Anda di halaman 1dari 109

LAPORAN

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PADA MATERI


MENJAGA KEUTUHAN NKRI MELALUI METODE BERMAIN PERAN
DENGAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE
LEARNING KELAS V SD NEGERI
SUMBERMULYO 01
2012 / 2013

Diajuan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pemantapan Kemampuan Profesional ( PDGK 4501)
Program SI PGSD Universitas Terbuka

Di susun oleh
Nama : RUMISIH
Nim : 817463908
Masa Ujian : 2012.2
Pokjar : Pati A

UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH SEMARANG
2012
2

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN HASIL PERBAIKAN


PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN IPA MELALUI
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Nama Mahasiswa :RUMISIH


NIM : 817463908
Program Studi : S I PGSD
Tempat Mengajar : SD Negeri Sumbermulyo 01
Jumlah Siklus Pembelajaran : 2 Siklus
Hari dan Tanggal Pelaksanaan : Pra Siklus , Rabu, 26 September 2012
Siklus I, Rabu, 03 Oktober 2012
Siklus II, Rabu, 10 Oktober 2012

Masalah yang merupakan fokus perbaikan :


1. Hasil belajar siswa sangat rendah pada pelajaran PKn terutama tentang NKRI.
2. Penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan hasil
belajar PKn tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia di kelas V SD
Negeri Sumbermulyo 01

Pati, 4 November 2012


Menyetujui
Supervisor I Mahasiswa

N Y A M A T, S.Pd, M.Pd RUMISIH


NIP. 19680915 199412 1 002 NIM. 817463908

2
3

LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan Praktik Pemantapan


Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi
mata kuliah PKP pada program studi SI PGSD Universitas Terbuka ( UT )
seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun bagian bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip
dari hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai
dengan norma kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan
hasil karya saya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian bagian tertentu saya
bersedia menerima sangsi termasuk pencabutan gelar akademik yang saya
sandang sesuai dengan perundang undangan yang berlaku .

Pati, 4 November 2012


Yang membuat pernyataan
Mahasiswa

RUMISIH
NIM. 817463908

3
4

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan
inayahnya kepada penulis. Berkat karunia dan kemurahan Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran PKn kelas V di SD
Negeri Sumbermulyo 01 Kecamatan Winong Kabupaten Pati dengan baik dan
tepat waktu.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari dukungan,bimbingan dan
motivasi serta bantuan orang lain dari berbagai pihak, untuk itu penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Susilowati Purwaning Diahmurti,SH,M.Hum kepala UPBJJ Semarang.
2. Bapak Nyamat,S.Pd, M.Pd sebagai supervisor PKP I
3. Bapak Supadi, S.Ag selaku supervisor II.
4. Bapak Siswanto Ka UPT Disdik Winong.
5. Ibu Supriyati, S.Pd Kepala SD Negeri Sumbermulyo 01.
6. Semua rekan guru SD N Sumbermulyo 01 yang telah memberikan support
dan tenaga.

Doa penulis semoga laporan yang sangat sederhana ini bermanfaat bagi
penyusun dan bermanfaat bagi yang membaca sehingga dapat meningkatkan
kualitas pendidikan saat ini dan yang akan datang. Amien.

Pati, 4 November 2012


Penulis

RUMISIH
NIM. 817463908

4
5

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .. i
LEMBAR PENGESAHAN ..... ii
LEMBAR PENGESAHAN BEBAS PLAGIAT . iii
KATA PENGANTAR . iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah .. 1
1. Identifikasi Masalah 2
2. Analisis Masalah . 2
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah .. 3
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan Pembelajaran ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA .. 5
A. Pembelajaran PKn ... 5
B. Pengertian Hasil Belajar .. 6
C. Model Mengajar ... 7
D. Macam Macam Model Mengajar . 7
E. Metode Bermain Peran 8
F. Penggunaan Metode Bermain Peran dalam Mata
Pelajajaran PKn . 9
G. Langkah Langkah Penerapan Metode Bermain Peran 10
BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN 12
A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian .. 12
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran 13

5
6

C. Teknik Analisis Data .. 19


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .. 20
A. Deskripsi Hasil Penelitian Per Siklus .. 20
B. Pembahasan Hasil Penelitian Setiap Siklus 34
BAB V SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT . 38
A. Simpulan .. 38
B. Saran dan Tindak Lanjut . 38
DAFTAR PUSTAKA ... 40
LAMPIRAN LAMPIRAN

6
7

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Pra Siklus 20


Tabel 4.2 Analisis Hasil Belajar Pra Siklus . 22
Tabel 4.3 Hasil Belajar Siswa Siklus I ... 25
Tabel 4.4 Analisis Hasil Belajar Siklus I 26
Tabel 4.5 Hasil Belajar Siswa Siklus II .. 29
Tabel 4.6 Analisis Hasil Belajar Siklus II .. 30
Tabel 4.7 Hasil Belajar dan Peningkatan Nilai Rata Rata 33

7
8

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Grafik Hasil Pembelajaran Pra Siklus 22


Gambar 4.2 Grafik Hasil Pembelajaran Siklus I 27
Gambar 4.3 Grafik Hasil Pembelajaran Siklus II 31
Gambar 4.3 Grafik Hasil Pembelajaran Pra Siklus sampai Siklus II 34

8
9

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Kesediaan Supervisor 2 sebagai Pembimbing.


Lampiran 2 Surat Pernyataan Mahasiswa.
Lampiran 3 Perencanaan PTK ( Identifikasi Masalah, Analisis Masalah,
Alternatif Pemecahan Masalah, Rumusan Masalah ).
Lampiran 4 Berkas RPP Pra Siklus, RPP Perbaikan Siklus I, RPP
Perbaikan Siklus 2 dan Lembar Observasi.
Lampiran 5 Jurnal Pembimbingan.
Lampiran 6 Hasil Pekerjaan Siswa yang terbaik dan Terburuk Per Siklus.
Lampiran 7 Berkas Hasil Penilaian Praktik Pembelajaran di kelas ( APKG
1 PKP dan APKG 2 PKP )

9
10

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn ) diberikan sejak SD sampai SLTA.
Dengan PKn seseorang akan memiliki kemampuan untuk mengenal dan
memahami karakter dan budaya bangsa serta menjadikan warga negara yang siap
bersaing di dunia internasional tanpa meninggalkan jati diri bangsa. Melalui
PKn setiap warga negara dapat mawas diri dengan perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi dewasa ini yang memberi dampak positif dan negatif.
PKn juga bermanfaat untuk membekali peserta didik agar memiliki kemampuan
untuk mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan
yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Pada kenyataannya, PKn dianggap ilmu yang sukar dan sulit dipahami.
PKn adalah pelajaran formal yang berupa sejarah masa lampau, perkembangan
sosial budaya, perkembangan teknologi, tata cara hidup bersosial, serta peraturan
kenegaraan. Begitu luasnya materi PKn menyebabkab anak sulit untuk diajak
berfikir kritis dan kreatif dalam menyikapi masalah yang berbeda. Sementara anak
usia sekolah dasar tahap berfikir mereka masih belum formal, karena mereka baru
berada pada tahap Operasi Onal Konkret ( Peaget : 1920 ). Apa yang dianggap
logis, jelas dan dapat dipelajari bagi orang dewasa, kadang kadang merupakan
hal yang tidak masuk akal dan membingungkan bagi siswa. Akibatnya banyak
siswa yang tidak memahami konsep PKn.
Berdasarkan temuan penulis, sebagian besar siswa kurang aktif dan
berfikir kritis dalam materi Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ).
Apabila anak menghadapi masalah kontekstual baru yang berbeda dengan yang
dicontohkan, anak belum mampu berfikir kritis dan menemukan solusi dengan
benar sehingga banyak anak yang menjawab salah, dan dengan alasan soalnya
sulit. Karena itu wajar setiap kali diadakan tes, nilai pelajaran PKn selalu rendah
dengan rata rata kurang dari KKM.

10
11

Seperti yang dialami penulis sendiri, setiap ulangan PKn nilai rata rata
anak di bawah 75. Termasuk pada materi Negara Kesatuan Republik Indonesia (
NKRI ). Nilai rata rata formatif hanya 68. Dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 %
yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 10 siswa yang lain 43 % mendapat
nilai dibawah 75.
Menghadapi kenyataan tersebut di atas, penulis tertarik untuk mendalami
dan melakukan tindakan tindakan perbaikan pembelajaran PKn, khususnya
materi Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) melalui penelitian tindakan
kelas. Perbaikan yang penulis lakukan mengenai penerapan metode bermain
peran pada materi pengambilan keputusan bersama. Harapan penulis adalah
terjadinya pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan serta lebih bermakna
dan adanya keberanian peserta didik yang tuntas untuk menyelesaikan masalah
kontektual dengan benar serta untuk lebih menguasai pelajaran.
Hipotesis yang penulis lakukan adalah dalam bentuk laporan hasil yaitu
berjudul Meningkatkan hasil belajar Pengambilan keputusan bersama melalui
metode bermain peran dengan model pembelajaran cooperative learning siswa
kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01Kecamatan Winong Kabupaten Pati.

1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa masalah dalam
pembelajaran, sebagai berikut.
a. Siswa kurang memahami konsep pengambilan keputusan bersama.
b. Siswa kurang aktif dalam berdiskusi
c. Siswa kurang terampil dalam berkomunikasi dengan teman sebaya.
d. Hasil belajar siswa rendah

2. Analisis Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti berusaha mencari faktor
penyebab masalah dengan melakukan refleksi, bertanya kepada siswa dan
melakukan diskusi dengan teman sejawat. Dari hasil diskusi dapat disimpulkan

11
12

bahwa penyebab siswa belum memahami materi pengambilan keputusan bersama


seperti berikut.
a. Guru tidak menggunakan alat peraga.
b. Bahwa semua siswa yang terlibat dalam pembelajaran saat melakukan diskusi
hanya beberapa siswa yang aktif, sedangkan yang lain hanya mendengarkan.
c. Kurangnya contoh dan latihan.
d. Kurangnya bimbingan guru secara menyeluruh.

3. Alternatif dan Pemecahan Masalah


Dari analisis masalah di atas, peneliti menemukan alternatif dan prioritas
pemecahan masalah sebagai berikut.
a. Guru perlu menerapkan metode pembelajaran bermain peran untuk
meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
b. Guru perlu memberikan contoh nyata melalui Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan kelompok.
c. Guru perlu memberikan latihan dan bimbingan secara menyeluruh pada
pembelajaran PKn tentang pengambilan keputusan bersama.

B. Rumusan Masalah
Setelah menemukan faktor penyebab siswa belum memahami materi
pengambilan keputusan bersama pada pelajaran PKn, peneliti berusaha
merumuskan permasalahan. Rumusan masalah tersebut seperti berikut.
1. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia?
2. Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk
meningkatkan hasil belajar PKn tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia
di kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01?

12
13

C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :
Meningkatkan penguasaan konsep hubungan pengambilan keputusan bersama
dengan menggunakan alat peraga berupa gambar dan benda benda di sekitar.
1. Mencari informasi keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
2. Mendiskripsikan penerapan metode bermain peran dengan model cooperative
Leraning untuk meningkatkan hasil belajar pengambilan keputusan bersama
siswa kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01.

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


1. Bagi Peneliti:
a. Memperbaiki pembelajaran yang sudah dikelolanya.
b. Memupuk rasa percaya diri karena telah berhasil melakukan analisis
terhadap hasil kinerjanya sehingga dapat menemukan kelebihan dan
kekurangan dari pembelajaran yang sudah dilaksanakan, kemudian
mengembangkan alternative untuk mengatasi kelemahannya.
c. Dapat berkembang secara profesional.

2. Bagi siswa
a. Dapat memperbaiki hasil belajar.
b. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran.

3. Bagi sekolah
a. Dapat digunakan untuk mengembangkan sekolah kearah yang lebih baik.
b. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah.

4. Bagi peneliti
a. Dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dan kajian untuk dapat
memberikan kritik atau saran terhadap penelitian yang sudah dilakukan.

13
14

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran PKn di SD
PKn merupakan mata pelajaran di sekolah yang perlu menyesuaikan
diri sejalan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang berubah. Hal
ini merupakan fungsi PKn sebagai pembangun karakter bangsa ( nasional
character building ) yang sejak proklamasi kemerdekaan RI telah mendapat
prioritas, yang perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi
Negara RI. Untuk itu pembentukan karakter anak yang kuat perlu penguasaan
Pembelajaran Kewarganegaraan sejak dini.
Mata pelajaran PKn perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai
dari Sekolah Dasar karena PKn memiliki tugas pokok sebagai berikut :
1. Mengembangkan Kecerdasan Warga Negara ( civic intelligence ).
2. Membina tanggungjawab warga Negara ( civic intelligence ).
3. Mendorong partisipasi warga Negara ( civic intelligence).
Kecerdasan warga Negara yang dikembangkan untuk membentuk warga
Negara yang baik bukan hanya dalam dimensi rasional melainkan juga dimensi
spiritual, emosional, dan social sehingga PKn memiliki ciri multidimensional.
Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan
untuk mengolah dan memanfaatkan informasi serta peka terhadap keadaan yang
selalu berubah / tidak pasti.
Menurut hasil penelitian Cogan ( 1998 ), ada delapan karakter yang dapat
dibentuk melalui belajar PKn yaitu sebagai berikut :
1. Kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat di
sekitar.
2. Kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggungjawab
atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat.
3. Kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaan
perbedaan pendapat.
4. Kemampuan berfikir kritis dan sistematis.

14
15

5. Kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan.


6. Memiliki kemampuan untuk bergaya hidup sederhana.
7. Memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan mempertahankan hak haknya
dalam masyarakat.
8. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan
bermasyarakat.
Dengan demikian fungsi pembelajaran PKn tidak hanya sekadar memberi
pengetahuan tentang pendidikan kewarganegaraan saja, tetapi juga dimaksudkan
untuk mengembangkan sikap sikap tertentu mengenai hal hal yang timbul
disekitar dalam kehidupan sehari hari.

B. Pengertian Hasil Belajar


Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar ( Anni, 2004 : 4 )
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relative menetap dalam diri
seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya ( Hamzah
: 2007 : 213 ).
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas peneliti menyimpulkan bahwa
aspek aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari
oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari tentang konsep,
maka perubahan perilaku yang diperolah berupa penguasaan konsep. Dalam
pembelajaran PKn pada materi Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk
mencapai hasil belajar yang memuaskan diperlukan aktivitas siswa yaitu dengan
melakukan aktivitas langsung dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia . Melalui aktivitas tersebut pembelajar akan lebih mengena
pada siswa. Selain itu siswa juga perlu berinteraksi dengan siswa yang lain untuk
membuat simpulan dengan benar.
Dalam penelitian ini hasil belajar pada pelajaran PKn materi Negara
Kesatua Republik Indonesia yang diukur melalui tes formatif dengan KKM 75.
Bagi siswa yang nilainya kurang dari 75 diberi soal perbaikan dan bagi siswa yang
nilainya 75 ke atas diberi soal pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah.

15
16

C. Pengertian Model Mengajar


Menurut Joyce dan Weil 1971 model mengajar adalah kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai
pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Model mengajar merupakan suatu rencana atau pola yang dapat digunakan
untuk membentuk kurikulum, merancang bahan bahan pengajaran, dan
bimbingan pengajaran di kelas atau yang lain.

D. Macam macam Model Mengajar


Secara khusus Joyce dan Weil ( 1972 ) telah mengklasifikasikan empat
model mengajar seperti berikut.
1. Kelompok Model model pengolahan informasi, terdiri dari :
Model Pencapaian Konsep
Model Berfikir Induktif ( Inductive Thinking )
Pemandu Awal ( Advance Organizer )
Latihan Penelitian ( Inquiry Training )
Model Memorisasi
Penelitian Ilmiah ( Scientivic Inquiry )
Pengembangan Intelek ( Developing Intellect )
2. Kelompok Model model Interaksi Sosial atau social models , terdiri dari:
Bermain Peran ( Role Playing )
Penelitian Yurisprudensial
Investigasi Kelompok
Latihan Laboratorium
Model Inquiry Studi Social
3. Kelompok model model personal atau personal models , terdiri dari :
Pengajaran Tanpa Arahan ( Non Directive Teaching )

16
17

Model Sintetiks ( Sinectics )


Pelatihan Kesadaran ( awareness training )
Model Pertemuan Kelas ( Classroom meeting )

4. Kelompok model model perilaku atau Behavioural system , terdiri dari :


Kontrol Diri
Melalui beberapa metode operan mengatur lingkungan kita sendiri
Latihan Asertif
Pengungkapan perasaan secara jujur dan langsung.
Belajar tuntas ( Mastery Learning )

E. Metode Bermain Peran


1. Pengertian Bermain Peran
Metode bermain peran adalah berperan atau mamainkan peranan dalam
dramatisir masalah social atau psikologis.
Bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang di
gunakan untuk menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku, dan nilai, dengan
tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain (
Depdikbud, 1964 : 171 ).
Melalui metode bermain peran siswa diajak untuk belajar memecahkan
masalah pribadi, dengan bantuan kelompok social yang anggotanya teman
temannya sendiri. Dengan kata lain metode ini berupaya membantu individu
melalui proses kelompok sosial.
Melalui bermain peran, para siswa mencoba mengeksploitasi masalah
masalah hubungan antara manusia dengan cara memperagakannya. Hasilnya
didiskusikan dalam kelas.
Proses belajar dengan menggunakan metode bermain peran diharapkan
siswa mampu menghayati tokoh yang dikehendaki, keberhasilan siswa dalam
menghayati peran itu akan menentukan apakah proses pemahaman, penghargaan
dan identifikasi diri terhadap nilai berkembang : ( Hasan, 1996 : 266 ).

17
18

2. Tujuan Penggunaan Bermain Peran


Tujuan dari penggunaan metode bermain peran adalah sebagai berikut :
a. Untuk motivasi siswa.
b. Untuk menarik minat dan perhatian siswa.
c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi situasi
dimana mereka mengalami emosi, perbedaan pendapat, dan permasalahan
dalam lingkungan kehidupan social anak.
d. Menarik siswa untuk bertanya.
e. Mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.
f. Melatih siswa untuk berperan aktif dalam kehidupan nyata.

F. Penggunaan Model Bermain peran dalam mata pelajaran PKn


Menurut Sumantri ( 2001 ) bermain peran merupakan model mengajar
yang berakar pada dimensi personal dan sosial dari pendidikan. Model ini
mencoba membantu indivisu untuk menemukan makna pribadi dalan dunia sosial
dan memecahkan dilema dilema dengan bantuan kelompok sosial. Dalam hal ini
memungkinkan individu untuk bekerjasama untuk menganalisis situasi sosial
terutama permasalahan interpersonal dalam mengembangkan cara cara yang
demokratis untuk menghadapi situasi tersebut.
Dalam model mengajar bermain peran, sebagian siswa adalah pemain
peran yang lainnya mengamati. Seseorang meletakkan dirinya pada posisi orang
lain yang juga bermain peran. Bila empati, simpati, kemarahan, dan kasih sayang
serta apeksi dilakukan dalam berinteraksi, berarti bermain peran dapat
dilaksanakan dengan baik / berhasil.
Hal penting dalam model mengajar bermain peran adalah keterlibatan
siswa untuk berpartisipasi dalam situasi atau masalah nyata serta adanya
keinginan untuk mengatasi suatu masalah bersama. Pemahaman siswa dalam
model belajar bermain peran dapat memberikan contoh pada siswa dalam
kehidupan sehari hari untuk berperilaku sebagai berikut :
1. Menjajagi perasaan.
2. Menambah pengetahuan tentang sikap, nilai nilai dan persepsinya.

18
19

3. Mengembangkan keterampilan dan sikapnya dalam memecahkan masalah.


4. Mengkaji pelajaran dengan berbagai cara.

G. Langkah Langkah Penerapan Metode Bermain Peran dalam


Pembelajaran PKn.
Shaffel dalam bukunya Role Playing For Social Studies menyatakan
bahwa ada sembilan langkah dalam role playing yaitu sebagai berikut.
1. Membangkitkan semangat kelompok, memperkenalkan siswa dengan
masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yangt harus
dipelajari.
2. Pemilihan peserta, guru dan siswa menggambarkan berbagai karakter /
bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka
kemukakan. Guru dapat menentukan berbagai criteria dalam memilih siswa
untuk peran tertentu.
3. Menentukan arena panggung, para pemain peran membuat garis besar
scenario, tetapi tidak mempersiapkan dialog khusus.
4. Mempersiapkan pengamat, adalah sangat penting untuk melibatkan pangamat
secara aktif sehingga seluruh anggota kelompok mengalami kegiatan itu dan
kemudian dapat menganalisisnya. Cara guru melibatkan siswa pengamatan
ilmiah dengan menugaskan mereka untuk mengevaluasi, mengomentari
efektifitasnya serta urutan urutan perilaku pemain dan mendefinisikan
perasaan perasaan serta cara cara berfikir individu yang sedang diamati.
5. Pelaksanaan kegiatan; para pemeran mengasumsi perannya dan menghayati
situasi secara sepontan dan saling merespon secara realistik.
6. Berdiskusi dan mengevaluasi; apakah masalahnya penting dan apakah peserta
dan pengamat terlibat secara intelektual dan emosional.
7. Melakukan lagi permainan peran; siswa dan guru berbagi interpretasi baru
tentang peran dan menentukan apakah harus dilakukan oleh individu
individu baru atau tetap oleh orang terdahulu. Dengan demikian permainan
peran menjadi kegiatan konseptual yang dramatis.

19
20

8. Dilakukan lagi evaluasi dan diskusi; siswa mungkin mau menerima solusi,
tetapi guru mendorong solusi yang realistik.
9. Berbagi pengalaman dan melakukan generalisasi. Tidak dapat diharapkan
untuk menghasilkan generalisasi dengan segera tentang aspek hubungan
kemanusiaan tentang situasi tertentu. Guru harus mencoba untuk membentuk
diskusi, setelah mengalami setrategi bermain peran yang cukup lama, untuk
dapat menggeneralisasi mengenai pendekatan terhadap situasi masalah serta
akibat dari pendekatan itu. Semakin memadai pembentukan diskusi ini,
kesimpulan yang dicapai akan semakin mendekati generalisasi.

20
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat pelaksanaan perbaikan pembelajaran di SD Negeri Sumbermulyo
01 , Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Subjek penelitian adalah siswa kelas V
semester I, mata pelajaran PKn untuk materi Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Letak SD Negeri Sumbermulyo 01 ada di Desa Sumbermulyo,
Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Keberadaannya di sebelah utara desa
Bumiharjo.
Jumlah siswa kelas V ada 23 siswa terdiri dari 15 laki laki dan 8
perempuan. Dari 23 siswa peserta didik pada awal pembelajaran hanya 12 siswa
52 % yang telah mencapai KKM 75. Sedangkan 10 siswa yang lain 48 % belum
mencapai nilai 75. Sebagian siswanya dari masyarakat sekitar sekolah yang
memiliki tingkat ekonomi menengah sampai ke bawah. Kesadaran akan
pendidikan anak kurang. Hal ini terlihat dari banyak siswa yang tidak
mengerjakan tugas PR yang diberikan oleh guru. Selain itu jumlah anak yang
melanjutkan ke SLTP dan SLTA juga masih sedikit.
Dalam pergaulan sehari hari peserta didik menggunakan bahasa ibu
yaitu bahasa Jawa untuk berkomunikasi baik di rumah maupun di sekolah.
Akibatnya anak anak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa Indonesia. Bila diajak berkomunikasi siswa dapat
menangkap maksud pembicaraan, namun jika diminta untuk mengungkapkan
secara lisan maupun tulisan mereka mengalami kesulitan.
Waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dua tahap :
a. Pra siklus pada hari Rabu, 26 September 2012
b. Siklus I pada hari Rabu, 3 Oktober 2012
c. Siklus II pada hari Rabu10 Oktober 2012
22

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan melakukan pembelajaran
awal. Pelaksanaannya dilakukan tiga kali yaitu pembelajaran awal (pra siklus),
siklus I, dan siklus II. Masing masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi dengan rincian sebagai berikut :

1. Pembelajaran Awal ( Pra Silkus )


a. Perencanaan
Perencanaan pembelajaran awal dilakukan dengan cara pembelajaran
yang biasa saja tanpa ada persiapan khusus, dan dengan Rencana Pembelajaran
(RP). Materi yang diambil adalah tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia
mata pelajaran PKn kelas V Semester I.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah
sebagai berikut.
1) Guru menyusun rencana pembelajaran dengan materi Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
2) Guru menyiapkan sumber bahan dan media pembelajaran.
3) Menyusun lembar kerja.
4) Memilih metode diskusi kelompok.
5) Membuat lembar observasi aktifitas guru dan siswa beserta indikatornya.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran awal dilakukan selama 70 menit dalam
proses pembelajaran kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01 , Kecamatan Winong.
Dengan menggunakan instrument penelitian. Supervisor 2 melakukan pengamatan
terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi melalui metode diskusi
kelompok. Tahap pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan seperti langkah
langkah di bawah ini :
1) Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab tentang tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
2) Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran.

22
23

3) Guru menjelaskan pengertian Negara Kesatuan Republik Indonesia.


4) Siswa mengerjakan lembar kerja siswa dari guru secara berkelompok.
5) Perwakilan siswa maju membacakan hasil kerja kelompok
6) Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru.
7) Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
8) Siswa mengerjakan tes formatif.
9) Guru mengoreksi hasil tes formatif.
10) Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam
bentuk pekerjaan rumah.
11) Guru menyampaikan pesan agar siswa lebih giat belajar kembali

c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh Supervisor 2, menggunakan lembar
observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran
beserta indikator indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melakukan kegiatan
belajar mengajar. Sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan
belajar mengajar berikutnya. Pengamatan didasarkan juga pada bentuk soal yaitu
pilihan ganda 5 soal, isian 3 soal, dan uraian 2 soal.

d. Refleksi
Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan
pembelajaran awal, guru tersebut mengadakan refleksi untuk mengetahui
kekurangan, kendala, hambatan, dan kelebihan saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Karena dirasa masih banyak kekurangan dan hambatan yang
menyebabkan hasil belajar siswa rendah, maka guru mengadakan perbaikan
pembelajaran ke siklus I.

23
24

2. Siklus I
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I,
meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Secara lebih rinci
diuraikan sebagai berikut.

a. Perencanaan
Perbaikan pembelajaran siklus I dilakukan berdasarkan hasil refleksi
terhadap pembelajaran awal mata pelajaran PKn di kelas V materi tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pengamatan, guru kecewa pada hasil
evaluasi dari analisis nilai ditemukan bahwa dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 %
yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 11 siswa yang lain 48 % mendapat
nilai dibawah 75.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaannya adalah
sebagai berikut.
1) Guru menyiapkan sumber bahan dan media yang akan digunakan saat
pelaksanaan perbaikan silklus I.
2) Guru menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I.
3) Guru menyusun lembar kerja siswa.
4) Guru menyusun alat evaluasi berupa butiran soal tes formatif.
5) Guru menyusun lembar observasi kegiatan siswa, guru, dan interaksi
pembelajaran beserta indikatornya.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilakukan 70 menit dalam proses
pembelajaran mata pelajaran PKn kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01 ,
Kecamatan Winong. Dengan menggunakan instrument penelitian, supervisor 2
melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi
melalui metode bermain peran. Tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus
I dilaksanakan seperti langkah langkah di bawah ini :
1) Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab dengan soal Apa yang kalian
ketahui tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

24
25

2) Guru menyampaikan motifasi dan tujuan pembelajaran.


3) Siswa melakukan kegiatan mengambil keputusan bersama / musyawarah
bersama kelompok dalam pemilihan ketua kelas.
4) Siswa mengerjakan lembar kerja secara kelompok.
5) Perwakilan siswa maju membacakan hasil kerja kelompok.
6) Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru.
7) Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
8) Siswa mengerjakan tes formatif.
9) Guru mengoreksi hasil tes formatif.
10) Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam
bentuk pekerjaan rumah.

c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh supervisor 2, menggunakan lembar
observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran
beserta indikator indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melaksanakan kegiatan
belajar mengajar. Adakah peningkatan dibanding pra siklus / rencana
pembelajaran awal. Sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan
belajar mengajar berikutnya. Pengamatan didasarkan juga pada bentuk soal yaitu
pilihan ganda 3 soal, isian 2 soal, dan uraian 1 soal.

d. Refleksi
Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan
pembelajaran siklus I, guru tersebut mengadakan refleksi untuk mengetahui
kekurangan, kendala, hambatan, dan kelebihan saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Ternyata hasil belajar siswa masih belum memuaskan walaupun
sudah ada peningkatan sedikit dan dirasa masih ada kekurangan dan hambatan
yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah maka guru mengadakan perbaikan
pembelajaran pada siklus II.

25
26

3. Siklus II
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II,
meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Secara lebih rinci
diuraikan sebagai berikut.

a. Perencanaan
Perbaikan pembelajaran siklus II dilakukan berdasarkan hasil refleksi
terhadap perbaikan pembelajaran siklus I mata pelajaran PKn di kelas V materi
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pengamatan, guru belum puas
pada hasil evaluasi dari analisis nilai ditemukan bahwa dari 23 siswa yang
mendapat nilai 75 atau lebih hanya 16 siswa 69% sedangkan yang 7 siswa 39%
mendapat nilai di bawah 75.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaannya adalah
sebagai berikut.
1) Guru menyiapkan sumber bahan dan media yang akan digunakan saat
pelaksanaan perbaikan siklus II.
2) Guru menyususn rencana perbaikan pembelajaran siklus II.
3) Guru menyusun sekenario bermain peran.
4) Guru menyusun alat evaluasi berupa butir soal tes formatif.
5) Guru menyusun lembar observasi kegiatan siswa, guru, dan interaksi
pembelajaran beserta indikatornya.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran awal dilakukan selama 70 menit dalam proses
pembelajaran mata pelajaran PKn kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01 ,
Kecamatan Winong. Dengan menggunakan instrument penelitian, Supervisor 2
melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi
melalui metode bermain peran. Tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus
II dilaksanakan seperti langkah langkah di bawah ini.
1) Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab dengan soal Bagaimana
cara menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

26
27

2) Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran


3) Siswa mempraktikan kegiatan pemilihan ketua kelas melalui metode
bermain peran
4) Semua siswa ikut terlibat dalam kegiatan pemilihan ketua kelas V
5) Siswa membentuk kelompok untuk mengisi lembar kerja kelompok
6) Perwakilan siswa maju mendemonstrasikan hasil kerja kelompok
7) Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru
8) Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran
9) Siswa mengerjakan tes formatif
10) Guru mengoreksi hasil tes formatif
11) Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam
bentuk pekerjaan rumah
12) Guru menyampaikan pesan agar siswa lebih giat belajar kembali

c. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh Supervisor 2, menggunakan lembar
observasi yang diisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran
beserta indikator indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melaksanakan kegiatan
belajar mengajar. Adakah peningkatan dibandingkan siklus I. sehingga dapat
menjadi masukan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar berikutnya. Perlu
tidakkah diadakan siklus III. Pengamatan didasarkan juga pada bentuk soal yaitu
pilihan ganda 5 soal, isian 3 soal, dan uraian 2 soal.

d. Refleksi
Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan
pembelajaran siklus II, guru tersebut mengadakan refleksi untuk mengetahui
kekurangan, kendala, hambatan, dan kelebihan saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Ternyata hasil belajar siswa sudah cukup memuaskan yaitu ada 22
siswa 96% telah memperoleh nilai 75 atau lebih. Dengan mempertimbangkan hal

27
28

itu, maka perbaikan pembelajaran tidak memerlukan siklus III. Ini berarti PTK
untuk pelajaran PKn telah selesai dilaksanakan.

C. Teknik Analisis Data


Dalam kegiatan pengumpulan data ini, penulis dibantu supervisor 2.
Pengamatan ini dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan perbaikan
pembelajaran di SD Negeri Sumbermulyo 01. Adapun data data yang diperoleh
adalah sebagai berikut.
1. Hasil Data Kualitatif
Dalam kegiatan pengumpulan data secara kualitatif, pengamat
menggunakan lembar observasi guru. Pengamat memberikan tanda cek ( ) pada
kolom kemunculan sesuai indikator tersebut.
Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat ( observer ) adalah tentang
keefektifan metode bermain peran dalam meningkatkan motivasi siswa dalam
pembelajaran PKn khususnya tentang materi pokok Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Untuk mendapatkan data yang lebih tepat, maka fokus pengamatan
ditekankan pada :
a. Kegiatan guru dalam menerapkan metode bermain peran
b. Aktifitas anak dalam pelaksanaan pembelajaran
c. Keaktifan siswa dalam pelaksanaan bermain peran
d. Indikator yang diamati pada lembar observasi guru terlampir.

2. Hasil Data Kuantitatif


Data kuantitatif diperoleh dari hasil nilai tes formatif. Dari hasil
tersebut dapat untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Dari hasil nilai
tes formatif tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan penggunaan metode
bermain peran dalam meningkatkan motivasi siswa.
Data kuantitatif tersebut dibuat sesuai dengan pedoman penilaian yang
telah dibuat oleh guru. Setelah guru memberikan penilaian lalu menganalisis
perbutir soal. Hasil analisis siswa terlampir.

28
29

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Per Siklus


Hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati terkait hasil belajar PKn
tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui metode bermain peran
dengan model pembelajaran cooperative learning, yang dilaksanakan dalam
perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II secara lengkap dijabarkan
sebagai berikut.

1. Pra Siklus
Pembelajaran pra siklus mata pelajaran PKn kelas V semester I di SD
Negeri Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, tahun pelajaran
2012 / 2013 dengan materi pokok Negara Kesatuan Republik Indonesia
dilaksanakan pada hari Rabu, 26 September 2012 hasilnya belum memuaskan.
Hasil pembelajaran pra siklus disajikan dalam tabel 4.1 sebagai berikut.

Tabel 4.1
Hasil Evaluasi Pra Siklus
Mata Pelajaran PKn
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 64
2 Ade Madona 58
3 Ahmad Aksin 70
4 Ahmad Yunus 88
5 Astari Kurnia W 76
6 Dela Hana K 76

29
30

7 Dina Miftahun M 52
8 Garbriel Violli Y 76
9 Galih Yoga P 46
10 Gayuh Adi S 82
11 Heru Aprianto 76
12 M. Rizki Andika 64
13 M. Nurkholis 82
14 Nurul Huda EP 76
15 Rahmat Febri A 64
16 Ririn Sri Lestari 58
17 Shofiatun Nurul H 76
18 Aris Cahyati Prasetyani 46
19 Pangestu Dwi Rahayu 58
20 Wahyu Candra Saputra 76
21 Mohamad Amir KS 76
22 Febri Sanjaya Putra 58
23 Tri Agustin Nurul H 76
Jumlah 1574 12 11
Presentasi 68 52 48

Dari tabel dapat kita lihat siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak
12 siswa, atau 52 % sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 11 siswa atau 48 %
dari 23 siswa. Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis
yang disajikan pada tabel 4.2 dibawah ini.

30
31

Tabel 4.2
Analisis Hasil Tes Formatif Pra Siklus
Mata Pelajaran PKn
No Rentang Frekuensi
1 41 -50 2
2 51 60 5
3 61 70 4
4 71 80 9
5 81 -90 3
6 91 -100
Jumlah 23

Berdasarkan tabel 4.2 diatas, penguasaan materi pembelajarn pra siklus


bahwa dari jumlah 23 siswa yang mendapat nilai 41 sampai 50 sebanyak 2 siswa,
yang mendapat nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak
4 siswa, nilai 71 sampai 80 sebamyak 9 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 3
siswa dan tidak ada yang mendapat nilai diatas 91.
Apabila hasil evaluasi sebelum perbaikan pembelajaran PKn dengan
indikator Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, tahun pelajaran
2012/2013 jika disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar 4.1
berikut.
Gambar 4.1
Grafik Hasil Evaluasi Sebelum Perbaikan Pembelajaran
7
6
5
4
3 Banyak Siswa
2
1
0
41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100

31
32

Nilai hasil tes formatif diperoleh setelah proses pembelajaran selesai. Guru
memberi evaluasi untuk mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah
diajarkan pada pembelajaran pra siklus. Adapun langkah langkah pelaksanaan
pra siklus yaitu :
a. Perencanaan
Membuat rencana pembelajaran, membuat lembar pengamatan,
menyediakan alat peraga, membuat evaluasi, membuat lembar kerja dan
menentukan teman sejawat yang akan mengobservasi aktivitas siswa dan guru
selama kegiatan pembelajaran.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran pra siklus dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal
26 September 2012, di SD N Sumbrmulyo 01. Pelaksanaan pembelajaran
dilaksanaakan sesuai dengan rencana pembelajaran.

c. Pengamatan
Dari hasil pengamatan yang diperoleh oleh peneliti yang dibantu oleh
teman sejawat sebagai observer. Berikut hasil pengamatan pada waktu proses
pembelajaran pada pra siklus. Pada pra siklus ini pembelajaran berlangsung, siswa
belum aktif dalam pembelajaran, siswa pada waktu diskusi kelompok belum bisa
bekerja sama, waktu diberi penjelasan oleh guru ada siswa yang bermain sendiri.
Sedangkan hasil pengamatan terhadap guru yaitu guru kurang menguasai materi,
guru belum bisa mengontrol keaktifan siswa, guru belum menggunakan alat
peraga, sehingga siswa kurang memahami struktur daun dan fungsinya.

d. Refleksi
Dari hasil refleksi yang dilakukan oleh guru melalui diskusi dengan teman
sejawat sebagai observer diperoleh beberapa kekurangan selama proses
pembelajaran. Sebelum pelajaran dimulai guru tidak mengkondisikan siswa untuk
menerima pelajaran, sehingga siswa belum siap menerima pelajaran. Pada waktu
pemberian materi guru hanya ceramah, sehingga siswa hanya menggambarkan

32
33

materi NKRI itu seperti apa. Dari refleksi itu guru menyadari kekurangannya
dalam proses pembelajaran oleh karena itu guru akan memperbaikinya pada
perbaikan pembelajaran siklus berikutnya.

1) Keberhasilan
a) Siswa merasa senang dengan pembelajaran dengan mempelajari
kubudayaan di Indonesia.
b) Guru dapat belajar untuk menerapkan alat peraga pembelajaran.
c) Guru dapat menjadikan alat peraga sebagai variasi model pembelajaran.

2) Kegagalan
a) Masih ada 11 siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan minimal.
b) Ada beberapa siswa yang belum bisa memahami materi.
Dalam menyimpulkan materi guru masih belum melibatkan siswa.

2. Siklus I
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3
Oktober 2012 dengan objek siswa kelas V semester I SD Negeri Sumbermulyo
01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Dengan dibantu oleh teman sejawat yang
bertindak sebagai observer, peneliti melaksanakan sesuai rencana. Skenario
pembelajaran berlangsung dengan baik. Peneliti melaksanakan sesuai rencana.
Pada akhir pembelajaran peneliti mengadakan evaluasi hasil belajar untuk
mengetahui tingkat keberhasilan. Hasil perbaikan pembelajaran siklus I disajikan
dalam tabel 4.3 sebagai berikut.

33
34

Tabel 4.3
Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus I
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 76
2 Ade Madona 58
3 Ahmad Aksin 76
4 Ahmad Yunus 88
5 Astari Kurnia W 76
6 Dela Hana K 76
7 Dina Miftahun M 52
8 Garbriel Violli Y 76
9 Galih Yoga P 46
10 Gayuh Adi S 82
11 Heru Aprianto 76
12 M. Rizki Andika 76
13 M. Nurkholis 82
14 Nurul Huda EP 76
15 Rahmat Febri A 76
16 Ririn Sri Lestari 58
17 Shofiatun Nurul H 76
18 Aris Cahyati Prasetyani 46
19 Pangestu Dwi Rahayu 58
20 Wahyu Candra Saputra 76
21 Mohamad Amir KS 76
22 Febri Sanjaya Putra 58
23 Tri Agustin Nurul H 76
Jumlah 1604 16 7
Presentasi 69 69 39

34
35

Dari tabel dapat kita lihat siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak
16 siswa, sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 7 siswa dari jumlah 23 siswa.
Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan
pada tabel 4.4 dibawah ini.
Tabel 4.2
Analisis Hasil Tes Formatif Siklus I

No Rentang Frekuensi
1 41 -50 2
2 51 60 5
3 61 70 -
4 71 80 12
5 81 -90 3
6 91 -100 -

Jumlah 23

Berdasarkan tabel 4.4 diatas, penguasaan materi sebelum perbaikan


pembelajarn bahwa dari jumlah 23 yang mendapat nilai 41 sampai 50 sebanyak 2
siswa , nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak tidak
ada , nilai 71 sampai 80 sebanyak 12 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 3 siswa
dan tidak ada yang mendapat nilai diatas 91.
Apabila hasil evaluasi perbaikan pembelajaran siklus I mata pelajaran
PKn dengan indikator Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di
SD Negeri Sumbermulyo 01 , Kecamatan winong, Kabupaten Pati, tahun
pelajaran 2012/2013 jika disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar
4.1 berikut.

35
36

Gambar 4.2
Grafik Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus I

10

6
Banyak
4 Siswa

0
41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 90-100

Hasil evaluasi siklus I diperoleh setelah pelaksanaan pembelajaran siklus


I selesai. Dalam pembelajaran siklus I melalui langkah langkah berikut.

a. Perencanaan
a) Menyusun rencana pembelajaran dengan tujuan perbaikan siklus I.
b) Memilih metode siklus I.
c) Mempersiapkan LKS yang akan digunakan dalam perbaikan pembelajaran.
d) Membuat dan merancang lembar observasi aktivitas guru beserta
indikatornya.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal
3 Oktober 2012 dikelas V. Kegiatan belajar mengajar sesuai dengan apa yang
tertulis dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.

c. Pengamatan
Pada tahap ini pengamat mencatat apa yang telah terjadi pada
pembelajaran perbaikan siklus I dengan menggunakan lembar observasi. Dalam
proses ini diperoleh data bahwa :
- Penjelasan materi sangat cepat sehingga kurang dipahami siswa
- Kurang memberikan kesempatan pada anak untuk bertanya
- Perhatian guru pada siswa masih kurang.

36
37

d. Refleksi
Hasil dari observasi / pengamatan dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil
observasi guru mengadakan refleksi untuk mengetahui kekurangan, hambatan
dan kendala yang terjadi pada proses pembelajaran.
Dengan dasar hasil tes formatif yang menunjukkan menunjukkan
peningkatan pada pembelajaran sebelumnya, namun untuk mencapai ketuntasan
75% belum tercapai. Maka penulis mengadakan perbaikan pembelajaran tahap
berikutnya yang menjadi fokus perbaikan adalah sebagai berrikut.
1) Memberikan materi yang jelas dan lengkap sehingga mudah dipahami
siswa.
2) Memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya.
3) Menggunakan model pembelajaran yang tepat.

Keberhasilan dan kegagalan pada siklus I antara lain:


1) Keberhasilan
a) Hasil evaluasi belajar siswa meningkat.
b) Sebagian besar siswa sudah memahami materi.
c) Siswa sudah berani maju mengerjakan soal.
d) Siswa sudah berani untuk mengajukan pertanyaan.

2) Kegagalan
a) Masih ada 7 siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan.
b) Kurang memberikan kesempatan pada anak untuk bertanya.
c) Penggunaan alat peraga kurang maksimal.
d) Masih ada beberapa siswa yang pada saat pelajaran berlangsung masih
belum bisa terlibat aktif.

3. Siklus II
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
10 Oktober 2012 dengan objek siswa kelas V semester I SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Dengan dibantu oleh

37
38

teman sejawat yang bertindak sebagai observer, peneliti melaksanakan sesuai


rencana.
Skenario pembelajaran berlangsung dengan baik. Peneliti melaksanakan
sesuai rencana. Pada akhir pembelajaran peneliti mengadakan evaluasi hasil
belajar untuk mengetahui tingkat keberhasilan. Hasil perbaikan pembelajaran
siklus II disajikan dalam tabel 4.5 sebagai berikut.
Tabel 4.5
Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 88
2 Ade Madona 76
3 Ahmad Aksin 94
4 Ahmad Yunus 100
5 Astari Kurnia W 94
6 Dela Hana K 100
7 Dina Miftahun M 82
8 Garbriel Violli Y 100
9 Galih Yoga P 70
10 Gayuh Adi S 100
11 Heru Aprianto 94
12 M. Rizki Andika 88
13 M. Nurkholis 100
14 Nurul Huda EP 88
15 Rahmat Febri A 94
16 Ririn Sri Lestari 76
17 Shofiatun Nurul H 94
18 Aris Cahyati Prasetyani 82
19 Pangestu Dwi Rahayu 82
20 Wahyu Candra Saputra 88

38
39

21 Mohamad Amir KS 100


22 Febri Sanjaya Putra 76
23 Tri Agustin Nurul H 100
Jumlah 2066 22 1
Presentasi 90 96 4

Dari tabel dapat kita lihat siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak
22 siswa, sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 1 siswa dari jumlah 23 siswa.
Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan
pada tabel 4.6 dibawah ini.
Tabel 4.6
Analisis Hasil Tes Formatif Siklus II
No Rentang Frekuensi
1 41 -50 -
2 51 60 -
3 61 70 1
4 71 80 3
5 81 - 90 7
6 91 -100 12
Jumlah 23

Berdasarkan tabel 4.6 diatas, penguasaan materi sebelum perbaikan


pembelajarn bahwa dari jumlah 23 siswa tak seorang pun yang mendapat nilai
dibawah 60, nilai 61 sampai 70 1 siswa, nilai 71 sampai 80 sebanyak 3 siswa, nilai
81 sampai 90 sebanyak 7 siswa dan yang mendapat nilai diatas 91 sebanyak 12
siswa.
Apabila hasil evaluasi perbaikan pembelajaran siklus II mata pelajaran
PKn dengan indikator Negara Kesatuan republic Indonesia kelas V semester I di
SD Negeri Sumbermulyo 01 , Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, tahun

39
40

pelajaran 2012/2013 jika disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar
4.3 berikut.
Gambar 4.3
Grafik Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II

12
10
8
6
Banyak Siswa
4
2
0
41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100

Berikut ini adalah langkah langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran


siklus II :
a. Perencanaan
Menyusun rencana pembelajaran, menentukan alat peraga, menentukan
metode pembelajaran, merencanakan fokus perbaikan pembelajaran, menyusun
lembar observasi, menyusun lembar evaluasi.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus II dilaksanakan hari Rabu, tanggal 10
Oktober 2012, bertempat di SD Negeri Sumbermulyo 01 Kecamatan Winong
Kabupaten Pati.

c. Pengamatan
Hasil pengamatan dari observer selama proses pembelajaran siklus II
adalah siswa pada waktu menerima pelajaran memperhatikan penjelasan yang
diberikan oleh guru dengan baik. Berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran,

40
41

sudah ada keinginan untuk mencari penelesaian soal dari guru. Mau bertanya jika
ada kesulitan, dan mulai berani untuk mengerjakan didepan walaupun belum bisa.
Sedang pengamatan yang diperoleh observer kepada guru yang mengajar adalah
guru sudah mempersiapkan rencana pembelajaran dengan baik, metode yang
digunakan sudah tepat, pemberian motivasi sudah cukup tapi masih ada beberapa
kekurangan tidak menanyakan kepada siswa tentang kesulitan apa yang diperoleh
dari materi yang diajarkan.

d. Refleksi
Setelah melakukan beberapa perbaikan yaitu perbaikan pembelajaran pra
siklus, siklus I dan siklus II. Peneliti menyadari betul kekurangan kekurangan
pada proses pembelajaran mata pelajaran PKn dengan materi Negara Kesatuan
Republik Indonesia pada siklus II. Walaupun peneliti sudah mempersiapkan
proses pembelajaran sebaik mungkin, tetapi tetap masih ada kekurangannya
diantaranya guru kurang memberi pertanyaan kepada siswa. Dari hasil refleksi
yang dilakukan tersebut teman sejawat selaku observator juga menemukan
beberapa kekurangan yaitu guru tidak memberi bimbingan kepada siswa yang
belum jelas atau memahami materi pelajaran.
Keberhasilan dan kegagalan pada siklus II antara lain:

1) Keberhasilan
a) Hasil evaluasi belajar siswa meningkat.
b) Sebagian besar siswa sudah memahami materi.
c) Siswa sudah berani maju mengerjakan soal.
d) Siswa sudah berani untuk mengajukan pertanyaan.

2) Kegagalan
a) Masih ada 1 orang siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan.
b) Pengelolaan kelas masih kurang.
c) Masih ada beberapa siswa yang pada saat pelajaran berlangsung masih
belum bisa terlibat aktif.

41
42

Dari tabel pemelajaran awal sampai perbaikan pembelajaran siklus II


pada mata pelajaran PKn V semester I tentang NKRI di SD Negeri Sarimulyo 01
Kecamatan Winong Kabupaten Pati, dapat disajikan pada tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7
Hasil Belajar dan Peningkatan Nilai Rata Rata
No Ketuntasan Pra Siklus Siklus I Siklus II
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Tuntas 12 52 16 69 22 96
2 Belum Tuntas 11 48 7 39 1 4
3 Nilai rata -rata 68 69 90

Berdasarkan table 4.7 dapat kita lihat bahwa pada Pra Siklus hanya 52%
siswa yang meraih ketuntasan, 69 % pada siklus I dan pada Siklus II sebanyak
96% hal ini menunjukkan bahwa peningkatan yang signifikan apabila kita
menggunakan metode dan cara belajar yang tepat sehingga siswa dapat belajar
dengan semangat dan meraih prestasi yang kita harapkan.
Pada nilai rata rata juga mengalami peningkatan yang signifikan, nilai
rata rata pada pembelajaran awal 68, pada siklus I mengalami peningkatan yaitu
69 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 96. Perbaikan
pembelajaran cukup pada siklus II tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya
karena tuntas dari 23 siswa ada 22 siswa atau 96% hanya 1 siswa atau 4% yang
belum tuntas termasuk siswa yang lamban belajarnya.
Dari tabel 4.7 dari hasil evaluasi pembelajaran awal hingga perbaikan
pembelajaran siklus II mata pelajaran matematika jika disajikan dalam bentuk
diagram mak dapat dilihat pada diagram 4.4 berikut.

42
43

Gambar 4.4
Grafik peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar

25

20

15

10 Tuntas

5 Belum
Tuntas

0
Pra Siklus I Siklus II
Siklus

Pada gambar 4.4 menunjukkan grafik peningkatan nilai rata rata mata
pelajaran PKn dengan materi Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V
semester I di SD Negeri Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati,
bahwa sebelum perbaikan pembelajaran nilai rata rata 68, pada perbaikan siklus
I nilai rata rata 69 kenaikan nilai rata rata 1. Pada perbaikan pembelajaran
siklus II nilai rata rata 96, kenaikan nilai rata rata dari perbaikan pembelajaran
siklus I ke perbaikan siklus II yaitu 30.

B. Pembahasan Setiap Siklus


1. Sebelum Perbaikan Pembelajaran
Sebelum perbaikan pembelajaran dari 23 siswa yang mengalami
ketuntasan dalam belajar sebanyak 12 siswa atau hanya 52% dan 11 siswa atau 48
% belum tuntas. Hal ini menunjukkan kegagalan dalam pembelajaran. Setelah
penulis merefleksi diri, maka kegagalan iti disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain :
a. Dalam penggunaan alat peraga kurang bervariasi.

43
44

b. Pembelajaran masih didomonasi guru.


c. Rendahnya tingkat penguasaan materi oleh siswa.
d. Kurang relevannya metode yang digunakan.
Kegagalan dalam pembelajaran PKn dengan materi Negara Kesatuan
Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri Sumbermulyo 01,
Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, maka peneliti perlu melakukan perbaikan
pembelajaran siklus I.

2. Siklus I
Berdasarkan hasil diskusi denagn teman sejawat serta supervisor bahwa
ketidaktuntasan siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan materi Negara
Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri Sumbermulyo 01,
Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, disebabkan oleh :
a. Siswa kurang konsentrasi dalam pembelajaran.
b. Tidak semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
c. Kurangnya motivasi guru terhadap siswa.
d. Kurangnya keberanian siswa dalam mengutarakan pendapat.
Berdasarkan temuan masalah diatas, maka langkah yang ditempuh guru
untuk meningkatkan hasil belajar adalah :
a. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pengertian Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan metode bermain peran.
Hal tersebut sesuai dengan teori blajar yang dikemukakan oleh J Bruner
(1966), bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang dilakukan oleh siswa dengan
jelas.
Untuk meningkatkan kreativitas dan aktivitas dalam melakukan kegiatan
pembelajaran, maka pengadaan alat peraga harus ditingkatkan dengan cara :
1. Memanfaatkan benda benda yang ada disekitar siswa.
2. Menggunakan alat peraga model kebudayaan Indonesia.
Menurut C. Roger 1969 : 9 ) dalam teori cooperative learning disebutkan
bahwa proses belajar terjadi dengan adanya keterlibatan pribadi, inisiatif diri dan
evaluasi diri. Teori ini menimpulkan bahwa belajar harus dilakukan oleh siswa,

44
45

sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Maka pemilihan metode demonstrasi


sangatlah tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
b. Meningkatkan keberanian siswa dalam mengutarakan pandapat melalui
pendekatan model cooperative learning.
Pendekatan cooperative eraning akan memberikan kesempatan pada
anak untuk memiliki keberanian dalam mengutarakana pendapat. Dalam hal ini
diharapkan tutor sebaya mampu membimbing temannya dalam melakukan
percobaan. Hal ini sesuai denagn pendapat Siberman (2000;157) bahwa mengajar
teman sebaya (per teaching) merupakan salah satu cara untuk mematangkan
penguasaan siswa terhadap suatu pelajaran tertentu.
Dalam pelaksanaan mengajar teman sebaya, fungsi guru lebih
difokuskan sebagai fasilitator dan motivator untuk memberikan penguatan. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Brammer (1979;42) yaitu hubungan yang bersifat
membantu merupakan upaya guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang
kondusif akan terjadinya pemecahan masalah dan pengembangan diri peserta
didik.
Berdasarkan hasil refleksi tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus I
dihasilkan antara lain :
1. Tutor sebaya belum terampil menggunakan alat peraga untuk membimbing
temannya dalam melakukan pembelajaran tentang kebudayaan.
2. Masih ada beberapa siswa yang ragu dan tidak terlibat aktif dalamn
melakukan demonstrasi. Guru memberi pengarahan agar siswa terlibat aktif
dalam melakukan bermain peran.
3. Dalam diskusi kelompok, masih ada beberapa siswa yang aktif dan kurang
kerja sama dalam menyelesaikan tugas.
4. Hasil evaluasi siswa masih banyak yang rendah, masih ada 7 siswa yang
nilainya dibawah KKM dan tingkat ketuntasan kelas 69 %. Dengan demikian
maka tindakan perbaikan dilanjutkan pada siklus II.

45
46

3. Siklus II
Adapun hasil refleksi pada siklus II adalah:
a. Tutor sebaya sudah terampil menggunakan alat peraga untuk membimbing
temanya dalam mempelajari kebudayaan.
b. Hampir semua siswa terlibat aktif dalam melakukan bermain peran.
c. Dalam diskusi kelompok, hampir semua siswa sudah aktif dan tercipta kerja
sama yang baik dalam menyelesaikan tugas.
d. Hasil evaluasi belajar sudah baik walaupun masih ada 1 siswa yang nilainya
dibawah KKM. Namun rata rata nilai sudah diatas KKM yaitu 90 dan
tingkat ketuntasan 96%.
Dengan demikian tindakan perbaikan pembelajaran PKn dengan materi
pokok Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati melalui model
pembelajaran cooperative learning melalui metode bermain peran dengan
mengefektifkan alat peraga kebudayaan dan globe dipandang sudah cukup. Hal
ini terbukti adanya peningkatan hasil belajar atau hasil evaluasi nilai rata rata
sudah diatas KKM yaitu 90 dan tingkat ketuntasan 96%.

46
47

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui
pembelajaran siklus I dan siklus II dengan materi Negara Kesatuan Republik
Indonesia dikelas V semester I tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, maka penulis dapat
mengambil kesimpulan bahwa upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
metode bermain peran melalui pendekatan model cooperative learning dengan
mengefektifkan alat peraga kebudayaan dan globe telah mampu meningkatkan
hasil belajar siswa.
Peningkatan ini terjadi pada siklus I maupun siklus II dengan bukti
adanya peningkatan pada :
1. Menggunakan media pembelajaran kebudayaan dan globe dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Model pembelajaran cooperative learning melalui penerapan metode bermain
peran untuk dengan mengefektifkan alat peraga dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
3. Prosentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan
setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada evaluasi sebelum perbaikan
pembelajaran ada 12 siswa atau 52% dari 23 siswa. Pada perbaikan
pembelajaran siklus I meningkat, siswa yang nilainya 75 keatas menjadi 16
atau 69% dari jumlah 23 siswa dan pada perbaikan siklus II menjadi 22 siswa
atau 96%.

B. Saran Tindak Lanjut


Berdasarkan pengalaman peneliti selama melaksanakan Penelitian
Tindakan Kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SD Negeri

47
48

Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati peneliti kemukakan saran


dan tindak lanjut sebagai berikut.
1. Guru sebaiknya mengusahakan media pembelajaran benda benda konkret
yang berada disekitar siswa dapat menghilangkan verbalisme dan
menyenangkan.
2. Guru harus memberi motivasi dan bimbimngan pada siswa yang mengalami
kesulitan.
3. Guru hendaknya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
4. Di era kompetisi siswa perlu dilatih untuk berani mengemukakan pendapat
oleh karena itu latihan membimbing kawan kawannya dalam melakukan
bermain peran merupakan ajang latihan yang cukup kreatif.
5. Siswa perlu dilatih untuk bergaul dan bekerjasama yang harmonis dalam
kelompoknya denagn kegiatan yang positif. Oleh karena itu bekerja dalam
kelompok untuk menyelesaikan tugas tertentu merupakan cara yang efektif
untuk melatih sifat social pada siswa.
6. Laporan ini dapat dijadikan bahan kajian untuk meningkatkan
pengetahuannya melalui forum KKG dll.

48
49

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, dkk. 2010, Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta, Universitas


Terbuka.

Aswani, Zaenul,2004, Tes dan Asesmen di SD, Jakarta, Universitas Terbuka.

Denny, Setyawan, 2005, Komputer dan Media Pembelajaran, Jakarta, Universitas


Terbuka.

Gatot, Muhsetyo, Drs. M.Sc, dkk, 2007, Pembelajaran PKN, Jakarta, Universitas
Terbuka.

Mulyani Sumantri, Nana Syaodih. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta,


Universitas Terbuka.

Samsudin, Abin, 2004, Profesi Keguruan 2, Jakarta, Universitas Terbuka.

Suciati, Drs. Dkk, 2004, Belajar dan Pembelajaran 2, Jakarta, universitas


Terbuka.

Wardani, I.G.A.K, 2008, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Universitas


Terbuka.

Wahyudi Duin, Supaiyati, Ishak, Abduhak, 2001, Pengantar Pendidikan, Jakarta,


Universitas Terbuka.

Dra. Dyah Sriwilujeng, M.Pd, Buku PKn untuk SD Kelas V, Jakarta, Esis.

Pranaja S dkk, Buku Fokus PKn untuk SD Kelas V, Jakarta, Sindutama.

49
50

Kesediaan sebagai Supervisor 2 dalam Penyelenggaraan PKP

Kepada
Kepala UPBJJ 42 Semarang.
Di Semarang

Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa:


Nama : Supadi, S.Ag
NIP : 19670118200641101
Tempat Mengajar : MI Roudlotusysyubanu Tawangrejo
Alamat Sekolah : Ds. Tawangrejo Kec. Winong Kab. Pati

Menyatakan bersedia sebagai supervisor 2 untuk membimbing dalam pelaksanaan


PKP atas:
Nama : RUMISIH
NIM : 817463908
Program Studi : S 1 PGSD
Tempat Mengajar : SD N Sumbermulyo 01
Alamat Sekolah : Ds. Sumbermulyo Kec Winong Kab Pati
Telepon :

Demikian agar surat pernyataan ini dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Pati, 10 Maret 2012


Mengetahui,
Kepala Sekolah Supervisor 2

Supriyati, A.MaPd SUPADI, S.Ag


NIP. 19531113 197512 2 002 NIP. 196701 1820064 1 001

50
51

Surat Pernyataan Kesediaan sebagai Supervisor 2

Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa:


Nama :RUMISIH
NIM : 817463908
UPBJJ-UT : 42 Semarang

Menyatakan bahwa:
Nama : Supadi, S.Ag
NIP : 19670118200641101
Tempat Mengajar : MI Roudlotusysyubanu Tawangrejo
Alamat Sekolah : Ds. Tawangrejo Kec. Winong Kab. Pati

Adalah supervisor 2 yang akan membantu dalam pelaksanaan perbaikan


pembelajaran yang merupakan tugas mata kuliah PDGK4501 Pemantapan
Kemampuan Profesional (PKP).

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Pati, 18 September 2012


Supervisor 2, Mahasiswa,

SUPADI, S.Ag RUMISIH


NIP. 196701 1820064 1 001 NIM. 8174639

Lampiran 3
Format Perencanaan Perbaikan Pembelajaran

51
52

Fakta/Data pembelajaran Rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa pada


yang terjadi di kelas
waktu pembelajaran mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan yaitu hanya mencapai 52 %.
Identifikasi masalah e. Siswa kurang memahami konsep pengambilan
keputusan bersama.
f. Siswa kurang aktif dalam berdiskusi
g. Siswa kurang terampil dalam berkomunikasi
dengan teman sebaya.
h. Hasil belajar siswa rendah

Analisis masalah e. Guru tidak menggunakan alat peraga.


f. Bahwa semua siswa yang terlibat dalam
pembelajaran saat melakukan diskusi hanya
beberapa siswa yang aktif, sedangkan yang
lain hanya mendengarkan.
g. Kurangnya contoh dan latihan.
h. Kurangnya bimbingan guru secara
menyeluruh.

Alternatif dan Prioritas d. Guru perlu menerapkan metode pembelajaran


Pemecahan Masalah
bermain peran untuk meningkatkan keaktifan
siswa dalam pembelajaran PKn tentang
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
e. Guru perlu memberikan contoh nyata melalui
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
kelompok.
f. Guru perlu memberikan latihan dan bimbingan
secara menyeluruh pada pembelajaran PKn
tentang pengambilan keputusan bersama.
Rumusan masalah Penerapan metode pembelajaran bermain peran
untuk meningkatkan hasil belajar PKn tentang

52
53

Negara Kesatuan Republik Indonesia di kelas V


SD Negeri Sumbermulyo 01

53
54

RENCANA PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN


SIKLUS II

Nama Sekolah : Sumbermulyo 01


Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas / Semester : V (Lima) / I ( Satu )
Materi Pokok : NKRI
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (3 pertemuan)
Hari / Tanggal : Rabu, 10 Oktober 2012

I. Standar Kompetensi
1. Memahami pentingnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI)

II. Kompetensi Dasar


1.1. Medeskripsikan Negara Kesatuan Republik Indonesia

III. Indikator
1. Menjelaskan pengertian NKRI
2. Menyebutkan dasar hukum NKRI.
3. Menjelaskan satuan daerah otonom dalam NKRI.

IV. Tujuan Pembelajaran


1. Siswa dapat menjelaskan pengertian NKRI.
2. Siswa dapat menjelaskan dasar hukum NKRI.
3. Siswa dapat menjelaskan satuan daerah otonom dalam NKRI.

V. Tujuan Perbaikan Pembelajaran


1. Melalui metode tanya jawab dapat meningkatkan pemahaman tentang
pengertian NKRI.
2. Melalui diskusi siswa dapat menjelaskan dasar hukum NKRI.
VI. Materi Ajar
NKRI berdiri sejak tanggal 17 Agustus 1945
Bentuk Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang dijelaskan pasal 1

54
55

Ayat ( 1 ) UUD 1945 yang berbunyi Negara Indonesia adalah negara


kesatuan yang berbentuk Republik.
Ciri ciri Negara kesatuan antara lain:
1. Memiliki satu pemerintahan pusat yang memegang sluruh kekuasaan
pemerintah,
2. Memiliki satu konstitusi yang berlaku diseluruh wilayah Negara
3. Terdapat seorang kepala Negara atau kepala pemerintahan untuk
seluruh rakyat
4. Kekuasaan pemerintahan bias diselenggarakan dan dikendalikan oleh
pemerintah pusat, sedangkan pemerintah daerah hanya melaksanakan
semua ketentuan dan kebijakan dari pemerintah pusat, yang disebut
system sentralisasi, dalam Negara kesatuan dikenal juga system
otonomi daerah yaitu pemerintah pusat menyerahkan sebagian
kekuasaannya sebagai urusan pemerintah daerah untuk melaksanakan
urusan daerahnya sendiri.
Bangsa adalah suatu persekutuan hidup yang berdiri sendiri dan masing
masing anggota peresekutuan hidup tersebut terikat oleh suatu kesatuan ras,
bahasa, agama, dan adat istiadat.
Negara berbeda dengan bangsa. Bangsa adalah bagian dari suatu Negara itu
sendiri.
Negara menurut kamus besar adalah wilayah yang dihuni sekelompok
masyarakat berjumlah besar dan mempunyai system pemerintahan untuk
mengatur masyarakat tersebut.
Unsur penting berdirinya Negara diantaranya adalah :
1. Unsur konstitutif ( rakyat, wilayahdan pemerintah yang berdaulat )
2. Unsur deklaratif : pengakuan dari Negara lain

VII. Langkah langkah Kegiatan


Tahap Rincian Kegiatan Waktu Pendidikan

55
56

Pembelaja Karakter yang


ran diharapkan

Pra 1. Menyiapkan alat peraga dan


Kegiatan
sumber belajar
2. Menyiapkan alat evaluasi dan alat
tulis menulis
3. Pengkondisian kelas
Kegiatan - Apersepsi - Rasa hormat
Awal Guru menyakan pada anak dan perhatian
tentang materi sebelumnya - ( respect )
5 menit
Tari gambyong dari.... - Tekun
Proklamasi dilaksanakan (diligence)
tanggal . - Integritas

- Motivasi (Integrity)

Guru memberi pujian pada anak - Peduli (caring)


yang dapat menjawab dengan - Kewarganegara
baik an
( citizenship)
- Informasi
Menyampaikan tujuan dan
cakupan materi pembelajaran
Kegiatan 1. Eksplorasi
Inti a. Guru menjelaskan kompetensi - Rasa hormat dan
2 menit perhatian
yang ingin dicapai dan
menyebutkan sarana atau alat ( respect )

pendukung yang dibutuhkan - Integritas


3 menit
b. Memotivasi siswa untuk terlibat (Integrity)
dalam aktivitas - Peduli (caring)
c. Guru menyajikan materi - Kewarganegara
an
pelajaran kepada siswa tentang
( citizenship)
Negara Kesatuan Republik 10 menit - Integritas
Indonesia ( NKRI ) (Integrity)

56
57

d. Guru menyiapkan media belajar - Peduli (Caring)


tentang Negara Kesatuan - Rasa hormat dan
Republik Indonesia ( NKRI ) perhatian
e. Guru mengadakan tanya jawab (respect)
tentang Negara Kesatuan
Republik Indonesia
20 menit
f. Siswa memperhatikan dan
- Tanggung jawab
mencatat hal yang penting
(respect)
- Berani (courage)
b. Elaborasi
1. Siswa dibagi menjadi beberapa - Jujur((fairness)

kelompok tiap kelompok (min - Kewarganegaraan

5 siswa ) 10 menit (citizenship)

2. Guru memberikan LKS pada Berani (courage)


Integritas
tiap kelompok
(integrity)
3. Siswa mengerjakan lembar kerja 5 menit Tanggung jawab
secara kelompok (responsibility)
Integritas
4. Siswa melaporkan hasil diskusi
(integrity)

c. Konfirmasi
1. Dengan bimbingan guru siswa
menyimpulkan hasil diskusi
kelompok
2. Memberi penguatan dan umpan
balik dari hasil kerja siswa
3. Guru memberi motivasi pada
siswa yang belum berperan aktif
4. Guru dan siswa mengadakan
refleksi
Kegiatan 1. Guru membagi lembar tes - Tekun (diligence)
Akhir formatif 15 menit - Tanggung jawab
(reponsibility)

57
58

2. Siswa mengerjakan tes formatif - Jujur


3. Guru menganalisis tes formatif (fairness)
Dapat dipercaya
4. Guru memberikan perbaikan
(trustworthiness)
bagi siswa yang nilainya 75
keatas
5. Guru memberikan pengayaan
yang nilainya 74 kewabah
6. Guru menutup pelajaran

VIII. METODE, ALAT DAN SUMBER BAHAN


A. Metode
- Ceramah
- Tanya jawab
- Tugas
- Diskusi

B. Alat Peraga
- Peta
- Globe
- Gambar Kebudayaan
-
C. Sumber Belajar
1. Judul : Pendidikan Kewargaganegaraan untuk Kelas V
Pengarang : Sarjan
Penerbit : Pusat Perbukuan
Halaman : 55- 60
2. Judul : Pendidikan Kewargaganegaraan untuk Kelas V
Pengarang : Drs. Suyadi, M.Pd dkk
Penerbit : Harapan Baru
Halaman : 8 - 10
3. Judul : Pendidikan Kewargaganegaraan untuk Kelas V
Pengarang : Pranaja S dkk
Penerbit : Sindutama

58
59

Halaman :4-8
4. Judul : Pendidikan Kewargaganegaraan untuk Kelas V
Pengarang : Dra. Dyah Sriwilujeng, M.Pd
Penerbit : Esis
Halaman : 1- 3

IX. PENILAIAN
A. Prosedur Tes
1. Tes awal : Apersepsi
2. Tes dalam proses : Lembar kerja siswa
3. Tes akhir : Evaluasi, perbaikan, pengayaan

B. Jenis Tes
1. Tes lisan : Apersepsi
2. Tes tertulis : LKS, tes formatif, perbaikan, pengayaan

C. Alat Tes
1. Soal tes : Terlampir
2. Kunci jawaban : Terlampir
3. Kriteria Penilaian : Terlampir

D. Bentuk Tes
1. Pilihan ganda : Tes formatif
2. Isian : LKS, tes formatif, perbaikan, pengayaan
3. Jawaban singkat : Tes pengayaan, perbaikan
4. Kriteria Penilaian : Terlampir
5. Pedoman Penilaian : Terlampir
6. Lembar Observasi : Terlampir

Sumbermulyo, 10 Oktober 2012


Mengetahui

59
60

Kepala Sekolah Mahasiswa

Supriyati, A.MaPd Rumisih


NIP. 19531113 197512 2 002 NIM. 817463908

Supervisor II

Supadi, S.Ag
NIP. 19670118200641101

LEMBAR KERJA SISWA

Mata Pelajaran : PKN


Kelas / Semester : V / I
Kompetensi dasar : Medeskripsikan Negara Kesatuan
Republik Indonesia
Petunjuk :
1. Tuliskan lima provinsi yang ada di Indonesia dilengkapi ibu kota provinsi!
2. Diskusikan bersama anggota kelompokmu !
No Provinsi Ibu Kota

60
61

10

Kelompok :
Anggota : 1.
2.
3.
4.

TES FORMATIF SIKLUS II


Mata Pelajaran : PKN
Kelas/ Semester :V/I

I.Berikan tanda silang pada huruf a, b, c atau d padajawaban yang paling


benar!
1. Secara geografis, Indonesia terletak pada dua benua, yaitu .
a. Benua Afrika dan Australia c .Benua Amerika dan Australia
b. Benua Amerika dan Asia d. Benua Asia dan Australia
2. Jumlah pulau di Indonesia adalah .
a. Pasal I ayat ( 1 ) c. Pasal 2 ayat ( 1 )
b. Pasal 1 ayat ( 2 ) d. Pasal 1 ayat ( 2 )
3. Luas wilayah perairan Indonesia adalah
a. 2.288.683 km2 c. 3.288.683 km2
b. 4.288.683 km2 d. 1.288.683 km2
4. Negara kita adalah Negara dengan sistem pemerintahan .
a. Federal c. Republik
b. Kesatuan d. Presidentil
5. Cara menjaga keutuhan negara Indonesia adalah dengan menjaga persamaan
yang ada. Salah satu persamaan yang dimiliki bangsa Indonesia dan diikrarkan
dalam sumpah pemuda adalah .
a. Agama c. Warna kulit
b. Bahasa daerah d. Tumpah darah

II. Isilah titik titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat!
1. Letak astronomi Indonesia adalah.

61
62

2. Unsur konstitutif suatu Negara terdiri dari .


3. Landasan Negara kita adalah.

III. Jawablah pertanyaan ini dengan singkat!


1.Sebutkan dua unsur berdirinya suatu Negara dan pengertiannya!
2.Sebutkan tiga unsur terbentuknya suatu bangsa !

KUNCI JAWABAN
Tes formatif

I 1. D
2. A
3. C
4. D
5. D

62
63

II 1. 60 Lintang Utara ( LU ) dan 110 Lintang Selatan ( LS ), 950 Bujur Timur (


BT ) dan 1410 Bujur Timur ( BT )
2. Memiliki rakyat, memiliki wilayah, memiliki pemerintah yang berdaulat
3. Pancasila, dan UUD 45

III.
1 a. Unsur konstitutif : unsur yang harus ada pada suatu Negara yang terdiri dari
memiliki rakyat, memiliki wilayah, memiliki pemerintah daerah
b. Unsur deklaratif adalah pengakuan dari Negara lain.
2.
Tiga unsure terbentuknya suatu bangsa:
a. Adanya persamaan nasib masa lalu atau mempunyai sejarah yang sama
b. Memiliki persamaan karakter
c. Memiliki ikatan persatuan diantara anggota anggotanya
d. Memiliki tanah air yang sama
e. Memiliki cita cita dan tujuan hidup yang sama

KRITERIA PENILAIAN

RUM BENTUK JUMLAH BOBOT SKOR


SOAL SOAL SOAL
I Pil Ganda 5 1 5
II Isian 3 2 6
III Uraian 2 3 6
JUMLAH 17

SkorPerolehan
NilaiAkhir x100
SkorMaksimal

PEDOMAN PENILAIAN
Jumlah Betul Nilai Akhir
17 100
16 94
15 88

63
64

14 82
13 76
12 70
11 64
10 58
9 52
8 46
7 40
6 34
5 28
4 22
3 16
2 10
1 4
0 0

DAFTAR NILAI
Pra Siklus
Mata Pelajaran : PKN
Kelas / Semester : IV / I
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 88
2 Ade Madona 76
3 Ahmad Aksin 94
4 Ahmad Yunus 100
5 Astari Kurnia W 94
6 Dela Hana K 100
7 Dina Miftahun M 82
8 Garbriel Violli Y 100
9 Galih Yoga P 70
10 Gayuh Adi S 100
11 Heru Aprianto 94
12 M. Rizki Andika 88
13 M. Nurkholis 100
14 Nurul Huda EP 88
15 Rahmat Febri A 94
16 Ririn Sri Lestari 76
17 Shofiatun Nurul H 94
18 Aris Cahyati Prasetyani 82
19 Pangestu Dwi Rahayu 82
20 Wahyu Candra Saputra 88

64
65

21 Mohamad Amir KS 100


22 Febri Sanjaya Putra 76
23 Tri Agustin Nurul H 100
Jumlah 2066 22 1
Presentasi 90 96 4
PERBAIKAN

Mata Pelajaran : PKN


Kelas / Semester: V / I
Materi Pokok : Negara Kesatuan Republik Indonesia

1. Salah satu peristiwa yang menandai persatuan bangsa Indonesia adalah


sumpah pemuda yang terjadi pada tanggal .
2. Dua samudera yang mengelilingi Indonesia adalah
3. Negara adalah .

PENGAYAAN

Mata Pelajaran : PKN


Kelas / Semester :V/I
Materi Pokok : Negara Kesatuan Republik
Indonesia

65
66

1. Semarang provinsi .

2. Lambang Negara Indonesia adalah .

3. Yang termasuk daerah WITA adalah .

LEMBAR PENGAMATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

Mata Pelajaran : PKN


Kelas / Semeter :V/I
Materi Pokok : NKRI
Fokus Observasi : Sikap siswa dan guru dalam proses berlangsungnya belajar
mengajar
Hari / Tanggal : Rabu, 10 Oktober 2012

1. Berilah tanda chek ( ) pada kolom yang sesuai!


2. Tulislah komentar anda pada kolom yang tersedia!
Kemunculan
No Kegiatan Ya Tidak Komentar
A GURU
1 Persiapan sarana pembelajaran Baik
2 Penguasaan materi Menguasai
3 Memberi kesempatan bertanya Baik
pada siswa
4 Menggunakan bahasa yang dapat Bahasa dapat
dipahami siswa dipahami siswa

66
67

5 Menggunakan media yang tepat Media sudah tepat


(media chart)
6 Mengajukan pertanyaan Secara bertahap
sudah
7 Membimbing siswa dalam diskusi Merata
8 Memberi kesempatan menjawab Baik
pada siswa
9 Menyiapkan dan melaksanakan Baik
evaluasi
10 Menyiapkan dan melaksanakan pengayaan
tindak lanjut
B SISWA
1 Termotivasi mengikuti pelajaran Antusias
2 Memperhatikan penjelasan guru Fokus
3 Semangat dalam pembelajaran Semangat dan
antusias
4 Berani mengemukakan pendapat Siswa percaya diri
5 Menjawab dengan tepat Sesuai pertanyaan
6 Aktif dalam diskusi Aktif dan kreatif
7 Merangkum materi Merangkum
semua
8 Mengerjakan evaluasi Melaksanakan
semua
C KBM
1 Interaksi guru dan siswa Kondusif
2 Interaksi siswa dan siswa Dalam diskusi
interaktif
3 Suasana kelas Menyenangkan
4 Penggunaan waktu Efektif
5 Tujuan pembelajaran Sesuai harapan
6 Prestasi belajar Memenuhi KKM

Kritik/ Saran :

67
68

Pembelajaran yang sangat menyenangkan,seluruh perhatian siswa tertuju pada


pembelajaran, semua fokus pada pelajaran. Diskusi kelompok berjalan dengan
baik dan interaktif.

Sumbermulyo, 10 Oktober 2012


Supervisor II

Supadi, S.Ag
NIP. 19670118200641101

JURNAL PEMBIMBINGAN SUPERVISOR 2 PKP

NIM/Nama Mahasiswa : 817449835/ ENDANG


Mengajar di Kelas : III
Sekolah : MI Tarbiyatul Mubtadi Danyangmulyo
Tindak Lanjut Paraf
No Hari/tanggal Kegiatan* Hasil/Komentar
Mhs Sup.2
1. Minggu, Mendiskusikan Materi Memperbaiki
23-9-2012 rencana disesuaikan materi sesuai
pembelajaran dengan indikator
kemampuan
siswa
2 Senin Mendiskusikan Pembenahan Sesuaikan
24-9-2012 RPP RPP melliputi kegiatan guru
pembelajaran sumber dan dengan
pra siklus bahan aktivitas siswa
dan waktu yang
tersedia
3 Rabu Pelaksanaan Melaksanakan Pergunakan
26-9-2012 pembelajaran praktek media
pra siklus pembelajaran pra pembelajaran
siklus sesuai dengan
materi
4 Rabu Praktek Siklus Melaksanakan - Siswa dapat
3 -10-2012 I di SD Negeri pembelajaran melaksanaka
Sumbermulyo siklus I n tugas secara

68
69

01 kelompok

5 Jumat Pembenahan Pembenahan Pembenahan


5 -10-2012 siklus I RPP siklus I RPP dengan
menambahkan
kata efektif
pada indikator
6 Minggu Mengajukan Revisi dan Judul diacc
7-10-2012 judul PKP penambahan
penggantian
metode dan
model
pembelajaran
7 Rabu, Praktek siklus Pelaksanaan KBM sudah
10 -10-2012 II siklus II baik agar lebih
ditingkatkan
lagi
8 Minggu Pengajuan Bab Revisi penulisan Bab I, Bab II,
14-10-2012 I, Bab II dan dan susunan dan Bab III di
Bab III acc
9 Minggu Pengajuan Bab Revisi dan Bab IV dan
21-10-2012 IV dan Bab V pembenahan Bab V di acc
10 Minggu Pengesahan Penandatanganan TAP selesai
28-10-2012 TAP lampiran -
lampiran
11 Minggu Pengumpulan Mengumpulkan Mengumpulkan
4-10-2012 TAP TAP TAP
* Kolom kegiatan diisi dengan informasi tentang materi dan kegiatan pembimbingan, misalnya materi
pembimbingan: RPP mata pelajaran Matematika kegiatannya diskusi.

Mengetahui, Pati, 4 November 2012


Supervisor 1, Supervisor 2

NYAMAT,S.Pd.M.Pd SUPADI, S.Ag


NIP. 19680915 199412 1 002 NIP. 196701 1820064 1 001
No. tlp/HP081325952104

BAB I
PENDAHULUAN

69
70

E. Latar Belakang Masalah


Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn ) diberikan sejak SD sampai SLTA.
Dengan PKn seseorang akan memiliki kemampuan untuk mengenal dan
memahami karakter dan budaya bangsa serta menjadikan warga negara yang siap
bersaing di dunia internasional tanpa meninggalkan jati diri bangsa. Melalui
PKn setiap warga negara dapat mawas diri dengan perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi dewasa ini yang memberi dampak positif dan negatif.
PKn juga bermanfaat untuk membekali peserta didik agar memiliki kemampuan
untuk mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan
yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Pada kenyataannya, PKn dianggap ilmu yang sukar dan sulit dipahami.
PKn adalah pelajaran formal yang berupa sejarah masa lampau, perkembangan
sosial budaya, perkembangan teknologi, tata cara hidup bersosial, serta peraturan
kenegaraan. Begitu luasnya materi PKn menyebabkab anak sulit untuk diajak
berfikir kritis dan kreatif dalam menyikapi masalah yang berbeda. Sementara anak
usia sekolah dasar tahap berfikir mereka masih belum formal, karena mereka baru
berada pada tahap Operasi Onal Konkret ( Peaget : 1920 ). Apa yang dianggap
logis, jelas dan dapat dipelajari bagi orang dewasa, kadang kadang merupakan
hal yang tidak masuk akal dan membingungkan bagi siswa. Akibatnya banyak
siswa yang tidak memahami konsep PKn.
Berdasarkan temuan penulis, sebagian besar siswa kurang aktif dan
berfikir kritis dalam materi Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ).
Apabila anak menghadapi masalah kontekstual baru yang berbeda dengan yang
dicontohkan, anak belum mampu berfikir kritis dan menemukan solusi dengan
benar sehingga banyak anak yang menjawab salah, dan dengan alasan soalnya
sulit. Karena itu wajar setiap kali diadakan tes, nilai pelajaran PKn selalu rendah
dengan rata rata kurang dari KKM.

Seperti yang dialami penulis sendiri, setiap ulangan PKn nilai rata rata
anak di bawah 75. Termasuk pada materi Negara Kesatuan Republik Indonesia (
NKRI ). Nilai rata rata formatif hanya 68. Dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 %

70
71

yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 10 siswa yang lain 43 % mendapat


nilai dibawah 75.
Menghadapi kenyataan tersebut di atas, penulis tertarik untuk mendalami
dan melakukan tindakan tindakan perbaikan pembelajaran PKn, khususnya
materi Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) melalui penelitian tindakan
kelas. Perbaikan yang penulis lakukan mengenai penerapan metode bermain
peran pada materi pengambilan keputusan bersama. Harapan penulis adalah
terjadinya pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan serta lebih bermakna
dan adanya keberanian peserta didik yang tuntas untuk menyelesaikan masalah
kontektual dengan benar serta untuk lebih menguasai pelajaran.
Hipotesis yang penulis lakukan adalah dalam bentuk laporan hasil yaitu
berjudul Meningkatkan hasil belajar Pengambilan keputusan bersama melalui
metode bermain peran dengan model pembelajaran cooperative learning siswa
kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01Kecamatan Winong Kabupaten Pati.

4. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat beberapa masalah dalam
pembelajaran, sebagai berikut.
i. Siswa kurang memahami konsep pengambilan keputusan bersama.
j. Siswa kurang aktif dalam berdiskusi
k. Siswa kurang terampil dalam berkomunikasi dengan teman sebaya.
l. Hasil belajar siswa rendah

5. Analisis Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti berusaha mencari faktor
penyebab masalah dengan melakukan refleksi, bertanya kepada siswa dan
melakukan diskusi dengan teman sejawat. Dari hasil diskusi dapat disimpulkan
bahwa penyebab siswa belum memahami materi pengambilan keputusan bersama
seperti berikut.
i. Guru tidak menggunakan alat peraga.

71
72

j. Bahwa semua siswa yang terlibat dalam pembelajaran saat melakukan diskusi
hanya beberapa siswa yang aktif, sedangkan yang lain hanya mendengarkan.
k. Kurangnya contoh dan latihan.
l. Kurangnya bimbingan guru secara menyeluruh.

6. Alternatif dan Pemecahan Masalah


Dari analisis masalah di atas, peneliti menemukan alternatif dan prioritas
pemecahan masalah sebagai berikut.
g. Guru perlu menerapkan metode pembelajaran bermain peran untuk
meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
h. Guru perlu memberikan contoh nyata melalui Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan kelompok.
i. Guru perlu memberikan latihan dan bimbingan secara menyeluruh pada
pembelajaran PKn tentang pengambilan keputusan bersama.

F. Rumusan Masalah
Setelah menemukan faktor penyebab siswa belum memahami materi
pengambilan keputusan bersama pada pelajaran PKn, peneliti berusaha
merumuskan permasalahan. Rumusan masalah tersebut seperti berikut.
3. Bagaimanakah keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia?
4. Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk
meningkatkan hasil belajar PKn tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia
di kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01?

G. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

72
73

Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :


Meningkatkan penguasaan konsep hubungan pengambilan keputusan bersama
dengan menggunakan alat peraga berupa gambar dan benda benda di sekitar.
3. Mencari informasi keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
4. Mendiskripsikan penerapan metode bermain peran dengan model cooperative
Leraning untuk meningkatkan hasil belajar pengambilan keputusan bersama
siswa kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01.

H. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran


5. Bagi Peneliti:
d. Memperbaiki pembelajaran yang sudah dikelolanya.
e. Memupuk rasa percaya diri karena telah berhasil melakukan analisis
terhadap hasil kinerjanya sehingga dapat menemukan kelebihan dan
kekurangan dari pembelajaran yang sudah dilaksanakan, kemudian
mengembangkan alternative untuk mengatasi kelemahannya.
f. Dapat berkembang secara profesional.

6. Bagi siswa
c. Dapat memperbaiki hasil belajar.
d. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pelajaran.

7. Bagi sekolah
c. Dapat digunakan untuk mengembangkan sekolah kearah yang lebih baik.
d. Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah.

8. Bagi peneliti
b. Dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dan kajian untuk dapat
memberikan kritik atau saran terhadap penelitian yang sudah dilakukan.

BAB II

73
74

KAJIAN PUSTAKA

H. Pembelajaran PKn di SD
PKn merupakan mata pelajaran di sekolah yang perlu menyesuaikan
diri sejalan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang sedang berubah. Hal
ini merupakan fungsi PKn sebagai pembangun karakter bangsa ( nasional
character building ) yang sejak proklamasi kemerdekaan RI telah mendapat
prioritas, yang perlu direvitalisasi agar sesuai dengan arah dan pesan konstitusi
Negara RI. Untuk itu pembentukan karakter anak yang kuat perlu penguasaan
Pembelajaran Kewarganegaraan sejak dini.
Mata pelajaran PKn perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai
dari Sekolah Dasar karena PKn memiliki tugas pokok sebagai berikut :
4. Mengembangkan Kecerdasan Warga Negara ( civic intelligence ).
5. Membina tanggungjawab warga Negara ( civic intelligence ).
6. Mendorong partisipasi warga Negara ( civic intelligence).
Kecerdasan warga Negara yang dikembangkan untuk membentuk warga
Negara yang baik bukan hanya dalam dimensi rasional melainkan juga dimensi
spiritual, emosional, dan social sehingga PKn memiliki ciri multidimensional.
Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan
untuk mengolah dan memanfaatkan informasi serta peka terhadap keadaan yang
selalu berubah / tidak pasti.
Menurut hasil penelitian Cogan ( 1998 ), ada delapan karakter yang dapat
dibentuk melalui belajar PKn yaitu sebagai berikut :
9. Kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat di
sekitar.
10. Kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggungjawab
atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat.
11. Kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaan
perbedaan pendapat.
12. Kemampuan berfikir kritis dan sistematis.
13. Kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan.

74
75

14. Memiliki kemampuan untuk bergaya hidup sederhana.


15. Memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan mempertahankan hak haknya
dalam masyarakat.
16. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan
bermasyarakat.
Dengan demikian fungsi pembelajaran PKn tidak hanya sekadar memberi
pengetahuan tentang pendidikan kewarganegaraan saja, tetapi juga dimaksudkan
untuk mengembangkan sikap sikap tertentu mengenai hal hal yang timbul
disekitar dalam kehidupan sehari hari.

I. Pengertian Hasil Belajar


Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar
setelah mengalami aktivitas belajar ( Anni, 2004 : 4 )
Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relative menetap dalam diri
seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya ( Hamzah
: 2007 : 213 ).
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas peneliti menyimpulkan bahwa
aspek aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari
oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari tentang konsep,
maka perubahan perilaku yang diperolah berupa penguasaan konsep. Dalam
pembelajaran PKn pada materi Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk
mencapai hasil belajar yang memuaskan diperlukan aktivitas siswa yaitu dengan
melakukan aktivitas langsung dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia . Melalui aktivitas tersebut pembelajar akan lebih mengena
pada siswa. Selain itu siswa juga perlu berinteraksi dengan siswa yang lain untuk
membuat simpulan dengan benar.
Dalam penelitian ini hasil belajar pada pelajaran PKn materi Negara
Kesatua Republik Indonesia yang diukur melalui tes formatif dengan KKM 75.
Bagi siswa yang nilainya kurang dari 75 diberi soal perbaikan dan bagi siswa yang
nilainya 75 ke atas diberi soal pengayaan dalam bentuk pekerjaan rumah.

75
76

J. Pengertian Model Mengajar


Menurut Joyce dan Weil 1971 model mengajar adalah kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai
pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Model mengajar merupakan suatu rencana atau pola yang dapat digunakan
untuk membentuk kurikulum, merancang bahan bahan pengajaran, dan
bimbingan pengajaran di kelas atau yang lain.

K. Macam macam Model Mengajar


Secara khusus Joyce dan Weil ( 1972 ) telah mengklasifikasikan empat
model mengajar seperti berikut.
5. Kelompok Model model pengolahan informasi, terdiri dari :
Model Pencapaian Konsep
Model Berfikir Induktif ( Inductive Thinking )
Pemandu Awal ( Advance Organizer )
Latihan Penelitian ( Inquiry Training )
Model Memorisasi
Penelitian Ilmiah ( Scientivic Inquiry )
Pengembangan Intelek ( Developing Intellect )
6. Kelompok Model model Interaksi Sosial atau social models , terdiri dari:
Bermain Peran ( Role Playing )
Penelitian Yurisprudensial
Investigasi Kelompok
Latihan Laboratorium
Model Inquiry Studi Social
7. Kelompok model model personal atau personal models , terdiri dari :
Pengajaran Tanpa Arahan ( Non Directive Teaching )
Model Sintetiks ( Sinectics )

76
77

Pelatihan Kesadaran ( awareness training )


Model Pertemuan Kelas ( Classroom meeting )

8. Kelompok model model perilaku atau Behavioural system , terdiri dari :


Kontrol Diri
Melalui beberapa metode operan mengatur lingkungan kita sendiri
Latihan Asertif
Pengungkapan perasaan secara jujur dan langsung.
Belajar tuntas ( Mastery Learning )

L. Metode Bermain Peran


3. Pengertian Bermain Peran
Metode bermain peran adalah berperan atau mamainkan peranan dalam
dramatisir masalah social atau psikologis.
Bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang di
gunakan untuk menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku, dan nilai, dengan
tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain (
Depdikbud, 1964 : 171 ).
Melalui metode bermain peran siswa diajak untuk belajar memecahkan
masalah pribadi, dengan bantuan kelompok social yang anggotanya teman
temannya sendiri. Dengan kata lain metode ini berupaya membantu individu
melalui proses kelompok sosial.
Melalui bermain peran, para siswa mencoba mengeksploitasi masalah
masalah hubungan antara manusia dengan cara memperagakannya. Hasilnya
didiskusikan dalam kelas.
Proses belajar dengan menggunakan metode bermain peran diharapkan
siswa mampu menghayati tokoh yang dikehendaki, keberhasilan siswa dalam
menghayati peran itu akan menentukan apakah proses pemahaman, penghargaan
dan identifikasi diri terhadap nilai berkembang : ( Hasan, 1996 : 266 ).

4. Tujuan Penggunaan Bermain Peran

77
78

Tujuan dari penggunaan metode bermain peran adalah sebagai berikut :


g. Untuk motivasi siswa.
h. Untuk menarik minat dan perhatian siswa.
i. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi situasi
dimana mereka mengalami emosi, perbedaan pendapat, dan permasalahan
dalam lingkungan kehidupan social anak.
j. Menarik siswa untuk bertanya.
k. Mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.
l. Melatih siswa untuk berperan aktif dalam kehidupan nyata.

M. Penggunaan Model Bermain peran dalam mata pelajaran PKn


Menurut Sumantri ( 2001 ) bermain peran merupakan model mengajar
yang berakar pada dimensi personal dan sosial dari pendidikan. Model ini
mencoba membantu indivisu untuk menemukan makna pribadi dalan dunia sosial
dan memecahkan dilema dilema dengan bantuan kelompok sosial. Dalam hal ini
memungkinkan individu untuk bekerjasama untuk menganalisis situasi sosial
terutama permasalahan interpersonal dalam mengembangkan cara cara yang
demokratis untuk menghadapi situasi tersebut.
Dalam model mengajar bermain peran, sebagian siswa adalah pemain
peran yang lainnya mengamati. Seseorang meletakkan dirinya pada posisi orang
lain yang juga bermain peran. Bila empati, simpati, kemarahan, dan kasih sayang
serta apeksi dilakukan dalam berinteraksi, berarti bermain peran dapat
dilaksanakan dengan baik / berhasil.
Hal penting dalam model mengajar bermain peran adalah keterlibatan
siswa untuk berpartisipasi dalam situasi atau masalah nyata serta adanya
keinginan untuk mengatasi suatu masalah bersama. Pemahaman siswa dalam
model belajar bermain peran dapat memberikan contoh pada siswa dalam
kehidupan sehari hari untuk berperilaku sebagai berikut :
5. Menjajagi perasaan.
6. Menambah pengetahuan tentang sikap, nilai nilai dan persepsinya.
7. Mengembangkan keterampilan dan sikapnya dalam memecahkan masalah.

78
79

8. Mengkaji pelajaran dengan berbagai cara.

N. Langkah Langkah Penerapan Metode Bermain Peran dalam


Pembelajaran PKn.
Shaffel dalam bukunya Role Playing For Social Studies menyatakan
bahwa ada sembilan langkah dalam role playing yaitu sebagai berikut.
10. Membangkitkan semangat kelompok, memperkenalkan siswa dengan
masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yangt harus
dipelajari.
11. Pemilihan peserta, guru dan siswa menggambarkan berbagai karakter /
bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka
kemukakan. Guru dapat menentukan berbagai criteria dalam memilih siswa
untuk peran tertentu.
12. Menentukan arena panggung, para pemain peran membuat garis besar
scenario, tetapi tidak mempersiapkan dialog khusus.
13. Mempersiapkan pengamat, adalah sangat penting untuk melibatkan pangamat
secara aktif sehingga seluruh anggota kelompok mengalami kegiatan itu dan
kemudian dapat menganalisisnya. Cara guru melibatkan siswa pengamatan
ilmiah dengan menugaskan mereka untuk mengevaluasi, mengomentari
efektifitasnya serta urutan urutan perilaku pemain dan mendefinisikan
perasaan perasaan serta cara cara berfikir individu yang sedang diamati.
14. Pelaksanaan kegiatan; para pemeran mengasumsi perannya dan menghayati
situasi secara sepontan dan saling merespon secara realistik.
15. Berdiskusi dan mengevaluasi; apakah masalahnya penting dan apakah peserta
dan pengamat terlibat secara intelektual dan emosional.
16. Melakukan lagi permainan peran; siswa dan guru berbagi interpretasi baru
tentang peran dan menentukan apakah harus dilakukan oleh individu
individu baru atau tetap oleh orang terdahulu. Dengan demikian permainan
peran menjadi kegiatan konseptual yang dramatis.
17. Dilakukan lagi evaluasi dan diskusi; siswa mungkin mau menerima solusi,
tetapi guru mendorong solusi yang realistik.

79
80

18. Berbagi pengalaman dan melakukan generalisasi. Tidak dapat diharapkan


untuk menghasilkan generalisasi dengan segera tentang aspek hubungan
kemanusiaan tentang situasi tertentu. Guru harus mencoba untuk membentuk
diskusi, setelah mengalami setrategi bermain peran yang cukup lama, untuk
dapat menggeneralisasi mengenai pendekatan terhadap situasi masalah serta
akibat dari pendekatan itu. Semakin memadai pembentukan diskusi ini,
kesimpulan yang dicapai akan semakin mendekati generalisasi.

80
lxxxi

BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

D. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat pelaksanaan perbaikan pembelajaran di SD Negeri Sumbermulyo
01 , Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Subjek penelitian adalah siswa kelas V
semester I, mata pelajaran PKn untuk materi Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Letak SD Negeri Sumbermulyo 01 ada di Desa Sumbermulyo,
Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Keberadaannya di sebelah utara desa
Bumiharjo.
Jumlah siswa kelas V ada 23 siswa terdiri dari 15 laki laki dan 8
perempuan. Dari 23 siswa peserta didik pada awal pembelajaran hanya 12 siswa
52 % yang telah mencapai KKM 75. Sedangkan 10 siswa yang lain 48 % belum
mencapai nilai 75. Sebagian siswanya dari masyarakat sekitar sekolah yang
memiliki tingkat ekonomi menengah sampai ke bawah. Kesadaran akan
pendidikan anak kurang. Hal ini terlihat dari banyak siswa yang tidak
mengerjakan tugas PR yang diberikan oleh guru. Selain itu jumlah anak yang
melanjutkan ke SLTP dan SLTA juga masih sedikit.
Dalam pergaulan sehari hari peserta didik menggunakan bahasa ibu
yaitu bahasa Jawa untuk berkomunikasi baik di rumah maupun di sekolah.
Akibatnya anak anak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa Indonesia. Bila diajak berkomunikasi siswa dapat
menangkap maksud pembicaraan, namun jika diminta untuk mengungkapkan
secara lisan maupun tulisan mereka mengalami kesulitan.
Waktu pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dua tahap :
d. Pra siklus pada hari Rabu, 26 September 2012
e. Siklus I pada hari Rabu, 3 Oktober 2012
f. Siklus II pada hari Rabu10 Oktober 2012

lxxxi
lxxxii

E. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan melakukan pembelajaran
awal. Pelaksanaannya dilakukan tiga kali yaitu pembelajaran awal (pra siklus),
siklus I, dan siklus II. Masing masing terdiri dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi dengan rincian sebagai berikut :

4. Pembelajaran Awal ( Pra Silkus )


e. Perencanaan
Perencanaan pembelajaran awal dilakukan dengan cara pembelajaran
yang biasa saja tanpa ada persiapan khusus, dan dengan Rencana Pembelajaran
(RP). Materi yang diambil adalah tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia
mata pelajaran PKn kelas V Semester I.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah
sebagai berikut.
6) Guru menyusun rencana pembelajaran dengan materi Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
7) Guru menyiapkan sumber bahan dan media pembelajaran.
8) Menyusun lembar kerja.
9) Memilih metode diskusi kelompok.
10) Membuat lembar observasi aktifitas guru dan siswa beserta indikatornya.

f. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran awal dilakukan selama 70 menit dalam
proses pembelajaran kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01 , Kecamatan Winong.
Dengan menggunakan instrument penelitian. Supervisor 2 melakukan pengamatan
terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi melalui metode diskusi
kelompok. Tahap pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan seperti langkah
langkah di bawah ini :
12) Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab tentang tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
13) Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran.

lxxxii
lxxxiii

14) Guru menjelaskan pengertian Negara Kesatuan Republik Indonesia.


15) Siswa mengerjakan lembar kerja siswa dari guru secara berkelompok.
16) Perwakilan siswa maju membacakan hasil kerja kelompok
17) Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru.
18) Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
19) Siswa mengerjakan tes formatif.
20) Guru mengoreksi hasil tes formatif.
21) Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam
bentuk pekerjaan rumah.
22) Guru menyampaikan pesan agar siswa lebih giat belajar kembali

g. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh Supervisor 2, menggunakan lembar
observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran
beserta indikator indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melakukan kegiatan
belajar mengajar. Sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan
belajar mengajar berikutnya. Pengamatan didasarkan juga pada bentuk soal yaitu
pilihan ganda 5 soal, isian 3 soal, dan uraian 2 soal.

h. Refleksi
Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan
pembelajaran awal, guru tersebut mengadakan refleksi untuk mengetahui
kekurangan, kendala, hambatan, dan kelebihan saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Karena dirasa masih banyak kekurangan dan hambatan yang
menyebabkan hasil belajar siswa rendah, maka guru mengadakan perbaikan
pembelajaran ke siklus I.

lxxxiii
lxxxiv

5. Siklus I
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I,
meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Secara lebih rinci
diuraikan sebagai berikut.

e. Perencanaan
Perbaikan pembelajaran siklus I dilakukan berdasarkan hasil refleksi
terhadap pembelajaran awal mata pelajaran PKn di kelas V materi tentang Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pengamatan, guru kecewa pada hasil
evaluasi dari analisis nilai ditemukan bahwa dari 23 siswa hanya 12 siswa 52 %
yang memperoleh nilai 75 ke atas. Sedangkan 11 siswa yang lain 48 % mendapat
nilai dibawah 75.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaannya adalah
sebagai berikut.
6) Guru menyiapkan sumber bahan dan media yang akan digunakan saat
pelaksanaan perbaikan silklus I.
7) Guru menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I.
8) Guru menyusun lembar kerja siswa.
9) Guru menyusun alat evaluasi berupa butiran soal tes formatif.
10) Guru menyusun lembar observasi kegiatan siswa, guru, dan interaksi
pembelajaran beserta indikatornya.

f. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilakukan 70 menit dalam proses
pembelajaran mata pelajaran PKn kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01 ,
Kecamatan Winong. Dengan menggunakan instrument penelitian, supervisor 2
melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi
melalui metode bermain peran. Tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus
I dilaksanakan seperti langkah langkah di bawah ini :
11) Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab dengan soal Apa yang kalian
ketahui tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

lxxxiv
lxxxv

12) Guru menyampaikan motifasi dan tujuan pembelajaran.


13) Siswa melakukan kegiatan mengambil keputusan bersama / musyawarah
bersama kelompok dalam pemilihan ketua kelas.
14) Siswa mengerjakan lembar kerja secara kelompok.
15) Perwakilan siswa maju membacakan hasil kerja kelompok.
16) Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru.
17) Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran.
18) Siswa mengerjakan tes formatif.
19) Guru mengoreksi hasil tes formatif.
20) Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam
bentuk pekerjaan rumah.

g. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh supervisor 2, menggunakan lembar
observasi yang berisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran
beserta indikator indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melaksanakan kegiatan
belajar mengajar. Adakah peningkatan dibanding pra siklus / rencana
pembelajaran awal. Sehingga dapat menjadi masukan dalam melakukan kegiatan
belajar mengajar berikutnya. Pengamatan didasarkan juga pada bentuk soal yaitu
pilihan ganda 3 soal, isian 2 soal, dan uraian 1 soal.

h. Refleksi
Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan
pembelajaran siklus I, guru tersebut mengadakan refleksi untuk mengetahui
kekurangan, kendala, hambatan, dan kelebihan saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Ternyata hasil belajar siswa masih belum memuaskan walaupun
sudah ada peningkatan sedikit dan dirasa masih ada kekurangan dan hambatan
yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah maka guru mengadakan perbaikan
pembelajaran pada siklus II.

lxxxv
lxxxvi

6. Siklus II
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II,
meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Secara lebih rinci
diuraikan sebagai berikut.

e. Perencanaan
Perbaikan pembelajaran siklus II dilakukan berdasarkan hasil refleksi
terhadap perbaikan pembelajaran siklus I mata pelajaran PKn di kelas V materi
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pengamatan, guru belum puas
pada hasil evaluasi dari analisis nilai ditemukan bahwa dari 23 siswa yang
mendapat nilai 75 atau lebih hanya 16 siswa 69% sedangkan yang 7 siswa 39%
mendapat nilai di bawah 75.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaannya adalah
sebagai berikut.
6) Guru menyiapkan sumber bahan dan media yang akan digunakan saat
pelaksanaan perbaikan siklus II.
7) Guru menyususn rencana perbaikan pembelajaran siklus II.
8) Guru menyusun sekenario bermain peran.
9) Guru menyusun alat evaluasi berupa butir soal tes formatif.
10) Guru menyusun lembar observasi kegiatan siswa, guru, dan interaksi
pembelajaran beserta indikatornya.

f.Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran awal dilakukan selama 70 menit dalam proses
pembelajaran mata pelajaran PKn kelas V SD Negeri Sumbermulyo 01 ,
Kecamatan Winong. Dengan menggunakan instrument penelitian, Supervisor 2
melakukan pengamatan terhadap tingkah laku guru dalam menyampaikan materi
melalui metode bermain peran. Tahap pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus
II dilaksanakan seperti langkah langkah di bawah ini.
13) Guru melakukan apersepsi melalui tanya jawab dengan soal Bagaimana
cara menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

lxxxvi
lxxxvii

14) Guru menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran


15) Siswa mempraktikan kegiatan pemilihan ketua kelas melalui metode
bermain peran
16) Semua siswa ikut terlibat dalam kegiatan pemilihan ketua kelas V
17) Siswa membentuk kelompok untuk mengisi lembar kerja kelompok
18) Perwakilan siswa maju mendemonstrasikan hasil kerja kelompok
19) Siswa menanggapi hasil kerja tiap kelompok dengan dipandu oleh guru
20) Siswa bersama guru menyimpulkan materi pelajaran
21) Siswa mengerjakan tes formatif
22) Guru mengoreksi hasil tes formatif
23) Guru memberikan tindak lanjut berupa soal perbaikan dan pengayaan dalam
bentuk pekerjaan rumah
24) Guru menyampaikan pesan agar siswa lebih giat belajar kembali

g. Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh Supervisor 2, menggunakan lembar
observasi yang diisi kegiatan guru, peserta didik, dan interaksi pembelajaran
beserta indikator indikatornya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh guru yang melaksanakan kegiatan
belajar mengajar. Adakah peningkatan dibandingkan siklus I. sehingga dapat
menjadi masukan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar berikutnya. Perlu
tidakkah diadakan siklus III. Pengamatan didasarkan juga pada bentuk soal yaitu
pilihan ganda 5 soal, isian 3 soal, dan uraian 2 soal.

h. Refleksi
Setelah melihat hasil observasi dan catatan selama pelaksanaan
pembelajaran siklus II, guru tersebut mengadakan refleksi untuk mengetahui
kekurangan, kendala, hambatan, dan kelebihan saat berlangsungnya proses
pembelajaran. Ternyata hasil belajar siswa sudah cukup memuaskan yaitu ada 22
siswa 96% telah memperoleh nilai 75 atau lebih. Dengan mempertimbangkan hal

lxxxvii
lxxxviii

itu, maka perbaikan pembelajaran tidak memerlukan siklus III. Ini berarti PTK
untuk pelajaran PKn telah selesai dilaksanakan.

F. Teknik Analisis Data


Dalam kegiatan pengumpulan data ini, penulis dibantu supervisor 2.
Pengamatan ini dilakukan pada saat berlangsungnya pelaksanaan perbaikan
pembelajaran di SD Negeri Sumbermulyo 01. Adapun data data yang diperoleh
adalah sebagai berikut.
3. Hasil Data Kualitatif
Dalam kegiatan pengumpulan data secara kualitatif, pengamat
menggunakan lembar observasi guru. Pengamat memberikan tanda cek ( ) pada
kolom kemunculan sesuai indikator tersebut.
Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat ( observer ) adalah tentang
keefektifan metode bermain peran dalam meningkatkan motivasi siswa dalam
pembelajaran PKn khususnya tentang materi pokok Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Untuk mendapatkan data yang lebih tepat, maka fokus pengamatan
ditekankan pada :
a. Kegiatan guru dalam menerapkan metode bermain peran
b. Aktifitas anak dalam pelaksanaan pembelajaran
c. Keaktifan siswa dalam pelaksanaan bermain peran
d. Indikator yang diamati pada lembar observasi guru terlampir.

4. Hasil Data Kuantitatif


Data kuantitatif diperoleh dari hasil nilai tes formatif. Dari hasil
tersebut dapat untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Dari hasil nilai
tes formatif tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan penggunaan metode
bermain peran dalam meningkatkan motivasi siswa.
Data kuantitatif tersebut dibuat sesuai dengan pedoman penilaian yang
telah dibuat oleh guru. Setelah guru memberikan penilaian lalu menganalisis
perbutir soal. Hasil analisis siswa terlampir.

lxxxviii
lxxxix

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Deskripsi Per Siklus


Hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati terkait hasil belajar PKn
tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui metode bermain peran
dengan model pembelajaran cooperative learning, yang dilaksanakan dalam
perbaikan pembelajaran pada siklus I dan siklus II secara lengkap dijabarkan
sebagai berikut.

1. Pra Siklus
Pembelajaran pra siklus mata pelajaran PKn kelas V semester I di SD
Negeri Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, tahun pelajaran
2012 / 2013 dengan materi pokok Negara Kesatuan Republik Indonesia
dilaksanakan pada hari Rabu, 26 September 2012 hasilnya belum memuaskan.
Hasil pembelajaran pra siklus disajikan dalam tabel 4.1 sebagai berikut.

Tabel 4.1
Hasil Evaluasi Pra Siklus
Mata Pelajaran PKn
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 64
2 Ade Madona 58
3 Ahmad Aksin 70
4 Ahmad Yunus 88
5 Astari Kurnia W 76
6 Dela Hana K 76

lxxxix
xc

7 Dina Miftahun M 52
8 Garbriel Violli Y 76
9 Galih Yoga P 46
10 Gayuh Adi S 82
11 Heru Aprianto 76
12 M. Rizki Andika 64
13 M. Nurkholis 82
14 Nurul Huda EP 76
15 Rahmat Febri A 64
16 Ririn Sri Lestari 58
17 Shofiatun Nurul H 76
18 Aris Cahyati Prasetyani 46
19 Pangestu Dwi Rahayu 58
20 Wahyu Candra Saputra 76
21 Mohamad Amir KS 76
22 Febri Sanjaya Putra 58
23 Tri Agustin Nurul H 76
Jumlah 1574 12 11
Presentasi 68 52 48

Dari tabel dapat kita lihat siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak
12 siswa, atau 52 % sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 11 siswa atau 48 %
dari 23 siswa. Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis
yang disajikan pada tabel 4.2 dibawah ini.

xc
xci

Tabel 4.2
Analisis Hasil Tes Formatif Pra Siklus
Mata Pelajaran PKn
No Rentang Frekuensi
1 41 -50 2
2 51 60 5
3 61 70 4
4 71 80 9
5 81 -90 3
6 91 -100
Jumlah 23

Berdasarkan tabel 4.2 diatas, penguasaan materi pembelajarn pra siklus


bahwa dari jumlah 23 siswa yang mendapat nilai 41 sampai 50 sebanyak 2 siswa,
yang mendapat nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak
4 siswa, nilai 71 sampai 80 sebamyak 9 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 3
siswa dan tidak ada yang mendapat nilai diatas 91.
Apabila hasil evaluasi sebelum perbaikan pembelajaran PKn dengan
indikator Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, tahun pelajaran
2012/2013 jika disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar 4.1
berikut.
Gambar 4.1
Grafik Hasil Evaluasi Sebelum Perbaikan Pembelajaran
7
6
5
4
3 Banyak Siswa
2
1
0
41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100

xci
xcii

Nilai hasil tes formatif diperoleh setelah proses pembelajaran selesai. Guru
memberi evaluasi untuk mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah
diajarkan pada pembelajaran pra siklus. Adapun langkah langkah pelaksanaan
pra siklus yaitu :
e. Perencanaan
Membuat rencana pembelajaran, membuat lembar pengamatan,
menyediakan alat peraga, membuat evaluasi, membuat lembar kerja dan
menentukan teman sejawat yang akan mengobservasi aktivitas siswa dan guru
selama kegiatan pembelajaran.

f. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran pra siklus dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal
26 September 2012, di SD N Sumbrmulyo 01. Pelaksanaan pembelajaran
dilaksanaakan sesuai dengan rencana pembelajaran.

g. Pengamatan
Dari hasil pengamatan yang diperoleh oleh peneliti yang dibantu oleh
teman sejawat sebagai observer. Berikut hasil pengamatan pada waktu proses
pembelajaran pada pra siklus. Pada pra siklus ini pembelajaran berlangsung, siswa
belum aktif dalam pembelajaran, siswa pada waktu diskusi kelompok belum bisa
bekerja sama, waktu diberi penjelasan oleh guru ada siswa yang bermain sendiri.
Sedangkan hasil pengamatan terhadap guru yaitu guru kurang menguasai materi,
guru belum bisa mengontrol keaktifan siswa, guru belum menggunakan alat
peraga, sehingga siswa kurang memahami struktur daun dan fungsinya.

h. Refleksi
Dari hasil refleksi yang dilakukan oleh guru melalui diskusi dengan teman
sejawat sebagai observer diperoleh beberapa kekurangan selama proses
pembelajaran. Sebelum pelajaran dimulai guru tidak mengkondisikan siswa untuk
menerima pelajaran, sehingga siswa belum siap menerima pelajaran. Pada waktu
pemberian materi guru hanya ceramah, sehingga siswa hanya menggambarkan

xcii
xciii

materi NKRI itu seperti apa. Dari refleksi itu guru menyadari kekurangannya
dalam proses pembelajaran oleh karena itu guru akan memperbaikinya pada
perbaikan pembelajaran siklus berikutnya.

3) Keberhasilan
a) Siswa merasa senang dengan pembelajaran dengan mempelajari
kubudayaan di Indonesia.
b) Guru dapat belajar untuk menerapkan alat peraga pembelajaran.
c) Guru dapat menjadikan alat peraga sebagai variasi model pembelajaran.

4) Kegagalan
c) Masih ada 11 siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan minimal.
d) Ada beberapa siswa yang belum bisa memahami materi.
Dalam menyimpulkan materi guru masih belum melibatkan siswa.

2. Siklus I
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3
Oktober 2012 dengan objek siswa kelas V semester I SD Negeri Sumbermulyo
01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Dengan dibantu oleh teman sejawat yang
bertindak sebagai observer, peneliti melaksanakan sesuai rencana. Skenario
pembelajaran berlangsung dengan baik. Peneliti melaksanakan sesuai rencana.
Pada akhir pembelajaran peneliti mengadakan evaluasi hasil belajar untuk
mengetahui tingkat keberhasilan. Hasil perbaikan pembelajaran siklus I disajikan
dalam tabel 4.3 sebagai berikut.

xciii
xciv

Tabel 4.3
Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus I
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 76
2 Ade Madona 58
3 Ahmad Aksin 76
4 Ahmad Yunus 88
5 Astari Kurnia W 76
6 Dela Hana K 76
7 Dina Miftahun M 52
8 Garbriel Violli Y 76
9 Galih Yoga P 46
10 Gayuh Adi S 82
11 Heru Aprianto 76
12 M. Rizki Andika 76
13 M. Nurkholis 82
14 Nurul Huda EP 76
15 Rahmat Febri A 76
16 Ririn Sri Lestari 58
17 Shofiatun Nurul H 76
18 Aris Cahyati Prasetyani 46
19 Pangestu Dwi Rahayu 58
20 Wahyu Candra Saputra 76
21 Mohamad Amir KS 76
22 Febri Sanjaya Putra 58
23 Tri Agustin Nurul H 76
Jumlah 1604 16 7
Presentasi 69 69 39

xciv
xcv

Dari tabel dapat kita lihat siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak
16 siswa, sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 7 siswa dari jumlah 23 siswa.
Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan
pada tabel 4.4 dibawah ini.
Tabel 4.2
Analisis Hasil Tes Formatif Siklus I

No Rentang Frekuensi
1 41 -50 2
2 51 60 5
3 61 70 -
4 71 80 12
5 81 -90 3
6 91 -100 -

Jumlah 23

Berdasarkan tabel 4.4 diatas, penguasaan materi sebelum perbaikan


pembelajarn bahwa dari jumlah 23 yang mendapat nilai 41 sampai 50 sebanyak 2
siswa , nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa, nilai 61 sampai 70 sebanyak tidak
ada , nilai 71 sampai 80 sebanyak 12 siswa, nilai 81 sampai 90 sebanyak 3 siswa
dan tidak ada yang mendapat nilai diatas 91.
Apabila hasil evaluasi perbaikan pembelajaran siklus I mata pelajaran
PKn dengan indikator Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di
SD Negeri Sumbermulyo 01 , Kecamatan winong, Kabupaten Pati, tahun
pelajaran 2012/2013 jika disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar
4.1 berikut.

xcv
xcvi

Gambar 4.2
Grafik Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus I

10

6
Banyak
4 Siswa

0
41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 90-100

Hasil evaluasi siklus I diperoleh setelah pelaksanaan pembelajaran siklus


I selesai. Dalam pembelajaran siklus I melalui langkah langkah berikut.

e. Perencanaan
e) Menyusun rencana pembelajaran dengan tujuan perbaikan siklus I.
f) Memilih metode siklus I.
g) Mempersiapkan LKS yang akan digunakan dalam perbaikan pembelajaran.
h) Membuat dan merancang lembar observasi aktivitas guru beserta
indikatornya.

f. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal
3 Oktober 2012 dikelas V. Kegiatan belajar mengajar sesuai dengan apa yang
tertulis dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.

g. Pengamatan
Pada tahap ini pengamat mencatat apa yang telah terjadi pada
pembelajaran perbaikan siklus I dengan menggunakan lembar observasi. Dalam
proses ini diperoleh data bahwa :
- Penjelasan materi sangat cepat sehingga kurang dipahami siswa
- Kurang memberikan kesempatan pada anak untuk bertanya
- Perhatian guru pada siswa masih kurang.

xcvi
xcvii

h. Refleksi
Hasil dari observasi / pengamatan dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil
observasi guru mengadakan refleksi untuk mengetahui kekurangan, hambatan
dan kendala yang terjadi pada proses pembelajaran.
Dengan dasar hasil tes formatif yang menunjukkan menunjukkan
peningkatan pada pembelajaran sebelumnya, namun untuk mencapai ketuntasan
75% belum tercapai. Maka penulis mengadakan perbaikan pembelajaran tahap
berikutnya yang menjadi fokus perbaikan adalah sebagai berrikut.
4) Memberikan materi yang jelas dan lengkap sehingga mudah dipahami
siswa.
5) Memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya.
6) Menggunakan model pembelajaran yang tepat.

Keberhasilan dan kegagalan pada siklus I antara lain:


3) Keberhasilan
e) Hasil evaluasi belajar siswa meningkat.
f) Sebagian besar siswa sudah memahami materi.
g) Siswa sudah berani maju mengerjakan soal.
h) Siswa sudah berani untuk mengajukan pertanyaan.

4) Kegagalan
e) Masih ada 7 siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan.
f) Kurang memberikan kesempatan pada anak untuk bertanya.
g) Penggunaan alat peraga kurang maksimal.
h) Masih ada beberapa siswa yang pada saat pelajaran berlangsung masih
belum bisa terlibat aktif.

3. Siklus II
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal
10 Oktober 2012 dengan objek siswa kelas V semester I SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Dengan dibantu oleh

xcvii
xcviii

teman sejawat yang bertindak sebagai observer, peneliti melaksanakan sesuai


rencana.
Skenario pembelajaran berlangsung dengan baik. Peneliti melaksanakan
sesuai rencana. Pada akhir pembelajaran peneliti mengadakan evaluasi hasil
belajar untuk mengetahui tingkat keberhasilan. Hasil perbaikan pembelajaran
siklus II disajikan dalam tabel 4.5 sebagai berikut.
Tabel 4.5
Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II
No Nama Siswa Nilai Tuntas Belum
Tuntas
1 Nur Adha S 88
2 Ade Madona 76
3 Ahmad Aksin 94
4 Ahmad Yunus 100
5 Astari Kurnia W 94
6 Dela Hana K 100
7 Dina Miftahun M 82
8 Garbriel Violli Y 100
9 Galih Yoga P 70
10 Gayuh Adi S 100
11 Heru Aprianto 94
12 M. Rizki Andika 88
13 M. Nurkholis 100
14 Nurul Huda EP 88
15 Rahmat Febri A 94
16 Ririn Sri Lestari 76
17 Shofiatun Nurul H 94
18 Aris Cahyati Prasetyani 82
19 Pangestu Dwi Rahayu 82
20 Wahyu Candra Saputra 88

xcviii
xcix

21 Mohamad Amir KS 100


22 Febri Sanjaya Putra 76
23 Tri Agustin Nurul H 100
Jumlah 2066 22 1
Presentasi 90 96 4

Dari tabel dapat kita lihat siswa yang mendapat nilai diatas 75 sebanyak
22 siswa, sedangkan nilai kurang dari 75 sebanyak 1 siswa dari jumlah 23 siswa.
Untuk mengetahui presentasi rentang nilai maka diadakan analisis yang disajikan
pada tabel 4.6 dibawah ini.
Tabel 4.6
Analisis Hasil Tes Formatif Siklus II
No Rentang Frekuensi
1 41 -50 -
2 51 60 -
3 61 70 1
4 71 80 3
5 81 - 90 7
6 91 -100 12
Jumlah 23

Berdasarkan tabel 4.6 diatas, penguasaan materi sebelum perbaikan


pembelajarn bahwa dari jumlah 23 siswa tak seorang pun yang mendapat nilai
dibawah 60, nilai 61 sampai 70 1 siswa, nilai 71 sampai 80 sebanyak 3 siswa, nilai
81 sampai 90 sebanyak 7 siswa dan yang mendapat nilai diatas 91 sebanyak 12
siswa.
Apabila hasil evaluasi perbaikan pembelajaran siklus II mata pelajaran
PKn dengan indikator Negara Kesatuan republic Indonesia kelas V semester I di
SD Negeri Sumbermulyo 01 , Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, tahun

xcix
c

pelajaran 2012/2013 jika disajikan dalam bentuk grafik dapat dilihat pada gambar
4.3 berikut.
Gambar 4.3
Grafik Hasil Evaluasi Perbaikan Pembelajaran Siklus II

12
10
8
6
Banyak Siswa
4
2
0
41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100

Berikut ini adalah langkah langkah pelaksanaan perbaikan pembelajaran


siklus II :
e. Perencanaan
Menyusun rencana pembelajaran, menentukan alat peraga, menentukan
metode pembelajaran, merencanakan fokus perbaikan pembelajaran, menyusun
lembar observasi, menyusun lembar evaluasi.

f. Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran siklus II dilaksanakan hari Rabu, tanggal 10
Oktober 2012, bertempat di SD Negeri Sumbermulyo 01 Kecamatan Winong
Kabupaten Pati.

g. Pengamatan
Hasil pengamatan dari observer selama proses pembelajaran siklus II
adalah siswa pada waktu menerima pelajaran memperhatikan penjelasan yang
diberikan oleh guru dengan baik. Berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran,

c
ci

sudah ada keinginan untuk mencari penelesaian soal dari guru. Mau bertanya jika
ada kesulitan, dan mulai berani untuk mengerjakan didepan walaupun belum bisa.
Sedang pengamatan yang diperoleh observer kepada guru yang mengajar adalah
guru sudah mempersiapkan rencana pembelajaran dengan baik, metode yang
digunakan sudah tepat, pemberian motivasi sudah cukup tapi masih ada beberapa
kekurangan tidak menanyakan kepada siswa tentang kesulitan apa yang diperoleh
dari materi yang diajarkan.

h. Refleksi
Setelah melakukan beberapa perbaikan yaitu perbaikan pembelajaran pra
siklus, siklus I dan siklus II. Peneliti menyadari betul kekurangan kekurangan
pada proses pembelajaran mata pelajaran PKn dengan materi Negara Kesatuan
Republik Indonesia pada siklus II. Walaupun peneliti sudah mempersiapkan
proses pembelajaran sebaik mungkin, tetapi tetap masih ada kekurangannya
diantaranya guru kurang memberi pertanyaan kepada siswa. Dari hasil refleksi
yang dilakukan tersebut teman sejawat selaku observator juga menemukan
beberapa kekurangan yaitu guru tidak memberi bimbingan kepada siswa yang
belum jelas atau memahami materi pelajaran.
Keberhasilan dan kegagalan pada siklus II antara lain:

3) Keberhasilan
a) Hasil evaluasi belajar siswa meningkat.
b) Sebagian besar siswa sudah memahami materi.
c) Siswa sudah berani maju mengerjakan soal.
d) Siswa sudah berani untuk mengajukan pertanyaan.

4) Kegagalan
a) Masih ada 1 orang siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan.
b) Pengelolaan kelas masih kurang.
c) Masih ada beberapa siswa yang pada saat pelajaran berlangsung masih
belum bisa terlibat aktif.

ci
cii

Dari tabel pemelajaran awal sampai perbaikan pembelajaran siklus II


pada mata pelajaran PKn V semester I tentang NKRI di SD Negeri Sarimulyo 01
Kecamatan Winong Kabupaten Pati, dapat disajikan pada tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7
Hasil Belajar dan Peningkatan Nilai Rata Rata
No Ketuntasan Pra Siklus Siklus I Siklus II
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Tuntas 12 52 16 69 22 96
2 Belum Tuntas 11 48 7 39 1 4
3 Nilai rata -rata 68 69 90

Berdasarkan table 4.7 dapat kita lihat bahwa pada Pra Siklus hanya 52%
siswa yang meraih ketuntasan, 69 % pada siklus I dan pada Siklus II sebanyak
96% hal ini menunjukkan bahwa peningkatan yang signifikan apabila kita
menggunakan metode dan cara belajar yang tepat sehingga siswa dapat belajar
dengan semangat dan meraih prestasi yang kita harapkan.
Pada nilai rata rata juga mengalami peningkatan yang signifikan, nilai
rata rata pada pembelajaran awal 68, pada siklus I mengalami peningkatan yaitu
69 dan pada perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 96. Perbaikan
pembelajaran cukup pada siklus II tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya
karena tuntas dari 23 siswa ada 22 siswa atau 96% hanya 1 siswa atau 4% yang
belum tuntas termasuk siswa yang lamban belajarnya.
Dari tabel 4.7 dari hasil evaluasi pembelajaran awal hingga perbaikan
pembelajaran siklus II mata pelajaran matematika jika disajikan dalam bentuk
diagram mak dapat dilihat pada diagram 4.4 berikut.

cii
ciii

Gambar 4.4
Grafik peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar

25

20

15

10 Tuntas

5 Belum
Tuntas

0
Pra Siklus I Siklus II
Siklus

Pada gambar 4.4 menunjukkan grafik peningkatan nilai rata rata mata
pelajaran PKn dengan materi Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V
semester I di SD Negeri Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati,
bahwa sebelum perbaikan pembelajaran nilai rata rata 68, pada perbaikan siklus
I nilai rata rata 69 kenaikan nilai rata rata 1. Pada perbaikan pembelajaran
siklus II nilai rata rata 96, kenaikan nilai rata rata dari perbaikan pembelajaran
siklus I ke perbaikan siklus II yaitu 30.

D. Pembahasan Setiap Siklus


1. Sebelum Perbaikan Pembelajaran
Sebelum perbaikan pembelajaran dari 23 siswa yang mengalami
ketuntasan dalam belajar sebanyak 12 siswa atau hanya 52% dan 11 siswa atau 48
% belum tuntas. Hal ini menunjukkan kegagalan dalam pembelajaran. Setelah
penulis merefleksi diri, maka kegagalan iti disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain :
a. Dalam penggunaan alat peraga kurang bervariasi.

ciii
civ

b. Pembelajaran masih didomonasi guru.


c. Rendahnya tingkat penguasaan materi oleh siswa.
d. Kurang relevannya metode yang digunakan.
Kegagalan dalam pembelajaran PKn dengan materi Negara Kesatuan
Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri Sumbermulyo 01,
Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, maka peneliti perlu melakukan perbaikan
pembelajaran siklus I.

2. Siklus I
Berdasarkan hasil diskusi denagn teman sejawat serta supervisor bahwa
ketidaktuntasan siswa dalam proses pembelajaran PKn dengan materi Negara
Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri Sumbermulyo 01,
Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, disebabkan oleh :
e. Siswa kurang konsentrasi dalam pembelajaran.
f. Tidak semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
g. Kurangnya motivasi guru terhadap siswa.
h. Kurangnya keberanian siswa dalam mengutarakan pendapat.
Berdasarkan temuan masalah diatas, maka langkah yang ditempuh guru
untuk meningkatkan hasil belajar adalah :
a. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pengertian Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan metode bermain peran.
Hal tersebut sesuai dengan teori blajar yang dikemukakan oleh J Bruner
(1966), bahwa belajar adalah suatu proses aktif yang dilakukan oleh siswa dengan
jelas.
Untuk meningkatkan kreativitas dan aktivitas dalam melakukan kegiatan
pembelajaran, maka pengadaan alat peraga harus ditingkatkan dengan cara :
1. Memanfaatkan benda benda yang ada disekitar siswa.
2. Menggunakan alat peraga model kebudayaan Indonesia.
Menurut C. Roger 1969 : 9 ) dalam teori cooperative learning disebutkan
bahwa proses belajar terjadi dengan adanya keterlibatan pribadi, inisiatif diri dan
evaluasi diri. Teori ini menimpulkan bahwa belajar harus dilakukan oleh siswa,

civ
cv

sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Maka pemilihan metode demonstrasi


sangatlah tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
c. Meningkatkan keberanian siswa dalam mengutarakan pandapat melalui
pendekatan model cooperative learning.
Pendekatan cooperative eraning akan memberikan kesempatan pada
anak untuk memiliki keberanian dalam mengutarakana pendapat. Dalam hal ini
diharapkan tutor sebaya mampu membimbing temannya dalam melakukan
percobaan. Hal ini sesuai denagn pendapat Siberman (2000;157) bahwa mengajar
teman sebaya (per teaching) merupakan salah satu cara untuk mematangkan
penguasaan siswa terhadap suatu pelajaran tertentu.
Dalam pelaksanaan mengajar teman sebaya, fungsi guru lebih
difokuskan sebagai fasilitator dan motivator untuk memberikan penguatan. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Brammer (1979;42) yaitu hubungan yang bersifat
membantu merupakan upaya guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang
kondusif akan terjadinya pemecahan masalah dan pengembangan diri peserta
didik.
Berdasarkan hasil refleksi tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus I
dihasilkan antara lain :
5. Tutor sebaya belum terampil menggunakan alat peraga untuk membimbing
temannya dalam melakukan pembelajaran tentang kebudayaan.
6. Masih ada beberapa siswa yang ragu dan tidak terlibat aktif dalamn
melakukan demonstrasi. Guru memberi pengarahan agar siswa terlibat aktif
dalam melakukan bermain peran.
7. Dalam diskusi kelompok, masih ada beberapa siswa yang aktif dan kurang
kerja sama dalam menyelesaikan tugas.
8. Hasil evaluasi siswa masih banyak yang rendah, masih ada 7 siswa yang
nilainya dibawah KKM dan tingkat ketuntasan kelas 69 %. Dengan demikian
maka tindakan perbaikan dilanjutkan pada siklus II.

cv
cvi

3. Siklus II
Adapun hasil refleksi pada siklus II adalah:
e. Tutor sebaya sudah terampil menggunakan alat peraga untuk membimbing
temanya dalam mempelajari kebudayaan.
f. Hampir semua siswa terlibat aktif dalam melakukan bermain peran.
g. Dalam diskusi kelompok, hampir semua siswa sudah aktif dan tercipta kerja
sama yang baik dalam menyelesaikan tugas.
h. Hasil evaluasi belajar sudah baik walaupun masih ada 1 siswa yang nilainya
dibawah KKM. Namun rata rata nilai sudah diatas KKM yaitu 90 dan
tingkat ketuntasan 96%.
Dengan demikian tindakan perbaikan pembelajaran PKn dengan materi
pokok Negara Kesatuan Republik Indonesia kelas V semester I di SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati melalui model
pembelajaran cooperative learning melalui metode bermain peran dengan
mengefektifkan alat peraga kebudayaan dan globe dipandang sudah cukup. Hal
ini terbukti adanya peningkatan hasil belajar atau hasil evaluasi nilai rata rata
sudah diatas KKM yaitu 90 dan tingkat ketuntasan 96%.

BAB V

cvi
cvii

SIMPULAN DAN SARAN

C. Simpulan
Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui
pembelajaran siklus I dan siklus II dengan materi Negara Kesatuan Republik
Indonesia dikelas V semester I tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, maka penulis dapat
mengambil kesimpulan bahwa upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
metode bermain peran melalui pendekatan model cooperative learning dengan
mengefektifkan alat peraga kebudayaan dan globe telah mampu meningkatkan
hasil belajar siswa.
Peningkatan ini terjadi pada siklus I maupun siklus II dengan bukti
adanya peningkatan pada :
1. Menggunakan media pembelajaran kebudayaan dan globe dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Model pembelajaran cooperative learning melalui penerapan metode bermain
peran untuk dengan mengefektifkan alat peraga dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
3. Prosentase ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan
setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada evaluasi sebelum perbaikan
pembelajaran ada 12 siswa atau 52% dari 23 siswa. Pada perbaikan
pembelajaran siklus I meningkat, siswa yang nilainya 75 keatas menjadi 16
atau 69% dari jumlah 23 siswa dan pada perbaikan siklus II menjadi 22 siswa
atau 96%.

D. Saran Tindak Lanjut


Berdasarkan pengalaman peneliti selama melaksanakan Penelitian
Tindakan Kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SD Negeri
Sumbermulyo 01, Kecamatan Winong Kabupaten Pati peneliti kemukakan saran
dan tindak lanjut sebagai berikut.

cvii
cviii

7. Guru sebaiknya mengusahakan media pembelajaran benda benda konkret


yang berada disekitar siswa dapat menghilangkan verbalisme dan
menyenangkan.
8. Guru harus memberi motivasi dan bimbimngan pada siswa yang mengalami
kesulitan.
9. Guru hendaknya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
10. Di era kompetisi siswa perlu dilatih untuk berani mengemukakan pendapat
oleh karena itu latihan membimbing kawan kawannya dalam melakukan
bermain peran merupakan ajang latihan yang cukup kreatif.
11. Siswa perlu dilatih untuk bergaul dan bekerjasama yang harmonis dalam
kelompoknya denagn kegiatan yang positif. Oleh karena itu bekerja dalam
kelompok untuk menyelesaikan tugas tertentu merupakan cara yang efektif
untuk melatih sifat social pada siswa.
12. Laporan ini dapat dijadikan bahan kajian untuk meningkatkan
pengetahuannya melalui forum KKG dll.

DAFTAR PUSTAKA

cviii
cix

Andayani, dkk. 2010, Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta, Universitas


Terbuka.

Aswani, Zaenul,2004, Tes dan Asesmen di SD, Jakarta, Universitas Terbuka.

Denny, Setyawan, 2005, Komputer dan Media Pembelajaran, Jakarta, Universitas


Terbuka.

Gatot, Muhsetyo, Drs. M.Sc, dkk, 2007, Pembelajaran PKN, Jakarta, Universitas
Terbuka.

Mulyani Sumantri, Nana Syaodih. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta,


Universitas Terbuka.

Samsudin, Abin, 2004, Profesi Keguruan 2, Jakarta, Universitas Terbuka.

Suciati, Drs. Dkk, 2004, Belajar dan Pembelajaran 2, Jakarta, universitas


Terbuka.

Wardani, I.G.A.K, 2008, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Universitas


Terbuka.

Wahyudi Duin, Supaiyati, Ishak, Abduhak, 2001, Pengantar Pendidikan, Jakarta,


Universitas Terbuka.

Dra. Dyah Sriwilujeng, M.Pd, Buku PKn untuk SD Kelas V, Jakarta, Esis.

Pranaja S dkk, Buku Fokus PKn untuk SD Kelas V, Jakarta, Sindutama.

ll

cix