Anda di halaman 1dari 40

PENGELOLAAN FUNGSI INTERNAL AUDIT

PAPER INTERNAL AUDITING


Tujuan Penulisan :

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata KuliaH Internal Auditing

Dosen Mata Kuliah :

Dr. Muhammad Dahlan S.E.,Ak.,M.Acc.,QIA.,CA

Disusun Oleh :

Siti Fatimatuzzahra (120110140013)

Rikky Adiwijaya (120110140017)

Julio Christo (120110140100)

PRODI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-NYA ,
sehingga kami dapat menyelesaikan Paper Internal Auditingini dengan judul Pengelolaan
Fungsi Internal Audit yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Tidak lupa kami ucapkan
terima kasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah ini yaitu Dr. Muhammad Dahlan
S.E.,Ak.,M.Acc.,QIA.,CA serta pihak-pihak lain yang telah mendukung dalam kelancaran
pembuatan paper ini.

Adapun maksud dan tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk melengkapi dan
memenuhi persyaratan yang diwajibkan kepada kami untuk mengerjakan tugas Mata Kuliah
Internal Auditing. Paper yang kami buat ini di dalamnya membahas mengenai standar IPPF
2000, Contog Penerapan standar IPPF 2000 di Perusahaan, Internal audit charter dan bentuk
internal audit charter di pemerintahan dan perusahaan swasta, dan Contoh Penerapan Internal
audit charter di Perusahaan. Di dalam penulisan ini, kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk menyusun paper ataupun tugas lain di masa yang akan
datang.

Kami mengharapkan semoga paper ini dapat bermanfaat, tidak hanya bagi kami,
tetapi juga untuk rekan-rekan mahasiswa, masyarakat , dan pihak lainnya yang membaca
paper ini. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Bandung, 07 Mei 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................... i


KATA PENGANTAR................................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................... 3
2.1 Standar IPPF 2000 Terkait Pengelolaan Aktivitas Audit Internal......................................3
2.2 Contoh Penerapan Standar IPPF 2000 pada Perusahaan.................................................6
2.3 Internal Audit Charter dan dan Bentuk Internal Audit Charter pada Pemerintahan dan
Perusahaan Swasta................................................................................................. 11
2.3.1 Internal Audit Charter................................................................................... 11
2.3.2 Bentuk Internal Audit Charter Kabupaten Pandeglang...........................................16
2.3.3 Bentuk Internal Audit Charter PT. Astra Internasional............................................25
2.4 Contoh Penerapan Internal Audit Charter pada Perusahaan Swasta.................................30
BAB III PENUTUP................................................................................................... 36
3.1 Kesimpulan..................................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 38
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Seiring dengan berkembangnya kompleksitas bisnis dan semakin terbukanya peluang
usaha dan investasi menyebabkan resiko terjadinya kecurangan pada perusahaan semakin
tinggi, mengacu ke berbagai kasus baik didalam maupun diluar negeri, menunjukkan bahwa
kecurangan dapat terjadi dimana saja dan termasuk yang cukup besar ada disektor usaha.

Banyak perusahaan yang didalam perusahaannya terdapat kecurangan, baik yang


bersumber dari internal perusahaan maupun dari eksernal perusahaan. Yang bersumber dari
internal perusahaan adalah terdiri dari anggota perusahaan mulai dari pegawai, manajer
bahkan direksi juga rentan terhadap konsekuensi hukum sebagai dampak dari kecurangan.
Sedangkan dari eksernal perusahaan adalah pihak supplier, pejabat dan lainnya yang biasanya
bekerja sama dengan pihak internal perusahaan

Untuk mencegah terjadinya kecurangan, pemegang peran utamanya adalah dari


internal auditor sesuai dengan fungsinya yaitu berupaya untuk menghilangkan/mengeleminir
sebab-sebab timbulnya kecurangan tersebut. Tidak hanya innternal auditor saja yang dapat
mencegah kecurangan, kesadaran dari pihak yang berperan dalam perusahaan pun harus
mengupayakan dirinya untuk tidak melakukan kecurangan demi keberlangsungan perusahaan
tersebut. Berdasarkan uraian lata berlakang diatas, maka penulis dalam paper ini akan
membahas mengenai Pengelolaan Fungsi Internal Audit.

1.2 Rumusan Masalah


Penulisan paper ini pada dasarnya dilakukan untuk menganalisis Pengelolaan Fungsi
Internal Audit. Maka, permasalahan dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Jelaskan mengenai standar IPPF 2000 terkait pengelolaan aktivitas internal audit ?
2. Buatlah contoh penerapan standar IPPF 2000 di perusahaan ?
3. Jelaskan mengenai Internal Audit Charter dan Contoh Internal Audit Charter pada
Pemerintahan dan Perusahaan swasta ?
4. Buatlah contoh penerapan internal audit charter di perusahaan ?
1.3 Tujuan Penulisan
Sesuai rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka tujuan dari
penulisan ini adalah :

1. Menjelaskan mengenai standar IPPF 2000 terkait pengelolaan aktivitas internal audit
2. Membuat contoh penerapan standar IPPF 2000 di perusahaan
3. Menjelaskan mengenai Internal Audit Charter dan Contoh Internal Audit Charter pada
Pemerintahan dan Perusahaan swasta
4. Membuat contoh penerapan internal audit charter di perusahaan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Standar IPPF 2000 Terkait Pengelolaan Aktivitas Audit Internal


Kepala audit internal harus mengelola aktivitas audit internal secara efektif untuk
meyakinkan bahwa aktivitas tersebut memberikan nilai tambah bagi organisasi.

Interpretasi:

Aktivitas audit internal telah dikelola secara efektif apabila:

Mencapai tujuan dan tanggung jawab sebagaimana tercantum pada piagam audit internal;

Sesuai dengan Definisi Audit Internal dan Standar;

Setiap individu anggota menunjukkan kesesuaiannya terhadap Kode Etik dan Standar;

Mempertimbangkan trend dan permasalahan-permasalahan yang timbul yang dapat


mempengaruhi organisasi.

Aktivitas audit internal dikatakan memberi nilai tambah bagi organisasi dan pemangku
kepentingannya apabila mempertimbangkan strategi, tujuan dan risiko-risiko; berupaya keras
pada penyediaan cara untuk mengembangkan proses tata kelola, pengelolaan risiko dan
pengendalian; dan secara objektif memberikan asurans yang relevan

2010 - Perencanaan

Kepala audit internal harus menyusun perencanaan berbasis risiko (risk-based plan) untuk
menetapkan prioritas kegiatan aktivitas audit internal sesuai dengan tujuan organisasi.

Interpretasi:

Untuk membangun perencanaan berbasis risiko, kepala audit internal menanyakan kepada
manajemen senior dan dewan untuk memperoleh pemahaman mengenai strategi organisasi,
tujuan bisnis utama, risiko-risiko terkait, dan proses pengelolaan risiko. Kepala audit
internal harus mengkaji dan menyesuaikan perencanaan seperlunya untuk merespon
perubahan dalam berbagai hal: usaha, risiko, operasi, program, sistem, dan pengendalian
organisasi.
2010.A1-Perencanaan penugasan sebagai aktivitas audit internal harus didasarkan atas
penilaian risiko yang terdokumentasikan, yang dilakukan sekurang-kurangnya setahun
sekali. Masukan dari manajemen senior dan dewan harus diperhatikan dalam proses
tersebut.

2010.A2-Kepala audit internal harus mengidentifikasi dan mempertimbangkan harapan


manajemen senior, dewan, dan pemangku kepentingan lain untuk menyusun opini dan
kesimpulan lain auditor internal.

2010.C1-Kepala audit internal harus mempertimbangkan penerimaan rencana penugasan


konsultansi berdasarkan potensi peningkatan pengelolaan risiko, nilai tambah, dan
peningkatan kegiatan operasional yang dapat diberikan dari penugasan tersebut. Penugasan
yang diterima harus tercakup dalam perencanaan.

2020 - Komunikasi dan Persetujuan

Kepala audit internal mengkomunikasikan rencana aktivitas audit internal dan kebutuhan
sumber daya, termasuk perubahan interim yang signifikan, kepada manajemen senior dan
dewan untuk dikaji dan disetujui. Kepala audit internal juga harus mengkomunikasikan
dampak dari keterbatasan sumber daya.

2030 - Pengelolaan Sumber Daya

Kepala audit internal harus memastikan bahwa sumber daya audit internal telah sesuai,
memadai, dan dapat digunakan secara efektif dalam rangka pencapaian rencana yang telah
disetujui.

Interpretasi:

Sesuai mengacu pada gabungan dari pengetahuan, kecakapan/keahlian, dan kompetensi lain
yang diperlukan untuk melaksanakan rencana. Memadai mencakup kuantitas sumber daya
yang diperlukan untuk mencapai rencana. Sumber daya digunakan secara efektif apabila
digunakan dengan cara yang dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.

2040 - Kebijakan dan Prosedur

Kepala audit internal harus menetapkan kebijakan dan prosedur untuk


mengarahkan/memandu aktivitas audit internal.
Interpretasi:

Bentuk dan isi kebijakan dan prosedur tergantung pada ukuran dan struktur aktivitas audit
internal, serta kompleksitas pekerjaannya.

2050 Koordinasi dan Penyandaran

Kepala audit internal harus berbagi informasi, mengkoordinasikan kegiatannya dan


mempertimbangkan penyandaran terhadap hasil pekerjaan penyedia jasa asurans dan
konsultansi eksternal dan internal lain, untuk memastikan bahwa lingkup penugasan telah
sesuai dan meminimalkan duplikasi aktivitas.

Interpretasi:

Dalam mengkoordinir aktivitas-aktivitas, kepala audit internal dapat bersandar kepada


pekerjaan para penyedia jasa asurans dan konsultansi lainnya. Suatu proses yang konsisten
sebagai dasar penyandaran semestinya ditetapkan, dan kepala audit internal semestinya
mempertimbangkan kompetensi, objektivitas, dan penerapan keahlian dari para penyedia
jasa asurans dan konsultansi. Kepala audit internal semestinya juga mempunyai pemahaman
yang jelas mengenai lingkup, tujuan dan hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh para
penyedia jasa asurans dan konsultansi lainnya. Ketika dilakukan penyandaran terhadap
pekerjaan pihak lain, kepala audit internal tetap akuntabel dan bertanggung jawab
meyakinkan kecukupan dukungan atas kesimpulan dan pendapat aktivitas audit internal.

2060 - Laporan kepada Manajemen Senior dan Dewan

Kepala audit internal harus melaporkan secara periodik tujuan, kewenangan, tanggung jawab,
dan kinerja aktivitas audit internal terhadap rencananya dan kesesuaiannya dengan Kode Etik
dan Standar. Laporan tersebut juga harus mencakup risiko signifikan, pemasalahan tentang
pengendalian, risiko terjadinya kecurangan, masalah tata kelola, dan hal lainnya yang
memerlukan perhatian dari manajemen senior dan/atau dewan.

Interpretasi:

Frekuensi dan isi laporan ditentukan secara kolaboratif oleh kepala audit internal,
manajemen senior dan dewan. Frekuensi dan isi laporan tergantung pada tingkat
kepentingan informasi yang dikomunikasikan, serta tingkat urgensinya dikaitkan dengan
tindakan yang harus dilakukan oleh manajemen senior dan/atau dewan.
Laporan dan komunikasi kepala audit internal kepada manajemen senior dan dewan harus
mencakup informasi mengenai:

Piagam audit.

Independensi aktivitas audit internal.

Rencana audit dan realisasinya dibandingkan rencana.

Kebutuhan sumber daya.

Kesesuaian dengan Kode Etik dan Standar, serta rencana aksi untuk mengatasi
permasalahan kesesuaian signifikan yang ada.

Respon manajemen terhadap risiko yang, dalam penilaian Kepala audit internal, mungkin
tidak dapat diterima bagi organisasi.

Hal-hal di atas dan persyaratan komunikasi kepala audit internal lainnya direferensikan
pada seluruh bagian dari Standar.

2.2 Contoh Penerapan Standar IPPF 2000 pada Perusahaan


1. Perencanaan

Kepala audit internal PT. X menerima aduan dari senior management terkait kurang
efektif serta efisiennya aktivitas pengadaan bahan baku setelah dia merivisi nilai dan jumlah
pengadaan bahan baku yang diajukan dengan harga pasar bahan baku. Selain itu kepala audit
internal juga menerima aduan terkait ketidaksesuaian hasil perhitungan stock opname dengan
catatan yang ada.

a. audit atas pengadaan bahan baku

b. audit atas persediaan dan pergudangan

2. Komunikasi dan Persetujuan

Kepala audit internal PT. X kemudian mengomunikasikan dua rencana utama kegiatan
audit internal tersebut kepada BOD dan Senior Management untuk dikaji dan disetujui.
Selain itu juga kepala audit internal juga mengomunikasikan dampak yang kemungkinan
timbul karena adanya keterbatasan sumber daya baik sumber daya informasi, finansial,
tenaga kerja, dan lainnya.
3. Pengelolaan Sumber Daya

Berikut ini adalah beberapa poin penting yang dimanage oleh kepala internal audit
dalam melakukan dua rencana kegiatan audit yang telah ditetapkan sebelumnya :

- Struktur Organisasi dan Strategi Susunan Kepegawaian

a. Kepala audit internal PT. X menggunakan struktur organisasi dan startegi susunan
kepegawaian Hirarki, seperti berikut ini :

1. Staf Auditor

2. Audit Manager

3. Chief Audit Executive / kepala audit internal/ Direktur Audit

b. Right Sizing

Didalam departemen internal audit PT. X ini selalu mengutamakan keseimbangan staf
sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, dan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan.

c. Perencanaan Kepegawaian

Departemen internal audit PT. X ini selalu mengevaluasi kinerja, pengembangan


stafnya secara berkala dan pergantian staf jika dianggap tidak berkompeten dan tidak sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.

d. Perekrutan Pegawai

Perekrutan pegawai biasanya dilakukan setidaknya satu tahun sekali. Berikut adalah
kualifikasi dan syarat minimal yang ditetapkan oleh Departemen internal audit PT. X :

- Staf Auditor
1. Pria/ wanita maksimal 25 Tahun
2. Pendidikan terakhir S1 Akuntansi
3. IPK minimal 3,25 dari Perguruan Tinggi berakreditasi A
4. Memiliki kemampuan berbahasa inggris (yang dibuktikan dengan Skor TOEFL
atau sejenisnya setara minimal 450)
5. Memiliki pengalaman kerja (diutamakan)
6. Sanggup bekerja dalam tim dan dibawah tekanan

- Audit Manager
1. Pria/ wanita maksimal 35 Tahun
2. Pendidikan terakhir S2 Akuntansi
3. IPK minimal 3,25 dari Perguruan Tinggi berakreditasi A
4. Memiliki kemampuan berbahasa inggris (yang dibuktikan dengan Skor TOEFL
atau sejenisnya setara minimal 500)
5. Memiliki sertifikasi QIA atau CIA
6. Memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun
7. Sanggup bekerja dalam tim, dibawah tekanan dan jadwal yang padat
8. Memiliki kemampuan analisa yang baik, keterampilan interpersonal dan kreatif

e. Pelatihan

Untuk memelihara dan meningkatkan tenaga auditor yang memiliki kompetensi memadai
untuk dapat berperan sesuai dengan lingkup kegiatan IA dalam mengawal perkembangan
bisnis Perusahaan, IA senantiasa melakukan upaya-upaya dalam:

mengikutsertakan auditor IA dalam pelatihan, seminar dan workshop yang bersifat


teknis; dan

mengikutsertakan auditor IA dalam pembelajaran berkelanjutan yang bersertifikasi,


baik lokal maupun internasional.

f. Penjadwalan dan Anggaran keuangan

Satuan
N Seles
Layak Aktivitas Audit Mulai Nama dan Jabatan Biaya
o ai
Audit
Andre (Audit Manager)
Departemen Audit atas
1 30 Diding (staf auditor) Rp
1 Pengadaan / pengadaan bahan
Februari Maret Dudung (staf auditor) 65.000.000
Pembelian baku ke supplier
Dedeng (staf auditor)
Departemen
Audit atas keluar Luka (audit manager)
Persediaan
masuknya bahan Jono (staf auditor) Rp
2 dan 1 April 20 Juni
baku dari dan ke Jini (staf auditor) 50.000.000
Pergudanga
gudang Junu (staf auditor)
n

4. Kebijakan Prosedur
Berikut ini beberapa prosedur dalam internal audit PT. X :

a. Audit Internal Sistem Mutu

1) Kepala internal audit menyusun rencana Audit Internal untuk periode tertentu

2) Beberapa waktu sebelum dilakukan audit, Kepala Internal Audit akan menentukan tim
audit yang terdiri dari 1 audit manager dan 3 orang staf auditor

3) Paling lambat satu minggu sebelum tanggal audit, auditor yang ditunjuk harus dihubungi
agar dapat melakukan persiapan audit. Apabila terdapat auditor yang berhalangan, maka akan
dipilih yang telah siap atau langsung akan digantikan oleh Kepala Internal Audit. Auditor
akan mengonfirmasikan kembali waktu pelaksanaan audit dengan tim Kepala Internal Audit.
Jika terpaksa dilakukan perubahan jadwal, maka auditor harus melakukan konfirmasi ke
Kepala Internal Audit.

4) Apabila dianggap perlu Kepala Internal Audit akan menjadi peninjau dan/atau
mengundang personil lain untuk menjadi peninjau.

b. Pelaporan Hasil Audit

1) Setelah melaksanakan audit, auditor menyiapkan laporan terhadap ketidaksesuaian yang


ditemukan, dengan menggunakan Borang Laporan Ketidaksesuaian (002090200303).

2) Dalam menuliskan ketidaksesuaian dalam borang nomor 002090200303, Auditor harus


melengkapi kolom-kolom yang disediakan dan mendiskripsikan ketidaksesuaian yang
ditemui dengan mengusahakan 4 unsur temuan yang tercakup dalam laporan tersebut, yaitu:

Diskripsi dari ketidaksesuaian (nonconformance)

Bukti nyata (objectiveevidence) dari ketidaksesuaian

Aspek/proses ketidaksesuaian

Ketidaksesuaian dengan dokumen tertentu.

3) Laporan audit internal ditandatangani oleh Auditor sebelum diserahkan kepada Kepala
Internal Audit untuk kesepakatan terhadap ketidaksesuaian, penentuan tindakan koreksi dan
pencegahan yang harus dilakukan oleh bagian yang bersangkutan.
4) Apabila dianggap perlu kepada Kepala Internal Audit dapat melakukan perubahan terhadap
deskripsi dari ketidaksesuaian sebelum dibuat salinannya, baik perubahan redaksional,
perubahan terhadap kategori, pembatalan karena alasan kurang/tidak didukung oleh bukti
obyektif, atau perubahan jumlah karena telah digabung dalam ketidaksesuaianyang
dikategorikan major.

5) Selama belum terdapat kesepakatan terhadap hasil audit dan tindakan koreksi/ pencegahan
dari bidang terkait, maka Auditor yan bertugas masih bertanggung jawab terhadap status
pelaporan. Dan laporan yang telah dianggap memadai diserahkan kepada Kepala Internal
Audit untuk dikaji dan dibuatkan salinan untuk didistribusikan ke Senior Management dan
BOD.

6) Apabila bidang yang diaudit tersebut telah melaksanakan tindakan koreksi dan pencegahan
sebelum tanggal yang telah disepakati, maka bidang tersebut akan memberitahukan Kepala
Internal Audit untuk dilakukan verifikasi. Apabila Kepala Internal Audit tidak mendapatkan
informasi dari bagian tersebut tentang status tindakan koreksi dan pencegahan, maka Kepala
Internal Audit akan melakukan verifikasi pada waktu yang disepakati.

7) Dan apabila tindakan koreksi dan pencegahan belum dilakukan pada waktu yang
disepakati, maka kepala departemen atau bagian yang diaudit tersebut harus membuat alasan
secara tertulis mengapa tindakan tersebut belum dilakukan dan menentukan waktu perbaikan.
Apabila pada saat verifikasi selanjutnya (waktu yang disepakati) belum juga melakukan
tindakan koreksi dan pencegahan tersebut, maka Kepala Internal Audit membuat
Ketidaksesuaian untuk kasus yang sama.

8) Laporan audit ini kemudian diserahkan kepada Senior Management dan BOD akan
dijadikan dasar salah satu kajian dalam Rapat Tahunan Perusahaan

9)Jika ada saran atau permintaan koreksi dari auditor eksternal, maka laporan temuan dan
tanggapannya mengikuti langkah-langkah seperti pada audit internal.

5. Koordinasi

Setiap unit kerja PT. X harus melakukan koordinasi secara baik dengan didasari
profesionalitas dengan pihak internal maupun eksternal organisasi yang melakukan pekerjaan
audit untuk memastikan bahwa lingkup bahwa seluruh penugasan tersebut sudah memadai
dan meminimalkan duplikasi.

6. Laporan Kepada Manajemen Senior dan Dewan

Kepala Internal Audit menyampaikan laporan hasil audit secara berkala kepada Senior
Management dan BOD mengenai perbandingan rencana dengan realisasi yang mencakup
sasaran, wewenang, tanggung jawab, dan kinerja fungsi audit internal. Laporan tersebut
memuat hal hal yang diperlukan dan diminta oleh Senior Management dan BOD.

2.3 Internal Audit Charter dan dan Bentuk Internal Audit Charter pada Pemerintahan
dan Perusahaan Swasta

2.3.1 Internal Audit Charter


Piagam audit internal merupakan dokumen resmi yang mendefinisikan tujuan,
kewenangan dan tanggung jawab aktivitas audit internal. Piagam audit internal menetapkan
posisi aktivitas audit internal dalam organisasi, termasuk sifat hubungan pelaporan fungsional
Kepala audit internal kepada dewan; memberikan kewenangan untuk mengakses catatan,
personil, dan properti fisik yang berkaitan dengan pelaksanaan penugasan; dan
mendefinisikan ruang lingkup aktivitas audit internal. Persetujuan akhir atas piagam audit
internal berada pada dewan. Standar audit intern The Institute of Internal Auditors (IIA,
2012)yang diterima secara internasionalmengatur secara gamblang perlunya piagam audit
intern dalam Attribute Standards Nomor 1000 sebagai berikut:

The purpose, authority, and responsibility of the internal audit activity must be
formally defined in an internal audit charter, consistent with the Definition of Internal
Auditing, the Code of Ethics, and the Standards. The chief audit executive must periodically
review the internal audit charter and present it to senior management and the board for
approval.

Di sektor pemerintahan Indonesia, standar audit intern yang diterbitkan Asosiasi


Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI, 2013) juga mengatur hal yang sama. Hal itu
tertuang dalam Prinsip-Prinsip Dasar Nomor 1000 yang berbunyi:

Visi, misi, tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab APIP harus dinyatakan secara
tertulis dan disetujui Pimpinan Organisasi Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah, serta
ditandatangani oleh Pimpinan APIP sebagai Piagam Audit (Audit Charter).
Bagi sektor swasta, pembuatan piagam audit intern mungkin sudah menjadi hal yang
lumrah. Namun di sektor pemerintahan Indonesia, beberapa kalangan berpendapat piagam
tersebut tidak diperlukan lagi karena eksistensi unit audit interndikenal sebagai aparat
pengawasan intern pemerintah atau APIPtelah diatur dalam peraturan perundang-undangan
maupun aturan tata kerja organisasi internal masing-masing instansi pemerintah. Masalahnya,
menjadi kurang bermakna bila pengaturan tersebut amat umum dan bercampur dengan
pengaturan-pengaturan lainnya. Padahal mandat audit intern harus jelas dari waktu ke waktu.
Ia harus dinamis sesuai konteks kebutuhan dan prioritas organisasi pada waktu tertentu. Oleh
sebab itu, penetapan piagam audit intern bagi sektor pemerintahan masih tetap relevan.
Buktinya, asosiasi profesi mengamanatkannya juga dalam standar.

Manfaat

Sebagaimana dikemukakan di awal, auditor intern dituntut untuk memberikan


penilaian objektif dan menjaga independensi. Namun hal itu bukan perkara mudah. Posisi
auditor intern sebagai bagian organisasi memerlukan perlakuan khusus dibanding auditor
ekstern yang jelas-jelas berada di luar organisasi. Piagam audit intern menjadi salah satu alat
mempertegas independensi. Penegasan itu nampak dari pengaturan posisi unit audit intern
dalam struktur organisasi dan kepada siapa pimpinan unit tersebut bertanggung jawab secara
fungsional. Penegasan tersebut sekaligus juga berguna untuk meningkatkan trust semua unsur
organisasi terhadap fungsi audit intern.

Piagam audit intern sebagai mandat, akan sangat mempengaruhi alokasi sumber daya
audit intern. Bila mandatnya tidak jelas, ada risiko ketidaktepatan alokasi sumber daya audit.
Kegiatan audit intern bisa menyerap terlalu banyak sumber daya (tidak efisien) atau
sebaliknya, kekurangan sumber daya. Risiko yang lebih fatal adalah gagalnya audit intern
dalam memberikan manfaat nyata bagi organisasi (tidak efektif). Sebaliknya, bila mandatnya
jelas, alokasi sumber daya akan terarah sesuai tujuan dan tanggung jawab audit intern yang
tertuang dalam piagam audit. Dan jika mandat itu benar-benar atas kesepakatan para
pemangku kepentingan, semestinya alokasi sumber daya tersebut berhasil guna.

Mandat yang tertuang dalam piagam audit akan mempermudah para auditor intern
dalam menjalankan pekerjaan mereka karena manajemen dan para pihak lainnya dapat
memahami sendiri tugas dan tanggung jawab auditor intern melalui piagam itu. Piagam audit
juga menjadi sarana komunikasi bagi auditor intern dalam membahas dan menetapkan
prioritas kegiatan audit intern bersama pihak-pihak yang berkepentingan.
Piagam audit sekaligus juga menjadi kriteria kinerja auditor intern. Rumusan
tanggung jawab yang jelas dalam piagam dapat dipakai sebagai dasar menjabarkan ukuran-
ukuran kinerja auditor intern. Jadi, auditor yang gagal memenuhi tanggung jawab yang diatur
dalam piagam audit bisa dikatakan buruk kinerjanya.

Proses

Perancangan atau pemutakhiran piagam audit intern seharusnya mendapat perhatian


khusus, sebab proses tersebut bukanlah hal yang sederhana. Banyak pihak yang harus
dilibatkan. Para pemangku kepentingan utama organisasi seperti pimpinan tertinggi, jajaran
manajemen dan organ pengawas organisasi adalah pihak-pihak yang perlu diprioritaskan
keterlibatannya. Mereka perlu turut serta merumuskan bentuk-bentuk kegiatan asurans dan
konsultansi yang diharapkan dari auditor intern. Partisipasi dari segenap unsur unit audit
intern juga amat penting agar timbul komitmen yang kuat dalam eksekusi piagam audit.
Tanpa partisipasi tersebut, pelaksanaan piagam audit inten tidak bisa dijamin berjalan mulus.

Selain dari sisi partisipan, rumusan isi piagam audit intern sesungguhnya juga tak bisa
dianggap sepele. Rumusan piagam audit yang sekedar mengikuti template akan membuatnya
tidak bermakna spesial bagi organisasi. Rumusan yang umum sulit dipakai sebagai kriteria
kinerja auditor intern. Ia hanya akan menjadi dokumen formal yang disimpan dalam arsip.
Karena itu, perumusan isi piagam audit bukanlah proses sekali jadi. Berbagai tuntutan agar
fungsi audit intern mendukung tujuan dan prioritas organisasi harus bisa ditampung dengan
baik. Dan tidak mungkin tujuan dan prioritas tersebut statis dari waktu ke waktu. Itulah
sebabnya best practices menyarankan perlunya peninjauan isi piagam audit intern secara
berkala. Pengalaman berulang kali menyempurnakan piagam audit semestinya menghasilkan
rumusan yang betul-betul memenuhi harapan para pemangku kepentingan. Lebih bagus lagi
jika perumusan piagam tersebut dilengkapi dengan benchmarking pada organisasi sejenis
agar isinya sejalan dengan best practices.

Setelah ditetapkan, piagam audit intern harus dijadikan pedoman tata kelola audit
intern secara konsisten. Jangan kemudian dimasukkan arsip dan dilupakan begitu saja.
Dokumen ini wajib dipahami oleh seluruh auditor intern, baik yang sudah senior maupun
yang masih baru. Para pemangku kepentingan juga harus memahami substansi piagam audit
tersebut. Agar mudah diakses, piagam audit dapat ditampilkan pada jaringan intranet atau
internet milik organisasi. Level pemahaman yang sama antara auditor dan para pemangku
kepentingan akan menjadi modal sinergi yang baik dalam pelaksanaan fungsi audit intern.
Isi

Tak ada aturan baku mengenai rincian isi piagam audit intern. Implementation Guide
1000 (IIA, 2015) menyatakan bahwa meskipun bervariasi sesuai organisasi, namun piagam
audit biasanya mencakup hal-hal sebagai berikut:

Pendahuluanmenjelaskan keseluruhan peran dan profesionalisme kegiatan audit


intern.

Kewenanganmengatur hak akses penuh audit intern terhadap catatan, aset fisik dan
personil termasuk pernyataan tanggung jawab dalam hal keamanan dan dan
kerahasiaannya.

Struktur organisasi dan pelaporanmenjelaskan struktur pelaporan dan tanggung


jawab fungsional audit intern.

Independensi dan objektivitasmenjelaskan pentingnya kedua hal tersebut dan cara


menjaganya.

Tanggung jawabmemaparkan bidang tanggung jawab utama audit intern saat ini,
seperti menentukan lingkup penilaian, membuat dan meminta persetujuan rencana
audit, melaksanakan penilaian, mengomunikasikan hasil, membuat laporan tertulis,
dan memantau tindak lanjut manajemen.

Peningkatan dan penjaminan kualitasmenjelaskan ekspektasi dalam penjagaan,


evaluasi, dan komunikasi hasil dari program kualitas yang mencakup seluruh aspek
kegiatan audit intern.

Tanda tanganmenunjukkan kesepakatan antara pimpinan unit audit intern


perwakilan organ pengawas (board) dan pihak yang berhak menerima laporan
pimpinan unit audit intern.

Standar audit AAIPI memberikan contoh piagam audit intern yang berbeda formatnya
dari IIA. Menurut contoh dari AAIPI, piagam audit intern berisi:

Definisi audit intern; penugasan audit intern kepada APIP; kewenangan APIP dalam
akses informasi dan hal lainnya; kewajiban pimpinan instansi pemerintah menciptakan dan
memelihara lingkungan pengendalian; dan lain-lainnya yang menjadi faktor penting bagi
APIP untuk dapat menjalankan fungsinya.

Piagam tersebut ditandatangani oleh pimpinan APIP dan disahkan oleh pimpinan
kementerian/lembaga/pemda. Berikutnya, piagam tersebut juga dilengkapi
penjelasan/suplemen yang berisi:

Pendahuluan

Kedudukan dan peran APIP

Visi dan misi APIP

Tugas pokok dan fungsi APIP

Kewenangan APIP

Tanggung Jawab APIP

Tujuan, sasaran dan lingkup audit intern

Kode etik dan standar

Persyaratan auditor

Larangan perangkapan tugas dan jabatan auditor

Hubungan kerja dan koordinasi

Penilaian berkala

Penutup

Suplemen ini dibuat oleh pimpinan APIP, diketahui oleh Sekretaris Jenderal/Sekretaris
dan disahkan oleh pimpinan kementerian/lembaga/pemda. Selain itu, suplemen juga
diketahui dan ditandatangani oleh Direktur Jenderal/Eselon I/Eselon II atau Pimpinan
SKPD/Eselon II di Pemda.

Secara keseluruhan, format IIA maupun AAIPI, keduanya hanyalah contoh. Tiap
organisasi bisa membuat piagam audit intern yang lebih membumi. Sangat disayangkan jika
contoh itu dianggap seperti format baku dan dijadikan kriteria bagus tidaknya piagam audit
intern. Karena sesungguhnya kualitas piagam audit intern tidak ditentukan dari formatnya
tapi dari substansinya yang memenuhi kebutuhan organisasi "pada masanya". Tak ada
salahnya piagam audit membatasi tanggung jawab audit intern pada audit kepatuhan saja jika
memang itu yang paling dibutuhkan organisasi. Daripada, semua hal dicakupnya tapi tak
satupun dilaksanakan dengan baik. Lain waktu, cakupan tanggung jawab itu bisa saja
ditambah atau diubah.

2.3.2 Bentuk Internal Audit Charter Kabupaten Pandeglang


1. PENDAHULUAN

1) Piagam Audit Intern (Internal Audit Charter) merupakan dokumen formal yang
menyatakan tujuan, wewenang, dan tanggung jawab kegiatan pengawasan intern oleh Aparat
Pengawasan Intern Pemerintah;

2) Piagam Audit Intern merupakan penegasan komitmen dari para pemangku kepentingan
(stakeholders) terhadap arti pentingnya fungsi audit intern atas penyelenggaraan
pemerintahan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pandeglang;

3) Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) adalah instansi pemerintah yang dibentuk
dengan tugas melaksanakan pengawasan intern di lingkungan pemerintah pusat dan/atau
pemerintah daerah, yang terdiri dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP), Inspektorat Jenderal Kementerian, Inspektorat/unit pengawasan intern pada
Kementerian Negara, Inspektorat Utama/Inspektorat Lembaga Pemerintah, Inspektorat/unit
pengawasan intern pada Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara dan Lembaga Negara,
Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota, dan unit pengawasan intern pada Badan Hukum
Pemerintah lainnya sesuai dengan peraturan perundangundangan

2. KEDUDUKAN DAN PERAN INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG


1) Inspektorat Kabupaten Pandeglang merupakan unit kerja yang dalam pelaksanaan tugas
pokok dan fungsinya berada dan bertanggung jawab langsung kepada Bupati Pandeglang.

2) Struktur dan kedudukan Unit APIP adalah sebagai berikut :

a. Struktur organisasi APIP harus dibentuk sesuai kebutuhan untuk melaksanakan beban
kerja.

b. Unit APIP dipimpin oleh seorang Inspektur sebagai Kepala Unit APIP.

c. Kepala Unit APIP diangkat dan diberhentikan oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai
dengan peraturan perundang-undangan tentang pengangkatan dan pemberhentian PNS.

d. Kepala Unit APIP bertanggung jawab kepada Bupati Pandeglang.

e. Auditor yang duduk dalam Unit APIP bertanggung jawab secara langsung kepada kepala
Unit APIP.

3. VISI DAN MISI INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG

1) Visi Inspektorat Kabupaten Pandeglang adalah Menjadi Unit Pengawasan Internal


Pemerintah Yang Profesional dan Berintegritas Untuk Mendukung Terwujudnya
Kepercayaan Publik Terhadap Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten
Pandeglang.

2) Misi Inspektorat Kabupaten Pandeglang adalah :

a. Mendorong ketaatan SKPD di lingkungan pemerintah kabupaten pandeglang terhadap


peraturan perundang-undangan atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi masing - masing
melalui pengujian dan konsultasi;

b. Mendorong efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas pokok SKPD melalui Evaluasi,
koordinasi, dan perbaikan kebijakan;

c. Mendorong terwujudnya akuntabilItas pengelolaan keuangan daerah melalui reviu serta


dukungan penyelenggaraan akuntasi dan pelaporan keuangan daerah;

d. Mengawal reformasi birokrasi melalui pemantauan / monitoring dan evaluasi serta


Mempromosikan Good Governance dan Clean Government di jajaran Pemerintah Kabupaten
Pandeglang;
e. Mengawasi disfunctional behavior aparat pemerintah daerah melalui surveilalance dan
investigasi;

4. TUGAS POKOK DAN FUNGSI INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG

Tugas pokok Inspektorat Kabupaten Pandeglang adalah melakukan pembinaan dan


pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintah daerah kabupaten dibidang
pembangunan, pemerintahan dan kemasyarakatan, pelaksanaan pembinaan atas
penyelenggaraan pemerintahan desa dibidang pembangunan, pemerintahan dan
kemasyarakatan dan pelaksanaan urusan pemerintahan desa, yang paling kurang meliputi :

1) Menyusun dan melaksanakan rencana Pengawasan Internal tahunan, termasuk


mengidentifikasi dan memutakhirkan data semua unit kerja yang dapat diawasi (audit
universe) serta data/dokumen yang diperlukan;

2) Melakukan audit ketaatan (compliance) untuk memastikan bahwa semua prosedur/area


yang diaudit telah sesuai dengan peraturan, ketentuan, dan prosedur yang berlaku;

3) Menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pengendalian intern dan sistem manajemen risiko
sesuai dengan kebijakan pemerintah;

4) Melakukan audit kinerja untuk memastikan efisiensi, efektivitas dan kehematan dari
seluruh aspek proses bisnis dan operasi organisasi di bidang keuangan, akuntansi,
operasional, sumber daya manusia, pemasaran, teknologi informasi dan kegiatan lainnya;

5) Melakukan audit atas ekonomis, efisiensi dan efektivitas (value for money audit), evaluasi
program, evaluasi kebijakan pemerintah;

6) Melakukan pemberian jasa advis tanpa mengambil alih tanggung jawab manajemen
mencakup antara lain pelatihan, reviu pengembangan sistem, penilaian mandiri atas
pengendalian dan kinerja;

7) Memberikan saran perbaikan dan informasi yang obyektif tentang kegiatan yang diperiksa
pada semua tingkat manajemen;

8) Membuat laporan hasil audit intern dan menyampaikan laporan tersebut kepada pimpinan
kementerian/lembaga/pemerintah daerah dan auditi;
9) Memantau, menganalisis dan melaporkan pelaksanaan tindak lanjut perbaikan yang telah
disarankan;

10) Menyusun program untuk mengevaluasi mutu kegiatan Audit intern yang dilakukannya;
dan

11) Melakukan pemeriksaan khusus apabila diperlukan.

Supaya Aparat Pengawasan Intern Pemerintah melaksanakan tugas pokoknya dengan


efektif, harus menjalankan fungsi:

a. Penyusunan perencanaan dibidang pengawasan;

b. Perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan ;

c. Penyelenggaraan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dan


pemerintahan desa dan kasus pengaduan ;

d. Pelaksanaan pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan;

e. Pelaksanaan pembinaan, koordinasi dan evaluasi kegiatan pengawasan ;

f. Pelaksanaan kegiatan penatausahaan Inspektorat;

g. Pelaksanaan pemeriksaan atas permintaan instansi lain ;

h. Pengkoordinasian penyelenggaraan pengawasan dalam rangka kepentingan pemerintah


daerah;

i. Pelayanan penunjang penyelenggaraan Pemerintahan bidang pengawasan;

j. Menyelenggarakan pengujian serta penilaian atas laporan setiap unsur dilingkungan


pemerintah daerah serta pemeriksaan pengawasan fungsional atas dasar petunjuk Bupati;

k. Melakukan pengusutan kebenaran informasi/laporan atau pengaduan terhadap


penyimpangan atau penyalahgunaan dibidang pemerintahan, sosial budaya dan ekonomi
pembangunan.

l. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

5. KEWENANGAN INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG


Untuk dapat memenuhi tujuan dan lingkup pengawasan intern secara memadai, Inspektorat
Kabupaten Pandeglang memiliki kewenangan untuk :

a. Mengakses seluruh informasi, sistem informasi, catatan, dokumentasi, aset, dan personil
yang diperlukan sehubungan dengan pelaksanaan fungsi audit intern;

b. Melakukan komunikasi secara langsung dengan pejabat pada satuan kerja yang

menjadi obyek audit intern dan pegawai lain yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan audit
intern;

c. Memiliki wewenang untuk menyampaikan laporan dan melakukan konsultansi dengan


Bupati Pandeglang dan berkoordinasi dengan pimpinan lainnya;

d. Melakukan koordinasi kegiatannya dengan kegiatan auditor eksternal;

e. Mengalokasikan sumber daya Inspektorat Kabupaten Pandeglang serta menetapkan


frekuensi, objek, dan lingkup audit intern;

f. Menerapkan teknik-teknik yang diperlukan untuk memenuhi tujuan audit intern;

g. Meminta dan memperoleh dukungan dan/atau asistensi yang diperlukan, baik yang berasal
dari internal maupun eksternal Pemerintah Kabupaten Pandeglang dalam rangka pelaksanaan
fungsi audit intern.

6. TANGGUNG JAWAB INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG

Dalam penyelenggaraan fungsi pengawasan intern, Inspektorat Kabupaten Pandeglang


bertanggung jawab untuk:

a. Secara terus menerus mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme auditor, kualitas


proses audit intern, dan kualitas hasil audit intern dengan mengacu kepada Standar Audit
yang berlaku;

b. Menyusun, mengembangkan, dan melaksanakan Program Kerja Audit Intern Tahunan yang
peduli risiko, khususnya dalam hal penentuan skala prioritas dan sasaran audit intern dengan
mempertimbangkan ketersediaan sumber daya pengawasan, termasuk mengidentifikasi dan
memutakhirkan data semua unit kerja yang dapat diawasi (audit universe) serta
data/dokumen yang diperlukan;
c. Menjamin kecukupan dan ketersediaan sumber daya sehingga dapat menyelenggarakan
fungsi audit intern secara optimal;

d. Melakukan pemantauan tindak lanjut hasil audit intern;

e. Menyampaikan laporan hasil audit intern dan laporan berkala aktivitas pelaksanaan fungsi
audit intern kepada Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

7. TUJUAN, SASARAN, DAN LINGKUP PENGAWASAN INSPEKTORAT


KABUPATEN PANDEGLANG

Tujuan penyelenggaraan audit intern oleh Inspektorat Kabupaten Pandeglang adalah untuk
memberikan nilai tambah bagi pencapaian tujuan dan sasaran, yaitu :

a. Meningkatnya ketaatan, kehematan, efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan dan


sasaran penyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

b. Meningkatnya efektivitas manajemen risiko dan pengendalian dalam penyelenggaraan


tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

c. Meningkatnya tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat
Daerah yang bersih dan bebas dari praktik-praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Untuk dapat mencapai tujuan dan fungsi audit intern tersebut di atas, maka lingkup audit
intern Inspektorat Kabupaten Pandeglang paling kurang meliputi:

a. Audit dengan tujuan tertentu termasuk audit ketaatan untuk memastikan bahwa
penyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang telah sesuai ketentuan;

b. Audit kinerja atas peyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang,
yang mencakup audit kinerja atas pengelolaan keuangan negara dan audit kinerja atas
pelaksanaan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang;

c. Reviu atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang, seperti
reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan reviu atas Laporan
Kinerja Pemerintah Kabupaten Pandeglang;

d. Evaluasi atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang, seperti
evaluasi atas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan evaluasi atas penggunaan
Dana Dekonsentrasi/Tugas Perbantuan;
e. Pemantauan dan aktivitas audit intern lainnya yang berupa asistensi, sosialisasi,dan
konsultasi terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

8. KODE ETIK DAN STANDAR AUDIT APIP

Piagam Audit Intern mensyaratkan bahwa auditor dalam melaksanakan pekerjaannya harus
senantiasa mengacu pada Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia dan Kode Etik yang
dikeluarkan oleh organisasi profesi (AAIPI).

9. PERSYARATAN AUDITOR YANG DUDUK DALAM UNIT APIP

Persyaratan auditor intern yang duduk dalam Unit APIP paling kurang meliputi :

a. Memenuhi sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor dan/atau sertifikasi lain di bidang


pengawasan intern pemerintah serta persyaratan teknis lainnya sesuai peraturan perundang-
undangan;

b. Memiliki integritas dan perilaku yang profesional, independen, jujur, dan obyektif dalam
pelaksanaan tugasnya;

c. Memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai teknis audit dan disiplin ilmu lain yang
relevan dengan bidang tugasnya;

d. Wajib mematuhi Kode Etik dan Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia;

e. Wajib menjaga kerahasiaan informasi terkait dengan pelaksanaan tugas dan tanggung
jawab audit intern kecuali diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan;

f. Memahami prinsip-prinsip tata kelola organisasi yang baik, pengendalian intern


pemerintah, dan manajemen risiko; serta

g. Bersedia meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan kemampuan profesionalismenya secara


terus-menerus.

10. LARANGAN PERANGKAPAN TUGAS DAN JABATAN AUDITOR

a. Auditor tidak boleh terlibat langsung melaksanakan operasional kegiatan yang diaudit. atau
terlibat dalam kegiatan lain yang dapat mengganggu penilaian independensi dan obyektivitas
auditor.

b. Auditor tidak boleh merangkap jabatan sebagai pejabat struktural.


11. HUBUNGAN KERJA DAN KOORDINASI

Untuk mewujudkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan fungsi audit intern, Inspektorat
Kabupaten Pandeglang perlu menjalin kerjasama dan koordinasi dengan auditi, APIP lainnya,
Aparat Penegak Hukum (APH), dan pihak terkait lainnya sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku, serta aparat pengawasan ekstern pemerintah.

INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG DAN SATUAN KERJA

a. Dalam rangka pelaksanaan fungsi audit intern, maka hubungan antara Inspektorat
Kabupaten Pandeglang dengan auditi adalah hubungan kemitraan antara auditor dan auditi
atau antara konsultan dengan penerima jasa.

b. Dalam setiap penugasan (baik penugasan assurance maupun consulting), auditi harus
memberikan dan menyajikan informasi yang relevan dengan ruang lingkup penugasan.

c. Auditi harus menindaklanjuti setiap rekomendasi audit intern yang diberikan oleh
Inspektorat Kabupaten Pandeglang dan melaporkan tindak lanjut beserta status atas setiap
rekomendasi audit intern kepada Inspektorat Kabupaten Pandeglang sesuai dengan prosedur
yang berlaku.

INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG DENGAN APIP LAINNYA, APARAT


PENEGAK HUKUM (APH), DAN PIHAK TERKAIT LAINNYA SESUAI

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU

a. Inspektorat Kabupaten Pandeglang wajib menggunakan kebijakan dan peraturan-peraturan


di bidang pengawasan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dalam menentukan
arah kebijakan dan program audit intern Inspektorat Kabupaten Pandeglang.

b. Berpartisipasi dalam Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) yang diselenggarakan oleh


instansi yang berwenang guna menyamakan persepsi mengenai kebijakan pengawasan
nasional, sinergi pengawasan nasional, dan mengurangi tumpang tindih pelaksanaan
pengawasan.

c. Koordinasi pelaporan, baik yang bersifat laporan periodik maupun laporan hasil
pengawasan.

INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG DAN APARAT PENGAWASAN


EKSTERN PEMERINTAH

a. Inspektorat Kabupaten Pandeglang menjadi mitra pendamping bagi aparat pengawasan


ekstern pemerintah selama pelaksanaan penugasan, baik sebagai penyedia data/informasi
maupun sebagai mitra auditi pada saat pembahasan simpulan hasil audit.

b. Inspektorat Kabupaten Pandeglang dapat berkoordinasi dengan aparat pengawasan ekstern


pemerintah untuk mengurangi duplikasi dengan lingkup penugasan Inspektorat
Kementerian/Lembaga/Daerah.

c. Tindak lanjut dan status atas setiap rekomendasi audit yang disampaikan aparat
pengawasan ekstern pemerintah merupakan bahan pengawasan bagi Inspektorat Kabupaten
Pandeglang terhadap penyelenggaran tugas dan fungsi instansi pemerintah.

d. Inspektorat Kabupaten Pandeglang menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada BPK-


RI sebagaimana diwajibkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 dan BPKP sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah (SPIP).

INSPEKTORAT KABUPATEN PANDEGLANG DAN BADAN PENGAWASAN

KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN (BPKP)

1. Inspektorat Kabupaten Pandeglang menjadi mitra kerja bagi instansi pembina


penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dalam rangka membangun
dan meningkatkan pengendalian intern pemerintah yang meliputi:

a) Penerapan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP;

b) sosialisasi SPIP;

c) Pendidikan dan pelatihan SPIP;

d) Pembimbingan dan konsultansi SPIP; dan

e) Peningkatan kompetensi auditor APIP.

2. Inspektorat Kabupaten Pandeglang harus menggunakan peraturan-peraturan di bidang


Jabatan Fungsional Auditor yang dikeluarkan oleh Instansi Pembina Jabatan Fungsional
Auditor.
12. PENILAIAN BERKALA

a. Pimpinan APIP secara berkala harus menilai apakah tujuan, wewenang, dan tanggung
jawab yang didefinisikan dalam Piagam ini tetap memadai dalam kegiatan audit intern
sehingga dapat mencapai tujuannya.

b. Hasil penilaian secara berkala harus dikomunikasikan kepada Bupati Pandeglang.

13. PENUTUP

Piagam Audit Intern ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila diperlukan maka
akan dilakukan perubahan dan/atau penyempurnaan guna menjamin keselarasan dengan
praktik-praktik terbaik di bidang pengawasan, perubahan lingkungan organisasi, dan
perkembangan praktik-praktik penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintah.

2.3.3 Bentuk Internal Audit Charter PT. Astra Internasional


1. Visi dan Misi

Visi

Mempertahankan keunggulan PT Astra International Tbk dan perusahaan- perusahaan utama


afiliasinya (Grup) dalam tata kelola perusahaan dan untuk menjadi unsur yang terpadu
dalam keseluruhan kegiatan manajemen risiko.

Misi

1. Mendukung pencapaian tujuan yang ditetapkan oleh Grup; melindungi nilai dan reputasi
Grup melalui pelaksanaan kegiatan asurans dan konsultasi yang efektif.

2. Menjalankan aktivitas secara independen, efektif dan efisien dengan menggunakan metode
audit internal berbasis risiko yang sesuai dengan standar internasional.

2. Struktur dan Kedudukan


1. Dewan Direksi bertanggung jawab penuh atas pengendalian internal Grup. Pengendalian
internal dirancang untuk mengelola dan bukan untuk menghilangkan risiko usaha;
melindungi aset dari penggelapan dan pelanggaran lain; dan untuk memberikan asurans
secara wajar, bukan absolut terhadap salah saji yang material.

2. Berdasarkan panduan yang diberikan oleh Presiden Direktur, Audit Internal akan
membantu Dewan Direksi dengan meninjau aktivitas usaha dan efektifitas pengendalian
internal dan prosedur dalam Grup.

3. Fungsi Audit Internal dikelola oleh Kepala Audit Internal.

4. Kepala Audit Internal diangkat oleh Presiden Direktur dan disetujui oleh Dewan
Komisaris.

5. Presiden Direktur dapat memberhentikan Kepala Audit Internal dengan persetujuan Dewan
Komisaris apabila ia tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya yang dinyatakan dalam
piagam ini.

6. Kepala Audit Internal melapor kepada Presiden Direktur dan Direktur Keuangan.

7. Kepala Audit Internal dan staf audit internal lainnya tidak diperkenankan memegang fungsi
operasional di dalam Grup.

3. Peran dan Tanggung Jawab Audit Internal

Peran & tanggung jawab audit internal adalah sebagai berikut:

a. Mengembangkan dan melaksanakan Rencana Audit Internal berbasis risiko untuk Grup.
b. Berkoordinasi dengan fungsi audit internal lain di Grup untuk memastikan kecukupan
cakupan audit dan kualitas dari pendekatan audit.

c. Memastikan bahwa struktur organisasi, kebijakan, prosedur standar operasi, prinsip-prinsip


akuntansi, proses bisnis, manajemen risiko, pengendalian internal, pencegahaan pelanggaran,
tata kelola dan sistem informasi dalam Grup selaras untuk mencapai tujuan dengan efektif
dan efisien menggunakan cara yang dapat diterima dan mematuhi peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

d. Memantau kepatuhan terhadap Kebijakan dan Prosedur Audit Internal dengan memeriksa
kualitas kerja Audit Internal.

e. Mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan dana


dan sumber daya.

f. Melaksanakan proyek khusus yang diminta oleh Presiden Direktur, Manajemen Senior
dan/atau Komite Audit dengan cara yang tidak bertentangan dengan independensi.

g. Koordinasi audit internal dengan audit eksternal untuk menghindari duplikasi.

h. Bekerja sama dengan Komite Audit.

Wewenang

Audit Internal diberi wewenang oleh Presiden Direktur untuk mengakses seluruh dokumen,
catatan, personil dan aset milik Grup dalam jangka waktu wajar. Setiap permasalahan yang
timbul berkaitan dengan akses tersebut akan dilaporkan kepada Presiden Direktur untuk
penyelesaian.

4. Laporan Audit Internal dan Tindak Lanjut

a. Seluruh temuan, rekomendasi, tanggapan manajemen dan status pelaksanaan audit akan
dilaporkan kepada Manajemen terkait, Manajemen Senior, Presiden Direktur dan Dewan
Komisaris.

b. Laporan Kuartalan yang berisi hasil kegiatan audit, efektivitas proses manajemen risiko,
dan status penyelesaian rencana audit yang telah disetujui akan disampaikan kepada Komite
Audit.
c. Rapat rutin dan khusus (ad hoc) akan diadakan dengan Presiden Direktur, Dewan
Komisaris dan Komite Audit apabila diperlukan untuk membahas isu audit.

5. Staf Audit Internal

Staf audit internal wajib, antara lain:

a. Bertanggung jawab kepada Kepala Audit Internal.

b. Menjaga karakter integritas dan melaksanakan tugasnya berlandaskan pada


profesionalisme, independensi, kejujuran dan objektifitas.

c. Memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait teknik audit dan disiplin ilmu lain yang
berkaitan dengan tanggung jawabnya.

d. Memiliki pengetahuan tentang regulasi bursa efek dan peraturan lain yang dapat
mempengaruhi operasional Grup.

e. Mampu berkomunikasi secara efektif baik lisan maupun tulisan.

f. Menjaga kerahasiaan informasi dan/atau data yang diterima selama penugasan audit
internal kecuali apabila informasi/data tersebut harus diungkapkan berdasarkan peraturan
yang berlaku atau sesuai keputusan pengadilan.

g. Memahami prinsip manajemen risiko dan usaha.

h. Berupaya untuk senantiasa mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan kemampuan


profesional.

i. Mematuhi Kode Etik Audit Internal (yang dilampirkan pada Bab ini sebagai bagian tidak
terpisahkan dari Piagam Audit Internal).

Kode Etik Audit Internal

Kode Etik di bawah ini harus dipatuhi oleh seluruh staf Audit Internal PT Astra International
Tbk

1. Integritas

Auditor Internal:
1.1 Melaksanakan pekerjaan dengan menjunjung tinggi kejujuran, kehati-hatian dan tanggung
jawab.

1.2 Mematuhi seluruh undang-undang yang berlaku dan melakukan pengungkapan informasi
yang diwajibkan berdasarkan hukum dan etika profesi yang berlaku.

1.3 Tidak secara sengaja meminta orang lain untuk melakukan perbuatan yang bertentangan
dengan hukum atau melakukan tindakan yang dapat mengurangi kepercayaan pada profesi
audit internal atau nama baik perusahaan.

1.4 Menghormati dan berkontribusi pada tujuan yang sah dan etis dari organisasi.

2. Objektifitas

Auditor Internal:

2.1 Tidak akan terlibat di dalam kegiatan atau hubungan yang mengurangi atau diduga dapat
mengurangi penilaian secara tidak memihak. Keterlibatan tersebut meliputi setiap kegiatan
atau hubungan yang dapat menimbulkan benturan kepentingan di dalam perusahaan.

2.2 Tidak menerima apapun yang dapat mengurangi atau diduga dapat mengurangi penilaian
profesional.

2.3 Akan mengungkapkan seluruh fakta material yang diketahui, yang apabila tidak
diungkapkan, dapat menimbulkan penyimpangan pada pelaporan kegiatan yang ditinjau.

3. Kerahasiaan

Auditor Internal:

3.1 Akan berhati-hati dalam penggunaan dan perlindungan informasi yang diperoleh selama
pelaksanaan tugasnya.

3.2 Tidak akan menggunakan informasi untuk kepentingan pribadi atau dengan cara apapun
yang bertentangan dengan hukum atau merugikan tujuan yang sah dan etis yang ditetapkan
oleh organisasi.

4. Kompetensi

Auditor Internal:
4.1 Hanya akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan, kemampuan dan
pengalaman yang dimiliki.

4.2 Melaksanakan pekerjaan audit internal sesuai dengan International Standards for the
Professional Practice of Internal Auditing.

4.3 Senantiasa meningkatkan keahlian, efektifitas dan kualitas hasil pekerjaan.

2.4 Contoh Penerapan Internal Audit Charter pada Perusahaan Swasta


1. Visi dan Misi

Visi : Menjadi mitra strategis yang handal, terpercaya, profesional, dan independen bagi
manajemen dalam mendukung upaya perusahaan mencapai good corporate governace dan
mitigasi risiko.

Misi

1. Menjalankan kegiatan assurance dan konsultasi yang bersifat sistematik,


konsultatif, dan konstruktif untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan maupun
departemen lainnnya dalam rangka mendukung tercapainya tujuan perusahaan.

2. Menjamin terlaksananya manajemen risiko dan pengendalian internal secara baik


dalam rangka pencapaian good corporate governance.

2. Struktur dan Kedudukan

1. Internal audit dipimpin oleh seorang Kepala Internal Audit

2. Kepala Internal Audit diangkat dan diberhentikan oleh Presiden Direktur atas
persetujuan Dewan Komisaris
3. Presiden Direktur dapat memberhentikan Kepala Audit Internal dengan persetujuan
Dewan Komisaris apabila ia tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya yang dinyatakan
dalam piagam ini.

4. Kepala Internal Audit bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden Direktur

5. Auditor yang bertugas dalam departemen Internal Audit bertanggung jawab secara
langsung kepada Kepala Internal Audit

6. Kepala Internal Audit dan staf audit internal lainnya tidak diperkenankan
memegang fungsi operasional di dalam Grup.

3. Tugas dan Tanggung Jawab

1. Menyusun strategi dan rencana kerja audit berdasarkan hasil analisa risiko yang
dihadapi perusahaan dalam pencapaian strategi bisnis.

2. Mengimplementasikan rencana audit internal yan telah dibuat

3. Menguji dan mengevaluasi pelaksanaan pegendalian intern dan sistem manajemen


risiko

4. Melakukan pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang


keuangan, akuntansi, operasional, sumber daya manusia, pemasaran, teknologi informasi, dan
kegiatan lainnya

5. Melakukan dan memberikan kontribusi untuk peningkatan pengendalian yang


efektif dengan melakukan review dan evaluasi terhadap pengendalian internal pada semua
unit kegiatan di lingkungan perusahaan.

6. Bertindak sebagai konsultan internal ke berbagai departemen di Perseroan guna


memastikan kecukupan atas pengendalian internal

7. Mempersiapkan dan melakukan audit investigasi terutama atas instruksi presiden


Direktur dan atau komisaris perusahaan dan permintaan manajemen atas persetujuan Presiden
Direktur

8. Memberikan saran perbaikan dan informasi yang obyektif tentang kegiatan yang
diperiksa pada semua tingkat manajemen
9. Membuat laporan hasil audit dan menyampaikan laporan tersebut kepada Presiden
Direktur dan Dewan Komisaris

10. Memantau, menganalisis dan melaporkan pelaksanaan tindak lanjut perbaikan


yang telah disarankan

11. Bekerja sama dengan Komite Audit

12. Membuat program untuk mengevaluasi kualitas aktivitas internal audit dan
secara berkelanjutan mengevaluasi kualitas atas semua aktivitas audit yang telah
dilaksanakan.

4. Wewenang

Agar tugas dan tanggung jawabnya dapat berjalan dengan hasil yang optimal, maka
Departemen Internal Audit diberi wewenang sebagai berikut :

1. Menentukan rencana, strategi, ruang lingkup, metode dan frekuensi audit secara
independen

2. Mengakses seluruh informasi yang relevan dan diperlukan tentang Perseroan yang
terkait dengan tugas dan fungsinya dari setiap unit kerja perusahaan

3. Memperoleh informasi informasi dari narasumber profesional/ ahli berkaitan


dengan proses audit yang dijalankan

4. Melakukan peninjauan fisik atas seluruh aset milik perusahaan

5. Melakukan komunikasi secara langsung dengan Direksi, Dewan Komisaris


dan/atau Komite Audit

6. Mengadakan rapat secara berkala dan insidentil dengan Direksi, Dewan Komisaris
dan/atau Komite Audit

7. Melakukan koordinasi kegiatan dengan kegiatan auditor eksternal

8. Menyampaikan laporan hasil audit kepada Direksi dan Komite Audit

9. Melakukan pemantauan tindak lanjut dan perbaikan yang dilakukan Auditee atas
hasil audit.
5. Ruang Lingkup Tugas

1. Mengevaluasi efektivitas dan kecukupan pengendalian internal yang dijalankan


perusahaan

2. Mengevaluasi efektivitas dan kecukupan manajemen risiko yang dijalankan


perusahaan

3. Mengevaluasi efektivitas dan kecukupan penilaian perusahaan atas tata kelola


perusahaan dan kesinambungannya

4. Mengevaluasi ketaatan dalam pelaksanaan seluruh kebijakan, rencana, dan


prosedur perusahaan

5. Mengevaluasi ketaatan perusahaan terhadap hukum dan peraturan perundang


undangan yang berlaku

6. Kode Etik Audit Internal

Kode Etik di bawah ini harus dipatuhi oleh seluruh staf Audit Internal PT Astra International
Tbk

1. Integritas

Auditor Internal:

1.1 Melaksanakan pekerjaan dengan menjunjung tinggi kejujuran, kehati-hatian dan tanggung
jawab.

1.2 Mematuhi seluruh undang-undang yang berlaku dan melakukan pengungkapan informasi
yang diwajibkan berdasarkan hukum dan etika profesi yang berlaku.

1.3 Tidak secara sengaja meminta orang lain untuk melakukan perbuatan yang bertentangan
dengan hukum atau melakukan tindakan yang dapat mengurangi kepercayaan pada profesi
audit internal atau nama baik perusahaan.

1.4 Menghormati dan berkontribusi pada tujuan yang sah dan etis dari organisasi.

2. Objektifitas

Auditor Internal:
2.1 Tidak akan terlibat di dalam kegiatan atau hubungan yang mengurangi atau diduga dapat
mengurangi penilaian secara tidak memihak. Keterlibatan tersebut meliputi setiap kegiatan
atau hubungan yang dapat menimbulkan benturan kepentingan di dalam perusahaan.

2.2 Tidak menerima apapun yang dapat mengurangi atau diduga dapat mengurangi penilaian
profesional.

2.3 Akan mengungkapkan seluruh fakta material yang diketahui, yang apabila tidak
diungkapkan, dapat menimbulkan penyimpangan pada pelaporan kegiatan yang ditinjau.

3. Kerahasiaan

Auditor Internal:

3.1 Akan berhati-hati dalam penggunaan dan perlindungan informasi yang diperoleh selama
pelaksanaan tugasnya.

3.2 Tidak akan menggunakan informasi untuk kepentingan pribadi atau dengan cara apapun
yang bertentangan dengan hukum atau merugikan tujuan yang sah dan etis yang ditetapkan
oleh organisasi.

4. Kompetensi

Auditor Internal:

4.1 Hanya akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan, kemampuan dan
pengalaman yang dimiliki.

4.2 Melaksanakan pekerjaan audit internal sesuai dengan International Standards for the
Professional Practice of Internal Auditing.

4.3 Senantiasa meningkatkan keahlian, efektifitas dan kualitas hasil pekerjaan.


BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Standar IPPF 2000 ini adalah suatu standar praktik yang dijadikan sebagai pedoman
oleh internal auditor dalam mengelola aktifitas fungsi internal audit dalam suatu organisasi.
Standar IPPF 2000 menjelaskan bagaimana cara mengelola fungsi internal audit mulai dari
perencanaan, komunikasi dan persetujuan, pengelolaan dan sumber daya, kebijakan dan
prosedur, koordinasi dan penyandaran, dan laporan kepada manajemen senior dan Dewan.
Standar IPPF 2000 juga menyatakan bahwa Kepala audit internal harus mengelola aktivitas
audit internal secara efektif untuk meyakinkan bahwa aktivitas tersebut memberikan nilai
tambah bagi organisasi. Aktivitas audit internal dapat dikatakan telah dikelola secara efektif
apabila:

Mencapai tujuan dan tanggung jawab sebagaimana tercantum pada piagam audit internal;
Sesuai dengan Definisi Audit Internal dan Standar;

Setiap individu anggota menunjukkan kesesuaiannya terhadap Kode Etik dan Standar;

Mempertimbangkan trend dan permasalahan-permasalahan yang timbul yang dapat


mempengaruhi organisasi.

Keberadaan fungsi internal audit ini dimaksudkan untuk membantu manajemen senior
dan dewan untuk memitigasi risiko risiko perusahaan dan membantu terlaksana serta
tercapainya good corporate governance sehingga dapat membantu menjamin tercapainya
tujuan tujuan perusahaan.

Piagam audit internal merupakan dokumen resmi yang mendefinisikan tujuan,


kewenangan dan tanggung jawab aktivitas audit internal. Piagam audit internal menetapkan
posisi aktivitas audit internal dalam organisasi, termasuk sifat hubungan pelaporan fungsional
Kepala audit internal kepada dewan; memberikan kewenangan untuk mengakses catatan,
personil, dan properti fisik yang berkaitan dengan pelaksanaan penugasan; dan
mendefinisikan ruang lingkup aktivitas audit internal. Persetujuan akhir atas piagam audit
internal berada pada dewan. Di sektor pemerintahan Indonesia, standar audit intern yang
diterbitkan Asosiasi Auditor Intern Pemerintah Indonesia (AAIPI, 2013) juga mengatur hal
yang sama. Hal itu tertuang dalam Prinsip-Prinsip Dasar Nomor 1000 yang berbunyi:

Visi, misi, tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab APIP harus dinyatakan secara
tertulis dan disetujui Pimpinan Organisasi Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah, serta
ditandatangani oleh Pimpinan APIP sebagai Piagam Audit (Audit Charter).

Secara keseluruhan, format IIA maupun AAIPI, keduanya hanyalah contoh. Tiap
organisasi bisa membuat piagam audit intern yang lebih membumi. Sangat disayangkan jika
contoh itu dianggap seperti format baku dan dijadikan kriteria bagus tidaknya piagam audit
intern. Karena sesungguhnya kualitas piagam audit intern tidak ditentukan dari formatnya
tapi dari substansinya yang memenuhi kebutuhan organisasi "pada masanya". Tak ada
salahnya piagam audit membatasi tanggung jawab audit intern pada audit kepatuhan saja jika
memang itu yang paling dibutuhkan organisasi. Daripada, semua hal dicakupnya tapi tak
satupun dilaksanakan dengan baik. Lain waktu, cakupan tanggung jawab itu bisa saja
ditambah atau diubah.
DAFTAR PUSTAKA
Reading, Kurt F dkk. 2009. Internal auditing: assurance & consulting services. Florida :
Institute of Internal Auditors Research Foundation.