Anda di halaman 1dari 22

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada :

Hari : Minggu

Tanggal : 12 April 2017

Tempat : dilakukan di tiga tempat, yaitu :

Plot ke-1 : Kampung Gunung Leutik, Desa Nagreg Kecamatan Nagreg

Plot ke-2 : Desa Cangkuang, Kecamatan Leles

Plot ke-3 : Kampung Lebok Pulus, Desa Sukakarya Kecamatan Samarang

Berikut adalah Peta RBI dimana kami melakukan praktikum:

B. PLOT DI RBI
Gambar 3.1 Merupakan ploting 3 plot kelompok 6

Praktikum lapangan mata kuliah Geografi Tanah dilakukan di mulai


dari plot 1 berlokasi di kawasan tambang pasir desa Nagreg. Kelompok
kami memilih lokasi pengambilan sampel tanah di pemukiman warga di
sebelah utara tambang pasir yang tepatnya di sebuah perkebunan ubi jalar.
Plot 2 berlokasi di kawasan pembuatan batu bata desa Cangkuang .
Kelompok kami memilih lokasi pengambilan sampel tanah di bekas
pengambilan bahan baku pembuatan batu bata yaitu tanah liat . Plot 3
berlokasi di kawasan Arboretum Lebok pulus yaitu tempat berbagai pohon
ditanam dan dikembangkan untuk tujuan penelitian dan pendidikan..
kelompok kami memilih lokasi pengambilan sampel tanah di sebelah barat
gedung utama arboretum yaitu sebuah lereng yang tidak terlalu banyak
vegetasinya. Pada plot 3 kami juga mengambil sampel tanah undisturb
dengan menggunakan ring sampel dan disturb dengan menggunakan bor
tanah..
Koordinat Penggunaan
Kelompo
Plot Desa/kampung lahan
k X Y
Kampung
Gunung Leutik,
6 1 107 53' 26,1" BT 07 01' 19,2" LS Desa Nagreg Kebun Ubi
Kecamatan
Nagreg
Desa
Tempat
Cangkuang,
6 2 107 55' 05" BT 07 06' 39" LS Pembuatan
Kecamatan
batu bata
Leles
Kampung
Lebok Pulus,
Arboretum
6 3 107 48' 06,5" BT 07 10' 15,8" LS Desa Sukakarya
Legok pulus
Kecamatan
Samarang

B. Indikator yang Diteliti

a. Profil dan Solum Tanah

Profil tanah adalah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri atas
lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Adapun solum tanah adalah
bagian dari profil tanah yang terbentuk sebagai akibat proses pembentukan tanah
Perbedaan horizon tanah disebabkan pengendapan yang berulangulang
oleh genangan air atau penyucian tanah (leached) dan karena proses pembentukan
tanah. Proses pembentukan horizon-horizon tersebut akan menghasilkan benda
alam baru yang disebut tanah. Penampang vertical dari tanah menunjukkan
susunan horizon yang disebut profil tanah.
Horizon-horizon yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah adalah
horizon O, A, B, C, dan D atau R (bed rock). Adapun horizon yang menyusun
solum tanah hanya terdiri atas horizon A dan B.

b. Warna Tanah
Warna tanah merupakan petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Faktor
penyebab adanya perbedaan warna permukaan tanah pada umumnya terjadi
karena perbedaan kandungan bahan organik. Semakin tinggi kandungan bahan
organik, berarti semakin gelap warna tanah.

Warna tanah disusun oleh tiga jenis variabel, yaitu sebagai berikut.
1) Hue, menunjukkan warna spektrum yang paling dominan sesuai dengan
panjang gelombangnya.
2) Value, menunjukkan gelap terangnya warna sesuai dengan banyaknya
sinar yang dipantulkan.
3) Chroma, menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.

Warna tanah dapat ditentukan dengan membandingkan warna baku


pada buku Munsell Soil Colour Chart dengan warna tanah. Warna tanah akan
berbeda apabila tanah dalam keadaan basah, lembap, atau kering. Di dalam
penentuan warna tanah perlu dicatat bagaimana kondisi tanah tersebut apakah
dalam keadaan basah, lembap, atau kering.

c. Tekstur Tanah
Tektur tanah menunjukkan kasar halusnya butiran tanah. Berdasarkan
per ban dingan banyaknya butir-butir pasir, debu, dan liat di dalam tanah
terdapat dua belas kelas tekstur tanah, yaitu sebagai berikut.
1) Pasir
2) Pasir berlempung
3) Lempung berpasir
4) Lempung
5) Lempung berdebu
6) Debu
7) Lempung liat
8) Lempung liat berpasir
9) Lempung liat berdebu
10) Liat berpasir
11) Liat berdebu
12) Liat
Dari dua belas tekstur tanah tersebut, terdapat empat kelas utama
yaitu pasir, lempung, debu dan liat. Di lapangan, tekstur tanah secara
sederhana dapat ditentukan dengan memilin tanah dengan jari-jari tangan
(kasar halusnya tanah).

d. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari tanah akibat
melekatnya butir-butir tanah satu sama lain. Struktur tanah memiliki bentuk
yang berbeda-beda, yaitu sebagai berikut.
1) Lempeng (Platy), ditemukan di horizon A.
2) Prisma (Presmatic), ditemukan di horizon B pada daerah iklim kering.
3) Tiang (Columnar), ditemukan di horizon B pada daerah iklim kering.
4) Gumpal Bersudut (Angular Blocky), ditemukan pada horizon B di
daerah iklim basah.
5) Gumpal Membulat (Sub Angular Blocky), ditemukan pada horizon B
di daerah iklim basah.
6) Granuler (Granular), ditemukan pada horizon A.
7) Remah (Crumb), ditemukan pada horizon A.
e. . Horizon boundary : batas horizon
a = abruft = nyata w = wavy = bergelombang
c = clear = jelas i = irregular = tidak beraturan
g = gradual = berangsur b = broken = lipatan
d = diffuse = baur
s = smooth = datar

f. Matrix color : intensitas warna tanah, dilihat dari buku petunjuk Munsell Soil
Color Chart.

3
4
Contoh : 2,5 YR

Mottles : karatan, ada yang berasal dari Fe dan Mn.

2 3

Missal : Fe Fe
Reduksi Merah

Kelabu Kuning

f = few = sedikit ; f = faint = baur


m = medium = sedang ; d = distinct = jelas
a = abundent = banyak ; p = prominent = nyata

g. Concretion: merupakan lanjutan dari proses Mottles hanya sifatnya keras


(akumulasi bahan-bahan dalam tanah yang bersifat keras secara kimiawi).
Dan ini tidak dapat dipecah lagi, sehingga menghambat pertanian.

Concretion yang disebabkan oleh :

Fe berwarna merah

Mn berwarna hitam

Ca berwarna putih

f = few = sedikit ; w = wake = lemah, mudah pecah


m = medium = sedang ; m = moderat = sedang
a = abundent = banyak ; h = hard = kuat, keras

h. Consistency : sifat daya tahan tanah terhadap gaya- gaya luar

so nonsticky tidaklekat
ss slightstic ky sedikitlekat

s slight lekat

vs verysticky sangatlekat

po nonplastis tidakplastis
psep slightplas tis sedikitplastis

p plastis
vp veryplastis sangatplastis

w = wet = basah
l loose lepas
vfr veryfriable sangatgembur

fr friable gembur

fi firm teguh
vfi veryfirm sangatteguh

efi extrimlyfirm extrimteguh
m = moist = lembab

f = few = sedikit = < 10 %


m = medium = sedang = 10 % - 30 %
a = abundant = banyak = >30 %
lgt = laterite grit = diameter 2 mm 3 mm
lg = laterite gravel = butiran merah bata, diameter 3 mm 10 mm
lb = laterite bourdery = besar-besar, diameter >200 mm
st = stones = batu-batu, diameter 10 mm 100 mm
g = gravel = kerikil
co = cobles = batu kerikil

l loose lepas
s soft lemah

sh slighthard sedikitkuat

h hard kuat, ker as
vh veryhard sangat ker as

eh extreamlyhard extrimkuat
d = dry = kering

i. Fauna activity : dengan melihat lubang-lubang cacing atau bekas serangga

1 7cm 2
Z = sedikit = 1 2

2 7cm 2
Z = sedang = 1 14

3 7cm 2
Z = banyak = >14
j. Clay skin : lapisan liat (sedikit mengkilat), terjadi karena adanya migrasi liat
yang sangat halus menempel pada agregat ped particle dan jika telah
mengering terlihat mengkilat.
1
C = sedikit, tipis pada bidang ped dan pori
2
C = sedang, pada bidang ped dan pori
3
C = banyak, tebal pada bidang ped dan pori
k. Cracks : retakan/celah
f = few = sedikit = <2 %
m = medium = sedang = 2 % - 20 %
a = abundent = banyak = >20 %
1 = kecil = <0.5 cm (fine)
2 = sedang = 0.5 cm 2 cm (medium)
3 = besar = >2 cm (large)
l. Pores : pori-pori tanah, dikaitkan dengan aktifitas mikroba.
f = few = sedikit ; 1 = kecil
m = medium = sedang ; 2 = sedang
a = abundent = banyak ; 3 = besar
m. Rootes : perakaran
f = few = sedikit ; 1 = kecil = <2 mm
m = medium = sedang ; 2 = sedang = 2 mm 5 mm
a = abundent = banyak ; 3 = besar = >5 mm
n. Stones/Lateritos : kandungan batu-batuan, dan laterit yang merupakan bahan
induk pada tanah Ultisol/Plinthudult. Pada permukaan tanah sering terdapat
pecahan-pecahan laterit seperti genting, berarti tanah kurang produktif secara
fisik.
Surface feature : bentuk wilayah secara umum
Flooding : kebanjiran
Parent material : bahan induk, misalnya tuf vulkanik
Sketch of land form : gambaran tanah tempat pemboran/profil
Perkolasi : tingkat perembesan, ada cepat atau lambat
Permeabilitas rate : tingkat permeabilitas, cepat atau lambat
Depth of sand : kedalaman

C. Alat Dan Bahan


Dalam kegiatan survei dan pemetaan tanah di lapangan, diperlukan beberapa
peralatan dan bahan yang harus dipenuhi guna kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan
kegiatan. Peralatan dan bahan tersebut adalah sebagai berikut:

Peralatan

1. Bor tanah (auger/core)

Gambar 3.2 contoh bor tanah.

bor tipe Belgi dengan ukuran panjang 1,25 m, digunakan untuk mengebor tanah
untuk mengetahui sifat dan penyebaran tanah di lapangan; (2) bor gambut dengan
panjang 2-5 m (dapat disambung-sambung) digunakan pada tanah-tanah gambut; (3) bor
tabung pengeruk (posthole atau bucket auger) untuk penggunaan umum; (4) bor skrup
(screw auger) digunakan pada tanah yang sangat keras atau liat berat; dan (5) bor tusuk
(soil probe) digunakan untuk pemeriksaan cepat pada tanah lunak

2. Cangkul dan sekop


Gambar 3.3 Contoh cangkul dan sekop
Digunakan untuk menggali lubang penampang/profil tanah dengan
membuat sisi penampang tegak lurus ke bawah berukuran panjang X lebar = 1,0
X 2,0 m dan kedalaman 1,5-2,0 m atau tergantung dari penampang kontrol
kedalaman dari masing-masing ordo tanah.

3. Meteran

Gambar 3.4 Contoh Meteran.


Digunakan untuk mengukur kedalaman penampang, ketebalan dan batas
lapisan (Horizon), ukuran bahan kasar (kerikil, batu), struktur, karatan, dan
perakaran. Meteran ban bentuknya agak lebar dan besar, digunakan selain untuk
mengukur ketebalan Horizon, juga untuk pengambilan dokumentasi (foto
penampang) agar angka-angka kedalamannya terlihat jelas.

4. Pisau belati
Gambar 3.5 Contoh Pisau Lapangan
Digunakan untuk menarik garis atau menandai batas lapisan, perbedaan
warna, mengambil gumpalan tanah untuk melihat struktur, tekstur; gumpalan
bahan kasar (konkresi), selaput liat; mengiris perakaran, dan mengambil contoh
tanah.
5. Buku Munsell Soil Color Chart

Gambar 3.6 Contoh Buku Munsell Soil Color Chart


Sebagai pedoman untuk menetapkan warna tanah dan semua gejala
karatan yang terdapat di dalam penampang.
6. Pengukur pH tanah
Gambar 3.7 Contoh kertas lakmus
Di lapangan, dapat berupa Ph Truog, pH elektrode, pH stick (Merck) atau
lakmus. Kisaran (range) ketelitian alat pengukuran tingkat kemasaman (pH 0-14)
bervariasi antara 0,5-1,0. Cara kerja masing- masing alat pengukur pH tersebut
nya.
7. Botol berisi air

untuk membasahi tanah yang akan ditentukan kelas tekstur dan konsistensi
tanahnya secara manual di lapangan serta warna tanah.
8. Handboard

Gambar 3.7 Contoh Papan Dada


berupa papan alas untuk pencatatan pada formulir isian di lapangan.
9. Kompas
Gambar 3.8 Contoh Kompas Bidik
Digunakan untuk menentukan arah penampang terhadap lereng atau letak
penampang terhadap sesuatu tanda tetap di lapangan, juga untuk menentukan
posisi dan arah di lapangan.
10. GPS (Global Positioning System)

Gambar 3.9 Contoh GPS


Digunakan untuk mengetahui posisi koordinat geografik (lintang-bujur)
titik pengamatan.
11. Peta rupabumi
Gambar 3.10 Peta RBI Kajian Praktikum Geografi Tanah
topografi atau potret udara untuk mengetahui posisi pengamatan di
lapangan, jaringan jalan, sungai, kampung, dan situasi wilayah lainnya.
12. Peta lapangan
Gambar 3.11 Peta Geologi Kajian Praktikum Geografi Tanah
berupa peta hasil interpretasi landform/satuan lahan atau peta analisis
digunakan untuk memplot lokasi pengamatan tanah, baik lokasi pemboran,
minipit, maupun profil.

13. Ring Sample

Gambar 3.12 Contoh Ring Sample


Digunakan untuk mengambil sampel tanah yang mengikuti volume dari
ring sampel yang ada
14. Camera

Gambar 3.13 Contoh Camera


Digunakan untuk mendokumentasikan setiap tahapan praktikum

Bahan

1. Aquades

Gambar 3.14 Contoh Aqua Dest


Digunakan untuk membasahi massa tanah guna penetapan tekstur dan
konsistensi dalam keadaan lembap dan basah, dan untuk melembapkan
penampang tanah jika terlalu kering.
2. Asam chlorida (HCl)
Gambar 3.15 Contoh botol HCL
Digunakan untuk mentest adanya bahan kapur, dan menduga kadar
relatifnya dari intensitas buihnya dengan cara meneteskan beberapa tetes.
3. Hydrogen peroksida

Gambar 3.16 Contoh Botol Hydrogen peroksida


Digunakan untuk menduga adanya pirit atau bahan sulfidik dari tanah-
tanah di daerah pantai, atau bahan organik, dari intensitas buihnya.
4. Plastik Sampel

Digunakan untuk tempat sampel tanah.

5. Karet
Digunakan untuk mengikat plastic sampel agar udara tidak masuk
6. Spidol
Gambar 3.17 Contoh Spidol
Digunakan untuk memberi label pada plastic sampel

Alat di Laboratorium

1. Gelas ukur

Gambar 3.18 Contoh Gelas ukur


Digunakan untuk sebagai alat ukur volume cairan yang tidak memerlukan
ketelitian yang tinggi, misalnya pereaksi/reagen untuk analisis kimia kualitatif
atau untuk pembuatan larutan standar sekunder pada analisis titrimetri/volumetri.
Terdapat berbagai ukuran gelas ukur ini, mulai dari 5 mL sampai 2 Liter
mengukur masa padat tanah
2. Tabung reaksi
Gambar 3.19 Contoh Tabung Reaksi
Digunakan untuk sebagai tempat dimana kita mereaksikan bahan kimia
dalam laboratorium meliat reaksi tanah yang ditetesi Hcl.
3. Pipet tetes

Gambar 3.20 Contoh Penggunaan Pipet tetes


Digunakan untuk memindahkan cairan ke tabung reaksi dalam skala kecil.
4. Timbangan
Gambar 3.21 Contoh Timbangan Digital
Digunakan untuk menimbang bahan yang akan digunakan. Neraca digital
berfungsi untuk membantu mengukur berat serta cara kalkulasi fecare otomatis
harganya dengan harga dasar satuan banyak kurang. menimbang tanah sebelum
dan sesudah proses pengovenan
5. Oven tanah

Gambar 3.22 Contoh oven tanah


Alat ini berfungsi untuk mengeringkan tanah dengan cara pemanasan pada
suhu 105o C selama 10 jam

D. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang kami lakukan dalam penelitian ini melalui
beberapa cara yaitu:

1. Observasi
Observasi lapangan yang kami lakukan dimulai dengan menentukan plot
pengamatan. Perlu kriteria khusus dalam menentukan plot dalam survey atau
pengamatan tanah. Kita harus mendapatkan tebing tanah untuk pengamatan
horizon tanah. Selain itu diperlukan hamparan tanah kosong untuk dilakukan
boring (pemboran) pada tanah.

Uji terhadap tanah juga dapat dilakukan di lapangan dengan mengambil


disturb sampel dan mengujinya dengan cara dipilin, dibuat benang dan bola.
Kemudian mengamati keadaan tanah seperti vegetasi sekitar, aktivitas organisme
dan kelembaban tanah.

Kemudian kami mengambil sampel menggunakan ring sampel untuk


mengambil undisturbed sampel yang kemudian akan dilakukan pengovenan untuk
mengetahui kadar air di dalam tanah.

2. Uji Laboratorium

Didalam penelitian ini kami mengambil beberapa sampel tanah yang


kemudian akan kami uji di laboratorium. Diantaranya, mengukur tingkat
keasaman tanah di lokasi praktikum dengan menggunakan pH Tester, kemudian
mengoven tanah untuk mengetahui kadar air dalam tanah, lalu mengukur kualitas
bahan organik yang ada di dalam tanah,dengan menetesi H2O2, selanjutnya
membakar tanah dengan menggunakan spirtus untuk mengetahui kuantitas
kandungan Bahan Organik dan untuk mengetahui kandungan kapur yaitu dengan
cara menetesi tanah dengan HCl. Dari uji laboratorium itu, kami memperoleh data
yang cukup akurat.

3. Studi Kepustakaan

Dalam penelitian ini kami harus menghasilkan data yang cukup banyak dan
membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh data tersebut, apabila kami
melakukan penelitian. Sehingga, untuk memperoleh data tersebut kami melakukan
studi pustaka agar tujuan penelitian ini dapat tercapai. Selain itu kami juga
mengumpulkan dari berbagai sumber yang kami anggap relevan dengan objek
penelitian seperti internet, artikel, majalah serta menggunakan instrument-instrumen
penelitian yang diberikan oleh Dosen.

E. Sampel

Pengambilan sampel terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut :

1. Menentukan Tempat Penelitian


Dalam menentukan tempat penelitian dilakukan dengan cara mencari daerah
lereng atau tempat yang memiliki tebing untuk memudahkan didalam menganalisa
profil tanah atau horizon-horizon tanah dan tanah sekitar yang datar untuk
memudahkan pengambilan sampel tidak terganggu (Undisturb).
2. Pemasangan Alat
Dalam pemasangan alat diletakan salah satu ring sampel pada tanah yang
datar. Jangan membasahi tanah undisturb menggunakan air sungai atau air biasa
karena akan merusak struktur tanah. Gunakan kayu yang datar untuk menekan
ringsample agar dapat menembus kedalaman tanah tertentu.
3. Pengambilan Sampel Tanah
a. Sampel Tanah Tidak Trganggu (Undisturb)
Sebelum mengambil sampel maka harus memilih lokasi yang akan diambil
sampel tanahnya kemudian dibersihkan. Untuk mengambil sampel tanah yang tidak
terganggu digunakan ring sample, kemudian ring sampel tersebut diletakan sampai batas
permukaan tanah yang datar. Lalu ring sampel dipukul sampai kedalaman 0-20. Lalu
diambil dengan menggali tanah namun jangan sampai mengganggu tanah. Tanah yang
menempel pada ring dibersihkan dengan menggunakan pisau.
Ring diangkat secara perlahan kemudian diratakan bagian atas dan bawahnya
dengan cara dipotong seperti memotong tempe baik secara horizontal ataupun vertical
dengan menggunakan pisau, kemudian dimasukan kedalam plastik sampel dan diikat
dengan karet gelang.
b. Sampel Tanah Terganggu (Disturb) untuk sifat fisik dan kimia tanah
Diambil dengan menggunakan cangkul, dengan cara membersihkan tebing dari
rerumputan atau vegetasi lain yang mengganggu terlihatnya horizon tanah. Lalu dilihat
horizon tanah dan diambil sampelnya, lalu ditentukan tekstur, strukturnya. Dengan alat
bor tanah dilakukan pengeboran tanah dengan cara mengukur maksimal kedalaman
tanah yang sudah di tentukan,antara 100-120 cm.akan tetapi agar lebih mudah dalam
prosesnya pemboran kedalamn dilakukan secara bertahap dengan ukuran lebih pendek
20cm, secara berulang hingga mencapai maksimum ukuran yang telah di tentu dan
ditentukan tekstur, strukturnya.