Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi

Fibroblast di orbita menyebabkan reaksi imun ini berjalan terus dengan jalan
melindungi sel T yang menginfiltrasi orbita dari terjadinya apoptosis. Sel-sel
praediposit yang merupakan bagian dari fibroblast orbita ini di bawah pengaruh
hormone akan mengalami diferensiasi menjadi sel-sel adiposity dan menyebabkan
peningkatan volume jaringan lemak retro-orbita.
Gejala pada oftalmopati graves adalah perubahan pada kelompok mata (interaksi
pada kelompok mata atas) dapat terjadi oleh karena beberapa mekanisme, di
antaranya overaction dari otot levator, inflamasi pada jaringan lunak mata (epifora,
fotofobia, nyeri retroorbita), proptosis (eksoftalmus > 2 mm), gangguan pada kornea
dan disfungsi nervus optikus.

Penatalaksanaan
Gangguan kelenjar tiroid berupa hipertiroidisme dapat di obati dengan beberapa
cara berikut :
1. Terapi obat
Karbimazol menurun sintesis hormone tiroid. Dosis awal 40-60 mg/hari,
kemudian di kurangi sampai tercapai dosis pemeliharaan. Dosisnya dititrasi
sesuai dengan fungsi tiroid dan di lanjutkan selama 18 bulan. Pendekatan
alternative adalah memberikan karbimazol menyebabkan agranulositos. Pada
0.1% kasus harus segera dihentikan apabila muncul sakit tenggorokan atau
demam.
2. Pengobatan dengan yodium radioaktif
Indikasinya untuk pasien umur 35 tahun/ lebih, hipertiroidisme yang kambuh
setelah di operasi, goiter multinodular toksik, dan tidak mampu/ tidak mau
pengobatan dengan obat anti tiroid.
3. Pembedahan
Tiroidektomi untuk struma multinodular, adenoma toksik atau relaps penyakit
graves setelah terapi anti tiroid. Risikonya kecil tetapi termasuk kelumpuhan
pita suara, hipotiroid, dan hipoparatiroid.
4. Terapi oftalmopati akibat tiroid.
a. Suportif : posisi kepala lenih tinggi daripada kaki, airmata buatan,
kacamata prima prisma untuk mengatasi diplopia.
b. Definitif : terapi dengan steroid dosis tinggi dan imunosupresan lain (untuk
dekompresi bola mata), dekompresi bola mata dengan bedah atau
radioterapi bola mata.

Komplikasi
1. Krisis tiroid/ tirotoksikosis
Suatu kondisi keadaan ketika tiba-tiba terjadi aktifitas kelenjar tiroid yang
sangat berlebihan. Krisis tiroid merupakan suatu keadaan darurat yang
sangat berbahaya dan memerluka tindakan segera.
2. Hipertermia
3. Gagal jantung
4. Edema paru
5. Syok

Pengkajian
Pengkajian pada pasien akan di dapati beberapa gejala berbeda pada setiap sistem.
Berikut adalah gejala gejala yang di maksud:
1. Sistem neurologi
Pada hipertiroidisme akan di dapati gejala tremor, insomnia, labilitas emosi,
diplopia, reflex tendon profunda cepat, kelelahan berat, bicara cepat dan
parau, konnfusi, gelisah, peka rangsang (hipereksitabilitas), mudah
merasakhawatir/gelisah, hilang ingatan, mudah terdikstraksi, eksoftalmus
(mata menonjol seperti orang terkejut), dan perilaku manic. Sementara pada
krisis tiroid gejalanya berupa kegelisahan yang ekstrem. Konfusi/disorientasi
psikosis, apatis, stupor/ delirium dan koma. Gejala pada mata berupa iritasi
pada konjuntiva, mata besar dan menonjol (eksoftalmus), edema preorbital,
tremor kelopak mata. Kelemahan/paralisis otot ekstraokuler dan fotofobia.
2. Sistem kardiovaskular
Pada hipertiroidisme akan di dapati gejala palpitasi, nadi cepat dan kuat,
peningkatan nadi di sertai dekompensasi kordis, tekanan nadi lebar, nadi
tidak teratur/ disritmia, nyeri dada, mur mur jantung sistolik, edema, irama
gallop, sirkulasi kolaps. Kemudian pada krisis tiroid akan di dapati
diaphoresis/ keringatan berlebihan, takikardia, fibrilasi atrium, nadi lemah, dan
hipotensi.

3. Sistem pernapasan
Pada hipertiroidisme gejalanya berupa dipsnea, peningkatan kedalaman, dan
kecepatan pernapasan. Sementara pada krisis tiroid bisa terjadi edema paru.
4. Sistem musculoskeletal
Edema non pitting terutama daerah pretibial, atrofi otot, osteoporosis dan
fraktur, serta kelemahan otot.
5. Sistem gastrointestinal
Gajalanya berupa peningkatan nafsu makan tetapi BB turun, diare, konstipasi,
bising usus hiperaktif, urine dalam jumlah banyak, kehausan, mual dan
muntah.
6. Sistem metabolic
Berkeringat berlebihan, sensitivitas terhadap panas/ tidak tahan panas, suhu
meningkat di atas 37-40C, peningkatan toleransi terhadap dingin,
pembesaran kelenjar tiroid, dan bruit di leher.
7. Sistem integument
Pada kulit akan di dapati gejala berupa kulit yang teraba halus, hangat,
lembap, bercahaya, kemerahan, hiperpigmentasi tepalak tangan dan pruritus.
Pada rambut akan terjadi rambut menipis, halus, lurus, dan kulit kepla
berminya. Pemisahan kuku dari bantalan kuku.
8. Sistem reproduksi
Oligomenore, amenore, libido berkurang, fertilitas menurun, ginekomastia
pada pria, impotensia merupakan gejala-gejala yang sering muncul pada
sistem reproduksi.