Anda di halaman 1dari 16

DATA EPIDEMIOLOGI

No. Catatan Medik : 9105


Nama : Nn. O.R
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal Lahir : Serui, 08/10/1999
Umur : 17 tahun
Pendidikan : SMA
Status Pernikahan : Belum menikah
Suku/Bangsa : Serui/Indonesia
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Serui
Ruang Perawatan : Ruang Kelas Wanita
Tanggal MRSJ : 24 Mei 2017
Tanggal Pemeriksaan : 24 Mei 2017
Yang Mengantar : Ibu Kandung Pasien
Alamat : Serui
Pemberi Informasi : Ny. R. (Ibu Pasien)

LAPORAN PSIKIATRIK

I. RIWAYAT PSIKIATRIK
(Heteroanamnesis : Ibu Pasien)
A. Keluhan Utama
Heteroanamnesis: Gelisah, bicara sembarang dan suka marah-marah
B. Riwayat Penyakit Sekarang

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 1


Pasien dibawa ke RSJD Abepura atas rujukan dari polik psikiatri
RSUD Jayapura. Pasien diantar oleh ibu pasien karena sejak 1 bulan yang lalu,
pasien mengalami perubahan perilaku seperti bicara sembarangan, sering
tertawa sendiri, suka marah-marah, membanting-banting barang hingga
memukul orang tua dan saudaranya, gelisah, susah tidur, tidak mau makan jika
sedang marah. Kondisi ini sudah dialami pasien sejak 7 tahun yang lalu
(tahun 2010).
Pada tahun 2010 bulan oktober, saat pasien masih duduk dibangku
Sekolah Dasar kelas 6, pasien mulai memperlihatkan tingkah laku yang
menurut keluarga sangat aneh yaitu pasien banyak diam, dan sering melamun.
Saat keluarga bertanya pasien tidak mau menjawab. Setelah itu pada bulan
november, perilaku pasien semakin memburuk yaitu pasien mondar-mandir di
dalam rumah dan diluar rumah tanpa arah tujuan, tertawa sendiri, menyanyi,
menangis tanpa sebab hingga berjam-jam, tidak mau bicara dengan orang
sekitar, lompat-lompat diatas tempat tidur, dan ngompol. Pasien kemudian di
bawa keluarga ke RSU Serui untuk memeriksa keadaan pasien. Dari hasil
pemeriksaan darah, pasien terdiagnosis malaria tropika +2 dan dirawat di RS.
Setelah 1 minggu perawatan, pasien pulang dalam keadaan baik, tetapi
perilaku pasien masih tetap datar dan tidak mau bicara atau komunikasi
dengan orang sekitarnya. Saat itu keluarga tidak tahu tentang masalah
kejiwaan, sehingga pasien hanya di obati oleh orang pintar untuk mengusir
roh setan dalam tubuh pasien.
Pada tahun 2011, setelah menjalani Ujian Akhir Sekolah (UAS) pasien
kambuh lagi dengan menunjukkan gejala yang lebih berat yaitu pasien tidak
ingin makan dan kesulitan tidur sehingga pasien dibawa kembali ke RSU
Serui. Dari hasil pemeriksaan darah, malaria tropika +4. Dokter menyarankan
agar pasien dirujuk ke RSJD Abepura atas indikasi GMO ec malaria tropika.
Pada bulan oktober 2011, pasien tiba di RSJD Abepura dengan
keadaan tenang, kesadaran compos mentis, personal hygine baik, mood
euthimik, afek appropriate, daya ingat baik. Dari hasil pemeriksaan, pasien di
diagnosis curiga depresi pada anak. Pasien akhirnya dirawat di RSJD Abepura
selama 2 minggu.
Pasien sempat putus obat selama 1 tahun, yang akhirnya pada tahun
2013 keluarga membawa pasien kembali kontrol di polik psikiatri RSUD
Jayapura. Pasien diberi program minum obat dan keadaan pasien mulai

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 2


membaik, namun karena ketidak taatan sehingga pasien hanya minum obat
selama 1 bulan saja. 6 bulan kemudian pasien kembali gaduh gelisah, suka
marah-marah, melempar barang hingga memukul orang tua maupun adik-
adiknya jika keinginan pasien tidak di turuti, dan pasien juga tidak tidur
berhari-hari, sehingga keluarga membawa pasien ke Jakarta untuk pengobatan
herbal. Setelah menjalani pengobatan herbal, kondisi pasien tetap tidak
membaik malah semakin memburuk, pasien tidak bisa tidur selama 1
minggu. Kemudian keluarga membawa pasien ke praktek ahli jiwa di Jakarta.
Menurut dokter ahli jiwa, pasien mengalami masalah kejiwaan murni dan
pasien kemudian dirawat beberapa hari dan diberi obat minum. Karena
masalah biaya, pasien putus obat hingga 8 bulan.
Pada tahun 2014, saat SMK kelas 1 pasien mengambil jurusan
informatika, dan mengalami stress dengan tugas-tugas sekolah sehingga
pasien kembali gaduh gelisah, suka marah-marah, dan membanting-banting
barang. Sehingga pasien kembali dirujuk ke psikiatri RSUD Jayapura, dan
dokter memberikan obat minum seperti dulu untuk program hingga 1 tahun,
namun pasien kembali putus obat karena keluarga merasa kondisi pasien
sudah membaik.
Pada tahun 2017, saat SMK kelas 3 pasca mengikuti UAN pasien
kembali kambuh, pasien menjual emasnya kemudian uangnya digunakan
membeli pakaian bayi, boneka bayi dan sering memainkannya sendiri, tertawa
sendiri, suka marah-marah hingga membanting barang-barang dirumah, sulit
tidur dan tidak mau makan. Hingga akhirnya keluarga membawa pasien
kembali ke polik psikiatri RSUD Jayapura pada tanggal 23 mei 2017. Sesaat
sampai di polik, pasien menunjukkan keadaan yang gelisah, tidur terlentang
dilantai dan membuat diri kaku sehingga dokter merujuk pasien langsung ke
RSJD Abepura untuk perawatan lebih lanjut.

2010 2011 2014 Mei 2017


Pencetus: Pencetus: Pencetus: Pencetus:
Tidak diketahui Stress mengikuti ujian akhir Putus obat Putus obat
sekolah

Gejala: Gejala: Gejala: Gejala:


Pendiam Suka menyendiri Gaduh gelisah Berbicara sendiri
Sering melamun Bicara sembarang Suka marah-marah dan tidak jelas
Mondar-mandir Gaduh gelisah Membanting- Tertawa sendiri

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 3


tanpa arah tujuan Suka marah-marah banting barang Suka marah-
Tertawa sendiri Melempar barang hingga Duduk berdiam marah
Menangis berjam- memukul orang tua diri dalam kamar Membanting-
jam maupun adik-adiknya jika mandi banting barang
Ngompol keinginan pasien tidak di hingga memukul
turuti orang tua dan
Sulit tidur berhari-hari saudaranya
Gelisah
Susah tidur
Tidak mau
makan jika
sedang marah

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Usia 3-4 tahun pasien mengalami demam tinggi 1-2 hari hingga
mengalami kejang, kemudian pasien dibawa ke RS dan dirawat. Berdasarkan
hasil pemeriksaan darah, pasien terdiagnosis malaria tropika. Kejang demam
ini sering terjadi hingga pasien berusia 7 tahun, dengan pencetus malaria
tropika. Keluarga tidak pernah kontrol ulang malaria sejak pasien berusia 7
tahun 12 tahun.
Riwayat trauma di kepala bagian belakang akibat dipukuli oleh teman
sekolah pada saat pasien kelas 6 SD. Pasca pemukulan tersebut pasien
mengalami demam tinggi tanpa disertai kejang, sehingga pasien hanya dirawat
di rumah dan diberikan obat parasetamol. Namun, hingga saat ini pasien
belum pernah melakukan foto CT-scan kepala untuk mengecek kondisi kepala.
Pada tahun 2011 pasien pernah dirawat di RSJD Abepura saat usia 11
tahun dengan diagnosis curiga depresi pada anak, dan di rawat jalan di RSJD
Abepura selama 2 minggu.

D. Riwayat Penggunaan Zat


Kebiasaan meminum alcohol, merokok, menggunakan obat-obatan atau zat
terlarang disangkal oleh keluarga pasien.

E. Riwayat Kehidupan pribadi


1. Masa prenatal, natal, dan perinatal (0-1 tahun)
Menurut ibu pasien, pasien lahir dari kehamilan yang cukup bulan
(9 bulan). Jenis persalinan normal dan dilakukan di RS oleh bidan. Ibu
pasien mengaku tidak pernah mengalami sakit atau mengkonsumsi obat
atau jamu selama kehamilan. Namun, akibat kesibukan kuliah serta tugas-
tugas lainnya saat mengandung, ibu pasien pernah mengalami pingsan

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 4


yang terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan ibu pasien jatuh di jalan
saat usia kehamilan cukup tua. Setelah dilakukan pemeriksaan kehamilan,
dokter mengatakan janin yang dikandung dalam kondisi baik. Pasien
merupakan anak yang diinginkan dari kedua orang tua yang menikah
secara sah. Riwayat penggunaan zat terlarang oleh orang tua juga tidak
ada selama pasien dalam kandungan.
Saat usia sekitar 2 minggu, pasien mengalami demam disertai
kejang pasca imuniasi dan dirawat di RS selama 3 hari. Menurut dokter,
kemungkinan kondisi tersebut hanya diakibatkan faktor imunisasi yang
diberikan kepada pasien.
2. Fase Anal (1-3 tahun)
Pasien diberi ASI sejak lahir hingga usia 2 tahun, dan mulai diberi
makanan padat berupa bubur karena pasien sudah mulai mengalami
pertumbuhan gigi. Pasien mulai bisa berjalan pada usia 2 tahun. Dan
setahun kemudian pasien mulai bisa bicara cukup jelas, seperti
mengatakan kata Mama... Pasien juga diajarkan toilet training.
3. Usia Anak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien masuk sekolah taman kanak-kanak diantar hanya pada hari pertama
pada usia 5 tahun. Setelah itu, pasien berangkat bersama saudara-
saudaranya. Pasien mulai bersekolah di sebuah SD di kota Serui pada usia
6 tahun dan pasien termasuk siswa yang berprestasi. Di sekolah pasien
memiliki sifat tertutup dan suka memilih teman. Pasien bermain dengan
temannya, dan saat pasien berbuat salah ibu atau ayah pasien hanya
memberikan teguran keras dengan memarahi pasien tetapi tidak
diperlakukan kekerasan. Saat usia 11 tahun, pasien mengalami
perkelahian yang mengakibatkan trauma kepala akibat dipukul oleh teman
sekolahnya.
4. Masa Kanak Kanak Akhir (Remaja Awal Akhir)
Pasien tumbuh sebagai remaja berprestasi dan berbakat. Namun, pasien
memang pendiam dan suka menyendiri. Cita-cita pasien bisa bekerja
sebagai pegawai negeri dan sukses. Keluarga telah menjelaskan kondisi
pasien di sekolah dan lingkungan sekitar pasien, sehingga pasien mampu
beradaptasi dengan baik di sekolahnya. Karena tidak mau banyak bicara,
sehingga hubungan dengan teman-teman sebaya nya pun terbatas,
biasanya setelah pulang sekolah pasien langsung pulang kerumah dan

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 5


menyendiri di kamarnya. Pasien tidak pernah memiliki hubungan dekat
dengan lawan jenis sejak SMK.
5. Masa Dewasa Awal
Pasien saat ini baru tamat SMK sehingga belum memiliki aktivitas
lainnya. Pasien tidak pernah terlibat masalah hukum.
Situasi Psikososial Sekarang
Pasien saat ini lebih sering menyendiri dan tidak banyak bergaul
ataupun berbicara baik dengan keluarga dirumah ataupun dengan
tetangga dan orang sekitarnya.
Persepsi/Tanggapan Pasien tentang Dirinya
Pasien tidak tahu dirinya sakit.

6. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak kedua dari 6 bersaudara. Pasien memiliki 1 orang
kakak laki-laki, 2 orang adik laki-laki, dan 2 orang adik perempuan.
Dalam keluarga pasien, tidak ada yang memiliki riwayat gangguan yang
sama seperti pasien
Keterangan:
Pohon keluarga : = laki-laki, ayah pasien

= perempuan, ibu pasien

= perempuan, pasien

= laki-laki

= perempuan

II. STATUS PSIKIATRIK


A. Deskripsi umum
Penampilan
Seorang perempuan dengan tampilan perawakan seusianya dengan tinggi
badan 153 cm dan berat badan 65 kg, berkulit hitam, memakai baju lengan
panjang berwarna ungu dan celana panjang hitam serta menggunakan topi.
Kesadaran
- Kualitas : Compos Mentis
- Kuantitas : GCS = 15 (E4V5M6)
Perilaku dan psikomotor
Perilaku pasien tampak tidak kooperatif dan tidak mau menjawab
pertanyaan yang diberikan. Pasien cenderung memperlihatkan katalepsi
(mempertahankan suatu posisi tidak bergerak) saat hendak dilakukan

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 6


pemeriksaan fisik, yaitu pasien tidur di lantai dan membuat dirinya kaku
saat akan dilakukan pemeriksaan. Setelah di paksa, pasien kemudian
tampak gelisah dan mengamuk tidak mau melaksanakan apa yang diminta
pemeriksa. Sehingga pemeriksa terpaksa melakukan fiksasi terhadap
pasien.
Sikap pasien terhadap pemeriksa
Pasien tidak kooperatif dalam menjawab pertanyaan pemeriksa, saat
wawancara mata pasien menatap mata pemeriksa dengan tatapan kosong
dan marah.

B. Emosi
Mood : Disforik, yaitu mood yang tidak menyenangkan
Afek : Datar, yaitu tidak adanya atau hampir tidak adanya tanda
ekspresi affect (suara yang monoton, wajah yang tidak bergerak).

C. Bicara
Pasien tidak menjawab pertanyaan pemeriksa secara spontan, pasien hanya
berbicara sembarang dengan tetap menjaga jarak dari si pemeriksa dan
menggunakan penekanan-penekanan nada tertentu dalam setiap cerita.

D. Gangguan persepsi
Adanya halusinasi ataupun ilusi sulit dinilai akibat pasien yang tidak
kooperatif.

E. Proses berpikir
Bentuk : Non realisitik
Arus : Tidak relevan/inkoheren
Isi : Pikiran tidak menentu

F. Fungsi kognitif
Taraf Pendidikan, Pengetahuan Umum dan Kecerdasan.
Pasien tamat SD, SMP, dan SMK
Daya Konsentrasi dan Kalkulasi
Tidak terevaluasi karena pasien tidak kooperatif
Orientasi
Tidak terevaluasi karena pasien tidak kooperatif
Memori
Tidak terevaluasi karena pasien tidak kooperatif
Pikiran Abstrak
Tidak di evaluasi
Kemampuan Menolong Diri
Pasien sangat susah mengurus diri, susah untuk mandi, menyisir rambut,
menyikat gigi, dll.
G. Tilikan
Laporan Kasus Kurnia Sari Page 7
Tilikan I, pasien menyangkal dirinya sakit dan tidak merasa sakit sama sekali.

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Pemeriksaan Fisik
1. Antropometri : Tinggi badan 153cm, berat badan 65 kg
2. Tanda Vital (13/05/2017)
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88x / menit
Respirasi : 20x / menit
Suhu : afebris
3. Status Interna
Keadaan umum : Tampak gelisah
Kesadaran : Compos mentis
Kepala : Konjungtiva Anemis (-/-),
Sklera Ikterik (-/-), normocefali
Leher : KGB tidak teraba membesar
Thorax
Inspeksi :Simetris. Ikut gerak napas
Palpasi :Vocal fremitus (D=S)
Perkusi :Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Rhonki/Wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis (-)
Palpasi : Thrill (-)
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi Jantung I - II Reguler
Abdomen
Inspeksi : Supel, datar
Auskultasi : Timpani
Palpasi : NyeriTekan (-), hepar / lien tidak teraba
Perkusi : Bising Usus (+)
Ekstremitas : Akral teraba hangat. Edema (-) Sianosis (-)
Genitalia : Tidak ada kelainan.

4. Status Neurologis
Rangsang Meningeal : Kaku Kuduk (-) ; Laseque/Kernig (tidak terbatas
/ tidak terbatas) ; Brudzinski I,II,III (-/-/tidak dilakukan).
Saraf Otak
Mata : Pupil bulat, isokor, ODS 4mm, RC (+/+)
GBM : Baik kesegala arah
Wajah : Parese N. Fascialis (-)
Lidah : Letak sentral, Atrofi (-)
Motorik

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 8


5 5

5 5

Koordinasi : Tidak dilakukan.


Sensibilitas : Konsisten.
Vegetatif : BAB/BAK (+/+) Ma/Mi (+/+).
RF : Tidak dievaluasi
RP : Tidak dievaluasi
B. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
1. Hemoglobin : 9,6 gr %
2. Jumlah leukosit : 5.375 /mmk
3. DDR : negatif
C. Wawancara dengan Anggota Keluarga
Nama : Ny. Ros
Umur : 46 Tahun
Pekerjaan : Guru
Alamat : Serui
Hubungan : Ibu Pasien

V. IKTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang perempuan dalam perawatan di RSJD Abepura dengan tampilan
perawakan sesuai usianya dengan tinggi badan 153 cm dan berat badan 65 kg,
berkulit hitam, berambut panjang, keriting dan berwarna hitam, bentuk wajah
bulat menggunakan baju lengan panjang berwarna ungu dan celana panjang hitam
serta topi. Pasien tidur terlentang di lantai dan membuat dirinya kaku.
Bersadarakan heteroanamnesa, pasien dibawa ke RSJD Abepura atas
rujukan dari polik psikiatri RSUD Jayapura dan ini merupakan kedua kalinya
pasien di bawa ke RSJD Abepura. Pasien diantar oleh ibu pasien dan kedua
adiknya karena sejak 1 bulan yang lalu, pasien mengalami perubahan perilaku
seperti bicara sembarangan, sering tertawa sendiri, suka marah-marah,
membanting-banting barang hingga memukul orang tua dan saudaranya, gelisah,
susah tidur, tidak mau makan jika sedang marah. Kondisi ini sudah dialami pasien
sejak 7 tahun yang lalu (tahun 2010).
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, status interna, dan status neurologis
dalam batas normal. Dari status psikiatrik pasien, didapatkan psikomotor yang
cenderung memperlihatkan katalepsi saat hendak dilakukan pemeriksaan fisik,
mood disforik, afek datar, pikiran terkesan tidak realistik dan inkoheren, terkesan

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 9


bicara cepat dan artikulasi kurang jelas, adanya gangguan persepsi sulit
dievaluasi. Tilikan I, pasien menyangkal dirinya sakit.

VI. FORMULA DIAGNOSTIK


Berdasarkan data yang didapatkan dari hasil wawancara dari pihak
keluarga yakni ibu pasien, riwayat psikiatri, dan pemeriksaan status mental pasien
yang terangkum dalam iktisar penemuan bermakna diatas, ditemukan tanda-tanda
atau gejala gangguan psikotik akut. Dari hasil heteroanamnesa dan hasil
pemeriksaan status psikiatri, gejala dan tanda yang dialami serta onset perjalanan
penyakit pada saat ini memenuhi kriteria diagnostik F20.1 Skizofrenia
Hebefrenik berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Gangguan Jiwa di
Indonesia III (PPDGJ-III).

VII. DAFTAR MASALAH


1. Psikologis
- Mood disforik
- Afek Datar
2. Bentuk pikiran non realistik
3. Isi pikiran tidak menentu
4. Arus pikiran inkoheren
5. Sosial
Dalam hal ini berhubungan dengan lingkungan pergaulannya dimana ia
jarang bergaul dengan teman sebaya atau tetangga sekitarnya dan lebih sering
menyendiri.
5. Pendidikan
Dalam hal ini berhubungan pasca mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN)
6. Agama
Dalam hal ini berhubungan dengan peribadahannya, ia jarang gereja sejak 1
bulan setelah (UAN).

IV. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I : F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Aksis II : Tidak ada
Aksis III : Tidak ada
Aksis IV : Masalah Pendidikan (pasien mengikuti UAN)
Masalah dengan primary support group (keluarga)
Aksis V : Saat masuk Rumah Sakit: GAF 20

V. DIAGNOSA BANDING

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 10


F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik

VI. RENCANA TERAPI


Perawatan Rumah Sakit
Pada pasien ini dilakukan rawatan inap di Rumah Sakit Jiwa.
Farmakoterapi
Obat-obatan yang diberikan pada pasien ini adalah :

Farmakoterapi di IGD:
- Inj. Haloperidol 5 mg (i.m) / 12 jam
- Inj. Diazepam 5 mg (1/2 amp) i.m / 12 jam
Terapi Oral
- Haloperidol 5 mg tablet 2 x 1 mg
- Triheksilpenidil (THP) 2 mg tablet 2 x1 mg
- Diazepam 5 mg 0-1/2-1/2

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia at bonam
Ad fungsionam : Dubia at bonam
Ad sanationam : Dubia at malam

VIII. DISKUSI/PEMAHAMAN
1. Diagnostik Multiaksial
Aksis I : F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman diagnostik :

Memebuhi kriteria umum diagnosis skizofrennia.


Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada
usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun).
Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan
senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk
menentukan diagnosis.
Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya
diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya,
untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang
benar bertahan :
- Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat
diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk
selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan
hampa tujuan dan hampa perasaan;
- Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar
(inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 11


perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (self-
absorbed smiling), atau oleh sikap tinggi hati (lofty manner),
tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli
secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan
ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases)
- Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak
menentu (rambling) serta inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses
pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada
tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions
and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan,
sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu
perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of
purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat
dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya,
makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.
Aksis II : Pasien tidak memiliki gejala gangguan kepribadian maupun retardasi
mental.
Aksis III : Berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis tidak
ditemukan riwayat penyakit infeksi maupun kondisi medis umum
lainnya.
Aksis IV : Berkaitan dengan masalah pendidikan, yaitu pasien mulai menunjukkan
perubahan perilaku saat mengikuti Ujian Akhir Nasional
Aksis V : GAF 20
Diagnosa didasarkan pada anamnesa, pemeriksaan psikiatrik, dan
pemeriksaan fisik pasien ketika dilakukan pemeriksaan. Pasien memiliki
gejala suka marah-marah, membanting barang hingga memukuli
keluarga, pasien juga memiliki disabilitas sangat berat dalam sosial,
mencakup kurangnya interaksi dan komunikasi dari pasien ke keluarga.

2. Kriteria Diagnosis Banding menurut PPDGJ III


F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala
Psikotik
Pedoman Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosis pasti :
(a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk
mania dengan gejala psikotik (F30.2); dan

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 12


(b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresif, atau campuran) di masa
lampau
3. Terapi
Rawat Inap
Perawatan singkat di rumah sakit diperlukan untuk tujuan pemeriksaan
lebih lanjut, menstabilkan keadaan pasien dan perlindungan terhadap pasien.
Pemeriksaan pasien membutuhkan monitoring ketat terhadap gejala dan
pemeriksaan tingkat bahaya pasien terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Di
samping itu, lingkungan rumah sakit yang nyaman, tenang dan terstruktur
dapat membantu pasien memperoleh kembali rasa realitasnya sambil
menunggu lingkungan dan obat menunjukkan efeknya. Lamanya perawatan di
rumah sakit tergantung pada tingkat keparahan penyakit pasien.

Psikofarmaka
1. Haloperidol
Sediaan:
Tersedia dalam bentuk tablet 2 5 mg, dalam bentuk ampul 5 mg/cc
Indikasi:
Agitasi psikomotor pada kelainan tingkah laku.
Kontraindikasi:
Depresi endogen tanpa agitasi, gangguan neurologis dengan gejala
piramidal atau ekstrapiramidal, koma, depresi, susunan saraf pusat,
hipersensitif, anak kurang lebih 3 tahun.
Efek Samping:
Hipertonia otot dan gemetar, tidak bisa istirahat, gerakan mata tak
terkoordinasi, hipotesi ortostatik, galaktore.
Pembahasan:
Dalam penggunaan obat anti-psikosis yang ingin dicapai adalah
optimal response with minimal side effects. Pemilihan jenis obat anti-
psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek
samping obat. Karena gejala dominan yang ada pada pasien ini adalah
gejala positif terapi pilihan yang diberikan berupa anti-psikosis tipikal
potensi tinggi yaitu Haloperidol. Dosis haloperidol yang diberikan
yakni 2 x 5 mg per hari. Haloperidol memiliki efek sedatif yang lemah
dan digunakan pada sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis,
menarik diri, perasaan tumpul, kehilangan minat dan inisiatif,
hipoaktif, waham, dan halusinasi.

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 13


2. Trihexylfenidil
- Sediaan : Tablet 2 mg
- Farmakodinamik:
Obat-obat ini terutama berefek sentral dibandingkan dengan potensi
atropine, trihexyphenidil memperlihatkan potensi antispasmodic
setengah, efek midriatik sepertiganya, efek terhadap kelenjar ludah
sepersepuluhnya. Trihexylphenidil dosis besar menyebabkan
perangsangan otak.
- Farmakokinetik:
Kadar puncak triheksylphenidil tercapai setelah 1-2 jam. Masa paruh
eliminasi terminal antar 10 dan 12 jam jadi sebnarnya pemberian 2 x
sehari sudah mencukupi, tidak 3 x sehari sehari sebagaimana dilakukan
saat ini.
- Indikasi :
Parkinson
Gangguan ekstrapiramidal yang disebabkan oleh SSP.

- Kontraindikasi :
Hipersensitifitas terhadap triheksifenidil atau komponen lain dalam
sediaan, glaukoma sudut tertutup, obstruksi duodenal atau pyloric,
peptic ulcer, obstruksi saluran urin achalasia, myastenia gravis.
- Efek samping:
Mulut kering, penglihatan kabur,pusing, cemas, kostipasi,retensi urin,
takikardi, dilatasi pupil, TIO meningkat, sakit kepala.
Pembahasan:
Khususnya pada pasien yang berada dalam risiko tinggi untuk
mengalami efek samping ekstrapiramidal (sebagai contoh, orang muda
seperti pada pasien ini), suatu obat antikolinergik harus diberikan
bersama-sama dengan antipsikotik sebagai profilaksis terhadap gejala
gangguan pergerakan akibat medikasi anti-psikosis. Obat pilihan yang
digunakan adalah Trihexylphenidyl (THP). Dosis Trihexylphenidyl
(THP) yang digunakan yakni 1-3 x 2 mg/hari. Profilaksis dengan obat
ini sebenarnya tidak dianjurkan karena dapat mempengaruhi
penyerapan/absorbsi obat anti-psikosis sehingga kadarnya dalam
plasma rendah dan dapat menghalangi manifestasi gejala
psikopatologis yang dibutuhkan untuk penyesuaian dosis anti psikosis
Laporan Kasus Kurnia Sari Page 14
agar tercapai dosis efektif. Namun pada kasus ini karena pasien
memiliki faktor predisposisi terjadinya efek ektrapirammidal (yaitu
usia muda) obat antikolinergik yang diberikan mengikuti algoritma.

3. Diazepam
- Sediaan : Tablet 2 5 mg; Ampul 10 mg/2 cc
- Mekanisme Kerja :
Bekerja pada sistem GABA, yaitu dengan memperkuat fungsi
hambatan neuron GABA
- Indikasi :
Gejala sasaran (target syndrome) : sindrom ansietas
- Kontraindikasi :
Pasien dengan hipersensitifitas terhadap benzodiazepine, glaukoma,
myasthenia gravis, chronic pulmonary insufficiency, chronic renal or
hepatic disease.
- Efek Samping :
Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja
psikomotormenurun, kemampuan kognitif melemah)
Relaksasi otot (rasa lemas, cepat lelah, dll).
Pembahasan:
Pasein mendapat terapi diazepam bertujuan sebagai anti ansietas.
Selain itu pasien juga mengalami keadaan sulit tidur, dimana efek
samping dari obat ini pasien akan merasa mengantuk, oleh karena itu
dosis dari obat ini diberikan pada siang dan malam hari agar pasien
bisa tidur dengan baik.
Psikoterapi
1. Mendengar dengan baik keluhan pasien
2. Psikoterapi untuk memperkuat fungsi ego dengan psikoterapi suportif
dan agar pasien dapat bersosialisasi.
3. Konseling untuk membantu pasien mengerti dirinya lebih baik agar
dapat mengatasi masalahnya menyesuaikan diri.
Sosioterapi
1. Memberi penjelasan tentang penyakit pasien kepada keluarga, agar
keluarga dapat memahami dan menerima keadaan pasien
2. Edukasi keluarga untuk mendengar curahan hati pasien dan membantu
pasien menyelesaikan masalahnya.

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 15


DAFTAR PUSTAKA

Badan POM RI. Informatorium Obat Nasional Indonesia. 2008. Jakarta : Segung Seto.

Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Indonesia. Farmakologi dan

Terapi Edisi 5. 2008. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Kaplan, H.I., Sadock, B.J. Sinopsis Psikiatri Klinis Edisi 7 Jilid Satu. 2010. Jakarta : EGC.

Maslim, R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. 2003.

Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

Maslim, R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ketiga.2007. Jakarta :

Laporan Kasus Kurnia Sari Page 16