Anda di halaman 1dari 43

ELEMEN MEKANIK OTOMOTIF

PERANCANGAN PISTON, RING PISTON, BATANG


PISTON DAN PENA PISTON

DI SUSUN OLEH :

SIGIT PRABOWO 12504241031/C1

ARDHI NURWIJAYA 12504241041/C1

RIFAI SYAIFULLAH 12504244007/C2

AWABIN HAFID ALFARISI 12504244001/C2

ADITYA KURNIAWAN 12504244003/C2

PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat beserta
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mengenai perancangan ini
dengan baik dan tepat waktu. Penyusunan tugas ini dimaksudkan sebagai tugas
kelompok mata kuliah Elemen Mekanik Otomotif dimana membahas tentang
Perancangan Piston, Ring Piston, Batang Piston, dan Pena Piston

Dalam makalah ini kami menguraikan tentang bagaimana seharusnya


perancangan piston, ring piston, batang piston, dan pena piston dilengkapi juga
dengan beberapa contoh perhitungan dalam perancangan. Dalam penyusunan
makalah ini kami mengambil beberapa sumber referensi yang telah ditentukan
sebelumnya sehingga isi dalam makalah ini dapat dibenarkan sesudahnya.

Dalam proses penyelesaian tugas makalah ini penulis mendapatkan banyak


bimbingan, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu selayaknya
penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:

1. Bapak Sukaswanto, M.Pd selaku Dosen yang memberikan tugas ini.


2. Seluruh teman satu kelas C1 yang kooperatif dalam pengerjaan laporan ini.
3. Dan semua pihak yang turut membantu.

Akhirnya selaku penulis kami ingin mengucapkan banyak terima kasih


kepada seluruh pihak yang telah membantu sehingga tugas ini dapat terselesaikan.
Selain itu kami segenap tim penyusun juga menyadari bahwa dalam penyusunan
tugas ini masih banyak ditemukan kekurangan. Oleh karena itu, besar harapan
kami terhadap kritik dan saran dari pembaca agar dalam penyusunan makalah
selanjutnya menjadi lebih benar. Atas segala kekurangan tersebut kami selaku
penulis memohon maaf.

Yogyakarta, 28 November 2013

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

2
Halaman Judul .....................................................................................................i
Kata Pengantar ...................................................................................................ii
Daftar Isi ............................................................................................................iii
BAB I TEORI PERANCANGAN
A. Perancangan Piston .................................................................................1
B. Perancangan Ring Piston.........................................................................8
C. Perancangan Batang piston .....................................................................9
D. Perancangan Pena piston ......................................................................19
BAB II CONTOH PERHITUNGAN
A. Perhitungan Piston ................................................................................20
B. Perhitungan Ring Piston .......................................................................24
C. Perhitungan Batang Piston ...................................................................27
D. Perhitungan Pena piston .......................................................................32
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................................................................34
Daftar Pustaka ..................................................................................................35

3
BAB I
TEORI PERANCANGAN

A. Perancangan Piston

Ditinjau dari desainnya, piston pada kapal diesel dibagi menjadi :


1. Trunk pistons
2. Pistons with crosshead, dan
3. Piston mesin aksi ganda.
Salah satu bagian dari piston yaitu kepala yang dapat dilepas dan didinginkan
baik secara alami ataupun secara buatan.
1. Trunk pistons
Trunk piston untuk mesin diesel kecil merupakan campuran dari
besi atau alumunium alloy yang dicor menjadi satu. Untuk piston
dengan power slinder sedang dan tinggi dilengkapi kepala yang dapat
di lepas. Pendinginan buatan pada kepala piston mengunakan oli
pelumas, pada mesin 4 langkah digunakan ketika diameter silinder (D)
450 mm, sedangkan mesin 2 langkah digunakan pada siameter
silinder (D) 300 mm karena silindernya mendapatkan tegangan
termal yang lebih tinggi daripada mesin 4 langkah.
2. Pistons with crosshead
Piston ini biasanya dilengkapi dengan kepala yang dapat dilepas
yang didinginkan secara buatan pada silinder dengan pwer yang tinggi.
3. Piston mesin aksi ganda
Piston mesin diesel ini terdiri dari body dan dua kepala pada
bagian atas dan bawah ruang bakar pada silinder. Cairan pendingin
dialirkan menuju kepala melalui lubang pada batang piston.
Kepala piston dilengkapi dengan alur melingkar sebagai dudukan ring
kompresi. Variasi tipe dari ring sendi. Pasokan oli dihilangkan dari kerja di

1
permukaan silinder oleh control oli atau ring pengikis yang terpasang pada
kepala, dibawah ring kompresi dan salah satu dari 4 pada piston skirt.
Sisi dalam dari sebuah kepala noncooled trunk piston menggunakan rusuk
radial atau konsentrik yang memperkuat kepala dan meningkatkan transfer
panas dari kepala ke udara luar.

Kepala piston dibuat kerucut atau silinder di bagian luar sedangkan di


permukaan luar skirt piston berbentuk datar atau membentuk elips pada
bagian paling tebal (dekat lubang pena piston). Ini membuat sebuah celah
antara piston karena pemuaian panas pada kepala. Selain itu, sebuah celah
termal dibuat diantara permukaan dari piston skirt dan liner yang menjamin
piston skirt bebas berekspansi selama mesin menyala.
Bentuk dari kepala piston harus menciptakan kondisi yang paling
menguntungkan untuk percampuran bahan bakar dan pembakaran di ruang
bakar. Karena itu, bentuk dari kepala piston diatur pertama dan terutama oleh
desain ruang yang dipilih. Pada mesin 2 langkah, bentuk dari kepalanya juga
tergantung pada jenis pembilasan.

2
Bentuk yang paling umum pada ruang bakar mesin disel Pada mesin 4
langkah dengan percikan busi mempunyai ruang bakar datar.
Piston pada kapal disel dikenai beban mekanik dan beban termal, bekerja
dibawah tekanan tinggi dan temperature (300 - 350 C). Oleh karena itu,

3
bahan dari piston harus memiliki kekuatan yang tinggi dan tahan terhadap
karat dan aus.
Piston untuk mesin putaran rendah terbuat dari besi cor C424-44 dan
C428-48. Kepalanya dari dua bagian piston juga terbuat dari baja tempa,
tingkat 25, dan baja cor tahan panas 30M.
Piston untuk mesin disel putaran tinggi dan piston dari disel putaran
sedang terbuat dari aluminium alloy yang ringan dan konduktivitas panas
tinggi. Kelemahan dari piston aluminium adalah koefisien ekspansi linear
tinggi yang menyebabkan terjadi celah antara piston dan liner saat mesin
dalam keadaan dingin.
Besar diameter piston pada disel putaran tinggi terbuat dari cor paduan,
seperti AJI1 mengandung nikel untuk menambah ketahanan terhadap panas.
Piston aluminium pada mesin ringan putaran tinggi dibuat lebih kuat dengan
drop-forging dari campuran tingkat AK4 dan AK2.
Kadang-kadang pengerjaan pada permukaan piston besi cor dilapisi
dengan timah agar piston berjalan lebih cepat dalam permukaan liner.
Piston skirt. Terlepas dari tujuan utama transmisi kekuatan tekanan gas
ke batang penghubung pada saat yang sama trunk piston juga berfungsi
sebagai crosshead atau sepatu.
Tekanan maksimum piston pada dinding liner diasumsikan menjadi
Nmax = Pz tan
1 1
= =
Nmax = 0,08 Pz ketika 5 dan Nmax = 0,1 Pz ketika 4

Tekanan sisi spesifik maksimum pada permukaan piston


N max
qN , dimana A adalah proyeksi dari permukaan bantalan piston
A

(atau panduan)
A = Dls ; D adalah diameter dan ls panjang piston skirt
Nilai yang diijinkan untuk qN pada mesin disel sebagai berikut:
mesin 4 langkah putaran rendah qN = 1,8 2,8 kg/cm2

4
mesin 4 langkah putaran sedang qN = 3,0 3,5 kg/cm2
mesin 4 langkah putaran tinggi qN = 5 7 kg/cm2
mesin 2 langkah putaran sedang qN = 3,0 3,5 kg/cm2
Mari kita asumsikan bahwa kepala piston terkena beban merata dari
tekanan gas maximum Pz. mari kita asumsikan juga bahwa kepala piston
berbentuk piring bulat bertumpu bebas pada silinder dari kepala piston
dengan diameter Dl.
Jika keduanya berlaku:
Pz D
2
Fcg = = pz
2 8

Maka akan terkonsentrasi pada titik pusat gravitasi dari bidang setengah
longkaran kepala diganti untuk beban merata, kemudian dua momen bengkok
(bending moments) akan bekerja di bagian kritis kepala, terletak di sepanjang
diameternya D, yaitu gaya momen Fcg
2 3
D 2D D
M ' 0=F cg a= pz = p
8 3 12 z

2D
a=
Dimana 3 adalah jarak dari titik pusat gravitasi daerah setengah

lingkaran ke titik pusat kepala (gambar 141)

Dan momen Mb dari reaksi merata melalui tepi setengah lingkaran kepala
dan sama dengan gaya yang bekerja R = Fcg.

5
Dengan mengasumsikan bahwa reaksi diterima oleh titik pusat gravitasi
setengah lingkaran, kita temukan
M } rsub {b} = - {F} rsub {cgb} = - {{D} ^ {2}} over {8} {p} rsub {z} {{D} rs

keterangan :
Di
b= : jarak dari titik pusat gravitasi setengah longkaran ke titik

pusat lingkaran.
Di : diameter rata-rata barel kepala piston.
Resultan momen bengkok
M } rsub {b} = - {{D} ^ {3}} over {12} {p} rsub {z} - {{D} ^ {2} {D} rsub {i}}
M b= M ' b +

Diasumsikan bahwa Di D, maka kita mendapatkan


3
D
M b= p
24 z

Tegangan bengkok
Mb
b=
W

Dimana W adalah modulus bagian pada bagian lurus dari kepala piston. Jika
kepala piston datar dan tidak terdabat rusuk-rusuk, maka
D 2
W=
6

dimana adalah tebal dari kepala piston.


Untuk kepala rusuk atau kepala dengan bentuk kompleks, modulus bagian
ditentukan dengan metode terkenal grafis dan analisis.
Dalam menghitung kepala piston menggunakan metode yang dijelaskan di
atas tegangan bengkok berikut b dalam kg/cm2 yang dijinkan adalah :
Besi cor : 350 400

6
Baja : 600 1000
Paduan al : 500 900
Pada mesin yang menyala berbeda suhunya antara bagian dalam dan luar
kepala. Oleh karena itu, perhitungan di atas harus ditambahkan dengan
tekanan mekanis yang dilengkapi dengan apa yang disebut dengan tegangan
termal (thermal stresses).
Untuk menentukan tegangan termal, kita asumsikan kepala piston sebagai
tembok datar dan temperaturnya berubah melalui tebal kepala (gambar141)
secara lurus alami. Perbedaan temperatur antara permukaan dalam dan luar
(pada cairan pendingin dan sisi ruang bakar, terpisah):
q
t = ti te =

keterangan:
q : jumlah panas sepanjang 1 m2 pada permukaan kepala per jam
: koefisien kandungan panas; = 50 cal/m-jamC untuk baja dan besi
cor, dan 175 cal/m-jamC untuk aluminium.
: ketebalan

Kompresi relatif dan tegangan pada lapisan luar dan dalam kepala piston,
masing-masing,
l t
c = t = =
2 2

tekanan dan tegangan tarik


E t E
c = t = =
1m 2 1m

atau sesuai dengan persamaan


q E
c = t =
2 1m

keterangan:
l : panjang lapisan pada permukaan kepala piston

7
l : selisih panjang lapisan akibat panas
: koefisien dari pemuaian
E : modulus elastis bahan kepala piston
m : rasio

B. Perancangan Ring Piston

Ring konsentrik menjamin distribusi oli pendingin di atas permukaan


permukaan dalam dari kepala piston.
Ring piston dibuat dari besi cor tingkat C421-40 dan C424-44. Kekerasan
dari logam ring piston berfariasi dari angka Brinell 180 hingga 220.
Kekerasan ring piston diperbolehkan untuk berbeda dari liner silinder dengan
10 unit.

Ring piston pada disel putaran mesin rendah dan sedang ditempa dari baja
tingkat 15; ring piston disel putaran tinggi dibuat dari baja tingkat 12XH3A
dan 18XH3A.
Ring Piston dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu: Piston ring kompresi
(compression rings) dan Piston ring oli (oil ring), pada motor empat langkah
terdapat ring kompresi dan ring oli. Bahan yang dipakai untuk piston ring
kompresi dan piston ring oli direncanakan dari bahan besi tuang.

8
Ring piston membentuk paket ring, yang biasanya terdiri dari 2-5 cincin,
termasuk setidaknya satu ring kompresi. Jumlah dari ring dalam paket tergantung
pada jenis mesin, namun biasanya terdiri dari 2-4 ring kompresi dan 0-3 ring
control minyak (ring oli). Misalnya, mesin diesel 4 langkah memiliki 2 atau 3 ring
kompresi dan satu ring oli.

1. Ring kompresi

2. Ring oli

9
C. Perancangan Batang Piston

Batang penghubung/penggerak dibuat 2 tipe yang pertama membulat


tabung untuk penggunaan pada mesin yang bergerak di kecepatan
rendah.Sedangkan tipe kedua seperti huruf I bentuknya apabila dilihat dari
perpotongan secara vertikal, ini digunakan pada mesin kecepatan menengah
dan tinggi. Area potongan melintang dibuat sama, Untuk tipe yang I memiliki
koefisien yang lebih tinggi di bidangnya(batang penghubung) dari pada yang
tipe batang bulattabung. Batang penghubung di mesin 4 langkah
mempunyai satu bagian, yang kepala ujung kecil menjadi satu dan yang
satunya kepala batang penggerak yang besar dan terbagi/terbelah dua.Pada
mesin dua langkah menggunakan torak trank yang kepala batang penggerak
ujung kecil bisa menggunakan salah satu dari jenis/tipe diatas (yang tipe
langsung menjadi satu atau yang terbagi dua).Di mesin yang kepalanya silang
(V) kepala ujung kecil adalah termasuk menggunakan tipe terbelah dua, dan
juga memiliki kepala bercabang.
Pada bagian kepala batang penggerak yang kecil baik yang tipe tidak
terbelah(menjadi satu) ataupun yang tipe terbelah mempunyai ring/packing
yang terbuat dari perunggu khusus. Sedang pada bagian kepala batang
penggerak yang besar biasanya disediakan dengan baja penyokong yang
terbelah (metal). Kadang-kadang untuk mesin tipe kecepatan menengah cocok
apabila dengan bantalan jarum di bagian kepala batang penggerak yang kecil,
bantalan itu menahan tekanan tinggi.

10
Pergerakan batang piston selalu menerima gaya/pergerakan yang memutar.
Di mesin diesel yang bekerja tunggal, dibagian atas batang penggerak
mempunyai flens yang melingkar pada derajad tertentu. Piston dipasang pada
flens tersebut. Dibagian bawah batang penggerak piston memanjang dengan
mur atau flens untuk berhubungan dengan kepala/topi yang melintang. Pada
mesin yang bekerja ganda kepala batang penggerak yang kecil terdapat galur/
ulir untuk mengikatkannya dengan piston, mengingat kepala batang penggerak
bagian bawah mendapatkan perpanjangan dengan ketirusan dan mur untuk
mengikatkan ke kepala/topi melintang. Cairan pendinginan untuk piston di
mesin yang bekerja ganda di suplai melalui batang piston, yang mana dibuat
cekungan untuk bertujuan dan memuat pipa/ saluran khusus. Sebuah rumah/
casing untuk memasukkan batang piston dan menyediakan pendinginan dan
menjaga dari gas yang panas.
Kepala/ topi yang melintang dari mesin bekerja tunggal dapat di bangun di
salah satu atau dua sisi. Pada bantalan yang menjadi satu(tidak terbelah),

11
tekanan normal saat selama langkah usaha berjalan diambil oleh permukaan
bantalan yang luas sebagai pengantar, dan permukaan bantalan yang sempit
ketika langkah kompresi. Selama bagian belakang bergerak, permukaan
sempit dari pengantar untuk mengambil tekanan normal selama langkah
usaha. Untuk tipe dua pengantar kepala/topinya memiliki dua permukaan
bantalan yang rata di tiap sisi.
Pada ujung connecting rod dipasang small end bearing atau bush dibuat
dari bahan perunggu phospos, pemasangan dilakukan dengan mengepres.
Melalui pena piston, connecting rod berfungsi meneruskan gaya gaya dari
piston ke poros engkol, dan sebaliknya. Sedangkan pada connecting rod akan
menerima gaya tekan dari pembakaran, gaya inersia dari masa masa yang
bergerak bolak balik dan gaya inersia dari masa connecting rod, jenis bantalan
yang digunakan adalah bantalan luncur. Bahan untuk connecting rod terbuat
dari baja karbon grade 45.
Perhitungan batang penggerak adalah dibatasi /terletak pada kekuatan
dalam menerima gaya/ gerakan putar, kepala bagian kecil/atas, kepala bagian
besar/ bawah, dan baut pada kedua kepala. Batang penggerak adalah bagian
yang dipaksa oleh tekanan gas (P z) , gaya inersia dengan massa (F f) dan gaya
inersia yang melintang dari massa batang penggerak. Ketika posisi piston pada
TDC, saat itu pembakaran dan batang penggerak mendapatkan tekanan/ gaya
dengan cepat. Psum = Pz - Ff

Tekanan kompresi disebabkan oleh gaya ini


P

c =

Dimana adalah area minimum melintang dari batang torak, tegangan

yang diizinkan
c
Baja karbon................... = 800-1,200 kg/cm2
c
Baja paduan................... = 1,200-1,800 kg/ cm2

12
Kestabilan melawan tekukan/ bengkok batang penggerak di periksa dengan
formula yang empiris untuk beban kritis/ maksimum:
l
Pcr
Untuk baja paduan = (3,350 6,2 ) kg

l
Pcr
Untuk baja paduan nikel 5% = (4,700 23 ) kg,

Dimana :
l : panjang jarak antara kepala kecil dengan kepala besar pada batang

penggerak (cm)

=
J
: Jari-jari kelambanan dari penampang lintang batang

penggerak(cm)
J : momen inersia minimum pada penampang lintang (cm4)
: area penampang lintang (cm2)

Untuk lingkaran/bulatan yang padat

=
4 . d4 d
64 d 2
=
4 cm

Untuk lingkaran/bulatan yang berlubang


1 2
=
4 2
d + d 0 cm

P cr
Angka keamanan Sc = Pz

Angka yang diperbolehkan: Baja karbon Sc = 4 8


Baja paduan Sc =2,5 4
Pembengkokan dari tangkai batang penggerak oleh gaya lintang dari
massa batang penggerak dikketahui ketika melakukan pengecekan. Beban
didistribusikan di tangkai batang penggerak diwakili oleh sebuah segitiga.

13
Momen bengkok maksimum disebabkan oleh gaya inersia ketika batang
penggerak pada posisi di 900 dari engkol.
n 2 2
Mmax = 1.200 ) ral
(

Untuk lokasi yang berjarak x=0,577 l dari pusat/tengah kepala kecil batang

penggerak menggunakan rumus ini:


n= kecepatan putaran poros engkol, rpm

r= jari jari engkol, cm

l= panjang batang penggerak, cm (jarak pusat kepala yang kecil

dengan yang besar


a= penampang lintangdari batang penggerak, cm2

= berat spesifik dari batang penggerak, kg/ cm3

Tegangan bengkok berkaitan dengan gaya inersia pada bagian tangkai batang
penggerak.
M max
b
= W

dimana W adalah modulus penampang lintang dari batang piston (cm3)


Tegangan bengkok batang penggerak pada mesin biasanya sebagai berikut :
b
Mesin kecepatan rendah = 75 100 kg/cm2

b
Mesin kecepatan tinggi = 150 200 kg/cm2

Penjumlahan/ ringkasan tegangan yang ada di tangkai batang penggerak dalam


kaitannya dengan kompresi oleh gaya P z dan kebengkokan oleh momen Mmax
ini ditentukan oleh rumus
Pz M max
= c + b = a + W

14
Setengah dari nilai/ presentase kelelahan batang penggerak adalah
berkenaan dengan kelurusan batang dengan dua kepala dan beban dari
konsentrasi gaya Pyang mana sama dengan gaya inersia F f atau jika akhirnya
tidak signifikan, karena gaya yang berubah-ubah akibat dari gerakan piston :
2
D
Fs = (10-15) X 4

Pada kasus ini momen bengkoknyaadalah:


Pr 0
Mb = 8

Dimana ro adalah momen bengkok lengannya yang sama dengan jarak putaran
sampai pusat grafitasi pada bagian sisi kepala batang penggerak.

Tegangan maksimum pada bagian BB:

15
Pr 0
b
= 8W

Tegangan maksimum pada sisi bagian AA disebabkan oleh tegangan, gaya


yang membujur dan oleh momen bengkok :
P Pr 0
t b
= + = 2a 8 W

Bagian CC adalah hubungan batang dengan kepala, tegangan tarik sama

P
dengan gaya normal Pn = 2 sin

P sin a
t
Maka = 2 a

P
Sedangkan tegangan geser sama dengan gaya tangensial Ft = 2 cos

Pcos a
sh
= 2a

Tegangan bengkok sama dengan sepasang gaya


P a
b
= 2W

Dimana adalah lengan dari sepasang gaya yang sama untuk mencari

jarak antarasumbu vertikal sampai pusat gravitasi bagian AA dan CC.



comb t +
2
b ) + 4 sh
2
Tegangan yang dihasilkan = (

comb
Tegangan yang diizinkan untuk baja karbon =600-800 kg/cm2

16
1
4
n max k
Faktor keamanan = ( + )
3

Keterangan:
1
= limit ketahanan terhadap tegangan balik langsung (tekan tarik)

P max
max
= 2a = tegangan maksimum pada bagian yang

dipertimbangkan a ;

k =1 ;
= 1-2; = 0,12-0,16 = koefisiennya.

Penetapan tegangan tidak secara penuh tahan pada penggunaan yang


terdapat pena piston dan kepala bagian kecil batang penggerak, kepala bagian
kecil seharusnya dibuat kaku. Deformasi yang relatif terjadi pada kepala
batang penggerak ditentukan oleh hubungan
PD 2m
=0,017 .
EJ

Keterangan:
dm = rata-rata diameter kepala batang penggerak, (cm)
J = momen inersia pada bagian tersebut, (cm)
Angka yang diperbolehkan:

Mesin 2 tak............ 0,01-1,2 mm/cm

Mesin 4 tak............ 0,005 mm/cm

Pada bagian atas (garpu kepala) dari batang penggerak di cek untuk
mengetahui gaya maksimum tekanan gas Pz.(gbr 147)

17
Pz
Gaya 2 diterima permukaan bantalan bagian luar dengan jarak lewat

poros sampai pusat grafitasi AB, karena:


Pn
c
tegangan tekan; = 2a

Ft
sh
tegangan geser ; = 2a

Pz l
b
tegangan bengkok ; = 2W ,

Pn Ft
Dengan syarat 2a dan 2a = normal dan tangensial untuk komponen

Pz
AB yang gayanya 2

a= daerah garpu yang dicek

W= modulus bagian penampang lintang.



comb 2
= ( t + b ) + 4 sh
2
Tegangan yang dihasilkan

18
Sedang tegangan yang diperbolehkan ppenampang garpu pada kepala bagian

comb
kecil = 1,000 -1,300 kg/cm2,

Pada bagian setengah kebawah sampai kepala/ ujung bagian besar batang
penggerak di mesin kecepatan rendah diperiksa akibat dari gaya bolak-balik
piston yang berubah-ubah (Fs), padahal di mesin 4 tak tipe kecepatan
menengah dan tinggi yang diperiksa adalah efek dari semua gaya inersia
(maksimum) yang ada (Fsum) juga yang berlawanan/bolak-balik dari massa
piston dan batang penggerak dan massa dari batang penggerak sendiri saat
berputar :
W cr. ret 2 W
Fsum = r ( 1+ ) + cr .rot r 2 ,
g g

Keterangan :
W cr .ret = Berat dari piston dan batang penggerak yang dipengaruhi oleh

gerakan bolak-balik.
W cr .rot = Berat saat berotasi, dari batang penggerak dikurangi oleh topi

dari kepala bagian besar.


Momen bengkok dari gaya yang terkonsentrasi tadi Fsum
F l1

4 l1
Mb = dimana adalah jarak antara pusat baut di kepala dari

batang penggerak.
Mb
b
Tegangan bengkok = W .

Tegangan yang diizinkan pada baja di kepala bagian besar:


b
Untuk konstruksi yang dicetak ............. = 500-650 kg/cm2

b
Untuk konstruksi yang ditempa............. =900-1,000 kg/cm2

Lebar dari kepala batang penggerak bagian besar tidak boleh lebih dari
lebar diameter silinder (D) jika piston dan batang penggerak akan dilepas

19
keatas sampai melewati silinder. Pada mesin 4 tak baut pada kepala kecil
mendapatkan gaya inersia massa piston Fj.p , padahal baut kepala besar
menahan gaya inersia hasil penjumlahan Fsum pada gerakan bolak balik
massa piston dan batang penggerak ditambah rotasi dari massa batang
penggerak.
Celah yang dibutuhkan dari kepala batang penggerak selama mesin hidup
seharusnya dipastikan kekencangan dari baut batang penggerak.
Fb = (1.35 1.50) F,
dengan:
F = Fj.p untuk kepala bagian kecil (batang penggerak), dan
F = Fsum untuk kepala bagian besar.
Pada mesin 2 tak dan 4 tak kecepatan rendah bautnya diperiksa atas
pertimbangan terhadap gaya dari piston:
D 2
Fs = (10-15) kg
4

Tegangan tarik pada baut yang berkaitan dengan gaya pengencangan awal Fb
F
2
t d b
= i
4

dengan:
i = nomor baut pada batang penggerak
db = diameter minimum baut
Tegangan tarik yang diperbolehkan , kg/cm2
Baja karbon.................... 500-600
Baja paduan................... 900-1,000
Pada perhitungan yang lebih akurat dari tegangan tarik maksimum pada baut
batang penggerak ditentukan dengan rumus:

20
1
Ft
C
1+ 1
t C 2 ) ,kg/cm2
=
1

a min

keterangan :

amin = penampang melintang minimum dari ulir baut

E 1 a1
C1 = l1 = Kekakuan daya jepit dari kepala batang penggerak

l 1= panjang komponen sebelum dilakukan pengencangan

a1= penampang lintang dari komponen sebelum terkena jepitan

E 2 a2
C2 = l2 = kekakuan dari baut

l 2= panjang baut diantara mur

a2
= rata-rata penampang melintang dari baut

Sedang pada bagian ini tegangan tarik yang diperbolehkan kg/cm2


Baja karbon.................... 800-1,200
Baja paduan................... 1,300-2,000

D. Perancangan Pena Piston

Dalam perancangan Trunk pistons digabungkan dengan batang


penghubung dengan maksud agar pena pistonnya aman di dalam body piston.
Pada diesel ringan dengan putaran tinggi dan pada diesel putaran rendah yang
biasa disebut piston pena mengambang juga menggunakannya. Pena dapat
mengubah gerakan bebas poros untuk digunakan pada kerja di permukaan.
Perpindahan pena secara aksial dibatasi oleh penjepit khusus.

21
Pena piston pada mesin tipe kerja tunggal dilakukan pemeriksaan di
tekanan/pemampatan dan terhadap tekukan karena aksi dari gaya akibat
tekanan gas. Tekanan kompresi pada pena piston
Pz
c a adalah penampang dari pena piston
= a ,dimana

Sedangkan tekanan kompresi yang diizinkan bekerja pada bahan (kg/cm2)


Baja karbon ........ 800-1,000
Baja paduan........ 1,200-1,500
Faktor keamanan dapat ditentukan lewat formula, angka yang didiizinkan
untuk Sc =4-5.
Untuk pendukung penampang yang meruncing pada perpanajngan/ perluasan
pena piston diperiksa dari kerusakan akibat gaya Pz.
Secara spesifik tekanan yang merusak pena sbb.
Pz
q cr 2 2
= ( d d 1 )
4

q cr=
Seharusnya tidak lebih dari 800-1,000 kg/cm2 dimana d dan d1

adalah diameter atas dan bawah dari permukaan dukungan.


BAB II

CONTOH PERHITUNGAN

Dalam rangka Perancangan Piston, Ring Piston, Batang Piston, dan Pena Piston
dibutuhkan data-data awal agar dalam perancangan dapat diketahui secara pasti
tujuannya. Data data awal yang dibutuhkan yaitu :
Ne = Daya kuda (BHP) = 13,3 HP
Cm = Kecepatan rata-rata piston (7 22) 10 m/s
z = Stroke cycle ratio 2 untuk motor 4 tak
Pe = Tekanan efektif rata-rata = 8,78 kg/cm2
n = putaran mesin 8500 rpm

22
A. Perhitungan Piston

Dimensi dan nama nama bagian piston yang digunakan pada mesin
bensin empat langkah ditunjukan oleh gambar dibawah ini

Gambar. Konstruksi dimensi piston (Kovakh, 1979 : 438)

Keterangan Gambar :
H = Tinggi piston
D = Diameter piston
H =Tinggi puncak piston ke ring atas
hcr = Tebal piston Crown
h1 = Jarak antara lubang ring piston
H1 = Jarak antara sumbu pen dengan bawah piston
H2 = Tiggi piston Skrit
bb = Jarak antara lubang pen
Lpp = Panjang pen piston
dex = Diameter luar pen piston
din = Diameter dalam pen piston
Perhitungan dimensi piston meliputi perhitungan perhitungan sebagai
berikut :

23
1. Volume ruang bakar (Vc) (Petrovsky, 1971 :26) :
Vd 160
Vc = 1 = 91 = 20 cm3

2. Tinggi Piston (Hpis) (kovakh, 1979 : 439)

Di = Ne . z
0,00523 Pe .Cm . i

Di = 13,3 .2
0,00523 x 8,78 x 10 x 1

= 7,61 cm = 76,1 mm

V mesin = 0,785 . Di2 . L


160 = 0,785 . 7,612 . L
L = 160 : (0,785 . 57,91)
= 3,51 cm

H = (0,9 hingga 1,3) Di (diasumsikan 1,1)


= 1,1 . 76,1 mm
= 83,71 mm

3. Tinggi dari puncak piston sampai alur ring teratas (Kovakh, 1979 :
439) :
h = ( 0,06 hingga 0,09) Di (diasumsikan 0,08)
= 0,08 . 76,1 mm
= 6,088 mm

4. Tebal puncak piston (Kovakh, 1979 : 439)


hcr
0,07 hingga 0,08 = Di , (diasumsikan 0,07)

hcr = 0,07 x 76,1 mm


= 5,327 mm

24
5. Tinggi alur ring piston (Kovakh, 1979 : 439)
hi = (0,03 hingga 0,05) Di (diasumsikan 0,04)
= 0,04 x 76,1 mm
= 3,044 mm

6. Tinggi piston skrit (Kovakh, 1979 : 439)


H2 = (0,68 hingga 0,74) H (diasumsikan 0,70)
= 0,70 x 83,71 mm
= 58,597 mm

7. Jarak dari dasar piston hingga sumbu piston pen (Kovakh, 1979 : 439)
H1 = (0,41 hingga 0,61) H (diasumsikan 0,50)
= 0,50 83,71 mm
= 41,855 mm

8. Diameter luar pen (Kovakh, 1979 : 439)


dex = (0,24 hingga 0,28) Di (diasumsikan 0,26)
= 0,26 x 76,1 mm
= 19,786 mm

9. Jarak antara tengah tengah piston pen (Kovakh, 1979 : 439)


bb = (0,40) Di
= 0,40 x 76,1 mm
= 30,44 mm

Tinjauan kekuatan dan perhitungan pada bagian piston skirt, dari persamaan-
persamaan dibawah ini:
1. Tekanan piston maksimal terhadap dinding liner (Petrovsky, 1962 :
368)
Nmax = 0,08 . Pz
= 0,08 x 18,2 kg/cm2
= 1,456 kg/cm2

Dengan : Pz = Tekanan akhir pembakaran = 18,2 kg/cm2

25
2. Tekanan samping spesifikasi maksimal pada permukaan piston
(Petrovsky, 1962 : 368)
Nmax
qn = Di x H 2

1,456
= 6,71 x 5,86

= 0,037 kg/cm2
Dengan : qn = 3 3,5 kg/cm2

Piston skrit dinyatakan AMAN karena tekanan samping yang terjadi pada
piston skrit adalah 0,037 kg/cm2 dan masih berada dibawah tekanan samping
ijin pada piston skrit qn = 3 3,5 kg/cm2. Selanjutnya pada piston crown
dianggap distribusi beban merata dari tekanan gas sisa pembakaran (Pz).
Ilustrasi pembebanan pada piston corwn ditunjukkan oleh gambar dibawah
ini

Gambar . Ilustrasi beban pada piston Crown (Petrovsky, 1962; 368)

1. Gaya tekan luasan lingkaan piston crown ( Petrovsky, 1962:368)


P2 Di 2
Fcg = =P 2 x
2 8

3,14 x 7,612 kg
Maka: F cg=18,2 x =413,69 2
8 cm

26
2. Momen bending yang terjadi dengan asumsi

D ipis=D ( Petrovsky ,1962 :369 ) :

Mb D3
= P
24 z

3
Maka : M b 7,61
= 18,2=334,21 kg . cm
24

3. Momen tahanan lentur pada piston crown ( Petrovsky, 1962:370) :


D . 2
W= 6

=hcr =0,5327 cm
Dengan :
2
7,61 cm x(0,533 cm) 3
Maka : W = =0,4 cm
6

M b 334,21 kg
b= = = 835,51 2
W 0,4 cm

Harga batas tegangan bending untuk material paduan alumunium adalah

b 2
= 500 900 kg/ cm , maka hasil perhitungan tegangan bending

2
yaitu 835,51 kg/ cm memenuhi syarat.

B. Perhitungan Ring Piston

Ilustrasi dimensi pada ring kompresi dan ring pengontrol oli ditunjukan oleh
gambar berikut:

27
1. Perhitungan ring kompresi ( Petrovsky, 1962 : 374 )

a. Lebar ring piston


b = (0,029 hingga 0,033) . Di (Diasumsikan 0,033)
= 0,033 x 7,61 = 0,25 cm

b. Tebal ring piston


h = (0,6 hingga 1,0). b (Diasumsikan 1)
= 1,0 x 0,25 = 0,25 cm

c. Jarak antara ujung ring sebelum masuk kedalam selinder


L = (0,10 hingga 0,18) . Di (Diasumsikan 0,18)
= 0,18 x 7,61 = 1,37 cm

d. Jarak antara ujung ring setelah masuk piston


Li = 0,35.h
= 0,35 x 0,25 = 0,088 cm

e. Momen bengkok yang terjadi


D
M b=D . b . P sp .
2

28
2
D Psp
= 2 b.

7,612
= 2 . 0,25 . 0,45

= 3,3 kg.cm
Psp
Dengan : = Tekanan spesifik ring piston ke dinding

silinder
= 0,45 0,7 kg/cm2 (Direncanakan : 0,45)

f. Momen tahanan pada ring kompresi


1
W = 6 b . h2

1
= 6 0,25 . 0,25 2

= 0,0026 cm2

g. Tegangan bengkok yang terjadi b


Mb
b = W

3,3
= 0,0026 = 1269,23 kg/cm2

Tegangan yang diijinkan untuk besi besi tuang pada ring kompresi adalah
1000 1500 Kg/cm2, maka dari hasil perhitungan diatas yaitu 1269,23
kg/cm2 memenuhi syarat dan AMAN.

2.
Perhitungan ring oli (Petrovsky, 1962:372)
a. Lebar ring oli :
b = ( 0,029 hingga 0,033). Di (diasumsikan 0,33)
= 0,033 . 7,61 = 0,25 cm
b. Tebal ring oli

29
h = (0,6 hingga 1,0).b (diasumsikan 1,0)
= 1 . 0,228 = 0,228 cm
c. Jarak antara ujung ring sebelum masuk kedalam silinder
L = (0,10 hingga 0,18) . Di (diasumsikan 0,12)
= 0,12 . 7,61 = 0,91 cm
d. Jarak antara ujung ring setelah masuk piston
Li = 0,35.h
= 0,35 . 0,228 = 0,0798 cm

e. Momen bengkok yang terjadi


D
Mb = D. b. Psp. 2

7,61
= 7,61 . 0,25 . 0,45 2 = 3,25 kg/cm

f. Momen tahanan pada ring oli


1
W = 6 . b . h2

1
= 6 . 0,25 . 0,252 = 0,0026 cm3

g. Tegangan bengkok yang terjadi b


Mb
b = W

3,25
= 0,0026 = 1250 kg/cm2

Tegangan yang diijinkan untuk besi-besi tuang pada ring oli adalah 1000
1500 kg/cm2, maka dari hasil perhitungan diatas yaitu 1250 kg/cm 2
memenuhi syarat dan AMAN.

30
B. Perhitungan Batang Penggerak

Bagian bagian yang akan dihitung pada connecting rod ditunjukan oleh
Gambar 2.1

Gambar 2.1 Connecting rod


(Petrovsky,1962 : 378 )

Connecting rod small end


a. Panjang small end bearing akibat beban full, dapat dicari dengan
menggunakan rumus ( Khovakh 1979 : 439 ).
bb = (0,40) Di
= 0,40 x 76,1 = 30,44 mm

b. Jarak antara sisi bagian dalam bush, dapat dicari dengan menggunakan
rumus ( Khovakh 1979 : 458 )
a = Lpp bb
= 6,088 - 3,044 = 3,044 mm
c. Bahan bush dari perunggu timah hitam, dengan :
Allowable stress (b) = 2 3,2 kg / mm2
Brinel Hardnes ( Hb ) = 40 80

d. Ketebalan bush :
tb d ex
= (0,08 0,085)

0,083 x 1,9786 cm 0,1642 cm

31
e. Clearence bush dengan pin piston, dapat dicari dengan menggunakan
rumus (Khovakh 1979 :467) :
d ex
= (0,00084- 0,015 )

= 0,007 x 1,9786 cm

= 0,01385 cm

f. Diameter luar bush


d bex d ex tb
= + (2 x )+

= 1,9786 cm + (2 x 0,1642 ) + 0,01385

= 2,445 cm

g. Jari jari luar bush


d hex
R = 2

2,445
= 2 = 1,22 cm

h. Radius luar small end ,dapat dicari dengan menggunakan rumus:


Ro = (1,2 1,3 ) x r
= 1,3 x 1,22 = 1,59 cm

i. Diameter small end :


Do
= 2 x Ro

2 x 1,59

3,18 cm

j. Volume small end bearing :


2
Vb d bex tb bb
= ( d bex -( -2 ) )

32
Vb
= 0,785 ( 2,3212 - (2,321- 0,3284)) 3,044

V b=0,785(5,98 1,9)3,044

Vb = 9,75 cm3

k. Berat small end bearing :


Wb = Vb x Bj
= 9,75 x 0,0044
= 0,0429 kg

l. Panjang connecting rod adalah jarak antara sumbu poros small end ke big
end, dapat dicari dengan menggunakan rumus ( Maleev, 1975 : 517 )
Lc = (4 4,475) . R ( R = . stroke piston)
= 4,5 . 1,755 = 7,8975 cm
4. Ketahanan terhadap lengkungan pada beban kritis untuk cast steel, dapat
dicari dengan menggunakan rumus ( Petrovsky : 380 )
Lc
Pcr
= (3350 6,2 x )

a. Total gaya connecting rod, dapat dicari dengan menggunakan rumus


( Petrovsky : 380 ):
p F d Pz
c
= =

Tegangan kompresi yang diijinkan untuk :


Karbon steel = 800 1200 kg / cm2
Alloy steel = 1200 1800 kg / cm2

b. Cross sectional area pada connecting rod, dapat dicari dengan


menggunakan rumus ( Petrovsky : 380 ).

33
p
(1370,1560,71)
= c = = 1,64 cm2
800

= J
= 110,57
1,64 = 8,21 cm

7,89
Pcr
= (3350 6,2 x 8,21 ) 1,64 = 5484,24 kg

5. Faktor keamanan untuk connecting rod, dapat dicari dengan menggunakan


rumus ( Petrovsky : 380 ).
Pcr 5484,24
Sc = Fd = 1370,15 = 4,00

Nilai faktor keamanan yang diijinkan untuk karbon steel 4 8, sehingga


connecting rod tersebut sangat AMAN digunakan.

6. Bending momen maksimum yaitu bending momen yang disebabkan oleh


gaya inersia transfersal yang terjadi ketika connecting rod pada posisi 90o,
dapat dicari dengan menggunakan rumus ( Petrovsky : 381 ) :
n
Mmax ( 1200 )2 Bj. R . . Lc

Dengan :
n = putaran poros maksimum = 3600 rpm
Bj = berat jenis karbon steel = 0,0078 kg / cm2

Maka :
8500
Mmax = ( 1200 )2 0,0078 x 1,755 x 1,64 x 7,8975 = 8,8943 kg.cm

7. Modulus penampang terkecil connecting rod


2 2
bb x d ex 3,044 x 1,9786
W = 6 = 6 = 1,986 cm3

34
8. Bending stress pada connecting rod, dapat dicari dengan menggunakan
rumus ( Petrovsky : 381 ):
M max 8,8943
b = W = 1,986 = 4,48 kg/cm2

Nilai yang diijinkan untuk bending stress pada connecting rod untuk putaran
tinggi = 150 200 kg / cm2, sehingga AMAN untuk digunakan

9. Jumlah tegangan akibat tekanan kompresi dan bending momen maksimum:


sum = b + c = 4,48 + 800 = 804,48 Kg/cm2

10. Connecting rod big end


a. Diameter crank pin, dapat dicari dengan menggunakan rumus ( Khovakh
1979 : 469 ) :
dcp = (0,66 0,68) Di = 0,67 x 7,61 = 5,0987 cm

b. Ketebalan big end bearing, dapat dicari dengan menggunakan rumus


( Khovakh 1979 : 470 ) :
tb2 = (0,03 0,05) x dcp = 0,04 x 5,0987 cm = 0,20 cm

c. Diameter clearance big end bearing terhadap crank pin dapat dicari
dengan menggunakan rumus ( Khovakh 1979 : 470 ) :
cp = ( 0,0005 0,001) x dcp = 0,0007 x 5,0987 = 0,0036 cm

d. Diameter luar big end bearing


Dbed = dcp + 2tb2 + cp = 5,0987 + 2. 0,20 + 0,0036
= 5,5023 cm

e. Diameter dalam big end bearing


Dinb = dcp + cp = 5,0987 + 0,0036 = 5,1023 cm

f. Diameter bagian luar big end

35
Dbixer = (1,2 1,3) Dbed = 1,3 . 5,1023 = 6,633cm

D. Perhitungan Pena Piston

Bahan yang akan digunakan pena piston direncanakan bahan baja paduan
( alloy steel ) menurut standar USSR (30M), (grade 5 steel). Ilustrasi
pembebanan pada pena piston dan dimensi pena piston ditunjukan oleh
gambar 1.3

Gambar 1.3 Ilustrasi pembebanan dan dimensi pena piston

1. Perhitungan Pena Piston ( Kovakh, 1979 : 459 )


dex = Diameter luar pen = 19,786 mm
din = Diameter dalam pen
din = dex . rd
Maka
Din = dex . rd
= 1,9786 x 0,791 = 1,56 cm
Lpp = Panjang pena piston
= 0,80 . Di
= 0,80 x 7,61 = 6,088 cm
bb = Jarak antara tengah-tengah piston pen

36
= Lpp/2 = 3,044 cm
Li = Jarak senter kedua boss
L PP +bb 6.088+ 3.044
= 2 = 2 = 4,566 cm

2. Momen bending maksimum yang terjadi ( Petrovsky, 1962:372) :


Px Li L
M max
= 2 ( 2 4

Dengan: P x
= gaya tekan maksimum


Pz 2
= 4 . D

2 2
= 18,2 x 0,785 x 7,61 = 827,39 kg/ cm

bb
L = = 3,044 cm

827,39 4,566 3,044


M amx
Maka : = 2 ( 2 4 )

2
= 629,64 kg/ cm

3. Tegangan bending yang terjadi


M max
b
= W

d ex d
4 4

Dengan : W = Momen tahanan = ( )


32 d ex

3,14 1,9678 21,562


= = 0,4
32 ( 1,9

629,64
b 2
Maka : = 0,4 = 1574,1 kg/ cm

Tegangan bending yang diijinkan = 1500 2300 Kg/cm, maka dari hasil
perhitungan diatas yaitu 1574,1 kg/cm2 memenuhi syarat dan AMAN.

37
4. Tegangan geser yang terjadi
Px
b
= 2f

2 2
Dengan : f = luasan melintang piston pin = 4 ( d ex d )

= 0,785 ( 1,96782 1,562)


= 0,785 . (3,87 2,43)
= 0,785 . 1,44
= 1,13
827,39 827,39
sh 2
Maka : = 2 .1,13 = 2,26 = 366,10 kg/ cm

Batas tegangan geser yang diijinkan 500kg/cm2, maka dari hasil


perhitungan diatas yaitu 366,10 kg/cm2 memenuhi syarat dan AMAN.

38
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam perancangan komponen harus melalui beberapa tahap


perancangan secara sistematis. Selain itu perancangan satu komponen harus
memperhatikan komponen yang lain, seperti misalnya dalam merancang
piston, perlu memperhatikan keamanan pada ring piston, batang piston, dan
pena piston karena dalam perhitungan hasilnya dapat sangat berpengaruh
terhadap perhitungan komponen lain.

Selain hal di atas, ketika dalam perancangan juga perlu


memperhatikan berapa batas angka tegangan yang diijinkan untuk keamanan
masing-masing komponen, angka tegangan tersebut bergantung pada: bahan
yang digunakan komponen, hasil perhitungan dari variable yang terkait,
pemilihan angka yang digunakan untuk mengasumsikan, dan juga jenis
tegangan yang dihasilkan.

39
DAFTAR PUSTAKA

Andersson, Peter, Tamminen, Jaana & Sandstrm, Carl-Erik. 2002. Piston Ring
Tribology. Helsinki: A literature survey, VTT Tiedotteita Research Notes 2178

Honda. Genuine Part & Accessories, Part catalogue. Diakses di www.honda


motor .co.id

Kovakh.,M., 1979. Motor Vehicle Engines. MIR Publisher: Moscow

Petrovsky., N. 1973. Marine Internal Combution Engine. MIR Publisher: Moscow

Toyota. Engine Group Step 2. P.T. Toyota-Astra Motor

40