Anda di halaman 1dari 3

POTENSI BAHAN GALIAN GAMBUT

Gambut adalah sumberdaya energi yang tak terbarukan seperti halnya minyak bumi dan
batubara. Hal ini dinyatakan dalam Resolusi PBB No. 33/148 tanggal 20 Desember 1978
(United Nations Conference on New and Renewable Sources of Energy, 33rd Session), dan
secara tidak langsung juga dalam Memorandum for the Establishment of an International
Renewable Energy Agency (IRENA). Sementara pemerintah Indonesia, melalui Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, dalam hal ini Direktorat Sumber Daya Mineral, sejak
pertengahan tahun 1983 telah melakukan penyelidikan endapan gambut dimulai dari tahapan
survai tinjau sampai dengan eksplorasi umum dengan menggunakan bor inti. Penyelidikan
ini dilaksanakan untuk memperoleh data dan infomasi mengenai kualitas, kuantitas dan
sebaran endapan gambut baik lateral maupun vertikal di Indonesia. Penyelidikan ini
dilaksanakan untuk memperoleh data dan infomasi mengenai kualitas, kuantitas dan sebaran
endapan gambut baik lateral maupun vertikal di Indonesia.

Dari hasil penyelidikan pendahuluan yang dilakukan oleh DESDM sejak 1983-2006, bahwa
lahan gambut yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi, dengan ketebalan lebih dari 2
meter sebesar 7,855 juta hektar atau sekitar 30% dari total lahan gambut Indonesia.
Luas sebaran potensi gambut untuk sumber energi terdapat di Sumatera (NAD, Sumatera
Utara, Riau, Jambi dan Sumatera Selatan) sebesar 4,748 juta hektar sedangkan di Kalimantan
(Kalbar, Kalteng dan Kaltim) mencapai sekitar 3,107 juta hektar.

Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa kandungan kalori gambut berkisar antara 4000-5500
kalori/gram dengan tebal maksimum berkisar antara 5-13 meter. Kandungan abu berkisar
antara 2,13-4,19 persen, sedangkan kandungan sulfur berkisar antara 0,27-0,63 persen.
Karena dianggap vital, Menteri Pertambangan dan Energi No. 200 K/20/M.PE/1986,
kemudian diperbaharui dengan SK Menteri Pertambangan dan Energi No. 507
K/20/M.PE/1989, menetapkan gambut sebagai Bahan Galian Golongan Vital (B) dan
pengusahaannya diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan Kuasa Pertambangan.

Dengan adanya SK Menteri tersebut, posisi gambut disejajarkan dengan bahan galian pada
beberapa jenis mineral logam seperti besi, bauksit, emas, tembaga dan sebagainya. Namun
dalam perjalanananya, gambut sempat terhadang oleh Keppres NO. 32 tahun 1990, tentang
pengolahan kawasan hutan lindung yang mengatakan gambut masuk dalam kategori kawasan
lindung. Dengan demikian, gambut tidak boleh diekploitasi atau ditambang.
Karena adanya Keppres nomor 32 tahun 1990 tersebut, pemanfaatan lahan gambut sebagai
sumber energi belum dapat dilaksanakan. Namun seharusnya dengan makin majunya
teknologi ekplorasi dan eksploitasi sumber energi maka berbagai dampak terhadap
lingkungan dapat dikurangi dan lahan bekas tambang dapat direklamasi dengan baik dan
benar sehingga fungsi-fungsi lingkungan dapat dikembalikan semaksimal mungkin.

Untuk mengoptimalkan manfaat gambut bagi pembangunan nasional, perlu kerjasama yang
sinergis dan terpadu antar berbagai sektor terkait dalam pengelolaan lahan gambut. Perlu
dilakukan pengelolaan dalam pemanfaatan lahan gambut. Misalkan, untuk lahan gambut
dengan ketebalan kurang dari 1 meter dapat digunakan untuk lahan pertanian dan
pemukiman, sementara untuk lahan gambut yang memiliki ketebalan antara 1 hingga 2 meter,
dapat dipakai untuk perkebunana tanaman keras. Dan yang memiliki ketabalan lebih dari 2
meter dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya energi dan bahan baku industri.

Gambut Sebagai Sumber Energi

Saat ini gambut mulai dilirik sebagai sumber energi. Salah satu contoh adalah PT Sebukit
Power yang mulai berancang-ancang membangun proyek pembangkit listrik tenaga uap
(PLTU) berbahan dasar gambut dengan kapasitas 3x67 megawatt (MW). Lokasi PLTU
gambut tersebut akan dibangun di Mempawah, Kalimantan Barat. Rencananya paling lambat
September 2009 proyek akan bergerak.

Head of Agreement (HoA) antara Sebukit dan Direksi PT. PLN selaku pembeli sudah
dilakukan pada September 2008 lalu. Biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan PLTU
tersebut membutuhkan dana sekitar US$ 400 juta atau sekitar Rp. 3,77 triliun.

Pihak Sebukit mengungkapkan, PLTU tersebut akan dibangun tiga unit. Unit pertama
diharapkan selesai pada 2011. Kemudian unit kedua direncanakan akan dibangun 2012 dan
unit ketiga pada 2013.

Untuk PLTU gambut yang akan dibangun tersebut, menggunakan teknologi berasal dari
Finlandia. Sementara Korean Electrical Power Corporation akan menjadi operator proyek
tersebut. PLN rencananya membeli listrik dari PLTU tersebut pada harga US$ 4,78 per
kilowatthour dengan kontrak selama 30 tahun.

Menurut ahli gambut dari Finlandia, gambut yang ada di Kalimantan sangat cocok
dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Rencananya, lahan yang dipakai untuk PLTU
gambut seluas 19.500 hektare. Pakar dari Finlandia sengaja disewa karena Finlandia
termasuk negara yang sudah lama memnafaat gambut sebagai sumber energi baik untuk
pembangkit listrik maupun pemanas pengganti batubara.