Anda di halaman 1dari 14

VITAMIN B5 (ASAM PANTOTHENAT)

Mata Kuliah Dasar Ilmu Gizi

Disusun oleh:
Nurul Maulidya 101511233012
Maryam Jamilah 101611233005
Fanti Septia Nabilla 101611233017
Finda Istiqomah 101611233028
Yulianti Wulan Sari 101611233050
Aghnaita Firda P. 101611233052
Syahrul Faiz A. 101611233059

Ilmu Gizi
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
2017
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Vitamin
B5 (Asam Pantothenat) ini dengan baik meskipun banyak kekurangan di dalamnya. Tidak
lupa kami berterima kasih pada Ibu Sri Sumarmi, S.K.M., M.Si. selaku Dosen mata kuliah
Metabolisme Zat Gizi Mikro Ilmu Gizi FKM Universitas Airlangga yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Vitamin B5 (Asam Pantothenat). Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan tidak sempurna. Oleh
sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa kritik dan saran.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri selaku penyusun maupun
orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-
kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari
pembaca demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Surabaya, 11 Mei 2017

Tim Penyusun

i
Cover

Kata Pengantar ..................................................................................................................... i

Daftar Isi ............................................................................................................................... ii

Bab I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................... 1

1.3 Manfaat ........................................................................................................................... 1

1.4 Tujuan ............................................................................................................................. 1

Bab II : Pembahasan

2.1 Pengertian ....................................................................................................................... 2

2.2 Sumber ............................................................................................................................ 3

2.3 Metabolisme 4

2.4 Defisiensi dan Toksisitas . 5

2.5 Interaksi dengan Vitamin Lain 7

Bab III : Penutup

Kesimpulan ........................................................................................................................... 9

Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vitamin B5 atau yang biasa disebut asam patothenat merupakan vitamin larut air.
Bentuk aktif vitamin B5 adalah Koenzim A dan ACP (protein pembawa asil). Vitamin B5
ada di semua sumber makanan, sehingga sangat jarang ditemukan kasus defisiensi
vitamin B5. Sumber vitamin B5 paling baik adalah hati, ginjal, kuning telur, khamir,
daging, ikan, unggas, serealia utuh, dan kacang-kacangan.

Vitamin B5 merupakan vitamin larut air sehingga dapat diserap dan dicerna
bersamaan dengan penyerapan air masuk ke dalam tubuh. Vitamin larut air akan dibuang
atau dikeluarkan melalui urine setiap kali kadar dalam plasma melebihi batas ambang
ginjal. Oleh karena itu, vitamin B5 tidak menyebabkan toksisitas.

Vitamin B5 dapat berinteraksi dengan vitamin lainnya. Salah satu contoh interaksinya
adalah asam pantothenat dalam bentuk aktif ikut berperan dalam beberapa jalur
metabolisme zat gizi makro bersama dengan vitamin B lainnya.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian dan sumber vitamin B5?


1.2.2 Bagaimana proses metabolisme vitamin B5?
1.2.3 Bagaimana defisiensi dan toksisitas dari vitamin B5?
1.2.4 Bagaimana interaksi antara vitamin B5 dengan vitamin lain?

1.3 Tujuan

1.3.1 Memaparkan penjelasan mengenai pengertian dan sumber vitamin B5.


1.3.2 Memaparkan penjelasan mengenai proses metabolisme vitamin B5.
1.3.3 Memaparkan penjelasan mengenai defisiensi dan toksisitas dari vitamin B5.
1.3.4 Memaparkan penjelasan mengenai interaksi vitamin B5 dengan vitamin lain.

1.4 Manfaat

1.4.1 Pembaca mengetahui pengertian dan sumber vitamin B5.


1.4.2 Pembaca mengetahui proses metabolisme vitamin B5.
1.4.3 Pembaca mengetahui defisiensi dan toksisitas dari vitamin B5.
1.4.4 Pembaca mengetahui interaksi antara vitamin B5 dengan vitamin lain.
1
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian

Vitamin B5 atau Asam Pantothenat merupakan vitamin larut air. Asam pantotenat
adalah nama trivial untuk senyawa dihidroksi-, -dimetilbutil--alanin, yang
sebelumnya dikenal sebagai pantoyl--alanine. Asam pantothenat memiliki dua bentuk
metabolik aktif yaitu: koenzim A (saat vitamin dihubungkan dengan adenosin-3',5'-
difosfat melalui kelompok fosfodiester) dan Protein Pembawa Asil / ACP (saat
terhubung dengan residu serinil dari protein melalui fosfodiester).

Ciri utama struktur kimia Asam Pantothenat yaitu :

1. Turunan formil asam pantoic dan alanin

2. Aktif secara optik

Struktur kimia Asam Pantothenat :

2
Asam pantotenat terdiri dari -alanin yang bergabung dengan asam 2,4-dihidroksi-
3,3-dimetilbutirat melalui suatu ikatan amida. Molekul memiliki pusat asimetris, dan R-
enansiomer, yang biasa disebut asam pantotenat D-(+), secara biologis aktif dan terjadi
secara alami. Asam pantotenat adalah minyak kuning kental. Namun, kalsium dan garam
lainnya adalah zat kristal tak berwarna; kalsium pantothenate adalah produk utama dari
perdagangan. Tidak ada bentuk yang larut dalam pelarut organik, namun masing-masing
larut dalam air dan ethanol. Larutan encer asam pantotenat tidak stabil untuk pemanasan
dalam kondisi asam atau basa, menyebabkan pembelahan hidrolitik dari molekul (untuk
menghasilkan -alanin dan 2,4-dihidroksi-3,3-dimetilbutirat). Analog pantenol (di mana
gugus karboksil digantikan oleh gugus hidroksimetil) cukup stabil dalam larutan. Dalam
bentuk kering, garam stabil terhadap udara dan cahaya, tapi mereka (terutama sodium
pantothenate) bersifat higroskopik.

2.2 Sumber

Asam pantothenat terdapat di dalam semua jaringan hewan dan tumbuh-tumbuhan.


Oleh karena itu, vitamin B5 banyak ditemukan pada banyak makanan sehingga sangat
jarang terjadi defisiensi vitamin B5. Akan tetapi, sekitar 33% asam pantotenat hilang
dalam proses pemasakan dan sekitar 50% hilang pada proses penggilingan beras.

Sumber vitamin B5 paling baik adalah hati, ginjal, kuning telur, khamir, daging, ikan,
unggas, serealia utuh, dan kacang-kacangan.

Bahan Makanan mg Bahan Makanan Mg


Hati sapi 7,70 Susu 0,37
Hati ayam 6,00 Gandum 1,50
3
Ginjal sapi 6,00 Beras pecah kulit 1,50
Ayam 1,00 Jagung 0,64
Daging sapi 0,47 Kentang 0,46
Kuning telur 4,20 Kacang kedelai 1,60
Ikan lamuru 0,93 Kacang merah 0,65
Ikan ekor kuning 0,60 Buah sukun 1,60
Ganggang laut 0,55 Kembang kol 1,00
Sumber : Food Composition Table for Use in East Asia, FAO, 1972.

2.3 Metabolisme

Vitamin B5 atau yang biasa disebut asam pantotenat yang berasal dari makanan
sekitar 85% bertindak sebagai Koenzim A (Co A) atau fosfopantethein. Koenzim A
dihidrolisis oleh enzim fosfatase dalam saluran pencernaan menjadi 4-fosfopantotein dan
asam pantotenat yang kemudian diabsorpsi. Penyerapan asam pantotenat dalam usus
menggunakan pengangkut sejenis natrium. Pengangkut asam pantotenat terdapat pada
seluruh saluran pencernaan. Jaringan lain mengambil asam pantotenat dengan cara yang
sama. Mekanisme transportasi biasanya tidak jenuh sehingga serapan asam pantotenat ke
dalam jaringan akan meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi plasma.

Langkah pertama dalam metabolisme asam pantotenat adalah fosforilasi. Sel darah
merah megandung asam pantotenat, asam 4-fosfopantotenik dan panthein. Proses
masuknya asam pantotenat dalam sel darah merah adalah dengan cara difusi. Asam
pantotenat disaring oleh ginjal sebagian besar diserap oleh sistem tergantung natrium di
ginjal. Asam pantotenat sebagian besar diekskresikan dengan bentuk yang tidak berubah.
Beberapa fosfopantetein juga diekskresikan dalam urin.

4
Vitamin B5 dalam bentuk CoA membantu melepaskan energy dari gula, pati, lemak
dan lemak. Pelepasan energy ini terjadi di mitokondria. dua proses yang diperlukan yang
pertama adalah konversi vitamin B5 ke dalam CoA dan perubahan kedua disebut asetilasi,
yang mana bentuk CoA mengkonversi kembali menjadi asetil CoA. Proses tersebut terus
menerus terjadi di dalam sel. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin b5 membantu
memberikan lemak dalam bentuk asetil CoA serta terlibat dalam transportasi lemak dari
sitoplasma menuju mitokondria. Bentuk CoA sangat penting untuk terbentuknya lemak
dalam tubuh. asam lemak dan kolesterol memerlukan vitamin b5 dalam bentuk Co Anya.

2.4 Defisiensi dan Toksisitas

2.4.1 Defisiensi

Asam pantotenat merupakan bagian dari coenzim A yang sangat dibutuhkan pada
siklus asam sitrat yang terdapat pada metabolisme makanan. Sehingga kekurangan
asupan asam pantotenat dapat mengganggu metabolisme makanan seperti sintesis
lemak, protein dan karbohidrat yang menyebabkan produksi energi menjadi
terganggu. Tanda dan gejala kekurangan asam lemak sangatlah berbeda antara spesies

namun secara umum terjadi pada kulit, liver, kelenjar adrenal, dan sistem saraf.
Hampir setiap makanan baik nabati atau hewani mengandung asam pantotenat
mengakibatkan defisiensi asam pantotenat sangat jarang terjadi. Namun defisiensi
asam panthotenat masih dapat terjadi karena sifatnya yang mudah rusak dalam proses
pemanasan. Kekurangan asam pantotenat umumnya juga terjadi karena asupan yang
inadequate pada makanan dasar dan vitamin. Kelompok yang beresiko menderita
defisiensi asam pantotenat adalah pengguna alkohol dan seseorang dengan kondisi
malabsorpsi. Pada perang dunia II terdapat sindrom buming feed yang menyerang
tawanan perang di Asia, sindrom ini diperkirakan terjadi karena defisiensi vitamin B5
atau asam pantotenat.

Gangguan yang ditimbulkan akibat defisiensi asam pantotenat adalah muntah,


merasa mual, kram perut, insomnia, fatigue, depresi, mudah marah, gelisah, apati,
hipoglikemia, meningkatkan kepekaan hormone insulin, mati rasa (numbness), kram
otot, rambut rontok, menghambat produksi antibodi, rasa nyeri pada tangan dan kaki,
gangguan fungsi saraf perifer (nutritional melalgia atau burning food syndrome),
tidak mampu berjalan, gangguan terhadap system imun, kelalahan, serta gangguan
neurologis.

Tanda-tanda umum dari defisiensi asam pantotenat

Sistem organ Tanda-tanda


Umum
Pertumbuhan Menurun
Nafsu makan Menurun
Organ vital Hepatic steatosis, thymic necrosis, adrenal hypertrophy
Dermatologi Dermatitis, achomotrichia, alopecia
Otot Lemah
Pencernaan Maag
Saraf Ataxia, paralysis
6

2.4.2 Toksisitas

Tidak ada efek toksik pada asam pantotenat., karena tidak pernah ditemukan
kejadian toksisitas sebelumnya. Sehingga penentuan upper level atau kadar
maksimum asam pantotenat dalam tubuh belum dapat ditentukan. Dosis terbesar
asam pantotenat yang pernah ditemukan pada manusia perharinya (10g/hari) tidak
memberikan yang lebih parah daripada gangguan usus ringan dan diare. Demikian
pula belum ada efek merusak yang telah diidentisikasi saat vitamin diberikan dosis
tinggi.

2.5 Interaksi dengan Vitamin Lain

Asam pantotenat berperan sebagai komponen koenzim A yang terlibat langsung dalam
proses asetilasi dan pelepasan energi dari molekul makronutrien. Vitamin B5 akan
difosforilasi untuk membentuk 4-phosphopantothenate oleh enzim pantothenate kinase.
Sebuah molekul sistein ditambahkan ke 4-phosphopantothenate dan molekul baru
terbentuk 4-phospho-N-pantothenoylcysteine. Reaksi ini dikatalisis oleh sintetase
phosphopantothenoylcysteine. Molekul tersebut di atas kemudian mengalami
dekarboksilasi untuk membentuk katalis 4-phosphopantetheine oleh enzim
phosphopantothenoylcysteine decarboylase.

Molekul ini kemudian mengalami adenylasi yang membentuk dephospho-koenzim A.


Dephospho-CoA kemudian fosforilasi dengan ATP untuk membentuk koenzim A atau
CoA. Reaksi ini dikatalisis oleh dephosphocoenzyme A kinase. Hasil dari metabolisme ini
akan menghasilkan energi. Asam pantotenat juga berperan dalam sintesis senyawa
spingolipida, fosfolipid, sterol,hormon pertumbuhan, sel saraf, dan antibodi.

7
Jalur metabolisme energi yang melibatkan vitamin B (Whitney & Rolfes, 1993, h. 320)

Pada jalur tersebut, bentuk aktif asam pantothenat (koenzim A) ikut berperan bersama
dengan vitamin B lainnya. Selain itu, vitamin B5 yang berinteraksi dengan Vitamin B12,
folat, dan biotin, dapat meningkatkan penggunaan vit B5 dalam reaksi biokimia dalam
tubuh. Defisiensi vitamin B5 dapat dihambat oleh vitamin C.

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Vitamin B5 (asam patothenat) merupakan vitamin yang tidak larut dalam pelarut
organic melainkan larut dalam air dan ethanol. Bentuk aktifnya adalah Koenzim A dan
ACP (protein pembawa asil). Asam pantotenat terdiri dari -alanin yang bergabung
dengan asam 2,4-dihidroksi-3,3-dimetilbutirat melalui suatu ikatan amida dan memiliki
pusat asimetris, dan R-enansiomer. Sumber vitamin B 5 paling baik adalah hati, ginjal,
kuning telur, khamir, daging, ikan, unggas, serealia utuh, dan kacang-kacangan.

Vitamin B5 dalam makanan berupa koA atau fosfopantetein diubah menjadi 4-


fosfopantotein dan Asam pantotenat (vit B5) dengan bantuan enzim fosfatase.
Selanjutnya, hasil tersebut diabsorbsi dalam usus dengan pengangkut Na masuk ke aliran
darah lalu masuk ke jaringan dengan pengangkut Na. Setelah itu, sisa hasil metabolisme
di ekskresi melalui urine.

Vitamin B5 banyak ditemukan dalam berbagai makanan, sehingga sangat jarang


terjadi defisiensi. Kondisi toksisitas juga sangat jarang terjadi karena jika konsumsi
vitamin B5 berlebihan, sisa yang tidak terpakai akan dikeluarkan melalui urine.

Vitamin B5 dapat berinteraksi dengan vitamin lainnya, seperti : asam pantothenat


dalam bentuk aktif ikut berperan dalam beberapa jalur metabolisme zat gizi makro
bersama dengan vitamin B lainnya; vitamin B5 yang berinteraksi dengan Vitamin B12,
folat, dan biotin, dapat meningkatkan penggunaan vit B5 dalam reaksi biokimia dalam
tubuh; defisiensi vitamin B5 dapat dihambat oleh vitamin C.

9
Daftar Pustaka

Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Combs, Gerald F. 2008. The Vitamins. USA: Elsivier

Ellie and Sharon. 2008. Understanding Nutrition. USA: Thomson Wadsworth.

Hardiansyah. 2017. Ilmu GIzi Teori dan Aplikasi. Jakarta: ECG

Prof.Dr. Sediaoetama Djaeni Achmad, M.Sc. 2008. Ilmu Gizi. Jakarta: Dian Rakyat

Sumbono, Aung. Biokimia Pangan Dasar. Jakarta: Deepublish CV. Budi Utama. Diakses
pada(https://books.google.co.id/books?
id=pD8MDgAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=
onepage&q&f=false)

Whitney & Rolfes. 1998. Understanding Nutrition. New York: West Publ. Co. Ed.8.
10