Anda di halaman 1dari 17

BAB I

STATUS PASIEN

IDENTITAS

Nama : Nn. N

Umur : 14 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Pelajar

Agama : Islam

Alamat : Kp. Cibalingbing RT 02/RW09 Kec.Cilaku, Cianjur

Status : Belum Menikah

Pendidikan : SMP

Tanggal Periksa : 17 Maret 2015

ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS, Tgl 17 Maret 2015)

Keluhan utama:

Bercak kemarahan yang terasa gatal di punggung kaki kanan dan kiri

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasein mengeluh timbul bercak kemerahan yang terasa gatal dan nyeri di punggung
kaki kanan dan kiri sejak 1 minggu yang lalu. Kulit yang terasa kering. Pasien mengatakan
keluhan awal berupa bentol berisi cairan yang tersa gatal, karena gatal pasien mengaku
sering menggaruknya. 4 hari SMRS pasien mengaku mulai timbul bercak kemerahan yang
semakin meluas membentuk lingkaran dan basah. Pasien mengaku keluhan seperti ini sering
hilang timbul.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien mulai mengalami keluhan gatal dengan bercak kemerahan sejak 2 bulan
terakhir dan hilang timbul . Riwayat penyakit DM, HT, asma, atau penyakit kronis
lain disangkal. Riwayat alergi obat atau makanan tertentu seperti telur atau daging
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga pasien dalam satu rumah yang mengalami keluhan serupa.
Riwayat DM, HT, Asma disangkal

Riwayat Alergi :

Pasien tidak ada alergi terhadap apapun baik makanan, debu maupun obat-obatan.

Riwayat Pengobatan :

Pasien sudah berobat ke klinik dan diberi obat minum untuk mengurangi gatal dan
salep. Pasien juga membeli salep 88 dipakai 3 x sehari selama 4 hari terakhir untuk
keluhan gatal yang semakin berat akan tetapi keluhan tidak berkurang.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Composmentis

Tanda vital

Nadi : 88x/menit

Suhu : 36,2 C

Pernapasan : 20x/menit
Status Generalis:

Kepala Rambut: alopecia (-)


Mata: conjunctiva tak anemis, sklera tak ikterik
Hidung: sekret (-)
Mulut: hiperemis (-), mukosa buccal basah,
erosi (-)
Gigi: karies (-), mikrolesi (-)
THT: tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak
hiperemis
Leher KGB: tidak teraba membesar, massa (-)
Thoraks Bentuk dan gerak simetris
VBS ka=ki, sonor, wheezing (-), rhonchi (-)
BJ murni reguler, murmur (-)
Abdomen Cembung , BU (+)
Kulit : dalam batas normal
Ekstremitas Deformitas (-), udem (-), RCT < 2 dtk
Kulit: lihat status dermatologikus

Status Dermatologikus:

Distribusi Reginal, unilateral

A/R Punggung kaki kanan dan kiri

Karakteristik Multiple, discrete, berbentuk bulat, dengan diameter


terkecil 0.5-1 cm, diameter terbesar 3x3 cm, berbatas tegas,
sebagian menimbul sebagian tidak menimbul, basah

Efluroesensi Makula eritem, plakat, papul,krusta.


Gbr. Lesi Pada Pasien:

RESUME

Seorang perempuan usia 14 tahun datang ke poliklinik kulit RSUD Cianjur dengan
keluhan bercak kemerahan yang terasa gatal di punggung kaki kanan sejak 1 minggu
yang lalu. Dan kulit yang terasa kering. Pasien mengatakan keluhan awal berupa
bentol berisi cairan yang terasa gatal, karena gatal pasien mengaku sering
menggaruknya.4 hari SMRS. Pasien mengaku mulai timbul bercak kemerahan yang
semakin meluas membentuk lingkaran dan basah. Pasien mengaku keluhan seperti ini
sering hilang timbul. Riwayat alergi disangkal. Riwayat pengobatan pasien mengaku
telah diobati dengan salep 88 yang dibeli sendiri, dipakai 3 x sehari selama 4 hari
terakhir tapi tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status generalis
dalam batas normal. Status dermatologikus: distribusi regional unilateral, A/R :
punggung kaki kanan dan kiri, Lesi: Multiple, discrete, berbentuk bulat ukuran
diameter terkecil 0,5-1 cm dan diameter terbesar 3x3cm, berbatas tegas, sebagian
timbul dipermukaan kulit sebagian tidak, basah.

DIAGNOSIS BANDING

1. Dermatitis Numularis
2. Dermatitis Kontak Iritan
3. Dermatitis Atopik
4. Neurodermatitis
5. Dermatofitosis
DIAGNOSIS KERJA

Dermatitis Numularis

Usulan Pemeriksaan

Kerokan Kulit dengan KOH

Patch test

Konsul kebagaian lain untuk mencari infeksi

PENATALAKSANAAN

Umum:

Menerangkan bahwa penyakit ini hilang timbul

Hindari faktor pencetus

Khusus:

Topikal :

Emollients (pelembab)
triamcinolone 0,025-0,1%. (Steroid)

Sistemik :

hydroxyzine dengan dosis oral 25-100 mg 4 kali per hari

PROGNOSIS

Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad functionam : ad bonam


Quo ad sanationam : dubia ad malam

ANALISA KASUS

Pada kasus, pada anamnesis didapatkan keluhan berupa bercak kemerahan berbentuk
bulat di punggung kaki, keluhan cenderung hilang timbul. Gambaran efloresensi
sesuai dengan gambaran dermatitis numularis dan faktor predisposis yang diduga
berpengaruh pada kasus ini yaitu kondisi kulit yang kering dikarenakan faktor cuaca.

DD yang diambil :

1. Dermatofitosis

2. Dermaritis kontak Iritan

3. Dermatitis Atopi

Pada usul pemeriksaan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan KOH untuk


menyingkirkan diagnosis dermatofitosis dan pemeriksaan Patch test untuk dermatitis
Kontak alergi.

Pada pengobatan pasien diberikan pengobatan topikal Emollients (pelembab) untuk


kulit yang kering, triamcinolone 0,025-0,1% untuk peradangan kulitnya dan
antihistamin untuk keluhan gatal hydroxyzine dengan dosis oral 25-100 mg 4 kali per
hari.

Gambar

Dermatitis atopik
Dermatitis kontak iritan

Dermatofitosis
TINJAUAN PUSTAKA

DERMATITIS NUMULAR

I PENDAHULUAN

Dermatitis adalah peradangan pada kulit yang merupakan respon terhadap


pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa
efloresensi yang polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan
keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya
beberapa (oligomorfk). Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis. Nama lain
dari dermatitis nummular adalah ekzem diskoid, ekzem numular, nummular
eczematous dermatitis. Terdapat beberapa klasifikasi dermatitis berdasarkan lokasi
kelainan, penyebab, usia, faktor konstitusi.

Dermatitis numular merupakan suatu peradangan dengan lesi yang menetap,


dengan keluhan gatal, yang ditandai dengan lesi berbentuk uang logam, sirkular atau
lesi oval berbatas tegas, umumnya ditemukan pada daerah tangan dan kaki. Lesi awal
berupa papul disertai vesikel yang biasanya mudah pecah.

II EPIDEMIOLOGI

Dermatitis numular angka kejadiannya pada usia dewasa lebih sering pada laki-
laki dibandingkan wanita, onsetnya pada usia antara 55 dan 65 tahun. Penyakit ini
jarang pada anak-anak, jarang muncul dibawah usia 1 tahun, hanya sekitar 7 dari 466
anak yang menderita dermatitis numular dan frekuensinya cenderung meningkat sesuai
dengan peningkatan umur.

III ETIOLOGI

Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui. Namun demikian banyak faktor
predisposisi, baik predisposisi primer maupun sebagai predisposisi sekunder telah
diketahui sebagai agen etiologi. Staphylococci dan micrococci diketahui sebagai
penyebab langsung melalui mekanisme hipersensitivitas. Namun demikian, perannya
secara patologis belum juga diketahui. Dalam beberapa kasus, adanya tekanan
emosional, trauma lokal seperti gigitan serangga dan kontak dengan bahan kimia
mungkin dapat mempengaruhi timbulnya dermatitis numular, tetapi bukan merupakan
penyebab utama. Penyakit ini umumnya cenderung meningkat pada musim dingin, juga
dihubungkan dengan kondisi kulit yang kering dan frekuensi mandi yang sering dalam
sehari akan memperburuk kondisi penyakit ini.

IV PATOFISIOLOGI

Dermatitis numular merupakan suatu kondisi yang terbatas pada epidermis dan
dermis saja. Hanya sedikit diketahui patofisiologi dari penyakit ini, tetapi sering
bersamaan dengan kondisi kulit yang kering. Adanya fissura pada permukaan kulit
yang kering dan gatal dapat menyebabkan masuknya alergen dan mempengaruhi
terjadinya peradangan pada kulit. Suatu penelitian menunjukkan dermatitis numularis
meningkat pada pasien dengan usia yang lebih tua terutama yang sangat sensitif dengan
bahan-bahan pencetus alergi. Barrier pada kulit yang lemah pada kasus ini
menyebabkan peningkatan untuk terjadinya dermatitis kontak alergi oleh bahan-bahan
yang mengandung metal. Karena pada dermatitis numular terdapat sensasi gatal, telah
dilakukan penelitian mengenai peran mast cell pada proses penyakit ini dan ditemukan
adanya peningkatan jumlah mast cell pada area lesi dibandingkan area yang tidak
mengalami lesi pada pasien yang menderita dermatitis numularis. Suatu penelitian juga
mengidentifikasi adanya peran neurogenik yang menyebabkan inflamasi pada
dermatitis numular dan dermatitis atopik dengan mencari hubungan antara mast cell
dengan saraf sensoris dan mengidentifikasi distribusi neuropeptida pada epidermis dan
dermis dari pasien dengan dermatitis numular. Peneliti mengemukakan hipotesa bahwa
pelepasan histamin dan mediator inflamasi lainnya dari mast cell yang kemudian
berinteraksi dengan neural C-fibers dapat menimbulkan gatal. Para peneliti juga
mengemukakan bahwa kontak dermal antara mast cell dan saraf, meningkat pada
daerah lesi maupun non lesi pada penderita dermatitis numular. Substansi P dan
kalsitonin terikat rantai peptide meningkat pada daerah lesi dibandingkan pada non lesi
pada penderita dermatitis numular. Neuropeptida ini dapat menstimulasi pelepasan
sitokin lain sehingga memicu timbulnya inflamasi. Penelitian lain telah menunjukkan
bahwa adanya mast cell pada dermis dari pasien dermatitis numular menurunkan
aktivitas enzim chymase, mengakibatkan menurunnya kemampuan menguraikan
neuropeptida dan protein. Disregulasi ini dapat menyebabkan menurunnya kemampuan
enzim untuk menekan proses inflamasi.
V GEJALA KLINIS

Gejala gejala yang umum, antara lain:


o Timbul rasa gatal
o Luka kulit yang antara lain makula, papul, vesikel, atau tambalan :
Bentuk numular (seperti koin).
Terutama pada tangan dan kaki.
Umumnya menyebar.
Lembab dengan permukaan yang keras.
o Kulit bersisik atau ekskoriasi.
o Kulit yang kemerahan atau inflamasi

* Gambar 1 : Merah, Lesi dermatitis numularis pada paha kanan.

** Gambar 2 : Lesi yang khas berbentuk koin dari dermatitis numularis pada badan
dan tangan dari penderita.

Gambaran diatas dapat disimpulkan ada 3 bentuk klinis dermatitis numular yaitu;

1 Dermatitis numular pada tangan dan lengan.


Kelainannya terdapat pada punggung tangan serta di bagian sisi atau
punggung jari-jari tangan. Sering dijumpai sebagai plak tunggal yang terjadi pada sisi
reaksi luka bakar, kimia atau iritan. Lesi ini jarang meluas.

2 Dermatitis numular pada tungkai dan badan.


Bentuk ini merupakan bentuk yang lebih sering dijumpai. Pada sebagian kasus,
kelainan sering didahului oleh trauma lokal ataupun gigitan serangga. Umumnya
kelainan bersifat akut, persisten dan eksudatif. Dalam perkembangannya, kelainan
dapat sangat edematous dan berkrusta, cepat meluas disertai papul-papul dan vesikel
yang tersebar. Pada Dermatitis numular juga sering dijumpai penyembuhan pada bagian
tengah lesi, tetapi secara klinis berbeda dari bentuk lesi tinea. Pada kelainan ini bagian
tepi lebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas. Lesi permulaan biasanya timbul
di tungkai bawah kemudian menyebar ke kaki yang lain, lengan dan sering ke badan.

3 Dermatitis numular bentuk kering.


Bentuk ini jarang dijumpai dan berbeda dari dermatitis numular umumnya karena di
sini dijumpai lesi diskoid berskuama ringan dan multipel pada tungkai atas dan bawah
serta beberapa papul dan vesikel kecil di bagian tepinya di atas dasar eritematus pada
telapak tangan dan telapak kaki. Gatal minimal yang berbeda sekali dengan bentuk
dermatitis numular lainnya. Menetap bertahun-tahun dengan fluktuasi atau remisi yang
sulit diobati.

VI PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan laboratorium, tidak ada penemuan yang spesifik pada dermatitis
numularis. Untuk membedakannya dengan penyakit lain, seperti dermatitis karena kontak
diperlukan patch test dan prick test untuk mengidentifikasikan bahan kontak. Pemeriksaan
KOH untuk membedakan tinea dengan dermatitis numular yang mempunyai gambaran
penyembuhan di tengah. Jika pada kondisi tertentu dimana gambaran klinisnya yang sangat
mirip dengan penyakit lain maka sangat sulit untuk menentukan diagnosisnya (contohnya
pada tinea, psoriasis) untuk membedakannya dapat dilakukan biopsi.

VII DIAGNOSIS
Dermatitis numular dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis dan gejala klinis. Untuk
membedakannya dengan neurodermatitis dilihat dari tingkat gatal dan terjadinya likenifikasi
akan membedakannya dari neurodermatitis. Dimana distribusi neurodermatitis lesi biasanya
pada kedua lutut, kedua siku dan kulit kepala. Dan untuk membedakannya dengan psoriasis
dapat dilihat, lesinya kering, skuamanya lebih tebal dan iritasinya lebih ringan. Sedangkan
pemeriksaan patch test dan prick test akan membantu mengidentifikasikan penderita dengan
dermatitis kontak.

VIII DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari penyakit ini antara lain :


1 Liken simpleks kronikus (neurodermatitis).
Biasanya jarang, lesinya kering berupa plak yang likenifikasi dengan distribusi
tertentu.

*Gambar 3 : Bentuk lesi dari neurodermatitis pada daerah tengkuk leher,


pergelangan tangan dan punggung kaki

2 Dermatitis kontak alergi.

Morfologi klinis primer antara dermatitis kontak dan dermatitis numular sering
sulit untuk dibedakan. Pada dermatitis kontak biasanya lokal, dan ditemukan
riwayat kontak sebelumnya. Untuk membedakan dapat dilakukan pemeriksaan
patch test atau prick test.
* Gambar 4 : Bentuk lesi dari dermatitis kontak alergi yang lesinya muncul
akibat penggunaan plester dan reaksi sinar matahari.
3 Pitiriasis rosea

Merupakan peradangan yang ringan dengan penyebab yang belum diketahui.


Banyak diderita oleh wanita yang berusia antara 15 dan 40 tahun terutama pada
musim semi dan musim gugur. Gambaran klinisnya bisa menyerupai dermatitis
numular. Tetapi umumnya terdapat sebuah lesi yang besar yang mendahului
terjadinya lesi yang lain. Lesi tambahan cenderung mengikuti garis kulit dengan
distribusi pohon cemara dan biasanya disertai dengan rasa gatal yang ringan.
Lesi-lesi tunggal berwarna merah muda terang dengan skuama halus. Bisa juga
lebih eritematus. Pitiriasis rosea berakhir antara 3-8 minggu dengan
penyembuhan spontan.

*Gambar 6 : Bentuk lesi pada pitiriasis rosea dengan lesi awalnya lebih besar dan
mengikuti garis kulit yang berbentuk seperti pohon cemara.

4 Dermatitis atopik
Umumnya pada pasien dengan lesi pada tangan. Patch test dan prick test dapat
membantu jika terdapat riwayat dermatitis atopik.

**Gambar 7 : Bentuk lesi dermatitis atopik persisten pada daerah telapak tangan
dan daerah dada.
IX PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaanya difokuskan pada gejala yang mendasari.


1 Melindungi kulit dari trauma.
Karena pada jenis ini biasanya berawal dari trauma kulit minor. Jika ada trauma
pada tangan, gunakan sarung tangan supaya tidak teriritasi.
2 Emollients.
Emollients merupakan pelembab. Digunakan untuk mengurangi kekeringan pada
kulit. Contoh emollients yang sering digunakan antara lain ; aqueous cream,
gliserine dan cetomacrogol cream, wool fat lotions.
3 Steroid topikal.
Untuk menghilangkan peradangan pada kulit dan mengurangi iritasi kulit. Misalnya
dengan pemberian triamcinolone 0,025-0,1%.
4 Antibiotik oral maupun topikal.
Untuk mencegah infeksi sekunder. Digunakan dicloxacillin dosis oral 125-500 mg 4
kali per hari selama 7-10 hari. Kadang-kadang dermatitis numular dapat sembuh
total, hanya timbul lagi jika pengobatan tidak diteruskan.
5 Antihistamin oral.
Mengurangi gatal dan sangat berguna pada malam hari. Tidak menghilangkan
dermatitis. Misalnya hydroxyzine (atarax, vistaril,vistazine) dengan dosis oral 25-
100 mg 4 kali per hari.
6 Fototerapi.
Ultraviolet light treatment beberapa kali dalam seminggu biasanya dapat
membantu. Dapat mengontrol dermatitis dalam beberapa bulan, namun pada kasus
yang berat sangat diperlukan. Fototerapi dengan ultraviolet B mungkin efektif.
7 Steroid sistemik.
Digunakan untuk kasus-kasus dermatitis numular yang berat, diberikan prednison
dengan dosis oral 40-60 mg 4 kali per hari dengan dosis yang diturunkan secara
perlahan-lahan. Hanya berguna dalam beberapa minggu, dermatitis yang belum
sembuh sempurna, dapat ditangani dengan pemberian krim steroid dan emolilients.

X PROGNOSIS
Pasien perlu untuk diberitahukan tentang perkembangan atau perjalanan penyakit
dari dermatitis numular yang cenderung sering berulang. Mencegah atau menghindari
dari faktor-faktor yang memperburuk atau meningkatkan frekuensi untuk cenderung
berulang dengan menggunakan pelembab pada kulit akan sangat membantu mencegah
penyakit ini.

XI KESIMPULAN
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons
terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan
klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama,
likenifikasi) dan keluhan gatal. Bentuk dermatitis ini sering mengenai remaja, dewasa
muda dan umur yang lebih tua serta jarang pada anak-anak dengan riwayat dermatitis
atopi. Penyebabnya tidak diketahui. Bentuk-bentuk infeksi lainnya pada dermatitis,
seperti adanya kolonisasi Staphylococcus aureus, yang mana dapat memperberat
kondisi penyakitnya walau tidak tampak pada gejala klinis. Pada satu studi
menunjukkan dermatitis numularis meningkat pada pasien dengan usia yang lebih tua,
terutama yang sangat sensitif dengan aloealergi. Umumnya prognosis dari penyakit ini
adalah baik dan dapat sembuh dengan pengobatan topikal.
DAFTAR PUSTAKA

1 Djuanda S, Sularsito SA. Dermatitis. In : Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors.


Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 3rd ed. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2002. p. 126-38

2 Burton JL. Eczema, lichenification, prurigo and erythoderma: Discoid eczema. In:
Champion RH, Burton JL, Ebling FJ, editors. Textbook of Dermatology. 5th ed.
London. Blackwell Scientific; 1992. p. 555-7

3 Nummular dermatitis [Online]. 2006 June 12 [cited 2007 March 14];[4 screens].
Available from:
URL:http://www.skincarephysicians.com/eczemanet/nummulardermatitis.html

4 Dermatitis nummular [Online]. 2004 [cited 2007 March 14];[2 screens]. Available
from: URL:http://www.medicastore.com/infopenyakit/dermatitis_nummular.html

5 Soter NA. nummular eczema and lichen simplex chronicus/prurigo nodularis. In:
Fitzpatrick, editor. Dermatology. p. 1194-6

6 Miller J. Nummular dermatitis [Online]. 2007 March 09 [cited 2007 March 14];[12
screens]. Available from: URL:http://www.emedicine.com/nummulardermatitis.html.

7 Clark RA, Hopkins TT. The other eczemas. In: Moschella FI, Hurley HJ, editors.
Dermatology. In General medicine. 3rd ed. Philadelphia. WB Saunders Company ;
1992. p. 482-4

8 Fritsch PO, Reider N. Other eczematous eruptions. In: Bolognia JL, Lorizzo JL,
Rapim RP, editors. Dermatology. 1st vol. London. Mosby; 2003. p. 222-4

9 Nummular eczema [Online]. 2007 March 09 [cited 2007 March 14];[2 screens].
Available from:
URL:http://www.aocd.org/skin/dermatologic_diseases/nummular_eczema.html