Anda di halaman 1dari 14

Agama kristen

Dalam sejarahnya, agama kristen telah berusia 2000 tahun


yang lalu itu, agama kristen telah tumbuh dalam berbagai
bentuk yang mengagumkan. Sejak dari pemandangan yang
penuh dengan kegemilangan pada upacara misa agung dalam
gereja Santo Petrus di kota Roma, sampai pada kesederhanaan
pertemuan kaum kuaker yang penuh dengan keheningan, dari
kecanggihan intelektual Thomas Aquinas sampai pada
kesederhanaan orang-orang Negro di Georgia yang hanya
menyanyikan: Tuhan aku ingin menjadi seorang pengikut
Kritus, dari gereja St. Paul di kota London, yang merupakan
Gereja resmi Imperium Inggris, sampai ke pemukiman Kagawa
daerah miskin Tokyo atau pada ribuan orang yang berdesak-
desakan di lapangan Madison Square Garden di kota New York
yang ingin mendengarkan kotbah penginjil Billy Graham,
seluruhnya itu adalah dunia umat Kristen.

Dari keadaan yang seolah-olah menyilaukan itu, bahkan


seringkali membingungkan kita. Pertama-tama kita harus
mencari suatu corak utama agama ini, yang menyatukan semua
itu dan kemudian menjelaskan tiga aliran utama yang terdapat
dalam dunia kristen dewasa ini yaitu Gereja Roma Khatolik,
Gereja Kristen Ortodoks Timur, dan Gereja Kristen Protestan.

Yang diurapi
Agama kriten pada dasarnya adalah suatu agama
sejarah. Artinya, landasan utama berdirinya agama ini
bukanlah terletak pada asas-asas yang bersifat umum,
tetap didasarkan pada kejadian-kejadian nyata, yaitu pada
peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya terjadi dalam
sejarah. Peristiwa yang terpenting dari rangkaian peristiwa
tersebut adalah kisah kehidupan seorang tukang kayu yang
tidak dikenal, yang seperti telah sering ditunjukkan lahir di
sebuah kandang hewan. Meniggal dalam usia 33 tahun
dengantuduhan sebagai seorang penjahat dan bukannya
sebagai seorang pahlawan, tidak memiliki harta apapun,
tidak pernah mengikuti pendidikan, tidak pernah
digoreskan habyalah tulisan di pasir.
Walaupun demikian, seperti yang dijelaskan oleh Geogre
Butrick, tanggal lahirnya diingat oleh seluruh dunia dan
saat kematiannya diperingati dengan palang salib
diseluruh. Jika demikian, siapakah dia?
Ahli sejarah Carlyle mengatakan bahwa Walaupun ia
seorang yang tidak kaya, beliau akan memberikan
sepertiga dari seluruh harta yang dimilikinya, jika ada
seorang yang mendapat memberikan gambaran yang pasti
mengenai keadaan lahiriah Yesus. Sekiranya para
pemahat patung pualam ini dapat memahat sebuah
patung yang mirip seperti anak manusia itu dan
menunjukkan pada kita bagaimana wujudnya, bagaimana
perawakannya, dan bagaimana ciri-cirinya.
Bagi beberapa orang, yesus tetap merupakan yesus
yang ramah, rendah hati, dan lembut, dikelilingi oleh anak-
anak dan domba seperti terlihat pada gambar yang
menghiasi dinding sekolah taman kanak-kanak. Orang
lainnya akan menggambarkan beliau sebagai nabi seorang
nabi yang tegap badannya dan berjanggut merah, yang
sedang bejalan melalui bukit-bukit Palestina menuju
Yerussalem.
Demikian juga halnya jika kita beralih dari gambaran
keadaan lahiriah kepada riwayat hidup Yesus. Perhitungan
mengenai abad-abad masehiyang dimaksudkan berasal
dari kelahiran yesus hampir pasti telah meleset beberapa
tahun. Ia tumbuh dewasa di kota Nazarets atau di
sekitarnya, mungkin sekali sesuai dengan adat kebiasaan
umat Yahudi biasa pada saat itu. Beliau dibaptis oleh
Yohannes, seorang nabi yang penuh dengan pngabdian,
yang menggocangkan daerah tersebut dengan
pernyataannya bahwa pengadilan tuhan akan segera
datang. Pada awal usia 30 tahun, beliau melakukan
kegiatan mengajar sambil menyembuhkan orang sakit,
kira-kira selama satu setengat tahun dan tiga tahun,
terutama di daerah Galilea. Setelah itu telah timbul rasa
permusuhan dari beberapa kalangan umat Yahudi dan
kecurigaan umat Romawi yang menyebabkan beliau
disalibkan di pinggiran kota Yerussalem. Secara perlahan-
lahan merasa uamt terpaksa dengan apa yang mereka
saksikan, sehingga akhirnya mereka menjadi yakin bahwa
ia adalah tuhan. Pengakuan pertama terhadap peranannya
sebagai sang penebus bukan berasal dari pernyataan
mengenai pribadinya sendiri, tetapi dari seluruh kesan
yang ditimbulkan kepada para pengikutnya. Tidak pernah
ada dalam sejarah yang lebih dimuliakan dari beliau yang
memuliakan Yesus dari pada generasi kezamannya sendiri,
yaitu generasi Petrus, Yohannes, dan Paulus.

Ia berkeliling sambil berbuat baik


Dalam kitab injil penuh dengan puji-pujian terhadap
perbuatan beliau. Halaman-halaman kitab ini, khususnya
dalam injil markus penuh dengan peristiwa-peristiwa ajaib.
Tidak perlu diragukan lagi bahwa peristiwa-peistiwa ajaib
itu sangat mengagumkan orang yang menyaksikannya.
Namun kita keliru, jika justru pada hal-hal ini kita letakkan
titik berat perbuatan kita. Salah satu alasan mengapa
demikian adalah bukan di situ yesus meletakkan titik
perhatiannya. Beliau tidak pernah menggunakan mukjizat-
mukjizat itu sebagai sarana untuk meyakinkan orang. Tak
pernah sekalipun beliau berusaha untuk membuat
oranglain kagum mendesak ataupun menyiksa orang lain
agar percaya kepadanya, denagn cara memainkan
sepotong tongkat sulap ajaib. Sebagian dari makna kisah
godaan di Padang gurun yang beliau alami, justru terletak
pada penolakan beliau terhadap cara-cara demikian, yang
beliau anggap sebagai perbuatan setan. Seluruh perbuatan
luar biasa yang beliau lakukan terjadi secara diam-diam,
terpisah dari orang-orang banyak dan hanya sebagai bukti
dari kekuatan-kekuatan kisah kejadian ajaib ini secara
berlebihan. Kedaan memperoleh gambaran yang lebih jelas
tentang perbuatan Yesus. Jika kita meletakkan titik berat
perhatian kita padahal yang sama denagn yang mejadi
perhatian dari salah seorang murid Yesus sendiri. Pada
suatu ketika, disaat memberi kejelasan kepada suatu
kelompok, Petrus merasa perlu untuk meringkaskan
seluruh perbuatan Yesus selamanya, hidupnya itu dalam
pedoman singkat. Ia menjelaskan hal itu dalam lima kata-
kata yang padat beliau berkeliling sambil berbuat baik.
Alangkah sederhananya perbuatan itu namun, sukar
mencari kalimat yang lebih baik dari itu.
Secara biasa, dan tanpa merasa rikuh, beliau bergaul
dengan orang-orang menderita dalam masyarakat, denagn
perempuan tuna susila dan dengan para pemungut pajak.
Melalui upaya penyembuhan dan dengan membantu
orang-orang yang sedang berada dalam keadaan krisis,
beliau berkeliling sambil berbuat baik. Beliau berkeliling
melakukan hal-hal tersebut dengan penuh kesungguhan
hati dan dengan hasil yang baik, sehingga orang-orang
yang berada di sekitar beliau dari hari kehari, merasa
bahwa pandangan mereka terhadap diri beliau berubah
sama sekali. Mereka akhirnya berfikir, jika bahwa sekiranya
Tuhan merupakan kebaikan sejati, akan mengambil wujud
manusia, tentu inilah perbuatannya sebagai manusia itu.

Tidak Pernah Ada Orang Berbicara Demikian


Bukan hanya perbuatan Yesus yang menyebabkan
orang-orang kezamannya menganggap Yesus dalam sudut
pandang yang baru, melainkan berdasarkan juga pada apa
yang ia katakan. Sesungguhnya bahasa yang digunakan
Yesus merupakan suatu bahasa penelitian yang menarik, di
samping makna yang terkandung di dalamnya. Jika
kesederhanaan, kepadatan dan kemampuan untuk
menampilkan hal yang bersifat inti merupakan ciri dari
kesusatraan agama yang agung maka ciri-ciri itu saja
sudah menyebabkan kata-kata Yesu bersifat pribadi.
Namun hal ini merupakan permulaan. Kata-kata Yesus
mengandung suatu sifat yang luar biasa yang tidak mampu
dilakukan oleh orang arif bijaksana yang selalu berhati-hati
agar dapat menyampaikan pertimbangan yang tidak berat
sebelah. Sifat kata-kata tersebut yang penuh semangat
telah menyebabkan seorang penyair membuat kata khusus
untuk bahasa Yesus, yang disebutnya gigantesque (bersifat
maha besar).
Dan apakah yang ia inginkan denagn menggunakan
bahasa ini? Jumlah pesan itu tidak banyak. Semua
perkataan Yesus dilaporkan dalam kitab perjanjian baru,
dapat diucapkan dalam waktu dua jam. Namun kata-ka
tersebut merupakan kata-kata yang paling sering diulang
kembali di dunia ini. Cintailah sesamamu, seperti anda
mencintai diri anda sendiri. Lakukan terhadap oranglain
apa yang anda ingin lakukan orang terhadap diri anda
sendiri. Datanglah kepadaku, kamu semua yang letihdan
berbeban berat dan aku akan menyegarkan kamu.
Carilah kebenaran, maka kebenaran itu mendekatimu.
Kita diajarkan untuk tidak melawan kejahatan
oranglain terhadap diri kita. Kita malahan disuruh untuk
menyerahkan pipi kita yang lain. Dunia biasanya
beranggapan bahwa kejahatan orang lain itu harus dilawan
dengan sekuat tenaga dan dengan cara apapun. Kita
diajarkan Yesus untuk mencintai musuh-musuh kita dan
bedoa mohon kebaikan bagi mereka yang mengutuk kita.
Dunia mengajarkan bahwa sahabat kita lah yang harus kita
cintai dan musuhlah yang harus kita benci.

Kami Telah menyaksikan Kemuliaannya


Dalam halaman-halaman Kitab Injil, Yesus tampil
tampil sebagai seorang yang tampil daya tarik serta
pengaruh yang tiada taranya dan sepeti pernah dikatakan
oleh seseorang, sama sekali tidak memberi kesan asing,
kecuali kesempurnaannya yang merupakan hal yang asing
atau baru sama sekali. Beliau senag dengan orang lain dan
sebaiknya orangalain senang dengan beliau. Dan jumlah
orang lain mencintai beliau sangat banyak. Sunggguh,
beliau mengabaikan tradisi yang membua rintangan antara
manusia yang satu denagn manusia yang lainnya. Beliau
cinta kepada anak-anak.
Beliau membenci ketidakadilan adalah orang-orang
yang disebutnya terkecil antara mereka ini. Terlebih lagi
beliau membenci kemunafikan, karena kemunafikan itu
menyembunyikan pribadi seseorang bahkan terhadap
dirinya sendiri dan megucilkannya dari persahabatan yang
dijalaninya dengan oranglain.
Akhirnya, terutama disaat beliau mengorbankan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya, bagi mereka yang
mengenalnya dari dekat. Beliaulah yang merupakan pribdi
yang sama sekali tidak lagi memiliki perasaan
mementingkan diri sediri.

Awal dan Akhir


Saat-saat terakhir kegiatan Yesus dalam menyampaikan
ajarannya, telah dikena setiap orang. Setelah bergaul
dengan orang banyak dan mengajar mereka selama
beberapa bulan, beliau disalibkan.
Malam tersebut seyogyanya merupakan saat terakhir dari
kisah ini. Sejarah penuh dengan kisah orang yang
mempunyai ilham mengenai masa depan, yang telah
mengajukan berbagai rencana, kemudia tewas dan itulah
akhir dari kisah yang dapat kita denagr mengenai mereka.
Justru itulah awalnya. Dalam beberapa minggu berikutnya,
para meurid beliau dengan bersemangat mennyampaikan
kotbah mengenai Kristus, tuhan yang telah bangkit
kembali.
Kitab perjanjian baru sangat sedikit memuat perjajian
mengenai kebangkitan ini. Tiga hari setelah penyaliban
Kristus, sewaktu mengujungi makamnya, maria melihat
bahwa batu bundar yang menutub makam tersebut telah
terguling dan makam itu sediri telah kosong. Setelah itu
Yesus menampakan diri kepada wanita ini dan kadang-
kadang kepada beberapa murid lainnya.
Tidak dapat diragukan bahwa orang-orang kristen
yang pertama percaya bahwa tubuh Yesus secara utuh
telah hidup kembali. Untuk memahami imam para murid
Yesus terhadap kebangkitan itu, kita harus memandangnya
sebagai sesuatu kebangkitan Kristus. Sebagian besar orang
Kristen sekarang ini tetap percaya pada kebangkitan tubuh
Kristus. Bahka mereka yang tidak mempercayainya,
sebagian besar menyatakan pada keimanan mengenai
kebangkitan ini. Karena jika iman terutama bukan
menyangkut apa yang terjadi pada diri seseorang manusia,
tetapi pada kedudukan tuhan, pada kuasanya secara
mutlak, baik pada alam maupun pada sejarah, orang
Kristen modernis menyatakan sepaham sepenuhnya
dengan orang Kristen pertama mengenai masalah pokok
tersebut.

Kabar Gembira
Orang yang pertama pertama kali mendengar para
murid Yesus menyebarkan kabar gembiramerasa amat
terkesan, baik terhadap apa yang mereka lihat maupun
terhadap apa yang mereka dengar. Ia melihat berbagai
kehidupan yang telah diubah, yaitu kehidupan dari pria dan
wanita yang dari segala segi adalah orang biasa, kecuali
dalam hal bahwa mereka kelihatannya telah menemukan
rahasia kehidupan ini. Mereka menampakkan kedamaian,
kesederhanaan, dan kegembiraan yang tidak pernah
ditemukan oleh para pendengarnya dimanapun juga. Inilah
manusia yang telah kelihatannya telah memperoleh sukses
dalam usaha yang paling hebat, yaitu usaha menghayati
kehidupan itu sediri.
Secara khusus, kelihatannya mereka menjalani kehidupan
yang berkelimpahan dalam dua hal, yaitu:
Pertama perasaan yang saling mengasihi
Salah satu pengamatan orang luarterhadap orang
kristen dahulu ini adalah sebagai berikut Lihatlah
bagaimana orang Kristen saling mencinta satu sama lain.
Sebelum penyalibannya, Yesus berkata kepada para
muridnya Suka citaku tinggal besertamu. Suka cita atau
kegembiraan adalah sifat kedua yang meresapi kehidupan
orang Kristen purba.
Kedua perasaan bersalah
Beberapa orang berpendapat bahwa amat sukar bagi
manusia zaman ini untuk memahami orang-orang
terdahulu sehubungan dengan hal in, karena mereka
beranggapan bahwa rasa bersalah adalah suatu gejala
yang hampir lenyap dari manusia.

Tubuh Mistis Kristus


Orang Krissten pertama yang mengkotbahkan kabar
gembira di seluruh wilayah Laut Tengah tersebut tidak
merasa sendirian. Bahkan bersama-sama pun mereka
percaya bahwa pemimpin mereka berada di tengan-tengah
mereka sebagai suatu kekuatan kongkret yang
mengobarkan semangat mereka. Bagi orang Kristen
dahulu, hal ini sepenuhnya dilihat sebagai suatu gambaran
pelengkap bagi kehidupan bersama mereka. Gereja itu
adalah Tubuh Mistik Kristus.
Istilah Mistik dalam hal ini bermakna adikodrati,
misterius, dan sama sekali tidak berarti tidak real. Wujud
manusiawi kristus telah meninggalkan dunia ini, tetapi
karena karya-karyanya masih belum selesai, ia masih
melanjutkannya. Tubuh lahiriyahnya digantikan oleh tubuh
mistiknya, dimana ia sendiri sebagi kepalanya. Tubuh
mistik ini berkembang dalam ruangan atas di Yerussalem
pada waktu Pantekosta, denagn kekuatan roh kudus yang
merupakan kekuatan yang menjiwainya, karena seperti
yang ditulis oleh Santo Agustinus, apa yang merupakan
jiwa bagi tubuh manusia, bagi tubuh mistik Kristus yaitu
Gereja adalah Roh Kudus.
Jika Yesus adalah kepala dari tubuh ini dan Roh Kudus
adalah jiwanya, maka orang Kristen secara peseorangan
adalah selnya, mula-mula masih sedikit tetapi lalu
bertambah banyak denagn semakin bertambahnya usia
Gereja. Sel-sel dari suatu badan jasmani tidak hidup
terpisah satu sama lain. Suatu kehidupan saling menunjang
secara menyeluruh dengan setiap sel yang merupakan
bagiannya. Demikian juga halnya, roh kudus mengalir
melalui setiap orang Kristen dan memberikan hidup, yang
keseluruhan merupakan bentuk lahiriyah dari Gereja.
Seperti halnya manusia hidup melalui kehidupan tiap-tiap
sel tubuhnya. Demikian jugalah halnya Kristus hidup dalam
setiap anggota kehidupan orang Kristen mengalir secara
lebih kokoh melalui jalannya, denagn cara membantu
orang Kristen tersebut untuk menyadari keberadaannya
dalam Tubuh Kristus.

Alam Pikiran Gereja


Agama yang luhur sudah tentu mencakup himbauan
moralitas di atas rata-rata, namun beranggapan bahwa
pusat perhatian agama terutama terletak pada himbauan
moralitas ini sungguh merupakan sesuatu kekeliruan yang
besar. Pusat perhatian agama adalah suatu pandangan
yang secara kebetulan dan sebagai hasil sampngan,
menggerakkan moralitas itu. Seorang anak yang lumpuh
dalam sebuah rumah tangga mempunyai dua pertanyaan.
Salah satu pertanyaannya adalah bagaimanakah
seharusnya saya berprilaku? Pertanyaan lainnya, jauh lebih
penting sehingga mungkin tidak pernah ditanyakan secara
sadar, yaitu apakah yang akan terjadi pada saya
seandainya saya tidak memenuhi harapan orang tua saya
dalam berprilaku?
Dimanakah letak batasnya, jika saya langgar, saya akan
tolak?
Teologi berhubungan dengan pertanyaan jenis kedua
ini. Perhatian utamanya bukan bagaimana seharusnya
manusia itu berprilaku, melainkan tentang watak dari
kehidupan manusia itu sendirinya. Karena ini merupakan
pertanyaan yang lebih sulit diantara kedua pertanyaan
tersebut, maka Teologi sering kali rumit dan kabur. Hal ini
membawa kita kepada masalah kepercayaan, karena inilah
yang merupakan upaya dari pikiran orang Kristen dahulu
untuk memahami secara konseptual kejadian yang
menimbulkan perubahan kehidupan mereka tersebut.
Dampak kehadiran Kristus dalam kehidupan sekaligus
dirasakan dalam dua arah. Secara lahiriyah ia menuju
perbuatan murah hati disertai cinta kepada sesama
manusia, sedangkan secara intelektual ia menjurus kepada
kepercayaan.
Setiap perbuatan melihat sesuatu sesungguhnya
benar-benar merupakan suatu kesatuan. Namun, ada tiga
segi yang dapat dibedakan, yaitu: adanya benda yang
dilihat, perbuatan mereka itu sendiri, dan tafsiran akal. Pola
bersegi tiga ini juga terdapat dalam berbagai pengalaman
manusia lainnya. Kelihatannya pikiran mengenai tigal
dalam satu, bagaimanapun sulitnya memahami melalui
pengertian berdasarkan akal, tidak asing dalam
pengalaman kita.
Dalam bidang keagamaan, manusia bertemu dengan tuhan
dalam tiga tempat, yaitu: dalam keagungan dan tantangan
alam, dalam pribadi Kristus yang hidup dalam sejarah dan
dalam hati sanubari manusia itu sendiri. Ketiganya
merupakan Tuhan yang sama, tetapi dapat dibedakan satu
sama lain. Secara berturut-turut segi-segi tersebut adalah
Allah bapak, Allah putra, dan Allah Roh Kudus.

A. Gereja Roma Katolik

Kita menemukan Gereja terbagi menjadi tiga aliran utama, yaitu:

1. Gereja Roma Katolik berpusat di Vatikan dan dari sana


menyebar ke seluruh dunia, menjadi aliran yang paling
menonjol secara keseluruhan, melewat Eropa Tengah
dan Selatan, Irlandia dan Amerika Utara.
2. Protestan menguasai Eropa, Inggris, Skotlandia dan
Amerika Utara.
3. Aliran besar yang ketiga, Gereja Ortodoks Timur,
mempunyai pengaruh yang besar di Yunani, negar-
negara berbahasa Slavia dan Unisoviet.

Sampai tahun 313 sesudah Masehi, Gereja mengalami


suatu peperangan yang hebat akibat tindakan kejam Roma.
Dalam tahun itu mulai diakui dan diterima secara resmi hak yang
sama dengan agama-agama lain dari kekaisaran itu. Sebelum
akhir abad itu, dalam tahun abad 380, agama Katolik resmi
menjadi agama Kekaisaran Roma. Dalam sedukit perpecahan
kecil, seperti Nestorianus, agama Roma Khatolik tetap sebagai
suatu organisasi yang utuh sampai tahun 1054. Itulah kira-kira
batas pertengahan antara Yesus dengan kita, karena selama kira-
kira setengah sejarahnya, Gereja tetap sebagai satu lembaga.
Akan tetapi, dalam tahun 1054 untuk pertama kalinya tampak
perpecahan besar, antara Gereja Ortodoks Timur di Timur dan
Gereja Roma Katolik di Barat. Alasan perpecahan cukup rumit,
baik gegi geografis, budaya, bahasa politik, dan agama itu
sendiri. Perpecahan besar yang terjadi dalam Gereja Barat
dengan Protestan Reformis dalam abad ke-16.

Agama Prostestan terdiri dari 4 aliran yaitu: Baptis,


Lutheran, Calvinis, dan Anglikan. Masing-masing aliran ini masih
lagi dibagi menjadi lebih dari 250 dekte di Amerika Serikat saja.
Sekarang ini gerakan ekumenis menyatukan kembali beberapa
sekte ini.

Berdasarkan fakta yang minim ini, yang dapat kita


kemukakan kita melangkah lebih jauh lagi perhatian kita yang
sesungguhnya, yaitu mencoba untuk memahami perspektif-
perspektif utama dari tiga aliran utama agama Kristen itu.
Dimulai dengan Gereja Roma Katolik, kita dapat membatasi diri
pada apa yang barangkali menjadi dua konsep yang paling
penting untuk memahami lembaga tersebut, yaitu kuasa
mengajar Gereja dan Gereja Sebagai Sakramen. Pertama, Kuasa
Mengajar Gereja

Konsep ini bermula dengan dalil bahwa Tuhan datang ke


dunia ini dalam pribadi Yesus Kritus untuk mengajar manusia
tentang cara mencapai keselamatan yaitu tentang bagaimana
mereka seharusnya hidup di dunia ini agar dapat mencapai
kehidupan yang abadi dalam dunia yang akan datang. Jika hal ini
benar, jika ajaran-ajarannya memang merupakan gerbang ke
arah keselamatan dan jika untuk membuka gerbang inilah yang
merupakan alasan terpokok kedatangannya kedunia in,
kelihatannya tidak mungkin bahwa beliau akan membuka pintu
tersebut khusus untuk generasi sezamannya saja.

Kedua, merupakan inti ajaran agama Katolik adalah Gereja


Sebagai Sakramen

Hal ini melengkapi paham mengenai kuasa mengejar


gereja. Di satu pihak kita perlu mengetahui apa yang seharusnya
kita lakukan dan dilain pihak kita harus dapat melakukannya.
Itulah sebabnya mengapa diperlukan Sakramen. Gereja
membantu menyelesaikan kedua hal ini. Ia menunjukkan arah
bagaimana seharusnya kita hidup dan ia juga memberikan
kekuatan untuk hidup dengan cara ditunjukannya itu.

B. Agama Prostestan

Ada banyak persamaan antara agama Protestan ini dengan


agama Roma Katolik dan agama Ortodok Timur. Jika garis besar
sejarah iman dan peribadatan Kristennya, ditinjau secara umum,
maka agama Protestan terutama lebih Kristendaripada bersifat
Protestan. Namun dalam hal ini kita menerima begitu saja
persamaan paham Kristiani ini dan memperhatikan dua ciri
khasnya yang paling menonjol, yaitu pembenaran karena Iman
dan Azas Protestan.

Dalam konsepsi Protestan, iman bukan sekedar masalah


kepercayaan yaitu diterimanya suatu pengetahuan sebagai hal
yang pasti, tanpa perlu ada bukti. Iman adalah suatu tanggapan
seluruh diri manusia dalam kata-kata Emil Brunner disebut
sebagai suatu keseluruhan tindakan dari seluruh pribadi.

Untuk merasakan kuatnya penekanan agama Protestan


terhadap iman sebagai suatu tanggapan dari seluruh diri
manusia, kita perlu memandangnya sebagai suatu proses yang
berapi-api terhadap kehidupan beragama yang dangkal. Proses
Luther terdapat pengampunan dosa, yang jika dibeli dianggap
akan membantu menyelamatkan dosa sipembeli, hanyalah
merupakan perlambang dari protes yang lebih luas yang tertuju
kepada brbagai hal. Tidak ada jaminan apapun bagi seseorang,
untuk mencapai taraf kehidupan yang diinginkannya, entah
kepatuhan terhadap ajaran agama, perbuatan baik ataupun
ajaran yang dipercayainya.

Contoh-contoh yang dipandang oleh orang Protestansebagai


penyembahan berhala tidaklah kepada sekte lain atau agama
lain belaka. Orang-orang Prostestan mengakui bahwa karena
kecendrungan untuk memutlakkan ha yang nisbi itu bersifat
universal, hal ini terjadi karena karena di kalangan mereka
sendiri seperti dimanapun juga.

Dengan menolak semua kemutlakan tersebut, agama


Protestan berupaya memelihara iman dengan perintah tuhan
yang pertama, Jangan memuja berhala. Perintah tersebut
mengandung suatu penolakan dan bagi banyak orang, kata
Protestan itu mempunyai nada yang sangat negatif. Bukankah
seorang Potestan seorang memprotes sesuatu? Seperti yang kita
lihat. Ia tidak henti-hentinya bahwa tempat tuhan direbut oleh
apapun yang lebih dari Tuhan itu sendiri. Namun, azas Protestan
juga dapat diutarakan secara positiv , yang memang merupakan
cara yang seharusnya digunakan untuk memperoleh gambaran
sepenuhnya. Ia memprotes penyembahan berhala, ia ingin
menjadi saksi bagi (Pro-Testant=seorang yang menjadi saksi
bagi) tempat tuhan yang berdaulat dalam hidup manusia.

Orang-orang Kristen akan berbeda-beda dalam memandang


tuhan serta kehendaknya melalui injil itu. Ada 255 sekte
Protestan di Amerika Serikat merupakan saksi bukan hanya sari
keberagaman Protestan itu, tetapi juga dari bahaya yang
dihadapinya, yaitu bahwa Gereja tersebut akan menguap
menjadi individualisme absolut. Agama Prtestan mengakui hal
ini, namun menambah tiga hal sebagai berikut:

1. Keberagaman Protestan tidak tesebar seperti yang terlihat


oleh adanya beratus-ratus sektenya itu. Sebaian besar dari
mereka jumlahnya kecil sekali. Sesungguhnya 85% dari
seluruh penganut Protestan tegabung dalam 12 sekte. Jika
kita mengingat bahwa kebebasan beagam pada dasarnya
dijunjung oleh agama Protestan, maka keanehannya bukan
terletak pada keberagaman itu, tetapi pada jangkauan
kebersamaan umat Protestan itu sendiri.
2. Perbedaan dalam Protestan lebih sering mencerminkan
perbedaan asal kebangsaan di Eropa atau perbedaan
kelompok sosial di Amerika Serikat dan bukannya
perbedaan Teologi.

Dengan demikian, orang Protestan sepakat bahwa pandangan


mereka penuh dengan bahaya. Bahaya ketidakpastian sewaktu
pribadi yang bersangkutan bergumul dengan jiwanya untuk
bertanya apakah ia telah mendengarkan sabda tuhan secara
jelas dan bahaya perpecahan karena sesama Kristen melihat
tuhan secar berbeda. Namun mereka menerima bahaya tersebut,
karena lebih nmenyukai kebebasan yang penuh resiko yang
terkandung dalam hubungan langsung dengan tuhan dibanding
dengan kekuasaan menyenangkan yang ditawarkan oleh orang-
orang ataupun lembaga-lembaga yang masih bersifat terbatas,
juga disaat mereka memohon kepada Tuhan. Pada taraf terakhir,
mereka mampu mengemban bebas kebebasan ini karena iman
mereka. Luther menyuarakan semangat iman ini sewaktu ditanya
dimana ia akan berdiri sekiranya ia dikucilkan oleh Gereja,
dikatakan orang, ia menjawab di bawah langit.

TUGAS ANTROPOLOGI AGAMA


Tentang

Agama Kristen
Nama: ROBI MITRA

No. Bp: 1510822030

Dosen pengampu:

Ibuk. Sri Setyawati, M.A

Bpk. Sidarta Pujiraharjo, S.Sos, M.Hum

PROGRAM STUDI ANTROPOLOGI


SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN 2017