Anda di halaman 1dari 2

"Faktor Keterbatas kapal Yang menyinggahi Daerah

Non Bisnis Membuat Pasokan Kebutuhan Pokok


Masyarakat Kepulauan Kurang"
SURABAYA[TitikKomaPost.com] Keselamatan dan keamanan kapal standart yang tertuang
dalam SOLAS yang membagi kapal dalam dua kategori yaitu penumpang dan barang
nampaknya tidak berlaku di pelayaran nusantara khususnya Pelni dan Perintis. Atas kapal
angkut penumpang itu diberi kebijakan oleh pemerintah untuk mengkombinasi keduannya
diatur dalam PM 93 tahun 2013 tentang penyelenggaraan dan pengusahaan angkutan laut.

Salah satu pertimbangan yang memungkinkan adalah efisiensi mengingat keterbatasan


kapal-kapal cargo yang memasuki daerah diseluruh nusantara. Seperti perintis akan mubajir
kalau hanya membawa penumpang saja sedangkan kebutuhan bahan pokok penduduk
yang menjadi tujuan sandarnya sangat membutuhkan pasokan barang kebutuhan mereka.

Selama ini hanya kapal perintis yang dapat mencapai daerah-daerah itu, hal itu terjadi
karena daerah itu kurang mempunyai nilai bisnis sehingga pengusaha pelayaran engan
kapal cargonya dimasukkan kedaerah terisolasi itu.

"Sangat tidak mungkin kapal perintis hanya membatasi penumpang saja, sedangkan
mereka sangat membutuhkan kebutuhan pokok disana,"tutur Bernard Martin Mastua, PPK
Angkutan Laut Perintis Pangkalan Surabaya kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung
Perak Surabaya, Kamis (30/10/2014).

Menurut Bernard, penyediaan kapal perintis bagi masyarakat daerah tertentu adalah
program pemerintah untuk mengentas baik fungsi transportasi maupun suplay barang, jika
harus menyediakan kapal sesuai dengan fungsi masing-masing saat ini tidak mungkin
mengingat daerah yang harus ditembus perintis masih banyak lagi yang belum tergarap.

"Kedepan mungkin bisa saja pengadaan sesuai fungsi masing-masing kapal baik barang
dan penumpang sendiri-sendiri dilakukan,"ujarnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa sebenarnya kapal penumpang itu hanya
diperuntukkan untuk orang, hal itu diutarakan oleh salah satu pembicara menjawab penanya
terkait hal itu dalam acara sosialisasi peraturan pemerintah dan pelaksananya dibidang
transportasi laut yang diadakan di Novotel Surabaya Hotel & Suites, Kamis (23/10/2014).

Simson Sinaga, SE.MSc, Deputi DSimson Sinaga, SE,MSc. Deputy Director for International
Sea Traffic and Transportation, mengatakan bahwa fungsi kapal itu sudah ada aturanya
secara standart internasional dimana kapal itu dibagi antar kapal barang dengan kapal
penumpang.

Menurut Simson, Idea perusahaan pelayaran angkutan penumpang seperti pelni merubah
peruntukkan kapal dari kapal penumpang menjadi kapal penumpang dan barang, bahkan
akan menjadikan kapal tree in one s

ada idenya menjadikan kapal pelni menjadi seperti roro, itu harus mendapat kajian dan
kebijakan tersendiri.
Pada prinsipnya kapal penumpang tidak boleh menjadi kapal barang, hal ini dilihat dari
aspek keselamatannya.

"Kalau berbicara dari aspek keselamatan dan keamanannya, hal itu tentu tidak
diijinkan,"tuturnya.

Lanjut Simson, kalau kita lihat dari awal kapal penumpang itu dirancang untuk kapal khusus
mengangkut penumpang bukan untuk kapal barang, kalau hal itu digunakan artinya sudah
bergeser dari tujuan rancangan bangunan kapal itu. Pembanguna kapal itu tentu melalui
beberapa tahapan. Dengan melalui pemeriksaan, pengawasan selama pembangunan kapal
tersebut, bahkan sampai uji coba sesuai dengan bentuk fungsi kapal itu.

Menurut Simson, Idea perusahaan pelayaran angkutan penumpang seperti pelni merubah
peruntukkan kapal dari kapal penumpang menjadi kapal penumpang dan barang, bahkan
akan menjadikan kapal tree in one s

ada idenya menjadikan kapal pelni menjadi seperti roro, itu harus mendapat kajian dan
kebijakan tersendiri.

Pada prinsipnya kapal penumpang tidak boleh menjadi kapal barang, hal ini dilihat dari
aspek keselamatannya.

"Kalau berbicara dari aspek keselamatan dan keamanannya, hal itu tentu tidak
diijinkan,"tuturnya.

Lanjut Simson, kalau kita lihat dari awal kapal penumpang itu dirancang untuk kapal khusus
mengangkut penumpang bukan untuk kapal barang, kalau hal itu digunakan artinya sudah
bergeser dari tujuan rancangan bangunan kapal itu. Pembanguna kapal itu tentu melalui
beberapa tahapan. Dengan melalui pemeriksaan, pengawasan selama pembangunan kapal
tersebut, bahkan sampai uji coba sesuai dengan bentuk fungsi kapal itu.

"Jadi kondisi kapal masing-masing disesuaikan dengan fungsi nantinya kapal itu
digunakan,"ujarnya.

Dari aspek keselatan dan keamanan pelayaran, pihak yang bertanggung jawab tentunya
kesyahbandaran, namun untuk menyikapi hal itu, seharusnya pihak yang terkait bisa
menjaga pada tupoksinya masing-masing.

"Seharusnya kita saling menegakkan, jika kapal itu diperuntukkan untuk penumpang ya
harus digunakan untuk penumpang, dan jika kapal barang ya harus digunakan angkut
barang,"tegas Simson.

Terkait khususnya perintis, Bernard mengatakan bila kapal perintis itu harus menyesuaikan
dengan aturan SOLAS maka domain pemerintahlah yang harus melakukannya mengingat
pegangan perintis sudah ada pada PM 93 tahun 2013 yang menyebutkan pembagian
katagori kapal di Indonesia yaitu 1. Kapal Penumpang, 2. Kapal Barang, 3. Kapal
Penumpang dan Barang.(RA)