Anda di halaman 1dari 21

CULTURE, VALUES, AND

WORLDVIEWS

Dosen Pengampu:

Dr. Rofiaty, SE, MM

Disusun untuk memenuhi Tugas Matakuliah Cross Cultural


Management

Disusun Oleh :

Dina Fitria Marta Sari 166020201111005


Ellen Deviana Arisadi 166020201111016
Inayah Wulandari 166020201111021

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017

Chapter 3
Culture, values, and worldviews
Budaya mempengaruhi persepsi individu tentang peristiwa di dunia, yang demikian
mempengaruhi nilai-nilai, sikap dan perilaku. Dengan adanya budaya, seorang individu
dapat mengetahui apa yang diterima dan apa yang tidak. Setiap negara memiliki budaya
yang berbeda, begitu dengan persepsi, nilai-nilai, maupun penilaian setiap individu. Apa
yang mungkin menyenangkan, menarik, dan diterima dalam satu budaya, mungkin tidak
bagi negara lain.

Culture
Geerts Hofstede mendefinisikan budaya sebagai pemikiran collective programming
yang membedakan suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Sementara itu, Antropolog
Budaya Clyde Kluckholn mendifinisikan budaya sebagai kumpulan keyakinan, nilai-nilai,
perilaku, kebiasaan, dan sikap yang membedakan suatu masyarakat dengan masyarakat
lain. Peneliti The GLOBE mendifinisikan budaya sebagai motif, nilai-nilai, keyakinan,
identitas, interpretasi, atau makna peristiwa penting yang berasal dari pengalaman
umum yang diteruskan ke generasi selanjutnya.

Berdasarkan sudut pandang manajemen global, perhatian budaya terfokus pada tiga
pertanyaan: Siapakah kita? Bagaimana kehidupan kita? dan Bagaimana kita melakukan
pendekatan kerja? Tiga pertanyaan ini memusatkan perhatian pada individu, lingkungan,
norma dan nilai kerja. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini memungkinkan kita
menarik beberapa kesimpulan inferensial tentang pekerjaan dan masyarakat, serta
bagaimana manajer harus bersikap pada saat berkerja lintas budaya.

Tiga aspek definisi ini penting untuk menjadi bahan diskusi:

(1) Culture is shared by members of group and, indeed sometimes defines the
membership of the group itself. Dengan demikian, preferensi budaya tidak umum di
keseluruhan pribadi maupun keseluruhan dunia. Preferensi budaya umumnya
dimiliki oleh sekelompok orang, bahkan tidak semua anggota dalam suatu
kelompok.
(2) Culture is learned through membership in a group or community. Budaya dalam
bentuk perilaku sosial, yang dipelajari dari orangtua, guru, pejabat, pengalaman,
atau masyarakat kebanyakan. Dimana individu mendapatkan nilai, asumsi, dan
perilaku dengan melihat bagaimana orang lain berperilaku, tumbuh di sebuah
komunitas, pergi ke sekolah, dan mengamati keluarga.
(3) Culture influences the attitudes and behaviors of group members. Keyakinan
bawaan, nilai-nilai, dan pola perilaku sosial dapat ditelusuri kembali. Setelah
individu tumbuh, budaya masih memberitahu perilaku apa yang dapat diterima dan
tidak dapat diterima, menarik dan tidak menarik. Alhasil, budaya sangat
mempengaruhi proses sosialisasi dalam hal bagaimana kita melihat diri kita dan apa
yang kita percaya. Pada nantinya, hal ini akan mempengaruhi perilaku normatif, dan

1
bagaimana kita berpikir orang-orang di sekitar kita mengharapkan kita untuk
berperilaku.

Ilustrasi ini menghubungkan antara preferensi universal, budaya, dan pribadi. Pada
bagian bawah piramida adalah biological programming, karakteristik yang merupakan
bagian dari sifat manusia.

Gambar 1. Level of mental programming

Bagian atas piramida adalah karakteristik individu biasanya disebut sebagai


kepribadian, dan terdiri dari kombinasi inherited, belajar perilaku preferensi, dan
asumsi. Budaya berada diantara dua garis yang memisahkan antara human nature dan
personality. Banyak situasi yang tidak dapat diketahui dengan pasti mengapa seseorang
berperilaku dengan cara tertentu.
Culture and normative behavior
Budaya sering menetapkan batasan pada perilaku yang dapat diterima dan tidak
dapat diterima. Pada tekanan itu, individu dan kelompok harus mengikuti dan menerima
perilaku normatif. Budaya menentukan aturan mengenai apa yang dapat dilakukan oleh
individu. Bahkan, surat kabar dan majalah dipenuhi dengan contoh orang-orang yang
memecahkan culture barrier. Terlepas hal tersebut benar atau salah, hambatan ini
biasanya dibentuk untuk memastikan keseragaman penerapan pada budaya dan perilaku
normatif antara anggota masyarakat. Namun, sebagai hasilnya masyarakat sering
mengambil pandangan redup terhadap individu yang melawan sistem.
Core Cultural dimensional: a starting poin
Memahami perubahan dan tantangan di seluruh dunia, banyak peneliti yang
menyarankan untuk menggunakan beberapa jenis alat atau mekanisme yang dapat
digunakan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan budaya. Mekanisme
tersebut memberikan heuristis yang menggambarkan konseptual mengenai perbedaan
pikiran dan tindakan setiap individu.

2
Banyak peneliti dan manajer global mulai membandingkan berbagai dimensi
budaya, seperti hierarchical, equalitarian, individualistic, dan collectivistic. Karena
memberikan gambaran dari kecenderungan umum antara dua atau lebih budaya,
sehingga dapat digunakan sebagai titik awal untuk memahami lintas budaya. Namun, hal
ini tidak dapat digunakan sebagai acuan sepenuhnya.
Manajer global harus memiliki pengetahuan akurat mengenai keyakinan budaya,
nilai-nilai, tradisi, dan adat istiadat, agar dapat memperoleh peluang. Manajer harus
pandai menetapkan dan mengetahui praktek dan perilaku yang dapat menciptakan
peluang maupun hambatan dalam melakukan bisnis, sehingga nantinya akan membuka
jalan untuk kemitraan.
Culture theory jungle
Sejumlah upaya telah dilakukan untuk memahami esensi dari lintas batas budaya,
baik melalui perbedaan maupun persamaan. Berikut ini merupakan cara untuk
memahami ukuran budaya:

Tabel 1. Selected model of cultural dimensions


Hall Hofstede Trompenaars GLOBE Projects
Universalisms-
Context: Extent to which Power distance: Beliefs Power distance: Degree
particularism: The
the context of a about the appropriate to which people expect
degree to which rules
message is as important distribution of power in power to be distributed
are uniformly or
as the message itself. society. equally.
situationally applied
Uncertainty avoidance:
Uncertainty avoidance: Individualism-
Space: Extent to which Extent to which people
Extent to which people collectivism: Do people
people are comfortable rely on norms, rules, and
feel threatened by derive their identity from
sharing physical space procedures to reduce
uncertain or unknown within themselves or
with others. the unpredictability of
situations. their group?
future events.
Individualism-
Time: Extent to which Specific vs. diffuse: Are Humane orientation:
collectivism: Relative
people approach one an individuals various Extent to which people
importance of individual
task at a time or multiple roles compartmentalized reward fairness,
vs. group interests in
tasks simultaneously. or integrated? altruism, and generosity.
society.
Masculinity-femininity: Institutional collectivism:
Neutral vs. affective: Are
Assertiveness vs. Extent to which society
people free to express
passivity; material encourages collective
their emotions or are
possessions vs. quality distribution of resources
they restrained.
of life. and collective action.
In-group collectivism:
Extent to which
Time orientation: Long- Achievement vs.
individuals express
term vs. shortterm ascription: How are
pride, loyalty, and
outlook on work, life, people accorded respect
cohesiveness in their
and relationships and social status?
organizations and
families.
Assertiveness: Degree
to which people are
Time perspective: Do
assertive,
people focus on the past
confrontational, and
or the future?
aggressive in
relationships with others.
Relationship with the Gender egalitarianism:
environment: Do people Degree to which gender
control the environment differences are
or does it control them? minimized.
Future orientation:
Extent to which people
engage in future-

3
Hall Hofstede Trompenaars GLOBE Projects
oriented behaviors such
as planning, investing,
and delayed
gratification.
Performance orientation:
Degree to which high
performance is
encouraged and
rewarded

Core Cultural dimensional


Masing-masing model berfokus pada aspek budaya yang berbeda-beda, namun
model ini memperkuat utilitas satu sama lain. Komponen evaluatif merupakan bagian
penting dalam memahami manajemen global dan dunia bisnis internasional. Dengan
pemikiran ini, dapat membandingkan berbagai model dimensi budaya, lima dimensi yang
paling umum digunakan oleh peneliti dan manajer adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Core cultural dimensions

Guna menghubungkan interaksi sosial dan praktek manajemen dalam ekonomi


global, berfokus pada lima pertanyaan fundamental mengenai budaya:
1. How are power and authority distributed in a society? Apakah distribusi ini
berdasarkan konsep hierarki atau egalitarianisme, kepercayaan masyarakat tentang
kesetaraan atau hak istimewa.
2. What is the fundamental building block of a society: individuals or groups?
Bagaimana masyarakat mengatur tindakan kolektif.
3. On a societal level, how do people view their relationship with their surrounding
environment? Apakah tujuan mereka untuk mengontrol atau menguasai lingkungan
untuk hidup harmoni.
4. How do people in a society organise their time to carry out their work and non-
work activities? Apakah individu mendekati pekerjaan linear (yaitu, satu hal pada
satu waktu) atau non linear (pekerjaan yang dikerjakan sekaligus)
5. How do societies try to reduce uncertainties and control the behavior of their
members? Do they focus primarily on rules or relationships? Artinya mereka
bekerja untuk mengontrol individu melalui aturan, kebijakan, hukum, dan norma-
norma sosial yang diterapkan secara seragam di seluruh masyarakat.

4
Kelima core cultural dimensions ini mengintegrasikan model sebagai berikut:
hirarchichal dan egalitarian, individualistic dan collectivistic, mastery dan harmony,
monochronic dan polychronic, rule-based dan relationship-based.
Regional trends dan cultural differences
Menurut Simcha Ronan dan Oded Shenkar, Kerangka yang dihasilkan membagi
negara-negara menjadi cluster dan memiliki fokus pada identifikasi daerah dengan
tersedianya data antropologi. Data tersebut digunakan untuk memperkirakan
kecenderungan dalam karakteristik budaya antar cluster, yaitu: cluster Anglo (Australia,
Kanada, Inggris, Amerika Serikat), cluster Arab (Dubai, Mesir, Arab Saudi), cluster Eropa
Timur (Republik Ceko, Hungaria, Polandia), cluster Asia Timur/Tenggara (China,
Jepang, Korea, Singapura, Thailand), cluster Germanic (Austria, Jerman), cluster
Amerika Latin (Argentina, Kosta Rika, Meksiko), cluster Eropa Latin (Prancis, Italia,
Spanyol), cluster Nordic (Denmark, Norwegia, Swedia), dan cluster Sub-Sahara Afrika
(Ghana, Kenya, Nigeria).

Meskipun terkadang diperlukan untuk fokus pada central tendencies antar budaya
untuk tujuan perbandingan umum, peran dari perbedaan individual dan regional dalam
menentukan sikap dan perilaku tidak dapat diabaikan. Namun, tidak mengherankan
bahwa penilaian budaya untuk negara-negara pada cluster yang sama cenderung lebih
sama daripada penilaian untuk negara-negara dengan lokasi cluster berbeda. Ini adalah
konsekuensi alami dari negara-negara yang berdekatan di berbagai daerah yang hidup
berdampingan dengan negara tetangga selama berabad-abad.

5
Digging deeper: cultural complexities and contradictions
Hubungan konsep budaya dan perbedaan budaya adalah untuk melihat perilaku
terbuka dan pemahaman yang lebih baik mengapa dan bagaimana beberapa orang
bertindak berbeda dari yang lain. Di banyak negara, perjuangan untuk mendapatkan
kesempatan yang sama telah menjadi perjuangan yang panjang dan sulit. Dalam praktik
sosialnya mengenai kesempatan yang sama dipengaruhi oleh keyakinan dan nilai-nilai,
sehingga sangat penting untuk membandingkan keyakinan dan praktik antar budaya.
Sebagai contoh, beberapa budaya menekankan diferensiasi peran jenis kelamin. Artinya,
laki-laki dan perempuan diharapkan untuk memainkan peran yang berbeda dalam
masyarakat dan, dengan demikian, harus diperlakukan berbeda. Budaya yang lain
semakin menekankan untuk meminimalkan diferensiasi peran jenis kelamin, dimana
percaya bahwa laki-laki dan perempuan harus berbagi baik tanggung jawab di rumah dan
pekerjaan. Meski demikian, ada budaya lain yang berusaha untuk fleksibel dan toleransi.
Adanya perbedaan budaya ini, menyebabkan banyak orang yang cepat mengkritik
kepercayaan orang lain sebagai terlalu paternalistik atau terlalu memanjakan.
Perbedaan budaya telah diakui di seluruh bangsa, negara dan wilayah selama
berabad-abad, tidak ada konsensus mengenai peran dari perbedaan budaya dalam bisnis
global. Apakah hambatan budaya benar-benar berarti ketika orang di arena global
mampu mengatasinya? Dalam menjawab pertanyaan ini, kebanyakan orang berada
dalam salah satu dari dua kelompok: believers dan non-believers. Kelompok believers
berpendapat bahwa berdasarkan bukti penelitian dan pengalaman, bahwa budaya tidak
berarti karena apa yang dijalankan di London mungkin tidak akan bekerja di Guangzhou,
Bangalore, atau Moskow. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang telah bekerja di
luar negeri sangat menyadari bagaimana hal-hal yang berbeda dapat berada di seluruh
dunia, dan bahwa banyak dari perbedaan ini hanya dapat dijelaskan oleh karakteristik
budaya. Kelompok non-believers, berpendapat bahwa pada umumnya orang-orang itu
berbeda, dan bahwa tidak ada dua orang India (atau China atau Rusia atau Arab Saudi)
berperilaku dengan cara yang persis sama. Mereka berpendapat lebih lanjut bahwa
organisasi di satu negara dapat beroperasi sangat berbeda dari mereka di negara lain.
Akhirnya, mereka berpendapat bahwa dari sudut pandang penelitian, varians yang
dijelaskan oleh budaya sering kecil, dan berbagai faktor lainnya mungkin sama (atau
mungkin lebih) penting dalam menjelaskan perbedaan perilaku lintas batas, termasuk
hukum, politik, perbedaan ekonomi, dan ketersediaan teknologi.

6
Cultural stability and change
Salah satu bahaya dalam upaya untuk mengkategorikan budaya ke dalam satu
dimensi yang tetap yaitu hal ini menyiratkan bahwa budaya adalah stabil dan tetap tidak
berubah. Sementara beberapa aspek budaya memang stabil dan persisten, yang lain
berkembang dan berubah dari waktu ke waktu.
Budaya berubah dan berkembang dari waktu ke waktu dalam menanggapi tekanan
baik di luar maupun di dalam masyarakat. Karena budaya dipelajari, mereka juga adaptif
dan berkembang dari waktu ke waktu dalam menanggapi banyak sekali kekuatan
eksternal yang dapat mempengaruhi masyarakat. Misalnya, kaum perempuan Saudi kini
diizinkan untuk mengemudi mobil hal ini merupakan tanda, namun kecil, bahwa hal-
hal berubah di Timur Tengah.
Di sisi lain, beberapa asumsi dan keyakinan adalah cukup stabil dan menentang
perubahan. Kita mungkin melihat perubahan dalam perilaku, tetapi makna dan asumsi di
balik perilaku ini sering berakar dalam nilai-nilai budaya yang cukup stabil.
Implikasi bagi manajer adalah bahwa budaya adalah dalam keadaan terus-menerus
berubah. Ketika mereka bertemu dengan budaya lain (mungkin melalui jaringan
organisasi global), mereka menghadapi masalah baru, menerapkan frame budaya mereka
dengan cara yang berbeda, bernegosiasi perilaku baru, dan mengubah aspek penting dari
budaya mereka, yang mengarah ke perilaku yang mungkin tampak bertentangan.
Holistic and fragmented behavior
Masalah mendasar lainnya dalam mencoba untuk mengkategorikan budaya adalah
bahwa hal ini menyiratkan tingkat homogenitas. Ketika menjelaskan budaya individu,
kita fokus pada aspek bersama yang sering ditemukan di seluruh kelompok budaya.
Karena budaya milik bersama, dimana menurut definisinya budaya mencakup apa yang
umum di antara anggota kelompok. Anggota dari kelompok budaya membutuhkan waktu
yang lama dan usaha yang besar dalam menyatukan berbagai budaya yang secara kolektif
mewakili dan menentukan perilaku sosial mereka.

7
Namun, budaya juga terfragmentasi dalam arti bahwa mereka sering
memungkinkan untuk adanya variasi internal dan bahkan ketidaksesuaian yang
signifikan di tengah-tengah mereka. Meskipun kecenderungan orang untuk
menstereotipkan, logika dan pengalaman pribadi menunjukkan bahwa variasi dapat
ditemukan di semua budaya. Misalnya, sementara orang-orang sering menggambarkan
Australia sebagai budaya yang sangat individualistis dan China sebagai budaya yang
sangat kolektif, pada kenyataannya, banyak orang Australia yang kolektif dan banyak
orang China yang individualistis. Bahkan, banyak budaya tumpang tindih dengan budaya
tetangga-tetangga mereka, dimana memiliki lebih banyak kesamaan daripada
ketidaksamaan. Sementara orang sering menggeneralisasikan tentang berbagai budaya
agar memudahkan pemahaman dasar tentang tren budaya, hal tersebut akan sangat tidak
akurat untuk menyimpulkan bahwa semua anggota pada tiap budaya berperilaku dengan
cara yang sama.
Fragmentasi budaya, bagaimanapun, tidak menyebabkan disintegrasi masyarakat.
Perilaku penyimpangan budaya, misalnya, sebagian besar masih tak dapat dijelaskan
kecuali melawan latar belakang dari latar belakang budaya mereka sendiri. Pada
akhirnya, karena budaya secara bersamaan terfragmentasi dan sistemik, holistik dan
heterogen, bahkan perilaku ekstrim menyimpang dapat dijelaskan oleh fakta bahwa
orang tersebut secara bersamaan bereaksi melawan budaya mereka sendiri.
Universal and idiosyncratic characteristics
Deskripsi budaya menggunakan kumpulan dimensi yang terbatas dapat
menyebabkan kesan bahwa kumpulan yang terbatas ini dapat menangkap esensi dari
budaya. Namun, pengalaman dan pengamatan memberitahu kita bahwa budaya adalah
lebih kompleks dan paradoks, dengan banyak pengecualian dan kualifikasi untuk setiap
klasifikasi umum. Semua budaya mengandung defining elements yang menentang
klasifikasi universal. Sebagai contoh, sementara banyak orang akan setuju bahwa budaya
AS sebagian besar adalah individualistis, klasifikasi umum dari individualisme versus
kolektivisme gagal untuk menangkap perbedaan kecil yang penting yang mendasari
defining characteristic ini.
Lebih lanjut, konsepsi individualisme sebagai inisiatif aktif dan tanggung jawab jauh
lebih bernuansa dari konsepsi yang digambarkan oleh kategori umum individualisme dan
kolektivisme, yang juga tidak bisa menjelaskan kontradiksi.
Explanatory and predicative powers
Diskusi tentang budaya sering menyebabkan asumsi berlebihan mengenai kausalitas
dan determinisme. Sangat mudah untuk membuat hubungan antara karakteristik budaya
umum dan tindakan, seperti "Orang-orang dari budaya kolektif akan lebih memilih tim
kerja" atau "budaya hirarkis lebih memilih pemimpin yang otoriter. Namun, kesimpulan
seperti ini merupakan jenis yang problematic untuk beberapa alasan. Pertama,
fragmentasi bisa terjadi akibat penerimaan nilai-nilai budaya. Kedua, budaya terdiri dari

8
unsur-unsur istimewa yang dapat dikombinasikan dengan cara yang unik yang mengarah
ke konsekuensi tak terduga. Dan ketiga, budaya baik kendala dan memungkinkan
perilaku.
Budaya menyediakan kerangka untuk mengartikan dunia di sekitar kita, untuk
mempelajari dan memperluas cakrawala kita. Kerangka ini penting untuk menafsirkan
fenomena di sekitar kita, berkomunikasi dengan orang lain, dan mengorganisir proses
sosial dan psikologis. Kerangka budaya ini membatasi berbagai alternatif yang
dipertimbangkan oleh anggota. Budaya merupakan sumber penting dari bias terhadap
cara kita menafsirkan dunia dan memilih untuk bertindak. Memahami bias ini dapat
membantu kita menjelaskan mengapa orang di tempat yang berbeda membuat keputusan
yang berbeda. Ini mungkin membantu menjelaskan, misalnya, mengapa wanita di dunia
Arab yang kurang aktif di tempat kerja daripada wanita Barat.
Namun demikian, bias budaya dapat diatasi dengan baik oleh usaha individu.
dimana budaya memberikan kita pedoman untuk membantu menavigasi situasi, tapi
situasi ini sendiri sering akan mempengaruhi pilihan berperilaku. Dengan kata lain, cara
seseorang berkomunikasi dapat berubah secara signifikan ketika orang ini berkomunikasi
dengan atasan atau teman, atau hanya dengan perubahan dalam konteks sekelilingnya,
seperti mendapati dirinya dalam budaya asing.
Selanjutnya, bias ini tidak selalu berarti buruk. Dalam beberapa situasi, mereka
mungkin menjadi aset dan sumber penting untuk kreativitas bagi perusahaan global.
Seperti budaya yang berbeda bertemu dengan perspektif yang berbeda, solusi baru
mungkin muncul. Ketika dikombinasikan, dinamika frame budaya dan interaksi mereka
dengan lingkungan dapat menyebabkan perilaku yang tampaknya bertentangan.
Singkatnya, sangat sulit bagi manajer untuk memprediksi perilaku mitra asing mereka.
Cultures and subcultures
Orang memperoleh nilai-nilai, asumsi, dan perilaku dengan melihat bagaimana
orang lain di sekitar berperilaku dan dengan mengamati keluarga mereka. Namun, di
sinilah letak sumber utama dari over-generalizations dan stereotip tentang budaya
nasional. Hal ini karena banyak orang dalam satu budaya menjadi memiliki beberapa
budaya, dan sering bertentangan. Subkultur dapat mencakup tingkat pendidikan (budaya
intelektual), profesi atau spesialisasi (budaya profesional), keyakinan normatif tentang
benar dan salah dan agama yang terorganisir (budaya agama), tempat kerja (budaya
organisasi), lokasi geografis dalam suatu negara (budaya daerah), dan lain sebagainya.
Artinya adalah bahwa orang-orang juga bisa mendapatkan sarana budaya tambahan dari
berbagai subkultur di mana manusia berada. Budaya adalah kolektif, diciptakan oleh
masyarakat dari fenomena yang ada atau muncul setiap kali kumpulan dari asumsi atau
keyakinan yang biasanya dimiliki oleh sekelompok orang.
Dengan demikian, beberapa subkultur berdampingan dalam organisasi, industri,
dan bangsa. Hal tersebut menyebabkan susunan budaya dipengaruhi oleh variasi dari

9
anggota kelompok. Subkultur-subkultur ini mungkin tumpang tindih dan dapat
berinteraksi satu sama lain. Beberapa macam budaya dapat membentuk perhatian,
interpretasi, dan tindakan dari individu. Sehingga, di suatu waktu tertentu, orang secara
bersamaan termasuk dalam satu budaya dan berbagai budaya, dimana hal ini membuat
studi tentang perbedaan budaya menjadi lebih sulit.
Managers notebook: Culture, Value and Worldviews
Budaya tidak mudah dipecah untuk kelompok dan kategori. Kompleksitas dan
kontradiksi menimbulkan pertanyaan menarik tentang bagaimana manajer harus
bertindak atau bereaksi ketika mereka menemukan diri mereka di tengah-tengah
ketegangan budaya dan perubahan. Tantangan utamanya adalah budaya yang berbeda
sering membutuhkan perilaku yang sangat berbeda dari manajer mereka dan tidak akan
saling menyinggung lainnya. Terdapat beberapa strategi untuk membantu manajer ketika
mereka mencoba dan memahami perilaku aneh orang lain. Terdapat tiga tantangan,
yaitu:
1. Avoiding cultural stereotypes
Memahami pengaruh budaya pada praktek manajemen merupakan langkah pertama
yang penting. Manajer yang mampu memahami cara bahwa budaya dapat mempengaruhi
perilaku dan memiliki pengetahuan tentang bagaimana budaya berbedaa lebih mampu
mengidentifikasi fenomena budaya dan mengidentifikasi solusi untuk menghadapinya
dan peran stereotip budaya jelas relevan. Profesor McGill Nancy Adler memberikan
beberapa nasihat untuk menghindari stereotip budaya tentang orang-orang dari setiap
kebudayaan, yaitu:
a. Deskripsi budaya dengan sifatnya berisi informasi dari setiap kebudayaan.
Generalisasi sering menutupi informasi yang berguna tentang keragaman budaya.
b. Deskripsi budaya harus dibatasi untuk menggambarkan anggota berbagai kelompok
seobjektif mungkin misalnya baik dan buruk
c. Deskripsi budaya harus memberikan gambaran yang akurat dari keyakinan, nilai-
nilai dan norma-norma sosial dari suatu kelompok
d. Deskripsi budaya harus dianggap sebagai tebakan terbaik tentang perilaku dari
kelompok sebelum informasi berkembang lebih spesifik tentang individu anggota
kelompok
e. Deskripsi budaya harus dimodifikasi dari waktu ke waktu berdasarkan informasi
yang baru diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman.
2. Seeing cultures in neutral terms
Perbedaan budaya bukan hal yang buruk di dunia manajerial, tingkat perbedaan
budaya sering dianggap sebagai yang menyebabkan peningkatan pengambilan keputusan
manajerial dan tindakan. Sulit untuk memprediksi bagaimana perbedaan-perbedaan
diidentifikasi bisa menyatu ketika dua budaya bertemu. Kerangka budaya membuat
keterbatasan pada kemampuan kita untuk berfikir dan merasakan lingkungan, namun
sebagai individu berinteraksi satu sama lain dan lingkungan baru di sekitar mereka,
pemahaman baru muncul dan perilaku baru dapat dibentuk. Sederhananya, ketika dua
atau lebih budaya bersentuhan, titik awal untuk berinteraksi budaya apa yang akan

10
diangkat. Tetapi hasil akhirnya tergantung pada interaksi para aktor dan organisasi yang
terlibat, diferensial kekuasaan dan pertukaran yang terjadi.
3. Preparing for the unexppected
Akhirnya, ketika menghadapi kompleksitas pengaruh-pengaruh budaya dan
ketidakpastian pertemuan budaya, sebuah pertanyaan muncul Apa yang bisa manajer
global yang lakukan? Untuk tujuan itu, beberapa keterampilan belajar yang penting dapat
disarankan bagi manajer global:
Kesadaran diri
Empati
Pengumpulan informasi dan analisis
Integrasi informasi dan transformasi
Fleksibilitas perilaku
mindfulness

11
Resume Jurnal 1
Judul : Cultural value, perceived value, and consumer decision-making
style in China: A comparison based on an urbanization dimension
Penulis:
1. Chuan Sun and Song Su, Beijing Normal University, Beijing, China
2. Jinsong Huang, Beijing Beihang University, Beijing, China

Pendahuluan
Kelompok konsumen terbesar dan daya beli yang berkembang pesat, China telah
menjadi salah satu pasar negara berkembang yang paling penting di dunia. Pendekatan
untuk memahami konsumen adalah untuk menyadari gaya pengambilan keputusan
konsumen (yaitu orientasi kognitif dan emosional dari konsumen saat membuat
keputusan pembelian) (Sproles dan Kendall, 1986). Penelitian sebelumnya telah meneliti
gaya pengambilan keputusan konsumen di China bahwa sesuai dengan nilai budaya
konsumen China yang homogen (Fan and Xiao, 1998; Hiu et al., 2001). Wilayah dengan
perbedaan infrastruktur berbeda juga dari nilai budayanya di China. Nilai budaya adalah
dasar dari perilaku manusia yang mempengaruhi pilihannya melalui pengaruh norma
sosial dan sikap (Hawkins and Mothersbaugh, 2011; Yahyagil and Otken, 2011).
Penelitian ini mencari mengungkap variasi spesifik konsumen China dengan menganggap
gaya pengambilan keputusan konsumen dengan membandingkan perbedaan jenis
wilayah berdasarkan tingkat urbanisasi (Gu, 1992; Yan, 1994). Selanjutnya, penelitian ini
menyelidiki pengaruh gaya pengambilan keputusan sehingga manajer bisa
memanfaatkannya untuk strategi pengembangan berdasarkan perbedaan pasar di China.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan wilayah dalam nilai
budaya berdasarkan dimensi urbanisasi di China, dimana menghasilkan perbedaan nilai
yang dirasakan dan gaya pengambilan keputusan konsumen.
Konseptual dan hipotesis
1. Cultural value
Nilai budaya individu dibagi menjadi 10 jenis universal yaitu power, achievement,
hedonism, stimulation, self-direction, universalism, benevolence, tradition, conformity
and security (Schwartz and Bardi, 2001). Studi sebelumnya menjelaskan bahwa
konsumen dalam negara yang sama mempunyai nilai budaya yang sama (Hofstede, 1980;
House et al., 2004). Perbedaan infrastruktur harus memastikan perbedaan dalam nilai
budaya diantara wilayah (Ralston et al., 1996; Zhou et al., 2010). Sehingga, peneliti
memasukkan hipotesis:

H1. In China, striking cultural value differences exist among the consumers of
regions that vary by degree of urbanization

12
2. Perceived value
Perceived value adalah refleksi yang meliputi banyak hal mengenai keuntungan yang
dirasakan dan biaya ketika konsumen membuat keputusan membeli (Sanchez-Fernandez
and Iniesta-Bonillo, 2007). Faktor yang berkontribusi dalam pembuatan keputusan
konsumen diklasifikasikan dalam 5 nilai: sosial, emosional, fungsional, epistemic dan
kondisional. Perbedaan wilayah menimbulkan nilai yang dirasakan berbeda, dan
perbedaan ini memastikan perbedaan nilai yang dirasakan. Sehingga, peneliti
memasukkan hipotesis selanjutnya:
H2. Striking differences exist with regard to the perceived value of consumers in
the different regions of China by varying degrees of urbanization
3. Consumer decision-making styles
Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa nilai budaya mempengaruhi gaya
pengambilan keputusan konsumen (Zhou et al., 2010). Setelah mengklasifikasi gaya
pengambilan keputusan konsumen China sebagai utilitarian atau hedonic, Zhou et al.,
(2010) menemukan bahwa konsumen wilayah coastal mempunyai gaya pengambilan
keputusan yang lebih hedonik dan kekuatan kesadaran merek membandingkan dengan
konsumen daerah pedalaman. Kemudian, nilai yang dirasakan dalam perbedaan wilayah
memastikan perbedaan gaya pegambilan keputusan konsumen. Dari pernyataan ini,
peneliti memasukkan hipotesis ketiga:
H3. Striking differences exist with regard to aspects or decision-making styles
among Chinese consumers across regions that vary in their degree of
urbanization
Metodologi
1. Metode sampling dan partisipan
Pengumpulan data dilakukan 2 tahap. Kuesioner skala besar diberikan ke orang baru
dari perguruan tinggi utama dan universiti di luar China dalam waktu dari Oktober
sampai Desember 2010. Tahap kedua dari Oktober sampai Desember 2011, kuesioner
diberikan ke murid dari provinsi seperi kota Shanghai, Hainan, Qinghai, Yunnan dan
Guizhou. Sebanyak 2.305 kuesioner yang valid dan sudah sesuai dengan tingkat 75
persen. Kuesioner menggunakan skala 1 sampai 7, dimana 1 sangat tidak setuju dan 7
sangat setuju.

Hasil

Tabel 1. Model statistik multi-group (4 jenis wilayah)

13
Tabel 2. Analisis diskriminan untuk nilai budaya diantara wilayah

Hasil tersebut mendukung H1. Temuan menjelaskan bahwa konsumen kota lebih
dipengaruhi oleh openness value; maka perusahaan harus mendesain brand images
ketika mentargetkan konsumen kota.

Tabel 3. Analisis diskriminan untuk nilai yang dirasakan diantar wilayah

Hasil tersebut mendukung H2 yang menyarankan bahwa nilai emosional dan


harga tidak secara signifikan berbeda wilayahnya dengan memastikan nilai yang
dirasakan konsumen. Perusahaan yang menargetkan konsumen kota harus menekankan
nilai sosial dan fungsional dari produk dan jasanya.

Tabel 4. Analisis diskriminan untuk gaya pengambilan keputusan konsumen diantar


wilayah

H3 didukung memberikan perbedaan konsumen di wilayah berbeda dalam tiga


dimensi gaya pengambilan keputusan. Merketer harus memikirkan perbedaan wilayah

14
dalam membuat strategi pemasaran. Pembuatan merek dan perbaikan kualitas dinilai di
kota besar, dimana strategi low-price adalah jalan efisien untuk mengembangkan pasar di
area pedesaan.

Kesimpulan
1. Nilai budaya secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi gaya pengambilan
keputusan konsumen. Porsi dari perbedaan di nilai budaya diwujudkan dalam
perceived value; perbedaan dalam perceived value mempengaruhi kesadaran harga,
kesadaran merek dan kesadaran kualitas konsumen yang membuat keputusan
pembelian. Penelitian ini menunjukkan bahwa memahami gaya pengambilan
keputusan konsumen dimulai dengan memahami nilai budaya konsumen.
2. Konsumen di area metropolitan dipengaruhi oleh openness, konsumen diluar wilayah
secara signifikan berbeda dalam nilai sosial dan fungsional dengan memperhatikan
perceived value. Konsumen di dalam wilayah dengan lebih urbanisasi lebih mengikuti
nilai sosial dan fungsional produk dan jasa. Perbedaan nilai budaya dan yang
dirasakan memastikan kesadaran harga lebih kuat diantara konsumen di area
pedesaan ketika membuat keputusan pembelian. Konsumen di area metropolitan
mempunyai kesadaran merek dan kesadaran kualitas yang tinggi ketika membuat
keputusan pembelian.

Keterbatasan dan Saran penelitian selanjutnya


1. Penelitian ini hanya mengemukakan dan menguji dua bagian (cultural and perceived
value) untuk mengetahui gaya pengambilan keputusan konsumen. Faktir lain yang
mempengaruhi gaya ini harus diuji untuk penelitan selanjutnya.
2. Penelitian ini menekankan pada tiga point gaya dari konsumen China yaitu
kesadaran harga, merek dan kualitas untuk mengukur gaya pengambilan keputusan
konsumen. Penelitian selanjutnya harus memasukkan gaya pengambilan keputusan
yang mungkin seperti kesadaran fashion.
3. Penelitian ini menemukan perbedaan dalam nilai budaya, nilai yang dirasakan dan
gaya pengambilan keputusan konsumen berdasarkan tingkat urbanisasi. Penelitian
selanjutnya harus lebih mengeksplor dimensi pasar lainnya.

15
Resume Jurnal 2
Judul: The moderating role of Hofstedes cultural dimensions in the
customer-brand relationship in China and India
Penulis:
1. Won-Moo Hur, School of Business Administration, Pukyong
National University, Busan, South Korea
2. Seongho Kang, School of Business, Chosun University, Gwangju,
South Korea
3. Minsung Kim, College of Business, Inha University, Incheon, South
Korea

Pendahuluan
Merek memainkan peran yang penting untuk perusahaan dalam membangun
hubungan dengan konsumen mereka dan menaikkan kinerja pasar mereka (Schau et al.,
2009). Di persaingan pasar yang tinggi dengan pengembangan volatiliti dan penurunan
diferensiasi produk, membuat loyalitas merek sebuah elemen pusat merupakan taktik
dan strategi pemasaran (Walsh and Mitchell, 2005). Banyak perusahaan yang serius
untuk mengglobalkan merek mereka untuk mengatasi kompetensi lokal dan membuat
kesempatan baru (Bond and OByrne, 2014). Dari 500 perusahaan, 480 perusahaan
beroperasi di China (Tse, 2010) dan 225 telah didirikan pusat R&D di India (Accenture,
2011), menyatakan bahwa India dan China telah menjadi pasar yang berkelanjutan di
ekonomi dunia. Tingkat pertumbuhan GDP di India dan China sekarang lebih dari 8
persen (tradingeconomics.com, 2011) dan beberapa berpendapat bahwa 2020, India dan
China akan melebihi GDP Jepang dalam kesamaan kekuatan pembelian (Wall Street
Journal, 2014). Meskipun keputusan untuk memasuki pertumbuhan pasar global adalah
logis, merek global sering gagal untuk mencapai tujuan kinerja yang diharapkan (Ross et
al., 2008; Haig, 2003) karena kekurangan pemahaman perbedaan budaya dari pasar dan
konsumen mereka.

Tujuan
Untuk meningkatkan pemahaman hubungan konsumen merek di pasar
internasional, menyelidiki seacra empiris dan membandingkan proses pengembangan
hubungan konsumen merek antara pasar India dan China. Empat dari lima dimensi
budaya nasional Hofstede digunakan sebagai moderator dalam proses pengembangan
hubungan konsumen merek antara dua pasar.

Model konseptual dan hipotesis

16
Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
H1a. Pengaruh positif nilai utilitarian pada kepercayaan merek akan lebih besar di
pasar China daripada pasar India
H1b. Pengaruh positif nilai utilitarian pada pengaruh merek akan lebih besar di pasar
China daripada di padar India
H2a. Pengaruh positif nilai hedonik pada kepercayaan merek akan lebih besar di pasar
India daripada di pasar China
H2b. Pengaruh positif nilai hedonik pada pengaruh merek akan lebih besar di pasar
India daripada di pasar China
H3a. Pengaruh positif dari resiko yang dirasakan pada kepercayaan merek akan lebih
besar di pasar India daripada di pasar China
H3b. Pengaruh positif dari resiko yang dirasakan pada pengaruh merek akan lebih
besar di pasar India daripada di pasar China
H4a. Pengaruh positif dari kepercayaan merek pada loyalitas merek akan lebih besar di
pasar China daripada di pasar India
H4b. Pengaruh positif dari pengaruh merek pada loyalitas merek akan lebih besar di
pasar China daripada di pasar India

Metodologi
1. Sampel
Penelitian ini berdasarkan perbandingan budaya China dan India pada empat
dimensi Hofstede pertama yang ditunjukkan pada tabel 1. Peneliti membagi bahwa nilai
dimensi tidak cukup besar (contohnya China: 80; India: 77) diantara dua negara.

Tabel 1. Dimensi budaya Hofstede

17
Sampel untuk penelitian ini dari konsumen mobile phone di India dan China yang
membeli dan menggunakan jasa mobile phone, responden ditanya untuk menjawab
pertanyaan tentang hubungan pengalaman menggunakan merek mereka untuk mobile
phone mereka sendiri. Pengumpulan data dari area metropolitan utama di dua negara
(India: New Delhi dan Mumbai; China: Beijing dan Shanghai) melalui survei tatap muka
yang diimplementasikan oleh penelitian pasar perusahaan China dan India. Penelitian ini
menggunakan 539 pengguna dari konsumen India dan 400 dari konsumen China. Subjek
yang diteliti adalah lima merek mobile phone (LG, Motorola, Nokia, Samsung dan Sony
Ericsson) di dua negara, peneliti juga menambah empat variabel dummy untuk
mengontrol brand effect pada brand affect, brand trust dan brand loyalty.

Hasil
Tabel 2. Descriptive statistics, correlations and average variance extracted (AVE)

Tabel 3. Estimation of the proposed model

18
Kesimpulan
Meskipun posisi India dan China di pasar global, hanya sedikit penelitian yang
menyelidiki hubungan konsumen merek yang ada di pasar tersebut. Penelitian ini
mengindikasi bahwa perjalanan dari pengembangan proposisi nilai untuk membangun
kepercayaan merek dan pengaruh merek adalah langkah yang penting untuk mencapai
loyalitas merek di kedua pasar India dan China. Pengaruh nilai yang dirasakan pada
kepercayaan merek di segmen pasar kedua negara adalah secara signifikan berbeda
menyarankan bahwa strategi manajemen merek harus diambil. Pengaruh nilai yang
dirasakan pada pengaruh merek tidak berbeda secara signifikan diantara kedua negara
dengan hasil H1b dan H2b tidak didukung.
1. Penelitian ini berhipotesis bahwa konsumen dengan individualisme tinggi akan
mempertimbangkan sebuah merek sebagai enjoyment yang memastikan untuk
mengekspresikan diri mereka melalui merek, dimana konsumen dengan maskulin
yang tinggi akan mengevaluasi sebuah merek dalam jangka dari usefulness dan
menunjukkan pencapaian mereka melalui sebuah merek. Konsumen dengan
individualisme yang tinggi akan menunjukkan hubungan yang kuat diantara nilai
hedonik dan pengaruh merek (H2b), dan konsumen dengan maskulin tinggi
menunjukkan hubungan yang kuat antara nilai utilitarian dan pengaruh merek (H1b).
2. Kedua, penelitian ini menemukan nilai yang dirasakan pada kepercayaan merek
berbeda antara segmen pasar kedua negara. Cina lebih relatif negara yang kolektif
dan maskulin, ditunjukkan nilai utilitarian mempunyai pengaruh yang kuat pada
kepercayaan merek. Disisi lain, India lebih negara yang individualisme, ditunjukkan
dari nilai hedonik mempunyai pengaruh yang kuat pada keppercayaan merek.
3. Ketiga, penelitian ini membuktikan manajemen merek untuk merek global atau
manajer pemasaran yang mencoba untuk masuk India (individualisme, mengurangi
orientasi jangka panjang, feminim) dan China (kolektif, orientasi jangka panjang,
maskulin).
4. Keempat, penemuan ini menyarankan bahwa kepercayaan meek sama pentingnya
dalam generasi loyalitas merek dan pengaruh merek yang menyenangkan tidak cukup
untuk percaya formasi loyalitas merek

19
5. Pengaruh dari nilai yang dirasakan pada keprcayaan merek secara signifikan berbeda
antara dua pasar, tetepi hubungannya sangat kuat antara nilai yang dirasakan dan
pengaruh merek tidak berbeda antara kedua negara. Hasil ini menyarankan bahwa
lebih efektif untuk mengimplementasi strategi lokasi dimana menekankan nilai
utilitarian di China tetapi nilai hedonik di India untuk membangun dan
mempertahankan keppercayaan merek.

Keterbatasan dan penelitian selanjutnya


1. Penelitian ini tidak menguji statistik perbedaan antara kedua negara untuk setiap
dimensi budaya dan tidak bisa mengendalikan untuk variasi kemungkinan diantara
penduduk di setiap negara.
2. Penelitian ini menganalisis perilaku konsumen kearah merek global dan pengaruh
asal negara mungkin dipresentasikan seluruhnya. Penelitian selanjutnya mengambil
merek global dan local akan menghasilkan validitas pada penemuan ini
3. Penelitian ini menggunakan pengukuran risiko yang dirasakan dimana setiap
komponen multipel dengan indikator tunggal. Penelitian selanjutnya mungkin
mempeprtimbangkan menggunakan pengukuran keseluruhan risiko yang dirasakan
untuk menghasilkan validitas.

20