Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK

Disusun oleh:
Kelompok 5

1. Alvian Maulana (H0915006)


2. Danang Anwar (H0915017)
3. Diah Ayu S. N. (H0915021)
4. Fransisca Dwi J. (H0915026)
5. Gesit Rendra (H0915027)
6. Khairun Nisa (H0915040)
7. Mustika Sari (H0915053)

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
ACARA VI
KROMATOGRAFI KERTAS

A. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Acara VI Kromatografi Kertas adalah sebagai
berikut :
1. Mengetahui prinsip dan mekanisme kromatografi kertas
2. Menentukan komponen warna dari berbagai macam bahan dengan
kromatografi kertas
3. Menentukan nilai Rf (kecepatan gerak zona relatif terhadap batas
pengembang)

B. Tinjauan Pustaka
Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan tanaman dari famili
zingiberaceae yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai rempah dan
obat-obatan. Komposisi utama penyusun kunyit adalah minyak atsiri,
turmerol, sineol, zingiberin, borneol, karvon dan kurkumin. Kurkumin
yang merupakan pigmen alami berwarna kuning dapat diisolasi dari kunyit,
bersifat mudah terdegradasi oleh faktor pH dan pelarut organik, serta relatif
stabil jika berada dalam tubuh manusia. Kurkumin memiliki potensi sebagai
antiinflammasi antitumor, penghambat karsinogen-DNA dan antioksidan.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi
radikal bebas. Senyawa tersebut sangat berbahaya karena dapat merusak
jaringan tubuh sehingga menimbulkan penyakit degeneratif seperti kanker,
jantung dan katarak (Natalina dkk., 2009).
Pewarna kimia didefinisikan sebagai bahan kimia aktif karena itu
memerlukan perhatian yang lebih besar daripada aditif lunak (bland) seperti
emulsifier. Pewarna pangan alami diekstraksi dan diisolasi dari tanaman dan
hewan yang berbeda yang tidak memberikan efek yang membahayakan
sehingga mereka dapat digunakan dalam beberapa pangan dalam jumlah
tertentu. Pewarna ini memiliki kestabilan yang rendah, kurang cerah dan tidak
merata, namun sangat murah. Namun, pewarna sintetik dan produk
metabolitnya jika dikonsumsi dalam jumlah besar memungkinkan toksik dan
menyebabkan kanker, deformasi dan lain-lain (Sumarlin, 2010).
Pemakaian zat warna yang berasal dari tanaman dan hewan ini telah
banyak dilakukan oleh para pengrajin tenun ikat, namun yang paling banyak
digunakan adalah yang berasal dari daun tanaman yang diperoleh dari hutan.
Pemanfaatan pewarna alami dalam pembuatan kain tenun ikat ini lebih
digemari daripada pewarna sintetik karena dapat memberikan keistimewaan
tersendiri. Selain itu, penggunaan pewarna alami dapat memberikan beberapa
keuntungan, karena tidak toksik terhadap kulit, lebih murah dan tahan lama
(Ati dkk., 2006).
Menurut Moulana (2012), etanol 96% merupakan pelarut yang baik.
Etanol bersifat polar dan memiliki konstanta dielektrikum 24,3 sedangkan
kloroform bersifat semi polar dan memiliki konstanta dielektrikum 4,81
(Hayati dan Nur, 2010). Kloroform memiliki titik didih 61,7oC, indeks
polaritas 4,4 dan tegangan permukaan pada 20oC adalah 27,1 dyne/cm
(Buchari, 2003).
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan
perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Istilah
kromatografi berasal dari gabungan kata chroma (warna) dan graphein
(menuliskan). Prinsip pemisahan kromatografi yaitu adanya distribusi
komponen-komponen dalam fase diam dan fase gerak berdasarkan perbedaan
sifat fisik komponen yang akan dipisahkan. Pada dasarnya semua cara
kromatografi menggunakan dua fase yaitu fase diam (stationer) dan fase
bergerak (mobile). Persyaratan umum kromatografi adalah: (1) Ada fase diam
dan fase gerak. Fase diam tidak boleh bereaksi dengan fase gerak. (2)
Komponen sampel (contoh) harus larut dalam fase gerak dan berinteraksi
dengan fase tetap (diam). (3) Fase gerak harus bisa mengalir melewati fase
diam, sedangkan fase diam harus terkuat di posisinya. Kromatografi dibagi
menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fase gerak, fase diam dan
mekanisme pemisahannya, seperti yang ditunjukkan pada tabel.
Tabel 6.1 Klasifikasi Kromatografi
Kriteria Jenis Kromatografi
Fase gerak Kromatografi cair, gas, partisi, adsorbs
Mekanisme Kromatografi pertukaran ion
Fase diam Kromatografi kolom, lapis tipis, kertas
Sumber : Indo Journal of Chemistry 6 (3) : 325-331.
Berikut ini adalah beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan
untuk analisa di laboratorium: (1) Kromatografi partisi, ekstraksi terjadi
berulang kali dalam satu proses. Contoh khas adalah kromatografi kolom
yang digunakan luas karena sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik.
(2) Kromatografi kertas, diterapkan untuk analisis asam amino. Asam amino
memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam air dan
tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi). (3) Kromatografi gas,
campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Metode ini sangat
baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti
hidrokarbon dan ester. (5) HPLC (High Performance Liquid
Chromatography), ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk
mengirim fase gerak ke dalam kolom. Dengan memberikan tekanan tinggi,
laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan dengan besar. Kromatografi
penukar ion telah berhasil digunakan untuk analisis kation, anion, dan ion
organik (Ardianingsih, 2009).
Kromatografi adalah istilah kolektif untuk satu set teknik laboratorium
untuk pemisahan campuran. Campuran dilarutkan dalam cairan yang disebut
"fase gerak", yang membawanya melalui struktur holding bahan lain yang
disebut "fase diam". Berbagai konstituen dari perjalanan campuran pada
kecepatan yang berbeda, menyebabkan mereka untuk memisahkan.
Pemisahan ini didasarkan pada partisi yang berbeda antara fase mobile dan
stasioner. Perbedaan yang halus dalam menghasilkan koefisien partisi
senyawa dalam retensi diferensial pada fase stationer dan dengan demikian
mengubah pemisahan. Kromatografi mungkin preparatif atau analitis. Tujuan
dari kromatografi preparatif adalah untuk memisahkan komponen dari
campuran untuk digunakan lebih lanjut (demikian merupakan bentuk
pemurnian). Kromatografi analitis dilakukan secara normal dengan jumlah
yang lebih kecil dari bahan dan untuk mengukur proporsi relatif analit dalam
campuran. Keduanya tidak saling eksklusif. Integritas kimia komponen
sampel sensitif dapat pertahankan bahka dengan penggunaan aktif adsorben
silika gel (Kulkarni et al., 2011).
Pada kromatografi lapis tipis atau Thin Layer Chromatography
(TLC), fase diam mempunyai peranan penting pada analisis, baik kuantitaif
maupun kualitatif. Keseragaman dan ukuran partikel adsorben sangat
menentukan keberulangan data analisis kuantitatif. Karakteristik kromatografi
ditentukan terutama oleh parameter fisika. Oleh sebab itu, lempeng TLC
dengan ukuran partikel kecil dan keseragaman ukuran partikel baik,
diperlukan untuk mendapatkan hasil analisis yang baik. Ada dua macam TLC
yang beredar di pasaran, yaitu TLC konvensional dan HPTLC (Wulandari,
2007).
Menurut Kumar et al,. (2013), faktor yang mempengaruhi nilai Rf
antara lain adalah sistem solvent, adsorben, tebal adsorben, Jumlah material
terlihat. Karena faktor-faktor ini sulit untuk tetap konstan dari percobaan
untuk bereksperimen, nilai relatif Rf umumnya dianggap Relatif Rf. Semakin
besar sebuah Rf suatu senyawa, semakin besar jarak perjalanan itu pada pelat
TLC. Ketika membandingkan dua senyawa yang berbeda jalurpada
kromatografi yang sama, senyawa dengan Rf yang lebih besar berarti kurang
polar karena berinteraksi kurang kuat dengan adsorben polar pada pelat TLC.
Sebaliknya, senyawa dengan polaritas yang rendah akan memiliki nilai Rf
lebih besar dari senyawa polar. Rf dapat memberikan bukti-bukti yang nyata
mengenai identitas suatu senyawa. Jika dua zat memiliki nilai Rf yang sama,
mungkin senyawa yang sama. Jika mereka memiliki nilai Rf yang berbeda,
senyawa itu pasti berbeda.
Nilai Kromatografi cair merupakan metode kromatografi dimana zat
cair yang menjadi fase geraknya sedangkan kromatografi gas merupakan
metode pemisahan campuran menjadi komponen-komponennya di antara fase
gerak dan fase diam dimana fase gerak berupa gas yang stabil serta fase diam
bisa zat padat (GSC = Gas Solid Cromatography) atau zat cair (GLC = Gas
Liquid Cromatography) yang sukar menguap. Cuplikan yang dipisahkan
dengan metode ini harus mudah menguap. Metode ini sangat cepat
bekerjanya, dalam waktu beberapa detik dapat memisahkan secara sempurna
(Hendayana dkk, 1995).
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah teknik kromatografi yang
digunakan untuk memisahkan campuran. Kromatografi lapis tipis dilakukan
pada selembar kaca, plastik, atau aluminium foil yang dilapisi dengan lapisan
tipis bahan adsorben, biasanya gel silika, aluminiumoksida, atau selulosa
(kertas penghisap tinta). Lapisan adsorben ini dikenal sebagai fase diam.
Setelah sampel telah diterapkan di piring, campuran pelarut atau pelarut
(dikenal sebagai fase gerak) piring disusun melalui kapiler. Karena analit
yang berbeda TLC naik pelat pada tingkat yang berbeda, pemisahan tercapai.
Kromatografi lapis tipis menggunakan piring kaca tipis dilapisi dengan
aluminium oksida atau baik silika gel sebagai fase padat. Fase gerak adalah
pelarutyang dipilihsesuai dengan sifat-sifat komponen dalam campuran.
Prinsip TLC adalah distribusi senyawa antara fase tetap padat (lapisan tipis)
diterapkan pada gelas atau piring plastik dan fase gerak cair (pelarut eluting)
yang bergerak selama fase padat. Sejumlah kecil senyawa atau campuran ini
diterapkan pada titik awal tepat di atas bagian bawah piring TLC. Nilai R:
Perilaku senyawa individu dalam TLC ditandai dengan kuantitas. Dikenal
sebagai R dan dinyatakan sebagai pecahan desimal. R dihitung dengan
membagi jarak tempuh senyawa dari posisi semula dengan jarak pelarut
perjalanan dari posisi semula (depan pelarut).
Jarak sampel dari titik awal
R =
Jarak pelarut dari titik awal

(Bele dan Anubha, 2011)


Salah satu metode pemisahan yang memerlukan pembiayaan paling
murah dan memakai peralatan paling dasar ialah kromatografi lapis tipis
preparatif (KLTP). Walaupun KLTP dapat memisahkan bahan dalam jumlah
gram, sebagian besar pemakaian hanya dalam jumlah milligram. KLTP
bersama-sama dengan kromatografi kolom terbuka, masih dijumpai dalam
sebagian besar publikasi mengenai isolasi bahan alam, terutama dari
laboratorium yang tidak dilengkapi dengan cara pemisahan modern. Berbagai
penelitian telah dilakukan untuk memeriksa pengaruh ketebalan penyerap
terhadap kualitas pemisahan tetapi ketebalan yang paling sering dipakai ialah
0,5-2 mm. Ukuran pelat kromatografi biasanya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm.
Pembatasan ketebalan lapisan dan ukuran pelat sudah tentu mengurangi
jumlah bahan yang dapat dipisahkan dengan KLTP. Penyerap yang paling
umum ialah silika gel dan dipakai untuk pemisahan campuran senyawa lipofil
maupun campuran senyawa hidrofil. Untuk pembuatan lapisan tanpa retak
dianjurkan memakai penyerap niaga yang tersedia. Ukuran partikel dan
porinya kurang lebih sama dengan ukuran tingkat mutu KLT. Pelat KLTP
dapat dibuat sendiri atau dibeli dengan sudag terlapisi penyerap (biasanya
disebut pelat siap pakai atau pelat pralapis). Keuntungan membuat pelat
sendiri ialah bahwa ketebalan dan susunan lapisan dapat kita atur sendiri.
Pelarut yang baik ialah pelarut atsiri (heksana, diklorometana, etil asetat),
karena jika pelarut kurang atsiri terjadi pelebaran pita. Konsentrasi cuplikan
harus sekitar 5-10%. Cuplikan ditotolkan berupa pita yang harus sesempit
mungkin karena pemisahan bergantung pada lebar pita. Penotolan dapat
dilakukan dengan tangan (pipet) tetapi lebih baik dengan penotol otomatis
(camag, desaga, dsb). Untuk pita terlalu lebar, dapat dilakukan pemekatan
dengan cara pengembangan memakai pelarut polar sampai kira-kira 2 cm di
atas tempat penotolan. Kemudian pelat dikeringkan dan dielusi dengan
pelarut yang diinginkan. Pelat pralapis khusus dengan daerah pemekatan
dapat dibeli (Hostettmann dan Marston, 1995).
Kromatografi lapis tipis berkelanjutan menjadi metode penting untuk
analisa kualitatif produk tanaman karena kegunaan pada berbagai sampel
yang dapat dianalisis secara simultan dan cepat, serta prosedur deteksi yang
dapat diterapkan (Mohammad et al., 2010). Pada kromatografi lapis tipis atau
Thin Layer Chromatography (TLC), fase diam mempunyai peranan penting
pada analisis, baik kuantitaif maupun kualitatif. Keseragaman dan ukuran
partikel adsorben sangat menentukan keberulangan data analisis kuantitatif.
Karakteristik kromatografi ditentukan terutama oleh parameter fisika. Oleh
sebab itu, lempeng TLC dengan ukuran partikel kecil dan keseragaman
ukuran partikel baik, diperlukan untuk mendapatkan hasil analisis yang baik.
Ada dua macam TLC yang beredar di pasaran, yaitu TLC konvensional dan
HPTLC (Wulandari, 2007).
Teori kolom kromatografi cair secara kualitatif akan membantu dalam
mengoptimumkan pemisahan. Penguasaan teori kolom KC akan bermanfaat
pula dalam memahami pentingnya beberapa ciri rancangan dan pertelaan
yang mencirikan alat kromatografi. Pemisahan secara kromatografi yang
berhasil baik berkaitan dengan mengkompromikan daya pisah kromatografi,
beban cuplikan, dan waktu analisis atau kecepatan seperti digambarkan dalam
segitiga kromatografiwan. Tujuan kromatografi ialah memisahkan komponen
cuplikan dalam waktu yang masuk akal, menjadi pita atau puncak, ketika
cuplikan itu bergerak melalui kolom. Daya pisah, R, antara dua puncak dapat
diukur secara kuantitatif seperti:
2 1 2
R= 2+ =
1 2 1
2

(Johnson dan Robert, 1991).


C. Metodologi
1. Alat
a. Alumunium foil
b. Gelas ukur
c. Gunting kertas
d. Jarum
e. Kertas kromatografi (Plat TLC)
f. Penggantung atau pengait kertas
g. Penggaris
h. Pensil
i. Syringe
2. Bahan
a. Kunyit
b. Larutan etanol
c. Larutan kloroform
d. Pewarna makanan biru
e. Pewarna makanan hijau
f. Pewarna makanan ungu
g. Sirup oranye
h. Spidol biru
i. Spidol hijau
j. Spidol merah
k. Spidol ungu
3. Cara kerja
a. Persiapan kertas kromatografi atau spotting

Plat TLC

Pemotongan kertas
dengan ukuran 8,8 x 3 cm

Penarikan satu garis lurus sejajar


dari salah satu sisi

Pemberian spot

Pemberian nomor dan


pengait
b. Developing

Pelarut sebanyak 50 ml
(etanol / kloroform)

Pemasukan dalam beker glass 250 ml

Penutupan wadah sampai pelarut jenuh


selama 30 menit

Pemasukan kertas kromatografi dengan


bagian spot di bawah

Penutupan wadah dan pengamatan


gerakan sampel dan pelarut

Pengeluaran kertas setelah pelarut


mencapai tinggi kertas

c. Deteksi dan Penentuan Nilai Rf

Pemberian tanda batas tertinggi


pelarut dan sampel

Perhitungan jarak dari titik


awal sampai batas tertinggi

Perhitungan nilai Rf
D. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
Tabel 6.1 Hasil Pengukuran Kromatografi Kertas Lapis Tipis
Jarak Jarak
Jenis Jenis Warna yang Nilai
Kel Pelarut Sampel
Pelarut Sampel Terbentuk Rf
(cm) (cm)
Spidol
1 Etanol Hijau-kuning 3,5 3,4 0,971
hijau
Pewarna
Hijau-biru-
4 Etanol makanan 3,5 2,9 0,829
kuning
hijau
Sirup
2 Etanol Oranye 5 3,0 0,6
orange
Spidol Biru-ungu-
5 Etanol 5 4,0 0,8
biru pink
Pewarna
8 Etanol makanan Biru-ungu 5 4,2 0,84
biru
Kuning-
3 Etanol Kunyit 4,8 3,7 0,771
coklat
Spidol Biru-ungu-
6 Etanol 4,8 4,0 0,833
ungu pink
Pewarna
Ungu-biru-
7 Etanol makanan 4,8 3,6 0,750
merah
ungu
Sirup Oranye
10 Kloroform 4,8 0,5 0,104
orange pudar
Biru
Spidol
13 Kloroform keunguan, 4,8 0,6 0,125
biru
semburat
Spidol
15 Kloroform Pink-merah 4,8 0,1 0,021
merah
Kuning-
11 Kloroform Kunyit 4,8 3,4 0,708
oranye
Spidol
14 Kloroform Merah 4,8 0,4 0,083
ungu
Pewarna
16 Kloroform makanan Ungu 4,8 0,0 0,000
ungu
Spidol
9 Kloroform Hijau gelap 3,5 0,1 0,028
hijau
Pewarna
12 Kloroform makanan Hijau terang 3,5 0,1 0,028
hijau
Sumber : Hasil Pengamatan
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium
tertentu. Istilah kromatografi berasal dari gabungan kata chroma (warna)
dan graphein (menuliskan). Kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis
bergantung pada jenis fase gerak, fase diam dan mekanisme
pemisahannya. Beberapa kromatografi yang sering digunakan untuk
analisa di laboratorium: (1) Kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang
kali dalam satu proses. Contoh khas adalah kromatografi kolom yang
digunakan luas karena sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik.
(2) Kromatografi kertas, diterapkan untuk analisis asam amino. Asam
amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam
air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi). (3)
Kromatografi gas, campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi
gas. Metode ini sangat baik untuk analisis senyawa organic yang mudah
menguap seperti hidrokarbon dan ester. (5) HPLC (High Performance
Liquid Chromatography), ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan
tinggi untuk mengirim fase gerak ke dalam kolom. Dengan memberikan
tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan dengan
besar. Kromatografi penukar ion telah berhasil digunakan untuk analisis
kation, anion, dan ion organik (Ardianingsih, 2009).
Prinsip pemisahan kromatografi yaitu adanya distribusi komponen-
komponen dalam fase diam dan fase gerak berdasarkan perbedaan sifat
fisik komponen yang akan dipisahkan (Ardianingsih, 2009). Pemisahan
terjadi berdasarkan perbedaan migrasi zat-zat yang menyusun sampel.
Hasil pemisahan ini dapat digunakan untuk keperluan identifikasi (analisis
kuantitatif), penetapan kadar (analisis kuantitatif) serta pemurniaan suatu
senyawa (preparatif) (Hendayana dkk, 1995).
Beberapa metode kromatografi kertas yakni berdasarkan arah dari
fase geraknya yaitu kromatografi ascending dan descending. Kromatografi
ascending merupakan kromtografi kertas dimana arah fase geraknya
menaik, dengan memanfaatkan gaya kapiler. Sedangkan kromatografi
dengan metode descending (menurun) dalam pelaksanaannya
memanfaatkan gaya gravitasi sehingga arah fase geraknya menurun. Pada
kromatografi menurun, pada fase gerak dibiarkan merabat turun pada
kertas. Kertas tersebut digantung dalam bejana menggunakan bahan
antisifon yang menahan ujung atas kertas di dalam bak pelarut. Dasar
bejana digenangi dengan sistem pelarut yang telah ditetapkan. Pada
kromatografi kertas yang menaik, kertas itu digantung dari atas ruangan
agar kertas tersebut tercelup ke dalam larutan yang ada di dasar ruangan,
dan pelarut akan merangkak naik di seluruh bagian kertas secara perlahan-
lahan akibat kapilaritas. Pada bentuk yang menurun, kertas dikaitkan pada
sebuah cawan yang mengandung pelarut yang terletak diatas ruangan, dan
pelarut bergerak ke bawah karena adanya kapilaritas yang dibantu
gravitasi. Pada kasus yang sukses, zat terlarut dari campuran yang asli
akan bergerak di sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda,
membentuk sederetan noda yang terpisah. Jika senyawa tersebut berwarna,
tentu saja noda tersebut dapat terlihat. Jika tidak, noda-noda tersebut harus
ditemukan dengan cara lain. Beberapa senyawa berpendar, dalam kasus ini
noda-noda bersinar dapat dilihat pada saat kertas diletakkan di bawah
lampu ultraviolet (Gritter et al., 1991).
Menurut Kumar et al., (2013), faktor yang mempengaruhi nilai Rf
antara lain adalah sistem solvent, adsorben, tebal adsorben, jumlah
material terlihat. Karena faktor-faktor ini sulit untuk tetap konstan dari
percobaan untuk bereksperimen, nilai relatif Rf umumnya dianggap
Relatif Rf. Pengaruh nilai Rf terhadap sampel dapat dilihat pada hasil jarak
sampel yang terbentuk pada kertas kromatografi lapis tipis. Jarak sampel
yang terbentuk ini tergantung dari kelarutan sampel terhadap pelarut yang
digunakan. Jika sampel tersebut juga merupakan larutan yang polar maka
akan larut sangat baik dalam pelarut etanol yang merupakan pelarut polar.
Rf dapat memberikan bukti-bukti yang nyata mengenai identitas suatu
senyawa. Jika dua zat memiliki nilai Rf yang sama, mungkin senyawa
yang sama. Jika sampel bukan merupakan larutan yang polar maka pelarut
akan sulit untuk melarutkan sampel dan menarik pelarut sampai pada
bagian kertas semaksimal mungkin. Sesuai dengan teori dari (Bele, 2011)

bahwa = , menunjukkan bahwa nilai Rf

sebanding dengan jarak sampel. Semakin besar jarak sampel yang


didapatkan maka nilai Rf akan semakin kecil pula.
Kromatografi kertas pada percobaan ini menggunakan kertas TLC
(Thin Layer Chromatography) atau kromatografi lapis tipis berukuran 8,8
x 3 cm yang dilakukan dengan cara ascending, yakni pelarut terdapat di
bawah, dimana kertas tercelup kemudian pelarut bergerak ke atas dengan
gaya kapiler. Sedangkan pelarut yang digunakan, yaitu larutan etanol
(kelompok 1-9) dan kloroform (kelompok 10-16). Sampel yang digunakan
yaitu spidol hijau, pewarna makanan hijau, spidol biru, pewarna makanan
biru, sirup orange, spidol merah, spidol ungu, dan pewarna makanan ungu.
Pada percobaan kelompok 5, digunakan jenis pelarut etanol dengan
sampel spidol biru. Nilai Rf yang diperoleh sebesar 0,8 dan terjadi
perubahan warna dari titik awal dengan warna biru tua menjadi semburat
biru-ungu-pink. Pada percobaan kelompok 1-8 dengan pelarut etanol, Rf
yang tertinggi dimiliki oleh spidol hijau, yakni 0,971 dan terendah adalah
sirup orange, yakni 0,6. Sedangkan pada percobaan dengan pelarut
kloroform, diperoleh nilai Rf terbesar pada kunyit sebesar 0,708 dan
terendah adalah pewarna makanan ungu dengan nilai Rf adalah 0. Pada
tabel dapat dilihat bahwa Rf dengan pelarut etanol pada sampel pewarna
alami (pewarna makanan, kunyit dan sirup) memiliki Rf yang relatif lebih
rendah dibandingkan pada pewarna sintetis (spidol). Hal ini sesuai dengan
teori bahwa sampel pewarna alami polar cenderung memiliki afinitas yang
kuat terhadap fase diam dan bergerak lebih lambat, sehingga memiliki Rf
rendah (Ati, 2006). Namun terjadi penyimpangan pada pewarna makanan
biru (alami) yang memiliki Rf lebih tinggi dibanding spidol biru (sintetis).
Sedangkan pada pelarut kloroform kelompok 10-16, diperoleh Rf sirup
orange 0,104, spidol biru 0,125, spidol merah 0,021, kunyit 0,708, spidol
ungu 0,083, pewarna makanan ungu 0, spidol hijau dan pewarna makanan
hijau memiliki Rf yang sama yakni 0,028. Pada percobaan spidol hijau dan
pewarna makanan hijau dengan pelarut kloroform, jika dua zat memiliki
nilai Rf yang sama, berarti memiliki kemungkinan senyawa yang sama
(Kumar, 2013). Pada percobaan lain dengan pelarut kloroform juga terjadi
penyimpangan, dimana seharusnya pewarna alami memiliki Rf yang lebih
kecil dibandingkan Rf pewarna sintetis. Menurut Natalina, dkk (2009)
nilai Rf kunyit (kurkumin) adalah 0,37, sedangkan pada percobaan ini
tidak sesuai dengan teori, sebab diperoleh Rf kunyit dengan pelarut etanol
dan kloroform berturut-turut sebesar 0,71 dan 0,708. Pada pewarna sintetis
yang dikutip dari Sumarlin (2010), memiliki nilai Rf dengan jenis Sunset
Yellow 0,07, Tartazine 0,48, dan Rodhamin B 0,93.
Pada praktikum ini, percobaan dengan pelarut etanol menghasilkan
Rf yang lebih besar dibandingkan percobaan dengan pelarut kloroform, hal
ini dikarenakan karakteristik etanol yang berbeda dengan kloroform.
Etanol lebih mudah melarutkan sampel pada percobaan karena memiliki
kepolaran yang sesuai dengan sampel, sedangkan tingkat kepolaran
kloroform berbeda (Moulana dkk, 2012). Meninjau pada pernyataan
Moulana dkk (2012), pada percobaan dengan sampel pewarna makanan
ungu dengan pelarut kloroform diperoleh Rf=0. Hal ini dapat terjadi
dikarenakan kepolaran pelarut dengan sampel tidak sesuai sehingga tidak
terjadi pergerakan sampel dan hasil Rf nya adalah 0.
Metode analisis kualitatif yang digunakan adalah kromatografi
kertas. Sementara pengukuran zat pewarna sintetik pada analisa kuantitatif
menggunakan metode Spektrofotometri UV-Visibel, panjang gelombang
yang diperoleh akan digunakan untuk identifikasi dengan densitometri
(Sumarlin, 2010). Spektroskopi UV-Tampak dengan cara, ekstrak kering
sampel dilarutkan dalam aseton. Selanjutnya setiap pigmen dianal isis
pola spektrumnya menggunakan spektroskopi berkas rangkap Varian
Cary 50 pada panjang gelombang 350-800 nm. Pola spektrum kedua
pigmen tersebut dibandingkan dengan polas pektrum marker standar
(Natalina dkk, 2009). Selain itu, dapat digunakan pula daur ulang lempeng
HPTLC, yang dapat dilakukan bila larutan pengembang yang digunakan
tidak merubah polaritas dari adsorben. Tidak berubahnya polaritas fase
diam menyebabkan lempeng HPTLC daur ulang akan memberikan
pemisahan yang sama dibandingkan sebelum lempeng HPTLC didaur
ulang. Dari hasil pengamatan analisis kuantitatif menunjukkan bahwa
lempeng HPTLC daur ulang mempunyai presisi yang cukup baik untuk
analisis kuantitatif (Wulandari, 2007)
Dalam bidang pangan, metode kromatografi digunakan untuk
mengetahui aman tidaknya suatu pewarna yang digunakan pada produk
makanan. penggunaan pewarna sintetis harus dilakukan sesuai dengan
peraturan yang berlaku karena jika digunakan pada makanan dapat
merugikan kesehatan. Oleh karena itu, metode kromatografi dilakukan
untuk memonitoring pewarna sintetis berbagai produk makanan yang
dikonsumsi oleh masyarakat (Sumarlin, 2010).
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan diatas mengenai Acara VI Kromatografi
Kertas dapat disimpulkan bahwa:
1. Kromatografi adalah suatu cara pemisahan senyawa berdasarkan
perbedaan derajat kelarutan dalam dua macam pelarut atau lebih.
Metode yang digunakan dalam praktikum ini ada ascending
cromatography.
2. Komponen-komponen warna dari kromatografi terdistribusi dalam dua
fase yaitu fase gerak (larutan) dan fase diam (pelarut)
3. Nilai Rf diperoleh dengan membagi rasio jarak yang ditempuh oleh
senyawa dan jarak yang ditempuh oleh pelarut. Diperoleh nilai Rf
pewarna sintetis > Rf bahan makanan > Rf pewarna makanan
DAFTAR PUSTAKA

Ardianingsih, Retno. 2009. Penggunaan High Performance Liquid


Chromatography (HPLC) dalam Proses Analisa Deteksi Ion. Jurnal
Dirgantara 10 (4) : 101-104.
Ati, Neltji H., Puji R., Soenarto N. dan Leenawaty L. 2006. The Composition and
The Content of Pigments From Some Dyeing Plant For Ikat Weaving in
Timorrese Regency, East Nusa Tenggara. Indo Journal of Chemistry 6 (3)
: 325-331.
Bele, Arcana A. dan Anubha Khale. 2011. An Overview On Thin Layer
Chromatography. International Jornal Of Pharmaceutical Sciences and
Research 2 (2) : 256-267.
Buchari, Eti Testiati, dan Aminudin Sulaeman. 2003. Pengaruh Pelarut dan
Temperatur terhadap Tranport Europium (III) melalui Membran Cair
Berpendukung. Jurnal Matematika dan Sains 8 (4) : 151-156.
Gritter, Roy J., James M.B., Arthur E.S. 1991. Pengantar Kromatografi. ITB.
Bandung.
Hayati, Elok Kamilah, dan Nur Halimah. 2010. Phytochemical Test and Brine
Shrimp Lethality Test Against Artemia salina Leach of Anting-Anting
(Achalypha indica Linn.) Plant Extract. Journal Alchemy 1 (2) : 53-103.
Hendayana, S., Asep K., A.A. Sumarna., dan Asep S. 1995. Kimia Analitik
Instrumen. IKIP Semarang Press. Semarang
Hostettmann dan Marston. 1995. Cara Kromatografi Preparatif Penggunaan
pada Isolasi Senyawa Alam. ITB Press. Bandung.
Johnson, Edward L. dan Robert Stevenson. 1991. Dasar-Dasar Kromatografi
Cair. ITB Press. Bandung.
Kulkarni, Naval, Mayank M. dan D.K. Jain. 2011. Centrifugal Thin Layer
Chromatography. Asian Journal of Pharmacy and Life Science 1 (3) : 294-
300.
Kumar, Sanjeet., K. Jyotirmayee and Monalisa Sarangi. 2013. Thin Layer
Chromatography: A Tool of Biotechnology for Isolation of Bioactive
Compounds from Medicinal Plants. International Journal of
Pharmaceutical Sciences Review and Research. 18 (1) : 126-132.
Mohammad, A., S.A. Bhawani dan S. Sharma. 2010. Analysis of Herbal Products
by Thin-layer Chromatography: A Review. International Journal of
Pharma and Bio Sciences 1 (2) : 1-50.
Moulana, R., Juanada, Syarifah R. dan Ria R. 2013. Efektivitas Penggunaan Jenis
Pelarut dan Asam dalam Proses Ekstraksi Pigmen Antosianin Kelopak
Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal Teknologi dan Industri
Pertanian Indonesia 4 (3) : 20-22.
Natalina, Elly., Puji R., Sulistyowati dan Leenawaty L. 2009. Fotoproteksi
Kurkumin Terhadap -Karoten pada Berbagai Nisbah Molar serta
Aktivitas Antioksidannya. Jurnal Natur Indonesia 12 (1) : 1-8.
Sumarlin, L.O. 2010. Identifikasi Pewarna Sintetis Pada Produk Pangan Yang
Beredar di Jakarta dan Ciputat. Jurnal Program Studi Kimia FST UIN
Syarif Hidayatullah. 1 (1) : 274-283.
Wulandari, Lestyo. 2006. Evaluasi Lempeng HPTLC Daur Ulang untuk Analisis
Kualitatif dan Kuantitatif. Indo Journal Chemistry 6 (3) : 338-340.
LAMPIRAN

Analisis Hasil Percobaan



Rf =

A. Dengan pelarut etanol B. Dengan pelarut kloroform


1. Spidol hijau 9. Sirup oranye
3,4 0,5
Rf = = 0,971 Rf = 4,8 = 0,104
3,5

2. Pewarna makanan hijau 10. Spidol biru


2,9 0,6
Rf = 3,5 = 0,829 Rf = 4,8 = 0,125

3. Sirup oranye 11. Spidol merah


3 0,1
Rf = 5 = 0,600 Rf = 4,8 = 0,021

4. Spidol biru 12. Kunyit


3,7 3,4
Rf = = 0,840 Rf = 4,8 = 0,708
5

5. Pewarna makanan biru 13. Spidol ungu


4 0,4
Rf = 5 = 0,800 Rf = 4,8 = 0,083
6. Kunyit 14. Pewarna makanan ungu
3,7 0,4
Rf = 4,8 = 0,771 Rf = 4,8 = 0,000
7. Spidol ungu 15. Spidol hijau
4 0,1
Rf = 4,8 = 0,833 Rf = 3,5 = 0,028
8. Pewarna makanan ungu 16. Pewarna makanan ungu
3,6 0,1
Rf = 4,8 = 0,750 Rf = 3,5 = 0,028
Dokumentasi Percobaan

Gambar 6.1 Penempatan noda sampel Gambar 6.2 Perendaman

Gambar 6.3 Pengambilan kertas Gambar 6.4 Pengukuran jarak


sampel