Anda di halaman 1dari 13

UJI TOKSIK SUB-LETHAL DENGAN ABS (Alkyl Benzene Sulfonate) PADA BENIH IKAN

NILEM (Osteochilus hasselti)

TOXIC TEST SUB-LETHAL WITH ABS (Alkyl Benzene Sulfonate) ON SEEDS FISH NILEM
( Osteochilus hasselti )

Arnesih, Nurhalimah* dan Yunia Qonitatin


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
Jalan Raya Bandung-Sumedang KM 21, Jatinangor 40600
Email : nuy.nurhalimah14@gmail.com*

ABSTRAK

Toksisitas merupakan kemampuan suatu zat untuk menimbulkan kerusakan pada suatu lingkungan.
Uji toksisitas sub-letal merupakan bagian dari uji toksisitas kuantitatif yang dilakukan dengan
pendedahan larutan bahan kimia atau polutan dalam jangka waktu relatif lama. Uji toksisitas Sub-
Lethal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari Bahan Toksis ABS (Alkil Benzena Sulfonate)
terhadap mortalitas Ikan Nilem (Osteochilus hasselti). Praktikum ini bertujuan untuk memahami dan
mampu melaksanakan persiapan pemaparan dan pengamatan uji toksisitas sub-letal serta memahami
dan mampu melaksanakan analisis data hasil pengamatan terhadap benih ikan nilem (Osteochilus
hasselti). Kegiatan praktikum uji Toksisitas Sub-Lethal ini dilaksanakan di Laboratorium FHA
(Fisiologi Hewan Air) FPIK Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode eksperimen dengan menggunakan Ikan Nilem sebagai hewan uji dan bahan toksik akut
yaitu ABS (Alkyl Benzene Sulfunate). Pengujian dilakukan dengan konsentrasi yang berbeda-beda
pada masing-masing bahan toksik yaitu Kontrol, 25%, 50% dan 75%. Hasil yang didapat dari
kegiatan praktikum tersebut yaitu konsentrasi bahan ABS 50% sehingga di dapat DO awal sebesar
3,94 dan DO akhir sebesar 3,35, pH awal sebesar 6,79 dan pH akhir sebesar 7,94 dengan suhu 250C.
Jenis bahan toksik ABS 50% tidak berpengaruh terhadap mortalitas ikan karena tidak terdapat
kematian benih Ikan Nilem (Osteochilus hasselti).

Kata Kunci : ABS , DO, pH, Suhu, Toksisitas Sub-Lethal

ABSTRACT

Toxicity is capability a substance to inflict damage on a neighborhood .The sub-letal toxicity is part
of the quantitative toxicity done with exposure solution chemicals or pollutants within the period
relatively long .The sub-lethal toxicity is aimed to determine the effects of the toksis abs ( alkyl
benzene ) sulfonate of against mortalitas fish nilem ( osteochilus hasselti ) .Lab work aims to
understand and able to carry out preparation exposure and observation test sub-letal toxicity and
understand and capable of being conducted an analysis of data observation of seeds fish nilem (
osteochilus hasselti ) .The lab work test sub-lethal toxicity was held in the laboratory fha ( physiology
aquatic animals ) fpik padjadjaran university .Methods used in research is experimental methods
using fish nilem as a test and a toxic the material acute abs ( alkyl benzene sulfunate ). Testing done
with concentration berbeda-beda on masing-masing a toxic substances that control , 25 % , 50 %
and 75 % .Results obtained from the lab work that the concentration of abs 50 % so i can do an initial
3,94 and do the end of was 3,35 , ph an initial 6,79 and ph the end of was 7,94 temperatures 250c .A
kind of toxic abs 50 % will not affect mortalitas fish since there is no deaths seed fish nilem (
osteochilus hasselti ).

Keywoards : ABS , DO, pH, suhu, toxicity sub-lethal


2

PENDAHULUAN limbah cair, ABS (Alkyl Benzene Sulfonate)


merupakan suatu produk derivat alkil benzen.
Air merupakan sumber kehidupan. Air
Proses pembuatan ABS ini adalah dengan
banyak digunakan oleh manusia untuk tujuan
mereaksikan Alkil Benzena dengan Belerang
bermacam-macam sehingga dengan mudah
Trioksida, asam Sulfat pekat atau Oleum.
dapat tercemar. Menurut tujuan
Reaksi ini menghasilkan Alkil Benzena
penggunaanya, air diklasifikasikan menjadi
Sulfonat. Jika dipakai Dodekil Benzena maka
beberapa kelompok yang berbeda-beda.
persamaan reaksinya adalah Dengan
Pencemaran air merupakan masalah regional
meningkatnya penggunaan detergen sebagai
maupun lingkungan global, dan sangat
bahan pembersih dalam masyarakat berpotensi
berhubungan dengan pencemaran udara serta
mengakibatkan terjadinya pencemaran
penggunaan lahan tanah atau daratan
lingkungan perairan. Kondisi perairan yang
(Darmono 2001 dalam Aini 2013).
semakin buruk akan mempengaruhi organisme
Menurut Kamus Besar Bahasa
yang hidup di dalamnya (Suparjo 2009 dalam
Indonesia (KBBI), definisi subletal adalah
Aini 2013).
bersifat tidak cukup mematikan, bersifat
Besarnya bahan pencemaran yang
kurang dari letal. Uji toksisitas sublethal
ditimbulkan menyebabkan gangguan yang
adalah pemaparan/pendedahan dalam jangka
cukup serius pada perairan. Pencemaran
waktu medium sebagai bentuk skrining kedua
perairan tersebut dapat mengganggu
atas indikasi dampak toksisitas (Kenndall and
kelangsungan hidup ikan. Kelangsungan hidup
Akerman 1992).
ikan sangat tergantung pada kondisi perairan
Pencemaran lingkungan perairan dapat
tempat hidupnya. Mengingat besarnya potensi
disebabkan oleh berbagai kegiatan masyarakat
pencemaran dari limbah domestik, dan adanya
yang membuang limbah ke dalam perairan
perbedaan kepentingan tersebut, maka limbah
tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu.
domestik tersebut tersebut perlu diuji secara
Misalnya limbah domestik, limbah industri,
cermat. Oleh karena itu, diperlukan penelitian
limbah perkotaaan, dan limbah rumah tangga.
untuk mengetahui pengaruh limbah domestik
Limbah domestik dapat berupa cairan, limbah
seperti limbah cair, ABS dengan konsentrasi
cair yang dihasilkan dari rumah tangga ini
yang berbeda terhadap Gerak operkulum
cenderung merupakan kotoran umum
(GO), Aktif Gerak (AG), Gejala Klinis yang
(Sugiharto 1987). Salah satu limbah domestik
terdapat pada benih ikan nilem dan dan
yang dibuang ke perairan adalah detergen.
Kelangsungan Hidup benih ikan nilem
Sumber utama air limbah rumah tangga
(Osteochilus hasselti).
masyarakat Indonesia berasal dari buangan
Uji toksisitas secara kuantitatif dapat
ratusan ribu ton detergen yang mengandung
ditinjau dari lamanya waktu, yang dapat
3

diklasifikasikan menjadi toksisitas akut, sub- domestik dan dapat dijadikan sebagai bahan
akut, khronis. Uji toksisitas kuantitatif informasi kepada masyarakat tentang detergen
misalnya dilihat dari segi organ yang terkena yang mencemari badan air. Penelitian ini juga
racun, misalnya hati, ginjal, sistem saraf dan bertujuan agar mahasiswa mampu untuk
lain sebagainya. Uji toksisitas kuantitatif dapat memahami dan mampu melaksanakan
juga dilihat dari gejala yang timbul mekanisme persiapan, pemaparan dan pengamatan uji
racun terhadap organ mulai pada tingkat toksisitas sub letal serta memahami dan
seluler, ke tingkat jaringan, dan sampai pada mampu melaksanakan analisis data hasil
tingkat organ, serta menimbulkan gejala pengamatan.
gejala fibrosis, granuloma, karsinogenik,
DATA DAN PENDEKATAN
teratogenik dan lain sebagainya. Uji toksisitas
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 1
sub letal merupakan bagian dari uji toksisitas
November 2016 di Labratorium Fisiologi
kuantitatif yang dilakukan dengan pendedahan
Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu
larutan bahan kimia atau polutan dalam jangka
Kelautan Universitas Padjadjaran. Metode
waktu relatif lama (beberapa hari, minggu).
yang digunakan adalah metode Eksperimental
Efek akut dapat terjadi dalam selang waktu
yaitu segala kegiata yang dilakukan
beberapa bulan atau tahun, dengan kata lain uji
merupakan penerapan percobaan dalam
toksisitas sub letal ini bersifat permanen, lama,
lingkup Laboratorium. Tujuan penelitian ini
konstan, kontinyu, irreversible. Parameter
adalah untuk memahami dan mampu
yang dapat diamati dalam uji toksisitas sub
melaksanakan persiapan pemaparan dan
letal antara lain keadaan fisiologis organisme
pengamatan uji toksisitas sub letal serta
uji, tingkah laku, biokimiawi, perubahan
memahami dan mampu melaksanakan analisis
biologis hewan uji, dan juga dapat mengitung
data hasil pengamatan terhadap benih ikan
nilai hematokritnya.
nilem (Osteochilus hasselti).
Ikan nilem (Osteochilus hasselti)
Alat yang digunakan dalam
merupakan ikan asli perairan Indonesia dan
pengamatan yaitu gelas ukur 5 ml, pipet tetes,
merupakan salah satu dari ikan konsumsi air
gelas ukur plastik, timbangan, saringan, pH
tawar yang hidup di rawa-rawa dan sungai-
meter, Thermometer, DO meter dan hand
sungai. Umumnya ikan nilem dipelihara di
counter. Bahan yang digunakan dalam
kolam-kolam dataran tinggi. pemeliharaan di
pengamatan ini yaitu ABS (Alkyl Benzene
karamba dan sawah masih sangat terbatas
Sulfonate), SLS (Sodium Lauryl Sulfate), dan
(Cholik dkk 2005).
Pakan Ikan. Hewan uji yang digunakan adalah
Dengan adanya pengamatan ini
benih ikan nilem (Osteochillus hasselti).
diharapkan ikan nilem dapat dijadikan
bioindikator pada pencemaran limbah
4

Pada pengamatan ini yang pertama Tabel 1. Kisaran hasil pengukuran parameter
fisik dan kimia pada medium uji
dilakukan yaitu 10 benih ikan nilem disiapkan
dengan bahan toksik ABS 50%
dan diaklimatisasi terlebih dahulu selama 3 diawal dan akhir pengamatan
hari. Aklimatisasi ini dilakukan agar ikan uji Konsentrasi DO Suhu
No pH
dapat beradaptasi terlebih dahulu dengan ABS 50% (ppm) (oC)
1. Awal 3,94 6,79 25
lingkungan barunya. Benih ikan nilem 2. Akhr 3,35 7,94 25
sebanyak 3 ekor ditimbang bobot awalnya dan
Berdasarkan hasil pengukuran
dirata-ratakan. Kemudian ikan dimasukkan
parameter meliputi oksigen terlarut, pH dan
kedalam akuarium yang telah diisi air medium
suhu pada awal pegematan dan akhir
sebanyak 15 liter. Dimasukan bahan toksik uji
pengamatan diketahui hasil kualitas air yang
(ABS dan SLS) dengan variasi konsentrasi
mengalami perubahan. Parameter suhu berada
masing-masing yang telah ditentukan yaitu 0%
pada kisaran 25 oC diawal maupun diakir
25%, 50% dan 75% ke dalam akuarium
pengamatan, nilai ini masih ada pada kisaran
dengan menggunakan pipet dan diaduk
suhu ruang. Dari tabel tersebut dapat diketahui
perlahan hingga bahan uji larut sempurna.
paparan ABS 50% tidak berpengaruh terhadap
Pengamatan sublethal pada ikan uji
suhu air, karena tidak terjadi perubahan pada
dilakukan dengan pengamatan pada satu jam
nilai suhu air. Parameter oksigen terlarut
pertama dan dilanjutkan dengan pengamatan
diawal dan akhir pengamatan berada pada
harian selama 4 hari. Pakan diberikan setiap
kisaran 3,35 - 3,94 ppm. Hardjamulia (1981)
hari sebanyak 3% dari bobot tubuh ikan dan
dalam Megawati (2015), oksigen dalam air
disifon setiap hari dengan mengganti air
tidak boleh kurang dari 3 ppm. Dapat dilihat
sebanyak yaang dibuang dengan air media
pada tabel 4 bahwa oksigen terlarut menurun
sesuai konsentrasi yang disediakan. Gerak
seiring lamanya pemaparan bahan toksik
operkulum (GO), aktivitas gerak (AG) dan
dalam air yaitu dari 3,94 ppm menjadi 3,35
survival rate (SR) diamati setiap hari atau
ppm. Artinya periaran yang terkena bahan
selama 4 hari (96 jam).
toksik ABS akan mengalami penurunan
oksigen terlarut dalam air yang didukung
HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan suplay oksigen dari udara yang sangat
Pengukuran kondisi kualitas air yang
lamat akibat adanya busa diatas permukaan air.
diukur selama penelitian meliputi parameter
Nilai pH pada perlakuan ABS 50% ini adalah
fisik dan kimia air yaitu suhu, pH dan oksigen
6,79-7,94. Nilai pH pada perlakuan ini
terlarut. Pengukuran kualitas air ini dilakukan
mengalami kenaikan nilai derajat keasaman
diawal dan diakhir penelitian. Hasil
yaitu dari 6,79 yang netral menjadi 7,94 yang
pengukuran kualitas air diperoleh kisaran nilai
memiliki sifat basa. Hal tersebut menunjukan
yang dapat dilihat pada Tabel 1.
5

bahwa lamanya paparan ABS berpengaruh pernyataan Wijarmoko et al. (2008) dalam
terhadap kualitas air. Namun menurut Boyd megawati Prayogo (2016) bahwa organisme
(1990) dalam Megawati (2015), pH yang hidup akan cepat mati bila dipapar oleh
optimal untuk periaran berkisar antara 6,7-8,2, senyawa beracun dengan dosis yang tinggi dan
yang artinya keaikan pH yang terjadi dari sebaliknya organisme akan bertahan cukup
lamanya pemaparan ABS 50% dalam air masih lama bila dipapar oleh senyawa beracun
dalam kisaran yang normal dalam periaran dan dengan dosis yang rendah. Gambar diatas
juga masih dapat ditolelir oleh benih ikan nila menunjukan bahwa benih ikan nilem
yang digunakan sebagai hewan uji. mempunyai batas toleransi yang berbeda
120% tehadap baha toksik yang diberikan.
100%
100%
100% 84% Pemberian bahan toksik akan memeberikan
80% 72% 73%70%
65% pengaruh pada kondisi fisiologis ikan dan
60%
puncaknya akan mengalami kematian.
40% 31%

20%
Pengamatan secara visual terhadap
0% ikan uji selama penelitian terlihat bahwa ikan
Kontrol 25% 50% 75%
uji mengalami perubahan tingkah laku.
ABS SLS
Pergerakan pada setiap perlakuan tanpak
Gambar 1. Histogram Bahan Toksisk ABS dan berbeda, hal ini diduga bemberian konsentrasi
SLS terhadap Mortalitas Benih Ikan ABS yang berbeda akan menimbulkan
nilem
pengaruh terhadap pergerakan (aktifitas gerak)
Nilai rata-rata presentase kematian
ikan.
benih ikan nilem pada setiap perlakuan
300
mengalami peningkatan seiring dengan 248
250 224
meningkatya konsentrasi bahan toksik yang
GO (kali/menit)

200
diberikan. Perlakuan kotrol tidak mengalami 144 147
150 130 132 133
119
kematian hewan uji (benih ikan nilem), 100
sedangkan dengan pemberian konsentrasi ABS 50

kematian hewan uji bervariasi. Rata-tara 0


Kontrol 25% 50% 75%
kematian ikan pada konsentarsi 25% adalah ABS SLS
84% , konsentrasi ABS 50% adalah., 73 % dan
konsentrasi ABS 75% adalah. 31 % pada Gambar 2. Histogram Bahan Toksisk ABS dan
SLS terhadap Gerak Operkulum
konsentrasi terendah yaitu ABS 25% benih (GO) pada Benih Ikan nilem
ikan nilem mampu bertahan untuk hidup
Gambar 3 diatas memperlihatkan
dibandingkan dengan konsentrasi tertinggi
bahwa gerak operkulum benih ka nilem
yatu ABS 75%. Hal ini sesuai dengan
terhadap perlakaun bahan toksik ABS dan SLS
6

memanglah berbeda. Pengaruh ABS terhadap 120%

jumlah gerakan operkulum ikan berbeda-beda, 100%


100%
100%
84%
artinya benih ikan nilem memiliki kemampuan
80% 72% 73%70%
65%
yang berbeda-beda dalam mentolelir efek dari
60%
bahan toksik ABS terhadap kebutuhan oksigen
40% 31%
terlarut. Berbeda dengan pengaruh SLS
20%
terhadap jumlah gerakan operkulum ikan ikan,
dimana gerak operkulum akan semakin 0%
Kontrol 25% 50% 75%
meningkat dengan semakin bertambahkan ABS SLS
konsentrasi yang diberikan.
Pengamata terhadap aktivitas gerak, Gambar 3. Histogram Pengaruh Bahan
Toksisk ABS dan SLS terhadap
gejala klinis, buka tutup operkulum, mortalitas Survival Rate (SR) Benih Ikan
dan survival rate pada ikan merupakn salah nilem

satu cara melihat pengaruh bahan toksik Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa
terhadap ikan. Secara klinis hewan uji yang nilai survival rate (SR) menglami
terkontaminasi bahan toksik akan kecenderungan menurun seiring dengan
memperlihatkan gejala stess, ditandai gerakan meningkatnya konsentrasi perlakuan. Kontrol
yang kurang stabil, arah gerak yang pada perlakuan ABS memiliki nilai SR
mengindari media yang terkontaminasi sebanyak 100%, konsentrasi 25% (5 ppm)
(melompat keluar akuarium), berada didasar sebanyak 84%, konsentrasi 50%(10 ppm)
periaran, dan berkumpul didekat aerasi. sebanyak 73%, dan konsentrasi 75% (15 ppm)
Menurut Alabaster dan Lioyd (1980) dalam sebanyak 31%. Kemudian nilai Kontrol pada
Rudiyanti (2010) menjelaskan bahwa perlakuan SLS memiliki nilai SR sebanyak
penurunan pertumbuhan dalam media yang 100%, konsentrasi 25% sebanyak 72%,
terkontaminasi baan pencemar akan konsentrasi 50% sebanyak 70%, dan
disebabkan oleh 4 hal yaitu menurunnya nafsu konsentrasi 75% sebanyak 65%
makan, peningkatan aktivitas dalam Pengaruh bahan toksik terhadap ikan
menghindari media yang terkontaminasi, dapat terjadi secara langsung maupun tda
peningkatan energi untuk memperbaiaki sel langsung seperti gangguan sublethal yang dpat
tubuh yan rusak. Adanya perubahan tingkah menghambat pertumbuhan, dimana ikan akan
laku dan kematian pada ikan menunjukan memperlihatkan aksi fisiologi, kegagalan
bahwa bahan toksik yang diberikan pengaruh dalam perkembangan dan pengaruh lainnya
lethal maupun sublethal pada ikan. (Connel dan Miller 1995 dalam Rudiyanti
2010).
7

SIMPULAN Putri, N. 2010. Respon Organisme Akuatik


terhadap Variabel Lingkungan
Praktikan memahami cara uji oksisitas
sublethal. Kemudian mampu melaksanakan Prayoga, Norman A dkk. 2016. Uji Toksisitaa
Lethal dan Sublethal Logam Merkuri
persiapan dan pemaparan uji toksisitas (Hg) terhadap Ikan Nilem
sublethal selam 4 hari (96 jam) dengan (Oreochromis hasselti). Omni
Akuatika. Vol 12 (1): 86-94
berbagai bahan zat toksik terhadap benih ikan
Rudiyanti, Siti. 2010. Toksisitas Ekstrak Daun
nilem (Osteochilus hasselti) yaitu dengan
Tembakau (Nicotina tobacum)
persiapan awal ikan yang diaklimatisasi terhadap pertumbuhan Ikan Nila.
Jurnal Saintek perikanan vol 6 (1): 56-
terlebih dahulu selama 3 hari. Kemudian 10
61
ekor ikan dimasukan kedalam akuarium yang
Sugiharto, 1987. Dasar-dasar pengelolaan air
telah diisi dengan air sebanyak 10 liter, bahan limbah. Universitas Indonesia. Jakarta
uji toksik dimasukan kedalam akuarium yang
telah disiapkan. Selanjutnya pengamatan gerak
operkulum, aktifitas gerak, mortalitas dan
survival rate (SR) selama 4 hari dengan selang
waktu yang telah ditentukan.
Hasil analisis efek sublethal terhadap
benih ikan nilem ini adalah pemberian bahan
toksik ABS dan SLS dengan konsentrasi
sublethal memberikan pengaruh terhadap
fisiologis ikan.

DAFTAR PUSTAKA
Aini, N. 2013. Uji Toksisitas Deterjen Cair
Terhadap Kelangsungan Hidup Benih
Ikan Nila (Orheochromis niloticus).
Skripsi. Medan : Universitas Sumatera
Utara.
Cholik, F. dkk. 2005. Akuakultur. Masyarakat
Perikanan Nusantara. Taman
Akuarium Air Tawar. Jakarta.
Hubert, J.J. 1979. Bioassay. Kendall Hunt
Publishing Company, USA.

Megawati, Irma A. 2015. Uji Toksisitas


Detergen terhadap Ikan Nila
(Oreochromis niloticus) . FKIP. Umrah
8

LAMPIRAN
Lampiran 1. Bagan Alir Prosedur Kerja
1.1 Persiapan Uji Sub-Lethal
Ikan uji diaklimatisasi di dalam bak fiber selama 3 hari di laboratorium dengan
aerasi yang cukup.

Akurium dibersihkan dan dibilas dengan air bersih, lalu isi sebanyak 15 liter
(sebagai volume kerja) dengan air ledeng.

Alat aeasi (blower/aerator) beserta perlengkapannya seperti selang aerasi, batu


aerasi, pengatur bukaan udara dan penempel selang aerasi disetting pada posisi
yang sesuai.

Kabel blower/aerator disambungkan ke dalam sumber arus listrik dan diatur


volume aerasi sesuai dengan kebutuhan.

1.2 Pelaksanaan Uji Sub-Lethal

Dibuat konsentrasi stock dari bahan uji (ABS, SLS) masing-masing sebesar 5000
mg/L;

Ke dalam akuarium, dimasukkan masing-masing 10 ekor ikan uji (sesuai dengan


Kelas Ukuran Ikan) ditunggu beberapa saat hingga ikan uji terlihat sudah
teradaptasi dengan lingkungan akuarium.

Diambil secara acak 3 (tiga) ikan uji dari setiap akuarium untuk ditimbang bobot
awal masing-masing, dirata-ratakan, dan ditempatkan kembali ikan-ikan tersebut
ke dalam akuarium.

Ke dalam akuarium, ditambahkan bahan uji hingga konsentrasi akhir bahan uji di
dalam akuarium tersebut sebesar 25, 50 dan 75 ppm (Konsentrasi Sub-Lethal yang
ditetapkan) Tentukan berapa volume larutan stock yang harus diambil !
(dihitung dengan Rumus Pengenceran);

Diaduk perlahan hingga bahan uji larut sempurna dalam air akuarium.
9

1.3 Pengamatan Uji Sub-Lethal

Diamati ikan uji dilakukan pada satu jam pertama dilanjutkan dengan di amati
harian selama satu minggu.

Diberi pakan setiap hari sebanyak setengah sendok kecil dan disifon setiap hari
dengan mengganti air sebanyak yang dibuang dengan air media sesuai
konsentrasi yang ditetapkan.

Dibuat grafik gerak operculum per kelompok dan per kelas serta grafik Survival
Rate (SR) ikan uji.

Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan


Alat dan Bahan

DO meter pH Meter

Hand Counter Timbangan


10

Beaker Glass Pipet Tetes

Termometer Larutan ABS

Kegiatan yang dilakukan

Mengukur bahan toksik Memasukkan bahan toksik uji


11

Menimbang 3 ekor ikan uji Menghitung bukaan operkulum ikan

Mengukur DO air Mengukur PH air

Mengukur suhu air


12

Lampiran 3. Rekapitulasi Data Angkatan Sub Lethal


Tabel 1. Rekapitulasi Data Angkatan Uji Toksisitas Sub Lethal terhadap Ikan Nilem
Gejala Fisiologis DO
Bahan Gejala Suhu
Kelompok Konsentrasi GO Rata- AG Rata- SR pH (mg/
Toksik Klinis (C)
Rata Rata L)
1A Kontrol 126 ++ + 100% 26 7,81 4,03
2A 25% 158,5 ++ ++ 60% 24 7,44 2,88
ABS
3A 50% 125,05 + ++ 90% 24 7,56 2,30
4A 75% 100,5 ++ ++ 0% 26 7,65 3,74
5A Kontrol 108,5 ++ ++ 80% 27 7,79 32,3
6A 25% 101 +++ ++ 10% 25 7,68 3,82
SLS
7A 50% 160 ++ + 100% 25 8 3,85
8A 75% 167 ++ + 80% 25 8,7 3,95
9A Kontrol 147,4 ++ ++ 100% 25 7,98 5,62
10A 25% 125,2 ++ ++ 90% 25 8,01 5,42
ABS
11A 50% 176 ++ ++ 30% 21 7,53 3,13
12A 75% 132 ++ ++ 30% 25,5 8,18 4,18
13A 25% 273,9 ++ ++ 100% 26 7,89 5,10
14A SLS 50% 151,6 ++ ++ 90% 26 8,1 4,23
15A 75% 131,82 + ++ 80% 25 7,86 3,93
16A 25% 101 +++ ++ 100% 25 8,03 5,38
17A ABS 50% 85,5 +++ +++ 100% 25 8,2 4,85
18A 75% 139 ++ ++ 50% 26 7,68 3,76
19A 25% 166,3 +++ ++ 100% 25,5 8,13 4,36
20A SLS 50% 94 ++ ++ 90% 26 7,67 3,79
21A 75% 190 +++ +++ 100% 25 7,7 4,04
1B Kontrol 125 ++ ++ 100% 25 7,83 4,03
2B 25% 147 ++ ++ 100% 26 7,75 3,02
ABS
3B 50% 172 ++ ++ 100% `25 8,08 4,98
4B 75% 109,25 + + 40% 26 7,95 4,58
5B Kontrol 137,7 ++ ++ 100% 25 7,94 4,96
6B 25% 115 +++ + 100% 26 8,14 4,33
SLS
7B 50% 86 ++ ++ 100% 25 7,79 4,18
8B 75% 126,5 +++ + 80% 26 7,95 4,42
9B Kontrol 136 ++ ++ 100% 25,5 7,96 5,01
10B 25% 150 ++ + 100% 26 7,95 4,85
ABS
11B 50% 188,75 ++ ++ 100% 25 7,94 3,35
12B 75% 130 ++ ++ 90% 26 8,1 4,22
13B Kontrol 119 ++ ++ 100% 25 8,4 5,28
14B 25% 113,75 ++ ++ 90% 20 8 3,24
SLS
15B 50% 123 ++ ++ 50% 25 7,94 5,13
16B 75% 147 ++ ++ 80% 25 8,15 4,42
17B Kontrol 120 ++ ++ 80% 25 8,20 4,54
ABS
18B 25% 103,4 + ++ 30% 27 8,17 4,36
13

19B 50% 192,5 ++ ++ 10% 37,6 8,14 5,74


20B 75% 121 + ++ 10% 25,5 8,32 5,16
21B 25% 103 ++ ++ 80% 25 6,6 3,88
22B SLS 50% 130 ++ ++ 0% 25 8,32 5,01
23B 75% 84 + + 0% 24 6,83 3.62
1C Kontrol 155 ++ + 100% 25 7,77 3,77
2C 25% 168 ++ `++ 100% 24 7,89 3,77
ABS
3C 50% 163 ++ ++ 100% 25 7,97 4,75
4C 75% 170,5 ++ ++ 62,5% 24 8,03 4,88
5C Kontrol 202,5 ++ ++ 100% 24 7,81 4,81
6C 25% 178,2 ++ ++ 100% 26 8,06 4,87
SLS
7C 50% 193,75 ++ +++ 87,5% 25 8 4,57
8C 75% 145,33 ++ ++ 0% 25 8,3 3,95
9C Kontrol 106 ++ + 100% 26 7,64 3,77
10C 25% 207 ++ ++ 100% 25,5 8,21 5,55
ABS
11C 50% 99 ++ ++ 100% 26 8,09 3,37
12C 75% 78,5 ++ ++ 10% 25 4,90 4,81
13C Kontrol 96 +++ + 100% 25 8,05 4,78
14C 25% 109 ++ + 100% 25 4,93 7,82
SLS
15C 50% 124,92 ++ ++ 100% 25 8,16 5,03
16C 75% 115 ++ ++ 0% 26 7,95 4,42
1K Kontrol 146 ++ ++ 100% 26 7,62 3,26
2K 25% 77 ++ + 100% 25 8,11 5,56
ABS
3K 50% 231 ++ ++ 100% 25 7,72 3,87
4K 75% 158 + + 0% - - -
5K Kontrol 122 +++ +++ 100% 31 7,62 3,26
6K 25% 160 +++ +++ 100% 25 8,25 4,43
SLS
7K 50% 141 ++ +++ 32,5% 26 7,75 4,35
8K 75% 95 + ++ 100% - - -
9K Kontrol 136 ++ ++ 100% 37,8 7,77 4,12
10K 25% 70 ++ ++ 30% 25 7,77 4,65
ABS
11K 50% 119 ++ ++ 30% 25 7,83 4,55
12K 75% 179 ++ + 0% - - -
13K Kontrol 143 ++ + 100% 26 7,6 3,94
14K 25% 160 ++ + 0% 25 7,29 4,66
SLS
15K 50% 153 ++ ++ 90% 25 7,77 3,90
16K 75% 146 ++ ++ 100% 25 7,83 3,37