Anda di halaman 1dari 44

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Space occupying lesion merupakan istilah general yang mencakup segala
lesi pada ruang intrakranial khususnya yang mengenai otak. Penyebabnya
meliputi hematoma, abses otak dan tumor otak.1
Proses desak ruang tidak saja memenuhi rongga tengkorak yang
merupakan ruang tertutup, akan tetapi proses neoplasmatik sendiri dapat
menimbulkan pendarahan setempat. Peningkatan tekanan intrakranial
didefinisikan sebagai peningkatan tekanan dalam rongga kranialis. Ruang
intrakranial ditempati oleh jaringan otak, darah, dan cairan serebrospinal. Setiap
bagian menempati suatu volume tertentu yang menghasilkan suatu tekanan
intrakranial normal. Peningkatan volume salah satu dari ketiga unsur utama
mengakibatkan desakan ruang yang ditempati unsur lainnya dan menaikkan
tekanan intrakranial. Hipotesis Monroe-Kellie memberikan suatu contoh konsep
pemahaman peningkatan tekanan intrakranial.3
Tumor otak merupakan penyebab sebagian besar dari space occupying
lesion. Di Amerika di dapat 35.000 kasus baru dari tumor otak setiap tahun,
sedang menurut Bertelone, tumor primer susunan saraf pusat dijumpai 10% dari
seluruh penyakit neurologi yang ditemukan di Rumah Sakit Umum.3
Menurut penilitian yang dilakukan oleh Rumah Sakit Lahore, Pakistan,
periode September 1999 hingga April 2000, dalam 100 kasus space occupying
lesion intrakranial, 54 kasus terjadi pada pria dan 46 kasus pada wanita. Selain itu,
18 kasus ditemukan pada usia dibawah 12 tahun. 28 kasus terjadi pada rentan usia
20-29 tahun, 13 kasus pada usia 30-39, dan 14 kasus pada usia 40-49.1
Di Indonesia data tentang tumor susunan saraf pusat belum dilaporkan.
Insiden tumor otak pada anak-anak terbanyak dekade 1, sedang pada dewasa pada
usia 30-70 dengan puncak usia 40-65 tahun.3

1.2. Tujuan Penulisan


2

Tujuan penelitian laporan ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan


klinik senior Departemen Ilmu Penyakit Saraf RSUP Haji Adam Malik Medan
dan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mahasiswa tentang SOL
intrakranial.

1.3. Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan laporan ini adalah sebagai sarana untuk
mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai SOL intrakranial berdasarkan
teori dan kasus yang ada.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Space Occupying Lesions (SOL) Intrakranial


2.1.1. Definisi
Space Occupying Lesions (SOL) Intrakranial dapat didefinisikan sebagai
tumor yang jinak atau ganas baik bersifat primer atau sekunder, dan juga sebagai
massa inflamatorik maupun parasitic yang berletak pada rongga cranium. SOL
juga berupa hematoma, berbagai jenis kista dan malformasi vaskuler.1

2.1.2. Epidemiologi
Berdasarkan penelitian terdapat 42 kasus SOL mempengaruhi rongga
intrakranial dan tulang belakang. 39 kasus berasal dari otak dan selaput-selaput
otak dan 3 berasal dari lumbar pinalis. Dari 39 kasus, 26 (67%) adalah akibat
tumor dan 13(33%) adalah akibat infeksi, terutama tuberculosis. Dari data tersebut
terdapat 6 kasus astrocytoma dan 3 kasus meningioma. Dalam kasus tersebut
masing-masing terdapat 2 kasus lagi yakni, pilocytic astrocytoma and
medulloblastoma. Selain itu juga terdapat kasus pineal tumour,
craniopharyngioma, pituitary adenoma, vestibular schwannoma dan
oligodendroglioma dan 6 kasus indeterminate . ada 3 kasus SOL yang mengenai
spinal yakni arachnoiditis, subdural abscess dan tuberculoma.2

2.1.3. Etiologi
1. Riwayat trauma kepala
Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma
selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf
pusat belum diketahui gejala klinis.
2. Faktor genetik
Tujuan susunan saraf pusat primer merupakan komponen besar dari
beberapa gangguan yang diturunkan sebagai kondisi autosomal, dominan
termasuk sklerasis tuberose, neurofibromatosis.
4

3. Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik dan virus


Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus
menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi
hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum jelas.
4. Defisiensi imunologi dan kongenital3

2.1.4. Klasifikasi
Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi:
1. Jinak
a. Acoustic Neuroma
b. Meningioma
c. Pituitary adenoma
d. Astrocytoma (grade1)
2. Malignan
a. Astrocytoma (grade 2)
b.Oligodendroglioma
c. Apendymoma

Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi :


1. Tumor Intradural
a. Ekstramedular
b. Cleurofibroma
c. Meningioma Intramedular
d. Apendimoma
e. Astrocytoma
f. Oligodendroglioma
g. Hemangioblastoma
2. Tumor ekstradural
a. Merupakan metastase dari lesi primer4

2.1.5. Patofisiologi
Peningkatan tekanan intrakranial adalah suatu mekanisme yang
diakibatkan oleh beberapa kondisi neurologi. Isi dari kranial adalah jaringan otak,
pembuluh darah dan cairan serebrospinal. Bila terjadi peningkatan satu dari isi
5

kranial mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, sebab ruang kranial


keras, tertutup tidak bisa berkembang.
Peningkatan satu dari beberapa isi kranial biasanya disertai dengan
pertukaran timbale balik dalam satu volume yang satu dengan yang lain. Jaringan
otak tidak dapat berkembang, tanpa berepengaruh serius pada aliran dan jumlah
cairan serebrospinal dan sirkulasi serebral. Space Occupaying Lesion (SOL)
menggantikan dan merubah jaringan otak sebagai suatu peningkatan tekanan.
Peningkatan tekanan dapat secara lambat (sehari/seminggu) atau secara cepat, hal
ini tergantung pada penyebabnya. Pada pertama kali satu hemisphere akan
dipengaruhi.
Peningkatan tekanan intrakranial dalam ruang kranial pada pertama kali
dapat dikompensasi dengan menekan vena dan pemindahan cairan serebrospinal.
Bila tekanan makin lama makin meningkat, aliran darah ke serebral akan menurun
dan perfusi menjadi tidak adekuat, maka akan meningkatkan pCO2 dan
menurunkan pO2 dan pH. Hal ini akan mnyebabkan vasodilatasi dan edema
serebri. Edema lebih lanjut akan meningkatkan tekanan intrakranial yang lebih
berat dan akan meyebabkan kompresi jaringan saraf.
Pada saat tekanan melampaui kemampuan otak untuk berkompensasi,
maka untuk meringankan tekanan, otak memindahkan ke bagian kaudal atau
herniasi kebawah. Sebagian akibat dari herniasi, batang otak akan terkena pada
berbagai tingkat, yang mana penekanannya bisa mengenai pusat vasomotor, arteri
serebral posterior, saraf okulomotorik, traktus kortikospinal, dan serabut-serabut
saraf ascending reticular activating system. Akibatnya akan mengganggu
mekanisme kesadaran, pengaturan tekanan darah, denyut nadi pernafasan dan
temperature.4

2.1.6. Manifestasi Klinis


Nyeri kepala, edema papil dan muntah secara umum dianggap sebagai
karakteristik peninggian tekanan intrakranial (TIK), dimana dua pertiga pasien
SOL memiliki semua gambaran tersebut. Walau demikian, tidak satupun dari
6

ketiganya khas untuk peninggian tekanan, kecuali edema papil, banyak penyebab
lain yang menyebabkan masing-masing berdiri sendiri dan bila mereka timbul
bersama akan memperkuat dugaan adanya peninggian TIK.7
1. Gejala klinik umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial,
meliputi5:
a. Nyeri kepala
Nyeri bersifat dalam, terus menerus, tumpul dan kadang-
kadang bersifat hebat sekali, biasanya paling hebat pada pagi hari dan
diperberat saat beraktivitas yang menyebabkan peningkatan TIK, yaitu
batuk, membungkung, dan mengejan.
b. Nausea atau muntah
Muntah yang memancar (projectile voiting) biasanya menyertai
peningkatan tekanan intrakranial.
c. Papil edema
Titik buta dari retina merupakan ukuran dan bentuk dari papilla
optik atau diskus optik. Karena tekanan intrakranial meningkat,
tekanan ditransmisi ke mata melalui cairan cerebrospinal sampai ke
diskus optik. Karena meningens memberi refleks kepada seputar bola
mata, memungkinkan transmisi tekanan melalui ruang-ruang oleh
cairan cerebrospinal. Karena diskus mata membengkak retina menjadi
tertekan juga. Retina yang rusak tidak dapat mendeteksi sinar.6
2. False localizing signs dan tanda lateralisasi
False localizing signs ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor.
Sering disebabkan karena peningkatan tekanan intrakaranial, peregeseran dari
struktur-struktur intrakranial atau iskemi. Lesi pada salah satu kompartemen
otak dapat menginduksi pergeseran dan kompresi dibagian otak yang jauh dari
lesi primer. Suatu tumor intrakranial dpat menimbulkan manifestasi yang tidak
sesuai dengan fungsi area yang ditempatinya. Tanda tersebut adalah:
a. Kelumpuhan saraf otak. Karena desakan tumor, saraf dapat tertarik
atau tertekan. Desakan itu tidak harus langsung terhadap saraf otak.
Saraf yang sering terkena tidak langsung adalah saraf III dan IV.
b. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi, dapat ditemukan pada
tumor yang terdapat di dalam salah satu hemisferium saja.
c. Gangguan mental.
7

d. Gangguan endokrin dapat juga timbul SOL di daerah hipofise.

3. Gejala klinik local


Manifestasi local terjadi pada tumor yang meneyebabkan destruksi
parenkim, infark atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor kedaerah
sekitar tumor (contohnya: peroksidase, ion hidrogen, enzim proteolitik dan
sitokin), semuanya dapat meyebabkan disfungsi fokal yang reversibel.
1. Tumor Lobus Frontal
Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti
paralisis pos-iktal.
2. Tumor Lobus Temporalis
Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus
kortikospinal kontralateral, defisit lapangan pandang homonim
perubahan kepribadian, disfungsi memori dan kejang parsial kompleks.
3. Lobus Parietal
Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori, kortikal hemianoksi
homonim.
4. Tumor Lobus Oksipital
Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym
yang kongruen.
5. Tumor pada Ventrikel Tiga
Tumor didalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat
ventrikel atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosefalus.

6. Tumor Batang Otak


Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan
pandang, nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas
7. Tumor Serebellar
Muntah Berulang dan sakit kepala dibagian oksiput merupakan gejala
yang sering ditemukan pada tumor serebellar.
8. Tumor Hipotalamus
Gangguan perkembangan seksual pada anak-anak, gangguan cairan
cerebrospinal.
9. Tumor Fosa Posterior
Gangguan berjalan nyeri kepala dan muntah disertai dengan nistagmus.5

2.1.7. Diagnosis
8

Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yaitu melalui anamnesis,


pemeriksaan fisik neurologik yang teliti serta pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan seperti ada
tidaknya nyeri kepala, muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan fisik
neurologik ditemukana adanya gejala seperti edema papil dan defisit lapangan
pandang.8
Perubahan tanda vital pada kasus SOL intrakranial meliputi:8
1. Denyut nadi
Denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari peningkatan
TIK, terutama pada anak-anak. Bradikardi merupakan mekanisme yang
mungkin terjadi untuk mensuplai darah ke otak dan mekanisme ini
dikontrol oleh tekanan pada mekanisme refleks vagal yang terdapat di
medulla.
2. Pernapasan
Pada saat kesadaran menurun, korteks serebri akan lebih tertekan
daripada batang otak pada pasien dewasa, perubahan pernapasan ini
normalnya akan diikuti dengan penurunan level dari kesadaran.
Perubahan pola pernapasan adalah hasil dari tekanan langsung pada
batang otak.
3. Tekanan darah
Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil selama stadium awal
dari peningkatan tekanan intrakranial, terutama pada anak-anak.
Dengan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial, tekanan darah
akan meningkat sebagai mekanisme kompensasi, sehingga terjadi
penurunan dari denyut nadi disertai dengan perubahan pola pernapasan.
Apabila kondisi ini terus berlangsung, maka tekanan darah akan mulai
turun.
4. Suhu tubuh
Selama mekanisme kompensasi dari peningkatan TIK, suhu tubuh
akan tetap stabil. Ketika mekanisme dekompensasi berubah,
9

peningkatan suhu tubuh akan muncul akibat dari disfungsi dari


hipotalamus atau edema pada traktus yang menghubungkannya.
5. Reaksi pupil
Serabut saraf simpatis menyebabkan otot pupil berdilatasi. Reaksi
pupil yang lebih lambat dari normalnya dapat ditemukan pada kondisi
yang menyebabkan penekanan pada nervus okulomotorius, seperti
edema otak atau lesi pada otak.

2.1.8. Pemeriksaan Penunjang


1. Head CT-Scan
CT-Scan merupakan merupakan alat diagnostik yang penting dalam
evaluasi pasien yang diduga menderita tumor otak. CT-Scan merupakan
pemeriksaan yang mudah, sederhana, non invasif, tidak berbahaya, dan waktu
pemeriksaan lebih singkat. Ketika kita menggunakan CT-Scan dengan kontras,
kita dapat mendeteksi tumor yang ada. CT-Scan tidak hanya dapat mendeteksi
tumor, tetapi juga dapat menunjukkkan jenis tumor, karena setiap tumor
intrakranial menunjukkan gambar yang berbeda pada CT-Scan.9
Gambaran CT-Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi
abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. Biasanya
tumor otak dikelilingi jaringan oedem yang terlihat jelas karena densitasnya lebih
rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan dengan
jaringan sekitarnya karena sifatnya hiperdens. Beberapa jenis tumor akan terlihat
lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan CT-Scan disertai dengan pemberian zat
kontras. Kekurangan CT-Scan adalah kurang peka dalam mendeteksi massa tumor
yang kecil, massa yang berdekatan dengan struktur tulang kranium, maupun
massa di batang otak.9
Pada subdural akut CT-Scan kepala (non kontras) tampak sebagai suatu
massa hiperdense (putih) ekstra-aksial berbentuk bulan sabit sepanjang bagian
dalam (inner table) tengkorak dan paling banyak terdapat pada konveksitas otak
didaerah parietal. Terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit didaerah bagian atas
tentorium serebeli. Perdarahan subdural yang sedikit (small SDH) dapat berbaur
10

dengan gambaran tulang tengkorak dan hanya akan tampak dengan menyesuaikan
CT window width. Pegeseran garis tengah (middle shift) akan tampak pada
perdarahan subdural yang sedang atau besar volumenya. Bila tidak ada middle
shift harus dicurigai adanya massa kontralateral dan bila middle shift hebat harus
dicurigai adanya edema serebral yang mendasarinya.8
Pada fase akut subdural menjadi isodens terhadap jaringan otak sehingga
lebih sulit dinilai pada gambaran CT-Scan, oleh karena itu pemeriksaan CT-Scan
dengan kontras atau MRI sering dipergunakan pada kasus perdarahan subdural
dalam waktu 48-72 jam setelah trauma. Pada pemeriksaan CT dengan kontras,
vena-vena kortikal akan tampak jelas dipermukaan otak dan membatasi subdural
hematoma dan jaringan otak. Perdarahan subdural akut sering juga berbentuk
lensa (bikonveks) sehingga membingungkan dalam membedakannya dengan
epidural hematoma.8
Pada fase kronik lesi subdural pada gambaran CT-Scan tanpa kontras
menjadi hipodens dan sangat mudal dilihat. Bila pada CT-Scan kepala telah
ditemukan perdarahan subdural, sangat penting untuk memeriksa kemungkinan
adanya lesi lain yang berhubungan seperti fraktur tengkorak, kontusio jaringan
otak dan perdarahan subarakhnoid.8
Pada abses, CT-Scan dapat digunakan sebagai pemandu untuk
dilakukannya biopsi. Biopsi aspirasi abses ini dilakukan untuk keperluan
diagnostik maupun terapi.

2. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang paling baik terutama untuk mendeteksi
tumor yang berukuran kecil ataupun tumor yang berada dibasis kranium, batang
otak dan di fossa posterior. MRI juga lebih baik dalam memberikan gambaran lesi
perdarahan, kistik, atau, massa padat tumor intrakranial. 7

3. Darah Lengkap
Pemeriksaan darah lengkap dapat dijadikan salah satu kunci untuk
menemukan kelainan dalam tubuh. kelainan sitemik biasanya jarang terjadi,
walaupun terkadang pada abses otak sedikit peningkatan leukosit.9
11

4. Foto Thoraks
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada tumor dibagian tubuh lain,
terutama paru yang merupakan tempat tersering untuk terjadinya metastasis
primer paru. Pada hematoma, mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur),
perubahan struktur garis (perdarahan /edema), dan fragmen tulang.9

5. USG Abdomen
Dilakukan untuk mengetahui aakah ada tumor dibagian tubuh lain. Pada
orang dewasa. Tumor otak yang merupakan metastase dari tumor lain lebih sering
daripada tumor primer otak.9

6. Biopsi
Untuk tumor otak, biopsi dilakukan untuk mengetahui jenis sel tumor
tersebut, sehingga dapat membantu dokter untuk mengidentifikasi tipe dan
stadium tumor dan menentukan pengobatan yang tepat seperti apakah akan
dilakukan pengangkatan seluruh tumor ataupun dilakukan radioterapi.7

7. Lumbal Pungsi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan untuk beberpa jenis tumor otak tertentu.
Dengan mengambil cairan serebro spinal, diharapkan dapat diketahui jenis sel dari
tumor otak tersebut. Jika tekanan intrakranial terlalu tinggi, pemeriksaan ini
kontraindikasi untuk dilakukan.7

8. Analisa Gas Darah


Untuk mendeteksi ventilasi atau masalah pernapasan jika terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.7

9. Angiography
Angiography tidak sealu dilakukan, tetapi pemeriksaan ini perlu dilakukan
untuk beberapa jenis tumor. pemeriksaan ini membantu ahli bedah untuk
mengetahui pembuluh darah mana saja yang mensuplai area tumor, terutama
apabila terlibat embuluh darah besar. Pemeriksaan ini penting dilakukan terutama
untuk tumor yang tumbuh ke bagian sangat dalam dari otak.7
12

2.1.9. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Jika hasil CT-Scan didapati adanya tumor, dapat dilakukan pembedahan.
Ada pembedahan total dan parsial, hal ini tergantung jenis tumornya. Pada kasus
abses seperti loculated abscess, pembesran abses walaupun sudah diberi antibiotik
yang sesuai, ataupun terjadi impending herniation. Sedangkan pada subdural
hematoma, operasi dekompresi harus segera dilakukan jika terdapat subdural
hematoma akut dengan middle shift > 5 mm. Operasi juga direkomendasikan pada
subdural hematoma akut dengan ketebalan lebih dari 1 cm.7

2. Radioterapi
Ada beberapa jenis tumor yang sensitif terhadap radioterapi, seperti low
grade glioma. Selain itu radioterapi juga digunakan sebagai lanjutan terapi dari
pembedahan parsial.7

3. Kemoterapi
Terapi utama jenis limfoma adalah kemoterapi. Tetapi untuk
oligodendroglioma dan beberapa astrocytoma yang berat, kemoterapi hanya
digunakan sebagai terapi tambahan.7

4. Antikolvusan
Mengontrol kejang merupakan bagian terapi yang penting pada pasien
dengan gejala klinis kejang. Pasien SOL sering mengalami peningkatan tekanan
intrakranial, yang salah satu gejala klinis yang sering terjadi adalah kejang.7
Phenytoin (300-400mg/kali) adalah yang paling umum digunakan. Selain
itu dapat juga digunakan carbamazepin (600-1000mg/hari), fenobarbital (90-
150mg/hari) dan asam valproat (750-1500mg/hari).7

5. Antibiotik
13

Jika dari hasil pemeriksaan diketahui adanya abses, maka antibiotik


merupakan salah satu terapi yang harus diberikan. Berikan antibiotik intravena,
sesuai kultur ataupun sesuai data empiris yang ada. Antibiotik diberikan 4-6
minggu atau lebih, hal ini disesuaikan dengan hasil pencitraan, apakah ukuran
abses sudah berkurang atau belum. Carbapenem, fluorokuinolon, aztreonam
memiliki penetrasi yang bagus ke sistem saraf pusat, tetapi harus memperhatikan
dosis yang diberikan (tergantung berat badan dan fungsi ginjal) untuk mencegah
toksisitas.9

6. Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema peritumoral dan mengurangu tekana
intrakranial. Efeknya mengurangi sakit kepala dengan cepat. Deksametason
adalah kortikosteroid yang dipilh karena aktivitas mineralkortikoid yang minimal.
Dosisnya dapat diberikan mulai dari 16mg/hari, tetapi dosisnya dapat
ditambahkan maupun dikurangi untuk mencapai dosis yang dibutuhkan untuk
mengontrol gejala neurologik.6

7. Head up 30-45
Berfungsi untuk mengoptimalkan venous return dari kepala, sehingga akan
membantu mengurangi TIK.7

8. Menghindari Terjadinya Hiperkapnia


PaCO2 harus dipertahankan dibawah 40 mmHg, karena hiperkapnia dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi
peningkatan TIK, dengan cara hiperventilasi ringan disertai dengan analisa gas
darah untuk menghindari global iskemia pada otak.7

9. Diuretika Osmosis
Manitol 20% dengan dosis 0,25-1 gr/kgBB diberikan cepat dalam 30-60
menit untuk membantu mengurangi peningakatan TIK dan dapat mencegah edema
serebri.7

2.1.10. Komplikasi
1. Gangguan fungsi neurologis
2. Gangguan kognitif
3. Gangguan tidur dan mood
14

4. Gangguan disfungsi seksual.8

BAB 3
LAPORAN KASUS

2.1. STATUS NEUROLOGI


IDENTITAS PRIBADI
NAMA : BIS
JENIS KELAMIN : Laki laki
USIA : 32 Tahun
SUKU BANGSA : Batak / Indonesia
AGAMA : Islam
ALAMAT : Jl. Diponegoro Gg Buntu Kisaran
STATUS : Menikah
PEKERJAAN : Wiraswasta
TGL MASUK : 25 Januari 2017
TGL KELUAR : 30 Januari 2017 (Rawat Alih Bedah Saraf)

ANAMNESA
KELUHAN UTAMA : Penurunan kesadaran
TELAAH :
- Hal ini dialami OS sejak 1,5 bulan yang lalu secara perlahan-lahan. 2
bulan sebelum penurunan kesadaran OS mengeluhkan nyeri kepala
(+), tetapi tidak turun dengan obat penghilang rasa sakit.
15

- Riwayat demam (+), hal ini dialami OS 1,5 bulan ini secara hilang
timbul, namun tidak turun dengan obat penurun panas.
- Riwayat batuk (+) 1,5 bulan yang lalu. Batuk berdahak (-) tidak
dijumpai. Batuk berdarah (-) tidak dijumpai.
- Muntah menyembur (-) tidak dijumpai.
- Riwayat kejang (+) dijumpai.
- Riwayat Stroke, Penyakit Jantung, Hipertensi dan DM disangkal.

Riwayat Penyakit Terdahulu : Tidak ada


Riwayat Penggunaan Obat : Ceftriaxson, Dexamethason, Ranitidin,
Paracetamol

ANAMNESA TRAKTUS
Traktus Sirkulatorius : Tidak dijumpai kelainan
Traktus Respiratorius : Tidak dijumpai kelainan
Traktus Digestivus : BAB (+) Normal
Traktus Urogenitaslis : BAK (+) Normal
Penyakit Terdahulu dan Kecelakaan : Tidak ada
Intoksikasi dan obat-obatan : Ceftriaxone, Dexamethasone, Ranitidin,
Paracetamol

ANAMNESA KELUARGA
Faktor Herediter : (-)
Faktor Familier : (-)
Lain-lain : (-)

ANAMNESA SOSIAL
Kelahiran dan Pertumbuhan : Normal dan baik
Imunisasi : Tidak jelas
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Wiraswasta
16

Perkawinan dan Anak : Sudah Menikah

PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan Umun
Tekanan Darah : 150/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
Frekuensi Nafas : 20x/menit

Temperatur : 37.4

Kulit dan Selaput Lendir : Dalam batas normal


Kelenjar dan Getah Bening : Dalam batas normal
Persendian : Sulit Dinilai

Kepala dan Leher


Bentuk dan Posisi : Bulat dan Medial
Pergerakan : Sulit Dinilai
Kelainan Panca Indera : Sulit Dinilai
Rongga Mulut dan Gigi : Dalam batas normal
Kelenjar Parotis : Dalam batas normal
Bruit : Tidak dijumpai
Dan lain-lain : (-)

Rongga Dada dan Abdomen


Rongga Dada Rongga Abdomen
Inspeksi : Simetris Fusiformis Simetris
Perkusi : Sonor Timpani
Palpasi : Stem Fremitus kiri = kanan Soepel
Auskultasi : Vesikular Peristaltik (+)normal

Genitalia
Toucher : Tidak dilakukan pemeriksaan
17

STATUS NEUROLOGI
Sensorium : Apatis, GCS 10 (E = 4, V=4, M=5)
Kranium
Bentuk : Bulat
Fontanella : Tertutup
Palpasi : Pulsasi A. Temporalis & Carotis (+)
Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
Auskultasi : tidak dilakukan pemeriksaan
Transluminasi : tidak dilakukan pemeriksaan
Perangsangan Meningeal
Kaku Kuduk : (-)
Tanda Kernig : (-)
Tanda Brudzinski I : (-)
Tanda Brudzinski II : (-)

Peningkatan Tekanan Intrakranial


Muntah : (-)
Sakit Kepala : (+)
Kejang : (+)

SARAF OTAK/ NERVUS KRANIALIS

Nervus I Meatus Nasi Dextra Meatus Nasi Sinistra


Normosmia : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Anosmia : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Parosmia : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Hiposmia : Sulit Dinilai Sulit Dinilai

Nervus II Oculi Dextra Oculi Sinistra


Visus : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Lapangan Pandang
18

Normal : Sulit Dinilai Sulit Dinilai


Menyempit : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Hemianopsia : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Scotoma : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Refleks Ancaman : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Fundus Okuli
Warna : tidak dilakukan pemeriksaan
Batas : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekskavasio : tidak dilakukan pemeriksaan
Arteri : tidak dilakukan pemeriksaan
Vena : tidak dilakukan pemeriksaan

Nervus III, IV, VI Oculi Dextra Oculi Sinistra


Gerakan Bola Mata : sulit dinilai sulit dinilai
Nistagmus : (-) (-)
Pupil

Lebar : 3 mm 3 mm

Bentuk : Bulat Bulat


Refleks Cahaya Langsung : (+) (+)
Refleks Cahaya Tidak Langsung : (+) (+)

Rima Palpebra : 7 mm 7 mm

Deviasi Conjugate : (-) (-)


Fenomena Dolls eyes : (+) (+)
Strabismus : (-) (-)

Nervus V Kanan Kiri


Motorik
Membuka dan menutup mulut : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Palpasi otot masseter dan temporalis : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Kekuatan Gigitan : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
19

Sensorik
Kulit : Sulit Dinilai
Selaput Lendir : Sulit Dinilai
Refleks Kornea
Langsung : (+) (+)
Tidak Lansung : (+) (+)
Refleks Masseter : Tidak dilakukan pemeriksaan
Refleks Bersin : Tidak dilakukan pemeriksaan

Nervus VII Kanan Kiri


Motorik
Mimik : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Kerut kening : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Menutup mata : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Meniup sekuatnya : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Memperlihatkan gigi : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Tertawa : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Sensorik
Pengecapan 2/3 depan lidah : Sulit Dinilai
Produksi kelenjar ludah : Sulit Dinilai
Hiperakusis : Sulit Dinilai
Refleks Stapedial : Sulit Dinilai

Nervus VIII Kanan Kiri


Auditorius
Pendengaran : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Test Rinne : Tidak dilakukan pemeriksaan
Test Weber : Tidak dilakukan pemeriksaan
Test Schwabach : Tidak dilakukan pemeriksaan
20

Vestibularis
Nistagmus : (-) (-)
Reaksi Kalori : Tidak dilakukan pemeriksaan
Vertigo : Sulit Dinilai
Tinnitus : Sulit Dinilai

Nervus IX, X
Pallatum Mole : Dalam batas normal
Uvula : Dalam batas normal
Disfagia : Sulit Dinilai
Disartria : Sulit Dinilai
Disfonia : Sulit Dinilai
Refleks Muntah : (+)
Pengecapan 1/3 belakang lidah : Sulit Dinilai

Nervus XI Kanan Kiri


Mengangkat bahu : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
Fungsi otot sternocleidomastoideus : Sulit Dinilai Sulit Dinilai

Nervus XII
Lidah
Tremor : (-)
Atrofi : (-)
Fasikulasi : (-)
Ujung lidah sewaktu istirahat : Medial
Ujung lidah sewaktu dijulurkan : Sulit Dinilai

SISTEM MOTORIK
Trofi : Sulit Dinilai
Tonus otot : Sulit Dinilai
21

Kekuatan otot : Sulit Dinilai ; Kesan lateralisasi ke kiri

Sikap (duduk-berdiri-berbaring) : Berbaring


Gerakan spontan abnormal
Tremor : (-)
Khorea : (-)
Ballismus : (-)
Mioklonus : (-)
Atetosis : (-)
Distonia : (-)
Spasme : (-)
Tic : (-)
Dan lain-lain : (-)

TEST SENSIBILITAS
Eksteroseptif : Sulit Dinilai
Propriosepttif : Sulit Dinilai
Fungsi kortikal untuk sensibilitas
Stereognosis : Sulit Dinilai
Pengenalan 2 titik : Sulit Dinilai
Grafestesia : Sulit Dinilai

REFLEKS
Refleks Fisiologis Kanan Kiri
Biceps : (++) (++)
Triceps : (++) (++)
Radioperiost : (+) (+)
APR : (++) (++)
KPR : (++) (++)
Strumple : (+) (+)
Refleks Patologis Kanan Kiri
22

Babinski : (-) (-)


Oppenheim : (-) (-)
Chaddock : (-) (-)
Gordon : (-) (-)
Schaefer : (-) (-)
Hofman-Tromner : (-) (-)
Klonus Lutut : (-) (-)
Klonus Kaki : (-) (-)
Refleks Primitif : (-) (-)

KOORDINASI
Lenggang : Sulit dinilai
Bicara : Sulit dinilai
Menulis : Sulit dinilai
Percobaan Apraksia : Sulit dinilai
Test telunjuk-telunjuk : Sulit dinilai
Test telunjuk-hidung : Sulit dinilai
Diadokokinesia : Sulit dinilai
Test tumit-lutut : Sulit dinilai
Test Romberg : Sulit dinilai

VEGETATIF
Vasomotorik : Dalam batas normal
Sudomotorik : Dalam batas normal
Pilo-erektor : Dalam batas normal
Miksi : Dalam batas normal
Defekasi : (-)
Potens dan Libido : Tidak dilakukan pemeriksaan

VERTEBRA
23

Bentuk
Normal : (+)
Scoliosis : (-)
Hiperlordosis : (-)
Pergerakan
Leher : Sulit Dinilai
Pinggang : Sulit Dinilai

TANDA PERANGSANGAN RADIKULER


Laseque : Sulit Dinilai
Cross Laseque : Sulit Dinilai
Test Lhermitte : Sulit Dinilai
Test Nafziger : Sulit Dinilai

GEJALA-GEJALA SEREBELAR
Ataksia : (-)
Disartria : (-)
Tremor : (-)
Nistagmus : (-)
Fenomena Rebound : (-)
Vertigo : (-)
Dan lain-lain : (-)

GEJALA-GEJALA EKSTRAPIRAMIDAL
Tremor : (-)
Rigiditas : (-)
Bradikinesia : (-)
Dan lain-lain : (-)

FUNGSI LUHUR
Kesadaran kualitatif : Apatis
24

Ingatan baru : Sulit dinilai


Ingatan lama : Sulit dinilai
Orientasi
Diri : Sulit dinilai
Tempat : Sulit dinilai
Waktu : Sulit dinilai
Situasi : Sulit dinilai
Intelegensia : Sulit dinilai
Daya pertimbangan : Sulit dinilai
Reaksi emosi : Sulit dinilai
Afasia
Ekspresif : Sulit dinilai
Represif : Sulit dinilai
Apraksia : Sulit dinilai
Agnosia
Agnosia visual : Sulit dinilai
Agnosia jari-jari : Sulit dinilai
Akalkulia : Sulit dinilai
Disorientasi ka-ki : Sulit dinilai

2.2 KESIMPULAN PEMERIKSAAN


KU : Penurunan kesadaran
T :
- Hal ini dialami OS sejak 1,5 bulan yang lalu secara perlahan-lahan. 2
bulan sebelum penurunan kesadaran OS mengeluhkan nyeri kepala
(+), tetapi tidak turun dengan obat penghilang rasa sakit.
- Riwayat demam (+), hal ini dialami OS 1,5 bulan ini secara hilang
timbul, namun tidak turun dengan obat penurun panas.
- Riwayat batuk (+) 1,5 bulan yang lalu. Batuk berdahak (-) tidak
dijumpai. Batuk berdarah (-) tidak dijumpai.
- Muntah menyembur (-) tidak dijumpai.
25

- Riwayat kejang (+) dijumpai.


- Riwayat Stroke, Penyakit Jantung, Hipertensi dan DM disangkal.
Riwayat Penyakit Terdahulu : Tidak ada
Riwayat Penggunaan Obat : Ceftriaxson, Dexamethason, Ranitidin,
Paracetamol
Status Presens
Kesadaran : Apatis
Tekanan Darah : 150/70 mmHg
Nadi : 84x/menit
Frekuensi Nafas : 20x/menit

Temperatur : 37.4

Status Neurologis
Tanda Peningkatan TIK
- Nyeri kepala (+)
- Muntah (-)
- Kejang (+)
Tanda Perangsangan Meningeal
- Kaku kuduk (-)
- Tanda Kernig (-)
- Tanda Brudzinski I/II (-)

Refleks Fisiologis ka ki
B/T ++/++ ++/++
APR/KPR ++/++ ++/++
Refleks Patologis Kanan Kiri
Babinski : (-) (-)
Oppenheim : (-) (-)
Chaddock : (-) (-)
Gordon : (-) (-)
Schaefer : (-) (-)
Hofman-Tromner : (-) (-)
Klonus Lutut : (-) (-)
26

Klonus Kaki : (-) (-)


Refleks Primitif : (-) (-)

Nervus Kranialis
N. I : Sulit Dinilai

N. II : RC +/+, pupil bulat isokor, OD=OS: 3mm

N. III,IV,VI : Dolls Eye Fenomena (+)


N. V : Refleks kornea (+)
N. VII : Sudut mulut simetris
N. VIII : Sulit Dinilai
N. IX,X : Sulit Dinilai
N. XI : Sulit Dinilai
N. XII : Lidah sewaktu istirahat medial
Kekuatan Motorik : Sulit Dinilai
Kesan: lateralisasi ke kiri

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto Thorax PA 25-1-2017
27

Head CT- SCAN tanggal 25- 1- 2017


28

CT Scan : Massa di fossa posterior kanan disertai hidrosefalus, suspek perdarahan


intraserebri di periventrikel lateral cornu anterior.

Laboratorium tanggal 25 1 - 2017


o Darah lengkap :
Hb : 15,8 gr/dl
Eritrosit : 5,73 x 106 mm3
Leukosit : 9,940/ L
Trombosit : 353.000 /L
Hematokrit: 47%
o Hitung Jenis:
Neutrofil : 71,30 %
Limfosit : 20,60 %
Monosit : 7,70 %
Eosinofil : 0,10 %
Basofil : 0,30 %
o Elektrolit :
29

Natrium : 135 mEq/L


Kalium : 3,7 mEq/L
Chlorida : 100 mEq/L
o Fungsi Ginjal :
BUN : 12 mg/dL
Ureum : 26 mg/dL
Kreatinin : 0,65 mg/dL
o KGD Sewaktu : 106 mg/dL
o Hati
SGOT : 48 U/L
SGPT : 165 U/L
Albumin : 2,9 g/dL
o Analisis Gas Darah
pH : 7, 460
pCO2 : 29 mmHg
pO2 : 182 mmHg
HCO3 : 20,6 U/L
Total CO2 : 21, 5 U/L
BE : -2,2 U/L
Sat. O2 : 100%
o Test Lain
Procalcitonin : 0,11 ng/dL

DIAGNOSA
Diagnosa Fungsional : Apatis + Hemiparese
Sinistra
Diagnosa Anatomis : Sub- kortex
Diagnosa Etiologi : SOL intrakranial
Diagnosa Banding : 1. Apatis + Hemiparese
Sinistra ec. S.O.L Intrakranial
2. Apatis + Hemiparese Sinistra ec.Meningitis
Diagnosa kerja : Apatis + Hemiparese Sinistra
ec S.O.L Intrakranial

TATALAKSANA:
Tirah baring + Head up 300
IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam/IV
Inj. Dexamethasone 1 amp/6 jam/IV
Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam/IV
30

Paracetamol 3 x tab 1

RENCANA PROSEDUR DIAGNOSTIK


Cek darah ulang
Cek tumor marker
CT-Scan Ulang

FOLLOW UP (25 Januari 2017 30 Januari 2017)

Tanggal Vital Sign & PF Diagnosa Penatalaksanaan

25-1-17 S: Penurunan kesadaran, Kejang (-) Apatis + Obs. - Bedrest + Head up 300
- NGT terpasang
O: Sens: Apatis Konvulsi +
- IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
TD: 130/70 mmHg Hemiparese - Inj. Ceftriaxone 1gr/12
HR: 84x/menit Sinistra ec SOL jam/IV
- Inj. Dexamethasone 1
RR: 20x/menit intrakranial
amp/6 jam/IV
Temp: 37.4 - Inj. Ranitidin 1 amp/12
Peningkatan TIK : - jam/IV
- Paracetamol tab 3 x tab 1
Perangsangan Meningeal : -
N. Kranialis
N. II,III: RC +/+, pupil bulat isokor,

3/3mm

N. III,IV,VI: Gerak bola mata (+)


N. IV,VI: Kiri parese
N. V : Refleks kornea (+)
31

N. VII : Sudut mulut simetris


Refleks Fisiologis
B/T : ++/++
APR/KPR : ++/++
Refleks Patologis
H/T : -/-
Babinski :-/-
Kekuatan Motorik : sulit dinilai,
kesan lateralisasi ke kiri
26-1-17 S: Nyeri kepala berkurang Sec. Headache - Bedrest + Head up 300
- NGT terpasang
O: Sens: CM ec. SOL
- IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
TD: 130/70 mmHg intrakranial - Inj. Ceftriaxone 1gr/12
HR: 72 x/i jam/IV
- Inj. Dexamethasone 1
RR: 20 x/i
amp/6 jam/IV (H2)
temp: 36.8 0C
- Inj. Ranitidin 1 amp/12
Peningkatan TIK : -
jam/IV
Perangsangan Meningeal : - - Paracetamol tab 3 x 1
N. Kranialis
N. II,III: RC +/+, pupil bulat isokor,

3mm ka = ki

N. III,IV,VI: Gerak bola mata (+/+)


N. V : Refleks kornea (+)
N. VII : Sudut mulut jatuh ke kiri
Refleks Fisiologis
B/T : ++/++
APR/KPR : ++/++
Refleks Patologis
H/T : -/-
Babinski :-/-
Kekuatan Motorik : sulit dinilai,
32

Lateralisasi ke kiri
27 s/d 29-1- S: Nyeri kepala berkurang Apatis + Sec. - Bedrest + Head up 300
- NGT terpasang
17 O: Sens: Apatis Headache ec.
- IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
TD: 130/80 mmHg SOL intrakranial - Inj. Ceftriaxone 1gr/12
HR: 88 x/i jam/IV
- Inj. Dexamethasone 1
RR: 20 x/I
amp/6 jam/IV (H2)
temp: 36.7 0C
- Inj. Ranitidin 1 amp/12
Peningkatan TIK : -
jam/IV
Perangsangan Meningeal : - - Paracetamol tab 3 x 1
N. Kranialis
N. II,III: RC +/+, pupil bulat isokor,

3mm ka = ki

N.III,IV,VI: Dolls Eye Phenomena


(+/+)
N. VII : Sudut mulut simetris
Refleks Fisiologis
B/T : ++/++
APR/KPR : ++/++
Refleks Patologis
H/T : -/-
Babinski :-/-
Kekuatan Motorik : sulit dinilai,
Lateralisasi tidak ada
30-1-2017 S: Nyeri kepala berkurang Secondary - Bedrest + Head up 300
- NGT terpasang
O: Sens: CM Headache ec.
- IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
TD: 130/70 mmHg SOL Intrakranial - Inj. Ceftriaxone 1gr/12
HR: 78 x/i jam/IV
- Inj. Dexamethasone 1
RR: 20 x/I
amp/6 jam/IV (H2)
temp: 36.6 0C
- Inj. Ranitidin 1 amp/12
Peningkatan TIK : -
jam/IV
Perangsangan Meningeal : - - Paracetamol tab 3 x 1
33

N. Kranialis
N. II,III: RC +/+, pupil bulat isokor,

3mm ka = ki

N.III,IV,VI: Gerak bola mata (+/+)


N. VII : Sudut mulut simetris
Refleks Fisiologis
B/T : ++/++
APR/KPR : ++/++
Refleks Patologis
H/T : -/-
Babinski :-/-
Kekuatan Motorik :
ESD : 55555 ESS : 55555
EID : 55555 EIS : 55555
31-1-2017 - Pasien rawat alih ke bagian Bedah Saraf untuk Pembedahan
34

BAB 4
DISKUSI KASUS

TINJAUAN PUSTAKA KASUS

Definisi

SOL dapat didefinisikan sebagai tumor Pada pasien ditemukan disfungsi


yang jinak atau ganas baik bersifat neurologis, yaitu, pasien mengalami
primer atau sekunder, dan juga sebagai penurunan kesadaran sejak 1,5 bulan
massa inflamatorik maupun parasitic yang lalu secara perlahan-lahan.
yang berletak pada rongga cranium. Sol
juga berupa hematoma, berbagai jenis
kista dan malformasi vaskuler.1

Etiologi

1. Riwayat trauma kepala 2 bulan sebelum penurunan kesadaran


OS mengeluhkan nyeri kepala (+),
Trauma yang berulang
tetapi tidak turun dengan obat
menyebabkan terjadinya meningioma
penghilang rasa sakit.
(neoplasma selaput otak). Pengaruh
35

trauma pada patogenesis neoplasma


susunan saraf pusat belum diketahui
gejala klinis.

2. Faktor genetik

Tujuan susunan saraf pusat


primer merupakan komponen besar dari
beberapa gangguan yang diturunkan
sebagai kondisi autosomal, dominan
termasuk sklerasis tuberose,
neurofibromatosis.

3. Paparan zat kimia yang bersifat


karsinogenik dan virus.

Pada binatang telah ditemukan


bahwa karsinogen kimia dan virus
menyebabkan terbentuknya neoplasma
primer susunan saraf pusat tetapi
hubungannya dengan tumor pada
manusia masih belum jelas.

4. Defisisensi imunologi dan


kongenital3

Diagnosis

Anamnesa & Pemeriksaan Fisik Anamnesa

Untuk menegakkan diagnosis pada Pada pasien ditemukan penurunan


penderita yaitu melalui anamnesis, kesadaran. Hal ini dialami OS sejak
pemeriksaan fisik neurologik yang teliti 1,5 bulan yang lalu secara perlahan-
serta pemeriksaan penunjang. Dari lahan. 2 bulan sebelum penurunan
anamnesis kita dapat mengetahui kesadaran OS mengeluhkan nyeri
gejala-gejala yang dirasakan seperti ada kepala (+), tetapi tidak turun dengan
36

tidaknya nyeri kepala, muntah dan obat penghilang rasa sakit.


kejang.Sedangkan melalui pemeriksaan
-Riwayat demam (+), hal ini dialami
fisik neurologik ditemukana adanya
OS 1,5 bulan ini secara hilang timbul,
gejala seperti edema papil dan defisit
namun tidak turun dengan obat penurun
lapangan pandang.8
panas.

-Riwayat batuk (+) 1,5 bulan yang


Pemeriksaan Diagnostik lalu.

1. Head CT-Scan -Riwayat kejang (+) dijumpai.


CT-Scan merupakan merupakan
alat diagnostik yang penting dalam
evaluasi pasien yang diduga menderita
Pemeriksaan Fisik
tumor otak. CT-Scan merupakan
pemeriksaan yang mudah, sederhana, Status Presens
non invasif, tidak berbahaya, dan Kesadaran : Apatis

waktu pemeriksaan lebih singkat. Tekanan Darah : 150/70 mmHg

Ketika kita menggunakan CT-Scan Nadi : 84x/menit

dengan kontras, kita dapat mendeteksi Frekuensi Nafas : 20x/menit

tumor yang ada. CT-Scan tidak hanya Temperatur : 37.4


dapat mendeteksi tumor, tetapi dapat Status Neurologis
menunjukkkan jenis tumor apa, karena Tanda Peningkatan TIK
setiap tumor intrakranial menunjukkan - Nyeri kepala (+)
gambar yang berbeda pad CT-Scan.9 - Kejang (+)
2. MRI Kekuatan Motorik : Sulit Dinilai
MRI merupakan pemeriksaan
Kesan: lateralisasi ke kiri
yang paling baik terutama untuk
mendeteksi tumor yang berukuran
kecil ataupun tumor yang berada Pemeriksaan diagnostic
dibasis kranium, batang otak dan di
CT Scan : Massa di fossa posterior
fossa posterior. MRI juga lebih baik
kanan disertai hidrosefalus, suspek
dalam memberikan gambaran lesi
perdarahan intraserebri di periventrikel
37

perdarahan, kistik, atau, massa padat lateral cornu anterior.


tumor intrakranial. 7
3. Darah Lengkap
Pemeriksaan darah lengkap
dapat dijadikan salah satu kunci
untuk menemukan kelainan dalam
tubuh. kelainan sitemik biasanya
jarang terjadi, walaupun terkadang
pada abses otak sedikit peningkatan
leukosit.9
4. Foto Thoraks
Dilakukan untuk mengetahui
apakah ada tumor dibagian tubuh
lain, terutama paru yang merupakan
tempat tersering untuk terjadinya
metastasis primer paru. Pada
hematoma, mendeteksi perubahan
struktur tulang (fraktur), perubahan
struktur garis (perdarahan /edema),
dan fragmen tulang.9
5. USG Abdomen
Dilakukan untuk mengetahui
aakah ada tumor dibagian tubuh lain.
Pada orang dewasa. Tumor otak yang
merupakan metastase dari tumor lain
lebih sering daripada tumor primer
otak.9
6. Biopsi
Untuk tumor otak, biopsi
dilakukan untuk mengetahui jenis sel
tumor tersebut, sehingga dapat
membantu dokter untuk
mengidentifikasi tipe dan stadium
tumor dan menentukan pengobatan
38

yang tepat seperti apakah akan


dilakukan pengangkatan seluruh
tumor ataupun dilakukan
radioterapi.7
7. Lumbal Pungsi
Pemeriksaan ini hanya
dilakukan untuk beberpa jenis tumor
otak tertentu. Dengan mengambil
cairan serebro spinal, diharapkan
dapat diketahui jenis sel dari tumor
otak tersebut. Jika tekanan
intrakranial terlalu tinggi,
pemeriksaan ini kontraindikasi untuk
dilakukan.7
8. Analisa Gas Darah
Untuk mendeteksi ventilasi atau
masalah pernapasan jika terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.7
9. Angiography

Angiography tidak sealu


dilakukan, tetapi pemeriksaan ini perlu
dilakukan untuk beberapa jenis tumor.
pemeriksaan ini membantu ahli bedah
untuk mengetahui pembuluh darah
mana saja yang mensuplai area tumor,
terutama apabila terlibat embuluh darah
besar. Pemeriksaan ini penting
dilakukan terutama untuk tumor yang
tumbuh ke bagian sangat dalam dari
otak.7

Penatalaksanaan

1. Pembedahan Tirah baring + Head up 300


39

Jika hasil CT-Scan didapati NGT Terpasang


adanya tumor, dapat dilakukan IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam/IV
pembedahan. Ada pembedahan total Inj. Dexamethasone 1 amp/6
dan parsial, hal ini tergantung jenis jam/IV
tumornya. Pada kasus abses seperti Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam/IV
Paracetamol 3 x tab 1
loculated abscess, pembesran abses
walaupun sudah diberi antibiotik
yang sesuai, terjadi Pasien di rawat alih ke bagian Bedah
ataupun
impending herniation. Sedangkan Saraf per-tanggal 31 Januari 2017 dan
pada subdural hematoma, operasi direncanakan pembedahan.
dekompresi harus segera dilakukan
jika terdapat subdural hematoma
akut dengan middle shift > 5 mm.
Operasi juga direkomendasikan
pada subdural hematoma akut
dengan ketebalan lebih dari 1 cm.7
2. Radioterapi
Ada beberapa jenis tumor yang
sensitif terhadap radioterapi, seperti
low grade glioma. Selain itu
radioterapi juga digunakan sebagai
lanjutan terapi dari pembedahan
parsial.7
3. Kemoterapi
Terapi utama jenis limpoma
adalah kemoterapi. Tetapi untuk
oligodendroglioma dan beberapa
astrocytoma yang berat, kemoterapi
hanya digunakan sebagai terapi
tambahan.7
4. Antikolvusan
Mengontrol kejang merupakan
40

bagian terapi yang penting pada


pasien dengan gejala klinis kejang.
Pasien SOL sering mengalami
peningkatan tekanan intrakranial,
yang salah satu gejala klinis yang
sering terjadi adalah kejang.7
Phenytoin (300-400mg/kali)
adalah yang paling umum
digunakan. Selain itu dapat juga
digunakan carbamazepine (600-
1000mg/hari), phenobarbital (90-
150mg/hari) dan asam valproat
(750-1500mg/hari).7
5. Antibiotik
Jika dari hasil pemeriksaan
diketahui adanya abses, maka
antibiotik merupakan salah satu
terapi yang harus diberikan.
Berikan antibiotik intravena, sesuai
kultur ataupun sesuai data empiris
yang ada. Antibiotik diberikan 4-6
minggu atau lebih, hal ini
disesuaikan dengan hasil
pencitraan, apakah ukuran abses
sudah berkurang atau belum.
Carbapenem, fluorokuinolon,
aztreonam memiliki penetrasi yang
bagus ke sistem saraf pusat, tetapi
harus memperhatikan dosis yang
diberikan (tergantung berat badan
dan fungsi ginjal) untuk mencegah
41

toksisitas.9
6. Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi
edema peritumoral dan mengurangu
tekana intrakranial. Efeknya
mengurangi sakit kepala dengan
cepat. Dexamethasone adalah
kortikosteroid yang dipilh karena
aktivitas mineralkortikoid yang
minimal. Dosisnya dapat diberikan
mulai dari 16mg/hari, tetapi
dosisnya dapat ditambahkan
maupun dikurangi untuk mencapai
dosis yang dibutuhkan untuk
mengontrol gejala neurologik.6
7. Head up 30-45
Berfungsi untuk
mengoptimalkan venous return dari
kepala, sehingga akan membantu
mengurangi TIK.7
8. Menghindari Terjadinya
Hiperkapnia
PaCO2 harus dipertahankan
dibawah 40 mmHg, karena
hiperkapnia dapat menyebabkan
terjadinya peningkatan aliran darah
ke otak sehingga terjadi
peningkatan TIK, dengan cara
hiperventilasi ringan disertai
dengan analisa gas darah untuk
menghindari global iskemia pada
otak.7
9. Diuretika Osmosis
42

Manitol 20% dengan dosis


0,25-1 gr/kgBB diberikan cepat dalam
30-60 menit untuk membantu
mengurangi peningakatan TIK dan
dapat mencegah edema serebri.7

BAB 5
43

KESIMPULAN

BIS, laki-laki usia 32 tahun, dengan keluhan penurunan kesadaran, setelah


dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang berupa pemeriksaan
laboratorium dan radiologi, didiagnosa dengan Apatis + Secondary Headache ec.
SOL intrakranial dan ditatalaksana nonfarmakologi berupa Head up 300, NGT
terpasang, serta tatalaksana farmakologi berupa:
Tirah baring + Head up 300
NGT Terpasang
IVFD R-Sol 20 gtt/mnt
Inj. Ceftriaxone 1gr/12 jam/IV
Inj. Dexamethasone 1 amp/6 jam/IV
Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam/IV
Paracetamol 3 x tab 1

DAFTAR PUSTAKA

1. Ejaz M, Saeed A, Naseer A, Chaudrhy, Qureshi G.R, 2005. Intra-kranial


Space Occupying Lesions A Morphological Analysis. Department of
44

Pathology, Postgraduate Medical Institute, Lahore Pakistan. Biomedica


Vol. 21
2. Kaptigau, W. Matui ,Ke Liu. Space-occupying lesions in Papua New
Guinea the CT era. Port Moresby General Hospital, Papua New Guinea
and Chongqing Emergency Medical Centre, Chongqing City, China. PNG
Med J 2007 Mar-Jun;50(1-2):33-43
3. Wulandari, A., 2012. Space Occupying Lesion (SOL). Available from:
http://www.scribd.com/doc/181664046/Sol
4. Ningrum, F.Y., 2013. Space Occupaying Lesion ( SOL). Available from:
http://www.scribd.com/doc/123949291/referat-SOL
5. Widyalaksono, A., 2012. SOL Space Occupayimg Lesion. Available from:
http://www.scribd.com/doc/129372631/CR-SOL
6. Lombardo MC. 2006. Cedera Sistem Saraf Pusat. Dalam: Price SA,
Wilson LM, eds. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Volume 2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7. Wilkinson, Iain. 2005. Brain Tumour. Essential Neurology, 4th Edition.
Page 50-52.
8. Meagher, R.J., & Lutsep, H.L. 2013. Subdural Hematoma. Dipetik
Desember 10, 2013, dari http://emedicine.medscape.com/article/113720.
9. Japardi, I. 2004 Cedera Kepala: Memahami Aspek-Aspek Penting dalam
Pengelolaan Penderita Cedera Kepala. Jakarta Barat: Bhuana Ilmu
Populer.