Anda di halaman 1dari 156

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

KATA PENGANTAR

Bahan ajar Keberatan, Banding dan Penagihan ini akan dipergunakan pada Diklat
Teknis Substantif Dasar Pajak I bagi Lulusan STAN Spesialisasi Administrasi Perpajakan.
Mereka adalah pelaksana kantor pelayanan pajak di seluruh Indonesia, untuk itu perlu
dibekali dengan pengetahuan tentang keberatan, banding dan penagihan pajak. Dengan
berlakunya UU KUP yang baru khususnya dalam proses keberatan dan banding memberi
perubahan pada tidakan penagihan.

Para lulusan STAN Spesialisasi Administrasi Perpajakan tentunya sudah mendapat


mata kuliah pada waktu di kampus. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang
tindakan penagihan maka dalam bahan ajar ini juga dilampirkan formulir-formulir yang
dipakai dalam tindakan penagihan.

Mudah-mudahan bahan ajar ini bisa membantu selama proses pembelajaran baik
pada saat e-learning maupun tatap muka di kelas.

Jakarta, Agustus 2011


Penyusun,

Agus Suharsono
NIP 060087250

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | i



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

DAFTAR ISI

hal
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Sengketa Pajak 1
A. Pengertian Sengketa Pajak 1
B. Penyelesaian Sengketa Pajak 2
Bab II Pembetulan Ketetapan Pajak 4
A. Pengertian Pembetulan Ketetapan Pajak 4
B. Ketetapan Yang Dapat Dibetulkan 4
C. Ruang Lingkup Pembetulan 6
D. Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak 6
E. Jangka Waktu Penyelesaian Pembetulan Ketetapan Pajak 9
Bab III Keberatan 11
A. Yang Dapat Diajukan Keberatan 11
B. Syarat Mengajukan Keberatan 11
C. Jangka Waktu Pelunasan Kurang Bayar Yang Mengajukan 13
Keberatan
D. Jangka Waktu Penyelesaian Permohonan Keberatan 14
Bab IV Banding 17
A. Pengertian Banding 17
B. Banding Di Pengadilan Pajak 19
C. Gugatan Di Pengadilan Pajak 22
D. Bagaimana Cara Menjadi Kuasa Hukum Di Pengadilan Pajak 26
E. Pembuktian dan Saksi Dalam Sidang Di Pengadilan Pajak 29
F. Pemeriksaan Dalam Persidangan Pengadilan Pajak 32
G. Putusan Pengadilan Pajak 35
H. Pemeriksaan Peninjauan Kembali 38
Bab V Penagihan Pajak 40
A. Latar Belakang Penagihan 40
B. Pejabart dan Jurusita Pajak 40
C. Jatuh Tempo Pembayaran 44

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | ii



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

D. Tindakan Penagihan 45
1. Surat Teguran 45
2. Surat Paksa 46
3. Penyitaan 55
4. Pelaksanaan Penyitaan 62
5. Barang sitaan yang dikecualikan dari penjualan secara lelang 70
6. Barang bergerak milik penanggung pajak yang dikecualikan 72
dari penyitaan
7. Penyitaan tambahan 75
8. Larangan bagi penanggung pajak terhadap barang yang disita 75
9. Pemblokiran 76
10. Pencabutan sita dalam pemblokiran 82
11. Dalam hal objek sita berada diluar wilayah kerja pejabat 83
12. Dalam hal objek sita letaknya berjauhan dengan tempat 84
kedudukan pejabat
13. Pencabutan sita 85
14. Pelaksanaan lelang 87
15. Pencegahan 92
16. Penyanderaan 94
17. Pembetulan surat-surat dalam penagihan pajak 101
18. Ketentuan khusus dalam pelaksanaan penagihan 102
19. Ketentuan pidana 103
E. Bunga Penagihan 103
F. Penagihan Seketika dan Sekaligus 105
G. Hak Mendahulu 107
H. Daluwarsa Penagihan 109
I. Gugatan 110
J. Sanggahan pihak ketiga 112
K. Penghapusan piutang pajak 113

Daftar Pustaka 114


Lampiran-Lampiran 116

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | iii



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

BAB I
SENGKETA PAJAK

A. Pengertian Sengketa Pajak

Dalam pemungutan pajak terdapat interaksi antara wajib pajak dengan Negara yang
dilaksanakan oleh pemerintah dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal Pajak. Interaksi
tersebut akan terjadi baik untuk pemungutan pajak dengan self assessment maupun
official assessment. Sebagai sebuah interaksi maka dalam pemungutan pajak
dimungkinkan timbul perbedaan atau sengketa pajak.

Secara luas sengketa pajak bisa diartikan sebagai semua perbedaan antara wajib pajak
dengan fiskus. Perbedaan tersebut akan menimbulkan rasa tidak adil bagi wajib pajak.
Rasa ketidak adilan tersebut tentunya harus mendapat jalan keluar pemecahannya agar
wajib pajak mendapatkan keadilan dalam pemungutan pajak. Dalam pengertian ini
sengketa pajak bisa bersifat administratif maupun bersifat material.

Pengertian sengketa pajak secara yuridis dapat kita temukan dalam Pasal 1 angka 5
Undang-Undang RI nomor 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Sengketa pajak
adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara Wajib Pajak atau
penanggung Pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya
keputusan yang dapat diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak
berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk Gugatan atas
pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan Pajak dengan Surat
Paksa.1

Untuk melengkapi pengertian sengketa pajak secara yuridis berikut ini adalah pengertian
banding dan gugatan dalam UU Pengadilan Pajak. Banding adalah upaya hukum yang
dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau penanggung Pajak terhadap suatu keputusan
yang dapat diajukan Banding, berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku.2 Sedangkan gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh
Wajib Pajak atau penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan Pajak atau

1
Pasal 1 angka 5 UU Pengadilan Pajak
2
Pasal 1 angka 6 UU Pengadilan Pajak

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 1



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

terhadap keputusan yang dapat diajukan Gugatan berdasarkan peraturan perundang-


undangan perpajakan yang berlaku.3

Dapat disimpulkan bahwa pengertian sengketa pajak secara yuridis lebih sempit
daripada sengketa pajak secara umum, karena sengketa pajak secara yuridis hanya
terbatas pada masalah yang timbul sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang
dapat diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak. Sedangkan dalam UU
KUP selain upaya mencari keadilan tidak hanya ke Pengadilan Pajak tetapi bisa juga ke
Direktorat Jenderal Pajak, misalnya pembetulan, keberatan, penghapusan sanksi
administrasi atau penghapusan ketetapan.

B. Penyelesaian Sengketa Pajak

Atas sengketa pajak harus ada lembaga atau jalan untuk mencari jalan keluarnya agar
ada keadilan. Secara umum lembaga yang memutuskan sebuah sengketa adalah
pengadilan. Pasal 10 UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
menyebutkan bahwa Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan badan peradilan yang berada di bawahnya, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Sedangkan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan
peradilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan
peradilan tata usaha negara.

Pasal 77 ayat (1) UU Pengadilan Pajak menyebutkan bahwa Putusan Pengadilan Pajak
merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap. Hal ini bisa kita artikan
bahwa putusan Pengadilan pajak sudah final dan tidak bisa diajukan kasasi ke
Mahkamah Agung. Jadi dimana kedudukan Pengadilan Pajak dalam sistem peradilan
Indonesia?

Pasal 15 ayat (1) UU Pengadilan Pajak menyebutkan bahwa Pengadilan khusus hanya
dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 yang diatur dengan undang-undang. Yang dimaksud dengan pengadilan
khusus dalam ketentuan ini, antara lain, adalah pengadilan anak, pengadilan niaga,
pengadilan hak asasi manusia, pengadilan tindak pidana korupsi, pengadilan hubungan

3
Pasal 1 angka 7 UU Pengadilan Pajak

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 2



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

industrial yang berada di lingkungan peradilan umum, dan pengadilan pajak di


lingkungan peradilan tata usaha negara.

Walaupun putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir yang artinya tidak bisa
diajukan kasasi di MA, akan tetapi pihak-pihak yang bersengketa dapat mengajukan
peninjauan kembali atas putusan Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung.4

Selain diselesaikan di Pengadilan Pajak, ada juga sengketa pajak yang diselesaikan di
internal DJP yaitu pembetulan, keberatan, pengurangan sanksi administrasi dan
pembatalan ketetapan. Dalam ilmu hokum penyelesaian sengketa dalam internal ini
dikenal sebagai kuasi peradilan atau peradilan semu.

4
Pasal 77 ayat (3) UU Pengadilan Pajak

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 3



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

BAB II
PEMBETULAN KETETAPAN PAJAK

A. Pengertian Pembetulan Ketetapan Pajak

Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya, Direktur Jenderal Pajak dapat
membetulkan surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan,
Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat
Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan
Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian
Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga, yang
dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan
penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan.5

Apabila ditemukan kesalahan atau kekeliruan baik oleh fiskus maupun berdasarkan
permohonan Wajib Pajak, kesalahan atau kekeliruan tersebut harus dibetulkan.
Pembetulan dilaksanakan dalam rangka menjalankan tugas pemerintahan yang baik
sehingga apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi perlu
dibetulkan sebagaimana mestinya. Sifat kesalahan atau kekeliruan tersebut tidak
mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak.

Pengertian membetulkan antara lain, menambahkan, mengurangkan, atau


menghapuskan, tergantung pada sifat kesalahan dan kekeliruannya. Jika masih terdapat
kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu
dalam peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak dapat mengajukan lagi
permohonan pembetulan kepada Direktur Jenderal Pajak, atau Direktur Jenderal Pajak
dapat melakukan pembetulan lagi karena jabatan.

B. Ketetapan Yang Dapat Dibetulkan

Pada prinsipnya kewenangan Direktur Jenderal Pajak untuk membetulkan surat


ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, atau surat keputusan lain. Yang dimaksud
dengan "surat keputusan lain" antara lain Surat Keputusan Keberatan.6

5
Pasal 16 ayat (1) UU KUP
6
Penjelasan Pasal 22 ayat (2) PP 80 tahun 2007

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 4



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Untuk Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah yang dapat dibetulkan karena kesalahan atau kekeliruan adalah sebagai
berikut:7

a. Surat ketetapan pajak, yang meliputi:


1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar,
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan,
3. Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan
4. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar;
b. Surat Tagihan Pajak;
c. Surat Keputusanlainnya:
1. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan KelebihanPajak;
2. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga;
3. Surat Keputusan Pembetulan;
4. Surat Keputusan Keberatan;
5. Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi;
6. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi;
7. Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, yang dapat berupa:
1) Pengurangan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan Pajak atau
2) Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak atas Surat Tagihan
Pajak.8; atau
8. Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak. Surat Keputusan
Pembatalan Ketetapan Pajak tersebut dapat berupa:
1) Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak atas Surat Ketetapan
Pajak atau
2) Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak atau
3) Surat Tagihan Pajak.9

Pembetulan tersebut dilakukan dalam hal terdapat kesalahan atau kekeliruan yang
bersifat manusiawi yang tidak mengandung persengketaan antara fiskus
danWajib Pajak.10

7
Pasal 16 ayat (1) UU KUP
8
Pasal 1 ayat (2) PER-48/PJ/2009
9
Pasal 1 ayat (3) PER-48/PJ/2009
10
Pasal 1 ayat (3) PM-19/PM.03/2008

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 5



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

C. RuangLingkupPembetulan

Ruang lingkup pembetulan yang diatur pada ayat ini terbatas pada kesalahan atau
kekeliruan sebagai akibat dari :11

a. kesalahan tulis, antara lain kesalahan yang dapat berupa nama, alamat, Nomor
Pokok Wajib Pajak, nomor surat ketetapan pajak, jenis pajak, Masa Pajak atau
Tahun Pajak, dan tanggal jatuh tempo;
b. kesalahan hitung, antara lain kesalahan yang berasal dari penjumlahan dan/atau
pengurangan dan/atau perkalian dan/atau pembagian suatu bilangan termasuk
kekeliruan perhitungan karena adanya penerbitan surat ketetapan pajak, Surat
Tagihan Pajak, dan surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan
untuk tahun sebelumnya;12 atau
c. kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan, yaitu kekeliruan dalam penerapan tarif, kekeliruan
penerapan persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto, kekeliruan
penerapan sanksi administrasi, kekeliruan Penghasilan Tidak Kena Pajak,
kekeliruan penghitungan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan, dan
kekeliruan dalam pengkreditan pajak.

Pembetulan atas kekeliruan dalam pengkreditan pajak yang terkait dengan Pajak
Pertambahan Nilai, hanya dapat dilakukan apabila:13

1) terdapat perbedaan Pajak Masukan yang menjadi kredit pajak; dan


2) tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak.14

D. Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak

Permohonan pembetulan oleh Wajib Pajak harus disampaikan ke kantor Direktorat


Jenderal Pajak yang menerbitkan surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, atau surat
keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan yang diajukan pembetulan,
dengan ketentuan sebagai berikut :15

11
Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU KUP
12
Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU KUP dan Pasal 2 ayat (1) huruf b PM-19/PM.03/2008
13
Pasal 2 ayat (2) PM-19/PM.03/2008 dan Pasal 2 ayat (2) PER-48/PJ/2009
14
Pasal 2 ayat (2) PER-48/PJ/2009
15
Pasal 3 PM-19/PM.03/2008 dan Pasal 3 ayat (1) PER-48/PJ/2009

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 6



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. Satu permohonan diajukan untuk satu surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak,
atau surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan;
b. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia disertai dengan alasan yang
mendukung permohonannya; dan
c. Ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal permohonan ditandatangani oleh
bukan Wajib Pajak, permohonan tersebut harus dilampiri dengan Surat Kuasa
Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 UU KUP.

Permohonan pembetulan dapat dilakukan dengan mengunakan formulir sebagaimana


ditetapkan dalam lampiran I PER-48/PJ/2009.16 Artinya wajib pajak bisa tidak
mengunakannya sepanjang surat permohonannya memenuhi ketentuan di atas.

Permohonan yang tidak memenuhi ketentuan tersebut, tidak dapat dipertimbangkan.


Dalam hal permohonan Wajib Pajak tidak dapat dipertimbangkan, Direktur Jenderal
Pajak harus memberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak.17

Pengajuan permohonan pembetulan ditujukan kepada pejabat yang menerbitkan surat


ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, atau surat keputusan lain yang terkait dengan
bidang perpajakan yang diajukan pembetulan dan disampaikan ke atau melalui Kantor
Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak
dikukuhkan atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan dalam
wilayah Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan:18

a. secara langsung kepada wajib pajak diberikan tanda bukti penerimaan surat; atau
b. melalui pos dengan bukti pengiriman surat.

Tanggal bukti penerimaan permohonan pembetulan, yaitu :19

a. tanggal terima yang tercantum pada bukti penerimaan surat, dalam hal
permohonan pembetulan disampaikan secara langsung; atau
b. tanggal stempel pos yang tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal
permohonan pembetulan disampaikan melalui pos.

16
Pasal 3 ayat (2) PER-48/PJ/2009
17
Pasal 4 PER-48/PJ/2009
18
Pasal 5 PER-48/PJ/2009
19
Pasal 6 PER-48/PJ/2009

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 7



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Permohonan pembetulan disampaikan melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat


WajibPajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan jika surat
ketetapan pajak/Surat Tagihan Pajak/surat keputusan lain yang terkait dengan bidang
perpajakan yang diajukan pembetulan diterbitkan olehKantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak atau Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.20

Permohonan pembetulan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak


terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan jika surat ketetapanpajak/
Surat Tagihan Pajak/surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan yang
diajukan pembetulan diterbitkan oleh kantor Pelayanan Pajak.

Dalam hal Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau Kantor Pelayanan
Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan berubah, permohonan pembetulan
ditujukan kepada Direktur Jenderal Pajak, Kepala Kantor Wilayah DJP yang baru, atau
Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang baru.21

Contoh mengenai tempat terdaftar Wajib Pajak berubah :

a. Wajib Pajak terdaftar pada KPP A kemudian KPP A berubah menjadi KPP Pratama
A. Terhadap Wajib Pajak telah diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh KPP A. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Tagihan Pajak tersebut
dilakukan setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama A, maka permohonan
pembetulan ditujukan kepada Kepala KPP Pratama A.
b. Wajib Pajak terdaftar pada KPP A kemudian KPP A dipecah menjadi KPP Pratama
A1 dan KPP Pratama A2. Setelah pemecahan, Wajib Pajak terdaftar pada KPP
Pratama A1. Terhadap Wajib Pajak telah diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh KPP
A. Apabila pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Tagihan Pajak
tersebut dilakukan setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama A1, maka
permohonan pembetulan ditujukan kepada Kepala KPP Pratama A1.
c. Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama A kemudian pindah tempat terdaftar pada
KPP Pratama B. Terhadap Wajib Pajak telah diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh
KPP Pratama A. Apabila pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat

20
Angka 4 SE-84/PJ/2009
21
Angka 5 SE-84/PJ/2009

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 8



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Tagihan Pajak tersebut dilakukan setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama B,
maka permohonan pembetulan ditujukan kepada Kepala KPP Pratama B.
d. Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama A dalam Kanwil X kemudian berubah
menjadi terdaftar pada KPP Pratama B dalam Kanwil Y. Terhadap Wajib Pajak telah
diterbitkan Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak oleh Kanwil X. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap surat keputusan tersebut dilakukan
setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama B, maka permohonan pembetulan
ditujukan kepada Kepala Kanwil Y melalui KPP Pratama B.
e. Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama A dalam Kanwil X kemudian berubah
menjadi terdaftar pada KPP Pratama B dalam Kanwil Y. Terhadap Wajib Pajak telah
diterbitkan Surat Keputusan Keberatan oleh Direktur Jenderal Pajak. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Keputusan Keberatan tersebut
dilakukan setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama B, maka permohonan
pembetulan ditujukan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui KPP Pratama B.

E. Jangka Waktu Penyelesaian Pembetulan Ketetapan Pajak

Untukmemberikan kepastianhukum, atas permohonan pembetulan wajib pajak Direktur


Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak surat permohonan
pembetulan diterima, harus memberi keputusan atas permohonan pembetulan.22
Keputusan permohonan pembetulan dapat berupa menambahkan, mengurangkan
atau menghapuskan jumlah pajak yang terutang dan/atau memperbaiki kesalahan dan
kekeliruan lainnya, atau menolak permohonan Wajib Pajak.23

Direktur Jenderal Pajak setelah menerima permohonan pembetulan melakukan


penelitian terhadap surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, atau surat keputusan
lain yang terkait dengan bidangperpajakan yang menurut Wajib Pajak terdapat
kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi yang tidak mengandung
persengketan antara fiskus dan wajib Pajak.24 Direktur Jenderal Pajak dapat memanggil
Wajib Pajak untuk memberikan penjelasan atau keterangan tambahan yang
diperlukan.Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa untuk memberikan
penjelasan atau keterangan tambahan, orang yang ditunjuk sebagai kuasa Wajib Pajak
harus menunjukkan Surat Kuasa Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32

22
Pasal 16 ayat (2) UU KUP
23
Pasal 4 ayat (4) PMK-19/PMK.03/2008
24
Pasal 7 PMK-19/PMK.03/2008

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 9



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umumdan Tata Cara


Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009.

Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Pembetulan secara jabatan


setelah melakukan penelitian.25

Apabila jangka waktu enam bulan telah lewat, tetapi Direktur Jenderal Pajak tidak
memberi suatu keputusan, permohonan pembetulan yang diajukan tersebut dianggap
dikabulkan.26 Dengan dianggap dikabulkannya permohonan Wajib Pajak, Direktur
Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Pembetulan sesuai dengan permohonan
Wajib Pajak.

Dalam hal permohonan Wajib Pajak dianggap dikabulkan arena telah melewati enam
bulan, Direktur Jenderal Pajak Wajib menerbitkan surat keputusan pembetulan sesuai
dengan permohonan Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan sejak berakhirnya jangka
waktu 6 bulan.27 Untuk memberikan pelayanan apabila diminta oleh Wajib Pajak,
Direktur Jenderal Pajak wajib memberikan keterangan secara tertulis mengenai hal-hal
yang menjadi dasar untuk menolak atau mengabulkannya permohonan Wajib Pajak.28

Wajib Pajak dapat meminta secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak mengenai
alasan yang menjadi dasar Direktur Jenderal Pajak menambah, mengurangkan,
menghapuskan, atau menolak permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib
Pajak. Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keterangan secara tertulis atas
permintaan Wajib Pajak tersebut.29

25
Pasal 9 PMK-19/PMK.03/2008
26
Pasal 16 ayat (3) UU KUP
27
Pasal 4 ayat (3) PMK-19/PMK.03/2008
28
Pasal 16 ayat (4) UU KUP
29
Pasal 5 PMK-19/PMK.03/2008

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 10



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

BAB III

KEBERATAN

A. Yang Dapat Diajukan Keberatan

Apabila Wajib Pajak berpendapat bahwa jumlah rugi, jumlah pajak, dan pemotongan
atau pemungutan pajak tidak sebagaimana mestinya, Wajib Pajak dapat mengajukan
keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu:30

a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar;


b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;
c. Surat Ketetapan Pajak Nihil;
d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar; atau
e. Pemotongan atau pemungutan pajak oleh ketiga berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.

Keberatan yang diajukan adalah mengenai materi atau isi dari ketetapan pajak, yaitu
jumlah rugi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, jumlah
besarnya pajak, atau pemotongan atau pemungutan pajak. Yang dimaksud dengan
"suatu" pada ayat ini adalah satu keberatan harus diajukan terhadap satu jenis pajak dan
satu Masa Pajak atau Tahun Pajak.

Contoh:

Keberatan atas ketetapan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2008 dan Tahun Pajak 2009
harus diajukan masing-masing dalam 1 (satu) surat keberatan tersendiri. Untuk 2 (dua)
Tahun Pajak tersebut harus diajukan 2 (dua) buah surat keberatan.

B. Syarat Permohonan Keberatan

Permohonan keberatan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:


1. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan mengemukakan
jumlah pajak yang terutang, jumlah pajak yang dipotong atau dipungut, atau jumlah
rugi menurut penghitungan Wajib Pajak dengan disertai alasan yang menjadi dasar

30
Pasal 25 ayat (1) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 11



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

penghitungan.31Yang dimaksud dengan alasan-alasan yang menjadi dasar


penghitungan dimaksud adalah alasan-alasan yang jelas dan dilampiri dengan
fotokopi surat ketetapan pajak, bukti pemungutan, atau bukti pemotongan.
2. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu tiga bulan sejak tanggal dikirim surat
ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak kecuali
apabila Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat
dipenuhi karena keadaan di luar kekuasannya.32 Batas waktu pengajuan surat
keberatan ditentukan dalam waktu tiga bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan
pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak dengan maksud agar
Wajib Pajak mempunyai waktu yang cukup memadai untuk mempersiapkan surat
keberatan beserta alasannya. Apabila ternyata bahwa batas waktu tiga bulan
tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak karena keadaan di luar kekuasaan
Wajib Pajak (force majeur), tenggang waktu selama tiga bulan tersebut masih dapat
dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh Direktur Jenderal Pajak.
3. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak, Wajib
Pajak wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang
telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum
surat keberatan disampaikan.33 Ketentuan ini mengatur bahwa persyaratan
pengajuan keberatan bagi Wajib Pajak adalah harus melunasi terlebih dahulu
sejumlah kewajiban perpajakannya yang telah disetujui Wajib Pajak pada saat
pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Pelunasan tersebut harus dilakukan sebelum
Wajib Pajak mengajukan keberatan.
4. Satu surat keberatan diajukan hanya untuk satu surat ketetapan pajak, untuk
satu pemotong pajak, atau untuk satu pemungutan pajak.
5. Ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh
bukan Wajib Pajak, surat keberatan tersebut harus dilampiri dengan Surat Kuasa
Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP.34

Keberatan yang tidak memenuhi salah satu persyaratan di atas bukan merupakan surat
keberatan sehingga sehingga tidak dapat dipertimbangkan dan tidak diterbitkan Surat
Keputusan Keberatan.35Apabila surat Wajib Pajak tidak memenuhi syarat sebagai surat

31
Pasal 25 ayat (2) UU KUP
32
Pasal 25 ayat (3) UU KUP
33
Pasal 25 ayat (3a) UU KUP
34
Pasal 2 ayat (1) PER-49/PJ/2009
35
Pasal 25 ayat (4) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 12



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

keberatan dan Wajib Pajak memperbaikinya dalam batas waktu penyampaian surat
keberatan, batas waktu penyelesaian keberatan dihitung sejak diterima surat berikutnya
yang memenuhi syarat sebagai surat keberatan.36

Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh pegawai Direktorat Jenderal
Pajak yang ditunjuk untuk menerima surat keberatan atau tanda pengiriman surat
keberatan melalui pos dengan bukti pengiriman surat, atau melalui cara lain yang diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan menjadi tanda bukti penerimaan
surat keberatan.37 Dengan demikian, batas waktu penyelesaian keberatan dihitung sejak
tanggal penerimaan surat dimaksud.

Agar Wajib Pajak dapat menyusun keberatan dengan alasan yang kuat, Wajib Pajak
diberi hak untuk meminta dasar pengenaan pajak, penghitungan rugi, atau pemotongan
atau pemungutan pajak yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, apabila diminta oleh
Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan keberatan, Direktur Jenderal Pajak wajib
memberikan keterangan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak,
penghitungan rugi, atau pemotongan atau pemungutan pajak.38

C. Jangka Waktu Pelunasan Kurang Bayar Yang Mengajukan Keberatan

Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan, jangka waktu pelunasan pajak atas Surat
Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan
Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah yang harus dilunasi dalam jangka waktu
satu bulan sejak tanggal diterbitkan. Dan, bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak
di daerah tertentu yang jangka waktu pelunasan dapat diperpanjang paling lama menjadi
dua bulan. Atas jumlah pajak yang belum dibayar tersebut pada saat pengajuan
keberatan, tertangguh sampai dengan satu bulan sejak tanggal penerbitan Surat
Keputusan Keberatan.39Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan
sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan sebagaimana diatur dalam
Pasal 19 UU KUP tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat
pengajuan keberatan. Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan

36
Penjelasan Pasal 25 ayat (5) UU KUP
37
Pasal 25 ayat (5) UU KUP
38
Pasal 25 ayat (6) UU KUP
39
Pasal 25 ayat (7) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 13



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

permohonan keberatan tersebut tidak termasuk sebagai utang pajak sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dan ayat (1a) UU KUP.40
Dalam hal Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian dan Wajib Pajak tidak
mengajukan permohonan banding, jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan
dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan harus
dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan,
dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib Pajak tidak
melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi
berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan
keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan
keberatan.41 Dalam Wajib Pajak mengajukan permohonan banding, sanksi administrasi
berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) tersebut tidak dikenakan.42
Contoh:
Untuk tahun pajak 2008 terhadapPT A diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar (SKPKB) dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp
1.000.000.000,00.
Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak
yang masih harus dibayar sebesar Rp 200.000.000,00.
Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp 200.000.000,00
dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya.
Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan
jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp 750.000.000,00.
Dalam hal ini, Wajib Pajak tidak dikenai sanksi administrasi sebagaimana diatur
dalam Pasal 19, tetapi dikenai sanksi sesuai dengan ayat ini, yaitu sebesar 50% x
(Rp 750.000.000,00 Rp 200.000.000,00) = Rp 275.000.000,00.

Jika Wajib Pajak mengajukan banding maka sanksi denda sebesar 50% tersebut tidak
dikenakan.

D. Jangka Waktu Penyelesaian Permohonan Keberatan

Terhadap surat keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak, kewenangan penyelesaian
dalam tingkat pertama diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan ketentuan

40
Pasal 25 ayat (8) UU KUP
41
Pasal 25 ayat (9) UU KUP
42
Pasal 25 ayat (10) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 14



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

batasan waktu penyelesaian keputusan atas keberatan Wajib Pajak ditetapkan paling
lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima.oleh karena itu Direktur
Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat
keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.43Dengan
ditentukannya batas waktu penyelesaian keputusan atas keberatan tersebut, berarti akan
diperoleh suatu kepastian hukum bagi Wajib Pajak selain terlaksananya administrasi
perpajakan. Apabila jangka waktu tersebut telah terlampaui dan Direktur Jenderal Pajak
tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap
44
dikabulkan.

Selama proses penyelesaian keberatan tersebut akan tetapi sebelum surat keputusan
diterbitkan, Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan
tertulis.45 Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa mengabulkan
seluruhnya atau sebagian, menolak atau menambah besarnya jumlah pajak yang masih
harus dibayar.46 Agar dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada Wajib
Pajak untuk memperoleh keadilan dalam penyelesaian keberatannya, Wajib Pajak dapat
hadir untuk memberikan keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai
47
keberatannya. Apabila Wajib Pajak tidak menggunakan hak tersebut, proses keberatan
tetap dapat diselesaikan.48

Akan tetapi jika Wajib Pajak mengungkapkan pembukuan, catatan, data, informasi, atau
keterangan lain dalam proses keberatan yang tidak diberikan pada saat pemeriksaan,
selain data dan informasi yang pada saat pemeriksaan belum diperoleh Wajib Pajak dari
pihak ketiga, pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain dimaksud tidak
dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatannya.49

Wajib Pajak yang mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak yang diterbitkan
secara jabatan karena Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan
meskipun telah ditegur secara tertulis, tidak memenuhi kewajiban menyelenggarakan
pembukuan, atau menolak untuk memberikan kesempatan kepada pemeriksa memasuki
tempat-tempat tertentu yang dipandang perlu, dalam rangka pemeriksaan guna

43
Pasal 26 ayat (1) UU KUP
44
Pasal 26 ayat (5) UU KUP
45
Pasal 26 ayat (2) UU KUP
46
Pasal 26 ayat (3) UU KUP
47
Pasal 26A ayat (2) UU KUP
48
Pasal 26A ayat (3) UU KUP
49
Pasal 26A ayat (4) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 15



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

menetapkan besarnya jumlah pajak yang terutang. Wajib Pajak yang bersangkutan harus
dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak tersebut.50 Apabila Wajib Pajak
tidak dapat membuktikan ketidakbenaran surat ketetapan pajak secara jabatan,
pengajuan keberatannya ditolak.

50
Pasal 26 ayat (4) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 16



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

BAB IV
BANDING

A. Pengertian Banding

Jika Wajib Pajak masih belum merasa puas dengan surat keberatan, maka Wajib Pajak
dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan peradilan pajak.51
Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan alasan
yang jelas paling lama 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan Keberatan diterima dan
dilampiri dengan Salinan Surat Keputusan Keberatan tersebut.52 Apabila diminta oleh
Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan permohonan banding, Direktur Jenderal Pajak
wajib memberikan keterangan secara tertulis hal-hal menjadi dasar Surat Keputusan
Keberatan yang diterbitkan.53 Secara garis besar proses banding dapat digambarkan
sebagai berikut:

6. Salinan Surat Bantahan

3. Surat Uraian Banding


DJP/ Pengadilan
Terbanding 2. Permintaan Surat Uraian Banding Pajak

ing
t B and
ura
1. S

Wajib 5. Surat Bantahan


Pajak 4. Salinan Surat Uraian Banding

Dalam hal Wajib Pajak mengajukan banding, jangka waktu pelunasan pajak yang
diajukan banding tertangguh sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan
Putusan Banding. Penangguhan jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan sebagaimana diatur

51
Pasal 27 ayat (1) UU KUP
52
Pasal 27 ayat (2) UU KUP
53
Pasal 27 ayat (4a) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 17



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dalam Pasal 19 tidak diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat
pengajuan keberatan.54

Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan permohonan keberatan tidak
termasuk sebagai utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dan ayat
(1a) UU KUP.55 Jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan permohonan
banding belum merupakan pajak yang terutang sampai dengan Putusan Banding
diterbitkan.56

Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan pengadilan khusus di lingkungan


peradilan tata usaha negara.57 Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan
sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus
persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran
pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.58 Jumlah pajak berdasarkan
Putusan Banding tersebut dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum
mengajukan keberatan harus dilunasi paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan
Putusan Banding, dan penagihan dengan Surat Paksa akan dilaksanakan apabila Wajib
Pajak tidak melunasi utang pajak tersebut. Di samping itu, Wajib Pajak dikenai sanksi
administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen).

Contoh:

Untuk tahun pajak 2008 terhadap PT A diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar dengan jumlah pajak yang masih harus dibayar sebesar Rp 1.000.000.000,00
Dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, Wajib Pajak hanya menyetujui pajak
yang masih harus dibayar sebesar Rp 200.000.000,00.
Wajib Pajak telah melunasi sebagian SKPKB tersebut sebesar Rp 200.000.000,00
dan kemudian mengajukan keberatan atas koreksi lainnya.
Direktur Jenderal Pajak mengabulkan sebagian keberatan Wajib Pajak dengan
jumlah pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp 750.000.000,00.

54
Pasal 27 ayat (5a) UU KUP
55
Pasal 27 ayat (5b) UU KUP
56
Pasal 27 ayat (5c) UU KUP
57
Pasal 27 ayat (2) UU KUP
58
Pasal 27 ayat (5d) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 18



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Selanjutnya Wajib Pajak mengajukan permohonan banding dan oleh Pengadilan


Pajak diputuskan besarnya pajak yang masih harus dibayar menjadi sebesar Rp
450.000.000,00.
Dalam hal ini baik sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per
bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 maupun sanksi administrasi berupa denda
sebagaimana diatur dalam Pasal 25 ayat (9) tidak dikenakan.
Namun, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sesuai dengan ayat
ini, yaitu sebesar 100% x (Rp 450.000.000,00 Rp 200.000.000,00) = Rp
250.000.000,00.

B. Banding di Pengadilan Pajak59

1. Apa yang perlu diketahui tentang Banding di Pengadilan Pajak

a. Keputusan adalah suatu penetapan tertulis dibidang perpajakan yang


dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang bedasarkan peraturan perundang-
undangan perpajakan dan dalam rangka pelaksanaan UU Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa.
b. Sengketa Pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara
Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai
akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan
kepada Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan
perpajakan, termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan UU
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
c. Banding adalah upaya hukum terhadap suatu keputusan pejabat yang
berwenang sepanjang diatur dalam peraturan perundang-undangan perpajakan
yang bersangkutan.
d. Surat Uraian Banding adalah surat Terbanding kepada Pengadilan Pajak yang
berisi jawaban atas alasan banding yang diajukan oleh pemohon banding.
e. Surat Bantahan adalah surat dari pemohon banding kepada Pengadilan Pajak
yang berisi bantahan atas surat uraian banding atau surat bantahan.
f. Tanggal terima adalah tanggal stempel Pos pengiriman, tanggal faksimilie atau
dalam hal diterima secara langsung adalah pada saat surat atau Putusan
diterima secara langsung.

59
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-01.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 19



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

2. Syarat Pengajuan Surat Banding

a. Harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima
Keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan.
b. Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding.
c. Banding diajukan dengan disertai alas an-alasan yang jelas, dan dicantumkan
tanggal tanggal terima surat keputusan yang dibanding.
d. Pada Surat Banding dilampirkan Salinan Keputusan yang disbanding.
e. Banding hanya dapat diajukan apabila besarnya jumlah pajak yang terutang
dimaksud telah dibayar sebesar 50% lima puluh persen) dengan melampirkan
Surat Setoran Pajak (SSP) atau Pemindah Bukuan (Pbk).

3. Pemprosesan Surat Banding

a. Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia kepada


Pengadilan Pajak.
b. Ditujukan kepada Pengadilan Pajak dengan melampirkan:
1) Salinan keputusan yang dibanding
2) Bukti pembayaran sebesar 50 % dari pajak yang terutang yang dibanding
Data dan bukti-bukti pendukung (SKP, Surat Permohonan Keberatan, SPT,
Laporan Keuangan dll).
c. Pemohon Banding dapat melengkapi bandingnya untuk memenuhi ketentuan
yang berlaku sepanjang masih dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak diterima
Keputusan yang dibanding.
d. Paling lambat 14 (empat belas hari) sebelum persidangan dimulai, Pemohon
Banding mendapat pemberitahuan sidang.

4. Siapa yang mengajukan Banding

a. Banding dapat diajukan oleh Wajib Pajak, ahli warisnya, seorang pengurus atau
kuasa hukumnya.
b. Apabila selama proses Banding, pemohon Banding meninggal dunia, Banding
dapat dilanjutkan oleh warisnya, kuasa hukum dari ahli warisnya, atau
Pengampunya dalam hal pemohon Banding Pailit.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 20



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

c. Apabila selama proses Banding pemohon Banding melakukan penggabungan,


peleburan, pemecahan / pemekaran usaha, atau likuidasi, permohonan
dimaksud dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban
karena penggabungan, peleburan, pemecahan/pemekaran usaha, atau likuidasi
dimaksud.

5. Hak-hak Pemohon Banding

a. Pemohon Banding dapat melengkapi Surat Bandingnya untuk memenuhi


ketentuan yang berlaku sepanjang masih dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak
diterima keputusan yang dibanding.
b. Pemohon Banding dapat memasukkan Surat Bantahan dalam jangka waktu 30
(tiga puluh hari) sejak tanggal terima salinan Surat Uraian Banding.
c. Dapat hadir dalam persidangan guna memberikan keterangan lisan atau bukti-
bukti yang diperlukan sepanjang memberitahukan kepada Ketua Pengadilan
Pajak secara tertulis.
d. Dapat hadir dalam sidang Pembacaan Putusan.
e. Dapat didampingi atau diwakili oleh Kuasa Hukum yang telah terdaftar/mendapat
ijin Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak.
f. Dapat meminta kepada Majelis kehadiran saksi.

6. Pencabutan Banding

a. Terhadap Banding dapat diajukan surat pernyataan pencabutan kepada


Pengadilan Pajak.
b. Banding yang dicabut tersebut, dihapus dari daftar sengketa melalui penetapan
Ketua dalam hal surat pernyataan pencabutan diajukan sebelum sidang
dilaksanakan dan putusan Majelis.Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dalam hal
surat pernyataan pencabutan diajukan dalam siding atas persetujuan terbanding.
c. Banding yang telah dicabut melalui penetapan atau putusan tersebut, tidak dapat
diajukan kembali.

7. Pengecualian
a. Pengajuan Banding dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan tidak mengikat apabila
dalam jangka waktu dimaksud tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar
kekuasaan pemohon banding.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 21



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. Pemohon Banding tidak harus melampirkan bukti pembayaran 50 % pajak yang


terutang, sepanjang Banding diajukan atas Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)
atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB).

8. Hal-hal lain yang perlu diketahui

a. Pengadilan Pajak meminta Surat Uraian Banding kepada Terbanding dalam


jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterima Surat Banding
lengkap.
b. Dalam hal pemohon banding melengkapi surat atau dokumen susulan, jangka
waktu 14 hari dihitung sejak tanggal diterimanya surat atau dokumen susulan
dimaksud.
c. Terbanding menyerahkan Surat Uraian Banding kepada Pengadilan Pajak dalam
jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim Permintaan Surat Uraian
Banding.
d. Salinan Surat Uraian Banding oleh Pengadilan Pajak dikirimkan kepada
Pemohon Banding dalam jangka waktu 14 hari sejak tanggal diterima.
e. Pemohon Banding memberikan tanggapan/bantahan atas Surat Uraian Banding
yang diterimanya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirim
permintaan Surat Bantahan.
f. Meskipun Terbanding atau Pemohon Banding tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud angka 3 dan 5, Pengadilan Pajak tetap melanjutkan
pemeriksaan banding. Dasar Hukum 1. Pasal 1, 35, 36, 37, 38, 39, 44, 45
Undang- Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.

C. Gugatan di Pengadilan Pajak60

1. Apa yang perlu diketahui tentang Gugatan di Pengadilan Pajak

a. Keputusan adalah suatu penetapan tertulis dibidang perpajakan yang


dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang bedasarkan peraturan perundang-
undangan perpajakan dan dalam rangka pelaksanaan UU Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa.

60
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-07.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 22



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. Sengketa Pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara
Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai
akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan
kepada Pengadilan Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan
perpajakan, termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasarkan UU
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
c. Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi
utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan,
melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa,
mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan
penyanderan, menjual barang yang telah disita.
d. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan
pajak.
e. Penyitaan adalah tindakan Jurusita Pajak untuk menguasai barang Penanggung
Pajak, guna dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak menurut peraturan
perundangundangan.
f. Lelang adalah setiap penjualan barang di muka umum dengan cara penawaran
harga secara lisan dan/atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau
calon pembeli.
g. Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau
Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajakatau terhadap
keputusan yang dapat diajukan gugatan berdasarkan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku.
h. Surat Tanggapan adalah surat dari tergugat kepada Pengadilan Pajak yang
berisi jawaban atas Gugatan yang diajukan oleh penggugat.
i. Surat Bantahan adalah surat dari pemohon Gugatan kepada Pengadilan Pajak
yang berisi bantahan atas surat uraian Gugatan atau surat bantahan.
j. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau
dalam hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan,
atau Putusan diterima secara langsung.

2. Syarat Pengajuan Gugatan


a. Harus diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterima
keputusan pelaksanaan penagihan, kecuali diatur lain dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 23



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. Gugatan juga dapat diajukan selain atas keputusan pelaksanaan penagihan


adalah dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterima keputusan yang
digugat.
c. Terhadap 1 (satu) keputusan pelaksanaan penagihan diajukan 1 (satu) Surat
Gugatan.
d. Gugatan diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan dicantumkan
tanggal diterima surat keputusan pelaksanaan penagihan.
e. Pada Surat Gugatan dilampirkan salinan keputusan pelaksanaan penagihan.

3. Pemprosesan Gugatan
a. Gugatan diajukan dengan Surat Gugatan dalam Bahasa Indonesia kepada
Pengadilan Pajak.
b. Ditujukan kepada Pengadilan Pajak dengan melampirkan:
1) Salinan keputusan yang digugat;
2) Data dan bukti-bukti pendukung lainnya;
3) Surat Kuasa bermeterai cukup, bila diwakili oleh kuasanya.

4. Siapa yang mengajukan Gugatan

a. Gugatan dapat diajukan oleh Wajib Pajak, ahli warisnya, seorang pengurus atau
kuasa hukumnya.
b. Apabila selama proses Gugatan, pemohon Gugatan meninggal dunia, Gugatan
dapat dilanjutkan oleh warisnya, kuasa hukum dari ahli warisnya, atau
pengampunya dalam hal pemohon Gugatan pailit.
c. Apabila selama proses Gugatan pemohon Gugatan melakukan penggabungan,
peleburan, pemecahan / pemekaran usaha, atau likuidasi, permohonan
dimaksud dapat dilanjutkan oleh pihak yang menerima pertanggungjawaban
karena penggabungan, peleburan, pemecahan/ pemekaran usaha, atau likuidasi
dimaksud.

5. Hak-hak Pemohon Gugatan

a. Pemohon Gugatan dapat melengkapi Surat Gugatannya untuk memenuhi


ketentuan yang berlaku sepanjang masih dalam jangka waktu 14 (empat belas)
hari sejak diterima keputusan yang digugat.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 24



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. Pemohon Gugatan dapat memasukkan Surat Bantahan dalam jangka waktu 30


(tiga puluh) hari sejak tanggal terima salinan Surat Uraian Gugatan.
c. Dapat hadir dalam persidangan guna memberikan keterangan lisan atau bukti-
bukti yang diperlukan sepanjang memberitahukan kepada Ketua Pengadilan
Pajak secara tertulis.
d. Dapat hadir dalam sidang Pembacaan Putusan.
e. Dapat didampingi atau diwakili oleh Kuasa Hukum yang telah terdaftar/mendapat
ijin Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak.
f. Dapat meminta kepada Majelis kehadiran saksi.

6. Pencabutan Gugatan

a. Terhadap Gugatan dapat diajukan surat pernyataan pencabutan kepada


Pengadilan Pajak.
b. Gugatan yang dicabut tersebut, dihapus dari daftar sengketa melalui penetapan
Ketua dalam hal surat pernyataan pencabutan diajukan sebelum sidang
dilaksanakan dan putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan dalam hal
surat pernyataan pencabutan diajukan dalam sidang atas persetujuan tergugat.
c. Gugatan yang telah dicabut melalui penetapan atau putusan tersebut, tidak dapat
diajukan kembali.

7. Pengecualian

a. Pengajuan Gugatan atas pelaksanaan penagihan dalam jangka waktu 14 (empat


belas) hari tidak mengikat apabila dalam jangka waktu dimaksud tidak dapat
dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaan penggugat.
b. Pengajuan Gugatan selain atas pelaksanaan penagihan dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari tidak mengikat apabila dalam jangka waktu dimaksud tidak dapat
dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan penggugat.

8. Hal-hal lain yang perlu diketahui

a. Pengadilan Pajak meminta Surat Tanggapan (ST) kepada tergugat dalam jangka
waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterima Surat Gugatan lengkap.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 25



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. Dalam hal pemohon Gugatan melengkapi surat atau dokumen susulan, jangka
waktu 14 (empat belas) hari dihitung sejak tanggal diterimanya surat atau
dokumen susulan dimaksud.
c. Tergugat menyerahkan Surat Tanggapan kepada Pengadilan Pajak dalam
jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirim Permintaan Surat Tanggapan.
d. Salinan Surat Tanggapan oleh Pengadilan Pajak dikirimkan kepada Pemohon
Gugatan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterima.
e. Pemohon Gugatan memberikan bantahan atas Surat Tanggapan yang
diterimanya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirim permintaan
Surat Bantahan.
f. Meskipun Tergugat atau Pemohon Gugatan tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud angka 3 dan 5, Pengadilan Pajak tetap melanjutkan
pemeriksaan Gugatan.
g. Dasar Hukum:
1) Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
2) Pasal 1, 40, 41, 42, 43, 44, 45 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002
tentang Pengadilan Pajak. 3. Pasal 1, 37 Undang-Undang Nomor 19 Tahun
1997 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun
2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
(Sumber: Seri-01 Banding di Pengadilan Pajak)

D. Bagaimana Cara Menjadi Kuasa Hukum di Pengadilan Pajak61

1. Pengertian
Kuasa Hukum adalah orang perseorangan yang telah mendapat izin menjadi Kuasa
Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak dan memperoleh surat kuasa khusus dari pihak-
pihak yang bersengketa untuk dapat mendampingi dan/atau mewakili mereka dalam
bepekara pada Pengadilan Pajak.
2. Syarat menjadi Kuasa Hukum
Untuk dapat menjadi Kuasa Hukum, orang perorangan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:

61
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-02.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 26



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

1) Warga Negara Indonesia (WNI);


2) Memilki izin Kuasa Hukum;
3) Memiliki Surat Kuasa Khusus yang asli dari pihak yang bersengketa;
4) Memiliki pandangan luas dan keahlian tentang peraturan perundang-undangan di
bidang perpajakan;
5) Berijazah Sarjana atau Diploma IV dari perguruan tinggi yang terakreditasi;
6) Berkelakuan baik, yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Berkelakuan Baik
(SKKB) dari POLRI atau instansi yang berwenang;
7) Mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

3. Prosedur Permohonan Surat Kuasa Hukum

Untuk dapat memiliki izin Kuasa Hukum, orang perorangan harus menyampaikan
permohonan secara tertulis dengan mengisi formulir permohonan yang harus
dilampiri dengan:

1) Daftar Riwayat Hidup yang tersedia;


2) Foto kopi KTP WNI yang telah dilegalisir;
3) Foto kopi ijazah Sarjana atau Diploma IV yang telah dilegalisir;
4) Foto kopi tanda bukti pengetahuan yang luas dan keahlian di bidang perpajakan;
5) Foto kopi NPWP yang telah dilegalisir;
6) Asli SKKB dari POLRI atau instansi yang berwenang;
7) Pas foto terakhir 2x3 cm sebanyak 2 lembar.

4. Tanda Bukti Pengetahuan yang Luas dan Keahlian

Pengetahuan yang luas dan keahlian dibuktikan dengan melampirkan:

1) Foto kopi Ijazah/Sertifikat Brevet Pajak atau Ijazah/Sertifikat Pengusaha


Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) dari lembaga yang terakreditasi yang
telah dilegalisir;
2) Foto kopi Surat Izin Konsultan Pajak yang telah dilegalisir;
3) Sertifikat Diploma III Pajak/Kepabeanan dan Cukai/Akuntansi atau yang
dipersamakan dari lembaga yang terakreditasi yang telah dilegalisir.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 27



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

5. Masa Berlaku Izin Kuasa Hukum

1) Keputusan Ketua Pengadilan Pajak tentang Izin Kuasa Hukum berlaku untuk
jangka waktu 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal ditetapkan.
2) Dalam hal jangka waktu 12 (dua belas) bulan telah lewat, kuasa hukum dapat
mengajukan permohonan perpanjangan izin kuasa hukum.

6. Perpanjangan Izin Kuasa Hukum

Orang perorangan dapat mengajukan perpanjangan izin kuasa hukum secara tertulis
sebelum berakhir jangka waktu masa berlakunya dengan mengisi formulir
permohonan yang dilampiri:

1) Daftar Riwayat Hidup yang terbaru;


2) Asli Keputusan Ketua Pengadilan Pajak tentang Izin Kuasa Hukum;
3) Asli Kartu Tanda Pengenal Kuasa Hukum;
4) Foto kopi KTP WNI yang telah dilegalisir;
5) Pas foto terakhir ukuran 2x3 cm sebanyak 2 lembar;
6) Foto kopi NPWP yang telah dilegalisir;
7) Asli SKKB dari POLRI atau instansi yang berwenang.

7. Pengecualian

1) Persyaratan untuk dapat menjadi Kuasa Hukum tidak diperlukan dalam hal yang
mendampingi atau mewakili pemohon banding atau penggugat adalah keluarga
sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua, pegawai atau pengampu.
2) Seseorang yang baru pertama kali mendampingi atau mewakili Pemohon
Banding/Penggugat, meskipun belum terdaftar atau memperoleh izin sebagai
Kuasa Hukum, namun dalam sidang berikutnya harus sudah terdaftar atau
memperoleh izin sebagai Kuasa Hukum dari Ketua Pengadilan Pajak.

8. Hal-hal Lain yang Perlu Diketahui

1) Kuasa Hukum yang hadir di persidangan diwajibkan:


a. Menunjukkan Surat Keterangan Terdaftar atau Surat Izin sebagai Kuasa
Hukum dari Pengadilan Pajak;

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 28



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. Menunjukkan Surat Kuasa asli bermeterai dari pihak yang diwakili atau
didampingi.
2) Surat persetujuan dari Ketua Pengadilan Pajak untuk menjadi Kuasa Hukum
diberikan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak persyaratan izin Kuasa Hukum
lengkap diterima di Sekretariat Pengadilan Pajak.
3) Pihak-pihak yang bersengketa masing-masing didampingi atau diwakili oleh satu
atau lebih kuasa hukum dengan Surat Kuasa Khusus.
4) Kuasa Hukum dapat memberi kuasa untuk mewakilinya dalam suatu
persidangan hanya kepada kuasa hukum lainnya.
5) Surat Izin Kuasa Hukum berlaku di semua majelis Pengadilan Pajak disertai
dengan Surat Kuasa Asli dari pihak yang didampingi atau diwakili .
6) Dasar Hukum:
a. Pasal 34 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.
b. Pasal 1, 2, 5, 6, 8, 9, 11, 16, 17, 18, 19, 20 Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 06/PMK.01/2007 tentang Persyaratan Untuk Menjadi Kuasa Hukum
Pada Pengadilan Pajak.
c. Keputusan Menteri Keuangan No. 485/KMK.03/2003 tentang Konsultan Pajak
Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan
No. 98/PMK.03/2005.

E. Pembuktian dan Saksi Dalam Sidang di Pengadilan Pajak62

1. Pengertian

Bukti yang sah adalah bukti yang telah dilunasi Bea Materainya sesuai dengan Pasal
11 ayat (1) UU No.1 3 tahun 1985.

2. Pembuktian
1) Alat bukti dapat berupa:
a. Surat atau tulisan
b. Keterangan ahli;
c. Keterangan para saksi;
d. Pengakuan para pihak; dan/atau
e. Pengetahuan Hakim

62
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-03.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 29



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

2) Penjelasan alat bukti :


a. Surat atau tulisan sebagai alat bukti terdiri dari :

(1) Akta autentik, yaitu surat yang dibuat oleh atau dihadapkan seorang
pejabat umum, yang menurut Peraturan perundang-undangan
berwenang membuat surat itu dengan maksud untuk dipergunakan
sebagai alat bukti tentang peristiwa hukum yang tercantum
didalamnya.
(2) Akta di bawah tangan yaitu surat yang dibuat dan ditandatangani oleh
pihak-pihak yang bersangkutan dengan maksud untuk dipergunakan
sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang
tercantum didalamnya.
(3) Surat keputusan atau surat keterangan yang diterbitkan oleh Pejabat
yang berwenang.

(4) Surat-surat lain atau tulisan yang tidak termasuk disebutkan di atas
(angka 1, 2 dan 3 dalam tanda kurung) yang ada kaitannya dengan
Banding atau Gugatan.

b. Keterangan ahli adalah pendapat orang yang diberikan dj bawah sumpah


dalam persidangan tentang hal yang ia ketahui menurut pengalaman dan
pengetahuannya.
c. Keterangan para saksi dianggap sebagai alat bukti apabila keterangan itu
berkenaan dengan hal yang dialami, dilihat atau didengar sendiri oleh saksi.
d. Pengakuan para pihak tidak dapat ditarik kembali kecuali berdasarkan alasan
yang kuat dan dapat diterima oleh Majelis atau Hakim Junggal.
e. Pengetahuan Hakim adalan hal yang olehnya diketahui dan diyakini
kebenarannya.

3. Penyampaian Alat Buktl

1) Alat bukti berupa surat atau tulisan disampaikan atas Permintaan para pihak
yang bersengketa atau salah satu pihak yang bersengketa.
2) Ketua Majelis/Hakim Tunggal dapat meminta alat bukti yang diperlukan dalam
persidangan kepada para pihak yang bersengketa.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 30



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

3) Dalam hal Seorang Ahli atau Saksi memberikan alat bukti berupa keterangan
tertulis maupun lisan, ia harus mengucapkan sumpah atau janji dihadapan
Majelis/Hakim Tunggal.

4. Saksi

1) Atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa atau karena jabatan, Hakim
Ketua dapat memerintahkan saksi untuk hadir dan didengar keterangannya
dalam persidangan.
2) Saksi wajib datang di persidangan dan tidak diwakilkan.
3) Dalam saksi tidak datang meskipun telah dipanggil dengan patut dan Majelis
dapat mengambil putusan tanpa mendengar keterangan saksi, Hakim Ketua
melanjutkan persidangan.
4) Apabita saksi tidak datang tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan
meskipun telan dipanggil dengan patut, dan Majelis mempunyai alasan yang
cukup untuk menyangka banwa saksi sengaja. tidak datang, serta Majelis tidak
dapat mengambil putusan tanpa keterangan dari saksi dimaksud, Hakim Ketua
dapat meminta bantuan Polisi untuk membawa saksi ke persidangan.

5. Tatacara Saksi dalam sidang :

1) Saksi dipanggil ke persidangan seorang demi seorang.


2) Hakim Ketua menanyakan kepada saksi identitas lengkap dan hubungan kerja
dengan pemohon Banding/Penggugat atau dengan terbanding/tergugat.
3) Sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji
menurut agama atau kepercayaannya.
4) Pertanyaan yang diajukan kepada saksi oleh salah satu pihak disampaikan
melalui Hakim Ketua.
5) Apabila pertanyaan dimaksud menurut pertimbangan Hakim Ketua tidak ada
kaitannya dengan sengketa, pertanyaan itu ditolak.
6) Apabila Pemohon Banding atau penggugat atau saksi tidak paham Bahasa
Indonesia, Hakim Ketua menunjuk ahli alih bahasa.
7) Dalam hal pemohon Banding atau penggugat atau saksi ternyata bisu dan/atau
tuli serta tidak dapat menulis, Hakim Ketua menunjuk orang yang pandai bergaul
dengan pemohon Banding atau penggugat atau saksi, sebagai ahli alih bahasa.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 31



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

8) Dalam hal pemohon Banding atau penggugat atau saksi, ternyata bisu dan/atau
tuli tetapi dapat menulis, Hakim Ketua dapat memerintahkan Panitera menuliskan
pertanyaan atau teguran kepada pemohon Banding atau penggugat atau saksi,
dan memerintahkan menyampaikan tulisan itu kepada pemohon banding atau
penggugat atau saksi dimaksud, agar la menuliskan jawabannya, kemudian
segala pertanyaan dan jawaban harus dibacakan.
9) Saksi dan ahli alih bahasa sebagaimana dimaksud dalam angka 6,7,8 harus
mengucapkan sumpah atau janji menurut agama atau kepercayaannya.

6. Yang tidak boleh didengar keterangannya sebagai Saksi :


1) Keluarga sedarah atau semenda menurut garis keturunan lurus ke atas atau ke
bawah sampai derajat ketiga dari salah satu pihak yang bersengketa.
2) Istri atau suami dari pemohon Banding atau Penggugat meskipun sudah
bercerai;
3) Anak yang belum berusia 17 tahun; atau
4) Orang sakit ingatan.

7. Peniadaan Kewajiban Merahasiakan

Setiap orang yang karena pekerjaan atau jabatannya wajib merahasiakan segala
sesuatu berhubungan dengan pekerjaan atau jabatannya, untuk keperluan
persidangan kewajiban merahasiakan dimaksud ditiadakan.

Dasar Hukum: Pasal 55-76 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang


Pengadilan Pajak.

F. Pemeriksaan Dalam Persidangan Pengadilan Pajak63

1. Pengertian

1) Hakim Tunggal adalah hakim yang ditunjuk untuk memeriksa dan memutus
sengketa pajak dengan acara cepat.
2) Anggota Hakim adalah hakim tunggal atau hakim dalam suatu Majelis, termasuk
Hakim Ketua.

63
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-04.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 32



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

3) Hakim Ketua adalah anggota Majelis yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Pajak
untuk memimpin Majelis.
4) Panitera, Wakil Panitera dan Panitera Pengganti adalah Sekretaris, Wakil
Sekretaris atau Sekretaris Pengganti Pengadilan Pajak yang bertugas
melaksanakan fungsi kepaniteraan.
5) Sengketa Pajak Tertentu adalah Sengketa Pajak yang diajukan kepada
Pengadilan Pajak yang banding atau gugatannya tidak memenuhi syarat formal.

2. Jenis-jenis Pemeriksaan

1) Pemeriksaan dengan Acara Biasa dilakukan oleh Majelis yang terdiri dari Hakim
Ketua, Anggota dan Panitera dan dihadiri oleh terbanding dan apabila dipandang
perlu, pemohon Banding atau penggugat atau Kuasa Hukumnya.
2) Pemeriksaan dengan Acara Cepat dilakukan oleh Hakim Tunggal, dan dihadiri
oleh terbanding dan apabila dipandang perlu pemohon Banding atau penggugat
atau Kuasa Hukumnya.

3. Pemeriksaan dalam Pesidangan


1) Untuk keperluan pemeriksaan, Hakim Ketua membuka persidangan dengan
mengetukkan palu sebagai tanda dimulainya persidangan dan menyatakan
persidangan terbuka untuk umum.
2) Hakim Ketua dan / atau Hakim Tunggal melakukan penelitian identitas pemohon
banding dan Kuasa Hukumnya antara lain dengan mencocokkan tanda tangan
apakah pihak yang hadir sesuai dengan pihak-pihak yang menandatangani Surat
Banding tersebut.
3) Hakim Ketua dan Anggota majelis melakukan pemeriksaan berkas perkara.
4) Dalam setiap pemeriksaan sengketa pajak, Panitera harus membuat Berita
Acara Sidang yang memuat segala sesuatu yang terjadi dalam persidangan.
5) Berita Acara Sidang ditandatangani oleh Hakim Ketua atau Hakim Tunggal dan
Panitera.
6) Apabila Hakim Ketua atau Hakim Tunggal dan Panitera berhalangan, Berita
Acara Sidang ditandatangani oleh Ketua Pengadilan Pajak dengan menyatakan
bahwa Hakim Ketua atau Hakim Tunggal dan Panitera berhalangan.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 33



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

4. Pemeriksaan dengan Acara Biasa dilakukan terhadap :

Surat Permohonan Banding yang memenuhi ketentuan formal :

a) Surat Banding diajukan masih dalam tenggang waktu 3 (tiga) bulan sejak
keputusan yang dibanding diterima.
b) Pajak terutang telah dibayar sampai dengan 50 % (lima puluh persen) dari
jumlah hutang pajaknya, dengan melampirkan bukti pembayarannya.

5. Pemeriksaan dengan Acara Cepat dilakukan terhadap :

1) Sengketa Pajak tertentu.


2) Dalam hal pemohonan banding memberitahukan akan hadir dalam persidangan,
Hakim Ketua memberitahukan tanggal dan hari sidang kepada pemohon banding
atau penggugat, dan memanggil pemohon banding untuk menghadiri
persidangan.
3) Hakim Ketua menjelaskan masalah yang disengketakan kepada para pihak yang
bersengketa diawal persidangan.
4) Hakim Ketua menanyakan kepada terbanding mengenai hal-hal yang
dikemukakan pemohon Banding dalam surat banding dan dalam surat bantahan.
5) Apabila dipandang perlu Hakim Ketua dapat memanggil pemohon Banding untuk
hadir dalam persidangan, guna memberikan keterangan yang diperlukan dalam
rangka penyelesaian sengketa pajak.

6. Hal-hal yang perlu diketahui :

1) Hakim Ketua memanggil terbanding dan dapat memanggil pemohon banding


atau penggugat untuk memberikan keterangan lisan.
2) Dalam hal permohonan banding memberitahukan akan hadir dalam persidangan,
Hakim Ketua memberitahukan tanggal dan hari sidang kepada pemohon banding
atau penggugat, dan memanggil pemohon Banding untuk menghadiri
persidangan.
3) Hakim Ketua menjelaskan masalah yang disengketakan kepada para pihak yang
bersengketa diawal persidangan.
4) Hakim Ketua menanyakan kepada terbanding mengenai hal-hal yang
dikemukakan pemohon Banding dalam surat banding dan dalam surat bantahan.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 34



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

5) Apabila dipandang perlu Hakim Ketua dapat memanggil pemohon Banding untuk
hadir dalam persidangan, guna memberikan keterangan yang diperlukan dalam
rangka penyelesaian sengketa pajak.
6) Dasar Hukum: Pasal 1, 49, 50, 65, 67, 68 Undang-Undang Nomor 14 Tahun
2002 tentang Pengadilan Pajak

G. Putusan Pengadilan Pajak64

1. Dasar Pengambilan Putusan

1) Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan


berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan
serta berdasarkan keyakinan Hakim.
2) Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan musyawarah yang dipimpin oleh
Hakim Ketua dan apabila majelis didalam mengambil putusan dengan
musyawarah tidak dapat dicapai kesepakatan, putusan diambil dengan suara
terbanyak.

2. Jenis Putusan

Putusan Pengadilan Pajak dapat berupa :

a) menolak;
b) mengabulkan sebagian atau seluruhnya;
c) menambah Pajak yang harus dibayar;
d) tidak dapat diterima;
e) membetulkan kesalahan tulis dan / atau kesalahan hitung; dan / atau
f) membatalkan.

3. Putusan Pengadilan Pajak harus memuat :

1) Kepala putusan yang berbunyi "DEMI KEADlLAN BERDASARKAN KETUHANAN


YANG MAHA ESA"
2) Nama, tempat tinggal atau atau tempat kediaman, dan / atau identitas lainnya
dari pemohon Banding atau penggugat;

64
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-05.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 35



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

3) Nama jabatan dan alamat terbanding atau tergugat;


4) Hari, tanggal diterimanya Banding atau Gugatan
5) Ringkasan Banding atau Gugatan dan ringkasan Surat Uraian Banding atau
Surat Tanggapan atau Surat Bantahan yang jelas;
6) Pertimbangan dan penilaian setiap bukti yang diajukan dan hal yang terjadi
dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa;
7) Pokok sengketa;
8) Alasan hukum yang menjadi dasar putusan;
9) Amar putusan tentang sengketa; dan
10) Hari, tanggal putusan, nama Hakim yang memutus, nama Panitera, dan
keterangan tentang hadir atau tidak hadirnya para pihak.

4. Jangka Waktu Pengambilan Keputusan

1) Putusan pemeriksan dengan acara biasa atas Banding diambil dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan sejak Sural Banding diterima.
2) Putusan pemeriksaan dengan acara biasa atas Gugatan diambil dalam jangka
waktu 6 (enam) bulan sejak Surat gugatan diterima.
3) Dalam hal-hal khusus, putusan pemeriksaan dengan acara biasa atas Banding
dan Gugatan diperpanjang paling lama 3 (tiga) bulan
4) Dalam hal Gugatan yang diajukan selain atas keputusan pelaksanaan penagihan
Pajak, tidak diputus dalam jangka waktu 6 (enam) bulan, Pengadilan Pajak wajib
mengambil putusan melalui pemeriksaan dengan acara cepat dalam jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak jangka waktu 6 (enam) bulan dimaksud dilampui.
5) Putusan pemeriksaan dengan acara cepat terhadap Sengketa Pajak tertentu
dinyatakan tidak dapat diterima, diambil dalam jangka waktu sebagai berikut :
a. 30 (tiga puluh) hari sejak batas waktu pengajuan Banding atau Gugatan
dilampui;
b. 30 (tiga puluh) hari sejak Banding atau Gugatan diterima dalam hal diajukan
setelah batas waktu pengajuan dilampui.
c. Putusan/penetapan dengan acara cepat terhadap kekeliruan berupa
membetulkan kesalahan tulis dan / atau kesalahan hitung, diambil dalam
jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak kekeliruan dimaksud diketahui atau
sejak permohonan salah satu pihak diterima.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 36



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

6) Putusan dengan acara cepat terhadap sengketa yang didasarkan pertimbangan


hukum bukan merupakan wewenang Pengadilan Pajak, berupa tidak dapat
diterima, diambil dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak Surat Banding
atau Surat Gugatan diterima.
7) Dalam hal putusan Pengadilan Pajak diambil terhadap Sengketa Pajak
dimaksud, pemohon Banding atau penggugat dapat mengajukan Gugatan
kepada peradilan yang berwenang.

5. Pelaksanaan Putusan
1) Putusan Pengadilan Pajak langsung dapat dilaksanakan dengan tidak
memerlukan lagi keputusan pejabat yang berwenang kecuali peraturan
perundang-undangan mengatur lain.
2) Apabila putusan Pengadilan Pajak mengabulkan sebagian atau seluruh Banding,
kelebihan pembayaran Pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga
sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan,
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. yang berlaku.
3) Salinan putusan atau salinan penetapan Pengadilan Pajak dikirim kepada para
pihak dengan surat oleh Sekretaris dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal putusan Pengadilan Pajak diucapkan, atau dalam jangka waktu 7 (tujuh)
hari sejak tanggal putusan sela diucapkan
4) Putusan Pengadilan Pajak harus dilaksanakan oleh Pejabat yang berwenang
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diterima putusan.
5) Pejabat yang tidak melaksanakan putusan Pengadilan Pajak dalam jangka waktu
tersebut, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan kepegawaian yang berlaku.

6. Hal-hal yang perlu diketahui :

1) Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai kekuatan


hukum tetap.
2) Pengadilan Pajak dapat mengeluarkan putusan sela atas Gugatan berkenaan
dengan permohonan menunda atau menghalangi dilaksanakannya penagihan
Pajak atau kewajiban perpajakan.
3) Pihak-pihak yang bersengketa dapat mengajukan peninjauan kembali atas
putusan Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung.
4) Putusan Pengadilan Pajak harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 37



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

5) Dasar Hukum : Pasal 77-88 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang


Pengadilan Pajak.

H. Pemeriksaan Peninjauan Kembali65

1. Peninjauan Kembali

1) Permohonan peninjauan kembali (PK) hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada
Mahkamah Agung (MA) melalui Pengadilan Pajak.
2) Permohonan peninjauan kembali (PK) tidak menangguhkan atau menghentikan
pelaksanaan putusan Pengadilan Pajak.
3) Permohonan peninjauan kembali (PK) dapat dicabut sebelum diputus, dan dalam
hal sudah dicabut permohonan peninjauan kembali tersebut tidak dapat diajukan
lagi.

2. Alasan-alasan mengajukan peninjauan kembali (PK) :

1) Apabila putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu
muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan
pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu;
2) Apabila terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan, yang
apabila diketahui pada tahap persidangan di pengadilan Pajak akan
menghasilkan putusan yang berbeda;
3) Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak, dituntut atau lebih dari pada yang
dituntut, kecuali yang diputus berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya
atau menambah Pajak yang harus dibayar;
4) Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa
dipertimbangkan sebab-sebabnya; atau
5) Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.

3. Jangka Waktu Peninjauan Kembali (PK)

1) Pengajuan peninjauan kembali (PK) berdasarkan alasan-alasan sebagaimana


dimaksud huruf 1, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan

65
http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-06.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 38



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

terhitung sejak diketahuinya kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan
Hakim pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap.
2) Pengajuan peninjauan kembali (PK) berdasarkan alasan-alasan sebagaimana
dimaksud huruf 2, dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak
ditemukan surat-surat bukti yang hari dan tanggal ditemukannya harus
dinyatakan dibawah sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang.
3) Pengajuan permohonan peninjauan kembali (PK) berdasarlan alasan huruf 3, 4
dan 5 dilakukan dalam jangka waktutu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak putusan
dikirim.

4. Pemprosesan peninjauan kembali (PK) oleh Mahkamah Agung

1) Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan peninjauan kembali


diterima oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan, dalam hal Pengadilan
Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara biasa;
2) Dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak permohonan peninjauan kembali
diterima oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan, dalam hal Pengadilan
Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara cepat.

5. Hal-hal lain yang perlu diketahui :

1) Putusan atas permohonan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud harus


diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
2) Hukum acara berlaku pada pemeriksaan PK adalah hukum acara Peninjauan
Kembali sebagaimana dimaksud dalam UU No. 14/1985 tentang Mahkamah
Agung, kecuali yang diatur secara khusus dalam UU No. 14/2002 tentang
Pengadilan Pajak.
3) Dasar Hukum : Pasal 89-93 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 39



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

BAB V
PENAGIHAN PAJAK

A. Latar Belakang Penagihan

Pada dasarnya besarnya utang pajak dihitung sendiri oleh Wajib Pajak sesuai dengan
sistem self assessment. Namun dalam kenyataan tidak semua Wajib Pajak menjalankan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan perpajakan. Akibatnya Direktur Jenderal
Pajak harus menerbitkan ketetapan pajak baik berupa Surat Tagihan Pajak maupun
surat ketetapan pajak. Wajib Pajakharus melunasi pajak yang masih harus dibayar
sesuai yang tercantum dalam Surat Tagihan Pajak maupun surat ketetapan pajak paling
lama satu bulan. Jika batas waktu tersebut dilampaui maka Direktur Jenderal Pajak
melakukan upaya penagihan pajak. Penagihan ini dilakukan sesuai dengan sifat pajak
yang pelaksanaannya bisa dipaksakan. Oleh karena itu, penagihan pajak ini sampai
pada penyitaan dan pelelangan barang milik Wajib Pajak atau penanggung pajak.

Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang
pajakdan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan
penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan
pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual
barangyang telah disita.66

Yang menjadi dasar penagihan pajak adalah Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat
Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan
Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar
bertambah.67

B. Pejabat dan Jurusita Pajak

Pejabat adalah pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Jurusita


Pajak, menerbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa,
Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Pencabutan Sita, Pengumuman Lelang,

66
Pasal 1 angka 9 UU PPSP
67
Pasal 18 ayat (1) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 40



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Surat Penentuan Harga Limit, Pembatalan Lelang, Surat Perintah Penyanderaan


dansurat lain yang diperlukan untuk penagihan pajak sehubungan dengan Penanggung
Pajak tidak melunasi sebagian atau seluruh utang pajak menurut undang-undang
danperaturan daerah.68 Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang
meliputi penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan
penyanderaan.69

Menteri berwenang menunjuk Pejabat untuk penagihan pajak pusat.Ketentuan ini


memberi kewenangan kepada Menteri menunjuk Pejabat untuk penagihan pajak pusat.
Yang dimaksud dengan Pejabat untuk penagihan pajak pusat antara lain Kepala Kantor
Pelayanan Pajak atau Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Adapun
yang dimaksud dengan pajak pusat adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat,
antara lain, Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Masuk dan Cukai.70
Pejabat sebagaimana dimaksud di atas berwenang :71

a. mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak;


b. menerbitkan :
1) Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis;
2) Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus;
3) Surat Paksa;
4) Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan;
5) Surat Perintah Penyanderaan;
6) Surat Pencabutan Sita;
7) Pengumuman Lelang;
8) Surat Penentuan Harga Limit;
9) Pembatalan Lelang; dan
10) surat lain yang diperlukan untuk pelaksanaan penagihan pajak.
Yang dimaksud dengan surat lain yang diperlukan untuk pelaksanaan
penagihan pajak antara lain surat permintaan tanggal dan jadwal
waktupelelangan ke kantor lelang, surat permintaan Surat Keterangan
Pendaftaran Tanah (SKPT) kepada Badan Petanahan Nasional/Kantor

68
Pasal 1 angka 5 UU PPSP
69
Pasal 1 angka 6 UU PPSP
70
Pasal 2 ayat (1) UU PPSP
71
Pasal 2 ayat (3) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 41



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Pertanahan, surat permintaan bantuan kepada kepolisian atau surat


permintaan pencegahan.

Jurusita Pajak diangkat dan diberhentikan oleh Pejabat.72 Jurusita Pajak dalam
melaksanakan tugasnya merupakan pelaksana eksekusi dari putusan yang sama
kedudukannya dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap. Oleh karena itu, untuk dapat diangkat sebagai Jurusita Pajak, harus memenuhi
syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh Menteri, misalnya, pendidikan serendah-
rendahnya Sekolah Menengah Umum atau yang sederajat serta telah mengikuti
pendidikan dan pelatihan khusus Jurusita Pajak.

Syarat-syarat, tata cara pengangkatan dan pemberhentian sebagai Jurusita Pajak


ditetapkan oleh Menteri.73 Dengan pertimbangan bahwa Jurusita Pajak harus ada pada
setiap kantor Pejabat, baik Pejabat untuk penagihan pajak pusat maupun Pejabat untuk
penagihan pajak daerah, maka kewenangan pengangkatan dan pemberitahuan Jurusita
Pajak diberikan kepada Pejabat dengan berpedoman pada syarat-syarat dan tata cara
yang ditetapkan oleh Menteri.

Sebelum memangku jabatannya, Jurusita Pajak diambil sumpah atau janji menurut
agama atau kepercayaannya oleh Pejabat.74 Jurusita Pajak bertugas:75

a. melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus;


b. memberitahukan Surat Paksa. Yang dimaksud dengan memberitahukan Surat
Paksa adalahmenyampaikan Surat Paksa secara resmi kepada Penanggung Pajak
dengan pernyataan dan penyerahan salinan Surat Paksa.;
c. melaksanakan penyitaan atas barang Penangung Pajak berdasarkan
SuratPerintah Melaksanakan Penyitaan; dan
d. melaksanakan penyanderaan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaandari
Pejabat sesuai dengan izin yang diberikan oleh Menteri atau Gubernur.

Jurusita Pajak dalam melaksanakan tugasnya harus dilengkapi dengan kartu tanda
pengenal Jurusita Pajak dan harus diperlihatkan kepada Penanggung Pajak.76 Hal ini

72
Pasal 3 ayat (1) UU PPSP
73
Pasal 3 ayat (2) UU PPSP
74
Pasal 4 UU PPSP
75
Pasal 5 ayat (1) UU PPSP
76
Pasal 5 ayat (2) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 42



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dimaksudkan sebagai bukti diri bagi Jurusita Pajak bahwa yang bersangkutan adalah
Jurusita Pajak yang sah dan betul-betul bertugas untuk melaksanakan tindakan
penagihan pajak.

Dalam melaksanakan penyitaan, Jurusita Pajak berwenang memasuki dan memeriksa


semua ruangan termasuk membuka lemari, laci, dan tempat lain untuk menemukan
objek sita di tempat usaha, di tempat kedudukan, atau di tempat tinggal
PenanggungPajak, atau di tempat lain yang dapat diduga sebagai tempat penyimpanan
objek sita.77 Ketentuan ini mengatur kewenangan Jurusita Pajak dalam melaksanakan
penyitaan untuk menemukan objek sita yang ada di tempat usaha, tempat kedudukan,
atau tempat tinggal Penanggung Pajak dengan memperhatikan norma yang berlaku
dalam masyarakat, misalnya, dengan terlebih dahulu meminta izin dari Penanggung
Pajak. Kewenangan ini pada hakekatnya tidak sama dengan penggeledahan
sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.

Dalam melaksanakan tugasnya, Jurusita Pajak dapat meminta bantuan Kepolisian,


Kejaksaan, Departemen yang membidangi hukum dan perundang-undangan,
Pemerintah Daerah setempat, Badan Pertanahan Nasional, Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut, Pengadilan Negeri, Bank atau pihak lain. Jurusita Pajak menjalankan
tugas di wilayah kerja Pejabat yang mengangkatnya, kecuali ditetapkan lain dengan
Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah.78

Jurusita Pajak dalam melaksanakan tugas dapat meminta bantuan pihak lain, misalnya,
dalam hal Penanggung Pajak tidak memberi izin atau menghalangi pelaksanaan
penyitaan, Jurusita Pajak dapat meminta bantuan Kepolisian atau Kejaksaan. Demikian
juga dalam hal penyitaan terhadap barang tidak bergerak seperti tanah, JurusitaPajak
dapat meminta bantuan kepada Badan Pertanahan Nasional atau Pemerintah Daerah
untuk meneliti kelengkapan dokumen berupa keterangan kepemilikan atau dokumen
lainnya. Dalam hal penyitaanterhadap kapal laut dengan isi kotor tertentu dapat meminta
bantuan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Jurusita Pajak menjalankan tugas di wilayah kerja Pejabat yang mengangkatnya, kecuali
ditetapkan lain dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah.79Pada

77
Pasal 5 ayat (3) UU PPSP
78
Pasal 5 ayat (4) UU PPSP
79
Pasal 5 ayat (5) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 43



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dasarnya Jurusita Pajak melaksanakan tugas di wilayah kerja Pejabat yang


mengangkatnya, namun apabila dalam suatu kota terdapat beberapa wilayah kerja
Pejabat, misalnya, di Jakarta, maka Menteri atau Kepala Daerah berwenang
menetapkan bahwa Jurusita Pajak dapat melaksanakan tugasnya di luar wilayah kerja
Pejabat yang mengangkatnya.

Contoh :

Dalam hal telah ada keputusan Menteri, maka Jurusita Pajak dari Kantor Pelayanan
Pajak Jakarta Menteng dapat melaksanakan penyitaan barang Penanggung Pajak yang
berada di wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Pasar Minggu.

C. Jatuh Tempo Pembayaran

Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan
Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu)
bulan sejak tanggal diterbitkan.80

Akan tetapi setelah diterbitkan penetapan dan ketetapan Wajib Pajak masih mempunyai
hak-haknya, sehingga jatuh tempo pembayarannya berubah menjadi sebagai berikut: 81

Jangka Waktu Pelunasan


No Uraian
paling lama
1. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan satu bulan sejak tanggal
keberatan dan tidak mengajukan penerbitan Surat Keputusan
permohonan banding Keberatan
2. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan satu bulan sejak tanggal
permohonan banding penerbitan Putusan Banding
3. Dalam hal Wajib Pajak menyetujui seluruh satu bulan sejak tanggal
jumlah pajak yang masih harus dibayar penerbitan surat Ketetapan Pajak
dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan

80
Pasal 9 ayat (3) UU KUP
81
Pasal 27 PP 80 Tahun 2007

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 44



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

4. Dalam hal Wajib Pajak usaha kecil dan dua bulan sejak tanggal
Wajib Pajak di daerah tertentu menyetujui penerbitan surat ketetapan pajak
seluruh jumlah pajak yang masih harus
dibayar dalam Pembahasan Akhir Hasil
Pemeriksaan

D. Tindakan Penagihan

1. Surat Teguran

Tindakan penagihan pajak dimulai dengan penerbitan Surat Teguran, Surat


Peringatan, atau surat lain yang sejenis. Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat
lain yang sejenis adalah surat yang diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau
memperingatkan kepada Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya.82 Surat
Teguran, Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis diterbitkan apabila
penanggung pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo.

82
Pasal 1 angka 10 UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 45



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Dalam hal Wajib Pajak tidak melunasi jumlah pajak yang masih dibayar dalam
jangka waktu yang ditentuan. Maka pajak yang masih harus dibayar tersebut ditagih
dengan terlebih dahulu menerbitkan Surat Teguran yang disampaikan setelah tujuh
hari sejak saat jatuh tempo pembayaran, jatuh tempo pengajuan keberatan, jatuh
tempo pengajuan permohonan banding, dan jatuh tempo pelunasan pajak yang
masih harus dibayar berdasarkan Putusan Banding.

Penyampaian Surat Teguran dapat dilakukan:83


a. secara langsung,
b. melalui pos, atau
c. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman
surat.

2. Surat Paksa

Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan
pajak.84 Apabila jumlah utang pajak tidak dilunasi oleh Penanggung Pajak setelah
lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal disampaikan Surat Teguran, Surat
Paksa diterbitkan oleh Pejabat dan diberitahukan secara langsung oleh jurusita Pajak
kepada Penanggung Pajak.85

Surat Paksa diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan pernyataan dan penyerahan
Salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak. Mengingat Surat Paksa mempunyai
kekuatan eksekutorial dan kedudukan hukum yang sama dengan grosse akte, yaitu
putusan pengadilan perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka
pemberitahuan kepada Penanggung Pajak oleh Jurusita Pajak dilaksanakan dengan
cara membacakan isi Surat Paksa dan kedua belah pihak menandatangani Berita
Acara sebagai pernyataan bahwa Surat Paksa telah diberitahukan. Selanjutnya
salinan Surat Paksa diserahkan kepada Penanggung Pajak, sedangkan asli Surat
Paksa disimpan di kantor Pejabat.86

83
Pasal 11 PMK-24/PMK.03/2008
84
Pasal 1 angka 12 UU PPSP
85
Pasal 12 PMK-24/PMK.03/2008
86
Pasal 10 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 46



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Penerbitan Surat Paksa

Surat Paksa diterbitkan apabila:87

1. Penanggung pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan tanggal jatuh
tempo pembayaran dan kepadanya telah diterbitkan Surat Teguran atau Surat
Peringatan atau surat lain yang sejenis;
2. Terhadap penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan pajak seketika dan
sekaligus. Pada dasarnya Surat Paksa diterbitkan setelah Surat Teguran, atau
Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis diterbitkan oleh Pejabat. Dalam
hal penagihan seketika dan sekaligus Surat Paksa diterbitkan oleh Pejabat baik
sebelum maupun sesudah penerbitan Surat Teguran, atau Surat Peringatan,
atau surat lain yang sejenis. Pengertian surat lain yang sejenis meliputi surat
atau bentuk lain yang fungsinya sama dengan Surat Teguran atau Surat
Peringatan dalam upaya penagihan pajak sebelum Surat Paksa diterbitkan.88
3. Penanggung pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam
keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak. Dalam
hal-hal tertentu, misalnya, karena Penanggung Pajak mengalami kesulitan
likuiditas, kepada Penanggung Pajak atas dasar permohonannya dapat
diberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak
melalui keputusan Pejabat. Oleh karena itu, keputusan dimaksud mengikat
kedua belah pihak.Dengan demikian, apabila kemudian Penanggung Pajak
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam keputusan
persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak, maka Surat Paksa
dapat diterbitkan langsung tanpa Surat Teguran, Surat Peringatan, atau surat
lain yang sejenis.

Penyampaian Surat Paksa

Pemberitahuan Surat Paksa dilakukan oleh Jurusita dengan pernyataan dan


penyerahan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak.89 Mengingat Surat Paksa
mempunyai kekuatan eksekutorial dan kedudukan hukum yang sama dengan grosse
akte, yaitu putusan pengadilan perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum

87
Pasal 8 ayat (1) UU PPSP
88
Pasal 15 PMK-24/PMK.03/2008
89
Pasal 10 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 47



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

tetap, maka pemberitahuan kepada Penanggung Pajak oleh Jurusita Pajak


dilaksanakan dengan cara membacakan isi Surat Paksa dan kedua belah pihak
menandatangani Berita Acara sebagai pernyataan bahwa Surat Paksa telah
diberitahukan. Selanjutnya salinan Surat Paksa diserahkan kepada Penanggung
Pajak, sedangkan asli Surat Paksa disimpan di kantor Pejabat. Pemberitahuan Surat
Paksa tersebut dituangkan dalam Berita Acara yang sekurang-kurangnya memuat
hari dan tanggal pemberitahuan Surat Paksa, nama Jurusita Pajak, nama yang
menerima, dan tempat pemberitahuan Surat Paksa.90

Yang Berhak Menerima Surat Paksa

Penyampaian Surat Paksa kepada penanggung pajak adalah sebagai berikut:

a. Surat Paksa terhadap orang pribadi diberitahukan oleh Jurusita Pajak


kepada:91

1. Penanggung Pajak di tempat tinggal, tempat usaha, atau di tempat lain


yang memungkinkan;
2. Orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun bekerja di
tempat usaha Penanggung Pajak, apabila Penanggung Pajak yang
bersangkutan tidak dapat dijumpai;
3. Salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus
harta peninggalannya, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan
harta warisan belum dibagi;
4. Para ahli waris, apabila Penanggung Pajak telah meninggal dunia dan
harta warisan telah dibagi. Terhadap Wajib Pajak yang meninggal dunia
dan meninggalkan warisan yang telah dibagi, Surat Paksa diterbitkan dan
diberitahukan kepada masing-masing ahli waris. Surat Paksa dimaksud
memuat antara lain, jumlah utang pajak yang telah dibagi sebanding
dengan besarnya warisan yang diterima oleh masing-masing ahli waris.
Dalam hal ahli waris belum dewasa, Surat Paksa diserahkan kepada wali
atau pengampunya.

b. Surat Paksa terhadap badan diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada:92

90
Pasal 10 ayat (2) UU PPSP
91
Pasal 10 ayat (3) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 48



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

1. Pengurus, pemegang saham, dan pemilik modal baik di tempat kedudukan


badan yang bersangkutan, di tempat tinggal mereka maupun di tempat lain
yang memungkinkan.
a. Untuk perseroan terbatas kepada pengurus meliputi:
1) Direksi,
2) Komisaris, meliputi Komisaris sebagai orang yang lazim disebut
Dewan Komisaris dan Komisaris sebagai orang perseroan yang
lazim disebut anggota Komisaris.
3) pemegang saham tertentu, adalah pemegang saham pengendali
atau pemegang saham mayoritas dari perseroan terbatas terbuka
dan seluruh pemegang saham dari perseroan terbatas tertutup;
dan
4) orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan
kebijaksanaan dan atau mengambil keputusan dalam menjalankan
perseroan.
b. untuk Bentuk Usaha Tetap kepada kepala perwakilan, kepala cabang
atau penanggung jawab;
c. untuk badan usaha lainnya seperti persekutuan, firma, perseroan
komanditer kepada direktur, pemilik modal atau orang yang ditunjuk
untuk melaksanakan dan mengendalikan serta bertanggung jawab
atas perusahaan dimaksud;
d. untuk yayasan kepada ketua, atau orang yang melaksanakan dan
mengendalikan serta bertanggung jawab atas yayasan dimaksud.
e. Pegawai tingkat pimpinan di tempat kedudukan atau tempat usaha
badan yang bersangkutan apabila Jurusita tidak dapat menjumpai
salah seorang sebagaimana dimaksud pada angka 1. Pengertian
pegawai tetap adalah pegawai perusahaan yang membidangi
keuangan, pembukuan, perpajakan, personalia, hubungan
masyarakat, atau bagian umum dan bukan pegawai harian.

Penyampaian Surat Paksa Dalam Keadaan Khusus

1. Apabila pemberitahuan Surat Paksa tidak dapat dilaksanakan kepada para pihak
tersebut di atas, Surat Paksa disampaikan melalui Pemerintah Daerah

92
Pasal 10 ayat (4) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 49



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

setempat.93 Aparat Pemerintah Daerah setempat sekurang-kurangnya setingkat


Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa dengan membuat Berita Acara, yang
selanjutnya Salinan Surat Paksa dimaksud akan segera diserahkan kepada
Penanggung Pajak yang bersangkutan.
2. Apabila Wajib Pajak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, Surat Paksa
diberitahukan kepada Kurator atau Balai Harta Peninggalan dan Hakim
Pengawas yang ditetapkan. Sedangkan terhadap Wajib Pajak Badan yang
dinyatakan bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa diberitahukan kepada orang
atau badan yang dibebani untuk melakukan pemberesan, atau Likuidator, atau
Penerima Kuasa.94
3. Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus
untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan, Surat Paksa dapat
diberitahukan kepada penerima kuasa dimaksud. Yang dimaksud dengan
seorang kuasa pada ayat ini adalah orang pribadi atau badan yang menerima
kuasa khusus untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan.95
4. Dalam hal Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak diketahui tempat
tinggalnya, tempat usaha, atau tempat kedudukannya, penyampaian Surat
Paksa dilaksanakan dengan cara menempelkan Surat Paksa pada papan
pengumuman kantor Pejabat yang menerbitkannya, mengumumkan melalui
media massa, atau cara lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri atau
Keputusan Kepala Daerah.96
5. Dalam hal Surat Paksa harus dilaksanakan di luar wilayah kerja Pejabat, Pejabat
dimaksud meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi
tempat pelaksanaan Surat Paksa, kecuali ditetapkan lain dengan Keputusan
Menteri atau Keputusan Kepala Daerah.97 Pada dasarnya apabila Surat Paksa
akan dilaksanakan di luar wilayah kerja Pejabat, Pejabat dimaksud harus
meminta bantuan kepada Pejabat lain. Menyimpang dari ketentuan tersebut di
atas, apabila di suatu kota terdapat beberapa wilayah kerja Pejabat, dan telah
ada Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah, Pejabat dimaksud dapat
langsung memerintahkan Jurusitanya untuk melaksanakan Surat Paksa di luar
wilayah kerjanya tanpa harus meminta bantuan Pejabat setempat.

93
Pasal 10 ayat (7) UU PPSP
94
Pasal 10 ayat (4) UU PPSP
95
Pasal 10 ayat (6) UU PPSP
96
Pasal 10 ayat (8) UU PPSP & Pasal 20 ayat (3) PMK-24/PMK.03/2008
97
Pasal 10 ayat (9) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 50



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Contoh :
Dalam hal telah ada keputusan Menteri, maka Kepala Kantor Pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan Jakarta Utara dapat langsung memerintahkan
Jurusitanya untuk melaksanakan Surat Paksa di tempat Penanggung Pajak
di Pasar Minggu Jakarta Selatan, tanpa harus meminta bantuan Kepala
Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan Jakarta Selatan.
6. Apabila letak objek sita berjauhan dengan tempat kedudukan Kepala Kantor
Pelayanan Pajak tetapi masih berada dalam wilayah kerjanya, Kepala Kantor
Pelayanan tersebut dapat meminta bantuan kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak yang wilayah kerjanya juga meliputi tempat objek sita berada untuk
menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.98 Tindakan yang
dilakukan oleh kepala Kantor Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dalam
rangka penagihan pajak dengan Surat Paksa adalah sebagai berikut:99

a. Menyampaikan surat permintaan bantuan pelaksanaan Surat Paksa dengan


disertai Surat Paksa berikut salinannya, serta informasi data mengenai
Wajib Pajak kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang diminta bantuan
dengan tembusan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
(Kanwil DJP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor
Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dan Kantor Pelayanan Pajak yang
diminta bantuan.
b. Data sebagaimana dimaksud dalam huruf a di atas antara lain:

1) nama, alamat, Nomor Objek Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak;
2) jenis dan tahun pajak;
3) besarnya Pajak terutang;
4) copy Surat Tagihan Pajak (SPT), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar
Tambahan (SKBKBT), Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan (STB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB),
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat
Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, putusan Banding

98
Pasal 2 ayat (2) KEP-21/PJ/2002
99
Pasal 3 KEP-21/PJ/2002

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 51



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah yang


menjadi dasar penagihan dengan Surat Paksa dimaksud;
5) copy tanda terima STP, STB, SKBKB, SKBKBT, SKPKB, SKPKBT;
6) bank/kantor pos/tempat pembayaran pajak terutang;
7) catatan ringkas objek sita dan data yang berkaitan dengan Wajib Pajak.

c. Menerima pemberitahuan tentang pelaksanaan Surat Paksa beserta


dokumennya dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang diminta bantuan
untuk dicatat dalam buku pengawasan penagihan yang selanjutnya
digabung dengan berkas penagihan.
d. Menyampaikan surat permintaan bantuan untuk menerbitkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan disertai salinan Surat Paksa dan data objek sita
selengkap-lengkapnya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang diminta
bantuan dengan tembusan kepada Kepala Kanwil DJP yang wilayah
kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pelayanan Pajak yang meminta
bantuan dan Kantor Pelayanan Pajak yang diminta bantuan.
e. Menerima Pemberitahuan pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan
Penyitaan dan Berita Acara Pelaksanaan Sita dari Kepala Kantor Pelayanan
Pajak yang diminta bantuan untuk dicatat dalam buku pengawasan
penagihan yang selanjutnya digabung dengan berkas penagihan.
f. Menyampaikan surat permintaan bantuan untuk pelaksanaan lelang disertai
fotokopy Berita Acara Pelaksanaan Sita Kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak yang diminta bantuan dengan tembusan kepada Kepala Kanwil DJP
yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pelayanan
Pajak/Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang meminta bantuan
dan Kantor Pelayanan Pajak yang di minta bantuan.
g. Menerima pemberitahuan pelaksanaan lelang dan Berita Acara Lelang dari
Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang diminta bantuan.

Tindakan yang dilakukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang diminta
bantuan dalam rangka penagihan pajak dengan Surat Paksa adalah sebagai
berikut:100

100
Pasal 4 KEP-21/PJ/2002

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 52



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. Menerima surat permintaan bantuan pelaksanaan Surat Paksa serta


informasi data Wajib Pajak.
b. Melaksanakan Surat Paksa dan memberitahukan tindakan yang telah
dilakukan disertai dokumen pelaksanaan Surat Paksa kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dengan tembusan kepada
Kepala Kanwil DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan
Kantor Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dan Kantor Pelayanan
Pajak yang diminta bantuan.
c. Menerima surat permintaan bantuan menerbitkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan.
d. Menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.
e. Melaksanakan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dan
memberitahukan pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
dengan dilengkapi Berita Acara Pelaksanaan Sita kepada Kepala Kantor
Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dengan tembusan kepada Kepala
Kanwil DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor
Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dan Kantor Pelayanan
Pajak/Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang diminta bantuan.
f. Menerima surat permintaan bantuan untuk melakukan proses lelang.
g. Melaksanakan dan memberitahukan pelaksanaan lelang kepada Kepala
Kantor Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dengan tembusan kepada
Kepala Kanwil DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan
Kantor Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dan Kantor Pelayanan
Pajak yang diminta bantuan.

7. Dalam hal di satu kota terdapat lebih dari satu wilayah kerja dari beberapa
Pejabat, Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa dapat memerintahkan Jurusita
Pajaknya untuk melaksanakan Surat Paksa di luar wilayah kerjanya sepanjang
masih berada di kota tersebut.101 Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa
tersebut wajib memberitahukan pelaksanaan Surat Paksa yang telah dilakukan
kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat
Paksa.102 Dalam hal pelaksanaan Surat Paksa harus dilakukan di luar kota

101
Pasal 21 ayat (2) PMK-24/PMK.03/2008
102
Pasal 21 ayat (3) PMK-24/PMK.03/2008

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 53



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

tempat kedudukan kantor Pejabat namun masih dalam wilayah kerjanya, pejabat
yang menerbitkan Surat Paksa:103
a. meminta bantuan untuk melaksanakan Surat Paksa kepada Pejabat yang
wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa; atau
b. memerintahkan Jurusita Pajaknya untuk melaksanakan Surat Paksa
secara langsung tanpa meminta bantuan kepada Pejabat setempat
disertai dengan pemberitahuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya
meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa.

Pejabat yang diminta bantuan melaksanakan surat paksa wajib membantu dan
memberitahukan tindakan yang telah dilaksankannya kepada Pejabat yang
meminta bantuan.104

8. Dalam hal Penanggung Pajak atau pihak-pihak yang bias menerima surat paksa
menolak untuk menerima Surat Paksa, Jurusita Pajak meninggalkan Surat
Paksa dimaksud dan mencatatnya dalam Berita Acara bahwa Penanggung
Pajak tidak mau menerima Surat Paksa, dan Surat Paksa dianggap telah
diberitahukan.105 Apabila Penanggung Pajak menolak menerima Surat Paksa
dengan berbagai alasan, misalnya, karena Wajib Pajak sedang mengajukan
keberatan, salinan Surat Paksa dimaksud ditinggalkan di tempat tinggal, tempat
usaha, atau tempat kedudukan Penanggung Pajak dan dicatat dalam Berita
Acara bahwa Penanggung Pajak tidak mau atau menolak menerima salinan
Surat Paksa. Dengan demikian, Surat Paksa dianggap telah diberitahukan.

Pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak tidak mengakibatkan penundaan


106
pelaksanaan Surat Paksa.

Pembetulan dan Pengantian Surat Teguran, Surat Paksa dan Surat Perintah
Penagihan Seketika dan Sekaligus

Dalam hal terjadi keadaan di luar kekuasaan Pejabat atau sebab lain, Surat
Paksa Pengganti dapat diterbitkan oleh Pejabat karena jabatan. Surat Paksa

103
Pasal 21 ayat (4) PMK-24/PMK.03/2008
104
Pasal 21 ayat (5) PMK-24/PMK.03/2008
105
Pasal 10 ayat (11) UU PPSP
106
Pasal 10 ayat (12) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 54



BADAN
N PENDIDIKAN
N DAN PELATIH
HAN KEUANG
GAN
PUSAT PENDIDIK
KAN DAN P
PELATIHAN
N PAJAK AGUS
S SUHARSON
NO

pengganti tersebut mempunya


ai kekuatan eksekutoria
al dankedud
dukan hukum
ma dengan Surat
yang sam S Paksa.107
Penangg
gung Pajakk dapat m
mengajukan
n permohonan pemb
betulan ata
au
penggantian kepada
a Pejabat te
erhadap Su
urat Teguran
n dan/atau Surat Pakssa
am penerbittannya terda
yang dala han atau kekkeliruan.108 Pejabat
apat kesalah P dalam
jangka waktu
w paling
g lama 7 (tujuh) hari sejak
s tangga
al diterima permohonan,
harus me
emberi kepu
utusan atass permohona ajukan.109 Apabila
an yang dia A dalam
jangka te
ersebut Peja
abat tidak me
emberikan keputusan,
k p
permohonan ng
Penanggun
Pajak diianggap dik
kabulkan da
an Penagih
han Pajak ditunda unttuksementarra
waktu.1100
Pejabat karena jabatan dapat membetulkkan Surat T
Teguran, Su
urat Perinta
ah
an Seketika dan Sekalig
Penagiha gus, dan Surrat Paksa ya
ang dalam penerbitanny
p ya
terdapat kesalahan atau kekeliiruan. Tinda
akan pelaksanaan Pena
agihan Paja
ak
an setelah kesalahan ata
dilanjutka au kekelirua
an dibetulkan
n olehPejaba
at.

3. Penyitaan

P
Penyitaan ad
dalah tindakkan Jurusita
a Pajak untuk menguasai barang Penanggun
ng
P
Pajak, guna dijadikan jaminan
j untuk meluna
asi utang pajak
p menurrut peratura
an
ndangan.111 Objek Sita adalah barrang Penang
perundang-un ggung Pajakk yang dapa
at

107
Pasal 22 PMK-24/PMK.03/2008
108
Pasal 23 ayat (1) PMK--24/PMK.03/20008
109
Pasal 23 ayat (2) PMK--24/PMK.03/20008
110
Pasal 23 ayat (3) PMK--24/PMK.03/20008
111
Pasal 1 anngka 14 UU PPS
SP

KEBER
RATAN BAND NAGIHAN@D
DING DAN PEN DTSDASARPA
AJAKI Hal | 55

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dijadikan jaminan utang pajak.112 Barang adalah tiap benda atau hak yang dapat
dijadikan objek sita.113

Pelaksanaan Surat Paksa tidak dapat dilanjutkan dengan penyitaan sebelum lewat
waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam setelah Surat Paksa diberitahukan.
Jangka waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam dimaksudkan untuk memberi
kesempatan kepada Penanggung Pajak melunasi utang pajak sebagaimana
tercantum dalam Surat Paksa yang bersangkutan.114

Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan oleh Jurusita


Pajak berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang diterbitkan oleh
Pejabat.115 Apabila utang pajak tidak dilunasi Penanggung Pajak dalam jangka waktu
2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam, Pejabat menerbitkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan.116 Berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
tersebut, Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan terhadap barang milik penanggung
pajak.117Penyitaan dilaksanakan oleh Jurusita Pajak dengan disaksikan oleh
sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang telah dewasa, penduduk Indonesia, dikenal
oleh Jurusita Pajak, dan dapat dipercaya.118 Kehadiran para saksi dimaksudkan
untuk meyakinkan bahwa pelaksanaan penyitaan dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

Setiap melaksanakan penyitaan, Jurusita Pajak membuat Berita Acara Pelaksanaan


Sita yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak, Penanggung Pajak dan saksi-saksi.119
Berita Acara Pelaksanaan Sita merupakan pemberitahuan kepada Penanggung
Pajak dan masyarakat bahwa penguasaan barang Penanggung Pajak telah
berpindah dari Penanggung Pajak kepada Pejabat. Oleh karena itu, dalam setiap
penyitaan, Jurusita Pajak harus membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita secara
jelas dan lengkap yang sekurang-kurangnya memuat hari dan tanggal, nomor, nama
Jurusita Pajak, nama Penanggung Pajak, nama dan jenis barang yang disita, dan
tempat penyitaan.

112
Pasal 1 angka 15 UU PPSP
113
Pasal 1 angka 16 UU PPSP
114
Pasal 10 ayat (11) UU PPSP
115
Pasal 2 ayat (1) PP 135 Tahun 2000
116
Pasal 12 ayat (1) UU PPSP
117
Pasal 24 PMK-24/PMK.03/2008
118
Pasal 12 ayat (2) UU PPSP
119
Pasal 12 ayat (3) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 56



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Dalam hal Penanggung Pajak adalah Badan maka Berita Acara Pelaksanaan Sita
ditandatangani oleh pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung
jawab, pemilik modal atau pegawai tetap perusahaan.120 Penandatanganan Berita
Acara Pelaksanaan Sita:

untuk perseroan terbatas oleh pengurus meliputi:


o Direksi,
o Komisaris:
Komisaris sebagai orang yang lazim disebut Dewan Komisaris;dan
Komisaris sebagai orang perseroan yang lazim disebut anggota
Komisaris.
o pemegang saham tertentu:
pemegang saham pengendali atau pemegang saham mayoritas
dari perseroan terbatas terbuka; dan
seluruh pemegang saham dari perseroan terbatas tertutup.
o orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan
kebijaksanaan dan atau mengambil keputusan dalam menjalankan
perseroan.
untuk Bentuk Usaha Tetap oleh kepala perwakilan, kepala cabang atau
penanggung jawab;
untuk badan usaha lainnya seperti persekutuan, perseroan komaditer, firma
olehdirektur, pemilik modal atau orang yang ditunjuk untuk melaksanakan dan
mengendalikan serta bertanggung jawab atas perusahaan dimaksud;
untuk yayasan oleh ketua, atau orang yang melaksanakan dan mengendalikan
serta bertanggung jawab atas yayasan dimaksud. Penandatanganan ini
dimaksudkan untuk memberi pengertian bahwa mereka turut bertanggung jawab
atas kewajiban badan usaha tersebut sehingga barang-barang milik mereka juga
dapat dijadikan jaminan utang pajak (dapat disita).

Walaupun Penanggung Pajak tidak hadir, penyitaan tetap dapat dilaksanakan


dengan syarat salah seorang saksi berasal dari Pemerintah Daerah setempat. Salah
seorang saksi dari Pemerintah Daerah setempat, sekurang-kurangnya Sekretaris
Kelurahan atau Sekretaris Desa.121 Berita Acara Pelaksanaan Sita ditandatangani

120
Pasal 12 ayat (3a) UU PPSP
121
Pasal 12 ayat (4) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 57



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Jurusita Pajak dan saksi-saksi.122 Dalam pelaksanaan sita yang tidak dihadiri oleh
Penanggung Pajak, Berita Acara Pelaksanaan Sita harus memuat alasan
ketidakhadiran Penanggung Pajak. Diperlukannya saksi dari Pemerintah Daerah
setempat berfungsi sebagai saksi legalisator. Dengan demikian, Berita Acara
Pelaksanaan Sita dimaksud tetap sah dan mempunyai kekuatan mengikat.

Berita Acara Pelaksanaan Sita tetap mempunyai kekuatan mengikat, meskipun


Penanggung Pajak menolak menandatangani Berita Acara Pelaksanaan Sita.123

Salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita dapat ditempelkan pada barang bergerak
atau barang tidak bergerak yang disita, atau di tempat barang bergerak atau barang
tidak bergerak yang disita berada, dan atau di tempat-tempat umum.124 Pada
dasarnya terhadap barang yang disita harus ditempeli salinan Berita Acara
Pelaksanaan Sita, kecuali jika terdapat barang yang disita yang sesuai sifatnya tidak
dapat ditempeli salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita, misalnya, uang tunai atau
sebidang tanah.

Atas barang yang disita dapat ditempel atau diberi segel sita.125 Penempelan atau
pemberian segel sita pada barang yang disita dimaksudkan sebagai pengumuman
bahwa penyitaan telah dilaksanakan, baik dihadiri ataupun tidak dihadiri oleh
Penanggung Pajak.

Pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak tidak mengakibatkan penundaan


126
pelaksanaan penyitaan. Ketentuan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1994 yang, antara lain, mengatur
bahwa pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan
pelaksanaan penagihan pajak. Oleh karena itu, penyitaan tetap dapat dilaksanakan
walaupun Wajib Pajak mengajukan keberatan.

Pasal 25 ayat (7) UU Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas UU
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan mengatur

122
Pasal 12 ayat (5) UU PPSP
123
Pasal 12 ayat (6) UU PPSP
124
Pasal 12 ayat (7) UU PPSP
125
Pasal 12 ayat (8) UU PPSP
126
Pasal 13ayat (8) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 58



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

bahwa pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan


pelaksanaan penagihan pajak.Untuk mencegah usaha penghindaran atau
penundaan pembayaran pajak melalui pengajuan surat keberatan, maka pengajuan
keberatan tidak menghalangi tindakan penagihan sampai dengan pelaksanaan
lelang. Ketentuan ini perlu dicantumkan dengan maksud agar Wajib Pajak dengan
dalih mengajukan keberatan, untuk tidak melakukan kewajiban membayar pajak
yang telah ditetapkan, sehingga dapat dicegah terganggunya penerimaan negara.

Akan tetapi ketentuan tersebut sudah diubah dengan UU Nomor 28 Tahun 2007
tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan menjadi sebagai berikut:

Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan, jangka waktu pelunasan pajak
sebagaimanadimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) atau ayat (3a) atas jumlah pajak yang
belum dibayar pada saat pengajuan keberatan, tertangguh sampai dengan 1 (satu)
bulan sejak tanggal penerbitanSurat Keputusan Keberatan.

Dalam penjelasannya disebutkan bahwa ayat ini mengatur bahwa Jatuh tempo
pembayaran yang tertera dalam surat ketetapan pajak tertangguh sampai dengan 1
(satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan. Penangguhan
jangka waktu pelunasan pajak menyebabkan sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 2% per bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 (UU KUP) tidak
diberlakukan atas jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan
keberatan.Tujuan penyitaan adalah memperoleh jaminan pelunasan utang pajak dari
Penanggung Pajak. Oleh karena itu, penyitaan dapat dilaksanakan terhadap semua
barang Penanggung Pajak, baik yang berada di tempat tinggal, tempat usaha,
tempat kedudukan Penanggung Pajak, atau di tempat lain maupun yang
penguasaannya berada di tangan pihak lain.

Penyitaan dilaksanakan terhadap barang milik Penanggung Pajak yang berada di


tempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan, atau di tempat lain termasuk yang
penguasaannya berada di tangan pihak lain atau yang dijaminkan sebagai
pelunasan utang tertentu yang dapat berupa :127

127
Pasal 14 ayat (1) UU PPSP & Pasal 3 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 59



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. barang bergerak termasuk mobil, perhiasan, uang tunai, dan deposito


berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu, obligasi saham, atau surat berharga lainnya, piutang,
dan penyertaan modal pada perusahaan lain; dan atau
b. barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan, dan kapal dengan isi kotor
tertentu.

Pada dasarnya penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang bergerak,


namun dalam keadaan tertentu penyitaan dapat dilaksanakan langsung terhadap
barang tidak bergerak tanpa melaksanakan penyitaan terhadap barang
bergerak.Keadaan tertentu, misalnya, Jurusita Pajak tidak menjumpai barang
bergerak yang dapat dijadikan objek sita, atau barang bergerak yang dijumpainya
tidak mempunyai nilai, atau harganya tidak memadai jika dibandingkan dengan utang
pajaknya.Pengertian kepemilikan atas tanah meliputi, antara lain, hak milik, hak
pakai, hak guna bangunan, dan hak guna usaha.

Yang dimaksud dengan penguasaan berada ditangan pihak lain, misalnya,


disewakan atau dipinjamkan, sedangkan yang dimaksud dengan dibebani dengan
hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, misalnya, barang yang
dihipotekkan, digadaikan, atau diagunkan. Untuk menampung kemungkinan
perluasan objek sita berupa hak lainnyaharus diatur dengan Peraturan
Pemerintah.128

Terhadap Penanggung Pajak Orang Pribadi penyitaan dapat dilaksanakan atas


barang milik pribadi yang bersangkutan, isteri, dan anak yang masih dalam
tanggungan, kecuali dikehendaki secara tertulis oleh suami atau isteri berdasarkan
perjanjian pemisahan harta dan penghasilan.129

Penyitaan terhadap Penanggung Pajak Badan dapat dilaksanakan terhadap barang


milik perusahaan, pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab,
pemilik modal, baik di tempat kedudukan yang bersangkutan, di tempat tinggal
mereka maupun di tempat lain.130 Pada dasarnya penyitaan terhadap badan
dilakukan terhadap barang milik perusahaan. Namun apabila nilai barang tersebut

128
Pasal 14 ayat (3) UU PPSP & Pasal 3 ayat (3) PP No 135 Tahun 2000
129
Pasal 3 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
130
Pasal 14 ayat (1a) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 60



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

tidak mencukupi atau barang milik perusahaan tidak dapat ditemukan atau karena
kesulitan dalam melaksanakan penyitaan terhadap barang milik perusahaan, maka
penyitaan dapat dilakukan terhadap barang-barang milik pengurus, kepala
perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab, pemilik modal atau ketua untuk
yayasan.

Penyitaan dilaksanakan sampai dengan nilai barang yang disita diperkirakan cukup
oleh Jurusita Pajak untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.131 Dalam
memperkirakan nilai barang yang disita, Jurusita Pajak harus memperhatikan jumlah
dan jenis barang berdasarkan harga wajar sehingga Jurusita Pajak tidak dapat
melakukan penyitaan secara berlebihan. Dalam hal tertentu Jurusita Pajak
dimungkinkan untuk meminta bantuan jasa penilai.

Penyitaan dilaksanakan dengan mendahulukan barang bergerak kecuali dalam


keadaan tertentu dapat dilaksanakan langsung terhadap barang tidak bergerak.132
Urutan barang bergerak dan atau barang tidak bergerak yang disita ditentukan oleh
Jurusita Pajak dengan memperhatikan jumlah utang pajak dan biaya penagihan
pajak, kemudahan penjualan atau pencairannya.133

Penyitaan dilaksanakan oleh Jurusita Pajak dengan disaksikan oleh sekurang-


kurangnya 2 (dua) orang yang telah dewasa, penduduk Indonesia, dikenal oleh
Jurusita Pajak dan dapat dipercaya.134 Dalam melaksanakan penyitaan, Jurusita
Pajak harus:135

b. memperlihatkan kartu tanda pengenal Jurusita Pajak;


c. memperlihatkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan; dan
d. memberitahukan tentang maksud dan tujuan penyitaan.

Setiap melaksanakan penyitaan Jurusita Pajak harus membuat Berita Acara


Pelaksanaan Sita yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak, Penanggung Pajak dan
saksi-saksi.136 Dalam hal Penanggung Pajak menolak untuk menandatangani Berita
Acara Pelaksanaan Sita, Jurusita Pajak harus mencantumkan penolakan tersebut

131
Pasal 14 ayat (2) UU PPSP
132
Pasal 3 ayat (4) PP No 135 Tahun 2000
133
Pasal 3 ayat (5) PP No 135 Tahun 2000
134
Pasal 4 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000
135
Pasal 4 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
136
Pasal 4 ayat (3) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 61



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dalam Berita Acara Pelaksanaan Sita, dan Berita Acara Pelaksanaan Sita tersebut
ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan saksi-saksi, dan Berita Acara Pelaksanaan
Sita tersebut tetap sah dan mempunyai kekuatan mengikat.137 Penyitaan tetap dapat
dilaksanakan walaupun Penanggung Pajak tidak hadir, sepanjang salah seorang
saksi berasal dari Pemerintah Daerah setempat, sekurang-kurangnya setingkat
Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa.138

Dalam hal pelaksanaan penyitaan tidak dihadiri oleh Penanggung Pajak, Berita
Acara Pelaksanaan Sita ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan saksi-saksi, dan
Berita Acara Pelaksanaan Sita tersebut tetapsah dan mempunyai kekuatan
mengikat.139

Salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita dapat ditempelkan pada barang bergerak dan
atau barang tidak bergerak yang disita, atau di tempat barang bergerak dan atau
barang tidak bergerak yang disita berada, atau di tempat-tempat umum.140 Salinan
Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada :141

b. Penanggung Pajak;
c. Kepolisian untuk barang bergerak yang kepemilikannya terdaftar;
d. Badan Pertanahan Nasional, untuk tanah yang kepemilikannya sudah terdaftar;
e. Pemerintah Daerah dan Pengadilan Negeri setempat, untuk tanah yang
kepemilikannya belum terdaftar;
f. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, untuk kapal.

4. Pelaksanaan Penyitaan

1. Penyitaan terhadap perhiasan emas, permata dan sejenisnya dilaksanakan


sebagai berikut:142
a. membuat rincian tentang jenis, jumlah dan harga perhiasan yang disita
dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan
Sita;
b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita.

137
Pasal 4 ayat (4) PP No 135 Tahun 2000
138
Pasal 4 ayat (5) PP No 135 Tahun 2000
139
Pasal 4 ayat (6) PP No 135 Tahun 2000
140
Pasal 4 ayat (7) PP No 135 Tahun 2000
141
Pasal 4 ayat (8) PP No 135 Tahun 2000
142
Pasal 5 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 62



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

2. Penyitaan terhadap uang tunai termasuk mata uang asing dilaksanakan


sebagai berikut :143

a. menghitung terlebih dahulu uang tunai yang disita dan membuat


rinciannya dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara
Pelaksanaan Sita;
b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;
c. menyimpan uang tunai yang telah disita dalam tempat penyimpanan yang
selanjutnya ditempeli dengan segel sita dan kemudian menitipkannya
pada Penanggung Pajak atau menitipkannya pada bank.

3. Penyitaan terhadap kekayaan Penanggung Pajak yang disimpan di bank


berupa deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu dilaksanakan sebagai berikut :144

a. Pejabat mengajukan permintaan pemblokiran kepada bank disertai


dengan penyampaian Salinan Surat Paksa dan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan;
b. bank wajib memblokir seketika setelah menerima permintaan pemblokiran
dari Pejabat dan membuat berita acara pemblokiran serta menyampaikan
salinannya kepada Pejabat dan Penanggung Pajak;
c. Jurusita Pajak setelah menerima berita acara pemblokiran dari bank
memerintahkan Penanggung Pajak untuk memberi kuasa kepada bank
agar memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada bank
tersebut kepada Jurusita Pajak;
d. dalam hal Penanggung Pajak tidak memberikan kuasa kepada bank
sebagaimana dimaksud dalam huruf c, Pejabat meminta Bank Indonesia
melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank untuk
memberitahukan saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan
pada bank yang dimaksud;
e. setelah saldo kekayaan yang tersimpan pada bank diketahui, Jurusita
Pajak melaksanakan penyitaan dan membuat Berita Acara Pelaksanaan

143
Pasal 5 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
144
Pasal 5 ayat (3) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 63



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Sita, dan menyampaikan salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita kepada


Penanggung Pajak dan bank yang bersangkutan;
f. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran kepada bank
setelah Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan
Pajak;
g. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap
kekayaan Penanggung Pajak setelah dikurangi dengan jumlah yang disita
apabila utang pajak dan Biaya Penagihan Pajak tidak dilunasi oleh
Penanggung Pajak sekalipun telah dilakukan pemblokiran.

Dalam hal penyitaan atas harta kekayaan Penanggung Pajak berupa


deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu disimpan pada bank yang berada di luar
wilayah kerja Kepala Kantor Pelayanan Pajak, Kepala Kantor Pelayanan
tersebut wajib meminta bantuan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
145
yang wilayah kerjanya meliputi bank tempat objek sita disimpan. Tindakan
yang dilaksanakan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang meminta
bantuan adalah sebagai berikut:146

a. Menyampaikan surat permintaan bantuan pemblokiran dengan dilampiri


salinan Surat Paksa dan data objek sita kepada Kepala Kantor
Pelayanan Pajak yang diminta bantuan dengan tembusan kepada Kepala
Kanwil DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor
Pelayanan Pajak yang meminta bantuan dan Kantor Pelayanan/Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan yang diminta bantuan;
b. Menerima berita acara pemblokiran dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak
yang diminta bantuan;
c. Memerintahkan kepada Penanggung Pajak untuk memberi kuasa kepada
bank agar memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada
bank tersebut kepada Jurusita Pajak;
d. Mengajukan permohonan kepada Gubernur Bank Indonesia melalui
Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank memberitahukan saldo
kekayaan Penangung Pajak yang tersimpan pada bank yang

145
Pasal 6 ayat (1) PER-21/PJ/2002
146
Pasal 6 ayat (2) PER-21/PJ/2002

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 64



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

bersangkutan dalam hal Penanggung Pajak tidak memberi kuasa kepada


bank sebagaimana dimaksud dalam huruf c;
e. Menyampaikan surat permintaan bantuan untuk menerbitkan Surat
Perintah Melaksanakan Penyitaan kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak yang diminta bantuan dengan tembusan kepada Kepala Kanwil
DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kedudukan Kantor Pelayanan
Pajak yang diminta bantuan;
f. Menyampaikan surat permintaan bantuan untuk pelaksanaan
pemindahbukuan.

Tindakan yang dilakukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang diminta
bantuan adalah sebagai berikut:147

a. Menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan;


b. Menyampaikan surat permintaan pemblokiran kepada bank tempat objek
sita disimpan disertai salinan Surat Paksa dan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan
c. Melaporkan hasil pelaksanaan penyampaian surat permintaan
pemblokiran kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang meminta
bantuan;
d. Melaksanakan penyitaan dan melaporkan hasil pelaksanaan penyitaan
kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang meminta bantuan;
e. Melaporkan hasil pelaksanaan pemindahbukuan yang telah dilakukan
oleh bank kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang meminta
bantuan.

4. Penyitaan terhadap surat berharga berupa obligasi, saham, dan sejenisnya


yang diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan sebagai berikut :148

a. Pemblokiran Rekening Efek pada Kustodian dilakukan berdasarkan


permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak atau Pejabat yang
ditunjuknya kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dengan
menyebutkan nama Pemegang Rekening atau nomor Pemegang

147
Pasal 6 ayat (3) PER-21/PJ/2002
148
Pasal 5 ayat (4) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 65



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Rekening sebagai Penanggung Pajak, sebab dan alasan perlunya


pemblokiran tersebut dilakukan;
b. Berdasarkan permintaan Direktur Jenderal Pajak atau Pejabat yang
ditunjuknya sebagaimana dimaksud pada huruf a, Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal dapat menyampaikan perintahtertulis kepada
Kustodian untuk melakukan pemblokiran terhadap Rekening Efek
Penanggung Pajak;
c. Berdasarkan perintah tertulis dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal
sebagaimana dimaksud pada huruf b, Kustodian melakukan
pemblokiran;
d. Dalam hal permintaan pemblokiran tersebut disertai dengan permintaan
keterangan tentang Rekening Efek pada Kustodian, maka permintaan
tertulis dari Direktur Jenderal Pajak harus memuat nama Pejabat yang
berwenang mendapat keterangan tersebut;
e. Kustodian yang melakukan pemblokiran dan memberikan keterangan
tentang Rekening Efek Pemegang Rekening membuat Berita Acara
Pemblokiran dan Berita Acara PemberianKeterangan;
f. Berita Acara Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan
tersebut disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak dan salinannya
disampaikan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan
Pemegang Rekening sebagai Penanggung Pajak, selambat-lambatnya 2
(dua) hari kerja setelah pemblokiran dan pemberian keterangan tersebut
dilakukan;
g. Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan atas Efek dan atau dana dalam
Rekening Efek pada Kustodian segera setelah menerima Berita Acara
Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan;
h. Jurusita Pajak yang melakukan penyitaan harus membuat Berita Acara
Pelaksanaan Sita yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak, Penanggung
Pajak dan saksi-saksi;
i. Dalam hal Penanggung Pajak tidak hadir, Berita Acara Pelaksanaan Sita
ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan saksi-saksi;
j. Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada Penanggung Pajak,
dan salinannya disampaikan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar
Modal dan Kustodian;

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 66



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

k. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap


Rekening Efek Penanggung Pajak kepada Kustodian, setelah
Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak;
l. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap
Rekening Efek Penanggung Pajak setelah dikurangi dengan jumlah yang
disita apabila utang pajak dan Biaya Penagihan Pajak tidak dilunasi oleh
Penanggung Pajak sekalipun telah dilakukan pemblokiran;
m. Efek yang diperdagangkan di bursa yang telah disita, dijual di bursa
melalui Perantara Pedagang Efek Anggota Bursa atas permintaan
Pejabat.

5. Penyitaan terhadap surat berharga berupa obligasi, saham, dan sejenisnya


yang tidak diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan sebagai berikut :149

a. melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jenis, jumlah dan


nilai nominal atau perkiraan nilai lainnya dari surat berharga yang disita
dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan
Sita;
b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;
c. membuat Berita Acara Pengalihan Hak Surat Berharga atas nama dari
Penanggung Pajak kepada Pejabat.

6. Penyitaan terhadap piutang dilaksanakan sebagai berikut :150

a. melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jenis dan jumlah


piutang yang disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita
Acara Pelaksanaan Sita;
b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;
c. membuat Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang dari
Penanggung Pajak kepada Pejabat, dan salinannya disampaikan kepada
Penanggung Pajak dan pihak yangberkewajiban membayar utang.

Pejabat menyampaikan surat peringatan kepada Penanggung Pajak bahwa


Piutang Penanggung Pajak pada satu atau beberapa debitur akan disita dan

149
Pasal 5 ayat (5) PP No 135 Tahun 2000
150
Pasal 5 ayat (6) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 67



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

digunakan untuk melunasi Utang Pajak dan Biaya Penagihan Pajak.151 Dalam
hal Wajib Pajak atau Penanggung Pajak ternyata tidak diketahui tempat
tinggal, tempat usaha atau tempat kedudukannya, penyampaian surat
peringatan dilaksanakan dengan cara menempelkan surat peringatan pada
papan pengumuman kantor Pejabat yang menerbitkannya, mengumumkan
melalui media massa atau cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan
atau Kepala Daerah.152 Apabila setelah batas waktu 14 (empat belas) hari
sejak tanggal surat peringatan Penanggung Pajak tidak melunasi Utang Pajak
dan Biaya Penagihan Pajak, Pejabat memerintahkan Jurusita Pajak untuk
melaksanakan penyitaan.

Penyitaan terhadap kekayaan Penanggung Pajak berupa Piutang


dilaksanakan sebagai berikut:153

a. Jurusita Pajak melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang


jenis dan jumlah piutang yang disita dalam suatu daftar yang merupakan
lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita. Daftar rincian tersebut terdiri
dari jumlah lembar surat perjanjian hutang-piutang (promissory notes)
antara Penanggung Pajak dengan pihak ketiga, identitas pihak ketiga dan
nilai piutang yang harus ditagih;
b. Jurusita Pajak melakukan penyitaan piutang langsung dari Penanggung
Pajak maupun dari pihak ketiga dan membuat Berita Acara Pelaksanaan
Sita;
c. Jurusita Pajak membuat Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak
Menagih Piutang dari Penanggung Pajak kepada Pejabat, dan
salinannya disampaikan kepada Penanggung Pajak dan pihak yang
berkewajiban membayar utang;
d. Apabila Penanggung Pajak menolak menandatangani Berita Acara
Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang dari Penanggung Pajak
kepada Pejabat, penyitaan tetap dapat dilaksanakan dan Jurusita Pajak
membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita dengan ketentuan sebagai
berikut:

151
Pasal 2 ayat (1) KMK-23/KMK.03/2006 (Perubahan Pasal 2 KMK-85/KMK.03/2002)
152
Pasal 2 ayat (2) KMK-23/KMK.03/2006 (Perubahan Pasal 2 KMK-85/KMK.03/2002)
153
Pasal 3 ayat (1) KMK-85/KMK.03/2002 & Pasal 3 ayat (1) KEP-459/PJ./2002

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 68



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

1. Untuk surat perjanjian hutang-piutang (promissory notes) yang tidak


diperdagangkan di Bursa Efek, maka Berita Acara Pelaksanaan Sita
ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan dua orang saksi dimana
salah seorang saksi dari Pemerintah Daerah setempat sekurang-
kurangnya Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa;
2. Untuk surat perjanjian hutang-piutang (promissory notes) yang
diperdagangkan di Bursa Efek, maka Berita Acara Pelaksanaan Sita
ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan dua orang saksi dimana
salah seorang saksi dari Badan Pengawas Pasar Modal atau
Kustodian.

Apabila Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya penagihan
pajak dalam jangka waktu setelah 14 (empat belas) hari sejak penyitaan,
maka pelunasan utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan piutang
yang telah disita dilakukan dengan cara:154

a. Piutang dijual oleh Pejabat kepada pembeli dan Pejabat menyetorkan


uang hasil penjualan tersebut ke Kas Negara dengan melampirkan
Surat Setoran Pajak yang telah ditandatangani dan diberi cap (stempel)
oleh Kas Negara; atau
b. uang tunai disetor langsung oleh pihak yang berkewajiban membayar
utang ke Kas Negara atas permintaan Pejabat dan melampirkan Surat
Setoran Pajak yang telah ditandatangani dan diberi cap (stempel) oleh
Kas Negara;
c. Apabila jumlah piutang atau hasil penjualan piutang lebih besar dari
pada jumlah utang pajak dan biaya penagihan pajak, maka sisa
kelebihan uang hasil penjualan piutang tersebut dikembalikan oleh
Pejabat kepada Penanggung Pajak segera setelah pelaksanaan
penjualan piutang.
Pelunasan Utang Pajak dan Biaya Penagihan Pajak dengan Piutang yang
telah disita tersebut dilakukan dengan cara:155
a. Dijual oleh Pejabat kepada pembeli; atau
b. Disetor langsung oleh pihak yang berkewajiban membayar utang ke Kas
Negara atas permintaan Pejabat.

154
Pasal 3 ayat (2) KEP-459/PJ./2002
155
Pasal 3 ayat (2) KMK-85/KMK.03/2002

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 69



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Pencabutan sita terhadap piutang dilakukan apabila Penanggung Pajak telah


melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menggunakan atau
tidak menggunakan piutang yang telah disita berdasarkan bukti Surat
Setoran Pajak yang telah dicap dan ditandatangani oleh bank sebelum jangka
waktu 14 (empat belas) hari sejak penyitaan berakhir, dengan
menyampaikan Surat Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan
tembusannya disampaikan kepada pihak yang berutang yang sekaligus
berfungsi sebagai pembatalan Berita Acara Pelaksanaan Sita.156
7. Penyitaan terhadap penyertaan modal pada perusahaan lain yang tidak ada
surat sahamnya dilaksanakan sebagai berikut :157
a. melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jumlah penyertaan
modal pada perusahaan lain dalam suatu daftar yang merupakan
lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita;
b. membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;
c. membuat Akte Persetujuan Pengalihan Hak Penyertaan Modal pada
perusahaan lain dari Penanggung Pajak kepada Pejabat, dan salinannya
disampaikan kepada perusahaan tempat penyertaan modal.

Penyitaan terhadap barang yang telah disita oleh Kejaksaan atau Kepolisian sebagai
barang bukti dalam kasus pidana, baru dapat dilaksanakan setelah barang bukti
tersebut dikembalikan kepada Penanggung Pajak.158

Penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak dilaksanakan sampai dengan


jumlah nilai barang yang disita diperkirakan cukup untuk melunasi utang pajak dan
biaya penagihan pajak.159 Dalam memperkirakan nilai barang yang disita, harus
memperhatikan jumlah dan jenis barang berdasarkan harga wajar sehingga Jurusita
Pajak tidak dapat melakukan penyitaan secara berlebihan. Dalam hal tertentu
Jurusita Pajak dimungkinkan untuk meminta bantuan Jasa Penilai.

5. Barang sitaan yang dikecualikan dari penjualan secara lelang


Barang sitaan yang dikecualikan dari penjualan secara lelang berupa :160
1. uang tunai;

156
Pasal 4 KEP-459/PJ./2002
157
Pasal 5 ayat (7) PP No 135 Tahun 2000
158
Pasal 6 PP No 135 Tahun 2000
159
Pasal 7 PP No 135 Tahun 2000
160
Pasal 2 PP No 136 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 70



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

2. surat-surat berharga :

a. kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank seperti deposito


berjangka, tabungan saldo rekening koran, giro atau bentuk lain yang
dipersamakan dengan itu;
b. obligasi;
c. saham;
d. piutang;
e. penyertaan modal; dan
f. surat berharga lainnya.

3. barang yang mudah rusak atau cepat busuk.

Apabila Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak
setelah 14 (empat belas) hari sejak penyitaan barang yang penjualannya
dikecualikan dari penjualan secara lelang, Pejabat segera menggunakan, menjual
dan atau memindahbukukan barang sitaan untuk pelunasan biaya penagihan pajak
dan utang pajak.161 Jangka waktu 14 (empat belas) hari dimaksudkan untuk memberi
kesempatan kepada Penanggung Pajak melunasi utang pajak sebagaimana
tercantum dalam surat penyitaan yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan
"menggunakan" adalah menyetor ke kas negara atau ke kas daerah.

Sebelum jangka waktu 14 (empat belas) hari berakhir Penanggung Pajak dapat
mengajukan permohonan kepada Pejabat untuk menggunakan barang sitaan berupa
uang tunai, deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu untuk pelunasan biaya penagihan pajak dan
utang pajak.162 Persetujuan penggunaan barang sitaan berupa uang tunai, deposito
berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu dapat diberikan oleh Pejabat dengan ketentuan bahwa
Penanggung Pajak dapat membuktikan bahwa penggunaan barang sitaan tersebut
betul-betul akan digunakan untuk melunasi utang pajak yang menjadi dasar
dilakukannya penyitaan tersebut, termasuk biaya penagihan pajak yang timbul. Yang
dimaksud dengan tabungan adalah simpanan sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang Perbankan.

161
Pasal 3 ayat (1) PP No 136 Tahun 2000
162
Pasal 3 ayat (2) PP No 136 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 71



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Penggunaan, penjualan dan atau pemindahbukuan dilakukan dengan cara sebagai


berikut :163

a. uang tunai disetor ke kas negara atau ke kas daerah;


b. deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu dipindah-bukukan ke rekening kas negara
atau kas daerah atas permintaan Pejabat kepada bank yang bersangkutan;
c. obligasi, saham, atau surat berharga lainnya :

1) yang diperdagangkan di bursa efek, dijual oleh Pejabat melalui bursa


efek sesuai dengan ketentuan yang berlaku; dan
2) yang tidak diperdagangkan di bursa efek langsung dijual oleh Pejabat
kepada pembeli

d. piutang yang hak menagihnya beralih kepada Pejabat berdasarkan berita


acara persetujuan pengalihan hak, dijual oleh Pejabat kepada pembeli;
e. penyertaan modal pada perusahaan lain yang penguasaannya beralih
kepada Pejabat berdasarkan akte persetujuan pengalihan hak, dijual oleh
Pejabat kepada pembeli;
f. hasil penjualan barang sitaan sebagaimana dimaksud pada huruf c, huruf d,
dan huruf e disetor ke kas negara atau kas daerah;

Untuk penentuan harga jual, Pejabat dapat meminta bantuan kepada Jasa Penilai.164
Penjualan atas barang sebagaimana dimaksud dalam huruf c, huruf d, dan huruf e
diikuti dengan pembuatan Berita Acara Pengalihan Hak dari Pejabat kepada pembeli
yang fungsinya dipersamakan dengan Risalah Lelang.165

6. Barang bergerak milik Penanggung Pajak yang dikecualikan dari penyitaan

Barang bergerak milik Penanggung Pajak yang dikecualikan dari penyitaan


adalah:166

163
Pasal 4 ayat (1) PP No 136 Tahun 2000
164
Pasal 4 ayat (2) PP No 136 Tahun 2000
165
Pasal 4 ayat (3) PP No 136 Tahun 2000
166
Pasal 15 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 72



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan oleh


Penanggung Pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya;
b. persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan beserta
peralatan memasak yang berada di rumah. Pengertian makanan dan minuman
termasuk obat-obatan yang dipergunakan/diminum dalam hal Penanggung
Pajak dan atau keluarganya sakit. Sedangkan obat-obatan untuk
diperdagangkan tidak termasuk dalam obyek yang dikecualikan dari penyitaan;
c. perlengkapan Penanggung Pajak yang bersifat dinas yang diperoleh dari
negara;
d. buku-buku yang bertalian dengan jabatan atau pekerjaan Penanggung Pajak
dan alat-alat yang dipergunakan untuk pendidikan, kebudayaan dan keilmuan;
e. peralatan dalam keadaan jalan yang masih digunakan untuk melaksanakan
pekerjaan atau usaha sehari-hari dengan jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp
20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). Perubahan besarnya nilai peralatan ini
ditetapkan dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah;167 atau
f. peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh Penanggung Pajak dan
keluarga yang menjadi tanggungannya.

Penambahan jenis barang bergerak yang dikecualikan dari penyitaan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf f diatur dengan
Peraturan Pemerintah.168

Dalam hal barang yang disita mudah rusak atau cepat busuk, dikecualikan dari
penjualan secara lelang.169 Terhadap barang yang mudah rusak atau cepat busuk,
Pejabat dapat segera menjual barang-barang dimaksud untuk pelunasan biaya
170
penagihan pajak dan utang pajak.

Barang yang telah disita dititipkan kepada Penanggung Pajak, kecuali apabila
menurut Jurusita Pajak barang dimaksud perlu disimpan di kantor Pejabat atau di
tempat lain.171 Meskipun barang yang telah disita penguasaannya beralih dari
Penanggung Pajak kepada Pejabat, penyimpanannya dititipkan kepada Penanggung
Pajak, misalnya, tanah dan/atau bangunan. Namun, ada barang yang karena

167
Pasal 15 ayat (2) UU PPSP
168
Pasal 15 ayat (3) UU PPSP
169
Pasal 15 ayat (2a) UU PPSP
170
Pasal 3 ayat (3) PP 136 Tahun 2000
171
Pasal 16 UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 73



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

sifatnya atau karena pertimbangan tertentu dari Jurusita Pajak penyimpanannya


dapat dititipkan pada bank, atau kantor pegadaian, atau disimpan di kantor Pejabat
seperti perhiasan atau peralatan elektronik.

Barang yang telah disita dititipkan kepada Penanggung Pajak, kecuali apabila
menurut pertimbangan Jurusita Pajak barang sitaan tersebut perlu disimpan di kantor
Pejabat atau di tempat lain.172 Meskipun barang yang telah disita penguasaannya
beralih dari penanggung Pajak kepada Pejabat, penyimpanannya dititipkan kepada
Penanggung Pajak, misalnya tanah dan atau bangunan. Namun ada barang karena
sifatnya atau karena pertimbangan tertentu dari Jurusita Pajak penyimpanannya
dapat dititipkan pada bank atau kantor pegadaian atau disimpan di kantor Pejabat
seperti perhiasan atau peralatan elektronik. Dasar pertimbangan Jurusita Pajak
untuk menentukan apakah barang Penanggung Pajak yang telah disita perlu
dititipkan di kantor Pejabat atau tempat lain antara lain :

a. resiko kehilangan, kecurian, atau kerusakan;


b. jenis, sifat, ukuran, atau jumlah barang yang disita.

Dalam hal penyitaan tidak dihadiri oleh Penanggung Pajak :173

c. barang bergerak yang telah disita dapat dititipkan kepada aparat Pemerintah
Daerah setempat yang menjadi saksi dalam pelaksanaan sita;
d. barang tidak bergerak pengawasannya diserahkan kepada aparat Pemerintah
Daerah setempat yang menjadi saksi dalam pelaksanaan sita tersebut.

Tempat lain yang dapat digunakan sebagai tempat penitipan barang yang telah disita
adalah Kantor Pegadaian, bank, Kantor Pos atau tempat lain yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan.174

Atas barang yang disita dapat ditempeli atau diberi segel sita.175 Penempelan atau
pemberian segel sita pada barang yang disita dimaksudkan sebagai pengumuman
bahwa penyitaan telah dilaksanakan, baik dihadiri maupun tidak dihadiri oleh

172
Pasal 8 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000
173
Pasal 8 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
174
Pasal 8 ayat (3) PP No 135 Tahun 2000
175
Pasal 10 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 74



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Penanggung Pajak. Penempelan segel sita dilaksanakan dengan memperhatikan


jenis, sifat dan bentuk barang sitaan.176 Segel sita memuat sekurang-kurangnya:177

a. kata "DISITA";
b. nomor dan tanggal Berita Acara Pelaksanaan Sita;
c. larangan untuk memindahtangankan, memindahkan hak, meminjamkan,
merusak barang yang disita.

7. Penyitaan tambahan
Apabila diperkirakan hasil lelang barang yang disita tidak cukup untuk melunasi
biaya penagihan pajak dan utang pajak, Jurusita Pajak dapat melaksanakan
penyitaan tambahan terhadap barang milik Penanggung Pajak yang belum disita.
Dengan demikian penyitaan dapat dilaksanakan lebih dari satu kali sampai dengan
jumlah yang cukup untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak baik
sebelum diumumkan lelang maupun sesudah penjualan barang secara lelang atau
tidak secara lelang.178
Penyitaan tambahan dapat dilaksanakan apabila:179
a. nilai barang yang disita nilainya tidak cukup untuk melunasi biaya penagihan
pajak dan utang pajak; atau
b. hasil lelang barang yang telah disita tidak cukup untuk melunasi biaya
penagihan pajak dan utang pajak.

Ketentuan ini dimaksudkan agar Jurusita Pajak dapat melaksanakan penyitaan


terhadap barang milik Penanggung Pajak yang ditemukan atau diketahui kemudian
apabila nilai barang yang telah disita terdahulu tidak cukup untuk membayar utang
pajak dan biaya penagihan pajak. Dengan demikian, penyitaan dapat dilaksanakan
lebih dari satu kali sampai dengan jumlah yang cukup untuk melunasi utang pajak
dan biaya penagihan baik sebelum lelang maupun setelah lelang dilaksanakan.

8. Larangan Bagi Penanggung Pajak Terhadap Barang Yang Disita


Penanggung Pajak dilarang:180

176
Pasal 10 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
177
Pasal 10 ayat (3) PP No 135 Tahun 2000
178
Pasal 9 PP No 135 Tahun 2000
179
Pasal 21 UU PPSP
180
Pasal 23 ayat (1) UU PPSP & Pasal 12 PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 75



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. memindahkan hak, memindahtangankan, menyewakan, meminjamkan,


menyembunyikan, menghilangkan, atau merusak barang yang telah disita;
b. membebani barang tidak bergerak yang telah disita dengan hak tanggungan
untuk pelunasan utang tertentu;
c. membebani barang bergerak yang telah disita dengan fidusia atau diagunkan
untuk pelunasan utang tertentu; dan atau
d. merusak, mencabut, atau menghilangkan segel sita atau salinan Berita Acara
Pelaksanaan Sita yang telah ditempel pada barang sitaan.

Karena penguasaan barang yang disita telah beralih dari Penanggung Pajak kepada
Pejabat, maka Penanggung Pajak dilarang untuk memindahtangankan,
menyembunyikan, menghilangkan, memindahkan hak atas barang yang disita,
misalnya, dengan cara menjual, menghibahkan, mewariskan, mewakafkan, atau
menyumbangkan kepada pihak lain.Selain itu, Penanggung Pajak juga dilarang
membebani barang yang telah disita dengan hak tanggungan untuk pelunasan utang
tertentu atau menyewakan. Larangan dimaksud berlaku baik untuk seluruh maupun
untuk sebagian barang yang disita. Dalam pengertian menyembunyikan termasuk
memindahkan barang yang disita ke tempat lain sehingga obyek sita tidak terletak
atau tidak berada lagi ditempat sebagaimana tercantum dalam Berita Acara
Pelaksanaan Sita.

9. Pemblokiran

Pemblokiran adalah tindakan pengamanan harta kekayaan milik Penanggung Pajak


yang tersimpan pada bank dengan tujuan agar terhadap harta kekayaan dimaksud
tidak terdapat perubahan apapun, selain penambahan jumlah atau nilai.181

Penyitaan terhadap deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dilaksanakan dengan pemblokiran
terlebih dahulu.182 Penyitaan atas kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan di
bank berupa deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu dilaksanakan dengan cara pemblokiran
terlebih dahulu yang pelaksanaannya mengacu pada ketentuan mengenai rahasia
bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

181
Pasal 1 angka 11 PP No 135 Tahun 2000
182
Pasal 15 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 76



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Dalam hal penyitaan dilaksanakan terhadap barang yang kepemilikannya terdaftar,


salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita diserahkan kepada instansi tempat
kepemilikan barang dimaksud terdaftar.183Penyitaan barang yang kepemilikannya
terdaftar seperti kendaraan bermotor diberitahukan kepada Kepolisian Negara
Republik Indonesia, tanah diberitahukan kepada Badan Pertahanan Nasional,
penyitaan kapal laut dengan isi kotor tertentu diberitahukan kepada Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut. Pemberitahuan ini dimaksudkan agar barang sitaan
dimaksud tidak dapat dipindahtangankan sebelum utang pajak beserta biaya
penagihan pajak dan biaya lainnya dilunasi oleh Penanggung Pajak.Pemberitahuan
dilakukan dengan penyerahan salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita.

Dalam hal penyitaan dilaksanakan terhadap barang tidak bergerak yang


kepemilikannya belum terdaftar Jurusita Pajak menyampaikan salinan Berita Acara
Pelaksanaan Sita kepada Pemerintah Daerah dan Pengadilan Negeri setempat
untuk diumumkan menurut cara yang lazim di tempat itu.184Atas penyitaan barang
tidak bergerak, misalnya, tanah yang kepemilikannya belum terdaftar di Badan
Pertanahan Nasional, Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada
Pemerintah Daerah setempat untuk digunakan sebagai dasar penerbitan Surat
Keterangan Riwayat Tanah dan untuk mencegah pemindahtanganan tanah
dimaksud. Penyampaian Berita Acara Pelaksanaan Sita ke Pengadilan Negeri
dimaksudkan untuk didaftarkan kepada kepaniteraan Pengadilan Negeri.Pengadilan
Negeri dan Pemerintah Daerah setempat selanjutnya mengumumkan penyitaan
dimaksud.

Terhadap barang yang telah disita oleh Kejaksaan atau Kepolisian sebagai barang
bukti dalam kasus pidana, Jurusita Pajak menyampaikan Surat Paksa dengan
dilampiri surat pemberitahuan yang menyatakan bahwa barang dimaksud akan disita
apabila proses pembuktian telah selesai dan diputuskan bahwa barang bukti
dikembalikan kepada Penanggung Pajak.185

Kejaksaan atau Kepolisian segera memberitahukan kepada Pejabat yang


menerbitkan Surat Paksa agar segera melaksanakan penyitaan sebelum barang

183
Pasal 17 ayat (2) UU PPSP
184
Pasal 17 ayat (3) UU PPSP
185
Pasal 18 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 77



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dimaksud dikembalikan kepada Penanggung Pajak.186Ketentuan ini dimaksudkan


agar penyitaan dapat dilaksanakan sebelum barang dikembalikan kepada
Penanggung Pajak.Dalam hal Kejaksaan atau Kepolisian lalai memberitahukan
kepada Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa, sehubungan dengan akan
dikembalikannya barang yang disita kepada Penanggung Pajak, kepada yang
bersangkutan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Dalam hal barang yang disita oleh Kejaksaan atau Kepolisian telah dikembalikan
kepada Penanggung Pajak tanpa pemberitahuan kepada Pejabat, penyitaan
terhadap barang dimaksud tetap dapat dilaksanakan.187

Penyitaan tidak dapat dilaksanakan terhadap barang yang telah disita oleh
Pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang.188Ketentuan ini dimaksudkan
untuk memberi penegasan bahwa terhadap semua jenis barang yang telah disita
oleh Pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang, tidak boleh disita lagi
oleh Jurusita Pajak. Adapun yang dimaksud dengan instansi lain yang berwenang
adalah instansi lain yang juga berwenang melakukan penyitaan, misalnya, Panitia
Urusan Piutang Negara

Terhadap barang yang telah disita oleh Pengadilan Negeri atau instansi lain yang
berwenang, Jurusita Pajak menyampaikan Surat Paksa kepada Pengadilan Negeri
atau instansi lain yang berwenang.189Penyerahan salinan Surat Paksa oleh Jurusita
Pajak kepada Pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang dimaksudkan
agar Pengadilan Negeri atau instansi lain yang berwenang menentukan bahwa
penyitaan atas barang dimaksud juga berlaku sebagai jaminan untuk pelunasan
utang pajak yang tercantum dalam Surat Paksa.

Pengadilan Negeri dalam sidang berikutnya menetapkan barang yang telah disita
dimaksud sebagai jaminan pelunasan utang pajak.190Pengadilan Negeri setelah
menerima salinan Surat Paksa selanjutnya dalam sidang berikutnya menetapkan
bahwa barang yang telah disita dimaksud juga sebagai jaminan pelunasan utang

186
Pasal 18 ayat (2) UU PPSP
187
Pasal 18 ayat (3) UU PPSP
188
Pasal 19 ayat (1) UU PPSP
189
Pasal 19 ayat (2) UU PPSP
190
Pasal 19 ayat (3) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 78



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

pajak. Dengan demikian, berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri dimaksud pihak


lain yang berkepentingan dapat mengetahuinya secara resmi. SedangkanInstansi
lain yang berwenang, setelah menerima Surat Paksa menjadikan barang yang telah
disita dimaksud sebagai jaminan pelunasan utang pajak.191Pengadilan Negeri atau
instansi lain yang berwenang menentukan pembagian hasil penjualan barang
dimaksud berdasarkan ketentuan hak mendahulu Negara untuk tagihan pajak.192

Pasal 5 ayat (7) PP Nomor 35 Tahun 2000 mengatur bahwa tata cara pemblokiran
diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.193 Sedangkan Keputusan Menteri
Keuangan yang mengatur adalah KMK-563/KMK.04/2000. Tentang Pemblokiran
dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank
Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.

Dalam melaksanakan penagihan pajak dengan Surat Paksa, Jurusita Pajak


berwenang melaksanakan penyitaan terhadap harta kekayaan Penanggung Pajak
yang tersimpan pada bank.194Penyitaan terhadap harta kekayaan Penanggung Pajak
tersebut dilaksanakan dengan pemblokiran terlebih dahulu.195Pemblokiran adalah
tindakan pengamanan harta kekayaan milik Penanggung Pajak yang tersimpan
pada bank dengan tujuan agar terhadap harta kekayaan dimaksud tidak terdapat
perubahan apapun, selain penambahan jumlah atau nilai.196

Pemblokiran sebagaimana dimaksud di atas diajukan oleh Pejabat kepada pimpinan


bank tempat harta kekayaan Penanggung Pajak tersimpan disertai dengan salinan
Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.197 Permohonan
pemblokiran tersebut dilakukan dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran I Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.198

Pimpinan bank atau pejabat bank yang ditunjuk wajib melaksanakan pemblokiran
terhadap harta kekayaan Penanggung Pajak seketika setelah menerima permintaan
pemblokiran dari Pejabat.199 Pimpinan bank atau pejabat bank yang ditunjuk

191
Pasal 19 ayat (4) UU PPSP
192
Pasal 19 ayat (5) UU PPSP
193
Pasal 5 ayat (8) PP No 135 Tahun 2000
194
Pasal 2 ayat (1) KMK-563/KMK.04/2000
195
Pasal 2 ayat (2) KMK-563/KMK.04/2000
196
Pasal 1 angka 8 KEP-627/PJ./2001
197
Pasal 3 ayat (1) KMK-563/KMK.04/2000
198
Pasal 2 ayat (3) KEP-627/PJ./2001
199
Pasal 3 ayat (2) KMK-563/KMK.04/2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 79



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

membuat berita acara pemblokiran yang tindasannya disampaikan kepada


Penanggung Pajak dan Pejabat yang meminta pemblokiran.200

Jurusita setelah menerima berita acara pemblokiran dari bank, memerintahkan


kepada Penanggung Pajak untuk memberi kuasa kepada bank agar
memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada bank tersebut kepada
Jurusita Pajak. Formulir yang digunakan adalah formulir sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran II Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.201

Apabila Penanggung Pajak bersedia untuk memberitahukan saldo kekayaannya


yang tersimpan pada bank, maka Penanggung Pajak membuat surat pemberian
kuasa kepada pimpinan bank agar memberitahukan saldo kekayaannya kepada
Jurusita Pajak. Formulir yang digunakan adalah formulir sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran IV Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.202

Apabila Penanggung Pajak menolak memberitahukan saldo kekayaannya yang


tersimpan pada bank dengan tidak membuat surat pemberian kuasa kepada
pimpinan bank, Jurusita Pajak membuat Berita Acara Penolakan Pemberian Kuasa
oleh Penanggung Pajak. Formulir yang digunakan adalah formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran V Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.203

Berita Acara digunakan sebagai dasar bagi Kepala KantorPelayanan Pajak/Kantor


Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan untuk mengajukan permohonan kepada
Gubernur Bank Indonesia melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank
memberitahukansaldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank
dimaksud.204 Permohonan tersebut diajukan oleh Kepala Kantor Pelayanan
Pajak/Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan kepada Direktur Pemeriksaan,
Penyidikan dan Penagihan Pajak, dan tembusan disampaikan kepada Kepala
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasan langsungnya. Formulir yang
digunakan adalah formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VI Keputusan
Direktur Jenderal Pajak ini.205 Surat Kepala Kantor Pelayanan Pajak tersebut
dilampiri konsep surat Menteri Keuangan kepada Gubernur Bank Indonesia dengan

200
Pasal 3 ayat (3) KMK-563/KMK.04/2000
201
Pasal 4 ayat (1) KEP-627/PJ./2001
202
Pasal 4 ayat (2) KEP-627/PJ./2001
203
Pasal 4 ayat (3) KEP-627/PJ./2001
204
Pasal 4 ayat (4) KEP-627/PJ./2001
205
Pasal 4 ayat (5) KEP-627/PJ./2001

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 80



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VII Keputusan


Direktur Jenderal Pajak ini.206 Konsep surat Menteri Keuangan kepada Gubernur
Bank Indonesia tersebut diteruskan kepada Menteri Keuangan.207

Dalam hal Penanggung Pajak bersedia melunasi biaya penagihan pajak dan utang
pajak dengan menggunakan harta yang telah diblokir, Penanggung Pajak dapat
mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak. Formulir yang
digunakan adalah formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Keputusan
Direktur Jenderal Pajak ini, dengan melampirkan bukti pembayaran berupa Surat
Setoran Pajak yang telah ditandatangani dan diberi cap (stempel) oleh bank.208

Setelah saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank diketahui,
Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan dengan membuat Berita Acara Pelaksanaan
Sita, dan ditandatangani oleh Jurusita Pajak, Saksi-saksi, dan pimpinan bank atau
pejabat bank yang ditunjuk.209 Jurusita Pajak menyampaikan Salinan Berita Acara
Pelaksanaan Sita kepada Penanggung Pajak dan pimpinan bank yang
bersangkutan. Formulir yang digunakan adalah formulir sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran VIII dan Lampiran IX Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini.

Sebelum dilakukan penyitaan atas harta kekayaan Penanggung Pajak yang diblokir,
Penanggung Pajak dapat mengajukan permohonan kepada Pejabat menggunakan
harta yang diblokir tersebut untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang
pajak.210 Penyitaan terhadap harta kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan
pada bank dilaksanakan sebagai berikut:211

a. Jurusita Pajak setelah menerima berita acara pemblokiran memerintahkan


kepada Penanggung pajak untuk memberi kuasa kepada bank agar
memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada bank tersebut kepada
Jurusita Pajak;
b. dalam hal Penanggung Pajak tidak memberikan kuasa kepada bank
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Pejabat meminta Gubernur Bank
Indonesia melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank

206
Pasal 4 ayat (6) KEP-627/PJ./2001
207
Pasal 4 ayat (7) KEP-627/PJ./2001
208
Pasal 5 KEP-627/PJ./2001
209
Pasal 6 ayat (1) KEP-627/PJ./2001
210
Pasal 3 ayat (4) KMK-563/KMK.04/2000
211
Pasal 4 ayat (1) KMK-563/KMK.04/2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 81



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

memberitahukan saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank


dimaksud kepada Pejabat;
c. setelah saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank diketahui,
Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan;
d. Jurusita Pajak membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita, dan ditandatangani oleh
Jurusita Pajak, saksi-saksi dan pimpinan bank atau pejabat bank yang ditunjuk;
e. Jurusita Pajak menyampaikan salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita kepada
Penanggung Pajak dan pimpinan bank yang bersangkutan.

Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran kepada bank, setelah


Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.212Dalam hal
jumlah yang diblokir lebih besar dari jumlah yang disita, maka atas sisa lebih tersebut
diajukan permintaan pencabutan pemblokiran oleh Pejabat kepada bank.213

Apabila dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak penyitaan, Penanggung
Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak, Pejabat segera
meminta kepada pimpinan bank untuk memindahbukukan harta kekayaan
Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank ke kas negara atau kas daerah
sejumlah yang tercantum dalam Berita Acara Pelaksanaan Sita.214Sebelum jangka
waktu 14 (empat belas) hari tersebut berakhir, Penanggung Pajak dapat mengajukan
permohonan kepada Pejabat untuk menggunakan barang sitaan dimaksud untuk
melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak.

10. Pencabutan sita dalam Pemblokiran

Pencabutan sita dilaksanakan oleh Jurusita Pajak berdasarkan Surat Pencabutan


Sita yang diterbitkan oleh Pejabat dan tembusannya disampaikan kepada pimpinan
bank yang bersangkutan.215 Ketentuan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan
Keputusan Menteri Keuangan ini ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.216

Keputusan yang mengatur adalah Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-627/PJ./2001


tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan

212
Pasal 4 ayat (2) KMK-563/KMK.04/2000
213
Pasal 4 ayat (3) KMK-563/KMK.04/2000
214
Pasal 5 ayat (1) KMK-563/KMK.04/2000
215
Pasal 6 KMK-563/KMK.04/2000
216
Pasal 7 KMK-563/KMK.04/2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 82



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Penanggung Pajak Yang Tersimpan pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa.

Pencabutan sita dilakukan apabila:217


a. Penanggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak
dengan tidak menggunakan harta kekayaannya yang telah disita berdasarkan
bukti Surat Setoran Pajak yang telah dicap dan ditandatangani oleh pimpinan
bank atau pegawai yang ditunjuk;
b. Sebelum jangka waktu 14 (empat belas) hari berakhir Penanggung Pajak telah
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menggunakan
hartakekayaannya yang telah disita berdasarkan permohonan dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam lampiran XI Keputusan
Direktur Jenderal Pajak ini.Permohonan Penanggung Pajak tersebut harus
melampirkan bukti pelunasan berupaSurat Setoran Pajak yang telah
ditandatangani dan diberi cap218dan tanda tangan pimpinan bank atau pegawai
yang ditunjuk;
c. Telah dilakukan pemindahbukuan ke kas negara, dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XIII Keputusan Direktur Jenderal Pajak
ini. Apabila Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya penagihan
pajak dalam jangka waktu setelah 14 (empat belas) hari sejak penyitaan, Kepala
Kantor Pelayanan Pajak/Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan segera
meminta kepada pimpinan bank untuk memindahbukukan harta
kekayaanPenanggung Pajak yang tersimpan pada Bank ke kas negara sejumlah
yang tercantum dalam Berita Acara Pelaksanaan Sita, yang tembusannya
disampaikan kepada Penanggung Pajak denganmenggunakan formulir surat
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran X Keputusan Direktur JenderalPajak
ini.219Permintaan kepada pimpinan bank tersebut diajukan dengan melampirkan
Surat Setoran Pajak yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak.220

11. Dalam hal objek sita berada diluar wilayah kerja Pejabat
Dalam hal objek sita berada diluar wilayah kerja Pejabat yang menerbitkan Surat
Paksa, Pejabat meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi

217
Pasal 10 KEP-627/PJ./2001
218
Pasal 8 KEP-627/PJ./2001
219
Pasal 7 ayat (1) KEP-627/PJ./2001
220
Pasal 7 ayat (2) KEP-627/PJ./2001

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 83



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

tempat objek sita berada untuk menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
terhadap objek sita dimaksud, kecuali ditetapkan lain oleh Keputusan Menteri atau
Keputusan Kepala Daerah.221 Pada dasarnya apabila objek sita berada di luar
wilayah kerja Pejabat, Pejabat dimaksud harus meminta bantuan kepada Pejabat
lain untuk menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan terhadap objek sita
dimaksud. Menyimpang dari ketentuan tersebut di atas, apabila di suatu kota
terdapat beberapa wilayah kerja Pejabat, dan telah ada Keputusan Menteri atau
Keputusan Kepala Daerah, Pejabat dimaksud dapat menerbitkan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan dan memerintahkan Jurusita Pajak untuk melaksanakan
penyitaan terhadap objek sita yang berada di luar wilayah kerjanya tanpa harus
meminta bantuan Pejabat setempat.

Contoh : Dalam hal telah ada keputusan Menteri, maka Jurusita Pajak Kantor
Pelayanan Pajak Jakarta Matraman dapat langsung melaksanakan penyitaan
terhadap objek sita yang berada di wilayah Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Tanjung
Priok tanpa meminta bantuan dari Jurusita Pajak Kantor Pelayanan Pajak Jakarta
Tanjung Priok.

12. Dalam hal objek sita letaknya berjauhan dengan tempat kedudukan Pejabat

Dalam hal objek sita letaknya berjauhan dengan tempat kedudukan Pejabat tetapi
masih dalam wilayah kerjanya, Pejabat dimaksud dapat meminta bantuan kepada
Pejabat yang wilayah kerjanya juga meliputi tempat objek sita berada untuk
menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.222Ketentuan ini dimaksudkan
agar Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa dapat meminta bantuan kepada Pejabat
lain untuk menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dan memerintahkan
Jurusita Pajak untuk melaksanakan penyitaan terhadap barang yang berada jauh
dari tempat kedudukan Pejabat dimaksud sekalipun masih berada dalam wilayah
kerjanya. Misalnya, apabila Kepala Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Negara
dan Daerah di Jakarta yang wilayah kerjanya meliputi seluruh Indonesia akan
melakukan penyitaan terhadap barang milik Penanggung Pajak yang berada di
Kupang, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Perusahaan Negara dan Daerah dapat
meminta bantuan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Kupang.

221
Pasal 20 ayat (1) UU PPSP
222
Pasal 20 ayat (2) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 84



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Pejabat yang diminta bantuan sebagaimana dimaksud di atas memberitahukan


pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dimaksud kepada Pejabat
yang meminta bantuan segera setelah penyitaan dilaksanakan dengan mengirimkan
Berita Acara Pelaksanaan Sita.223

13. Pencabutan sita

Pencabutan sita dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah melunasi biaya


penagihan pajak dan utang pajak atau berdasarkan putusan pengadilan atau
putusan badan peradilan pajak atau ditetapkan lain dengan Keputusan Menteri atau
Keputusan Kepala Daerah.224 Ketentuan ini memberi kewenangan kepada Menteri
atau Kepala Daerah untuk melakukan pencabutan sita karena adanya sebab-sebab
di luar kekuasaan Pejabat yang bersangkutan, misalnya, objek sita terbakar, hilang,
atau musnah.Yang dimaksud dengan putusan pengadilan adalah putusan hakim
dariperadilan umum. Putusan peradilan umum, misalnya, putusan atas sanggahan
pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita, sedangkan putusan badan
peradilan pajak, misalnya, putusan atas gugatan Penanggung Pajak terhadap
pelaksanaan sita.Pencabutan sita sebagaimana dimaksud di atas dilaksanakan
berdasarkan Surat Pencabutan Sita yang diterbitkan oleh Pejabat.225

Dalam hal penyitaan dilaksanakan terhadap barang yang kepemilikannya terdaftar,


tindasan Surat Pencabutan Sita disampaikan kepada instansi tempat barang
tersebut terdaftar.226 Ketentuan ini dimaksudkan agar instansi tempat barang
tersebut terdaftar mengetahui bahwa penyitaan terhadap barang dimaksud telah
dicabut sehingga penguasaan barang dikembalikan kepada Penanggung Pajak.

Contoh : dalam hal penyitaan tanah dan bangunan, tindasan Surat Pencabutan Sita
di sampaikan kepada Badan Pertanahan Nasional/Kantor Pertanahan.

Ketentuan mengenai tata cara penyitaan diatur dengan Peraturan Pemerintah.227


Peraturan Pemerintah yang menjalanan amanat ini adalah Peraturan Pemerintah

223
Pasal 20 ayat (3) UU PPSP
224
Pasal 22ayat (1) UU PPSP
225
Pasal 22 ayat (2) UU PPSP
226
Pasal 22 ayat (3) UU PPSP
227
Pasal 24 UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 85



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Republi Indonesia Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata Cara Penyitaan Dalam
Rangka Penagihan Paja Dengan Surat Paksa.

Pencabutan sita dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah melunasi biaya


penagihan pajak dan utang pajak atau berdasarkan putusan pengadilan atau
berdasarkan putusan badan peradilan pajak atau ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan atau Gubernur atau Bupati/Walikota.228 Pencabutan sita dilaksanakan
berdasarkan Surat Pencabutan Sita yang diterbitkan oleh Pejabat229. Surat
Pencabutan Sita sekaligus berfungsi sebagai pencabutan Berita Acara Pelaksanaan
Sita disampaikan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak dan instansi yang
terkait, diikuti dengan pengembalian penguasaan barang yang disita kepada
Penanggung Pajak.230

Pencabutan sita terhadap :

a. deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro atau yang


dipersamakan dengan itu dilaksanakan dengan menyampaikan Surat
Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan tembusannya disampaikan
kepada bank yang bersangkutan;
b. surat berharga berupa obligasi, saham atau sejenisnya baik yang
diperdagangkan maupun yang tidak diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan
dengan menyampaikan Surat Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan
tembusannya disampaikan kepada pihak terkait yang sekaligus berfungsi
sebagai pembatalan Berita Acara Pengalihan Hak Atas Surat Berharga tersebut;
c. piutang dilaksanakan dengan menyampaikan Surat Pencabutan Sita kepada
Penanggung Pajak dan tembusannya disampaikan kepada pihak yang berutang
yang sekaligus berfungsi sebagai pembatalan Berita Acara Persetujuan
Pengalihan Hak Menagih Piutang;
d. penyertaan modal pada perusahaan lain dilaksanakan dengan menyampaikan
Surat Pencabutan Sita kepada Penanggung Pajak dan tembusannya
disampaikan kepada pihak terkait serta membuat Akte Pembatalan Pengalihan
Hak.

228
Pasal 11 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000
229
Pasal 11 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
230
Pasal 11 ayat (3) PP No 135 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 86



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

14. Pelaksanaan Lelang

Lelang adalah setiap penjualan barang dimuka umum dengan cara penawaran harga
secara lisan dan atau tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau calon
pembeli.231 Apabila utang pajak dan atau biaya penagihan pajak tidak dilunasi
setelah dilaksanakan penyitaan, Pejabat berwenang melaksanakan penjualan secara
lelang terhadap barang yang disita melalui Kantor Lelang.232 Sekalipun Penanggung
Pajak telah melunasi utang pajak, tetapi belum melunasi biaya penagihan pajak,
penjualan secara lelang terhadap barang yang telah disita tetap dapat dilaksanakan.

Barang yang disita berupa uang tunai, deposito berjangka, tabungan, saldo rekening
koran, obligasi, saham, atau surat berharga lainnya, piutang dan penyertaan modal
pada perusahaan lain.233 Barang yang disita tersebut digunakan untuk membayar
biaya penagihan pajak dan utang pajak dengan cara :234

a. uang tunai disetor ke Kas Negara atau Kas Daerah;


b. deposito berjangka, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu, dipindahbukukan ke Kas Negara atau Kas
Daerah atas permintaan Pejabat kepada Bank yang bersangkutan.
Pemindahbukuan objek sita yang tersimpan di bank berupa deposito berjangka,
tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk lainnya yang dipersamakan
dengan itu dilaksanakan dengan mengacu kepada ketentuan mengenai rahasia
bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.;
c. obligasi, saham, atau surat berharga lainnya yang diperdagangkan di bursa efek
dijual di bursa efek atas permintaan Pejabat;
d. obligasi, saham, atau surat berharga lainnya yang tidak diperdagangkan di bursa
efek segera dijual oleh Pejabat;
e. piutang dibuatkan berita acara persetujuan tentang pengalihan hak menagih dari
Penanggung Pajak kepada Pejabat;
f. penyertaan modal pada perusahaan lain dibuatkan akte persetujuan pengalihan
hak menjual dari Penanggung Pajak kepada Pejabat.

231
Pasal 1 angka 17 UU PPSP
232
Pasal 25 ayat (1) UU PPSP
233
Pasal 25 ayat (2) UU PPSP
234
Pasal 25 ayat (3) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 87



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan penyitaan atas barang-barang


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) huruf b, huruf c, huruf d, huruf e dan
huruf f Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan
Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun
2000, wajib membantu pelaksanaan penyitaan.235 Setiap orang dilarang dengan
sengaja untuk tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut
undang-undang, atau dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau
menggagalkan tindakan penagihan pajak yang dilakukan oleh Juru Sita Pajak.236

Dalam hal penjualan yang dikecualikan dari lelang, biaya penagihan pajak ditambah
1% (satu persen) dari hasil penjualan.237 Mengingat pelaksanaan penagihan pajak
sampai penjualan barang sitaan mengalami proses yang panjang, rumit dan penuh
resiko maka biaya penagihan pajak sebesar 1% (satu persen) dari hasil penjualan
merupakan insentif bagi Jurusita Pajak.

Ketentuan mengenai tata cara penjualan barang yang dikecualikan dari penjualan
secara lelang diatur dengan Peraturan Pemerintah.238

Penjualan secara lelang terhadap barang yang disita dilaksanakan paling singkat 14
(empat belas) hari setelah pengumuman lelang melalui media massa.239 Ketentuan
ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada Penanggung Pajak melunasi
utang pajaknya sebelum pelelangan terhadap barang yang disita dilaksanakan.
Sesuai dengan ketentuan dalam peraturan lelang setiap penjualan secara lelang
harus didahului dengan Pengumuman Lelang.

Pengumuman lelang tersebut dilaksanakan paling singkat 14 (empat belas) hari


setelah penyitaan.240 Pengumuman lelang untuk barang bergerak dilakukan 1 (satu)
kali dan untuk barang tidak bergerak dilakukan 2 (dua) kali.241 Dalam hal barang
tidak bergerak yang akan dilelang bersama-sama barang bergerak, Pengumuman
Lelang dilakukan 2 (dua) kali untuk barang tidak bergerak, 1 (satu) kali bersama-

235
Pasal 13 ayat (1) PP No 135 Tahun 2000
236
Pasal 13 ayat (2) PP No 135 Tahun 2000
237
Pasal 25 ayat (4) UU PPSP
238
Pasal 25 ayat (5) UU PPSP
239
Pasal 26 ayat (1) UU PPSP
240
Pasal 26 ayat (1a) UU PPSP
241
Pasal 26 ayat (1b) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 88



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

sama barang bergerak pada pengumuman pertama, sehingga penjualan barang


bergerak dapat didahulukan.

Pengumuman lelang terhadap barang dengan nilai paling banyak Rp 20.000.000,00


(dua puluh juta rupiah) tidak harus diumumkan melalui media massa.242 Pengertian
tidak harus diumumkan melalui media massa misalnya dengan selebaran atau
pengumuman yang ditempelkan di tempat umum, misalnya di kantor kelurahan atau
di papan pengumuman kantor Pejabat. Perubahan besarnya nilai barang yang tidak
harus diumumkan melalui media massa ini ditetapkan dengan Keputusan Menteri
atau Keputusan Kepala Daerah.243

Pejabat bertindak sebagai penjual atas barang yang disita mengajukan permintaan
lelang kepada Kantor Lelang sebelum lelang dilaksanakan.244 Pejabat atau yang
mewakilinya menghadiri pelaksanaan lelang untuk menentukan dilepas atau tidaknya
barang yang dilelang dan menandatangani asli Risalah Lelang.245 Kehadiran Pejabat
atau yang mewakilinya dalam pelaksanaan lelang diperlukan untuk menentukan
dilepas atau tidaknya barang yang dilelang apabila harga penawaran yang diajukan
oleh calon pembeli lelang lebih rendah dari harga limit yang ditentukan. Selain itu,
kehadiran Pejabat atau yang mewakilinya juga diperlukan untuk menghentikan lelang
apabila hasil lelang sudah cukup untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang
pajak.

Pejabat dan Jurusita Pajak tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang
dilelang.246 Larangan terhadap Pejabat dan Jurusita Pajak untuk membeli barang
sitaan yang dilelang, berlaku juga terhadap istri, keluarga sedarah dan semenda
dalam keturunan garis lurus, serta anak angkat.247 Pejabat dan Jurusita Pajak yang
melanggar tersebut dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan
248
perundang-undangan. Larangan membeli barang sitaan bagi Pejabat dan Jurusita
Pajak tersebut baik untuk diri sendiri maupun atas kuasa pihak lain.249

242
Pasal 26 ayat (1c) UU PPSP
243
Pasal 26 ayat (7) UU PPSP
244
Pasal 26 ayat (2) UU PPSP
245
Pasal 26 ayat (3) UU PPSP
246
Pasal 26 ayat (4) UU PPSP
247
Pasal 26 ayat (5) UU PPSP
248
Pasal 26 ayat (6) UU PPSP
249
PAsal 5 ayat (1) PP 136 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 89



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lelang tetap dapat dilaksanakan walaupun keberatan yang diajukan oleh Wajib
Pajak belum memperoleh keputusan keberatan.250 Mengingat bahwa lelang
merupakan tindak lanjut eksekusi dari Surat Paksa yang kedudukannya sama
dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, maka
sekalipunWajib Pajak mengajukan keberatan dan belum memperoleh keputusan,
lelang tetap dapat dilaksanakan.

Lelang tetap dapat dilaksanakan tanpa dihadiri oleh Penanggung Pajak.251 Karena
penguasaan barang yang disita telah berpindah dari Penanggung Pajak kepada
Pejabat, maka Pejabat yang bersangkutan mempunyai wewenang untuk menjual
barang yang disita dimaksud. Mengingat Penanggung Pajak yang memiliki barang
yang disita telah diberitahukan bahwa barang yang disita akan dijual secara lelang
pada waktu yang telah ditentukan, lelang tetap dapat dilaksanakan walaupun tanpa
dihadiri oleh Penanggung Pajak.

Lelang tidak dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah melunasi utang pajak
dan biaya penagihan pajak, atau berdasarkan putusan pengadilan, atau putusan
badan peradilan pajak, atau objek lelang musnah.252 Pada dasarnya lelang tidak
dilaksanakan apabila Penanggung Pajak telah melunasi utang pajak dan biaya
penagihan pajak. Namun, dalam hal terdapat putusan pengadilan yang mengabulkan
gugatan pihak ketiga atas kepemilikan barang yang disita, atau putusan badan
peradilan pajak yang mengabulkan gugatan Penanggung Pajak atas pelaksanaan
penagihan pajak, atau barang sitaan yang akan dilelang musnah karena terbakar
atau bencana alam, lelang tetap tidak dilaksanakan walaupun utang pajak dan biaya
penagihan pajak belum dilunasi.

Hasil Lelang dipergunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya penagihan pajak
yang belum dibayar dan sisanya untuk membayar utang pajak.253 Dalam hal
penjualan secara lelang, biaya penagihan pajaknya ditambah 1% (satu persen) dari
pokok lelang.254 Mengingat pelaksanaan penagihan pajak sampai penjualan barang
sitaan secara lelang mengalami proses yang panjang, rumit dan penuh resiko maka

250
Pasal 27 ayat (1) UU PPSP
251
Pasal 27 ayat (2) UU PPSP
252
Pasal 27 ayat (3) UU PPSP
253
Pasal 28 ayat (1) UU PPSP
254
Pasal 28 ayat (1a) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 90



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

biaya penagihan pajak sebesar 1% (satu persen) dari pokok lelang merupakan
insentif bagi Jurusita Pajak.

Dalam hal hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk melunasi biaya
penagihan pajak dan utang pajak, pelaksanaan lelang dihentikan oleh pejabat
walaupun barang yang akan dilelang masih ada.255 Tujuan utama lelang adalah
untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak dengan tetap memberi
perlindungan kepada Penanggung Pajak agar lelang tidak dilaksanakan secara
berlebihan. Selain itu, ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi Penanggung
Pajak agar Pejabat tidak berbuat sewenang-wenang dalam melakukan penjualan
secara lelang.Sisa barang sitaan beserta kelebihan uang hasil lelang dikembalikan
oleh Pejabat kepada Penanggung Pajak segera setelah dibuatnya Risalah Lelang
sebagai tanda bahwa lelang telah selesai dilaksanakan. Sisa barang beserta
kelebihan uang hasil lelang dikembalikan oleh Pejabat kepada Penanggung Pajak
segera setelah pelaksanaan lelang.256 Pejabat yang lalai melaksanakan tersebut
dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.257

Hak Penanggung Pajak atas barang yang telah dilelang berpindah kepada pembeli
dan kepadanya diberikan Risalah Lelang yang merupakan bukti otentik sebagai
dasar pendaftaran dan pengalihan hak.258 Risalah Lelang antara lain, memuat
keterangan tentang barang sitaan telah terjual. Sebagai syarat pengalihan hak dari
Penanggung Pajak kepada pembeli lelang dan juga sebagai perlindungan hukum
terhadap hak pembeli lelang, kepadanya harus diberikan Risalah Lelang yang
berfungsi sebagai akte jual beli yang merupakan bukti otentik sebagai dasar
pendaftaran dan pengalihan hak.

255
Pasal 28 ayat (2) UU PPSP
256
Pasal 28 ayat (3) UU PPSP
257
Pasal 28 ayat (4) UU PPSP
258
Pasal 28 ayat (5) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 91



BADAN
N PENDIDIKAN
N DAN PELATIH
HAN KEUANG
GAN
PUSAT PENDIDIK
KAN DAN P
PELATIHAN
N PAJAK AGUS
S SUHARSON
NO

15. Pencegahan

Pencegahan adalah larangan yang bersifat sem


mentara terhadap Penan
nggung Paja
ak
ertentu untuk keluar da
te ari wilayah Negara
N Rep
publik Indone
esia berdassarkan alasa
an
te
ertentu sesu
uai dengan ketentuan p
peraturan pe ndangan.259 Pencegaha
erundang-un an
ha
anya dapat dilakukan te
erhadap Penanggung Pajak
P yang m
mempunyai jumlah utan
ng
pa
ajak sekura
ang-kurangnya sebesarr Rp.100.00
00.000,00 (sseratus juta rupiah) da
an
diiragukan itik
kad baiknya
a dalam me ng pajak.260 Besarnya jumlah
elunasi utan j utan
ng
pa
ajak dapat diubah
d denga ah.261
an Peraturan Pemerinta

Pencegahan diperlukan sebagai salah satu up


paya penagih
han pajak. Namun, aga
ar
elaksanaan pencegahan tidak sewe
pe enang-wena
ang, maka p
pelaksanaan
n pencegaha
an
se
ebagai upayya penagihan
n pajak dibe
erikan syaratt-syarat, baikk yang bersifat kuantitatif,
ya
akni harus memenuhi utang pajakk dalam jum
mlah tertentu
u, maupun yang bersifa
at
ku
ualitatif, yakkni diraguka
an itikad ba
aiknya dala
am melunassi utang pajjak sehingg
ga
pe
encegahan hanya dilakssanakan seccara sangat selektif dan hati-hati.

Pencegahan hanya dap


pat dilakuka
an berdasa
arkan keputusan pence
egahan yan
ng
diiterbitkan oleh o Menterri atas perrmintaan Pejabat atau
u atasan Pejabat
P yan
ng

259
Pasal 1 angka
a 20 UU PPSP
260
Pasal 29 UU PPSP
261
Pasal 33 ayat (6) UU PPS
SP

KEBER
RATAN BAND NAGIHAN@D
DING DAN PEN DTSDASARPA
AJAKI Hal | 92

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

bersangkutan.262 Pelaksanaan pencegahan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan


keputusan Menteri sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang
Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian yang, antara lain menentukan bahwa
yang berwenang dan bertanggung jawab atas pencegahan adalah Menteri
sepanjang menyangkut urusan piutang Negara.

Keputusan pencegahan memuat sekurang-kurangnya:263

a. identitas Penanggung Pajak yang dikenakan pencegahan;


b. alasan untuk melakukan pencegahan; dan
c. jangka waktu pencegahan.

Jangka waktu pencegahan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang untuk
selama-lamanya 6 (enam) bulan.264

Keputusan pencegahan disampaikan kepada Penanggung Pajak yang dikenakan


pencegahan, Menteri Kehakiman, Pejabat yang memohon pencegahan, atasan
Pejabat yang bersangkutan, dan Kepala Daerah setempat.265 Pencegahan dapat
dilaksanakan terhadap beberapa orang sebagai Penanggung Pajak Wajib Pajak
badan atau ahli waris.266

Pencegahan terhadap Penanggung Pajak tidak mengakibatkan hapusnya utang


pajak dan terhentinya pelaksanaan penagihan pajak.267 Berdasarkan peraturan
perundang-undangan perpajakan, utang pajak hapus apabila sudah dibayar lunas
atau karena kedaluwarsa. Dengan demikian, pencegahan Penanggung Pajak tidak
mengakibatkan hapusnya utang pajak.Oleh karena itu, sekalipun terhadap
Penanggung Pajak telah dilakukan pencegahan, tindakan penagihan pajak tidak
terhenti dan tetap dapat dilaksanakan.
Pencegahan dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.268 Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
adalah Undang-undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian.

262
Pasal 30 ayat (1) UU PPSP
263
Pasal 30 ayat (2) UU PPSP
264
Pasal 30 ayat (3) UU PPSP
265
Pasal 30 ayat (4) UU PPSP
266
Pasal 30 ayat (5) UU PPSP
267
Pasal 31 UU PPSP
268
Pasal 32 UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 93



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

16. Penyanderaan

Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan Penanggung


Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu.269

Tata Cara Penyanderaan

Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang tidak


melunasi utang pajak setelah lewat jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung
sejak tanggal Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak.270

Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang:


a. mempunyai utang pajak sekurang-kurangnya sebesar Rp. 100.000.000,00
(seratus juta rupiah). Besarnya jumlah utang pajak dapat diubah dengan
Peraturan Pemerintah.271 dan
b. diragukan itikad baiknya dalam melunasi utang pajak.272

Agar penyanderaan tidak dilaksanakan sewenang-wenang dan juga tidak


bertentangan dengan rasa keadilan bersama, maka diberikan syarat-syarat tertentu,
baik syarat yang bersifat kuantitatif, yakni harus memenuhi utang pajak dalam jumlah
tertentu, maupun syarat yang bersifat kualitatif, yakni diragukan itikad baik
Penanggung Pajak dalam melunasi utang pajak, serta telah dilaksanakan penagihan
pajak sampai dengan Surat Paksa. Dengan demikian, Pejabat mendapatkan data
atau informasi yang akurat yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk
mengajukan permohonan izin penyanderaan. Penyanderaan hanya dilaksanakan
secara sangat selektif, hati-hati, dan merupakan upaya terakhir.

Penyanderaan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan


yang diterbitkan oleh Pejabat setelah mendapat izin tertulis dari Menteri atau
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.273 Persyaratan izin penyanderaan dari Menteri
atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dimaksudkan agar penyanderaan dilakukan
secara sangat selektif dan hati-hati. Oleh karena itu, Pejabat tidak boleh menerbitkan

269
Pasal 1 angka 21 UU PPSP
270
Pasal 2 PP Nomor 137 Tahun 2000
271
Pasal 33 ayat (6) UU PPSP
272
Pasal 33 ayat (1) UU PPSP
273
Pasal 33 ayat (2) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 94



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

surat Perintah Penyanderaan sebelum mendapat izin tertulis dari Menteri atau
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

Permohonan izin penyanderaan diajukan oleh Pejabat atau atasan Pejabat kepada
Menteri Keuangan untuk penagihan pajak pusat atau kepada Gubernur untuk
penagihan pajak daerah.274 Permohonan izin penyanderaan memuat sekurang-
kurangnya :275

a. identitas Penanggung Pajak yang akan disandera;


b. jumlah utang pajak yang belum dilunasi;
c. tindakan penagihan pajak yang telah dilaksanakan; dan
d. uraian tentang adanya petunjuk bahwa Penanggung Pajak diragukan itikad
baik dalam pelunasan utang pajak.

Surat Perintah Penyanderaan diterbitkan oleh Pejabat seketika setelah diterimanya


izin tertulis dari Menteri Keuangan untuk penagihan pajak pusat atau dari Gubernur
untuk penagihan pajak daerah.276 Surat Perintah Penyanderaan memuat sekurang-
kurangnya :

a. identitas Penanggung Pajak;


b. alasan penyanderaan;
c. izin penyanderaan;
d. lama penyanderaan; dan
e. tempat penyanderaan.

Surat Perintah Penyanderaan memuat sekurang-kurangnya :277

a. identitas Penanggung Pajak;


b. alasan penyanderaan;
c. izin penyanderaan;
d. lamanya penyanderaan; dan
e. tempat penyanderaan.

274
Pasal 4 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000
275
Pasal 4 ayat (2) PP Nomor 137 Tahun 2000
276
Pasal 5 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000
277
Pasal 33 ayat (4) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 95



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Jurusita Pajak harus menyampaikan Surat Perintah Penyanderaan langsung kepada


Penanggung Pajak dan salinannya disampaikan kepada kepala tempat
278
penyanderaan. Dalam hal Penanggung Pajak yang akan disandera tidak dapat
ditemukan, Jurusita Pajak melalui Pejabat atau atasan Pejabat dapat meminta
bantuan Kepolisian atau Kejaksaan untuk menghadirkan Penanggung Pajak yang
tidak dapat ditemukan tersebut.279 Termasuk dalam pengertian menghadirkan
Penanggung Pajak adalah mencari, menangkap dan membawa Penanggung Pajak
ke tempat Pejabat untuk selanjutnya diserahkan kepada kepala tempat
penyanderaan. Penyanderaan mulai dilaksanakan pada saat Surat Perintah
Penyanderaan diterima oleh Penanggung Pajak yang bersangkutan.280

Penyanderaan dilaksanakan oleh Jurusita Pajak disaksikan oleh 2 (dua) orang


penduduk Indonesia yang telah dewasa, dikenal oleh Jurusita Pajak dan dapat
dipercaya.281 Dalam melaksanakan penyanderaan Jurusita Pajak dapat meminta
bantuan Kepolisian atau Kejaksaan.282 Jurusita Pajak membuat Berita Acara
Penyanderaan pada saat Penanggung Pajak ditempatkan di tempat penyanderaan,
dan Berita Acara Penyanderaan ditandatangani oleh Jurusita Pajak, kepala tempat
penyanderaan dan saksi-saksi.283 Berita Acara Penyanderaan merupakan syarat
formal sahnya penyanderaan dan berfungsi sebagai Berita Acara serah terima
Penanggung Pajak yang disandera dari Jurusita Pajak kepada kepala tempat
penyanderaan. Salinan Berita Acara Penyanderaan tersebut disampaikan kepada
kepala tempat penyanderaan, Penanggung Pajak yang disandera, dan Bupati atau
Walikota.284 Berita Acara Penyanderaan paling sedikit memuat:285

a. nomor dan tanggal Surat Perintah Penyanderaan;


b. izin tertulis Menteri Keuangan atau Gubernur;
c. identitas Jurusita Pajak;
d. identitas Penanggung Pajak yang disandera;
e. tempat penyanderaan;
f. lamanya penyanderaan; dan
g. identitas saksi penyanderaan.

278
Pasal 8 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000
279
Pasal 8 ayat (2) PP Nomor 137 Tahun 2000
280
Pasal 8 ayat (3) PP Nomor 137 Tahun 2000
281
Pasal 9 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000
282
Pasal 9 ayat (2) PP Nomor 137 Tahun 2000
283
Pasal 9 ayat (3) PP Nomor 137 Tahun 2000
284
Pasal 9 ayat (5) PP Nomor 137 Tahun 2000
285
Pasal 9 ayat (4) PP Nomor 137 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 96



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Jangka Waktu Penyanderaan

Masa penyanderaan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang untuk
selama-lamanya 6 (enam) bulan.286 Izin perpanjangan jangka waktu penyanderaan
dapat sekaligus diberikan oleh Menteri/Gubernur yang berwenang pada waktu
memberikan izin penyanderaan. Dalam hal izin perpanjangan penyanderaan
sekaligus diberikan maka tidak diperlukan suatu izin baru. Ketentuan jangka waktu
maksimum penyanderaan ini tidak berlaku dalam hal sandera melarikan diri.
Penentuan lamanya penyanderaan didasarkan pada perhitungan besarnya utang
pajak, besarnya jumlah harta yang disembunyikan dan dihubungkan dengan itikad
tidak baik Penanggung Pajak untuk melunasi utang pajaknya.287

Tempat Penyanderaan

Ketentuan mengenai tempat penyanderaan, tata cara penyanderaan, rehabilitasi


nama baik Penanggung Pajak, dan pemberian ganti rugi diatur dengan Peraturan
Pemerintah.288 Sebelum tempat penyanderaan ditentukan dengan Peraturan
Pemerintah, Penanggung Pajak yang disandera dititipkan sementara di rumah
tahanan negara.

Penanggung Pajak yang disandera ditempatkan ditempat tertentu sebagai tempat


penyanderaan dengan syarat-syarat sebagai berikut :289

a. tertutup dan terasing dari masyarakat;


b. mempunyai fasilitas terbatas; dan
c. mempunyai sistem pengamanan dan pengawasan yang memadai.

Sebelum tempat penyanderaan tersebut dibentuk, Penanggung Pajak yang


disandera dititipkan di rumah tahanan negara dan terpisah dari tahanan lain.290
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyanderaan Penanggung Pajak ditetapkan
dengan keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Kehakiman dan Hak

286
Pasal 33 ayat (3) UU PPSP
287
Penjelasan Pasal 7 PP Nomor 137 Tahun 2000
288
Pasal 36 UU PPSP
289
Pasal 6 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000
290
Pasal 6 ayat (2) PP Nomor 137 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 97



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Asasi Manusia.291 Ketentuan yang akan ditetapkan dalam keputusan bersama


Menteri Keuangan dan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia antara lain
mengenai :
Prosedur penitipan Penanggung Pajak yang disandera di rumah tahanan
negara;
Tanggung jawab atas Penanggung Pajak yang disandera selama dalam
penyanderaan;
lzin kunjungan dari keluarga, pengacara dan sahabat;
Kriteria pelayanan kesehatan dan makanan yang layak;
Tata tertib yang diberlakukan terhadap Penanggung Pajak yang disandera.

Larangan Penyanderaan

Penyanderaan tidak boleh dilaksanakan dalam hal Penanggung Pajak sedang


beribadah, atau sedang mengikuti sidang resmi, atau sedang mengikuti Pemilihan
Umum.292

Pelepasan Sandera

Penanggung Pajak yang disandera dilepas :293

a. apabila utang pajak dan biaya penagihan pajak telah dibayar lunas;
b. apabila jangka waktu yang ditetapkan dalam Surat Perintah Penyanderaan itu
telah terpenuhi;
c. berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap; atau
d. berdasarkan pertimbangan tertentu dari Menteri atau Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I. Pertimbangan Menteri Keuangan atau Gubernur dimaksud
adalah, antara lain:294
1) Penanggung Pajak menyatakan akan melunasi utang pajak, tetapi
berdasarkan bukti yang disampaikan, tidak dapat melaksanakan
pelunasan utang pajak tersebut tanpa meninggalkan tempat
penyanderaan, atau

291
Pasal 6 ayat (3) PP Nomor 137 Tahun 2000
292
Pasal 33 ayat (5) UU PPSP
293
Pasal 34 ayat (1) UU PPSP
294
Penjelasan Pasal 10 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 98



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

2) dalam hal Penanggung Pajak menderita sakit berat sehingga


memerlukan perawatan dalam jangka waktu yang lama di luar tempat
penyanderaan.

Sebelum Penanggung Pajak dilepas sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf c,


dan huruf d, Pejabat segera memberitahukan secara tertulis kepada tempat
penyanderaan sebagaimana tercantum dalam Surat Perintah Penyanderaan.295
Kepala tempat penyanderaan segera memberitahukan secara tertulis kepada
Pejabat apabila Penanggung Pajak telah dilepas dari penyanderaan.296

Sandera Yang Melarikan Diri

Penanggung Pajak yang melarikan diri dari tempat penyanderaan dalam masa
penyanderaan, disandera kembali berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan yang
dahulu diterbitkan terhadapnya.297 Masa penyanderaan kembali tersebut adalah
sama dengan masa penyanderaan menurut Surat Perintah Penyanderaan yang
dahulu diterbitkan terhadapnya dengan memperhitungkan masa penyanderaan yang
telah dijalani sebelum Penanggung Pajak melarikan diri.298

Biaya Penyanderaan
Biaya penyanderaan dibebankan kepada Penanggung Pajak yang disandera dan
diperhitungkan sebagai biaya penagihan pajak.299 Termasuk dalam biaya
penyanderaan antara lain, biaya hidup selama dalam penyanderaan di rumah
tahanan negara dan biaya penangkapan dalam hal Penanggung Pajak melarikan diri
dari rumah tahanan negara. Biaya penyanderaan merupakan salah satu biaya
penagihan yang harus ditanggung oleh Penanggung Pajak yang disandera.

Hak Sandera
Selama dalam penyanderaan Penanggung Pajak berhak untuk :300

a. melakukan ibadah di tempat penyanderaan sesuai dengan agama dan


kepercayaannya masing-masing;

295
Pasal 34 ayat (2) UU PPSP
296
Pasal 10 ayat (3) PP Nomor 137 Tahun 2000
297
Pasal 11 ayat (1) PP Nomor 137 Tahun 2000
298
Pasal 11 ayat (2) PP Nomor 137 Tahun 2000
299
Pasal 13 PP Nomor 137 Tahun 2000
300
Pasal 14 PP Nomor 137 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 99



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. memperoleh pelayanan kesehatan yang layak sesuai dengan ketentuan yang


berlaku;
c. mendapat makanan yang layak termasuk menerima kiriman dari keluarga;
d. menyampaikan keluhan tentang perlakuan petugas;
e. memperoleh bahan bacaan dan informasi lainnya atas biaya Penanggung
Pajak yang disandera;
f. menerima kunjungan dari :
1) keluarga, pengacara dan sahabat;
2) dokter pribadi atas biaya sendiri;
3) rohaniawan.

Rehabilitasi dan Ganti Rugi

Pajak yang disandera dapat mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan


301
penyanderaan hanya kepada Pengadilan Negeri. Permohonan Penanggung
Pajak tersebut diajukan kepada Pejabat yang menerbitkan Surat Perintah
Penyanderaan.302 Penanggung Pajak tidak dapat mengajukan gugatan terhadap
pelaksanaan penyanderaan setelah masa penyanderaan berakhir.303 Dalam hal
gugatan Penanggung Pajak dikabulkan dan putusan pengadilan telah mempunyai
kekuatan hukum tetap, Penanggung Pajak dapat memohon rehabilitasi nama baik
dan ganti rugi atas masa penyanderaan yang telah dijalaninya.304 Rehabilitasi nama
baik dilaksanakan oleh Pejabat dalam bentuk 1 (satu) kali pengumuman pada media
cetak harian yang berskala nasional dengan ukuran yang memadai, yang dilakukan
paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya permohonan Penanggung
Pajak.305

Besarnya ganti rugi adalah Rp.100.000,00 (seratus ribu rupiah) setiap hari, selama
masa penyanderaan yang telah dijalaninya.306 Perubahan besarnya nilai ganti rugi
ditetapkan oleh Menteri.307 Ganti rugi diberikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari
sejak diterimanya permohonan Penanggung Pajak.308 Tata cara pemberian ganti rugi

301
Pasal 34 ayat (3) UU PPSP
302
Pasal 16 ayat (2) PP Nomor 137 Tahun 2000
303
Pasal 34 ayat (7) UU PPSP
304
Pasal 34 ayat (4) UU PPSP
305
Pasal 16 ayat (3) PP Nomor 137 Tahun 2000
306
Pasal 34 ayat (5) UU PPSP
307
Pasal 34 ayat (6) UU PPSP
308
Pasal 16 ayat (5) PP Nomor 137 Tahun 2000

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 100



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) ditetapkan dengan Keputusan Menteri


Keuangan.309

Lain-Lain

Penyanderaan tetap dapat dilaksanakan terhadap Penanggung Pajak yang telah


dilakukan pencegahan.310

Penyanderaan terhadap Penanggung Pajak tidak mengakibatkan hapusnya utang


pajak dan terhentinya pelaksanaan penagihan pajak.311 Berdasarkan peraturan
perundang-undangan perpajakan, utang pajak hapus apabila sudah dibayar lunas
atau karena kedaluwarsa. Dengan demikian, penyanderaan Penanggung Pajak tidak
mengakibatkan hapusnya utang pajak.Oleh karena itu, sekalipun terhadap
Penanggung Pajak telah dilakukan penyanderaan, tindakan penagihan pajak tidak
terhenti dan tetap dilaksanakan.

17. Pembetulan Surat-Surat Dalam Penagihan Pajak

Penanggung Pajak dapat mengajukan permohonan pembetulan atau penggantian


kepada Pejabat terhadap Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang
sejenis, Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat
Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan, Pengumuman
Lelang dan Surat Penentuan Harga Limit yang dalam penerbitannya terdapat
kesalahan atau kekeliruan.312 Ketentuan ini mengatur pembetulan atas kesalahan
atau kekeliruan dalam penulisan nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak, jumlah
utang pajak, atau keterangan lainnya yang tercantum dalam Surat Teguran, Surat
Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus. Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan, Pengumuman Lelang, atau
Surat Penentuan Harga Limit yang permohonannya diajukan oleh Penanggung Pajak
kepada Pejabat. Dalam hal Penanggung Pajak mengajukan permohonan
penggantian surat-surat dimaksud, baik karena hilang maupun rusak, atau karena
alasan lain, penggantiannya diberikan dalam bentuk salinan atau turunan yang
ditandatangani oleh Pejabat.

309
Pasal 16 ayat (6) PP Nomor 137 Tahun 2000
310
Pasal 12 PP Nomor 137 Tahun 2000
311
Pasal 35 UU PPSP
312
Pasal 39 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 101



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Dalam hal permohonan tersebut ditolak, tindakan pelaksanaan penagihan pajak


dilanjutkan sesuai jangka waktu semula.313

Pejabat dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal diterima
permohonan harus memberi keputusan atas permohonan yang diajukan.314 Apabila
dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari tersebut Pejabat tidak memberikan keputusan,
permohonan Penanggung Pajak dianggap dikabulkan dan penagihan ditunda untuk
sementara waktu.315 Pengertian ditunda untuk sementara waktu adalah ditunda
hingga Pejabat membetulkan kesalahannya atau mengganti dokumen penagihan
yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau kekeliruan.

Pejabat karena jabatan dapat membetulkan Surat Teguran atau Surat Peringatan
atau surat lain yang sejenis, Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat
Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan,
Pengumuman Lelang dan Surat Penentuan Harga Limit yang dalam penerbitannya
terdapat kesalahan atau kekeliruan.316 Tindakan pelaksanaan penagihan pajak
dilanjutkan setelah kesalahan atau kekeliruan dibetulkan oleh Pejabat.317

18. Ketentuan Khusus Dalam Pelaksanaan Penagihan

Apabila setelah pelaksanaan lelang Wajib Pajak memperoleh keputusan keberatan


atau putusan banding yang mengakibatkan utang pajak menjadi berkurang atau nihil
sehingga menimbulkan kelebihan pembayaran pajak, Wajib Pajak tidak dapat
meminta atau tidak berhak menuntut pengembalian barang yang telah dilelang.318
Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum dan perlindungan hak
bagi pembeli barang sitaan melalui penjualan secara lelang.

Pejabat mengembalikan kelebihan pembayaran pajak tersebut dalam bentuk uang


sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.319 Dalam hal
barang yang dimiliki oleh Penanggung Pajak telah dilelang dan kemudian diperoleh
keputusan keberatan atau putusan banding yang mengakibatkan utang pajak

313
Pasal 39 ayat (4) UU PPSP
314
Pasal 39 ayat (1a) UU PPSP
315
Pasal 39 ayat (1b) UU PPSP
316
Pasal 39 ayat (2) UU PPSP
317
Pasal 39 ayat (3) UU PPSP
318
Pasal 40 ayat (1) UU PPSP
319
Pasal 40 ayat (2) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 102



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

menjadi berkurang atau nihil sehingga menimbulkan kelebihan pembayaran pajak,


kelebihan pembayaran dimaksud hanya dapat dikembalikan dalam bentuk uang.

Pengajuan keberatan atau permohonan banding tidak menunda kewajiban


membayar pajak dan pelaksanaan penagihan pajak.320

19. Ketentuan Pidana

Penanggung Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal


23 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda
paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).321

Apabila pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) huruf b, huruf c,
huruf d, huruf e, dan huruf f UU PPSP tidak melaksanakan kewajibannya, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda
paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).322 Yang dimaksud dengan
pihak-pihak dalam Pasal 25 ayat (3) huruf b adalah bank termasuk lembaga
keuangan lainnya, huruf c adalah bursa efek, huruf d adalah Pejabat, huruf e adalah
Notaris dan debitur, dan huruf f adalah Notaris.

Setiap orang yang dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang, atau dengan sengaja mencegah, menghalang-
halangi atau menggagalkan tindakan dalam melaksanakan ketentuan undang-
undang yang dilakukan oleh Jurusita Pajak, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda paling banyak Rp 10.000.000,00
(sepuluh juta rupiah).323

E. Bunga Penagihan

Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan, serta Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang
masih harus dibayar bertambah, pada saat jatuh tempo pelunasan tidak atau kurang

320
Pasal 41 ayat (2) UU PPSP
321
Pasal 41A ayat (1) UU PPSP
322
Pasal 41A ayat (2) UU PPSP
323
Pasal 41A ayat (3) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 103



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dibayar, atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu dikenai sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk seluruh masa, yang dihitung
dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal pelunasan atau tanggal diterbitkannya
Surat Tagihan Pajak, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.324

Contoh :

a. Jumlah pajak yang masih harus dibayar berdasarkan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar sebesar Rp10.000.000,00 yang diterbitkan tanggal 7 Oktober 2008,
dengan batas akhir pelunasan tanggal 6 November 2008. Jumlah pembayaran
sampai dengan tanggal 6 November 2008 Rp6.000.000,00. Pada tanggal 1
Desember 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak dengan perhitungan sebagai
berikut:

Pajak yang masih harus dibayar = Rp 10.000.000,00


Dibayar sampai dengan jatuh tempo pelunasan = Rp 6.000.000,00 (-)
Kurang dibayar = Rp 4.000.000,00
Bunga 1 (satu) bulan (1 x 2% x Rp4.000.000,00) = Rp 80.000,00

b. Dalam hal terhadap Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar seperti dalam huruf a
di atas, Wajib Pajak membayar Rp 10.000.000,00 pada tanggal 3 Desember
2008 dan pada tanggal 5 Desember 2008 diterbitkan Surat Tagihan Pajak,
sanksi administrasi berupa bunga dihitung sebagai berikut:

Pajak yang masih harus dibayar = Rp 10.000.000,00


Dibayar setelah jatuh tempo pelunasan = Rp 10.000.000,00
Kurang dibayar = Rp 0,00
Bunga 1 (satu) bulan (1 x 2% x Rp10.000.000,00) = Rp 200.000,00

Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran


pajak juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
per bulan dari jumlah pajak yang masih harus dibayar dan bagian dari bulan
dihitung penuh 1 (satu) bulan.325

Contoh:

324
Pasal 19 ayat (1) UU KUP
325
Pasal 19 ayat (2) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 104



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. Wajib Pajak menerima Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebesar Rp


1.120.000,00 yang diterbitkan pada tanggal 2 Januari 2009 dengan batas
akhir pelunasan tanggal 1 Februari 2009. Wajib Pajak tersebut
diperbolehkan untuk mengangsur pembayaran pajak dalam jangka waktu 5
(lima) bulan dengan jumlah yang tetap sebesar Rp 224.000,00. Sanksi
administrasi berupa bunga untuk setiap angsuran dihitung sebagai berikut:

angsuran ke-1 : 2% x Rp 1.120.000,00 = Rp 22.400,00.


angsuran ke-2 : 2% x Rp 896.000,00 = Rp 17.920,00.
angsuran ke-3 : 2% x Rp 672.000,00 = Rp 13.440,00.
angsuran ke-4 : 2% x Rp 448.000,00 = Rp 8.960,00.
angsuran ke-5 : 2% x Rp 224.000,00 = Rp 4.480,00.

b. Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam huruf a diperbolehkan untuk


menunda pembayaran pajak sampai dengan tanggal 30 Juni 2009.

Sanksi administrasi berupa bunga atas penundaan pembayaran Surat


Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut sebesar 5 x 2% x Rp 1.120.000,00
= Rp 112.000,00.

Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan menunda penyampaian Surat


Pemberitahuan Tahunnan dan ternyata penghitungan sementara pajak yang
terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) UU KUP kurang dari
jumlah pajak yang sebenarnya terutang atas kekurangan pembayaran pajak
tersebut, dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari
saat berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunnan
sampai dengan tanggal dibayarnya kekurangan pembayaran tersebut dan bagian
dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.326

F. Penagihan Seketika dan Sekaligus

Atas jumlah pajak yang masih harus dibayar, yang berdasarkan Surat Tagihan Pajak,
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang

326
Pasal 19 ayat (3) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 105



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

masih harus dibayar bertambah, yang tidak dibayar oleh Penanggung Pajak sesuai
dengan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) atau ayat (3a) UU
KUP dilaksanakan penagihan pajak dengan Surat Paksa sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan. Penagihan pajak dengan Surat Paksa
tersebut dilaksanakan terhadap Penanggung Pajak.327

Tindakan penagihan pajak ditur secara kusus dalam Undang-Undang nomor 19 tahun
2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1997 tentang Penagihan
Pajak Dengan Surat Paksa. Secara garis besar tindakan penagihan adalah sebagai
berikut:

No. Kegiatan Jangka Waktu Keterangan


Penerbitan Dasar
1 1 Bulan
Penagihan
Minimal 7 hari setelah
Penerbitan Surat
2 tanggal jatuh tempo dasar Wajib Pajak
Teguran
penagihan tidak atau
3 Surat Teguran 21 hari kurang
4 Surat Paksa 2 X 24 Jam membayar
Surat Perintah pajak terutang
5 Paling cepat 14 hari
Melakukan Penyitaan
6 Pengumuman lelang Paling cepat 14 hari
7 Lelang

Dikecualikan dari ketentuan tersebut, penagihan seketika dan sekaligus yaitu tindakan
penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak
tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak
dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan Tahun Pajak.328 Penagihan Pajak seketika dan
sekaligus dilakukan apabila:

a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau


berniat untuk itu;
b. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai
dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan atau
pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia;

327
Pasal 20 ayat (1) UU KUP
328
Pasal 20 ayat (2) UU KUP & Pasal 6 ayat (1) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 106



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

c. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan


usaha atau menggabungkan atau memekarkan usaha, atau
memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau yang dikuasainya, atau
melakukan perubahan bentuk lainnya;
d. badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau
e. terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat
tanda-tanda kepailitan.

Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus sekurang-kurangnya memuat:329

a. nama Wajib Pajak, atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak;
b. besarnya utang pajak;
c. perintah untuk membayar;dan
d. saat pelunasan pajak;

Penerbitan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus oleh Pejabat dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut:330

a. diterbitkan sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran;


b. diterbitkan tanpa didahului Surat Teguran;
c. diterbitkan sebelum jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat Teguran
diterbitkan;atau
d. diterbitkan sebelum penerbitan Surat Paksa.

G. Hak Mendahulu

Pada prinsipnya penagihan pajak terjadi karena Wajib Pajak masih mempunyai utang
pajak yang sampai dengan jatuh tempo pembayaran belum dilunasi. Sehingga secara
hukum perdata terdapat hutang piutang dari Wajib Pajak kepada negara. Tidak menutup
kemungkinan Wajib Pajak juga mempunyai hutang kepada pihak lain. Jika terjadi lelang
atas harta Wajib Pajak untuk melunasi hutang-hutangnya maka Negara mempunyai hak
mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak. Dalam hal ini
secara hukum perdata kedudukan negara sebagai kreditur preferen yang dinyatakan
mempunyai hak mendahulu atas barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan

329
Pasal 13 ayat (2) KMK-24/PMK.03/2008
330
Pasal 14 KMK-24/PMK.03/2008

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 107



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

dilelang di muka umum. Pembayaran kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang
pajak dilunasi.331 Hak mendahulu tersebut meliputi pokok pajak, sanksi administrasi
berupa bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak.332

Hak mendahulu untuk utang pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali
terhadap :333

a. biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang
suatu barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak;
b. biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud; dan/atau
c. biaya perkara, yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu
warisan.

Negara sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas
barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan dijual kecuali terhadap biaya perkara
yang semata-mata disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu barang
bergerak dan atau barang tidak bergerak, biaya yang telah dikeluarkan untuk
menyelamatkanbarang dimaksud, atau biaya perkara yang semata-mata disebabkan
oleh pelelangan dan penyelesaian suatu warisan. Hasil penjualan barang-barang milik
Penanggung Pajak terlebih dahulu untuk membayar biaya-biaya tersebut di atas dan
sisanya dipergunakan untuk melunasi utang pajak.334

Hak mendahulu hilang setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal diterbitkan
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak
yang harus dibayar bertambah.335

Perhitungan jangka waktu hak mendahulu ditetapkan sebagai berikut :336

a. dalam hal Surat Paksa untuk membayar diberitahukan secara resmi maka jangka
waktu 5 (lima) tahun dihitung sejak pemberitahuan Surat Paksa; atau

331
Pasal 21 ayat (1) UU KUP
332
Pasal 21 ayat (2) UU KUP
333
Pasal 21 ayat (3) UU KUP & Pasal 19 ayat (6) UU PPSP
334
Penjelasan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP
335
Pasal 21 ayat (4) UU KUP
336
Pasal 21 ayat (5) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 108



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

b. dalam hal diberikan penundaan pembayaran atau persetujuan angsuran


pembayaran maka jangka waktu 5 (lima) tahun tersebut dihitung sejak batas
akhir penundaan diberikan atau sejak tanggal jatuh tempo angsuran terakhir.337

Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit, bubar, atau dilikuidasi maka kurator,
likuidator, atau orang atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan
dilarang membagikan harta Wajib Pajak dalam pailit, pembubaran atau likuidasi
kepada pemegang saham atau kreditur lainnya sebelum menggunakan harta
tersebut untuk membayar utang pajak Wajib Pajak tersebut.338

Putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap segera disampaikan oleh
Pengadilan Negeri kepada Kantor Lelang untuk dipergunakan sebagai dasar
pembagian hasil lelang.339 Sebagai kelanjutan dari penetapan Pengadilan Negeri
yang menentukan pembagian hasil penjualan barang sitaan dengan memperhatikan
hak mendahulu untuk tagihan pajak, apabila putusan dimaksud kemudian telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, Pengadilan Negeri segera mengirimkan
putusannya ke Kantor Lelang untuk dipergunakan sebagai dasar pembagian hasil
lelang.

H. Daluwarsa Penagihan

Penagihan pajak tidak dilaksanakan apabila telah daluwarsa sebagaimana diatur


dalam undang-undang dan peraturan daerah.340 Hak untuk melakukan penagihan
pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak, daluwarsa
setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penerbitan Surat Tagihan
Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.341 Saat daluwarsa penagihan
pajak perlu ditetapkan untuk memberi kepastian hukum kapan utang pajak tersebut
tidak dapat ditagih lagi.

337
Pasal 26 PP 80 Tahun 2007
338
Pasal 21 ayat (3a) UU KUP
339
Pasal 19 ayat (7) UU PPSP
340
Pasal 41 ayat (1) UU PPSP
341
Pasal 22 ayat (1) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 109



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Dalam hal Wajib Pajak mengajukan permohonan pembetulan, keberatan, banding atau
Peninjauan Kembali, daluwarsa penagihan pajak 5 (lima) tahun dihitung sejak tanggal
penerbitan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali.

Daluwarsa penagihan pajak dapat melampaui 5 (lima) tahun atau tertangguh


apabila:342

a. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan dan memberitahukan Surat Paksa kepada


Penanggung Pajak yang tidak melakukan pembayaran utang pajak sampai dengan
tanggal jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan
pajak dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa tersebut.
b. Wajib Pajak menyatakan pengakuan utang pajak dengan cara mengajukan
permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak sebelum tanggal
jatuh tempo pembayaran. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan pajak
dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran atau penundaan pembayaran
utang pajak diterima oleh Direktur Jenderal Pajak.
c. Terdapat Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan yang diterbitkan terhadap Wajib Pajak karena Wajib Pajak
melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dan tindak pidana lain yang dapat
merugikan pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap. Dalam hal seperti itu, daluwarsa penagihan
pajak dihitung sejak tanggal penerbitan surat ketetapan pajak tersebut.
d. Terhadap Wajib Pajak dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan,
daluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal penerbitan Surat Perintah
Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.

I. Gugatan

Gugatan atau Sanggahan adalah upaya hukum terhadap pelaksanaan penagihan pajak
atau kepemilikan barang sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang bersangkutan. Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung pajak terhadap :343

342
Pasal 22 ayat (2) UU KUP
343
Pasal 23 ayat (2) UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 110



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

a. pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau


Pengumuman Lelang;
b. keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak;
c. keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang
ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26; atau
d. penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keberatan yang dalam penerbitannya
tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan hanya dapat diajukan kepada badan
peradilan pajak.

Gugatan atau Sanggahan adalah upaya hukum terhadap pelaksanaan penagihan pajak
atau kepemilikan barang sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang bersangkutan.344 Gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan Surat Paksa,
Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang hanya dapat
diajukan kepada badan peradilan pajak.345 Ketentuan ini dimaksudkan untuk
memberikan hak kepada Penanggung Pajak untuk mengajukan gugatan kepada badan
peradilan pajak dalam hal Penanggung Pajak tidak setuju dengan pelaksanaan
penagihan pajak yang meliputi pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan
Penyitaan atau Pengumuman Lelang.

Gugatan Penanggung Pajak tersebut diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas)
hari sejak Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman
Lelang dilaksanakan.346 Jangka waktu 14 (empat belas) hari untuk mengajukan gugatan
terhadap Surat Paksa dihitung sejak pemberitahuan Surat Paksa kepada Penanggung
Pajak, untuk Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dihitung sejak pembuatan Berita
Acara Pelaksanaan Sita, dan untuk Pengumuman Lelang dihitung sejak diumumkan.
Dengan demikian, lelang tidak boleh dilaksanakan sebelum lewat 14 (empat belas) hari
sejak Pengumuman Lelang.Apabila dalam jangka waktu dimaksud Penanggung Pajak
tidak mengajukan gugatan, maka hak Penanggung Pajak untuk menggugat dinyatakan
gugur.

344
Pasal 1 angka 22 UU PPSP
345
Pasal 37 ayat (1) UU PPSP
346
Pasal 37 ayat (2) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 111



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Dalam hal gugatan Penanggung Pajak dikabulkan, Penanggung Pajak dapat memohon
pemulihan nama baik dan ganti rugi kepada Pejabat.347 Permohonan ganti rugi diajukan
oleh Penanggung Pajak yang gugatannya dikabulkan kepada Pejabat tempat
pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan atau Pengumuman
Lelang dilakukan. Pemulihan nama baik dan ganti rugi yang diberikan hanya dalam
bentuk uang.

Besarnya ganti rugi tersebut paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).348
Perubahan besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1b) ditetapkan
dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala Daerah.349

Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3) dan dalam Pasal 37 ayat (1)
UU PPSP tidak menunda pelaksanaan penagihan pajak.350

J. Sanggahan pihak ketiga

Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita hanya dapat diajukan
kepada Pengadilan Negeri.351 Pengadilan Negeri yang menerima surat sanggahan
tersebut memberitahukan secara tertulis kepada Pejabat.352 Pejabat menangguhkan
pelaksanaan penagihan pajak hanya terhadap barang yang disanggah kepemilikannya
sejak menerima pemberitahuan dari Pengadilan Negeri..353

Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita tidak dapat diajukan
setelah lelang dilaksanakan.354 Pada dasarnya pihak ketiga dapat mengajukan
sanggahan terhadap kepemilikan barang yang disita oleh Jurusita Pajak melalui proses
perdata. Namun, apabila Pejabat Lelang telah menunjuk seorang pembeli sebagai
pemenang lelang dalam proses lelang yang sedang berlangsung, maka sanggahan
tidak dapat diajukan lagi terhadap kepemilikan barang yang telah terjual dimaksud. Hal
ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dan melindungi kepentingan
pembeli lelang karena kepada pihak ketiga telah diberikan kesempatan yang cukup
untuk mengajukan sanggahan sebelum lelang dilaksanakan.

347
Pasal 37 ayat (1a) UU PPSP
348
Pasal 37 ayat (1b) UU PPSP
349
Pasal 37 ayat (1c) UU PPSP
350
Pasal 41 ayat (3) UU PPSP
351
Pasal 38 ayat (1) UU PPSP
352
Pasal 38 ayat (2) UU PPSP
353
Pasal 38 ayat (3) UU PPSP
354
Pasal 38 ayat (4) UU PPSP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 112



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

K. Penghapusan Piutang Pajak

Tata cara penghapusan piutang pajak dan penetapan besarnya penghapusan diatur
355
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Menteri Keuangan mengatur
tata cara penghapusan dan menentukan besarnya jumlah piutang pajak yang tidak
dapat ditagih lagi, antara lain karena:

a. Wajib Pajak telah meninggal dunia dan tidak mempunyai harta warisan atau
kekayaan,
b. Wajib Pajak badan yang telah selesai proses pailitnya, atau
c. Wajib Pajak yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai subjek pajak dan
d. hak untuk melakukan penagihan pajak telah daluwarsa.

Melalui cara ini dapat diperkirakan secara efektif besarnya saldo piutang pajak yang
akan dapat ditagih atau dicairkan.

355
Pasal 24 UU KUP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 113



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

DAFTAR PUSTAKA

UNDANG-UNDANG

1. Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 16 Tahun 2009
2. Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU Nomor 19
Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa
3. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2000 tentang Pengadilan Pajak
4. Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman

PERATURAN PEMERINTAH

1. Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 Tanggal 20 Desember 2000 Tentang
Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 136 Tahun 2000 tanggal 20 Desember 2000 Tentang
Tata Cara Penjualan Barang Sitaan Yang dikecualikan dari penjualan secara lelang
Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 137 Tahun 2000 tentang Tempat dan Tata Cara
Penyanderaan, Reabilitasi Nama Baik Penanggung Pajak, dan Pemberian Ganti
Rugi dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU
Nomor 28 Tahun 2007

KEPUTUSAN/PERATURAN MENTERI KEUANGAN

1. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 563/KMK.04/2000 tanggal


26 Desember 2000 Tentang Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan
Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak
Dengan Surat Paksa.
2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 564/KMK.04/2000 tanggal
26 Desember 2000 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Surat Paksa Dan Penyitaan
Diluar Wilayah Kerja Pejabat Yang Menerbitkan Surat Paksa.
3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK-85/KMK.03/2002 Tanggal 3 Maret 2002
Tentang Tata Cara Penyitaan Kekayaan Penanggung Pajak berupa Piutang dalam
rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.03/2008 Tanggal 6 Pebruari 2008
Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Dengan Surat Pajak dan Pelaksanaan
Penagihan Seketika dan Sekaligus.
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 19/PMK.03/2008 Tanggal 6 Pebruari 2008
tentang Tata Cara Pembetulan Kesalahan Tulis, Keselahan Hitung, dan/atau
Kekeliruan Penerapan Ketentuan Tertentu Dalam Peraturan Perundang-undnagan
Perpajakan
6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.03/2008 Tanggal 6 Pebruari 2008
tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Dengan Surat Paksa dan Pelaksanaan
Penagihan Seketika dan Sekaligus

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 114



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

KEPUTUSAN/PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK

1. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-627/PJ./2001 tanggal 16 Oktober


2002 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pemblokiran Dan Penyitaan Harta Kekayaan
Penanggung Pajak Yang Tersimpan Pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa
2. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-21/PJ./2002 tanggal 1 Januari 2002
Tentang Tata Cara Pemberitahuan Pelaksanaan Penagihan Pajak dengan Surat
Paksa Dan Penyitaan Diluar Wilayah Kerja Pejabat Yang berwenang Menerbitkan
Surat Paksa.
3. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-459/PJ./2002 tanggal 16 Oktober
2002 Tentang Tata Cara Penyitaan Kekayaan Penanggung Pajak Berupa Piutang
dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
7. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-48/PJ/2009 tentang Tata Cara Pembetulan
Kesalahan Tulis, Keselahan Hitung, dan/atau Kekeliruan Penerapan Ketentuan
Tertentu Dalam Peraturan Perundang-undnagan Perpajakan
4. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-49/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengajuan dan
Penyelesaian Keberatan

MEDIA ON LINE

1. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-01.asp
2. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-07.asp
3. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-02.asp
4. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-03.asp
5. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-04.asp
6. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-05.asp
7. http://www.setpp.depkeu.go.id/Ind/Board/Seri-06.asp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 115



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran I

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor :
Lampiran :
Perihal : Permintaan pemblokiran kekayaan
Penanggung Pajak yang tersimpan
Pada bank ..

Kepada Yth.
Sdr. Pimpinan Bank
di-

Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang
Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa jo. Keputusan Menteri
Keuangan Nomor : 563/KMK.04/2000 tentang Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan
Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
dengan ini diminta bantuan Saudara untuk melakukan pemblokiran dan pencatatan atas kekayaan
berupa deposito berjangka/tabungan/saldo rekening koran/giro/bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu*) atas nama :

Nama :
NPWP :
Nomor Rekening :
Alamat :

untuk dijadikan sebagai jaminan pelunasan utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Surat
Paksa Nomor tanggal

Atas bantuan dan kerjasama yang baik dari pihak Saudara, diucapkatn terima kasih.

Kepala Kantor,

NIP

*) coret yang tidak perlu.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 116



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran II

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

SURAT PERINTAH UNTUK MEMBERIKAN KUASA KEPADA BANK UNTUK


MEMBERITAHUKAN SALDO KEKAYAAN PENANGGUNG PAJAK YANG

TERSIMPAN PADA BANK

NOMOR : PRINT -

Diperintahkan kepada :

Nama Wajib Pajak/ Penanggung Pajak :


NPWP :
Alamat :

untuk memberikan kuasa kepada :

Pimpinan Bank :
Alamat Bank :

Untuk memberitahukan saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank kepada :

Nama Jurusita Pajak :


NIP :
Alamat :

sesuai dengan ketentuan Pasal ayat (3) huruf c dan d Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun
2000 tentang Tata Cara Penyitaan dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa jo. Pasal 4
ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 563/KMK.04/2000 tentang Pemblokiran dan
Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank dalam Rangka Penagihan
Pajak dengan Surat Paksa.

, 20..

Jurusita Pajak,

NIP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 117



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran III

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : S- 20
Lampiran :
Perihal : Pelunasan biaya penagihan pajak
dan utang pajak menggunakan
harta yang diblokir

Kepada Yth.
Kepala Kantor Pelayanan Pajak........................
Jl. ............................................
di- ...........................................

Sehubungaa dengan utang pajak kami sebagaimana tercantum dalam Surat Paksa Nomor :
. tanggal .. dengan ini disampaikan bahwa atas utang pajak serta biaya
penagihan pajak tersebut akan kami lunasi dengan menggunakan harta kekayaan yang telah
diblokir, yaitu atas nama:

Nama :
NPWP :
Alamat :

Terlampir kami sampaikan bukti Surat Setoran Pajak yang telah kami tanda tangani.

Demikian disampaikan, atas bantuannya diucapkan terima kasih.

Pemohon,

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 118



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran IV

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001
KUASA MEMBERITAHUKAN SALDO KEKAYAAN
YANG TERSIMPAN PADA BANK .

Pada hari ini . tanggal .. bulan... tahun.

di ..

1. Nama Wajib Pajak/ Penanggung Pajak :


NPWP :
Alamat :

selanjutnya disebut juga Pemberi Kuasa;

2. Nama : Pimpinan Bank


Alamat Bank :

selanjutnya disebut juga Penerima Kuasa;

- bahwa Pemberi Kuasa telah mempunyai utang pajak sebesar Rp


(..)
sebagaimana tercantum dalam Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang
salinannya juga diterima oleh pihak Bank
- bahwa untuk melunasi uang pajak dan biaya penagihan yang tercantum dalam Surat Paksa dan
Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, maka Pemberi Kuasa dengan ini memberi kuasa
kepada Penerima Kuasa :

------------------------------------------------KHUSUS----------------------------------------------------

untuk memberitahukan saldo kekayaan Pemberi Kuasa yang tersimpan pada Bank
dengan nomor rekening ..

kepada :

Nama :
NIP :
Jabatan : Jurusita Pajak Negara
Alamat : Kantor Pelayanan Pajak

Surat Kuasa ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) yang masing-masing dibubuhi materai yang nilainya
cukup dan masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama.

Pemberi Kuasa, Penerima Kuasa,

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 119



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran V

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

BERITA ACARA PENOLAKAN PEMBERIAN KUASA OLEH PENANGGUNG PAJAK KEPADA BANK UNTUK
MEMBERITAHUKAN SALDO KEKAYAAN

PADA BANK KEPADA JURUSITA PAJAK

Pada hari ini tanggal .. bulan ..................... tahun........................., sesuai dengan


ketentuan Pasal 5 ayat (3) huruf c dan d Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang
Tata Cara Penyitaan dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa jo. Pasal 4 ayat (1)
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 563/KMK.04/2000 tentang Pemblokiran dan Penyitaan Harta
Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank dalam Rangka Penagihan Pajak dengan
Surat Paksa, telah disampaikan Surat Perintah Untuk Memberikan Kuasa kepada Bank untuk
Memberitahukan Saldo Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank Nomor : PRINT-
......................... tanggal ................... kepada ............................... Selaku Penanggung Pajak
yang bertempat tinggal di ..

Atas Surat Perintah Untuk Memberikan Kuasa kepada Bank untuk Memberitahukan Saldo
Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank Nomor: PRINT...........................
tanggal..................... yang telah diterimanya pada tanggal ......................... Saudara
...................................... selaku Penanggung Pajak menolak memberikan kuasa dengan alasan
..

Demikian Berita Acara Penolakan Pemberian Kuasa oleh Penanggung Pajak kepada Bank untuk
Memberitahukan Saldo Kekayaan pada Bank kepada Jurusita Pajak ini dibuat dengan sebenarnya
atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan
Penanggung Pajak.

Penanggung Pajak Jurusita Pajak

Materai

Rp. 6.000,-

NIP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 120



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran VI

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : S- 20
Sifat : Segera
Lampiran : 1 (satu) set
Perihal : Pemberitahuan Saldo Kekayaan
Penanggung Pajak yang tersimpan
Pada bank dalam rangka
penagihan
Pajak dengan Surat Paksa

Kepada Yth.
Direktur Jenderal Pajak
c.q. Direktur Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak
Jl. Gatot Subroto No. 40-42
Jakarta 12190

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP..../PJ/2001 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada
Bank dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, bersama ini kami sampaikan konsep
surat Menteri Keuangan kepada Gubernur Bank Indonesia perihal seperti di atas beserta
lampirannya, yaitu :

- fotokopi surat permintaan pemblokiran kepada bank tempat saldo kekayaan Penanggung Pajak
disimpan;
- fotokopi Berita Acara Pemblokiran dari Bank;
- fotokopi Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan serta berita acaranya masing-
masing;
- fotokopi Berita Acara Penolakan Pemberian Kuasa oleh Penanggung Pajak kepada Bank untuk
Memberitahukan Saldo Kekayaan pada Bank kepada Jurusita Pajak.

Demikian disampaikan untuk dimaklumi.

Kepala Kantor,

NIP

Tembusan :

- Kepada Kantor Wilayah . DJP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 121



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran VII

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001
Nomor : S-
Lampiran : -
Perihal : Pemberitahuan saldo kekayaan
Penanggung Pajak yang tersimpan
pada bank dalam rangka penagihan
Pajak dengan Surat Paksa

Kepada Yth.
Gubernur Bank Indonesia
Jl. M.H. Thamrin No. 2
Jakarta

Sehubungan dengan pelaksanaan penagihan pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000 dan Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 tentang Tata Cara
Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, dengan ini disampaikan beberapa haI sebagai berikut :

1. Dalam ketentuan tersebut antara Iain diatur bahwa :


a. Dalam hal Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajaknya, Pejabat (Kepala Kantor Pelayanan Pajak/Kepada Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan) dapat mengajukan kepada pimpinan bank untuk melakukan pemblokiran atas harta kekayaan Penanggung Pajak yaug tersimpan
pada bank. Setelah menerima Berita Acara Pemblokiran dari pimpanan bank, Pejabat memerintahkan kepada Penanggung Pajak untuk memberi
kuasa kepada bank agar memberitahukan saldo kekayaannya yang tersirnpan pada bank.
b. Apabila Penanggung Pajak tidak bersedia memberikan kuasa kepada bank seperti dimaksud dalam huruf a, melalui Menteri Keuangan Pejabat
meminta Gubernur Bank Indonesia untuk memerintahkan bank memberitahukan saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank
dimaksud.
2. Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 di atas yang dilakukan oleh Kepala Kantor Pelayanan
............................................ ternyata Penanggung Pajak (Nama : ............................... NPWP : .......................) tidak barsedia memberitahukan saldo
kekayaannya yang tersimpan pada bank, yang dalam hal ini ada pada:
a. Nama Bank :
Alamat :
No. Rekening :
b. Nama Bank :
Alamat :
No. Rekening :
c. Nama Bank :
Alamat :
No. Rekening :
3. Dalam rangka menjalankan peraturan perundang-undangan perpajakan (law enforcement) dan agar pelaksanaan penagihan dapat berjalan dengan
baik, kami mengharapkan bantuan Saudara untuk memerintahkan bank seperti tersebut dalam butir 2 untuk memberitahukan saldo kekayaan
Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank tersebut kepada Pejabat yaitu:
4. Nama :
Jabatan : Kepala Kantor Pelayanan
Alamat :
Demikian disampaikan, atas bantuan dan kerjasama Saudara kami ucapkan terima kasih.

Menteri Keuangan,

..

NIP

Tembusan Yth. :

1. Direktur Jenderal Pajak;


2. Direktur Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan
Pajak;
3. Direktur Peraturan Perpajakan;
4. Kepala Kanwil
5. Kepala Kantor Pelayanan

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 122



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran VIII

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001
: SP-./WPJ..../KP.../20 20

Nomor
Lampiran : : 1 (satu) set
Hal : Salinan Berita Acara Pelaksanaan
Sita

Kepada Yth.
Sdr

di

Bersama ini kami sampaikan kepada Saudara Salinan Berita Acara Pelaksanaaan Sita :

Nomor :
Tanggal :

yang pelaksanaan sitanya telah dilakukan pada tanggal ...............tahun .....

Demikian disampaikan, untuk dimaklumi.

Kepala Kantor,

NIP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 123



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran IX

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : SP-./WPJ..../KP.../20 20
Lampiran : : 1 (satu) set
Hal : Salinan Berita Acara Pelaksanaan
Sita

Kepada Yth.
Saudara Pimpinan Bank

di

Bersama ini kami sampaikan kepada Saudara Salinan Berita Acara Pelaksanaaan Sita :

Nomor :
Tanggal :
Jurusita :

yang pelaksanaan sitanya telah dilakukan pada tanggal ...............tahun .....

Demikian disampaikan, untuk dimaklumi.

Kepala Kantor,

NIP

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 124



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran X

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : SP-./WPJ../KP../20.. 20
Lampiran : 1 (satu) set SSP
Hal : Pemindahbukuan harta kekayaan
Penanggung Pajak untuk melunasi
Utang pajak dan biaya penagihan
pajak.

Kepada Yth.
Sdr. Pimpinan Bank
Jl.
di-

Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 563/KMK.04/2000


tentang Pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank
dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, dengan ini diminta kepada Saudara untuk
memindahbukukan harta kekayaan Penanggung Pajak atas nama :

Nama :
NPWP :
Alamat :

sejumlah yang tercantum dalam Berita Acara Pelaksanaan Sita Nomor : ............... tanggal
....................... ke Kas Negara. Terlampir kami sampaikan dokumen Surat Setoran Pajak atas
nama Wajib Pajak tersebut untuk bukti pemindahbukuan.

Demikian disampaikan, atas bantuan dan kerja sama Saudara kami ucapkan terima kasih.

Kepala Kantor,

NIP

Tembusan :

- Sdr. ................. (Penanggung Pajak)

di ....................

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 125



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran XI

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : 20
Lampiran :
Perihal : Pelunasan utang pajak dan biaya
Penagihan pajak menggunakan
harta
kekayaan yang tersimpan di Bank
yang
telah disita.

Kepada Yth.
Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Jl.
di-

Sehubungan dengan Berita Acara Pelaksanaan Sita Nomor : tanggal .., bersama ini
kami sampaikan permohonan untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan
menggunakan harta kekayaan yang tersimpan di Bank yang telah disita, yaitu atas nama:

Nama :
NPWP :
Alamat :
Nomor Rekening :
Sebesar : Rp
()

Terlampir kami sampaikan bukti Surat Setoran Pajak yang telah kami tandatangani.

Demikian kami sampaikan dan selanjutnya mohom pemblokiran yang telah dilakukan untuk
dicabut.

Pemohon,

Tindasan :
Pimpinan Bank....................

di

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 126



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran XII
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : 20
Lampiran :
Perihal : Pencabutan Pemblokiran

Kepada Yth.

Saudara Pimpinan Bank .

di

Berhubung dengan telah dilunasinya utang pajak dan biaya penagihan pajak melalui
pemindahbukuan yang dilakukan oleh bank ke Kas Negara/melalui permohonan Penanggung Pajak
*), yaitu atas nama :

Nama :
NPWP :
Nomor Rekening :
Sebesar : Rp
()
Alamat :

dengan ini diminta kepada Saudara untuk mencabut pemblokiran atas rekening Penanggung
Pajak tersebut di atas. Dalam hal jumlah yang telah diblokir lebih besar dari jumlah yang telah
dilunasi agar Saudara juga mencabut pemblokiran tersebut.

Atas bantuan dan kerjasama yang baik, diucapkan terima kasih.

Kepala Kantor,

NIP

*) coret yang tidak perlu

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 127



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran XIII

Keputusan Direktur Jenderal Pajak


Nomor : KEP-627/PJ/2001
Tanggal : 24 September 2001

Nomor : 20
Perihal : Pencabutan Sita

Kepada Yth.

Nama :
NPWP :
Alamat :
di-

Berhubung dengan Saudara telah melunasi tunggakan-tunggakan pajak, sesuai dengan


Pasal 22 Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000, penyitaan atas
barang milik Saudara yang telah dilakukan pada tanggal ....................................... dengan ini
dinyatakan DICABUT.

Demikian agar dimaklumi.

Kepala Kantor,

NIP

Tindasan:

1. Kepala Seksi Penagihan;


2.
3.

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 128



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 1
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK................................

Yth,
Nama : ................................
NPWP : ................................
Alamat : ................................

TEGURAN
Nomor........../WPJ.........../KP........../20...

Menurut tata usaha kami hingga saat ini Saudara masih mempunyai tunggakan pajak sebagai
berikut :

Jenis Tahun Nomor & tanggal STP/SKPKB/SKPKBT/ Tanggal jatuh Jumlah


Pajak Pajak SK. Pembetulan/ SK.Keberatan/ tempo pembayaran tunggakan
Putusan Banding *) pajak
(Rp)

Jumlah Rp.
(........................................................................................................................................
...........................................)

Untuk mencegah tindakan penagihan pajak dengan Surat Paksa berdasarkan Undang-undang
Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah
dengan Undangundang Nomor 19 Tahun 2000 (UU PPSP) maka diminta kepada Saudara agar
melunasi jumlah tunggakan pajak dalam waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak diterbitkannya
Surat Teguran ini.
Dalam hal Saudara telah melunasi tunggakan pajak tersebut di atas, dimohon agar Saudara
segera melaporkan kepada kami (Seksi Penagihan).

......................,.................20....
Kepala Kantor,

.......................................
NIP

PERHATIAN
PAJAK HARUS DILUNASI DALAM WAKTU 21
(DUA PULUH SATU ) HARI
SEJAK DITERBITKANNYA SURAT TEGURAN INI.
SESUDAH BATAS WAKTU ITU, TINDAKAN
PENAGIHAN PAJAK AKAN DILANJUTKAN
DENGAN PENERBITAN SURAT PAKSA.
(Pasal 8 ayat (1) UU PPSP)
(Pasal 6 Kep. Men. Keu. Nomor
561/KMK.04/2000)
*) coret yang tidak perlu

S.5.0.23.04

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 129



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 2
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK................................

SURAT PERINTAH PENAGIHAN SEKETIKA DAN SEKALIGUS


Nomor........../WPJ........../KP........../20...

Berdasarkan ketentuan yang tercanturn dalam Pasal 20 Undang-undang Nornor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah temkhir dengan
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 dan Pasal 6 Undang-undang Nomor 19 Tahun 1997
tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2000, dengan ini diperintahkan kepada:
Nama Wajib Pajak /
:....................................................................................................
Penanggung Pajak
NPWP :....................................................................................................
AIamat :....................................................................................................
Untuk melunasi sekaligus utang pajak sejumlah
Rp...........................................................................................
menurut perincian sebagai berikut :
Jenis Tahun Nomor & tanggal STP/SKPKB/SKPKBT/ Tanggal jatuh Jumlah
Pajak Pajak SK. Pembetulan/ SK. Keberatan/ tempo pembayaran tunggakan
Putusan Banding *) pajak
(Rp)

Jumlah Rp.
(........................................................................................................................................
...........................................)

pada hari...........tanggal...........bulan.................tahun 20.....

......................,.................20....
Kepala Kantor,

.......................................
NIP
*) coret yang tidak perlu

S.5.0.23.05

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 130



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 3
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK..............................

SURAT PAKSA
Nomor........../WPJ........../KP........../20...

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

KEPALA KANTOR PELAYANAN PAJAK

Menimbang bahwa :
Nama Wajib Pajak /
:....................................................................................................
Penanggung Pajak
NPWP :....................................................................................................
AIama t/tempat tinggal :....................................................................................................
Menunggak pajak sebagaimana tercantum di bawah ini :
Jenis Tahun Nomor & tanggal STP/SKPKB/SKPKBT/ Jumlah tunggakan
Pajak Pajak SK. Pembetulan/ SK. Keberatan/ Putusan Banding pajak
*) (Rp)

Jumlah Rp.
(........................................................................................................................................
...........................................)

Dengan ini :
1. memerintahkan Wajib Pajak/Penanggung Pajak untuk membayar jumlah tunggakan pajak
tersebut ke Bank Persepsi/Kantor Pos dan Giro, ditambah dengan biaya penagihan dalam waktu
2 (dua) kali dua puluh empat jam sesudan pemberitahuan Surat Paksa ini.
2. memerintahkan kepada Jurusita Pajak yang melaksanakan Surat Paksa ini atau Jurusita Pajak
lain yang ditunjuk untuk melanjutkan pelaksanaan Surat Paksa untuk melakukan penyitaan
atas barng-barang milik Wajib Pajak/Penanggung Pajak apabila dalam waktu 2 (dua) kali dua
puluh empat jam Surat Paksa ini tidak dipenuhi.

Ditetapkan di
pada tanggal
PERHATIAN
PAJAK HARUS DILUNASI DALAM WAKTU 2 x 24
JAM SETELAH MENERIMA WURAT PAKSA INI. ......................,.................
SESUDAH BATAS WAKTU ITU, TINDAKAN Kepala Kantor,
PENAGIHAN PAJAK AKAN DILANJUTKAN DENGAN
PENYITAAN. .......................................
(Pasal 12 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 1997 NIP
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 19
Tahun 2000).
*) Coret yang tidak perlu

S.5.0.23.06

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 131



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 4
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK..............................

BERITA ACARA PEMBERTAHUAN SURAT PAKSA

Pada hari ini ............ tanggal ............... bulan .......... tahun ............... atas permintaan Kepala
Kantor Pelayanan Pajak yang memilih tempat kedudukan di Kantor Pelayanan Pajak .......... di
....................., saya, Jurusita Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak bertempat kedudukan
di ......................

MEMBERITAHUKAN DENGAN RESMI

Kepada Saudara ..................................................................................................................


bertempat tiggal di...................................................... berkedudukan seagai
..................................... Surat Paksa di sebaliknya ini tertanggal ...................... dan saya,
Jurusita Pajak, berdasarkan kekuatan Surat Paksa tersebut memerintahkan kepada Penanggung
Pajak supaya dalam waktu 2 (dua) kali dua puluh empat jam, memenuhi isi Surat Pakasa dan oleh
karena itu harus menyetor di Bank Persepsi/Kantor Pos dan Giro
......................... sebanyak Rp. ......................... (......................................) dengan
tidak mengurangi kewajiban untuk membayar biaya-biaya penagihan pajak ini dan biaya
selanjutnya, dan jika ia tidak membayar dalam waktu yang telah ditentukan, maka harta
bendanya baik yang berupa barang bergerak maupun barang tidak bergerak akan disita dan dijual
dimuka umum.dijual langsung kepada pembeli dan hasil penjualannya digunakan untuk membayar
uatang pajak, denda, bungadan biaya-biaya yang berhubungan dengan pelaksanaan penagihan
ini.
Saya, Jurusita Pajak, telah menyerahkan salinan Surat ini kepada Wajib Pajak/Penanggung Pajak,
dan saya lakukanditempat tinggal/kedudukan orang yang menanggung pajak.
Penyerahan salinan Surat Paksa dilakukan kepada ............................... bertempat tinggal di
....................... disebabkan .......................................................................

Yang menerima salinan Surat Paksa Jurusita Pajak,

.................................. ..................................
Jabatan NIP

Biaya pelaksanaan Surat Paksa sebagai berikut :


Biaya harian Jurusita Pajak Rp..........................................
Biaya perjalanan Rp..........................................
Jumlah Rp..........................................
*) Coret yang tidak perlu

F.5.0.77.81

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 132



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 5
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK.............................

Jl.......................................... Telpon : .....................


Faks : ......................

....................,...................20...
Nomor : S-
Sifat : Segera
Lampiran : 1 (satu) set
Hal : Pemberitahuan Saldo Kekayaan Penanggung Pajak
yang Tersimpan pada Bank Dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa

Yth.
Direktur Jenderal Pajak
c.q. Direktur Pemeriksaan Penyidikan dan Penagihan Pajak
Jl. Gatot Subroto No.40-42
Jakarta

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-627/PJ/2001 tentang Tata
Cara Pelaksanan pemblokiran dan Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan
pada Bank dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, bersama ini kami sampaikan
konsep surat Menteri keuangan kapda Gubernur Bank Indonesia perihal seperti di atas beserta
lampirannya, yaitu :
- fotokopi surat permintaan pemblokiran kepada bank tempat saldo kekayaan Penanggung Pajak
disimpan;
- fotokopi Berita Acara pemblokiran dari Bank;
- fotokopi Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan serta berita acaranya masing-
masing;
- fotokopi Berita Acara Penolakan pemberian Kuasa oleh PenanggungPajak kepada Bank untuk
memberitahukan Saldo Kekayaan di Bank kepada Jurusita Pajak.

Demikian disampaikan untuk dimaklumi.

Kepala Kantor,

.........................................
NIP

Tembusan :
Kepala Kantor Wilayah ................DJP.

S.5.0.20.81

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 133



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 6
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK.................................

..................................,20.....
Nomor :
Lampiran :
Hal : Permintaan Pemblokiran atas
Rekening Efek yang Tersimpan pada Kustodian

Yth,
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal
di.-
......................................

Sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 denfan
ini diminta bantuan Saudara untuk melkukan pemblokiran Rekening Efek, atas nama :
Nama Wajib Pajak/Penanggung : ..........................................................................
Pajak *)
NPWP : ..........................................................................
Alamat : ..........................................................................
..........................................................................
Nomor Rekening : ..........................................................................

karena yang bersangkutan tidak melunasi utang pajak dan kepada Wajib Pajak/Penanggung
Pajak*) tersebut telah disampiakan Surat Paksa Nomor .......................................... tanggal
.......................................... dengan Berita Acara Nomor ............................. tanggal
.......................................

Demikian atas bantuan dan kerjasama yang baik diucapakan terima kasih.

A.n. Direktur Jenderal Pajak


Kepala Kantor,

.......................................
NIP
Tembusan :
Direktur Pemeriksaan, penyidikan dan Penagihan Pajak

*) coret yang tidak perlu.

S.5.0.24.86

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 134



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 7
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK................................

..................................,20.....
Nomor :
Lampiran :
Hal : Permintaan Pemblokiran dan Keterangan tentang
Rekening Efek yang Tersimpan pada Kustodian.

Yth.
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal
di-
....................................................

Sesuai dengan Ketentuan Pasal 5 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 135 Tahun 2000 dengan
ini diminta bantuan Saudara untuk melakukan pemblokiran Rekening Efek, atas nama :
Nama Wajib Pajak/Penanggung : ..........................................................................
Pajak *)
NPWP : ..........................................................................
Alamat : ..........................................................................
..........................................................................
Nomor Rekening : ..........................................................................

karena yang bersangkutan tidak melunasi untang pajak dan kepada Wajib Pajak/Penanggung
Pajka*) tersebut teleha disampaikan Surat Paksa Nomor ............/WPJ. ......../KP. ...../20.
...tanggal ..........dengan Berita Acara Nomor .............tanggal .........
Untuk keperluan penyitan atas rekening defek tersebut, pemblokiran hendakanya disertai
pemberian keterangan terntang jenis, jumlah dan rincian dari rekening efek yang diblookir
tersebut kepada :
Nama : ............................................
Jabatan : ............................................

Demikian atas bantuan dan kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.

A.n.Direktur Jendaral Pajak


Kepala Kantor,

.....................................
NIP
Tembusan :
Direktur Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagiahan Pajak

S.5.0.24.87

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 135



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 8
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

BERITA ACARA PERSETUJUAN


PENGALIHAN HAK

NOMOR :

Pada hari ini .............. tanggal ............. bulan ............. tahun ............... atas kekuatan Surat
Perintah Melakukan Penyitaan Kepala Kantor Pelayanan Pajak...............Nomor
........../WPJ.................../KP....../20...tanggal ...........telah dilakukan penyitaan terhadap barang-
barang milik Wajib Pajak/Penaggung Pajak :
Nama :
NPWP :
Alamat :

Khusus terhadap barang-barang milik Wajib Pajak/Penanggung Pajak berupa piutag seperti tertera
di bawah ini :
No. Jenis Piutang Nilai Piutang Nama Debitur Keterangan

Jumlah

Wajib Pajak/Penanggung Pajak telah setuju untuk dialihkan hak penagihannya dari Wajib
Pajak/Penanggung Pajak kepada pejabat yang selanjutnya akan :
a. a. dijual oleh Pejabat tersebut kepada pembeli ;atau
b. b. disetor langsung oleh pihak yang berkewajiban membayar utang ke Kasa Negara atas
permintaan Pejabat,

untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak Wajib Pajak/Penanggung Pajak.
Salinan Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak ini disampaikan kepada Wajib Pajak/Penanggung
Pajak dan debitur/para debitur.

Wajib Pajak/Penanggung Pajak Jurusita Pajak

................................ ................................
NIP
Saksi :
1.
................................
2.
................................

F.5.0.24.83

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 136



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 9
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK.................................

Nomor : S-............/WPJ. ..../KP..../20...


Lampiran :
Hal : Pemberitahuan Penyitaan Barang Tidak Bergerak
atas nama Wajib Pajak/Penanggung Pajak *)

Yth. Kepala Kantor BPN/Ketua Pengadilan negeri/


Administrator Pelabuhan .........................................*)
di-...........................

Dengan ini diberitahukan kepada Saudara bahwa barang tidak bergerak berupa
tanah/bangunan/kapal *) yang terletak di............dan terdaftar pada ..........dengan nomor
sertifikat .......tanggal ..........atas nama Wajib Pajak/Penanggung Pajak.
Nama :
NPWP :
Alamat :

Sebagaiman tercantum dalam Berita Acara Pelaksanaan Sita


Nomor.................tanggal..............terlampir, berada dalam penyitaan sebagai jaminan atas
utang kepada negara oleh Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang bersangkutan. Diharapkan bantuan
Saudara untuk mencatatnya dalam Buku Pendaftaran Tanah/Bangunan/Kapal *)

Atas bantuan dan kerjasama yang baik dari pihak Saudara, diucapkan terima kasih.

Kepala Kantor,

.............................
NIP

*) coret yang tidak perlu

S.5.0.24.88

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 137



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 10a
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR............../KMK.03/20..
TENTANG
PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK DI KANTOR WILAYAH ........
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK...................

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan penatausahaan Direktorat Jenderal Pajak, terdapat piutang pajak tahun .... sampai dengan
tahun .... di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak .................. yang tidak dapat ditagih lagi karena telah
daluwarsa;
b. bahwa seSLiai dengan ketentuan Pasal 22 dan Pasal 24 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun
2000, piutang pajak sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu dihapuskan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan
Menteri Keuangan tentang Penghapusan Piutang Pajak di Kantor Wilayah .................. Direktorat Jenderal Pajak
.................;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara
Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000, (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 126, Tarnbahan Lembaran Negara
Nomor 3984);
2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 50,
Tambahan Lembaran Negara 3263) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun
2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3985);
3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara 3264) sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 128,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3986);
4. Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001;
5. Keputusan Menteri keuangan Nomor 565/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan
Penetapan Besarnya Penghapusan;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK KANTOR
WILAYAH ......... DIREKTORAT JENDERAL PAJAK ..................................
PERTAMA : Menghapus piutang pajak tahun .....sampai dengan tahun .... di Kantor Wilayah.........Direktorat Jenderal
Pajak....................sebesar Rp............................ (...........................................................), sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran Keputusan Menteri Keuangan ini.

KEDUA : Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan menetapkan rincian atas besarnay pengahapusan piutang pajak
sebgaimana dimaksud dalam Dktum PERTAMA.

KETIGA : Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapakan.

Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.


1. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;
2. Kepala Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan;
3. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;
4. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;
5. Direktur Jenderal Pajak;
6. Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen Keuangan;

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 138



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

7. Direktur Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak, Direktorat Jenderal Pajak


8. Direktorat Pajak Penghasilan, Direktorat Jenderal Pajak;
9. Direktorat Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Tidak Langsung Lainnya, Direktorat jenderal Pajak;
10. Kepala Kantor Wilayah.........DJP........................................

Ditetapkan di J A K A R T A
pada tanggal
MENTERI KEUANGAN,

.........................................

S.5.0.41.81

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 139



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 11
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK................................

NOTA PENGHITUNGAN STP


BUNGAN PENAGIHAN

Untuk Masa Tgl. : ................................... Nomor STP : ...................................


s/d Tgl. : ................................... Tgl. Pengeluaran : ...................................
NPWP : ................................... Tgl. Pembayaran : ...................................
terakhir

Nama Wajib Pajak : ...................................


Pekerjaan/Usaha : ...................................
Alamat : ...................................

DASAR PENGELUARAN STP (Pasal 19 (1) / 19 (2) KUP)


No. Nomor : ...................................
STP/SKPKB/SKPKBT
Tanggal : ...................................
Jenis/Masa Pajak : ...................................
Tagihan (Pokok Pajak) : ...................................

BUNGA YANG MASIH HARUS DIBAYAR

Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................


Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa.................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ...........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Masa..................s/d..................=...............x 2% x Rp........................= Rp ..........................
Jumlah yang harus dibayar = Rp ..........................
===============
( .....................................................................................................................................)

Keterangan Dihitung Diperiksa Ditetapkan Nomor Diketik Dikol H.B. Ekspedisi Kartu Arsip

F.5.0.77.01

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 140



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 12
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

SURAT TAGIHAN
BUNGA PENAGIHAN
.............................................

DEPARTEMEN KEUANGAN Nomor SPT :


Masa Bunga dari
REPUBLIK INDONESIA Tanggal pengeluaran
.........................
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK :....................
s.d.
KANTOR PELAYANAN Tanggal pelunasan terakhir
.........................
PAJAK...................... :....................

DASAR PENGELUARAN STP (Pasal 19. (1)/19 (2) KUP.


STP/SKPKBT Nomor : ......................
Tanggal : ......................
Jenis Pajak : ......................
Tahun/Masa Pajak : ......................
Tagihan (Pokok Nama WP :.............................
: ......................
Pajak) NPWP :.............................
Bunga yang masih harus dibayar : Pekerjaan/Usaha:.............................
....X 2% X Rp...........................= Rp........................... Alamat :.............................
(...............................................................................)

Perhatian : Kepala Kantor,


- Gunakan formulir Surat Setoran Pajak bentuk
F.5.0.32.81 untuk pembayarannya. ..............................
- Bayarlah pada waktunya untuk menghindarkan NIP
Penagihan Paksa berdasarkan Undang-undang No. 19
tahun 2000.
- Apabila tidak dapat membayar sekaligus, dapat
mengajukan angsuran paling lambat 15 hari sebelum
saat jatuh tempo pembayaran utang pajak berkahir.

F.5.0.23.02

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 141



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 13
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTUR JENDERAL PAJAK
______________________________________________

Nomor :
Pokok : Usulan Panghapusan Pitang Pajak Tahun
Tahun .............................. Di Kantor
Wilayah .........................................
Lampiran :

Yth. Menteri Keuangan


Republik Indonesia
Jakarta

1. Memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum di dalam pasal 5 Keputusan Menteri Kuangan


Nomor : 565/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan
Besarnya Penghapusan bersama ini dengan hormat kami sampaikan Daftar Rekapitulai
Panghapusan Piutang Pajak Tahun .......... ( bentuk D. 5. 0. 41.81) dari Kantor Wilayah
................DJP dengan jumlah piutang pajak yang diusulkan untuk dihapuskan sebasar RP
..................................... (...................................................................)
2. Piutang-piutang tersebut diatas setelah dilakukan penelitian administrasi/pemeriksaan
setempat, ternyata tidak dapat ditagih lagi karena :
2.1.....................................................................................................................
2.2.....................................................................................................................
2.3.....................................................................................................................
dst.
3. Untuk maksud di atas, bersama ini kami lampirkan :
3.1.Konsep Surat KeputusanMenteri Keuangan RI tentang Penghapusan Piutang Pajak di Kantor
Wilayah .....................(bentuk S.5.0.41.81).
3.2.Konsep Daftar Rekapitulasi Piutang Pajak di Kantor Wilayah .....................(bentuk
D.5.0.41.81)

Demikian mohon persetujuan dan Keputusan bapak.

Direktur Jenderal,

............................
NIP

S.5.0.04.01

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 142



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 14
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

KEPADA YTH,
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPALA KANTOR WILAYAH
DIREKTUR JENDERAL PAJAK .........DJP........
KANTOR PELAYANAN PAJAK ................... DI
........................

DAFTAR PENCAIRAN TUNGGAKAN PAJAK


100 WP PENUNGGAK PAJAK TERBESAR
BULAN : ...............TAHUN : .............

NAM STP/SKPK
A B/SK JUMLA
JUMLAH
DAN PKBT/SK H TINDAKAN PENAGIHAN SISA
JEN TAH PEMBAY
NO. ALAM PEMB/SK TUNGG (TANGGL) TUNGGA
NP IS UN ARAN KE
UR AT KEB/PUT. KAN KAN
WP PAJ PAJA PAJAK T.
UT WAJI BANDUNG AWAL AKHIR
AK K BULAN
B BULAN BULAN
PEN PELA INI
PAJA INI
K S SP G. K.
NO. TGL SP
T MP LELA LELA
NG NG

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) ( (1 (11 (12) (13) (14) (15) (1
9 0) ) 6)
)
1.

100
.
Jumlah

Catatan : SKPKB dan SKPKBT diartikan juga sebagai SKP dan SKPT.
.............................................................
KEPALA KANTOR PELAYANAN
PAJAK..............

NIP....................................

D.5.0.21.02

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 143



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 15
Keputusan Direktur Jenderal
Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK.............................

SURAT TAGIHAN BIAYA PENAGIHAN LAIN-LAIN


Nomor........../WPJ.........../KP........../20...

Sebagai pelaksanaan dari Surat Paksa Nomor ...............................tanggal.......................


kepada Wajib Pajak/Penanggung Pajak :
NPWP :
Nama : ....................................................................................................................
Alamat : ....................................................................................................................
....................................................................................................................

agar menyetor biaya penagihan pajak negara ke Kantor Kas Negara atau Kantor pelayanan Pos
dan Giro dengan menggunakan Surat Setoran Penerimaaan Negara Bukan Pajak (SSBP).

Jumlah biaya penagihan dengan perincian sebagai berikut :

1. Biaya pendaftaran barang sitaan Rp............................


2. biaya iklan Rp............................
3. Biaya penyimpanan/pemeliharaan barang sitaan Rp............................
4. Biaya lain-lain Rp............................
Jumlah Rp............................

Selambat-lambatnya tanggal .....................20......


............................,......................20.........

Kepala Kantor,

................................
NIP

S.5.0.23.85

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 144



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 16
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : ...................
TANGGAL : ...................

DAFTAR REKAPITULASI PIUTANG PAJAK DI KANTOR WILAYAH ......... DJP ..................


DARI TAHUN ............ S/D .......... YANG DIHAPUSKAN

KANTOR TAHUN PAJAK


PELAYANAN
NO. JUMLAH
PAJAK/JENIS .....S/D.... ...... ..... ..... .... ....
PAJAK
1 2 3 4 5 6 7 8 9

JUMLAH

MENTERI KEUANGAN

.....................................

D.5.0.41.81

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 145



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 17a
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PEMERIKSAAN DAN PEYIDIKAN PAJAK/
KANTOR PELAYANAN PAJAK *)............................

DAFTAR HARTA KEKAYAAN PENANGGUNG PAJAK (PP)

Nama PP :
NPWP :
Alamat :
A. Kendaraan
Taksiran
No. Jenis Kendaraan No. STNK No.BPKB Terletak di Keterangan
harga
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

B. Uang Tunai Dan Mata Uang Asing


No. Jenis Mata Uang Pecahan Jumlah Lembar Jumlah Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

C. Emas
No. Jenis Jumlah Perkiraan Harga Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

D. Surat Berharga yang Tersimpan pada Bank


(Deposito Berjangka, Tabungan, Saldo Rekening Koran, Giro atau bentuk lainnya)
Nomor Nama dan Alamat
No. Jenis Surat Berharga Nilai Nominal Keterangan
Rekening Bank
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 146



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 17b
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

E. Surat Berharga yang diperdagangkan/tidak diperdagangkan du Bursa Efek


(Obligasi, Saham dan sejenisnya)
No. Surat Perkiraan Nilai
No. Jenis Surat Berharga Nilai Nominal Keterangan
Berharga Pasar
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah

F. Piutang
No. Jenis Piutang Nilai Piutang Nama Debitur Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

G. Penyertaan Modal
Perusahaan Tempat
No. Jenis/Bentuk Besar Penyertaan Keterangan
Penyertaan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

H. Tanah dan atau Bangunan


Nilai Jual Objek Pajak Nilai
No. Tanah dan atau Bangunan Terletak di Keterangan
(NJOP) Pasar
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

Pemeriksa,

..........................
NIP

*) Coret yang tidak perlu

D.5.0.77.83

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 147



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 18a
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PEMERIKSAAN DAN PEYIDIKAN PAJAK/
KANTOR PELAYANAN PAJAK *) ............................

DAFTAR HARTA KEKAYAAN WAJIB PAJAK


Nama :
WP
NPWP :
Alamat :
1. Barang bergerak
A. Kendaraan
Taksiran
No. Jenis Kendaraan No. STNK No.BPKB Terletak di Keterangan
harga
1.
2.
3.
4.
Jumlah Rp
B. Uang Tunai
No. Jenis Mata Uang Jumlah Keterangan
1.
2.
3.
4.
Jumlah Rp
B. Emas
No. Jenis Jumlah Perkiraan Harga Keterangan
1.
2.
3.
4.
Jumlah Rp
D. Surat Berharga yang Tersimpan pada Bank
(Deposito Berjangka, Tabungan, Saldo Rekening Koran, Giro atau bentuk lainnya
yang dipersamakan dengan itu)
Nama dan Alamat
No. Jenis Surat Berharga No Rekening Nilai Nominal Keterangan
Bank
1.
2.
3.
4.
Jumlah Rp
E. Surat Berharga yang diperdagangkan/tidak diperdagangkan di Bursa Efek
(Obligasi, Saham dan sejenisnya)
No. Surat Perkiraan Nilai
No. Jenis Surat Berharga Nilai Nominal Keterangan
Berharga Pasar
1.
2.
3.
Jumlah Rp

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 148



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 18b
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal: 12 Nopember 2002

F.Piutang
No. Jenis piutang Nilai Piutang Nama Debitur Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

G. Penyertaan Modal
Perusahaan Tempat
No. Jenis/Bentuk Besar Penyertaan Keterangan
Penyertaan
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

2. Barang tidak bergerak (Tanah dan atau Bangunan)


Nilai Jual Objek Pajak
No. Tanah dan atau Bangunan Terletak di Nilai Pasar Keterangan
(NJOP)
1.
2.
3.
4.
5.
Jumlah Rp

Catatan :
Jenis harta dan kolom-kolom diatas dapat disesuaikan dengan usaha Wajib Pajak

Pemeriksa,

.................................
NIP

*) Coret yang tidak perlu

D.5.0.77.84

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 149



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 19
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK...............................

PETIKAN
SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR...................................................

TENTANG

PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Membaca : dsb:
Menimbang : a. bahwa tata usaha piutang pajak yang baik harus dapat memberikan gambaran
angka-angka secara benar dan lengkap;
b. bahwa setelah diteliti ternyata piutang pajak untuk jenis
pajak................................tahun ..........pada Kantor Pelayanan Pajak
..................... atas nama Wajib Pajak .......................... NPWP.......................
sejumlah Rp .........................................
(........................................................................), sebagaimana diusulkan
oleh Direktur Jenderal Pajak dalam suratnya tersebut diatas tidak dapat ditagih
lagi;
c. bahwa berhubung dengan itu perlu ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan
tentang Penghapusan Piutang Pajak.
Mengingat : dsb;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan: KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGHAPUSAN


PIUTANG PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK...........................

Pasal 1

(1) Dsb.
(2) Perincian penghapusan piutang pajak menurut jenis pajak, nama Wajib Pajak
dan tahun pajak adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran keputusan ini .

Pasal 2

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bilamana di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diadakan pembetulan
seperluanya.

Petikan sesuai dengan salinan Ditetapkan di Jakarta


KEPALA KANTOR PELAYANAN PAJAK pada tanggal
...................................................... ttd.
MENTERI KEUANGAN
................................................
NIP

S.5.0.77.81

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 150



BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK AGUS SUHARSONO

Lampiran 20
Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-474/PJ/2002
Tanggal : 12 Nopember 2002

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR PELAYANAN PAJAK...............................

SURAT PERINTAH PENELITIAN SETEMPAT


UNTUK PENAGIHAN PAJAK NEGARA
No. .............../WPJ. ....../KP. ......./20.....

Diperintahkan kepada :
Nama : ........................................................................................................
Pangkat/Gol.: ........................................................................................................

untuk melakukan penelitian setempat mengenai penagihan pajak negara atas nama Wajib Pajak
atau Penanggung Pajak :
Nama :........................................................................................................
NPWP :........................................................................................................
Alamat :........................................................................................................
........................................................................................................

.................,....
................20...
.
Kepala Kantor,

......................
......................
..
NIP

DITERIMA:
:
Tanggal
..........................................
:
Nama
..........................................
:
Alamat
..........................................
Tanda :
Tangan ..........................................

S.5.0.04.01

KEBERATAN, BANDING DAN PENAGIHAN@DTSDASARPAJAKI Hal | 151