Anda di halaman 1dari 30

CAMELS, Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Pengertian Camels menurut kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia) edisi kedua tahun
1999 : CAMELS adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi keuangan
bank, yang mempengaruhi pula tingkat kesehatan bank, CAMEL merupakan tolok yang
menjadi obyek pemeriksaan bank yang dilakukan oleh pengawas bank. CAMEL terdiri atas
lima criteria yaitu modal, aktiva, manajemen, pendapatan dan likuiditas.

Bank Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31
Mei 2004 yang mengatur tentang tata cara penilaian tingkat kesehatan bank umum yang
melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional di Indonesia.
Ketentuan ini merupakan penyempurnaan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia
dengan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI tanggal 12 April 2004.

Metode penilaian tingkat kesehatan bank tersebut diatas kemudian dikenal dengan metode
CAMELS. Karena telah dilakukan perhitungan tingkat kesehatan bank berdasarkan metode
CAMELS selanjutnya dilanjutkan dengan perhitungan tingkat kepatuhan bank pada beberapa
ketentuan khusus, metode tersebut selanjutnya dikenal dengan istilah CAMELS Plus.
Penilaian kesehatan Bank secara umum meliputi 6 aspek yaitu :

1) Capital, untuk rasio kecukupan modal


Penilaian terhadap faktor permodalan meliputi penilaian terhadap komponen-komponen
sebagai berikut:

kecukupan, komposisi, dan proyeksi (trend ke depan) permodalan serta kemampuan


permodalan Bank dalam mengcover aset bermasalah;

kemampuan Bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari


keuntungan, rencana permodalan Bank untuk mendukung pertumbuhan usaha, akses
kepada sumber permodalan, dan kinerja keuangan pemegang saham untuk
meningkatkan permodalan Bank.

2) Assets, untuk rasio kualitas aktiva


Penilaian terhadap faktor kualitas aset meliputi penilaian terhadap komponen-komponen
sebagai berikut:

kualitas aktiva produktif, konsentrasi eksposur risiko kredit, perkembangan aktiva


produktif bermasalah, dan kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif
(PPAP);

kecukupan kebijakan dan prosedur, sistem kaji ulang (review) internal, sistem
dokumentasi, dan kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah.

3) Management, untuk menilai kualitas manajemen


Penilaian terhadap faktor manajemen meliputi penilaian terhadap komponen-komponen
sebagai berikut:

kualitas manajemen umum dan penerapan manajemen risiko;

kepatuhan Bank terhadap ketentuan yang berlaku dan komitmen kepada Bank
Indonesia dan atau pihak lainnya.

4) Earning, untuk rasio-rasio rentabilitas bank


Penilaian terhadap faktor rentabilitas meliputi penilaian terhadap komponen-komponen
sebagai berikut:

pencapaian return on assets (ROA), return on equity (ROE), net interest margin
(NIM), dan tingkat efisiensi Bank;

perkembangan laba operasional, diversifikasi pendapatan, penerapan prinsip


akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya, dan prospek laba operasional.

5) Liquidity, untuk rasio-rasio likuiditas bank


Penilaian terhadap faktor likuiditas meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai
berikut:

rasio aktiva/pasiva likuid, potensi maturity mismatch, kondisi Loan to Deposit Ratio
(LDR), proyeksi cash flow, dan konsentrasi pendanaan;

kecukupan kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management


/ALMA), akses kepada sumber pendanaan, dan stabilitas pendanaan.

6) Sensitivity, untuk rasio sensitivitas terhadap pasar


Penilaian terhadap faktor sensitivitas terhadap risiko pasar meliputi penilaian terhadap
komponen-komponen sebagai berikut:

kemampuan modal Bank dalam mengcover potensi kerugian sebagai akibat fluktuasi
(adverse movement) suku bunga dan nilai tukar;

kecukupan penerapan manajemen risiko pasar.


CAMELS

nama : maisya ferina


npm : 36109175
kelas : 3DB19

CAMELS adalah singkatan dari permodalan (capital), kualitas aset (asset


quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), likuiditas
(liquidity), sensitivitas terhadap risiko pasar (sensitivity to market risk).

RENTABILITAS
Analisis rasio rentabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat
efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Rasio
rentabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Asset (ROA) dan Return
on Equity (ROE).
Rasio Rentabilitas betujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba
selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam
menjalankan operasional perusahaannya

Jenis Rasio Rentabilitas


Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba operasi dari operasi
usahanya yang murni. Gross Profit Margin semakin tinggi maka maka semakin baik hasilnya.

Faktor penilaian tingkat kesehatan Bank mencakup penilaian terhadap faktor-faktor yang
ditetapkan oleh ketentuan Bank Indonesia atau yang biasa disebut CAMELS yang salah
satunya dinilai menurut analisis faktor Rentabilitas. Faktor Rentabilitas ini adalah alat untuk
menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank
yang bersangkutan. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank.
Banyak sekali rasio-rasio keuangan yang ada dalam CAMELS tersebut- salah satunya adalah
ROA yang digunakan untuk mengukur Earnings Power atau rentabilitas sebuah bank.
Salah satu rasio rentabilitas adalah Return on Assets (ROA), yaitu rasio yang digunakan
untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara
keseluruhan. Semakin besar rasio ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan
yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan
assets. Menurut perhitungan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia Rasio ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Laba Sebelum Pajak
ROA = x 100%
Rata-rata Total Assets
Besarnya nilai untuk laba sebelum pajak dapat dilihat pada perhitungan laba rugi yang
disusun oleh bank yang bersangkutan, sedangkan Total assets dapat dilihat pada neraca.
Nilai Return on Assets (ROA) tersebut dapat dijadikan kiteria dalam penetapan peringkat
komponen Rentabilitas (Earnings), yaitu :
Peringkat I : Perolehan laba sangat tinggi
Peringkat II : Perolehan laba tinggi
Peringkat III : Perolehan laba cukup tinggi, atau rasio ROA berkisar antara 0,5% sampai
dengan 1,25%.
Peringkat IV : Perolehan Laba Bank rendah atau cenderung mengalami kerugian (ROA
mengarah negatif).
Peringkat V : Bank mengalami kerugian yang besar (ROA negatif)
1. Return on Assets (ROA)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula
tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut
dari segi penggunaan aset. Rumus yang digunakan adalah:
ROA = Total Aktiva Laba Bersih

2. Return on Equity (ROE)


ROE adalah perbandingan antara laba bersih bank dengan modal sendiri. Rasio dapat
dirumuskan sebagai berikut:
ROE = Modal Sendiri Laba Bersih
Rasio ini banyak diamati oleh para pemegang saham bank (baik pemegang saham pendiri
maupun pemegang saham baru) serta para investor di pasar modal yang ingin membeli saham
bank yang bersangkutan (jika bank tersebut telah go public). Dengan demikian rasio ROE
merupakan indikator penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur
kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran
deviden. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang
bersangkutan.

Rasio Rentabilitas sendiri bertujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan
laba selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen
dalam menjalankan operasional perusahaannya. Rentabilitas modal sendiri sangat penting
bagi suatu perusahaan terutama bagi bank. Banyak bank yang tutup disebabkan
rentabilitasnya rendah. Hal itu dapat dilihat dari kenyataan berikut.
Pada masa awal krisis ekonomi di bulan Juni 1997 jumlah bank ada 220 buah dan pada akhir
tahun 1998 jumlah tersebut berkurang menjadi 169 bank, karena 50 bank dilikuidasi oleh
pemerintah dan satu Bank Pembangunan Daerah Timor-Timur ditutup. Di samping itu
terdapat 12 bank yang di-take over (BTO) oleh pemerintah dan 7 bank yang direkapitulasi
oleh pemerintah, sehingga persentase jumlah bank yang bermasalah mencapai 30% (Badan
Penyehatan Perbankan Nasional, BPPN). Kondisi tersebut disebabkan oleh melemahnya nilai
tukar rupiah terhadap dolar Amerika, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang
rupiah melemah, yang pada akhirnya bank-bank Indonesia mengalami kesulitan likuiditas.
Ditambah lagi besarnya kredit macet dalam mata uang lokal (rupiah) dan mata uang asing
(valuta asing).

Analisis rasio laporan keuangan Bank Mandiri Periode 2008-


2009 Menurut Metode Camel.
Perhitungan rasio keuangan menurut metode camel mempunyai 5 aspek, yaitu :

1. Capital

Dengan menggunakan suatu indikator yaitu CAR yang diperoleh dengan membandingkan
modal sendiri dengan aktiva tertimbang menurut resiko yang dihitung dari bank yang
bersangkutan.

Rumus : CAR = Modal Sendiri

Aktiva Tertimbang
Pada laporan keuangan diatas CAR mengalami perubahan yang signifikan, pada tahun
2008 sebesar (22.42) sedangkan pada tahun 2009 CAR mengalami penurunan sebesar
(15.37). Karena CAR ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar jumlah aktiva yang
memiliki resiko yang dibiayai oleh modal selain dana bank, sehingga dapat dikatakan Bank
Mandiri tidak mampu mepertahankan sejumlah aktiva yang memiliki resiko.

2. Assets

Indikator kualitas aset yang dipakai adalah rasio kualitas produktif bermasalah dengan aktiva
produktif (NPL).

Rumus : NPL = Kualitas produktif bermasalah / aktiva produktif

Pada laporan keuangan diatas NPL mengalami perubahan, pada tahun 2008 NPL sebesar
(1.16) dan pada tahun 2009 NPL mengalami penurunan sebesar (1.4). Karena NPL ini
digunakan untuk mengetahui kualitas assets suatu bank, maka dapat disimpulkan bahwa Bank
Mandiri tidak bisa mempertahankan kualitas asset pada tahun 2009.

3. Management

Kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam bekerja, juga dapat dilihat
dari pendidikan serta pengalaman karyawannya dalam menangani berbagai kasus yang
terjadi. Unsur-unsur penilaian dalam kualitas manajemen adalah manajemen permodalan,
aktiva, umum, rentabilitas dan likuiditas, yang didasarkan pada jawaban dari pertanyaan yang
diajukan.

4. Earning

Indikator yang dipakai adalah dan BO/PO yang digunakan untuk mengukur perbandingan
biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank, dan NIM
yang diperoleh dengan membandingkan pendapatan bunga bersih dengan rata-rata aktiva
produktif.

Rumus : BO/PO = Total beban operasional / total pendapatan operasional

NIM = Pendapatan bunga bersih / rata-rata aktiva produktif

BOPO
Digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen lembaga keuangan dalam
mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini
berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan lembaga keuangan yang
bersangkutan sehingga kemungkinan suatu lembaga keuangan dalam kondisi bermasalah
semakin kecil. Pada tahun 2008 rasio BOPO 69.88 namun pada tahun 2009 naik menjadi
78.12, ini membuktikan pengendalian yang kurang baik antara biaya operasional dengan
pendapatan operasionalnya karena rasio naik.

NIM

Rasio NIM pada data diatas tahun 2009 mengalami kenaikan, sehingga menjadi 5.49 yang
pada tahun 2008 sebesar 5.08. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen
bank dalam mengelola aktiva produktifnya untuk menghasilkan pendapatan bunga bersih.
Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Semakin
besar rasio ini maka meningkatnya pendapatan bunga atas aktiva produktif yang dikelola
bank.

5. Liquidity

Indikator yang digunakan adalah loan to deposit ratio (LDR) dan reserve requirement atau
giro wajib minimum (GWM). LDR diperoleh dengan membandingkan antara seluruh
penempatan dan seluruh dana yang berhasil dihimpun ditambah dengan modal sendiri,
sedangkan GWM merupakan perbandingan giro pada Bank Indonesia dengan seluruh dana
yang berhasil dihimpun.

Rumus : LDR = Seluruh penempatan / (seluruh dana yang berhasil di himpun + modal
sendiri)

GWM = Giro pada bank indonesia / seluruh dana yang berhasil di himpun

LDR

Di tahun 2008 (56,64) dan pada tahun 2009 (61.32). Rasio ini digunakan untuk menilai
likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank
terhadap dana pihak ketiga. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendahnya kemampuan
likuiditas bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi
bermasalah akan semakin besar.
GWM

GWM atau Giro Wajib Minimum milik bank harus tetap terjaga untuk menghindari
terjadinya dampak buruk dari system perbankan dan perekonomian.
CARA MENGHITUNG AKTIVA TERTIMBANG MENURUT
RISIKO (ATMR)
by Selamet Riyadi 15 October 2016

CARA MENGHITUNG ATMR

Setelah menulis tentang Capital Adequacy Ratio (CAR) ada beberapa mahasiswa yang
sedang menulis skripsi dan tugas pembuatan paper lainnya yang terkait dengan perhitungan
ATMR, karena dalam laporan posisi keuangan bank yang dipublikasikan tidak terdapat
perhitungan yang dimaksud. Berdasarkan pada pertanyaan inilah, saya akan memberikan
uraian singkat tentang cara perhitungan ATMR atau Aktiva Teritimbang Menurut Risiko.

Besarnya minimal Capital Adequacy Ratio (CAR) minimal 8% ditetapkan oleh Banking for
International Settlement (BIS), dimana perhitungannya mengacu pada Bassel Accord 1, yang
hanya menekankan pada risiko kredit yang disalurkan oleh perbankan. CAR juga dijadikan
salah satu tolok ukur untuk menilai tingkat kesehatan bank, artinya jika CAR berada dibawah
8% maka dari sektor permodalan bank tersebut dapat dikategorikan tidak sehat. Ketentuan
CAR minimal 8% diadopsi oleh Bank Indonesia yang menetapkan Kewajiban Penyediaan
Modal Minimum (KPMM) bank dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/18/PBI/2012
tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum, lalu disesuaikan dengan PBI
Nomor 15/ 12 /PBI/2013 dalam PBI yang terkahir diatur tengan KPMM secara lebih rinci.

Bagaimana cara menghitung ATMR ?

Terdapat 2 ATMR yaitu ATMR yang dihitung dari on Balance Sheet (on B/S) dan off B/S.
On B/S adalah semua sisi aktiva yang terdapa pada laporan keuangan bank, sedangkan yang
off B/S adalah yang berasal dari Tagihan administratif bank.

Caranya adalah nilai nominal yang terdapat pada laporan posisi keuangan (Neraca) setelah
dikurangi dengan akumulasi penyusutan/ penyisihan atau cadangan kerugian penurunan nilai
(CKPN) dikalikan dengan bobot risiko. Masing-masing aktiva bank telah diberikan bobot
risiko oleh Bank Indonesia.

Iluastrasi rekening aktiva bank (dalam milyar rupiah)


Aktiva Jumlah Bobot Risiko
(%) ATMR

Kas 5.000 0
0

Penempatan Pd Bank Indonesia 45.000 0


0

Giro Pada Bank Lain 10.000 20


2.000

Penempatan Pd Bank Lain 51.000 20


10.000

PPAP/ CKPN ( 1.000)

Surat-Surat Berharga

Sertifikat Bank Indonesia 20.000 0


0

Surat Berharga Ps Uang 20.500 20


4.000

PPAP/ CKPN ( 500)

Kredit Yang Diberikan 92.500 100


90.000

PPAP/ CKPN ( 2.500)

Investasi 21.500 100


20.000

PPAP/ CKPN ( 1.500)

Akitva Tetap 7.500 100


5.000

Akum. Penyusutan ( 2.500)

Jumlah ATMR 131.000

Keterangan :
1. Untuk bobot risiko kredit tidak semuanya berbobot 100%, tergantung jenis
kreditnya, jadi ada yang 50%, 75% atau 100%. Untuk memudahkan
perhitungan digunakan bobot 100%. Sedangkan bobot risiko sesuai
dengan ketentuan Bank Indonesia.

2. Untuk rekening-rekening off B/S juga menggunakan pola perhitungan yang


sama.

Jika pada periode tersebut bank memiliki Modal sebesar Rp. 13.100.000.000.000,- maka
besarnya CAR bank adalah( Rp. 13.100.000.000.000,- : Rp. 131.000.000.000,-) X 100% =
10%.

Semoga bermanfaat.

Referensi :

Riyadi, Selamet (2006). Banking Assets And Liability Management, Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Peraturan Bank Indonesia terkait, diantaranya yang disebutkan dalam tulisan ini
Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia sampai saat ini secara garis besar didasarkan
pada faktor CAMEL (Capital, Assets Quality, Management, Earning dan Liquidity). Seiring
dengan penerapan risk based supervision, penilaian tingkat kesehatan juga memerlukan
penyempurnaan. Saat ini BI tengah mempersiapkan penyempurnaan sistem penilaian bank
yang baru, yang memperhitungkan sensitivity to market risk atau risiko pasar. Dengan
demikian faktor-faktor yang diperhitungkan dalam system baru ini nantinya adalah CAMEL.
Kelima faktor tersebut memang merupakan faktor yang menentukan kondisi suatu bank.
Apabila suatu bank mengalami permasalahan pada salah satu faktor tersebut (apalagi apabila
suatu bank mengalami permasalahan yang menyangkut lebih dari satu faktor tersebut), maka
bank tersebut akan mengalami kesulitan.

Sebagai contoh, suatu bank yang mengalami masalah likuiditas (meskipun bank tersebut
modalnya cukup, selalu untung, dikelola dengan baik, kualitas aktiva produktifnya baik)
maka apabila permasalahan tersebut tidak segera dapat diatasi maka dapat dipastikan bank
tersebut akan menjadi tidak sehat. Pada waktu terjadi krisis perbankan di Indonesia
sebetulnya tidak semua bank dalam kondisi tidak sehat, tetapi karena terjadi rush dan
mengalami kesulitan likuiditas, maka sejumlah bank yang sebenarnya sehat menjadi tidak
sehat.

Meskipun secara umum faktor CAMEL relevan dipergunakan untuk semua bank, tetapi bobot
masing-masing faktor akan berbeda untuk masing-masing jenis bank. Dengan dasar ini, maka
penggunaan factor CAMEL dalam penilaian tingkat kesehatan dibedakan antara bank umum
dan BPR. Bobot masing-masing faktor CAMEL untuk bank umum dan BPR ditetapkan
sebagai berikut :

Tabel Bobot CAMEL

Bobot
No. Faktor CAMEL
Bank Umum BPR
1. Permodalan 25% 30%

2. Kualitas Aktiva Produktif 30% 30%

3. Kualitas Manajemen 25% 20%

4. Rentabilitas 10% 10%

5. Likuiditas 10% 10%

Perbedaan penilaian tingkat kesehatan antara bank umum dan BPR hanya pada bobot masing-
masing faktor CAMEL. Pelaksanaan penilaian selanjutnya dilakukan sama tanpa ada
pembedaan antara bank umum dan BPR. Dalam uraian berikut, yang dimaksud dengan
penilaian bank adalah penilaian bank umum dan BPR.
Dalam melakukan penilaian atas tingkat kesehatan bank pada dasarnya dilakukan dengan
pendekatan kualitatif atas berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kondisi dan
perkembangan suatu bank. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menilai faktor-faktor
permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditas.

Pada tahap awal penilaian tingkat kesehatan suatu bank dilakukan dengan melakukan
kuantifikasi atas komponen dari masing-masing factor tersebut. Faktor dan komponen
tersebut selanjutnya diberi suatu bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan
suatu bank.

Selanjutnya, penilaian faktor dan komponen dilakukan dengan system kredit yang dinyatakan
dalam nilai kredit antara 0 sampai 100. Hasil penilaian atas dasar bobot dan nilai kredit
selanjutnya dikurangi dengan nilai kredit atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang lain
yang sanksinya dikaitkan dengan tingkat kesehatan bank.

Berdasarkan kuantifikasi atas komponen-komponen sebagaimana diuraikan di atas,


selanjutnya masih dievaluasi lagi dengan memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain
yang secara materiil dapat berpengaruh terhadap perkembangan masing-masing faktor. Pada
akhirnya, akan diperoleh suatu angka yang dapat menentukan predikat tingkat kesehatan
bank, yaitu Sehat, Cukup Sehat, Kurang Sehat dan Tidak Sehat.
PENILAIAN KESEHATAN PERBANKAN DENGAN CAMELS
Nama : Pratiani Dwi .N

Npm : 32109965

Kelas : 3db19

Analisis CAMELS digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi kinerja


keuangan bank umum di Indonesia. CAMELS merupakan kepanjangan dari
Capital (C), Asset Quality (A), Management (M), Earning (E), Liability atau
Liquidity (L), dan Sensitivity to Market Risk (S). Analisis CAMELS diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 perihal sistem penilaian Tingkat
Kesehatan Bank Umum dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/1/PBI/2007
Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip
Syariah.

Penurunan tingkat kesehatan bank secara terus-menerus dapat menyebabkan


terjadinya

financial distress

yaitu keadaan yang sangat sulit bahkan dapat dikatakan mendekati


kebangkrutan.

financial distress

pada bank apabila tidak segera diselesaikan akan berdampak besar pada bank
tersebut dengan hilangnya kepercayaan dari nasabah. Tingkat kesehatan bank
merupakan salah satu faktor penting yang menunjukkan efektifitas dan efisiensi
perbankan dalam rangka mencapai tujuannya.

Taswan (2010:537) memberikan definisi tingkat kesehatan bank sebagai hasil


penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau
kinerja suatu bank melalui penilaian faktor permodalan, kualitas aset,
manajemen, profitabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar.

Penilaian tingkat kesehatan bank dimaksudkan untuk menilai keberhasilan


perbankan dalam perekonomian Indonesia dan industri perbankan serta dalam
menjaga fungsi intermediasi. Pada masa krisis ekonomi global, bank-bank
menengah dan kecil yang tidak menerima bantuan likuiditas dari pemerintah
mengalami penurunan dana simpanan masyarakat. Menurunnya dana simpanan
masyarakat membuat industri perbankan berusaha mempertahankan dana-dana
yang mereka miliki untuk menjaga tingkat likuditas bank dengan cara
memberikan tingkat suku bunga yang tinggi.

Krisis ekonomi global berdampak negatif terhadap perbankan


konvensional Indonesia karena bank konvensional Indonesia memiliki tingkat
integritas yang tinggi dengan sistem keuangan global. Selain itu, bank
konvensional sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan tingkat suku
bunga. Hal ini dapat dilihat pada Oktober 2008 tiga bank konvensional yaitu PT
Bank Mandiri Tbk., PT Bank BNI Tbk., dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk meminta
bantuan likuiditas dari Pemerintah (Humas Bank Indonesia, 2010:8). Berbeda
dengan bank konvensional,. Bank syariah tidak rentan terhadap fluktuasi tingkat
suku bunga karena bank syariah tidak beroperasi dengan sistem bunga,
eksposure pembiayaan perbankan syariah lebih diarahkan kepada akivitas
perekonomian domestik sehingga belum memiliki tingkat integrasi yang tinggi
dengan sistem keuangan global.

Bank Indonesia menilai tingkat kesehatan bank dengan menggunakan


pendekatan kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi
suatu bank. Metode atau cara penilaian tersebut kemudian dikenal dengan
metode CAMELS yaitu Capital, Asset quality, Management, Earnings, Liquidity,
dan Sensitivity to market risk. Kriteria sensitivity to market risk merupakan
aspek tambahan dari metode penilaian kesehatan bank yang sebelumnya, yaitu
CAMEL. CAMEL pertama kali diperkenalkan di Indonesia sejak dikeluarkannya
Paket Februari 1991 mengenai sifat kehati-hatian bank. Paket tersebut
dikeluarkan sebagai dampak kebijakan Paket Kebijakan 27 Oktober 1988 (Pakto
1988). CAMEL berkembang menjadi CAMELS pertama kali pada tanggal 1 Januari
1997 di Amerika. CAMELS berkembang di Indonesia pada akhir tahun 1997
sebagai dampak dari krisis ekonomi dan moneter (Abidin, 2008:4).

Analisis CAMELS digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi kinerja


keuangan bank umum di Indonesia. CAMELS merupakan kepanjangan dari
Capital (C), Asset Quality (A), Management (M), Earning (E), Liability atau
Liquidity (L), dan Sensitivity to Market Risk (S).

Analisis CAMELS diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor


6/10/PBI/2004 perihal sistem penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan
Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/1/PBI/2007 Tentang Sistem Penilaian Tingkat
Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah.

Penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan ketentuan Bank Indonesia


mencakup penilaian terhadap faktor-faktor CAMELS yang terdiri dari:

a. Permodalan (Capital)

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor permodalan


dilakukan melalui penilaian terhadap kecukupan pemenuhan Kewajiban
Penyediaan Modal Minimum (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku. Melalui
rasio ini akan diketahui kemampuan menyanggah aktiva bank terutama kredit
yang disalurkan dengan sejumlah modal bank (Abdullah, 2003:60).

Rumus pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) adalah:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi CAR ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 1. Matriks Kriteria Peringkat Komponen Permodalan

Rasio Peringka
t

CAR 12% 1

9% CAR < 12% 2

8% CAR < 9% 3

6% < CAR < 8% 4

CAR 6% 5
(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

b. Kualitas Aset (Asset Quality)

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor aset bank dilakukan


melalui penilaian terhadap komponen aktiva produktif yang diklasifikasikan
dibandingkan dengan total aktiva produktif dan tingkat kecukupan pembentukan
penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP).

Rasio Kualitas Aktiva Produktif merupakan rasio yang mengukur


kemampuan kualitas aktiva produktif yang dimiliki bank untuk menutup aktiva
produktif yang diklasifikasikan berupa kredit yang diberikan oleh bank. Rasio ini
mengindikasikan bahwa semakin besar rasio ini menunjukkan semakin menurun
kualitas aktiva produktif (Taswan, 2010:167).

Rumus untuk menghitung KAP(1) adalah:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi KAP(1) ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 2 Matriks Kriteria Peringkat Komponen KAP(1)

Rasio Peringka
t

KAP1 2 1

2 < KAP1 3% 2

3% < KAP1 6% 3

6 < KAP1 9% 4

KAP1 > 9% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)


Rasio pemenuhan PPAP merupakan rasio yang mengukur kepatuhan bank
dalam membentuk PPAP untuk meminimalkan risiko akibat adanya aktiva
produktif yang berpotensi menimbulkan kerugian (Taswan, 2010:167).

Rumus untuk menghitung KAP(2) adalah:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi KAP(2) ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 3 Matriks Kriteria Peringkat Komponen KAP(2)

Rasio Peringka
t

KAP 110% 1

105% KAP2 < 2


110%

100% KAP2 < 3


105%

95% KAP2 < 4


100%

KAP2 < 95% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

c. Manajemen (Management)

Penelitian Merkusiwati (2007) menggambarkan tingkat kesehatan bank


dari aspek manajemen dengan rasio Net Profit Margin (NPM), alasannya karena
seluruh kegiatan manajemen suatu bank yang mencakup manajemen umum,
manajemen risiko, dan kepatuhan bank pada akhirnya akan mempengaruhi dan
bermuara pada perolehan laba. Net Profit Margin dihitung dengan membagi Net
Income atau laba bersih dengan Operating Income atau laba usaha.

Rumus NPM adalah:

(Merkusiwati, 2007)
Predikat kesehatan bank dari segi NPM ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 4 Matriks Kriteria Peringkat Komponen NPM

Rasio Peringka
t

NPM 100% 1

81% NPM < 2


100%

66% NPM < 81% 3

51% NPM < 66% 4

NPM < 51% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

d. Profitabilitas (Earnings)

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor profitabilitas bank


antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen Return on
Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Interest Margin (NIM) atau Net
Operating Margin (NOM), dan Biaya Operasional dibandingkan dengan
Pendapatan Operasional (BOPO).

ROA digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam


memperoleh laba secara keseluruhan dari total aktiva yang dimiliki
(Dendawijaya, 2009:118).

Rumus ROA adalah:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi ROA ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 5 Matriks Kriteria Peringkat Komponen ROA

Rasio Peringka
t

ROA > 1,5% 1

1,25% < ROA 2


1,5%

0,5% < ROA 3


1,25%

0 < ROA 0,5% 4

ROA 0% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

ROE mengindikasikan kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan


menggunakan ekuitasnya. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba
bersih dari bank yang bersangkutan dan selanjutnya kenaikan tersebut akan
menyebabkan kenaikan harga saham bank (Dendawijaya, 2009:119)

Rumus ROE adalah:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi ROE ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 6 Matriks Kriteria Peringkat Komponen ROE

Rasio Peringka
t

ROE > 15% 1

12,5% < ROE 2


15%

5% < ROE 3
12,5%

0 < ROE 5% 4

ROE 0% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Rasio NIM mengindikasikan kemampuan bank menghasilkan pendapatan


bunga bersih dengan penempatan aktiva produktif (Taswan, 2009:167). Bank
syariah menjalankan kegiatan operasional bank tidak dengan sistem bunga,
maka dalam penilaian rasio NIM pada bank syariah menggunakan rasio Net
Operating Margin (NOM) yang merupakan pendapatan operasi bersih terhadap
rata-rata aktiva produktif.

Rumus NIM dan NOM adalah:

Predikat kesehatan bank dari segi NIM ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 7 Matriks Kriteria Peringkat Komponen NIM/NOM

Rasio Peringka
t

NIM > 3% 1

2% < NIM 3% 2

1,5% < NIM 2% 3

1% < NIM 1,5% 4

NIM 1% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

BOPO digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi kemampuan bank


dalam melakukan kegiatan operasinya (Dendawijaya, 2009:120). Semakin tingga
rasio ini menunjukkan semakin tidak efisien biaya operasional bank.

Rumus BOPO adalah:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi BOPO ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 8. Matriks Kriteria Peringkat Komponen BOPO

Rasio Peringka
t

BOPO 94% 1

94% < BOPO 2


95%

95% < BOPO 3


96%

96% < BOPO 4


97%

BOPO > 97% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

e. Likuiditas (Liquidity)

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor likuiditas bank


dilakukan melalui penilaian terhadap komponen Loan to Deposit Ratio (LDR).

LDR menunjukkan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar


kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit
yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya (Dendawijaya, 2009:116).

Rumus LDR yaitu:

(SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)

Predikat kesehatan bank dari segi LDR ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 9. Matriks Kriteria Peringkat Komponen LDR

Rasio Peringka
t

LDR 75% 1

75% < LDR 85% 2

85% < LDR 3


100%

100% < LDR 4


120%

LDR > 120% 5

(Sumber: SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004)


f. Sensitivitas terhadap risiko pasar (Sensitivity to Market Risk)

Penilaian rasio sensitivitas terhadap risiko pasar didasarkan pada Interest


Rate Risk Ratio (IRRR) yang proksi terhadap risiko pasar. IRRR menunjukkan
kemampuan bank dalam mengcover biaya bunga yang harus dikeluarkan
dengan pendapatan bunga yang dihasilkan.
Pengukuran Tingkat Kesehatan Bank di Indonesia dengan
menggunakan metode CAMEL
Januari 6, 2010 pada 2:58 am (Uncategorized)

Kebijakan perbankan yang dikeluarkan dan dilaksanankan oleh BI pada dasarnya adalah
ditujukan untuk menciptakan dan memelihara kesehatan, baik secara individu maupun
perbankan sebagai suatu sistem. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah seperti apakah
bank yang disebut sehat itu?

Apa saja yang menjadi indikator kesehatan sebuah bank dan bagaimana pengukurannya?

Pengertian Tingkat Kesehatan Bank

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat
menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank
yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi
intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh
pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter. Dengan
menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang baik
kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang cukup,
menjaga kualitas asetnya dengan baik, dikelola dengan baik dan dioperasikan berdasarkan
prinsip kehati-hatian, menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mempertahankan
kelangsungan usahanya, serta memelihara likuiditasnya sehingga dapat memenuhi
kewajibannya setiap saat. Selain itu, suatu bank harus senantiasa memenuhi berbagai
ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan, yang pada dasarnya berupa berbagai ketentuan
yang mengacu pada prinsip-prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Penilaian tingkat kesehatan bank di Indonesia sampai saat ini secara garis besar didasarkan
pada faktor CAMEL (Capital, Assets Quality, Management, Earning dan Liquidity). Seiring
dengan penerapan risk based supervision, penilaian tingkat kesehatan juga memerlukan
penyempurnaan. Saat ini BI tengah mempersiapkan penyempurnaan sistem penilaian bank
yang baru, yang memperhitungkan sensitivity to market risk atau risiko pasar. Dengan
demikian faktor-faktor yang diperhitungkan dalam system baru ini nantinya adalah CAMEL.
Kelima faktor tersebut memang merupakan faktor yang menentukan kondisi suatu bank.
Apabila suatu bank mengalami permasalahan pada salah satu faktor tersebut (apalagi apabila
suatu bank mengalami permasalahan yang menyangkut lebih dari satu faktor tersebut), maka
bank tersebut akan mengalami kesulitan.

Sebagai contoh, suatu bank yang mengalami masalah likuiditas (meskipun bank tersebut
modalnya cukup, selalu untung, dikelola dengan baik, kualitas aktiva produktifnya baik)
maka apabila permasalahan tersebut tidak segera dapat diatasi maka dapat dipastikan bank
tersebut akan menjadi tidak sehat. Pada waktu terjadi krisis perbankan di Indonesia
sebetulnya tidak semua bank dalam kondisi tidak sehat, tetapi karena terjadi rush dan
mengalami kesulitan likuiditas, maka sejumlah bank yang sebenarnya sehat menjadi tidak
sehat.

Meskipun secara umum faktor CAMEL relevan dipergunakan untuk semua bank, tetapi bobot
masing-masing faktor akan berbeda untuk masing-masing jenis bank. Dengan dasar ini, maka
penggunaan factor CAMEL dalam penilaian tingkat kesehatan dibedakan antara bank umum
dan BPR. Bobot masing-masing faktor CAMEL untuk bank umum dan BPR ditetapkan
sebagai berikut :

Tabel Bobot CAMEL

Bobot
No. Faktor CAMEL
Bank Umum BPR

1. Permodalan 25% 30%

2. Kualitas Aktiva Produktif 30% 30%

3. Kualitas Manajemen 25% 20%

4. Rentabilitas 10% 10%

5. Likuiditas 10% 10%

Perbedaan penilaian tingkat kesehatan antara bank umum dan BPR hanya pada bobot masing-
masing faktor CAMEL. Pelaksanaan penilaian selanjutnya dilakukan sama tanpa ada
pembedaan antara bank umum dan BPR. Dalam uraian berikut, yang dimaksud dengan
penilaian bank adalah penilaian bank umum dan BPR.

Dalam melakukan penilaian atas tingkat kesehatan bank pada dasarnya dilakukan dengan
pendekatan kualitatif atas berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kondisi dan
perkembangan suatu bank. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menilai faktor-faktor
permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditas.

Pada tahap awal penilaian tingkat kesehatan suatu bank dilakukan dengan melakukan
kuantifikasi atas komponen dari masing-masing factor tersebut. Faktor dan komponen
tersebut selanjutnya diberi suatu bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan
suatu bank.

Selanjutnya, penilaian faktor dan komponen dilakukan dengan system kredit yang dinyatakan
dalam nilai kredit antara 0 sampai 100. Hasil penilaian atas dasar bobot dan nilai kredit
selanjutnya dikurangi dengan nilai kredit atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang lain
yang sanksinya dikaitkan dengan tingkat kesehatan bank.

Berdasarkan kuantifikasi atas komponen-komponen sebagaimana diuraikan di atas,


selanjutnya masih dievaluasi lagi dengan memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain
yang secara materiil dapat berpengaruh terhadap perkembangan masing-masing faktor. Pada
akhirnya, akan diperoleh suatu angka yang dapat menentukan predikat tingkat kesehatan
bank, yaitu Sehat, Cukup Sehat, Kurang Sehat dan Tidak Sehat.

Berikut ini penjelasan metode CAMEL :

1. Capital

Kekurangan modal merupakan gejala umum yang dialami bank-bank di negara-negara


berkembang. Kekurangan modal tersebut dapat bersumber dari dua hal, yang pertama adalah
karena modal yang jumlahnya kecil, yang kedua adalah kualitas modalnya yang buruk.
Dengan demikian, pengawas bank harus yakin bahwa bank harus mempunyai modal yang
cukup, baik jumlah maupun kualitasnya. Selain itu, para pemegang saham maupun pengurus
bank harus benar-benar bertanggung jawab atas modal yang sudah ditanamkan.

Berapa modal yang cukup tersebut? Pada saat ini persyaratan untuk mendirikan bank baru
memerlukan modal disetor sebesar Rp. 3 trilyun. Namun bank-bank yang saat ketentuan
tersebut diberlakukan sudah berdiri jumlah modalnya mungkin kurang dari jumlah tersebut.
Pengertian kecukupan modal tersebut tidak hanya dihitung dari jumlah nominalnya, tetapi
juga dari rasio kecukupan modal, atau yang sering disebut sebagai Capital Adequacy Ratio
(CAR). Rasio tersebut merupakan perbandingan antara jumlah modal dengan aktiva
tertimbang menurut risiko (ATMR). Pada saat ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
CAR suatu bank sekurang-kurangnya sebesar 8%.

2. Assets Quality

Dalam kondisi normal sebagian besar aktiva suatu bank terdiri dari kredit dan aktiva lain
yang dapat menghasilkan atau menjadi sumber pendapatan bagi bank, sehingga jenis aktiva
tersebut sering disebut sebagai aktiva produktif. Dengan kata lain, aktiva produktif adalah
penanaman dana Bank baik dalam rupiah maupun valuta asing dalam bentuk pembiayaan,
piutang, surat berharga, penempatan, penyertaan modal, penyertaan modal sementara,
komitmen dan kontijensi pada transaksi rekening administratif. Di dalam menganalisis suatu
bank pada umumnya perhatian difokuskan pada kecukupan modal bank karena masalah
solvensi memang penting. Namun demikian, menganalisis kualitas aktiva produktif secara
cermat tidaklah kalah pentingnya. Kualitas aktiva produktif bank yang sangat jelek secara
implisit akan menghapus modal bank. Walaupun secara riil bank memiliki modal yang cukup
besar, apabila kualitas aktiva produktifnya sangat buruk dapat saja kondisi modalnya menjadi
buruk pula. Hal ini antara lain terkait dengan berbagai permasalahan seperti pembentukan
cadangan, penilaian asset, pemberian pinjaman kepada pihak terkait, dan sebagainya.
Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif di dalam ketentuan perbankan di Indonesia
didasarkan pada dua rasio yaitu:

1) Rasio Aktiva Produktif Diklasifikasikan terhadap Aktiva

Produktif (KAP 1). Aktiva Produktif Diklasifikasikan menjadi Lancar, Kurang Lancar,

Diragukan dan Macet. Rumusnya adalah :

Penilaian rasio KAP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

Untuk rasio sebesar 15,5 % atau lebih diberi nilai kredit 0 dan

Untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 15,49% nilai kredit ditambah 1
dengan maksimum 100.

2) Rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif terhadap Aktiva

Produktif yang diklasifikasikan (KAP 2). Rumusnya adalah :

Penilaian rasio KAP untuk perhitungan PPAP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut
untuk rasio 0 % diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan 1 % dari 0 % nilai kredit
ditambah 1 dengan maksimum 100.

3. Management

Manajemen atau pengelolaan suatu bank akan menentukan sehat tidaknya suatu bank.
Mengingat hal tersebut, maka pengelolaan suatu manajemen sebuah bank mendapatkan
perhatian yang besar dalam penilaian tingkat kesehatan suatu bank diharapkan dapat
menciptakan dan memelihara kesehatannya.

Penilaian faktor manajemen dalam penilaian tingkat kesehatan bank umum dilakukan dengan
melakukan evaluasi terhadap pengelolaan terhadap bank yang bersangkutan. Penilaian
tersebut dilakukan dengan mempergunakan sekitar seratus kuesioner yang dikelompokkan
dalam dua kelompok besar yaitu kelompok manajemen umum dan kuesioner manajemen
risiko. Kuesioner kelompok manajemen umum selanjutnya dibagi ke dalam sub kelompok
pertanyaan yang berkaitan dengan strategi, struktur, sistem, sumber daya manusia,
kepemimpinan, budaya kerja. Sementara itu, untuk kuesioner manajemen risiko dibagi dalam
sub kelompok yang berkaitan dengan risiko likuiditas, risiko pasar, risiko kredit, risiko
operasional, risiko hukum dan risiko pemilik dan pengurus.

4. Earning

Salah satu parameter untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank adalah kemampuan bank
untuk memperoleh keuntungan. Perlu diketahui bahwa apabila bank selalu mengalami
kerugian dalam kegiatan operasinya maka tentu saja lama kelamaan kerugian tersebut akan
memakan modalnya. Bank yang dalam kondisi demikian tentu saja tidak dapat dikatakan
sehat.

Penilaian didasarkan kepada rentabilitas atau earning suatu bank yaitu melihat kemampuan
suatu bank dalam menciptakan laba. Penilaian dalam unsur ini didasarkan pada dua macam,
yaitu :

1) Rasio Laba terhadap Total Assets (ROA / Earning 1). Rumusnya adalah :

Penilaian rasio earning 1 dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio 0 % atau negatif diberi
nilai kredit 0, dan untuk setiap kenaikan 0,015% mulai dari 0% nilai kredit ditambah dengan
nilai maksimum 100.

2) Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (Earning 2). Rumusnya


adalah :

Penilaian earning 2 dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio sebesar 100% atau lebih
diberi nilai kredit 0 dan setiap penurunan sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 dengan
maksimum 100.

5. Liquidity

Penilaian terhadap faktor likuiditas dilakukan dengan menilai dua buah rasio, yaitu rasio
Kewajiban Bersih Antar Bank terhadap Modal Inti dan rasio Kredit terhadap Dana yang
Diterima oleh Bank. Yang dimaksud Kewajiban Bersih Antar Bank adalah selisih antara
kewajiban bank dengan tagihan kepada bank lain. Sementara itu yang termasuk Dana yang
Diterima adalah Kredit Likuiditas Bank Indonesia, Giro, Deposito, dan Tabungan
Masyarakat, Pinjaman bukan dari bank yang berjangka waktu lebih dari tiga bulan (tidak
termasuk pinjaman subordinasi), Deposito dan Pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu
lebih dari tiga bulan, dan surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu
lebih dari tiga bulan.

Liquidity yaitu rasio untuk menilai likuiditas bank. Penilaian likuiditas bank didasarkan atas
dua maca rasio, yaitu :

1) Rasio jumlah kewajiban bersih call money terhadap Aktiva Lancar. Rumusnya adalah :

Penilaian likuiditas dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio sebesar 100% atau lebih
diberi nilai kredit 0, dan untuk setiap penurunan sebesar 1% mulai dari nilai kredit ditambah
1 dengan maksimum 100.

2) Rasio antara Kredit terhadap dana yang diterima oleh bank. Rumusnya adalah :

Penilaian likuiditas 2 dapat dilakukan sebagai berikut untuk rasio 115 atau lebih diberi nilai
kredit 0 dan untuk setiap penurunan 1% mulai dari rasio 115% nilai kredit ditambah 4 dengan
nilai maksimum 100.

Dikutip dari : Hernawa Rachmanto, ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK


SYARIAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE CAMEL, UNIVERSITAS ISLAM
INDONESIA, YOGYAKARTA, 2006

Anda mungkin juga menyukai