Anda di halaman 1dari 25

PERTENUNAN

1. Maksud dan Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana proses pertenunan dengan alat tenun


bukan mesin rol dan dobby dimulai dari pembuatan rencana tenunnya.

2. Latar Belakang Masalah

Indonesia terdiri dari ribuan pulau, rangkaian budaya dan warisan


leluhur telah menghasilkan karya kain tenun yang mempunyai nilai filosofi
yang sangat tinggi dan sarat akan makna. Di beberapa daerah seperti di
daerah Sumatera utara, Aceh dan daerah lainnya, kain tenun di Indonesia
masih banyak yang ditenun menggunakan alat tenun gendong.

Sesuai namanya, kain tenun dibuat dengan teknik menenun untuk


menyatukan benang-benang membentuk kain. Sekilas teknik ini mirip seperti
menganyam, hanya saja bahan yang digunakan adalah benang. Pertama-
tama, benang dibentangkan secara vertikal dan disusun secara berjejeran di
alat tenun. Selanjutnya, benang arah horisontal maupun vertikal dimasukkan
ke susunan benang vertikal ataupun horizontal dengan pola tertentu untuk
membentuk corak. Kombinasi dari bentangan benang-benang vertikal dan
benang-benang horisontal ini yang selanjutnya menjadi kain sulam.
Mengingat proses pembuatannya yang sangat rumit dan panjang, maka tak
heran jika selembar kain tenun ini bisa dibuat dengan jangka waktu yang
cukup lama. Rata-rata kain tenun yang dibuat secara manual akan
menghabiskan waktu hingga lebih dari sebulan.

Karena membuat kain dengan menggunakan alat tenun bukan mesin


(ATBM) banyak digunakan dalam pembuatan kain khas nusantara maka dari
itu perlulah kita mengetahui bagaimana proses pembuatan kain dengan
motif tambahan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
3. Teori Dasar

Gambar 3.1. Backstrap Loom

ATBM sebenarnya merupakan perkembangan dari alat tenun gedogan,


yaitu pada ATBM dibuat rangka mesin yang mempermudah penggunaannya
daripada alat tenun gedogan. ATBM digerakkan oleh tenaga tangan dan
kaki. Pada awalnya ATBM dibuat untuk memenuhi kebutuhan tekstil kain,
karena keterbatasan kapasitas produksi kain dengan alat tenun gedogan
Seperti pada alat atau mesin tenun lainnya maka ATBM mempunyai prinsip
kerja yang sama yaitu yang disebut dengan gerakan pokok pertenunan.
Adapun gerakan pokok (Primary Motion) dari proses pertenunan sebagai
berikut:

a. Gerakan pembukaan mulut lusi, yaitu gerakan yang terjadi karena


adanya gerakan naik kelompok benang-benang lusi tertentu dan
gerakan turun kelompok benang-benang lusi tertentu. Akibat dari
pembukaan mulut lusi terbentuklah sebuah celah yang disebut mulut
lusi. Pada ATBM pembukaan mulut lusi terjadi karena adanya
peralatan : injakan, tali ikatan, kamran, matagun, tali penghubung, dan
rol kerek.

b. Gerakan peluncuran pakan, yaitu gerakan memasukan benang pakan


pada mulut lusi yang telah terbentuk. Pada ATBM peralatan yang
berfungsi untuk meluncurkan benang pakan : batang pemukul, tali
penarik picker, picker (pemukul), laci teropong, teropong, dan palet.
Gerakan ini terjadi karena teropong yang membawa benang pakan
dipukul oleh picker bolak-balik dari kanan ke kiri melalui mulut lusi.

c. Gerakan pengetekan, yaitu gerakan merapatkan benang pakan yang


telah diluncurkan dengan kain. Gerakan ini terjadi karena adanya
gerakan maju mundur dari lade yang mempunyai sisir tenun yang
digerakkan oleh tangan.

Disamping gerakan pokok tersebut diatas terdapat juga gerakan


sekunder (Secondary motion),yaitu :

a. Gerakan penguluran lusi, yaitu gerakan penguluran benang lusi


oleh boom tenun agar benang-benang lusi mempunyai tegangan yang
konstan. Peralatan yang digunakan : boom lusi, balok pembesut,
piringan pengerem, tali pengerem, batang pengerem, dan bandul
pengerem.

b. Gerakan penggulungan kain, yaitu gerakan penggulungan kain


yang teleh dihasilkan. Gerakan ini dimaksudkan untuk untuk menjaga
ketegangan benang lusi yang diproses tetep konstan. Peralatan yang
digunakan : boom kain, balok dada, gigi rachet, dan pemutar gigi
rachet.

Disamping itu juga terdapat gerakan tambahan (Auxilary motion) /


otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas.
Gambar 3.2 ATBM

Keterangan:

1. Lade
2. Laci
3. Sisir tenun
4. Teropong
5. Balok dada
6. Gigi rachet
7. Pemutar gigi rachet
8. Boom kain
9. Injakan
10. Rangka ATBM
11. Batang Pemukul
12. Mata gun
13. Rol/kerek
14. Gun/kamran
15. Balok pembesut
16. Benang lusi
17. Boom lusi
18. Piringan rem
19. Batang pengerem
20. Bandul pengerem

Bagian-bagian ATBM dan fungsinya :

a. Lade, funsinya sebagai tempat landasan teropong dan tempat sisir.

b. Laci, fungsinya sebagai ruangan untuk teropong sebelum dipukul oleh


picker.

c. Sisir tenun, fungsinya untuk mengatur lebar 1kain yang akan dibuat,
untuk merapatkan benang pakan yang telah diluncurkan dan untuk
mengatur tetal lusi.

d. Teropong, fungsinya untuk meluncurkan benang pakan dari kanan ke kiri


atau sebaliknyadan tempat palet.

e. Balok dada, fungsinya untuk pengantar jalannya kain yang telah


terbentuk dan agar kain tetap datar.
f. Gigi rachet, fungsinya sebagai alat untuk penggulungan kain secara
manual.

g. Pemutar gigi rachet, fungsinya untuk memutarkan roda gigi rachet.

h. Boom kain, fungsinya untuk menggulung kain yang telah terbentuk agar
tidak terjadi penumpukan kain dan juga untuk menjaga ketegangan
benang lusi agar konstan.

i. Injakan, fungsinya untuk menurunkan dan menaikkan kamran pada saat


injakan diinjak, antara injakan dan kamran digunakan tali pengikat.

j. Rangka, fungsingya sebagai penopang bagian-bagian yang lainnya agar


dapat bekerja sesuai dengan kegunaannya.

k. Batang pemukul, fungsinya untuk menarik picker agar teropong terpukul


dan meluncur.

l. Mata gun, fungsinya untuk memasukkan benang lusi agar dapat naik
turun sesuai gerakan kamran.

m. Rol/kerek, fungsinya menghubungkan dua kamran yang bekerjanya


saling berlawanan,sehingga pada saat salah satu kamran naik maka
kamran yang lainnya akan turun.

n. Gun/kamran, fungsinya untuk menaikkan atau menurunkan kelompok


benang-benang lusi yang dicucuk dalam matagun agar terbentuk mulut
lusi.

o. Balok pembesut, fungsinya untuk pengantar benang-benang lusi pada


saat penguluran.

p. Palet , fungsinya untuk temapt menggulung benang pakan yang


terdapat pada teropong

q. Boom lusi, fungsinya sebagai tempat digulungnya benang-benang lusi


yang akan ditenun pada proses pertenunan.

r. Piringan rem, fungsinya untuk landasan pengereman putaran boom lusi

s. Batang pengerem, fungsinya untuk mengerem atau melepaskan rem


pada saat penggulungan kain (secara manual).

t. Bandul, fungsinya untuk memberi beban pada batang pengerem


sehingga terjadi pengereman pada piringan pengerem.
u. Tempat sisir, fungsinya untuk tempat sisir agar sisir tetap berada
ditempatnya.

Mekanisme Pembentukkan Mulut Lusi

Mesin tenun dilihat dari sistem pembentukan mulut lusi terdapat 4 jenis yaitu:
1. Pembentukan mulut lusi menggunakan crank
2. Pembentukan mulut lusi menggunakan cam (tappet)
3. pembentukan mulut lusi menggunakan dobby
4. Pembentukan mulut lusi menggunakan jacquard.
Masing-masing memiliki karakteristik teknik dan operasional.

CAM

Gambar 3.3 Cam


Karakteristik/Mekanisme Cam
a. Teknik (kemampuan desain)
Untuk anyaman-anyaman sederhana
- Jumlah pick/repeat terbatas pada 8 s/d 10 pick/repeat
- Jumlah gun (jumlah benang lusi/repeat) terbatas pada 8, 10 atau 12
gun

b. Operasional
Kelebihan
- sederhana
- murah pemeliharaannya
- hampir tidak menyebabkan cacat kain
- bisa untuk kecepatan tinggi ( 1000, 1500 rpm)
Kekurangan
- desain terbatas
- sedikit menyulitkan pada saat sering dilakukan penggantian anyaman,
paling tidak menyetel cam-nya kembali.
- harus menganti roda gigi poros cam, jika anyaman baru memiliki
besar repeat yg beda

Gambar 3.4 Kain yang Dihasilkan oleh Cam

DOBBY

Gambar 3.5 Dobby Kartu Kayu Pertama

Pembentukan mulut lusi dengan cam hanya cocok untuk menenun


kain sederhana yang menggunakan paling banyak sepuluh kamran, atau
dalam satu rapot anyaman paling banyak ada 10 helai lusi. Untuk menenun
anyaman yang lebih rumit (1 rapot anyaman terdiri dari 11 s.d. 25 lusi)
digunakan peralatan yang lebih canggih yaitu dengan menggunakan dobby.
Dobby adalah peralatan yang dapat memilih masing-masing gun tanpa
menggunakan injakan, sebuah manual dobby menggunakan batang yang
mempunyai rantai yang telah dipasangakn paku. Paku tersebut memilih yang
akan digerakan. Pada kedua kasus gun-gun diangkat atau diturunkan oleh
kekuatan injakkan pada pedal dobby atau system elektrik atau sumber
tenaga yang lain. Ini adalah perbedaan yang sangat mencolok antara dobby
dengan mesin tenun biasa dengan injakan, dimana gun-gun dipasang
dengan menggunakan tali dengan jumlah injakan yang terbatas untuk
memilih dan menggerakan gun-gun.
Dobby mesin tenun memungkinkan berbagai macam jenis disain tenun
yang tidak dapat dibuat pada mesin tenun dengan injakan, akibat dari
kelemahan injakan. Area mesin tenun terbatas pada jumlah injakan yang
dapat digunakan pada kerangka mesin tenun, tetapi dobby hanya perlu
menambah batang-batang pada rantai dobby untuk memperluas kapasitas
tenunnya. Area tenun untuk delapan gun biasa membutuhkan sepuluh atau
dua belas injakan tetapi peralatan dobby yang dipasang pada mesin tenun
yang sama menggunakan rantaian batangnya berkisar dari dua belas
sampai tujuh puluh buah. Rata-rata rantai dobby dapat mempunyai kira-kira
50 batangan.
Dobby adalah peralatan pembentuk mulut lusi dimana corak anyaman
yang dihasilkan ditentukan oleh rencana kartu yang dibuat. Dobby
merupakan salah satu peralatan penggerak gun pada ATM, sama halnya
dengan Cam atau Eksentrik, namun kekurangan-kekurangan pada peralatan
eksentrik dapat ditutupi dengan menggunakan peralatan dobby ini, seperti
ketidakpraktisan dan biaya yang relatif lebih mahal apabila menggunakan
eksentrik, walaupun dobby itu sendiri masih memiliki kekurangan.
Dilihat dari kemampuan dalam membuat variasi desain anyaman,
peralatan dobby berada antara peralatan tappet dan jacquard, dimana jika
ada suatu desain anyaman yang tidak bisa dikerjakan oleh peralatan tapet,
sementara tidak ekonomis jika menggunakan jacquard, maka desain
anyaman tersebut bisa menggunakan peralatan dobby karena jumlah gun
yang dapat dikontrol oleh peralatan dobby antara 8 sampai dengan 50 gun.
Gambar 3.6 Kain yang Dihasilkan Dobby
Karakteristik/Mekanisme Dobby
a. Teknik (kemampuan desain)
Untuk anyaman-anyaman yang lebih bervariasi.
- Jumlah pick/repeat tidak terbatas (bisa lebih dari 5000 pick)
- Jumlah gun (jumlah benang lusi/repeat) normalnya sampai 20-28 gun,
banyak digunakan untuk menenun anyaman-anyaman campuran,
corak strip, check design, atau desain dengan karakter geometri.
Sapu tangan, taplak meja, handuk, dengan corak desain yang
berbeda pada border-nya
Operasional
Kelebihan
- bervariasi (serba guna)
- mudah penggantian corak anyaman
- pengantian corak anyaman tidak memerlukan waktu yang lama
Kekurangan
- lebih komplek dan mahal pemeliharaannya.
- Kain-kain dobby lebih mahal biaya produksinya.
Hattersley dobby
- cenderung kainnya lebih banyak cacat dibanding Cam.
- kecepatan mesin tenunnya terbatas (sampai 500 rpm)
Rotary Dobby generasi baru
- Biaya perawatan lebih murah
- Kecepatan bisa mencapai 1000-1500 rpm

Dobby dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok dilihat dari


segi-segi berikut :
Pengangkatannya
a. Dobby dengan pengangkataan tunggal (single lift)
Pada dobby dengan pengangkatan tunggal, pisau yang menggerakan
gun-gun harus berjalan bolak-balik (satu kali kekanan dan sat kali ke kiri)
untuk setiap peluncuran benang pakan, sehingga gerakan dobby sama
cepatnya dengan putaran poros engkol. Tiap-tiap gun hanya dihubungkan
dengan satu platina. Dobby dengan pengangkatan tunggal dipergunakan
untuk tenunan lebar dan tenunan berat.
b. Dobby dengan pengangkatan rangkap (double lift)
Jenis dobby ini menggunakan dua pisau untuk menggerakan gun-gun,
pisaunya satu kali berjalan bolak-balik (satu kali ke kiri satu kali ke kanan)
untuk tiap dua pakan yang diluncurkan. Tiap gun membutuhkan dua
platina, dan dua platina tersebut bekerjanya berganti-ganti sesuai untuk
tiap benang pakan ganjil dan yang genap, dobby akan bekerja lebih
tenang sehingga sesuai dipergunakan untuk mesin yang memiliki RPM
tinggi.

Banyaknya silinder yang digunakan


Jika dilihat dari banyaknya silinder yang digunakan, dobby dapat
dikelompokan menjadi dua kelompok yaitu : dobby dengan 1 silinder dan
dobby 2 silinder.
a. Dobby 1 silinder
Sesuai dengan namanya, dobby 1 silinder adalah dobby yang
mempergunakan satu buah silinder. Pada dobby jenis ini, desain-desain
anyaman yang dibuat lebih terbatas dibandingkan dengan dobby 2
silinder terutama jumlah helai pakan dalam satu repeatnya. Dobby jenis
ini biasa digunakan untuk pembuatan anyaman-anyaman sederhana.
b. Dobby 2 silinder
Lain halnya dengan dobby 1 silinder, dobby 2 silinder banyak digunakan
untuk pembuatan desain-desain anyaman yang memerlukan jumlah helai
pakan yang lebih banyak dalam satu repeatnya. Jumlah kartu dapat
dibagi menjadi dua tempat, yaitu ditempatkan pada silinder 1 dan silinder
2, sehingga tidak meninggalkan jumlah kartu yang panjang pada mesin.
Pada dobby 2 silinder dilengkapi juga dengan silinder tambahan yang
berfungsi untuk mengatur silinder mana yang akan aktif untuk membuat
desain anyaman yang sesuai dengan rencana

Pengembalian gun
Jika dilihat dari sistem pengembalian gun, dobby dapat dikelompokan
menjadi dua kelompok yaitu : dobby positif dan dobby negatif.
a. Dobby positif
Dobby positif adalah dobby yang dapat menggerakan gun untuk naik dan
mampu menurunkannya kembali tanpa memerlukan peralatan lain.
b. Dobby negatif
Dobby negatif adalah suatu peralatan dobby yang hanya dapat
menggerakan gun pada satu arah saja, dan biasanya hanya
menggerakan gun untuk naik saja sementara untuk menurunkan gun
tersebut diperlukan peralatan lain yang berupa per.

Penggerak pisau
Jika dilihat dari penggerak pisaunya, dobby dapat dikelompokan
menjadi dua yaitu dobby dengan penggerak stang T, dan dobby dengan
penggerak cam.
a. Dobby stang T
Dobby dengan penggerakan stang T, adalah peralatan dobby yang
menggunakan sebuah stang yang berbentuk T untuk menggerakan pisau
atas dan pisau bawah secara bergantian arah, stang T digerakan oleh
suatu stang penghubung yang dapat bergerak naik turun karena
dihubungkan dengan poros pukulan.
b. Dobby cam
Dobby cam adalah suatu peralatan dobby yang menggunakan cam yang
dipasang dengan arah yang berlawanan untuk menggerakan pisau atas
dan pisau bawah, dimana putaran dari cam didapat dari poros utama
melalui rantai penghubung yang menggerakan roda gigi payung yang
seporos dengan cam.

Jenis kartu
Jika dilihat dari jenis kartu yang digunakan, dobby dapat dikelompokan
menjadi dua kelompok yaitu : dobby kayu dan dobby plastik.
a. Dobby kayu
Dobby kayu adalah suatu peralatan dobby yang menggunakan kartu yang
terbuat dari kayu untuk pembacaan desain anyaman. Kayu-kayu ini
memiliki lubang-lubang sebanyak dua baris dan masing-masing baris
menunjukan jumlah helai pakan. Lubang pada dobby kayu yang dipasang
paku dobby dapat menggerakan gun naik sedangkan lubang pada dobby
kayu yang tidak dipasang paku dobby membuat gun diam ditempatnya
yang dapat menimbulkan efek pakan, melalui mekanisme peralatan
dobby.
b. Dobby plastik/kertas
Dobby plastik adalah suatu peralatan dobby yang menggunakan plastik
untuk pembacaan desain anyaman yang direncanakan, plastik-plastik ini
diberi lubang sesuai dengan rencana tenunnya, setiap lubang
menunjukan efek lusi yang akan terbentuk pada kain, karena melalui
mekanisme peralatan dobby dengan dobby plastik ini, jarum-jarum
vertikal sebagai jarum peraba akan jatuh pada lubang tersebut kemudian
gerakan lebih lanjut akan menurunkan hook yang nantinya akan terbawa
oleh pisau yang bergerak bolak-balik.

Mekanisme Dobby

Gambar 3.7 Mekanisme Dobby

Mekanisme Dobby terdiri dari tiga prinsip dasar :


1) Mekanisme motif (corak), yang selalu ada pada setiap mesin.
Mekanisme ini mengoperasikan gerak bolak balik satu atau dua bar
batang baja yang disebut pisau(knifes).
2) Mekanisme penyeleksian, yang mengoperasikan kartu dobby dan
pengontrolan transmisi gerakan dari mekanisme motif ke mekanisme
pengangkatan kamran.
3) Mekanisme pengontrolan kamran, terdiri dari hook dan yang menyangga
pisau dan dari mekanisme motif. Kedua hook dihubungkan dengan
pisau mekanisme motif.

Rencana Tenun

1 2 1 2 3 4

1 1

2 2

4
Gambar 3.3. Ilustrasi Injakan

Yang dimaksud dengan rencana tenun adalah suatu bagan yang


memberi petunjuk tentang hubungan antara anyaman tekstil, cucukan gun
ikatan gun dan cara pengangkatan gun. Dengan demikian maka rencana
tenun terdiri dari :
- Gambar anyaman
- Cucukan sisir (bagan ini tidak digambarkan)
- Cucukan gun
- Ikatan gun/rencana pena
- Injakan

Rencana tenun dapat dibedakan antara rencana tenun dengan


menggunakan rol kerek atau dengan peralatan dobby.

Gambar 3.4 Contoh Peg Plan Keper Kanan 2/2

Tipe cucukan pada rencana tenun berbagai macam, yaitu cucukan


lurus (straight draft), kombinasi, dan lain sebagainya.
Gambar 3.5 Contoh jenis cucukan lurus

4. Alat dan Bahan

a. Seperangkat Alat Tenun Bukan Mesin Rol

b. Seperangkat Alat Tenun Bukan Mesin Dobby

c. Pensil

d. Buku

e. Penghapus

f. Benang

5. Langkah Kerja

5.1 Membuat Rencana Tenun dengan ATBM Rol/Cam

1. Menentukan jenis anyaman yang akan dibuat


2. Menentukan jumlah gun yang akan digunakan
3. Menentukan jenis cucukan yang digunakan
4. Menentukan jenis injakan yang digunakan.
5. Menentukan ikatan gun pada injakan dengan cara :
a. Gun yang diharuskan naik diikatkan pada injakan yang akan
diinjak
b. Gun yang diharuskan turun diikatkan pada injakan yang tidak
diinjak pada peluncuran pakan yang bersangkutan
5.2 Membuat Rencana Tenun dengan Dobby
1. Menentukan jenis anyaman yang akan dibuat
2. Menentukan jumlah gun yang akan digunakan
3. Menentukan jenis cucukan yang akan digunakan
4. Menentukan rencana paku rang yang akan digunakan dengan cara:
a. Paku dobby dipasang pada lubang dobby yang nantinya akan
bersentuhan dengan platina pada mesin dobby, hingga akan
timbul efek lusi
b. Gun yang diharuskan turun atau diam, lubang dobby tidak
dipasang paku

5.3 Pertenunan

Melakukan pertenunan pada alat tenun bukan mesin cam dengan


mengikuti rencana tenun yang telah dibuat. Terlebih dahulu dilakukan
penggantian ikatan injakan dimana disesuaikan dengan rencana tenun
lalu dilakukan proses pertenunan.

Catatan:

Tidak dilakukan pertenunan pada alat tenun bukan mesin dobby, hanya
dilakukan perkenalan alat saja.
6. Data Percobaan

6.1 Rencana Tenun dengan ATBM Rol/Cam

A B C D
4 4
3 3
2 2
1 1 C
B

4
3
2
1
1 2 3 4 1 2 3 4

Keterangan:

AA = Anyaman D

B = Cucukan lusi

C = Ikatan gun

D = Injakan

= Gun yang naik

= Gun yang turun

2 1

222
Catatan:

Tidak dilakukan pembuatan rencana tenun untuk dobby, hanya dilakukan


pengenalan alat beserta bagaimana cara pembuatan rencana tenunnya.

7. Pembahasan

Praktikum Tekstil Tradisional ini bertujuan untuk mengetahui


bagaimana proses pertenunan dengan ala tenun bukan mesin rol dan dobby
dimulai dari pembuatan rencana tenunnya. Pembuatan rencana tenun
dilakukan dengan cara:

a. Menentukan jenis anyaman yang akan kita buat

b. Menentukan jumlah gun yang akan kita gunakan

c. Menentukan jenis cucukan yang digunakan

d. Menentukan jenis injakan yang digunakan.

e. Menentukan ikatan gun pada injakan dengan cara :

- Gun yang diharuskan naik diikatkan pada injakan yang akan diinjak

- Gun yang diharuskan turun diikatkan pada injakan yang tidak diinjak
pada peluncuran pakan yang bersangkutan

Prinsip pertenunannya seperti prinsip pertenunan pada dasarnya, yaitu:


Gambar 6.1. Prinsip Pertenunan pada ATBM

Adapun cara pembuatannya, yaitu:

1. Gerakan Pokok (Primary Motion)

a. Pembukaan mulut lusi (shedding motion)

Yaitu gerakan yang terjadi karena adanya gerakan naik kelompok


benang-benang lusi tertentu dan gerakan turun kelompok benang-
benang lusi tertentu. Akibat dari pembukaan mulut lusi terbentuklah
sebuah celah yang disebut mulut lusi. Pada ATBM pembukaan mulut
lusi terjadi karena adanya peralatan: injakan, tali ikatan, kamran,
mata gun, tali penghubung, dan rol kerek.

b. Peluncuran benang pakan (picking motion)

Gambar 6.2. Penyisipan Benang Pakan

Yaitu gerakan memasukan benang pakan pada mulut lusi yang telah
terbentuk. Pada ATBM peralatan yang berfungsi untuk meluncurkan
benang pakan : batang pemukul, tali penarik picker, picker (pemukul),
laci teropong, teropong, dan palet. Gerakan ini terjadi karena
teropong yang membawa benang pakan dibawa bolak-balik dari
kanan ke kiri melalui mulut lusi.

c. Pengetekan (beating motion)

Yaitu gerakan merapatkan benang pakan yang telah diluncurkan


dengan kain. Gerakan ini terjadi karena adanya gerakan maju
mundur dari lade yang mempunyai sisir tenun yang digerakkan oleh
tangan.

d. Penyisipan benang pakan tambahan

Untuk menghasilkan motif atau desain tertentu maka disisipkan


benang pakan tambahan sesuai dengan pola yang telah dibuat.

2. Gerakan Tambahan (Secondary Motion)

a. Gerakan Penguluran Benang Lusi

Gerakan penguluran lusi, yaitu gerakan penguluran benang lusi oleh


boom tenun agar benang-benang lusi mempunyai tegangan yang
konstan.

b. Penggulungan Kain (Take off)

Yaitu gerakan penggulungan kain yang telah dihasilkan. Gerakan ini


dimaksudkan untuk untuk menjaga ketegangan benang lusi yang
diproses tetep konstan.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat praktikum ini, yaitu:

1. Pada saat peluncuran pakan haruslah dengan tenaga yang cukup


sehingga palet yang berisi benang pakan dapat meluncur dengan
mulus. Apabila terlalu kuat, palet bisa meluncur dari landasannya dan
apabila terlalu lemah, palet tidak akan sampai pada ujung. Dan setelah
peluncuran pakan, langsung diketek.

2. Pada saat menginjak injakan haruslah dengan teliti jangan sampai salah
dalam menginjak urutan injakannya karena akan menyebabkan
peubahan bentuk anyaman sehingga akan terjadi kemungkinan
anyaman yang terbentuk tidak sesuai dengan motif pada awalnya.
3. Pengetekan harus dilakukan dengan kuat agar kain hasil anyaman tidak
longgar.

Setelah dilakukan pertenunan pada alat tenun bukan mesin (ATBM) rol/cam,
didapatkan hasil anyaman seperti berikut:

Gambar 6.3 Hasil Anyaman

Gambar 6.4 Kenampakan Anyaman

Terlihat bahwa anyaman yang dihasilkan berbeda dengan anyaman yang


dibuat pada rencana tenun. Rencana anyaman tersebut dibuat dengan
menggunakan cucukan gun 1-3-4-2, namun ternyata pada mesin ATBM rol yang
disediakan cucukanya tidaklah demikian pada saat dilakukan pengecekan
kembali, sehingga ketika dilakukan proses pengetekan motif yang dihasilkan
berbeda dengan motif yang telah direncanakan. Dan urutan injakan dari rencana
tenun dengan injakan pada saat pelaksanaan pun dilakukan perubahan, dari
yang tadinya urutannya 1-4-2-3 menjadi lurus 1-2-3-4. Hal-hal tersebut
memengaruhi pada hasil anyaman sehingga anyaman yang dihasilkan tidak
sesuai dengan motif anyaman pada rencana tenun. Oleh karena itu pada saat
akan merencakan motif anyaman, haruslah diketahui terlebih dahulu jenis
cucukannya (dilakukan pengecekan) agar ketika dilakukan pertenunan motif
yang dibuat tidak akan keliru. Selain dari kedua faktor tersebut, ada satu lagi
yang mungkin memengaruhi pada anyaman yang dihasilkan, yaitu karena
pertenunannya dilakukan secara bergantian antara satu orang dengan satu
orang kemungkinan terjadinya kesalahan penginjakan urutan injakan dapat
terjadi sehingga anyamannya berubah. Dan juga terkadang palet yang berisi
benang pakan yang diluncurkan tidak meluncur secara sempurna sehingga
dapat pula memengaruhi anyaman yang dihasilkan, terlihat dari beberapa
pengulangan motif anyaman, ada sebagian yang kosong.

8. Kesimpulan

Pertenunan dengan menggunakan alat tenun bukan mesin rol/cam dan


dobby pada dasarnya dilakukan dahulu pembuatan rencana pertenunan
dengan cara:

a. Menentukan jenis anyaman yang akan kita buat

b. Menentukan jumlah gun yang akan kita gunakan

c. Menentukan jenis cucukan yang digunakan

d. Menentukan jenis injakan yang digunakan.

Pertenunannya pun menggunakan prinsip pertenunan pada dasarnya,


yaitu dilakukan dengan cara:

a. Gerakan Pokok (Primary Motion)

- Pembukaan mulut lusi (shedding motion)

- Penyisipan benang pakan (picking motion)

- Pengetekan (beating motion)

- Penyisipan benang pakan tambahan

b. Gerakan Tambahan (Secondary Motion)

- Penguluran benang lusi

- Penggulungan kain (take off)


Rencana tenun sangatlah berpengaruh pada hasil anyaman yang
dihasilkan. Rencana tenun harus dibuat secara matang dan harus dilakukan
pengecekan cucukan terlebih dahulu pada saat akan dibuat rencana tenun.
DAFTAR PUSTAKA

Jumaeri, S.Teks., dkk. 1977. Pengetahuan Barang Tekstil. Institut Teknologi


Tekstil: Bandung

Kunthara. (2014). Supplementary-weft weaving technique (Backstrap loom).


http://kuntharatex.blogspot.co.id/2014/03/supplementary-weft-weaving-
technique.html (Diakses 4 Juni 2016)

Like Soeparlie, S.Teks, dkk. 1974. Teknologi Persiapan Pertenunan. Sekolah


Tinggi Teknologi Tekstil. Bandung.