Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PASIEN

KETERANGAN UMUM PENDERITA

Nama : Tn. E
Umur : 48 tahun
Jenis Kelamin : Laki - laki
Alamat : Kp. Pasucen RT01/RW02, Cianjur
Pekerjaan : Satpam
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Tanggal Pemeriksaan : 19 Maret 2015

ANAMNESIS

Autoanamnesis : Pasien

Keluhan Utama

Timbul gelembung berisi cairan yang terasa nyeri pada daerah dada dan
punggung belakang bagian kiri.

Riwayat Penyakit Sekarang :

Sejak 3 hari sebelum datang ke poli kulit RSUD Cianjur pasien mengeluhkan
munculnya gelembung-gelembung di punggung bagian dada dan punggung belakang
kiri disertai rasa panas, perih pada daerah sekitar gelembung dan tidak bisa tidur saat
malam hari.
Pasien mengatakan satu minggu sebelum terlihat gelembung di badannya pasien
mengeluh sakit dengan suhu badan yang meningkat dari batas normal, tetapi tidak ada
bintik bintik merah pada badannya.

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya

Sebelumnya pasien pernah menderita cacar air

1
Riwayat Penyakit Keluarga

Anggota keluarga yang tinggal serumah tidak ada yang menderita keluhan seperti ini.

Riwayat Pengobatan

Pasien pernah berobat sebelumnya dan mendapatkan pengobatan berupa obat minum
dan salep. Karena pasien merasakan tidak ada perubahan pada badannya,pasien
memutuskan berobat kembali ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Cianjur walaupun
obat yang sebelumnya belum habis.

Riwayat Alergi

Alergi terhadap makan-makanan laut, obat, debu dan cuaca disangkal.

Riwayat Psikososial

Pasien tinggal bersama anak dan istri, sehari hari pasien bekerja sebagai satpam. Pasien
jarang mengkonsumsi buah dan sayur. Konsumsi rokok 1 bungkus sehari. Konsumsi
alkohol.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : tampak sakit ringan


Kesadaran : composmentis
Tekanan darah Tidak dilakukan

Nadi 80 x/menit

Respirasi 20 x/menit

Suhu 37C

STATUS GENERALIS

Kepala
Rambut : Alopecia (-)
Mata : Conjunctiva tak anemis, sklera tak ikterik
Hidung : Sekret (-)
Mulut : Hiperemis (-),
Gigi : Tidak ada bolong
THT : Tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

2
Leher
KGB : tidak teraba membesar, massa (-)
Kulit : Dalam batas normal
Thoraks
Bentuk dan gerak simetris
sonor, wheezing (-), rhonchi (-)
BJ murni reguler, murmur (-)
Kulit : Lihat status dermatologis
Abdomen
Datar, Bising Usus (+)
Kulit : Dalam batas normal
Ekstremitas
Deformitas (-), udem (-)
Kulit: Dalam batas normal

STATUS DERMATOLOGIKUS

Distribusi Regional

A/R Dada dan punggung belakang bagian kiri setinggi thorakalis 6.

Lesi Tampak lesi multiple, unilateral, bentuk herpetiformis, dengan diameter


terkecil 0.5 cm, diameter terbesar 2 cm, berbatas tegas, lesi menimbul,
kering.

Efluroesensi Dasar eritema disertai vesikel, pustul, bula dan krusta medikamentosa.

3
RESUME

Seorang laki-laki usia 48 tahun , datang ke poli klinik kulit dan kelamin RSUD
Cianjur dengan keluhan timbul vesikel, papul dan bula disertai dasar eritema disertai
rasa panas dan perih pada daerah dada dan punggung belakang bagian kiri sejak 3 hari
SMRS. 1 minggu sebelum terlihat vesikel, papul dan bula, pasien mengeluh sakit
dengan suhu badan yang meningkat dari batas normal.

Keluhan ini hanya dirasakan oleh penderita di dalam keluarganya. Pasien pernah
menderita varisella sebelumnya. Pasien sudah berobat sebelumnya dan mendapatkan

4
pengobatan berupa obat minum dan salep, namun belum membaik.. Alergi makanan,
debu dan alergi obat di sangkal. Pasien tinggal bersama anak dan istri, sehari hari pasien
bekerja sebagai satpam. Pasien jarang mengkonsumsi buah dan sayur. Konsumsi rokok
1 bungkus sehari.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalisata dalam normal kecuali terdapat
kelainan kulit pada kulit dada dan punggung belakang bagian kiri.
STATUS DERMATOLOGIKUS
Distribusi : Regional

At Regio : Dada dan punggung belakang bagian kiri setinggi thorakalis 6

Lesi : Tampak lesi multiple, unilateral, bentuk herpetiformis, dengan diameter


terkecil 0.5 cm, diameter terbesar 2 cm, berbatas tegas, lesi menimbul, kering.

Efloresensi : Dasar eritema disertai vesikel, pustul, bula dan krusta medikamentosa

DIAGNOSIS BANDING

Herpes Zoster Setinggi Thorakalis 6 Sinistra


Herpes Simpleks

DIAGNOSIS KERJA

Herpes Zoster Setinggi Thorakalis 6 Sinistra

Usulan Pemeriksaan :
Tes Sel Tzank

PENATALAKSANAAN

Umum:

Edukasi pasien untuk menghindari menggaruk tempat luka.


Edukasi pasien agar tetap bersih dan kering agar tidak terjadi infeksi sekunder.
Periksa atau kontrol kembali jika ada atau tidak ada perbaikan.

Khusus:

Acyclovir 400mg 5 x 2
Asam mefenamat 500 mg 3 x 1

5
PROGNOSIS

Quo ad vitam : Ad Bonam


Quo ad Functionam : Ad Bonam
Quo ad sanatinam : Dubia ad bonam

6
ANALISA KASUS

Diagnosis kerja : Herpes Zoster

Pasien ini seorang bapak berusia 48 tahun, datang dengan keluhan terdapat
gelembung berisi air pada dada dan pungung belakang kiri 3 hari SMRS disertai keluhan
lain yaitu rasa panas seluruh tubuh,perih dan mengalami gangguan tidur. Gelembung
tidak beberapa lama semakin meluas ke darah lain dan semakin banyak.
Di lihat dari keluhan bapak tersebut di sertai keluhan yang lainnya dan dari pemeriksaan
fisik yang dilakukan, bapak ini mengalami penyakit yang di namakan Herpes Zoster
dengan dasar teori yang ada yaitu Gejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa
sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena. Gejala ini terjadi beberapa hari
menjelang timbulnya erupsi. Gejala konstitusi, seperti sakit kepala,malaise, dan demam,
terjadi pada 5% penderita dan timbul 1-2 hari sebelum terjadi erupsi.Gambaran yang
paling khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata dan unilateral. Seminggu
sampai sepuluh harikemudian, lesi mengering menjadi krusta. Krusta ini dapat menetap
menjadi 2-3 minggu. Keluhan yang berat biasanya terjadi pada penderita usia tua. Rasa
sakit segmental pada penderita lanjut usia dapat menetap,walaupun krustanya sudah
menghilang. Diagnosis herpes zoster pada anamnesis didapatkan keluhan berupa
neuralgia beberapa hari sebelum atau bersama-sama dengan timbulnya kelainan kulit.
Adakalanya sebelum timbul kelainan kulit didahului gejala prodromal seperti demam,
pusing dan malaise. Kelainan kulit tersebut mula-mula berupa eritema kemudian
berkembang menjadi papula dan vesikula yang dengan cepat membesar dan menyatu
sehingga terbentuk bula. Isi vesikel mula-mula jernih, setelah beberapa hari menjadi
keruh dan dapat pula bercampur darah.

Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela zoster (VVZ) dan tergolong
virus berinti DNA, virusini berukuran 140-200 nm, yang termasuk subfamili alfa herpes
viridae.

7
Secara laboratorium, pemeriksaan sediaan apus tes Tzanck membantu
menegakkan diagnosis dengan menemukan sel datia berinti banyak. Demikian pula
pemeriksaan cairan vesikula atau material biopsidengan mikroskop elektron, serta tes
serologic. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan sebukan sel limfosit yang
mencolok, nekrosis sel dan serabut saraf, proliferasi endotel pembuluh darah
kecil,hemoragi fokal dan inflamasi bungkus ganglion. Partikel virus dapat dilihat dengan
mikroskop electron dan antigen virus herpes zoster dapat dilihat secara
imunofluoresensi.
Apabila gejala klinis sangat jelas tidaklah sulit untuk menegakkan diagnosis.
Akan tetapi pada keadaanyang meragukan diperlukan pemeriksaan penunjang antara
lain: 1.Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan mikroskop
electron 2.Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen. 3.Tes serologi dengan
mengukur imunoglobulin spesifik.-

Diagnosis Banding Herpes simpleks


Varisela
Gejala klinis berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah
menjadi vesikel.
Bentuk vesikel ini seperti tetesan embun (tear drops). Vesikel akan berubah
menjadi pustul dan kemudian menjadi krusta. Lesi menyebar secara sentrifugal dari
badan ke muka dan ekstremitas.

Penatalaksanaan Herpes Zoster bertujuan untuk:


1.Mengatasi infeksi virus akut
2.Mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster
3.Mencegah timbulnya neuralgia pasca herpetik.

Pengobatan Umum
Selama fase akut, pasien dianjurkan tidak keluar rumah, karena dapat menularkan
kepada orang lain yang belum pernah terinfeksi varisela dan orang dengan defisiensi

8
imun.Usahakan agar vesikel tidak pecah, misalnya jangan digaruk dan pakai baju
yang longgar. Untukmencegah infeksi sekunder jaga kebersihan badan.

Pengobatan Khusus

I. Sistemik
1. Obat Antivirus
Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya, misalnya
valasiklovir dan famsiklovir.Asiklovir bekerja sebagai inhibitor DNA polimerase pada
virus. Asiklovir dapat diberikan peroral ataupunintravena. Asiklovir Sebaiknya pada 3
hari pertama sejak lesi muncul. Dosis asiklovir peroral yangdianjurkan adalah 5800
mg/hari selama 7 hari, sedangkan melalui intravena biasanya hanya digunakanpada
pasien yang imunokompromise atau penderita yang tidak bisa minum obat. Obat lain
yang dapatdigunakan sebagai terapi herpes zoster adalah valasiklovir. Valasiklovir
diberikan 31000 mg/hari selama7 hari, karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Selain
itu famsiklovir juga dapat dipakai. Famsiklovir jugabekerja sebagai inhibitor DNA
polimerase. Famsiklovir diberikan 3200 mg/hari selama 7 hari.

2. Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgia yang ditimbulkan oleh virus
herpes zoster. Obat yangbiasa digunakan adalah asam mefenamat. Dosis asam
mefenamat adalah 1500 mg/hari diberikansebanyak 3 kali, atau dapat juga dipakai
seperlunya ketika nyeri muncul.

3. Kortikosteroid
Indikasi pemberian kortikostreroid ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt.
Pemberian harus sedini mungkin untuk mencegah terjadinya paralisis. Yang biasa
diberikan ialah prednison dengan dosis 320 mg/hari,setelah seminggu dosis diturunkan
secara bertahap. Dengan dosis prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga
lebih baik digabung dengan obat antivirus.

9
II. Pengobatan topikal
Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium vesikel
diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak
terjadi infeksi sekunder. Bila erosif diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi
dapat diberikan salap antibiotik.

Prognosis

Terhadap penyakitnya pada dewasa dan anak-anak umumnya baik, tetapi usia
tua risiko terjadinyakomplikasi semakin tinggi, dan secara kosmetika dapat
menimbulkan makula hiperpigmentasi atausikatrik. Dengan memperhatikan higiene &
perawatan yang teliti akan memberikan prognosis yang baik& jaringan parut yang
timbul akan menjadi sedikit.

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Herpes zooster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela-
zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktivitas virus yang
terjadi setelah infeksi primer.9

2.2. ETIOLOGI

Virus varisela zoster (VZV) tergolong virus berinti DNA, virus ini berukuran
140-200 nm, yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. Berdasarkan sifat biologisnya
seperti siklus replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten
diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa, beta dan gamma. VZV dalam subfamili
alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang
menimbulkan lesi vaskuler. Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi oleh virus herpes
alfa biasanya menetap dalam bentuk laten didalam neuron dari ganglion. Virus yang
laten ini pada saatnya akan menimbulkan kekambuhan secara periodik. Secara in vitro
virus herpes alfa mempunyai jajaran penjamu yang relatif luas dengan siklus
pertumbuhan yang pendek serta mempunyai enzim yang penting untuk replikasi
meliputi virus spesifik DNA polimerase dan virus spesifik deoxypiridine (thymidine)
kinase yang disintesis di dalam sel yang terinfeksi.7

2.3 PATOGENESIS

Infeksi primer dari VZV ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Disini
virus mengadakan replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan
yang sifatnya terbatas dan asimptomatik. Keadaan ini diikuti masuknya virus ke dalam
Reticulo Endothelial System (RES) yang kemudian mengadakan replikasi kedua yang
sifat viremia nya lebih luas dan simptomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan
mukosa. Sebagian virus juga menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau lebih
ganglion sensoris dan berdiam diri atau laten didalam neuron. Virus berdiam diri di
ganglion posterior saraf tepi dan ganglion kranialis. Selama antibodi yang beredar

11
didalam darah masih tinggi, reaktivasi dari virus yang laten ini dapat dinetralisir, tetapi
pada saat tertentu dimana antibodi tersebut turun dibawah titik kritis maka terjadilah
reaktivasi dari virus sehingga terjadi herpes zoster.6,8,9

Herpes Zoster Ophtalmicus (HZO) terjadi sekitar 10-15% dari kasus Zoster.
HZO terjadi karena virus menginvasi ganglion Gasserian. Untuk alasan yang belum
jelas, keterlibatan cabang ophtalmicus (N. V1) 5 kali lebih sering daripada keterlibatan
dari cabang maksilaris (N. V2) atau cabang mandibularis (N. V3).10

2.4 GEJALA KLINIS

Gejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa sakit dan parestesi pada
dermatom yang terkena. Gejala ini terjadi beberapa hari menjelang timbulnya erupsi.
Gejala konstitusi, seperti sakit kepala, malaise, dan demam, terjadi pada 5% penderita
(terutama pada anak-anak) dan timbul 1-2 hari sebelum terjadi erupsi. Gambaran yang
paling khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata dan unilateral. Jarang
erupsi tersebut melewati garis tengah tubuh. Umumnya lesi terbatas pada daerah kulit
yang dipersarafi oleh salah satu ganglion saraf sensorik. Erupsi mulai dengan eritema
makulopapular. Dua belas hingga dua puluh empat jam kemudian terbentuk vesikula
yang dapat berubah menjadi pustula pada hari ketiga. Seminggu sampai sepuluh hari
kemudian, lesi mengering menjadi krusta. Krusta ini dapat menetap menjadi 2-3
minggu. Keluhan yang berat biasanya terjadi pada penderita usia tua. Pada anak-anak
hanya timbul keluhan ringan dan erupsi cepat menyembuh. Rasa sakit segmental pada
penderita lanjut usia dapat menetap, walaupun krustanya sudah menghilang. Frekuensi
herpes zoster menurut dermatom yang terbanyak pada dermatom torakal (55%), kranial
(20%), lumbal (15%), dan sakral (5%).6,11 Kelainan pada wajah diakibatkan oleh
gangguan nervus trigeminus (dengan ganglion gaseri) yang salah satu gejalanya adalah
herpes zoster ophtalmicus atau nervus fasialis dan otikus (dari ganglion genikulatum)
yang disebut Ramsay Hunt Sindrom.

Pada Herpes zoster oftalmikus ditandai erupsi herpetic unilateral pada kulit.
Gejala prodromal seperti lesu, demam ringan, mual muntah dapat timbul. Gejala
prodromal berlangsung 1 sampai 4 hari sebelum kelainan kulit timbul. Tanda iritasi
meningeal seperti kaku kuduk juga dapat timbul. Selain itu timbul juga gejala fotofobia,
banyak keluar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka karena perjalanan
cabang dari nervus ophtalmicus yang member cabang ke nervus Arnold rekuren dan N
III dan N VI.7

Menurut lokasi lesinya, herpes zoster dibagi menjadi:

12
1. Herpes zoster oftalmikus

Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai
bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf
trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah disertai gejala
konstitusi seperti lesu, demam ringan. Gejala prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari
sebelum kelainan kulit timbul. Fotofobia, banyak kelar air mata, kelopak mata bengkak
dan sukar dibuka.

Gambar 1. Herpes zoster oftalmikus sinistra.

2. Herpes zoster fasialis

Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai
bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis (N.VII), ditandai erupsi
herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 2. Herpes zoster fasialis dekstra.

3. Herpes zoster brakialis

13
Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai
pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 3. Herpes zoster brakialis sinistra.

4. Herpes zoster torakalis

Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai
pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 4. Herpes zoster torakalis sinistra.

5. Herpes zoster lumbalis

Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai
pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

14
6. Herpes zoster sakralis

Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai
pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 5. Herpes zoster sakralis dekstra.

2.5 DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Diagnosis herpes zoster pada anamnesis didapatkan keluhan berupa neuralgia


beberapa hari sebelum atau bersama-sama dengan timbulnya kelainan kulit. Adakalanya
sebelum timbul kelainan kulit didahului gejala prodromal seperti demam, pusing dan
malaise. Kelainan kulit tersebut mula-mula berupa eritema kemudian berkembang
menjadi papula dan vesikula yang dengan cepat membesar dan menyatu sehingga
terbentuk bula. Isi vesikel mula-mula jernih, setelah beberapa hari menjadi keruh dan
dapat pula bercampur darah. Jika absorbsi terjadi, vesikel dan bula dapat menjadi krusta.
Dalam stadium pra erupsi, penyakit ini sering dirancukan dengan penyebab rasa nyeri
lainnya, misalnya pleuritis, infark miokard, kolesistitis, apendisitis, kolik renal, dan
sebagainya. Namun bila erupsi sudah terlihat, diagnosis mudah ditegakkan.
Karakteristik dari erupsi kulit pada herpes zoster terdiri atas vesikel-vesikel
berkelompok, dengan dasar eritematosa, unilateral, dan mengenai satu dermatom.7,9,10

Secara laboratorium, pemeriksaan sediaan apus tes Tzanck membantu


menegakkan diagnosis dengan menemukan sel datia berinti banyak. Demikian pula
pemeriksaan cairan vesikula atau material biopsi dengan mikroskop elektron, serta tes
serologik. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan sebukan sel limfosit yang

15
mencolok, nekrosis sel dan serabut saraf, proliferasi endotel pembuluh darah kecil,
hemoragi fokal dan inflamasi bungkus ganglion. Partikel virus dapat dilihat dengan
mikroskop elektron dan antigen virus herpes zoster dapat dilihat secara
imunofluoresensi. Apabila gejala klinis sangat jelas tidaklah sulit untuk menegakkan
diagnosis. Akan tetapi pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksaan
penunjang antara lain:
1. Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan
mikroskop elektron
2. Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen
3. Tes serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik.11

2.6 DIAGNOSIS BANDING

Herpes simpleks
Herpes simpleks ditandai dengan erupsi berupa vesikel yang bergerombol, di atas
dasar kulit yang kemerahan. Sebelum timbul vesikel, biasanya didahului oleh rasa gatal
atau seperti terbakar yang terlokalisasi, dan kemerahan pada daerah kulit. Herpes
simpleks terdiri atas 2, yaitu tipe 1 dan 2. Lesi yang disebabkan herpes simpleks tipe 1
biasanya ditemukan pada bibir, rongga mulut, tenggorokan, dan jari tangan. Lokalisasi
penyakit yang disebabkan oleh herpes simpleks tipe 2 umumnya adalah di bawah pusat,
terutama di sekitar alat genitalia eksterna.

Varisela
Gejala klinis berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah
menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini seperti tetesan embun (tear drops). Vesikel akan
berubah menjadi pustul dan kemudian menjadi krusta. Lesi menyebar secara sentrifugal
dari badan ke muka dan ekstremitas.

Impetigo vesiko-bulosa
Terdapat lesi berupa vesikel dan bula yang mudah pecah dan menjadi krusta. Tempat
predileksi di ketiak, dada, punggung dan sering bersamaan dengan miliaria. Penyakit ini
lebih sering dijumpai pada anak-anak.

2.7 PENATALAKSANAAN

Penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk:

16
1. Mengatasi infeksi virus akut
2. Mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster
3. Mencegah timbulnya neuralgia pasca herpetik.6

Pengobatan Umum
Selama fase akut, pasien dianjurkan tidak keluar rumah, karena dapat
menularkan kepada orang lain yang belum pernah terinfeksi varisela dan orang dengan
defisiensi imun. Usahakan agar vesikel tidak pecah, misalnya jangan digaruk dan pakai
baju yang longgar. Untuk mencegah infeksi sekunder jaga kebersihan badan.8

Pengobatan Khusus

1. Obat Antivirus
Obat yang biasa digunakan ialah asiklovir dan modifikasinya, misalnya valasiklovir
dan famsiklovir. Asiklovir bekerja sebagai inhibitor DNA polimerase pada virus.
Asiklovir dapat diberikan peroral ataupun intravena. Asiklovir Sebaiknya pada 3 hari
pertama sejak lesi muncul. Dosis asiklovir peroral yang dianjurkan adalah 5800
mg/hari selama 7 hari,sedangkan melalui intravena biasanya hanya digunakan pada
pasien yang imunokompromise atau penderita yang tidak bisa minum obat. Obat lain
yang dapat
digunakan sebagai terapi herpes zoster adalah valasiklovir. Valasiklovir diberikan
31000 mg/hari selama 7 hari, karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Selain itu
famsiklovir juga dapat dipakai. Famsiklovir juga bekerja sebagai inhibitor DNA
polimerase. Famsiklovir diberikan 3200 mg/hari selama 7 hari.12,13

2. Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi neuralgia yang ditimbulkan oleh virus herpes
zoster. Obat yang biasa digunakan adalah asam mefenamat. Dosis asam mefenamat
adalah 1500 mg/hari diberikan sebanyak 3 kali, atau dapat juga dipakai seperlunya
ketika nyeri muncul.12,13

3. Kortikosteroid
Indikasi pemberian kortikostreroid ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt. Pemberian
harus sedini mungkin untuk mencegah terjadinya paralisis. Yang biasa diberikan ialah
prednison dengan dosis 320 mg/hari, setelah seminggu dosis diturunkan secara
bertahap. Dengan dosis prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih
baik digabung dengan obat antivirus.6

Pengobatan topikal

17
Pengobatan topikal bergantung pada stadiumnya. Jika masih stadium vesikel
diberikan bedak dengan tujuan protektif untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak
terjadi infeksi sekunder. Bila erosif diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi
dapat diberikan salap antibiotik.6

Pada HZO dibutuhkan pengobatan yang agresif dan monitoring karena


kemungkinan keterlibatan infeksi mata. Keterlibatan infeksi pada mata terjadi pada
setengah dari herpes zoster ophtalmicus. Secara sederhana, keterlibatan mata ditandai
dengan adanya vesikel pada ujung hibung karena keterlibatan cabang nasociliar (hukum
Hutchinson).10

2.8 KOMPLIKASI

Neuralgia paska herpetik


Neuralgia paska herpetik (PHN) adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan.Neuralgia ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan sampai beberapa
tahun. Keadaan ini cenderung timbul pada umur diatas 40 tahun, persentasenya 10-15 %
dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Semakin tua umur penderita maka semakin tinggi
persentasenya. Pada HZO, kejadian PHN lebih sering daripada manifestasi zoster yang
lain

Infeksi sekunder
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi.
Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas, infeksi H.I.V., keganasan, atau
berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel sering manjadi ulkus dengan jaringan
nekrotik.

Kelainan pada mata


Keterlibatan mata dapat mengancam penglihatan jika tidak terdeteksi dan diterapi
dengan tepat. Adanya edem orbita adalah emergensi ophtalmologi dan pasien harus
dirujuk ke spesialis mata. Iritis, iridocyclitis, glaucoma, dan ulkus kornea dapat terjadi
pada kasus ini. Keterlibatan hanya di daerah dibawah fisura palpebra inferior tanpa
disertai keterlibatan dari kelopak atas dan nasal menunjukkan tidak adanya komplikasi
pada mata karena daerah kelopak bawah diinervasi oleh nervus maksillaris superior.

Sindrom Ramsay Hunt


Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena gangguan pada nervus fasialis dan otikus
ganglion genikulatum), sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell),
kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo, gangguan
pendengaran, nistagmus, nausea, dan gangguan pengecapan.

18
Paralisis motorik
Paralisis motorik dapat terjadi pada 1-5% kasus, yang terjadi akibat perjalanan virus
secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. Paralisis
ini biasanya muncul dalam 2 minggu sejak munculnya lesi. Berbagai paralisis dapat
terjadi seperti: di wajah, diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan anus.
Umumnya akan sembuh spontan.

2.9 PROGNOSIS

Terhadap penyakitnya pada dewasa dan anak-anak umumnya baik, tetapi usia tua
risiko terjadinya komplikasi semakin tinggi, dan secara kosmetika dapat menimbulkan
makula hiperpigmentasi atau sikatrik. Dengan memperhatikan higiene & perawatan
yang teliti akan memberikan prognosis yang baik & jaringan parut yang timbul akan
menjadi sedikit.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Melton CD. Herpes Zoster. eMedicine World Medical Library:


http://www.emedicine.com/EMERG/topic823.htm
2. Stawiski MA. Infeksi Kulit. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC, 1995; 1291.
3. Siregar RS. Penyakit Virus. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi Ke-2.
Jakarta: ECG, 2005 ; 84-7.
4. Hartadi, Sumaryo S. Infeksi Virus. Ilmu Penyakit Kulit.
Jakarta:Hipokrates,2000;92-4.
5. Achdannasich. Herpes Zoster Bilateral Asimetris-Pada Anak. Perkembangan
Penyakit Kulit dan Kelamin Indonesia Menjelang Abad 21. Perdoski. Surabaya:
Airlangga University Press, 1999 ; 212-4.
6. Indrarini, Soepardiman L. Penatalaksaan Infeksi Virus Varisela-Zoster pada Bayi
dan Anak. Media Dermato-Venereologica Indonesiana. Volume 27. Jakarta:
Perdoski, 2000; 65s-71s.
7. Niode NJ, Suling PL. Insiden Herpes Zoster Pada Anak di Poliklinik Kulit dan
Kelamin RSUP Manado. Perkembangan Penyakit Kulit dan Kelamin di
Indonesia Menjelang Abad 21. Perdoski. Surabaya: Airlangga University Press,
1999 ; 215.
8. Stankus SJ, Dlugopolski M, Packer D. Management of Herpes Zoster and Post
Herpetic Neuralgia. eMedicine World Medical Library:
http://www.emedicine.com/info_herpes_zoster.htm.
9. Naros WE. Tinjauan Retrospektif Penyakit Herpes Zoster Pada Penderita Yang
Dirawat Di Bagian Kulit Dan Kelamin RSUP DR. M. Djamil Padang Periode
1993-1997. Skripsi. Padang: 1999; 5-9.
10. Martodihardjo S. Penanganan Herpes Zoster dan Herpes Progenitalis. Ilmu
Penyakit kulit dan Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press, 2001.
11. Andrews. Viral Diseases. Diseases of the Skin. Clinical Dermatology. 9th
Edition. Philadelphia: WB Saunders Company, 2000; 486-491.
12. Wilmana PF. Antivirus dan Interferon. Farmakologi dan Terapi. Edisi Ke-4.
Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1995;
617.
13. Daili ES, Menaldi SL, Wisnu IM. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia.
Jakarta: Medical Multimedia, 2005; 68-9.
14. Moon JE. Herpes Zoster. eMedicine World Medical Library:
http://www.emedicine.com/med/topic1007.htm.

20
15. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Penyakit Virus. Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi Ke-3. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. 2000, 128-
9.
16. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, Editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
5. Cetakan 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2007.
17. Siregar R. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Cetakan 1. Jakarta:
EGC, 2005
18. Wolff K, Johnson RA, Suurmond D. Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of
Clinical Dermatology. 5th Ed. New York: McGraw-Hill, 2007.
19. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA. Et al. Fitzpatricks Dermatology
in General Medicine. 7th Ed. New York: McGraw-Hill, 2008

21