Anda di halaman 1dari 15

Proses Peremajaan Minyak Jelantah menggunakan

beberapa jenis Adsorben

Disusun oleh : Zahra Afifa 1321400007

Ulfa yanti 1321400009

Giggaario Husen Y. 1321400013

Abdul Azid 1321400020

Teknologi Industri Pertanian

Institut Teknologi Indonesia

Serpong, Tangerang Selatan, Banten

Tahun 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang sudah memberi
nikmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini pada waktunya.
Tugas ini berisi materi mengenai Lipid yaitu Minyak dengan contoh proses peremajaan /
pemurnian kembali minyak jelantah. Tugas ini kami buat agar pembaca bisa mengetahui lebih
jelas mengenai proses peremajaan minyak jelantah, sehingga pembaca dapat mengetahui apa saja
cara yang dapat dilakukan untuk meremajakan minyak jelantah, sehingga dapat digunakan
kembali atau dijadikan produk lain seperti sabun. Dalam mencari data kami membaca jurnal dan
artikel di situs internet.
Dalam penyelesaian tugas ini kami mendapat bantuan dari beberapa pihak, terutama
bantuan materi dari teman-teman kami berupa situs-situs website mengenai materi terkait.
Bantuan dari ibu / bapak dosen berupa memberikan kejelasan lebih dalam mengenai tugas ini.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Darti Nurani. Selaku dosen pengajar
mata kuliah Kimia Industri. Terima kasih juga kepada teman-teman sekelas karena teman-teman
sudah banyak membantu kami dalam menyelesaikan tugas ini. Ucapan terima kasih juga kami
sampaikan kepada semua pihak yang tidak sempat kami sebutkan dalam membantu
menyelesaikan tugas ini.

Serpong, Tangerang Selatan, April 2016

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan .........................................................................................................2
1.4 Dasar Teori ..............................................................................................................2-3
1.5 Sumber Data ...............................................................................................................3
1.6 Metode dan Teknik .....................................................................................................3

BAB II. ISI

2.1 Faktor Penyebab Kerusakan pada Minyak Goreng .................................................4-5

2.2 Proses Peremajaan pada Minyak Goreng ................................................................6-7

2.3 Efek Terhadap Kesehatan Penggunaan Minyak Jelantah ....................................... 7-9

2.4 Perubahan dari Minyak Jelantah setalah dimurnikan ................................................9

BAB III. PENUTUP

3.1 Rangkuman ..........................................................................................................10-11

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kimia Industri adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mengubah bahan baku menjadi suatu
produk (kimia) yang mempunyai nilai tambah, di mana dalam proses tersebut selain terjadi
proses perubahan yang bersifat fisik (satuan-operasi) juga terjadi perubahan sifat kimiawi
(satuan-proses), atau perubahan komponen-komponen kimia pada produk dan Kimia Industri
juga mempelajari sifat-sifat komponen kimia pada bahan olahan. Gabungan dari perubahan fisik
(physical treatment process) dan proses kimiawi (chemical treatment process) untuk mengubah
bahan baku menjadi suatu produk dan menjadi suatu kesatuan. Ataupun memperbaiki kualitas
mutu gizi suatu produk dengan memahami sifat-sifat komponen dasar penyusunnya.
Dalam suatu contoh kasus pada makromolekul Lipid dalam hal ini minyak goreng. Proses
penggorengan ataupun penggunaan minyak goreng dengan suhu tinggi / berulang kali
menyebabkan kerusakan yang mengakibatkan penurunan kualitas dan mutu gizi minyak goreng.
Kerusakan tersebut terjadi akibat adanya proses hidrolisis dan oksidasi. Hidrolisis pada minyak
goreng menyebabkan pecahnya senyawa gliserida menjadi gliserol dan asam lemak. Yang
selanjutnya senyawa-senyawa ini mengalami perubahan lagi yang menyebabkan kualitas minyak
goreng menurun. Lalu, pada proses oksidasi pada minyak menyebabkan pecahnya senyawa asam
lemak menjadi molekul-molekul kecil seperti aldehid dan keton yang menyebabkan bau tengik.
Hasil penggorengan minyak ini biasa disebut sebagai minyak bekas atau yang lebih kita kenal
sebagai minyak jelantah. Dan peremajaan minyak jelantah perlu dilakukan agar limbah minyak
goreng dapat dimanfaatkan kembali dan mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi ( seperti
sabun ).
Dalam tugas ini akan dibahas mengenai proses peremajaan minyak jelantah. Proses
peremajaan minyak goreng untuk dapat dipakai kembali umumnya menggunakan bantuan
adsorben. Proses kerusakan umumnya terjadi pada saat penggorengan dilakukan pada suhu 200
C atau lebih, hal ini biasanya terjadi pada industri makanan besar. Namun, dalam skala rumah
tangga kerusakan diakibatkan proses pemakaian minyak goreng berulang-ulang. Kerusakan juga
dapat terjadi akibat kontak dengan udara saat penyimpanan maupun karena lama disimpan.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dijelaskan tersebut, maka menjadi fokus penulis adalah mengenai
proses peremajaan pada minyak jelantah. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Apa yang menyebabkan kerusakan pada minyak goreng ?
2. Bagaimana proses peremajaan pada minyak jelantah ?
3. Apa efek terhadap kesehatan jika mengonsumsi minyak jelantah ?
4. Apa saja perubahan yang terjadi pada minyak jelantah yang telah dimurnikan ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan pada permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui faktor penyebab kerusakan pada minyak goreng.
2. Untuk mengetahui proses peremajaan pada minyak jelantah.
3. Untuk mengetahui efek terhadap kesehatan jika mengonsumsi minyak jelantah.
4. Untuk mengetahui perubahan terhadap minyak jelantah yang terlah dimurnikan.

1.4 Dasar Teori


Secara umum adsorbsi adalah proses pemisahan komponen tertentu dari satu fasa fluida (larutan)
ke permukaan zat padat yang menyerap (adsroben). Pemisahan terjadi karena perbedaan bobot
molekul atau porositas, menyebabkan sebagian molekul terikat lebih kuat pada permukaan dari
pada molekul lainnya. Adapun syarat-syarat untuk berjalannya suatu proses adsorbsi, yaitu
terdapat : 1. Zat yang mengadsorbsi (adsorben), 2. Zat yang teradsorbsi (adsorbat), 3. Waktu
pengocokan sampai adsorbs berjalan seimbang.
Adsorbsi dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu adsorbsi secara kimia dan secara
fisika. Adsorbsi secara kimia (kemisorbsi) adalah adsorbs yang terjadi karena adanya gaya-gaya
kimia dan diikuti oleh reaksi kimia. Adsorbsi jenis ini mengakibatkan terbentuknya ikatan secara
kimia, sehingga diikuti dengan reaksi berupa senyawa baru. Pada kemisorbsi permukaan padatan
sangat kuat mengikat molekul gas atau cairan sehingga sukar untuk dilepas kembali, sehingga
proses kemisorbsi sangat sedikit. Adsorbsi fisika (fisiosorbsi) adalah adsorbsi yang terjadi karena
adanya gaya-gaya fisika. Adsorbsi ini dicirikan adanya kalor adsorbsi yang kecil (10 kkal/mol).

2
Molekul-molekul yang diadsorbsi secara fisik tidak terikat secara kuat pada permukaan dan
biasanya terjadi pada proses reversible yang cepat, sehingga mudah diganti dengan molekul lain.

1.5 Sumber Data


Sumber data yang penulis gunakan adalah beberapa sumber literatur yang diperoleh dari internet,
dan dari journal.

1.6 Metode dan Teknik


Metode yang digunakan adalah deskripsi. Sedangkan, teknik yang digunakan adalah studi
pustaka.

3
BAB II
ISI

2.1 Faktor Penyebab Kerusakan pada Minyak Goreng


Faktor yang menyebabkan kerusakan pada minyak goreng adalah sebagai berikut :
1. Pemanasan
a. Lamanya minyak kontak dengan panas
Berdasarkan penelitian terhadap minyak jagung, pada pemanasan 10-12 jam pertama, bilangan
iod berkurang dengan kecepatan konstan, sedangkan jumlah oksigen dalam lemak bertambah dan
selanjutnya menurun setelah pemanasan 4 jam kedua berikutnya. Kandungan persenyawaan
karbonil bertambah dalam minyak selama proses pemanasan, kemudian berkurang sesuai dengan
berkurangnya jumlah oksigen.
b. Suhu
Pengaruh suhu terhadap kerusakan minyak telah diselidiki dengan menggunakan minyak jagung
yang dipanaskan selama 24 jam pada suhu 1200, 1600 dan 200 0C. Minyak yang dipanaskan pada
suhu 1600 dan 2000C menghasilkan bilangan peroksida lebih tinggi dibandingkan dengan
pemanasan pada suhu 1200C. Hal ini merupakan indikasi bahwa persenyawan peroksida bersifat
tidak stabil terhadap panas. Kenaikan nilai kekentalan dan indek bias paling besar pada suhu 200
0
C, karena pada suhu tersebut jumlah senyawa polimer yang terbentuk relative cukup besar.
c. Akselerator Oksidasi
Kecepatan aerasi juga memengang peranan penting dalam menentukan perubahan-perubahan
selama oksidasi thermal. Nilai kekentalan naik secara proporsional dengan kecepatan aerasi,
sedangkan bilangan iod semakin menurun dengan bertambahnya kecepatan aerasi. Konsentrasi
persenyawaan karbonil akan bertambahn dengan penurunan kecepatan aerasi. Senyawa karbonil
dalam lemak-lemak yang telah dipanaskan dapat berfungsi sebagai pro-oksidan atau sebagai
akselerator pada proses oksidasi.

4
2. Hidrolisis
Dengan adanya air, lemak dan minyak dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak.
Reaksi ini dipercepat oleh basa, asam, dan enzim-enzim. Dalam teknologi makanan, hidrolisis
oleh enzim lipase sangat penting karena enzim tersebut terdapat pada semua jaringan yang
mengandung minyak. Dengan adanya lipase, lemak akan diuraikan sehingga kadar asam lemak
bebas lebih dari 10%. Hidrolisis sangat menurunkan mutu minyak goreng. Selama penyimpanan
dan pengolahan minyak atau lemak, asam lemak bebas bertambah dan harus dihilangkan dengan
proses pemurnian untuk menghasilkan minyak yang lebih baik mutunya.
3. Oksidasi
Kerusakan minyak goreng umumnya disebabkan karena adanya oksidasi yang ditandai dengan
timbulnya ketengikan. Tengik merupakan istilah off-odor atau off flavour yaitu timbulnya rasa
atau bau yang tidak diinginkan. Tengik yang disebabkan oleh proses oksidasi melalui 3 tahap :
inisiasi (induksi), propagasi dan terminasi. Faktor-faktor yang menyebabkan minyak goreng
teroksidasi dengan cepat diantaranya :
Pemanasan berulang.
Cahaya.
Katalis logam seperti besi dan tembaga, senyawa oksidator pada bahan pangan
yang digoreng seperti klorofil dan hemoglobin.
Jumlah oksigen dan derajat ketidak jenuhan asam lemak dalam minyak.
Tahap inisiasi terjadi karena adanya faktor penginduksi seperti oksidator, logam (besi, tembaga),
atau enzim lipoksigenase (pengurai lemak). Tahap ini dipercepat dengan adanya cahaya, panas,
dan radikal bebas. Tahap propagasi yaitu senyawa peroksida yang dihasilkan pada tahap inisiasi
sangat mudah terurai membentuk radikal peroksi dan alkoksi yang dapat bereaksi dengan asam
lemak dalam produk pangan menghasilkan radikal bebas baru. Pada tahap ini akan banyak terjadi
autooksidasi (mengoksidasi sendiri) sehingga timbul zat radikal yang makin banyak. Tahap
terminasi merupakan tahap dimana terjadi pembentukan senyawa berantai berupa hidrokarbon,
aldehid, asam, alkohol, dan keton. Kumpulan senyawa ini yang menyebabkan rasa dan bau
tengik (Off odor atau off flavor).

5
2.2 Proses Peremajaan pada Minyak Goreng
Pemurnian (refining) minyak meliputi tahapan netralisasi, pemucatan (bleaching) dan
penghilangan bau (deodorisasi). Netralisasi dilakukan untuk mengurangi FFA (free fatty acid)
untuk meningkatkan rasa dan penampakan minyak. Asam lemak bebas merupakan pengotor
dalam minyak yang harus dihilangkan karena mempunyai stabilitas terhadap oksidasi yang lebih
rendah dibandingkan trigliserida, sehingga keberadaannya meningkatkan kerentanan minyak
terhadap oksidasi (mudah teroksidasi). Netralisasi dilakukan dengan mereaksikan NaOH dengan
FFA sehingga membentuk endapan minyak tak larut yang dikenal sabun (soapstock). Jumlah
NaOH yang ditambahkan berkisar 0,1% atau sekitar 1,5 kg NaOH per ton minyak per 1% FFA.
Untuk menghilangkan pengotor berupa gum di dalam minyak digunakan H 3PO4 selanjutnya
dipisahkan melalui cara pengendapan (decantion) atau dengan sentrifugasi.

Cara-cara daur ulang minyak jelantah diantaranya melalui pemanfaatan arang tempurung
kelapa, tepung beras, mengkudu, lidah buaya, bawang merah, ampas nanas dan dapat dibuat
menjadi sabun. Namun, yang akan dibahas di sini hanya sebagian saja karena pada prinsipnya
sama yaitu adsorbsi.

Menggunakan Arang Tempurung Kelapa


Prinsipnya adalah dengan menggunakan Karbon aktif yang merupakan produk lanjutan dari
arang. Karbon aktif bersifat menyerap segala kotoran yang ada di sekitarnya baik saat karbon
aktif berada di air maupun di udara terbuka. Secara umum karbon atau arang aktif dapat
dibuat dari arang tempurung dengan pemanasan pada suhu 600-2000 C pada tekanan tinggi.
Pada kondisi ini akan terbentuk rekahan-rekahan (rongga) sangat halus dengan jumlah
sangat banyak, sehingga luas permukaan arang menjadi sangat besar.
Caranya adalah arang tempurung kelapa dihaluskan lalu bersamaan dengan minyak
jelantah dimasukkan ke dalam sebuah wadah dan ditutup rapat, ditunggu sampai 24 jam.
Setelah itu baru kita dapat menyaring minyak jelantah yang sudah dimurnikan. Hasil dari
daur ulang jelantah dengan menggunakan arang tempurung kelapa, warna lapisan atas
minyak terlihat lebih cerah dari sebelumnya, namun di lapisan bawah masih ada endapan
hitam, dan ada arang tempurung kelapa dibagian atas. Hal ini disebabkan ada sebagian arang
yang tidak tersaring. Sehingga lebih bagus lagi kalau pada proses penyaringannya
menggunakan keretas saring.
Menggunakan buah Mengkudu

6
Prinsipnya sama seperti arang tempurung kelapa yaitu diadsorpsi. Namun, pada buah
mengkudu, perlu dilakukan penghalusan (bisa dengan blender) baru dicampurkan ke dalam
wadah bersamaan dengan minyak jelantah. Didiamkan selama 10-15 menit lalu dipanaskan
pada suhu 50-60 C di sebuah wajan kira-kira 5 menit atau sampai terdengar bunyi gemercik.
Baru minyak disaring agar terpisah dari buah mengkudu tersebut.
Menggunakan bawang merah
Pada prinsipnya sama seperti cara sebelumnya. Hanya saja pada bawang merah setelah
dihaluskan dan dicampur ke dalam sebuah wadah bersamaan dengan minyak jelantah, perlu
didiamkan selama kira-kira 5 jam. Baru dipanaskan di wajan dan setelah itu disaring.

Minyak jelantah dapat disulap menjadi produk yang lebih menyehatkan, yaitu dijadikan
sabun mandi ramah lingkungan, dengan kualitas rendah dan sedang. Hal itu dimungkinkan
karena kandungan lemak minyak jelantah yang tinggi. Lemak merupakan salah satu bahan dasar
pembuatan sabun. Pemisahan kimiawi dilakukan dengan netralisasi menggunakan larutan soda
kaustik (NaOH). Penggunaan soda kaustik membantu mengurangi zat warna dan kotoran (getah
dan lendir dalam minyak). Sabun atau emulsi yang terbentuk kemudian dipisahkan dari minyak
dengan cara dekantasi atau sentrifugasi tergantung kapasitasnya. Minyak terpisah dari emulsi
disebut minyak netral. Penggunaaan larutan soda kaustik 0,5 N pada suhu 70 C mampu
menyabunkan trigliserida sebanyak 1%. Semakin encer larutan soda kaustik yang digunakan,
minyak netral yang dihasilkan semakin pucat.

2.3 Efek Terhadap Kesehatan dari Penggunaan Minyak Jelantah


Menurut Ketaren (2005), tanda awal dari kerusakan minyak goreng adalah terbentuknya akrolein
pada minyak goreng. Akrolein ini menyebabkan rasa gatal pada tenggorokan pada saat
mengkonsumsi makanan yang digoreng menggunakan minyak goreng berulang kali. Akrolein
terbentuk dari hidrasi gliserol yang membentuk aldehida tidak jenuh atau akrolein.

7
Minyak goreng sangat mudah untuk mengalami oksidasi (Ketaren, 2005). Maka, minyak
goreng berulang kali atau yang disebut minyak jelantah telah mengalami penguraian molekul-
molekul, sehingga titik asapnya turun drastis, dan bila disimpan dapat menyebabkan minyak
menjadi berbau tengik. Bau tengik dapat terjadi karena penyimpanan yang salah dalam jangka
waktu tertentu menyebabkan pecahnya ikatan trigliserida menjadi gliserol dan FFA (free fatty
acid) atau asam lemak jenuh. Selain itu, minyak goreng ini juga sangat disukai oleh jamur
aflatoksin. Jamur ini dapat menghasilkan racun aflatoksin yang dapat menyebabkan penyakit
pada hati (Aprilio, 2010).

Akibat dari penggunaan minyak goreng yang berulang kali dapat dijelaskan melalui
penelitian yang dilakukan oleh Rukmini (2007) tentang regenerasi minyak goreng bekas dengan
arang sekam menekan kerusakan organ tubuh. Hasil penelitian pada tikus wistar yang diberi
pakan mengandung minyak goreng bekas yang sudah tidak layak pakai terjadi kerusakan pada
sel hepar (liver), jantung, pembuluh darah maupun ginjal. Penggunaan minyak goreng jelantah
secara berulang-ulang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Hal tersebut dikarenakan pada saat
pemanasan akan terjadi proses degradasi, oksidasi dan dehidrasi dari minyak goreng. Proses
tersebut dapat membentuk radikal bebas dan senyawa toksik yang bersifat racun. (Rukmini,
2007).

Menurut Ketaren, yang dikutip dari Ayu (2009) tingginya kandungan asam lemak tak
jenuh menyebabkan minyak mudah rusak oleh proses penggorengan (deep frying), karena
selama proses menggoreng minyak akan dipanaskan secara terus menerus pada suhu tinggi serta
terjadinya kontak dengan oksigen dari udara luar yang memudahkan terjadinya reaksi oksidasi

8
pada minyak. Hal ini juga di perjelas melalui penelitian yang dilakukan oleh Ayu (2009) tentang
pengaruh suhu dan lama proses menggoreng (deep frying) terhadap pembentukan asam lemak
trans. Asam lemak trans (elaidat) baru terbentuk setelah proses menggoreng (deep frying)
setelah penggulangan ke-2, dan kadarnya akan semakin meningkat sejalan dengan penggunaan
minyak.

Menurut Ayu (2007) asam lemak trans dapat meningkatkan kolesterol low density
lipoprotein (K-LDL) dan menurunkan kolesterol high density lipoprotein (KHDL), akibatnya
akan menyebabkan dislipidemia dan arterosklerosis yang ditandai dengan adanya timbunan
atau endapan lemak pada pembuluh darah. Timbunan lemak ini akan menyumbat aliran darah
pada beberapa bagian tubuh seperti jantung dan otak. Bila penyumbatan terjadi di jantung akan
menyebabkan jantung koroner dan bila penyumbatan terjadi di otak akan menyebabkan stroke.

2.4 Perubahan setelah Minyak Jelantah dimurnikan


Kerusakan minyak tidak dapat dicegah, namun dapat diperlambat dengan memperhatikan
beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, oksigen. Semakin banyak oksigen semakin
cepat teroksidasi. Kedua, ikatan rangkap. Semakin banyak asam lemak tidak jenuhnya semakin
mudah teroksidasi. Ketiga, suhu. Suhu penggorengan dan penyimpanan yang tinggi akan
mempercepat reaksi. Keempat, cahaya serta ion logam tembaga (Cu 2+) dan besi (Fe2+) yang
merupakan faktor katalis proses oksidasi dan kelima, antioksidan. Semakin tinggi antioksidan
ditambahkan semakin tahan terhadap oksidasi. Untuk menghindari penurunan mutu akibat proses
oksidasi dapat menggunakan antioksidan. Proses peremajaan pada minyak jelantah dapat
memperbaiki kualitas warna, angka peroksida, jumlah FFA bilangan asam, kotoran / residu,
serta penurunan kadar air.
Minyak hasil penjernihan secara fisik dapat dilihat dari aroma, rasa, maupun warna :
Minyak goreng hasil penjernihan berwarna kuning agak kemerah-merahan.
Minyak agak encer tidak kental.
Minyak hasil penjernihan tidak berbuih saat dikocok.

9
BAB III
PENUTUP
4.1 Rangkuman
Kerusakan minyak disebabkan oleh beberapa faktor, yakni : pemanasan, hidrolisis, dan oksidasi.
Dalam proses pemanasan : waktu atau lamanya pemanasan, suhu yang tinggi, serta akselerator
oksidasi. Proses hidrolisis akan sangat menurunkan mutu minyak goreng, sebab dihasilkan
gliserol yang akan mengalami dehidrasi menjadi akrolein dan asam lemak bebas. Dalam proses
oksidasi terjadi pemanasan yang berulang atau kontak dengan udara. Oksidasi menyebabkan
ketengikan disebabkan tiga tahap sebagai berikut : induksi, propagasi, dan terminasi.
Makanan yang digoreng dengan minyak yang digunakan berulang akan menyebabkan
pembentukan akrolein. Akrolein ini menyebabkan rasa gatal pada tenggorokan pada saat
mengkonsumsi makanan yang digoreng menggunakan minyak goreng berulang kali.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung minyak goreng bekas yang sudah tidak layak pakai
akan terjadi kerusakan pada sel hepar (liver), jantung, pembuluh darah maupun ginjal. Pada
pemanasan tinggi dan dilakukan berulang akan terbentuk senyawa asam lemak trans. Asam
lemak trans yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya kolesterol low density lipoprotein (K-
LDL) dan menurunkan kolesterol high density lipoprotein (KHDL), sehingga dapat
mengakibatkan penyumbatan pada pembuluh darah (terjadi penyakit jantung koroner) dan
mengakibatkan penyumbatan pada otak (stroke).
Pemurnian (refining) minyak meliputi tahapan netralisasi, pemucatan (bleaching) dan
penghilangan bau (deodorisasi). Netralisasi dilakukan untuk mengurangi FFA (free fatty acid)
untuk meningkatkan rasa dan penampakan minyak. Netralisasi dilakukan dengan mereaksikan
NaOH dengan FFA, sehingga membentuk endapan minyak tak larut yang dikenal sabun
(soapstock). Untuk menghilangkan pengotor berupa gum di dalam minyak digunakan H 3PO4
selanjutnya dipisahkan melalui cara pengendapan (decantion) atau dengan sentrifugasi. Cara-
cara daur ulang minyak jelantah diantaranya melalui pemanfaatan arang tempurung kelapa,
tepung beras, mengkudu, lidah buaya, bawang merah, ampas nanas dan dapat dibuat menjadi
sabun. Semuanya sama karena pada prinsipnya sama yaitu adsorbsi. Minyak jelantah dapat
dibuat menjadi sabun dengan penambahan NaOH (soda kaustik).

10
Kerusakan minyak tidak dapat dicegah, namun dapat diperlambat dengan memperhatikan
beberapa faktor yang mempengaruhinya. Proses peremajaan pada minyak jelantah dapat
memperbaiki kualitas warna, angka peroksida, jumlah FFA bilangan asam, kotoran / residu,
serta penurunan kadar air.

11
DAFTAR PUSTAKA

http://fitriafitroh.blogspot.co.id/2011/02/pemurnian-minyak-jelantah.html.

Diakses tanggal 9 April 2016

http://karyailmiah.polnes.ac.id/index.php/media-perspektif/terbitan-jurnal/vol-10-nomor-1-juni-
2010/80-regenerasi-minyak-jelantah-waste-cooking-oil-dengan-penambahan-sari-mengkudu.
Diakses tanggal 9 April 2016

http://eprints.undip.ac.id/44866/9/BAB_II_TINJAUAN_PUSTAKA.pdf.

Diakses tanggal 9 April 2016

http://jtk.unsri.ac.id/index.php/jtk/article/viewFile/96/95. Diakses tanggal 9 April 2016

http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/valensi/article/viewFile/246/161.

Diakses tanggal 9 April 2016

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20973/4/Chapter%20II.pdf.

Diakses tanggal 9 April 2016

http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/197807162
006042-AI_MAHMUDATUSSA'ADAH/modul_minyak.pdf.

Diakses tanggal 9 April 2016

https://lordbroken.wordpress.com/2010/11/04/pembuatan-minyak-gorengnetralisasi/.

Diakses tanggal 14 April 2016

iii