Anda di halaman 1dari 21

PENGENALAN ALAT APLIKASI PESTISIDA

(Laporan Praktikum Pengendalian Hama Tanaman)

Oleh

Haitomi
1514121118
Kelompok 7

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Di dalam setiap kegiatan pertanian selalu ditemukan permasalahan rusaknya


bagian tanaman, sehingga mempengaruhi produksi tanaman. Permasalahan
tersebut timbul akibat peristiwa makan oleh organisme maupun mikroorganisme
tertentu, karena memang tanaman tersebut merupakan jenis makananannya. Oleh
karena itu, untuk benar-benar meniadakan permasalahan tersebut merupakan
sesuatu yang hampir tidak mungkin. Terlebih lagi permasalahn yang ditimbulkan
oleh mikroorganisme, yang lebih lanjut disebut sebagai penyakit tanaman.

Namun, sebagai pelaku pertanian, kita dapat mengendalikan setiap organisme


yang menjadi pengganggu bagi tanaman kita. Untuk mengendalikan penyakit
tanaman, sering sekali ditemui jalan akhir yang mengharuskan menggunakan
pestisida. Penggunaan pestisida yang tepat sasaran dan tepat dosis serta tidak
mengganggu keseimbangan ekosistem merupakan langkah yang harus
diperhatikan dalam melakukan pengendalian penyakit tanaman sehingga
kedepannya keadaan lingkungan tetap terjaga dan tidak terjadi pencemaran yang
akan berakibat buruk untuk kehidupan selanjutnya,

Ada berbagai macam cara dalam aplikasi pestisida. Cara yang paling sederhana
adalah dengan cara disebar langsung, sehingga tak memerlukan alat. Namun,
untuk beberapa pestisida, diperlukan alat untuk mengaplikasikannya. Alat yang
digunakan haruslah sesuai kebutuhan, yaitu sesuai bentuk (wujud) pestisida, dan
cara aplikasi yang dipilih. Aplikasi yang dapat dilakukan yaitu dengan prinsip
cairan yang dikabutkan, hingga yang berwujud asap. Cara aplikasi ini juga
mempengaruhi keefektifan pengendalian, sehingga berkaitan dengan sejumlah
biaya yang harus dikeluarkan untuk aplikasi pestisida tersebut.
I.2 Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini adalah sebagai berikut :


1. Mengenal macam-macam alat aplikasi pestisida.
2. Mengetahui bagian masing-masing alat aplikasi pestisida.
3. Mengetahui mekanisme kerja masing-masing alat aplikasi pestisida.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh aplikasi yang tepat,


untuk menjamin pestisida tersebut mencapai jasad sasaran yang dimaksud, selain
juga oleh faktor jenis dosis, dan saat aplikasi yang tepat. Dengan kata lain tidak
ada pestisida yang dapat berfungsi dengan baik kecuali bila diaplikasikan dengan
tepat. Aplikasi pestisida yang tepat dapat didefinisikan sebagai aplikasi pestisida
yang semaksimal mungkin terhadap sasaran yang ditentukan pada saat yang tepat,
dengan liputan hasil semprotan yang merata dari jumlah pestisida yang telah
ditentukan sesuai dengan anjuran dosis (Wudianto, 2004).

Wudianto (2004), adapun cara pemakaian pestisida yang sering dilakukan oleh
petani adalah sebagai berikut :

1. Penyemprotan (Spraying) : merupakan metode yang paling banyak digunakan.


Biasanya digunakan 100-200 liter eceran insektisida per ha. Paling banyak
adalah 1000 liter per ha sedangkan yang paling kecil 1 liter per ha seperti
dalam ULV.

2. Dusting : untuk hama rayap kayu kering cryptothermes, dusting sangat efisien
bila dapat mencapai koloni karena racun dapat menyebar sendiri melalui efek
prilaku trofalaksis.

3. Penuangan atau penyiraman (pour on) : Misalnya untuk membunuh sarang


semut, rayap, dan serangga tanah di persemaian.

4. Injeksi batang : Dengan insektisida sisitemik bagi hama batang, daun, dan
penggerek.

5. Dipping : rendaman/pencelupan seperti untuk biji/benih Kayu.


6. Fumigasi: penguapan, misalnya pada hama gudang atau kayu.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam menaplikasikan sesuatu
pestisida antara lain;

1. Dosis Pestisida.

Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk
mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan
dalam satu aplikasi atau lebih. Sementara dosis bahan aktif adalah jumlah bahan
aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume
larutan. Besarnya suatu dosis pestisida tergantung dalam label pestisida. Sebagai
contoh dosis insektisida diazinon 60 EC adalah satu liter per ha untuk sekali
aplikasi, atau misal 400 liter larutan jadi diazinon 60 EC per ha untuk satu kali
aplikasi sedangkan untuk dosis bahan aktif contohnya sumibas 75 SP dengan
dosis 0,75 kg/ha (djojosumarto, 2008).

2. Konsentrasi Pestisida

Konsentrasi penyemprotan adalah jumlah pestisida yang disemprotkan dalam satu


liter air (atau bahan pengencer lainnya) untuk mengendalikan organisme
pengganggu tanaman (OPT) tertentu. Ada tiga macam konsentrasi yang perlu
diperhatikan dalam hal penggunaan pestisida.

a. Konsentrasi bahan aktif yaitu persentase bahan aktif pestisida dalam larutan
yang sudah dicampur dengan air

b. Konsentrasi formulasi yaitu banyaknya pestisida dalam cc atau gram setiap


liter air

c. Konsentrasi larutan atau konsentrasi pestisida yaitu persentase kandungan


pestisida dalam suatu larutan jadi (Djojosumarto ,2008).

3. Volume Semprot
Volume semprot adalah banyaknya larutan jadi insektisida yang digunakan untuk
menyemprot hama/penyakit per satuan luas atau per satuan individu tanaman.

4. Bahan Penyampur

Pestisida sebagai bahan racun aktif (active ingredients) dalam formulasi biasanya
dinyatakan dalam berat/volume (di Amerika Serikat dan Inggris). Bahan-bahan
lain yang tidak aktif yang dicampurkan dalam pestisida yang telah di formulasi
dapat berupa:

a. Solvent adalah bahan cair telarut mis: alkohol, minyak tanah, xyline dan air.
Biasanya bahan terlarut ini telah diberi deodorant (bahan penghilang bau tidak
enak baik yang berasal dari pelarut maupun dari bahan aktif).

b. Sinergis adalah sejenis bahan yang dapat meningkatkan daya racun walaupun
bahan itu sendiri mungkin tidak beracun, seperti sesamin (berasal dari biji
wijen), dan piperonil butoksida.

c. Emulsifier merupakan bahan detergen yang akan memudahkan terjadinya


emulsi bila bahan minyak diencerkan dalam air (Sastroutomo, 1992).

Beberapa alat semprot untuk pengendalian hama penyakit antar lain:

1. Knapsack Sprayer
Alat semprot yang sangat meluas digunakan, tidak hanya untuk menyemprot
hama, tetapi juga untuk menyemprot gulma, bahkan untuk menyemprot tanaman
dengan pupuk cair. Alat ini hanya bisa untuk bahan cair dengan bahan pelarut air.
Kapasitas tangki antara 15-20 liter dioperasikan secara manual dengan pompa
tangan dan daya jangkaunya sangat terbatas yaitu 2 meter.

2. Mist Blower
Alat semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin. Bisa digunkan untuk bahan
cairan, tepung dan butiran. Daya jangkaunya 10 meter. Kapasitas tengki 14 liter.
3. Pulsfog
Alat semprot yang dioperasikan dengan tenaga mesin digunakan hanya untuk
bahan cair, dimana keluarnya berupa kabut. Penyemprotan dilakukan pada malam
hari pada saat kabut sudah mulai turun.

Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh


atau mengendalikan berbagai hama. Berdasarkan asal katanya pestisida berasal
dari bahasa inggris yaitu pest berarti hama dan cida berarti pembunuh. Yang
dimaksud hama bagi petani sangat luas yaitu : tungau, tumbuhan pengganggu,
penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus,
nematoda (cacing yang merusak akar), siput, tikus, burung dan hewan lain
yang dianggap merugikan (Djojosumarto, 2008)

Berdasarkan Bentuk Formulasi Pestisida Formulasi pestisida yang dipasarkan


terdiri atas bahan pokok yang disebut bahan aktif (active ingredient) yang
merupakan bahan utama pembunuh organisme pengganggu dan bahan ramuan
(inert ingredient), (Wudianto R, 2010). Beberapa jenis formulasi pestisida sebagai
berikut :

1. Tepung Hembus, debu (dust = D)


Bentuknya tepung kering yang hanya terdiri atas bahan aktif, misalnya
belerang atau dicampur dengan pelarut aktif, kandungan bahan aktifnya
rendah sekitar 2-10%. Dalam penggunaannya pestisida ini harus
dihembuskan menggunakan alat khusus yang disebut duster.
Universitas Sumatera Utara

2. Butiran (granula = G)
Pestisida ini berbentuk butiran padat yang merupakan campuran bahan aktif
berbentuk cair dengan butiran yang mudah menyerap, bagian luarnya
ditutup dengan suatu lapisan.
3. Tepung yang dapat disuspensikan dalam air (wettable powder = WP)
Pestisida berbentuk tepung kering agak pekat ini belum bisa secara
langsung digunakan untuk memberantas jasad sasaran, harus terlebih
dahulu dibasahi air. Hasil campurannya dengan air disebut suspensi.
Pestisida jenis ini tidak larut dalam air, melainkan hanya tercampur saja.
Oleh karena itu, sewaktu disemprotkan harus sering diaduk atau tangki
penyemprotnya digoyang-goyang.

4. Tepung yang larut dalam air (water-sofable powder = SP)


Pestisida berbentuk SP ini sepintas mirip WP. Penggunaanya pun
ditambahkan air. Perbedaannya terletak pada kelarutannya. Bila WP tidak
bisa terlarut dalam air, SP bisa larut dalam air. Larutan ini jarang sekali
mengendap, maka dalam penggunaannya dengan penyemprotan,
pengadukan hanya dilakukan sekali pada waktu pencampuran.

5. Suspensi (flowable concentrate = F)


Formulasi ini merupakan campuran bahan aktif yang ditambah pelarut
serbuk yang dicampur dengan sejumlah kecil air. Hasilnya adalah seperti
pasta yang disebut campuran basah. Campuran ini dapat tercampur air
dengan baik dan mempunyai sifat yang serupa dengan formulasi WP yang
ditambah sedikit air.

6. Cairan (emulsifiable concentrare = EC)


Bentuk pestisida ini adalah cairan pekat yang terdiri dari campuran bahan
aktif dengan perantara emulsi (emulsifiet). Dalam penggunaanya, biasanya
dicampur dengan bahan pelarut berupa air. Hasil pengencerannya atau
cairan semprotnya disebut emulsi.

7. Solution (S)
Solution merupakan formulasi yang dibuat dengan melarutkan pestisida ke
dalam pelarut organik dan dapat digunakan dalam pengendalian jasad
pengganggu secara langsung tanpa perlu dicampur dengan bahan lain.
Formulasi ini hampir tidak ditemu

III. METODOLOGI PRAKTIKUM

III.1 Waktu dan Tempat

Adapun praktikumPraktikum ini dilaksanakan pada:


Tanggal : 28 Maret 2017
Jam : 15.00-17.00
Tempat : Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian
Universitas Lampung

III.2 Alat dan Bahan

Adapun peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah alat tulis.

Sedangkan bahan yang digunakan yaitu alat aplikasi pestisida semi-automatic


sprayer, automatic sprayer, Mist Duster, swingfog, dan soil injector, Perangkap
hama, dan emposan tikus.

III.3 Cara Kerja

Adapun cara kerja pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

1. Digambar secara skematis maing-masing alat aplikasi pestisida dan memberi


keterangan masing-masing bagiannya. Cermatilah bentuk tangki maupun
dasar tangki, tipe pompa dan nozzle atau nosel!
2. Dijelaskan mekanisme kerja, kegunaan, kelebihan dan kelemahannya masing-
masing alat aplikasi pestisida!
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan yang telah dilakuka disajikan dalam teabel sebagai beriikut ini :

N Gambar Keterangan
o
1 Semi automatic sprayer 1. Selang
2. Tuas ungkit
3. Tangki pestisida
4. Kran
Tuas penyemprot
Pembahasan :
Alat ini berfungsi untuk mengaplikasikan pestisida berbentuk larutan dan hama
sasarannya adalah hampir semua jenis erangga. Prinsip kerja alat ini yaitu
memecah cairan menjadi butiran partikel yang halus menyerupai kabut, sehingga
aplikasi pestisida lebih efisien dan merata ke seluruh permukaan daun atau tajuk
tanaman. Butiran halus terbentuk, dengan menggunakan prinsip tekanan
(hydraulic atomization), yaitu dengan melakukan pemompaan sehingga larutan
mengalir melalui selang dan keluar melalui nozle. Nozle inilah yang berperan
membentuk kabut, karena lubang yang kecil dan keluar secara tak langsung
(Djojosumarto, 2000).
Kebanyakan petani menggunakan saprayer jenis ini, karena dipandang paling
mudah dan paling sesuai digunakan. Namun bebrapa masalah yang kerap
dijumpai yaitu hasil penyemprotan kurang efektif, tidak efisien dan beberapa
bagian alat mudah rusak.
No Gambar Keterangan
2 Automatic sprayer 1. Tuas pompa
2. Tangki pestisida
3. Selang]
4. Gagang nozle
5. Manometer
6. Lubang pemasukan
larutan pestisida
Pembahasan :
prinsip kerja alat penyemprot ini adalah memecah cairan menjadi butiran partikel
halus yang menyerupai kabut. Dengan bentuk dan ukuran yang halus ini maka
pemakaian pestisida akan efektif dan merata ke seluruh permukaan daun atau
tajuk tanaman. Untuk memperoleh butiran halus, biasanya dilakukan dengan
menggunakan proses pembentukan partikel dengan menggunakan tekanan
(hydraulic atomization), yakni cairan di dalam tangki dipompa sehingga
mempunyai tekanan yang tinggi, dan akhirnya mengalir melalui selang karet
menuju ke alat pengabut. Cairan dengan tekanan tinggi dan mengalir melalui
celah yang sempit dari alat pengabut, sehingga cairan akan pecah menjadi
partikel-partikel yang sangat halus (Sastroutomo, 1992).
Alat ini digunakan untuk pestisida yang berjenis cairan dan hama sasarannya
adalah hama pada tanaman padi dan lainnya
Keuntungan dari sprayer jenis ini adalah tidak rumit, relative ringan, dan dapat
digunakan pada berbagai keadaan. Kekurangannya, hanya bisa diaplikasikan
untuk peliputan yang relative sempit. Pestisida berformulasi WP (wettable
powder) cenderung sering menyumbat nozel sprayer dan pengadukan pestisida
sering jelek (PPKKI, 2010).

N Gambar Keterangan
o
3 Mist Duster 1. Unit tangki
2. Unit penghembus
3. Motor penggerak
4. Tangki bahan bakar
5. Stang pengontrol
6. Kepala penghembus

Pembahasan :
Mekanisme kerja alat ini yaitu terlebih dahulu pestisida dilarutkan, baru
kemudian disemprotkan ke tanaman dengan wujud semprotan berupa embun.
Alat ini cocok untuk tipe pestisida berformulasi cair dan digunakan untuk hama
di tanaman perkebunan.
Keuntungan dengan menggunakan alat ini yaitu dapat diaplikasikan untuk lahan
yang luas dengan waktu yang relatif singkat, serta tak memerlukan banyak
tenaga kerja. Kelemahan menggunakan alat ini yaitu perlunya modal besar,
karena harganya baik harga beli maupun sewa relatif mahal, serta biaya
pengoprasian dan perawatannya yang juga mahal dan harus rutin. Alat ini juga
tak dapat diaplikasikan terhadap tanaman yang masih muda karena
dikhawatirkan terlalu kuatnya tekanan semprot menyebabkan kerusakan pada
tanaman.
Mekanisme kerja alat ini adalah dimulai dengan membuka aliran bensin,
apabila mesin masih dingin, tekan choke karburator sehingga bensin di tempat
karburator penuh. Lalu buka gas kurang lebih setengahnya, kemudian tarik
starter dengan hati-hati, jangan dihentakkan. Apabila mesin hidup, mulailah
mengatur gas
sehingga mesin berjalan normal.

N Gambar Keterangan
o
4 Swing Fog 1. Nozle
2. Selang
3. Tangki pestisida
4. Tangki bahan bakar
Mesin

Pembahasan :
Mekanisme kerja alat ini yaitu terdapat mesin yang bekerja berdasarkan prinsip
semburan berpulsa. Campuran bahan bakar bensin dan udara akan dibakar
dalam ruang pembakaran dan menghasilkan asap hasil pembakaran keluar
melalui pipa yang lebih kecil dari ruang pembakaran. Larutan bahan kimia
diujung resonator, lewat arus pulsa gas, kemudian pecah menjadi jutaan partikel
kecil, dan dihembuskan ke udara berwujud kabut tebal. Alat ini cocok untuk
pestisida yang berformulasi dust dan digunakan untuk serangga nyamuk.
Keuntungan pemakaian alat ini adalah tenaga pengabut dapat meliputi areal
yang cukup luas, dan efek residu pestisida relative kecil karena partikel
pestisida tidak melekat pada tanaman. Kekurangannya, karena partikel pestisida
tidak melekat pada tanaman melainkan melayang-layang pada ruang kosong
diantara bagian tanaman, maka begitu aerosol menghilang hama-hama lain yang
dating menjadi aman. Sebaliknya, semua serangga akan mati termasuk musuh
alaminya (PPKKI, 2010).
Cara aplikasi dengan alat pengabut tidak perlu diarahkan pada bidang sasaran
tertentu, melainkan cukup berjalan lurus dengan kecepatan 1,5 km/jam. Jarak
antar jalur yang dilewati oleh tenaga pengabut sekitar 19 meter. Keberhasilan
aplikasi pestisida dengan fogger sangat ditentukan oleh kecepatan angin dan
kelembaban nisbi udara yang tinggi sehingga waktu aplikasi yang tepat adalah
tengah malam sampai pukul empat pagi (Sukma,1991).

No Gambar Keterangan
5. Soil Injector 1. Selang
2. Tangkai nozle
3. Nozle
4. Stang
5. Knop injeksi

Pemabahasan :
Alat ini digunakan untuk fumigasi tanah, atau memberikan nematisida yang
berbentuk cair dan bersifat fumigan pada perkebunan yang tidak luas, dan
biasanya digunakan secara manual. Mekanisme kerja alat ini yaitu mula-mula
cairan pestisida dimasukkan ke dalam tangki, kemudian kepala penusuk tanah
dimasukkan ke dalam tanah sampai lubang pengatur dalamnya injeksi.
Selanjutnya knop injeksi ditekan ke bawah, sehingga cairan keluar dari lubang
nozzle. Keunggulan dari alat ini yaitu dapat menjangkau patogen di dalam
tanah. Sedangkan kelemahan dari alat ini yaitu hanya bisa digunakan secara
manual dan daya jangkau yang sempit khusus pada daerah yang diaplikasikan.

Alat ini digunakan untuk pestisida berformulasi cair, dan biasanya digunakan
untuk nematisida yang berada dalam tanah dan tidak terjangkau jika hanya
disemprot.

Bagian-bagian alat ini terdiri dari jarum injeksi, pegangan, dan tabung berisi
pestisida. Kelebihan dari alat ini yaitu sudah dilengkapi dengan tabung tempat
pestisida. Sedangkan kekurangannya yaitu hanya diaplikasikan pada areal yang
relatif sempit, sehingga apabila diaplikasikan untuk areal yang luas perlu tenaga
yang cukup banyak.

N Gambar Keterangan
o
6. Perangkap Hama

Pengendalian hama PBKo yang efektif dapat dilakukan dengan menerapkan


sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) terutama dengan menggunakan
perangkap serangga (hama penggerek buah kopi) yang lebih dikenal dengan
nama Brocap Trap. Alat ini menggunakan dan dilengkapi dengan senyawa
Hypotan yang diproduksi oleh Pusat Penelitian Kopi dan
Kakao Indonesia (Puslit Koka).
Perangkap dengan senyawa penarik Hypotan, dapat menarik serangga secara
selektif yaitu hanya menarik serangga penggerek buah kopi dewasa, sehingga
aman bagi musuh alami serangga lain maupun serangga PBKo itu sendiri. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa jumlah serangga PBKo yang tertangkap
porsinya lebih dari 95%, sedang sisanya merupakan serangga hama lainnya dan
serangga netral serta sebagian kecil jenis predator dan parasitoid.
Seranggahama lain yang juga tertangkap adalah hama penggerek ranting kopi
(Xylosandrus sp.). Hal ini diduga karena serangga ini memiliki hubungan
kekerabatan yang dekat dengan hama penggerek buah kopi, yaitu masih dalam
famili yang sama (Scolytidae). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mathieu et al.
(1997) mendapatkan bahwa dalam penelitian preferensi serangga PBKo terhadap
warna buah kopi menunjukkan serangga tersebut lebih menyukai warna buah merah
yang telah masak dibanding warna buah yang masih hijau. Sedangkan di El Salvador,
warna perangkap merah merupakan yang paling efektif dalam menangkap serangga
PBKo, dan jenis warna ini digunakan sebagai warna alat perangkap yang telah
dipatenkan dengan nama BROCAP trap (Dufour et al., 2001).
N Gambar Keterangan
o
7. Emposan Tikus

Pembahasan :
Alat ini efektif untuk digunakan membasmi hama tikus disawah. Caranya
adalah dengan membakar jerami plus belerang didalam tabung alat, kemudian
menghembuskan angin dengan cara memutar tuas kipas, maka asap beracun
akan keluar. Asap inilah yang dimasukkan/diarahkan ke dalam lubang-lubang
tempat tikus bersembunyi dilahan persawahan. Dengan pengasapan ini maka
tikus-tikus tersebut akan mati (Djojosumarto, 2004).

Alat ini digunakan untuk pestisida yang berformulasi dust sama halnya dengan
mit duster. Alat ini biasanya digunakan untuk mengendalikan hama tikus.

Kelebihan alat ini yaitu mudah diaplikasikan. Namun kekurangannya yaitu


tidak dapat digunakan diareal yang luas, karena apabila lubang tikusnya banyak,
maka butuh tenaga kerja serta biaya yang banyak pula.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan


sebagi berikut.
1. Alat-alat yang digunakan untuk aplikasi pestisida diantaranya adalah semi
automatic sprayer, automatic sprayer, mist duster, swing fog, soil injector,
emposan tikus dan perangkap hama.
2. Berbagai macam alat aplikasi pestisida yang dapat digunakan untuk
megendalikan hama dan penyakit, namun penggunaan sebaiknya
memperhatikan mekanise kerja yang sesuai dengan kebutuhan.
3. Secara umum, kegunaannya sama, sebagai aplikator pestisida. Namun, terdapat
keunggulan dan kelemahan dari masing-masing alat, sehingga pelaksana dapat
mepertimmbangkan alat ana yang akan digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida Dan Aplikasinya. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Djojosumarto, P., 2000, Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius.


Yogyakarta.

Djojosumarto, Panut. 2004. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius.


Yogyakarta.

Dufour, B. (2002). Importance of trapping for integrated management (IPM) of


the coffee berry borer, Hypothenemus hampei Ferr. Research and Coffee
Growing. Plantation, Recherche, Developpement, May 2002, 14116.

Pusat Peneletian Kopi dan Kako Indonesia. 2010. Buku Pintar Budidaya Tanman
Kakao. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Sastroutomo, Soetikno. 1992. Pestisida Dasar-Dasar Dan Dampak


Penggunaanya. Gramedia. Jakarta.

Sukma,Y. dan Yakup 1991. Gulma Dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Press.
Jakarta.

Wudianto Rini. 2010. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya, Jakarta.

.
LAMPIRAN