Anda di halaman 1dari 38

Pengertian Konsep Diri

Posted by' Hariyanto, S.Pd onJanuary 15, 2010

22

Pengertian Konsep Diri


Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah Konsep Diri. Pada

kali ini saya akan menjabarkan bagaimana pentingnya konsep diri dalam kehidupan. Sebelumnya apa sih konsep
diri itu? Jenis-jenis Konsep Diri itu apa saja?

Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan
tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga
dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi
kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa
pengertian.

Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang
tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada
akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung
tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala
keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang
dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk
diselesaikan.
Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan
seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan.
Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya.

Pengertian Konsep Diri


Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah
suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai
diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu
mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat
informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7).

Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat
informasi, pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan
mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai
dirinya.

Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau
masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung
individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya,
orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan
menarik, cantik atau tidak.

Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri
sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari
keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik,
psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.

Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita
tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri
(self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari
bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri,
dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.

Konsep dirididefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang,
perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun
sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).

Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu
cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan
membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini
sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep
diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang
dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

http://belajarpsikologi.com/pengertian-konsep-diri/

Read more: Pengertian Konsep Diri


Pengertian Konsep Diri

Ilustrasi Konsep Diri


Konsep Diri didefenisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart &
Sundeen 2005).

Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, fisikal, emosional, intelektual,
sosial dan spiritual (Keliat, 2005).

Konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari perasaan, sikap
dan persepsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memberi kita kerangka acuan yang
mempengaruhi manejemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain (Potter &
Perry, 2005).

Komponen Konsep Diri


Konsep diri terdiri dari Citra Tubuh (Body Image), Ideal Diri (Self ideal), Harga Diri (Self
esteem), Peran (Self Rool) dan Identitas(self idencity).

a. Citra Tubuh (Body Image)


Body Image (citra tubuh) adalah sikap individu terhadap dirinya baik disadari maupun tidak
disadari meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan dinamis karena secara
konstan berubah seiring dengan persepsi dan pengalaman-pengalaman baru.
Body image berkembang secara bertahap selama beberapa tahun dimulai sejak anak belajar
mengenal tubuh dan struktur, fungsi, kemampuan dan keterbatasan mereka. Body image (citra
tubuh) dapat berubah dalam beberapa jam, hari, minggu ataupun bulan tergantung pada stimuli
eksterna dalam tubuh dan perubahan aktual dalam penampilan, stuktur dan fungsi (Potter &
Perry, 2005).

b. Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan
standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan/disukainya atau
sejumlah aspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita ataupun
penghargaan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut
melahirkan penyesuaian diri. Ideal diri berperan sebagai pengatur internal dan membantu
individu mempertahankan kemampuan menghadapi konflik atau kondisi yang membuat bingung.
Ideal diri penting untuk mempertahankan kesehatan dan keseimbangan mental.

Pembentukan ideal diri dimulai pada masa anak-anak dipengaruhi oleh orang yang dekat dengan
dirinya yang memberikan harapan atau tuntunan tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu
individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dari dasar ideal diri. Pada
usia remaja, ideal diri akan terbentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman.
Pada usia yang lebih tua dilakukan penyesuaian yang merefleksikan berkurangnya kekuatan fisik
dan perubahan peran serta tanggung jawab.

b. Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa
banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan
orang lain yaitu : dicintai, dihormati dan dihargai. Mereka yang menilai dirinya positif cenderung
bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri, sebaliknya individu akan merasa dirinya
negative, relatif tidak sehat, cemas, tertekan, pesimis, merasa tidak dicintai atau tidak diterima di
lingkungannya (Keliat BA, 2005).

Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga diri akan meningkat
sesuai dengan meningkatnya usia. Harga diri akan sangat mengancam pada saat pubertas, karena
pada saat ini harga diri mengalami perubahan, karena banyak keputusan yang harus dibuat
menyangkut dirinya sendiri.

c. Peran
Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat
dihubungkan dengan fungsi individu di dalam kelompok sosial. Setiap orang disibukkan oleh
beberapa peran yang berhubungan dengan posisi pada tiap waktu sepanjang daur kehidupannya.
Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan
ideal diri.
d. Identitas Diri
Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh individu dari observasi
dan penilaian dirinya, menyadari bahwa individu dirinya berbeda dengan orang lain. Seseorang
yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan
orang lain, dan tidak ada duanya. Identitas berkembang sejak masa kanak-kanak, bersamaan
dengan berkembangnya konsep diri. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan
percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri.

http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-komponen-konsep-diri.html

MENGENAL DAN MENEMUKAN KONSEP DIRI

Saat kita membuat keputusan mengenai apa yang akan kita lakukan, hal yang pertama dilakukan
adalah biasanya menilai kemampuan diri kita. Penilaian diri merupakan bagian dari konsep diri.
Konsep diri adalah pandangan atau kesan individu terhadap dirinya secara menyeluruh yang
meliputi pendapatnya tentang dirinya sendiri maupun gambaran diri orang lain tentang hal-hal
yang dapat dicapainya yang terbentuk melalui pengalaman dan interpretasi dari lingkungannya,
meliputi tiga dimensi, yaitu (1) pengetahuan tentang diri sendiri, (2) harapan untuk diri sendiri,
dan (3) evaluasi mengenai diri sendiri.

Konsep diri terbentuk dari gambaran diri (self image) yang pembentuknya melalui proses
bertanya pada diri sendiri,

Siapakah saya?

Apa peran saya dalam kehidupan?

Bagaimana nilai-nilai yang saya anut?

Baik atau buruk?

Ingin jadi seperti apa saya kelak?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membentuk dari konsep diri yang kemudian membentuk
penghayatan terhadap nilai diri.

Proses bertanya pada diri sendiri tersebut merupakan proses untuk mengenal diri kita. Bila kita
telah menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut maka kita akan lebih mudah
menemukan konsep diri kita dan mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan konsep diri
yang kita miliki.

Pada diri seseorang konsep diri berkaitan dengan pandangannya terhadap:


Keadaan fisik (seperti bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, kondisi sehat dan sakit).

Aspek psikis (meliputi pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki)

Aspek sosial (meliputi bagaimana perasaan individu dalam lingkup perannya di


lingkungan, penilaian terhadap peran, dan kemampuan sosialisasi)

Aspek moral (bagaimana memandang baik dan buruk, apa yang boleh dan tidak boleh,
nilai-nilai agama, peraturan atau nilai-nilai masyarakat).

Mengenali kemampuan yang dimiliki, kelebihan dan kekurangan.

Tujuan dan rencana hidup, serta harapan-harapan pribadi.

Aspek seksual (meliputi identitas seksual, jenis kelamin, orientasi seksual)

Secara keseluruhan, konsep diri terdiri dari :

1.Extant self : siapa saya pada saat ini

2.Desired self : diri yang saya inginkan

3.Presenting self : diri yang saya tampilkan dilingkungan

Saat seorang manusia lahir, manusia tidak memiliki konsep diri karena tidak memiliki
pengetahuan tentang dirinya, tidak ada harapan, dan tidak ada evaluasi terhadap dirinya sendiri.
Kemudian, dalam tahun pertama kehidupan, manusia mulai membedakan antara aku dan yang
bukan aku, antara milikku dan yang bukan milikku. Disinilah proses dimulai terbentuknya
konsep diri. Konsep diri akan terus berkembang sepanjang hidup manusia (Calhoun, 1990).

Konsep diri merupakan hasil dari proses belajar manusia melalui hubungannya dengan orang
lain. Lingkungan memiliki peran yang penting dalam proses mengenal diri terutama dalam
pengalaman relasi dengan orang lain dan bagaimana orang lain memperlakukan dirinya. Dari situ
ia menangkap pantulan tentang dirinya, seperti apakah dirinya tersebut sebagai pribadi. Jadi
konsep diri seseorang dapat diketahui berdasarkan perbandingan antara apa yang ia rasakan
terhadap dirinya sendiri dengan apa yang orang lain rasakan terhadap diri orang tersebut. Oleh
sebab itu muncul presenting self (disebut juga public self) sebab biasanya orang menampilkan
diri sesuai dengan apa yang dianggap baik atau diterima oleh lingkungannya.
Markus dan Narius mengungkapkan hubungan antara extant self dan desired self pada remaja.
Remaja adalah masa dimana seseorang memiliki idola tertentu atau memiliki gambaran yang
ideal mengenai sesuatu yang akhirnya membentuk desired self.

Ada 3 kemungkinan yang muncul jika kita menghubungkan antara extant self dan desired self :

Bila kesenjangan antara extant self dan desired self kecil. Ini berarti seseorang merasa
puas pada dirinya dan mungkin tidak ingin mengembangkan diri untuk menjadi lebih
baik.

Bila kesenjangan antara extant self dan desired self besar. Ini berarti bahwa seseorang
mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk berubah dan mungkin tidak realistik.

Bila kesenjangan antara extant self dan desired self moderat (sedang- sedang saja).
Kondisi ini adalah yang paling bagus, karena orang itu menyadari keadaan dirinya
sekarang dan menentukan tujuan yang masuk akal sehingga membuatnya terpacu untuk
mengembangkan dirinya.

Calhoun (1990) membagi konsep diri menjadi dua, yaitu : konsep diri positif dan konsep diri
negatif. Penilaian terhadap konsep diri terbayang dari positif ke negatif. Remaja yang memiliki
konsep diri positif akan sangat mengenali dirinya, kelebihan dan juga kelemahannya disamping
itu ia tidak terpaku pada kelemahannya. Ia dapat mengakui dan menerima kelemahanya tersebut
tanpa rasa rendah diri dan hal itu justru memacunya untuk menjadi individu yang lebih baik
dengan cara mengembangkan kelebihannya. Sedangkan pada remaja yang memilki konsep diri
negatif , ia hanya akan terpaku pada kelemahannya dan menjadi rendah diri.

Derajat positif-negatif dari konsep diri akan berpengaruh pada rasa percaya diri seseorang dan
akhirnya mempengaruhi tingkah lakunya. Remaja dengan konsep diri positif akan lebih percaya
diri dan merasa yakin bahwa dirinya memiliki andil terhadap segala sesuatu yang terjadi pada
dirinya. Akibatnya, ia akan lebih bersemangat untuk berusaha mencapai segala tujuannya.

Konsep diri yang negatif membuat remaja cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal yang
negatif dalam dirinya, sehingga sulit menemukan hal-hal positif dan pantas dihargai dalam
dirinya.

Remaja yang mempunyai konsep diri negatif mudah mengecam dan menyalahkan diri sendiri
karena merasa kurang cantik atau kurang berbakat. Oleh karena itu konsep diri yang negatif
cenderung membawa remaja pada kegagalan. Perasaan tidak mampu dan bayang-bayang
kegagalan justru akan menghambat keberhasilan; sehingga sering kali bayang-bayang kegagalan
tersebut menjadi kenyataan, dan remaja tersebut akhirnya menghindari kesempatan. Kesempatan
yang sebenarnya mungkin saat bermanfaat bagi pengembangan dirinya.
Dari uraian diatas, jelaslah bahwa konsep diri mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita.
Konsep diri yang baik dapat berakibat baik pada diri kita dan sebaliknya, konsep diri yang buruk
dapat berdampak negatif pada diri kita.

Untuk mengembangkan konsep diri yang sehat dan positif, kita sebaiknya:

1.Belajar tentang diri sendiri. Pekalah terhadap setiap informasi, umpan balik, baik yang positif
maupun negatif tentang diri kita, baik melalui pengalaman maupun yang diberikan langsung oleh
orang yang berarti penting bagi diri kita sendiri. Ujilah informasi itu dan jangan cepat termakan
olehnya karena siapa tahu informasi tersebut salah.

2.Mengembangkan kemampuan untuk menemukan unsur-unsur positif yang kita miliki dan segi-
segi negatif yang kita miliki.

3.Menerima dan mengakui diri sebagai manusia biasa dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, yang dapat berhasil tetapi bisa juga mengalami kegagalan. Terimalah diri kita
apa adanya dengan terus berusaha utuk memperbaiki, mengembangkan dan menyempurnakan
diri.

4.Memandang diri sebagai manusia yang berharga, yang mempunyai tujuan dan cita-cita menjadi
manusia bermutu dan mampu memberikan sumbangan bagi kehidupan. Kita berusaha menjadi
aktif dan mengarahkan diri menuju ke tujuan dan sasaran hidup kita. Dengan kegiatan dan usaha
kita pada suatu saat kita akan mampu mencapai apa yang harus dan dapat kita capai. Karena
berkat kegiatan dan usaha itu diri dan kemampuan serta potensi kita berkembang.

http://pkbi-diy.info/?page_id=3558

Perkembangan Konsep Diri

Perkembangan Konsep diri

Konsep diri merupakan salah satu aspek perkembangan psikologi peserta didik yang
penting yang dialami oleh seorang guru. Karena merupakan salah satu variabel yang menentukan
dalam proses pendidikan. Rendahnya prestasi siswa dan motivasi belajar siswa serta terjadinya
penyimpangan-penyimpangan perilaku siswa dikelas banyak disebabkan oleh persepsi dan sikap
negatif siswa terhadap diri sendiri. Sama hal nya terhadap siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajar banyak disebabkan oleh sikap siswa yang memandang dirinya tidak mampu
melaksanakan tugas-tugas di sekolah.

Pengertian Konsep Diri

Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, konsep diri merupakan faktor bentukan
dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses
pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara
berkesinambungan. Menurut Burns konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia,
namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam tempo yang lebih
lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan lingkungannya, dan
individu akan mulai dapat membedakan keduanya.

Seifert dan Hoffnung (1994), misalnya mendefinisikan konsep diri sebagai suatu
pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri sendiri. Santrock (1996) menggunakan istilah
konsep diri mengacu pada evolusi bidang tertentu dari diri sendiri. Atwater (1987) menyebutkan
bahwa konsep diri adalah keseluruhan konsep diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri,
perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirnya. Atwater mengidentifikasi
konsep diri atas tiga bentuk :

1. Body image , kesadaran tentang tubuhnya, yakni bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.
2. Ideal self, yatu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya.
3. Social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.

Menurut Burn (1985), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang
diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater 1984), mendefinisikan konsep diri sebagai
sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tenang dirinya,
termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.

Pemily (dalam Atwater, 1984) Sistem yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang
dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, presepsi, nilai-nilai dan tingkah
laku yang unik dari individu tersebut.Cawagas (1983) Mencakup seluruh pandangan individu
akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya,
kegagalanya, dan sebagainya.

Individu mengembangkan konsep dirinya dengan cara menginternalisasikan persepsi


orang-orang terdekat dalam memandang dirinya. Jika individu memperoleh perlakuan yang
penuh kasih sayang maka individu akan menyukai dirinya. Seseorang akan menyukai dirinya
jika orang tua memperlihatkan penilaian yang positif terhadap si individu. Ungkapan seperti
Anakku Rajin membuat anak memandang dirinya secara positif dibandingkan dengan nama
panggilan Si Gendut. Sebaliknya, jika individu mendapatkan hukuman dan situasi yang tidak
menyenangkan maka individu akan merasa tidak senang pada dirinya sendiri. Umpan balik dari
teman sebaya dan lingkungan sosial selain keluarga mulai mempengaruhi pandangan dan juga
penilaian individu terhadap dirinya. Tahap ini oleh Allport disebut dengan tahap perkembangan
diri sebagai pelaku. Individu mulai belajar untuk bisa mengatasi berbagai macam masalah secara
rasional.

Menurut Fuhrman, Pada masa remaja, individu mulai menilai kembali berbagai kategori
yang telah terbentuk sebelumnya dan konsep dirinya menjadi semakin abstrak. Penilaian kembali
pandangan dan nilai-nilai ini sesuai dengan dengan tahap perkembangan kognitif yang sedang
remaja, dari pemikiran yang bersifat konkrit menjadi lebih abstrak dan subjektif. Piaget
mengatakan bahwa remaja sedang berada pada tahap formal operasional, individu belajar untuk
berpikir abstrak, menyusun hipotesis, mempertimbangkan alternatif, konsekuensi, dan
instropeksi. Masa remaja merupakan masa terpenting bagi seseorang untuk menemukan dirinya.
Mereka harus menemukan nilai-nilai yang berlaku dan yang akan mereka capai di dalamnya.
Individu harus mulai belajar untuk mengatasi masalah-masalah, merencanakan masa depan, dan
khususnya mulai memilih jenis pekerjaan yang akan digeluti secara rasional.

Perkembangan kognitif yang terjadi selama masa remaja membuat individu melihat
dirinya dengan pemahaman yang berbeda. Kapasitas kognitif seperti itu didapatkan selama
melakukan pengamatan terhadap perubahan-perubahan yang dipahami sebagai perubahan diri
yang disebabkan oleh perubahan fisik secara kompleks dan perubahan sistem sosial. Fuhrmann
mengungkapkan bahwa pada masa ini individu mulai dapat melihat siapa dirinya, ingin menjadi
seperti apa, bagaimana orang lain menilainya, dan bagaimana mereka menilai peran yang mereka
jalani sebagai identitas diri. Bisa dikatakan bahwa salah tugas penting yang harus dilakukan
remaja adalah mengembangkan persepsi identitas untuk menemukan jawaban terhadap
pertanyaan Siapakah saya ? dan Mau jadi apa saya ?. Masa remaja konsep diri merupakan
inti dari kepribadian dan sangat mempengaruhi proses perkembangan selanjutnya.

Perjalanan untuk pencarian identitas diri tersebut bukan merupakan proses yang langsung
jadi, melainkan sebuah proses berkesinambungan. Konsep diri mulai terbentuk sejak masa bayi
di saat individu mulai menyadari keberadaan fisiknya sampai ketika mati di saat individu sudah
banyak memahami dirinya, baik secara fisik maupun psikologis.

Jadi, konsep diri yang berupa totalitas persepsi, pengharapan, dan penilaian seseorang
terhadap dirinya sendiri terbentuk berdasarkan proses belajar tentang nilai, sikap, peran, dan
identitas yang berlangsung seiring tugas perkembangan yang diemban.

Kesimpulan konsep diri merupakan gagasan tentang diri sendiri yang mencakup
keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, serta bagaimana cara
kita melihat, merasakan, dan menginginkan diri kita sendiri.

Konsep Diri dan Harga Diri

Kajian psikologi perkembangan, sering dijumpai istilah harga diri (self-esteem)di


samping istilah konsep diri (self concept). Bahkan para peneliti tidak selalu menyebutkan
perbedaan yang jelas antara harga diri dan konsep diri ini. Akan tetapi ada ahli lain yang
mengatakan bahwa konsep diri dan harga diri itu berbeda.

Menurut santorck (1998), harga diri adalah dimensi penilaian yang menyeluruh dari diri.
Harga diri ini sering disebut dengan self-worth atau self-image. Sedangkan konsep diri adalah
penilaian terhadap domain yang spesifik. Coopersmith (1967) dalam karya klasiknya the
Antecendents of Self Esteem, mendefinisikan harga diri sebagai berikut :

self-esteem refers to the evaluation that individual makes and customarily maintens with regard
to himself: it expresses and attitude of approval or disapproval and indicates the extent to which
the individuals believes himself to be capable, singnificant, successful, and worthy.
Jadi, harga diri adalah evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara positif atau
negatif. Evaluasi individu tersebut terlihat dari pengharaan yang ia berikan terhadap eksistensi
dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri positif akan menerima dan meghargai
dirinya sendiri sebagaimana adanya serta tidak cepat-cepat menyalahkan dirinya atas kekurangan
atau ketidaksempurnaan dirinya. Selalu merasa puas dan bangga dengan hasil karyanya sendiri
dan selalu percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan.

Dimensi Konsep Diri

Secara umun para ahli menyebutkan 3 dimensi konsep diri, meskipun dengan
menggunakan istilah yang berbeda-beda. Calhoun dan Acocella (1990) misalnya, menyebutkan 3
dimensi utama dari konsep diri, yaitu: dimensi pengetahuan, dimensi penghargaan, dan dimensi
penilaian. Paul J.Centi(1993) menyebutkan ketiga dimensi konsep diri dengan istilah : dimensi
gambaran diri (self-image), dimensi penilaian diri (self-evaluation), dan dimensi cita-cita diri
(self-ideal). Sebagian ahli lainnya menyebutkan dengan istilah: citra diri, harga diri, dan diri
ideal.

Pengetahuan. Dimensi pertama dri konsep diri adalah apa yang kita ketahui tentang diri
sendiri atau penjelasan dari siapa saya yang akan memberi gambaran tentang diri saya.
Gambaran diri tersebut akan pada gilirannya akan memebentuk citra diri. Gambaran tersebut
merupakan kesimpulan dari : pandangan kita dalam berbagai peran yang kita pegang, seperti
orangtua, suami atau istri, karyawan, pelajar dan seterusnya. Singkatnya, dimensi pengetahuan
(kognitif) dari konsep diri mencakup segala sesuatu yang kita pikirkan tentang diri kita sebagai
pribadi, seperti saya pintar, saya anak baik, saya cantik dan seterusnya.

Harapan. Dimensi kedua adalah dimensi harapan atau diri yang dicita-citakan dimasa
depan. Tentang pandangan siapakah kita, sehingga timbul sebuah keinginan akan menjadi apa
diri kita dimasa depan. Pengharapan ini merupakan diri-ideal (self-ideal) atau diri yang dicita-
citakan. Cita-cita diri terdiri dari dambaan, harapan, keinginan bagi diri kita atau ingin menjadi
manusia seperti apa yang kita inginkan. Oleh sebab itu, dalam menetapkan diri ideal haruslah
lebih realistis, sesuai dengan potensial dan kemampuan diri yang dimiliki, tidak terlalu tinggi dan
tidak pula terlalu rendah.
Dimensi ketiga adalah penilaian, dimana penilaian terhadap diri sendiri. Juga merupakan
pandangan kita tentang harga kewajaran kita sebagai pribadi. Calhoun dan Acocella (1990) setiap
hari kita berperan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, menilai apakah kita bertentangan: 1)
pengharapan bagi diri kita sendiri (saya dapat menjadi apa), 2) standar yang kita tetapkan bagi
diri kita sendiri (saya seharusnya menjadi apa). Hasil dari penilaian tersebut membentuk apa
yang disebut dengan rasa harga diri yaitu, seberapa besar kita menyukai diri sendiri.

Konsep diri dan Perilaku

Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menentukan tingkah laku seseorang.
Menurut Felker (1974) terdapat tiga peranan penting konsep diri dalam menentukan perilaku
seseorang, yaitu:

Pertama , self-cincept as maintainer of iner consistency. Konsep diri memainkan peranan dalam
mempertahankan keselarasan batin seseorang. Bila individu memiliki ide, perasaan,
presepsi, atau pikiran yang tidak seimabang atau saling bertentangan, maka akan terjadi
situasi psikologis yang tidak menyenagkan. Maka diperlukan sistem mempertahankan
kesesuaian antara individu dengan lingkungannya.

Kedua, self-concept as an interpretation of experience. Konsep diri menentukan bagaimana


individu memberikan penafsiran atas pengalamannya. Sebuah kejadian akan ditafsirkan
secara berbeda antara individu satu dengan yang lain , karena masing- masing individu
memiliki pandangan dan penafsiran tersendiri.

Ketiga, self-concept as set of expectations. Konsep diri juga berperan sebagai penentu
pengharapan individu. Pandangan negatif terhadap dirinya menyebabkan individu
mengharapkan tingkat keberhasilan yang akan dicapai hanya pada taraf yang rendah.

Konsep Diri dan Prestasi Belajar

Sejumlah ahli psikologi dan pendidikan berkeyakinan bahwa konsep diri dan prestasi
belajar mempunyai hubungan yang erat. Nylor (1972) mengemukakan bahwa banyak peneliti
yang membuktikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi belajar
disekolah. Siswa yang memiliki konsep diri positif , memperlihatkan prestasi yang baik
disekolah, atau siswa tersebut memeiliki penilaian diri yang tinggi serta menunjukkan antar
pribadi yang positif pula.

Walsh (dalam Burns, 1982) siswa-siswa yang tergolong underchiver mempunyai konsep
diri yang negatif, serta memperlihatkan beberapa karakteristik kepribadian; 1) mempunyai
perasaan dikeritik, ditolak, dan diisolir. 2) melakukan mekanisme pertahanan diri dengan cara
menghindar dan bahkan bersikap menentang. 3) tidak mampu mengekspresikan perasaan dan
prilaku.

Karakteristik Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik

Konsep diri bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir . Kita tidak dilahirkan dengan
konsep didri tertentu. Bahkan ketika kita lahir, kita tidak memiliki konsep diri , tidak mengetahui
tentang diri, dan tidak memiliki pengharapan bagi diri kita sendiri , serta tidak memiliki penilaian
apapun terhadap diri sendiri. Dengan demikian konsep diri terbentuk melelui proses belajar yang
berlangsung sejak masa pertumbuhan hingga dewasa. Akan lebih lengkap dibahas mengenai
karakteristik perkembangan konsep diri peserta didik.

Karakteristik Konsep Diri Anak Usia Sekolah

Sejalan dengan pertumbuhan fisik, kognitif dan sikap maupun prilaku anak usia dasar
juga mengalami perubahan dalam konsep dirinya. Pada awal masuk sekolah dasar kemungkinan
anak-anak mengalami penurunan dalam konsep dirinya, hal ini disebabkan karena tuntunan baru
dalam hal belajar dan situasi maupun perubahan sosial. Di sekolah dasar ini banyak memberikan
kesempatan anak-anak untuk membandingkan dirinya dengan orang lain yaitu teman-temannya,
sehingga penilaian dirinya secara gradual menjadi realistis. Anak-anak tersebut lebih mungkin
melakukan langkah-langkah guna untuk mempertahankan keutuhan harga dirinya. Mereka sering
memfokuskan bidang-bidang yang mereka anggap unggul (seperti: olahraga, hobi, hubungan
sosial, akademik, dll).
Menurut Santrock (1995), perubahan-perubahan dalam konsep diri anak selama tahun-
tahun sekolah dasar dapat dilihat setidaknya dari tiga karakteristik konsep diri, yaitu : (1)
Karakteristik internal

Anak-anak sekolah dasar lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal dari pada
karakteristik eksternal, hal ini berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak prasekolah.

(2) Karakteristik aspek-aspek sosial

Selama belajar yakni bertahun-bertahun di sekolah dasar, aspek-aspek sosial pun dalam
pemahaman dirinya mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu. Anal-anak sekolah dasar
sering kali menjadikan kelompok-kelompok sosial sebagai acuan dalam deskripsi diri mereka,
misalnya sejumlah anak menyebut diri mereka sebagai kelompok pramuka perempuan, sebagai
seorang muslim, atau yang saling bersahabat karib.

(3) Karakteristik perbandingan sosial

Pada tahap ini anak-anak cenderung membedakan diri mereka dari orang lain secara
komparatif atau secara absolut. Misalnya, anak-anak sekolah dasar tidak lagi berpikir tentang apa
yang aku lakukan atau yang tidak aku lakukan tetapi cenderung berpikir tentang apa yang
dapat aku lakukan dibandingkan apa yang dapat dilakukan oleh orang lain. Sehingga ini
menyebabkan suatu kecenderungan yang meningkat umtuk membentuk diri sehingga berbeda
dari orang lain dan menjadikan diri sebagai seorang individu.

RobertSelmen (dalam Santrock,1995) misalnya, percaya bahwa pengambilan perspektif


melibatkan suatu rangkaian yang terdiri atas lima tahap, yang berlangsung dari usia 3 tahun
hingga masa remaja. Selmen mencatat bahwa egosentrisne mulai mengalami kemunduran pada
usia 4 tahun , dan pada usia 6 tahun anak akan menyadari bahwa pandangan orang lain berbeda
dengan dirinya. Pada usia 10 tahun, mereka mulai mampu untuk mempertimbangkan
pandangannya sendiri dan pandangan orang lain secara bersamaan.

TABEL. Tahap-tahap Pengambilan Perspektif

Tahap Usia Deskripsi


Pengambilan
Perspektif

Perspektif yang 3-6 Anak merasakan adanya perbedaan dengan orang lain, tetapi
egosentris belum mampu membedakan antara perspektif sosial
(pemikiran, perasaan) orang lain dan perspektif diri sendiri.
Anak dapat menyebutkan perasaan orang lain, tetapi tidak
melihat hubungan sebab dan akibat pemikiran dan tindakan
sosial.

Anak sadar bahwa orang lain memiliki suatu perspektif sosial


yang didasarkan atas pemikiran orang itu, yang mungkin
Pengambilan sama atau berbeda dengan pemikirannya. Tetapi, anak
6-8
Perspektif sosial cenderung berfokus pada perspektifnya sendiri dan bukan
internasional mengkoordnasikan sudut pandang.

Anak sadar bahwa setiap orang sadar akan perspektif orang


lain dan bahwa kesadaran ini mempengaruhi pandangan
dirinya dan pandangan orang lain. Menempatkan diri sendiri
Pengambilan di tempat orang lain merupakan suatu cara untuk menilai
keputusan diri maksud, tujuan, dan tindakan orang lain. Anak dapat
reflektif membentuk suatu mata rantai perspektif yang terkoordinasi,
8-10 tetapi tidak dapat mengabstaksikan proses-proses ini pada
tingkat timbal balik secara serentak.

Anak remaja menyadari bahwa baik diri sendiri maupun


orang lain dapat memandang satu sama lain secara timbal
balik dan secara serentak sebagai subjek. Anak remaja dapat
melangkah ke luar dari kedua orang itu dan memandang
interaksi dari perspektif orang ketiga.

Saling mengambil Anak remaja menyadari pengambilan perspektif bersama


perspektif tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sempurna.
Konvensi sosial dilihat sebagai sesuatu yang penting karena
dipahami oleh semua anggota kelompok, tanpa memandang
posisi, peran, atau pengalaman mereka.

Pengambilan
10-12
perspektif sistem
sosial dan
konvensional

12-15

Karakteristik Konsep Diri Remaja (SMP-SMA)

Pada remaja, konsep diri akan berkembang terus hingga memasuki masa dewasa.
Perkembangan konsep diri remaja memiliki karakteristik yang khas dibanding dengan usia
perkembangan lainnya.

Sejak kecil individu telah dipengaruhi dan dibentuk oleh pengalaman yang dijumpai
dalam hubungannya dengan individu lain, terutama dengan orang-orang terdekat, maupun yang
didapatkan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan. Sejarah hidup individu dari masa lalu dapat
membuat dirinya memandang diri lebih baik atau lebih buruk dari kenyataan sebenarnya (Centi,
1993).

Hurlock (1999) mengatakan bahwa konsep diri bertambah stabil pada periode masa
remaja. Konsep diri yang stabil sangat penting bagi remaja karena hal tersebut merupakan salah
satu bukti keberhasilan pada remaja dalam usaha untuk memperbaiki kepribadiannya. Banyak
kondisi dalam kehidupan remaja yang turut membentuk pola kepribadian melalui pengaruhnya
pada konsep diri.

Menurut Hurlock (1999), terdapat delapan kondisi-kondisi yang mempengaruhi konsep diri
remaja, yaitu:

1. Usia kematangan

Remaja yang matang lebih awal, yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa,
mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan
baik. Remaja yang terlambat matang, yang diperlakukan seperti anak-anak, merasa salah
dimengerti dan bernasib kurang baik sehingga cenderung berperilaku kurang dapat
menyesuaikan diri.

2. Penampilan diri

Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan
yang ada menambah daya tarik fisik. Setiap cacat fisik merupakan sumber yang memalukan yang
mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya, daya tarik fisik menimbulkan penilaian yang
menyenangkan tentang ciri kepribadian dan menambah dukungan sosial.

3. Kepatutan seks

Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat, dan perilaku membantu remaja mencapai
konsep diri yang baik. Ketidakpatutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini memberi
akibat buruk pada perilakunya.

4. Nama dan julukan

Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman sekelompok menilai namanya buruk
atau mereka memberi nama julukan yang bernada cemooh.

5. Hubungan keluarga

Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota keluarga
akan mengidentifikasi diri dengan orang tersebut dan ingin mengembangkan pola kepribadian
yang sama.
6. Teman-teman sebaya

Teman-teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara. Pertama,
konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-teman tentang
dirinya. Kedua, ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui
kelompok.

7. Kreativitas

Remaja yang semasa kanak-kanak didorong agar kreatif dalam bermain dan dalam tugas-
tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas dari identitas yang memberi pengaruh
yang baik pada konsep dirinya

8. Cita-cita

Bagi remaja yang mempunyai cita-cita yang tidak relistik, akan mengalami kegagalan.
Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan dimana ia akan
menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Remaja yang realistik tentang kemampuannya akan
lebih banyak mengalami keberhasilan dari pada kegagalan.

Ciri-Ciri Konsep Diri Anak

1.Senang/suka berpenampilan menarik dalam berpakaian,perasaan dann sebagainya

2.Anak mulai tekun/giat mulai melakukan aktivitas dimulai dari dirinya sendiri

3.Suka meniru satu sama lain antar anak dengan orang dewasa

4. Sudah dapat mengikuti dan mengerti instruksi/petunjuk sederhana dengan teman sebaya

5.Dapat mengambar sesuatu objek yang dikenal

6.Menunjukan kemampuan memahami perasaan orang lain

7. Anak saling mengajukan pertanyaan dan meminta arti dan maksud dari kata yang belum pernah
ia kenal

8. Senang membuat sesuatu dengan tangannya dalam bentuk permainan


Usaha-Usaha Guru Untuk Mengembangkan Konsep Diri

Beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh sang pendidik sebagai berikut:

1. Lakukan interaksi dengannya dengan mengunakan bahasa tubuh

2. Beri kesempatan padanya untuk melakukan sesuatu dengan caranya sendiri,tampilanya dan
ekspresinya

3. Ajarkan keterampilan yang diperlukan untuk mengasah kemandiriannya

4. Berikan stimulus,semangat agar ia mau mencoba sesuatu yang baru,baik dalam bentuk
permainan atau benda lainya

5. Berikan pujian atau penghargaan ketika ia melakukan sesuatu yang baik

6. Guru harus mengajarkan cara mengatasi kegagalan,rasa takut ketika melakukan sesuatu dan
berikan penguatan tentang kemampuan dirinya

7. Berikan anak waktu bermain yang banyak,dengan cara

8. Bermain sambil belajar.

Implikasi Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik terhadap Pendidikan

Konsep diri mempengaruhi prilaku peserta didik dan mempunyai hubungan yang sangat
menentukan proses pendidikan dan prestasi belajar mereka. Peserta didik yang mengalami
masalah disekolah pada umumnya menunjukkan tingkat konsep diri yang rendah, oleh sebab itu
dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan guru sebaiknya melakukan upaya-upaya yang
memungkinkan terjadinya peningkatan konsep diri. Strategi yang dapat dilakukan dalam
mengembangkan dan meningkatkan konsep diri peserta didik:
1. Membuat siswa merasa mendapat dukungan dari guru. Dalam mengembangkan konsep diri yang
positif , siswa perlu mendapat dukungan dari guru. Seperti dukungan emosional , pemberian
penghargaan, dan dorongan untuk maju.
2. Membuat siswa merasa bertanggung jawab . memberi kesempatan terhadap siswa untuk
membuat keputusan sendiri atas perilakunya dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberi
tanggung jawab terhadap siswa.
3. Membuat siswa merasa mampu. Ini dapat dilakukan dengan cara menunjukkan sikap dan
pandangan yang positif terhadap kemampuan yang dimiliki siswa.
4. Mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan yang realistis. Dalam upaya meningkatkan konsep
diri siswa, guru harus menetapkan tujuan yang hendak dicapai serealistis mungkin, yakni tujuan
yang sesuai dengan tujuan yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
5. Membantu siswa menilai dirinya secra realistis . pada saat mengalami kegagalan , adakalanya
siswa menilai secara negatif, dengan memandang dirinya sebagai orang yang tidak mampu.
6. Mendorong siswa agar bangga dengan dirinya secara realistis. Upaya lain yang harus dilakukan
guru dalam membantu mengembangkan konsep diri peserta didik adalah dengan memberikan
dukungan dan dorongan agar mereka bangga dengan prestasi yang telah dicapai.

http://keynahkhunhasna.blogspot.co.id/2013/06/perkembangan-konsep-diri_1.html

Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi terkait Masalah Konsep


Diri

Faktor Predisposisi dan Faktor Presipitasi terkait Masalah Konsep Diri


Oleh: Fallah Adi Wijayanti, NPM.0806457035
Mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
I. Pendahuluan
Konsep diri merupakan citra subjektif dari diri dan pencampuran yang kompleks dari
perasaan, sikap, dan presepsi bawah sadar maupun sadar. Beberapa orang mungkin mengalami
masalah pada konsep dirinya. Masalah konsep diri harus bisa dikaji dengan baik. Faktor
predisposisi dan faktor presipitasi merupakan bagian dari pengkajian dalam proses keperawatan
pada individu yang mengalami masalah konsep diri. Oleh karena itu, pada laporan tugas mandiri
ini akan dibahas tentang faktor predisposisi dan faktor presipitasi terkait dengan masalah konsep
diri. Laporan tugas mandiri ini dibuat dengan telaah studi pustaka dan mengunduh dari internet.
II. Pembahasan
Proses asuhan keperawatan dalam pengkajian pada masalah konsep diri dapat dilihat dari
faktor predisposisi dan faktor presipitasi.
A. Faktor Predisposisi
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri.

Harga diri adalah sifat yang diwariskan secara genetik. Pengaruh lingkungan sangat
penting dalam pengembangan harga diri. Faktor-faktor predisposisi dari pengalaman masa anak-
anak merupakan faktor kontribusi pada gangguan atau masalah konsep diri. Anak sangat peka
terhadap perlakuan dan respon orang tua. Penolakan orang tua menyebabkan anak memilki
ketidakpastian tentang dirinya dan hubungan dengan manusia lain. Anak merasa tidak dicintai
dan menjadi gagal mencintai dirinya dan orang lain.
Saat ia tumbuh lebih dewasa, anak tidak didorong untuk menjadi mandiri, berpikir untuk
dirinya sendiri, dan bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri. Kontrol berlebihan dan rasa
memiliki yang berlebihan yang dilakukan oleh orang tua dapat menciptakan rasa tidak penting
dan kurangnya harga diri pada anak. Orangtua membuat anak-anak menjadi tidak masuk akal,
mengkritik keras, dan hukuman.
Tindakan orang tua yang berlebihan tersebut dapat menyebabkan frustasi awal, kalah, dan
rasa yang merusak dari ketidak mampuan dan rendah diri. Faktor lain dalam menciptakan
perasaan seperti itu mungkin putus asa, rendah diri, atau peniruan yang sangat jelas terlihat dari
saudara atau orangtua. Kegagalan dapat menghancurkan harga diri, dalam hal ini dia gagal dalam
dirinya sendiri, tidak menghasilkan rasa tidak berdaya, kegagalan yang mendalam sebagai bukti
pribadi yang tidak kompeten.
Ideal diri tidak realistik merupakan salah satu penyebab rendahnya harga diri.Individu yang
tidak mengerti maksud dan tujuan dalam hidup gagal untuk menerima tanggung jawab diri
sendiri dan gagal untuk mengembangkan potensi yang dimilki. Dia menolak dirinya bebas
berekspresi, termasuk kebenaran untuk kesalahan dan kegagalan, menjadi tidak sabaran, keras,
dan menuntut diri. Dia mengatur standar yang tidak dapat ditemukan. Kesadaran dan
pengamatan diri berpaling kepada penghinaan diri dan kekalahan diri. Hasil ini lebih lanjut
dalam hilangnya kepercayaan diri.

2. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran

Peran yang sesuai dengan jenis kelamin sejak dulu sudah diterima oleh masyarakat,
misalnya wanita dianggap kurang mampu, kurang mandiri , kurang objektif, dan kurang rasional
dibandingkan pria. Pria dianggap kurang sensitive, kurang hangat, kurang ekpresif dibanding
wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika wanita atau pria berperan tidak seperti lazimnya
maka akan menimbulkan konflik didalam diri mapun hubungan sosial. Misalnya wanita yang
secara tradisional harus tinggal dirumah saja, jika ia mulai keluar rumah untuk mulai sekolah
atau bekerja akan menimbulkan masalah. Konflik peran dan peran yang tidak sesuai muncul dari
faktor biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita atau pria.

3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri

Intervensi orangtua terus-menerus dapat mengganggu pilihan remaja. Orang tua yang
selalu curiga pada anak menyebakan kurang percaya diri pada anak. Anak akan ragu apakah
yang dia pilih tepat, jika tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka timbul rasa bersalah. Ini
juga dapat merendahkan pendapat anak dan mengarah pada keraguan, impulsif, dan bertindak
keluar dalam upaya untuk mencapai beberapa identitas. Teman sebayanya merupkan faktor lain
yang mempengaruhi identitas. Remaja ingin diterima, dibutuhkan, diingikan, dan dimilki oleh
kelompoknya.

B. Faktor Presipitasi
1. Trauma

Masalah khusus tentang konsep diri disebabakan oleh setiap situasi dimana individu tidak
mampu menyesuaikan. Situasi dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya. Situasi dan
stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri dan hilangnya bagian badan, tindakan operasi,
proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi tubuh, proses tumbuh kembang, dan
prosedur tindakan dan pengobatan.

2. Ketegangan peran
Ketegangan peran adalah stres yang berhubungan dengan frustasi yang dialami individu
dalam peran.
a. Transisi perkembangan

Transisi perkembangan adalah perubahan normatif berhubungan dengan pertumbuhan.


Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap tahap perkembangan
harus dilakukan inidividu dengan menyelesaikan tugas perkembangan yang berbeda-beda. Hal
ini dapat merupakan stressor bagi konsep diri.
b. Transisi situasi
Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan. Transisi situasi merupakan bertambah
atau berkurangnya orang yang penting dalam kehidupan individu melalui kelahiran atau
kematian orang yang berarti, misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua.

c. Transisi sehat sakit

Transisi sehat sakit berkembang berubah dari tahap sehat ke tahap sakit. Beberapa stressor
pada tubuh dapat menyebabakan gangguan gambaran diri dan berakibat perubahan konsep diri.
Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua komponen konsep diri yaitu gambaran diri,
peran ,dan harga diri. Masalah konsep diri dapat dicetuskan oleh faktor psikologis, sossiologis,
atau fisiologis, namun yang lebih penting adalah persepsi klien terhadap ancaman.
perilaku.
III. Penutup
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan, faktor predisposisi dan faktor presipitasi sangat
mempengaruhi konsep diri yang dimiliki individu. Faktor predisposisi dan faktor presipitasi
merupakan bagian dari pengkajian pada individu yang mengalami masalah konsep diri. Faktor
predisposisi terdiri dari faktor yang mempengaruhi harga diri, penampilan peran, dan identitas
diri. Faktor presipitasi berupa trauma dan ketegangan peran pada transisi perkembangan dan
sehat sakit. Oleh karena itu, dalam menyusun rencana asuhan keperawatan terkait dengan
masalah konsep diri perlu memperhatikan faktor predisposisi dan faktor presipitasi pada
individu.

http://fallahadi.blogspot.co.id/2010/02/faktor-predisposisi-dan-faktor.html

Rentang Respon Konsep Diri

Oleh Ragil Yuli Atmoko*, 1006672863

*
Mahasiswa S1 Reguler Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas
Indonesia.

2011

Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui oleh perawat yang dikatakan perawat
professional untuk dapat memahami dan mengetahui perilaku dan pandangan terhadap dirinya,
masalahnya, serta lingkungannya. Perawat setiap harinya dalam memberikan asuhan
keperawatan, perawat harus dapat meyakini bahwa klien adalah makhluk bio-psiko-sosio-
spiritual yang utuh dan unik sebagai satu kesatuan dalam berinteraksi terhadap lingkungannya
dan dirinya sendiri. Setiap individu berbeda dalam mengimplementasikan stimulus dalam
lingkungannya yang diperoleh melalui pengalaman yang unik dengan dirinya sendiri dan orang
lain. Dalam merencanakan asuhan keperawatan yang berkualitas perawat dapat menganalisis
respon individu terhadap rentang respon konsep diri sehingga perawat memahami bagaiamana
konsep diri/rentang respon konsep diri yang ada pada diri klien. Tulisan ini akan emmbahas
tentang rentang respon konsep diri.

Diri merupakan hubungan yang paling intim, jelasnya lebih dari satu aspek terpenting
pengalaman hidup. Apa yang kita piker dan kita rasakan tentang diri kta mempengaruhi
perawatan yang diberikan kepada diri sendiri atau perawatan kepada orang lain. Dalam diri ini
terdapat suatu konsep yang dinamakan konssep diri (self-concept). Konsep diri merupakan
pengetahuan individu tentang dirinya sendiri (Wigfield & Karpathian, 1991). Konsep diri sangat
erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah
satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang
berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh
individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina
hubungan interpersonal

Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui rentang respon dari adaptif
sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu : gambaran
diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran dan identitas. Menurut Stuart dan Sundeen
Penilaian tentang konsep diri dapat di lihat berdasarkan rentang rentang respon konsep diri yaitu:

Continuum of self-concept responses

RESPON ADATIF RESPON MALADATIF

Aktualisasi Konsep Diri Harga Diri Kekacauan Depersonalisasi

Diri Positif Rendah Identitas


Dari rentang respon adatif sampai respon maladatif, terdapat lima rentang respons konsep diri
yaitu aktualisasi diri, konsep diri positif, harga diri rendah, kekacauan identitas, dan
depersonalisasi. Seorang ahli, Abraham Maslow mengartikan aktualisasi diri sebagai individu
yang telah mencapai seluruh kebutuhan hirarki dan mengembangkan potensinya secara
keseluruhan. Aktualisasi diri merupakan pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan
melatar belakangi pengalaman nyata yang suskes dan diterima, ditandai dengan citra tubuh yang
positif dan sesuai, ideal diri yang realitas, konsep diri yang positif, harga diri tinggi, penampilan
peran yang memuaskan, hubungan interpersonal yang dalam dan rasa identitas yang jelas.

Konsep diri positif merupakan individu yang mempunyai pengalaman positif dalam beraktivitas
diri, tanda dan gejala yang diungkapkan dengan mengungkapkan keputusan akibat penyakitnya
dan mengungkapkan keinginan yang tinggi. Tanda-tanda individu yang memiliki konsep
diri yang positif adalah : Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Seseorang ini
mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk mengatasi masalah yang
dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
Merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak sombong, mencela atau
meremehkan siapapun, selalu menghargai orang lain. Menerima pujian tanpa rasa malu. Ia
menerima pujian tanpa rasa malu tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia
menerima pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain. Menyadari
bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak
seharusnya disetujui oleh masyarakat. Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan
menghargai perasaan orang lain meskipun kadang tidak disetujui oleh masyarakat. Mampu
memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi dan
berusaha mengubahnya. Ia mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum
menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar diterima
di lingkungannya.

Konsep diri negatif ditandai dengan masalah sosial dan ketidakmampuan untuk melakukan
dengan penyesuaian diri (maladjustment). Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang
dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen,
1991). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri
yang tinggi. Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh
dari diri sendiri dan orang lain. Harga diri bergantung pada kasih sayang dan penerimaan. .
Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. Dari hasil riset
ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah.

Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan
menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri rendah adalah
transisi antara respon konsep diri yang adatif dengan konsep diri yang maladatif. Tanda dan
gejala yang ditunjukkan sperti perasaan malu terhadap diri sendiri, akibat tindakan penyakit, rasa
bersalah terhadap diri sendiri, dan merendahkan martabat. Tanda dan gejala yang laindari harga
diri rendah diantaranya rasa bersalah pada diri sendiri, mengkritik diri sendiri/orang lain,
menarik diri dari realitas, pandangan diri yang pesimis, perasaan tidak mampu, perasaan negative
pada dirinya sendiri, percaya diri kurang, mudah tersinggung dan marah berlebihan.

Kekacauan identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek. Identitas


mencakup rasa internal tentang individualitas, keutuhan, dan konsistensi dari seseorang
sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi. Pencapaian identitas diperlukan untuk hubungan
yang intim karena identitas seseorang diekspresikan dalam berhubungan dengan orang lain.
Seksualitas juga merupakan salah satu identitas. Rasa identitas ini secara kontinu timbul dan
dipengaruhi oleh situasi sepanjang hidup. Kekacauan identitas dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang dapat dikenal dengan stressor identitas. Biasanya pada masa remaja, identitas banyak
mengalami perubahan, yang meyebabkan ketidakamanan dan ansietas. Remaja mencoba untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan fisik, emosional, dan mental akibat peningkatan
kematangan. Stressor identitas diantaranya kehilangan pekerjaan, perkosaan, perceraian,
kelalaian, konflik dengan orang lain, dan masih banyak lagi. Identitas masa kanak-kanak dalam
kematangan aspek psikososial, merupakan ciri-ciri masa dewasa yang harmonis.

Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistik dan asing terhadap diri sendiri yang
berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang
lain. Tanda dan gejala yang ditunjukkan yaitu dengan tidak adanya rasa percaya diri,
ketergantungan, sukar membuat keputusan, masalah daalam hubungan interpersonal, ragu dan
proyeksi. Jika seseorang memiliki perilaku dengan depersonalisasi, berarti orang tersebut telah
mengalami gangguan dalam konsep dirinya. Orang dengan gangguan depersonalisasi mengalami
persepsi yang menyimpang pada identitas, tubuh, dan hidup mereka yang membuat mereka tidan
nyaman, gejala-gejala kemungkinan sementara atau lama atau berulang untuk beberapa tahun.
orang dengan gangguan tersebut seringkali mempunyai kesulitan yang sangat besar untuk
menggambarkan gejala-gejala mereka dan bisa merasa takut atau yakin bahwa mereka akan gila.
Gangguan depersonalisasi seringkali hilang tanpa pengobatan. Pengobatan dijamin hanya jika
gangguan tersebut lama, berulang, atau menyebabkan gangguan. Psikoterapi psikodinamis, terapi
perilaku, dan hipnotis telah efektif untuk beberapa orang. Obat-obat penenang dan antidepresan
membantu seseorang dengan gangguan tersebut.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perawat dalam pengkajain kepada kliennya, juga meliputi konsep
diri. Konsep diri merupakan pengetahuan individu tentang dirinya sendiri. Dalam konsep diri,
terdapat rentang respon konsep diri. Rentang respon diri terentang dari respon adaptif sampai
respon maladaptif. Dari rentang respon adatif sampai respon maladatif, terdapat lima rentang
respons konsep diri yaitu aktualisasi diri, konsep diri positif, harga diri rendah, kekacauan
identitas, dan depersonalisasi. Tindakan keperawatan yang baik dan benar membantu klien
mengidentifikasikan penilaian tentang situasi dan perasaan yang terkait, guna meningkatkan
penilaian diri dan kemudian melakukan perubahan perilaku.
https://dummiesboy.wordpress.com/2012/01/13/rentang-respon-konsep-diri/

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep diri. Konsep diri (self
concept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian
manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk
membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.

Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang
tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada
akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung
tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala
keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang
dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki
mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk
diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting untuk seorang perawat memahami konsep diri.
Memahami diri sendiri terlebih dahulu baru bisa memahami klien[1]

Konsep diri adalah manusia, dan Manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan
menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selaulu berusaha untuk
mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap
individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Konsep diri belum ada saat dilahirkan, tetapi dipelajari dari pengalaman unik melalui
eksplorasi diri sendiri hubungan dengan orang dekat dan berarti bagi dirinya. Dipelajari melalui
kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang
dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Konsep Diri


Menurut Carl Rogers, konsep diri merupakan gestalt konseptual yang teratur dan bersifat
konsisten yang terdiri dari persepsi-persepsi tentang ciri atau karakteristik diri kita atau persepsi
yang kita miliki tentang hubungan antara diri kita dengan orang lain, apa pendapat orang lain
tentang diri kita dan juga berbagai aspek tentang kehidupan kita.[2]
Konsep diri merupakan gabungan dari pandangan diri kita tentang orang tua kita, teman
kita, pasangan kita, juga dari atasan kita, karyawan, atlit dan juga dari artis yang kita idolakan.
Sehingga jelas bahwa konsep diri seseorang terdiri dari gabungan berbagai persepsi yang
merefleksikan peran spesifik dalam konteks kehidupan.[3]

Konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan percampuran yang kompleks dari perasaan,
sikap & persefsi bawah sadar maupun sadar. Konsep diri memberikan kita kerangka acuan yang
mempengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain. Kita mulai
membentuk konsep diri saat usia muda. Masa remaja adalah waktu yang kritis ketika banyak hal
secara kontinu mempengaruhi konsep diri. Jika seseorang mempunyai masa kanak-kanak yang
aman dan stabil, maka konsep diri masa remaja anak tersebut secara mengejutkan akan sangat
stabil. Ketidaksesuaian antara aspek tertentu dari kepribadian dan konsep diri dapat menjadi
sumber stres atau konflik.

Konsep diri dan persepsi tentang kesehatan sangat berkaitan erat satu sama lain. Klien yang
mempunyai keyakinan tentang kesehatan yang baik akan dapat meningkatkan konsep diri[4]
Termasuk persepsi indvidu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan
lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.
Lebih menjelaskan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh :
fisikal, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Kepribadian yang sehat disebut dengan istilah
fully functioning person yang memiliki ciri-ciri terbuka pada pengalaman, hidup pada masa kini,
percaya pada diri sendiri, mengalami kebebasan dan kreatifitas. Kelima ciri tersebut berjalan
secara berurutan, bila seseorang tidka terbuka pengalamannya maka ia tidak bisa hidup pada
masa kini, tidak percaya pada diri sendiri dan seterusnya.[5]

Konsep diri belum ada saat dilahirkan, tetapi dipelajari dari pengalaman unik melalui
eksplorasi diri sendiri hubungan dengan orang dekat dan berarti bagi dirinya. Dipelajari melalui
kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang
dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya.
Konsep diri berkembang dengan baik apabila : budaya dan pengalaman di keluarga dapat
memberikan perasaan positif, memperoleh kemampuan yang berarti bagi individu / lingkungan
dan dapat beraktualissasi, sehingga individu menyadari potensi dirinya. Respons individu
terhadap konsep dirinya berfluktuasi sepanjang rentang konsep diri yaitu dari adaptif sampai
maladaptive.
Menurut para ahli :

Seifert dan Hoffnung (1994), misalnya, mendefinisikan konsep diri sebagai suatu pemahaman
mengenai diri atau ide tentang konsep diri..
Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari
konsep diri.
Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang
meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang
berhubungan dengan dirinya.
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita
sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater, 1984), mendefisikan konsep diri sebagai sistem yang
dinamis dan kompleks diri keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap,
perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut.
Cawagas (1983) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan
dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau
kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.
Stuart dan Sudeen (1998), konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian
yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan
orang lain.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara seseorang untuk
melihat dirinya secara utuh dengan semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang
diketahui individu dalam berhubungan dengan orang lain.

B. Dimensi Konsep diri

Para ahli psikologi juga berbeda pendapat dalam menetapkan dimensi-dimensi konsep diri.
Namun, secara umum sejumlah ahli menyebutkan 3 dimensi konsep diri, meskipun dengan
menggunakan istilah yang berbeda-beda. Calhoun dan Acocella (1990) misalnya, menyebutkan
dimensi utama dari konsep diri, yaitu: dimensi pengetahuan, dimensi pengharapan, dan dimensi
penilaian. Paul J. Cenci (1993) menyebutkan ketiga dimensi konsep diri dengan istilah: dimensi
gambaran diri (sell image), dimensi penilaian diri (self-evaluation), dan dimensi cita-cita diri
(self-ideal). Sebagian ahli lain menyebutnya dengan istilah: citra diri, harga diri dan diri ideal.
C. Perkembangan Konsep Diri

Konsep diri bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Kita tidak dilahirkan dengan konsep
diri tertentu. Bahkan ketika kita lahir, kita tidak memiliki konsep diri, tidak memiliki
pengetahuan tentang diri, dan tidak memiliki pengharapan bagi diri kita sendiri, serta tidak
memiliki penilaian apa pun terhadap diri kita sendiri.

Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri merupakan faktor
bentukan dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses
pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara
berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa konsep diri berkembang terus sepanjang
hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam
tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari tubuhnya dan
lingkungannya, dan individu akan mulai dapat membedakan keduanya. Perkembangan konsep
diri adalah proses sepanjang hidup. Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik
yang membantu seseorang dalam mengembangkan konsep diri yang positif.

Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri merupakan
faktor bentukan dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa.
Proses pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara
berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa konsep diri berkembang terus sepanjang
hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam
tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari tubuhnya dan
lingkungannya, dan individu akan mulai dapat membedakan keduanya. Perkembangan konsep
diri adalah proses sepanjang hidup. Setiap tahap perkembangan mempunyai aktivitas spesifik
yang membantu seseorang dalam mengembangkan konsep diri yang positif.

1. Bayi

Apa yang pertama kali dibutuhkan seorang bayi adalah pemberi perawatan primer dan
hubungan dengan pemberi perawatan tersebut. Bayi menumbuhkan rasa percaya dari konsistensi
dalam interaksi pengasuhan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain.
Kontak dengan orang lain, dan penggalian lingkungan memperkuat kewaspadaan diri. Tanpa
stimulasi yang adekuat dari kemampuan motorik dan penginderaan, perkembangan citra tubuh
dan konsep diri mengalami kerusakan. Pengalaman pertama bayi dengan tubuh mereka yang
sangat ditentukan oleh kasih sayang dan sikap ibu adalah dasar untuk perkembangan citra tubuh.

2. Anak Usia Bermain

Anak-anak beralih dari ketergantungan total kepada rasa kemandirian dan keterpisahan diri
mereka dari orang lain. Mereka mencapai keterampilan dengan makan sendiri dan melakukan
tugas higien dasar. Anak usia bermain belajar untuk mengoordinasi gerakan dan meniru orang
lain. Mereka belajar mengontrol tubuh mereka melalui keterampilan locomotion, toilet training,
berbicara dan sosialisasi.

3. Usia prasekolah
Pada masa ini seorang anak memiliki inisiatif, mengenali jenis kelamin, meningkatkan
kesadaran diri, meningkatkan keterampilan berbahasa, dan sensitive terhadap umpan balik
keluarga. Anak-anak belajar menghargai apa yang orang tua mereka hargai. Penghargaan dari
anggota keluarga menjadi penghargaan diri. Kaluarga sangat penting untuk pembentukan konsep
diri anak dan masukan negatif pada masa ini akan menciptakan penurunan harga diri dimana
orang tersebut sebagai orang dewasa akan bekerja keras untuk mengatasinya.
4. Anak usia sekolah

Pada masa ini seorang anak menggabungksn umpan balik dari teman sebaya dan guru.
Dengan anak memasuki usia sekolah, pertumbuhan menjadi cepat dan lebih banyak didapatkan
keterampilan motorik, sosial dan intelektual. Tubuh anak berubah, dan identitas seksual menguat,
rentan perhatian meningkat dan aktivitas membaca memungkinkan ekspansi konsep diri melalui
imajinasi ke dalam peran, perilaku dan tempat lain. Konsep diri dan citra tubuh dapat berubah
pada saat ini karna anak terus berubah secara fisik, emosional, mental dan sosial.

5. Masa remaja

Masa remaja membawa pergolakan fisik, emosional, dan sosial. Sepanjang maturasi
seksual, perasaan, peran, dan nilai baru harus diintegrasikan ke dalam diri. Pertumbuhan yang
cepat yang diperhatikan oleh remaja dan orang lain adalah faktor penting dalam penerimaan dan
perbaikan citra tubuh. Masa remaja merupakan masa peralihan atau transisi dari masa anak-anak
ke masa dewasa yang sering dihadapkan kepada ketidakpastian.[6]

Remaja atau diartikan pula sebagai adolescence adalah masa perkembagan dari masa naka-
naka menuju masa dewasa yang mencakup perkembangan biologis, kognitif, dan sosial
emosional.[7]

Perkembangan konsep diri dan citra tubuh sangat berkaitan erat dengan pembentukan
identitas. Pengamanan dini mempunyai efek penting. Pengalaman yang positif pada masa kanan-
kanak memberdayakan remaja untuk merasa baik tentang diri mereka. Pengalaman negatif
sebagai anak dapat mengakibatkan konsep diri yang buruk. Mereka mengumpulkan berbagai
peran perilaku sejalan dengan mereka menetapakan rasa identitas.

6. Masa dewasa muda


Pada masa dewasa muda perubahan kognitif, sosial dan perilaku terus terjadi sepanjang
hidup. Dewasa muda adalah periode untuk memilih. Adalah periode untuk menetapakan
tanggung jawab, mencapai kestabilan dalam pekerjaan dan mulai melakukan hubungan erat.
Dalam masa ini konsep diri dan citra tubuh menjadi relatif stabil.
Konsep diri dan citra tubuh adalah kreasi sosial, penghargaan dan penerimaan diberikan
untuk penampilan normal dan perilaku yang sesuai berdasarkan standar sosial. Konsep diri
secara konstan terus berkembang dan dapat diidentifikasi dalam nilai, sikap, dan perasaan
tentang diri.
7. Usia dewasa tengah

Usia dewasa tengah terjadi perubahan fisik seperti penumpukan lemak, kebotakan, rambut
memutih dan varises. Tahap perkembangan ini terjadi sebagai akibat perubahan dalam produksi
hormonal dan sering penurunan dalam aktivitas mempengarui citra tubuh yang selanjutnya dapat
mengganggu konsep diri.

Tahun usia tengah sering merupakan waktu untuk mengevaluasi kembali pengalaman
hidup dan mendefinisikan kembali tentang diri dalam peran dan nilai hidup. Orang usia dewasa
tengah yang manerima usia mereka dan tidak mempunyai keinginan untuk kembali pada masa-
masa muda menunjukkan konsep diri yang sehat.

8. Lansia
Perubahan pada lansia tampak sebagai penurunan bertahap struktur dan fungsi. Terjadi
penurunan kekuatan otot dan tonus otot. Konsep diri selama masa lansia dipengaruhi oleh
pengalaman sepanjang hidup. Masa lansia adalah waktu dimana orang bercermin pada hidup
mereka, meninjau kembali keberhasilan dan kekecewaan dan dengan demikian menciptakan rasa
kesatuan dari makna tentang diri makna tentang diri mereka dan dunia membentu generasi yang
lebih muda dalam cara yang positif sering lansia mengembangkan perasaan telah meninggalkan
warisan.[8]

D. Penyesuaian Sosial

Penyesuaian adalah proses yang dilakukan individu pada saat menghadapi situasi dari
dalam maupun dari luar dirinya. Pada saat individu mengatasi kebutuhan, dorongan-dorongan,
tegangan dan konflik yang dialami agar dapat menghadapi kondisi tersebut dengan baik. Ada
beberapa jenis penyesuaian antara lain penyesuaian sosial.

Hurlock (1990) menyatakan bahwa penyesuaian sosial merupakan keberhasilan seseorang


untuk menyesuaikan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok pada
khususnya. Menurut Jourard (dalam Hurlock, 1990) salah satu indikasi penyesuaian sosial yang
berhasil adalah kemampuan untuk menetapkan hubungan yang dekat dengan seseorang.

Dikatakan oleh Schneirders (dalam Hurlock, 1990) penyesuaian sosial merupakan proses
mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan
yang berasal dari dalam diri sendiri yang dapat diterima oleh lingkungannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyesuaian sosial merupakan tingkah laku
yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan kelompok sesuai
dengan keinginan dari dalam dan tuntutan lingkungan.[9]

Penyesuaian sosial menunjukkan kapasitas untuk bereaksi secara efektif dan sehat pada
realitas sosial, situasi dan relasi sosial, sehingga kebutuhan-kebutuhan untuk kehidupan sosial
terpenuhi dalam cara yang dapat diterima dan memuaskan. Proses sosialisasi dimulai sejak dini
pada masa kanak-kanak, yaitu ketika anak belajar untuk menyesuaikan diri terhadap struktur
standar tertentu yang ada dalam keluarga tempat individu tinggal. Saat seseorang semakin
berkembang maka dia juga akan belajar untuk menyesuaikan diri dengan standar dari kelompok
lain, juga dengan aturan-aturan pada lingkungan yang lebih besar

Menurut Schneiders penyesuaian diri adalah proses yang meliputi respon mental dan
tingkah laku yang mana seorang individu berusaha untuk menguasai atau menanggulangi
kebutuhan-kebutuhan dalam diri, ketegangan, frustrasi, konflik secara berhasil dan untuk
mempengaruhi suatu tingkat keseimbangan antara tuntutan-tuntutan dalam diri individu dengan
tuntutan dari lingkungan tempat individu berada.

Dalam hidupnya seorang individu akan terus menerus melakukan penyesuaian diri baik
terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya. Menurut Schneiders (1964:429)
adjustment dibagi menjadi empat, yaitu penyesuaian diri (personal adjustment), penyesuaian
sosial (social adjustment), penyesuaian pernikahan (marital adjustment), dan penyesuaian
terhadap pekerjaan (vocational adjustment).

Untuk mencapai kematangan dalam penyesuaian sosial, maka individu dapat menciptakan
relasi yang baik dengan orang lain, memperhatikan orang lain, mengembangkan persahabatan
yang baik dengan orang lain, berperan secara aktif dalam kegiatan sosial, serta menghargai nilai-
nilai yang berlaku. Terdapat tiga aspek yang saling berkaitan satu sama lain di dalam
penyesuaian sosial, yaitu lingkungan keluarga (rumah), sekolah dan masyarakat.

BAB III

PENUTUP

Konsep diri adalah cara seseorang untuk melihat dirinya secara utuh dengan semua ide,
pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang diketahui individu dalam berhubungan dengan orang
lain. Sangatlah penting bagi seorang perawat untuk memahami konsep diri terlebih dahulu harus
menanamkan dalam dirinya sendiri sebelum melayani klien, sebab keadaan yang dialami klien
bisa saja mempengaruhi konsep dirinya, disinilah peran penting perawat selain memenuhi
kebutuhan dasar fisiknya yaitu membantu klien untuk memulihkan kembali konsep dirinya.

Ada beberapa komponen konsep diri yaitu identitas diri yang merupakan intenal idividual,
citra diri sebagai pandangan atau presepsi, harga diri yang menjadi suatu tujuan, ideal diri
menjadi suatu harapan, dan peran atau posisi di dalam masyarakat.Untuk membangun konsep
diri kita harus belajar menyukai diri sendiri, mengembangkan pikiran positif, memperbaiki
hubungan interpersonal ke yang lebih baik, sikap aktif yang positif, dan menjaga keseimbangan
hidup.

Semua yang kita lakukan pasti ada manfaatnya begitu juga dalam memahami konsep diri,
kita menjadi bangga dengan diri sendiri, percaya diri penuh, dapat beradaptasi dengan
lingkungan, dan mencapai sebuah kebahagiaan dalam hidup.

Dengan demikian, konsep diri terbentuk melalui proses belajar yang berlangsung sejak
masa pertumbuhan hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman, dan pola asuh orangtua turut
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan konsep diri seseorang. Sikap dan
respons orangtua serta lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa
dirinya. Anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru atau negatif,
seperti perilaku orangtua yang suka memukul, mengabaikan, kurang memberikan kasih sayang,
melecehkan, menghina, tidak berlaku adil, dan seterusnya, ditambah dengan lingkungan yang
kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini adalah karena anak
cenderung menilai dirinya berdasarkan apa yang ia alami dan dapatkan dari lingkungannya. Jika
lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya berharga,
sehingga berkembangan konsep diri yang positif.

Perkembangan Konsep Diri

Puspitasari (2007), mengatakan bahwa konsep diri merupakan sebuah


proses yang berkelanjutan, proses menilai yang bersifat organismik, bukan
lagi bersifat statis tetapi mampu untuk menyesuaikan kembali dan
berkembang sebagai pengalaman-pengalaman baru yang terintegrasikan.
Konsep diri berkembang sesuai dengan perkembangan diri jiwa seseorang,
maupun dari pengalaman-pengalaman yang seseorang temukan.
Menurut Symonds (2008), mengatakan bahwa persepsi tentang diri tidak
langsung muncul pada saat kelahiran, tetapi mulai berkembang secara
bertahap dengan munculnya kemampuan perseptif. Persepsi tentang diri
yang ada pada remaja akan berkembang sesuai dengan tahapan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri
yang dimiliki manusia tidak terbentuk secara instan, melainkan dengan
proses belajar sepanjang hidup manusia. Ketika individu lahir, individu tidak
memiliki pengetahuan tentang dirinya, tidak memiliki harapan yang ingin
dicapainya serta tidak memiliki penilaian terhadap dirinya. Konsep diri
berasal dan berkembang sejalan pertumbuhan, terutama akibat hubungan
dengan individu lain.

Dalam berinteraksi, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan


yang diberikan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang
dirinya sendiri. Pada akhirnya individu mulai bisa mengetahui siapa dirinya,
apa yang diinginkannya serta dapat melakukan penilaian terhadap dirinya.

http://www.pendidikanekonomi.com/2013/04/pengertian-dan-perkembangan-konsep-diri.html