Anda di halaman 1dari 13

MENGORBANKAN EGOISME DAN EGOSENTRIS

Oleh M. Amien Rais

Dalam ajaran Islam, kaum muslimin mengenal dua hari besar, yakni Idul
Adha dan Idul Fitri. Dua hari besar keagamaan tersebut memang dirayakan oleh
umat Islam di seluruh dunia tanpa terkecuali. Sementara itu, hari besar Islam
versi Indonesia yang berupa Hari Nuzulul Quran, Isra Mikraj, serta Maulid Nabi
tidak serempak dan seuniversal dirayakan umat Islam di tempat lain.
Tapi, Idul Adha dan Idul Fitri, dari Maroko sampai Merauke, memang
dijadikan dua hari besar keagamaan yang landasannya ada dalam ajaran Islam.
Nah, berkaitan dengan Idul Adha, yang sering disebut Hari Raya Kurban,
kita semestinya bisa mengambil hikmah yang paling mendalam. Ternyata,
pengabdian kita kepada Allah SWT, pada satu sisi, harus diwujudkan dengan
kesanggupan atau kesiapan kita untuk berkurban.
Tampaknya, ada korelasi positif antara iman seseorang dan kesanggupan
berkurban. Kalau ada orang yang mengaku beriman tapi tidak sanggup berkurban
sedikit pun untuk kemaslahatan orang banyak, keimanan orang tersebut memang
perlu diragukan. Kalau ada orang beriman tapi tidak pernah berderma dan tidak
pernah berbuat kebajikan secuil pun untuk masyarakat manusia, jelas imannya
itu adalah iman aspal [asli tapi palsu].
Nah, dalam kaitan pengorbanan ini, Allah telah memberikan pelajaran
puncak bagaimana seseorang yang beriman kepada-Nya selalu diuji bahkan
diminta untuk membuat berbagai macam pengorbanan-pengorbanan yang hasil
sesungguhnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan serta stabilitas
masyarakat itu sendiri.
Ada satu interpretasi yang banyak diikuti para ulama. Ketika kita
menyembelih hewan kurban, sesungguhnya yang kita sembelih adalah perwatakan
binatang yang tidak semestinya hinggap dalam diri anak cucu Adam. Selain itu,
ketika menyembelih hewan kurban tersebut, seperti disebutkan dalam Al-Quran,
intinya bukanlah darah dan daging hewan kurban, tapi rasa takwa yang dimiliki
kaum beriman yang telah berkurban tersebut.
Lebih dari itu, kita segera memahami bahwa spirit Idul Kurban itu adalah
spirit orang beriman untuk setiap waktu dan di mana saja memberikan
pengorbanan-pengorbanan secara tulus serta spontan untuk kebahagiaan
masyarakat. Jadi, sesungguhnya, pengorbanan seseorang beriman tersebut hampir
tidak terbatas. Pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga, pengorbanan harta
benda, pengorbanan uang, dan pengorbanan segala yang dimiliki untuk
kesejahteraan masyarakat luas tersebut sesungguhnya merupakan pengorbanan
sejati.
Karena itu, dengan merayakan Hari Raya Kurban, marilah kita meresapi
hakikat dan makna terdalam ajaran Islam agar kaum beriman tidak menjadi kaum
bakhil dan kedekut, yakni menjadi kaum yang kikir serta egois.
Mengapa? Sebab, justru egoisme ananiah serta egosentrisme itu yang harus
disembelih. Hal tersebut harus kita jauhkan dari kehidupan agar kita menjadi
manusia-manusia yang sadar dengan kewajiban sosial untuk beribadah kepada
Allah SWT.
INTEGRITAS GERAKAN MAHASISWA
Oleh Abd Rohim Ghazali

Barangkali, tahun 2003 merupakan lahan paling subur bagi gerakan


mahasiswa sepanjang era kepresidenan Megawati Soekarnoputeri. Sejak
dilantiknya Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan [PDIP] itu sebagai
RI-1 menggantikan Abdurrahman Wahid, Juli 2001, baru kali ini segenap gerakan
mahasiswa menemukan soliditasnya yang amat tinggi.
Kebijakan pemerintah pada awal tahun 2003 terutama menaikkan harga
bahan bakar minyak [BBM], tarif dasar listrik [TDL], dan tarif telepon meskipun
kemudian dibatalkan/ditundatelah mempersatukan gerakan mahasiswa dari
berbagai unsur. Mereka semua meneriakkan kalimatun sawa [baca, tuntutan yang
sama]: turunkan harga! Dan, istimewanya lagi, mahasiswa yang bergejolak
serempak di kurang lebih 50 kota itu mendapat dukungan dari komponen warga
negara yang lain seperti buruh, ibu rumah tangga, pengusaha, dan para politisi.
Sayangnya, dukungan para pengusaha dan politisi, selain menambah
stamina, juga membawa dampak yang kurang menguntungkan: gerakan
mahasiswa dituduh sebagai perpanjangan tangan kepentingan politik tertentu.
Gerakan mahasiswa dianggap tidak murni lagi, sebagaimana dituduhkan Wakil
Presiden Hamzah Haz dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan
Susilo Bambang Yudhoyono.
Bertolak belakang dengan Haz dan Yudhoyono, di Bogor, Jawa Barat, Amien
Rais menegaskan bahwa gerakan mahasiswa masih murni [Antara, 18/1/2003].
Bahkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat [MPR] ini menandaskan bahwa
gerakan mahasiswa merupakan cermin dari tuntutan segenap rakyat Indonesia.
Dari segi latar belakang, kata Amien, orang tua mahasiswa itu berasal dari
berbagai kalangan seperti buruh, tani, nelayan, pedagang, pengusaha, politisi,
pegawai negeri dan lain-lain. Dari latar belakangnya yang demikian beragam,
kiranya sulit diterima akal sehat jika gerakan mahasiswa hanya mewakili kelompok
tertentu saja.
Integritas gerakan mahasiswa
Yang terpenting dalam mencermati gerakan mahasiswa, barangkali, bukan
pada perdebatan murni atau tidak murni, melainkan pada integritasnya. Karena
murni saja belum tentu punya integritas. Tawuran mahasiswa adalah contoh dari
gerakan yang murni tapi tanpa integritas. Sedangkan gerakan menuntut
penegakan hukum, pemberantasan korupsi, penurunan harga-harga, dan
kemandirian bangsa --meskipun barangkali searah dengan agenda partai
politik/politisi tertentumerupakan gerakan yang memiliki intergitas.
Dalam konteks politik, integritas gerakan mahasiswa terletak pada
komitmennya untuk menegakkan demokrasi dan keadilan sosial. Tidak ada
masalah jika ada partai atau politisi tertentu karena komitmennya yang sama
membantu gerakan mahasiswa.
Dalam bukunya, Pergolakan Mahasiswa Abad ke-20, mantan Ketua
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia [KAMI], Yozar Anwar [1981] mencatat gerakan
mahasiswa di berbagai belahan dunia dengan komitmen yang sama, yakni
menegakkan demokrasi dan keadilan sosial. Dan komitmen ini bisa dibreakdown
dalam berbagai bentuk strategi perjuangan yang berbeda-beda sesuai dengan
situasi dan kondisi di masing-masing negara.
Penajaman agenda reformasi
Demokrasi dan keadilan sosial adalah dua agenda unversal yang
senantiasa berjalan beriringan jika tidak secara simultan. Dalam konteks gerakan
reformasi di Indonesia, strategi untuk menegakkan demokrasi dan keadilan sosial
diwujudkan dalam bentuk perjuangan merealisasikan lima agenda reformasi: [1]
adili mantan presiden Soeharto dan kroni-kroninya; [2] hapuskan dwifungsi ABRI;
[3] amandemen UUD 1945 dan otonomi daerah; [4] adili para pelanggar hak-hak
asasi manusia [HAM]; dan [5] berantas KKN [korupsi, kolusi, dan nepotisme]. Lima
agenda ini menjadi isu bersama atau bahkan common platform bagi gerakan
mahasiswa pasca lengsernya Soeharto.
Sebagai isu, tentu saja kelima agenda itu tidak selamanya bisa disuarakan
secara tepat. Ada saat dimana suatu isu tak lagi kontekstual. Karenanya
diperlukan penajaman-penajaman: [1] pengadilan Soeharto dan kroninya, sekarang
lebih dipertajam pada mereka yang secara nyata terbukti bersalah; [2] anti
dwifungsi ABRI dipertajam dengan tuntutan penarikan militer dari daerah-daerah
konflik; [3] amandemen UUD 1945 dan otonomi daerah dipertajam pada tuntutan
reformasi perundang-undangan dan kebijakan pemerintah yang terkait dengan
kepentingan publik/rakyat; [4] pelanggar HAM dipertajam pada para tentara yang
terlibat dalam kasus-kasus yang spesifik seperti Lampung, Priok, 27 Juli, Timtim,
Timika, Aceh, Trisakti, Semanggi I-II; dan [5] pemberantasan KKN dipertajam pada
kasus-kasus korupsi para pejabat [antara lain Akbar Tandjung, MA Rachman] dan
konglomerat [terutama penilep bantuan likuiditas Bank Indonesia/BLBI].
Tuntutan-tuntutan gerakan mahasiswa pada awal tahun 2003 ini, seperti
tuntutan penurunan harga-harga dan tarif, penolakan inpres release and discharge
[RD], penolakan divestasi Indosat, dan tuntutan penghapusan hutang luar negeri
[anti IMF], jika dicermati secara saksama, semuanya merupakan kelanjutan dari
penajaman agenda reformasi, terutama terkait dengan kebijakan pemerintah yang
dinilai bertentangan dengan kepentingan publik/rakyat [agenda ketiga] dan
pemberantasan korupsi [agenda kelima].
Artinya, sejauh ini --terlepas dari perdebatan murni atau pun tidak,
ditunggangi atau pun tidakgerakan mahasiswa masih dalam koridor menjaga
integritas, yakni komitmen memperjuangkan demokrasi dan keadilan sosial.
Kepentingan kekuasaan
Namun yang menjadi masalah, ketika agenda reformasi dipertajam, pada
akhirnya akan mengarah pada oknum-oknum pejabat pemerintah yang secara
legal memiliki kewenangan menetapkan dan melaksanakan kebijakan-kebijakan
politiknya, terutama presiden dan jajaran di bawahnya. Maka gerakan mahasiswa
menuntut turunnya harga-harga dan tarif, penghapusan inpres RD, pelepasan IMF,
dan pembatalan divestasi Indosat, jika tidak dituruti, akan dengan sendirinya
berdampak pada tuntutan diturunkannya semua pejabat pemerintah yang
dianggap berperan mengeluarkan berbagai kebijakan yang dinilai bertentangan
dengan agenda reformasi tersebut. Jika yang bersangkutan tidak mau turun, maka
akan dipersona non-gratakan, antara lain dengan cara menolak setiap kunjungan
yang mereka lakukan.
Ketika sudah sampai pada tuntutan diturunkannya pejabat-pejabat tertentu
maka pada saat itulah gerakan mahasiswa bukan sekadar memasuki wilayah
politik melainkan telah memasuki kepentingan kekuasaan. Akibatnya, mereka yang
merasa kepentingannya terganggu oleh gerakan mahasiswa, pada umumnya akan
serta merta mengecam gerakan mahasiswa. Integritas gerakan mahasiswa pun
mulai diperdebatkan.
Untuk menghindari hal itu, idealnya, gerakan mahasiswa seyogianya tidak
mamasuki wilayah kekuasaan, meskipun pasti sangat sulit [sama sulitnya dengan
memutus hubungan antara kebijakan dengan oknum yang mengeluarkan
kebijakan itu]. Tapi, satu hal yang penting juga dipertimbangkan, bahwa
pergantian pejabat --temasuk presiden-- bukanlah jaminan mengubah keadaan
menjadi lebih baik.
Wallahu alam bishshawab !
COUNTRY RISK DAN KUALITAS LEADERSHIP PRESIDEN
Oleh Mariman Darto

Menjelang akhir tahun 2002 lalu, Political and Economic Risk Consultancy
Ltd [PERC] mengumumkan hasil jajak pendapat dengan para pelaku bisnis di luar
negeri terhadap prospek bisnis di Indonesia. Dari hasil jajak pendapat itu, terlihat
bahwa country risk Indonesia mencapai 8,59 pada Oktober 2002.
Country risk sebuah negara yang mendekati angka nol berarti negara
tersebut dikategorikan aman sebagai tempat berinvestasi. Sebaliknya, semakin
mendekati angka 10, sebuah negara dianggap berbahaya atau tidak aman sebagai
tempat berinvestasi. Country risk didasarkan pada empat indikator risiko, yakni
politik domistik, kerusuhan sosial, faktor eksternal, dan masalah sistemik.
Menurut PERC, indeks resiko Oktober 2002 merupakan yang tertinggi dan
serius yang pernah terjadi di Indonesia. Sebelumnya, sepekan setelah peledakan
bom di Bali, PERC juga mengumumkan country risk Indonesia bulan September
2002 yang meningkat ke level persepsi level terburuk, yang belum pernah terjadi
pada masa pemerintahan Soeharto sekalipun. Pada kedua jajak pendapat PERC
itu, kenaikan yang paling tajam terjadi pada faktor risiko eksternal. PERC melihat
peledakan bom di Legian, Bali, mengakibatkan negara-negara tetangga seperti
Singapura, Malaysia, dan Australia, tetapi juga Amerika Serikat [AS] dan negara-
negara Eropa mulai kritis dalam melihat investasi di Indonesia.
Kedua jajak pendapat tersebut, PERC melihat posisi Indonesia saat ini
semakin bergerak ke posisi di mana bukan hanya kepemimpinan nasional yang
lemah, tetapi dukungan asing terhadap Indonesia pun makin langka. Kondisi ini
sangat berbeda dengan tahun 1995, di mana saat itu bukan hanya kepemimpinan
nasional kuat, tetapi dukungan internasional terhadap Indonesia pun juga lebih
baik. Yang paling menarik, adalah bahwa kualitas-kualitas kepemimpinan
[leadership] pemerintah pada jajak pendapat bulan Oktober tetap sama tingginya
yakni mencapai 9,50.
Naiknya country risk Indonesia pada level persepsi ini semakin
memperburuk posisi tawar Indonesia di mata asing, terutama dalam kaitan
nyadengan peningkatan foreign direct investment [FDI]. Dampaknya pun sudah bisa
ditebak.
Pertama, Indonesia akan makin tergantung dengan hutang luar negeri.
Pasalnya, investasi asing tidak bisa diharapkan lagi. Pada triwulan pertama tahun
2002 saja misalnya, nilai persetujuan investasi asing [PMA] turun sampai dengan
90% menjadi 292 juta dolar AS. Padahal periode yang sama 2001 sebesar 2,4
miliar dolar AS.
Kedua, angka pengangguran akan makin meningkat. Sejak awal krisis
hingga sekarang [1997-2001] jumlah pengangguran mencapai 35,8 juta jiwa. Dan
pada tahun 2002 meningkat menjadi 39 juta jiwa [BPS, 2003]. Setiap tahunnya
jumlah angkatan kerja yang masuk pasar kerja mencapai 2,5 juta jiwa. Ini berarti,
suatu perekonomian akan mampu mengatasi tambahan angkatan kerja yang
jumlahnya terus membesar tersebut membutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar
5 persen. Sangat berat upaya pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan 5
persen tersebut, apalagi FDI makin langka akibat semakin meningkatnya country
risk Indonesia, sehingga pada tahun 2003 jumlah pengangguran akan mengalami
peningkatan yang lebih besar. Bahkan, puncaknya akan terjadi pada 2004, dimana
kita dihantui oleh kekerasan yang lebih besar akibat pemilu 2004. Pada saat itu
akan terjadi krisis ketenagakerjaan dengan jumlah pengangguran akan mencapai
42-42,5 juta orang [Bomer, 2002].
Menurut Indef [2002], meningkatnya jumlah pengangguran ini diakibatkan
oleh makin suramnya kondisi makro ekonomi Indonesia. Perekonomian pada 2003,
diperkirakan hanya bisa tumbuh 3,1 persen, lebih rendah dari perkiraan
sebelumnya yang mencapai 4%. Artinya, peluang penambahan kapasitas produksi
nasional makin kecil sehingga peluang tenaga kerja baru untuk terserap ke pasar
tenaga kerja makin suram. Sementara itu, sektor riil juga belum tentu bisa
diharapkan karena suku bunga pinjaman masih cukup tinggi, sekalipun SBI telah
mengalami penurunan yang cukup melegakan.
Adanya kesenjangan yang cukup antara jumlah dana yang disimpan
masyarakat dengan jumlah kredit yang disalurkan masyarakat, membuatt pilihan
masyarakat untuk berusaha makin sulit. Kesejangan itu bisa dilihat dari loan to
deposit ratio [LDR] hanya sebesar 44%. Pilihan perbankan hanyalah membeli SBI
dari pada menyalurkan dana masyarakat.
Ketiga, meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia tidak bisa dihindari.
Sebelum krisis saja [1996], jumlah penduduk miskin ada 22,5 juta jiwa atau 11,3
persen penduduk. Tahun 1999 menjadi 47,97 juta jiwa [15,64 juta jiwa di
perkotaan dan sisanya di pedesaan]. Persentase penduduk miskin tahun 1999 ini
mendekati kondisi kemiskinan pada awal tahun 1980-an. Jumlah penduduk
miskin tahun 1981 sebanyak 40,6 juta jiwa atau 26,9 persen dari total jumlah
penduduk. Dan pada tahun 2001 prosentase penduduk miskin sedikit menurun
jika dibandingkan dengan tahun 1999 yakni 13,2 persen dari jumlah penduduk.
Namun dengan semakin tidak jelasnya arah pembangunan sosial-ekonomi,
maka tahun 2002 jumlah kemiskinan akan mengalami kenaikan. Hal ini
dimungkinkan karena naiknya tingkat pengangguran, makin berkurangnya tingkat
pendapatan masyarakat yang kemudian diikuti dengan menurunnya indeks
kepercayaan konsumen yang secara tidak langsung memberikan gambaran betapa
makin rendahnya tingkat daya beli masyarakat [RDI,2002].
Sekelumit gambaran getir di atas menunjukkan betapa ekonomi kita kian
terpuruk. Kemandirian bangsa tergadai oleh utang luar negeri. Masalah-masalah
struktural bermunculan. Makin menurunnya derajat kesejahteraan penduduk
Indonesia dll. Kesemuanya bagai benang kusut yang tidak jelas ujung pangkalnya
ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi perekonomian yang makin
ruwet itu.
Pertanyaannya adalah dapatkah kondisi ruwet ini diselesaikan? Dalam
perspektif teori Butterfly Effect, seruwet apapun suatu keadaan bisa diurai dan
diselesaikan dengan baik. Teori yang dipopulerkan oleh Edward Norton Lorenz,
seorang Profesor meteorologi di MIT [1962], yang kemudian menjadi landasan teori
chaos, yakni teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak teratur, ruwet, rumit
dan memiliki banyak solusi [Kebomoto, 2002]. Menurutnya, chaos secara statistik
menggambarkan kelakuan stokastik dari sistem yang deterministik. Sistem yang
deterministik [sederhana, satu solusi] bila ditumpuk-tumpuk akan menjadi sistem
yang stokastik [rumit, solusi banyak]. Dan teori ini ingin mengurai persoalan-
persoalan yang ruwet yang dihadapi sebuah bangsa menjadi persoalan-persoalan
yang lebih deterministik, sederhana dan lebih memberikan solusi sifatnya.
Dengan paradigma Lorens tersebut, biang persoalan ekonomi dapat
diungkap. Pertama, lemahnya kepemimpinan pemerintahan dalam menawarkan
solusi yang holistik terhadap jebakan permainan kaum teroris. Dan, sikap diam
seribu bahasa membuka peluang bagi para pembantunya untuk bermain sendiri-
sendiri [karena hilangnya koordinasi].
Apalagi, Sang pemimpin juga tidak memiliki paradigma kebijakan yang
berimbang [the equilibrium policy paradigm] dalam membuat setiap keputusan,
sehingga set iap keputusan yang keluar selalu mentah dan mengundang reaksi
masa secara negatif.
Kedua, problem visi ekonomi. Visi adalah mimpi, juga bisa disebut tujuan
jangka panjang yang sangat menentukan kemana bangsa ini mau diarahkan. Ia
merupakan peletak dasar dalam membangun sistim dan paradigma ekonomi yang
kuat, kokoh dan mandiri. Karena itu, ke depan visi ekonomi nasional adalah
mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang berbasis kelembagaan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedangkan demokrasi ekonomi diharapkan
sebagai kekuatan pengontrol kekuasaan negara agar tidak melakukan market
distortion yang bisa berdampak pada peningkatan kekuatan modal dan teknologi
pada kelompok usaha besar bahkan hal ini dapat menimbulkan ekonomi biaya
tinggi [high cost economy].
Dengan dasar itu, maka peran pemerintah dalam bidang ekonomi adalah
pertama, memberikan jaminan penuh kepada seluruh pelaku ekonomi yang ada
untuk melakukan segala aktifitas ekonomi dengan fair tanpa ada distorsi
kebijakan. Dengan demikian pelaku ekonomi disemua skala [kecil, menengah, dan
besar] sama-sama mendapatkan tempat untuk memasuki arena pasar.
Kedua, secara kelembagaan, pemerintah menghapus berbagai peraturan
yang mendistorsi pasar dan menerbitkan berbagai peraturan yang mendukung
persaingan sempurna [perfect competition], informasi pasar juga sempurna [perfect
information]. Keduanya berfungsi untuk menghilangkan hambatan masuk pasar
[barrier to entry], sehingga semua pelaku dapat berusaha tanpa harus terkena
ekonomi biaya tinggi.
Selain itu, lembaga-lembaga pemerintah yang akan mengontrol berjalannya
mekanisme pasar juga perlu diselenggarrakan. Fungsinya adalah jika terjadi
kecenderungan membesarnya kekuatan monopolistis atau oligopolistis yang akan
mendorong terjadinya persaingan tidak sehat juga perlu mendapatkan dukungan
yang besar dari pemerintah dan kalangan legislatif dan yudikatif agar kinerjanya
berjalan efektif.
Ketiga, pemerintah juga harus menjamin adanya eksternalitas. Artinya, asas
manfaat dalam setiap kegiatan ekonomi yang diselenggarakan setiap pelaku
ekonomi harus terjamin. Apakah manfaat terbesar bagi kesejahteraan masyarakat
secara keseluruhan juga terjamin. Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan
tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan [social and environment
resposibility industries]. Sehingga keberadaan industri berbagai skalatidak
menimbulkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya. Dan perusahaan pun dapat
menjalankan usahanya dengan normal.
Keempat, yang lebih penting dari semua itu adalah stabilitas keamanan yang
memadai. Dan ini sarat penting yang harus ada sehingga para pelaku ekonomi
jauh lebih secure berinvestasi di Indonesia. Termasuk bagaimana mengatasi
terorisme pun harus dilihat dalam kerangka ekonomi, bukan hanya kerangka
politik. Sehingga tercipta paradigma kebijakan yang berimbang sebagaimana telah
dikemukakan di atas.
Atas dasar berbagai pertimbangan di atas, semua pelaku ekonomi yang ada
akan memiliki peran masing-masing yang seimbang dengan kemampuannya, yang
pada akhirnya akan mampu men-drive pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun,
keberadaan visi yang akan membangun sistim ekonomi Indonesia itu belum cukup.
Ia harus ditopang dengan kemampuan leadership yang kuat, sebagaimana yang
disarankan oleh PERC. Tanpa kepemimpinan yang kuat, sistim apapun tidak akan
mampu berjalan.Wallahu alamu bishawab.
AMIEN RAIS DAN TANGGUNG JAWAB POLITIK
Oleh A. Muhammad Furqan

Membaca Editorial Media Indonesia [MI] dengan judul Suara Keras Amien
Rais Senin [20/1/2003] menarik untuk didiskusikan. Editorial MI yang biasanya
cerdas, lugas, dan berani itu, kini justru sebaliknya, payah dan tak mencerdaskan.
Ada beberapa hal yang perlu dicermati pada editorial MI kali ini.
Pertama, kerangka [framing] penulisan editorial edisi ini adalah
penghadapan secara vis--vis antara state dan civil society. Sementara pihak civil
society berada dalam keadaan terpuruk akibat kebijakan pemerintah yang anti
populisme. Akibat dari adanya framing seperti ini, maka editorial meremehkan arti
interplay kekuasaan antara eksekutif dan legislatif. Framing ini dapat digambarkan
sebagai berikut: Satu sisi terdapat state [trias politika] yang terdiri dari eksekutif,
legislatif, dan yudikatif, dan di sisi lain [secara berlawanan] ada civil society.
Dengan skema semacam ini, dapat dipastikan bahwa editorial akan
memosisikan dirinya sebagai conqueror bagi bertahannya civil society. Tetapi
sayangnya, narasi, komposisi dan terminologi yang ditampilkan jelas-jelas hanya
memihak salah satu elemen dalam komposisi state, karena itu, editorial ini
terjerembab ke dalam pembelaan terhadap eksekutif. Di samping itu, editorial ini
juga gagal merumuskan formula untuk menjadikan state sebagai habitat politik
yang sinergis demi tegaknya kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kepentingan
publik. Dengan demikian, berarti editorial edisi ini telah membunuh akal sehat.
Kedua, editorial edisi ini gagal memahami secara utuh pandangan dunia
Amien Rais berkenaan dengan kritik-kritik kerasnya terhadap pemerintahan yang
berkuasa. Alinea pertama muncul semata sebagai entri poin untuk memahami
Amien Rais secara keliru. Padahal, dengan semangat pembahasan sebagaimana
ditunjukkan oleh alinea pertama itu, editorial akan sangat cerdas jika membangun
verstehen terhadap visi seluruh kritisisme Amien Rais berdasarkan perspektif
antropologis. Dilihat dari kenyataan ini, tak berlebihan jika dikatakan bahwa model
kritik yang dikemukakan editorial sangat mendekati upaya delegitimasi terhadap
Amien Rais.
Hal itu tercermin secara jelas dalam kalimat yang berbunyi: Yaitu, dalam
hal mengkritisi dan melawan pemerintahan yang sedang berkuasa. Sama
kencangnya, sama tajamnya, sama kerasnya. Pertanyaan filosofis dan empiriknya
ialah, apakah Amien Rais hanya konsisten dalam hal membangun kritik terhadap
pemerintah yang berkuasa? Mengapakah editorial Media Indonesia tidak
melakukan upaya verstehen terhadap konsistensi kritisisme Amien yang lain dalam
jagad politik nasional; seperti kritik-kritik tajamnya terhadap KKN di negeri ini?
Tak hanya itu, penulis editorial tampaknya juga tak mengikuti secara intens
perkembangan aksi politik Amien Rais. Di berbagai forum, baik di internal PAN
maupun di depan publik Amien Rais kerap mendapat kritik yang cukup pedas,
mengapa Amien Rais sekarang berubah lunak, tak seperti dulu sebelum menjabat
Ketua MPR? Menghadapi kritik ini Amien Rais selalu menjelaskan, bahwa dirinya
sekarang ini bukan lagi pilot pesawat tempur, yang bisa beraktraksi di udara
semaunya, tapi sekarang pilot pesawat Boeing dengan sejumlah penumpang.
Kalau pilotnya ugal-ugalan seperti membawa pesawat tempur, bisa dipastikan
penumpang mabuk dibuatnya.
Penjelasan yang diberikan Amien Rais cukup masuk akal, sebab saat
mengkritik Presiden Soeharto selain tajam, keras dan kencang Amien Rais jarang
memberikan solusi. Tapi sejak jadi ketua MPR, Amien Rais jauh lebih santun
dalam menyampaikan kritiknya. Bahkan setiap kritiknya itu selalu dibarengi
dengan solusi. Jadi jelas, Amien Rais hari ini berbeda dengan Amien Rais di masa
lalu.
Bahwa Amien Rais sebagai manusia biasa tak terbebaskan dari kesalahan
adalah benar adanya. Tetapi pengakuan akan kenyataan ini tak mengharuskan
kita kehilangan akal sehat melihat Amien sebagai sosok yang memang keras
bersuara jauh sebelum kekuasaan rezim Soeharto tumbang.
Dalam konteks nobody dan somebody yang dimaksud dalam editorial MI
dalam ilmu politik terkait dengan apa yang disebut trias politika. Trias politika
adalah untuk check and balance. Di negara yang paling demokratis fungsi trias
politika itu amat didambakan. Dalam konteks inilah, Amien Rais yang dimaksud
dengan somebody memainkan perannya. Peran untuk check and balance
mengontrol setiap kebijakan pemerintah yang akan membawa ketidak stabilan
politik nasional.
Penggunaan istilah king maker dan king killer sesungguhnya yang
mendistorsi realisme politik, di mana seolah-olah hanya Amien Rais yang sangat
digdaya menaik-turunkan Presiden. Argumentasi editorial ini terjebak pada istilah
yang dibuat sendiri [king maker dan king killer] sehingga timbul personalisasi
kelembagaan MPR ke dalam diri Amien Rais. Kenyataan sesungguhnya, Amien
hanyalah speaker bagi MPR dan sebagaimana kita tahu MPR adalah lembaga
politik yang sistem kepemimpinannya bersifat kolegial. Logika yang dikemukakan
dalam editorial ini jelas tidak memberikan pendidikan politik yang sehat kepada
rakyat, karena telah meniadakan peran seluruh anggota MPR dalam membangun
interelasi untuk keperluan pro dan kontra bagi seseorang yang hendak tampil
sebagai Presiden.
Persoalan opisisi yang disorot editorial ini juga menafikan kenyataan, kalau
Indonesia kini berada pada era transisi menuju demokrasi, di mana tertib politik
tak sepenuhnya dapat dijalankan secara ideal, termasuk tak adanya opisisi yang
utuh. Kenyataan ini, tidak lalu mengharamkan tampilnya pendapat orang per
orang dari kalangan parlemen untuk mengemukakan suara-suara yang bercorak
oposan. Dengan demikian, adalah tidak relevan mengaitkan keberadaan tokoh-
tokoh PAN di kabinet sebagai rintangan bagi Amien Rais untuk melontarkan kritik
dan atau sikap oposannya terhadap pemerintah Megawati. Justru kalau Amien
Rais tak melontarkan kritiknya yang tajam terhadap kebijakan pemerintah
Megawati, bagaimana lalu menakar pertanggung jawaban moral seorang anggota
parlemen.
DPR turut bertanggung jawab atas kebijakan publik, sebagaimana
dinyatakan editorial, sesuatu yang memang seharusnya. Hal ini perlu dibangun
untuk memperkuat proses institusionalisasi politik, dengan menjadikan DPR
sebagai ajang memperdebatkan dan menggodok pemikiran kritis berkenaan dengan
kebijakan pemerintah. Tapi satu hal yang dilupakan penulis editorial ini ialah tidak
adanya rumusan bagi percepatan institusionalisasi politik di parlemen dengan
kapasitas dan akselerasi yang tinggi dan dengan mempertimbangkan atmosfer
liberalisasi.
Terlupakannya hal ini dalam editorial karena memang Amien sekadar
dijadikan sasaran tembak dalam menyimak kesalahan-kesalahan parlemen. Dan
yang diabaikan juga oleh editorial ialah terdapatnya klausul dalam tata tertib DPR
pasal 34 ayat 2 yang membolehkan pimpinan DPR dan MPR untuk tidak ikut
sidang-sidang di DPR.
Nalar dan logika yang dibangun editorial ini bahwa Presiden tidak
bertanggung jawab penuh seorang diri atas kebijakan publik merupakan sesuatu
yang keliru. Karena perlu diingat, Presiden merupakan eksekutor tertinggi di
bidang pemerintahan dan berada di garda depan lahirnya kebijakan publik. Jika
kebijakan itu memberikan manfaat pada publik, maka Presidenlah yang
memperoleh apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya dari publik. Begitu
juga sebaliknya.
Oleh sebab itu, menjadi sangat wajar dan masuk akal jika presiden menjadi
pihak yang paling besar menanggung akibat jika timbul kebijakan publik yang
salah. Dan dengan ini pula, presiden harus mewaspadai kekonyolan-kekonyolan
DPR agar tidak lahir kebijakan publik yang salah. Kekonyolan DPR harus diakui
keberadaannya. Hanya saja dengan demikian berarti, presiden harus berpikiran
cerdas untuk hanya melahirkan kebijakan yang memihak kepada kepentingan
publik.
Kalau logika editorial edisi ini yang dipakai, sangat nikmat menjadi Presiden
di Indonesia. Kalau terjadi kesalahan, sebut saja elite-elite politik di luar badan
eksekutif sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab.
AGAMA, DEMOKRASI, DAN KAUM MINORITAS DI INDONESIA
Oleh M. Amien Rais

Agama dan demokrasi bukanlah dua hal yang bertentangan satu sama lain.
Titik temu antara agama dan demokrasi terutama terletak pada fungsinya. Agama
hadir di muka bumi sebagai rahmatan lil'alamin [pembawa rahmat bagi semesta],
atau sebagai juru selamat. Untuk itu, agama senantiasa membawa nilai-nilai dasar
kebajikan seperti kejujuran, keadilan, kelembutan, dan kebersamaan [saling
memberi dan menghormati] yang harus diimplementasikan untuk menciptakan
kehidupan yang damai, aman, dan sentosa [sejahtera lahir batin].
Seperti juga agama, demokrasi yang diciptakan melalui kontrak sosial
dengan prinsip-prinsip dasar seperti liberte [kebebasan], egalite [persamaan], dan
fraternite[kebersamaan], tujuan utamanya adalah untuk menciptakan kehidupan
yang damai, aman, dan sentosa [sejahtera lahir batin].
Baik agama maupun demokrasi, keduanya menjamin hak-hak minoritas
untuk hidup bersama secara adil. Karena, seperti kita yakini, kebenaran dalam
agama adalah sesuatu yang tak bisa divoting, artinya kebenaran agama itu tak
akan berkurang substansinya disebabkan kerena mayoritas atau minoritas
pemeluknya. Mayoritas dan minoritas dalam konteks pemeluk agama hanyalah
sekadar kuantitas yang tidak berpengaruh pada kualitas dan substansinya.
Pemeluk agama Islam yang mayoritas di Indonesia misalnya, bukan berarti lebih
benar kebaragamaannya dengan pemeluk Islam yang berada di Amerika, Inggris,
Australia, atau negara-negara lain yang pemeluk Islamnya minoritas.
Demikian juga dalam demokrasi, kaum minoritas berhak untuk hidup
bersama secara adil. Meskipun dalam praktiknya demokrasi meniscayakan pemilu,
pemungutan suara atau voting. Namun bukan berarti yang mayoritas bisa berbuat
sekehendak hatinya sehingga merugikan yang minoritas. Bahkan dalam
demokrasi, yang minoritas punya hak untuk beroposisi dan mengontrol yang
mayoritas.
Kalaupun ada sedikit perbedaan antara agama dan demokrasi, barangkali
terletak pada bentuk masyarakat ideal [yang dicita-citakan] oleh keduanya. Dalam
perspektif demokrasi, masyarakat ideal itu disebut sebagai masyarakat warga [civil
society]. Sedangkan dalam perspektif agama, masyarakat ideal itu disebut sebagai
masyarakat beradab [civilized society]. Masyarakat beradab melindungi kelompok
agama minoritas tetapi tidak menjamin setara hak dan kewajiban masing-masing
individu sebagai warga negara [agama minoritas bisa menjadi warga negara kelas
dua]. Sedangkan, dalam masyarakat warga dijamin kesetaraan hak dan kewajiban
masing-masing warga tanpa membedakan agamanya.
Di sinilah letak keistimewaan para founding fathers kita yang telah
membangun Indonesia dengan dasar Pancasila dan bukan berdasarkan satu
agama tertentu. Bila Negara ini dibangun berdasarkan agama tertentu saja,
tentunya bisa dipastikan akan terdapat perlakukan diskriminatif terhadap setiap
pemeluk agama yang berbeda dengan agama negara.
Bagi Indonesia, sebagai negara yang sangat plural, termasuk dari segi
agama, Pancasila merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan dasar sekaligus
pedoman dalam setiap langkah kita dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Pancasila merupakan bentuk kompromi yang sangat harmonis dari
setiap agama, suku, adat istiadat, dan seluruh kelompok kepentingan yang ada di
Indonesia.
Dalam konteks ini pulalah, kiranya penting bagi kita untuk tetap
mempertahankan bunyi Pasal 29 UUD 1945 yang sebagian besar sudah kita
amandemen itu. Kita patut bersyukur, meskipun pada saat menjelang Sidang
Tahunan MPR tahun lalu ada beberapa komponen masyarakat dan partai politik
tertentu yang ingin mengubah bunyi pasal 29 itu, toh pada akhirnya kita berhasil
membangun komitmen untuk tetap mempertahankannya. Yang membuat kita lebih
bersyukur lagi, komitmen itu kita ambil melalui kesepakatan bersama, tanpa
voting. Dengan begitu, tidak ada satu kelompok pun yang merasa menang atau
kalah.
Semangat kebersamaan semacam ini harus terus menerus kita pupuk,
karena kita yakin, di negeri ini masih ada orang-orang yang gemar memecah belah,
memanas-manasi, dan meprovokasi situasi sehingga dimana-mana acap kali kita
dapatkan pertikaian antar kelompok, antar suku, dan antar agama. Tapi, insya
Allah, sepanjang kita mampu membangun komitmen untuk hidup bersama, saling
menghormati, dan tidak saling menyalahkan, niscaya pertikaian sesama anak
bangsa itu bisa kita cegah bersama-sama. Semoga!