Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR NUTRISI IKAN

UJI FISIK PELET

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Teknologi Pemenihanan Ikan Semester Genap

Disusun oleh :

Anandita Rahmaria 230110140111


Helena Asut 230110140119
Rizki Ayu Ramadhanti 230110140121
Adi Prasetya 230110140135
Ayang Denika 230110140134
Hyunanda 230110140134

Kelas :
Perikanan B/Kelompok 8

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum mata kuliah
Nutrisi Ikan pada semester genap mengenai Uji Fisik Pelet.
Dalam menyelesaikan laporan akhir praktikum ini, penulis telah banyak
mendapatkan bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini
penyusun ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1 Ujang Subhan S.Pi., M.Si.,. selaku dosen mata kuliah Teknologi
Pembenihan Ikan yang telah memberikan ilmu pengetahuan Teknologi
Pengolahan Hasil Perikanan.
2 Asisten Laboratorium mata kuliah Teknologi Pembenihan Ikan atas arahan
dan bimbingan selama kegiatan praktikum
3 Anggota Kelompok 7 atas kerja samanya sehingga laporan ini dapat
terselesaikan.
Semoga segala masukkan dan dukungan dari semua pihak yang telah
diberikan kepada penyusun mendapat balasan dari Allah SWT. Harapan penyusun
semoga laporan ini dapat bermanfaaat bagi semua pihak.

Jatinangor, Juni 2017

Penulis

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

Nomor Judul
HalamanDAFTAR GAMBAR
Nomor Judul
HalamanDAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul
HalamanBAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pakan merupakan komponen utama dalam kegiatan budidaya perikanan
bahkan pakan merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan dalam pemeliharaan .
Kualitas pakan sangat menentukan produktifitas ikan, semakin baik kualitas pakan
maka produktifitasnya pus semakin tinggi. Pakan dalam bentuk ransum
merupakan pakan jadi yang siap diberikan pada ternak yang disusun dari berbagai
jenis bahan pakan yang sudah dihitung (dikalkulasi) sebelumnya berdasarkan
kebutuhan industri dan energi yang diperlukan.
Karakteristik atau sifat ransum sangat berpengaruh dalam menunjang
keberhasilan suatu usaha budidaya. Kebanyakan pembudidaya lebih memilih
menggunakan ransum buatan pabrik ketimbang memformulasi sendiri, hal ini
menyebabkan biaya produksi lebih besar. Padahal ketersediaan bahan baku lokal
cukup banyak dan mudah didapatkan. Akan tetapi kebanyakan bahan pakan
tersebut mempunyai perbedaan karakteristik atau sifat.Selain bentuk ransum,
penyimpanan juga turut andil dalam mendukung keberhasilan karena salah satu
fungsi penyimpanan adalah menjaga stabilitas ketersedian pakan yang cukup dan
aman untuk dikonsumsi ternak. Pakan yang sudah jadi (siap konsumsi) pada
umumnya telah mengalami perubahan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Bahan baku pakan yang menyusun pakan jadi harus diawasi kualitasnya
juga. Pengujian bahan baku pakan dapat berupa pengujian fisik dan pengujian
kimiawi. Salah satu uji yang digunakan untuk mengukur kualitas ransum ini
adalah uji sifat fisik, yaitu : berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan
tumpuan, dan sudut tumpukan. Sekurang-kurangnya keempat uji ini sangat
penting diketahui oleh para peternak, karena disamping bisa dijadikan indikator
penurunan kualitas ransum, turut juga mempengaruhi volume ruang penyimpanan
baik curah atau berwadah, penimbangan dan pengangkutan.

1.2 Tujuan
Praktikum ini dilaksanakan agar mahasiswa dapat melakuakan uji kualitas
pakan untuk mengetahui bagaimana ketahanan pakan tersebut terhadap tekanan
luar.

1.3 Manfaat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pakan Ikan
Dalam usaha budidaya ikan, pakan merupakan faktor penting yang ikut
mendukung keberhasilan produksi yang melimpah. Oleh karena itu, penyediaan
pakan yang bermutu merupakan hal penting dalam kegiatan budidaya ikan. Dalam
budidaya ikan, dikenal 2 macam pakan, yaitu pakan alami dan pakan buatan.
Pakan alami merupakan jenis pakan ikan yang berupa organisme air. Organisme
ini secara ekosistem merupakan produsen primer atau level makanan di bawah
ikan dalam rantai makanan. Pemanfaatan pakan alami ini tergantung pada
kebiasaan ikan dan ukuran tubuh dari pakan alami itu sendiri. Sedangkan, pakan
buatan merupakan pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan
kebutuhan ikan.
Pembuatan pakan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan nutrisi ikan,
kualitas bahan baku, dan nilai ekonomis pada proses pembuatan pakan itu sendiri.
Dengan pengolahan bahan baku yang baik, dapat menghasilkan pakan buatan
yang disukai ikan, tidak mudah hancur dalam air dan aman bagi ikan
(Dharmawan, 2007).

2.2 Pakan Buatan


Pakan buatan merupakan pakan yang dibuat untuk ikan budidaya dengan
memenuhi kebutuhan gizi ikan. Pakan buatan dibuat dari campuran bahan-bahan
alami dan atau bahan olahan. Selanjutnya dilakukan proses pengolahan serta
dibuat dalam bentuk tertentu sehingga tercipta daya tarik (merangsang) ikan untuk
memakannya dengan mudah dan lahap (Aggraeni dan Abdulgani, 2013). Sebelum
membuat pakan jumlah, nutrisi yang dibutuhkan ikan perlu diketahui terlebih
dahulu. Banyaknya zat-zat gizi yang dibutuhkan ikan tergantung pada spesies,
ukuran dan keadaan lingkungan hidup ikan tersebut. Nilai nutrisi (gizi) pakan
pada umumnya dilihat dari komposisi zat gizinya. Beberapa komponen nutrisi
yang penting dan harus tersedia dalam pakan antara lain protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral.
Protein merupakan senyawa organik kompleks, tersusun atas banyak asam
amino yang mengandung unsur C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen) dan N
(nitrogen) yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul protein
mengandung pula fosfor dan sulfur. Pemanfaatan protein bagi pertumbuhan ikan
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran, kualitas protein, kandungan
energi pakan, suhu air dan tingkat pemberian pakan. Kebutuhan protein masing-
masing jenis ikan berbeda-beda. Jumlah kebutuhan protein dipengaruhi berbagai
faktor antara lain, ukuran ikan, suhu air, jumlah pakan yang dimakan ikan,
ketersediaan serta kualitas alami dan kualitas protein. Tingkat protein optimum
dalam pakan untuk pertumbuhan ikan berkisar antara 25 - 50%. Beberapa jenis
ikan laut memerlukan protein lebih dari separuh pakannya dan ikan tersebut
bersifat karnivora. Protein pakan yang digunakan pada ikan laut berkisar antara 40
- 50%.
Lemak merupakan sumber energi paling tinggi dalam pakan. Lemak adalah
senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik.
Lemak berfungsi sebagai sumber energi yang paling besar di antara protein dan
karbohidrat. Lemak juga berfungsi membantu proses metabolisme, osmoregulasi
dan menjaga keseimbangan daya apung biota akuatik dalam air serta untuk
memelihara bentuk dan fungsi membran/jaringan (fosfolipida). Kelebihan dari
lemak adalah bisa menjadi sumber cadangan energi dalam jangka panjang selama
melakukan aktivitas atau selama periode tanpa makanan. Pakan yang baik
mengandung lemak antara 4 - 18%. Dalam pakan buatan, kadar lemak tidak boleh
berlebihan.
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang terdiri dari serat kasar dan
bahan bebas tanpa nitrogen (nitrogen free extract) atau dalam bahasa Indonesia
disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Karbohidrat dalam bentuk
sederhana umumnya lebih mudah larut dalam air daripada lemak atau protein. Di
dalam alat pencernaan ikan memerlukan enzim-enzim tertentu yang dapat
memecah disakarida dan polisakarida menjadi monosakarida yang mudah diserap
oleh ikan. Bahan-bahan pakan yang banyak mengandung karbohidrat adalah
jagung, beras, tepung terigu, dedak halus, tepung tapioka dan tepung sagu.
Beberapa bahan di atas juga dapat berperan sebagai bahan perekat (Binder) dalam
pembuatan pakan ikan.
Vitamin adalah zat organik yang diperlukan tubuh biota budidaya dalam
jumlah yang sedikit, tetapi sangat penting untuk mempertahankan pertumbuhan
dan pemeliharaan kondisi tubuh. Fungsi utama vitamin secara umum adalah
sebagai bagian dari enzim atau ko-enzim sehingga dapat mengatur berbagai
proses metabolisme, mempertahankan fungsi sebagai jaringan tubuh,
mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel-sel baru dan membantu dalam
pembuatan zat-zat tertentu dalam tubuh.
Mineral merupakan bahan anorganik yang dibutuhkan biota budidaya dalam
jumlah yang sedikit, tetapi mempunyai fungsi yang sangat penting. Fungsi utama
mineral adalah sebagai komponen utama dalam struktur gigi dan tulang
eksokeleton, menjaga keseimbangan asam-basa, menjaga keseimbangan tekanan
osmosis dengan lingkungan perairan, struktur dari jaringan dan penerus dalam
sistem saraf serta konstraksi otot fungsi metabolisme, komponen utama dari
enzim, vitamin, hormon, pigmen dan enzim aktivator. Menurut fungsinya mineral
dibagi menjadi 3 kelompok besar yaitu fungsi struktural, pernapasan dan
metabolisme umum (Ghufran, 2010).
.
2.333 Uji Durabilitas
Durabilitas yaitu jumlah pellet yang kembali dalam keadaan utuh setelah
diaduk dengan mekanik (pneumatic).

2.3 Pengujian Fisik


Pengujian fisik ini dilakukan dengan mengukur tingkat kehalusan bahan
penyusunnya, kekerasan dan daya tahan hasil cetakan didalam awira t(er
stability). Kehalusan bahan penyusun pelet dapat dilihat dengan mata. Cara
pengujian ini dilakukan dengan menggiling atau menghanckuarn contoh pelet
yang akan diuji. Alat penghancur yang digunakan dapat berupa gilingan daging
yang plat penutupnya di buka (tidak dipasang) kemudian hasil gilingan tersebut
diamati.
Berdasarkan ukuran butirannya, maka tingkat kehalusan pelet dapat
dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: sangat halus, halus, agak kasar, kasar,
sangat kasar, dan la-lianin. Makin halus bahan penyusun pelet, makin baik
kualitasnya. Pakan ikan yang dibuat sendiri tidak perlu dilakukan uji fisik karena
sejak bahan diseleksi sampai proses telah diketahui tingkat kehalusannya .
Pengujian tingkat kepadatan (kekerasan) dapat dilakukan dengan memberi
beban pada contoh pelet yang akan diuji. Pemberian beban ini dapat dilakukan
dengan pemberat yang bobotnya berbeda-beda. Pelet yang di uji dengan beban
pemberat paling ringan. Jika sampel tidak pecah, maka perlu diulang lagi dengan
pemberat yang bobotnya lebih besar. Demikian seterusnya, pengujian ini diula-
nuglang sampai pelet pecah saat ditindih dengan pemberat yang memiliki bobot
tertentu. Pelet yang baik umumnya tingkat kekerasan cukup tinggi. Biasanya
tingkat kekerasan berhubungan dengan tingkat kehalusan bahan penyusunnya.
Makin halus bahan penyusun pelet, makin tinggi tingkat kekerasannya.
Pengujian daya tahan (stabilit apse)let dilakukan dengan cara merendam
contoh pelet yang akan diuji selama beberapa waktu di dalam air. Tingkat daya
tahan pelet dalam air w(ater stability) diukur sejak pelet direndam sampai pecah.
Makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuyarkan peleta ladm proses
perendaman, berarti makin baik mutunya. Pelet ikan yang baik mempunyai daya
tahan dalam air minimal 10 menit. Sedangkan pelet pakan udang harus
mempunyai daya tahan lebih lama lagi, yaitu sekitar 3 06 0 menit .

2.5 Syarat Sifat Fisik dan Mekanik Pakan Ikan (Pelet)


Dalam pembuatan pakan (pelet) ada beberapa syarat sifat fisik dan mekanik
yang harus diketahui. Menurut Khater, et.al., (2014), untuk mendapatkan sifat
fisik dan mekanik pelet ikan yang diinginkan harus memiliki kandungan protein
dan ukuran pelet sesuai dengan jenis dan umur ikan. Sifat fisik merupakan sifat
dasar yang dimiliki oleh suatu bahan yang dapat dijadikan salah satu kriteria
untuk menetapkan mutu dan keefisienan proses produksi.
Sifat mekanik merupakan sifat yang digunakan untuk menentukan
ketahanan bahan terhadap gangguan yang terjadi saat proses pengemasaan atau
saat pengangkutan. Menurut Khater, et.al., (2014) beberapa syarat yang
diperlukan oleh pakan buatan (pelet) adalah diameter aktual/asli, rasio ekspansi,
luas permukaan, volume, berat, bulk density, daya tahan, daya apung, kadar air,
stabilitas air, sudut istirahat dan crushing load. Hal-hal yang dapat dijelaskan
tentang syarat sifat fisik dan mekanik pada pakan
adalah berikut:
1. Diameter aktual/asli yang dibutuhkan untuk ukuran pada pakan (pelet). Ukuran
pakan menyesuaikan jenis ikan, diantaranya adalah ukuran bukaan mulut ikan
(Dharmawan, 2007).
2. Rasio ekspansi digunakan untuk mengetahui karakter fisik pengembangan
pakan yang menunjukkan rasio antara diameter pelet dengan diameter die
(penampang lubang) keluarnya pelet pada mesin (Krisnan dan Ginting,
2009).
3. Berat digunakan untuk menentukan massa pada sebuah benda. Apabila berat
pada pelet tinggi akan berpengaruh terhadap ukuran pelet dan rasio protein yang
tergantung pada pelet.
4. Bulk density menunjukkan perbandingan antara berat bahan kering dengan
volume bahan termasuk volume pori-pori bahan tersebut dan biasanya
dinyatakan dalam g/cm3.
5. Stabilitas pakan dalam air adalah tingkat ketahanan pakan di dalam air atau
berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga pakan lembek dan hancur. Stabilitas
pakan dalam air, meliputi daya tahan dan daya apung pada pakan.
6. Angle of repose yang merupakan sudut minimum dimana materi besar atau
longgar menumpuk tanpa jatuh (berdiri). Sudut minimum atau maksimum
kemiringan pada pelet akan dipertahankan oleh gravitasi dan efek gesekan antara
partikel pelet.
7. Crushing load merupakan proses untuk mengetahui daya tahan pada pakan saat
diberikan beban. Tujuan dari proses ini ialah mengetahui apakah pakan yang
diproses sudah memiliki standar untuk menjadi konsumsi bagi ikan.
Sifat fisik pakan penting diketahui karena berkaitan dengan proses
pengolahan, penanganan, penyimpanan dan perancangan alat-alat yang dapat
membantu proses produksi pakan, membantu industri pengolahan hasil pertanian
serta berperan dalam menerapkan teknologi pengolahan lanjutan agar dapat
digunakan secara optimal sebagai pakan ikan. Sifat fisik yang perlu diperhatikan
dalam bahan pakan antara lain berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan
pemadatan tumpukan dan sudut tumpukan, karena sifat-sifat tersebut sangat
terkait dengan proses penanganan dan pengolahan bahan pakan (Yatno, 2011).
BAB III
METODELOGI
1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum uji fisik pelet ikan dilaksanakan pada hari Jumat, 26
Mei 20017 pukul 08.00-selesai. Tempat dilakukan uji fisik pelet ini dilakukan di
laboratorium Akuakultur Fakultas perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran, Jawa Barat.

2 Alat dan Bahan


Berikut adalah alat dan bahan yang menunjang pelaksanaan praktikum uji
fisik pelet pada uji durabiltas yaitu:
1. Timbangan, berfungsi sebagai alat untuk menimpang pakan yang akan
diuji
2. Alat Pemutar, berfungsi sebagai alat pemutar pakan
3. Saringan, berfungsi untuk menyaring pakan
4. Pelet Uji 50 gram, berfungsi sebagai bahan yang akan digunakan
sebagai pelet uji yang akan diuji sifat durabilitasnya

3 Prosedur
Tahapah-tahapan yang dilakaukan dalam uji fisik pelet melalui uji
durabilitas adalah sebagai berikut ini yaitu:
1. Ditimbang pakan yang akan diuji (50 gram)
2. Pakan tersebut lalu ditempatkan pada alat pemutar (alat ini akan
berputar dan memberikan benturan pada pakan).
3. Diputar alat tersebut selama 10 menit dengan kecepatan 50 rpm
4. Dipindakan sampel pakan tersebuit dan diayak
5. Dihitung presentase pelet yang masih utuh
6. Dihitung nila nilai ketahanan pelet terhadap tekanan luar dengan cara
membandingkan berat pelet sebelum disimpan dialat pemutar dengan
pelet yang masih utuh setelah pemutaranBAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Uji durabilitas yang dilakuan pada pakan uji 50 gram sebelum diputar pada
alat pemutar pakan adalah sebagi berikut yaitu:
Berat Pellet sebelum diputar : 50 garam
Berat Pelet setalh diputar : 47,02 gram

Berat Pellet setelah diputar


Durabilitas= x 100
Berat Pelet sebelum diputar

47, 02 gram
x 100
50 gram
94

Jadi, hasil dari uji fisik pelet pada uji durabilitas adalah bahwa pakan yang
diuji memiliki ketahan terhadap tekananan mencapai 94 %

4.2 Pembahasan
Durabilitas pellet adalah ketahanan partikel pellet yang dirumuskan sebagai
persentase dari banyaknya pakan pellet utuh setelah melalui perlakuan fisik dalam
alat uji tumbling cane terhadap jumlah pakan semula sebelum dimasukkan ke
dalam alat. Pellet yang baik mempunyai durabilitas di atas 90 % atau kandungan
tepung di bawah 10 %. Nilai durabilitas pellet sangat ditentukan oleh penggunaan
bahan baku dalam formulasi pakan dan teknis operasional pellet mill.
Untuk memperoleh durabilitas tinggi digunakan bahan baku yang
mempunyai pelletabilitas tinggi, sebagai contoh jagung bernilai sedang, katul
bernilai rendah, dan wheat pollard bernilai tinggi. Apabila perhitungan formulasi
least cost tidak memungkinkan maka biasa ditambahkan binder (perekat sintetis)
untuk meningkatkan durabilitas.
Dari hasil diperoleh disebutkan bahwa uji durability pada pellet yang diuji a
adalah 94 %. Hal ini disimpulkan bahwa pellet yang dihasilkan memiliki kualitas
yang baik dibuktikan bahwa hasil uji durability yang cukup jelas yaitu 94 %.
Didukung oleh pendapat Widiyanti dkk. (2004) yang menyebutkan bahwa pellet
yang baik mempunyai durabilitas yang tinggi terutama pada kondisi
penyimpanan. Pellet yang baik mempunyai durabilitas di atas 90% atau
kandungan tepung di bawah 10%. Kualitas pakan yang diuji sudah memenuhi
standar. Hal ini sudah sesuai dengan standar spesifikasi durability indeks yang
digunakan yakni minimum 80% (DOZIER, 2001).
Daya tahan pellet dipengaruhi oleh komposisi kimiawi bahan yaitu lemak,
pati, protein, serta serat (Ginting, 2009). Pellet Durability Index juga dapat
dipengaruhi oleh ukuran partikel pellet. Makin kecil ukuran pellet maka semakin
menunjang kekerasan dan ketahanan pellet yang dihasilkan, karena semakin
banyak pati yang diubah oleh uap panas menjadi perekat maka dapat membantu
proses perekatan partikel-partikel dalam bahan baku.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 SaranDAFTAR PUSTAKA
DOZIER, W.A. 2001. Pelet quality for most economical poultry meat. J. Feed Int.
52: 40-42.

Jurnal Perikanan Kelautan Vol. VII No. 2/Desember 2016 (140-149) Rheki
Wulansari*)Yuli Andriani**) Kiki Haetami**) PENGGUNAAN JENIS
BINDER TERHADAP KUALITAS FISIK PAKAN UDANG