dengan titrasi bebas air.
Asetofenetidin dapat dititrasi sebagai basa setelah dihidrolisis menjadi P-fenetidin.
Setelah hidrolisis, amin bebas diekstraksi kedalam kloroform dan dititrasi secara
potensiometri dengan menggunakan larutan baku asam perklorat 0,02 N dalam
dioksan. Sistem electrode gelas kalomel digunakan dalam titrasi ini.
Jika kafein ada maka kafein juga ikut akan terekstraksi kedalam kloroform
akan tetapi kafein tidak mengganggu titrasi. (Sudjaji. 2008; 46)
B. Uraian bahan
A. Naftol- benzein
Nama resmi :
C. Asam astetat glasial (f1 3)
Nama resmi : ACIDUM ACETICUM GLACIALE
Nama lain : Asam asetat glasial
Berat molekul : 60,05
Rumus molekul : C2H4O2
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna; bau khas; tajam
Kelarutan : Dapat bercampur denga air; dengan etanol (95%) P
dan gliserol.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pelarut