Anda di halaman 1dari 20

Etika, Disiplin, dan Hukum Kedokteran dalam Tindakan Dokter

Lisa Sari
102012129
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat: Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510


__________________________________________________________________________________
Pendahuluan
Hubungan antara dokter dan pasien adalah hubungan yang berdasarkan kepercayaan.
Pasien harus merasa bebas dan aman mengungkapkan segala keluhan baik fisik maupun
mental bahkan rahasia pribadinya kepada dokter. Pasien harus percaya bahwa dokter tidak
akan menceritakan persoalan pribadinya kepada orang lain. Pasien menganggap bahwa
dokter yang lebih mengetahui tentang penyakitnya dan pasrah saja akan apa yang akan
dilakukan dokter terhadapnya.
Di dalam dunia ini, kita sering menemukan masalah dalam menentukan apakah
perbuatan yang kita lakukan itu baik atau buruk, benar atau salah. Apabila kita melakukan
sesuatu yang dianggap salah oleh masyarakat, seringkali tindakan kita tersebut dikatakan
tidak etis atau tidak sesuai dengan etika. Di dalam dunia profesi, tentunya sangat dibutuhkan
etika itu. Di dalam dunia kedokteran kita mengenal istilah etika kedokteran.

Pembahasan

Hubungan Dokter-Pasien
Jenis hubungan dokter-pasien sangat dipengaruhi oleh etik profesi kedokteran, sebagai
konsenkuensi dari kewajiban-kewajiban profesi yang memberian batasan atas atau rambu-
rambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip
moral profesi, yaitu autonomi (menghormati hak-hak pasien), beneficence (berorientasi
kepada kebaikan pasien), non maleficence (tidak mencelakakan atau memperburuk keadaan
pasien), dan justice (meniadakan diskriminasi) yang disebut sebagai prinsip utama; veracity
(kebenaran = truthfull information), fidelity (kesetiaan) privacy, dan confidentiality (menjaga
kerahasiaan) sebagai prinsip turunannya.

1
Komunikasi dokter pasien yang baik

Petunjuk Praktek Kedokteran yang baik komunikasi yang baik antara dokter pasien terkait
hak untuk mendapatkan informasi meliputi :

1 Mendengarkan keluhan, menggali informasi dan menghormati pandangan serta


kepercayaan pasien berkaitan dengan keluhannya.
2 Memberikan informasi yang diminta atau diperlukan tentang kondisi, diagnosis, terapi
dan prognosis pasien, serta rencana perawatannya dengan cara yang bijak dan bahasan
yang dimengerti pasien. Termasuk informasi tentang tujuan pengobatan, pilihan obat
yang diberikan, cara pemberian serta pengaturan dosis obat, dan kemungkinan efek
samping obat yang mungkin terjadi.
3 Memberikan informasi tentang pasien serta tindakan kedokteran yang dilakukan, kepada
keluarganya, setelah mendapat persetujuan pasien.
4 Jika seorang pasien mengalami kejadian yang tidak diharapkan selama dalam perawatan
dokter, dokter ysb atau penanggung jawab pelayanan kedokteran harus menjelaskan
keadaan yang terjadi akibat jangka pendek atau panjang dan renacana tindakan
kedokteran yang akan dilakukan secara jujur dan lengkap serta memberikan empati.
5 Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan, harus mendapat persetujuan psien karena
pada prinsipnya yang berhak memberikan persetujuan dan penolakan tindakan medis
adalah pasien yang bersangkutan.

Aspek Etika Kedokteran


Beauchamp dan Childress1 menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik
diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa rules dibawahnya. Ke -4
kaidah dasar moral tersebut adalah :
1 Prinsip otonomi
Dalam semua proses pengambilan keputusan, dianggap bahwa keputusan yang dibuat
setelah mendapatkan penjelasan itu dibuat secara sukarela dan berdasarkan pemikiran
rasional. Di dalam dunia kedokteran, dokter menghargai otonomi pasien berarti bahwa
si pasien atau klien mempunyai kemampuan untuk berlaku atau bertindak secara sadar
dan intensional, dengan pengertian penuh, dan tanpa pengaruh-pengaruh yang bisa
menghilangkan kebebasannya.
2 Prinsip beneficence
Kewajiban petugas kesehatan untuk memberikan kemaslahatan, kebaikan, kegunaan,
benefit bagi pasien, dan juga untuk mengambil langkah positip mencegah dan
menghilangkan kecederaan dari pasien.

2
3 Prinsip non-maleficence
Di dalam prinsip ini, dokter tidak boleh secara sengaja menyebabkan perburukan atau
cedera pada pasien, baik akibat tindakan (commission) atau tidak dilakukannya
tindakan (omission). Dalam bahasa sehari-hari: Akan dianggap lalai apabila seseorang
memaparkan risiko atau cedera yang tidak layak (unreasonable) kepada orang lain.
Standar perawatan yang meminimalkan risiko cedera atau perburukan merupakan hal
yang diinginkan masyarakat secara common sense.
4 Prinsip justice
Keadilan di dalam pelayanan dan riset kesehatan digambarkan sebagai kesamaan hak
bagi pasien-pasien dengan kondisi yang sama. Di dalam informed consent, penjelasan
bagi pasien harus diberikan sampai dengan pengobatan yang mungkin saja tidak
terjangkau atau tidak dilindungi pihak asuransinya.

Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)


Pasal 8 : Profesionalisme
Seorang dokter wajib, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan secara
berkompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.2
Cakupan pasal :

1 Seorang dokter yang akan menjalankan praktek wajib memiliki kompetensi dan
kewenangan sesuai ketentuan yang berlaku sebagai prasyarat sekaligus kesinambungan
profesionalisme.
2 Setiap dokter seharusnya menyadari bahwa penyimpangan etika sudah dimulai sejak
dirinya menjadi dokter bermasalah.
Setiap dokter bermasalah wajib memahami bahwa kekurangan tanggungjawab dirinya
berpeluang menjadi konflik etikolegal dnegan teman sejawat sesame professional di
fasilitas pelayanan kesehatan.
Pasal 19 : Pindah Pengobatan

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan keduanya atau berdasarkan prosedur yang etis.

Cakupan pasal:

3
1 Setiap dokter dalam rangka menarik pasien, wajib untuk tidak membuat renggang situasi
dan kondisi hubungan dokter-pasien dari sejawatnya tersebut.
2 Setiap dokter wajib, apabila indikasi medis pasien memerlukan, berkomunikasi dengan
teman sejawat yang terlibat merawat pasien yang sama, dengan cara harus saling
menghormati kerahasiaan pasien dan bertukar infomrasi sebata hanya pada informasi yang
benar-benar seperlunya.
3 Setiap dokter wajib mengingatkan sejawat yang terlihat tengah abai terhadap pasiennya,
tanpa keinginan untuk mengambil alih perawatan pasien tersebut.
4 Setiap dokter wajib menghormati pengetahuan pasien yang ia peroleh sebelumnya secara
aktif dari sumber terbuka public, termasuk internet, buku popular, dan informasi public
lainnya. Bila terdapat kekeliruan pemahaman, dokter dengan sabar, arif dan ahti-hati wajib
meluruskannya.
5 Pemberitahuan mengenai pengalihan pasien (karena suatu sebab baik atas kehendak pasien
maupun kehendak dokter) dapat diinormasikan/ ditulis dalam rekam medic pasien, atau
melalui teknologi informasi telepin, fax, email, dll).
6 Dalam menghormati hak-hak pasien sebagai bagian dari Hak Azasi Manusia, dokter wajib
memberi kesempatan pasien untuk second opinion, apabila ada alas an tertentu atau
keluhan sakit belum berkurang dan penjelasan dari dokter pertama dianggap kurang
memadai, dengan risiko pasien akan pindah rawat ke dokter kedua, tidak melanggar etik
atau merebut pasien, sejauh hal tersebut urni kehendak pasien.

Aspek Hukum Kedokteran

Dalam sejarahnya, informed consent berakar pada banyak disiplin ilmu pengetahuan,
termasuk dalam ilmu kesehatan atau kedokteran, ilmu hukum, ilmu perilaku sosial, dan ilmu
filsafat moral/etika. Belakangan ini, bidang ilmu yang sangat berpengaruh dalam hal
informed consent adalah ilmu hukum dan ilmu filsafat moral atau filsafat etika. Kedua
disiplin ilmu ini, keduanya dengan metoda dan objektifnya tersendiri, mempunyai fungsi
sosial dan intelektual yang berbeda.

Hukum memfokuskan diri terutama pada konteks klinis, tidak pada riset. Dalam kacamata
hukum, dokter mempunyai kewajiban untuk pertama memberi informasi kepada pasiennya
dan kedua untuk mendapatkan izinnya. Apabila seorang pasien cedera akibat dokter lalai
dengan tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai suatu pengobatan atau tindakan,
maka pasien dapat menerima kompensasi finansial dari si dokter karena telah menyebabkan
cedera tersebut. Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa tindakan

4
medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga
tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukun perdata, hukum pidana
maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan.

Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang
digunakan adalah kesalahan kecil (culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam
tindakan medis yang merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan
pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara umum
berlaku adagium barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti
rugi.Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah
kesalahan berat (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada
pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan
sanksi pidana.

Aspek Hukum Perdata, suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa tindakan
medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien),
sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka
dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah melakukan
suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 Kitab
Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Hal ini karena pasien mempunyai hak atas
tubuhnya, sehingga dokter dan harus menghormatinya.

Aspek Hukum Pidana, informed consent mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan. Suatu tindakan
invasive (misalnya pembedahan, tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa
tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis
dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan
pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.

Dari segi filsafat etika, informed consent terutama menyangkut pilihan secara otonomi
dari pasien dan subyek penelitian. Secara sederhana kita bisa menyingkat kedua pendekatan
ini sebagai berikut: Pendekatan hukum datang dari teori pragmatis. Pasien mempunyai hak
untuk memberi izin atau menolak, akan tetapi fokusnya adalah pada dokter, yang mempunyai
kewajiban dan mempunyai risiko membayar ganti rugi apabila tidak melaksanakan
kewajibannya. Pendekatan filsafat moral atau etika datang dari prinsip menghargai otonomi,

5
dan fokusnya adalah pada pasien atau subyek, yang mempunyai hak untuk membuat pilihan
secara otonomi.

Informed Consent3
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat
penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi
izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan
setelah mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai
persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan, petugas medis harus terlebih dahulu
memberikan informed consent kepada pasien. Informed consent berasal dari hak legal dan
etis individu untuk memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya, dan kewajiban
etik dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meyakinkan individu yang bersangkutan
untuk membuat keputusan tentang pelayanan kesehatan terhadap diri mereka sendiri.
Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan pasal 22 ayat 1 disebutkan bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam
melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk diantaranya adalah kewajiban untuk
menghormati hak pasien, memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan
yang akan dilakukan, dan kewajiban untuk meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan
dilakukan.

Ruang Lingkup Informed Consent4

Ruang lingkup dan materi informasi yang diberikan tergantung pada pengetahuan medis
pasien saat itu. Jika memungkinkan, pasien juga diberitahu mengenai tanggung jawab orang
lain yang berperan serta dalam pengobatan pasien.

Pasien memiliki hak atas informasi tentang kecurigaan dokter akan adanya penyakit
tertentu walaupun hasil pemeriksaan yang telah dilakukan inkonklusif. Hak-hak pasien
dalam pemberian inform consent adalah:

6
o Hak atas informasi
Informasi yang diberikan meliputi diagnosis penyakit yang diderita, tindakan medik
apa yang hendak dilakukan, kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut
dan tindakan untuk mengatasinya, alternatif terapi lainnya, prognosanya, perkiraan
biaya pengobatan.
o Hak atas persetujuan (consent)
Consent merupakan suatu tindakan atau aksi beralasan yg diberikan tanpa paksaan
oleh seseorang yang memiliki pengetahuan cukup tentang keputusan yang ia
berikan ,dimana orang tersebut secara hukum mampu memberikan consent.
Kriteria consent yang syah yaitu tertulis, ditandatangani oleh klien atau orang yang
betanggung jawab, hanya ada salah satu prosedur yang tepat dilakukan, memenuhi
beberapa elemen penting, penjelasan tentang kondisi, prosedur dan konsekuensinya.
Dalam Pasal 45 UU No. 29 Tahun 2009 tentang Persetujuan Tindakan Medik dinyatakan
bahwa dokter harus menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pasien atau keluarga
diminta atau tidak diminta, jadi informasi harus disampaikan.
Secara garis besar dalam melakukan tindakan medis pada pasien, dokter harus menjelaskan
beberapa hal, yaitu :

a Diagnosis
b Tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang ada dilakukan (purhate
of medical procedure)
c Tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan (consenpleated medical
procedure)
d Tentang risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
e Tentang alternatif tindakan medis lain yang tersedia dan risiko-risikonya (alternative
medical procedure and risk)
f Tentang prognosis penyakit, bila tindakan dilakukan

Ketiadaan informed consent dapat menyebabkan tindakan malpraktek dokter, khususnya


bila terjadi kerugian atau intervensi terhadap tubuh pasiennya. Hukum yang umum diberbagai
Negara menyatakan bahwa akibat dari ketiadaan informed consent setara dengan
kelalaian/keteledoran. Akan tetapi, dalam beberapa hal, ketiadaan informed consent tersebut
setara dengan perbuatan kesengajaan, sehingga derajat kesalahan dokter pelaku tindakan
tersebut lebih tinggi.

Aspek Disiplin Medis Kedokteran

Bentuk Pelanggaran Disiplin Kedokteran :5

7
1 Melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten
Dalam menjalankan asuhan klinis kepada pasien, tenaga medik harus bekerja dalam
batas-batas kompetensinya, baik dalam penegakkan diagnosis maupun dalam
penatalaksanaan pasien
2 Tidak merujuk pasien kepada tenaga medik lain yang memiliki kompetensi sesuai.
a Dalam menangani penyakit atau kondisi pasien diluar kompetensinya (karena
keterbatasan pengetahuan, ketrampilan ataupun peralatan yang tersedia), maka
dokter atau dokter gigi wajib menawarkan kepada pasien untuk dirujuk atau
dikonsultasikan kepada dokter atau dokter gigi lain atau sarana pelayanan
kesehatan lain yang lebih sesuai.
b Upaya perujukan tidak dilakukan pada keadaan-keadaan antara lain :
Sifat sakit pasien tidak memungkinkan untuk dirujuk
Keberadaan tenaga medik lain dan atau sarana kesehatan yang lebih
tepat sulit dijangkau
Atas kehendak pasien
3 Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki
kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
a Dokter atau dokter gigi dapat mendelegasikan tindakan atau prosedur
kedokteran tertentu kepada tenaga kesehatan tertentu yang sesuai dengan
ruang lingkup ketrampilan mereka.
b Dokter harus yakin bahwa tenaga kesehatan yang menerima pendelegasian
memiliki kompetensi untuk itu.
c Dokter tetap bertanggung jawab atas penatalaksanaan pasien tersebut.
4 Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti yang tidak memiliki kompetensi dan
kewenangan yang sesuai atau tidak memberitahukan penggantian tersebut;
a Bila dokter berhalangan menjalankan praktik kedokteran, maka dapat
menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti yang memiliki kompetensi
sama dan memiliki SIP.
b Dalam kondisi keterbatasan tenaga dokter/dokter gigi dalam bidang tertentu
sehingga tidak memungkinkan tersedianya dokter/dokter gigi pengganti yang
memiliki kompetensi yang sama, maka dapat disediakan dokter/dokter gigi
pengganti lainnya.
c SIP dokter atau dokter gigi pengganti tidak harus SIP di tempat yang harus
digantikan.
d Ketidakhadiran dokter bersangkutan dan kehadiran dokter atau dokter gigi
pengganti pada saat dokter berhalangan praktik, harus diinformasikan kepada
pasien.
5 Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun mental
sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan pasien;

8
a Dalam melaksanakan praktik, tenaga medik yang mengalami gangguan
kesehatan fisik atau mental tertentu dapat dinyatakan tidak kompeten (unfit to
practice) karena dapat membahayakan pasien.
b Dokter bersangkutan baru dapat dibenarkan untuk kembali melakukan praktik
kedokteran/kedokteran gigi bilamana kesehatan fisik maupun mentalnya telah
pulih untuk praktik (fit to practice).
c Pernyatakan layak atau tidak layak untuk melaksanakan praktik kedokteran
dilakukan oleh komite kesehatan yang dibentuk KKI. (diskusi dan usulan
utk KKI)
6 Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau
tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab
profesionalnya, tanpa alasan pembenar atau pemaaf yang sah, sehingga dapat
membahayakan pasien.
Dokter atau dokter gigi wajib melakukan penatalaksanaan pasien dengan teliti, tepat,
hati-hati, etis dan penuh kepedulian dalam hal-hal sebagai berikut:
a Anamnesis, pemeriksaan fisik dan mental, bilamana perlu pemeriksaan
penunjang diagnostik
b Penilaian riwayat penyakit, gejala dan tanda-tanda pada kondisi pasien.

c Tindakan dan pengobatan secara professional

d Tindakan yang tepat dan cepat terhadap keadaan yang memerlukan intervensi
kedokteran.

e Kesiapan untuk berkonsultasi pada sejawat yang sesuai, bilamana diperlukan

7 Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuai dengan


kebutuhan pasien

a Dokter atau dokter gigi melakukan pemeriksaan atau pemberian terapi,


ditujukan hanya untuk kebutuhan medik pasien.

b Pemeriksaan atau pemberian terapi yang berlebihan, dapat membebani pasien


dari segi biaya maupun kenyamanan dan bahkan dapat menimbulkan bahaya
bagi pasien.

9
8 Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis dan memadai (adequate information)
kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan praktik kedokteran

a Pasien mempunyai hak atas informasi tentang kesehatannya (the right to


information), dan oleh karenanya, dokter wajib memberikan informasi dengan
bahasa yang dipahami oleh pasien atau penterjemahnya, kecuali bila informasi
tersebut dapat membahayakan kesehatan pasien.

b Informasi yang berkaitan dengan tindakan medik yang akan dilakukan


meliputi: diagnosis medik, tata cara tindakan medik, tujuan tindakan medik,
alternatif tindakan medik lain, risiko tindakan medik, komplikasi yang
mungkin terjadi serta prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.

c Pasien juga berhak memperoleh informasi tentang biaya pelayanan kesehatan


yang akan dijalaninya.

d Keluarga pasien berhak memperoleh informasi tentang sebab-sebab terjadinya


kematian pasien, kecuali atas kehendak pasien

9 Melakukan tindakan medik tanpa memperoleh persetujuan dari pasien atau keluarga
dekat atau wali atau pengampunya.

a Setelah menerima informasi yang cukup dari dokter dan memahami maknanya
(well informed) sehingga pasien dapat mengambil keputusan bagi dirinya
sendiri (the right to self determination) untuk menyetujui (consent) atau
menolak (refuse) tindakan medik yang akan dilakukan dokter kepadanya.

b Setiap tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien, mensyaratkan


persetujuan (otorisasi) dari pasien yang bersangkutan. Dalam kondisi dimana
pasien tidak dapat memberikan persetujuan secara pribadi (dibawah umur atau
keadaan fisik/mental tidak memungkinkan), maka persetujuan dapat diberikan
oleh keluarga terdekat (suami/istri, bapak/ibu, anak atau saudara kandung)
atau wali atau pengampunya (proxy).

c Persetujuan tindakan medik (informed consent) dapat dinyatakan secara


tertulis atau lisan, termasuk dengan menggunakan bahasa tubuh. Setiap

10
tindakan medik yang mempunyai risiko tinggi mensyaratkan persetujuan
tertulis.

d Dalam kondisi dimana pasien tidak memberikan persetujuan dan tidak


memiliki pendamping, maka dengan tujuan untuk penyelamatan atau
mencegah kecacatan pasien yang berada dalam keadaan darurat, tindakan
medik dapat dilakukan tanpa persetujuan pasien.

e Dalam hal tindakan medik yang menyangkut kesehatan reproduksi persetujuan


harus dari pihak suami/istri.

f Dalam hal tindakan medik yang menyangkut kepentingan publik (antara lain
imunisasi massal, wabah dan lain-lain) tidak diperlukan persetujuan medis.

10 Dengan sengaja, tidak membuat atau menyimpan rekam medik sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan atau etika profesi.

a Dalam melaksanakan praktik kedokteran, tenaga medik wajib membuat rekam


medik secara benar dan lengkap serta menyimpan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

b Dalam hal dokter berpraktik di sarana pelayanan kesehatan, maka


penyimpanan rekam medik merupakan tanggung jawab sarana pelayanan
kesehatan yang bersangkutan

11 Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yang tidak


sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
dan etika profesi

a Penghentian (terminasi) kehamilan hanya dapat dilakukan atas indikasi medik


yang mengharuskan tindakan tersebut.

b Penentuan tindakan penghentian kehamilan pada pasien tertentu yang


mengorbankan nyawa janinnya, dilakukan oleh setidaknya dua orang dokter.

11
12 Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan
sendiri dan atau keluarganya, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan dan etika profesi.

a Setiap dokter tidak dibenarkan melakukan perbuatan yang bertujuan


mengakhiri kehidupan manusia, karena selain bertentangan dengan sumpah
kedokteran dan atau etika kedokteran dan atau tujuan profesi kedokteran, juga
bertentangan dengan aturan hukum pidana.

b Pada kondisi sakit mencapai keadaan terminal, dimana upaya kedokteran


kepada pasien merupakan kesia-siaan (futile) menurut state of the art (SOTA)
ilmu kedokteran, maka dengan persetujuan pasien dan atau keluarga dekatnya,
dokter dapat menghentikan pengobatan, akan tetapi tetap memberikan
perawatan (ordinary care). Dalam keadaan tersebut, dokter dianjurkan untuk
berkonsultasi dengan sejawatnya atau komite etik rumah sakit bersangkutan.

13 Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan pengetahuan atau ketrampilan


atau teknologi yang belum diterima atau diluar tatacara praktik kedokteran yang
layak.

a Dalam rangka menjaga keselamatan pasien, setiap dokter dan dokter gigi
wajib menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan tata cara praktik
kedokteran yang telah diterima oleh profesi kedokteran.

b Setiap pengetahuan, ketrampilan dan tata cara baru harus melalui penelitian /
uji klinik tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

14 Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran dengan manusia sebagai subjek


penelitian tanpa persetujuan etik (ethical clearance).

Dalam praktik kedokteran dimungkinkan untuk menggunakan pasien atau klien


sebagai subjek penelitian asal mendapat ethical clearance dari komisi etik penelitian.

15 Tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal tidak


membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan
mampu melakukannya.

12
a Menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan adalah kewajiban yang
mendasar bagi setiap manusia, khususnya bagi dokter atau dokter gigi di
sarana pelayanan kesehatan.

b Kewajiban tersebut dapat diabaikan apabila membahayakan dirinya atau


apabila telah ada individu lain yang mau dan mampu melakukannya atau
karena ada ketentuan lain yang telah diatur oleh sarana pelayanan kesehatan
tertentu.

16 Menolak atau menghentikan tindakan pengobatan terhadap pasien tanpa alasan yang
layak dan sah sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan atau etika
profesi.

a Tugas profesional medik adalah melakukan pelayanan kesehatan terhadap


pasien secara tuntas.

b Beberapa alasan yang dibenarkan bagi dokter untuk menolak atau mengakhiri
pelayanan kepada pasiennya (memutuskan hubungan dokter pasien) :

Pasien melakukan intimidasi terhadap dokter/dokter gigi

Pasien melakukan kekerasan terhadap dokter/dokter gigi

Pasien berperilaku merusak hubungan saling percaya tanpa


alasan.Dalam hal diatas dokter wajib memberitahukan secara lisan
atau tertulis kepada pasiennya dan menjamin kelangsungan
pengobatan pasien dengan cara merujuk dan menyertakan keterangan
medisnya.

c Dokter tidak boleh melakukan penolakan atau memutuskan hubungan dokter


pasien terapeutik semata-mata karena keluhan pasien (complaint), alasan
finansial, suku, ras, jender, politik, agama dan kepercayaan.

17 Membuka rahasia kedokteran sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-


undangan atau etika profesi.

13
a Dokter atau dokter gigi wajib menjaga rahasia pasiennya. Bila dipandang
perlu untuk menyampaikan informasi tanpa persetujuan pasien atau
keluarga, maka dokter tersebut harus mempunyai alasan pembenaran.

b Alasan pembenaran yang dimaksud adalah:

Permintaan Majelis Pemeriksa MKDKI

Permintaan Majelis Hakim Sidang Pengadilan; dan

Sesuai dengan peraturan perundang-undangan

18 Membuat keterangan medis yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan yang
diketahuinya secara benar dan patut.

a Profesional medik harus jujur dan dapat dipercaya dalam memberikan


keterangan medik baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

b Tenaga medik tidak dibenarkan membuat atau memberikan keterangan palsu.

c Dalam hal membuat keterangan medik berbentuk tulisan (hardcopy), dokter


wajib membaca secara teliti setiap dokumen yang akan ditanda tangani, agar
tidak terjadi kesalahan penjelasan yang dapat menyesatkan.

19 Turut serta di dalam perbuatan yang termasuk ke dalam tindakan penyiksaan


(torture) atau eksekusi hukuman mati.

Prinsip tugas mulia seorang profesional medik adalah memelihara kesehatan fisik,
mental dan sosial penerima jasa pelayanan kesehatan. Oleh karenanya, seorang
profesional medik tidak dibenarkan turut serta dalam pelaksanaan tindakan yang
bertentangan dengan tugas tersebut termasuk tindakan penyiksaan atau pelaksanaan
hukuman mati.

20 Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika dan zat adiktif
lainnya (NAPZA) yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan
etika profesi.

14
Dokter dibenarkan memberikan obat golongan narkotika, psikotropika dan zat
adiktif lainnya sepanjang sesuai dengan indikasi medis dan peraturan perundang-
undangan.

21 Melakukan pelecehan seksual atau tindakan intimidasi atau tindakan kekerasan


terhadap pasien; Penjelasan: Seorang profesional medik tidak boleh menggunakan
hubungan personal (seperti hubungan seks atau emosional) yang merusak hubungan
dokter pasien.

22 Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya.

Dalam melaksanakan hubungan dokter-pasien, seorang dokter/dokter gigi hanya


dibenarkan menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi sesuai dengan
kemampuan, kewenangan dan ketentuan perundang-undangan. Penggunaan gelar
dan sebutan lain yang tidak sesuai, dinilai dapat menyesatkan masyarakat pengguna
jasa pelayanan kesehatan.

23 Menerima imbalan sebagai hasil dari rujukan atau permintaan pemeriksaan atau
pemberian resep obat/ alat kesehatan.

Dalam melakukan rujukan (pasien, laboratorium, teknologi) kepada dokter lain/


sarana penunjang lain, atau pembuatan resep/ pemberian obat, seorang dokter/dokter
gigi hanya dibenarkan bekerja untuk kepentingan pasien. Oleh karenanya, dokter
tidak dibenarkan meminta atau menerima imbalan jasa diluar ketentuan etika
profesi yang dapat mempengaruhi indepedensi dokter (kick-back atau fee-splitting).

24 Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan kemampuan/ pelayanan yang


dimiliki, baik lisan ataupun tulisan, yang bertentangan dengan etika profesi.

Masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan medik, membutuhkan informasi


tentang kemampuan/pelayanan seorang dokter/dokter gigi untuk kepentingan
pengobatan dan rujukan. Oleh karenanya, profesional medik hanya dibenarkan
memberikan informasi yang memenuhi ketentuan umum yakni: sah, patut, jujur,
akurat dan dapat dipercaya.

15
25 Ketergantungan pada narkotika, psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya.
Penggunaan narkotika, psikotropika, alkohol serta zat adiktif lainnya (NAPZA)
dapat menurunkan kemampuan seorang dokter/dokter gigi sehingga berpotensi
membahayakan pengguna pelayanan medik.

26 Berpraktik dengan menggunakan STR atau SIP dan/atau sertifikat kompetensi yang
tidak sah.

Seorang dokter/dokter gigi yang diduga memiliki STR dan atau SIP dengan
menggunakan persyaratan yang tidak sah dapat diajukan ke MKDKI. Apabila
terbukti pelanggaran tersebut maka STR akan dicabut oleh Konsil Kedokteran
Indonesia.

27 Ketidak jujuran dalam bertransaksi dengan pasien dalam memberikan pelayanan


medik.

Dokter/dokter gigi harus jujur meminta imbalan jasa sesuai dengan tindakan yang
dilakukan.

28 Dikenai hukuman pidana yang telah berkekuatan tetap atas perbuatan pidana yang
berkaitan dengan keluhuran/martabat profesi kedokteran atau disiplin profesi atau
etika profesi.

MKDKI dapat memperoleh informasi dari instansi resmi maupun dari media massa.
Berdasarkan hal tersebut KKI secara aktif meminta amar keputusan.

MKDKI ( Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia)

MKDKI merupakan lembaga otonom dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang dalam
menjalankan tugasnya bersifat independen

Tujuan penegakan disiplin adalah :

1 Memberikan perlindungan kepada pasien.


2 Menjaga mutu dokter / dokter gigi.
3 Menjaga kehormatan profesi kedokteran / kedokteran gigi.

16
MKDKI adalah lembaga yang berwenang untuk :

1 Menentukan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter dan dokter gigi dalam
penerapan disiplin ilmu kedokteran dan kedokteran gigi.
2 Menetapkan sanksi disiplin.

Tugas MKDKI :

1 Menerima pengaduan, memeriksa, dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter


dan dokter gigi yang diajukan; dan
2 Menyusun pedoman dan tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter atau
dokter gigi (sesuai dengan Pasal 4)

Anggota MKDKI terdiri dari dokter, dokter gigi, dan sarjana hukum.

Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MKDKI berdasarkan Undang- undang No.
29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada Pasal 69 ayat (3) adalah :5

a Pemberian peringatan tertulis

b Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik; dan/atau

c Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran


atau kedokteran gigi.

Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin Praktik yang
dimaksud dapat berupa Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat Izin
Praktik sementara selama-lamanya 1 (satu) tahun, atau Rekomendasi pencabutan Surat Tanda
Registrasi atau Surat Izin Praktik tetap atau selamannya;Kewajiban mengikuti pendidikan
atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi yang dimaksud dapat
berupa: a) Pendidikan formal, b) Pelatihan dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang
di institusi pendidikan atau sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau sarana pelayanan
kesehatan yang ditunjuk, sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.

17
Kelalaian Medik

Dalam beberapa tahun terakhir kasus penuntutan terhadap dokter atas dugaan adanya
kelalaian medis ataupun malparktek medis tercatat meningkat dibandingkan dengan tahun-
tahun sebelumnya.
Malpraktek Medis
Blacks Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai professional misconduct or
unreasonable lack of skill atau failure of one rendering professional services to exercise
that degree of skill and learning commonly applied under all thecircumstances in the
community by the average prudent reputable member of the profession with thw result of the
injury, loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon
them
Dari segi hukum, di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik
dapat terjadi karena tindakan yang disengaja seperti pada misconduct tertentu, tindakan
kelalaian, ataupun suatu kekurangan-mahiran/ ketidak-kompeten ang tidak beralasan.
Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk
pelanggaran ketentuan etik, ketentuan disiplin profesi, hukum administrasitif, serta hukum
pidana dan perdata, seperti melakukan kesenagajaan yang merugikan pasien, fraud,
penahanan pasien, pelanggaran wajib simpan rahasia kedokteran, aborsi illegal, euthanasia,
penyerangan seksual, misrepresentasi atau fraud, leterangan palsu, menggunakan iptekdok
yang belum teruji/diterima, berpraktek tanpa SIP, berpraktek di luar kompetensinnya, sengaja
melanggar standar, dll.

Pengertian dan syarat kelalaian medik


Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang melakukan sesuatu yang seharusnya
tidak dilakukan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang lain
yang memlii kualifikasi yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama.
Pengertian istilah kelalaian medic tersirat dari pegertian malpraktek medis menurut World
Medical Association (WMA), yaitu : medical malpractice involves the physicians failure to
conform to the standard of the care for the treatment of the patients condition, or lack of the
skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to
the patient.
WMA mengatakan pula bahwa tidak semua kegagalan medis adalah akibat malpraktek
medis. Suatu peristiwa buruk yang tidak dapat diduga sebelumnya (unforeseeable) yang

18
terjadi saat dilakukan tindakan medis yang sesuai standar tetapi mengakibatkan cedera pada
pasien tidak termasuk ke dalam pengertian malpraktek.
Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk, yaitu malfeasance, misfeasance dan nonfeasance.
Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak
(unlawful atau improper), misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai
(pilihan tindakan medis tersebut sudah improper). Misfeasance berarti melakukan pilihan
tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance),
yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur. Nonfeasance adalah
tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. Bentuk-bentuk
kelalaian di atas sejalan dengan bentuk-bentuk error (mistakes, slips and lapses) yang telah
diuraikan sebelumnya, namun pada kelalaian harus memenuhi ke-empat unsur kelalaian
dalam hukum - khususnya adanya kerugian, sedangkan error tidak selalu mengakibatkan
kerugian. Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung menimbulkan
dampak buruk
Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis, sekaligus merupakan
bentuk malpraktik medis yang paling sering terjadi. Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila
seseorang dengan tidak sengaja, melakukan sesuatu (komisi) yang seharusnya tidak
dilakukan atau tidak melakukan sesuatu (omisi) yang seharusnya dilakukan oleh orang lain
yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama. Perlu diingat
bahwa pada umumnya kelalaian yang dilakukan orang-per-orang bukanlah merupakan
perbuatan yang dapat dihukum, kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya
(berdasarkan sifat profesinya) bertindak hati-hati, dan telah mengakibatkan kerugian atau
cedera bagi orang lain.
Di dalam setiap profesi termasuk profesi tenaga kesehatan berlaku norma etika dan norma
hukum. Oleh sebab itu apabila timbul dugaan adanya kesalahan praktek sudah seharusnyalah
diukur atau dilihat dari sudut pandang kedua norma tersebut. Kesalahan dari sudut pandang
etika disebut ethical malpractice dan dari sudut pandang hukum disebut yuridical malpractice.
Hal ini perlu difahami mengingat dalam profesi tenaga perawatan berlaku norma etika dan
norma hukum, sehingga apabila ada kesalahan praktek perlu dilihat domain apa yang
dilanggar. Karena antara etika dan hukum ada perbedaan-perbedaan yang mendasar
menyangkut substansi, otoritas, tujuan dan sangsi, maka ukuran normatif yang dipakai untuk
menentukan adanya ethical malpractice atau yuridical malpractice dengan sendirinya juga
berbeda.6

19
Kesimpulan

Setiap tenaga kesehatan mempunyai kode etik dalam pelaksanaan tugasnya. Setiap pelanggaran
etik yang dilakukan dapat dikenakan sanksi berupa tuntutan. Dan dalam setiap tindakan yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan baik perawat, bidan maupun dokter harus mencari tahu terlebih
dahulu permasalahan yang terjadi sehingga kita sebagai tenaga kesehatan tidak gegabah dalam
melakukan tindakan yang akan di lakukan sehingga tidak membuat kesalahan.
Pada kasus ini, diperlukan keahlian dan pengetahuan kita dalam memberitahukan hasil dari
pemeriksaan. Karena hak pasien yang pertama adalah hak atas informasi. Dalam UU No 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan, pasal 53 dengan jelas dikatakan bahwa hak pasien adalah hak atas informasi
dan hak memberikan persetujuan tindakan medik atas dasar informasi (informed consent). Sehingga
dapat disimpulkan pada kasus ini dr.P melanggar etika dan hukum kedokteran.

Daftar Pustaka

1 Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TW. Bioetik dan hukum kedokteran. Jakarta. Erlangga;
2007. h. 31-2
2 Pengurus Besar IDI. Kode Etik Kedokteran Indonesia. Jakarta ; 2012. h.31
3 Chang, William. Bioetika sebuah pengantar. Yogyakarta : Kanisius, 2009.h. 13-16.
4 J. Guwandi. Informed consent. Jakarta : FKUI, 2004.h. 135-7
5 Haryani S. Sengketa medik: alternatif penyelesaian antara dokter dengan pasien. Jakarta:
Diadit Media; 2005.h.10.
6 Jacobalis,Samsi. Perkembangan ilmu kedokteran, etika medis, dan Bioetika. Jakarta :
Sagung Seto, 2005. Hal 228, 238-40.

20