Anda di halaman 1dari 9

NAMA : IDA NURJELITA SANI

NPM : A1F015011
MATA KULIAH : KIMIA KOORDINASI

SENYAWA ORGANOLOGAM

A. Senyawa Organologam
Senyawa organologam merupakan senyawa dimana minimal terdapat satu atom
karbon dari gugus organik yang berikatan langsung dengan logam. Istilah organologam
biasanya didefinisikan agak longgar, dan senyawa yang mengandung ikatan karbon dengan
fosfor, arsen, silikon, ataupun boron termasuk dalam katagori ini. Tetapi untuk senyawa yang
mengandung ikatan antara atom logam dengan oksigen, belerang, nitrogen, ataupun dengan
suatu halogen tidak termasuk sebagai senyawa organologam. Sebagai contoh suatu alkoksida
seperti (C3H7O4)Ti tidaklah termasuk senyawa organologam, karena gugus organiknya terikat
pada Ti melalui atom oksigen. Sedangkan senyawa (C6H5)Ti(OC3H7)3 adalah senyawa
organologam karena terdapat satu ikatan langsung antara karbon C dari gugus fenil dengan
logam Ti. Dari bentuk ikatan pada senyawa organologam, senyawa ini dapat dikatakan
sebagai jembatan antara kimia organik dan anorganik.
Sifat senyawa organologam yang umum ialah dimilikinya atom karbon yang lebih
elektronegatif daripada kebanyakan logamnya. Terdapat beberapa kecenderungan jenis-jenis
ikatan yang terbentuk pada senyawaan organologam:
a. Senyawaan ionik dari logam elektropositif
Senyawaan organo dari logam yang relatif sangat elektropositif umumnya bersifat ionik,
tidak larut dalam pelarut organik, dan sangat reaktif terhadap udara dan air. Senyawa ini
terbentuk bila suatu radikal pada logam terikat pada logam dengan keelektropositifan yang
sangat tinggi, misalnya logam alkali atau alkali tanah. Kestabilan dan kereaktifan senyawaan
ionik ditentukan dalam satu bagian oleh kestabilan ion karbon. Garam logam ion-ion karbon
yang kestabilannya diperkuat oleh delokalisasi elektron lebih stabil walaupun masih relatif
reaktif. Adapun contoh gugus organik dalam garam-garaman tersebut seperti (C 6H5)3C-Na+
dan (C5H5)2Ca2+.
b. Seyawaan yang memiliki ikatan -s (sigma)
Senyawaan organo dimana sisa organiknya terikat pada suatu atom logam dengan suatu
ikatan yang digolongkan sebagai ikatan kovalen (walaupun masih ada karakter-karakter ionik
dari senyawaan ini) yang dibentuk oleh kebanyakan logam dengan keelektropositifan yang
relatif lebih rendah dari golongan pertama di atas, dan sehubungan dengan beberapa faktor
berikut:
1. Kemungkinan penggunaan orbital d yang lebih tinggi, seperti pada SiR4 yang tidak tampak
dalam CR4.
2. Kemampuan donor alkil atau aril dengan pasangan elektron menyendiri.
3. Keasaman Lewis sehubungan dengan kulit valensi yang tidak penuh seperti ada BR 2 atau
koordinasi tak jenuh seperti ZnR2.
4. Pengaruh perbedaan keelektronegatifan antara ikatan logam-karbon (M-C) atau karbon-
karbon (C-C).
Contoh Senyawaan yang memiliki ikatan - (sigma)

c. Senyawaan yang terikat secara nonklasik


Dalam banyak senyawaan organologam terdapat suatu jenis ikatan logam pada karbon yang
tidak dapat dijelaskan dalam bentuk ionik atau pasangan elektron/kovalensi. Misalnya, salah
satu kelas alkil terdiri dari Li, Be, dan Al yang memiliki gugus-gugus alkil berjembatan.
Dalam hal ini, terdapat atom yang memiliki sifat kekurangan elektron seperti atom boron
pada B(CH3)3. Atom B termasuk atom golongan IIIA, dimana memiliki 3 elektron valensi,
sehingga cukup sulit untuk membentuk konfigurasi oktet dalam senyawaannya.
Ada kecenderungan untuk memanfaatkan orbital-orbital kosong pada atom B dengan
menggabungkannya pada gugus suatu senyawa yang memiliki kelebihan pasangan elektron
menyendiri. Senyawa ini terbagi menjadi dua golongan:
1. Senyawa organologam yang terbentuk antara logam-logam transisi dengan alkena, alkuna,
benzena, dan senyawa organik tak jenuh lainnya.
2. Senyawa organologam yang memiliki gugus-gugus alkil berjembatan.
B. Terdapat dua macam ikatan organologam, yaitu :
1. Ikatan ionik. Ikatan ionik organologam terbentuk dari unsur yang sangat elektropositif
yaitu unsur pada golongan I, II, dan III. Organologam dengan yang berikatan secara ionik
bersifat tak larut dalam pelarut hidrokarbon dan mudah teroksidasi.
2. Ikatan kovalen. Ikatan kovalen organologam yang mudah menguap terbentuk dari logam
Zn, Cd, Hg, dan logam non-transisi gologan III (kecuali aluminium), IV, dan V. Ikatan
kovalen ini terbentuk dengan cara memberikan satu elektron tunggalnya, baik dari logam
maupun unsur organiknya, untuk dipakai secara bersama. Sifat dari senyawa organologam
dengan ikatan kovalen ini mudah menguap, larut dalam pelarut organik, dan tidak larut dalam
air.
C. Reaksi Grignard
Reaksi Grignard ditemukan oleh kimiawan Perancis Auguste Victor Grignard (1871-
1935) di tahun 1901. Reaksi Grignard adalah reaksi kimia organologam di mana alkil - atau
Aril-magnesium halides (reagen Grignard) menambah gugus karbonil Aldehida atau keton.
Reaksi ini adalah alat penting untuk pembentukan ikatan antar karbon. Reaksi Halida organik
dengan magnesium bukan reaksi Grignard, tetapi menyediakan peraksi Grignard. Pereaksi
Grignard memiliki rumus umum RMgX dimana X adalah sebuah halogen, dan R adalah
sebuah gugus alkil atau aril (berdasarkan pada sebuah cincin benzen). Pereaksi Grignard
sederhana bisa berupa CH3CH2MgBr.
Sebuah contoh dari reaksi grignard:

Reaksi dan pereaksi Grignard ditemukan oleh dan diberi nama sesuai dengan penemunya
yaitu kimiawan Perancis Franois Auguste Victor Grignard (Universitas Nancy, Perancis),
yang dianugerahi Nobel Kimia tahun 1912 ini bekerja Grignard reagen mirip dengan
menghasilkan reagen karena keduanya nukleofil kuat yang dapat membentuk ikatan antar
karbon yang baru.
Reagen Grignard berfungsi sebagai nukleofil, menyerang atom karbon elektrofilik yang hadir
dalam ikatan polar gugus karbonil. Penambahan pereaksi Grignard untuk karbonil biasanya
hasil melalui keadaan transisi enam-beranggota cincin.

Mekanisme dari reaksi Grignard:


D. Jenis-Jenis Senyawa Organologam
1. Alkil dan Aril Litium (Organolitium)

Senyawa Organolitium adalah senyawa Logam Alkali yang mempunyai sifat


kelarutan dalam Hidrokarbon atau cairan nonpolar dan penguapan yang tinggi serta
mempunyai sifat khas zat Kovalen. Penggabungan Molekular adalah suatu keistimewaan
yang penting dari alkil baik dalam kristal maupun larutan. Jadi dalam Metil lithium atom-
atom Li terletak pada sudut-sudut sebuah tetrahedron dengan gugus alkil berpusat pada
bidang dihadapannya. Gugus CH3 secara simetris terikat pada tiga atom Li, dan ikatan
jembatan alkil ini adalah dari jenis tuna elektron berpusat banyak.

Dalam larutan, sifat spesies terpolimerisasi bergantung pada pelarut, sifat sterik dari radikal
organik dan suhu. Dalam Hidrokarbon MeLi, EtLi, n-PrLI, dan beberapa lainnya adalah
heksamer, namun tert-butilitihium, yang tersolfasi. Tidak terdapat agregat yang lebih kecil
dari pada tetramet. Meskipun demikian, bilamana digunakan pengkelatan amin ditersier,
seperti tetrametiletilendiamen (TMED), Me2NCH2CH2NMe2 diperoleh kompleks alkillithium
monomer yang stabil. Alkil dan aril juga membentuk kompleks dengan alkil logam lain
seperti kompleks dengan Mg dan Zn. Sebagai contoh:

2LiC6H5 + Mg(C6H5)2 Li2[Mg(C6H5)4]

Terdapat keragaman yang luas dalam kreaktifan perbandingan alkil, Li yang


bergantung kepada perbedaan dalam agresasi dan interaksi pasangan ion. Suatu contoh adalah
Bensinlitium, yang berupa monomer dalam tetrahidrofuran dan bereaksi dengan suatu
supstrat tertentu lebih dari 104 kali lebih cepat dari pada metillithium tetramet. Kompleks
TMED monomer yang disebutkan diatas juga lebih jauh dari reaktif dari pada agregat alkil
yang bersangkutan. Alkillithium dapat mempolilithiasi asitilen,asetonitril, dan senyawa-
senyawa lain, jadi CH3C CH memberikan Li4C3, yang dapat dianggap sebagai turunan C34.

Reaksi alkil lithium umumnya dianggap bersifat sebagai ion karbon. Alkil alkena,
khususnya Isoprena, yang memberikan sampai 90% 1,4-cis-polilisoprena, sebagai reaksi
lainnya dengan alkena telah dipelajari kompleks TMED sekali lagi luar biasa aktif, tidak
hanya berpolomerisasi etilena namun bahkan akan memelitisasi benzena dan senyawa
aromatik, juga bereaksi dengan hidrogen pada 1 atm menghasilkan LiH dan alkana.

2. Senyawa Organo-Natrium dan Kalium

Semua senyawa ini benar-benar ionik dan tidak larut sampai batas apa pun dalam
hidrokarbon karena sangat reaktif, peka terhadap udara, dan terhidrolisis kuat dalam air.

Yang terpenting adalah senyawa natrium dari hidrokarbon asam seperti


siklopentadiena, idena, asitilena, dan sejenisnya. Ini diperoleh dari interaksi dengan logam
natrium atau natrium yang dihamburkan dalam tetrahidrofuran atau dimetilformamida.

2CH5H6 + 2Na 2C5H5-Na+ + H2

RCCH + Na RCC-Na+ + H2

3. Magnesium
Senyawa organik dari Ca,Sr, dan Ba sangat ionik dan relatif tidak berguna, namun
senyawa magnesium mungkin adalah yang dipakai paling luas sebagai senyawa organik yang
digunakan sangat luas dalam kimia organik dan dalam sintesis senyawa alkil dan aril dari
unsur-unsur lain. Senyawa ini adalah jenis RMgX (pereaksi Grignard) dan MgR 2. Yang
pertama dibuat dengan interaksi langsung logam dengan suatu halida organik RX dalam
suatu pelarut yang cocok, biasanya suatu eter seperti dietil eter atau tetrahidrofuran.
Reaksinya biasanya paling cepat dalam iodida, RI, dan iod dapat digunakan sebagai suatu
pengionisasi. Pereaksi RMgX digunakan in situ. Spesies MgR2 paling baik dibuat dengan
reaksi kering.

HgR2 + Mg (berlebihan) Hg + MgR2

Dialkil atau diaril kemudian diekstraksi dengan sutu pelarut organik. RMgX sebagai
zat terlarut, maupun R2Mg adalah reaktif, dan menjadi peka terhadap oksidasi dengan udara
dan terhadap hidrolisis dengan air.Sifat pereaksi Grignard dalam larutan adalah rumit dan
bergantung pada sifat gugus-gugus alkil dan halida pada pelarut, konsentrasi dan suhu.
Solvasi terjadi, dan penggabungan lebih utama terjadi dengan halida dari pada karbon
berjembatan, kecuali bagi senyawa metil dimana jembatan oleh gugus CH3 terjadi.

Dalam larutan encer dan dalam pelarut donor yang lebih kuat, spesies monomer biasanya
menonjol, namun dalam dietil eter pada konsentrasi yang lebih besar dari pada
0,1Mpenggabungan mmenghasilkan polimer linier atau siklis. Bagi pereaksi Grignard kristal,
kedua struktur RMgX.nS dimana n adalah jumlah molekul pelarut, S, begantung pada sifat R,
dan R(S)Mg(-X)2Mg(S)R telah ditemukan. Atom Mg biasaya terkoordinasi tetrahedral.

Senyawa seng dan kadmium mirip dengan senyawa magnesium namun berbeda dalam
kereaktifannya. Alkil seng yang lebih rendah adalah cairan yang mudah menyalah dalam
udara dan bereaksi kuat dalam air.

D. Reaksi Organologam

1. Insertion Reaction

Reaksi penyisipan merupakan suatu reaksi yang menyisipkan suatu molekul kedalam
suatu senyawa organologam. Molekul yang menyisip kedalam senyawa organologam ini
dapat bertindak sebagai 1,1 insertion dan 1,2 insertion, kedua hal ini merupakan suatu acuan
bagaimana molekul ini menyisipkan dirinya diantara logam dan ligan senyawa organologam
yaitu apakah menggunakan satu atom untuk mengikat logam dan ligan (1,1 insertion) atau
molekul tersebut mempunyai dua atom yang satu mengikat logam sedangkan atom lain
mengikat ligan (1,2 insertion). Contoh reaksi insertion dapat ditunjukan dari siklus reaksi
dibawah ini (reaksi penyisipan di dalam kotak).

Pada reaksi diatas dapat dijelaskan bahwa senyawa HNi(CO)2Cl direaksikan dengan senyawa
RCH=CH2 maka senyawa RCH=CH2 akan menyisip diantara logam dengan atom H. Reaksi
ini merupakan 1,2 insertion, dimana ada dua atom C pada senyawa ini, satu atom C
mengikat logam Ni dan atom C yang lain mengikat H, akibatnya ikatan rangkap pada
molekul RCH=CH2 berubah menjadi tunggal karena elektronnya dipakai untuk mengikat
logam dan atom H.

2. Carbonyl Insertion (Alkyl Migration)

Reaksi penyisipan karbonil pada dasarnya sama seperti penyisipan biasanya (1,1
insertion dan 1,2 insertion), tetapi yang membedakan disini adalah yang masuk diantara
logam dan ligan adalah molekul karbonil (CO). Mekanisme reaksi dari penyisipan karbonil
diusulkan ada tiga, yaitu penyisipan secara langsung, migrasi karbonil, dan migrasi alkil. Dari
ketiga usulan mekanisme reaksi ini, dilakukan pengujian melalui eksperimental. Hasilnya
mekanisme penyisipan karbonil yang diterima atau sesuai hasil pengujian adalah migrasi
alkil. Jadi alkil bermigrasi dan terikat pada karbonil, tempat yang ditinggalkan alkil tadi
ditempati karbonil dari luar. Contoh dari penyisipan karbonil diberikan pada siklus reaksi
dibawah ini (dalam kotak):
3. Hydride Elimination

Reaksi eliminasi hidrida ini yang sering ditemui adalah reaksi -elimination yang
merupakan suatu reaksi transfer atom H pada suatu ligan alkil (pada ligan posisi terhadap
logam) ke logam. Reaksi ini dapat menyebabkan meningkatnya bilangan oksidasi dan
bilangan koordinasi dari logam. Proses transfer atom H pada alkil posisi ini terjadi apabila
posisi logam, carbon , karbon , dan hidrida koplanar. Contoh reaksi ini adalah pada siklus
Wacker. Pada siklus ini terdapat reaksi -hibrid-eliminasi (dalam kotak).

4. Abstraction Reaction
Reaksi abstraksi merupakan suatu reaksi eliminasi ligan yang tidak akan merubah bilangan
koordinasi logam. Reaksi ini berkaitan dengan pembuangan substituent pada ligan dengan
posisi karbon dan terhadap logam. Pembuangan substituent pada ligan ini dapat terjadi
karena pengaruh suatu reagen eksternal. Contoh dari reaksi ini adalah:
Pada reaksi diatas (dalam kotak) disebut sebagai reaksi abstraksi dikarenakan terjadi
pembuangan substituent yaitu atom H pada ligan 4-5-exo-RC5H5 (tetrahapto) yang
disebabkan oleh reagen Ph3CPF6. Dari hasil pembuangan atom H ini, maka ligan 4-5-exo-
RC5H5 berubah menjadi 5-RC5H4. Bilangan koordinasi logam pada reaksi ini tidak berubah,
tetapi bilangan oksidasi logam Fe berubah dari Fe(0) menjadi Fe(II).