Anda di halaman 1dari 6

1.

Tekanan Parsial Karbondioksida (PaCO2)


PaCO2 adalah tekanan parsial karbon dioksida pada arteri. PaCO2 merupakan
komponen pernapasan dari pengaturan asam basa dan diatur oleh perubahan
frekuensi dan kedalaman ventilasi pulmoner. Nilai normal PaCO2 adalah 35 45
mmHg (Horne & Swearingen, 2001).
Angka kematian yang diakibatkan oleh perubahan tekanan CO2 adalah
berkisar antara 16-30%. Perubahan PaCO2 pada penderita cedera sangatlah
bervariasi. Namun, PaCO2 arteri harus dijaga dalam ambang batas normal.
Kondisi apabila PaCO2 meningkat diatas nilai normal 45 mmHg adalah
hiperkapnia. Kondisi ini menunjukkan hipoventilasi alveolar dan asidosis
respiratorik. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan vasodilatasi pembuluh
darah otak yang menyebabkan peningkatan laju aliran darah ke otak dan akhirnya
akan terjadi peningkatkan tekanan intrakranial. Sementara itu, kondisi apabila
PaCO2 turun di bawah nilai 35 mmHg menyebabkan hiperventilasi dan alkalosis
respiratorik. Nilai PaCO2 yang terlalu rendah hingga di bawah nilai 25 mmHg,
akan mengakibatkan CBF (cerebral blood flow) turun di bawah angka kurang dari
17 mmHg/100 gr/menit melalui mekanisme vasokonstriksi dan menyebabkan
spasme pada pembuluh darah otak, serta mengancam terjadinya iskemik (Tisdal
& Tachtsidis, 2008; Clausen, et al., 2005; Horne, M., Swearingen, P., 2001).

2. Tekanan Parsial Oksigen (PaO2)


PaO2 adalah tekanan oksigen parsial dalam arteri. PaO2 tidak mempunyai
peran pengaturan asam basa bila terdapat dalam rentang normal. Nilai normal
PaO2 adalah 80-100 mmHg (Horne & Swearingen, P, 2001).
Perubahan PaO2 arteri, tidak memiliki akibat sebesar perubahan PaCO2,
namun PaO2 tetap harus dijaga dalam ambang batas normal. Apabila PaO2 berada
dalam kadar yang terlalu rendah, maka akan menimbulkan hipoksia yang dapat
menyebabkan vasodilitasi pembuluh darah otak yang akan diikuti oleh
peningkatan laju aliran darah ke otak dan mengakibatkan terjadinya peningkatan
tekanan intrakranial. Adanya hipoksemia dengan PaO2 kurang dari 60 mmHg
dapat menimbulkan metabolisme amaerobik, mengakibatkan produksi asam laktat,
dan asidosis metabolik. Apabila kadar PaO2 terlalu tinggi, maka akan terjadi
vasokonstriksi pembuluh darah. PaO2 minimal adalah 100 mmHg, bahkan ada
penulis yang memberikan nilai yang lebih tinggi yaitu berkisar antara 140-160
mmHg. Pemberian oksigen bisa menggunakan kanul nasal, masker oksigen,
oxygen hyperbaric chamber, dan sebagainya (Tisdal & Tachtsidis, 2008; Myburg,
2002).

3. Ion Bikarbonat (HCO3-)


Bikarbonat serum (HCO3-) merupakan komponen ginjal mayor yang
diekskresi atau dihasilkan oleh ginjal untuk mempertahankan lingkungan asam
basa normal. Nilai normal HCO3- adalah 22 -26 mEq/L. Penurunan kadar
bikarbonat (<22 mEq/L) merupakan indikasi asidosis metabolik dan jarang
sebagai mekanisme kompensasi untuk alkalosis respiratorik. Peningkatan kadar
bikarbonat (>26 mEq/L) menggambarkan alkalosis metabolik, juga sebagai
kompensasi pada respon terhadap asidosis respiratorik. (Horne & Swearingen,,
2001).

4. pH
pH adalah pengukuran konsentrasi H+ untuk menunjukkan status asam basa.
Darah pH diatur untuk tetap dalam kisaran sempit 7,35-7,45, sehingga sedikit
basa. Darah yang mempunyai pH di bawah 7,35 terlalu asam, sedangkan di atas
7,45 pH darah terlalu basa. Perhitungan pH berdasarkan logaritma negatif pada
konsentrasi ion hidrogen [H+] pada satuan nM/ L (nM = nanomol = 1 x 10-9mol;
pH 7.40 = 40 nM/L [H+]). Perubahan nilai pH sedikit saja akan berpengaruh besar
pada konsentrasi [H+]. Penurunan 0,1 poin dari pH 7,4 menjadi 7,3 menunjukkan
peningkatan 25% ion [H+]. pH darah, tekanan parsial oksigen (PO2), tekanan
parsial karbon dioksida (PCO2), dan HCO3 secara hati-hati diatur oleh sejumlah
mekanisme homeostatis, melalui sistem pernafasan dan sistem ekskresi dalam
rangka untuk mengendalikan keseimbangan asam basa. Keseimbangan asam-basa
darah dikendalikan secara seksama, karena perubahan pH yang sangat kecilpun
dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ. Nilai pH yang
mendekati normal tidak meniadakan kemungkinan dari gangguan asam basa
karena adanya mekanisme kompensasi. Tubuh memiliki beragam mekanisme
untuk mempertahankan homeostasis dalam darah dan cairan ekstraselular (Martin,
2011; Horne & Swearingen, 2001).
Beberapa faktor yang berpengaruh mempertahankan nilai pH darah adalah:
a. Sistem Penyangga
Sistem penyangga kimia (buffer system) adalah suatu bahan kimia yang
dapat menetralkan asam atau basa yang dihasilkan, atau masuk kedalam tubuh.
Artinya, sistem ini dapat mengurangi perubahan pH pada suatu larutan yang
kelebihan asam ataupun basa. Bila di dalam tubuh terdapat penambahan asam,
sehingga pH akan turun, asam akan ditangkap oleh unsur basa dari sistem
penyangga, sehingga perubahan pH akan dapat dinetralkan. Demikian juga
sebaliknya, bila didalam tubuh terdapat penambahan basa, dimanan pH
seharusnya akan naik, basa itu akan diikat oleh unsur asam dari sistem
penyangga sehingga kenaikan nilai pH dapat dikurangi. Ada empat sistem
penyangga kimia yang penting di dalam tubuh, yaitu sistem bikarbonat-asam
karbonat, sistem penyangga hemoglobin, sistem penyangga fosfat dan sistem
penyangga protein. Sistem buffer bicarbonat merupakan sisem penyangga
paling berperan penting yang terdiri dari senyawa asam carbonic (H2CO3) dan
sodium bicarbonate (NaHCO3). Asam kuat bereaksi dengan ion bicarbonat
(HCO3) agar berubah menjadi asam lemah, sedangkan basa kuat dipisahkan
asam karbonik menjadi basa lemah dan air (Swain, et al., 2011; Hulikova, et
al., 2011; Part & Wood, 2000)

Gambar 1. Buffer bikarbonat asam karbonik


b. Sistem pernapasan
Perubahan kadar CO2 akan mempengaruhi kadar H2CO3 yang pada
akhirnya akan mempengaruhi perubahan nilai pH. Pengaturan sistem
pernapasan terhadap keseimbangan asam-basa meliputi: (Margues, et al., 2003;
Kellum, 2000)
1) Karbondioksida pada darah diubah menjadi ion bikarbonat dan
dipindahkan oleh plasma.
2) Peningkatan konsentrasi ion hidrogen menghasilkan banyak asam
karbonik.
3) Ion hidrogen yang berlebihan dapat diturunkan dengan pelepasan karbon
dioksida dari paru-paru.
4) Frekuensi pernapasan meningkat dan menurun tergantung perubahan pH
darah

c. Sistem eskresi ginjal


Di ginjal dapat terjadi eskresi dan reabsorbsi ion HCO3, yang berperan
besar dalam penentuan nilai pH. Ginjal berperan untuk mempertahankan
keseimbangan komponen metabolik yaitu ion HCO3 agar proses metabolisme
dapat berjalan dengan baik. Pengaturan Ginjal terhadap keseimbangan asam
basa meliputi: (Skelton & Boron, 2010)
1) Ekskresi ion bicarbonat jika dibutuhkan
2) Merubah atau membuat ion bicarbonat jika dibutuhkan
3) pH urin yaitu 4.5-8.0
Tisdal, M., Tachtsidis, I.,: Increase in Cerebral Aerobic Metabolism Bynormobaric
Hyperoxia After Traumatic Brain Injury. J. Neurosurg.109. 2008

Skelton, L., Boron. W. 2010. Acid-base Transport by The Renal Proximal Tubule. J
Nephrol. 16:S4-18.

Clausen, T., Khaldi, A., Zauner, A. Cerebral AcidBase Homeostasis After Severe
Traumatic Brain Injury. J Neurosurg 2005; 103:597607

Horne, M., Swearingen, P. 2001. Keseimbangan Cairan, Elektrolit, dan Asam Basa
Edisi 2. Jakarta: EGC

Myburg, J. Cerebrovascular Carbon Dioxide Reactivity in Sheep:Effect of Propofol


or IsofluraneAnaesthesia. J AnaesthIntensive Care. 2002

Martin, L. 2011. The Four Important Equations. Ohio: Case Western Reserve
University

Kellum, J. 2000. Determinants of Blood pH in Health and Disease. Crit Care. 4(1): 6
14.

Hulikova, A., Vaughan, R., Swietach, P. 2011. Dual Role of CO2/HCO3 Buffer in
the Regulation of Intracellular pH of Three-dimensional Tumor Growths. J Biol
Chem. 286(16): 1381513826.

Part, P., Wood, C. 2000. Intracellular pH Regulation and Buffer Capacity in


CO2/HCO3-Buffered Media in Cultured Epithelial Cells from Rainbow Trout Gills. J
Comp Physiol B. 170(3):175-84.
Swain, J., Clark, N., Will, M. 2011. Biological pH Buffers in IVF: Help or Hindrance
to Success. J Assist Reprod Genet. 28(8): 711724.

Margues, P., Magalhaes, C., Correia, N. 2003. Inorganic Plasma With Physiological
CO2/HCO3- Buffer. Biomaterials. 24(9):1541-8.