Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga tugas laporan tutorial 7 tentang Gigi Protesa Goyang tidak
Harus Dicabut dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini melibatkan
bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat
penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. drg. Rendra Christedy P. MDSc selaku tutor yang telah membimbing jalannya
diskusi tutorial dan memberi masukan kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

Mengingat proses pembuatan karya tulis ilmiah ini dirasa masih jauh dari
kesempurnaan, kami selalu membuka diri untuk menerima kritik dan saran. Selanjutnya,
semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Aamiin.

Jember, 29 Mei 2017


Kelompok VI

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................... 1


Daftar Isi .............................................................................................................. 2
Skenario ................................................................................................................ 3
Step 1 .................................................................................................................... 3
Step 2 .................................................................................................................... 3
Step 3 .................................................................................................................... 4
Step 4 .................................................................................................................... 7
Step 5 .................................................................................................................... 7
Step 7 .................................................................................................................... 8
1. Mampu menjelaskan pemeriksaan tambahan dan gambaran radiografi,
etiologi dan pengertian kelainan yang terjadi di sekitar implant tersebut
...8
2. PR.19
3. Mampu menjelaskan tentang macam dan pertimbangan perawatan seperti
diskenario.22

Daftar Pustaka..26

2
Skenario
Gigi Protesa Goyang tidak Harus Dicabut
Penderita perempuan usia 40 tahun datang ke praktek dokter gigi dengan
keluhan gusi disekitar gigi geraham belakang kiri bawah sering berdarah. Pada
pemeriksaan intraoral ditemukan bahwa gigi 36 telah terpasang protesa implant, dengan
goyang derajat satu, jaringan gingival nampak kemerahan dan mudah berdarah. Pada
pemeriksaan kedalaman probing 4 mm juga di region tersebut didapatkan banyak debris
dan plak. Menurut dokter gigi terjadi kelainan keradangan di sekitar implant gigi,
sehingga perlu pemeriksaan penunjang dan tindakan perawatan secara khusus.

Step 1
Identifikasi Kata Sulit

1. Protesa implant
Alat yang ditanam secara bedah pada tulang rahang sebagai akar pengganti
untuk gigi tiruan atau gigi tiruan jembatan. Bagian-bagian dari implant yaitu
badan implant, healing cup, abutment dan mahkota.

Step 2

1. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari pemasangan protesa implant?


2. Apa pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan pada kelainan di
skenario?
3. Apakah ada pengklasifikasian untuk keradangan pada daerah sekitar
implant?
4. Apa penyebab kelainan di skenario selain dari pemasangan implant?
5. Apa diagnosa kelainan di skenario? Bagaimana pencegahan untuk kelainan
tersebut?
6. Bagaimana prosedur perawatan pasien yang mengalami kelainan di
skenario?

3
Step 3

1. Apa saja indikasi dan kontraindikasi dari pemasangan protesa implant?


Indikasi pemasangan protesa implant:
Pasien dengan umur diatas 16 tahun
Pasien dengan tingkat kekooperatifan yang tinggi
OH pasien baik
Pasien dengan atrofi tulang rahang
Pasien dengan keadaan kehilangan gigi (agenesis)

Kontraindikasi pemasangan protesa implant:


Pasien dengan kelainan pembekuan darah
Pasien dengan OH buruk
Umur pasien dibawah 16 tahun
Pasien dengan kelainan tulang
Pasien yang baru saja dilakukan perawatan bedah (contoh: bedah
tumor rahang)
Pasien dengan kebiasaan buruk
Pasien dengan gangguan mental
Pasien dengan penyakit osteomilitis

2. Apa pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan pada kelainan di


skenario?
Sebelum dilakukan pemeriksaan penunjang, dilakukan pemeriksaan klinis
yang meliputi ada tidaknya kemerahan, supurasi, bengkak, mobilitas implant
maupun gigi disekitarnya, probing depth dan bleeding on probing. Baru
setelah dilakukan pemeriksaan klinis, untuk menegakkan diagnosa,
dilakukan pemeriksaan penunjang menggunakan radiografi.
Teknik radiografi yang bisa dilakukan meliputi foto periapikal, panoramik,
oklusal serta sefalometri. Radiografi digunakan untuk mengevaluasi
ketinggian tulang disekitar implant, memperoleh informasi kekuatan tulang

4
(kualitas dan kuantitas tulang), mengetahui ada tidaknya kelainan
periodontal.
Pada pasien yang mengalami keradangan didaerah sekitar implant-nya, akan
ditemukan gambaran radiolusen disekitar implant, yang diduga merupakan
jaringan granulasi yang terbentuk karena adanya inflamasi.

3. Apakah ada pengklasifikasian untuk keradangan pada daerah sekitar


implant?
Ada. Untuk pengklasifikasiannya sebagai berikut:
a. Mild : Probing depth 4 mm, ada kehilangan tulang alveolar sebesar
25% dari panjang implant gigi.
b. Moderate : Probing depth 6 mm, ada kehilangan tulang alveolar
sebesar 25-50%
c. Severe : Probing depth 8 mm, ada kehilangan tulang alveolar sebesar
50% dari panjang implant gigi.
Pada di skenario, diklasifikasikan sebagai mild, dikarenakan probing
depth-nya masih sedalam 3 mm.

4. Apa penyebab kelainan di skenario selain dari pemasangan implant?


a. Bakteri plak
Penyebab utama adanya keradangan seperti yang terjadi pada kasus di
skenario dikarenakan bakteri plak. Bakteri plak yang disebabkan dari
oral hygiene pasien yang buruk, memicu terjadinya inflamasi.

Kondisi yang memperparah terjadinya keradangan yaitu:

b. Faktor biomekanis, dimana apabila ada beban kunyah, beban tersebut


diterima langsung oleh tulang. Hal itu akan mempercepat terjadinya
kerusakan tulang, ditambah lagi, proses penyembuhan pada tulang
tergolong cukup sulit.
c. Kualitas tulang yang buruk. Kualitas tulang yang buruk akan lebih cepat
mengalami kerusakan tulang dibandingkan pada tulang dengan kualitas
yang baik.

5
Kualitas tulang dibagi sebagai berikut:
1. Keras : osteointegrasi 5 bulan
2. Tidak sekeras pertama : osteointegrasi 4 bulan
3. Kepadatan tulang tidak sekeras kedua : osteointegrasi 6 bulan
4. Kurang keras : osteointegrasi 8 bulan
d. Beban kunyah yang tinggi. Beban kunyah akan langsung diterima tulang.
Apabila beban kunyah tersebut tinggi, tentu akan mempercepat
terjadinya kerusakan tulang.

5. Apa diagnosa kelainan di skenario? Bagaimana pencegahan untuk kelainan


tersebut?
Diagnosa kelainan di skenario adalah periimplanitis, yaitu keradangan yang
terjadi pada daerah di sekitar implant. Periimplanitis melibatkan kerusakan
pada tulang pendung implant.

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah kondisi di skenario adalah


dengan:

a. Pencegahan dari operator: memperhatikan teknik preparasi, bur yang


digunakan masih dalam kondisi baik, penempatan implant harus pas,
anamnesis yang dilakukan terhadap pasien harus benar.
b. Pencegahan dari pasien: pasien diharuskan menjaga kebersihan rongga
mulutnya dengan baik, konsumsi makanan dan minuman yang kaya
kalsium untuk mencegah kerusakan tulang, perhatikan usia pasien saat
pemasangan.

6. Bagaimana prosedur perawatan pasien yang mengalami kelainan di


skenario? (masuk LO)

6
Step 4

Pemeriksaan Klinis

Kemungkinan dan Pertimbangan dan


faktor etiologi Pemeriksaan
penunjang

Periimplantitis

Perawatan:
a. Rencana, macam perawatan
b. Peralatan yang digunakan

Fase pemeliharaan

Step 5
Learning Objective

1. Mampu menjelaskan pemeriksaan tambahan dan gambaran radiografi, etiologi


dan pengertian kelainan yang terjadi di sekitar implant tersebut.
2. Mampu menjelaskan tentang macam dan pertimbangan perawatan seperti di
skenario.

PR

1. Pada faktor biomekanis tinggi (pada kasus seperti trauma for occlusal) pada
implant, bisakah bakteri masuk dan mempengaruhi terjadinya keradangan?
2. Apa saja faktor lain yang mempengaruhi kelainan di skenario selain pemasangan
implant?
3. Pada periimplanitis, apa yang terjadi di dalam soket? Mekanisme kerusakan
jaringannya seperti apa?

7
Step 7

1. Mampu menjelaskan pemeriksaan tambahan dan gambaran radiografi, etiologi


dan pengertian kelainan yang terjadi di sekitar implant tersebut.
1.1 Bagian-bagian Implan
Bagian-bagian Implan
Menurut Glumphy dan Larsen (2003) Implan gigi terdiri dari beberapa
komponen, yaitu :
1. Badan Implan
Merupakan bagian implan yang ditempatkan dalam tulang. Komponen ini
dapat berupa silinder berulir atau tidak berulir, dapat menyerupai akar atau
pipih. Bahan yang digunakan bisa terbuat dari titanium saja atau titanium
alloy dengan atau tanpa dilapisi hidroksi apatit (HA). Permukaan implan
yang paling banyak digunakan ada tiga tipe yaitu, plasma spray titanium
dengan permukaan yang berbentuk granul sehingga memperluas permukaan
kontaknya, machine finished titanium yang merupakan implan bentuk screw
yang paling banyak digunakan dan tipe implan dengan lapisan permukaan
hidroksiapatit untuk meningkatkan osseointegrasi.
2. Healing Cup
Merupakan komponen berbentuk kubah yang ditempatkan pada permukaan
implan dan sebelum penempatan abutment. Komponen ini memiliki panjang
yang bervariasi antara 2 mm sampai 10 mm
3. Abutment
Abutment adalah bagian komponen implan yang disekrupkan dimasukkan
secara langsung ke dalam badan implan.Dipasangkan menggantikan
healling cup dan merupakan tempat melekatnya mahkota porselin. Memilih
permukaan yang halus terbuat dari titanium atau titanium alloy, panjang dari
1 mm sampai 10 mm.
4. Mahkota
Merupakan protesa gigi yang diletakkan pada permukaan abutment dengan
sementasi (tipe cemented) atau dengan sekrup (tipe screwing) sebagai
pengganti mahkota gigi dan terbuat dari porselen. Pada prinsipnya implan

8
gigi memerlukan bahan yang dapat diterima jaringan tubuh, cukup kuat dan
dapat berfungsi bersama dengan restorasi protesa di atasnya.
1.2 Pengertian Periimplanitis
Periimplanitis adalah suatu kondisi terjadinya kehilangan tulang
pendukung implan. Dalam hal etiopatologi, periimplanitis sangat mirip dengan
penyakit periodontal, keduanya akibat invasi oleh patogen dalam plak biofilm.
Pada sulkus implan klinis yang sehat, biofilm terdiri terutama dari mikrobiota
fakultatif positif Gram, mirip dengan yang di gigi. Kolonisasi bakteri pada
sulkus peri-implan dimulai 30 menit setelah koneksi transmukosal.
Ada dua entitas yang digambarkan dalam konsep pasien periimplant,
yaitu periimplanitis mucositis dan periimplanitis osteotitis.
Periimplanitis mucositis adalah sebuah reaksi inflamasi reversible yang
berpengaruh dan jaringan lunak disekitar implan fungsional dan hasilnya
kehilangan tulang pada tepi dan akhirnya menyebabkan hilangnya
oseointegrasi.Jaringan lunak disekitar mengalami peradangan seperti
radang gusi.Bakteri diketahui sebagai penyebab utama infeksi ini atau
akibat fenomena permukaan implan itu sendiri. Pencegahan dan
pengendalian infeksi ini merupakan faktor utama ketika merawat pasien
implan, terutama jika pasien memiliki riwayat penyakit periodontal
(Norton, 2010). Manifestasi klinis ditandai dengan munculnya perubahan
inflamasi terbatas pada mukosa periimplant.
Periimplanitis osteotitis menurut Antolin (2007), merupakan reaksi
inflamasi irreversible dalam jaringan lunak dan keras yang mengelilingi
implan, karena kehilangan tulang yang terjadi jika tidak ada perawatan
yang diberikan.

1.3 Faktor Terjadinya Periimplanitis


Ada dua mayor faktor dalam terjadinya periimplanitis, yaitu :
1. Infeksi bakteri
Adanya akumulasi plak pada permukaan implant, sel yang berperan dalam
proses inflamasi akan banyak yang berinfiltrasi ke jaringan penghubung
subepitel. Ketika bakteri plak bermigrasi ke apical maka akan menyebabkan

9
dektruksi pada jaringan. Salah satu penyebab meningkatnya inflamasi pada
sekitar implant kemungkinan dikarenakan rendahnya vaskularisasi pada
jaringan lunak dan perbedaan jumlah kolagen / fibroblast pada jaringan
gingival, berbeda dengan gigi yang masih ada dan memiliki jaringan
periodontal dimana masih mempunyai banyak vaskularisasi.
2. Faktor biomekanikal
Penurunan proses osteointegrasi dapat diakibatkan karena adanya gaya
biomekanikal yang memicu peningkatan stress atau mikrofraktur pada
koronal antara tulang dan implant. Hal ini dapat dipicu karena :
a. Implant yang ditempatkan pada kualitas tulang yang rendah.
b. Pasien memiliki beban oklusal yang besar, misalnya pasien dengan kelainan
parafungsional.

Periimplan dapat terjadi karena multifaktor dengan kedua etiologi tersebut, baik
infeksi bakteri dan factor biomekanikal. Masing-masing faktor harus dieliminasi
sebelum melakukan perawatan pada implant.
Kualitas tulang yang buruk
Kualitas, kuantitas dan kontur dari tulang akan menentukan ukuran dan posisi
gigi tiruan. Hal ini akan berpengaruh pada desain dan keberhasilan implan dental.
Lama perawatan untuk peletakan implant dan pemasangan protesa tergantung pada
tipe tulang dimana implant tersebut dipasang. Protesa harus dipasangkan setelah
implant memiliki osseointegrasi dengan tulang disekitarnya.
Tulang rahang harus kuat dan memiliki massa tulang yang baik. Kualitas tulang
rahang yang lemah dan buruknya massa tulang dapat berakibat pada durasi waktu
penyembuhan atau bahkan berujung pada kegagalan implant. Ada empat tipe tulang
pada wajah manusia yaitu:

1. Tipe I
Tulang ini dianalogikan seperti kayu oak, keras dan padat. Tipe tulang ini
memiliki suplai darah yang kurang dibandingkan dengan tipe tulang lainnya.
Suplai darah ini penting dalam kalsifikasi tulang di sekitar implant. Tipe
tulang ini membutuhkan waktu sekitar 5 bulan untuk berintegrasi dengan
implan.

10
2. Tipe II
Tulang ini dianalogikan seperti kayu pinus, tidak sekeras tipe I. Tulang ini
membutuhkan waktu 4 bulan untuk berintegrasi dengan implan.
3. Tipe III
Tipe tulang ini seperti kayu balsa, tidak sepadat tipe II. Karena kepadatannya
kurang dari tipe II, maka dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk
berintegrasi dengan implan, yaitu 6 bulan.
4. Tipe IV
Tipe tulang ini kepadatannya paling rendah. Tulang ini memerlukan waktu
yang paling lama untuk berintegrasi dengan implan yaitu 8 bulan. Bone
grafting atau bone augmentasi tulang sering dibutuhkan.

Kategorisasi kualitas dan kuantitas tulang (tipe 1: terdiri dari tulang kompak yang homogen; tipe
2:tulang kompak tebal mengelilingi tulang trabekular padat; tipe 3: tulang kompak tipis mengelilingi
tulang trabekular padat; tipe 4: tulang kompak tipis mengelilingi tulang trabekular yang
kepadatannya rendah)
Tulang tipe I, II dan III memiliki kekuatan yang ideal untuk kesuksesan
implan. Tulang tipe IV sering di jumpai pada bagian posterior dari maksila.
Tulang tipe IV ini memiliki tingkat keberhasilan implan paling rendah. Dari
hasil penelitiannya Jaffin dan Berman menyatakan penempatan implan pada

11
tulang tipe IV ini memiliki kegagalan sebesar 35%. Ini menunjukkan bahwa
kualitas tulang bisa menjadi penentu yang baik untuk prognosis implant.

Desain implan
Desain implan merupakan faktor penting dalam pengembangan
periimplantitis mucositis. Komponen yang buruk dari prosthesis sistem implan
dapat mendorong retensi plak bakteri dan mikroorganisme yang memungkinkan
masuk ke abutment transpithelial. Penelitian yang dilakukan oleh Banon dkk
(1992) menjelaskan bahwa hal ini memungkinkan karena ada perbedaan antara
komponen jenis implan yang ada di pasaran. Desain makroskopik yang
mencakup sekrup dan silinder dapat menularkan stress pada tulang dan dapat
menyebabkan stress mekanik berlebihan pada titik tertentu, terutama pada
sambungan antara leher servikal dari implan (Current Health Journal, 2010).
Untuk mencegah hal ini, yang dapat dilakukan adalah dengan (Carranza
dan Saglie, 1990) :
1. Pemasangan implan dilakukan pada tulang dengan kualitas yang bagus.
2. Jumlah implan disesuaikan dengan kekuatan dari jaringan tulang penyangga
gigi.
3. Memeriksa pola oklusi dari pasien dan membuat rencana perawatan sesuai
dengan pola oklusi dari pasien tersebut.

Reaksi Alergi
Reaksi alergi terjadi karena bahan implan yang di tolak oleh tubuh
sehingga timbul suatu reaksi penolakan dari tubuh sehingga pemasangan implan
menjadi tidak berhasil. Untuk mencegah kegagalan implan akibat reaksi alergi ini
bisa dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada
penderita dengan melakukan test sensitivitas untuk mengetahui apakah penderita
alergi terhadap suatu bahan tertentu. Jika sudah terjadi kegagalan maka implan
sebaiknya diganti dengan bahan lain yang lebih cocok dengan kondisi tubuh
pasien (Carranza dan Saglie 1990).

12
Faktor Sosial
1. Oral hygiene buruk
2. Merokok
3. Penyalahgunaan Narkoba
4. Bruxism

Beberapa faktor sistemik yang mempengaruhi terjadinya peri-implanitis,


antara lain:
1. Riwayat periodontitis. Beberapa tinjauan sistematis telah menunjukkan bahwa
meskipun tingkat kelangsungan implan mungkin tidak akan terpengaruh oleh
riwayat penyakit periodontal, periimplanitis lebih sering didapati pada pasien
dengan riwayat periodontitis.
2. Merokok. Satu studi melaporkan bahwa 78% dari implan pada perokok memiliki
diagnosis peri-implanitis, sedangkan untuk non-perokok hanya 64%. Baru-baru
ini, sebuah penelitian cross-sectional menunjukkan bahwa perokok memiliki
rasio odds 3,8 mengembangkan periimplan mukositis dan rasio odds 31,6
mengembangkan peri-implanitis.
3. Diabetes. Kadar glukosa darah yang tinggi dapat mempengaruhi perbaikan
jaringan dan mekanisme pertahanan host, kontrol diabetes mempengaruhi fungsi
neutrofil sehingga diabetes dapat mengganggu homeostasis kolagen dalam
matriks ekstrasel dan berhubungan dengan disfungsi neutrofil serta
ketidakseimbangan sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian, kemampuan
perbaikan jaringan dan mekanisme defensif pasien diabetes untuk melawan plak
menjadi terganggu.
4. Genetik. Interleukin memainkan peran utama dalam proses peradangan.
Hubungan interleukin-1 (IL-1) dengan periodontitis juga telah dikaitkan dengan
peri-implanitis dan sinergis dengan merokok. Keterkaitan ini masih
diperdebatkan karena tidak semua penelitian mendukung ini dan oleh karena itu,
pengujian genetik rutin tidak dianjurkan untuk pasien implan pada saat ini.

13
Beberapa faktor risiko lokal yang mempunyai pengaruh pada terjadinya
peri-implanitis seperti:
1. Oral hygiene yang buruk. OH yang buruk meningkatkan risiko peri-implanitis
2,5 kali lebih besar, karena plak pada suprastruktur implan menginisiasi terjadi
peri-implan mukosistis yang berkembang menjadi peri-implanitis.
2. Semen sisa. Sementasi mahkota pada implan, karena posisi dan desain
suprastruktur, memungkinkan terjadinya kelebihan semen yang tidak dapat
dibersihkan sehingga menghambat upaya terapi non-bedah mekanik untuk
mengakses ruang subgingiva. Selain itu, banyak dari semen yang sering
digunakan tidak terdeteksi oleh survei radiograf. Semen tersebut dapat
menyebabkan peradangan akibat kekasaran permukaan yang dapat memberikan
lingkungan yang positif untuk perlekatan bakteri.
3. Beban oklusal. Implan dianggap kurang dapat menoleransi beban oklusal non-
aksial dibandingkan dengan gigi karena kurangnya ligamen periodontal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beban oklusal terkonsentrasi di tulang
marginal implan. Remodeling tulang dalam menanggapi ketegangan yang
berlebihan dapat menyebabkan mikrofraktur pada tulang dan akhirnya terjadi
kehilangan tulang.
4. Permukaan implan. Permukaan implan biasanya diklasifikasikan atas empat
kategori tergantung pada nilai kekasaran permukaan (Sa), yaitu halus, sedikit
kasar, cukup kasar atau kasar. Umumnya implan yang dipasarkan saat ini
memiliki permukaan cukup kasar (Sa antara 1,0 dan 2,0 mm), yang optimal
untuk respon penyembuhan. Permukaan implan mempengaruhi retensi biofilm
dan implan dengan permukaan yang sangat kasar (Sa lebih dari 2), seperti
titanium plasma sprayed (TPS) surface dan hydroxyapatite (HA) coated surface
meningkatkan kemungkinan periimplanitis.
5. Lebar dari attached gingival. Perlunya keratin mukosa periimplan telah
diperdebatkan dan bukti-bukti yang ada tidak memadai. Meskipun kelangsungan
implan tidak tercatat sebagai berbeda secara signifikan antara nonkeratinized
dan keratinized mukosa periimplan, perlu dicatat bahwa beberapa penelitian
melakukan pencatatan bahwa mukositis dan kerusakan tulang pada implan di
mukosa nonkeratinized lebih tinggi ketika kontrol plak tidak adekuat.

14
1.4 Pemeriksaan Periimplanitis
Penegakan diagnosis dari peri-implanitis yang akurat sangat penting
untuk penanganan yang benar dan membutuhkan kriteria yang tepat. Kunci dari
penentuan diagnosis peri-implanitis merupakan perbandingan dari parameter
klinis dan radiografis dengan data baseline sebagai referensi.
Pemeriksaan klinis dilakukan secara visual dengan melihat tanda-tanda
adanya gejala peri implantitis dalam rongga mulut, yaitu adanya keradangan
gingival disekitar implant, adanya pendarahan, adanya penambahan kedalaman
probing, adanya akumulasi debris dan plak serta adanya kegoyangan pada
implant tersebut. Apabila terdapat gejala tersebut, dapat ditegakkan diagnosa
sementara peri implantitis.
1) Probing peri-implan. Probing merupakan prosedur diagnosis terpercaya
untuk mendeteksi perubahan dari perlekatan jaringan peri-implan.
Tekanan yang lebih dari 0,5 N harus dihindari untuk mencegah
terjadinya kerusakan jaringan.
2) Bleeding on probing (BOP). Adanya perdarahan pada probing yang
ringan mengindikasikan radang pada mukosa. BOP juga menunjukkan
stabilitas jaringan peri-implan.
3) Kedalaman probing. Kedalaman probing pada implan lebih tinggi
dibandingkan dengan gigi. Selain itu, jenis implan dan penempatan yang
lebih apikal pada area estetik mempengaruhi kedalaman probing. Oleh
karena itu, probing pada baseline sangat penting untuk digunakan
sebagai pembanding. Peningkatan kedalaman probing seiring
berjalannya waktu mengindikasikan ada kehilangan tulang pendukung
dan merupakan indikator klinis dari penyakit peri-implan.
4) Supurasi. Pus merupakan hasil dari lesi inflamasi dan infeksi. Adanya
pus sering dihubungkan dengan kehilangan tulang peri-implan yang
progresif.
5) Mobilitas implan. Penilaian mobilitas klinis dapat dilakukan serupa
dengan gigi melalui tekanan jari atau instrumen. Adanya mobilitas klinis
yang terlihat ketika tekanan vertikal atau horisontal (kurang dari 500 g)
diberikan, menyiratkan kehilangan lengkap osteointegrasi; artinya

15
implan tersebut dinyatakan gagal dan dengan demikian harus
dikeluarkan.

Untuk mendukung penegakan diagnosa pada kasus tersebut, perlu


dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang bisa dilakukan
dengan menggunakan radiografi. Pemeriksaan radiografi bertujuan untuk
memperoleh informasi mengenai kondisi tulang, kualitas dan kuantitas tulang,
daerah jaringan periodontal pada periapikal serta posisi dan lokasi fixture
implant.
Radiograf sangat penting dalam mengevaluasi ketinggian tulang marjinal
pada implan dan mendiagnosis kehilangan tulang di proksimal. Jarak dari
patokan tetap (seperti bahu implan atau pertemuan implan dengan abutment) ke
tulang interproksimal dicatat pada baseline dan dimonitor secara terus menerus.
Radiografi yang digunakan dapat menggunakan periapikal, panoramik,
oklusal, lateral sefalometri, dan lain-lain. Hasil dari pemeriksaan radiografis
dapat dijadikan pedoman untuk menentukan rencana perawatan pada kasus
tersebut. Selain itu juga bisa dilakukan analisis pada model studi. Modes studi
penting untuk mempelajari sisa geligi dan tulang rahang dan hubungan rahang
atsa dan bawah. Model rahang atas dan rahang bawah yang dipasang dan model
malam dengan penyusunan percobaan dari gigi akan membantu untuk
mendapatkan gambaran letak implant yang tepat. Hal ini penting jangan sampai
terjadi implant berada diluar lengkung gigi sehingga mengganggu estetik.

Pemeriksaan lain yaitu dengan pemeriksaan mikrobiologi, menggunakan


kultur bakteri, probe DNA, PCR (Polymerase Chain Reaction), antibody
monoclonal dan enzyme assays untuk melihat flora subgingival yang diduga
menyebabkan peningkatan gejala dari kelainan periodontal atau periimplanitis.

16
1.5 Klasifikasi Periimplanitis dan Gambaran Klinis dan Radiografi
Periimplanitis
Klasifikasi Periimplanitis
Ringan Probing depth 4 mm (pendarahan dan/atau supurasi saat probing)
Kehilangan tulang < 25% dari panjang implant
Sedang Probing depth 6 mm (pendarahan dan/atau supurasi saat probing)
Kehilangan tulang 25% hingga 50% dari panjang implant
Berat Probing depth 8 mm (pendarahan dan/atau supurasi saat probing)
Kehilangan tulang >50% dari panjang implant

Gambaran klinis dan radiografis periimplanitis

Gambaran klinis dan radiograf dari peri-implanitis stadium awal yang dengan
kehilangan tulang < 25% dari panjang implan.

Gambaran klinis dan radiograf dari moderate peri-implanitis yang dengan kehilangan
tulang 25-50% dari panjang implan pada sisi mesial (anak panah)

17
Gambaran klinis dan radiograf dari peri-implanitis berat yang dengan kehilangan tulang
> 50% dari panjang implant

Probing peri-implan (dengan probe plastik) menunjukkan kedalaman lebih dari 5 mm disertai dengan
adanya BOP merupakan indikasi dari peri-implanitis

18
PR

1. Pada faktor biomekanis tinggi (pada kasus seperti trauma for occlusal)
pada implant, bisakah bakteri masuk dan mempengaruhi terjadinya
keradangan?
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa daya biomekanis yang
berlebihan dapat menimbulkan tekanan yang tinggi atau mikrofraktur pada sisi
kontak antara tulang koronal dengan implan sehingga mengakibatkan tidak
terjadinya osseointergration di sekitar leher implan.
Adanya celah mikro (mikrogap) pada pertemuan implant dan abutment
memudahkan kolonisasi bakteri pada area tersebut sehingga meningkatkan
resiko terjadinya resorpsi pada puncak tulang alveolar. Kontaminasi bakteri pada
celah mikro diantara abutment dan screw implant two-pieces terjadi akibat invasi
bakteri pada lubang screw transoklusal atau kolonisasi bakteri disepanjang
abutment. Perubahan jaringan lunak merupakan hasil dari proses inflamasi yang
disebabkan karena kontaminasi bakteri pada celah mikro. Pergerakan mikro
mengakibatkan efek pumping di sekitar pertemuan antara abutment implant,
keadaan ini memicu penyebaran bakteri melalui sulkus dan menyebabkan area
pertemuan implant menjadi fokal infeksi. Akibatnya, tubuh memberikan respon
berupa resorpsi pada tulang alveolar.

Hal ini dipengaruhi oleh 4 faktor antara lain (Carranza dan saglie 1990):
1. Implan ditempatkan pada tulang yang berkualitas buruk.
2. Posisi implan atau jumlah implan yang ditempatkan secara keseluruhan
tidak memadai untuk mentransmisikan beban secara ideal ke atas
permukaan implan.
3. Pasien memiliki pola kerja oklusi berat yang terkait dengan parafungsinya.
4. Superstruktur gigi protesa tidak sesuai dengan implan yang digunakan.

2. Apa saja faktor lain yang mempengaruhi kelainan di skenario selain


pemasangan implant?
Faktor kesalahan pemasangan implant:
Kesalahan sudut angulasi

19
Sudut angulasi implan juga termasuk penentu bagi keberhasilan implan.
Angulasi yang tepat harus ditentukan sesuai dengan masa protesis
dengan pertimbangan bucco-lingual, apicocoronal, dan mesio-distal
posisi.
Semen sisa
Semen tersebut dapat menyebabkan peradangan akibat kekasaran
permukaan yang dapat memberikan lingkungan yang positif untuk
perlekatan bakteri.
Pemilihan bahan implant
Permukaan implan mempengaruhi retensi biofilm dan implan dengan
permukaan yang sangat kasar (Sa lebih dari 2), seperti titanium plasma
sprayed (TPS) surface dan hydroxyapatite (HA) coated surface
meningkatkan kemungkinan periimplanitis.
Faktor hygiene alat-alat yang digunakan untuk pemasangan implant dan
implant itu sendiri.
Desain implan
Komponen yang buruk dari prosthesis sistem implan dapat mendorong
retensi plak bakteri dan mikroorganisme yang memungkinkan masuk ke
abutment transpithelial.

Faktor selain pemasangan implant, sudah banyak dibahas di learning objective


1, seperti:

1. Kualitas tulang yang buruk


2. Reaksi Alergi
3. Oral hygiene buruk
4. Merokok
5. Penyalahgunaan Narkoba
6. Bruxism
7. Riwayat periodontitis
8. Diabetes.
9. Genetik.
10. Beban oklusal.

20
11. Lebar dari attached gingival.

3. Pada periimplanitis, apa yang terjadi di dalam soket? Mekanisme


kerusakan jaringannya seperti apa?
Periimplantitis terjadi diawali dengan akibat beberapa hal seperti
longgarnya screw atau akibat reaksi alergi yang dialami oleh penderitanya.
Longgarnya screw dapat membentuk suatu celah disekitar implan dimana tempat
tersebut menjadi tempat akumulasi sisa makanan dan bakteri. Berkembangnya
bakteri dan sisa makanan membuat tubuh mengeluarkan sistem imun berupa
keradangangan didaerah disekitar mukosa periimplan tersebut. Pada daerah
tersebut ditemukan bahwa sel- sel inflammatory berinfiltrasi kedalam sejumlah
besar jaringan lunak periimplantitis seperti yang telah ditemukan dalam
penelitian sebelumnya, Tord, dkk (2004) menganalisa biopsi jaringan lunak pada
enam pasien yang mengalami lesi periimplantitis dan melaporkan bahwa sekitar
65% dari bagian jaringan ikat mengalami lesi inflammatory. Selain itu sel- sel
PMN seperti neuthrofill granulosit terdapat dalam jumlah besar dalam berbagai
lesi yang berbeda yang mengindikasikan adanya peningkatan aktifitas sel- sel
PMN pada daerah yang mengalami periimplantitis. Interpretasi ini sesuai dengan
hasil studi terhadap cairan crevikular pada implan yang mengalami
periimplantitis.

21
2. Mampu menjelaskan tentang macam dan pertimbangan perawatan seperti di
skenario.
Peri-implan mucositis adalah kondisi reversibel dan hanya membutuhkan
intervensi minimal untuk diobati. Debridement mekanis menyeluruh dengan lokal
anti-mikroba (Chlorhexidine irigasi, Dentomycin) biasanya cukup untuk
menyelesaikan masalah. Sebuah pemeriksaan menyeluruh pada daerah inflamasi
juga harus diselesaikan untuk memastikan tidak ada faktor iatrogenik lokal yang
memberikan kontribusi terhadap terjadinya kelainan.
Jika penyakit itu telah berkembang lebih lanjut dan terdapat kehilangan tulang,
fase pengobatan awal adalah sama dengan anti-mikroba (chlorhexidine,
dentomycin), debridement mekanis dan protokol kebersihan mulut yang ketat,
termasuk pemberian obat kumur chlorhexidine. Pemberian antibiotik sistemik juga
harus dipertimbangkan untuk mengurangi jumlah bakteri patogen. Banyak metode
telah digunakan untuk debridement plak pada permukaan implan yang
terkontaminasi termasuk scaler, sonik, ultrasonik mekanik dan, laser, udara bubuk
abrasi, dan berbagai solusi kimia seperti chlorhexidine diglukonat, asam sitrat,
hidrogen peroksida, dan saline. Di Pusat Pengobatan Penyakit Peri-implan (CTPID)
digunakan kombinasi metode termasuk klorheksidin diglukonat, solusi tetrasiklin,
garam dan debridement mekanis. Namun, setiap kasus adalah berbeda dan
membutuhkan solusi yang sesuai.
Dokter kemudian dapat mempertimbangkan apakah akan mencoba untuk
menumbuhkan tulang di sekitar implan. Keputusan ini dibuat berdasarkan jumlah
tulang yang hilang, morfologi cacat dan respon pasien dan motivasi pasien.
Tujuannya di sini adalah untuk membangun kembali volume tulang sekitar implan,
namun, ada perdebatan tentang kemampuan untuk 'kembali osseointegrate'
permukaan implan yang sebelumnya terkontaminasi.
Berdasarkan diagnosis periodik, dan sesuai dengan laporan konsensus ITI
sebelumnya, protokol cumulative interceptive supportive therapy (CIST)
direkomendasikan dalam menentukan perawatan dari kasus-kasus menyangkut
kelainan pada jaringan peri-implan.

22
1) Bagian A dari protokol CIST, dimulai ketika plak dan BOP hadir tapi PD berkisar
antara 3 mm atau kurang, pasien diinstruksikan kembali dalam menjaga kebersihan
mulut dan dimotivasi untuk
memulai dan melanjutkan pemeliharaan, penggunaan sikat gigi interdental dan
dental floss; debridemen mekanis dilakukan dengan menggunakan bahan yang
lebih lunak daripada titanium, hal ini bertujuan agar titanium tidak tergores yang
akan mengakibatkan korosi, dapat menggunakan alat scaling plastik atau kuret
berbahan resin/carbon fiber, dan polishing menggunakan rubber dan pasta polishing
non abrasif.
2) Bagian B, ketika PD 4-5 mm yang ditemukan,prosedurnya terdiri dari obat
antiseptik. Pada tahap ini, dikontrol dengan menggunakan chlorhexidine
diglukonat, biasanya sebagai obat kumur 0,1-0,2%, 30 detik sekitar 10 mL, aplikasi
gel chlorhexidine lokal (0,2%), dan atau irigasi lokal dengan klorheksidin (0,2%), 2
kali sehari selama 3-4 minggu.
3) Protokol C, pengobatan antibiotik sistemik atau lokal, dimulai ketika PD yang lebih
besar dari 5 mm. Selain itu, radiografi harus digunakan untuk melengkapi temuan
klinis. Pengobatan sistemiK yang khas adalah dengan ornidazole (1.000 mg x 1)
atau metronidazole (250 mg x 3) selama 10 hari, atau kombinasi amoksisilin (375
mg x 3) dan metronidazol (250 mg x 3) selama 10 hari. Begitu metode perawatan
A, B, dan C telah selesai, pendekatan bedah (D) dapat dipertimbangkan jika lesi
tidak membaik.
Teknik pembedahan
Teknik pembedahan untuk terapi periimplantitis dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Terapi periimplan resektif
Terapi ini digunakan untuk kehilangan tulang secara horizontal dan
moderate vertical (<3 mm) dan menghilangkan pedalaman poket. Pertimbangan
dilakukan perawatan ini adanya moderate severe kehilangan tulang secara
horizontal, adanya defek tulang pada satu dan dua dinding , dan implan pada
posisi yang estetiknya kurang .
2. Terapi periimplan regenerative
Pertimbangan untuk submerged regenerative therapy detoksifikasi implan
kemungkinan dapat dilakukan, defek tulang pada dua atau tiga dinding, moderate-

23
severe defek pada sekeliling infrabony poket, dan implan dengan kemungkinan
penutupan flap sempurna.
Pada terapi ini dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Pertimbangan untuk submerged regenerative therapy
Detoksifikasi implant kemungkinan dapat dilakukan, defek tulang pada dua
atau tiga dinding, moderate-severe defek pada sekeliling infabony poket,
dan implant dengan kemungkinan penutupan flap sempurna.
b. Pertimbangan untuk pergingival regenerative therapy
Implant yang dilakukan secara one-stage, moderate-severe defek pada
sekeliling infabony poket, detoksifikasi implant kemungkinan dapat
dilakukan, dan defek tulang pada tiga dinding

Tahap tahap perawatan periimplantitis


1) Pemberian antibiotik secara sistemik selama tiga hari sebelum operasi yang
setara dengan metronidazol 400mg.
2) Pemberian obat kumur 0,2% klohexidin satu menit sebelum operasi.
3) Lakukan insisi dan flap full thickness di sekitar daerah yang terinfeksi.
4) Lakukan kuretase pada tulang dan jaringan lunak menggunakan kuret serat
karbon.
5) Tempelkan kasa yang telah dicelupkan pada larutan klorheksidin 0,2% di tempat
yang terinfeksi dan biarkan selama 5 menit.
6) Setelah 5 menit, ambil kasa dan lalukan irigasi dengan saline steril yang telah
dicampur dengan 1 gram tetrasiklin.
7) Bubuhkan bonegraft pada daerah yang terflap dan berikan membran kolagen
diatasnya dan jahit.

Pertimbangan
Menurut Anam (2009), ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan, yaitu dengan
memperhatikan :
a. Pemilihan alat pembersih
Hal yang paling penting dalam pemilihan alat pembersih jangan sampai
menimbulkan goresan atau lubang pada permukaan titanium atau implan untuk
mencegah akumulasi plak. Dan seorang klinisi harus juga mengevaluasi desain

24
protesa, lokasi deposit dan ketahanan kalkulus untuk menentukan pemakaian alat
yang cocok dan sesuai. Alat yang cocok biasanya digunakan non metal. Setelah
pembersihan kalkulus dianjurkan untuk dilakukan pemolesan dengan menggunakan
rubber atau karet.

b. Prosedur pemeliharaan implant


Setelah pemasangan implan perlu adanya kunjungan berkala untuk
mengevaluasi kesehatan implan dengan melihat secara klinis diantaranya tidak ada
keradangan dan poket pada implan dengan menggunakan probe periodontal.
Pengambilan kalkulus harus diperhatikan lokasi kalkulus, horizontal, dan vertikal
untuk menghindari trauma pada jaringan. Kunjungan berkala setelah pemasangan
implan gigi untuk mengevaluasi keberhasilan implan. Pembersihan plak dan kalkulus
dengan pembersihan ringan. Bila terjadi keradangan dan infeksi bisa dilakukan
dengan bedah dan pemeriksaan oklusi secara periodik.

c. Kualitas implan terhadap derajat kesehatan


Kriteria untuk keberhasilan implan dalam kedokteran gigi sangat
kompleks.Istilah sukses dan berhasil dapat disebut dengan daya tahan atau
kelangsungan hidup implan didalam mulut dan istilah gagal digunakan untuk
mengindikasikan implan tidak berumur panjang didalam mulut.Secara umum istilah
berhasil atau sukses implan harus didasarkan pada konsep kualitas kesehatan dengan
sebuah rangkaian kesatuan sehat dan sakit yang menggambarkan status implan.
Periodontal indeks sering digunakan untuk mengevaluasi implan akan tetapi ada
perbedaan yang fundamental karena implan tidak bisa membusuk karena tidak
mempunyai pulpa gigi yang berfungsi sebagai tanda awal suatu penyakit dan tidak
mempunyai periodontal ligament.

25
Daftar Pustaka

1. Annam, Syaiful., 2009, September 7-last upadate, Pemeliharaan Implangigi


[Homepage Dunia Gigi]. Available :www.duniagigi.com [24 Mei 2017]
2. Antolin Bowen Antonio., 2007, Infections of Implantology: From Prophylaxis to
treatment, JMed Oral Patol Oral CitBucal, hal. 323-326. [ 24 Mei 2017 ]
3. Carranza Jr F.A, Saglie F.R, 1990, Glickmans Clinical Periodontology, 7th Ed,
W.B Saunders Company, Harcourt-Tokyo
4. Current Health Journal., 2010, May21- last update, Desain Implant [Homepage
Dental World]. Available :www.dentalworld.com
5. Khashu, Himansh dkk. 2012. Jurnal Periimplantitis.International Journal of
Oral Implantology and Clinical Research.3(2):71-76, http://www.slideshare.net
[24 Mei 2017]
6. Kurnia, Dian Lestari., Amilia Ramadhani, Rikko Hudyono. 2014 Implant Gigi
One-Piece vs Two-Pieces dalam Praktek Sehari-Hari. Universitas Jenderal
Soedirman, Purwokerto, Majalah Kedokteran Gigi. 21(2): 149 158
7. Martin, Billy., Robert Lessang. 2015. Peri-implantitis: definisi, diagnosis,
etiologi dan manajemen penatalaksanaanya. Makassar, Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Hasanuddin. Makassar Dental Journal. 4(4): 107-113
8. McGlumphy, EA dan Larsen, PE., 2003, Contemporary Implant Dentistry, In
Peterson Implant Dentistry, Contemporary Oral and Maxilofacial Surgery,
Fourth ed. Mosby, St Louis.
9. Norton Carl., 2010, Implant Practecius http://www.implantpracticeus.com/web
/images/stories/downloads/norton.pdf [24 Mei 2017]
10. Tord, B., Gislason,O. Leholm, U., Sennerby, L. Lindhe, J., 2004, Pemeriksaan
Hispatologis Lesi Periimplantitis pada Manusia, Blackwell Munksguard 2004, J.
of Clin Periodontal vol. 3, p. 341-347.

26