Anda di halaman 1dari 2

Sinektomi, Eksisi Luas, dan Teknik Inside Out

Secara klasik, pendekatan operatif terdiri dari sinektomi simpel dengan penghilangan kulit
berbentuk elips di sekitar muara sinus dan eksisi dari traktus sinus epitelial. Beberapa penulis
telah menganjurkan penggunaan methylene-blue atau gentle probing pada traktus untuk untuk
menggambarkan dengan saksama traktus tersebut. Namun, pendekatan ini tidak menjamin
penghilangan traktus secara sempurna, rekurensi yang dilaporkan cukup tinggi, sekitar 20%.
Pada tahun 1981, Emery dan Salama mendeskripsikan pendekatan eksisi luas (wide local
excision) yang menambahkan insisi supra-auricular limb dan melakukan diseksi hingga fascia
temporalis. Dari penelitian tersebut, diketahui dengan perlengketan (adherence) traktus pada
perikondrium aurikula pada 10 dari 10 pendekatan ini, dilaporkan tidak ada rekurensi dalam
waktu follow up rerata 2,7 tahun. Pada 1990, Prasad dkk membandingkan sinektomi simpel
dengan pendekatan supraaurikular (yang melibatkan sebagian perikondrium auricular). Mereka
mencatat kejadian rekurensi berurutan 42% (n=12) dan 5% (n=21), tanpa menyebutkan waktu
follow up. Pada 2001, Lam et al membandingkan kedua teknik ini dan kembali menemukan
rekurensi untuk pendekatan supra-aurikular adalah 3,7% (n=42) dibandingkan 32% (n=25) untuk
pendekatan sinektomi simpel. Follow up berkisar dari 36 bulan hingga 13 tahun. Laporan ini
mencatat rekurensi 3 bulan sampai 5 tahun (rerata, 6 bulan) setelah tindakan operasi, yang
mendukung diperlukannya periode yang panjang dari observasi pascaoperasi untuk menentukan
tingkat rekurensi yang akurat. Pendekatan supra-aurikular terdiri dari penghilangan traktus yang
luas dan dalam, tetapi referensi yang disitasikan tidak jelas menyatakan bahwa perikondrium
atau kartilago aurikulajuga dieksisi pada kelompok sinektomi simpel.
Terakhir, Baatenburg de Jong melaporkan penelitian tentang teknik inside-out, suatu
prosedur yang pertama kali digunakan oleh Jensma pada 1970, walaupun ia sendiri belum pernah
mempublikasikan deskripsinya. Dengan pendekatan ini, penggunaan pembesaran adalah
persyaratan utama. Kulit berbentuk elips diinsisi di sekitar muara traktus sebagaimana pada
sinektomi simpel, tetapi traktus kemudian dibuka dan didiseksi dengan percabangannya
mengikuti perbedaan gambaran epitelium di bawah pembesaran. Percabangan yang lebih kecil
dan traktus diikuti hingga akhir. Beetenburg de Jong juga menyebutkan penghilangan segmen
perikondrium dan juga kartilago di bawahnya. Menggunakan teknik ini, tidak ada rekurensi pada
23 pasien dengan masa follow up 1 sampai 25 bulan. Karena rekurensi sebagian disebabkan oleh
eksisi inkomplet, panjang dan kedalaman eksisi menjadi penting. Sementara pemahaman
embriologi akan membuat pemahaman operator tentang lokasi traktus, pengenalan terhadap
percabangan, struktur yang berbelit, dan kedekatan terhadap perikondrium penting untuk
pengembangan teknik mutakhir.
Karena penelitian saat ini bukan randomized control trial, temuan tinjauan ini tidak dapat
digunakan untuk menentukan apakah eksisi kartilago atau perikondrium mencegah rekurensi
sinus preaurikula. Upaya deskriptif ini didesain untuk membantu memahami hubungan histologis
antara sinus preaurikula dan kartilago yang membentuk helical rim. Histologic sectioning selalu
menunjukkan suatu elemen ketidakpastian karena pemeriksaan histologis sampling acak jaringan
yang mungkin tanpa sengaja mengacaukan hasil. Bukti menunjukkan bahwa sulit untuk
mendiseksi traktus secara komplit dari kartilago tanpa mengeksisi kartilago atau setidaknya
selapis perikondrium itu sendiri. Pada 50% spesimen yang dianalisis, jarak sinokartilago kurang
dari 0,5 mm, dan hampir pada semua kasus, traktus epithelial berkesinambungan dengan jaringan
stromal yang secara histologis sulit dibedakan dengan perikondrium. Penghilangan sebagian
kecil kartilago atau perikondrium tidak menyebabkan deformitas kosmetik yang tampak atau
menambah tingkat morbiditas secara signifikan. Dengan demikian, eksisi rutin dari sebagian
kecil perikondrium dan/atau kartilago aurikula bersamaan traktus sinus dapat membantu
mencegah rekurensi.